Showing posts with label Fiksi Mini. Show all posts
Showing posts with label Fiksi Mini. Show all posts

Saturday, May 30, 2026

Hadiah

Sumber: Gugel

Hadiah 1

Kamu mengirimnya sebuah surat, ditulis tangan. Katamu hai, padanya. Namun surat itu dia letakkan sembarangan saja di meja, sampai ketika ditinggal mandi, kertas itu lenyap dan tidak pernah dicari.

Hadiah 2

Kamu mengirimnya sebuah surat, kali ini berisi sketsa wajahnya, dibikin model chibi. Namun kertas seukuran A3 itu dia letakkan sembarangan saja di kasur, sampai ketika ditinggal mengambil paket, kertas itu lenyap dan tidak pernah dicari.

Hadiah 3

Kamu mengirimnya coklat satu kantung, bikinan sendiri. Sambil memakannya dia mengirim WA padamu, hai katanya dan menurut dia coklatmu lumayan enak. Hanya dua biji yang dia makan, selebihnya dia bandingkan rasanya dengan coklat rasa susu bikinan pabrik.

Hadiah 4

Kamu mengiriminya sebuah topi, kali ini dengan menyisihkan uang gaji dua bulan buat benda yang katanya bermerek itu. Merek benda itu tercetak jelas di permukaan topi, lantas ia mengirimimu voice note, bertanya bagaimana harimu.

Hadiah 5

Kamu mengiriminya sebuah jaket, kali ini dengan menyisihkan uang gaji enam bulan buat benda yang katanya bermerek itu. Merek benda itu tercetak jelas di jaket bagian depan, lantas dia muncul lewat video call, menceritakan harinya.

Lantas sekarang kamu berpikir-pikir, hadiah apa lagi yang membuatnya sampai pada ajakan menikahimu?

Tuesday, January 13, 2026

Ketiganya

Sumber: Gugel

Mula-mula, ia pikir cintanya memang berhenti pada tiga belas tahun lalu. Nyatanya, ia takut benar mengarungi lara yang sekiranya baru, jadi diputuskannya mengarungi lara yang sudah akrab dengannya tiga belas tahun lalu saja. Ini bukan lagi karena nyata sosok itu memenuhi kualitas-kualitas yang dirinya cari. Tapi debar berulang yang dirasai sebagai kepastian, tidak perlu ada risiko memulai, tanpa ketakutan kehilangan keterikatan yang baru, itu semua syarat-syarat yang membuatnya tetap tinggal.

***

Mula-mula, ia pikir cintanya memang terjebak untuk yang empat belas lalu. Ia tidak betulan kenal siapa sosok itu, apa kekurangannya, apa kelebihannya, bagaimana reaksinya saat melihat lebih dan kurangnya, semua berhenti saat semua belum tuntas. Jadi ia memilih hidup dalam pengandaian, seandainya sosok itu menerima kekurangannya, mengidolakan kelebihannya, bersorak buat lebih dan kurangnya. Pengandaian itu menyelamatkannya selama empat belas tahun, berbunga tanpa penolakan, bersorak dalam pengandaian.

***

Tanpa mula-mula, ia tahu jelas akan mendapat apa dari sosok itu selama tiga tahun. Orang-orang yang mengaguminya karena dianggap bisa melihat sisi dalam tanpa pandang fisik, sorai karena  kesetiaan yang orang-orang itu mengira-ngira saja. Yang demikian menambah kesempurnaan pandangan, lagi-lagi dari orang-orang soal intelektualitasnya yang tinggi dan menutupi keinginannya membunuhi siapa saja di sembarang waktu. Mendapat apa yang ia mau kapan saja waktunya, cinta yang seolah-olah saja dan itulah kenyataannya.

***

Dua bulan lalu, saya diskusi dengan Chat GPT untuk memahami beberapa kasus, bagaimana memahami avoidant secara umum, kemudian bagaimana NPD dan psikopat mencintai. Dan benar, cinta itu demikian kompleks, terlihat bersama, terlihat kecantol, belum tentu cinta pada kenyataannya.

Di usia belasan, saya masih mengira bentuk cinta lebih sederhana, dua orang yang menikah lalu beranak cucu sudah pasti cinta. Di usia dua puluhan, saya pikir terpaku pada satu orang selama belasan tahun sudah pasti cinta, namun tidak... tidak demikian kenyatannya. Cinta yang seolah-olah itu jauh lebih banyak pada kenyataannya. Untuk menghindari kehilangan atas keterikatan yang baru (avoidant), untuk terjebak dalam pengandaian yang menyelamatkan (NPD) dan untuk mendapat status sosial (psikopat).

Pemahaman bagaimana avoidant mencintai untuk tulisan ini saya analisa sendiri, pemahaman bagaimana NPD mencintai saya dapat dengan diskusi bersama Chat GPT, pemahaman bagaimana psikopat mencintai juga saya dapat dengan diskusi bersama Chat GPT.

Chat GPT menggunakan istilah idealisasi bagi NPD yang seolah kecantol dengan satu orang belasan tahun. Ternyata itu bukan utuh bentuk cinta tulus, namun justru pengandaian dalam otak NPD itu sehingga satu sosok bisa terasa sempurna. Sedang psikopat tidak bisa merasakan cinta selayaknya orang normal, yang ada hanya perhitungan untung dan rugi. Satu-satunya yang bukan bentuk disorder dan paling memungkinkan menjalani hubungan di sini, masih menurut diskusi dengan Chat GPT adalah dengan avoidant yang tidak membahayakan setara NPD yang bahaya secara psikis, apalagi psikopat yang berbahaya secara psikis dan fisik.

Mulanya, saya teguh dalam prinsip seseorang memang bisa memilih siapa yang dia cintai dan dia sakiti dengan sadar, meski terasa tidak adil. Namun ternyata ada banyak hal tentang cinta dan menyakiti yang jauh lebih kompleks, batasnya juga ternyata sangat kabur. Tulisan ini kelak tentu akan bisa berkembang lagi setelah saya menambah akses pengetahuan dari jurnal, buku atau lainnya.

Sunday, August 17, 2025

Sewa Perasaan

Sumber: Gugel

Toko sejenis miliknya tuan Abimanyu memang mulai banyak sekarang. Di sana dijual perasaan dalam bentuk saset. Kamu bisa membelinya dalam bentuk partai maupun ecer. Tersedia perasaan takut akibat terlilit hutang, perasaan takut akan pandangan orang lain, bahkan perasaan takut diburu dosen pembimbing.

“Saya beli perasaan takut akan pandangan orang lain, Tuan. Dua saset saja.” Ucap gadis berkulit gelap yang kini sudah menyerahkan sejumlah uang pas di meja kasir itu.

Sore lalu, teman gadis itu habis-habisan melakukan konfirmasi bahwa bukan dia penjahatnya dan bagaimana dunia bersepakat melarai dia. Konfirmasi demikian dilakukannya tujuh hari berturut-turut dan bukan hanya kepada gadis itu saja, teman-teman lainnya juga.

Dalam batin, gadis itu pun menggerutu,’Kok bisa ya? Ada orang sibuk banget dengan pandangan orang lain gitu?’ Hingga ia mengingat toko kecil dengan cat dinding semarak milik tuan Ambimanyu. Di sana, ia kini tengah menenggak dua saset perasaan takut akan pandangan orang lain. Setiap saset hanya berlaku satu minggu dan setelah ditenggak, setiap orang bakal merasakan perasaan sesuai judul saset yang dibeli.

Setelah dua minggu ke depan, gadis itu tahu pertanyaan ‘kok bisa ya?’ tidak akan pernah lagi dia peroleh, setidaknya untuk perasaan takut akan pandangan orang lain.

Sunday, June 29, 2025

Di Sini Hati; Terima Kost Putra

 

Lokasi: Coban Putri mBatu

“Aku pulang...” katanya pada seorang teman lama.

Namun sepanjang ingatan, temannya itu tidak ingat pernah pasang papan bertulis ‘Di Sini Hati; Terima Kost Putra’.

Hari-hari berikutnya berlanjut dengan dikisahkannya ulang, beberapa waktu lalu diselingkuhi mantan kekasih. Katanya, mantan kekasihnya diam-diam bilang iya pada lamaran orang lain. Tawaran yang ia akui tidak pernah diberikannya.

Teman lamanya bilang, perselingkuhan bagaimana pun memang salah. Namun setelahnya, lelaki itu menyambung cerita soal si mantan kekasih yang bipolar, sangat berantakan dalam keseharian karena sakitnya itu dan tidak lebih baik dari si teman lama. Semakin si teman lama hanya mangut-mangut, ia makin banyak menceritakan hal-hal yang katanya tidak lebih baik tadi.

“Nggak kok, aku cerita jelek-jeleknya dia buat validasi aja. Biar yakin ninggalin dia.” Katanya ketika si teman lama protes, kenapa ia membuat sesama perempuan seperti sedang bersaing.

Kemudian teman lamanya itu ingat, perempuan itu satu-satunya mantan kekasih si lelaki. Menahun sebelumnya, si lelaki dirisak karena fisik dan teman perempuan yang menawarkan persahabatan pun hanya si teman lama.

Barangkali bagi si lelaki, hari itu waktu yang pas buat jadi tokoh utama. Begitu bukan ya?

Thursday, February 13, 2025

Mekanisme

Jepreted by: tanganku dewe yang merupakan scrapbook bikinan sendiri

“Kalau capek ngetik, pakai Google Voice aja ya...” kata gadis itu sambil memencet menu-menu di ponselnya sampai layar menayangkan aplikasi yang dimaksud dan memeragakan contoh suara yang ia lupa apa isinya.

“Kalau mulutku tipo? Kayak Inosuke Demon Slayer nak kepala babi manggil temannya?”

Lagi-lagi ia lupa gadis berkulit kuning langsat menuju sawo matang itu menyahut apa setelahnya. Toleransi rasa sakit di badannya barangkali cukup tinggi hingga terpaksa menggeser fitur-fitur lain dalam tubuh.

Selanjutnya, si gadis membetulkan selimut yang melenceng dari kakinya. Membuat ia berkata,”Dari selimutku dibenerin gitu udah bisa kutulis jadi cerita lho. Otakku secanggih itu.”

Ekspresi tanggapannya? Ia tidak ingat. Namun perkara narsisnya, si gadis sudah mengonsumsinya sehari-hari. Belum over dosis sih memang.

Ya, badan manusia itu cerdas. Ketika mengalami rasa sakit fisik, badan manusia bisa mengurangi kecepatannya dibanding hari-hari biasa.

Jadi misalnya, seorang manusia jalan ke kamar mandi sambil kebelet pup dengan kecepatan 60km/jam. Tapi dengan menahan pup yang sama, namun sambil mengalami sakit fisik, dia bisa jalan ke kamar mandi dengan kecepatan 20cm/jam, sambil menahan-nahan pupnya barangkali.

“Mekanisme bertahan hidup.” Gadis itu bilang.

Jadi mungkin memori yang digugurkan hari ini, adalah mekanisme bertahan hidup buat badan lelaki bermata bulat itu. Fungsinya dikurangi, untuk menambal fungsi badan yang lain-lain.

Tapi setidaknya, ia masih ingat bersama gadis itu selalu saling mencintai. Moga saja obat penghilang rasa sakit nggak tutup pabriknya. 

Suara kelambu yang ditutup terdengar kasar. Seorang perawat mendorong rak beroda berisi cairan injeksi. 

Surat elektronik dari kantor, pemberitahuannya muncul di ponsel dengan getaran halus.

Monday, October 28, 2024

Diri

Sumber: Gugel

Psikolog online mendiagnosa self esteemmu rendah dan anxiety. Itu pun setelah teman lamamu menyarankan baiknya kamu pergi ke psikolog saja.

Ketika satu-satunya perempuan yang pernah jadi pacarmu pergi dengan lelaki lain, kamu malah mencari teman lamamu itu. Mengira level kalian pasti serupa waktu usia 15 atau 16 dulu.

Tidak semua orang butuh objek cinta erotis, dia termasuk. Kamu tahu itu tapi terlalu takut mengakui ketidakmampuan menjalin dengan orang baru yang objek cintanya serupa.

Siapa dirimu? Apa kegemaranmu? Apa tujuan hidupmu? Temanmu malah membuatmu mempertanyakan hal-hal yang bagimu membuat tidak aman. Ia yang sekarang ternyata sudah bertemu lebih banyak orang dan bicara hal-hal menyulitkan.

Kamu hanya butuh romantisme, sesekali sentuhan-sentuhan sensual juga, barangkali. Sesuatu yang kamu dapat dari satu-satunya mantan pacarmu. Yang diam-diam ia pula merasa tidak aman dengan hubungan yang tanpa pernikahan, lalu pergi dengan lelaki lain.

Satu-satunya mantan pacarmu itu datang lagi tidak lama, entah bagaimana pertunangan dengan kekasih barunya gagal. Dan kamu lebih dari tahu, kalian sama-sama mengira objek cinta hanya ada erotis, yang eksklusif antara dua orang saja. Tanpa itu, dada kalian ternyata sama-sama terasa kosong.

Romantisme dan sentuhan sensual? Perempuan yang pernah jadi pacarmu itu bisa memenuhinya. Tapi kepergiannya dengan lelaki lain selagi denganmu terasa sakit dan permintaannya pada pernikahan terasa mengancam.

Romantisme dan sentuhan sensual? Teman lamamu tidak butuh itu. Ia pun makin terlihat tahu siapa dirinya, apa kegemaran, juga tujuan hidupnya. Melihat dia saban hari makin membuat merinding saja.

Romantisme dan sentuhan sensual? Barangkali ada di luar sana, perempuan yang butuh dua hal itu saja sepertimu. Tapi mengawali hubungan baru membuatmu merasa terancam sekaligus merinding.

Lalu kamu berkata pada teman lamamu,“Bagi aku, opsinya sekarang antara kamu dan mbak mantan ya...”

Dalam dadamu seperti melayang. Tokoh utamanya adalah kamu sekarang. Ingatan soal penghinaan fisik, perisakan menahun, hingga karirmu yang ada di situ-situ saja seperti teredam sesaat.

Wednesday, August 28, 2024

Peramal (2)

Sumber: Gugel


Gadis yang punya tindik dua di hidung itu melihatmu lekat-lekat. Katanya sih gratis untuk kunjungan pertama, tapi berikutnya harus bikin janji dan bayar dua ratus lima puluh ribu per sesi.

“Ada atau nggak ada kamu dia happy kok, Kak.”

Jantungmu sekarang seperti ditusuki. Harusnya hanya kamu yang boleh ada dalam bahagianya bukan? Tapi bagaimana...

“Ada yang punya love interest ke dia. Satu ini paling kelihatan. Emm... Kalau perasaan dia sebaliknya agak susah sih saya nembus pakai ini, Kak.”

Keparat. Cepat sekali dia buat cerita baru. Sedang mantan kekasihmu saja hanya datang karena kesepian. Apa ada hari depan?

“Potensi mereka ke depannya? Wah, susah sih. Cocok iya, tapi aku lihat kedua keluarganya berat. Bukan karena nggak suka satu sama lain ya, tapi ini ada hal yang saya susah lagi-lagi nembusnya, Kak.”

Sekarang dalam dadamu terasa melayang-layang. Beberapa kali kamu mengusap rambut cepakmu yang baru dicukur tadi pagi. Senyum kamu ulas mendadak. Gadis itu melambai pada klien berikutnya. Kartu-kartu yang dia tata di atas meja segera ditumpuk lalu dikocoknya ulang.

Tuesday, June 4, 2024

Gerbang

Sumber: Fighting Predators in Our Scene by Anzi Matta

TRIGGER WARNING!

Sekarang kamu ada di depan sebuah gerbang. Jaraknya kira-kira lima belas kaki. Kecuali cahaya yang silaunya tidak terkira, tidak ada hal lain bisa kamu lihat dari gerbang itu. Jadi coba kamu menoleh ke kanan dan kiri, dua sisi gerbang.

Kamu coba menunduk dan melihat leleran darah membasahi kulit. Benar, tidak ada alas kaki kali itu. Di sisi kiri itu juga kamu lihat orang-orang bertubuh kurus dalam belenggu rantai di leher. Ada batu menindih beberapa dari mereka, bau timah yang dilelehkan juga menguar kemana-mana.

Dari sisi kiri itu tiba-tiba kamu merasa pasti bakal bisa melihat mereka, selalu, seterusnya. Tidak peduli selamanya kamu hanya akan berkeliling dengan melihat orang-orang kurus yang dibelenggu dengan cara serupa atau bau lelehan timah, hanya ingin melihat mereka... seterusnya dalam posisi yang sama, begitu pikirmu.

Sekarang kamu coba menunduk ke kaki kananmu. Ada rumput lembut melebar sampai gerbang sisi kanan. Seorang gadis tujuh belas tahun dengan darah mengering di antara kedua pahanya melambai. Rambutnya pirang dengan jeans biru ia kenakan.

"Dua orang, kawan saya sendiri." ucapnya bukan dengan bahasa yang sehari-hari kamu pakai. Padamu, ia menoleh kalem.

Gadis lain berbaju putih biru duduk di sebelah kanan si pirang. Kulitnya sawo matang dan bahasanya persis sama denganmu. Lagi-lagi ada darah yang merembes di antara kedua pahanya. Beda dengan gadis sebelumnya, si rambut hitam ini melambai cukup keras padamu.

"Dua belas orang. Tidak kenal nama." kata gadis itu sambil tetap melambai. senyumnya tidak berhenti rekah.

Seorang gadis enam belas tahun duduk di sisi kanan gadis berbaju putih biru. Ada pita di dadanya dan kulitnya kelewat putih jika dibandingkan gadis lain yang pernah kamu lihat sebelum sampai di sini. Matanya pun terlihat agak sipit dengan rambut hitam mengembang. Seperti gadis sebelumnya, ada darah mengering di antara kedua pahanya.

"Puluhan, barangkali. Saya sudah tolak cintanya dengan sopan." ucapnya dengan mata adem. Ia terus menunduk, berkonsentrasi dengan teh hangat di mejanya.

Kamu pun tergagap, bahasa gadis kedua memang sama betul denganmu, namun  bahasa gadis pertama dan ketiga? Biasanya kamu hanya melihat bahasa yang demikian dalam film Hollywod maupun anime. Jadi bagaimana kalian bisa saling paham?

Anyir darah tercium. Kamu menarik dan mengembus napas dalam-dalam, memastikan darimana anyir tadi berasal. Bukan... bukan dari darah yang merembes di antara rok dan celana gadis-gadis itu maupun kamu, tapi asalnya justru dari sebelah kiri gerbang. Mereka... Sebelas orang yang ingin betul kamu lihat ada di sana saban hari meski kamu hanya akan berkeliling tanpa bisa keluar sama sekali. Menyentuh tidak, merasakan gembira maupun nestapa juga tidak.

Gadis berbaju biru putih melambai lagi, kali ini dengan senyum lebih ceria. Tidak ada lagi darah merembes dari roknya. Sedang gadis dengan bahasa seperti anime itu mengacungkan gelas tehnya, seperti mengajakmu bergabung, lagi-lagi dengan rembesan darah yang tidak lagi ada di roknya. Malah gadis berambut pirang itu sekarang mengacungkan sebuah kantung teh.

Sekarang matamu terus mengacu pada tiga gadis di meja putih itu, meski hidungmu terus dipenuhi anyir darah sekalian timah meleleh dari sisi gerbang yang satu lagi. 

Katanya, kemarahan, dendam dan rasa panas di dada itu manusiawi. Namun bukankah sekarang kamu bukan lagi manusia?


Catatan: waktu baca tulisan ini, kok rasanya kayak familiar dengan alurnya bahkan terasa klise. Untuk manteman yang pernah jumpa cerita dengan alur sejenis mohon bagi tahu aku ya, biar kucantumkan juga di sini. Maaceww~

Monday, April 29, 2024

Rasa Sepi

 

Sumber: Gugel

“Alasan aku ngehubungin kamu lagi adalah... Aku udah lelah sendirian, aku juga udah capek mencari...” 

Saya sodorkan dua bilah tanda, satu ❎ dan satu lagi ☑️

❎ artinya tolak sedang ☑️ artinya lanjut. 

Kamu mengambil tanda yang kedua meski saya katakan, jangan pernah percayai siapapun yang datang pada kita hanya karena mengatasi rasa sepi.

Tapi katamu, segala risiko bakal kamu hadapi. Meski baru tujuh langkah, kamu pada akhirnya kembali sambil membawa tanda ❎

Katamu, tanda itu diberikan olehnya padahal kurang tiga langkah lagi kalian sampai di garis akhir. 

Barangkali yang seorang itu lebih bisa mengatasi rasa sepinya ketimbang kamu...

Wednesday, February 14, 2024

Cilok

 

Sumber: Gugel

Rahman namanya, tanpa Rahim dan tanpa nama-nama lain di belakangnya. Masih menjadi misteri bagaimana ia bisa mengingat pesanan rutin dari orang-orang di tiga kampung berbeda. Ketiga kampung itu hanya dipisahkan tiga gapura beda warna. Rahman dan gerobak ciloknya biasanya berjaga di gapura warna merah bertulis 'Gang Kramat'.

Meski demikian, orang-orang dari dua kampung lainnya juga terbisa dengan keberadaan Rahman di Gang Kramat. Sudah sepuluh tahun dan terus saja begitu. Rahman sendiri merasa tidak ada istimewanya kemampuan mengingatnya itu. Seperti hari itu bocah lelaki yang kata orang berwajah cantik dan berumur delapan tahunan mendatangi gerobaknya.

"Dua ribu, pentol sama kecap." ucap bocah itu justru setelah tangan Rahman lebih dahulu bergerak, nyaris membuat pesanan sesuai perkataan anak itu tanpa diminta.

Dilihatnya anak laki-laki itu bersama seorang gadis yang agaknya belum lulus kuliah. Rahman tahu itu bukan kakak bocah lelaki itu. Kakaknya masih kelas lima dan gadis itu kebetulan saja bertetangga dengan bocah tersebut.

"Punyaku pentol tahu, kuah pedas, Pak." ucap si gadis setelah pesanan bocah hampir selesai.

Rahman, begitu ia dipanggil di keluarga dengan tidak banyak pelanggan ciloknya tahu. Namun melalui percakapan orang-orang yang silih berganti membeli dagangannya, meski tanpa nimbrung, ia jadi tahu siapa adik dari siapa dan siapa bapak dari siapa.

Seperti juga hari itu seorang gadis SMK berkata,"Aku nggak sama bapakku soalnya dia habis kena tipus, Pak."

Tanpa ditanya apalagi diminta, sambil menerima pesanan ciloknya gadis yang biasanya naik motor bersama bapaknya dari kampung sebelah itu bercerita.

Seorang lelaki berusia empat puluhan menghentikan motornya selagi gadis tadi pergi.

"Istriku biasanya sambalnya berapa sendok, Pak?"

Pesanan yang satu ini Rahman lagi-lagi juga ingat. Sepuluh ribu jadi dua bungkus, sambalnya empat sampai enam sendok. Perempuan dengan batik ASN biasanya datang dengan membawa motor yang sama dengan si lelaki empat puluhan itu. Biasanya, tanpa diminta juga, lelaki yang tidak pernah ingat pesanan istrinya itu bercerita, istrinya mens dan perutnya cukup kram untuk membeli cilok sendiri.

Setelahnya, dari kejauhan datang seorang lelaki berambut panjang sebahu. Rambutnya berwarna kuning cerah. Ia ingat dengan jelas lelaki pemilik tempat cukur rambut itu biasanya anti sekali dengan saus.

Segera ketika Rahman hampir melewatkan saus saat nyaris menyelesakan pesanan, lelaki berambut kuning tadi berkata,"Pak sausnya lebih banyak ya. Bisa marah mamaku kalau sausnya nggak ada."

Saturday, December 9, 2023

Love Birds

Sumber: dokumentasi pribadi. Ngepas lagi makan bareng Dai Firda.

Gadis itu menunjuk mereka satu per satu.

"Yang itu bestie." Tunjuknya pada meja pertama.

Meja pertama berisi lima orang. Tiga perempuan dan dua laki-laki. Mereka memakai baju dominan hitam putih, seperti mahasiswa kelar ujian. Kelimanya memesan minuman beda warna sambil tertawa-tawa seolah baru saja meletakkan beban besar.

"Yang itu bromance." Tunjuknya pada meja kedua.

Meja kedua berisi dua laki-laki berjaket parasut. Lelaki pertama berambut sebahu, sedang satunya punya kepala plontos. Mereka saling menepuk pundak beberapa kali, terbahak-bahak sambil menggeser layar tablet di hadapan. Dari jauh terlihat foto-foto perempuan. Mereka berdua sibuk menggeser layar ke kiri atau ke kanan. Agaknya, mereka sedang bermain aplikasi kencan.

"Yang itu love birds." Tunjuknya pada meja ketiga.

Meja ketiga berisi satu lelaki dan perempuan. Mereka duduk berdempetan, rutin saling pandang. Malu-malu, ada rona di pipi seperti tidak rela saling berjauhan. Dua piring kentang goreng mereka abaikan di meja. Dua gelas teh tarik punya nasib serupa.

"Hubungan yang saling itu kayaknya asyik ya?" Tanyanya sambil melihat meja ketiga, pasangan yang disebutnya love birds.

Kamu menggeleng. Katamu, kamu tidak tahu rasanya hubungan yang saling. Bahkan bagaimana pun gadis itu membalut lukamu saat menabrak pick up yang berhenti mendadak, membawakan makanan favoritmu dan memberimu semangat berkarir meski teman kerjamu menyebalkan setengah mati, kamu tetap tidak mampu mau...

...mencintainya.


Masukan:

Rutin saya mengunggah tulisan yang belum rilis di blog lewat story Instagram (meski sekarang hanya punya Instagram khusus DM) dan status WA. Tujuannya biasanya untuk terima saran teman sekitar lebih dahulu. 

Untuk fiksi mini ini, saran dari Dyhliz (Billy Kobra) sebetulnya bagus diakhiri pada paragraf ke tujuh. Jadi semacam cerita perbandingan kondisi begitu. Kalau menurutmu?

Thursday, October 5, 2023

Spontan


Jepreted by Neny Adamuka

Raisa, awal tiga puluh, baru ingat pernah menyelesaikan kuliah di salah satu universitas di jawa timur. Pernah didiagnosa OCD dan kali ini pergi ke Malang bersama suami dan anaknya yang berusia dua tahun.

"Nggak apa-apa, apa adanya aja sisa file diupload." Ucap ketua jurusan setelah mendengar cerita pernikahan dan kehilangan file skripsi meski tetap dengan status sudah lulusnya.

Mertuanya memberi saran jadi ASN saja, sedang hari itu anak kedua dan suaminya sedang keliling Malang naik mobil berdua. Pegawai administrasi tersenyum saja mendengar ceritanya yang menjadi ibu beranak dua, sudah lulus dan baru saja mengambil ijazah.

Petugas administrasi memberikan nomornya buat disimpan. Raisa duduk di bangku seberang loket dengan angan-angan baiknya mememberi kenang-kenangan apa untuk pegawai yang dengan telaten sudah memandunya mengambil ijazah itu.

Neny, akhir dua puluhan, membiarkan kereta pertama yang datang terlewat. Tangga arah naik penuh dengan manusia namun ia masih sempat mengeluarkan ponsel dari sakunya, mengetik tips mindfullness bagi pengguna kereta. Tidak perlu buru-buru dan rakus salah satunya. Kereta berikutnya membawanya ke gerbong perempuan.

Seorang petugas berkata naik saja dulu, pada perempuan hamil yang bertanya apa masih ada ruang di gerbong perempuan. Selanjutnya bukan dengan suara lantang, lelaki itu bilang,"Permisi ibu hamil," berharap para perempuan lain dengan kesadaran sendiri berdiri lantas memberi kursi.

Setelah Neny berteriak cukup lantang, langsung tunjuk saja, Pak! merujuk harapan petugas langsung memilih calon pemberi kursi, seorang perempuan muda nyatanya berdiri, tanpa ditunjuk. Kursi ia berikan pada perempuan hamil itu.

Indayu, setengah abad, sedang semangat sekali bicara di meja warung kopi. Empat atau lima teman di meja yang sama memperhatikannya bicara. Tegas, meluap dan penuh pesona. Komentar soal idenya disahut dua orang teman dan di akhir, seorang laki-laki seumurannya berdiri dari meja seberang, menyerahkan sebuah sketsa berisi wajahnya.

"Saya suka cara Mbak bicara." Lelaki itu bilang.

Rekan-rekan semeja turut berkata wah. Salah satu berinisiatif mengambil foto Indayu dan laki-laki yang entah siapa namanya itu. Sebuah novel disorongkan gadis itu pada si lelaki. Novel karyanya yang terbit lewat jalur indie. Yang sayang sekali digarap sekenanya oleh salah satu kru penerbit dengan antar kalimat bergandeng tanpa spasi.

Sekarang di tempat mereka masing-masing berada, sinar matahari sedang serentak tenggelam. Sebagian langit berwarna oranye pudar.


Untuk Raisa Izzhaty, Neny Agustina Adamuka dan Indayu Sri Mulyani.

Separuhnya cerita nyata.


Tanggal dan jam unggah mencatut tanggal dan jam lahirnya Arma.

Wednesday, May 17, 2023

Kantin

 

Sumber: Gugel

Tuan Sudjono dengar harga satu botolnya enam puluh tujuh ribu. Masih juga dia heran kenapa tidak dibuat genap saja jadi tujuh puluh ribu sebagai misal.

Kalaupun semua uang dalam sakunya digabungkan, totalnya bahkan masih kurang tujuh ribu untuk menebus satu botolnya. Jadi dia diam-diam saja melihat satu rombongan lelaki berbaju batik itu dari seberang meja.

“Dua botol ya, Mbak. Aroma cinta kalau ada.”

“Perutnya singset gini, masih gadis atau sudah janda?”

Tawa para lelaki itu bersusulan setelahnya. Perempuan itu cepat-cepat mengeluarkan dua botol acak saja sambil turut tertawa-tawa.

Sesegera mungkin dia bilang dua botol itu punya aroma cinta. Dia juga bilang, statusnya janda satu anak.

Selanjutnya kata cinta dan janda seperti dilempar ke atas meja. Salah satu dari mereka mengetuk-ngetuk dompet tanpa terlihat berniat mengambil seratus tiga puluh empat ribu.

Perempuan itu terus tertawa-tawa, menyantap sajian kata cinta dan janda di atas meja dengan lahap. Seratus tiga puluh empat ribu pada akhirnya disorongkan padanya. Dan ketika ia hendak pergi, salah seorang dari mereka menepuk bokongnya.

Kecuali tuan Sudjono, meja-meja di seberang turut tertawa-tawa. Perempuan itu pun tersenyum saja, melipat uang, menyerahkan dua botol wewangian lalu pergi bersama sepatu setinggi tiga sentinya.

Pesan singkat masuk dalam ponsel tuan Sudjono. Istrinya yang kena tipus mengeluh belum juga mendapat kamar karena tunggakan BPJS. Lelaki itu memandangi gerombolan lelaki di seberang meja, juga jejak sepatu si perempuan yang bercampur hujan dan tanah.

Agaknya, menjadi benar ternyata susah juga ketika kita semiskin tuan Sudjono ya? 

Catatan:

Kok pas dibaca lagi kayak pernah baca cerita serupa yes? Teman-teman yang merasa serupa, janlup jawil atau tegur aku ea. Tencuuu.

Edit:

Paragraf terakhir:

Disaksikan tuan Sudjono, gigi perempuan itu bergemeretak sekelebat.

Sunday, March 19, 2023

Pintu

Sumber: Gugel

Tidak jelas dari mana ia mendapat rantai, kunci, gembok, beserta papan-papan kayu. Rantai, kunci dan gembok dia rangkai sehingga pintu mustahil didobrak dari luar, sedang papan-papan kayu ia paku saling silang di jendela dan plafon.

Sebentar kemudian dia mengibas keringatnya dengan tangan kiri, memandang hasil kerjanya lalu berdecak sendiri. Ia pun mulai masuk kamar mandi, berendam dengan air bercampur busa juga menyalakan lilin wangi. Setelahnya, ia memasak mie instan favoritnya, mencoba meniru tampilan paling mirip dari bungkus, juga menyeduh coklat hangat. Sebuah novel juga sudah tersaji di meja.

Ia begitu, setiap hari. 365 dikali lima...

Sampai satu waktu, ada yang mengetuk pintu. Bukan kurir, karena para kurir sudah tahu harus meletakkan paket di sudut mana dan tanpa suara.

Dia terenyak. Pelan-pelan dibukanya gembok, diurainya rantai, dibukanya kunci. Yang di depan pintu terus saja berdiri sambil tersenyum saja, tidak ada upaya mengetuk pintu sekali lagi, apalagi memaksa masuk jendela atau menjebol plafon seperti orang-orang terdahulu.

Hingga ia pun betul-betul membuka daun pintu. Namun yang sedang berdiri tidak masuk juga hingga betul-betul dipersilakan. Setelah masuk pun tidak duduk juga hingga betul-betul dipersilakan.

Lama-lama mereka duduk berdua dan saling senyum saja, hingga terbahak dan menangis bersama. Mula-mula, ia ogah berbagi mie instan, coklat hangat, apalagi novel yang tersedia di meja. Tidak bisa, yang tiga itu favoritnya.

Namun lama-lama, ia mempersilakannya makan dari mangkuk dan minum dari gelas yang sama. Novel itu bahkan sengaja diletakkan di pangkuannya.

“Rumahmu di mana? Boleh saya mengetuk pintunya balik?” ia bertanya.


Untuk saudara laki-lakiku dan mbak-mbak yang kupikir tidak akan pernah pergi dengan pamit.

Semangat o ya, Mas. Ingat, Mike Mohede pernah bernyanyi,"Rasa yang ada di hati tak mungkin berdusta uwo uwo yea..."

Wednesday, January 4, 2023

Selempang

Sumber: Gugel

Katamu, selempang itu mau dilarung saja. Ya, selempang bertulis nama dan gelar cinta pertamamu itu. Saya mau tertawa, tapi tertahan-tahan saja. Begitu-begitu kan kamu yang setia menarik tangan saya waktu terseok.

Dasar, hopeless romantic. Maksudnya, itu kan kisah dulu sekali sepuluh tahun lalu, sedang gelarnya baru beberapa tahun kemarin dan lagi, kenapa nggak kamu berikan saja sih? Kenapa malah dijadikan fosil di kamar?

Dia sudah pasang cincin dengan orang lain. Saya pula yang tahu lebih dulu, pakai menangis pula. Rasa-rasanya saya turut mencintai dia sepanjang kamu mencintainya juga.

Lalu saya lirik almari sambil memegang selempang yang kamu sodorkan itu. Di sana ada cerpen yang saya cetak serupa buku, pakai jilid ring. Kalau tidak salah jumlahnya tujuh buah kopi. Enam kopi saya berikan pada teman-teman baik dan satu kopi harusnya untuk cinta pertama yang jadi tokoh utama di sana.

Tapi ternyata, untuk kirim pesan janji jumpa saja saya harus merepotkan seorang sahabat. Di usia kami yang ke dua puluh waktu itu, dia menunggui saya yang memegang ponsel, hampir-hampir menulis pesan, lalu kembali berjalan tidak tentu arah di sekitaran jalan Ijen. Ia pula turut berjalan di sebelah, tanpa marah.

Selempang itu sekarang saya lihat, sentuh beberapa kali lalu melihatmu lagi. Ternyata bukan rambut kita saja yang sejenis.


Untuk sahabatku yang penyabar, Sofiani Izzaty alias Sopinga.

Saturday, September 17, 2022

Kereta (6)

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Bau shamponya seolah menusuki hidungmu, meski ajaibnya air malah mengucur dari celah matamu.

Kereta terus berjalan. Sepatu bootsmu yang baru dibeli tiga minggu lalu menarik perhatian seorang balita di hadapan.

Dengan sungkan ibu balita itu menanyakan beli di mana, harga berapa, apa ada ukuran dua puluh empat juga pernyataan ia pernah juga patah hati.

Kamu terbahak dan bau shampo itu makin menusuki hidungmu.

“Nomor dua puluh empat ada, Mbak. Tunggu Tiktok mereka live saja biar dapat potongan harga.”


Thursday, May 5, 2022

Last Seen

Panderman Malang. Sumber: dokumentasi pribadi.

Hari pertama, saya melihat last seenmu. Apa kita sama-sama tidur jam 00.54? Atau kamu bangun lagi pukul sekian?

Hari pertama, saya melihat last seenmu. Apa kamu sedang merasai kepalamu yang sakit lagi? Atau kamu sengaja sedang bersujud?

Hari kedua, saya melihat last seenmu. 17.39 sedang saya melihatnya ketika 19.22. Apa kita...

Hari ke sepuluh, saya melihat last seenmu. Obatmu sudah habis?

Saturday, March 26, 2022

Silam

 

Coreted by: @destianrendra

Tidak ada yang tahan jadi pacar gadis itu lebih dari tiga bulan. Bagaimana bisa ada yang tahan? Jika usianya dua puluh empat dan kerap menjerit histeris ketika pacarnya melakukan satu hal; telat menjemput.

“Ayu sih, tapi kekanakan banget...”

“S2 sih, tapi suka membesarkan masalah.”

Hingga hari itu pun tiba, pacar gadis itu terlambat sembilan menit. Mereka dua bulan berpacaran, berjumpa karena ternyata satu gedung perkantoran. Obrolan mereka pun nyambung karena gadis itu punya pengetahuan luas namun...

Kuku si gadis yang cukup panjang sudah menancap di kedua lengan pacarnya itu kini. Matanya membulat, merah dan badannya gemetar. Ia pula nyaris histeris. Pacarnya itu pun buru-buru mengibas dua tangan si gadis dan berlalu pergi. Semua kontak gadis itu ia blok dari ponselnya.

Dengan dada sesak, gadis itu hampir jatuh terduduk. Di depan matanya hanya ada sang ayah yang menepuk kepala kecilnya suatu pagi dengan janji akan menjemputnya tepat jam dua belas siang, sepulang sekolah. Ayahnya itu ternyata tidak pernah menjemputnya kembali.

Gadis itu menjatuhkan tas kantornya dan tubuhnya pun makin gemetar. Seorang anak perempuan sembilan tahun, kini sedang berdiri di sampingnya. Anak itu tidak menangis. Ia justru memegangi tali tas ranselnya dan seolah berkata pada seseorang di hadapan,”Nggak apa-apa. Papa pasti masih sibuk...”

Thursday, March 11, 2021

Malam Minggu Monster (MMM)


Sekali memejamkan mata, ia bisa mengeluarkan asap dari ubun-ubunnya. Tipis mula-mula, menebal pada berikutnya, membumbung ke langit-langit kos dan lama-lama membentuk tubuh, punggung, tangan, kaki dan wajah serupa dirinya, hanya saja lebih besar tiga kali lipat.

Jika sudah demikian, ia utus makhluk yang ia namai serupa nama bikinan ibu buat dirinya itu melayang keluar kamar. Makhluk itu menembus cucian-cucian kaos hingga celana dalam para tetangga kos yang berkibar di tiang jemuran malam-malam. Ia akan terus melayang melewati jalanan kampung, jalan raya antar provinsi hingga tol tanpa perlu membuka portalnya lebih dahulu.

Jika sudah demikian, bisa dipastikan itu malam minggu. Malam di mana kembaran yang tiga kali lebih kecil darinya itu sebagian besar menolak ajakan kencan dari pacarnya yang satu kampus di pascasarsajana. Ada apel lain yang mesti kembarannya itu rutin lakukan, apel yang jauh lebih membikin panas dada, memercepat detak jantung dan bikin merinding permukaan kulit jika dibanding ketika kembarannya itu disodori susu lembut milik pacarnya.

Sudah 134 kilo meter makhluk itu terus melayang. Sesekali menembus badan-badan truk dengan plat B. Jika bosan, ia pula sengaja menggulung tubuh menjadi 160 cm, menumbuhkan susu dan rambut panjang lalu melipir ke pinggir jalan dengan rok kuning menyala yang sekadarnya menutupi paha.

Para sopir truk terang saja meleng. Mereka meleng bukannya karena tergoda paha terang si makhluk, namun mereka buru-buru teringat cerita antar sopir soal perempuan macam demikian yang muncul malam-malam dan ketika ditoleh sekali lagi malah menunjukkan mukanya yang hancur separuh juga taringnya yang besar-besar.

“Allah hyang maha agung!” jerit salah seorang dari sopir dengan plat B ketika melihat si makhluk. Berkali ia hanya menyebut nama Allahnya tanpa berani menoleh kembali ke arah si perempuan.

Dengan dengus kecewa, si makhluk kembali merenggangkan tubuhnya. Kembali ia jadi tiga kali lebih besar dari kembarannya yang tengah rebah di atas kasur kos. Perjalanan dilanjutkan hingga ia sampai di sebuah kecamatan berpenduduk padat di tengah kota itu. Satu-satunya rumah dengan atap bertuliskan PKK yang pudar itulah tujuannya. Ada seorang gadis yang tengah lelap di sana...

Dicekalnya tulang kaki gadis itu sesudah ia melayang dan menembus kamarnya. Gadis itu menjerit seperti malam minggu sebelum-sebelumnya. Jika sudah begitu, para tetangga mulai bergunjing, kakek dan neneknya mengeluh, juga ibu dan bapaknya yang berbisik ia hanya cari perhatian supaya tidak disuruh cari kerja selepas lulus. Hanya ada sesak di dada dan tulang yang dirasai gadis itu seolah remuk.

Berkali ia pingsan, berkali pula ia bangun. Matanya pun makin membengkak akibat air mata yang tidak lagi ia tahan-tahan. Napasnya hampir berhenti dan barulah rasa remuk di kakinya itu mereda. Makhluk itu melepas tulang kaki gadis itu begitu saja, melayang menembus dinding kamarnya menuju luar rumah, kembali menempuh jarak 134 kilo meter, melewati jalanan kampung, jalan raya antar provinsi hingga tol tanpa perlu membuka portal. Tidak lupa ia menggulung diri, menyaru sebagai perempuan dengan rok kuning menyala dan menunjukkan wajah separuh rusak pada para sopir truk.

Kemudian makhluk itu merenggangkan tubuhnya, kembali melayang hingga atap kos kembarannya itu terlihat. Ia pun masuk halaman, menembus cucian kaos hingga celana dalam para tetangga kos yang kembali basah terkena embun malam lantas menemukan kembarannya tengah terlentang di kasur. Kembali masuk dalam ubun-ubun, ia tiga kali lipat mengecil. Tubuh, punggung, kaki dan wajah itu pun mengempis, asapnya juga makin menipis.

Perlahan, kembarannya itu membuka mata dan ia pun berbisik,”Aku sayang kamu. Malam minggu esok kita kencan lagi ya...”

nan eodum sogui Dancer
Aku adalah seorang penari dalam kegelapan

onmom ttukttuk kkeokkeo
Aku akan meregangkan seluruh tubuhku

chimdae gakkai galge
Aku akan pergi mendekati tempat tidurmu

musimusihage
Dengan begitu mengerikan

ne simjangeul humchyeo jibaehae
Aku akan mencuri hatimu dan mengendalikannya

hanaui jomyeong wae geurimjaneun duriya?
Hanya ada satu cahaya, tapi mengapa bayangannya ada dua?

nae soge dareun ge nuneul tteun geot gata
Aku merasa sesuatu yang lain di dalam diriku telah membuka matanya

I'm a little monster** nal geomnae

I’m a little monster, takutlah padaku


**Little Monster, Irene feat Seulgi

Sunday, February 14, 2021

Pertalian

Sumber: Nyolong foto Mavalda Junia Sahanah

Orang-orang barangkali heran soal bagaimana pola pikir Umbu Landu Paranggi yang berjalan belasan kilo demi melihat gadis yang ia suka naik bus Jogja-Malang. Umbu bahkan naik bus buat mengintil gadis itu, memastikannya selamat sampai Malang. Umbu tidak pernah melakukan pendekatan berarti hingga kelak gadis itu disaksikannya menikah dengan lelaki lain.

Kamu membaca kisah itu berkali-kali dan tetap tidak memahami bagaimana ada cinta yang rupanya demikian? Bukankah Umbu tidak betul berjuang? Sampah betul konsep mencintai dalam diam. Tapi apakah yang sebetulnya dinamai mencintai dalam diam? Hingga sebuah telepon masuk, dari pacar barumu. Kamu menutup browser yang berisi kisah Umbu, lantas memasang headset dan menekan tombol terima.

Pacarmu itu kelewat cerdas dan memiliki mata sipit yang manis. Inilah pacar yang kamu berhasil perjuangkan, begitu pikirmu. Meski seseorang seolah sedang tajam mengawasimu jauh di belakang pagar kampus. Hingga kamu pun menoleh ke arah belakang, mencari-cari asal tatapan itu dan kembali berkonsentrasi pada telepon ketika hanya mendapati kerumunan mahasiswa yang kamu tidak kenal-kenal amat berseliweran di sana.

Ia ada di sana sebetulnya, menyaru di antara keramaian. Ia yang bersamamu jauh sebelum kuliah, ia yang ucapan cintanya hanya pernah kamu perkirakan sebagai candaan. Selalu kamu ingat ia pula yang temannya sangat banyak dan ekspresi cintanya memang demikian, bukan pada kamu saja.

Tapi hari itu, ia gadis itu...

“Pacar dia baru lagi...” bisiknya sambil menyulut sebatang rokok dari saku almamater.

Siang itu sesungguhnya, si gadis hendak menyapamu dan menggandengmu ke kantin fakultas sastra. Namun ketika melihatmu menelepon seseorang dengan muka merah dan dialog-dialog manis, ia urung mengajakmu makan dan bahkan menyapa saja segan.

Sambil menghembus asap rokoknya ke udara, gadis itu melihat ke arah langit. Ia meraba ubun-ubunnya dan memandangimu yang tengah tertawa-tawa masih dengan headset terpasang di kuping. Mata gadis itu pun menyipit, dilihatnya sebuah tali kuning terhubung horizontal antara ubun-ubunnya dengan ubun-ubunmu.

Tali itu warnanya kian terang hari demi hari, semakin kalian bersama. Namun untuk menjadikan warna tali itu kuning cerah, gadis itu tahu akan butuh waktu lebih dari belasan tahun bersama. Sekali lagi, mata gadis itu menyipit, namun kini ganti memandang langit. Tali berwarna serupa berdiri vertikal di masing-masing kepala kalian, bedanya ia memiliki warna kuning cerah, warna masa depan yang kelak akan kalian raih pula di antara garis horizontal.

Gadis itu mengelus tengkuknya, melempar rokok yang tinggal separuh ke tanah lantas menginjaknya dengan sepatu baletnya yang berwarna coklat.

“Kalau memang menikah dengan yang lain dahulu lalu bercerai adalah jalanmu, baiklah.”

Sekali lagi, gadis itu merogoh rokok dari saku almamaternya. Ia pun kembali menyulutnya dan berjalan menjauhi lokasimu terbahak sambil menelepon.

Ada tali-tali beda warna dan saling terhubung di antara orang-orang yang melintas di sekitar gadis itu. Tali-tali itu saling bertindih hingga seperti jalinan benang tidak berarti yang rumit minta ampun. Namun si gadis selalu tahu, tali-tali yang saling terhubung itu tidak bisa dianggap sekadarnya saja.

Maka esok hari, ketika kamu tidak sedang menelepon pacarmu, gadis itu mendatangimu dan mengajakmu ke kantin fakultas sastra. Seperti biasa, ia rutin menawarimu rokok meski basa-basi saja dan selalu kamu menolaknya. Dan bagaimanapun kamu bertanya kemana kemarin ia pergi hingga tidak mengajakmu makan di kantin, gadis itu hanya tersenyum. Katanya sahabat baik selama belasan tahun, tapi bisa tega begitu tidak mengajak pergi ke kantin, demikian candamu.

“Pacarmu kabarnya gimana?” tanya gadis itu tiba-tiba, disusul wajahmu yang kini berubah menjadi merah.

Sepulang kuliah, kamu berencana mengajak sahabat baikmu itu mampir ke toko perhiasan, membeli cincin dari hasil kerjamu selama dua tahun.


Catatan:

15 Februari 2021

Akhir-akhir ini, saya bukannya mengalami kebuntuan menulis tapi justru mengalami kebuntuan bikin judul. Ya sudah, pokoknya ada judulnya aja begitu...

Ini nyolong foto Valda karena dia fans berat Umbu Landu.

***

Umbu Landu meninggal dunia pada Selasa, 6 April 2021.

***

Ketika awal ditulis, fiksi mini ini berjudul Enaknya Dikasih Judul Apa Hyunk?

Jumat, 17 Juni 2022 baru nemu judul Pertalian.