Wednesday, October 28, 2020

M

Sumber: Gugel

Menakutkan

Kamu menghancurkan jendela kami

Kamu mengaum kepada keluargaku

Ketika aku melihatmu lagi

Kemudian

Aku akan lari menjauhimu

Dinosaurus


Memukul

Kamu menghancurkan jendela kami

Kamu mengaum kepada keluargaku

Ketika aku melihatmu lagi

Kemudian

Aku akan berteriak lebih keras ketimbang kamu

Dinosaurus


Memaafkan

Kamu menghancurkan jendela kami

Kamu mengaum kepada keluargaku

Ketika aku melihatmu lagi

Kemudian

Aku akan berteriak lebih keras ketimbang kamu memaafkanmu

Dinosaurus


diadaptasi dari dinosaurnya akmu 

 

Tuesday, October 27, 2020

Mindfulness, Sesuatu yang Tidak Pernah Saya Duga

Dalam salah satu episode Hunter X Hunter, Gon berhadapan dengan Hanzo dalam ujian Hunter. Kesenjangan kemampuan mereka nampak jelas terlihat hingga tangan Gon dipatahkan oleh Hanzo. Para Hunter dan peserta berbisik-bisik soal kekejaman Hanzo, lantas lelaki berkepala plontos itu pun berkata bahwa, tulang Gon kelak akan tumbuh kembali bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Hanzo mematahkan tangan Gon dengan teknik yang tepat, hingga kelak struktur tulang Gon akan lebih baik ketika tangannya pulih.

***

Dua tahun ini, banyak orang merasa bersimpati terhadap hidup saya. Hidup yang bagaimana sih memangnya itu? Yang mati segan, hidup nggak ada tujuan.

Di tahun pertama, teman, saudara dan kenalan, sering terlihat jauh lebih mengusahakan bagaimana saya hidup ketimbang diri saya sendiri. Memang sih, serangan mental di tahun pertama ini luar biasa. Masih bisa menulis sepanjang tahun itu saja, sudah luar biasa. Hingga hari ini, saya suka tuh, buka-buka jejak tulisan lama di ige story maupun blog dan makin merasa... Oke juga ternyata daya tahan saya. Tulisan juga banyak yang ketche tuh meski dalam kondisi terdesak.

Saya bahkan lupa, berapa kali sudah ambil pisau dari dapur dan berencana mengakhiri hidup di tahun pertama itu. Saya juga lupa berapa kali usaha menjatuhkan diri dari lantai dua rumah atau menabrakkan diri ke mobil. Tapi semua rasa sakit yang datang selama dua tahun dan bahkan hingga hari ini masih jelas terekam. Meski ya... Rekaman itu hanya ada di kulit, tulang, daging dan darah. Tidak dengan otak, hati apalagi.

Tapi yang jelas, pertengahan tahun kedua ini saya malah merasa datar. Ketika tulisan saya dipuji misalnya, saya tahu emosi itu bisa diberi label senang. Namun yang ada, senang itu tidak membuat saya tertawa meledak, bangga sepanjang hari atau tersenyum sampai esok lusa. Senang itu sesaat saja dan hampir tanpa ekspresi yang kentara, kemudian redam lagi. Pula ketika saya mendengar cerita traumatis dari orang sekitar. Saya tahu emosi itu bisa diberi label empati, namun tidak ada tangisan, umpatan, apalagi jeritan.

Saya merasa aneh dengan kondisi yang makin datar itu. Tidak bisa marah, tidak bisa senang, emosi-emosi yang lain juga redam-redam saja dalam dada. Hingga saya bertanya pada teman SMK yang namanya Noval,”Kek, apa aku mati rasa? Kok aku sekarang datar ya?”

“Kamu masih suka kucing kan? Kalau iya, kamu nggak mati rasa berarti.” Jawab Noval.

Beberapa waktu setelahnya, saya bergabung dalam sebuah garapan yang mana ada dokter psikiatri di dalamnya. Demi memastikan semua yang terlibat baik secara mental, kami mendapat jadwal ngobrol masing-masing. Pada kesempatan itu, saya pun bertanya,”Bu, kenapa saya sekarang datar? Apa saya mati rasa karena kebanyakan disiksa?”

Pengalaman saya pun mulai digali. Mulai dari merasa biasa saja melihat orang yang pernah coba menyentuh saya tanpa konsensus bukunya laris, sampai persoalan lain-lain yang harusnya traumatis namun justru saya tidak lagi merasakan marah di sana. Bahkan ketika orang lain menceritakan beban-bebannya, tidak ada rasa lelah atau tenaga yang terkuras dari diri saya. Yang satu ini, sesuatu yang betul-betul baru saya rasakan setelah menjalani dua tahun terberat.

Dokter psikiatri yang tengah menggali pengalaman-pengalaman saya itu pun, mulai mengulas hasil kerja saya,”Pop, kalau kamu datar. Hasil tulisan kamu nggak mungkin sedetail ini. Sampai suara motor dan bahkan empati itu ada di sana.”

Saya terhenyak dan mengiyakan. Hasil pekerjaan yang bahkan tidak ingin saya baca ulang lagi itu, ternyata dinilai sedemikian dalam.

“Kamu itu mindfulness. Salah satu tahap kedewasaan. Kamu tahu gimana nggak terlalu senang ketika dapat berita gembira, juga nggak histeris ketika dengar berita traumatis.”

Usai mengobrol dengan dokter psikiatri, saya pun langsung menceritakan apa yang saya dapat kepada teman terdekat. Mbak Hani mengucap selamat atas apa yang saya capai, Zainul malah ingin curhat dan Yu Siti berkata,”Aku senang kamu mencapai ini. Dulu, aku mencapai ini dengan proses teater, sedang kamu mencapainya dengan proses penyembuhan.”

Jika ditanya, kado apa yang paling cantik dan saya dapat pada ulang tahun yang kali ini, tentu saja jawabannya mindfulness. Sesuatu yang bahkan belum pernah saya akses dari buku-buku mengingat kapasitas baca yang jauh sekali dibanding teman-teman lain. Namun saya menemukannya justru melalui pengalaman nyata.

Di lain waktu, seorang teman menelepon selama lima jam. Ia bercerita masa kecil hingga dewasanya dan... betul tidak ada tenaga yang terkuras. Begitu pula hari ini, ketika seorang teman yang lain mengirim teks WA begitu banyak mengenai kekecewaannya. Saya membalas pesan-pesannya sama banyak, tanpa kelelahan.

Satu waktu Desi mengatakan, hidup yang menunggu mati itu klise. Saya tahu itu benar karena... Saya yang sekarang meski tetap tidak punya rencana hidup dan pilih mengerjakan apa saja yang ada di depan mata, sudah menemukan tujuan. Kesakitan-kesakitan ini bukannya sekadar prosesi aniaya.

Dan bahwa saya tidak perlu menyajikan kalimat berbunga-bunga semacam ‘hidup ini hanya menunggu mati’, demi menutupi ketiadaan tujuan dan kemurungan oleh karenanya. Meski ya, jadi nihilis ala-ala nampak keren juga. Ehe.


Ini swafoto apresasi, karena sudah pada titik tidak merasa paling menderita dan berjuang. Semoga foto-foto ini tidak dicuri akun mesum yang fetishnya mbak-mbak overweight. Terus pikir saya, bakal matinya itu Januari 2019. Eh, ternyata sampai akhir tahun 2020 masih hidup juga.

Ekspresi favorit saya, tapi ibu nggak suka.

Ekspresi favorit ibu, tapi saya nggak suka banget.

Suka pakai foto profil ekspresi begini. Ibu nggak terlalu banyak protes.

Lagi-lagi ekspresi favorit saya dan ibu benci banget.

Ekspresi yang antara suka dan nggak tuh, saya biasa saja. Ibu suka ekspresi ini, banget.

Ekspresi favorit Mavalda. Ini saya pakai kalau lagi di kamar pas dan nggak mampu beli bajunya.

Ekspresi favorit mbak Hani. Yang begini lebih suka saya simpan sendiri.

Tuesday, October 13, 2020

Multivers

Ranukumbolo. Jepreted by sepupu menclekku


Westerlund BKS AS ditemukan dan ukurannya lebih besar dari bintang merah UY Scuti. Namun ketika skala diperbesar dan terus diperbesar, Westerlund nyatanya adalah satu dari rarusan milyar bintang lain di galaksi Bima Sakti. Dan dengan skala yang lebih besar lagi, galaksi Bima Sakti ternyata adalah satu dari milyaran galaksi lain di alam semesta. Sedang alam semesta, ternyata satu dari milyaran alam semesta lain dengan hukum yang berbeda, disebut sebagai multivers.

Namun dunia biru itu bukan salah satu dari isi galaksi atau semesta lainnya. Ia berdiri sebagai salah satu dari milyaran bentuk jagat yang lebih jauh dari multivers. Milyaran skala yang ditarik dari multivers dan barulah engkau bisa bertemu dengan dunia biru. Perjalanan demikian tidak bisa ditempuh melalui teropong ruang angkasa paling canggih sekalipun, apalagi bus kota.

Dan hal itulah yang saat ini dijalani remaja lelaki itu. Ia tidak bisa merasai kaki dan tangannya sendiri. Tubuhnya lebur bersama awan putih dan ruang-ruang berwarna biru langit. Meski sayangnya, ia begitu sulit berjalan karena separuh tubuhnya entah bagaimana tertahan di antara batas dunia biru itu.

Ia melayang dan terus melayang. Hingga sebuah gerbang ditemukannya dengan dua sosok memakai jas putih menyambut. Keduanya tersenyum adem dan saling berbisik-bisik hingga salah satunya berkata,”Apa yang sedang kamu cari? Di belakang gerbang ini tidak ada Tuhan. Kamu hanya akan terus melayang dan menyaru awan putih hingga waktu yang tidak ditentukan. Kembalillah dan biarkan kami menyertaimu. Baju-baju kami berwarna putih dan kamu pasti mengerti warna ini melambangkan kebaikan yang bagaimana.”

Maka lelaki itu mengangguk. Dibiarkannya kedua sosok itu memeluk tubuhnya dari belakang dan sebentar kemudian ia kembali bisa merasai tangan dan kakinya. Ia ingat, tiga minggu lalu seorang senior bilang padanya jika minuman dan sedikit obat bisa membawanya pergi ke dunia yang melampaui multivers. Kedigdayaan bisa dicapai sekembalinya dari sana. Jika tidak, minimal engkau bisa merasa bangga di antara teman sepermainanmu karena berhasil melaju ke dalam dimensi yang satu itu.

Tapi bukan kedigdayaan yang ingin dicapai lelaki 18 tahun itu. Bukan juga rasa bangga. Ia hanya ingin tahu di mana Tuhan sesungguhnya berada. Maka ketika ia bangkit disusul senior dan teman-temannya yang lain setelah semalaman menenggak minuman dan obat hingga berguling-guling di lantai ruang organisasi mahasiswa. Ia berkata pada mereka,”Saya hanya sampai di dunia biru itu lantas kembali lagi.”

Salah seorang yang berambut sebahu menyahut,”Ah, paman buyutku malah pernah jumpa orang-orang berpakaian putih. Semenjak itu, dia jadi bisa lihat orang tembus pandang, pula dibacok tidak mati. Untuk mencapai level itu, agaknya susah sekali ya?”

Setelah membenahi kacamatanya yang bengkok karena tertindih salah seorang rekan, ia lagi-lagi hanya tersenyum.  Sebuah bisikan melarangnya bicara. Meski ketika matanya mengedar menuju teman-temannya itu, sebuah pengelihatan baru didapatnya. Hingga darah, nadi dan gajih mereka nampak begitu jelas.

Lelaki itu tidak lagi sama kemudian. Ia bukan lagi sosok setia kawan yang turut bahagia dan sedih atas apapun yang teman-temannya alami. Ia juga bukan sosok yang dulunya hanya mau pada satu perempuan. Ada rasa marah tiap orang lain mendapat kebahagiaan sekecil apapun, meski orang itu kawannya sendiri dan bahkan lima atau enam perempuan tidak pernah cukup baginya. Tapi semakin ia melakukannya, pengelihatannya justru makin tajam saja.

Thursday, October 1, 2020

Brand New Wing

I told her, that she hurt me so deeply all my life. She apologized today and I forgive her. My inner child finished. 

Saturday, September 26, 2020

Pengiriman Gagal

Coreted by: Esti Vita Ningtyas

ketik

ketik

ketik

berhenti saja. ketimbang satu waktu kamu jumpa saya lagi, lantas maskulinitasmu yang rapuh itu makin hancur.

saya malah berterima kasih, dengan semua ini banyak hal dalam diri saya kelar. masalah dengan ibu, kesehatan mental, inner child, pencarian spiritual.

kalau kamu lanjut, nggak tahu hal apa lagi yang justru akan saya capai dan membuatmu makin kesulitan memroses patah itu.

hapus

hapus

hapus

ketik

saya memaafkanmu...

kirim

pengiriman gagal

Thursday, September 17, 2020

Takdir

Sumber: Gugel

Membayangi manusia sejak jadi segumpal darah, adalah takdir saya. Lucunya, saya pun diberi nama Takdir entah oleh siapa. Sang entah oleh siapa itu, yang memutuskan segumpal darah bakal diberiNya nyawa atau tidak. Sering juga, segumpal darah itu luruh begitu saja dari dinding rahim si ibu. Jika demikian, mati adalah takdirnya bahkan sebelum mencicipi dunia.

Dari sekian manusia yang saya bayangi, ada satu yang paling menarik hati. Seorang lelaki, belum 40 dan gemar memakai sepeda bebek kemana-mana. Belasan tahun lalu, ia lulus sarjana hukum. Saban malam, saya melihatnya bersujud kepada Dia yang menamai Takdir kepada saya. Betapa Dia menyayangi lelaki itu hingga satu waktu, peluru yang hampir menembus perut, diperintahkannya meleset. Tentu melalui jari-jari saya.

Di lain waktu, tali-tali hitam merajah darah dan nadi lelaki itu. Ia menggelepar di atas lantai dan nyaris kehilangan napas. Namun, Dia membuat seorang rekan jauh dari lelaki itu tergerak datang dan bantu menyembuhkan. Lagi-lagi, saya petugas lapangannya. Tali-tali hitam itu, saya buat sirna seketika melalui jari si rekan jauh.

Ketika saya menarik garis waktu yang panjang, si rekan jauh itu putrinya sempat menjadi korban pelecehan dan lelaki itu di masa yang lampau sekali, habis-habisan membela dengan ilmu hukum yang ia punya. Dan bahkan, lelaki itu tidak begitu ingat pernah membantu siapa saja dan atas sebab apa.

Di lain waktu, ia juga mengadvokasi para buruh dan merangkul rekan perempuannya yang jadi korban percobaan perkosaan. Kelegaan di antara rasa sesak dan kegelapan oang-orang yang ia bantu, telah menggetarkan tiang-tiang penyangga rumahNya, Dia yang telah memberi saya nama. Hal demikian membuatnya begitu beken di antara makhluk langit dan bahkan di antara makhluk kerak terdalam bumi. Ada inti dalam dada kami semua yang tergetar oleh karena ia. Tidak heran, Dia kerap memerintahkan saya membuat peluru meleset dari lelaki itu, hingga magi-magi hitam sekalipun.

Namun hari itu, saya mesti menjalankan satu hal yang lagi-lagi sesuai nama yang diberikanNya. Hanya saja, tugas hari itu sungguh membuat ingin menangis juga sesak. Lelaki itu, ditakdirkan mati pagi hari ketika naik pesawat. Saya mengintilinya sejak ia masuk dalam pintu pesawat. Perjalanan Jakarta-Amsterdam adalah yang terakhir buat dia. Saya gemetaran manakala malaikat maut berjalan pula berbarengan dengan saya.

“Jangan ndeso kamu. Ini bukan kali pertama kamu menyaksikan orang mati, bukan?” ucap malaikat maut cuek. Namun diam-diam, saya melihat kantung matanya penuh dengan air yang siap meluncur deras.

Maka lelaki itu pun sungguh mati, manakala memakan makanan yang disajikan di hadapannya. Malaikat maut buru-buru berlari setelah melaksanakan tugasnya. Air mata meleler di pipinya, pun saya yang berdiri dengan gemetaran menyaksikan lelaki itu dikerubungi seluruh kru pesawat dan penumpang.

Bisik-bisik para pembawa racun yang tengah menelepon seorang penyuruhnya, terdengar. Entah dari bagian pesawat yang mana. Dengan nada penuh keyakinan, si pembawa racun mengatakan bahwa misi yang ia emban memang selalu berhasil. Ia mendaku bahwa dirinya tidak seperti para pembawa misi yang terdahulu, yang mana mereka selalu gagal membunuh lelaki itu. Gigiku bergemeretak mendengar napasnya yang mendengus bangga. Makhluk yang demikian tidak bakal memahami, bahwa ia selama ini sedang berusaha memutus ketetapan Tuhan melalui diri saya. Adapun kegagalan dan keberhasilan, terjadi bukan karena ia. Dasar pembunuh jancuk…

Pihak berwenang melakukan penyelidikan alakadarnya dan menangkap pilot pesawat sebagai dalang kemudian. Saya bertanya padaNya, kenapa tidak diijinkanNya saya menangkapi semua bajingan yang sungguh menjadi dalang. Lantas Dia pun menjawab, semuanya sudah sesuai dengan nama yang diberikanNya pada saya.

Menahun berikutnya, kematian lelaki itu terus diperingati dan menjadi bahan bakar perlawanan, bukannya jadi ketakutan. Bahkan hingga hari ini… bahkan hingga hari ini…

Dan itu semua terjadi sesuai nama yang diberikanNya kepada saya, Takdir.

Saturday, September 5, 2020

Arini, Si Picik yang Dibully dan Disingkirkan


Menurut bisik-bisik yang disebar beberapa anak perempuan di kelas, kepindahan Arini dari sekolah salah satunya adalah karena Bravo membullynya. Saya jadi kembali mengingat kasus ini ketika mengobrol dengan Sri. Sri sendiri menceritakan perkara Arini, setelah membaca kisahnya pernah menampar gadis yang punya imej pintar, santun dan pendiam itu dari blog ini (Baca Juga; Sri Bukan Anak Nakal Tapi Laura).

Imej Arini yang kalem, santun dan menonjol akademis disebar lintas kelas oleh para guru, pula imej Sri yang dilabel nakal. Jadilah ketika Arini melukai Sri tanpa sebab, semua orang malah mengeroyok Sri. Kala itu, Arini serupa tokoh utama yang mendadak dianiaya orang-orang kejam yang iri seperti Sri. Meski sesungguhnya, gadis berkulit putih itu hanya berupaya membela diri dan bukannya melukai tanpa sebab.

Cap nakal sendiri, didapat Sri ketika mulai pindah di sekolah kami saat kelas dua. Sri kala itu, juga baru saja pindah dari daerah menuju salah satu panti asuhan yang letaknya di tengah kota Malang. Ia sesungguhnya bukannya nakal, hanya saja belum mengerti peraturan apalagi bisa beradaptasi. Bahkan saya ingat, bagaimana Sri tidak mengerti cara menulis di dalam garis.

Sedang Bravo, saya kenang sebagai anak yang engerjik. Dia selalu tertawa-tawa dan melanggar aturan. Meski dalam ingatan, kami ternyata tidak pernah bersinggungan bahkan sekadar saling sebut nama. Belakangan saya memahami, agaknya Bravo ini tipe yang tidak akan menjalin hungan dengan teman yang tidak membuka diri semacam saya. Pula ia, tidak akan membuat gara-gara dengan teman yang sama sekali tidak bersinggungan semacam ini.

Dalam ingatan Sri, pernah Bravo menulis nama orang tua Arini di papan tulis dan sangat besar. Di sekolah kami yang berbasis agama, menulis atau menyebut nama orang tua teman adalah tindakan tidak terpuji, sebuah pelanggaran fatal. Kemudian Arini kala itu kabarnya terluka parah hatinya dan ramai-ramai orang membelanya. Ya… membela si anak baru yang pendiam, santun, pintar namun tiba-tiba diperlakukan tidak adil oleh Bravo. Bravo yang kejam... Bravo yang jahat… begitu kira-kira yang ada dalam pikiran orang-orang.

Tapi selain Bravo, ternyata ada Cayo yang benci setengah mati pada Arini. Agaknya, kedua anak lelaki ini pernah punya masalah dengan si kalem itu secara langsung atau menyaksikannya membuat masalah. Karena kontak mereka berdua tidak bisa saya dapat, jadi konfirmasi soal hal ini belum bisa dilakukan.

Cayo juga pindah ke sekolah kami ketika kelas dua, hampir berbarengan dengan Sri. Menurut bu Nurul, wali kelas dua, kepintaran Cayo sesungguhnya setara dengan anak-anak dari SD yang katanya favorit. Hanya saja, entah bagaimana dia jadi tidak terarah dan nilainya menurun semakin naik kelas. Jadi ketika Arini masuk di kelas tiga, prestasi Cayo sudah menurun.

Sri dan Cayo sendiri hubungannya sangat baik, pula dengan saya. Dalam ingatan, saya mengenang Cayo sebagai anak yang jahil tapi bukan melanggar aturan. Dengan rambutnya yang keriting dan mengembang ke atas, Cayo memerlakukan saya sangat baik bahkan mendukung terang-terangan hobi menulis saya. Malah dengan Sri, banyak guyonan yang saya tidak paham namun ia dan Cayo bisa terbahak-bahak bersama.

Kolaborasi Bravo dan Cayo selanjutnya terus menggempur Arini. Sri sendiri tipe bertahan, beda cara dalam menghadapi si peringkat dua di kelas itu. Ia hanya pernah menyerang balik Arini sekali dan tidak pernah lagi terulang. Ketika akhirnya Bravo keluar dari sekolah yang saya lupa ketika kelas empat atau lima, desas-desus beredar bahwa keluarnya Bravo salah satunya karena pernah menjahili Arini. Ya, soal papan bertulis nama bapaknya itu. Mr. A yang hanya mau mengakui murid pintar sebagai anak didiknya, saya ingat menceritakan keburukan Bravo sering sekali di depan kelas. Yakin saya, ia pula menceritakan keburukan Bravo lintas kelas, mengingat masing-masing tingkat di SD kami waktu itu, hanya ada satu rombongan belajar. Setiap guru, menguasai hampir semua kelas dan tiap tingkat, bisa saling mengenal. Barangkali, niat Mr. A adalah memberi contoh baik dan buruk kepada semua anak didiknya, meski fatalnya semua justru berubah jadi label karena penyebutan identitas yang jelas.

Jujur saya merasa lega, ketika Sri menceritakan kembali kasus Arini yang ternyata dibully duo Bravo dan Cayo itu. Perasaan sesak dan marah ketika dulu gagal membela Sri yang sesungguhnya membela diri dari kejahatan si kalem itu, pelan-pelan menguap. Jika Sri hanya menyerang ketika bertahan dan bisa membalas kejahatan dengan kebaikan (baca juga; Sri Eka Fidia Ningsih dan Caranya balas Dendam Pada Si Culas), Cayo dan Bravo mengambil jalan yang berbeda. Arini yang picik dan pandai bersandiwara, mereka singkirkan dengan cara setara kejahatan si kalem itu, bahkan agaknya lebih. Ini semua jadi membuat kesan Cayo dan Bravolah yang jahat. Tapi toh, dengan cara demikian, anak seperti Arini baru bisa diusir pergi.

Masih ingat kasus Hasna VS Savina yang saya tulis dalam Seni Memaklumi? Ya, Hasna melukai dan menyingkirkan Rara yang dianggapnya pesaing. Rara keluar dari komunitas dan terlempar dari lingkaran Hasna. Namun kemudian, Hasna bertemu Savina yang takut sekali kalah pamor dengannya dan juga tahu ia berbahaya. Savina ganti menyingkirkan Hasna kemudian, bahkan dengan cara yang lebih jahat dari ia menyingkirkan Rara.

Sri yang memilih bertahan dan membela diri ketika terdesak dan Rara yang tersingkir karena terus didesak. Keduanya memiliki pola yang mirip; sama-sama dilukai tanpa sebab. Dan orang yang membuat mereka luka pada akhirnya tersingkir dengan cara yang lebih jahat. Ini semua membuat saya makin percaya, semua orang memang memiliki motif hingga dirinya jadi beracun. Tapi tidak semua orang, bisa disentuh hatinya dan masuk ke bagian yang satu itu bukannya tugasmu, bukannya kewajibanmu. Orang-orang demikian memang layak tersingkir oleh cara-cara yang lebih jahat dari kejahatan mereka sendiri. Karena jika tidak, tinggal tunggu kamu atau orang terdekatmu yang ganti dilukai tanpa sebab. Tapi ya, ingin menjadi Sri atau duo Bravo dan Cayo, semuanya ada di tanganmu sih.

Friday, August 14, 2020

Rahim

Sumber: Gugel

Apa yang lebih mengerikan? Ketimbang hidup seorang perempuan yang tanpa rahim dan lagi tanpa suami? Orang-orang hanya akan berpikir hidup seorang perempuan bakal penuh kemalangan, tidak ada yang menjaga dan betapa butuh pertolongan. Namun, pikir Farra, semuanya bakal selesai hari ini. Hari di mana ia resmi bersuami dan semua saksi berteriak, sah!

Setelah sekian lelaki berusaha ia tancapi tali-tali berwarna kuning dalam darah dan nadi mereka, pada akhirnya, ada satu lelaki yang dengan mantap datang kepada kedua orang tuanya, memintanya jadi istri. Hanya jawaban iya, mengalir dari bibir kedua orang tua Farra. Perkara sakit putrinya di hari lalu dan bagaimana rahimnya itu mesti diangkat, yakin mereka si calon suami telah mengetahui segalanya dari Farra. Setidak-tidaknya mereka yakin, satu saat bisa meninggalkan dunia tanpa khawatir anak gadis berwajah manisnya itu mesti dijaga oleh siapa.

Hingga enam tahun pernikahan itu berjalan, orang-orang terus berbisik-bisik bagaimana rumah tangga mereka harmonis tanpa pertengkaran berarti, meski mustahil hadir seorang anak. Sebagian dari mereka berpikir, cinta sejati telah memersatukan segala kekosongan. Meski saban hari, Farra terus dikejar rasa cemas tiap kali tali-tali kuning dalam darah dan nadi suaminya itu menipis. Karena tiap tali menipis, lelaki itu mulai memertanyakan mengapa Farra tidak mengatakan sejak awal soal sakitnya di masa lalu dan bagaimana rahimnya bisa menghilang. Namun, dalam setiap kopi yang disajikan, Farra kembali memasukkan tali kuning serupa. Tali-tali itu berasal dari dalam kotak rahasianya yang disimpan di bawah ranjang.

Dalam setiap kopi yang disajikan, cinta tanpa syarat itu kembali hadir. Cinta yang katanya tidak peduli Farra memiliki rahim atau tidak. Cinta yang membuat kuping buntu oleh ocehan sebagian lain kerabat dan tetangga, soal ketidakjujuran Farra mengenai rahimnya dan terlalu beruntungnya perempuan itu hingga bisa menemukan cinta sejati.

Dan menahun berikutnya, Farra tetap memaksa suaminya itu menghirup kopi buatannya, meski kata dokter, asam urat membikin lelaki itu sememangnya berjarak dengan kopi.

Ada derap yang mencekam dalam dada Farra, selalu, setiap harinya...


Edit 12 Agustus 2023:

Merupakan juara favorit Kompetisi Fiksi Mini Puan Menulis #BreakTheBias International Womens Day (IWD) 2022.



Wednesday, August 5, 2020

Untuk Hidupmu yang Baru; Panduan Hijrah Milenial Karya Rully Nur Rahim

Sumber: Dokumentasi pribadi
Sampul depan. Sumber: Dokumentasi pribadi

Untuk Hidupmu yang Baru (selanjutnya disebut UHB), menyambut saya dengan kutipan di lembar kedua. Sedikit Berbagi Untuk Pengingat Diri, demikian isinya. Oke, satu kutipan sebelum isi buku tentu saja manis. Buku-buku sejenis banyak pula membawa formula demikian. Lembar berikutnya pun disambung dengan pengantar dan sayangnya, lagi-lagi ada kutipan. Serupa kutipan di lembar kedua, kutipan-kutipan ini dicetak di tengah halaman. Total ada enam kutipan dalam tiga lembar, beruntun! Baru setelahnya daftar isi menyambut.

Sayang sekali kutipannya ditumpuk di awal buku ya? Benar. Padahal kutipan-kutipan ini bisa diletakkan berselang-seling ketika pergantian bab di awal dan akhir. Ada tiga bab dan jumlahnya pas jika disebar enam kutipan. Dengan demikian proporsi buku menjadi lebih seimbang dan manis.

Barangkali penulis meletakkan kutipan-kutipan tadi menumpuk di depan karena tidak nyambung dengan isi tulisan per bab? Tidak juga. Karena ternyata sub bab dalam tiga bab yang disajikan pun tidak terlalu memiliki keterkaitan. Jadi sub bab-sub bab ini sekalipun ditukar posisinya dalam bab lain, tidak ada perbedaannya juga. Bab I misalnya, terdiri dari sub bab yang berjumlah sembilan. Isinya antara lain; 1) Menggapai Rida Allah, 2) Menjadi Pribadi Berkarakter, 3) Bertahan dalam Kerasnya Pergaulan, 4) Bukan Pacaran, 5) Bersaing dalam Kebaikan, 6) Mudah Menyelesaikan Masalah, 7) Tidak Mudah Tertempel Dampak Negatif Masa Kini, 8) Tetap Bermanfaat, dan 9) Menebar Kasih Sayang.

Namun ternyata, bab II juga memiliki sub bab mengenai karakter dan pacaran antara lain; Karakter, Karakter dalam Al-Qur’an, Untuk yang Pacaran, Cara berhenti Pacaran, termasuk soal perokok, pecandu dan hal-hal yang dalam praktik menyalahi penjelasan bagaimana menjadi pribadi berkarakter. Jadi sub bab 2) Menjadi Pribadi Berkarakter dan 4) Bukan Pacaran dalam bab I, sebenarnya ada sub bab lain yang lebih terkait di bab yang lain pula. Juga bab II yang membahas orang tua dan pola asuh, dalam bab III ada sub bab sejenis dengan bahasan berbeda. Agaknya, penulis dalam buku berikutnya harus betul-betul memiliki penggolongan bab dan sub bab yang runut. Jika tidak, sekalian saja penggolongan bab dihilangkan karena ya… tidak fungsi-fungsi amat.

Bagaimana dengan isi buku? Bab I diawali penyebutan berbagai sosial media. Ada Instagram, Facebook, dan Twitter disebutkan bersama peminat yang menurut penulis paling banyak dimiliki Instagram dan paling sedikit dimiliki Twitter. Padahal ya, Twitter tiga tahun belakangan ini kembali ramai hingga tercipta olokan anak Twitter lama vs anak Twitter baru. Dilansir dari Detik, 2019 bahkan disebut tahunnya Twitter di Indonesia. Tapi tidak tahu juga jika penulis menggarap buku ini jauh sebelum Twitter kembali naik.

Isi buku. Sumber: Dokumentasi pribadi

Twitter apa kabar? Wah, sepertinya sudah tidak banyak berseliweran (kelihatan) apalagi Path yang kini sudah di-close karena dampak para remaja yang sudah tidak eksis di akunnya… (hal 2).

Agaknya, pendapat mengenai Instagram lebih unggul, memang sengaja dijadikan penulis sebagai landasan perumpamaan dalam sub bab Menggapai Rida Allah. Jadilah narasi Instagram sebagai media sosial paling populer berusaha betul direka-reka penulis. Penulis lantas memberikan perumpamaan follow, DM hingga followback dalam hubungan manusia dengan Tuhannya.

Jika dipikir-pikir, di-folback sama Bias saja senang, bagaimana di-folback sama Allah? (hal2).

Pendekatan penulis membahas hubungan dengan Tuhan melalui analogi penggunaan Instagram, memang cukup apik jika segmen pembaca menyasar milenial. Meski argumen mengenai popularitas media sosial satu dengan lainnya, jadi dibuat unggul dan rendah atas pendapat penulis sendiri demi mencapai analogi tadi.

Usaha penulis mendekat dengan bahasan milenial terjadi juga dalam kalimat berikut ‘terkadang aku berdoa di kala ingin sesuatu atau lagi ada masalah saja, pantas aku melakukan sesuatu tidak selalu tenang’ coba bandingkan dengan ‘kita sebagai manusia semestinya senantiasa istiqamah’. Dengan nilai setara, lebih membumi mana? Kalimat pertama atau kedua? Benar, kalimat pertama. Penulis telah mengonversi istilah istiqamah menjadi lebih mudah dimengerti.

Cara-cara mendekatkan diri kepada Tuhan, yang disajikan penulis dalam sub bab pertama ini juga cukup aplikatif. Beberapa di antaranya;

Direct message Allah dengan cara berdoa (hal 4).

Kebahagiaanmu pun perlu diDM ke Allah, salah satunya cara mudahnya ikut membahagiakan Allah dengan cara berzikir dan bertilawah menyuarakan kalam-Nya (hal 4).

Pergantian antar sub bab memang cukup singkat. Tiap sub bab paling banyak memuat tiga lembar dan di dalamnya ada beberapa kalimat sengaja dibuat menyerupai font seukuran kutipan di halaman depan.

Hampir setiap bab menyelipkan hadist. Meski hadis-hadist yang dikutip sepertinya akan familiar bagi teman-teman dengan pengetahuan agama level menengah atau pembaca yang sudah melahap buku Felix Siauw hingga Quraish Shihab, apalagi lulusan madrasah dan pondok. Hadist-hadist itu di antaranya ‘permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seseorang penjual minyak wangi akan memberimu minyak wangi…' yang dalam UHB jadi bagian dari pembahasan memilih pergaulan.

Jadi jika ditanya apa UHB membawa kebaruan? Relatif. Jika segmentasinya betul teman-teman yang masih mula-mula mendalami ilmu agama dan minimal jarang membaca konten dari akun hijrah, buku ini bisa jadi membawa kebaruan. Semestinya saya menyebut lugas akun hijrah mana yang saya maksud sebagai pembanding, namun karena butuh waktu untuk kembali menemukan konten-konten yang saya maksud, jadilah saya hanya mampu bercerita semacam ini.

Jika ditanya lagi, mana bab atau sub bab yang pembahasannya cukup apik, jawabannya ada di bab II sub bab Jika Kehilangan Kasih Sayang Orang Tua. Penulis di sini menunjukkan peran ibu dan ayah yang semestinya saling bekerja sama. Pembahasan lain yang berpotensi digarap lebih apik pada berikutnya adalah cerita penulis soal dirinya yang dulunya fangirl dan cerita temannya yang narapidana narkoba. Menceritakan diri sendiri dan teman bisa membuat sebuah tulisan menyentuh pembaca dengan lebih personal. Meski sayangnya, penulis di sini masih membuat persoalan fangirling menjadi hitam putih.

Saya buta k-pop, namun ketika membaca sub bab satu ini, saya jadi merasa dunia fangirling kotor sekali dan tidak ada sisi positifnya. Padahal saya yang non k-popers sekalipun, memahami kerja keras Lalisa Manoban misalnya, apik juga dijadikan inspirasi. Beribadah jalan terus, meniru kerja keras bias juga harus. Penceritaan soal teman narapidana penulis pun hanya sampai pada; dia pernah melakukan apa hingga masuk penjara, sesatnya kehidupan penjara, lalu sekeluarnya dari sana ia sholat lima waktu dan menjauhi zina. Tidak ada penjelasan transisi perubahan teman penulis yang lebih personal, entah karena keterbatasan halaman atau di waktu lain penulis bakal membahasnya lebih detail.  

Isi buku. Sumber: Dokumentasi pribadi

Ada beberapa buku sejenis yang semestinya pula saya jadikan pembanding di sini. Sayangnya, saya hanya pernah membaca ulasan orang lain atau mencuri baca ketika berada di toko buku. Jadi jika pengamatan saya ada kurang tepatnya silakan ditegur ya, Rek. Buku-buku tersebut antara lain Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar! (Kalis Mardiasih, 2018), Wanita yang Merindukan Surga (Esty Dyah Imaniar, 2019), Udah, Putusin Aja! (Felix Siauw, 2013), Santri Nikah Jomblo Punah (Anifah Hambali, 2019).

Bagi yang terbiasa membaca tulisan-tulisan Kalis Mardiasih dan Esti Dyah Imaniar yang tersebar di berbagai media, pasti mengetahui formula keduanya yang sekali atau dua kali mengutip teori hingga hadist lantas menyatukannya dengan keadaan terkini. Keadaan terkini tersebut bisa berupa isu nasional maupun kejadian yang dialami penulis sendiri maupun orang sekitar mereka. Demikian membuat orang-orang yang familiar atau bahkan bahkan lebih ahli mengenai teori hingga hadist yang disebutkan, tetap mendapat kebaruan.

Bagaimana dengan Felix Siauw dan Anifah Hambali? Felix Siauw membawa satu pesan saja yaitu jangan pacaran. Satu buku mengupas satu tema dengan gaya bahasa sehari-hari, warna, bagan, dan gambar yang atraktif. Pembahasan jangan pacaran kala itu betul-betul bisa dibilang baru jika menilik cara pembahasan Felix Siauw. Sedang Anifah Hambali, dalam bukunya lebih banyak menulis kegiatan positif yang bisa dilakukan sebelum bertemu jodoh. Felix maupun Anifah berani berfokus pada satu bahasan, sesuatu yang belum saya temukan dalam UHB.

UHB sendiri masih lebih mirip catatan acak dari kegelisahan penulis yang kalimat-kalimatnya terkadang seolah menganggap pembaca serba tidak tahu. Kalimat semacam ‘remaja jaman sekarang’ dan ‘jika Anda sebagai orang tua merasa terlalu menekan anak’ membuat penulis seolah bukan bagian dari seseorang yang pernah remaja atau calon orang tua. Dengan kalimat demikian, penulis seolah pula telah menjadi sosok tanpa celah semenjak lahir.

Meski terkadang menggunakan kalimat yang membuat pembaca seolah serba tidak tahu, sesungguhnya penulis juga telah berusaha menggunakan bahasa prokem alias bahasa gaul dalam keseluruhan UHB. Sayangnya, penggunaan bahasa prokem ini masih terlihat canggung. Kalimat berikut misalnya,’barusan adalah secuil karakter yang bertempat di era digital’ coba bandingkan apabila dikonversi menjadi ‘sub bab sebelumnya menjelaskan gimana karakter yang blablabla di era digital sehingga…’. Apakah penulis terbiasa menulis Karya Tulis Ilmiah alias KTI sehingga penggunaan bahasa prokemnya menjadi canggung? Bisa jadi. Salah satunya ditunjukkan dalam paragraf berikut,’Menurut KBBI, karakter sendiri memiliki arti sifat-sifat kejiwaan… dst’ KTI sekali bukan? Tapi bisakah tetap menyertakan kutipan demikian namun memergunakan bahasa prokem? Bisa. Coba bandingkan dengan,’Karakter sendiri memiliki arti sifat-sifat kejiwaan… dst, nah yang ini menurut KBBI guys’.

 Sampul belakang. Sumber: Dokumentasi pribadi

Tentu saja, kurang mapannya penulis ketika memergunakan bahasa prokem dalam UHB bukannya mutlak buruk. UHB sendiri cukup nyaman dibaca dan usaha mengonversi persoalan gaya bahasa ini masih punya banyak ruang untuk penulis menyempurnakannya pada buku atau tulisan-tulisannya berikutnya. Bahasa prokem ini pula yang seperti satu paket dengan usaha penulis memakai anologi Instagram dalam hubungan ketuhanan, sesuatu yang memang dekat dengan milenial. Dengan demikian, agama bisa terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari dan pembaca serasa sedang bicara dengan rekan sebaya, bukannya digurui. Ah, satu lagi. Buku ini hanya menyertakan terjemahan dalam bahasa Indonesia dalam mengutip hadist, jadi untuk siapapun yang bacaan Al-Qur’annya masih berproses, tidak perlu merasa insecure.

Ya… semoga saja UHB bukan finalnya kegelisahan penulis. Sehingga pada berikutnya, muncul adik-adik dari UHB dengan inovasi anyar dalam bahasan maupun gaya bahasa.


Judul buku                 : Untuk Hidupmu yang Baru

Penulis                       : Rully Nur Rahim

Tahun terbit                : 2019

Penerbit                      : Raditeens

ISBN                          : 978-623-7456+40-7

Tuesday, July 14, 2020

Di Antara Kedua Mata

Sumber: Gugel

Ada darah yang pelan-pelan merekah tepat di antara kedua mata saya. Rekahnya tentu karena perempuan muda di hadapan saya itu, membaca asma-asma gusti pengeran. Sebentar kemudian, perempuan itu mendekat beberapa senti dari wajah saya dan dia tanya,”Seandainya saya sengsara, kamu sedih atau bahagia?”
Belakang leher saya meremang, dingin berganti panas dan panas berganti dingin. Ada tubuh lain yang melesak masuk, membikin saya ingin menjawab, senang saja tuh kalau kamu sengsara...
Sekali lagi, perempuan itu menyebut asma-asmanya gusti. Allah hyang maha agung... Allah hyang maha rohim... Allah hyang maha adil...
Ganti jantung saya yang meremang. Dingin berganti panas dan panas berganti dingin. Hingga debaran berdetak kian kencang dan yakin saya, perempuan itu pula mendengarnya. Ada sesuatu yang jauh lebih kecil dan letaknya juga dalam dada, berdenyut nyeri. Belakangan saya mengenalinya sebagai nurani. Di dalam sana, ada sesuatu yang menjerit dan berkata, saya tentu sedih ketika kamu sengsara...
Perempuan itu lama-lama menatap kedua mata saya, cukup dekat andai saya bisa menyambar bibirnya. Namun badan ini justru gemetaran dan ada kaca tebal tidak terlihat yang membuat mata begitu pedih ketika menatap wajahnya. Jadilah saya bicara sambil menunduk dan menoleh ke arah lain ketika perempuan itu terus memandangi muka saya. Dan lagi, si tubuh lain suaranya jauh lebih keras ketimbang sesuatu yang sangat kecil dan namanya nurani itu.
Maka lusa atau keesokan harinya, saya berencana mencegat perempuan itu dan menjagalnya hingga mati...