Saturday, October 22, 2016

Jilbab VS Lokasi PPL


Penempatan PPL cukup mengagetkan bagi saya. Saya mesti ditempatkan pada sebuah lembaga yang mengharuskan peserta magang maupun PPLnya memakai jilbab. Penempatan memang dilakukan secara acak.
“Cuma tiga bulan saja kok, Pop. Pakai waktu PPL saja.” Ucap salah satu teman sekelas saya, saat melihat saya mencoba berbicara pada bu Ellyn Sugeng, koordinator peminatan di jurusan, soal keberatan saya ditempatkan pada lembaga yang mengharuskan pemakaian jilbab.
Saya tidak menanggapi ucapan teman sekelas saya itu dan terus berfokus pada pembicaraan saya bersama bu Ellyn. Dalam batin saya bertanya-tanya, seberapa bercanda jilbab bagi teman saya itu?
Bu Ellyn dengan ringan akhirnya menempatkan saya pada sebuah lembaga umum. Berbagai agama ada di dalamnya sehingga peserta PPL tidak perlu memakai jilbab. Di lokasi PPL, saya membantu siswa menebali huruf hijaiyah. Saya juga berbagi situs permainan di internet yang memelajari Al-kitab pada guru agama kristen.
Jika kamu mau tahu bagaimana tampilan bu Ellyn. Beliau saban hari memakai gamis dan berjilbab hingga menutupi dada. Beliau berjilbab sejak hampir lulus SMA di akhir sembilan puluhan, jauh sebelum islam jadi komoditi mode, buku hingga film seperti sekarang. Namun, bu Ellyn justru memahami apa yang saya rasakan. Bahwa jilbab bukan permainan macam Barbie Dress Up.

No comments: