Monday, January 2, 2017

Nadiya Khalillah, Si Pupuk Bawang

Sumber: Efbenya Nadiya

Nadiya pindah ke SD tempat saya sekolah saat kelas dua. Hingga kelas enam, saya hanya setinggi kupingnya. Dia berkulit putih, bertubuh besar dan berwajah menggemaskan, kata mama saya. Saya meniru cara menulis huruf I dalam bentuk latin, juga dari Nadiya, saat kelas dua. Tentu tanpa ijin, saya meliriknya diam-diam karena tidak tahu bagaimana cara bertanya.
Tidak seperti teman-teman perempuan yang lain, Nadiya tidak memiliki golongan tertentu di sekolah hingga lulus. Saya mengenang dia sebagai siswi paling netral dan berkarakter paling kuat, selain juga punya otak jenius. Dulu, di sekolah memang ada gap antara anak panti dan luar panti. Anak-anak luar panti pun masih lagi terbagi jadi beberapa gap, sesuai kapasitas rangking di kelas dan strata ekonomi.
Meski begitu, teman-teman tidak jarang membicarakan sikap Nadiya yang meledak-ledak dan kasar. Namun, saya justru nyaman berada di dekat Nadiya. Menurut saya, dia jujur dan sebenarnya sangat lembut. Saya ingat, bagaimana dia minta maaf pada saya yang hanya diam, saat dia tidak sengaja membentak saya, padahal sebenarnya dia sedang sebal pada teman lain. Saya juga ingat bagaimana dia berusaha menerangkan materi pelajaran matematika pada saya saat kelas empat, sejelas yang dia mampu, meski saya tidak juga kunjung mengerti.
Saya terkenal tidak terlalu baik dalam gerak fisik. Hampir setiap permainan, saya selalu jadi si pengejar, itu pun saya tidak juga bisa mengejar teman-teman yang lain, hingga sepanjang permainan saya lah yang terus jadi pengejar. Bagi teman-teman yang lain, hal semacam ini tidak jadi masalah dan tetap menyenangkan meski saya sesungguhnya lelah. Namun, suatu hari Nadiya mengambil inisiatif untuk menggantikan saya.
“Aku pupuk bawang, Poppy!” Teriaknya sambil berlari, mengambil alih tempat saya.

Kami akhirnya bertukar tempat. Pupuk bawang adalah istilah ketika peserta permainan, bertukar tempat dengan si pengejar. Nadiya tidak mengatakan apa-apa setelahnya, dia justru dengan ceria berlagak seperti buaya sambil berusaha mengejar teman-teman yang lain. Saya ingin berterimakasih saat itu juga, tapi saya tidak mengerti bagaimana caranya...

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah merekam jejakmu!