Friday, June 10, 2016

Mencari Cut Tari

Sumber: Gugel
Dibuat ketika Cut Tari menghilang beberapa lama dari dunia hiburan...

Saya sedang mencari Cut Tari. Iya, kamu betul. Cut Tari yang itu yang memang sedang saya cari. Bukannya saya mencari karena kangen dengan pahanya. Toh, sebagai lelaki berusia jelang tiga puluh lima, saya lebih suka sepupu Cut Tari. Sepupunya itu bernama Ersa Mayori jika boleh saya memberitahumu. Ersa Mayori bagi saya lebih menggemaskan dan bikin penasaran. Dia biasa jadi host di acara infotainment. Panjang roknya selalu selutut, beda betul dengan sepupunya yang senang rok sebatas paha. Jika kamu ingin ditasbihkan sebagai lelaki normal, kamu pasti setuju bahwa rok Ersa yang selalu sepanjang lutut itu justru bikin penasaran. Wajah Ersa pun sama manisnya dengan Cut Tari.
Kamu pasti masih bertanya, kenapa saya memutuskan buat mencari Cut Tari. Tidak… ini juga bukan soal saya kangen aksinya dalam video mesum bersama Ariel Noah. Saya memutuskan tidak akan pernah menonton video itu selamanya, meski Cak Pairi, penarik becak depan gang itu menyodori saya video gratis. Kamu pasti buru-buru berprasangka baik pada saya. Hentikan saja saran saya, takutnya prasangka itu justru jadi fitnah dan kamu jadi berdosa. Jika pikirmu, saya merasa Tuhan senantiasa mengikuti gerak gerik saya, seperti materi ceramah Uztad Soleh Mahmud (Solmed), si uztad yang rajin masuk infotainment itu. Kamu sepenuhnya keliru.
Saya lebih menikmati tulisan stinsilan karya Enny Arrow, ketimbang video yang tentu saja gambarnya bergerak-gerak. Kamu pasti asing dengan nama Enny Arrow. Jika betul, saya pastikan di tahun sembilan puluhan kamu memang baru lahir. Sejak merasa tidak terlalu nikmat ketika menonton video mesum, saya selanjutnya memutuskan tidak akan pernah menonton video manapun sekali pun Cut Tari yang jadi lakon. Loh… fantasi saya juga punya hak asasi kan? Jangan pernah kamu kebiri asasi fantasi saya itu, dengan jalan menyuruh saya menonton video mesum. Itu tidak adil!
Lantas? Kamu pasti masih bertanya kenapa saya mau sibuk-sibuk mencari Cut Tari. Ya… kamu betul kali ini. Saya mencari Cut Tari karena merasa bertanggung jawab melanjutkan judul tersebut di atas. Supaya judul di atas tamat hingga tuntas, jadi saya mencari Cut Tari. Saya takut kalau-kalau judul di atas sama tidak tuntasnya dengan kasus kecelakaan yang tersangkanya anak dari menteri anu dan musisi anu itu. Maaf, saya takut kena somasi, jadi nama saya samarkan jadi anu saja. Selanjutnya, mari... ikuti perjalanan saya dalam rangka mencari Cut Tari…
Sebagai awalan, saya memencet remot televisi. Saya mencari channel Indosiar. Hot Kiss tayang di depan mata saya kemudian. Itu nama tayangan infotainment di Indosiar, jika saya boleh memberitahumu yang tidak tahu.
Saya menanti-nanti kemunculan Cut Tari. Sayangnya, Hot Kiss cuma menampilkan pedangdut Nazar yang tengah mencari makan siang. Pedangdut yang selama beberapa season menjadi komentator di ajang pencarian bakat Dangdut Academy Indosiar ini, tentu saja menarik hati bagi Yu Tini pedagang rujak sebelah rumah atau emakmu yang tiap hari dasternya bau dapur dan lelah dengamu yang tidak kunjung lulus kuliah. Karena Yu Tini dan emakmu saban malam menonton Dangdut Academy, Nazar cari makan siang pun bakal lebih menarik ketimbang berita kematiannya David Bowie atau Muhammad Ali. Kamu bisa bayangkan? Andai dua lelaki itu jadi komentator di Dangdut Academy. Betapa Yu Tini dan emakmu bakal berduka ketika mereka berdua meninggal dan absen selamanya dari kursi komentator. Ini mirip ketika Saipul Jamil terpeleset kasus pelecehan seksual dan karirnya sebagai komentator berubah jadi almarhum.
Pencarian saya lanjutkan menuju SCTV. Berita Ivan Gunawan yang menjadi desainer baju pernikahan Gilang Dirga, host yang terkenal dengan kemampuan mirip mendiang Taufik Savalas, menirukan suara tokoh. Ivan juga menjadi komentator di Dangdut Academy, sedang Gilang menjadi hostnya. Sebentar kemudian, berita soal Nazar yang mencari makan siang kembali muncul. Narasi yang disajikan pun sama dengan Indosiar, hanya beda suara naratornya saja. Dalam narasi, disebutkan bahwa Nazar adalah salah seorang komentator di Dangdut Academy. Loh? Bukannya itu acara beda stasiun televisi ya? Oh… kamu pasti ingat kalau Indosiar dan SCTV sudah beberapa lama merger. Apa yang jadi komoditi di Indosiar, tentu jadi komoditi juga di SCTV. Sebaliknya juga begitu. Jualan ramai-ramai kan lebih asyik ketimbang jualan sendirian. Ahok saja dikabarkan mesti tertatih-tatih mengumpulkan KTP ribuan orang sebagai wujud dukungannya masuk jalur independen.
Bagaimana dengan RCTI? Saya akhirnya menyaksikan Intens, nama infotainment di stasiun televisi itu. Nyatanya, hanya ada berita soal isi tas Fatin Shidqia Lubis. Pelantun Aku Memilih Setia, yang merupakan jebolan ajang pencarian bakat X Factor di tahun 2013 itu pada kenyataannya memang masih memiliki daya tarik hingga pada isi tasnya.
Kemudian Global TV? MNC TV? Beruntungnya, berita soal isi tas Fatin muncul juga di sana dengan narasi yang sama. Kamu jangan pura-pura lupa. Tiga statisun televisi ini kan memang juga merger cukup lama. Produk yang sama kemungkinan bakal lebih laku bila dijual di lebih dari satu lapak, begitu bukan sih? Mars Perindo saja bisa kamu dengar di tiga stasiun televisi yang mesra dalam mergernya itu. Kamu pasti familiar dengan mars Perindo, seperti rasa familiarmu dengan intro hasil tiupan saxophone lagunya Rizky Febian, Kesempurnaan Cinta. Itu loh… lagu yang suka dipakai backsound berita cinta para artis di infotainment.
Terus di mana Cut Tari? Hingga saya akhirnya memindah channel menuju TRANS TV, berita soal Sophia Latjuba yang sekarang berubah nama jadi Sophia Muller dan dikabarkan dekat dengan Ariel Noah, malah mendapat durasi cukup panjang, tentu saja dengan backsound lagu Kesempurnaan Cinta. Sebentar kemudian, berita soal Fatin dan Nazar juga muncul. Namun Fatin muncul dengan berita soal single terbarunya yang menjadi soundtrack film. Nazar sendiri muncul dengan berita soal ketidakhadirannya dalam ulang tahun putri tirinya. Tidak ada mars Perindo di sini.
Saya hampir menyerah mencari Cut Tari. Pandangan mata, saya alihkan sejenak pada layar telepon pintar yang menyuguhkan facebook. Saya ingat, bahwa saya tadi pagi mengomentari sebuah foto milik Amila, anak RW gaek yang baru saja selesai kuliah. Amila memajang foto Ariel Noah yang tengah mangap di depan sebuah pengeras suara. Agaknya, Amila usai menonton konser Noah di Malang. Dalam captionnya, Amila mengungkapkan kekagumannya pada profesionalitas Ariel. Ayah Ariel baru saja meninggal dan… oh… itu berita di infotainment tiga hari lalu memang. Dan menurut Amila, Ariel sangat profesional. Dirinya mengesampingkan urusan pribadinya demi menghibur para penggemarnya di Malang. Tidak lupa, pujian soal kegantengan Ariel juga tersisip dalam caption Amila.
Apa sudah gendeng gadis itu? Tidak jijik apa dengan kasus video mesumnya Ariel. Waktu kasus itu meledak, setidaknya si Amila kan sudah SMA. Pasti ngerti ada berita soal video begituan. Luna Maya saja, yang dulunya jadi brand ambassador produk sabun mandi terkenal, kemunculannya di televisi habis-habisan berkurang. Sepertinya banyak orang sepemikiran dengan emak saya, yang katanya jadi jijik lihat si ayu Luna Maya. Tunggu dulu toh… bukannya dalam video itu, mereka berdua sama-sama melakukan. Kok si Ariel tidak dapat rasa jijik juga ya? Apa karena perkara beda bentuk kelamin?
Saya tentu ingat ucapan Cak Pairi yang mengandaikan jika saja dia disuruh memilih, bisa tidur bareng Luna yang katanya bekas orang itu atau disuruh pakai narkoba. Dia akan lebih memilih pakai narkoba meski berbahaya. Argumen Cak Pairi senapas dengan kejijikan emak saya rasa.
Edan! Pekara jijik saja tidak ada kesetaraan. Perempuan dapat jijik jauh lebih banyak ketimbang lelaki meski sama-sama melakukan. Ini seperti soal make up. Kamu pasti bakal menertawakan teman lelakimu yang memakai facial foam. Facial foam kan sama saja dengan sabun, dituang air kemudian bisa berbusa. Pebola Korea Selatan U-19 saja, ada yang pakai bedak kok. Soal kelamin apa tidak bisa setara seperti itu juga?
Lah… berita soal acara musik jazz di Malang yang mengundang musisi internasional berdarah Indonesia, Daniel Sahuleka apa tidak ada nih? Apa karena Malang itu kota kecil, lantas dilupakan masuk infotainment? Seingat saya, Daniel sendiri mana pernah sih masuk infotainment?
Saya selalu ingat, Daniel bukan komentator ajang pencarian bakat macam Dangdut Academy. Dia juga bukan jebolan X Factor macam Fatin. Tebak saya, Yu Tini, emakmu dan emak saya pasti tidak kenal dia. Ini edan! Lebih edan lagi kalau pada nyatanya kamu lebih tahu lagu Aku Memilih Setia ketimbang Don’t Sleep Away milik Daniel. Di jaman kuliah, selain ikut jadi anggota himpunan, saya ini juga musisi kampus. Wajar jika saya punya pengetahuan musik atau jiwa musikal yang tinggi.
Kembali saya menekuni remot televisi. Namun suara gedoran dari luar pintu kamar bikin saya kaget hingga menjatuhkan remot. Channel tidak sengaja berganti menjadi RCTI.
“Seno! Kamu kapan cari kerja?! Buru-buru kerja kemudian kawin!” suara emak menggelegar hampir berbarengan dengan mars Perindo yang diputar di RCTI.

Kemudian, di mana Cut Tari?

No comments: