Saturday, September 26, 2020

Pengiriman Gagal

Coreted by: Esti Vita Ningtyas

ketik

ketik

ketik

berhenti saja. ketimbang satu waktu kamu jumpa saya lagi, lantas maskulinitasmu yang rapuh itu makin hancur.

saya malah berterima kasih, dengan semua ini banyak hal dalam diri saya kelar. masalah dengan ibu, kesehatan mental, inner child, pencarian spiritual.

kalau kamu lanjut, nggak tahu hal apa lagi yang justru akan saya capai dan membuatmu makin kesulitan memroses patah itu.

hapus

hapus

hapus

ketik

saya memaafkanmu...

kirim

pengiriman gagal

Thursday, September 17, 2020

Takdir

Sumber: Gugel

Membayangi manusia sejak jadi segumpal darah, adalah takdir saya. Lucunya, saya pun diberi nama Takdir entah oleh siapa. Sang entah oleh siapa itu, yang memutuskan segumpal darah bakal diberiNya nyawa atau tidak. Sering juga, segumpal darah itu luruh begitu saja dari dinding rahim si ibu. Jika demikian, mati adalah takdirnya bahkan sebelum mencicipi dunia.

Dari sekian manusia yang saya bayangi, ada satu yang paling menarik hati. Seorang lelaki, belum 40 dan gemar memakai sepeda bebek kemana-mana. Belasan tahun lalu, ia lulus sarjana hukum. Saban malam, saya melihatnya bersujud kepada Dia yang menamai Takdir kepada saya. Betapa Dia menyayangi lelaki itu hingga satu waktu, peluru yang hampir menembus perut, diperintahkannya meleset. Tentu melalui jari-jari saya.

Di lain waktu, tali-tali hitam merajah darah dan nadi lelaki itu. Ia menggelepar di atas lantai dan nyaris kehilangan napas. Namun, Dia membuat seorang rekan jauh dari lelaki itu tergerak datang dan bantu menyembuhkan. Lagi-lagi, saya petugas lapangannya. Tali-tali hitam itu, saya buat sirna seketika melalui jari si rekan jauh.

Ketika saya menarik garis waktu yang panjang, si rekan jauh itu putrinya sempat menjadi korban pelecehan dan lelaki itu di masa yang lampau sekali, habis-habisan membela dengan ilmu hukum yang ia punya. Dan bahkan, lelaki itu tidak begitu ingat pernah membantu siapa saja dan atas sebab apa.

Di lain waktu, ia juga mengadvokasi para buruh dan merangkul rekan perempuannya yang jadi korban percobaan perkosaan. Kelegaan di antara rasa sesak dan kegelapan oang-orang yang ia bantu, telah menggetarkan tiang-tiang penyangga rumahNya, Dia yang telah memberi saya nama. Hal demikian membuatnya begitu beken di antara makhluk langit dan bahkan di antara makhluk kerak terdalam bumi. Ada inti dalam dada kami semua yang tergetar oleh karena ia. Tidak heran, Dia kerap memerintahkan saya membuat peluru meleset dari lelaki itu, hingga magi-magi hitam sekalipun.

Namun hari itu, saya mesti menjalankan satu hal yang lagi-lagi sesuai nama yang diberikanNya. Hanya saja, tugas hari itu sungguh membuat ingin menangis juga sesak. Lelaki itu, ditakdirkan mati pagi hari ketika naik pesawat. Saya mengintilinya sejak ia masuk dalam pintu pesawat. Perjalanan Jakarta-Amsterdam adalah yang terakhir buat dia. Saya gemetaran manakala malaikat maut berjalan pula berbarengan dengan saya.

“Jangan ndeso kamu. Ini bukan kali pertama kamu menyaksikan orang mati, bukan?” ucap malaikat maut cuek. Namun diam-diam, saya melihat kantung matanya penuh dengan air yang siap meluncur deras.

Maka lelaki itu pun sungguh mati, manakala memakan makanan yang disajikan di hadapannya. Malaikat maut buru-buru berlari setelah melaksanakan tugasnya. Air mata meleler di pipinya, pun saya yang berdiri dengan gemetaran menyaksikan lelaki itu dikerubungi seluruh kru pesawat dan penumpang.

Bisik-bisik para pembawa racun yang tengah menelepon seorang penyuruhnya, terdengar. Entah dari bagian pesawat yang mana. Dengan nada penuh keyakinan, si pembawa racun mengatakan bahwa misi yang ia emban memang selalu berhasil. Ia mendaku bahwa dirinya tidak seperti para pembawa misi yang terdahulu, yang mana mereka selalu gagal membunuh lelaki itu. Gigiku bergemeretak mendengar napasnya yang mendengus bangga. Makhluk yang demikian tidak bakal memahami, bahwa ia selama ini sedang berusaha memutus ketetapan Tuhan melalui diri saya. Adapun kegagalan dan keberhasilan, terjadi bukan karena ia. Dasar pembunuh jancuk…

Pihak berwenang melakukan penyelidikan alakadarnya dan menangkap pilot pesawat sebagai dalang kemudian. Saya bertanya padaNya, kenapa tidak diijinkanNya saya menangkapi semua bajingan yang sungguh menjadi dalang. Lantas Dia pun menjawab, semuanya sudah sesuai dengan nama yang diberikanNya pada saya.

Menahun berikutnya, kematian lelaki itu terus diperingati dan menjadi bahan bakar perlawanan, bukannya jadi ketakutan. Bahkan hingga hari ini… bahkan hingga hari ini…

Dan itu semua terjadi sesuai nama yang diberikanNya kepada saya, Takdir.

Saturday, September 5, 2020

Arini, Si Picik yang Dibully dan Disingkirkan


Menurut bisik-bisik yang disebar beberapa anak perempuan di kelas, kepindahan Arini dari sekolah salah satunya adalah karena Bravo membullynya. Saya jadi kembali mengingat kasus ini ketika mengobrol dengan Sri. Sri sendiri menceritakan perkara Arini, setelah membaca kisahnya pernah menampar gadis yang punya imej pintar, santun dan pendiam itu dari blog ini (Baca Juga; Sri Bukan Anak Nakal Tapi Laura).

Imej Arini yang kalem, santun dan menonjol akademis disebar lintas kelas oleh para guru, pula imej Sri yang dilabel nakal. Jadilah ketika Arini melukai Sri tanpa sebab, semua orang malah mengeroyok Sri. Kala itu, Arini serupa tokoh utama yang mendadak dianiaya orang-orang kejam yang iri seperti Sri. Meski sesungguhnya, gadis berkulit putih itu hanya berupaya membela diri dan bukannya melukai tanpa sebab.

Cap nakal sendiri, didapat Sri ketika mulai pindah di sekolah kami saat kelas dua. Sri kala itu, juga baru saja pindah dari daerah menuju salah satu panti asuhan yang letaknya di tengah kota Malang. Ia sesungguhnya bukannya nakal, hanya saja belum mengerti peraturan apalagi bisa beradaptasi. Bahkan saya ingat, bagaimana Sri tidak mengerti cara menulis di dalam garis.

Sedang Bravo, saya kenang sebagai anak yang engerjik. Dia selalu tertawa-tawa dan melanggar aturan. Meski dalam ingatan, kami ternyata tidak pernah bersinggungan bahkan sekadar saling sebut nama. Belakangan saya memahami, agaknya Bravo ini tipe yang tidak akan menjalin hungan dengan teman yang tidak membuka diri semacam saya. Pula ia, tidak akan membuat gara-gara dengan teman yang sama sekali tidak bersinggungan semacam ini.

Dalam ingatan Sri, pernah Bravo menulis nama orang tua Arini di papan tulis dan sangat besar. Di sekolah kami yang berbasis agama, menulis atau menyebut nama orang tua teman adalah tindakan tidak terpuji, sebuah pelanggaran fatal. Kemudian Arini kala itu kabarnya terluka parah hatinya dan ramai-ramai orang membelanya. Ya… membela si anak baru yang pendiam, santun, pintar namun tiba-tiba diperlakukan tidak adil oleh Bravo. Bravo yang kejam... Bravo yang jahat… begitu kira-kira yang ada dalam pikiran orang-orang.

Tapi selain Bravo, ternyata ada Cayo yang benci setengah mati pada Arini. Agaknya, kedua anak lelaki ini pernah punya masalah dengan si kalem itu secara langsung atau menyaksikannya membuat masalah. Karena kontak mereka berdua tidak bisa saya dapat, jadi konfirmasi soal hal ini belum bisa dilakukan.

Cayo juga pindah ke sekolah kami ketika kelas dua, hampir berbarengan dengan Sri. Menurut bu Nurul, wali kelas dua, kepintaran Cayo sesungguhnya setara dengan anak-anak dari SD yang katanya favorit. Hanya saja, entah bagaimana dia jadi tidak terarah dan nilainya menurun semakin naik kelas. Jadi ketika Arini masuk di kelas tiga, prestasi Cayo sudah menurun.

Sri dan Cayo sendiri hubungannya sangat baik, pula dengan saya. Dalam ingatan, saya mengenang Cayo sebagai anak yang jahil tapi bukan melanggar aturan. Dengan rambutnya yang keriting dan mengembang ke atas, Cayo memerlakukan saya sangat baik bahkan mendukung terang-terangan hobi menulis saya. Malah dengan Sri, banyak guyonan yang saya tidak paham namun ia dan Cayo bisa terbahak-bahak bersama.

Kolaborasi Bravo dan Cayo selanjutnya terus menggempur Arini. Sri sendiri tipe bertahan, beda cara dalam menghadapi si peringkat dua di kelas itu. Ia hanya pernah menyerang balik Arini sekali dan tidak pernah lagi terulang. Ketika akhirnya Bravo keluar dari sekolah yang saya lupa ketika kelas empat atau lima, desas-desus beredar bahwa keluarnya Bravo salah satunya karena pernah menjahili Arini. Ya, soal papan bertulis nama bapaknya itu. Mr. A yang hanya mau mengakui murid pintar sebagai anak didiknya, saya ingat menceritakan keburukan Bravo sering sekali di depan kelas. Yakin saya, ia pula menceritakan keburukan Bravo lintas kelas, mengingat masing-masing tingkat di SD kami waktu itu, hanya ada satu rombongan belajar. Setiap guru, menguasai hampir semua kelas dan tiap tingkat, bisa saling mengenal. Barangkali, niat Mr. A adalah memberi contoh baik dan buruk kepada semua anak didiknya, meski fatalnya semua justru berubah jadi label karena penyebutan identitas yang jelas.

Jujur saya merasa lega, ketika Sri menceritakan kembali kasus Arini yang ternyata dibully duo Bravo dan Cayo itu. Perasaan sesak dan marah ketika dulu gagal membela Sri yang sesungguhnya membela diri dari kejahatan si kalem itu, pelan-pelan menguap. Jika Sri hanya menyerang ketika bertahan dan bisa membalas kejahatan dengan kebaikan (baca juga; Sri Eka Fidia Ningsih dan Caranya balas Dendam Pada Si Culas), Cayo dan Bravo mengambil jalan yang berbeda. Arini yang picik dan pandai bersandiwara, mereka singkirkan dengan cara setara kejahatan si kalem itu, bahkan agaknya lebih. Ini semua jadi membuat kesan Cayo dan Bravolah yang jahat. Tapi toh, dengan cara demikian, anak seperti Arini baru bisa diusir pergi.

Masih ingat kasus Hasna VS Savina yang saya tulis dalam Seni Memaklumi? Ya, Hasna melukai dan menyingkirkan Rara yang dianggapnya pesaing. Rara keluar dari komunitas dan terlempar dari lingkaran Hasna. Namun kemudian, Hasna bertemu Savina yang takut sekali kalah pamor dengannya dan juga tahu ia berbahaya. Savina ganti menyingkirkan Hasna kemudian, bahkan dengan cara yang lebih jahat dari ia menyingkirkan Rara.

Sri yang memilih bertahan dan membela diri ketika terdesak dan Rara yang tersingkir karena terus didesak. Keduanya memiliki pola yang mirip; sama-sama dilukai tanpa sebab. Dan orang yang membuat mereka luka pada akhirnya tersingkir dengan cara yang lebih jahat. Ini semua membuat saya makin percaya, semua orang memang memiliki motif hingga dirinya jadi beracun. Tapi tidak semua orang, bisa disentuh hatinya dan masuk ke bagian yang satu itu bukannya tugasmu, bukannya kewajibanmu. Orang-orang demikian memang layak tersingkir oleh cara-cara yang lebih jahat dari kejahatan mereka sendiri. Karena jika tidak, tinggal tunggu kamu atau orang terdekatmu yang ganti dilukai tanpa sebab. Tapi ya, ingin menjadi Sri atau duo Bravo dan Cayo, semuanya ada di tanganmu sih.

Friday, August 14, 2020

Rahim

Sumber: Gugel

Apa yang lebih mengerikan? Ketimbang hidup seorang perempuan yang tanpa rahim dan lagi tanpa suami? Orang-orang hanya akan berpikir hidup seorang perempuan bakal penuh kemalangan, tidak ada yang menjaga dan betapa butuh pertolongan. Namun, pikir Farra, semuanya bakal selesai hari ini. Hari di mana ia resmi bersuami dan semua saksi berteriak, sah!

Setelah sekian lelaki berusaha ia tancapi tali-tali berwarna kuning dalam darah dan nadi mereka, pada akhirnya, ada satu lelaki yang dengan mantap datang kepada kedua orang tuanya, memintanya jadi istri. Hanya jawaban iya, mengalir dari bibir kedua orang tua Farra. Perkara sakit putrinya di hari lalu dan bagaimana rahimnya itu mesti diangkat, yakin mereka si calon suami telah mengetahui segalanya dari Farra. Setidak-tidaknya mereka yakin, satu saat bisa meninggalkan dunia tanpa khawatir anak gadis berwajah manisnya itu mesti dijaga oleh siapa.

Hingga enam tahun pernikahan itu berjalan, orang-orang terus berbisik-bisik bagaimana rumah tangga mereka harmonis tanpa pertengkaran berarti, meski mustahil hadir seorang anak. Sebagian dari mereka berpikir, cinta sejati telah memersatukan segala kekosongan. Meski saban hari, Farra terus dikejar rasa cemas tiap kali tali-tali kuning dalam darah dan nadi suaminya itu menipis. Karena tiap tali menipis, lelaki itu mulai memertanyakan mengapa Farra tidak mengatakan sejak awal soal sakitnya di masa lalu dan bagaimana rahimnya bisa menghilang. Namun, dalam setiap kopi yang disajikan, Farra kembali memasukkan tali kuning serupa. Tali-tali itu berasal dari dalam kotak rahasianya yang disimpan di bawah ranjang.

Dalam setiap kopi yang disajikan, cinta tanpa syarat itu kembali hadir. Cinta yang katanya tidak peduli Farra memiliki rahim atau tidak. Cinta yang membuat kuping buntu oleh ocehan sebagian lain kerabat dan tetangga, soal ketidakjujuran Farra mengenai rahimnya dan terlalu beruntungnya perempuan itu hingga bisa menemukan cinta sejati.

Dan menahun berikutnya, Farra tetap memaksa suaminya itu menghirup kopi buatannya, meski kata dokter, asam urat membikin lelaki itu sememangnya berjarak dengan kopi.

Ada derap yang mencekam dalam dada Farra, selalu, setiap harinya...


Edit 12 Agustus 2023:

Merupakan juara favorit Kompetisi Fiksi Mini Puan Menulis #BreakTheBias International Womens Day (IWD) 2022.



Wednesday, August 5, 2020

Untuk Hidupmu yang Baru; Panduan Hijrah Milenial Karya Rully Nur Rahim

Sumber: Dokumentasi pribadi
Sampul depan. Sumber: Dokumentasi pribadi

Untuk Hidupmu yang Baru (selanjutnya disebut UHB), menyambut saya dengan kutipan di lembar kedua. Sedikit Berbagi Untuk Pengingat Diri, demikian isinya. Oke, satu kutipan sebelum isi buku tentu saja manis. Buku-buku sejenis banyak pula membawa formula demikian. Lembar berikutnya pun disambung dengan pengantar dan sayangnya, lagi-lagi ada kutipan. Serupa kutipan di lembar kedua, kutipan-kutipan ini dicetak di tengah halaman. Total ada enam kutipan dalam tiga lembar, beruntun! Baru setelahnya daftar isi menyambut.

Sayang sekali kutipannya ditumpuk di awal buku ya? Benar. Padahal kutipan-kutipan ini bisa diletakkan berselang-seling ketika pergantian bab di awal dan akhir. Ada tiga bab dan jumlahnya pas jika disebar enam kutipan. Dengan demikian proporsi buku menjadi lebih seimbang dan manis.

Barangkali penulis meletakkan kutipan-kutipan tadi menumpuk di depan karena tidak nyambung dengan isi tulisan per bab? Tidak juga. Karena ternyata sub bab dalam tiga bab yang disajikan pun tidak terlalu memiliki keterkaitan. Jadi sub bab-sub bab ini sekalipun ditukar posisinya dalam bab lain, tidak ada perbedaannya juga. Bab I misalnya, terdiri dari sub bab yang berjumlah sembilan. Isinya antara lain; 1) Menggapai Rida Allah, 2) Menjadi Pribadi Berkarakter, 3) Bertahan dalam Kerasnya Pergaulan, 4) Bukan Pacaran, 5) Bersaing dalam Kebaikan, 6) Mudah Menyelesaikan Masalah, 7) Tidak Mudah Tertempel Dampak Negatif Masa Kini, 8) Tetap Bermanfaat, dan 9) Menebar Kasih Sayang.

Namun ternyata, bab II juga memiliki sub bab mengenai karakter dan pacaran antara lain; Karakter, Karakter dalam Al-Qur’an, Untuk yang Pacaran, Cara berhenti Pacaran, termasuk soal perokok, pecandu dan hal-hal yang dalam praktik menyalahi penjelasan bagaimana menjadi pribadi berkarakter. Jadi sub bab 2) Menjadi Pribadi Berkarakter dan 4) Bukan Pacaran dalam bab I, sebenarnya ada sub bab lain yang lebih terkait di bab yang lain pula. Juga bab II yang membahas orang tua dan pola asuh, dalam bab III ada sub bab sejenis dengan bahasan berbeda. Agaknya, penulis dalam buku berikutnya harus betul-betul memiliki penggolongan bab dan sub bab yang runut. Jika tidak, sekalian saja penggolongan bab dihilangkan karena ya… tidak fungsi-fungsi amat.

Bagaimana dengan isi buku? Bab I diawali penyebutan berbagai sosial media. Ada Instagram, Facebook, dan Twitter disebutkan bersama peminat yang menurut penulis paling banyak dimiliki Instagram dan paling sedikit dimiliki Twitter. Padahal ya, Twitter tiga tahun belakangan ini kembali ramai hingga tercipta olokan anak Twitter lama vs anak Twitter baru. Dilansir dari Detik, 2019 bahkan disebut tahunnya Twitter di Indonesia. Tapi tidak tahu juga jika penulis menggarap buku ini jauh sebelum Twitter kembali naik.

Isi buku. Sumber: Dokumentasi pribadi

Twitter apa kabar? Wah, sepertinya sudah tidak banyak berseliweran (kelihatan) apalagi Path yang kini sudah di-close karena dampak para remaja yang sudah tidak eksis di akunnya… (hal 2).

Agaknya, pendapat mengenai Instagram lebih unggul, memang sengaja dijadikan penulis sebagai landasan perumpamaan dalam sub bab Menggapai Rida Allah. Jadilah narasi Instagram sebagai media sosial paling populer berusaha betul direka-reka penulis. Penulis lantas memberikan perumpamaan follow, DM hingga followback dalam hubungan manusia dengan Tuhannya.

Jika dipikir-pikir, di-folback sama Bias saja senang, bagaimana di-folback sama Allah? (hal2).

Pendekatan penulis membahas hubungan dengan Tuhan melalui analogi penggunaan Instagram, memang cukup apik jika segmen pembaca menyasar milenial. Meski argumen mengenai popularitas media sosial satu dengan lainnya, jadi dibuat unggul dan rendah atas pendapat penulis sendiri demi mencapai analogi tadi.

Usaha penulis mendekat dengan bahasan milenial terjadi juga dalam kalimat berikut ‘terkadang aku berdoa di kala ingin sesuatu atau lagi ada masalah saja, pantas aku melakukan sesuatu tidak selalu tenang’ coba bandingkan dengan ‘kita sebagai manusia semestinya senantiasa istiqamah’. Dengan nilai setara, lebih membumi mana? Kalimat pertama atau kedua? Benar, kalimat pertama. Penulis telah mengonversi istilah istiqamah menjadi lebih mudah dimengerti.

Cara-cara mendekatkan diri kepada Tuhan, yang disajikan penulis dalam sub bab pertama ini juga cukup aplikatif. Beberapa di antaranya;

Direct message Allah dengan cara berdoa (hal 4).

Kebahagiaanmu pun perlu diDM ke Allah, salah satunya cara mudahnya ikut membahagiakan Allah dengan cara berzikir dan bertilawah menyuarakan kalam-Nya (hal 4).

Pergantian antar sub bab memang cukup singkat. Tiap sub bab paling banyak memuat tiga lembar dan di dalamnya ada beberapa kalimat sengaja dibuat menyerupai font seukuran kutipan di halaman depan.

Hampir setiap bab menyelipkan hadist. Meski hadis-hadist yang dikutip sepertinya akan familiar bagi teman-teman dengan pengetahuan agama level menengah atau pembaca yang sudah melahap buku Felix Siauw hingga Quraish Shihab, apalagi lulusan madrasah dan pondok. Hadist-hadist itu di antaranya ‘permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seseorang penjual minyak wangi akan memberimu minyak wangi…' yang dalam UHB jadi bagian dari pembahasan memilih pergaulan.

Jadi jika ditanya apa UHB membawa kebaruan? Relatif. Jika segmentasinya betul teman-teman yang masih mula-mula mendalami ilmu agama dan minimal jarang membaca konten dari akun hijrah, buku ini bisa jadi membawa kebaruan. Semestinya saya menyebut lugas akun hijrah mana yang saya maksud sebagai pembanding, namun karena butuh waktu untuk kembali menemukan konten-konten yang saya maksud, jadilah saya hanya mampu bercerita semacam ini.

Jika ditanya lagi, mana bab atau sub bab yang pembahasannya cukup apik, jawabannya ada di bab II sub bab Jika Kehilangan Kasih Sayang Orang Tua. Penulis di sini menunjukkan peran ibu dan ayah yang semestinya saling bekerja sama. Pembahasan lain yang berpotensi digarap lebih apik pada berikutnya adalah cerita penulis soal dirinya yang dulunya fangirl dan cerita temannya yang narapidana narkoba. Menceritakan diri sendiri dan teman bisa membuat sebuah tulisan menyentuh pembaca dengan lebih personal. Meski sayangnya, penulis di sini masih membuat persoalan fangirling menjadi hitam putih.

Saya buta k-pop, namun ketika membaca sub bab satu ini, saya jadi merasa dunia fangirling kotor sekali dan tidak ada sisi positifnya. Padahal saya yang non k-popers sekalipun, memahami kerja keras Lalisa Manoban misalnya, apik juga dijadikan inspirasi. Beribadah jalan terus, meniru kerja keras bias juga harus. Penceritaan soal teman narapidana penulis pun hanya sampai pada; dia pernah melakukan apa hingga masuk penjara, sesatnya kehidupan penjara, lalu sekeluarnya dari sana ia sholat lima waktu dan menjauhi zina. Tidak ada penjelasan transisi perubahan teman penulis yang lebih personal, entah karena keterbatasan halaman atau di waktu lain penulis bakal membahasnya lebih detail.  

Isi buku. Sumber: Dokumentasi pribadi

Ada beberapa buku sejenis yang semestinya pula saya jadikan pembanding di sini. Sayangnya, saya hanya pernah membaca ulasan orang lain atau mencuri baca ketika berada di toko buku. Jadi jika pengamatan saya ada kurang tepatnya silakan ditegur ya, Rek. Buku-buku tersebut antara lain Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar! (Kalis Mardiasih, 2018), Wanita yang Merindukan Surga (Esty Dyah Imaniar, 2019), Udah, Putusin Aja! (Felix Siauw, 2013), Santri Nikah Jomblo Punah (Anifah Hambali, 2019).

Bagi yang terbiasa membaca tulisan-tulisan Kalis Mardiasih dan Esti Dyah Imaniar yang tersebar di berbagai media, pasti mengetahui formula keduanya yang sekali atau dua kali mengutip teori hingga hadist lantas menyatukannya dengan keadaan terkini. Keadaan terkini tersebut bisa berupa isu nasional maupun kejadian yang dialami penulis sendiri maupun orang sekitar mereka. Demikian membuat orang-orang yang familiar atau bahkan bahkan lebih ahli mengenai teori hingga hadist yang disebutkan, tetap mendapat kebaruan.

Bagaimana dengan Felix Siauw dan Anifah Hambali? Felix Siauw membawa satu pesan saja yaitu jangan pacaran. Satu buku mengupas satu tema dengan gaya bahasa sehari-hari, warna, bagan, dan gambar yang atraktif. Pembahasan jangan pacaran kala itu betul-betul bisa dibilang baru jika menilik cara pembahasan Felix Siauw. Sedang Anifah Hambali, dalam bukunya lebih banyak menulis kegiatan positif yang bisa dilakukan sebelum bertemu jodoh. Felix maupun Anifah berani berfokus pada satu bahasan, sesuatu yang belum saya temukan dalam UHB.

UHB sendiri masih lebih mirip catatan acak dari kegelisahan penulis yang kalimat-kalimatnya terkadang seolah menganggap pembaca serba tidak tahu. Kalimat semacam ‘remaja jaman sekarang’ dan ‘jika Anda sebagai orang tua merasa terlalu menekan anak’ membuat penulis seolah bukan bagian dari seseorang yang pernah remaja atau calon orang tua. Dengan kalimat demikian, penulis seolah pula telah menjadi sosok tanpa celah semenjak lahir.

Meski terkadang menggunakan kalimat yang membuat pembaca seolah serba tidak tahu, sesungguhnya penulis juga telah berusaha menggunakan bahasa prokem alias bahasa gaul dalam keseluruhan UHB. Sayangnya, penggunaan bahasa prokem ini masih terlihat canggung. Kalimat berikut misalnya,’barusan adalah secuil karakter yang bertempat di era digital’ coba bandingkan apabila dikonversi menjadi ‘sub bab sebelumnya menjelaskan gimana karakter yang blablabla di era digital sehingga…’. Apakah penulis terbiasa menulis Karya Tulis Ilmiah alias KTI sehingga penggunaan bahasa prokemnya menjadi canggung? Bisa jadi. Salah satunya ditunjukkan dalam paragraf berikut,’Menurut KBBI, karakter sendiri memiliki arti sifat-sifat kejiwaan… dst’ KTI sekali bukan? Tapi bisakah tetap menyertakan kutipan demikian namun memergunakan bahasa prokem? Bisa. Coba bandingkan dengan,’Karakter sendiri memiliki arti sifat-sifat kejiwaan… dst, nah yang ini menurut KBBI guys’.

 Sampul belakang. Sumber: Dokumentasi pribadi

Tentu saja, kurang mapannya penulis ketika memergunakan bahasa prokem dalam UHB bukannya mutlak buruk. UHB sendiri cukup nyaman dibaca dan usaha mengonversi persoalan gaya bahasa ini masih punya banyak ruang untuk penulis menyempurnakannya pada buku atau tulisan-tulisannya berikutnya. Bahasa prokem ini pula yang seperti satu paket dengan usaha penulis memakai anologi Instagram dalam hubungan ketuhanan, sesuatu yang memang dekat dengan milenial. Dengan demikian, agama bisa terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari dan pembaca serasa sedang bicara dengan rekan sebaya, bukannya digurui. Ah, satu lagi. Buku ini hanya menyertakan terjemahan dalam bahasa Indonesia dalam mengutip hadist, jadi untuk siapapun yang bacaan Al-Qur’annya masih berproses, tidak perlu merasa insecure.

Ya… semoga saja UHB bukan finalnya kegelisahan penulis. Sehingga pada berikutnya, muncul adik-adik dari UHB dengan inovasi anyar dalam bahasan maupun gaya bahasa.


Judul buku                 : Untuk Hidupmu yang Baru

Penulis                       : Rully Nur Rahim

Tahun terbit                : 2019

Penerbit                      : Raditeens

ISBN                          : 978-623-7456+40-7

Tuesday, July 14, 2020

Di Antara Kedua Mata

Sumber: Gugel

Ada darah yang pelan-pelan merekah tepat di antara kedua mata saya. Rekahnya tentu karena perempuan muda di hadapan saya itu, membaca asma-asma gusti pengeran. Sebentar kemudian, perempuan itu mendekat beberapa senti dari wajah saya dan dia tanya,”Seandainya saya sengsara, kamu sedih atau bahagia?”
Belakang leher saya meremang, dingin berganti panas dan panas berganti dingin. Ada tubuh lain yang melesak masuk, membikin saya ingin menjawab, senang saja tuh kalau kamu sengsara...
Sekali lagi, perempuan itu menyebut asma-asmanya gusti. Allah hyang maha agung... Allah hyang maha rohim... Allah hyang maha adil...
Ganti jantung saya yang meremang. Dingin berganti panas dan panas berganti dingin. Hingga debaran berdetak kian kencang dan yakin saya, perempuan itu pula mendengarnya. Ada sesuatu yang jauh lebih kecil dan letaknya juga dalam dada, berdenyut nyeri. Belakangan saya mengenalinya sebagai nurani. Di dalam sana, ada sesuatu yang menjerit dan berkata, saya tentu sedih ketika kamu sengsara...
Perempuan itu lama-lama menatap kedua mata saya, cukup dekat andai saya bisa menyambar bibirnya. Namun badan ini justru gemetaran dan ada kaca tebal tidak terlihat yang membuat mata begitu pedih ketika menatap wajahnya. Jadilah saya bicara sambil menunduk dan menoleh ke arah lain ketika perempuan itu terus memandangi muka saya. Dan lagi, si tubuh lain suaranya jauh lebih keras ketimbang sesuatu yang sangat kecil dan namanya nurani itu.
Maka lusa atau keesokan harinya, saya berencana mencegat perempuan itu dan menjagalnya hingga mati...

Monday, July 6, 2020

Loyalitas


Saya memiliki buku catatan kebaikan orang lain yang saat ini hilang dan sengaja tidak dicari. Lembarannya sangat tebal dan sudah terisi seperempat. Alasan tidak perlu mencarinya adalah, ada catatan kebaikan seorang teman yang saya juluki mbak Freu. Mbak Freu bersama beberapa teman yang lain, memang mengisi porsi cukup banyak dalam buku catatan itu dan pada 2017, sebenarnya ketika membaca buku itu kembali, saya jadi bertanya,”Kenapa kebaikan dia padaku begini, ya? Apa ada tendensinya?”
Anehnya, dalam satu buku itu, saya hanya memertanyakan mbak Freu. Kenapa saya tidak memertanyakan mas-mas teknik yang membantu parkir di Universitas Brawijaya? Kenapa saya tidak memertanyakan Fasta yang memberi pembatas buku bikinan sendiri? Kenapa saya tidak memertanyakan bapak-bapak tuna wicara yang membantu ketika motor mendadak mogok? Kenapa saya tidak memertanyakan Wiwin yang menraktir makan?
Kecurigaan ini saya tepis berkali-kali, bahkan ketika saya mengalami masalah di pertengahan 2017 dan mbak Freu mengabaikannya ketika tahu. Mbak Freu adalah mbak Freu, yang meminjami buku dengan memelajari kebutuhan saya terlebih dahulu, yang menraktir makan, membonceng, memberi anting dan lipstik yang tidak murah harganya. Pikir saya kala itu, isi pikiran sendiri yang negatif, padahal dia hanya seorang kakak yang mau memberi macam hal pada adiknya tanpa diminta. Kebaikan serupa juga diberikan teman-teman saya yang lain kok, namun kenapa hanya mbak Freu yang semakin lama membuat gelisah?
2016, mbak Freu berusaha mendekatkan saya dengan teman-teman di salah satu komunitas. Saya mengikutinya karena teman-teman yang ada di sana sebagian besar baik. Secara rutin, saya hadir dalam acara komunitas tersebut dan berkontribusi menulis. Mbak Freu kala itu masih menulis dan bertugas jadi kurator juga di sana. Meski pada akhirnya, dia bermasalah dengan salah seorang pentolan komunitas tersebut dan pelan-pelan menghilang. Tidak hanya itu, ia juga memengaruhi saya agar tidak lagi berkontribusi. Permasalahan mbak Freu dengan si pentolan ini saya lihat sebagai persoalan pribadi, yang mana kedua belah pihak sama-sama saling melukai. Jadi mengapa harus saya berpihak pada salah satunya? Dan 2017 mbak Freu mendirikan komunitas lain dan ganti berusaha menarik saya kesana.
Saya memutuskan mengikuti saja segala pola dalam pertemanan mbak Freu sejak 2015 memang. Membiarkannya mengunjungi rumah, mengenal keluarga dan kucing saya, sekaligus memberinya balik ketika memang ada rejeki. Dalam ingatan saya, mbak Freu hanya pernah saya beri pembatas buku bergambar kucing. Sesekali saya juga mengantar buku-buku penulis asal Malang yang saya miliki ketika pergi ke pusat kota dan melintasi rumahnya.
Yang saya berikan padanya, tidak ada apa-apanya memang. Ayolah, tanyakan pada teman-teman saya yang lain pernah diberi apa oleh saya. Jawabannya hanya benda-benda kecil lagi remeh. Bolpoin? Pembatas buku? Paling mahal nasi padang. Sesuatu yang tentu saja bukan diinginkan mbak Freu…
2018 awal, mbak Freu mulai berubah. Dia bukan lagi seorang kakak yang bisa main bareng saya dan saling bercerita. Dia beda dan mengabaikan saya. Sedih dan patah hati, berusaha saya mencari kesalahan. Coba bertanya pada mbak Freu? Perempuan ini punya kemampuan manipulasi agar seseorang di hadapannya merasa bermasalah sendiri. Lebih patah ketika mbak Freu berkali berpapasan dengan saya dan pura-pura tidak mengenal. Pernah juga saya coba mengajaknya mengobrol di sebuah acara yang mana kami duduk berdua saja di barisan paling belakang dan balasannya? Ucapannya pedas. Dan lagi, pada tahun itu juga seorang teman bilang, ia dibela ketika ada masalah. Tunggu, 2017 saya juga memiliki masalah dan kepada mbak Freu saya mohon dukungannya, namun bagaimana bisa beda perlakuan? Ia tidak mendukung, apalagi membantu. Meski ternyata, pembelaan mbak Freu pada si itu hanya untuk menarik si teman tadi mau bekerja lebih banyak untuknya dan saya jadi bersyukur tidak perlu ditanam budi dengan cara demikian.
Seorang teman lelaki menerima pinjaman ponsel dari mbak Freu. Katanya, ponsel itu dipinjamkan karena ponsel si teman ini rusak. Tapi bagaimana bisa mbak Freu yang tidak mau terlibat urusan orang lain sampai mau sebegitu loyal dengan si teman ini? Ternyata, teman lelaki ini bekerja banyak untuk komunitas mbak Freu. Meski menurut bisik-bisik teman-teman yang lain, manusia satu ini tidak perlu dikhawatirkan karena ia juga cerdik. Ia tahu mbak Freu loyal padanya dengan perhitungan benefit yang rinci, sebaliknya ia pun sama.
Ada juga satu teman perempuan yang dulunya kami dekat. Ia akhirnya bergabung dalam komunitas mbak Freu. Gara-gara melihatnya seperti jadi anak emas mbak Freu, saya menjauhi si teman ini karena merasa waspada. Apalagi ketika teman ini terus dilibatkan dalam acara komunitasnya mbak Freu dan juga berkontribusi menjadi penerjemah. Padahal ketika sudah saling terbuka dengan si teman ini, saya jadi sadar langkah mbak Freu membuang seseorang dan seolah merangkul yang lain, adalah racikannya biar kami semua tidak ada yang bersatu dan malah saling curiga. Sialnya, saya juga baru ingat bahwa dulu yang membanggakan kemampuan penerjemahan si teman ini, ya diri ini sendiri. Sebenarnya saya membanggakannya bukan hanya di depan mbak Freu, namun ya… mbak Freu yang gesit menangkap peluang.
Teman-teman potensial yang saya banggakan dan lantas diberdayakan bukan hanya si teman ini tentu saja. Padahal ya, saya screening begitu hanya karena turut senang melihat ada teman potensial, syukur-syukur waktu promosi ke teman lain, para potensial ini diajak kolaborasi entah sosial atau profesional. Beberapa kali terjadi begitu soalnya meski ya… beda lagu jika yang mendapat cerita para potensial ini adalah mbak Freu.
Teman penerjemah ini pada akhirnya menyadari dia hanya dimanfaatkan dan saya dengan tetap merutuk diri sendiri meminta maaf padanya, karena gara-gara saya membanggakan kemampuannya, dia jadi direkrut. Bagaimana akhirnya teman ini tahu hanya dimanfaatkan? Salah satunya ketika ia sudah bekerja di luar kota, mbak Freu tidak lagi getol menghubunginya. Lagipula, jika persoalannya hanya penerjemah, ternyata ada stok anak-anak lain di komunitas mbak Freu sepeninggal si teman ini.
2019, seorang teman perempuan yang lain lagi menghubungi saya. Dia bilang ada satu orang yang patah hati dan bahkan depresi atas petemanannya dengan mbak Freu. Teman yang depresi ini bisa kita sebut Wiwik. Teman perempuan yang menghubungi tadi, memang pernah mendapat perlambang dari perkataan saya soal keajaiban mbak Freu. Perlambang ini ditangkapnya setahun kemudian ketika Wiwik datang dengan sedih luar biasa. Si teman ini menyarankan, saya dan Wiwik harus bertemu. Karena dengan manipulasi canggih mbak Freu, Wiwik ternyata merasa bersalah sendiri hingga depresi.
Ketika saya dan Wiwik akhirnya bertemu, pertanyaan-petanyaan mengapa mbak Freu mendiamkan saya mulai tahun 2018 terjawab pelan-pelan. Jadi di tahun itu, Wiwik mulai masuk dalam komunitas bentukan mbak Freu dan mereka menjadi dekat. Beda imej yang dibangun mbak Freu di depan saya dan Wiwik. Di depan saya, mbak Freu berlaku seperti seorang alpha girl yang tidak butuh laki-laki dan berkarakter kuat. Ia rupanya membaca keinginan diam-diam saya memiliki kakak perempuan yang alpha girl. Sedang dengan Wiwik, mbak Freu mengobral cerita dirinya yang jadi korban laki-laki berkali-kali. Pada Wiwik juga, mbak Freu menunjukkan sisi aslinya yang rapuh, kerap dilukai dan tidak bisa hidup tanpa pacar lelaki.
Dengan imej alpha girlnya, mbak Freu menarik saya yang kagum dan dengan imej korban laki-lakinya, mbak Freu menarik Wiwik yang berempati. Jika dengan saya, mbak Freu seolah melindungi, dengan Wiwik ia beda lagi. Salah satunya soal pergi bareng. Mbak Freu tidak pernah mau saya jemput dan bonceng. Alasannya? Dia bisa bareng teman yang lain atau berangkat sendiri. Padahal, soal membonceng teman begini saya sudah biasa pada teman lelaki maupun perempuan. Sedang dengan Wiwik? Mbak Freu malah menyuruh-nyuruh.
Motor Wiwik dan bensinnya juga, semua dialokasikan. Tidak peduli lokasi Wiwik dengan mbak Freu sedang berjauhan, belum lagi jarak menuju lokasi acara. Tidak hanya bensin dan motor, tenaga Wiwik juga dipergunakan dengan maksimal dalam hal ini.
Jika Wiwik malah meminjamkan bukunya pada mbak Freu tanpa tahu kapan berang-barangnya itu dikembalikan, saya malah diberikan pinjaman buku olehnya dengan jangka waktu pengembalian tidak terbatas dan lagi, tanpa minta. Mbak Freu dengan gayanya sebagai orang yang dibutuhkan, sempat terasa keren di mata saya. Dan mbak Freu dengan gayanya yang membutuhkan, sempat terasa menarik empati di mata Wiwik.
Mbak Freu pun menerapkan ilmu psikologi dari buku yang dibacanya dalam hubungan personal dengan Wiwik. Serupa kepada saya, perempuan itu gemar pergi ke rumah Wiwik dan berkenalan dengan keluarganya. Dengan demikian, ikrar menjadi saudara seolah ditancapkan oleh mbak Freu kepada kami berdua.
Hingga pada akhirnya, kami ditinggalkan perempuan super pintar dan pembaca berat buku ini dengan alasan yang ternyata sama. Meski tidak pernah dikatakannya, kami ternyata ditinggalkan karena tidak bisa berkontribusi apapun terhadap komunitas bentukannya. Kontribusi yang dimaksud adalah kami turut menulis untuk komunitas. Bagaimana saya bisa berkontribusi? Jika tema menulis di sana memang bukan kapasitas. Memang semasa hubungan kami masih baik, mbak Freu pernah bilang,”Kalau kamu bedah buku Anu di komunitas gimana, Py? Mau?” dan saya entah bagaimana tidak menolak tapi juga tidak mengiyakan. Insting saya menuntun untuk memberi jawaban yang mengalir-mengalir saja.
    Dan siapapun yang mengetahui masalah Wiwik dengan mbak Freu pasti bisa menilai, ada yang ganjil soal perhitungan mbak Freu. Wiwik mudah menjalin hubungan personal dengan orang lain, ia pula yang kerap tampil di luar sana dengan bendera komunitas yang sama dengan mbak Freu. Seorang teman bahkan menyatakan, mestinya mbak Freu mendapat untung dari komunikasi personal Wiwik hingga mudah mendapat jejaring dan tampilnya ia di luaran sana membawa bendera komunitas. Ya... tapi perhitungan mbak Freu memang unik sih, karena menurut saya pun sosok Wiwik strategis soal ketokohan. Semacam... ini orang potensial dapat panggung dan jejaring banyak. Jadi tidak heran, Wiwik yang biasa mengantar mbak Freu ke banyak tempat, beberapa kali justru ditinggalkan ketika ada sebuah acara yang isinya para tokoh. Sudah begitu salah satu tokohnya punya hubungan personal baik pula dengan Wiwik.
    Wiwik juga heran soal bagaimana mbak Freu memberi saya makanan dan barang-barang juga meminjami buku. Keheranan Wiwik serupa saya ketika melihat anak lain bisa dibela mbak Freu sampai dipinjami ponsel ketika kesulitan. Pola hubungan mbak Freu serupa pada setiap orang sebenarnya, hanya saja ia melakukan investasi berbeda. Jika apa yang didapat ternyata tidak sesuai investasi yang telah dikeluarkan, mesti siap ditendang.
    Pada saya, mbak Freu menginvestasikan makanan dan barang, sedang pada Wiwik ia menginvestasikan cerita nelangsa. Kami juga sama-sama dibuat percaya bakal jadi saudara seterusnya alias investasi perasaan.
Agaknya, saya cukupkan dulu tulisan ini karena cukup menguras memori buruk ketika menuliskannya. Karena ternyata, pola mbak Freu yang demikian ini, dilakukan tidak hanya pada saya dan Wiwik. Tidak hanya pada perempuan, namun juga laki-laki. Kemudian bagaimana sikap mbak Freu kepada saya dan Wiwik saat ini? Seolah tidak terjadi apa-apa dan tiap saya ingin membahas ini langsung di hadapannya, dia membuat seolah saya yang gila dan semua ganjalan itu hanya halusinasi. Padahal pertemanan yang tanpa mau membahas ganjalan terdahulu, hanya akan jadi tumpukan racun pada berikutnya.
Lantas untuk mbak Freu, jika kelak kamu membaca tulisan ini dan menuduh semua orang yang ada di dalam sini playing victim, segeralah pergi ke pofesional. Masih mengingkari dan ogah pergi ke profesional? Coba periksa lagi folder-folder di otakmu yang isinya buku-buku berat dan tanyakan dinamakan apa dirimu itu. Tanyakan pada buku-buku yang pernah kamu baca, dari IQ tinggi, fisik standar industri, keluarga menengah-atas dan multitalentanya dirimu itu, ada luka apa yang menyertai dan tidak teratasi hingga kini.
Dan ya, pak Habibie benar ketika mengatakan kecerdasan tanpa cinta adalah hal berbahaya… 

Catatan:
"Tulis tanpo papan gumantung tanpo cantelan." ketika membaca kalimat ini, apa kamu ingat sesuatu dari banyak hal yang pernah kamu pelajari selama ini, Mbak Freu?

Friday, July 3, 2020

Friday, June 26, 2020

Dear, Maling

Sumber: Dokumentasi pribadi yang berlokasi di Lawang, Kabupaten Malang

Jakarta, Semarang, Surabaya dan kota-kota yang semestinya saya tinggali jika saja tidak membukakan pintu buatmu dan membiarkanmu menjagal semaunya.

Namun di waktu-waktu yang semestinya dan semestinya tadi, saya justru menyelam dalam laut, menggali dalam tanah dan naik ke langit tanpa raga. Sesuatu yang mesti kamu pelajari sepanjang hidupmu dengan berpuasa sementara, dengan menyebut nama Tuhan yang berpura-pura.

Ada perjalanan yang lebih besar ketimbang kota-kota yang kamu curi awalannya...

Catatan: ini keluaranku setelah baca teenlit

Friday, June 19, 2020

Juni

Bulan Juni, tanggalnya lima. Saya berhenti mengirimimu parsel kebenaran.