Monday, June 26, 2023

Savior Complex

 

Bedengan. Jepreted by masku sing paling sad boy.

“Kamu ini nggak bisa mengatasi masalah dalam dirimu, jadinya cari-cari masalah di luar untuk diatasi.” Demikian ucapan seorang teman di pinggir pasar Comboran Malang satu pagi.

Saya waktu itu masih 21, sedang mencari yang entah apa dan menyangkal dalam hati ucapan si teman tadi. Ada perasaan merasa lebih dewasa dari yang seusia, ada juga perasaan sudah sering membantu orang lain. Bagaimana saya yang lebih dari orang lain bisa dituduh belum selesai dengan diri secara tersirat begitu?

Hingga tahun-tahun berikutnya saya mulai terganggu secara fisik dan mental. Setelah mencari sebabnya apa, ingatan-ingatan di hari lampau pun mulai terbuka. Hubungan saya dengan ibu ternyata belum selesai. Ibu mengasuh saya dengan kondisi tidak mengakui dirinya belum selesai dan jadilah saya tumbuh bukan dengan penerimaan.

Selama menahun, saya lari dari kondisi itu dengan menjadi bisa diandalkan di antara teman atau siapa pun di luar rumah. Ada penerimaan yang berusaha saya cari dan jika tidak didapat di dalam rumah, artinya harus dicari di luar. Pernyataan teman saya itu ternyata benar dan tahun 2021, saya baru paham istilah psikologinya adalah savior complex. Savior complex beda dengan jiwa suka menolong. Savior complex adalah upaya seseorang menjadi pahlawan karena gagal menolong dirinya sendiri.

Jadi bagaimana ketika kita menolong orang lain hanya untuk lari dari luka kita sendiri? Yang ada hanya semu. Kita yang demikian hanya akan gagal mendengar apa kebutuhan orang yang dibantu dan bahkan memaksakan cara-cara selamat versi kita. Semua karena... Obsesi menjadi pahlawan yang sebetulnya bentuk dari pelarian juga.

Justru ternyata sebuah anugerah, ketika badan dan mental saya saat itu tidak kuat terus berpura-pura menolong orang lain, jadilah semua terungkap...

Wednesday, May 17, 2023

Kantin

 

Sumber: Gugel

Tuan Sudjono dengar harga satu botolnya enam puluh tujuh ribu. Masih juga dia heran kenapa tidak dibuat genap saja jadi tujuh puluh ribu sebagai misal.

Kalaupun semua uang dalam sakunya digabungkan, totalnya bahkan masih kurang tujuh ribu untuk menebus satu botolnya. Jadi dia diam-diam saja melihat satu rombongan lelaki berbaju batik itu dari seberang meja.

“Dua botol ya, Mbak. Aroma cinta kalau ada.”

“Perutnya singset gini, masih gadis atau sudah janda?”

Tawa para lelaki itu bersusulan setelahnya. Perempuan itu cepat-cepat mengeluarkan dua botol acak saja sambil turut tertawa-tawa.

Sesegera mungkin dia bilang dua botol itu punya aroma cinta. Dia juga bilang, statusnya janda satu anak.

Selanjutnya kata cinta dan janda seperti dilempar ke atas meja. Salah satu dari mereka mengetuk-ngetuk dompet tanpa terlihat berniat mengambil seratus tiga puluh empat ribu.

Perempuan itu terus tertawa-tawa, menyantap sajian kata cinta dan janda di atas meja dengan lahap. Seratus tiga puluh empat ribu pada akhirnya disorongkan padanya. Dan ketika ia hendak pergi, salah seorang dari mereka menepuk bokongnya.

Kecuali tuan Sudjono, meja-meja di seberang turut tertawa-tawa. Perempuan itu pun tersenyum saja, melipat uang, menyerahkan dua botol wewangian lalu pergi bersama sepatu setinggi tiga sentinya.

Pesan singkat masuk dalam ponsel tuan Sudjono. Istrinya yang kena tipus mengeluh belum juga mendapat kamar karena tunggakan BPJS. Lelaki itu memandangi gerombolan lelaki di seberang meja, juga jejak sepatu si perempuan yang bercampur hujan dan tanah.

Agaknya, menjadi benar ternyata susah juga ketika kita semiskin tuan Sudjono ya? 

Catatan:

Kok pas dibaca lagi kayak pernah baca cerita serupa yes? Teman-teman yang merasa serupa, janlup jawil atau tegur aku ea. Tencuuu.

Edit:

Paragraf terakhir:

Disaksikan tuan Sudjono, gigi perempuan itu bergemeretak sekelebat.

Saturday, April 1, 2023

Jalan Industri Paling Mulia

Hyoyeon SNSD dan Boy William. Sumber: Youtube BW.


Di sebuah warung kopi perbukuan di Malang, saya berhadapan dengan seorang teman yang konsisten menulis cerita pendek tema lokalitas. Cerpen-cerpennya dimuat koran maupun media online dengan genre sejenis. Genre yang disebut sastra serius.

“Kalau blog itu kan tanpa domain jadi kurang kredibel ya.” Ucapnya.

Namun bukan kredibelitas semacam itu yang tengah saya cari. Sedang di hari-hari berikutnya saya bertemu dua orang teman di kafe tengah sawah. Keduanya sama-sama punya selera bacaan sastra yang disebut serius itu meski ternyata saat ini mengambil jalur berbeda.

Teman satu memilih mengembangkan pengikut Instagramnya, mengambil diksi-diksi sederhana dalam puisi dengan tema-tema cinta. Hasilnya, pengikut media sosial meningkat dan ia bisa buka endors. Sedang teman satunya mulai menulis di salah satu platform di mana tulisan bisa disetel gratis maupun dimonetasi. Kala itu ia mengambil tema cinta dengan diksi sederhana dalam cerita pendeknya.

“Orang-orang membayar untuk membeli kesedihan.” Demikian komentarnya mengenai tulisan-tulisan yang umunya populer dan bisa dimonetasi di platform tersebut.

Kedua teman saya tadi mulanya berangkat dari esai, cerpen, juga puisi berbau sastra serius. Bedanya, teman pertama betulan yakin memilih genre sekaligus pasar yang mana sehingga konsisten membuat video musikalisasi puisi dengan komentar-komentar pengikut Instagramnya kerap merasa relevan atas apa yang ia sampaikan.

Ia pula rajin berkolaborasi dengan penulis tema sejenis. Saling berbagi traffic salah satu keuntungannya barangkali. Lantas teman yang pertama tadi mengajak teman kedua berkolaborasi, bikin musikalisasi puisi. Tepatnya disebut apa ya? Jadi model videonya semacam pengisi suara laki-laki dan perempuan saling timpa dialog-dialog puitis begitu. Apalagi mengingat teman kedua apik ketika deklamasi. Kami pernah menyaksikan deklamasinya di peluncuran buku salah satu universitas di Malang.

Meski beberapa pertemuan berikutnya, teman pertama tadi bilang perkara kolaborasi tidak ada kabar lanjutan dari teman kedua. Saya lihat cerpen-cerpen di platform yang ia pilih juga tidak ada kelanjutan. Apakah teman yang kedua masih ragu hendak menyeberang genre? Bisa jadi.

Teman yang pertama pun bercerita bagaimana puisinya dikatakan buruk oleh salah seorang teman dari komunitas awal ia berkembang. Temannya tadi setia membawa marwah sastra serius hingga hari ini, mengorbitkan penulis-penulis muda anyar, hingga punya bisnis penerbitan. Membawa genre tertentu hingga bisa merambah bisnis, bukankah sebetulnya yang mereka tempuh serupa?

Ada lagi teman semasa SMK saya naksir betul dengan seorang cewek yang isi tweetnya membahas buku. Benar, cewek itu selebtwit dengan pengikut belasan ribu saat itu. Dari buku-buku yang ia ulas, nampak judul-judul berat berseliweran. Hingga ketika teman saya itu hendak membeli bukunya, ia bilang,”Aku mau beli buku si F itu tapi takut bukunya berat.”

Kemudian saya sahut,”Kamu tahu penerbit novel dia namanya apa?”

Dan berlanjut kami ngobrol soal penerbit novel cewek tersebut yang genrenya metro pop. Jadi bisa dipastikan karya perdananya itu tidak bakal seberat buku-buku bacaan yang biasa ia ulas. Benar saja, adik teman saya ini bilang novel tersebut berat di bab awal namun lanjutannya yang ada kisah cinta.

Tunggu... Tunggu, saya tidak hendak menegasikan kisah cinta sebagai hal remeh. Toh di perlombaan cerita pendek pun kerap kali tema lokalitas yang dibawa peserta isinya kisah cinta yang ditempeli latar desa, hutan dan pantai. Yang berarti bukan benar-benar adat, ciri khas atau kisah di suatu daerah yang benar-benar tidak bisa diganti apabila latarnya ada di daerah lain.

Jadi kisah cinta atau kisah apapun itu ketika sulit dipindahkan latarnya ke daerah lain bukankah itu juga lokalitas? Jelas ya, di bagian ini bukan kisah cinta yang jadi masalah.

Saya sendiri sempat galau ketika bingung menentukan mau kemana jalan menulis ini. Cerita-cerita pendek saya formatnya tidak masuk di koran juga perlombaan. Kelewat pendek tentu saja hingga lebih pas disebut fiksi mini.

Koran tertentu pernah ada rubrik fiksi mini namun itu pun formatnya beda dengan fiksi mini di blog saya. Meski demikian saya tetap mengeksplorasi gaya menulis lain. Begini-begini cerpen saya pernah masuk media lokal (Menanti Blanggur, Radar Malang). Esai saya juga pernah masuk lagi-lagi koran lokal yang kabarnya banyak penulis ditolak juga (GWP vs KF, Radar Malang). Sisanya ya, saya pada akhirnya menulis tanpa berpikir kemana tulisan-tulisan ini kelak berjodoh.

Jadilah tulisan-tulisan di blog ini beberapa kali berjodoh dengan seleksi atau lomba menulis yang syaratnya cukup unik. Misalnya syarat seleksi Live in Tempo x Save The Childreen, di mana tulisan yang boleh diikutsertakan harus yang diunggah sebelum Oktober sedang deadline November.

Ketika syarat seleksi atau lomba lain kerap menghendaki tulisan-tulisan anyar atau baru dibuat, belum dipublikasikan, syarat Live in ini laknat juga. Jadi sejak dari poster pengumuman, peserta sudah pada gugur duluan. Agaknya, penyelenggara sedang mencari konsistensi, bukan sekadar tulisan bagus.

Seorang teman menyayangkan gaya menulis saya yang berubah ketika Menanti Blanggur masuk Radar Malang. Tata bahasa, ide yang dieksplorasi memang beda dengan cerpen-cerpen di blog. Kala itu dalam pikiran saya hanya ada perasaan senang belajar, entah itu gaya sehari-hari maupun gaya baru. Isyana Sarasvati menyebut yang begini sebagai ‘eksplorasi genre lain’.

Sebaliknya ketika menulis esai dan masuk koran, kebetulan gaya menulis sehari-hari ya semacam begitu. Apa ya sebutannya, esai populer? Selebihnya esai-esai personal saya di blog mulanya belum bertemu jodohnya sampai media-media alternatif bermunculan (Kisah Berakhirnya Hubungan Saya dengan Sahabat yang Bercadar, Magdalene).

Bagaimana dengan blog? Tetap saya ingin orang melihat blog ini dengan membatin,”Alah, ngunu wae aku ya isa.”** Hingga memantik semangatnya menulis juga. Latar belakang blog ini bisa dibaca di Selamat tinggal, banner lawas.

Tulisan ini sebetulnya dipantik tulisan kang Syarif Maulana berjudul Selera Pasar. Melalui tweet yang ditulis Desember 2022 lalu, pengguna Twitter @lelegurame mendapat beragam komentar dari para penggemar Blackpink setelah mengutarakan persoalan skillnya sebagai musisi.

Sedang Februari 2020 lalu, melalui acara bincang-bincang bertajuk #DrinkWithBoys In Korea; Hyoyeon Lebih Suka Boy Daripada Choi Siwon, Boy William bertanya mana yang sesungguhnya Hyoyeon? Si gahar atau SNSD?

Lantas Hyoyeon menjawab...

“Pertanyaan yang bagus, pertanyaan yang baru juga bagi aku. Sebelum aku mulai SNSD, genre dance yang aku suka adalah Poppin and Lockin, jadi bisa dibilang cewek gahar. Tapi sejak aku mulai debut dengan SNSD aku harus lumayan berusaha untuk keluar dari image cewek gahar.”


Penerjemah, Hyoyeon dan Boy William. Sumber Youtube BW.

Selanjutnya Boy menyatakan cinta terhadap SNSD, begitu pula Hyoyeon. Hyoyeon pun menyatakan untuk saat ini dia adalah DJ Hyo, agaknya merujuk identitas yang sekarang ia senangi.

Masih di 2020, Isyana Sarasvati menampilkan Lexicon di Indonesia Idol. Anang bertanya Isyana ingin melepaskan apa melalui Lexicon. Masih Anang yang menanyakan kenapa Lexicon berbeda dengan lagu-lagu Isyana sebelumnya. Maia Estianti pun menanggapi Lexicon terlihat seperti ‘ini lho gue’ buat Isyana dan gadis yang lahir tahun 1993 itu pun mulai menangis.

“Kalau boleh membaca ya, sebagai sesama penulis lagu, rasanya kita pengin bikin lagu di A tapi ternyata produser atau label Indonesia mintanya di B.” Sambung Maia.

“Eee, kalau itu nggak sih nggak bener. Karena awal aku masuk di Industri, aku memang mengiyakan ingin sekali mengeksplorasi musik genre lain karena kan aku emang sekolahnya musik klasik tuh dan pada akhirnya aku bisa masuk ke label dan akhirnya bisa punya kesempatan untuk eksplorasi ya aku tidak ada regret sama sekali untuk album satu, kedua gitu dan makanya album pertama aku kasih judul Eksplor.” Jawab Isyana.

Masih di dunia musik, kita tentu mengenal Rara Sekar, kakak Isyana yang memilih distribusi indie buat musiknya. Di dunia menulis ada bunda Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa, kakak beradik yang jalan menulisnya nyaris serupa dengan Isyana dan Rara Sekar.

Bunda Asma Nadia film-filmnya masuk di rumah produksi besar, sebaliknya bunda Helvy yang memilih produksi sendiri film dari buku-bukunya dengan segmen pasar tidak lebih luas. Agaknya kisah dakwah mas Gagah pasarnya tidak lebih luas dibanding kisah Ferdi Nuril yang menikah dengan Laudia Cynthia Bella lantas lanjut bersama Raline Shah.

Mengambil jalan entah itu mengikuti pasar, menciptakan pasar maupun jalan senyap tentu sah-sah saja. Bisa jadi juga jalan itu serupa mas Lele yang menjadi guru musik, Hyoyeon yang mengikuti industri kemudian solo dengan gaya musiknya di label yang sama atau bunda Helvy yang memproduksi film dari bukunya sendiri.

Meski ya... Negasi genre satu atas genre yang lain agaknya akan terus saja ada demi menciptakan pasar alternatif atau bahkan yang baru. Sastra serius menegasikan tulisan pop dengan ujaran receh kelewatan dan sebaliknya yang pop menuduh sastra serius kelewat eksklusif.

Intinya ya, apapun jalan yang sedang kalian pilih sebagai musisi, penulis dan lain sebagainya... Jangan nanggung, tempuh saja.


**"Alah, begitu saja saya juga bisa."


Catatan, Desember 2024:

Salah satu nama yang disebut dalam tulisan ini terindikasi pelaku pelecehan dan kekerasan seksual. Dalam tulisan ini, nama tersebut tidak akan saya hapus karena sebagai pengingat, namun dalam tulisan-tulisan lain di hari depan, saya tidak akan mengutip apapun bentuk pernyataan atau tulisan yang bersangkutan.

Sunday, March 19, 2023

Pintu

Sumber: Gugel

Tidak jelas dari mana ia mendapat rantai, kunci, gembok, beserta papan-papan kayu. Rantai, kunci dan gembok dia rangkai sehingga pintu mustahil didobrak dari luar, sedang papan-papan kayu ia paku saling silang di jendela dan plafon.

Sebentar kemudian dia mengibas keringatnya dengan tangan kiri, memandang hasil kerjanya lalu berdecak sendiri. Ia pun mulai masuk kamar mandi, berendam dengan air bercampur busa juga menyalakan lilin wangi. Setelahnya, ia memasak mie instan favoritnya, mencoba meniru tampilan paling mirip dari bungkus, juga menyeduh coklat hangat. Sebuah novel juga sudah tersaji di meja.

Ia begitu, setiap hari. 365 dikali lima...

Sampai satu waktu, ada yang mengetuk pintu. Bukan kurir, karena para kurir sudah tahu harus meletakkan paket di sudut mana dan tanpa suara.

Dia terenyak. Pelan-pelan dibukanya gembok, diurainya rantai, dibukanya kunci. Yang di depan pintu terus saja berdiri sambil tersenyum saja, tidak ada upaya mengetuk pintu sekali lagi, apalagi memaksa masuk jendela atau menjebol plafon seperti orang-orang terdahulu.

Hingga ia pun betul-betul membuka daun pintu. Namun yang sedang berdiri tidak masuk juga hingga betul-betul dipersilakan. Setelah masuk pun tidak duduk juga hingga betul-betul dipersilakan.

Lama-lama mereka duduk berdua dan saling senyum saja, hingga terbahak dan menangis bersama. Mula-mula, ia ogah berbagi mie instan, coklat hangat, apalagi novel yang tersedia di meja. Tidak bisa, yang tiga itu favoritnya.

Namun lama-lama, ia mempersilakannya makan dari mangkuk dan minum dari gelas yang sama. Novel itu bahkan sengaja diletakkan di pangkuannya.

“Rumahmu di mana? Boleh saya mengetuk pintunya balik?” ia bertanya.


Untuk saudara laki-lakiku dan mbak-mbak yang kupikir tidak akan pernah pergi dengan pamit.

Semangat o ya, Mas. Ingat, Mike Mohede pernah bernyanyi,"Rasa yang ada di hati tak mungkin berdusta uwo uwo yea..."

Tuesday, February 21, 2023

Yang Tinggal

 

Sumber: Gugel

Pada muaranya mereka semua meninggalkanmu.

Perempuan yang sungguh kamu cinta dan ingin nikahi.

Perempuan yang tubuhnya begitu kamu suka dan ingin kecupi.

Perempuan yang kamu pikir sedikit gila dan membawa hoki.

Bagi orang-orang mereka menikah saja, menempuh awal yang lain. Namun bagimu, mereka meninggalkanmu.

Membuat hatimu lowong.

Kemaluanmu enggan tegak berdiri.

Dan rasa aman soal hari depan terasa jauh...

Jauh sekali.

Wednesday, January 4, 2023

Selempang

Sumber: Gugel

Katamu, selempang itu mau dilarung saja. Ya, selempang bertulis nama dan gelar cinta pertamamu itu. Saya mau tertawa, tapi tertahan-tahan saja. Begitu-begitu kan kamu yang setia menarik tangan saya waktu terseok.

Dasar, hopeless romantic. Maksudnya, itu kan kisah dulu sekali sepuluh tahun lalu, sedang gelarnya baru beberapa tahun kemarin dan lagi, kenapa nggak kamu berikan saja sih? Kenapa malah dijadikan fosil di kamar?

Dia sudah pasang cincin dengan orang lain. Saya pula yang tahu lebih dulu, pakai menangis pula. Rasa-rasanya saya turut mencintai dia sepanjang kamu mencintainya juga.

Lalu saya lirik almari sambil memegang selempang yang kamu sodorkan itu. Di sana ada cerpen yang saya cetak serupa buku, pakai jilid ring. Kalau tidak salah jumlahnya tujuh buah kopi. Enam kopi saya berikan pada teman-teman baik dan satu kopi harusnya untuk cinta pertama yang jadi tokoh utama di sana.

Tapi ternyata, untuk kirim pesan janji jumpa saja saya harus merepotkan seorang sahabat. Di usia kami yang ke dua puluh waktu itu, dia menunggui saya yang memegang ponsel, hampir-hampir menulis pesan, lalu kembali berjalan tidak tentu arah di sekitaran jalan Ijen. Ia pula turut berjalan di sebelah, tanpa marah.

Selempang itu sekarang saya lihat, sentuh beberapa kali lalu melihatmu lagi. Ternyata bukan rambut kita saja yang sejenis.


Untuk sahabatku yang penyabar, Sofiani Izzaty alias Sopinga.

Monday, December 5, 2022

Tak Melulu Nestapa: 5 FTV dengan Cerita Perempuan Berdaya

Sumber: Magdalene.co


Dapat pula dibaca di Magdalene.co

Film Televisi (FTV) dianggap dekat dengan ibu rumah tangga sebagai konsumennya, sehingga lebih menceritakan perempuan sebagai poros cerita. Salah satu penyedia FTV adalah stasiun televisi Indosiar dengan jam sangat padat.

Pada jam-jam utama di pagi hingga sore hari, FTV di Indosiar tayang dengan sejumlah topik: Pintu Berkah, Azab, Kisah Nyata, hingga Suara Hati Istri. Topik-topik ini menjadi penanda perbedaan jalan cerita. Pintu Berkah biasanya menayangkan kisah orang zalim yang kembali pada agama; Kisah Nyata tentang kehidupan sehari-hari seperti kehidupan rumah tangga dengan laki-laki yang bisa juga menjadi korban; Azab menayangkan orang-orang zalim yang mengingkari agama; sementara Suara Hati Istri, dapat ditebak, adalah tentang kehidupan berumah tangga dengan perempuan sebagai korban.

Sebuah artikel di Magdalene, “Sinema Indosiar, Perempuan Durhaka dan Derita Nestapa”, menunjukkan bagaimana FTV adalah tayangan patriarkal. Itu tidak dapat disangkal, tapi saya tidak sepenuhnya mendapat pengalaman menonton serupa. Dengan tim penulis yang semestinya terdiri dari banyak orang, tidak sedikit pula FTV yang menggambarkan perempuan dengan berbagai perlawanan dan pilihan hidupnya.
Dengan segala kekurangannya, berikut lima rekomendasi FTV yang menampilkan perempuan-perempuan berdaya.

1. Ego Tinggi yang Akhirnya Menghancurkan Pernikahanku

Astrid (Gita Sinaga) bersuamikan pengusaha sukses, dan keduanya dianugerahi seorang putri remaja. Masalah timbul saat Astrid memulai bisnis dari hobinya mendesain pakaian. Suaminya yang super sukses itu ternyata memiliki maskulinitas rapuh. Ia tidak ingin putri mereka menjadikan Astrid sebagai idola selain dirinya dan ia menganggap istrinya sendiri sebagai pesaing.

Kekerasan psikis pun mulai gencar dilakukan suami Astrid. Dalil agama seperti “kedudukan suami yang lebih tinggi”’, ejekan di depan putri mereka dengan kalimat “ibumu enggak bisa apa-apa”, hingga upaya selingkuh dengan alasan pelampiasan karena kesibukan istri, dilancarkan sang suami hingga Astrid sempat goyah dan melepas usahanya.

Namun berbagai teror dan usaha menjatuhkan dari sang suami masih terus diterima Astrid. Selingkuhan suaminya pun ternyata juga diperlakukan serupa Astrid ketika coba mengaktualisasikan diri lewat hobi memasak yang mulai menjadi bisnis.

Di akhir cerita, Astrid justru bangkit. Ia bangkit bukan dengan menikahi lelaki lain yang jadi penyelamat, namun justru dari bisnis dan kemandirian. Putrinya pun diajarkan untuk jangan pernah merasa saling mengalahkan dalam berumah tangga.

2. Saat Aku Miskin Suamiku Pergi Ketika Aku Kaya Suamiku Kembali

Penyanyi Dewi Perssik dan Dirly Idol berperan sebagai pasangan suami istri. Dewi digambarkan sebagai seorang istri yang sangat domestik, dengan seluruh kebutuhan ekonomi dipenuhi sang suami. Sebagai istri, Dewi pun sangat maksimal dalam mengurus rumah dan kebutuhan suami. Namun hal itu tidak mencegah suaminya untuk selingkuh.

Demi putri mereka satu-satunya, Dewi pun berusaha mempertahankan pernikahan. Tapi sang suami mengabaikan mereka berdua dan keduanya terlunta-lunta. Dewi mulai bangkit dengan membuka usaha kuliner. Ia mampu membuka lapangan kerja, menghidupi diri, juga putri semata wayangnya. Sang suami, yang bisnisnya jatuh, hadir kembali dan meminta maaf. Namun ia kemudian malah menjadi benalu. Pada akhirnya, Dewi menyadari ia mesti tegas memilih atau selamanya terluka.  

3. Kenapa Laki-laki Bebas Berkhianat dan Istri Harus Menerima?

Lagi-lagi cerita tentang perselingkuhan suami terhadap istri. Aktris Della Puspita berperan sebagai Diana, perempuan bekerja, yang difitnah suaminya berselingkuh untuk menutupi kebrengsekannya sendiri. Apakah Diana berbesar hati dan pasrah? Tidak, ia dengan penuh keberanian berpisah dari suami yang beracun.

4. Kesuksesanku Dijadikan Alasan Pengkhianatan Suamiku

Sama dengan “Ego Tinggi yang Akhirnya Menghancurkan Pernikahanku”, FTV ini juga mengusung tema suami yang memiliki maskulinitas rapuh. Suami tokoh utama, Astrid, menghadang keinginannya untuk berperan di ranah publik lewat pameran desain, dengan dalih “istri wajib melayani suami.” Sang suami kerap mengejeknya karena

Suami Astrid begitu tersinggung ketika mendapati undangan yang datang ke rumah mereka ditujukan “Kepada Astrid dan Suami’. Undangan-undangan tersebut memang datang dari relasi bisnis dan teman-teman Astrid. Sang suami menganggap namanya yang tidak disebut dalam undangan sebagai penghinaan.
Astrid kemudian dihadapkan pada perjuangan panjang ketika sang suami berselingkuh dengan dalih diabaikan istri yang sukses.

5. Penyesalanku Akibat Memilih Suami yang Salah

Berbeda dengan judul-judul sebelumnya, FTV ini bukan menceritakan suami sebagai sumber masalah. Cerita dimulai dengan Tania yang dianggap telat menikah oleh lingkungannya. Ia sebetulnya memiliki trauma akibat perselingkuhan ayahnya. Kecurigaannya pada laki-laki diperkuat dengan lingkaran pertemanan, yang terdiri dari perempuan mandiri secara finansial, yang selalu membisikkan kecemasan soal rumah tangga kepada Tania.

Saat menikah, Tania dan suaminya yang sebetulnya setia kemudian berpisah akibat pertengkaran dan rasa curiga terus menerus hadir. Takut dengan stigma janda, Tania kemudian menikah dengan suami kedua yang ternyata benalu. Ketika mengadu pada teman-teman, justru dia yang disalahkan.

Tania akhirnya memilih tegas mengakhiri hubungan dengan geng pertemanan dan suami keduanya yang beracun. Ia kembali kepada mantan suami pertama, dengan mengakui trauma masa lalu masing-masing. Tania telah berubah menjadi lebih kuat, mandiri, dan tidak ambil pusing dengan stigma masyarakat.

Sebetulnya masih ada judul-judul FTV lain yang tidak mengandung nilai patriarkal. Hal ini positif, menurut saya, karena tidak semua perempuan memiliki akses lingkungan dan pengetahuan untuk membaca Magdalene atau buku-buku pemikir feminis.

Barangkali nilai-nilai mengenai perempuan yang mendukung sesama perempuan, melawan lingkaran kekerasan, hingga kemandirian bisa teman-teman sekalian dapat dari bacaan dan tontonan yang jauh dari FTV, tapi bagaimana dengan perempuan lain? Belum tentu. FTV di sini justru bisa menjadi media yang lebih membumi dalam menyebarkan nilai-nilai tadi.

Jalan cerita dari judul-judul FTV di atas pun tidak hendak membandingkan mana yang lebih baik antara perempuan yang berperan di ranah domestik maupun publik. Perempuan dari kedua ranah tersebut masih juga bisa menjadi korban kekerasan dan ketidakadilan, selagi para pelakunya memang memiliki itikad buruk. Perempuan yang memilih berperan di ranah domestik bukan berarti tidak berdaya, sedang yang memilih berperan di ranah publik pun bukan bertujuan untuk bersaing dengan para lelaki. Para perempuan ini memiliki pertimbangan yang sesuai dengan keadaan diri dan lingkungan yang melatarbelakangi hendak berperan di ranah mana. Berperan di ranah domestik maupun publik, keduanya sama mulia lagi progresif.

Monday, November 21, 2022

Bilang Cinta

Yeonhee dan Han Sinwoo Lookism. Sumber: Webtoon


Semua orang mampu bilang cinta dan memerlakukan orang lain seperti sedang dicintai.

Buku-buku bilang, orang mencintai dengan memberi kembang.

Film-film bilang, orang mencintai dengan mengelus rambut atau berciuman.

Para tetangga bilang, orang mencintai dengan membawa mahar.

Kamu mampu bilang cinta? 

Thursday, November 3, 2022

Totto Chan; Jumpa Jati Diri di Blog

 

Sumber: Dokumentasi pribadi

Main blog dari SMP dan baru 2015 betulan tahu apa yang mau ditulis di sana. Jadi seorang teman yang jadi salah satu guru menulis saya itu merekomendasikan harus baca Totto Chan. Si teman ini dah jam terbang tinggi begitu, jadi satu atau dua kali baca karya tulismu apapun itu, dia bisa bagi saran butuhmu apa bahkan lebih jauh bisa gali masa lalumu gimana.

Dan betul, butuhnya saya memang baca Totto Chan karena setelahnya saya jadi makin mantap menulis kenangan-kenangan masa kecil yang sebelumnya memang sudah dimulai sedikit di blog. Bedanya, format menulis saya itu kenangan masa kecil ditambah pemahaman ketika dewasa ditambah ilmu pola asuh.

Jadi ketika kamu baca tulisan saya yang jenis ini, bisa sekaligus ditemui tuh Poppy anak-anak dan Poppy dewasa. Kapan lagi kan dalam satu tulisan ada satu orang beda jaman, sedang bapak atau ibu kita sendiri banyak yang tumbuh dewasa dengan ingatan sebagai anak-anak yang terputus.

Salah satunya saya pernah menulis perbedaan pola asuh ibu dan nenek. Banyak dari kita pasti mengalami ini juga. Jadi ibu saya tuh super disiplin, rapi dan anti kotor, sedang nenek jauh lebih lunak, tidak teratur dan bukan masalah jadi kotor. Kalau dengan ibu, main air bersih saja saya betulan tidak berani, sebaliknya nenek yang justru santai saja menunjukkan serangga kepada saya dan bahkan membantu mengoleksi tutup botol.

Nah, setelah cerita ingatan ketika anak-anak begitu, saya tambah apa yang dicerna ketika dewasa plus ilmu pola asuh. Bahwa ibu punya maksud sendiri dengan kedisiplinannya, pula nenek dengan sikap santainya. Pola asuh keduanya sama-sama punya nilai kurang dan lebih. Sangat manusiawi ketika pola asuh memang tidak ada yang sempurna.

Upaya saya menulis macam begitu pun sebagai kartasis yang ampuh sekali sih ternyata. Karena memori saya terlalu detail sejak usia satu setengah tahun dan sempat bikin stress karena tidak terkendali.

Pengalaman personal setiap orang soal pola asuh tuh, dijamin tidak ada yang sama persis dan cerita model di atas adanya di rumah dijitel saya https://semangkaaaaa.blogspot.com dengan label ‘ngoceh pendidikan’.

Sunday, October 30, 2022

Potret Tanpa Kamera

 

Sumber: 30 Hari Bercerita

Tulisan ini adalah upaya mengurai ingatan yang terlalu detail sampai pernah bikin depresi di usia 21 tahun. Ya, bayangkan saja, saya dulunya nggak bisa memilih ingatan apa yang mesti tinggal dalam kepala. Sudah begitu, ingatan ini dimulai di usia satu setengah tahun.

Ini adalah denah kelas semasa saya Taman Kanak-kanak. Ada dua pintu yang kini saya kenali sebagai utara dan selatan. Pintu selatan menghadap ke halaman belakang yang isinya mainan semacam perahu perahu besar dan pintu utara menghadap ke halaman depan yang isinya mainan semacam perosotan.

Ada empat bangku yang terdiri dari dua persegi panjang dan dua persegi. Bangku persegi panjang diisi sepuluh anak, sedang bangku persegi diisi empat anak. Kalau kamu lihat lingkaran kuning itu, di situ saya duduk sampai lulus Taman Kanak-kanak.

Semalam, saya ingat Romadhon, teman yang SJW itu duduknya di mana. Tapi ternyata, pagi ini ingatan itu sudah lepas. Iya, Romadhon ini pembela kebenaran. Pernah saya ceritakan di blog bagaimana dia di antara perebutan kursi merah yang jumlahnya tidak banyak. Dia tidak mau kursi merah, tapi selalu mengembalikan kursi merah yang direbut pada pemiliknya.

Sedang di meja empat yang dekat pintu utara itu, ada... Sebut saja dia Mikasa begitu ya. Mikasa ini duduk tepat di kiri saya dan sama kuat dengan Romadhon. Anak ini bisa mempimpin, banyak bossynya juga dan budak cinta dengan teman sebangkunya bernama Eki.

Jadi tiap pagi, si Mikasa berburu kursi merah dengan merebut milik siapa saja untuk dirinya dan Eki. Nggak jarang, anak ini bertengkar juga dengan si SJW Romadhon, sudah begitu hampir selalu depan bangku saya pula.

Tentu saja semasa Taman Kanak-kanak, saya bukan tokoh utama seperti Romadhon, bukan juga Mikasa apalagi Eki. Sejak kecil saya memang sudah jahanam, suka nonton pertikaian, mengamati dan next levelnya... Hari ini dibuat bahan ghibah ketika dewasa. Bisa jadi jika di dunia shinobi, saya ini tipe ninja sensor macam Karin.

Akhir sembilan puluhan, kamera tentu saja mewah. Sekolah pun terlihat pegang kamera hanya ketika kegiatan besar saja. Dan ternyata, punya memori kegedean begini ada asyiknya juga.