Showing posts with label Keseharian. Show all posts
Showing posts with label Keseharian. Show all posts

Saturday, April 25, 2026

Bias (Pengalaman Nonton Kembang Api)

Sumber: Gugel

Lelaki pertama ciri khas boomer banget, menghakimi masalah orang tidak lebih berat masalahnya dibanding dia.

Lelaki kedua ini betulan kayak gini? Dia kan dokter umum, setidaknya dia tahu kapan harus minta bantuan sejawatnya yang profesional.

Perasaan wanita pertama ini valid banget sih, rasa bersalah atas kehilangan nggak bisa diselesaikan begitu mudah.

Lantas anak SMA satu-satunya dalam klub ini, saya pernah mengalami serupa namun dia lebih berat. Jadi wajar jika dia menganggap satu-satunya jalan keluar adalah...

***

Saya mengenali diri saya sendiri sebagai seseorang dengan pemikiran dan isi hati yang bias saat nonton film Kembang Api. Film sendiri dimulai dari klub bunuh diri yang terdiri dari empat orang lintas usia yang kemudian terjebak time loop.

Film yang rilis 2023 lalu itu membikin saya secara sadar dan tidak sadar melakukan bias-bias serupa para tokohnya seputar masalah hidup orang lain. Mana yang lebih berat, mana yang paling buntu, lebih kejam; hingga mana yang paling layak berpikir bunuh diri.

Bahkan penghakiman atas ciri khas generasi tertentu ketika menghadapi masalah pun muncul dalam pikiran dan hati saya. Ya, kesimpulan pria pertama sebagai boomer tadi. Selain, karena tidak pernah menghadapi masalah serupa sependek hidup (amit-amit jangan, saya belum tentu kuat), jadi tidak ada bayangan bagaimana penyelesaian masalahnya. Ketika dalam kepala tidak ada ide-ide penyelesaian masalah, saya langsung berpikir beratnya masalah lelaki pertama valid.

Sedang untuk lelaki kedua, justru ada bias pemikiran, bukan kah dia punya akses pengetahuan buat mengobati dirinya? Ia bahkan masih mengulas keilmuan yang sempat didapat di bangku kuliah untuk bantu memikirkan solusi satu-satunya anak SMA dalam klub itu. Tapi bukan kah siapa saja bisa merasa buntu dan itu manusiawi? Tapi mengapa saya masih menganggap masalah lelaki kedua paling ringan dalam klub ini, sedang saya juga mengatai lelaki pertama sebagai boomer tukang menghakimi?

Lantas kenapa rasa bersalah perempuan pertama lebih mudah saya terima sebagai masuk akal? Kenapa saya tidak memiliki bias untuk membayangkan dia ngobrol saja dengan suaminya lantas bahu membahu menyelesaikan rasa bersalah mereka? Apakah karena saya punya pengalaman jatuh dari motor bersama ibu yang padahal kami berdua sama-sama tidak terluka, tapi saya menangis dan merasa bersalah melihatnya tertimpa pagar?

Kemudian untuk satu-satunya gadis SMA dalam klub, apakah lagi-lagi biasnya datang karena saya pernah mengalami hal serupa meski jauh tidak lebih berat dibanding dia? Apakah pengalaman serupa membikin kita punya landasan menginvalidasi atau memvalidasi pengalaman orang lain?

Pertanyaan pun muncul setelahnya, bagaimana ketika saya menghadapi suatu musibah, suatu masalah, lantas orang lain memiliki bias dan penghakiman seperti yang saya lakukan kepada para tokoh dalam Kembang Api? Bukan kah saya juga akan sama tidak terimanya dengan mereka saat saling menginvalidasi masalah dan musibah masing-masing sepanjang film?

Pada akhirnya, para tokoh dalam Kembang Api adalah saya, adalah kita semua, yang berapa banyak pun sudah mendengar kisah diri dan orang lain, tetap saja memiliki bias buat menginvalidasi dan memvalidasi masalah juga musibah orang lain.

Friday, February 13, 2026

Keperawanan Teman Saya...


Lokasi: Bareng Malang. Jepreted by tanganku dewe.

"Hai, Pop... Langkah sudah ada lanjutannya?" tanyanya sambil mendekati bangku saya.

Langkah adalah judul novel yang saya tulis tangan saat kelas delapan dan tidak pernah saya selesaikan, sayangnya. Jika menilik istilah masa sekarang, Langkah sebetulnya berisi fan fiction yang tokoh-tokohnya mengambil dari Naruto.

Waktu itu, saya bikin cerita dengan tokoh Tsunade, ibu muda yang terus menerus gagal mencapai mimpinya jadi komikus. Ia memiliki anak berusia SMP bernama Gaara yang tiap hari mesti mengevakuasi dirinya yang kerap mabuk hingga tidak sadar tidur di sembarang tempat karena depresi. Gaara dan Tsunade, keduanya tokoh favorit saya tentu saja dari serial Naruto.

Gadis yang bertanya di depan tadi duduk dua bangku dari belakang. Sedang saya, duduk di bangku paling depan dekat pintu, sendirian. Satu waktu, bu guru mata pelajaran akuntansi memujinya yang mampu mengerjakan soal di papan tulis dengan ucapan, sudah pinter, cantik lagi sesuai namanya.

Sejak kecil, saya tidak pernah punya konsep fisik dalam melihat seseorang, jadi ketika dewasa lebih suka pakai istilah standar industri dibanding ganteng atau cantik. Namun meski demikian, saya tahu teman sekelas saya itu punya karakter secantik apa. Begini ceritanya...

Mulai kelas tujuh, saat jam pelajaran olahraga saya kerap ditertawakan. Selalu paling lamban saat berlari, selalu jatuh tertelungkup saat lompat harimau dan menggelinding miring saat roll belakang. Hingga satu waktu di kelas delapan, semua siswa terlihat memilih pasangan masing-masing untuk bergantian memegangi kaki saat sit up, gadis itu termasuk.

Saat semua sudah mendapat pasangan sesuai perintah guru, saya hanya kebingungan, menoleh ke kiri dan kanan. Jadi hingga akhirnya nama saya dipanggil, nekat saja tetap maju tanpa pasangan. Pak guru saat itu bertanya pada para siswa siapa yang mau membantu saya dan semua diam. Bahkan duo siswi populer yang terkenal jago akademis di sekolah dan kerap memanfaatkan saya dalam pekerjaan kelompok (baca juga; Hole Inside Si Tigabelas Tahun), mereka juga diam.

Tentu saja memilih pasangan begini tidak mutlak hingga menjalankan sit up harus bersama teman yang dipilih pertama. Mengiyakan membantu saya sekali, tidak akan mengganggu penilaian guru juga. Namun hingga sebelum guru menanyakan sekali lagi siapa yang mau membantu saya untuk kedua kali, semua masih diam.

Hingga gadis itu muncul dari kerumunan belakang tepat setelah guru bertanya hal yang sama pada kali kedua, sambil mengangkat tangan. Dia mesti melewati murid-murid lain yang tingginya tentu melebihi dirinya. Saya ingat, tinggi saya saat itu 154, sedang dia kira-kira nyaris sekuping saya. Tes dilanjutkan saat dia bantu memegangi dua kaki saya. Setelahnya, dia berlalu tanpa saya tahu bagaimana cara mengucap terima kasih.

Gadis itu sendiri, duduk dengan teman sebangkunya yang saya ingat berambut nyaris sepunggung; keriting tebal, kulit sawo matang, dengan tinggi sama dengannya. Mereka bersahabat, terlihat nyambung saat ngobrol dan teman sebangkunya itu terlihat tidak pernah mengganggunya.

Sebaliknya, teman sebangkunya itu kerap mendatangi bangku saya, mengatakan hal-hal buruk yang entah bagaimana otak saya tidak pernah mau mengingat detail ucapannya sejak setelah lulus SMP. Usahanya menganggu saya setiap hari itu kerap diakhiri tawa mengejek.

Masih orang yang sama, menulis kata-kata yang mengandung pelecehan di buku cetak yang dipinjamkan sekolah. Ia sendiri yang menuliskannya, kasak-kusuk berisiknya di bangku belakang jelas siapa saja dengar, sekaligus dia juga yang membawa buku cetak itu ke bangku saya sambil bilang,"Ada yang nulis namamu di buku cetak." Dan bagaimana pun saya berusaha mengalihkan pandangan, dia tetap menyorongkan paksa buku itu ke hadapan saya, tidak berhenti sampai mata saya menatap lantas membacanya. Sekali lagi, dia pungkasi aksinya dengan tawa mengejek. 

Lagi-lagi, bagaimana pun saya berusaha mengingat detail tulisan di buku cetak itu, otak saya menolak. Jadi setelah di usia dewasa baru mengenalinya sebagai bentuk pelecehan, otak saya seperti memutuskan menghapus saja detail kalimatnya.

Namun ia, gadis itu, justru kerap menunjukkan raut muka tidak nyaman dan gerak tubuh kurang berkenan ketika teman sebangkunya itu sedang melakukan aksinya dan kebetulan ia sedang lewat di bangku saya. Ini bukan kisah kepahlawanan ala novel atau film kenamaan dimana si tertindas dengan suara lantang dibela. Namun justru, bagaimana gadis itu tidak pernah turut merisak (membully) saya, bahkan menunjukkan raut wajah, gerak tubuh tidak nyaman dan tidak berkenan, itu juga sebuah perlawanan. Yang demikian membikin saya tahu, masih ada seseorang di pihak saya saat itu.

Di hari-hari lain, saya tetap membawa buku gambar seukuran kertas A3 saban hari ke sekolah. Saya juga menulis novel yang ditulis tangan salah satunya yang berjudul Langkah itu. Setiap hari, saya menulis dan menggambar sendirian di bangku. Sering juga saya membawa komik dan majalah anime bekas, hasil berburu di Wilis. Jadi ketika teman-teman lain saling berinteraksi, terbahak, mengobrol, saya tidak pernah terlibat, menoleh saja saya tidak. Apalagi di tahun-tahun itu, dalam satu kelas bisa dihitung jari siapa yang suka anime, bahkan dalam satu sekolah pun, para otaku ini bisa dipastikan saling kenal karena memang tidak banyak jumlahnya.

Namun ia, gadis itu, sekali lagi entah dimulai darimana, selalu rutin bertanya apa Langkah sudah ada kelanjutannya. Kadang meski belum selesai menulis, saya membiarkannya membawa pulang buku seukuran A5 itu, tempat Langkah ditulis. Dia akan tersenyum cukup panjang tiap berhasil membawa Langkah pulang dan biasanya, dalam beberapa hari dia akan mengembalikan Langkah lagi-lagi langsung ke bangku saya.

Kalau sudah begitu, dia membiarkan saya menulis lagi dalam beberapa hari berikutnya, sebelum lagi-lagi bertanya hal serupa,"Langka sudah ada kelanjutannya?" Sepertinya dia lebih sering menyebut Langkah tanpa huruf H.

Langkah pada kenyataannya tidak pernah selesai. Semua bermula dari Wisnu salah seorang anggota Osis di kelas, hendak membawa tulisan saya masuk mading atau majalah. Langkah ia bawa pada anggota Osis yang lain, namun sayangnya saya tidak pernah berani mengambilnya lagi. Dengan gadis itu pun, kami pisah kelas di tahun berikutnya.

Masuk kelas 10, saya dan gadis itu ternyata masuk di SMK dan jurusan yang sama. Dia masuk di kelas yang hingga tiga tahun berikutnya dikenal pasif, siswa-siswanya tidak terlihat terlibat dalam kegiatan sekolah atau perwakilan apapun. Kami sendiri entah bagaimana tidak pernah benar-benar berpapasan di sekolah, entah karena di SMK terdiri dari enam jurusan dengan kelas pagi dan siang, jadi begitu banyak siswa atau saya yang saat itu sedang belajar berinteraksi layaknya manusia normal hingga sibuk sendiri.

Hingga kalau tidak salah di kelas 12 (atau 11?), saat sedang di selasar dan duduk di kursi bersama beberapa siswi lain lintas kelas, seorang siswi dari kelas gadis itu tiba-tiba berkata,"Kalian tahu nggak? Si (gadis itu) sudah diperawani si X."

Siswi-siswi lain terlihat jijik dan prihatin. Ada juga yang penasaran hingga terus menanggapi berita dari siswi pertama tadi. Saya diam dalam kemarahan, namun saya yang saat itu masih belajar berkomunikasi layaknya manusia normal, tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Dalam kepala, sebetulnya saya sangat ingin menceritakan bagaimana gadis itu menyelamatkan saya tidak sekali dalam kesendirian yang muram di masa SMP. Namun yang terjadi, saya hanya diam melihat wajah-wajah jijik dan sekadar penasaraan itu. Jadi bagaimana gadis itu bisa dinilai dari pilihan aktivitas seksualnya (jika cerita teman sekelasnya itu memang benar)? Dan lagi, hanya ia yang dinilai. Laki-laki yang katanya berhubungan badan bersamanya itu tidak mendapat tatapan jijik dan rasa ingin tahu yang serupa.

Kelak ketika dewasa, saya tetap merutuki diri, kenapa tidak bercerita bagaimana nilai gadis itu sesungguhnya di depan teman-teman yang hari itu ada di selasar? Kelak ketika dewasa pula, saya berpikir gadis itu jika benar melakukan aktivitas seksual semoga saja bukan karena manipulasi, paksaan atau apapun yang membuatnya lara. Betul, saya tidak hendak membahas mana paling bermoral dan mana perilaku yang paling berisiko dalam tulisan ini.

Saat ini, saya gagal menemukan akun Instagram gadis itu. Namun kami pernah saling mengikuti di Instagram lamanya, pernah juga saya menyapanya lewat DM dan saat itu berucap, pasti mengiriminya buku jika kelak saya punya (meski sekarang semakin melihat tulisan bagus orang lain dibanding tulisan diri sendiri, saya jadi pasrah saja jika kelak tidak akan pernah layak punya buku).

Namun melalui akun Instagram lamanya juga, saya melihatnya bersama seorang laki-laki yang ternyata adalah pacar gadis itu. Pacarnya sama-sama standar industri dengan dia dan yang lebih penting, mereka tampak bahagia bersama. Beberapa waktu kemudian ketika mendengar kabar dia menikah, entah dengan laki-laki yang ada di Instagramnya itu maupun bukan, harapan saya tetap sama, semoga karma baik menyertai kehidupannya.

Monday, November 17, 2025

Kritik

Sumber: Gugel

“Si X aslinya lolos lho, cuman karena teman-teman editor mengamati dia defensif tiap terima kritik, nggak jadi lolos...” pungkas seorang teman, nyaris mengakhiri percakapan.

X yang dimaksud saya tahu tulisannya bagus. Perkara kaidah berbahasa? Oh, ya dilibas dong oleh dia. Ditambah lagi, si X ini bimbing banget pada siapapun yang belajar menulis dan nggak pakai pelit-pelit.

Ada perasaan kecewa yang sulit digambarkan ketika saya dengar dia gagal lolos kompetisi di salah satu penerbit mayor tersebut karena alasan yang diceritakan si teman tadi. Saat itu, yang saya tahu X menanggapi kritik dengan argumen. Misalnya kenapa ceritanya begitu dan nggak dibikin begini, dia akan jelaskan kenapa dibikin begitu. 

Namun setelah mengamati kompetisi yang diikuti X dan bagaimana sikapnya sehari-hari, saya pun paham penyelenggara butuh orang yang bisa dibentuk selain tulisannya bagus. Ada industri di depan sana yang tidak bisa dimenangkan oleh karya yang bagus saja.

Beda lagi cerita dengan seorang selebgram feminis yang sempat membagikan novel karyanya di Instagram. Perkara kaidah berbahasa? Banyak yang rumpang. Banyak celah juga dalam cara menulis, penokohan dan sajian lainnya. 

Hingga seorang pengikut kritiknya dia bagikan lewat tangkapan layar di Instagram story. Pengikut ini membedah cara selebgram ini yang kurang baik dalam membuat deskripsi salah satunya dan ternyata yang bersangkutan membalas,”...semoga kamu kalau bikin novel bisa blablabla ya deskripsinya blablabla...” yang intinya, dia membalik kalimat pengikutnya tadi semacam ‘yo wis bikin novel sendiri sana kalau ini ga sesuai harapanmu.”

Setelahnya, selebgram ini beberapa kali masih di instagram story menulis kalimat yang entah untuk siapa dan isinya seputar,‘kalo karya masih biasa aja, gausah lah komen-komen karya orang’ juga,’heran sama orang yang ga diminta kritik tapi kritik’ masih lanjut,’blablabla... Kalau ga sesuai selera blablabla...”

Saya pun tergelitik membalas lewat DM,”Pengikutmu ngomongnya bener. Secara objektif memang kekurangan novelmu yang dia bilang. Itu bukan soal selera.” Percakapan kami pun cukup panjang hingga selebgram tersebut salah satunya mengatakan,”Aku lebih peduli sembilan suka karyaku ketimbang satu yang nggak.”

Sejak itu, saya berhenti mengomentari apapun karya si selebgram ini. Niat membeli novelnya pun gugur, apalagi dia kerap menyuarakan perkara self love dan boundaries yang kerap dipergunakannya untuk menangkal pendapat lain. Dapat dikatakan, saya jenis pembaca yang bukan masalah membeli karya dengan banyak celah namun pembuatnya punya karakter. Iya... Iya... Saya moralis.

X kini memilih mengikuti komunitas daring yang jauh dari penerbit mayor. Barangkali itu upayanya memertahankan idealisme. Sedang si selebgram itu mengumpulkan massa yang betul menyukai karyanya tanpa celah, menerbitkan karyanya secara indie pula. Dua orang yang defensif terhadap kritik dalam kasus yang berbeda ini telah menemukan ruangnya masing-masing.

Tuesday, September 23, 2025

Kelainan Motorik Halus

Saya waktu umur 2 tahun. Sumber: dokumentasi pribadi

Barangkali orang-orang tidak menyangka, saya yang kalau nulis ndakik kesana dan kemari, juga seolah melek isu tertentu ini ternyata hingga kelas empat SD kesulitan membersihkan sisa sabun di sela telinga setelah mandi. Lebih jauh, saya tidak bisa lipat baju dan menjahit hingga hari ini. Parah lagi, saya baru bisa menyisir rambut, potong kuku kaki, membersihkan telinga dan memasang pembalut dengan benar ketika masuk mahasiswa baru, 18 tahun.

“Kamu ini gangguan motorik halus...” ucap seorang dokter psikiatri kenalan saya.

Setelah ditelusuri, ibu bercerita saya memang pernah jatuh dan kepala belakang terbentur keras ketika bayi. Soal intelegensi, memang tidak pernah ada masalah. Malah saya bisa berbicara tanpa cadel sejak usia 1,5 tahun. Namun sepanjang masa pertumbuhan, justru ingatan saya dipenuhi ibu yang kerap melakukan kekerasan fisik maupun verbal saking bingungnya dengan perkembangan saya yang tidak sesuai teman sebaya.

Di keluarga kami, tidak ada yang punya bekal pengetahuan pola asuh, mengakses psikolog dengan kondisi ekonomi waktu itu pun mustahil. Bagaimanapun saya diajari menjahit lubang sederhana, saya tidak pernah bisa. Bagaimanapun saya berusaha memotong kuku kaki sendiri, sangat sulit juga. 

Hingga kelas 12, saya tidak tahu kapan mestinya mengganti pembalut ketika mens dan bagaimana cara memasang yang benar. Orang barangkali dengan mudah menuduh ibu tidak becus mengajari, tapi bagaimanapun diajari bahkan hingga dimarahi, saya memang tetap kesulitan. Jadilah tiap mens, kerap kali darahnya merembes pada baju dan di manapun saya duduk. 

Ya, betul... Cocok disebut terbelakang bukan? Tapi karena di SMK akademis saya bagus dan punya teman sangat banyak, tidak ada yang sadar kekurangan fatal saya pada hal-hal tadi. Sampai sekarang pun, saya tidak bisa menguncir rambut dengan rapi apalagi mengepangnya sendiri.

Dari semua kekurangan itu, saya menutupi dengan bepergian kemana-mana membawa baju yang tidak perlu disetrika. Baju-baju itu saya gulung juga sehingga tidak perlu dilipat. Jadi saya tetap bisa mandiri meski tanpa dibantu orang lain. Meski begitu, pernah juga menyesal karena mas-mas crush semasa kuliah minta tolong jas untuk dia tampil dilipatkan dan betulan... Saya nggak bisa. Haduh, gagal mbribik dong akutuch...

Ketika ibu saya beri tahu hasil analisa bu psikiater ini, tentu saja ia menyesal. Ibu sadar harusnya saya dulu butuh terapi. Tapi saya katakan, hari ini pun bisa diperbaiki meski pasti butuh waktu melebihi orang normal. 

Jika pekerjaan semacam menyapu, mencuci baju atau piring bisa saya lakukan karena berlatih sejak SD dan fasih ketika SMP. Menjahit dan pekerjaan yang lebih halus tentu butuh waktu lebih panjang. Semacam saya yang enam tahun menjalani menstruasi baru bisa pasang pembalut dengan benar. Juga semacam saya yang berlatih dari SMP hingga SMK memotong kuku kaki, membersihkan telinga dan baru bisa melakukannya saat mahasiswa baru.

Meski demikian, hari ini saya menghargai semua usaha keras mengatasi gangguan motorik ini sepanjang hidup. Karena begini-begini... saya yang sekarang sudah bisa bungkus kado dan pasang sampul buku sendiri ehe...

Thursday, May 29, 2025

Pembersihan

Sumber: Jepreted by tanganku dewe

Pernah kena tukak lambung? Atau tipus saja deh. Rasa kebas dan lemasnya di seluruh badan, rasa nyeri sekalian demamnya.

Ya begitu itu rasanya.

Pernah kecelakaan motor? Atau terpeleset di kamar mandi saja deh. Rasa linu dan bekas lebam di seluruh badan, kena gesek baju saja perih.

Ya begitu itu rasanya.

Pernah sakit paru-paru? Atau deman berdarah saja deh. Rasa panas di dada bikin kebelet meracau, amis darah bikin tidak nyaman makan, ada hawa panas pula sampai tulang.

Ya begitu itu rasanya.

Setiap hari.

Di masa pembersihan.

Tuesday, March 25, 2025

Para Sahabat dan Pernikahannya

Jepreted by: tukang foto manten

Yang berbeda sepanjang 2022 barangkali perubahan status empat sahabat saya; nyaris bersamaan. Satu teman SMP, dua teman SMK dan satu sepupu.

Teman SMP tidak lagi hampir tiap hari ke rumah, sekadar menjemput untuk beli telur gulung. Teman SMK yang pertama baru saja punya bayi, sedang satunya tetap tidak bisa makan ceker. Kemudian sepupu mesti jarak jauh dengan suaminya yang kerja di pulau lain.

Teman SMP masih mengajak nonton bareng ke bioskop. Teman SMK yang pertama tetap membiarkan saya spam chat ketika curhat dengan kalimat andalan 'ketik semua dulu biar lega', sedang teman satunya video call bersama threadmill barunya dan hari itu dia cerita sedang masak ikan asam manis. Sepupu pun tetap memberi kabar terbaru perkembangan skripsinya, doakan segera sempro ya!***

Selebihnya ya... sekarang ada tambahan cerita dari teman SMP soal keluarga barunya yang cukup besar, ketika main ke rumah teman SMK yang pertama, ada bayi yang bisa saya sapa. Teman SMK satunya sedang menyelesaikan S2 dan sepupu harus menerima komentar tetangga,"Belum kerja membahagiakan orang tua kok malah nikah."

Yang terakhir tadi asu banget memang.


***Catatan:

Ketika tulisan ini diunggah, sepupu sudah wisuda

Thursday, January 9, 2025

Kapasitas


Nasi gudeg dekat stasiun Kota Baru Malang. Jepreted by: tanganku dewe.

Mencoba rekonsiliasi 2021 lalu barangkali hal dungu, saya tahu. Ya tapi tetap dilakukan juga kan ternyata. Puncak kekacauan mental saya 2018-2019 dan celakanya, itu membuat isi kepala rasanya sangat penuh dan berusaha mencari teman berbagi tanpa menimbang dia siapa, seberapa kapasitasnya.

Dan inilah yang terjadi. Sebuah sindirian di Twitter dan sebuah tulisan di blog yang saya tulis dengan menangis. Menangis berhari-hari bahkan, setelah tulisan itu diunggah.

Ketika saya datang lagi dan minta maaf, teman baik saya ini ternyata kapasitasnya masih sama. Ia belum memahami kesehatan mental, pun metafisik karena belum pernah bersentuhan. Sama dengan tiga tahun sebelumnya, ketika dia pikir saya normal-normal saja.

Saya menangis, lagi. Tapi posisinya sudah mindfulness, bahkan sudah jadi pendamping teman-teman yang lain, jadi tidak sakit sama sekali. Tidak. Tidak sakit ketika dia bilang perlu menghindari apapun yang mengganggu masa depannya dan permintaan maaf karena dia tidak bisa jadi teman yang saya mau. Namun saya lega, ternyata mampu minta maaf setelah dulu memaksanya punya kapasitas menemani.

Sedang beberapa waktu sebelumnya, salah seorang penyintas mengirim pesan pada saya. Dia menangis dan patah menjadi-jadi karena orang yang jadi tempatnya berbagi cerita kali itu marah, menganggap dia self centris hingga tidak memberi kesempatan bercerita yang sama.

Saya katakan, wajar dia patah. Dalam kondisi kacau dan penuh sesak, percaya juga bukan hal mudah. Karena bahkan, kejadian paling ekstrim sekalipun, tempatnya berbagi cerita itu tahu dan kami waktu itu sedang sama-sama memperjuangkan yang paling adil. 

”Dia kapasitasnya memang belum mampu menampung yang kamu alami sekarang.” Lanjut saya.

Lalu saya ingatkan dia fasilitas konseling gratis yang tersedia selama pendampingan. Jika baginya, bercerita dengan kami para pendamping belum cukup, kapan saja dia bisa menjadwalkan jumpa para profesional di sana. Tentu beda. Tentu beda rasanya dengan bercerita pada orang yang dia kenal sangat lama.

Tapi ya, kapasitas.

Ya. Kapasitas.

Ternyata hal yang dulu membuat saya menangis sesak, bukan hal buruk juga. 

Monday, November 18, 2024

Hompimpah

Jepreted by tanganku sendiri di Kafe Pustaka UM (sekarang sudah pindah di luar UM). Pembatas buku ini digambar oleh Yuyun Nailufar.

Aku mengoceh dua jam. Ku bilang teman-temanku baik di sini, lebih banyak ketimbang teman yang jahat. Aku nggak ingin kamu khawatir, meski kenyataannya banyak kesakitan yang nggak aku ceritakan. Dan kamu lebih banyak diam. Ada sedih yang dalam semakin waktu berjalan. Sering aku menangkap tatapanmu terpaku pada satu titik di wajahku, nggak ada keceriaan.

"Kamu kelihatannya sedih. Mau nangis ya?" ejekku dan kamu hanya mengeleng.

Hingga dua jam benar-benar habis, kamu mengantarku ke gerbang kampus dan kita langsung berdebat soal siapa yang mesti berbalik punggung terlebih dahulu. Aku nggak rela berbalik punggung lebih dahulu, bagiku itu nggak adil dan sebaliknya kamu pun berpikir begitu.

"Kita hompimpah sekali.  Hmm... yang kalah balik punggung lebih dulu, oke?" tawarku, lebih kepada memaksa.

Dan akhirnya aku mengeluarkan semut sedang kamu mengeluarkan manusia. Kelingking lawan telunjuk, aku kalah. Tuhan maha baik, dua tahunmu yang akan datang di Jepang masih diganjar juga bisa melihat punggungku berbalik terakhir kalinya.

Aku pura-pura berjalan tegak, namun buru-buru lari kemudian dan sembunyi di gapura gerbang kampus. Kepala aku longokkan dari salah satu gapura dan aku melihatmu sudah berbalik punggung. Aku masih bisa melihat punggungmu dengan kecurangan, setidaknya.

Tuesday, May 14, 2024

Ikatan Jiwa

Sumber: 30 Hari Bercerita

Setelah setahun sebelumnya bikin Facebook, 2010 saya bikin Twitter. Dua sosial media ini menawarkan antar manusia yang tanpa keterpisahan dan di tahun yang sama, tiba-tiba saja sepulang sekolah ingin mampir ke SD. Hari itu Jumat dan saya naik angkot, pergi ke rumah nenek yang jaraknya tidak jauh dari SD sebetulnya.

Sayangnya, saya siang itu keburu ke rumah nenek. Jadi dari dalam angkot, saya hanya memandangi SD yang sedang dilintasi. Kenapa tiba-tiba ingin ke SD ya? Demikian batin saya.

Esoknya, keinginan pergi ke SD tidak tertahan lagi. Sepulang sekolah saya betul kesana naik angkot. Tiba-tiba saja ngeloyor ke ruang guru dan bertemu bu Lilik si guru penggila anime. Bu Lilik mengamati sebentar lantas ingat,”Poppy ya? Cari siapa?” saya menjawab, cari bu Nurul.

Seperti keinginan kuat tiba-tiba ingin mengunjungi SD, saya juga tidak mengerti mengapa ketika ditanya yang keluar justru  nama bu Nurul. Bu Lilik pun menunjuk ruang di mana bu Nurul berada, sedang ia pamit karena ada tugas di ruang yang lain.

Ruang guru yang ditunjuk ternyata sepi, hanya ada bu Nurul di situ dan ia langsung mengenali saya. Dengan mata berbinar, bu Nurul menyambut hingga kami mengobrol selama tiga jam. Kami seperti dua orang kawan lama yang sudah terbiasa bercakap hingga berjam-jam. Padahal semasa SD, betulan mengobrol saja kami tidak pernah.

Bu Nurul bilang, andai saja saya ceria dan centil lucu seperti hari itu sejak SD. Ada kelegaan di mata bu Nurul melihat muridnya yang super menarik diri hari itu sudah berubah bisa bergaul dan ceria.

“Saya memang angan-angan kamu kesini sejak hari Jumat...” ucap bu Nurul.

Jadilah saya tahu, keinginan kuat mengunjungi SD, ternyata karena bu Nurul. Bu Nurul guru sejati yang bahkan jauh setelah lulus masih memastikan muridnya yang super menarik diri ini baik-baik saja. Masih dirinya juga yang mengenang seorang murid bukan karena prestasi akademis yang menonjol atau kebanggaan sejenis, toh semasa SD saya tidak memiliki itu semua. Bu Nurul justru melihat seorang anak sebagai pribadi yang utuh lepas kelebihan dan kekurangannya.

Obrolan selama tiga jam itu ternyata tidak pernah terulang lagi,. Tidak sampai setahun, bu Nurul masuk ICU dan meninggal. Terakhir, saya hanya bisa melihat pintu ICU tempat bu Nurul dirawat.

Jadi percayakah kamu? Bahwa antara jiwa yang satu dengan lainnya bisa saling memanggil dan bertemu meski tanpa nomor telepon maupun Facebook?

Wednesday, March 13, 2024

Berburu Food Vlogger

Sumber: Gugel

2017, Bondan Winarno Maknyus meninggal dan membuat tahun-tahun saya berikutnya dipenuhi keluhan lewat Twitter,”Tukang ulas makanan nggak ada lagi nih yang macam pak Bondan?”

Para food vlogger sendiri makin marak bermunculan setelah 2017, namun tetap tidak ada yang nyantol di hati. Mereka tentu saja keren dan punya ciri khas tersendiri, tapi belum ada saya temukan yang bisa mengomentari makanan sedetail pak Bondan sampai kita sendiri seolah ikut merasakannya.

Satu lagi kunci kenapa pak Bondan belum terganti, beliau tidak pernah berkomentar,”Kalau menurut aku diasinin dikit, aku bakalan lebih suka sih.” Kalimat satu ini kerap kita dengar dari banyak tukang ulas makanan hari ini. Ada selera subjektif yang diusung, sedang pak Bondan tidak pernah melakukan koreksi macam begitu. Membuat para pemirsa tentu merasa, oh setiap orang punya gaya memasaknya masing-masing dan gaya itulah yang dijabarkan pak Bondan tanpa menyatakan salah atau benar.

Lolita Agustine (kedua dari kiri). Sumber: Gugel

Selain pak Bondan, ada juga Benu Buloe yang tidak pernah mengoreksi makanan sesuai seleranya. Namun untuk generasi 90s, tentu saja ada Lolita Agustina. Lolita bahkan lebih detail dalam menjelaskan makanan ketimbang Benu Buloe.

Pertama saya tahu mbak Lolita tuh di acara Detektif Rasa Trans7 2018 lalu. Pembawa acara di sana sering berganti-ganti dan rata-rata sama, kurang bisa menjelaskan makanan di hadapan. Sampai mbak Lolita muncul dan betul dia bisa menjelaskan makanan sampai pemirsa seolah turut makan juga.  Sesuai judul acaranya, mbak Lolita betulan detektif di sini. Meski belum menyamai pak Bondan, saya menyatakan mbak Lolita sebagai tukang ulas makanan favorit saya berikutnya.

Monday, January 22, 2024

Pasar Malam

Sumber: Gugel

"Aku nang pasar malem ping loro hayo kon...”

“Aku nang pasar malem ping papat hayo kon...”

Demikian perdebatan di pagi hari dari teman-teman saya di kelas B. Berapa banyak sudah pergi ke pasar malam, di masa itu seperti menaikkan harga seorang anak di pergaulan. Ya... Semacam, gaulnya kamu diukur dari berapa banyak pergi ke pasar malam begitu.

Sedang saya nggak pernah pergi ke pasar malam itu, tahu wujudnya apalagi. Pasar malam sendiri digelar empat kilo dari rumah, jalan menuju ke sana naik turun dan mustahil jalan kaki. Dimulai sore hingga malam pula, itu jam kerja shift duanya ayah. Kami waktu itu hanya punya satu motor, itu pun fasilitas dari tempat kerjanya ayah.

Kondisi rumah teman sebaya di sekitar rumah pun mirip. Dindingnya pada batako begitu. Nggak semua punya televisi juga, jadi kalau pasar malam populer sekali memang wajar.

Tapi tenang, ini bukan kisah sedih soal saya yang ingin punya daya tawar di sirkel anak-anak kelas B. Toh aslinya lebih ingin jumpa ayah yang hanya bisa saya lihat ketika berangkat kerja, jika dibanding pergi ke pasar malam.

Pasar malam sendiri masih ada sampai sekitar 2014 atau 2015. Meski tetap hanya bisa melihat ayah ketika ia berangkat kerja, bedanya saya bisa ke pasar malam sendiri, naik motor. Selanjutnya pasar malam makin sepi, rumah-rumah di daerah tempat saya tinggal hampir semuanya berdinding bata dan televisi layar datar bukan barang istimewa. 

Saat ini di lapangan biasa pasar malam digelar sudah berdiri bakal bangunan yang kelak ternyata jadi toko roti...

Sunday, November 5, 2023

Uang Karma

 

Sumber: Gugel

Iwul memanggil saya. Ia duduk di sebelah teman sekelas kami yang menangis tergugu di sudut kelas. Ekonomi si teman ini katanya lagi hancur-hancuran dan dengan tatapan memohon, Iwul minta saya meminjamkan uang dua puluh ribu untuk si teman tadi.

Si Iwul sendiri sahabat baik saya sejak kelas sepuluh. Dia juga suka membersihkan mushola sekolah dengan sukarela dan punya uang saku seribu saja sehari. Ibunya buruh dan bapaknya kerja serabutan. Rumah dia ada di pinggir rel kereta api dan... Teman yang dia bersimpati betul itu bahkan nggak lagi mau akrab dengannya.

Saya pun merogoh uang yang ada di saku rok. Ada dua puluh ribu sebetulnya, hasil menyisihkan uang berhari-hari namun hanya saya bagi sepuluh ribu. Sebetulnya jika bukan karena Iwul, saya pasti berpikir uang itu dipakai membantu teman yang lain saja. Soalnya, si teman yang Iwul mohon dipinjamkan uang tadi menyapa saya pun hampir nggak pernah. 

Iya... Iya... Hati saya nggak semulia kamu yang berpikir semua orang pasti baik dan membantu tanpa hitung-hitung hubungan personal. Toh pada akhirnya, uang itu diterima si teman ini tanpa ucapan terimakasih. Yang mengucap terimakasih justru Iwul, berkali-kali.

Uang yang sudah saya niatkan dalam hati nggak perlu diganti itu pun terjawab siang hari. Saya pergi ke tempat kerja ayah sepulang sekolah dan bosnya seorang cina yang dikenal dermawan, memberi uang saku. Jumlahnya? Dua puluh ribu. Dua kali lipat dari uang yang saya beri pada si teman tadi.

“Tuhan melipatgandakan ganjaran...” kalimat demikian seolah terdengar, meski saya lupa dari guru agama semasa SD, SMP atau SMK.

Bos ayah berlalu dan saya melihat punggungnya dari belakang. Beberapa kali saya pandangi uang dua puluh ribu yang di masa itu memang cukup banyak.

“Tahu gitu, aku tadi pinjami dia dua puluh ribu...” batin saya.


Tanggal dan jam unggah mencatut tanggal dan jam lahirnya Diyah.

Monday, September 18, 2023

Asuh


Tante dan ibu. Sumber: dokumentasi pribadi yang dijepred oleh tukang foto keliling.


Ibu punya kepribadian lebih terbuka, senang bergaul, tidak begitu tertarik dengan anak-anak dan berani mencoba hal baru; naik sepeda yang jauh lebih tinggi dari tubuhnya sebagai misal. Tante sebaliknya,  lebih tertutup, lebih senang bermain sendirian, telaten dengan anak-anak dan mudah trauma; ketika dewasa pernah sekali jatuh naik motor dan tidak mau naik lagi hingga hari ini.

Namun semasa kecil, ibu saya justru mengenang nenek sebagai orang tua yang tidak adil. Setiap ibu naik sepeda, nenek tidak pernah heboh, memuji tidak, memberi uang saku apalagi. Sebaliknya ketika tante yang naik sepeda, nenek memuji-muji, memberi uang saku pula.

Meski ketika dewasa ibu menyadari, yang demikian adalah upaya nenek melindungi tante yang sulit bergaul dan mudah trauma. Jadi nenek tidak menyadari upaya-upayanya ini membuat anaknya yang lain cemburu. Nenek pikir, ibu saya yang mudah bergaul dan berani mencoba hal baru berarti tidak punya masalah.

Dengan keterbatasan pengetahuan soal pola asuh, nenek berusaha adil terhadap anak-anaknya. Ia berusaha mendukung hal-hal yang dianggap bisa jadi modal hidup tante, meski akhirnya membuat ibu yang dianggap sudah punya modal hidup tadi jadi terluka karena mengira nenek kasih sayangnya timpang. Hingga membuat saya pun memahami... Tidak ada pola asuh yang sempurna. Tiap orang tua punya tantangan dan formula masing-masing dalam mengasuh anak-anak mereka.

Monday, June 26, 2023

Savior Complex

 

Bedengan. Jepreted by masku sing paling sad boy.

“Kamu ini nggak bisa mengatasi masalah dalam dirimu, jadinya cari-cari masalah di luar untuk diatasi.” Demikian ucapan seorang teman di pinggir pasar Comboran Malang satu pagi.

Saya waktu itu masih 21, sedang mencari yang entah apa dan menyangkal dalam hati ucapan si teman tadi. Ada perasaan merasa lebih dewasa dari yang seusia, ada juga perasaan sudah sering membantu orang lain. Bagaimana saya yang lebih dari orang lain bisa dituduh belum selesai dengan diri secara tersirat begitu?

Hingga tahun-tahun berikutnya saya mulai terganggu secara fisik dan mental. Setelah mencari sebabnya apa, ingatan-ingatan di hari lampau pun mulai terbuka. Hubungan saya dengan ibu ternyata belum selesai. Ibu mengasuh saya dengan kondisi tidak mengakui dirinya belum selesai dan jadilah saya tumbuh bukan dengan penerimaan.

Selama menahun, saya lari dari kondisi itu dengan menjadi bisa diandalkan di antara teman atau siapa pun di luar rumah. Ada penerimaan yang berusaha saya cari dan jika tidak didapat di dalam rumah, artinya harus dicari di luar. Pernyataan teman saya itu ternyata benar dan tahun 2021, saya baru paham istilah psikologinya adalah savior complex. Savior complex beda dengan jiwa suka menolong. Savior complex adalah upaya seseorang menjadi pahlawan karena gagal menolong dirinya sendiri.

Jadi bagaimana ketika kita menolong orang lain hanya untuk lari dari luka kita sendiri? Yang ada hanya semu. Kita yang demikian hanya akan gagal mendengar apa kebutuhan orang yang dibantu dan bahkan memaksakan cara-cara selamat versi kita. Semua karena... Obsesi menjadi pahlawan yang sebetulnya bentuk dari pelarian juga.

Justru ternyata sebuah anugerah, ketika badan dan mental saya saat itu tidak kuat terus berpura-pura menolong orang lain, jadilah semua terungkap...

Saturday, April 1, 2023

Jalan Industri Paling Mulia

Hyoyeon SNSD dan Boy William. Sumber: Youtube BW.


Di sebuah warung kopi perbukuan di Malang, saya berhadapan dengan seorang teman yang konsisten menulis cerita pendek tema lokalitas. Cerpen-cerpennya dimuat koran maupun media online dengan genre sejenis. Genre yang disebut sastra serius.

“Kalau blog itu kan tanpa domain jadi kurang kredibel ya.” Ucapnya.

Namun bukan kredibelitas semacam itu yang tengah saya cari. Sedang di hari-hari berikutnya saya bertemu dua orang teman di kafe tengah sawah. Keduanya sama-sama punya selera bacaan sastra yang disebut serius itu meski ternyata saat ini mengambil jalur berbeda.

Teman satu memilih mengembangkan pengikut Instagramnya, mengambil diksi-diksi sederhana dalam puisi dengan tema-tema cinta. Hasilnya, pengikut media sosial meningkat dan ia bisa buka endors. Sedang teman satunya mulai menulis di salah satu platform di mana tulisan bisa disetel gratis maupun dimonetasi. Kala itu ia mengambil tema cinta dengan diksi sederhana dalam cerita pendeknya.

“Orang-orang membayar untuk membeli kesedihan.” Demikian komentarnya mengenai tulisan-tulisan yang umunya populer dan bisa dimonetasi di platform tersebut.

Kedua teman saya tadi mulanya berangkat dari esai, cerpen, juga puisi berbau sastra serius. Bedanya, teman pertama betulan yakin memilih genre sekaligus pasar yang mana sehingga konsisten membuat video musikalisasi puisi dengan komentar-komentar pengikut Instagramnya kerap merasa relevan atas apa yang ia sampaikan.

Ia pula rajin berkolaborasi dengan penulis tema sejenis. Saling berbagi traffic salah satu keuntungannya barangkali. Lantas teman yang pertama tadi mengajak teman kedua berkolaborasi, bikin musikalisasi puisi. Tepatnya disebut apa ya? Jadi model videonya semacam pengisi suara laki-laki dan perempuan saling timpa dialog-dialog puitis begitu. Apalagi mengingat teman kedua apik ketika deklamasi. Kami pernah menyaksikan deklamasinya di peluncuran buku salah satu universitas di Malang.

Meski beberapa pertemuan berikutnya, teman pertama tadi bilang perkara kolaborasi tidak ada kabar lanjutan dari teman kedua. Saya lihat cerpen-cerpen di platform yang ia pilih juga tidak ada kelanjutan. Apakah teman yang kedua masih ragu hendak menyeberang genre? Bisa jadi.

Teman yang pertama pun bercerita bagaimana puisinya dikatakan buruk oleh salah seorang teman dari komunitas awal ia berkembang. Temannya tadi setia membawa marwah sastra serius hingga hari ini, mengorbitkan penulis-penulis muda anyar, hingga punya bisnis penerbitan. Membawa genre tertentu hingga bisa merambah bisnis, bukankah sebetulnya yang mereka tempuh serupa?

Ada lagi teman semasa SMK saya naksir betul dengan seorang cewek yang isi tweetnya membahas buku. Benar, cewek itu selebtwit dengan pengikut belasan ribu saat itu. Dari buku-buku yang ia ulas, nampak judul-judul berat berseliweran. Hingga ketika teman saya itu hendak membeli bukunya, ia bilang,”Aku mau beli buku si F itu tapi takut bukunya berat.”

Kemudian saya sahut,”Kamu tahu penerbit novel dia namanya apa?”

Dan berlanjut kami ngobrol soal penerbit novel cewek tersebut yang genrenya metro pop. Jadi bisa dipastikan karya perdananya itu tidak bakal seberat buku-buku bacaan yang biasa ia ulas. Benar saja, adik teman saya ini bilang novel tersebut berat di bab awal namun lanjutannya yang ada kisah cinta.

Tunggu... Tunggu, saya tidak hendak menegasikan kisah cinta sebagai hal remeh. Toh di perlombaan cerita pendek pun kerap kali tema lokalitas yang dibawa peserta isinya kisah cinta yang ditempeli latar desa, hutan dan pantai. Yang berarti bukan benar-benar adat, ciri khas atau kisah di suatu daerah yang benar-benar tidak bisa diganti apabila latarnya ada di daerah lain.

Jadi kisah cinta atau kisah apapun itu ketika sulit dipindahkan latarnya ke daerah lain bukankah itu juga lokalitas? Jelas ya, di bagian ini bukan kisah cinta yang jadi masalah.

Saya sendiri sempat galau ketika bingung menentukan mau kemana jalan menulis ini. Cerita-cerita pendek saya formatnya tidak masuk di koran juga perlombaan. Kelewat pendek tentu saja hingga lebih pas disebut fiksi mini.

Koran tertentu pernah ada rubrik fiksi mini namun itu pun formatnya beda dengan fiksi mini di blog saya. Meski demikian saya tetap mengeksplorasi gaya menulis lain. Begini-begini cerpen saya pernah masuk media lokal (Menanti Blanggur, Radar Malang). Esai saya juga pernah masuk lagi-lagi koran lokal yang kabarnya banyak penulis ditolak juga (GWP vs KF, Radar Malang). Sisanya ya, saya pada akhirnya menulis tanpa berpikir kemana tulisan-tulisan ini kelak berjodoh.

Jadilah tulisan-tulisan di blog ini beberapa kali berjodoh dengan seleksi atau lomba menulis yang syaratnya cukup unik. Misalnya syarat seleksi Live in Tempo x Save The Childreen, di mana tulisan yang boleh diikutsertakan harus yang diunggah sebelum Oktober sedang deadline November.

Ketika syarat seleksi atau lomba lain kerap menghendaki tulisan-tulisan anyar atau baru dibuat, belum dipublikasikan, syarat Live in ini laknat juga. Jadi sejak dari poster pengumuman, peserta sudah pada gugur duluan. Agaknya, penyelenggara sedang mencari konsistensi, bukan sekadar tulisan bagus.

Seorang teman menyayangkan gaya menulis saya yang berubah ketika Menanti Blanggur masuk Radar Malang. Tata bahasa, ide yang dieksplorasi memang beda dengan cerpen-cerpen di blog. Kala itu dalam pikiran saya hanya ada perasaan senang belajar, entah itu gaya sehari-hari maupun gaya baru. Isyana Sarasvati menyebut yang begini sebagai ‘eksplorasi genre lain’.

Sebaliknya ketika menulis esai dan masuk koran, kebetulan gaya menulis sehari-hari ya semacam begitu. Apa ya sebutannya, esai populer? Selebihnya esai-esai personal saya di blog mulanya belum bertemu jodohnya sampai media-media alternatif bermunculan (Kisah Berakhirnya Hubungan Saya dengan Sahabat yang Bercadar, Magdalene).

Bagaimana dengan blog? Tetap saya ingin orang melihat blog ini dengan membatin,”Alah, ngunu wae aku ya isa.”** Hingga memantik semangatnya menulis juga. Latar belakang blog ini bisa dibaca di Selamat tinggal, banner lawas.

Tulisan ini sebetulnya dipantik tulisan kang Syarif Maulana berjudul Selera Pasar. Melalui tweet yang ditulis Desember 2022 lalu, pengguna Twitter @lelegurame mendapat beragam komentar dari para penggemar Blackpink setelah mengutarakan persoalan skillnya sebagai musisi.

Sedang Februari 2020 lalu, melalui acara bincang-bincang bertajuk #DrinkWithBoys In Korea; Hyoyeon Lebih Suka Boy Daripada Choi Siwon, Boy William bertanya mana yang sesungguhnya Hyoyeon? Si gahar atau SNSD?

Lantas Hyoyeon menjawab...

“Pertanyaan yang bagus, pertanyaan yang baru juga bagi aku. Sebelum aku mulai SNSD, genre dance yang aku suka adalah Poppin and Lockin, jadi bisa dibilang cewek gahar. Tapi sejak aku mulai debut dengan SNSD aku harus lumayan berusaha untuk keluar dari image cewek gahar.”


Penerjemah, Hyoyeon dan Boy William. Sumber Youtube BW.

Selanjutnya Boy menyatakan cinta terhadap SNSD, begitu pula Hyoyeon. Hyoyeon pun menyatakan untuk saat ini dia adalah DJ Hyo, agaknya merujuk identitas yang sekarang ia senangi.

Masih di 2020, Isyana Sarasvati menampilkan Lexicon di Indonesia Idol. Anang bertanya Isyana ingin melepaskan apa melalui Lexicon. Masih Anang yang menanyakan kenapa Lexicon berbeda dengan lagu-lagu Isyana sebelumnya. Maia Estianti pun menanggapi Lexicon terlihat seperti ‘ini lho gue’ buat Isyana dan gadis yang lahir tahun 1993 itu pun mulai menangis.

“Kalau boleh membaca ya, sebagai sesama penulis lagu, rasanya kita pengin bikin lagu di A tapi ternyata produser atau label Indonesia mintanya di B.” Sambung Maia.

“Eee, kalau itu nggak sih nggak bener. Karena awal aku masuk di Industri, aku memang mengiyakan ingin sekali mengeksplorasi musik genre lain karena kan aku emang sekolahnya musik klasik tuh dan pada akhirnya aku bisa masuk ke label dan akhirnya bisa punya kesempatan untuk eksplorasi ya aku tidak ada regret sama sekali untuk album satu, kedua gitu dan makanya album pertama aku kasih judul Eksplor.” Jawab Isyana.

Masih di dunia musik, kita tentu mengenal Rara Sekar, kakak Isyana yang memilih distribusi indie buat musiknya. Di dunia menulis ada bunda Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa, kakak beradik yang jalan menulisnya nyaris serupa dengan Isyana dan Rara Sekar.

Bunda Asma Nadia film-filmnya masuk di rumah produksi besar, sebaliknya bunda Helvy yang memilih produksi sendiri film dari buku-bukunya dengan segmen pasar tidak lebih luas. Agaknya kisah dakwah mas Gagah pasarnya tidak lebih luas dibanding kisah Ferdi Nuril yang menikah dengan Laudia Cynthia Bella lantas lanjut bersama Raline Shah.

Mengambil jalan entah itu mengikuti pasar, menciptakan pasar maupun jalan senyap tentu sah-sah saja. Bisa jadi juga jalan itu serupa mas Lele yang menjadi guru musik, Hyoyeon yang mengikuti industri kemudian solo dengan gaya musiknya di label yang sama atau bunda Helvy yang memproduksi film dari bukunya sendiri.

Meski ya... Negasi genre satu atas genre yang lain agaknya akan terus saja ada demi menciptakan pasar alternatif atau bahkan yang baru. Sastra serius menegasikan tulisan pop dengan ujaran receh kelewatan dan sebaliknya yang pop menuduh sastra serius kelewat eksklusif.

Intinya ya, apapun jalan yang sedang kalian pilih sebagai musisi, penulis dan lain sebagainya... Jangan nanggung, tempuh saja.


**"Alah, begitu saja saya juga bisa."


Catatan, Desember 2024:

Salah satu nama yang disebut dalam tulisan ini terindikasi pelaku pelecehan dan kekerasan seksual. Dalam tulisan ini, nama tersebut tidak akan saya hapus karena sebagai pengingat, namun dalam tulisan-tulisan lain di hari depan, saya tidak akan mengutip apapun bentuk pernyataan atau tulisan yang bersangkutan.

Sunday, October 30, 2022

Potret Tanpa Kamera

 

Sumber: 30 Hari Bercerita

Tulisan ini adalah upaya mengurai ingatan yang terlalu detail sampai pernah bikin depresi di usia 21 tahun. Ya, bayangkan saja, saya dulunya nggak bisa memilih ingatan apa yang mesti tinggal dalam kepala. Sudah begitu, ingatan ini dimulai di usia satu setengah tahun.

Ini adalah denah kelas semasa saya Taman Kanak-kanak. Ada dua pintu yang kini saya kenali sebagai utara dan selatan. Pintu selatan menghadap ke halaman belakang yang isinya mainan semacam perahu perahu besar dan pintu utara menghadap ke halaman depan yang isinya mainan semacam perosotan.

Ada empat bangku yang terdiri dari dua persegi panjang dan dua persegi. Bangku persegi panjang diisi sepuluh anak, sedang bangku persegi diisi empat anak. Kalau kamu lihat lingkaran kuning itu, di situ saya duduk sampai lulus Taman Kanak-kanak.

Semalam, saya ingat Romadhon, teman yang SJW itu duduknya di mana. Tapi ternyata, pagi ini ingatan itu sudah lepas. Iya, Romadhon ini pembela kebenaran. Pernah saya ceritakan di blog bagaimana dia di antara perebutan kursi merah yang jumlahnya tidak banyak. Dia tidak mau kursi merah, tapi selalu mengembalikan kursi merah yang direbut pada pemiliknya.

Sedang di meja empat yang dekat pintu utara itu, ada... Sebut saja dia Mikasa begitu ya. Mikasa ini duduk tepat di kiri saya dan sama kuat dengan Romadhon. Anak ini bisa mempimpin, banyak bossynya juga dan budak cinta dengan teman sebangkunya bernama Eki.

Jadi tiap pagi, si Mikasa berburu kursi merah dengan merebut milik siapa saja untuk dirinya dan Eki. Nggak jarang, anak ini bertengkar juga dengan si SJW Romadhon, sudah begitu hampir selalu depan bangku saya pula.

Tentu saja semasa Taman Kanak-kanak, saya bukan tokoh utama seperti Romadhon, bukan juga Mikasa apalagi Eki. Sejak kecil saya memang sudah jahanam, suka nonton pertikaian, mengamati dan next levelnya... Hari ini dibuat bahan ghibah ketika dewasa. Bisa jadi jika di dunia shinobi, saya ini tipe ninja sensor macam Karin.

Akhir sembilan puluhan, kamera tentu saja mewah. Sekolah pun terlihat pegang kamera hanya ketika kegiatan besar saja. Dan ternyata, punya memori kegedean begini ada asyiknya juga.

Wednesday, September 28, 2022

Anak-anak itu yang layak dipilih... (Pengalaman Nonton Curahan Hati Perempuan TRANS TV)

 

Sumber: Gugel

2015 lalu, Maudy Koesnaedy sempat memandu acara yang cukup apik di Trans TV, Curahan Hati Perempuan. Salah satu episode yang paling saya ingat, seorang perempuan datang membawa putranya yang punya kelainan penyakit dalam. Putranya itu dia adopsi dari panti asuhan setelah menahun ia kesulitan punya anak.

Para pengurus panti sudah mengingatkan bahwa anak ini sakit, toh biasanya seseorang bisa dipastikan mengadopsi anak-anak yang sehat sebagai jaminan masa tua. Tapi perempuan ini malah menangis dan kembali ke kamar calon putranya itu tidur, memandanginya dari jauh. Namun dengan berbagai pertimbangan, ia pulang tanpa membawa si bayi.

Sesampainya di rumah, ia menceritakan pada ibunya bagaimana ikatan bisa tercipta antara hatinya dengan si bayi sakit. Hatinya menginginkan bayi itu, tapi apakah benar ia akan mengambil seorang bayi yang sakit? Hingga ibunya pun bertanya,”Apa niat kamu sebetulnya mengadopsi anak?”

Perempuan itu lagi-lagi menangis dan bertanya pada dirinya sendiri apa sesungguhnya niat dia memiliki anak? Apa sesungguhnya yang ia cari dari mengadopsi anak? Mengapa anak-anak sakit selalu jadi yang tidak terpilih?

Pada akhirnya, perempuan itu pun kembali ke panti. Si bayi sakit dibawa pulang, ia rawat dan biayai bersama suami hingga hari itu duduk dengan mata cerah di hadapan Maudy Koesnaedy, menyapa pemirsa Curahan Hati Perempuan. Saya menangis dan lagu Nobody’s Child seolah terdengar...

People come for children 

And take them for their own

But they all seem to pass me by 

And I am left alone

I know they'd like to take me 

But when they see I'm blind

They always take some other child 

And I am left behind

Saturday, August 13, 2022

Karnaval

Sumber: Gugel

Saya ketemu Mila lagi, sekitar semester empat atau lima. Dari FB mula-mula, lalu kopi darat di rumah dia.

Dulunya, Mila ini pulang pergi bareng saya semasa Taman Kanak-kanak, jalan kaki. Rumah keluarga kami sempat satu RT dan sesungguhnya ada satu anak laki-laki yang melengkapi geng pulang pergi ini.

Dengan mata terkesan, Mila bilang kami dulu pernah ingin memakai baju karnaval serupa, betul-betul tidak mau pisah. Sayangnya, di persewaan hanya ada satu baju merah dan satu baju ungu. Baju merah pada akhirnya saya pakai dan baju ungu, Mila yang pakai.

Mila ingat, kami dulu sama-sama merengek karena tidak jadi memakai baju yang sama persis. Kemudian ibu bilang, baju saya sesungguhnya sama ungunya dengan punya Mila, hanya saja kena setrika hingga jadi merah begitu. Mila tenang, pula saya. Kami berangkat karnaval dengan Mila yang terus mengingat kejadian itu dan baru bisa mencernanya ketika dewasa kemudian.

“Kita dibohongi...” pungkas Mila sambil tergelak. 

Sunday, June 5, 2022

Memaafkan

 

Coreted by: Jatayu @rrobvnii

Mimpi itu punya traffic macam sosial media. Tapi jika saja saya sembarang cerita sering memimpikan orang ini sepanjang 2019, orang-orang barangkali akan mudah menyimpulkan,”Kamu ngarep sama dia ya?”

Padahal lebih dari siapapun, saya yang paling tahu mimpi yang isinya orang ini adalah bentuk trauma. Saya kerap bangun jam dua atau tiga pagi dalam kondisi menangis, merasa sesak dan marah. Di dunia nyata, saya gagal melawan dia yang sayangnya, dalam mimpi pun masih gagal juga.

Dia selalu datang dalam mimpi, menarik saya kemanapun dia mau dan rasanya sakit sekali. Lama-lama, Noval, seorang sahabat semasa SMK turut masuk dalam mimpi dan dia menarik saya pergi dari orang ini. Setelahnya, saya masih suka bangun jam dua atau tiga pagi dalam kondisi menangis, sesak dan marah. Bedanya, Noval memotong durasi mimpi yang biasanya. Jadi tiap orang ini mulai menarik saya, Noval datang dan membuat mimpi lebih cepat berakhir.

Kenangan baik dengan Noval ternyata trafficnya banyak, terekam dalam otak dan bisa juga terbawa mimpi. Jadi ini semacam traffic melawan traffic, kenangan baik melawan kenangan buruk, eksekusinya dalam mimpi.

Awal 2020 orang ini muncul lagi, namun tidak ada upaya menarik paksa atau membuat sesak darinya. Saya justru mendatangi dan memeluknya. Saya bilang padanya,”Aku memaafkanmu... Aku memaafkanmu...” meski lagi-lagi bangun jam dua atau tiga pagi dengan kondisi menangis, kali ini beda. Tangisan saya terasa lega. Tidak ada sesak atau marah di dalamnya...

Langsung saja saya mengirim WA pada Noval,”Aku mimpi dia lagi. Tapi nggak ada kamu nolong aku. Aku meluk dia dan nangis, kubilang aku memaafkannya.”

Noval pun membalas,”Harusnya memang gitu. Kamu menolong dirimu sendiri.”

***

Selamat ulang tahun lagi, Pop. Selamat juga sudah menemukan bahagia yang bahagia. Ciye, masih hidup.


Friday, April 29, 2022

Seandainya yang Bertemu Kakek Suhud Itu Saya

 

Sumber: Gugel

Hari itu, seorang laki-laki tua mengikuti Baim Wong dengan menaiki motor sampai ke rumahnya. Berikutnya, berita-berita di internet mengatakan Baim membentak pria itu. Video-video menunjukkan sang kakek terluka dan menangis setelah Baim membentaknya sebagai pengemis.

Kakek Suhud nama laki-laki tua itu. Berikutnya, perdebatan menyertai dengan terbagi jadi dua kubu. Kubu pertama menganggap cara kakek Suhud mengikuti Baim menakutkan, sedang kubu kedua menganggap cara Baim menanggapi sang kakek tidak manusiawi.

Saya pun tidak mendapat gambaran mesti memilih kubu mana. Abu-abu saja begitu rasanya. Sedang 2017 lalu, pernah saya diikuti dan direkam diam-diam waktu melawan pelaku pelecehan. Video itu lantas dibingkai sedemikian rupa hingga saya seolah marah tanpa sebab.

Di kolom komentar, orang-orang merisak (membully atau melakukan bullying) terhadap tubuh saya, mengomentari sikap sebagai perempuan yang dianggap kasar, hingga ancaman kekerasan fisik dan usaha mencari identitas.

Ya. Saya adalah penyintas KBGO.

Pelaku hingga hari ini tetap melenggang, tanpa regulasi apapun menjeratnya. Ia tetap membuat konten di media sosial, mengumpulkan lebih banyak pengikut.

Sedang saya, bertahun-tahun mesti berusaha sembuh. Sempat pula menghilang sama sekali dari media sosial dan hingga kini lebih merasa aman diet digital.

Akun Instagram utama saya @trisnayantip bahkan direncanakan deaktif permanen dan digantikan akun lain khusus DM, tanpa pengikut. Tujuannya pun hanya mempermudah orang menghubungi apabila punya keperluan.

Jadi ketika perdebatan mengenai kakek Suhud beredar, saya langsung memposisikan diri sebagai orang yang diikuti sampai rumah. Apa yang saya rasakan seandainya diikuti orang asing sampai ke rumah?

Takut. Hanya itu jawabannya. Sekalipun saya sudah pulih, kenangan diikuti, direkam diam-diam, dikonfrontasi orang asing dan dirisak sedemikian rupa di dunia siber tentu masih ada.

Bisa jadi reaksi saya terhadap kakek Suhud tidak sesuai standar kemanusiaan seperti yang jadi ekspektasi banyak orang. Barangkali saya akan meminta sang kakek berhenti, jika tetap diikuti bisa juga saya lari, jika ternyata masih juga diikuti, batu barangkali bisa saya ambil dan lempar.

Atau minimal berteriak dan mengumpat? Dengan berbagai latar belakang, sayangnya saya ternyata bukan orang yang pintar mempergunakan senjata satu ini buat membela diri.

Apalagi 2018 lalu saya mesti mengalami serangan panik. Teman-teman Gusdurian Malang waktu itu harus repot menenangkan saya yang menangis dan gemetar di tengah Alun-alun kota Batu. Keberadaan orang-orang yang lalu lalang dan ramai ternyata membuat serangan panik itu muncul. Lokasinya pun memang mirip dengan pelecehan 2017 lalu.

Meski nampak tenang, di tahun 2019 perasaan defensif jadi berlipat ganda. Satu waktu seorang teman perempuan nyaris menutup mata saya dari belakang serupa film India. Kami ada di acara bedah buku waktu itu dan saya menarik pergelangan tangannya ke depan, nyaris membanting dia. Dengan cengengesan teman saya itu berkata, kok kamu ternyata defensif.

Mata saya yang mulanya cemas dan marah mendadak cair. Saya sadar sikap tenang palsu bubar malam itu. Buru-buru tangan si teman tadi saya lepaskan, pembicaraan pun tidak membahas sikap defensif yang baru saja.

Sapaan serupa film India sebetulnya saya alami juga dari teman yang lain semasa mahasiswa baru. Namun di masa itu, belum ada hal yang membuat saya mesti merasa waspada di ruang publik. Jadilah bersama si teman tadi kami tertawa bersama.

Sayangnya, kita kerap kali menilai reaksi seseorang hanya berdasar kejadian hari itu. Padahal reaksi seseorang sebetulnya juga kumulasi atas hal-hal yang sebelumnya dia alami.

Apakah orang yang tiba-tiba menunduk atau menolak waktu ada perempuan paruh baya menawarkan barang di pinggir jalan itu jahat dan tidak peduli? Bagaimana jika orang tersebut di masa kecil, ternyata pernah mendapat kata-kata kasar dari pengasuhnya yang juga perempuan paruh baya? Jadi ketika ada yang sosoknya mirip, spontan ia menghindar.

Ini seperti 2017 lalu, saya melawan pelecehan dengan tindakan fisik karena pelaku tidak kunjung berhenti dengan kata-kata saja. Jadi bagaimana bisa saya melawan dengan tindakan fisik? Ternyata dalam proses penyembuhan, saya mendapati tumpukan ketidakberdayaan di tahun-tahun sebelumnya ketika nyaris jadi korban soft rape juga dilecehkan dalam bentuk disentuh secara fisik.

Tumpukan ketidakberdayaan itu ternyata harus saya bayar dengan berjumpa pelaku pelecehan lain di tahun 2017 tadi. Yang ketika keberanian melawan itu muncul, ternyata oleh para pelaku justru dibingkai sedemikian rupa hingga mendatangkan penonton dan uang.

Hingga hari ini pun, saya cenderung kebingungan ketika mendapati orang asing mendatangi meja di ruang publik. Entah itu pengamen, penjual kartu perdana, penjual kue, mahasiswa yang sedang praktik, rasanya buru-buru saya ingin menunduk atau pura-pura tidak melihat mereka ada.

Ya. Rasa takut itu belum pulih sepenuhnya ternyata.

Saya jadi ingat kejadian pengguna motor yang terseret arus air setelah banjir 2021 lalu. Seorang laki-laki dewasa dirisak karena dalam video ia terlihat diam saja, tidak terlihat ada inisiatif menolong. Belakangan laki-laki itu dinyatakan berkebutuhan khusus.

Jadi apakah Baim Wong punya latar belakang kejadian di masa lalu sehingga membentak kakek Suhud?

Jadi apakah kakek Suhud punya latar belakang kejadian di masa lalu sehingga minta bantuan dengan cara mengikuti ke rumah?

Apakah suatu saat reaksi saya yang tidak ideal atas suatu hal di ruang publik, kelak akan ada yang merekam lagi?

Dan apakah di saat itu perisakan serupa bakal saya alami?

Semoga teman-teman yang sedang membaca tulisan ini tidak akan pernah mengalaminya.


Catatan:

Selasa, 4 Oktober 2022

Nama-nama yang disebutkan dalam tulisan ini ternyata ada yang menjadikan KDRT sebagai candaan, konten penghasil uang.