Friday, December 30, 2016

Nasi Ayam, Pada Suatu Petang

Warung yang utamanya menyajikan nasi dan ayam itu, membuka cabang pada tiap tempat strategis di kota. Kamu mesti mengantri cukup panjang, menyebut pesananmu, namamu kemudian membayarnya, baru memilih tempat duduk, jika ingin makan di sana.
Banyak orang yang sepertimu, serius menyebutkan nama. Nama yang sesungguhnya. Barangkali, rasa lapar lebih bikin niatmu fokus, segera meenyebut pesanan, namamu, membayar dan buru-buru mencari tempat duduk.
Para pegawai di warung itu, bakal menyebut namamu di depan pintu, sebelum kamu mengangkat tangan dan mereka menyerahkan pesanan itu padamu. Petang itu, semuanya pun sama. Kamu lihat orang-orang sibuk dengan ponsel mereka, sibuk mengunyah ayam bersama dua potong ketimun, atau sibuk membenahi wajah yang kalut. Petang nyaris serupa, jika saja salah seorang pegawai tidak meneriakkan satu nama tokoh anime yang sempat booming; Uzumaki Naruto. Jelas itu bukan nama asli si pemesan. Dia menggunakan nama itu sekadar buat bersenang-senang.
Namun, selama setengah menit, beberapa pegawai yang tengah kesulitan membawa gelas-gelas teh kelihatan terperangah, tersenyum tipis. Orang-orang yang sedang sibuk dengan ponsel mereka mendongak, kemudian tergelak. Sebagian lain berhenti mengunyah sejenak. Ada juga yang seperti kamu, yang selama setengah menit mendadak lupa, jumlah uang kuliah yang mesti kamu bayarkan paling lambat besok lusa.

Sedang lelaki dua puluhan, Uzumaki Naruto yang memesan nasi dan ayam itu, duduk di sudut ruangan sambil bersiul senang melihat pesanannya datang. Dia tidak pernah menyadari, berapa banyak orang yang sudah dibawanya kembali pulang, pada kebahagiaan, meski hanya setengah menit.

Tuesday, December 27, 2016

Tulus?

Sumber: Gugel

“Dia itu tulus loh…”

“Nah… itu… sulit menilai ketulusan orang.”

Maka diamlah meski kamu tahu. Meski Tuhan berbagi rahasisanya hingga kamu tahu…

Motif Pernikahan


Bagaimana jika, berbagai motif pernikahan jelas terpampang di hadapanmu? Bahkan, pelaku pernikahan yang di hadapanmu saja tidak mengetahui motif itu, atau bisa jadi malah pura-pura atau tidak ingin tahu.

Ini rahasia dari Tuhan. Maka diam saja.

Bukan dosa ketika kamu tidak membeberkan motif ini, pada para peaku penikahan itu. Kamu masih bisa berbagi pelajarannya, pada mereka yang lain...

Sumber: Gugel


Sebuah Surat: Dari Manusia Kepada Manusia


Banyak manusia mengeluh, mengapa manusia yang selain dirinya, melihat sesuatu hanya dari tampilan luar.

Kamu tahu sebabnya? Adalah ketakutan. Manusia takut tertipu dan sakit kemudian.

Tampilan luar seperti sebuah jawaban, sebuah bukti. Meski semua belum mesti…

Bagaimana Perempuan Memandangmu, Laki-laki


Ada perempuan yang memandangmu, dari seberapa fasih permainan gitarmu…

Ada perempuan yang memandangmu, dari seberapa manis wajahmu…

Ada perempuan yang memandangmu, dari seberapa banyak forum internasional yang kamu ikuti…

Ada perempuan yang memandangmu, dari seberapa kamu sungguh bersikap lembut pada siapa saja…

Thursday, December 22, 2016

Draft Hidup Dua Perempuan

Coreted by: Windha Dewi Wara #GalerieDeWindha
Maria buru-buru mematikan api pada ujung rokoknya, waktu kak Agni dan putrinya yang berusia lima tahunan mendekati meja kami. Puntung rokok kemudian ditekan Maria ke dalam asbak yang kelewat penuh.
Aku terus memandangi Maria. Dia menarik napasnya dalam betul, sebelum menoleh pada aku. Soal rokoknya, dia tahu aku punya rencana buat bertanya.
"Rokok adalah pakaian yang belum bisa disajikan sebagai pilihan pada putrinya kak Agni. Dia pasti bakal mengetahuinya sebagai salah satu pilihan pakaian. Semuanya kelak, bukan saat ini." ucap Maria sambil badannya mulai bangkit dari kursi. Dengan luwes dia berjongkok sambil merentangkan tangannya di dekat kaki meja. Putri kak Agni buru-buru berlari kecil menghampiri Maria, kemudian memeluknya.
Aku tersenyum tipis yang aku yakin Maria maupun kak Agni tidak bakal bisa melihatnya. Maria hanya berganti kesenangan, dari coklat menuju rokok. Soal hal lain dia tidak berubah, salah satunya perkara kelembutannya pada anak-anak.

Sebuah cerita yang tidak bakal selesai…



Saturday, December 17, 2016

Bagaimana Saya Mendapatkan Buku-buku Terbitan Indie di Malang?


Sebagai penyuka buku-buku terbitan indie, saya merasa mendapat berita gembira pada Sabtu, 17 Desember 2016, yang bertepatan dengan ulang tahun Togamas Malang yang ke 26. Melalui salah satu staf Togamas, mas Denny Mizhar koordinator Pelangi Sastra Malang mengabarkan bahwa aka nada Indie Book Corner di Togamas Malang. Asyiknya lagi, buku-buku yang akan dijajar dalam rak, bukan cuma buku para penulis Malang, namun juga para penulis Jogja.
Saya tentu juga menggemari buku-buku terbitan penerbit mayor. Buku terbitan mayor mesti diakui, memang punya daya tarik tersendiri dari segi konten hingga sampul buku yang cantik. Saya sendiri, baru lebih getol membeli buku-buku terbitan indie yang utamanya ditulis oleh penulis asal Malang, baru pada 2015.
Musik dan puisi mas Feri H. Said dan mas Denny Mizhar, ulang tahun Togamas ke 26. Sumber: Dokumentasi pribadi
Mengutip salah satu perbincangan bersama mbak Ria A.S pada bedah buku Aku Mengenalnya Dalam Diam bersama Pelangi Sastra Malang, Selasa, 19 Mei 2015,”Saya menerbitkan buku melalui penerbit indie, karena ingin memberi alternatif bacaan pada pembaca.” Alternatif bacaan yang dimaksud oleh mbak Ria, adalah tulisan-tulisan yang tidak tersedia pada buku terbitan mayor.
Saat itu, saya selaku moderator yang sebenarnya hanya menggantikan mbak Dwi Ratih Ramadhany yang sedang sakit tenggorokan, diberikan satu buku gratis oleh mbak Ria. Semenjak saat itu, saya merasa memang ada ikatan yang bebeda antara penulis dan pembaca melalui buku terbitan indie.
Tidak seperti buku terbitan mayor yang bisa dicetak ribuan eksemplar dan disebar ke seluruh Indonesia. Buku terbitan indie memang dicetak jauh lebih sedikit dan kemungkinan besar memergunakan biaya sendiri. Pada bagian ini, penulis dan pembaca sangat memungkinkan melakukan komunikasi yang dekat.
Setelahnya, saya makin rajin mengikuti berbagai bedah buku. Di Malang, melalui bedah buku, barulah saya mengenal buku-buku terbitan indie karya para penulis Malang. Kecuali buku puisi, karena saya memang tidak terlalu bisa mencerna buku puisi, saya selalu berusaha membeli buku-buku tersebut. Ada keasyikan, saat saya mesti berkomunikasi sendiri dengan si penulis ketika menginginkan buku yang ditulisnya.
Sebagian buku terbitan indie koleksi saya. Sumber: Dokumentasi pribadi
Awalnya, saya mengikuti bedah buku jenis ini di komunitas Pelangi Sastra Malang. Namun saat ini, forum lain yang memberi wadah pada buku indie juga mulai menjamur di Malang, seperti Forum Komunikasi Taman Baca Masyakarakat (FKTBM) Malang. Seperti halnya Pelangi Sastra Malang, FKTBM juga menyediakan bedah buku bagi siapa pun para penulisnya, dengan latar belakang yang berbeda.
Ada juga LPM Perspektif Universitas Brawijaya Malang (UB), yang mengusung buku indie terbitan kalangan mereka sendiri, namun forum yang diusung tetap membuka pintu bagi kalangan mana pun.
Dan lagi, tidak semua buku terbitan indie mesti dibeli. 2015 lalu misalnya, saya mendapat buku gratis, kumpulan puisi Mata Air dan kumpulan tulisan Suara-suara Pendatang. Syaratnya? Hanya datang pada saat acara berlangsung. Buku indie jenis ini, memang ditujukan sebagai media kampanye dan juga edukasi hingga dibagikan gratis.
Terakhir… semoga Indie Book Corner di Togamas segera terealisasi ya!

Thursday, December 15, 2016

Vonis Jatuh Cinta


Jatuh cinta, pada nyatanya adalah vonis yang kamu jatuhkan sendiri. Seperti pada suaranya yang pertama, yang katamu kritis lagi memesona. Kamu memberi vonis padanya, bahwa dia bakal jatuh cinta padamu. Celakanya, kamu tidak mengerti, bahwa vonis itu juga berlaku buatmu.

Ini seperti saat Dilan mengarang sebuah ramalan di hadapan Milea, bahwa Milea bakal jatuh cinta padanya.

Dan dengan vonis jatuh cinta, belum berarti kamu siap pada kerumitan-kerumitan yang menahun pada berikutnya…

'Cause everything's so wrong
And I don't belong
Living in your
Precious memory





Wednesday, December 14, 2016

Di Persimpangan Jalan Kesalehan

Sumber: Gugel

Di persimpangan jalan kesalehan, kita berdiri bertatapan. Kamu berdiri di cabang jalan yang penuh perayaan, sedang saya berdiri di cabang jalan yang penuh kesenyapan.

Di persimpangan jalan kesalehan. Kamu memilih perayaan, sedang saya memilih kesenyapan.

Di persimpangan jalan kesalehan. Kamu dan saya berjalan bersinggungan kemudian…

Catatan: Oleh sebab karena, esai Emha Ainun Nadjib, berjudul Perayaan Kesalehan. Dan oleh sebab karena, kehilangan yang atas nama kesalehan.

Monday, December 12, 2016

Up


Sumber: Gugel

Kamu tahu? Melarikan diri, adalah bagian dari kita semua. Sebagian melarikan diri, dengan hubungan bersama orang yang salah pada berikutnya. Sebagian lagi, melarikan diri pada bidang yang paling disukai, mengepul hasil dari mimpi sebanyaknya.


Mana yang sesungguhnya obat?

Sunday, December 11, 2016

Mimpi VS Ekspektasi


Ajari mereka bermimpi, bukan berekspektasi. Mimpi itu bisa diwujudkan. Kalau ekspektasi, sebatas pada ambisi.

Randi Pratama

Rais, 2016

Riuh



Pada riuh yang merambat cepat…

Bersitatap

Sumber: Dokumentasi pribadi

Bersitatap dengan keburukan, lebih berani kamu hadapi, ketimbang bersitatap dengan kebaikan yang kamu ingkari.

Tuesday, December 6, 2016

Kamu Punya Uang? Stop Nonton Sirkus Lumba-lumba


Hastag stop sirkus lumba-lumba, agaknya mesti segera diganti dengan hastag stop tonton sirkus lumba-lumba. Hastag yang kedua ini, memang lebih cocok buat kita, masyarakat yang mampu membayar tiket untuk menonton sirkus lumba-lumba.
Saya kemudian ingat, bagaimana tante saya bercerita dengan polos dan gembira, ketika membawa putrinya menonton sirkus lumba-lumba. Dia bercerita bagaimana lumba-lumba yang cerdas dan menyenangkan ketika diajak berfoto. Tante saya adalah bagian dari masyarakat yang memiliki uang, namun kurang mengerti kenyataan dalam sirkus lumba-lumba, saya pun.
Amank Raya, aktivis dari Jakarta Animal AID diundang dalam talkshow The Rooftop Trans 7, yang dipandu Gilang Dirga pada, Selasa, 6 Desember 2016, menjelaskan banyak hal soal kenyataan dalam sirkus lumba-lumba yang banyak tidak diketahui orang. Salah satunya soal Indonesia, yang jadi negara terakhir yang mengijinkan sirkus lumba-lumba.  
Ternyata, peluit yang dipergunakan di sekeliling lumba-lumba, menyakiti telinga mereka. Dengan cara ini lah, mereka dipaksa melakukan atraksi. Mereka dibuat lapar dan dipaksa mendengar peluit yang menyakitkan hingga akhirnya melakukan apa yang sirkus mau. Selain itu, cara berkomunikasi lumba-lumba yang memergunakan sinyal suara, akan terganggu saat mereka diletakkan dalam kolam yang sempit. Sinyal tersebut akan memantul kepada diri mereka sendiri dan memicu stress. Stress ini lah yang membuat insting bunuh diri lumba-lumba bangkit.
Ya… lumba-lumba ternyata memiliki insting bunuh diri. Caranya? Mereka menenggelamkan diri di dasar kolam. Napas yang seharusnya diambil selamabeberapa saat di udara, tidak mereka ambil.
Amank Raya berpendapat, bahwa melakukan edukasi pada orang dewasa dalam lingkup bisnis sirkus lumba-lumba adalah percuma. Untuk itu, dirinya dan para aktivis memilih melakukan edukasi pada anak-anak.
Melakukan edukasi bagi para nelayan, yang menangkap lumba-lumba juga agaknya kurang memiliki dampak. Para nelayan ini hanya warga biasa yang membutuhkan mata pencaharian. Mereka menangkap lumba-lumba hanya berdasar pesanan. Enam hingga tujuh juta bisa mereka dapat dari satu lumba-lumba.
Lumba-lumba sendiri ternyata merupakan navigasi bagi para nelayan. Berkumpulnya lumba-lumba, merupakan tanda berkumpulnya ikan seperti tuna dan banyak lainnya. Lumba-lumba adalah bagian dari rantai makanan.
Jadi, jika anda memiliki uang, stop menonton sirkus lumba-lumba. Bunuh bisnisnya, selamatkan lumba-lumba.

Monday, December 5, 2016

Sia-sianya Kertas dan Power Point Di Masa Kuliah


Pernah dapat print out power point yang justru full dengan teks? Iya… judulnya ‘point’ tapi justru penuh dengan teks. Agaknya, power point jenis ini, lebih baik ganti nama saja jadi power text.
Apa yang kamu rasakan ketika mendapati power text di hadapanmu? Malas membaca? Pasti iya. Lucunya, meski sudah jengah melihat power text, banyak dari kita justru mengambil cara mudah dalam kesempatan presentasi, dengan ikut juga membikin power text bukan power point yang jelas mestinya menyajikan point-point.
Memang, mengopi kemudian paste file garapanmu di halaman power point jauh lebih mudah, ketimbang bekerja dua kali, menginterpretasikan tulisan yang segitu banyak dalam bagan-bagan.
Makanya, jaman saya masih aktif kuliah dulu, bagian ketikan dalam laporan atau makalah milik saya sering lebih sedikit dari teman-teman. Sebabnya, saya yang harus membikin power point. Sebagian teman menyerahkan tugas itu karena malas berkutat dengan power point yang tidak rumit tapi dianggap merepotkan. Sebagian lagi, memang menyadari bahwa membuat power point memang butuh interpretasi khusus.
Kejengahan melihat berlembar-lembar power point justru penuh berisi teks, yang mesti dicetak juga dengan banyak kertas, membuat saya mengawali perubahan dari diri saya sendiri. Saya ingat, bagaimana lembaran-lembaran kertas yang membosankan itu justru saya akhiri dengan coretan gambar atau teman-teman lain, malah dengan mudah membuang kertas yang tentu dibeli dengan uang itu.
Bahkan, cara presentasi menggunakan power point yang menarik, sampai masuk dalam materi seminar atau pelatihan yang berbayar loh. Untuk itu, setiap memeroleh kesempatan presentasi, saya makin hari makin memampatkan materi yang saya buat dalam power point. Bahkan, lama kelaman, saya terbiasa membuat satu slide power point untuk sekali presentasi. Panitia jadi irit waktu cetak atau foto copy kan? Hehe…
Berikut beberapa power point yang berusaha saya buat supaya tidak sia-sia…
Masih lebih dari 10 slide dan terlalu banyak teks. Tapi sudah memanfaatkan gambar dan animasi.
Interpretasi teks dalam ilustrasi. 
Lebih sedikit teks dan kurang dari 10 slide
Memaksimalkan fasilitas bagan dan animasi dalam power point.
Ngomong-ngomong, sedikitnya jumlah slide, juga tidak memengaruhi pemahaman peserta jadi ikut sedikit kok. Berikut slide yang hanya satu lembar dan ulasan salah satu peserta yang menunjukkan apa yang dia dapat dari sana. Ulasannya jauh lebih banyak dari slidenya loh. Bisa dibaca di Tips Cerpen Masuk Media Massa oleh Desi Ayu Suryadini.

Slide yang hanya satu lembar sekali presentasi.
Slide yang hanya satu lembar sekali presentasi.
Ada sebab mengapa power point dibuat mudah mengakses gambar dan bagan. Power point adalah pendukung. Semua pusat apa yang akan kamu presentasikan adalah dirimu sendiri.

Sunday, December 4, 2016

7 Jurusan Di Universitas Yang Cocok Dengan Kamu, Lulusan SMK Jurusan Pekerja Sosial


Pekerjaan Sosial alias Pekerja Sosial alias Social Worker, yang sayangnya sekarang berubah nama menjadi Perawat Sosial di tingkat SMK. Jurusan langka yang biasa disingkat Peksos ini, hanya ada di 18 SMK di seluruh Indonesia. Di Malang sendiri, hanya ada dua sekolah yang menyediakan jurusan ini, SMK Negeri 2 Malang dan Bhakti Luhur.
Bagi kamu yang memiliki teman jurusan Peksos atau memang lulusan Peksos, jurusan ini pasti tidak asing bagi kamu. Soal sejarah singkat jurusan unik ini bisa dilihat di SejarahJurusan Pekerjaan Sosial SMKN 2 Malang. Kemudian, soal kompetensinya, bisa kamu lihat di Kompetensi Keahlian Perawatan Sosial SMKN 2 Malang.
Meski dianggap nyeleneh dan banyak orang belum mengetahui seberapa besar prospek jurusan satu ini, ternyata kamu bisa nyekarep[1] dan tidak perlu bingung memilih jurusan yang linier ketika lulus dari SMK dan ingin kuliah.
       Jurusan apa saja sih, yang nyambung dengan kamu yang lulusan Peksos?
1.      Kesejahteraan Sosial (Kesos)
Sumber: Gugel
Di Malang, kamu bisa menemukan jurusan Kesos di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fakultas Ilmu Sosial (FISIP). Kamu juga bisa menemukan jurusan ini Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) yang ada di Bandung.
Dilihat dari segi nama, sudah jelas jika jurusan ini yang paling linier jika kamu lulusan SMK jurusan Peksos. Jurusan ini secara utuh akan membuatmu lebih mendalami apa yang kamu dapat dari SMK. Ya… tidak jauh dari istilah klien dan bagaimana menangani seseorang atau kelompok yang mengalami disfungi sosial.
Di jurusan ini, kamu juga akan tetap mendalami sasaran klien seorang pekerja sosial yang bervariasi, mulai dari anak usia dini, gelandangan, anak jalanan, anak bermasalah, orang-orang dengan kebutuhan khusus hingga lansia.
2.      Bimbingan Konseling (BK)
Sumber: Gugel
Jurusan ini juga masih linier dengan Peksos. Hanya saja, jurusan BK seperti salah satu unsur dalam dunia Peksos, yang kamu temui menjadi jurusan tersendiri. Jurusan BK berkaitan dengan dunia konseling dan kejiwaan. Soal konseling dan kejiwaan, kamu pasti sudah akrab ketika masih berkutat dengan jurusan Peksos, dalam menghadapi klien.
Jurusan BK, sedikit berbeda dengan jurusan psikologi. Jurusan psikologi memiliki sasaran yang lebih luas, baik dalam perusahaan hingga perseroangan. Sedangkan, jurusan BK lebih ditujukan pada lingkup persekolahan.
3.      Pendidikan Luar Sekolah (PLS)
Sumber: Gugel
Masih ingat dengan metode Bimbingan Sosial Kelompok (BSK) di mana salah satunya kamu bisa mengajak sasaranmu untuk outbond? Yup… di jurusan PLS, outbound termasuk dalam lingkup pendidikan nonformal yang dilakukan di luar sistem persekolahan.
Di jurusan tersebut, kamu juga bisa memelajari soal pemberdayaan masyarakat, pelatihan hingga manajemen lembaga PAUD. Jadi, ketika seorang pekerja sosial berhasil menangani klien yang seorang gelandangan nih misalnya, bisa banget selanjutnya gelandangan tersebut diberdayakan melalui pelatihan dari jurusan PLS ini. Uniknya, managemen pendidikan di PLS juga menyasar kalangan menengah atas.
4.      Psikologi
Sumber: Gugel
Sudah dijelaskan loh ya di atas, apa beda BK dengan psikologi. Seperti BK, psikologi juga jurusan yang jadi salah satu unsurnya berkaitan erat dengan Peksos. Penanganan klien secara kejiwaan sangat membutuhkan ilmu psikologi. Jadi, buat kamu yang ingin mendalami ilmu kejiwaan setelah lulus dari jurusan Peksos di SMK, bisa banget melanjutkan ke jurusan keren satu ini.
5.      Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD)
Sumber: Gugel
Masih ingat dengan istilah studi pengembangan dan peserta didik, ketika kamu menangani anak usia dini? Yup… istilah klien memang diganti dengan peserta didik dan studi kasus diganti dengan studi pengembangan, jika kamu seorang pekerja sosial yang menangi anak usia dini.
Anak usia dini, memang salah satu lahan garapan pekerja sosial. Bagi kamu yang ingin lebih khusus memelajari dunia anak usia dini, setelah lulus SMK jurusan Peksos, bisa banget mengambil jurusan yang lulusannya dianggap sebagai calon ibu atau bapak idaman ini.
6.      Pendidikan
Sumber: Gugel
Jurusan pendidikan, masih melibatkan ilmu kejiwaan dan hubungan langsung antar manusia. Ya… jurusan pendidikan apapun itu, entah matematika, bahasa inggris hingga teknik. Jurusan pendidikan apapun, masih begitu nyambung dengan kamu yang lulusan SMK jurusan Peksos.
7.      Pendidikan Luar Biasa (PLB)
Sumber: Gugel
Orang-orang dengan kebutuhan khusus, juga salah satu lahan garapan pekerja sosial. Boleh juga kamu memilih jurusan keren ini, jika ingin mendalami soal orang dengan kebutuhan khusus lepas dari SMK.
Di jurusan ini, kamu bisa lebih detail memelajari orang dengan kebutuhan khusus. Bahkan kamu juga diajak memelajari mereka hingga karakteristik fisik, mirip jurusan kedokteran gitu…

     Bagi teman-teman yang mau sharing soal jurusan yang nyambung, tapi belum saya bahas di atas boleh banget loh sumbang pendapat. So, masih bingung lepas lulus mau masuk jurusan apa?




[1] Bebas memilih

Friday, December 2, 2016

Menanti Blanggur

Dimuat di Ruang Scripta, Jawa Pos, Radar Malang, Minggu, 27 November 2016
Dapat juga dibaca di http://www.pelangisastramalang.org/menanti-blanggur/

Langit hampir gelap, namun Aliman dan Yohan masih duduk di salah satu anak tangga di bibir gang kampung. Mata mereka terpaku menatap lagit, pun mata anak-anak lain yang sebaya dengan mereka.
Tidak lama, suara ledakan dan percikan api terdengar bersusulan. Langit yang hampir gelap sekarang dihiasi percikan api yang mekar mirip kembang.
“Blanggur! Blanggur!” jerit anak-anak yang sedari dari duduk di sepanjang tangga, termasuk Aliman dan Yohan.
Mereka berjingkrak dan kemudian berlarian dengan telanjang kaki sambil masuk ke dalam kampung. Setelahnya, barulah mereka masuk ke dalam rumah masing-masing.
“Besok lagi ya, Man!” teriak Yohan sebelum masuk ke dalam rumahnya yang memiliki pagar tinggi.
Belum sempat Aliman mengangguk mengiyakan, Yohan sudah menghilang dari balik pagar rumahnya. Aliman kemudian buru-buru masuk dalam rumahnya yang berjarak beberapa rumah saja dari rumah Yohan.
Sudah waktunya berbuka puasa, emak pasti sudah menunggu, batin Aliman.
***
Aliman tidak pernah terlalu mengerti, mengapa dirinya berkulit gelap sedang Yohan memiliki kulit terang. Yang dia mengerti, emak selalu menempeleng kepalanya, saat berani memakan makanan yang diberikan teman yang sudah bersama dengannya sebelum masuk sekolah dasar itu.
“Iman! Kamu sepeti orang yang kurang makan saja!” jerit emak saat tahu Aliman memakan makanan dari Yohan.
Sebaliknya, Yohan begitu bebas menerima makanan dari Aliman. Ibunya tidak pernah menempeleng kepalanya saat tahu dirinya menerima makanan dari Aliman.Padahal, makanan yang Aliman berikan begitu sederhana, tidak jauh dari roti moho atau lupis dan getas. Sedangkan, makanan yang didapat Aliman dari Yohan justru makanan yang jarang sekali dia dapat seperti dimsum daging.
Ibu Yohan yang ramah dan berkulit terang itu, juga sering melarang putranya berbagi maka dengan Aliman kecuali beberapa keripik kentang. Aliman tidak pernah mengerti…sungguh-sungguh tidak mengerti. Namun dia mengerti bahwa mata sipit Yohan dia dapat dari ibu dan bapaknya yang memiliki mata yang sama, juga nenek dan kakak perempuannya.
***
Blanggur hanya datang sekali setahun, sebulan penuh ketika bulan puasa. Kembang api yang menyala sebelum adzan magrib itu, datang dari masjid agung Jami’. Sebuah masjid besar yang letaknya ada di depan alun-alun kota Malang.
Aliman sore itu menanti blanggur, bersama banyak anak-anak sebayanya. Seperti sore-sore sebelumnya, dia duduk di samping Yohan di sepanjang tangga di mulut gang. Nyala blanggur yang begitu keras dan membumbung sangat tinggi melebihi atap masjid, membuatnya dapat dilihat dari kampung-kampung yang ada di sekitar masjid.
Selain karena kesenangan, Aliman tidak pernah mengerti kenapa Yohan juga senang menanti blanggur. Tidak sepertinya yang di bulan puasa tidak makan dan minum sampai muncul blanggur, Yohan berkali-kali didapati Aliman makan di siang hari. Berkali-kali pula, ibu Yohan menegur halus Yohan sambil mengajaknya untuk makan di dalam rumah saja, meski Aliman sudah terlanjur ngiler.
  Meski tidak pernah mengerti, Aliman tidak pernah bertanya. Dia sudah cukup senang bisa melompat-lompat dan berteriak girang bersama Yohan saat blanggur datang. Bahkan hingga bertahun kemudian, ketika blanggur tidak lagi pernah datang, Aliman dan Yohan tetap berlarian bersama di dalam kampung.
***
Lelaki yang ada hadapan Aliman itu tetap sama. Kulitnya tetap terang dan matanya tetap sipit. Namun kini perutnya membuncit dan ada seorang gadis berusia enam tahun dalam gendongannya. Yohan dan putrinya yang ketiga…
“Kamu ingat emakmu dulu tidak, Man? Dia sering menempelengmu saat menerima makanan dari aku.” Ucap Yohan disusul gelaknya yang kemudian juga bebaur dengan gelak Aliman.
“Blanggur sayangnya tidak pernah datang lagi ya, Man?” Yohan kembali berucap lebih kepada dirinya sendiri.
Tidak lama, seorang perempuan berkulit gelap muncul membaca dua mangkuk makanan. Perempuan itu diperkenalkan Yohan sebagai istrinya.
Setelah bersalaman singkat dengan istri Yohan itu, Aliman buru-buru mengintip isi mangkuk yang ada di hadapannya. Dimsum daging…
“Tenang saja, Man. Itu bikinnya dari daging ayam kok.” Kata Yohan seolah bisa menebak keraguan Aliman.
Mereka berdua kembali tergelak. Lepas…

CATATAN: Untuk Hari Toleransi Internasional, 16 November 2016
Poppy Trisnayanti Puspitasari, merupakan mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang.

Perlukah Anak-anak Diberitahu Soal Dunia Yang ‘Abu-abu’?


Teman saya Nai, menceritakan bagaimana dirinya yang selalu masuk madrasah hingga Aliyah atau setara dengan SMA. Dia kemudian kaget, mendapati beberapa kelakuan ganjil teman-temannya yang dulu tidak pernah dia dapati di sekolah, saat kuliah.
Keganjilan bagi Nai, justru bukan hal asing bagi saya. Saya sendiri pernah masuk di sebuah SMK dengan latar belakang campuran para siswanya. Sebagian siswa memang membawa nama sekolah hingga nasional, sebagian lagi justru kesehariannya ditemani gosip bahwa dirinya adalah perempuan panggilan.
Nai menyebut kehidupan ganjil dari kampusnya sebagai bagian under cover. Ini juga mengingatkan saya soal seorang teman satu angkatan, yang pernah jadi bahan pembicaraan teman-teman kampus. Saya jujur saja mengagumi sikap tanggungjawab dan semangat belajar teman perempuan yang jadi bahan pembicaraan itu. Namun saya juga merasa ganjil dengan cara berpakaiannya yang sudah sesuai dengan tata cara beragama, sebaliknya dia begitu lengket saat berfoto dengan pacarnya.
“Dia dulu nggak begitu jaman masih di pondok.” Komentar seorang teman.
Saya juga ingat, bagaimana teman sekelas saya di SMK yang cerdas dan masuk dengan nilai rata-rata cukup tinggi, berubah selama tiga tahun di SMK. Kesehariannya jadi sekadar memikirkan lelaki yang dipacarinya.
Saya (paling kiri) bersama beberapa teman sekelas di SMK.
Pernah juga teman saya itu curhat pada saya, soal perubahan yang dia rasakan,”Aku merasa selama ini aku berubah, Pop. Aku nggak kayak SMP dulu. Aku sekarang melulu mikir cowok. Kamu bisa bantu aku biar nggak gini lagi?” dan sayangnya, kesadaran teman saya itu hilang cepat-cepat. Dia yang sebenarnya berpotensi melanjutkan kuliah dan jadi bintang di tempat pekerjaan berjenjang karir, akhirnya memilih menikah muda dan bekerja di pusat perbelanjaan yang tidak memiliki jenjang karir.
Beberapa minggu lalu, saya juga bertemu seorang tetangga yang putranya hendak masuk SMA. Tetangga saya itu bercerita pada ayah saya, soal kekhawatirannya perkara akhlak di jaman sekarang. Maka dia memutuskan memasukkan putranya di sebuah sekolah agama. Berharap ahlak putranya terjaga dengan memasukkannya di sekolah berlandaskan agama.
Kekagetan Nai, perubahan teman seangkatan saya semasa di pondok hingga kuliah dan juga si cerdas teman sekelas saya di SMK, menunjukkan bahwa lingkungan abu-abu tidak bisa dihindari. Kalau pun seperti Nai, dirinya hanya ada di lingkungan ideal hingga masuk Aliyah atau setara SMA. Tidak bisa dihindari, banyak sisi yang menurutnya under cover sejak dirinya masuk kuliah, meski kampusnya juga berlandaskan agama.
Pertemuan saya dengan Ratih Nur Asih beberapa bulan lalu, teman sekelas di masa SMK yang tidak juga berubah hingga saat ini, menyadarkan saya, betapa masih ada orang yang kuat seperti Ratih. Ratih tetap sama, rambutnya tetap sepanjang punggung dan tetap tekun bekerja di sebuah restoran cepat saji.
Ratih membawa beberapa cerita sedih, soal teman sekelas kami yang ditinggal kabur sang suami setelah melahirkan. Saya ingat, teman itu memang salah satu dari beberapa teman yang sudah menerima uang belanja dari pacar-pacar mereka di masa SMK.
“Ya… kamu tahu sendiri lah, Mak[1]. Cowok kalau mau kasih sesuatu, mereka minta apa coba?” ucap Ratih, saat menanggapi soal uang belanja dari pacar.
Saya dan Ratih Nur Asih saat bertemu di CFD.
Ratih sendiri berbaur dengan sangat baik pada siapa saja selama SMK. Namun, saya tidak mendapati dirinya ikut melulu memikirkan siapa lelaki yang dipacari, seperti teman-teman yang lain. Dirinya selalu fokus menjadi perempuan yang setidaknya bisa menghidupi dirinya sendiri.
“Aku juga ingat kamu dulu waktu SMK, Mak. Kamu selalu bilang ingin sekolah dan sekolah, pokoknya sekolah.” Gelak Ratih kemudian saat mengenang saya.
Dan saya memang ada di sini sekarang, sedang menyelesaikan kuliah sambil menyerap lingkungan produktif di lingkup komunitas. Jadi, perlukah anak-anak diberitahu soal dunia yang sesungguhnya abu-abu?




[1] Banyak teman akrab memanggil saya Emak yang artinya ibu, dalam bahasa Jawa.

Thursday, December 1, 2016

Maiyahan Rasa Asing Ala ASC feat BDM Al-Hikmah UM


Saya dan Nai memutuskan datang tanpa tiket menuju Graha Cakrawala, lokasi UM Mengaji bareng Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun. Ya… saya mahasiswi UM, namun justru tidak kebagian tiket.
Mas Viki Maulana teman Gubuk Tulis dan Gusdurian yang baby sitter-able, justru gedabyahan[1] via telepon, mencarikan saya dan Nai dua lembar tiket. Akhirnya dapat. Lucunya, saya justru kebagian tiket dari mas Billy Kobra yang bernama asli M. Dihlyz Yasir, mahasiswa UIN yang hobi nyepik[2], sembari baca puisi dan mengaku sebagai penikmat kopi.
Sampai di depan gerbang Graha Cakrawala. Saya langsung merasa asing. Teriakan soal peserta tidak bisa masuk tanpa tiket, terus bersusulan dari panitia yang berjaga di depan pintu. Soal ini, saya maklum. Acara memang diutamakan bagi mahasiswa baru. Bahkan tiket untuk umum baru dibuka Sabtu, 26 November 2016. Namun, Senin, 28 November 2016, tiket untuk umum justru sudah dinyatakan habis. Tiket sendiri bisa diambil di kantor UKM ASC (Unit Kegiatan Mahasiswa Al-Qur’an Study Club), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan BDM Al-Hikmah (Badan Dakwah Mahasiswa Al-Hikmah).
Banner resmi dari BDM dan BEM UM
Saya jadi bertanya-tanya, apa pada hari minggu, antara tanggal 26 hingga 28, pos-pos di mana tiket bisa diambil ini buka? Atau ada sistem titip menitip antar kenalan? Belum lagi simpang siur soal tiket yang jelas di pamflet bertulis ‘Gratis’, namun ada oknum yang mengatakan tiket tersebut berbayar. Maiyahan sendiri selalu gratis di mana pun lokasi pengadaannya.
Soal tiket, semua pasti bisa maklum. Graha Cakrawala adalah gedung yang meski punya ruang yang besar, juga memiliki kerterbatasan kapasitas. Tiket pasti dimaksudkan untuk memberi keteraturan selama di dalam gedung, jangan sampai over capacity [3] mungkin begitu. Bisa banyak peserta yang pingsan, jika sirkulasi di dalam gedung tidak ditata sedemikian baik. Memang akan berbeda dengan acara serupa yang biasa diadakan di lapangan lepas, tanpa tiket dan semua orang bebas masuk karena tidak dibatasi kapasitas.
Sedihnya juga, salah seorang oknum BEM yang saya datangi, hanya mengatakan jika tiket habis. Dia tidak menginformasikan soal keberadaan layar tancap di parkiran luar Graha Cakrawala yang ternyata bisa diisi manusia yang tidak kebagian tiket. Dia juga sekadar mengatakan bahwa tidak bisa dan tidak bisa, saya tiba-tiba datang tanpa tiket. Semoga saja si oknum BEM tersebut tidak menginformasikan karena lupa, sedang banyak pikiran atau sungguh tidak tahu. Bayangkan betapa anu hati seorang yang berniat maiyahan live dan begitu percaya soal aturan tiket namun tidak mendapat informasi yang cukup. Apa niatnya itu tidak berakhir di layar Youtube pada akhirnya? 
Tidak seperti acara serupa yang biasa dilaksanakan bareng Cak Nun. BEM dan BDM mengusung tajuk ‘Mengaji’, bukan ‘Dialog’ atau ‘Ngopi Bareng’. Dari sini, sudah mulai rasa asing terasa. Namun, lagi-lagi bisa dimaklumi karena BDM tentu membawa misi keislaman dan setiap tahun memiliki ragam program yang diwajibkan bagi mahasiswa baru. Meski tajuk ‘Mengaji’ seperti garis batas yang tegas bahwa acara tersebut hanya diperuntukkan bagi muslim.
Padahal, pernah acara serupa diadakan di kampus Sebut Saja Anu di kota Malang. Kebetulan saya absen. Seorang teman menanyakan keberadaan saya hari itu. Dia menceritakan bagaimana dia duduk di bagian belakang bersama pria-pria berambut gondrong dan bertato. Bahkan dirinya juga datang bersama kawannya yang bukan seorang muslim. Tajuk yang diangkat di kampus Anu itu tentu saja ‘Ngopi’, seperti tajuk yang biasa dipakai dalam acara serupa.
Sebelum saya dan Nai diantar masuk barisan oleh mas Viki, Nai mengobrolkan soal banner acara yang bertulis ‘Wajib Bagi Muslim’. Maiyahan[4] hari itu, makin terasa asing.
C*uk nggilani, ora toleran blas.[5]” Umpat mas Viki menanggapi informasi dari Nai.
Susana dalam Graha Cakrawala. Sumber: Naila Kamaliya
Saat kami masuk barisan pun, barisan dibagi atas dua lajur. Laki-laki dan perempuan. Ini berbeda jauh dari acara serupa yang membebaskan lelaki dan perempuan berbaur. Laki-laki di jalur kiri, sedang perempuan di jalur kanan, begitu pula saat di dalam dalam gedung selama berjalannya acara. Ya… meski mas Billy tidak mau ambil soal. Dia tetap duduk di samping teman perempuannya di dalam gedung.
Cak Nun barangkali sudah mengetahui soal konsep Maiyahan ala BEM dan BDM UM ini. Saya yakin, beliau menghormati betul tata cara yang dianggap menuju kebaikan di lokasi tempatnya diundang ini.
Namun,  konsep yang demikian tentu membikin teman-teman yang baru kali pertama Maiyahan, mengira ini memang konsep yang biasa diusung ketika Maiyahan. Saya sendiri memang baru datang langsung Maiyahan tahun lalu. Sebelumnya, saya cuma membaca karya Cak Nun lewat buku. Bahkan dengan polos, saya bertanya pada mas Denny Mizhar, teman Pelangi Sastra Malang, apa saya harus berjilbab ketika datang Maiyahan? Mas Denny mengatakan, bebas.
Tema-tema yang diangkat Cak Nun pun bukan soal bagaimana kamu mesti sholat dan di mana letak surga dan neraka. Tema-tema yang diangkat justru dekat dengan masyarakat, keseharian, negara dan intelektualitas.
Lepas siapapun kamu, bertato atau tidak lenganmu, berjilbab atau belum kepalamu, di mana pun rumah ibadahmu, Maiyahan adalah kamu…




[1] Wara-wiri tingkat akut.
[2] Menggombali
[3] Melebihi kapasitas
[4] Maiyah, sebutan bagi orang-orang yang mengikuti Ngopi bareng Cak Nun. Orang Jawa senang menambahkan tambahan ‘an’ untuk memertegas istilah.
[5] “(Umpatan) menjijikkan, tidak toleran sama sekali.” Umpat Mas Viki menanggapi informasi dari Naila.