Showing posts with label Persepsi Diri dan Tubuh Self and Body Positive. Show all posts
Showing posts with label Persepsi Diri dan Tubuh Self and Body Positive. Show all posts

Sunday, April 25, 2021

Semua Bisa Jualan Body Positivity dan Mental Health Awareness, Termasuk Si Pembully

Sumber: Gugel

Ramah dan bersahabat, itulah kesan pertama yang saya dapat ketika 2016 kali pertama bersalaman dengan si pembully itu. Dia sudah lulus kuliah sedang saya baru selesai seminar proposal, kami seangkatan, hanya saja saya yang telat lulus karena masalah kesehatan. Jika fisik kami digambarkan dalam pertemuan hari itu, ia memiliki berat 10 kilo di bawah indeks massa tubuh, sebaliknya saya yang 10 kilo di atas indeks massa tubuh. Sedang kulit kami sama terang.

Di hari-hari berikutnya, kami masih sering bertemu di warung kopi yang sama bahkan tergabung dalam komunitas serupa. Ia aktif datang sebagai moderator maupun audien, sedang saya yang menjadi audien dan kontributor tulisan.

“Aku tuh pengin punya lengan kayak kamu, seger gitu...” katanya ramah, sambil memegang lengan saya yang gemuk dan segera setelahnya, ganti memegang lengannya.

Ucapannya kali itu lebih terasa sebagai upaya membesarkan hati, tidak ada body shaming sama sekali. Pancaran mata si pembully itu pun hangat, selaras dengan kampanye body positivity yang kerap ia gencarkan di media sosialnya. Bahwa ia, betulan menganggap gemuk bukan masalah jika diterima.

Dari satu komunitas, kami selanjutnya masuk dalam komunitas yang satu lagi. Kali ini bukan lagi komunitas literasi, namun komunitas feminis. Dua komunitas ini masih satu atap dan yang membuat saya masuk adalah si pembully ini, mempertemukan pula dengan banyak teman lainnya, lintas kampus.

Di hari-hari berikutnya, si pembully ini tetap hangat, bahkan pernah punya rencana mengunjungi rumah saya. Ia bahkan membagikan tulisan saya di grup. Sebuah tulisan yang dimuat di website feminis yang hari itu dianggap prestisius. Meski lupa persisnya, ia jelas menyertakan kalimat kebanggan terhadap saya. Ia melakukan hal serupa pula di story WAnya.

Beberapa teman menyahut, mengucap selamat dan kalimat berbau kebanggaan sejenis. Dari semua itu, semestinya cukup untuk meyakini si pembully itu teman yang baik. Ia seorang feminis yang betul menerapkan women support women. Hingga saya mulai dekat dengan lebih banyak teman dalam komunitas tersebut dan mendapati konflik antara si pembully ini dengan satu teman fakultasnya sebut saja Maia.

Maia ini dua tingkat lebih muda dari si pembully di kampus. Diakui Maia, orang yang mengenalkannya pada feminisme adalah si pembully, bahkan mengajarinya metode penelitian. Seolah, Maia ini ‘dipungut’ lalu dididik si pembully ini. Jika digambarkan secara fisik, Maia memiliki berat badan pas dengan indeks massa tubuh, wajahnya pula standar industri, sedang si pembully wajahnya standar industri ketika menggunakan make up.

Keganjilan mulai terasa ketika di grup WA, adik tingkat Maia membagikan sebuah acara gerakan perempuan. Ada foto di mana ia dan Maia berada di sana. Kalimat yang menyertai foto pun berupa ajakan jika teman-teman di grup ingin bergabung, maka dipersilakan. Sayangnya, sekutu si pembully sebut saja mbak Anggun, justru memojokkan adik tingkat Maia. Meski tidak dapat mengetik ulang bagaimana persisnya kalimat mereka karena kejadiannya sudah 2017, siapapun jelas bisa menangkap si adik tingkat ini dipojokkan sesungguhnya karena ia dianggap sekutu Maia dan bukannya karena si adik ini dianggap mengunggah kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan komunitas.

Melihat si adik tingkat dipojokkan dan makin mundur agaknya karena bingung dan merasa sungkan soal usia, saya pun akhirnya turut berkomentar. Saya menyatakan bahwa, kalimat yang dipermasalahkan justru ajakan yang terkait dengan pengembangan komunitas. Tidak layak si adik tingkat dirisak sedemikian rupa untuk hal yang salah saja tidak.

Hingga mbak Anggun berhenti menyalahkan si adik tingkat di grup WA, konflik ternyata tidak tuntas. Si adik tingkat mengirim pesan pribadi kepada saya, menyatakan sangsi atas tindakannya sendiri. Jangan-jangan betul ia salah seperti kata mbak Anggun, namun saya yakinkan ia tidak salah dan mbak Anggun sedang gaslighting saja.

Setelahnya, barulah masalah Maia dan si pembully mulai terungkap. Si pembully ternyata kerap merisak Maia setelah ia mengetahui, jejaring Maia di dunia feminisme jauh lebih banyak dan cepat. Masih Maia yang bahkan menjadi pendamping penyintas di sebuah LSM yang tidak dijangkau si pembully. Dua di antara bentuk perisakan itu antara lain, meninggalkan Maia ketika hendak pergi ke Jakarta. Padahal proposal hingga mendapat pendanaan sebelum acara, semua Maia yang mencari. Ia betul-betul tidak diberitahu kapan kereta berangkat dan setelah diprotes, si pembully sambil menangis berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya dan menyatakan sangat menyesal. Tentu kalimat barusan terus diulang ketika ia melakukan hal serupa dan Maia melakukan protes yang sama.

Sebelum Maia betul-betul pergi, hasil kerjanya pernah juga diakui si pembully dan mbak Anggun, sekutunya. Jadi komunitas membuat acara dengan tema penelitian dan feminisme. Konsep acara, semua Maia yang membuatnya sedang ketika hari H, ia ditinggalkan. Bahkan yang masuk media dan diwawancara, justru si pembully dan mbak Anggun. Pada berikutnya, Maia keluar dari grup WA dan betul keluar dari komunitas. Praktik penyingkiran oleh si pembully dan para sekutunya berhasil.

Awal 2018, seorang teman menyatakan si pembully, mbak Anggun dan satu lagi sekutunya yang seorang lelaki, membicarakan Maia. Sambil tertawa-tawa, mereka katakan Maia layaknya dibikinkan pangggung membaca tulisan secara erotis sampai orgasme. Si lelaki itu sendiri ada di komunitas literasi dan feminis yang sama dengan si pembully dan mbak Anggun. Serupa dengan mereka berdua, si lelaki ini gemar berdagang isu kemanusiaan ketika tampil di panggung.

Masih di awal tahun 2018, saya berjumpa dengan si pembully dan mbak Anggun ketika Haul Gus Dur di gedung kesenian. Dengan senyum mengejek, si pembully memanggil saya dan di hadapan mbak Anggun ia katakan,”Sorry, ya. Bukannya aku body shaming, tapi kamu emang makin gemuk.” Disusul tatapan puas dan tawa keduanya.

Dari situ saya memahami, kebaikan si pembully terhadap saya sebelum 2018 ternyata grooming saja alias kedok dari kejahatannya. Bagaimana ia mendukung saya menulis, mendukung penerimaan tubuh hingga merangkul dengan ramah ketika 2017 berjumpa di sebuah acara buku, ternyata kedok, semuanya kedok. Yang bisa jadi ketika tidak pernah terang-terangan memihak Maia dan siapapun yang dianggap temannya, saya tidak akan percaya bagaimana ia dirisak sedemikian rupa. Semacam, nggak mungkin deh dia gitu. Ke aku aja baik kok...

Toh, kita memang kerap tidak percaya seseorang melakukan kejahatan ketika pelakunya tidak melakukan serupa terhadap kita. Kita kerap melakukan negasi atas pengalaman orang lain jika tidak mengalami yang serupa. Dan selamat, di situlah kita menjadi alat grooming bagi para pelaku kejahatan, entah itu seorang tukang merisak maupun predator seksual.

Namun semenjak kejadian adik tingkat Maia yang dirisak di grup hingga meragukan dirinya sendiri, saya memang melihat kejadian itu sebagai sebuah data. Sekalipun tidak mengalaminya sendiri, jika ada fakta di depan mata kenapa harus membuat negasi? Apalagi jelas si adik tingkat ini tidak melakukan kesalahan.

Data itu ternyata bertambah ketika Maia dijadikan guyonan seksual dan saya sebagai yang nampak keberpihakannya kena body shaming. Jadi si pembully tidak bisa menemukan argumen yang masuk akal untuk melawan keberpihakan saya terhadap ‘musuhnya’, satu-satunya hal yang dianggap kekurangan hanya berat badan, apalagi dia tahu saya tidak bisa disentuh soal itu. Bagi yang kerap membaca tulisan saya soal persepsi tubuh di blog, tentu tahu apa sebabnya.

Keterbukaan saya soal kasus Maia, adik tingkatnya dan diri saya sendiri ternyata membawa pada data yang lain. Pertengahan 2018, adik tingkat saya di UKM akhirnya bercerita bahwa selama SMA, ia ternyata dirisak oleh si pembully! Saya tentu kaget dan menyesal. Menahun saya bareng si adik ini, bahkan pernah di tahun 2017 di sebuah acara buku, kami satu meja dengan si pembully dan ia belakangan baru mengaku takut sekali hari itu. Sayangnya, saya betul tidak mendeteksi semuanya. Adik tingkat ini tidak berani bercerita karena takut hubungan saya dengan si pembully rusak dan lagi, ia sering sangsi soal pengalamannya. Apalagi, si pembully tiba-tiba bersikap ramah terhadapnya dan di media sosial, ia kerap berbagi seputar feminisme.

“Aku kira dia udah berubah, Mbak. Dia positif banget di Instagramnya, suka berbagi soal feminisme juga.” Ucap adik UKM.

Jadi jika Maia dianggap mengungguli si pembully dalam karir aktivisme, adik tingkat saya itu dianggap merebut laki-laki yang disukainya selama SMA. Bentuk perisakan itu salah satunya menyoraki si adik tingkat yang tengah berolahraga di lapangan sekolah. Hanya karena tubuhnya dianggap sedikit berisi, meski jauh untuk dikatakan gemuk, dijadikannya itu bahan merisak oleh si pembully. Bersama teman-temannya, ia mengomentari tubuh adik tingkat tadi beramai-ramai.

Jika digambarkan secara fisik, adik tingkat ini berat badannya pas dengan indeks massa tubuh dan wajahnya standar industri. Semasa sekolah, akademisnya juga sangat baik. Jadi selain tubuh yang dianggap tidak sekurus si pembully, ia tidak punya bahan merisak lain. Apalagi lelaki yang disukainya itu ternyata memilih si adik tingkat.

Data masih terus bertambah, ketika seorang teman lelaki yang semasa SMA ternyata satu angkatan dengan si pembully, ternyata pernah dimusuhi teman-temannya sendiri. Si pembully menebar cerita bahwa pacar-pacar standar industri yang didapat teman kami ini hasil dari pelet. Semua hanya karena teman kami ini dianggap wajahnya tidak standar industri, jadi mustahil mendapat pacar yang dianggap unggul secara fisik. Padahal siapapun yang mengenalnya di komunitas tahu, bagaimana ia jago membikin puisi, musikalisasi hingga menggombal. Ia juga kreatif dan pintar, nyambung diajak mengobrol. Perempuan menyenanginya? Tidak heran. Ia juga teman yang bisa diajak saling dukung. Apa benar nilai teman kami ini sekadar kulit dan dagingnya?

Entah berapa banyak lagi korban dari si pembully ini sebetulnya. Korban yang sangsi hendak bicara karena imej yang ia bangun. Bahkan pernah, saya satu panggung dengan teman satu jurusannya di kampus dan si teman ini nampak kagum sekali dengannya. Saya pilih pura-pura tidak mengenal si pembully, ketimbang fakta-fakta yang penggemarnya belum perlu tahu itu bocor. Kalaupun kelak ia mengetahui fakta-fakta tersebut, biarlah dengan tangannya sendiri.

Si penggemar ini pintar dan fisiknya standar industri. Tapi bagaimana bisa ia diperlakukan baik oleh si pembully bahkan seolah dibimbing? Semua ternyata karena ia bergerak di bidang public speaking, bidang yang tidak serupa dengan si pembully. Jadi sekalipun ia pintar dan standar industri, tidak bakal tuh dianggap ancaman. Sebaliknya saya yang bukan ancaman di dunia aktivismenya, akibat berat badan juga tidak dianggap punya fisik standar industri, namun berpihak pada yang dianggapnya ‘musuh’, jadilah bagi si pembully, saya layak balas diusik.

Hari ini, si pembully tetap berjualan konsep persepsi tubuh positif di depan orang-orang, ini masih ditambah berdagang konsep psikologi klinis sesuai jurusannya di S2. Dengan getol ia juga menyuarakan pentingnya pola asuh yang baik.

Pernah seorang teman bertemu dengannya di MATOS tahun 2018 dan ia tanyakan kabar Maia. Teman kami menjawab, Maia masih berkonsentrasi dengan anaknya yang masih bayi. Disaksikan si teman tadi, si pembully mengangkat sebelah bibirnya, spontan tersenyum puas mendengar ‘musuhnya’ dianggap hidup tidak lebih baik darinya yang sudah mendapat beasiswa S2.

Si pembully sendiri sempat terusir dari komunitas karena disingkirkan teman perempuan lain yang sama-sama-sama sindrom ratu lebah dengannya. Bahkan si penyingkir ini dengan bangga menyatakan, si pembully ketakutan waktu jumpa dengannya. Ini belum lagi masalah dengan mbak Anggun dan sekutu lelakinya itu. Setelah terlempar dari lingkaran lamanya, si pembully pun kemudian mengambil psikologi klinis di provinsi lain ketika lolos beasiswa S2, dengan tetap berusaha meninggalkan komentar mendukung di sosial media Maia maupun adik UKM saya.

Ini semua bukan FTV sinema pintu taubat di mana pembully hidupnya blangsak dalam waktu singkat. Pada nyatanya, si pembully tetap melanjutkan hidupnya, menjadi pembicara di mana-mana dengan tema kesehatan mental. Sedang Maia melanjutkan studinya ke benua lain tahun 2019 dan adik UKM menikah dengan lelaki yang ia cintai tahun 2020.

Ada kemungkinan ketika ganti kejahatan teman perempuan yang menyingkirkannya terungkap dan sisi-sisi si pembully sebagai korban diangkat, ia akan kembali lagi ke Malang lantas mendapat panggung lebih luas dan korban perisakannya makin tidak berani berbicara. Entahlah... Tunggu saja yang lebih jahat dari si penyingkir itu bertindak dan baku hantam dengan si pembully atau tunggu ia terjerat jati diri aslinya sendiri. Kita tinggal tonton sambil menyiapkan banyak camilan, karena bukankah semua kejahatan itu berpola?

Wednesday, February 3, 2021

Perayaan Moral

 

Sumber: Gugel


Teman saya satu fakultas, Indri Winegal, dua hari lalu menceritakan pengalaman buruknya dengan seorang teman kos. Si teman ini menegur siapa saja anak kos yang keluar tanpa jilbab, di depan umum. Lebih jauh ia memarahi, bukan hanya menegur.

Indri tentu saja pernah kena. Ia kala itu membeli gorengan di depan kos, tanpa jilbab. Meski sekali lagi, dia bukan satu-satunya. Hingga entah bagaimana warga satu kos akhirnya tahu si ia ini punya foto ciuman dengan pacarnya, juga foto tidak berjilbab di tempat umum. Semua heboh dan hilang respek.

Kehebohan dan hilang respek itu berakhir dengan kalimat,”Kenapa sebagai sesama pendosa saling menghakimi?”

Namun saya justru menggarisbawahi bahwa teman Indri sesungguhnya adalah korban. Tapi bagaimana bisa?

2019 lalu, Celine mengobrol dengan saya soal temannya yang suka sekali berkomentar bahwa baju teman kami yang lain tidak sopan. Si teman lain ini adalah mbak-mbak berusia lebih tua, sama pintar dan produktif juga seperti yang berkomentar itu.

Sempat membatin sih saya, ini jangan-jangan yang memang nggak bermoral saya dan Celine. Jadinya waktu mbak tersebut pakai rok selutut dan baju tanpa lengan, ya menurut kami biasa saja. Meski teman-teman lain ternyata juga berpendapat sejenis tentang mbak tersebut. T... Tunggu, jangan-jangan moral kami yang bobrok berjamaah?

Padahal, Celine bilang banyak saksi soal temannya itu bertukar lidah dan permen dengan laki-laki di sembarang tempat tanpa peduli kenyamanan orang yang tidak punya kaitan dan ada di sekitarnya. Siapapun yang membaca tulisan ini barangkali akan membatin, dia aja begitu, terus kenapa pakai ngomen pakaian perempuan lain?

Komentar soal baju teman lain yang tidak sopan itu terus didengar Celine selagi masih diberi keakraban palsu dan dieksploitasi sepanjang 2018. Sedang setahun sebelumnya, teman Celine itu masih getol mendekati dan hendak mengeksploitasi saya. Ia saya ingat, sepanjang 2017 juga memberi komentar yang bertema moral tentang teman perempuan kami yang namanya Tiara...

Di depan saya, teman Celine kala itu mengomentari Tiara yang punya hubungan terbuka dengan pacarnya. Artinya, mereka berpacaran namun sama bebas berhubungan seksual dengan orang lain.

Mundur lagi setahun sebelumnya, 2016, si Tiara ini pernah juga mengomentari teman kami yang suka menulis fiksi bertema keperawanan. Ia terang-terangan penasaran apa si penulis betul mengalami yang katanya kehilangan keperawanan. Masih dengan terang-terangan, ia mengaku sedang mencari tahu. Ini belum soal si penulis itu ia katakan suntik putih setelah putus dengan pacarnya dan berubah jadi stylish sekali.

Tiara agaknya curiga, si penulis kehilangan sesuatu setelah berpacaran dengan lelaki yang waktu itu. Jadi setelahnya, si penulis dinilai Tiara move up habis-habisan.

Oh, tidak. Teman Celine dan Tiara bukan orang-orang tanpa akses belajar. Mereka justru kenal feminisme jauh sebelum saya. Malah temannya Celine yang meminjamkan buku soal feminisme dan Tiara yang memperkenalkan komunitas feminis kepada saya.

Tapi bagaimana bisa orang-orang yang memiliki akses pengetahuan soal feminisme justru menggunakan isu ketubuhan sesamanya untuk menjatuhkan?

Diakui atau tidak, teman Celine maupun Tiara adalah korban sekaligus pelaku patriarki. Secara teori mereka paham bahwa cara berpakaian, pula keperawanan dalam artian ‘utuhnya’ selaput dara, tidak boleh jadi indikator menilai moral seorang perempuan.

Kalau kamu tanya mereka tentang dua teori tadi, mereka akan menjawab lebih dari jelas soal kebiasaan menilai moral perempuan dari pakaian, bisa berujung kekerasan. Juga tidak semua perempuan terlahir dengan selaput dara...

Baik temannya Celine maupun Tiara, sesungguhnya kecewa dan tidak siap akan pilihan tentang ketubuhan mereka. Tubuh mereka menyenangi pilihan itu namun mental mereka sanksi. Meski mengetahui teorinya, mental mereka masih meyakini perempuan yang kontak fisik sebelum menikah artinya sudah tidak utuh sebagai manusia. Sebetulnya narasi ini jelas kita semua terima sepanjang hidup, semenjak kali pertama bisa mendengar. Bertebaran pula di keluarga, kerabat hingga masyarakat.

Teman Celine maupun Tiara, adalah korban narasi demikian hingga setelah keputusan atas ketubuhannya, mereka merasa tidak lagi utuh sebagai manusia meski sayangnya... Mereka pun kemudian menjadi pelaku. Kedua perempuan ini menutupi rasa tidak utuh atas tubuhnya dengan mempermasalahkan perempuan lain. Yang demikian tentu tidak mengobati, meredam sementara saja iya.

Jadi apakah teman satu kosnya Indri mengalami hal serupa? Bisa jadi. Selama itu, ia menutupi rasa tidak utuh atas tubuhnya dengan mempermasalahkan perempuan lain. Dan ya... Mereka semua yang ada di kos itu menjadi korbannya.

Sekarang pertanyaan kembali kepada kita. Jika menyoal ketubuhan kita semua ternyata korban patriarki, akankah kita juga menjadi pelaku? Keputusan apa yang akan kita ambil terhadap tubuh masing-masing? Dan kesiapan seperti apa yang menyertai?

Catatan tambahan 2025: salah satu nama yang ada dalam tulisan ini sengaja menghindari percakapan soal senior organisasinya yang pelaku KS. Penyebutan namanya bisa menjadi ofensif bagi korban. Namu tulisan ini tidak akan dihapus sebagai pengingat.

Thursday, May 2, 2019

Cantikmu Butuh Konfirmasi?

Sumber: Gugel

Teman saya Nova bercerita, ada gadis yang satu pondok dengannya gemar mengonfirmasi kecantikan. Gadis itu 24 tahun dan hampir setiap hari berkata,”Aku gemukan.” Atau “Kok kulitku kelihatan kerutannya ya?” dan sebagian teman sekitar mereka berlaku sangat baik dengan menanggapi begini,”Mbak nggak gemukan kok.” Atau “Nggak kerut kok.”

Nova melanjutkan cerita, kabarnya temannya itu pernah ditinggal menikah oleh sang mantan. Terlalu naif untuk menyimpulkan sebabnya sibuk mencari konfirmasi kecantikan adalah lukanya yang satu ini. Tapi yang jelas, konfirmasi demikian sesungguhnya tidak sehat dan pelakunya butuh disembuhkan.

Kasus teman Nova, barangkali hampir serupa dengan gadis yang satu ini. Kalem, manis, cerdas dan ambisius. Kata terakhir mungkin tidak akan disetujui banyak orang yang mengenal Sruti, soalnya kata ini memang kontradiktif dengan kalem yang ada di awal kalimat. Tapi ambisius, sesungguhnya tidak sebegitu negatif juga. Sruti ambisius dalam arti berkeinginan kuat.

Saya mengenal Sruti ketika awal bergabung dengan sebuah komunitas lintas iman. Saya 23 akhir, dia 19. Dari caranya menanggapi argumen hingga berkenalan dengan orang lain, terlihat sifatnya yang tegas pula. Pikir saya, Sruti hebat. Ketika 19, saya masih berkutat di dalam kampus dan jauh dari mengenal komunitas luar. Tapi semua berubah ketika saya mendapati gadis baik itu melirik sangat benci ketika saya memoles lipstik. Saya tidak menoleh pada dia sama sekali pada mulanya, tapi tatapan yang betul-betul dilakukan sepenuh hati akan membuat siapapun yang ditatap itu merasa, begitu pula Sruti kepada saya.

Dalam pikiran saya waktu itu, Sruti merasa lebih baik karena cantik tanpa polesan. Semenjak saat itu, saya putuskan merentang jarak saja ketimbang saling luka. Saya memberinya cap sindrom ratu lebah hingga lupa, saya pernah 19 dan juga pernah merasa lebih baik dari mereka yang produk perawatannya lebih detail.

Saya awal 23 waktu Raisa, teman beda fakultas mengunggah beberapa produk pembersih wajahnya di story Instagram. Bagi saya, produk tersebut rumit dan muncul perasaan lebih baik karena untuk membersihkan wajah, saya hanya butuh satu produk. Saya belum memahami kebutuhan kulit tiap orang berbeda. Pemahaman saya hanya sampai pada; saya simpel dan kamu rumit.

Namun semakin saya berkumpul dengan Raisa, Yasmin dan banyak teman-teman yang lain. Saya jadi memahami, kebutuhan setiap orang berbeda dan apa yang orang senangi pun berbeda. Kedua teman saya ini sudah pada taraf jago make up, ketika saya baru bisa meratakan blush on. Keduanya juga aktif di komunitas Resister Indonesia, sama-sama pembaca buku berat dan produktif menulis juga membantu orang lain. Jadi, jika ada yang bilang hobi make up menghabiskan waktu, saya pastikan itu sama sekali salah. Yasmin dan Raisa sama produktif dengan mereka yang tidak hobi make up dan barangkali malah lebih.

Dari Yasmin dan Raisa yang hobi make up saya tahu, mereka justru jago mengatur waktu. Raisa misalnya, ketika kami keluar bersama akan bertanya pukul berapa saya menjemput. Dia nyaman memakai baju yang stylish dan make up yang apik, tapi dia juga tidak mau orang lain menunggu. Jadi sebelum jam penjemputan, dia akan memilih baju dan bermake up.

Saya sendiri tumbuh sebagai remaja yang jauh dari rasa percaya diri. Inginnya dibilang cantik tapi saya merasa jauh dari itu. Kulit saya yang standar industri baru saya sadari di usia 20 tahun. Dan berapa banyak orang yang sampai mengorbankan kenyamannya demi kulit jenis ini? Sedang saya justru secara genetik mendapat kulit jenis ini, yang mudah sembuh ketika luka dan untuk terlihat segar hanya perlu satu produk sabun wajah. Dulunya, saya hanya berfokus pada rambut yang kata orang berantakan dan tidak cantik. Ibu saya tidak pernah memuji dan lebih sering marah-marah saja ketika saya merasa minder atau terlihat memiliki rambut yang tidak rapi. Tidak pernah ada solusi saya mesti mengenakan apa dan menata rambut bagaimana. Ibu juga sering membandingkan saya dengan remaja sebaya yang sudah mengerti harus bagaimana dalam berpenampilan. Maka saya makin merasa buruk. Padahal saya betul-betul belum memiliki ketertarikan menata penampilan di masa itu, apalagi harus memutuskan sepantasnya bagaimana. Perkembangan tiap orang bukannya memang berbeda?

Menelusuri luka saya sendiri, membuat saya juga meyakini Sruti mestinya punya luka serupa. Bagaimana ia memilih hanya mengenakan bedak tabur dan tidak memoles apapun di bibir adalah pilihannya. Bagaimana saya memilih tidak memakai bedak dan menggemari lipstik adalah pilihan saya. Meski memutuskan menjaga jarak, ternyata saya masih juga penasaran dengan gadis yang sehari-hari tinggal di pondok ini. Apalagi menurut seorang teman yang lain lagi, selain kuliah dan pondok mulanya tidak ada kegiatan lain yang diikuti Sruti. Keikutsertaannya di komunitas lintas iman ternyata berkat ajakan seorang temannya yang pernah satu pondok juga. Pikir saya, jangan-jangan lirikan bencinya ketika kami kali pertama kenal itu perasaan saya sendiri, termasuk kerapuhannya soal kecantikan. Ada rasa penasaran tentang bagaimana jadi temannya tanpa saling luka. Maka saya coba mengajaknya pergi bersama di suatu acara tahun lalu. Namun di sana, saya justru makin mendapat konfirmasi bahwa Sruti memang gadis yang luka.

Di dalam mini bus yang kami naiki bersama peserta lainnya, Sruti yang duduk di kanan saya berucap bahwa dia tidak telaten menggunakan kosmetik atau perawatan yang macam-macam. Kalau tidak salah, itu di tengah obrolan antara saya dan teman perempuan yang duduk di kiri dekat jendela tentang cat rambut dan lain sebagainya. Sruti mengulang kata ‘tidak telatennya' berkali-kali namun tidak saya gubris. Saya sayang Sruti dan mengonfirmasi kecantikan hanya akan menghancurkannya lebih jauh. Baru setelah teman yang ada di dekat jendela berkata,”Sampeyan wis ayu teko kono e. Nggak perlu perawatan macem-macem.” Gadis yang berat badannya kira-kira 10 kilo di bawah rata-rata itu berhenti mencari konfirmasi.

Namun di kamar tempat kami menginap, gadis baik ini mengulangi lagi hobinya mencari konfirmasi. Ada empat orang gadis di dalam kamar yang tengah berbincang dan Sruti berkata sambil menepuk perhelangan tangannya,”Aku sak mene iki lemu...” dan kalimat tersebut diulangnya beberapa kali meski seorang gadis yang duduk di kanan saya memasang wajah tidak berminat. Perempuan berkulit kuning langsat yang gaya kerudungnya selalu sederhana itu saya kira berhenti, ketika gadis di sebelah kirinya menyahut,”Lek sampeyan lemu, aku opo?” dan gadis itu lebih tambun dari saya. Namun ternyata, Sruti masih mengulang kalimat bahwa ia gemuk sampai saya berkata,”Arek iki satir ya lek ngomong.” Disusul gelak tawa gadis yang duduk di kanan saya. Sruti menoleh dengan mata luka dan kaget pada saya sambil berkata,”Body shaming a...” meski tidak jelas ia sedang bertanya atau menyatakan sesuatu.

Hingga kami kemudian berpindah kamar dan mendapat satu gadis lain lagi sebagai teman. Teman baru kami itu memiliki jerawat di wajahnya dan ketika hendak tidur, dia mengoles semacam obat dalam jangka waktu beberapa saat. Saya mengajaknya mengobrol soal obat yang ia pakai, namun Sruti tiba-tiba menyahut,”Lek aku nggak telaten gawe ngunu iku.” Dan tidak disadari Sruti, mata teman kami itu nampak luka dan kecewa, sedang saya hanya bisa berkata,”Kebutuhan kulit tiap orang beda.”

Di Pelangi Sastra Malang, semua mesti kenal Dewi R Maulidah. Wajahnya sangat mirip Angeeben Rishi, pacarnya Adly Fairuz dan lagi sangat produktif menulis dan suka belajar. Dewi menjadi bulan-bulanan untuk digoda sana dan sini oleh banyak teman laki-laki namun saya tidak merasa kasihan. Mengapa? Gadis yang berat badannya sesuai rata-rata itu, sangat siap dengan semua perhatian yang lebih-lebih ditujukan kepadanya.

Sejak semula saya mengenal gadis berjilbab ini, dia begitu menghargai meski pakaian saya lebih sering asal nyaman. Mbak Vian, teman kami yang lain pun sangat menyukai kepribadian Dewi yang menghargai. Jika saja ia mau, tentu fisiknya yang standar industri sudah mencukupi untuknya populer tanpa susah-susah menulis, membaca dan berkomunitas. Tapi Dewi tidak pernah melakukannya.

Malah kadang, saya melihatnya tidak begitu nyaman ketika menjadi subjek pembicaraan di depan umum karena fisiknya. Pernah juga saya melihatnya lebih sengaja menempel saya dan mbak Vian, meski teman-teman lelaki heboh menggodanya dan tentu memberi tempat sangat luas untuknya ber-ndusel-ria di antara mereka. Lalu bagaimana dengan Sruti? Serupa Dewi, ia pun menjadi pusat perhatian di komunitas tempatnya begiat. Ia bisa dibilang memang memiliki wajah paling manis dan lagi dalam komunitas tersebut jarang beranggotakan perempuan.

Sruti juga menguarkan citra misterius, kalem namun juga pintar dan tegas meski sedang diam. Ditambah penampilan sederhana yang tidak mengurangi wajah ayunya. Banyak yang menilai Sruti bersikap anggun dan biasa saja ketika menjadi pusat perhatian. Yang satu ini saya setuju, karena nampaknya memang begitu. Dia cool dengan limpahan perhatian. Kemudian apa Sruti sama dengan Dewi? Saya pastikan, Dewi tidak pernah melakukan konfirmasi atas tubuhnya pada sesama perempuan, setidaknya di lingkaran kami dia tidak pernah melakukannya.

Yang terbaru tentu saja pertemuan paling anyar saya dan Sruti. Seorang teman laki-laki yang sejak kuliah berteman baik dengan saya mengomentari,”Tumben awakmu nggak menor, Pop?”. Ia merujuk pada penggunaan blush on saya sehari-hari. Menor yang ia ungkap tentu subjektif. Kalau yang seperti saya menor, apa kabar Tasya Farasya? Ini semua letaknya pada kebutuhan dan kenyamanan masing-masing. Selera dan butuhnya saya begini, Tasya beda lagi. Saya suka wajah segar karena blush on, bukan untuk menarik perhatian si teman ini. Kami berteman lama dan ia hanya bercanda, cenderung meroasting malah. Roasting semacam ini memang saya alami dari teman perempuan juga lelaki yang lain ketika awal belajar make up. Posisi kedekatannya juga selevel dengan si teman tadi.

Meski demikian, Sruti yang duduk di kanan saya tiba-tiba menyahut dengan antusias,”Menurut Mas menor itu kayak gimana?” teman saya itu kaget, tidak menyangka kalimat candaanya ditanggapi sebegitu antusias. Mata Sruti saya tatap dan tidak jelas perasaan apa yang tergambar dari sana. Puas? Senang? Saya tidak berani menyimpulkan. Apalagi dia beberapa kali menyatakan bahwa warna mencolok sangat tidak ia suka. Ia sampai mengulang kalimat ini beberapa kali. Meski saya meyakini, dia hanya mengungkap pendapat dan bukannya mengomentari kegemaran saya pada warna mencolok.

Teman lelaki saya itu, kemudian bergumam yang saya lupa apa isinya dan Sruti mendesak lagi,”Iya, kalau menurut cowok itu yang namanya menor itu gimana, Mas?” kemudian teman saya itu menjawab,”Ya, ehm... Ya... Lebih berwarna gitu mukanya.” Wajah Sruti kembali saya amati dan lagi-lagi tidak jelas perasaan apa yang tergambar dari sana.

Kecenderungan teman laki-laki menjadikan gadis yang dianggap paling menonjol fisiknya sebagai subjek pembicaraan dan candaan di depan publik, bisa jadi sesungguhnya hanya diniatkan sebagai perekat pertemanan dan penghangat komunikasi dalam komunitas. Dewi yang menghormati pilihan sesama teman perempuannya dalam hal penampilan, kerennya pun tidak pernah habis. Ditambah lagi dia betul-betul tenang ketika menjadi subjek. Sedang Sruti yang masih dua puluhan, prosesnya belajar menerima pilihan sesama perempuan tentu masih panjang dan ada banyak kesempatan.

Konfirmasi kecantikan bagaimanapun tidak akan pernah habis jika dilakukan. Karakter satu ini bisa juga menjadi pemicu penindasan sesama perempuan, ketika ada yang dianggap lebih menarik perhatian dan cantiknya dikonfirmasi sekitar. Si pencari konfirmasi akan luka dengan perhatian yang teralih dan si pembuat perhatian teralih, juga akan luka dengan penindasan. Bisa jadi akan terulang pola melukai serupa dari yang mulanya ditindas tadi.

Jika ada temanmu sesama perempuan yang sibuk sekali mengonfirmasi kecantikannya. Baiknya jangan terlalu digubris. Ia luka dan butuh pertolongan. Cara menolongnya adalah dengan tidak menggubris upayanya itu. Seperti sikap saya pada Sruti. Pernah saya spontan memujinya makin cantik, namun hal demikian justru saya lakukan ketika dia tidak minta konfirmasi.

Kemudian, saya ingin sekali berkata pada Sruti,”Kamu cantik paripurna dan yang layak mengonfirmasinya adalah dirimu sendiri. Ngomong-ngomong, di masa lalu kamu punya luka apa sih?”


Ucapan terimakasih yang istimewa saya hatur kepada:
Raisa Izzhaty
Maryam Jameelah Al-Yasmin
Dewi Rizki Maulidah
Dan tentu saja Sruti yang baik hatinya.
Terimakasih kalian telah mengajari saya banyak hal.


Fyi, saya sudah ngobrol dengan Sruti dan memberikan tulisan ini sebagai hadiah. Hebatnya, ia menerima dengan hati dan justru ingin memelajari tipe kecerdasan dan kepribadiannya sendiri. Ia juga tertarik pergi ke luar forum yang biasanya ia datangi untuk melihat perempuan-perempuan lain dan melatih kepekaan (04/05/2019)

Setelah chat obrolan tanggal 4 bulan 5 tahun 2019, beberapa hari kemudian Sruti bertemu kembali dengan saya di sebuah acara buka bersama. Ia nampak takut dan menghindar, bahkan hampir tidak menyapa jika saja ketika keluar lokasi panti asuhan tempat buka bersama sudah tidak ada lagi orang tersisa berdiri di pintu.

2020 kami bertemu lagi, di haul acara lintas komunitas. Sruti terasa sebal melihat saya meski kami saling sapa. Belakangan saya ingat, pada obrolan yang pertama di 2019 memang tidak ada kata maaf. 

Tiga tahun belakangan istilah pick me jadi populer dan ternyata perilaku-perilaku dalam tulisan inilah yang disebut pick me. 

Sebetulnya, ada perlakuan Sruti yang jauh dari perspektif korban terhadap trauma penyintas kekerasan juga demi sikap pick me-nya di 2018. Namun ya... Saya belum tahu bagaimana cara memproses yang satu ini (05/04/2024)

Monday, January 22, 2018

Perempuan di Sekitar Saya: Melawan Hormon Jerawat, Gemuk dan Warna Kulit


Tempo hari, saya melihat postingan teman baik saya Robiatul Adawiyah alias Yaya di instastorynya. Dalam instastorynya, Yaya merepost informasi soal perempuan gemuk bernama Nabela dari faktanya google. Berhubung instastory Yaya sudah terhapus, jadi saya hanya menyertakan postingan asli dari instagram @nabela.

Sumber: Instagram

Sungguh saya menyayangkan bagaimana masih saja ada komentar-komentar tidak jelas, tidak lucu, apalagi rasional di kolom komentar faktanya google. Berikut beberapa komentar tersebut yang telah saya buramkan user namenya untuk menghindari persekusi terhadap si empunya akun.

Sumber: Instagram
 
Sumber: Instagram
 
Sumber: Instagram
Saya langsung saja summon akun teman baik saya Kartika Rose Rachmadini alias Rose di dalam kolom komentar postingan tersebut yang intinya mengenai perjuangan manusia melawan hormon, pun pada diri saya yang pernah kurus tanpa berusaha dan saat ini gemuk meski makan dengan ukuran wajar.


Sumber: Instagram

Sebelum saya cerita lebih lanjut soal Rose, dalam kolom komentar video Nabela di faktanya google, saya juga mendapati komentar-komentar postif dari para laki-laki. Beberapa dari mereka summon pacar, teman dan juga mengomentari dengan positif tanpa summon siapa-siapa.

Sumber: Instagram

Kemudian soal Rose. Rose sendiri teman baik saya semenjak SMP. Sejak kali pertama mengenalnya, Rose memang mudah dikenali dengan kelebihan bobot tubuhnya. Belakangan ketika kami sudah kuliah, saya juga sempat bertemu keluarganya Rose dari pihak ayah; antara lain kakek dan tantenya. Keluarga Rose dari pihak ayahnya, ternyata memiliki tinggi tubuh di atas rata-rata orang Indonesia dan juga bobot tubuh yang jelas jauh melebihi Rose. Rose sendiri tinggi badannya hampir sama dengan saya. Tinggi badannya ini agaknya menurun dari keluarga ibunya yang rata-rata tingginya seperti orang Indonesia kebanyakan.
Dengan semua yang saya saksikan, jelas sudah perkiraan saya bahwa Rose gemuk karena hormon yang diturunkan dari keluarga. Soal hormon keturunan juga berlaku buat warna kulit Rose yang cerah dan mudah diatur. Saya tidak bilang kulit Rose cerah karena warnanya putih, tapi indikator cerah bagi saya adalah kulitnya yang segar. Ketika keluar rumah, Rose hanya bermodal bedak tabur biasa dan lipstick, begitu saja wajahnya sudah segar.
Barangkali banyak yang tidak tahu bahwa Rose juga sudah berkonsultasi ke dokter untuk menghilangkan kelebihan berat badannya. Saya ingat Rose pernah cerita salah seorang dokter mengatakan gemuknya Rose adalah gemuk otot. Dirinya juga sudah berusaha minum obat pelangsing namun Rose malah kemudian telat datang bulan. Jarang makan nasi, berusaha hanya makan sayur dan buah pun sudah Rose lakukan. Semua yang saya ceritakan ini hanya sebagian saja yang pernah diceritakan Rose pada saya.
Belum lagi guyonan tidak lucu dari teman dan keluarganya seperti,”Ini anak dikasih makan apa, sih? Kok bisa segini besar?”
Rose sendiri saya kenal dari SMP sebagai siswi yang sangat kuat di bidang akademis. Bahkan menurut cerita dari neneknya, hingga kuliah Rose bisa mendapat beasiswa dari bidang akademis. Dirinya pun sangat baik berteman pada siapa saja, sangat asyik diajak curhat, mengobrol dan jalan-jalan, tidak pelit juga terhadap teman, meski saya cuma bisa balas dengan belikan dia novel obralan.
Memiliki bobot jauh di atas rata-rata tentu tidak nyaman dan pada aktifitas tertentu menganggu. Rose sedang berusaha membuat dirinya nyaman dengan caranya. Usaha yang dia lakukan hasilnya sangat pelan sehingga siapa saja dapat menghakimi Rose tidak pernah berusaha.
Ada juga teman saya Putri Sih Anekasari alias Putri. Putri memiliki tinggi tubuh di atas rata-rata perempuan Indonesia kebanyakan dan berat badan setara model yang beberapa kilogram di bawah berat badan ideal. Saat SMK saja, tinggi badannya sudah 165 cm. Rambut asli Putri tipis bergelombang dan kulit aslinya dia akui kusam.
Putri sendiri aktif di Paskibra sekolah dan memiliki nilai akademis yang bagus. Dirinya juga jago soal aktifitas fisik, nilainya selalu sangat baik saat pelajaran olahraga dan juga berbakat voli. Putri juga teman mengobrol yang dewasa, setia kawan dan tidak pelit terhadap teman-temannya.
Hingga sekarang, Putri memilih meluruskan rambutnya. Dirinya juga memilih menempelkan serangkaian bedak ketika keluar rumah agar wajahnya nampak segar. Putri sendiri sangat berusaha merawat jenis kulitnya dengan berbagai rangkaian pembersih dan pelembab yang bermacam-macam.
Pernah juga Putri bercerita, seorang kakak tingkat di jurusannya saat kuliah, mengirim DM padanya di Instagram. Kakak tingkat tersebut mengajak Putri ngopi setelah melihat fotonya yang full make up. Putri merasa tidak nyaman karena kakak tingkat tersebut sesungguhnya satu organisasi dengannya semasa kuliah. Namun, di masa itu Putri belum menemukan perawatan kulit dan rangkaian bedak yang pas dengan wajahnya. Semasa itu juga, kakak tingkat itu sama sekali tidak mengenalnya, apalagi mengajakanya mengobrol. Saya justru malah berpikir buruk, bagaimana jika kakak tingkatnya Putri itu menghina ketika tahu dirinya tidak memakai riasan? Untungnya, Putri cukup cerdas untuk menolak ajakan ngopi yang tiba-tiba itu.
Sebetulnya, tidak ada yang salah dari usaha Putri meluruskan rambut dan memakai riasan. Putri hanya ingin lebih mudah menata rambutnya dan merawat kulitnya. Itu semua hak masing-masing orang, bukan?
Oh iya. Saya pernah saat SMK melihat foto ibunya Putri. Perawakan ibunya itu betul-betul mirip Putri yang tinggi dan atletis. Bentuk tubuh Putri diwariskan dari ibunya. Porsi makan Putri saya ingat sangat banyak semasa SMK, namun tubuhnya terus meninggi dan dirinya tidak pernah kelebihan berat badan yang sampai kentara.
Kemudian teman saya Putri Wulandari alias Iwul. Iwul juga teman saya sejak SMK. Sejak SMK juga, Iwul memiliki masalah jerawat. Ini semua bukan soal penampilan, namun justru soal jerawat yang jumlahnya sangat banyak, gatal, sakit dan mengganggu.
Iwul sering bercerita pada saya bahwa ketika pergi ke dokter, jerawatnya itu divonis karena hormon. Setelah ditelusuri, ternyata semasa muda, ayahnya Iwul memiliki jerawat yang sangat banyak pun saudara-saudaranya dari pihak ayah. Sepupu-sepupu perempuan Iwul dari pihak ayah, juga mengalami hal yang sama. Adik laki-laki satu-satunya Iwul, justru tidak memiliki masalah jerawat dan jenis kulitnya itu diturunkan dari ibunya.
Tentu banyak yang tidak tahu, bahwa treatment untuk jerawat bagi masing-masing orang berbeda. Untuk Rose, Putri, Iwul dan saya juga sangat berbeda. Saya misalnya, hanya perlu memergunakan facial foam untuk menghilangkan jerawat. Harga facial foamnya? Hanya dua belas ribu.
Teman saya yang lain ada yang memergunakan es batu ketika berjerawat dan banyak treatment yang berbeda-beda. Tapi Iwul beda, jerawatnya itu menetap dan sangat banyak. Dia sudah berpindah-pindah dokter tapi belum juga menemukan obat yang efektif. Iwul bahkan jauh rajin membersihkan wajahnya ketimbang saya. Jenis kulit saya menurun dari ayah, ibu dan nenek yang bahkan ketika jarang dibersihkan pun sangat sulit berjerawat atau kusam. Teman-teman yang sedang membaca tulisan ini pasti sangat tahu bahwa biaya pergi ke dokter kulit untuk menghilangkan jerawat tidak semurah harga facial foam.
Iwul sendiri merupakan tukang bersih-bersih gratis di mushola sekolah. Dirinya terutama membersihkan tempat wudhu dan tidak ada yang menyuruh apalagi memerhatikan pekerjaan sukarelanya itu. Di daerah tempatnya tinggal, Iwul juga sempat mengajar di PAUD milik kampungnya dan sebuah TPQ. Soal gaji? Iwul kerja sosial dengan insentif yang sangat jarang turun. Kehidupan keluarga Iwul pun sangat sederhana, dengan rumah sangat kecil di sebuah kampung di tengah kota Malang. Iwul sendiri berhasil kuliah karena keinginannya yang kuat dan berhasil mendapat beasiswa.
Jadi sesungguhnya, setiap perempuan sangat ingin menjaga kesehatan dan membuat dirinya 'sedap dipandang'. Setiap perempuan seperti teman-teman yang sudah saya ceritakan di atas ini sudah berusaha dengan caranya masing-masing. Hanya saja, cara-cara tersebut ada yang langsung berhasil dan ada juga yang hasilnya lama. Para perempuan yang sedang saya ceritakan ini pun memiliki banyak kelebihan yang kasat mata pun sangat dapat dilihat.
Teman-teman saya ini tengah terus berusaha, sedang di lain sisi orang-orang yang memandang mereka berkomentar sekena hatinya. Penerimaan diri memang hal utama, mengakui bahwa bahwa diri kita, gemuk, berkulit kusam, berjerawat dan lain sebagainya. Penerimaan diri adalah pengakuan atas hal-hal yang diri sendiri memang miliki, membantu kita terus melanjutkan hidup dan lebih jernih memandang diri sendiri. Penerimaan diri bukan berarti pasrah.
Video Nabela sendiri, bukan menunjukkan kepasrahan namun justru penerimaan. Nabela menunjukkan bahwa untuk menjadi seorang beauty vlogger yang berkreasi dengan seni rias wajah, tidak membutuhkan tubuh kurus dan kulit putih seperti yang jamak kita semua lihat. Siapa saja mampu dan berhak membikin karya, begitu pesan yang saya tangkap dari aktivitas Nabela.
Kepada semua orang termasuk saya, yang barangkali gemar berkomentar. Saya tidak hendak mengajurkan apa-apa. Saya hanya berharap, curhatan ini bisa menyentuh hati siapa saja…

Pagi ini, saya menuliskan curhatan ini dengan tinggi badan saya, 163 cm dan berat badan saya 69 kg.



Friday, December 29, 2017

Jilbab, Solusi Berbalap 'Baik' Antar Perempuan?

Coreted by: #AnomaliKreate

Tulisan ini saya catut dari tulisan saya di Instagram, 23 September 2017. Tulisan tersebut telah saya arsipkan dari Instagram untuk merapikan feed saya di sana. 

Teman saya di SMK, beda angkatan, mengoreksi teman-teman perempuannya yang berjilbab namun masih senang memasang foto tanpa jilbab di sosial media. Koreksian itu dituliskannya di status BBM. Hampir satu semester berikutnya, teman saya itu ternyata upload swafoto terbarunya tanpa jilbab dan jadi DP BBM. Kesehariannya? Jelas dia berjilbab, makanya sampai bikin status macam begitu di status BBM. Saya kemudian komen DPnya itu begini,”Loh… eman banget ada yang hilang ya…” Dan dia tidak paham maksud saya apa, katanya.

Jika saja teman saya ini sebelumnya tidak melayangkan penghakimannya pada sesama perempuan lebih dahulu, saya tidak bakal tertarik untuk menyentilnya dengan cara demikian.

Teman kampus saya, tidak bisa dibilang kenal karena kami tidak pernah bertegur sapa dan saya hanya sempat mengetahui dia di sebuah acara lantas follow Instagramnya, mengunggah postingan di Instagram dengan caption panjang sekali. Caption itu intinya mengoreksi teman-teman perempuannya, yang mengumumkan hijrahnya di sosial media. Padahal, si teman ini pun menunjukkan hijrahnya di media sosial, bahkan dipergunakannya buat berdagang pakaian yang katanya syar’i. Di bawah postingannya itu, saya hanya komen,”Soalnya postingan macam begitu (soal hijrah) bisa dipakai ‘jualan’.” Dan dia balik tanya maksud saya apa. Tersinggung bisa jadi.

Jika saja teman saya ini sebelumnya tidak melayangkan penghakimannya pada sesama perempuan lebih dahulu, saya tidak bakal tertarik untuk menyentilnya dengan cara demikian.

Agama itu damai. Jadi, kapan kita mau berhenti saling menyakiti? Jadi, kapan kita mulai berhenti saling merasa lebih baik? Sesama perempuan pula.

Bagi Tuhan, membolak-balik hati betapa mudah. Bisa jadi apa yang kita hakimi salah hari ini, besok hari kita lakukan juga. Oh iya, tolak ukur yang saya pergunakan dalam kejadian ini soal penghakiman, adalah mereka yang ucapan dengan praktiknya tidak sejalan, namun sudah merasa berhak menuding selain dirinya adalah salah.

Sesungguhnya, jilbab bukan alat untuk para perempuan berbalap merasa baik. Jilbab adalah salah satu anjuran kebaikan dalam beragama, jika betul-betul dimaknai. Masing-masing di antara kita sendiri; perempuan, yang menjadikan jilbab sebagai alat saling menyakiti dengan perempuan lain.

“There is no bad religion, they are only bad people.” –Instagram 9Gag-
Catatan:

Sabtu, 02 April 2022

Lupa tahun berapa. Sepertinya tiga tahun lalu. Teman yang saya bahas ini sudah tahu tulisan ini ada dan dia sudah berkembang jauh. Dia mengakui memang melakukan cerita di atas lalu menertawakan dirinya sendiri,"Hahaha... Aku dulu emang masih muda, Mbak."

Saya juga belajar dari teman-teman yang mau mengakui kelakuan sendiri seperti si teman ini. Soalnya saya dulu antri kritik parah sebelum luka inner child selesai. Mencerna saran? Heuh, yang ada mengira semua orang yang berpikir berlawanan sebagai si penyerang.

Sejak 2019 saya juga berusaha menemukan titik rekonsiliasi dengan banyak teman. Masih ada nama-nama yang masih saya cari sebetulnya. Tapi ya, membiasakan diri mengakui kesalahan ternyata bikin hidup rasanya lebih ringan.

Sayangnya, sejauh 2021-2022 ada dua teman yang tidak bisa bareng di titik rekonsiliasi. Dan ya, harus diakui tidak semua rekonsiliasi bakal berhasil. Bisa jadi saya yang kurang pas dalam berkomunikasi atau salah satu pihak masih perlu proses buat mencerna porsi kesalahan masing-masing.