Sunday, April 12, 2015

Jodha Akbar versi Situs Islam 'ala-ala' (Bagian 2)

Sebelumnya, dapat di baca di http://semangkaaaaa.blogspot.com/2015/04/jodha-akbar-versi-situs-islam-ala-ala.html

Terkait pernikahan beda agama dalam Jodha Akbar. Memang tidak boleh di benarkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dalam film tersebut, pernikahan yang terjadi awalnya karena kepentingan politik. Hal ini bisa di jadikan pembelajaran bahwa kekuasaan yang berusaha di rengkuh manusia, tidak pernah memandang latar belakang etnik mau pun agama. Rakus! Adalah satu kata yang sangat tepat.
2.      Muslimah Jahat
Artikel dalam situs ini mencontohkan penokohan istri pertama Raja Jalal, Ruqqayah dan bibi Raja Jalal, Maham Anga yang di gambarkan sebagai orang jahat. Maham Anga adalah satu-satunya tokoh yang berpenampilan paling syar’i. Artikel dalam situs ini menunjukkan rasa tidak terima atas penokohan Maham Anga yang berpakaian syar’i namun berperilaku jahat.
a.      Maham Anga
Maham Anga sebelumnya tidak memakai jilbab panjang sederhana seperti yang selalu di gambarkan setelah Raja Jalal dewasa. Maham Anga memakai pakaian semacam itu, setelah kematian suaminya. Dia berikrar untuk memakai pakaian tertutup setelah suaminya meninggal. Maham Anga sendiri, sebenarnya memiliki sisi lembut. Dia sangat menyayangi putranya, Adam Khan. Dia selalu khawatir akan masa depan putranya itu. Kekhawatiran itulah yang membuat Maham Anga menghalalkan segala cara untuk membuat putranya hidup nyaman.
Penokohan Maham Anga yang jahat, jauh lebih mendalam ketimbang sinema elektronik (sinetron) yang ada di Indonesia sendiri. Lucu sekali ketika dalam artikel ini, tidak membenarkan penokohan Maham Anga yang berpakaian syar’i namun berperilaku jahat. Bukankah pada kenyataannya, banyak orang berpenampilan baik namun kelakuannya busuk?
Sudah sering, sinetron di Indonesia mewujudkan tokoh baik adalah seseorang yang berpakaian syar’i. Tokoh buruk atau jahat adalah orang yang belum berpakaian syar’i. Hal ini, menyajikan hitam dan putih yang cukup kelewatan. Tidak berhak kah? Seseorang yang belum berpakaian syar’i untuk berperilaku baik?
Jika penulis situs tersebut merasa sudah berpenampilan syar’i dan merasa sudah berperilaku baik, kemudian sakit hati dengan penokohan Maham Anga. Pernah kah penulis situs tersebut, memikirkan bagaimana sakit hatinya mereka yang masih berproses sebelum berpenampilan syar’i, namun merasa sudah berperilaku baik, dengan gambaran kebanyakan sinetron di Indonesia?
Bukankah semua orang berhak berproses?
b.      Ruqqayah
Ruqqayah digambarkan belum berpenampilan syar’i seperti maham Anga. Dia pun, tidak sepenuhnya jahat. Dia hanya khawatir kenyamanan hidupnya terganggu. Segala hal, yang dia anggap mengancam kenyamanan hidupnya, akan dia singkirkan dengan cara apa pun. Ritme hidup Ruqqayah memang mirip dengan Maham Anga.
Banyak sekali episode yang menggambakan sisi kemanusiaan Ruqqayah. Dalam keadaan terdesak selama perang melawan Ratu Maha Cucak. Para ratu terpaksa mengangkat pedang ketika mereka di serang oleh pasukan dari Ratu Maha Cucak. Jodha adalah salah satu orang yang menguatkan hati ratu lainnya selain Ruqayyah. Setelahnya, Ruqqayah merasa sangat terkesan terhadap Jodha. Bagian lembut dalam hari Ruqqayah tergugah. Setelah memenangkan perang dan kembali ke istana, Ruqqayah yang tidak pandai memasak, berusaha membuat kue untuk Jodha. Kue tersebut dianggap sebagai ucapan terimakasih karena Jodha telah membantu Ruqqayah dalam para ratu lainnya untuk menjadi kuat selama peperangan.

Jadi, sangat jelas, dalam Jodha Akbar, penokohan terkesan sangat alami, tidak ada yang sepenuhnya berperilaku jahat disini. Selain Maham Anga dan Ruqqayah, ada dua tokoh muslimah lain dalam Jodha Akbar. Kedua tokoh ini, belum berpenampilan syar’i. Mereka di gambarkan berperilaku baik dengan caranya masing-masing. Mereka adalah Ratu Hamidah dan Ratu Salimah.

No comments: