Saturday, August 3, 2019

Sri Eka Fidianingsih dan Bagaimana Caranya Balas Dendam Pada Si Culas

Sumber: Efbenya Sri

Desas-desus soal Anya yang hamil di luar nikah, sebenarnya sudah berhembus kemana-mana. Sri yang hidup satu panti semenjak kelas dua hingga sebelas dengan Anya, jadi bulan-bulanan anak-anak di SMK yang memertanyakan lenyapnya teman satu pantinya itu dari sekolah, sebelum PSG* selesai. 

Saya melihat segala hiruk pikuk dari kejauhan dan bahkan, salah seorang teman satu PSGnya, pernah terang-terangan bercerita bahwa gadis berkulit coklat itu kerap membolos di tempat PSG dan menghilang ketika hendak ujian. Desas-desus lain mengatakan, ia berhubungan dengan anak-anak yang tampilannya mendaku punk. Entah mana yang benar, saya sejujurnya tidak begitu peduli. Karena yang menarik, justru sikapnya Sri yang bungkam dan bungkam. Padahal, Anya terkenal picik dan gemar memerlakukan Sri buruk selama hidup di panti dan bersekolah di tempat yang selalu sama.

Sri menjadi murid pindahan di tahun ajaran baru kelas dua. Desi yang baru pindah ketika kenaikan kelas tiga, mengenang Sri sebagai satu-satunya anak panti yang berani membela haknya. Meski Sri ternyata mengenang masa SD sebagai yang terburuk. Sebabnya, di SD kami dahulu terdapat kesenjangan antar siswa yang menyesakkan. Terjadinya antar anak perempuan. Ada golongan anak panti dan non panti, yang non panti ini masih dibagi lagi jadi golongan anak pintar, kaya atau bahkan tidak memiliki keduanya. Saya ingat, bagaimana anak panti selalu merasa inferior, bahkan ketika memilih bangku. Ketika ada anak non panti merampasnya, mereka akan menyerahkan bangku itu begitu saja. Desi mengenang Sri sebagai satu-satunya anak panti, yang berani mengatakan bahwa bangku itu dia dulu yang mengambilnya, jadi dia yang berhak.

Tapi Anya beda soal lagi. Ia sebenarnya anak yang potensi akademisnya bagus. Hanya saja nilainya baru meningkat ketika kelas lima atau enam, ketika dia mulai mengerti cara belajar. Maklum saja, di panti pendampingan belajarnya tidak begitu intens. Anya ini ibunya bekerja sebagai TKW dan ia kerap bercerita bagaimana ibunya diperlakukan buruk selagi di PT. Ibunya hampir setiap hari hanya makan nasi dan kubis mentah. Sri maupun Anya sesungguhnya sama merasa inferior atas statusnya sebagai anak panti. Mereka sama-sama dari kalangan tidak berpunya, apalagi Sri yang enam bersaudara kala itu dan gigi majunya kerap jadi ejekan anak-anak di sekolah.

Cara Anya dan Sri bertahan hidup sangat berbeda. Anya memilih menempeli saya kemana-mana. Meski bukan dari kalangan berada, prestasi akademik yang sangat baik ketika kelas satu hingga tiga, membuat keberadaan saya diakui. Dan lagi, saya tidak begitu suka bergaul dengan anak non panti kecuali Desi, Nadiya dan Icha. Saya memahami, hubungan dengan Anya sangat beracun. Tapi waktu itu, saya masih terlalu kecil untuk belajar tegas menolak orang apalagi jika asalnya dari panti. Anya kerap memerlakukan saya buruk, mendiamkan tanpa ada salah dan berlaku culas. Dia tidak begitu mau menempeli saya, ketika selesai bulan puasa biasanya. Di bulan itu, anak-anak panti bisa dipastikan memegang banyak sekali uang dari undangan buka puasa. Di saat demikian, Anya berubah jadi sangat percaya diri dan seperti tidak membutuhkan saya sebagai tameng.

Selain saya, tidak ada anak non panti yang cukup diakui dan mau merespon pertemanan Anya. Itu sebabnya, hingga lulus pun, dia menempeli saya terus, meski ketika kelas empat hingga enam, akademis saya menurun dan tidak lagi mendapat pengakuan. Sudah tidak kaya, tidak pintar lagi. Teman-teman semacam Laura yang mulanya berambisi mendekati pun, jelas-jelas menjauh.

Di balik ketidakberdayaan menghadapi Anya yang terus menempel sekaligus melukai, saya sebenarnya juga menjalin pertemanan dengan anak non panti yang namanya Yuni. Dia baru pindah ketika kelas empat dan dari kalangan keluarga lumayan berada, meski akademisnya tidak menonjol. Yuni tidak pernah melukai dan perasaan inferiornya soal akademis, juga hobi nonton anime, justru menyatukan kami. Dan lagi, Yuni merespon pertemanan semua anak panti dengan sangat hangat. Kami bahkan sering main bersama di rumah gadis yang tingginya sekuping saya itu dan menamai ikan-ikan peliharaannya satu per satu. Tapi Anya, tentu saja sangat tidak menyukai Yuni. Apalagi ketika saya mulai bisa lepas darinya dan lebih sering bersama Yuni. 

Satu waktu, dengan drama yang tentu berlebihan, Anya menyampaikan pesan kepada beberapa anak perempuan (non panti dan kami tidak akrab sama sekali), bahwa saya disuruh memilih dia atau Yuni. Teman-teman menyampaikan bahwa Anya terlihat sangat sedih karena ditinggalkan dan celakanya, saya bilang lebih memilih Anya. Jadilah saya kembali terjebak pertemanan beracun dengannya. Hari-hari dipenuhi lagi dengan omongannya yang pedas tanpa sebab, obrolan tidak nyambung dan banyak hal lainnya.

Paham saya, Anya sesungguhnya ingin sekali bergaul dengan anak non panti lainnya. Hanya saja, dia tidak diakui karena tidak berduit dan akademisnya tidak menonjol. Hal ini terlihat dari bahagia berlebihannya ketika salah seorang anak paling pintar dan cantik di kelas, mulai perhatian waktu akademisnya meningkat di kelas enam dan bahkan dia sampai diutus mengikuti lomba pidato. Si populer yang memerhatikannya itu kerap mengajaknya bicara dan memberinya beberapa lembar kertas binder yang apik. Anya sering sekali menghampiri bangku saya dan berkata,”Lihat, anak itu (si populer) suka sama aku loh (mau jadi temanku).”

Mengatasi perasaan inferior memang tidak mudah, apalagi bagi anak-anak. Saya yang sekarang memahami juga, semuanya yang terlibat dalam kesenjangan di sekolah kami dulu sesungguhnya adalah korban dari pemikiran orang dewasa. Misal Laura, didoktrin ibunya untuk hanya berteman dengan anak yang ekonominya setara atau yang akademisnya bagus.

Perasaan inferior ini pula, yang membuat kami bertahan dengan cara masing-masing. Meski sempat memiliki nilai akademis sangat baik dan diakui, saya tetap merasa senasib dengan para anak panti sejak semula. Pertemanan dengan Desi pun, bermula dari perasaan inferior yang terpancar darinya sebagai anak baru di sekolah. Merasa sama dan bisa bertahan bersama, membuat saya lebih pilih merapat pada mereka yang tersisih. Diam-diam, saya sebenarnya tetap sering bermain bersama Yuni di luar jam sekolah. 

Tapi Anya lagi-lagi beda soal. Desi, ketika kami bertemu lagi semasa berkuliah, mengatakan bahwa Anya sebenarnya banyak menjual cerita soal saya dan teman-temannya di panti kepada Laura dan jajaran anak populer lainnya. Anya pernah cerita pada mereka, bahwa saya sangat kasar kepada ibu. Padahal, saya bahkan tidak nyaman berbicara tentang keluarga dengannya hingga lulus dan lagi, cerita darinya itu memang tidak pernah terjadi. Jadi, sikap berbagi makanan dan apa saja yang saya miliki waktu itu, menyentuh hati Sri dan anak-anak panti lainnya, tapi tidak dengan Anya. Namun sekali lagi, dia sebenarnya pun hanya korban dan berusaha bertahan hidup dengan mencari pengakuan dari kalangan anak populer bersama cerita karangannya.

Bahkan ketika masuk di SMK dengan jurusan yang sama, Anya seperti tidak mengenal saya sama sekali. Tidak ada bekas pernah dekat. Dia berhasil masuk grup anak populer di kelasnya karena akademis yang sangat baik. Kami beda kelas, pun dengan Sri. Namun saya dan Sri malah leluasa jadi lebih dekat, tanpa kehadiran Anya. Di SMK, ada banyak anak yang berasal dari keluarga menengah bawah dan di masa itu, Sri mendapat sangat banyak teman dan memiliki kenangan indah. Dengan teman-teman satu geng Sri di kelas pun, saya kenal sangat baik seperti Sofi dan Uus. Kedua anak ini memiliki latar belakang kehidupan yang sama-sama keras pula. Sofi yang akrab dengan pertengkaran antar keluarga dan berjualan roti keliling sekolah. Kemudian Uus, yang pernah hampir dijual menjadi TKW ilegal oleh bapaknya sendiri.

Ketika akhirnya Anya dikeluarkan dari panti sekaligus sekolah, Sri memilih tetap bungkam soal kasus sebenarnya dari gadis licik itu. Padahal, sebagai orang yang makan dan tidur dalam satu lembaga selama bertahun-tahun, mustahil Sri tidak tahu. Pikir saya pun, kasus Anya apabila memang benar, justru adalah peluang Sri membalas segala kejahatannya. Tapi gadis berkulit putih itu sama sekali tidak mengambil kesempatan. Justru, tidak jauh setelah pengumuman kelulusan, Anya tiba-tiba menghubungi saya. Dia memohon agar ijazah saya bisa dia pinjam untuk ‘ditembak', agar dia bisa cari pekerjaan katanya. Agaknya, ia sedang sangat kepepet. Tentu saya menolak. Selain berisiko memberikan ijazah asli pada orang lain, saya tidak berminat menolong teman yang bahkan pura-pura tidak kenal semasa SMK, hanya karena tidak lagi butuh ‘tumpangan'. Bagi saya, masih ada solusi lain untuk permasalahan Anya, tanpa mesti terlibat jauh. Ikut ujian paket C misalnya, seperti salah seorang teman sekelas yang keluar dari sekolah, jelang ujian nasional. Ya, meski mengikuti paket C butuh waktu dan barangkali tidak sesuai dengan desakan kebutuhan Anya.  

Saya kemudian tanya pada gadis bermata bulat itu, apa teman geng populernya semasa SMK tidak ada yang mau meminjamkan ijazah? Kemudian Anya menyebut beberapa nama teman lamanya satu geng, yang mengaku masih menunggak uang gedung sehingga tidak bisa mengambil ijazah. Padahal, saya tahu teman-temannya tadi sudah mengambil ijazah. Semasa SMK, saya cukup dekat dengan para guru dan kantor, jadi saya tahu permasalahan anak-anak hingga menyoal ijazah. Saya memahami, teman-teman satu geng Anya berbohong karena tidak mau risiko ijazah hilang atau terlibat hal ilegal.

Tapi Sri lain lagi. Saya kaget ketika dia cerita Anya meminjam ijazah darinya untuk ‘ditembak'. Saya terang-terangan bilang sudah menolak permintaan Anya, karena bahkan dia baru ingat menyapa lagi ketika butuh dan juga, terlibat pembuatan ijazah ilegal sangat berisiko. Buat apa saya mengambil risiko untuk seseorang yang bukan teman?

Namun ternyata, Sri malah mau meminjamkan ijazahnya dengan ucapan ringan,”Kasihan. Dia biar bisa cari kerja.” Dan ternyata, Anya bisa menjadi TKW hingga saat ini adalah berkat ijazah yang ‘ditembak’ itu. Diam-diam saya mengagumi Sri habis-habisan. Bagaimana gadis yang nampak jago mengumpat ketika membela diri sejak SD dan tidak pernah takut meski lawannya laki-laki itu, ternyata berhati halus. Bahkan ia, jauh lebih halus dari saya yang berpenampilan kalem.

Ketika 2018 lalu saya bilang, tidak ingin lagi berhubungan dengan Anya selamanya, Sri justru ngotot bahwa teman kami itu sudah bertaubat dan beda dari dulu. Meski ya, saya tetap pada keyakinan bahwa setiap manusia, tidak semudah itu untuk berubah. Apalagi Anya, terakhir saya melihat instagramnya, justru gemar bergoyang dengan gaya menggoda. Saya sangat bisa membedakan seni, senam dan semacamnya. Tapi gerakan Anya bukannya menikmati musik atau menari, namun justru gerakan menyedihkan yang malah dikomentari menjijikkan oleh lawan jenis.

Jadi, bagaimana Sri justru memilih membantu penyiksanya? Hingga akhir jaman sekalipun, saya agaknya tidak akan pernah menemukan yang namanya teori kelembutan hati. Sri telah membalas kebencian, dengan cinta yang tanpa dalil. Dia meyakini, semua orang berhak memiliki kesempatan. Diam-diam saya mengamini pendapat Uus, soal Sri yang memiliki jiwa penyayang. Dan bukankah menjadi lembut seperti Sri di antara kehidupannya sendiri yang selalu keras, adalah daya tahan luar biasa?

*PSG Pendidikan Sistem Ganda a.k.a praktik kerja di SMK

2 comments:

  1. Poppy... aku jadi salut sama Sri. Anyway, aku jadi penasaran ijazah tembak ini bagaimanakah, apakah pemilik aslinya tidak bisa menggunakan lagi atau bagaimana? :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Nek. Terimakasih sudah mampir. Risiko kasih pinjam ijazah asli itu, bisa jadi ijazah dirusakkan oleh peminjam dan tukang tembaknya atau bahkan bisa dihilangkan. Kalau kembali, masih bisa dipakai, Nek.

      Delete

Terimakasih sudah merekam jejakmu!