Tuesday, May 25, 2021

Menyoal Depresi Pasca Melahirkan, Anak-anak dan Pelabelan

Sumber: basabasi.co

Dimuat di basabasi.co 14 Desember 2019

Judul : SILSILAH DUKA
Penulis : Dwi Ratih Ramadhany
Penerbit : Basabasi
Edisi : Pertama, September 2019
Tebal : 134 hal
ISBN : 978-623-7290-21-6

Dibuka dengan adegan mengerikan Ramlah yang bunuh diri disaksikan putri pertamanya, Silsilah Duka seperti menagih untuk terus dibaca tanpa jeda. Meski tetap dengan gaya bahasa Ratih yang khas, novela ini tidak menyajikan tata bahasa yang berbunga-bunga dengan diksi-diksi cukup berat layaknya dalam buku keduanya, Pemilin Kematian (PSM, 2015).

Pemilin Kematian sendiri terdiri dari cerita pendek yang telah dimuat di koran nasional dan memenangkan perlombaan. Memang gaya menulis yang disajikan Ratih di sana bisa dibilang pekat beraroma cerpen koran atau cerpen ala kompetisi. Dan langkah Ratih yang tidak menghilangkan gaya bahasanya, namun memangkas diksi-diksi sukar seperti biasa ia menulis di media nasional, memberi dampak novela ini tetap berbobot namun tidak membuat pembaca terengah-engah.

Novela ini bisa juga dikatakan membawa pemahaman mengenai depresi pasca melahirkan yang tidak tekstual. Tokoh Mbuk Jatim misalnya, menjadi gambaran bahwa masyarakat yang tumbuh dalam tradisi tidak primitif juga. Mbuk Jatim si dukun pijat bayi, mengerti psikologi dalam hal praktik. Ia memahami bagaimana seseorang mengalami depresi dan bagaimana sebab juga akibatnya, hanya saja ia kalah dalam penggunaan istilah sukar. Terlihat dari bagaimana Mbuk Jatim meyakinkan Farid yang sarjana dan pegawai, bahwa istrinya diliputi ketakutan hingga tekanan mental dan bukannya kesurupan apalagi kurang iman.

Lain dari Mbuk Jatim, tokoh Ebo’ yang juga tumbuh dalam tradisi masih dihinggapi mitos bahwa ciri-ciri seseorang yang histeris dan menangis adalah kesurupan dan bukannya gangguan kesehatan mental. Berbagai sebab di masa lalu, membuatnya terobsesi mengatur hidup orang lain, termasuk hidup anak-anak dan menantunya yang sudah masuk usia dewasa. Luka akibat kegagalan menata hidupnya sendiri, membuat Ebo’ tidak kunjung sembuh bahkan hingga memiliki cucu. Meski sebenarnya perempuan yang telah lama kehilangan suaminya itu tengah membuat mekanisme pertahanan hidup dengan berupaya ingin dianggap ada dan mampu menata hal-hal yang seharusnya. Lantas masih ia pula yang lari dari lukanya yang tidak kunjung sembuh, dengan membuat hidup orang lain terasa selalu salah. Jika hidup orang lain selalu salah, maka menjadi benarlah hidupnya. Tokoh mertua Ramlah dan ibu kandung Farid ini terasa sukses membuat pembaca ingin menjambak habis rambutnya tepat pada omelannya yang ketiga kali.

Salah satu omelan Ebo’ ketika memaksa menantunya pijat tradisional meski kesakitan, begini isinya,“Ramlah nggak akan mati karena dipijat begitu. Kamu berani bilang Ebo’ serakah? Lupa kamu keluarnya dari tampuk siapa? Ini lagi menantu suka ngadu. Masih untung Farid nggak saya suruh kawin lagi.” (hal 20)

Farid sebagai seorang suami juga sebenarnya sudah memegang prinsip “hamil berdua”. Istilah ini belakangan populer untuk menyebut suami yang turut andil ketika istrinya hamil hingga merawat anak. Berasal dari masyarakat yang penuh tradisi, tidak membuat Farid membedakan “pekerjaan lelaki” dan “pekerjaan perempuan”. Hal ini seperti menggugat anggapan sebagian orang bahwa pria lokal tidak berpikiran terbuka sehingga enggan melakukan pekerjaan rumah juga punya andil mengurus dan mendidik anak-anak. Masih Farid pula, yang melakukan prinsip “hamil berdua” tanpa teori yang melangit. Dia mencintai Ramlah, istrinya itu, dan melakukan segala hal yang sepakat mereka sebut sebagai sama-sama nyaman.

Lingkungan Ramlah pun sesungguhnya sudah sangat ideal, ya jika saja Ebo’ tidak bersikap sedemikian ajaib begitu. Selain suaminya yang menerapkan “hamil berdua”, masih ada Kholila, iparnya yang lajang dan mahasiswi tingkat akhir, mendukung kehamilannya dengan cara mengirim tips-tips selagi hamil dan melahirkan dari YouTube. Diam-diam melalui novela ini, kita juga bisa belajar sikap mana yang tepat dan tidak tepat ketika menghadapi orang hamil, lagi-lagi tidak secara tekstual dan di luar teori-teori berat. Pula bagaimana kita turut andil menciptakan lingkungan yang positif bagi seseorang yang tengah hamil.

Selain menunjukkan penguasaan yang cukup baik mengenai isu depresi setelah melahirkan, Ratih juga ternyata menguasai psikologi anak. Persoalan psikologi anak dilebur secara apik dalam dialog dan gaya penceritaan. Bahaya pelabelan bagi anak menjadi salah satu yang paling menonjol dalam cerita. Ratih tidak mendikte pembaca dengan kalimat teoretis semacam, bahaya pelabelan bagi anak adalah dan contoh-contohnya adalah. Dalam perkara pelabelan ini, Ratih justru menceritakannya melalui Mangsen yang entah bagaimana berkulit jelaga dan beda sekali dengan anggota keluarga lainnya.

Secara apik Ratih menggambarkan anak-anak sebaya yang enggan bermain dengan Mangsen karena dianggap aneh. Konsep aneh ini ternyata tidak didapat sendiri oleh anak-anak tersebut. Mereka mendapatkannya dari orang dewasa di sekitar. Figur orang dewasa yang dianggap serba tahu dan maha benar oleh anak-anak, membuat mereka membenarkan label soal Mangsen yang sengaja ditularkan. Pada akhirnya, berdasar label tersebut, anak-anak ini merasa sah saja menjauhi Mangsen yang berbeda. Toh, ini peraturan tidak tertulis dari para orang dewasa bukan?

Persoalan warisan label tersebut, tergambar dalam salah satu paragraf di halaman 74. Begini isinya; mereka enggan mengajak Mangsen bergabung karena telah dibekali peringatan orang tua masing-masing bahwa Mangsen tidaklah cocok menjadi teman mereka. Kulitnya berbeda. Ayah dan ibunya pasti berbuat banyak dosa. Jangan dekat-dekat supaya tidak ikut celaka.

Sayangnya, pada dua bab terakhir, Ratih terasa terburu-buru dan banyak menyajikan jalan cerita yang berulang telah disajikan terlebih dahulu dalam karya fiksi sejenis. Pijakan kuat dari bab-bab sebelumnya seolah lumayan bergoyang pada dua bab terakhir ini. Bahkan ada adegan-adegan yang mirip sinetron kejar tayang. Meski demikian, salah satu seri novela dari kompetisi penerbit Basabasi ini, bisa dibilang memberi edukasi soal pendidikan keluarga terhadap pembaca melalui cerita kelam yang di luar nalar. Silsilah Duka tetap layak mendapat tepuk tangan dan semoga, makin banyak penulis serupa Ratih yang tidak hanya menjual cerita kelam namun juga nilai-nilai yang dekat bila dipraktikkan dalam keseharian.


Catatan: Sejak 2019 sering lupa habis ngetik tulisan simpan di mana dan habis dimuat nggak dikliping di blog. Ini nyicil yang lupa-lupa itu yes.

Dokumentasi tampilan website.
Sumber: basabasi.co


Monday, May 17, 2021

Seberapa Fasis Kita Check

 

Sumber: Gugel

Kita mendaku anti feminis, RUU PKS bagi kita pro zina. Kemudian ada kasus kekerasan seksual di depan mata dan kita katakan,”Alah, biar tuh para feminis egonya dikoyak-koyak!”

Kita mendaku relijius, LGBTQ bagi kita sesat. Kemudian ada kasus waria dibakar tanpa sebab dan kita katakan,”Alah, udah azabnya. Siapa suruh menyalahi aturan Tuhan!”

Kita mendaku pluralis, bagi kita NKRI harga mati. Kemudian ada fakta Palestina menerus dijajah Israel dan kita katakan,”Alah, yang teriak-teriak free Palestine memang udah kasih makan tetangganya?!”

Kata kuncinya adalah, ketika ada sebuah kasus yang biasanya disuarakan mereka yang bertentangan dengan keyakinan atau ideologi kita, itu kitanya tuh nggak fokus berempati atau membahas tragedi kemanusiaannya. Malah nih, kita fokus menyerang ideologi atau keyakinan yang berseberangan tadi.

Fasis itu yang gimandos sey? Fanatik... Fanatik...

Fanatik itu bukan hanya agama lho.

Yang merasa feminis, pluralis, sosialis dan lis-lis-an lainnya coba cek dulu dan jangan keburu merasa paling tercerahkan, apalagi sampai anggap fanatik tuh hanya identik dengan agama 🙅

Karena kalau kita merasa udah paling lis-lis-an, tapi masih bersikap macam paragraf sebelum-sebelumnya akika bahas tuh, ya jadinya sama aja. Fanatik-fanatik juga... Fasis-fasis juga...

Heuh 🤦

Jadi, sudah fasis berapa kali hari ini?

Tuesday, May 4, 2021

Begini Rasanya Jadi Pengisi Acara Parpol


Sumber: Gugel


Agustus 2020 lalu, Gofar Hilman menjadi olok-olok di Twitter setelah mempromosikan UU Cipta Kerja. Ada yang mengolok idealisme yang selama ini ia tunjukkan hancur setelah butuh uang, hingga mengolok ideologi punk yang katanya ia usung. Gofar Hilman pun memohon maaf dan mengaku tawaran tersebut ia terima murni karena ketidaktelitian.

Apa saya ikut mengolok Gofar Hilman? Ya, gimana ya. Mau mengolok sungkan juga karena faktanya, pernah juga saya nggak teliti menyeleksi sebuah tawaran.

Jadi seorang teman mengajak saya mengisi acara di Malang kota 2019 lalu. Temanya soal perempuan, dua pengisi acara yang lain pun tenaga profesional yang tidak tergabung dalam organisasi berbau politik mana pun. Satu orang model sekaligus make up artis, sedang satu lagi personal trainer sekaligus pakar public speaking. Si personal trainer ini lebih dahulu saya ketahui sepak terjangnya, posisi kampus kami juga dekat.

Sosial media komunitas tersebut kemudian mengikuti akun saya dan jumlahnya dua; pertama, markas komunitas dan kedua, komunitas itu sendiri. Ketika saya klik akun sosial media mereka ya... memang komunitas tersebut sering mengadakan acara pengembangan diri dan markasnya di sebuah tempat makan cepat saji. Dari dokumentasinya pun, personal trainer yang sudah lebih dahulu saya ketahui sepak terjangnya itu ternyata sering mengisi acara di sana.

Tapi ketika poster sudah perjalanan dibuat, teman saya yang menawari itu WA lagi. Isinya ternyata laporan keuangan komunitas tersebut dan sebuah pesan permintaan maaf jika lokasi acara komunitas itu ternyata milik orang partai. Teman saya ini memeringkatkan kalau mungkin di sana bakal ada bau-bau kegiatan politiknya. Tapi ya sudah deh, saya sudah terlanjur mengiyakan dan memang berniat cari pengalaman baru apapun bentuknya itu.

Mau tahu isi laporan keuangannya? Yang paling saya ingat sih, setiap pemateri mendapat alokasi seratus lima puluh ribu untuk souvenir. Lalu peserta dikenakan tiket dua puluh ribu per orang. Pokoknya total biaya dari pengadaan acara itu sampai jutaan.

Singkat cerita, acara berlangsung. Ternyata pemilik markas dan komunitas adalah perempuan berusia lima puluhan, sebaya ibu saya. Malam itu, ia memakai dress putih, celana tiga per empat dan sepatu kets sewarna, kostum yang seolah menegaskan, ini lho saya yang paling ngerti milenial. Sempat juga ia turut berbicara di akhir acara, meski nggak ada ucapannya yang ada bau-bau partai. Saat itu dia hanya mengulas materi acara dari awal hingga akhir.

Ya, usai acara juga si ibu partai ini tanya nama pengguna sosial media para pemateri dan mengikuti akun kami. Sesama pemateri pun saling bertukar nama pengguna dan mengikuti sosial media masing-masing.

Eh, lha tapi ternyata kami dapatnya ucapan terimakasih dan menu makanan paling murah di lokasi acara yang tempat makan cepat saji itu. Nggak ada sertifikat, uang transport apalagi. Sudah begitu, sehari setelah acara, ada teman dari Gusdurian WA saya. Anak ini dikenal suka bisnis memang, jadi jika ada seminar-seminar dari lembaga tertentu begitu dia seksi cari-cari peserta. Jadi, nggak heran lingkaran pertemanan si teman ini sampai ke orang-orang parpol juga.

Yang bikin nggak nyaman itu ya, foto kami mengisi acara ternyata dipakai dan disebar untuk kampanye kemana-mana dan teman saya ini yang bilang. Tjuy, bayangkan... Kamu mula-mula mengira hendak mengisi acara di komunitas belajar biasa, kemudian justru tahu isi laporan keuangannya, tapi datang hanya diberi menu termurah lalu fotomu disebar untuk pencalonan ibu tersebut jadi caleg. Partainya? Ternyata betulan partai yang konsepnya ‘anak muda’ banget itu.

Bahkan anak HMJ kampus dan unit aktivitas lebih menghargai tenaga manusia meski nggak punya dana. Mereka dengan terus terang akan bilang tema dan sasaran acaranya apa dan siapa. Mereka pula yang terang-terangan bilang nggak ada dana untuk transport tapi masih berusaha memberi hidangan terbaik dalam bentuk kue dan minuman, juga sertifikat yang dibingkai cantik. Bukan soal harganya ya tjuy, tapi kejujuran dan menghargai tenaga sesama manusia itu lho.

Saya masih bersyukur, oleh si pembuat poster yang entah siapa itu nama saya hanya ditulis blogger dan satu lagi predikat, pokoknya bukan Gusdurian. Lha, kalau ditulis Gusdurian ya menangis dong saya. Gusdurian nggak boleh ikut politik praktis. Ya, memang saya nggak ikut, tapi mengisi acara yang ternyata ditujukan untuk politik praktis kan jadinya saudaraan.

Lalu kabar baiknya, ibu tersebut gagal di pencalegan. Di Instagramnya, beliau mengunggah foto surat pengunduran dirinya dengan caption yang intinya marah karena partai sudah nggak bisa mewadahi idealismenya. Hehe... Iya, idealismenya.

Setelahnya, saya putuskan unfollow dua akun komunitasnya. Selanjutnya, agaknya saya juga bakal unfollow akun ibu tersebut. Seram juga soalnya, jika terus berhubungan dengan orang-orang yang mau keuntungan sebanyak mungkin dengan modal sedikit mungkin, nggak jujur pula.

Khawatirnya juga, kejadian saya mengira komunitas tersebut kredibel gara-gara melihat si anak kampus sebelah terlihat bergiat di sana, terjadi juga pada teman-teman yang lain. Bisa jadi teman-teman mengira komunitas tersebut kredibel karena melihat profil saya yang selama ini hanya dekat dengan komunitas non profit kok ternyata pernah mengisi acara di sana, bahkan saling follow juga.

Ya gimana ya, mau hujat Gofar Hilman juga saya sendiri punya dosa. Bedanya, bung Gofar sejak awal kesepakatannya kegiatan bisnis, sedang saya dan teman-teman yang terjebak komunitas ibu partai tersebut kesepakatannya kegiatan sosial. Tapi tidak ada salahnya juga sama-sama lebih teliti di hari berikutnya.

Doa saya hingga hari ini hanya satu, semoga ibu tersebut bisa menemukan partai baru yang sesuai dengan idealismenya.

Ehe.

 

*Ditulis bulan September 2020, lalu lupa upload. 

Jadi mikir untuk mulai foto dengan orang-orang lintas parpol lalu diunggah di tulisan ini buat koleksi. Bolehlah ini jadi capaian hidup.

Catatan: 

Beberapa waktu setelah tulisan ini diunggah, salah satu publik figur yang disebut dalam tulisan ini viral di Twitter sebagai pelaku kekerasan seksual. Tulisan ini tidak akan dihapus karena sebagai pengingat.