Sunday, April 12, 2015

Jodha Akbar versi Situs Islam ‘ala-ala’ (Bagian 1)

Situs islam ala-ala menjamur loh sekarang. Nah, ala-ala itu apaan? Saya sendiri, pertama dengar istilah ala-ala dari sebuah acara yang di pandu Melani Ricardo, Campur- Campur. Backsound lagu acara tersebut, menggunakan lagu Cabe-Cabean, lagu dangdut yang saat itu sepertinya memang aji mumpung dengan fenomena cabe-cabean. Saya ndak perlu bahas soal cabe-cabeannya kan? Di gugel banyak kog, kalau memang mau cari definisi cabe-cabean.
Balik lagi ke istilah ala-ala. Ala-ala, singkat kata artinya bohongan. Hah? Bohongan? Terlalu kasar memang istilah ini. Tapi, ya… saya rasa cukup tepat untuk mewakili artikel-artikel ngasal dalam situs-situs islam yang saya sebut sebagai ala-ala tersebut.
Sudah dua kali, saya melihat ada teman yang membagikan tulisan mengenai Jodha Akbar melalui sosial media. Tentu saja, tulisan tersebut berasal dari situs islam ala-ala. Indikasi dari situs islam ala-ala adalah, muatan beritanya berisi sesuatu yang membakar amarah umat, bukan mendinginkan umat. Muatannya juga di dominasi common sense dari si penulis, tanpa fakta. Lucunya lagi, muatan berita bersifat seperempat-seperempat. Hanya bagian yang di anggap ‘membakar’ atau seru saja yang di tampilkan.
Teman pertama yang saya tegur ketika membagikan artikel mengenai Jodha Akbar ini, nyatanya tidak pernah sama sekali menonton Jodha Akbar. Wow, dahsyat sekali gaya bahasa situs tersebut. Orang yang bahkan tidak pernah menonton Jodha Akbar bisa ikut-ikutan untuk menghakimi film tersebut. Atau… ya… bukan karena gaya bahasa situsnya yang persuasif, akan tetapi daya berpikir si penerima informasi yang tidak mau mencari fakta, kemudian mengambil jalan tengah. Banyak hal-hal yang tidak mutlak salah dan tidak mutlak benar, bukan?
Kemudian, teman kedua yang membagikan berita terkait Jodha Akbar melalui sosial media, memang sengaja tidak saya tegur. Saya sudah menemukan fakta bahwa dia juga tidak pernah menonton Jodha Akbar. Fakta itu saya temukan dari percakapan dirinya bersama sang kakak dalam kolom komentar. Saya sendiri, mengikuti Jodha Akbar semenjak minggu pertama penayangannya.
Berikut adalah fakta-fakta yang di unggah situs islam (nama disamaekan dot net) melalui artikel terkait Jodha Akbar. Ada baiknya, teman-teman membaca lengkap tulisan (nama disamarkan dot net) mengenai Jodha Akbar sebelum membandingkannya dengan tulisan saya.
1.      Pernikahan Beda Agama
Memang, latar belakang antara sejarah asli dengan film Jodha Akbar sendiri tidak ada yang seragam. Ketika saya mencoba membuka gugel, saya dapati pencarian terkait sejarah Jodha Akbar mamang berada pada daftar pencarian teratas. Terlepas dari pro atau kontranya para pencari tersebut, Jodha Akbar memang terbukti menarik banyak minat banyak orang.
Tulisan mengenai Taj Mahal di Wikipedia menarik minat saya. Dalam tulisan tersebut, di jelaskan bahwa tokoh Jodha berasal dari Persia. Raja Jalaludin Akbar tidak memangkan istrinya itu dari peperangan. Tidak ada penjelasan mengenai pernikahan beda agama disana.
Situs beritaresmi.com memuat hal yang berbeda lagi terkait Jodha Akbar. Dalam situs tersebut di ceritakan, memang Raja Jalal memiliki tiga puluh enam istri dari latar belakang etnis dan agama yang berbeda. Raja Jalal sendiri memang tokoh yang nyata seperti dikutip dalam situs tersebut. Keberadaan Raja Jalal ini, sejalan dengan bahasan mengenai sejarah asli Jodha Akbar dalam tayangan SOS di salah satu stasiun televisi swasta. Sayang sekali, saya menonton SOS juga hanya sepotong saja. Saya belum berani berkomentar lebih jauh terkait sejarah pernikahan beda agama dalam Jodha Akbar. Apakah hanya fiksi? Atau memang fakta? Kalau pun memang fakta, barangkali di masa tersebut, pernikahan semacam itu memang di tujukan demi kepentingan politik.
Dalam islam sendiri, pernikahan beda agama tidak pernah di bolehkan. Pernikahan semacam itu di anggap tidak sah. Terkait sah atau tidaknya pernikahan beda agama, saya tidak berani bermain dalil dalam tulisan ini. Saya sendiri hanya mengerti bahwa pernikahan beda agama adalah haram dan haram.

Secara logika, pernikahan beda agama, memang akan menimbulkan berbagai masalah. Masing-masing pemeluk agama, merasa bahwa agama merekalah yang maha benar. Ketika sebuah pernikahan mulai diisi kehadiran anak-anak, relakah seorang pemeluk agama tertentu, membiarkan anak-anaknya memeluk agama lain? Tentu tidak. Konsep benar dan salah, konsep surga dan neraka, ada pada masing-masing pemeluk agama. Tidak akan ada yang rela, ketika anak-anak dalam keluarga, memeluk keyakinan lain. Memeluk keyakinan lain adalah neraka! Memeluk keyakinan lain adalah salah! Begitulah konsep masing-masing pemeluk agama.

No comments: