Saturday, March 26, 2022

Silam

 

Coreted by: @destianrendra

Tidak ada yang tahan jadi pacar gadis itu lebih dari tiga bulan. Bagaimana bisa ada yang tahan? Jika usianya dua puluh empat dan kerap menjerit histeris ketika pacarnya melakukan satu hal; telat menjemput.

“Ayu sih, tapi kekanakan banget...”

“S2 sih, tapi suka membesarkan masalah.”

Hingga hari itu pun tiba, pacar gadis itu terlambat sembilan menit. Mereka dua bulan berpacaran, berjumpa karena ternyata satu gedung perkantoran. Obrolan mereka pun nyambung karena gadis itu punya pengetahuan luas namun...

Kuku si gadis yang cukup panjang sudah menancap di kedua lengan pacarnya itu kini. Matanya membulat, merah dan badannya gemetar. Ia pula nyaris histeris. Pacarnya itu pun buru-buru mengibas dua tangan si gadis dan berlalu pergi. Semua kontak gadis itu ia blok dari ponselnya.

Dengan dada sesak, gadis itu hampir jatuh terduduk. Di depan matanya hanya ada sang ayah yang menepuk kepala kecilnya suatu pagi dengan janji akan menjemputnya tepat jam dua belas siang, sepulang sekolah. Ayahnya itu ternyata tidak pernah menjemputnya kembali.

Gadis itu menjatuhkan tas kantornya dan tubuhnya pun makin gemetar. Seorang anak perempuan sembilan tahun, kini sedang berdiri di sampingnya. Anak itu tidak menangis. Ia justru memegangi tali tas ranselnya dan seolah berkata pada seseorang di hadapan,”Nggak apa-apa. Papa pasti masih sibuk...”

Wednesday, March 16, 2022

Ustad Pelaku Pelecehan, Benar Hanya Oknum?

Sumber: Tiktok Kevin Ngunyen

10 Januari 2022 lalu, Kevin Ngunyen mengunggah kasus pelecehan oleh seorang ustad berinisial M di Tiktok dan Twitter. Kevin menekankan yang demikian tentu saja oknum. Kevin juga menyebut Husain Basyaban sebagai salah satu uztad yang benar-benar membela isu perempuan.

“...korban-korbannya udah banyak, bukti-buktinya terlampir jelas dan nanti bakal gue sertakan di green screen. Dan disclamier ya temen-teman, ini hanya oknum-oknum aja, nggak semua kayak gini. Masih banyak kok pendakwah-pendakwah di luar sana yang bener-bener membela isu perempuan, Husein contohnya.” -Kevin Ngunyen, Tiktok 2022-

Penggunaan istilah oknum dalam kasus ustad M, seperti merujuk dirinya yang merupakan bagian dari umat islam. Hingga ketika ustad M kedoknya terbongkar, ia masih dianggap sebagian kecil dari umat islam yang sedang berbuat bejat.

Uztad M sendiri ternyata aktif di Instagram. Jadi Husain buat saya lebih familiar dan benar, video-video pendeknya cukup bisa dicerna orang awam sekalipun. Salah satu perspektif Husain soal pelecehan seksual bisa disimak dalam video berikut.

Sumber: Tiktok Husain Basyaban

“Aib ini terikat pada pelaku, bukan korban.” Husain, Tiktok 2021.

Tapi bagaimana dengan pernyataan Kevin soal ustad M yang oknum? Mari kembali membaca tulisan di blog ini yang berjudul Terimalah, Grooming Senjatanya Nggak Melulu Persona Baik untuk memahami citra bentukan pelaku kejahatan. Sebelum itu, mari kita memahami pengertian oknum lewat esai berjudul Oknumisasi Aparat dan Politik Bahasa.

Kata “oknum” tidak memiliki terjemahan yang pas dalam Bahasa Inggris. Padanan yang paling mendekati adalah “individual.” Tapi, dalam kata tersebut tak ada citra negatif seperti yang dicitrakan “oknum.” -Triyo Handoko, Remotivi 2021-

Sedikit rangkuman, ustad M sendiri kerap mendesak para perempuan pengikutnya di Instagram untuk video call. Hal ini berlawanan dengan dakwah M menyoal interaksi lawan jenis. Ustad M pun sudah memiliki istri.

Sumber: Tiktok Kevin Ngunyen

Dan ya, ustad semacam M sebetulnya sama dengan predator lain. Ia sengaja mengambil satu identitas tertentu sebagai citra. Islam tentu bukan tidak sengaja dia pilih.

Predator bisa dengan sengaja mengambil identitas apapun untuk membentuk sistem pendukung dan menjerat mangsa. Ustad M dengan identitas islamnya, sedang para predator lain dengan identitas nasionalis atau lainnya.

Bagaimana bisa seorang predator yang sengaja menggunakan identitas islam sebagai sekadar citra, bisa dianggap bagian dari umat yang sedang berbuat jahat?

Penyebutan oknum juga tidak tepat dipergunakan dalam kasus yang terjadi di lembaga. Apalagi ketika kasusnya menahun dengan jumlah korban tidak dua atau tiga.

"Demikianlah realitas dibentuk oleh bahasa. Dalam bahasa Inggris, kesalahan institusi tidak bisa dilimpahkan begitu saja ke individu seperti penggunaan kata “oknum” dalam Bahasa Indonesia." -Triyo Handoko, Remotivi 2021-

Padahal dalam lembaga demikian, biasanya terjadi kekerasan struktural. Sebuah kasus bisa tertutupi menahun, tidak mungkin kerja dari satu orang. Pasti banyak pihak terlibat menutupi kasus hingga membungkam korban. Pihak-pihak inilah yang lantas membentuk sistem. Dan ya, sistem yang menguntungkan pelaku, tentu saja.

Jadi untuk Husain dan siapapun teman-teman, lelaki dan perempuan yang menggunakan jalur dakwah kreatif, semoga kalian tetap baik-baik di jalan. Sedang untuk kita semua, yakin masih sudi memakai istilah oknum?

Eh, omong-omong kontennya Adela Surya Pertiwi bagus. Kali lain saya bahas yes. Konten Tiktok Adel tuh semacam,”Ya sudah, kami yang bercadar pun kesehariannya sama dan asyik aja kok.”

Tuesday, March 1, 2022

24

Sumber: Gugel

 

Kemarin lusa, tepat di hari ulang tahunmu. Dia saling bilang cinta dengan laki-laki lain.

Sebagai sang pangeran wanna be, kamu tentu merasa ada yang istimewa dari dia yang mengingat tanggal ulang tahunmu.

Tapi ya, entah bagaimana dia mengingat tanggal lahir siapa pun lelaki yang pernah lewat di hidupnya.

Ada dua lusin dan dia ingat semua...