Showing posts with label Ngoceh Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Ngoceh Pendidikan. Show all posts

Tuesday, September 23, 2025

Kelainan Motorik Halus

Saya waktu umur 2 tahun. Sumber: dokumentasi pribadi

Barangkali orang-orang tidak menyangka, saya yang kalau nulis ndakik kesana dan kemari, juga seolah melek isu tertentu ini ternyata hingga kelas empat SD kesulitan membersihkan sisa sabun di sela telinga setelah mandi. Lebih jauh, saya tidak bisa lipat baju dan menjahit hingga hari ini. Parah lagi, saya baru bisa menyisir rambut, potong kuku kaki, membersihkan telinga dan memasang pembalut dengan benar ketika masuk mahasiswa baru, 18 tahun.

“Kamu ini gangguan motorik halus...” ucap seorang dokter psikiatri kenalan saya.

Setelah ditelusuri, ibu bercerita saya memang pernah jatuh dan kepala belakang terbentur keras ketika bayi. Soal intelegensi, memang tidak pernah ada masalah. Malah saya bisa berbicara tanpa cadel sejak usia 1,5 tahun. Namun sepanjang masa pertumbuhan, justru ingatan saya dipenuhi ibu yang kerap melakukan kekerasan fisik maupun verbal saking bingungnya dengan perkembangan saya yang tidak sesuai teman sebaya.

Di keluarga kami, tidak ada yang punya bekal pengetahuan pola asuh, mengakses psikolog dengan kondisi ekonomi waktu itu pun mustahil. Bagaimanapun saya diajari menjahit lubang sederhana, saya tidak pernah bisa. Bagaimanapun saya berusaha memotong kuku kaki sendiri, sangat sulit juga. 

Hingga kelas 12, saya tidak tahu kapan mestinya mengganti pembalut ketika mens dan bagaimana cara memasang yang benar. Orang barangkali dengan mudah menuduh ibu tidak becus mengajari, tapi bagaimanapun diajari bahkan hingga dimarahi, saya memang tetap kesulitan. Jadilah tiap mens, kerap kali darahnya merembes pada baju dan di manapun saya duduk. 

Ya, betul... Cocok disebut terbelakang bukan? Tapi karena di SMK akademis saya bagus dan punya teman sangat banyak, tidak ada yang sadar kekurangan fatal saya pada hal-hal tadi. Sampai sekarang pun, saya tidak bisa menguncir rambut dengan rapi apalagi mengepangnya sendiri.

Dari semua kekurangan itu, saya menutupi dengan bepergian kemana-mana membawa baju yang tidak perlu disetrika. Baju-baju itu saya gulung juga sehingga tidak perlu dilipat. Jadi saya tetap bisa mandiri meski tanpa dibantu orang lain. Meski begitu, pernah juga menyesal karena mas-mas crush semasa kuliah minta tolong jas untuk dia tampil dilipatkan dan betulan... Saya nggak bisa. Haduh, gagal mbribik dong akutuch...

Ketika ibu saya beri tahu hasil analisa bu psikiater ini, tentu saja ia menyesal. Ibu sadar harusnya saya dulu butuh terapi. Tapi saya katakan, hari ini pun bisa diperbaiki meski pasti butuh waktu melebihi orang normal. 

Jika pekerjaan semacam menyapu, mencuci baju atau piring bisa saya lakukan karena berlatih sejak SD dan fasih ketika SMP. Menjahit dan pekerjaan yang lebih halus tentu butuh waktu lebih panjang. Semacam saya yang enam tahun menjalani menstruasi baru bisa pasang pembalut dengan benar. Juga semacam saya yang berlatih dari SMP hingga SMK memotong kuku kaki, membersihkan telinga dan baru bisa melakukannya saat mahasiswa baru.

Meski demikian, hari ini saya menghargai semua usaha keras mengatasi gangguan motorik ini sepanjang hidup. Karena begini-begini... saya yang sekarang sudah bisa bungkus kado dan pasang sampul buku sendiri ehe...

Wednesday, July 17, 2024

Surat Cinta Untuk Cimoy 'Nuraini' Montok

 

Moy, apakah para orang dewasa di sekitarmu pernah mengatakan risiko dari menunjukkan diri sebagai seorang Cimoy? Apakah mereka bilang bahwa viral adalah industri? Pilihannya hanya dua; perayaan cinta atau kebencian. Bisa juga kamu memilih di antaranya, namun prosesnya bakal agak panjang. Kamu mesti menunjukkan apa kemampuanmu. Menyanyi? Akting? Apa pun yang tanpa sensasi. Tapi bukankah menjalani industri yang tanpa sensasi bakal cukup lama mendapat hasil?

Moy, saya pernah melihat Prabowo ‘Mondardo’ Alpenliebe main sinetron di MNC. Pengamen Jalanan Terkenal Karena Viral di Media Sosial judulnya dan akting Bowo di sana baik sekali. Cowok yang kabarnya dekat denganmu ini tampaknya berbakat soal akting. Saya harap, ia lebih banyak diajak main sinetron dan bahkan film. Tidak hanya itu, harapan saya kamu pun dapat kesempatan serupa. Mungkin kedekatan kalian bisa membangun dengan belajar akting bareng.

Moy, jangan dengerin orang-orang yang suka jahat sama kamu ya. Kamu harus ingat kalau kamu adalah remaja lima belas tahun normal yang butuh aktualisasi diri. Semua orang di usia yang sama memang begitu. Orang-orang yang suka menghujat kamu mungkin lupa kalau mereka juga cari pengakuan di umur yang sama dengan kamu. Saya harap mereka berhenti membebani kamu dengan standar yang mereka ciptakan ya, Moy.

Moy, saya pernah melihatmu melakoni wawancara di salah satu channel Youtube. Setiap perkataanmu yang dianggap kasar atau nyeleneh oleh mereka justru mendapat sorakan dan tepuk tangan. Barangkali ini membuatmu mendapat konfirmasi bahwa yang kamu lakukan itu lucu, menyenangkan hingga disetujui. Padahal ternyata, channel tersebut membuka deskripsi yang memungkinkan orang berkomentar apa pun tentangmu. Mereka pula yang meletakkan pin pada komentar orang yang mengolokmu. Semoga lain kali nggak ada lagi channel toxic kayak gini lagi ya, Moy.

Moy, saya juga melihatmu diundang stasiun televisi swasta bersama seorang Youtuber yang umurnya lebih tua darimu. Orang-orang dewasa di stasiun televisi itu terus menggosok pertikaian kalian. Apakah di balik layar mereka mengajarkan padamu caranya menyelesaikan konflik? Ataukah mereka memberimu contoh bagaimana cara menjual pertikaian? Orang-orang dewasa seperti itu jangan pernah dicontoh ya, Moy. Mereka hanya peduli dengan popularitas, tapi nggak pernah peduli dengan nilai. Itu contoh orang dewasa yang buruk. Jangan jadi seperti mereka.

Moy, Nyai Nikita Mirzani pergi ke rumahmu dan melihat keadaan keluargamu. Saya melihat kerasnya kehidupan keluargamu dan barangkali mereka tidak bisa mengikuti dalam duniamu yang sekarang. Mereka mungkin juga tidak bisa memberimu saran mesti mendekat atau menjauhi teman yang bagaimana. Tapi yakinlah, Moy… Nyai benar soal kamu mesti sekolah. Katakan pada manajermu, penghasilan mesti disisihkan buat sekolah. Tentu tidak harus formal, kamu bisa ambil paket B dan C yang tidak menganggu waktumu bermain dan bekerja di dunia hiburan. Entah apa kelak fungsinya ijazahmu, buktinya baru bisa dirasakan barangkali lima tahun lagi.

Moy, orang-orang dewasa di sekitarmu sekarang barangkali terus mengarahkanmu buat mengasilkan uang. Tapi, Moy… sungguh kamu berhak menuntut mereka yang lebih berpengalaman di dunia hiburan dan lahir lebih dulu darimu itu untuk jujur mengatakan, berapa lama cara-cara yang mereka berikan padamu itu bertahan dan bagaimana hidupmu kelak berlanjut ketika setuju dengan apa yang mereka tawarkan.

Moy, bersenang-senanglah. Ini semua popularitasmu dan hasil kerja kerasmu. Namun dirimu sendiri harus menjamin, ada pendidikan dan tabungan untuk hari-harimu berikutnya. Jika orang dewasa di sekitarmu tidak mengarahkanmu buat mendapat dua hal ini, kamu tentu berhak menuntutnya karena ini sekali lagi popularitasmu, juga kerja kerasmu. Mereka tentu turut andil tapi bukankah pemantiknya adalah kamu?

Yang terakhir, Moy. Semoga kamu selalu sehat dan produktif. Masamu masih panjang. Lindungi dirimu sendiri karena saat ini, kamu adalah penghasil popularitas dan uang yang siapa pun ingin mendekat meski entah ingin berteman atau tidak.

Ditulis dan dimuat April 2020. Beserta editan khas tim Mojok.

Monday, September 18, 2023

Asuh


Tante dan ibu. Sumber: dokumentasi pribadi yang dijepred oleh tukang foto keliling.


Ibu punya kepribadian lebih terbuka, senang bergaul, tidak begitu tertarik dengan anak-anak dan berani mencoba hal baru; naik sepeda yang jauh lebih tinggi dari tubuhnya sebagai misal. Tante sebaliknya,  lebih tertutup, lebih senang bermain sendirian, telaten dengan anak-anak dan mudah trauma; ketika dewasa pernah sekali jatuh naik motor dan tidak mau naik lagi hingga hari ini.

Namun semasa kecil, ibu saya justru mengenang nenek sebagai orang tua yang tidak adil. Setiap ibu naik sepeda, nenek tidak pernah heboh, memuji tidak, memberi uang saku apalagi. Sebaliknya ketika tante yang naik sepeda, nenek memuji-muji, memberi uang saku pula.

Meski ketika dewasa ibu menyadari, yang demikian adalah upaya nenek melindungi tante yang sulit bergaul dan mudah trauma. Jadi nenek tidak menyadari upaya-upayanya ini membuat anaknya yang lain cemburu. Nenek pikir, ibu saya yang mudah bergaul dan berani mencoba hal baru berarti tidak punya masalah.

Dengan keterbatasan pengetahuan soal pola asuh, nenek berusaha adil terhadap anak-anaknya. Ia berusaha mendukung hal-hal yang dianggap bisa jadi modal hidup tante, meski akhirnya membuat ibu yang dianggap sudah punya modal hidup tadi jadi terluka karena mengira nenek kasih sayangnya timpang. Hingga membuat saya pun memahami... Tidak ada pola asuh yang sempurna. Tiap orang tua punya tantangan dan formula masing-masing dalam mengasuh anak-anak mereka.

Tuesday, November 16, 2021

Si Culun dan Pergaulan Bebas

 

Sumber: Instagram Kalis Mardiasih

Mbak Kalis Mardiasih menulis Bagaimana Anak-anak Bisa Menjadi Pelaku Pelecehan dan Kekerasan Seksual di Instagramnya 14 November 2021. Pada slide ke tujuh, saya ingat bagaimana terlalu bangganya keluarga besar terhadap saya yang disebut tante sebagai ‘awet culun’.

“Biarkan pengalaman tentang tubuh dan seksualitas anak berjalan normal, namun sambil terus menemani pengalaman itu.

Misal, ketika anak mulai naksir seseorang. Terima kondisi itu sebagai pengalaman yang normal. Jelaskan kepada anak bahwa saat naksir seseorang, beragam hormon dalam tubuh bekerja secara biologis sehingga menghasilkan rasa ingin menggandeng lawan jenis, jantung deg-degan, susah makan, dan lain-lain. Pengalaman tiap orang beragam, tapi semua pengalaman tubuh itu BISA DIKENDALIKAN sehingga tidak merugikan orang lain dan tidak merugikan diri sendiri.”

Menstruasi pertama di usia dua belas tahun, akhir sekolah SD karena lahir saya Juni dan selalu tambah usia di pergantian tahun ajaran baru, membuat mama nampak kecewa. Mama bilang, dirinya baru menstruasi waktu SMP, itu pun masuk SD usia 7 tahun, sedang saya 6 tahun.

Mama yang kelahiran 60an akhir selalu meyakini, anak perempuan yang mens lebih awal pasti karena pola pikirnya sudah terlalu ‘dewasa’, sudah tahu memikirkan lelaki. Salah seorang teman sekelas pun terlihat tersenyum puas waktu mendapati saya mens di akhir kelas 6. Dia yang pernah bikin heboh dan disidang para guru setelah ketahuan berduaan dengan teman lelaki yang disebut pacar dalam kamar mandi berkata,”Cepat juga ya kamu mens...”

Sampai akhir SD, memang si teman ini belum mens juga. Dari wajahnya ia terlihat mengamini, mens lebih awal adalah salah.

Tapi ternyata, saya sibuk naksir Shingo Aoinya Captain Tsubasa dan jatuh cinta pada Gaaranya Naruto, menulis novel, belajar menggambar, mimpi pergi ke Jepang hingga beberapa tahun berikutnya. Seorang teman lama malah bercerita, dia pacaran sejak kelas 7 dan baru mens ketika kelas 9.

Sedang saya baru benar-benar tertarik berkomunikasi lebih dekat dengan laki-laki dan berinteraksi di dunia nyata ketika 18 tahun, mahasiswa baru. Beragam kisah cinta pun baru dimulai hari itu.

Apakah untuk perempuan yang lahir di tahun 90an saya tergolong telat puber? Entah juga. Toh, barangkali di luar sana banyak yang mengalami hal serupa hanya saja kami tidak saling bertemu.

Seorang teman yang dokter psikiatri mengatakan, tidak terlalu tertariknya saya bicara seks hingga hubungan dengan komitmen lebih lanjut seperti pernikahan, itu normal, hanya belum waktunya saja bagi saya. Seorang teman yang kuliah di jurusan Bimbingan Konseling menolak asumsi bahwa saya seorang aseksual dan mengatakan,”Kupikir karena sibuk dengan dunia samean sendiri aja, Mbak...”

Meski telat puber ini ternyata membingungkan hingga hari ini. Karena di masa mulai naksir cowok pun, saya tidak terpikir memegang tangan atau kontak fisik lain. Pikir saya, berbagi emosi saja sudah cukup sehingga ketika ada yang curi-curi kontak fisik, meski tidak berniat melecehkan, saya bahkan baru ngeh sekarang-sekarang ini kalau itu namanya curi kesempatan.

Misalnya seorang teman laki-laki yang menuntun saya sehabis kecelakaan karena kaki waktu itu pincang. Sodoran tangan dan getaran dari sana tidak saya pahami waktu itu sebagai reaksi biologis setelah kontak fisik dengan orang yang dia suka. Dia hanya mengungkap rasa sukanya dengan membantu saya berjalan, tapi bonusnya rasa senang dan getaran itu dia rasakan. Saya hanya terheran-heran waktu itu semacam, anak ini waktu nuntun aku kok ada yang beda itu apa ya?

Sedang di keluarga besar, tante menjuluki saya ‘si awet culun’. Merujuk perilaku yang dianggap awet anak-anak karena tidak menunjukkan tertarik berkomunikasi dengan lawan jenis di dunia nyata hingga usia akhir belasan. Ada rasa bangga terlihat dari ucapan tante. Mama pun sama, ia selalu terlihat lega mendapati saya yang tampaknya telat puber.

Hal ini beda jauh dengan sepupu perempuan saya, anak dari pakpo. Ya, mama memang tiga bersaudara. Sepupu saya ini sering jadi bahasan utama di keluarga karena pacaran sejak SD.

Bahkan baru-baru ini, ia mengaku dulu sering disidang keluarga karena perilakunya dianggap berbahaya. Keluarga agaknya takut ia terlibat pergaulan bebas. Setiap selesai menceritakan kekhawatirannya soal si sepupu ini di rumah, mama selalu melihat saya dan ada rona syukur melihat anaknya masih sibuk dengan dunia Narutonya. Wajah mama seolah berkata,”Anakku awet polos, pasti selamat dari pergaulan bebas.”

Meski ketika dewasa, saya baru memahami cara ‘menyelamatkan’ sepupu saya itu, ternyata seperti menumpukan segala kesalahan padanya. Bahwa dianggap terlalu cepat puber, seolah adalah salah sepupu saya sendiri. Tapi bagaimana bisa anak SD paham dari mana ia cepat puber? Dan mengapa yang dikhawatirkan hanya persoalan terlibat atau tidak dengan yang disebut pergaulan bebas?

“Aku dulu sampai takut mau cerita apa-apa ke samean, Mbak. Aku takut dicap nakal. Aku ngira samean dulu juga ngecap aku nakal.” Ucap sepupu saya.

Hingga tulisan ini dirilis, dalam keluarga, saya hanya pernah mengaku menjadi penyintas pelecehan, bahkan percobaan soft rape pada dua sepupu. Sepupu perempuan yang dianggap terlalu cepat puber tadi dan seorang sepupu laki-laki yang suka kebelet baku hantam ketika dengar keluarganya disenggol. Bagaimana hubungan kami saling dukung tanpa ada kata tabu ala pendidikan di masa lalu, antara kami saja yang paham. Meski beberapa waktu lalu, saya akhirnya mengaku pada mama dengan tetap tidak mau memberi detail kejadian.

Benar, si culun yang dibanggakan keluarga, dianggap bakal selamat dari yang disebut pergaulan bebas itu ternyata malah jadi korban pelecehan, hampir masuk dalam percobaan perkosaan halus dan tidak paham pula begitu itu dulu dinamakan kejadian apa. Seperti banyak orang yang lahir 90an, saya tidak diberi edukasi soal seks. Seks adalah tabu dan satu-satunya sumber selamat ya... pokoknya tidak terlibat pergaulan bebas.

Sampai ketika saya dimanipulasi secara psikis, juga digrepe-grepe ketika kuliah pun, rasanya ya... hanya paham hal itu tidak benar dan melukai. Tapi betul deh, kalau itu yang dinamakan manipulasi, pelecehan dan harusnya berhak melawan (menolak, teriak, memukul sebagai misal), saya tidak ngeh. Saya tidak tahu, hak itu ada di sebelah mana ketika kejadian.

Ketika orang-orang di keluarga, hanya memberi batas selamat dan tidak selamat, hanya perkara tidak berhubungan seks sebelum menikah, tidak tukar pasangan, apalagi hamil sebelum itu. Mereka tidak ngeh bahwa banyak kejahatan lebih besar dari standar-standar moral tadi mengintai anak-anak mereka. Kejahatan dan tantangan tiap jaman pun makin canggih dan terus berubah. Pelecehan dan kekerasan seksual menjadi salah satunya...

Bahwa seharusnya, si terlalu cepat puber dirangkul dan ditanya dari mana ia tahu sistem berpacaran di usia SD misalnya, juga si telat puber, mesti diberi tahu batasan mana yang boleh dan tidak boleh dari tubuhnya disentuh orang lain terlepas reaksi biologis dalam tubuhnya ternyata matang lebih lamban.

Dan ya, bahkan untuk berbagi hal semacam ini pun, saya lebih nyaman dengan para sepupu. Para sepupu, yang dulu oleh para orang dewasa selalu dikhawatirkan jadi anak nakal...


!!Bonus!!


Bersama kado nikahan untuk seorang sahabat. Jepreted by: salah seorang sepupu.

Sebab Kita Semua Gila Seks bisa dijadikan referensi kado manten. Jepreted by: salah seorang sepupu.




Tuesday, November 24, 2020

Anak-anak Rumit Itu Bernama Gifted


Sumber: Prenadamedia Group

Judul  : PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK GIFTED

Penulis  : Julia Maria van Tiel

Penerbit  : Prenadamedia Group

Edisi  : Pertama, September 2019

Tebal  : 184 hal

ISBN  : 978-602-383-055-8

Untuk memahami masalah sosial emosional anak gifted, kita tidak bisa hanya memahami bagaimana suatu perkembangan sosial emosional anak normal, tetapi justru kita harus memahami bagaimana karakteristik dasar anak gifted, sehingga diharapkan kita mampu mengembangkan anak ke arah yang baik. Mengasuh dan mendidik anak-anak gifted membutuhkan ketrampilan khusus, yang berbeda dengan mengasuh dan mendidik anak-anak non gifted.

Anak-anak gifted meski jumlahnya hanya 2-5 persen tetapi ia merupakan anak dengan potensi luar biasa. Bukan saja dalam bidang sains, tetapi juga seni, budaya, dan kepemimpinan. Mereka adalah produser ide yang sangat berguna demi kemajuan manusia. (Hal X)

***

Bagaimana rasanya ketika membaca cukilan dua paragraf dari buku Perkembangan Sosial Emosional Anak Gifted di atas? Terasa asing ketika kata ‘tidak normal’ bisa bersanding dengan ‘potensi luar biasa’? Ya, anak gifted tergolong anak kebutuhan khusus memang. Istilah kebutuhan khusus sendiri, selama ini lebih akrab dengan anak-anak autis, down syndrom, degradasi mental hingga tuli. Padahal, anak-anak dengan kecerdasan di atas rata-rata juga dapat digolongkan sebagai anak bekebutuhan khusus. Anak-anak ini disebut gifted yang uniknya, bahkan tes IQ tidak melulu bisa mendeteksi kecerdasan mereka.

Sebagai penulis buku, Julia Maria van Tiel sendiri memiliki latar belakang orang tua dengan anak yang merupakan individu gifted. Di antara bacaan mengenai anak gifted yang bisa dibilang tidak sebanyak buku-buku dengan bahasan anak kebutuhan khusus jenis lain di Indonesia, Julia sejak tahun 2000 justru sudah menjadi advokator anak gifted. Perkembangan Sosial Emosional Anak Gifted (selanjutnya disebut PAG) hanyalah salah satu dari sepuluh buku yang pernah ditulisnya. Kesepuluh buku tersebut antara lain membahas anak berkebutuhan khusus seperti disleksia, terlambat bicara, hingga ADHD dan empat di antaranya membicarakan anak gifted secara khusus.

Terdiri dari lima bab, PAG ditulis berselang-seling antara perkembangan anak normal dan anak gifted. Misalnya pada bab tiga, kelekatan pada anak normal dituliskan dalam tiga sub bab, baru setelahnya kelekatan anak gifted dibahas dalam sub bab berikutnya. Dengan demikian, PAG dapat dipahami siapa saja meski belum pernah memelajari psikologi umum maupun khusus sebelumnya.

Pembaca tidak bakal disuguhi definisi tunggal mengenai anak gifted dalam buku ini. Barangkali, definisi tunggal telah dijelaskan Julia melalui beberapa buku tulisannya yang lain. Sedang PAG memang berfokus pada bahasan perkembangan sosial dan emosional. Selain menjelaskan perkembangan sosial emosional anak normal dibanding anak gifted, dalam buku juga dijelaskan contoh-contoh kasus dari teks yang telah diterjemahkan oleh penulis.

Teks yang diterjemahkan oleh penulis dan menjadi contoh kasus, antara lain mengenai daya ingat anak gifted yang luar biasa. Contoh kasus tersebut diambil dari sebuah keluarga yang mengasuh individu gifted di negara lain. Sebelum contoh kasus tersebut dijabarkan, rentang daya ingat anak normal terlebih dahulu disajikan, sehingga pembaca mampu melihat perbedaan perkembangan daya ingat antara anak normal dengan gifted.

Uniknya, beberapa kali dalam buku juga disebutkan, bahwa ciri dan perkembangan anak gifted antara satu dengan lainnya tidak seragam. Keterlambatan bicara bagi individu gifted yang satu, belum tentu terjadi pula pada individu gifted yang lain. Pula ciri konsisten terhadap tugas bisa dimiliki anak gifted yang satu, namun tidak dengan lainnya. Namun daya ingat yang sangat kuat dan detail, ternyata menjadi karakteristik anak-anak ini. Demikian membuat kenangan buruk, bisa menjadi trauma yang lebih pelik dan juga kemarahan-kemarahan mendalam. Daya ingat jangka panjang milik anak-anak gifted ini, ternyata tidak dapat diukur dalam tes IQ. Tes IQ nyatanya hanya dapat mengukur daya ingat jangka pendek. Ilmu psikologi umum pun tidak melulu bisa diterapkan dalam pola pengasuhan anak gifted, meski orang tua disarankan tetap memelajarinya sebelum psikologi khusus.

Reward dan punishment menjadi salah satu contoh psikologi umum yang dijelaskan dalam PAG dan tidak bisa diterapkan terhadap anak gifted. Pola pendidikan hadiah dan hukuman, normalnya mampu memberi pemahaman pada anak tentang nilai mana yang diperbolehkan dan tidak. Namun anak gifted beda soal. Anak-anak ini dengan kecerdasannya yang luar biasa dikenal pula manipulatif, sehingga pola pendidikan hadiah dan hukuman, justru dipergunakan mendapat apapun yang mereka mau dan bukannya sungguh memahami nilai mana yang boleh dan tidak dilakukan.

Tahun 2007, Tessa Kieboom dari Universitas Antwerpen menjelaskan tentang bahwa memberikan pendekan reward and punisment untuk anak gifted justru kontraproduksi dan hanya menimbulkan masalah baru. Anak akan merasa ditidakadili, atau bahkan justru ia tertantang untuk mencoba-coba batas kapan dihukum. Anak gifted adalah anak yang mempunyai motivasi internal, dengan begitu ia tidak akan mau begitu saja mau menerima pendapat orang tua, tidak akan menunjukkan perilaku yang positif di mata orang tuanya. Pada akhirnya hanya akan menjadikan persoalan lebih parah, hubungan orangtua anak menjadi sulit. Orangtua juga sulit mengendalikan perilaku anak. (Hal 136)

Meski mampu dibaca siapa saja meski tanpa latar belakang psikologi, PAG sayangnya memiliki beberapa kekurangan terkait tata bahasa. Halaman 136 misalnya, ‘kontraproduksi’ lebih tepat digantikan ‘kontraproduktif’. Pula terdapat kalimat tidak efektif ‘menjelaskan tentang bahwa’ yang lebih tepat digantikan ‘menjelaskan tentang’ atau ‘menjelaskan bahwa’. Sedang kalimat ‘anak akan merasa tidak ditidakadili’, lebih tepat digantikan ‘anak dapat merasa diperlakukan tidak adil’. Kekurangan dalam tata bahasa, juga terjadi cukup banyak dalam halaman-halaman PAG lainnya.

Lepas dari kekurangan dalam hal penulisan, Julia juga menjelaskan potensi dan risiko seorang anak gifted dengan proporsional. Selama ini, anak gifted lebih banyak diidentikkan dengan anak yang berprestasi di sekolah dan juga sangat bertalenta. Namun ternyata anak gifted tidak melulu berprestasi secara akademis, bahkan banyak yang memiliki masalah prestasi belajar rendah. Penyebab anak-anak berbakat ini bisa memiliki prestasi belajar rendah pun kompleks dan dijabarkan gamblang melalui perbandingan perkembangan anak normal dan gifted, termasuk kelekatan, perkembangan identitas dan pertumbuhan yang tidak singkron. Kritik yang tidak tepat, menjadi salah satu faktor anak gifted justru patah dan memiliki prestasi belajar rendah. Kritik demikian, bisa membuat bekas lebih berat terhadap anak gifted yang memiliki motivasi internal. 

Selain secara alami memiliki semangat membela keadilan, kesehatan mental justru menjadi risiko yang dijabarkan Julia dalam diri individu gifted. Seperti dijelaskan dalam beberapa paragraf sebelumnya, kepemilikan memori jangka panjang menjadi karakteristik anak gifted. Namun memori demikian tidak melulu menguntungkan. Kenangan traumatis yang tidak mampu diatasi anak, bisa muncul menahun berikutnya dan mengakibatkan kemarahan hingga beban pada mental yang berujung gangguan kesehatan mental. 

Pola pemikiran yang tidak berurutan, terlalu perfeksionis, perundungan, teman sebaya yang sulit mengikuti lompatan perkembangan kognitif dan orang tua yang rawan memergunakan kekerasan karena anak nampak tidak patuh, juga menjadi faktor-faktor berisiko hingga individu gifted tidak mampu mengembangkan talentanya. Telalu perfeksionis misalnya, dijelaskan memiliki kelebihan di mana seorang anak bisa mengerjakan tugas dengan lebih detail, mendalam dan berbasis esensi. Namun sikap demikian pula memiliki risiko menyulitkan anak dalam pergaulan. Teman sebaya si anak, bisa jadi kurang menyenangi sifat terlalu perfeksionis yang dianggap tidak praktis dan menyulitkan. 

Seperti disebut dalam awal tulisan, tes IQ tidak melulu mampu mengukur apakah seseorang merupakan individu gifted. Anak-anak gifted yang terlambat bicara misalnya, akan memiliki permasalahan auditori hingga jika diberi tes IQ, bisa jadi hasilnya di bawah rata-rata. Padahal, anak-anak ini justru unggul dalam pemrosesan visual. Maka PAG menjabarkan Delphi Model yang tidak sekadar melihat anak dengan IQ tinggi sebagai individu gifted. Melalui Delphi Model pula, seorang anak dapat dikatakan gifted bukan karena seluruh aspek perkembangannya menonjol, namun justru ketika perkembangan seorang anak sangat tinggi pada satu faktor dan rendah pada faktor lain. Lagi-lagi perkembangan tidak singkron menjadi kunci dari ciri anak-anak berbakat ini. Demikian membuat anak-anak gifted rawan pula didiagnosa memiliki jenis kebutuhan khusus lain, misalnya ADHD dan autis.

Beberapa kali penulis juga menyatakan bahwa, ia memiliki seorang anak yang merupakan individu gifted dan telah didiagnosa oleh psikolog. Demikian menunjukkan, penentuan seorang individu gifted atau bukan, mesti melalui tangan profesional. Buku-buku memang sangat membantu untuk mengenali ciri atau dapat pula dipergunakan sebagai panduan penanganan pasca seorang anak didiagnosa gifted. Namun sekali lagi, ketika mendapati berbagai ciri kebutuhan khusus pada diri anak, diagnosa mesti dilakukan oleh psikolog. 

Melalui PAG, Julia selain membuat istilah gifted lebih mudah dipahami dengan bahasa sehari-hari, juga memberi pesan mengenai penerimaan segala keunikan anak berkebutuhan khusus satu ini kepada para orang tua. Semoga setelahnya, muncul pula Julia Maria van Tiel lainnya yang menulis buku-buku mengenai anak gifted dalam bahasa Indonesia. Demikian akan membuat penanganan anak-anak gifted di Indonesia, kelak lebih mudah diakses, apalagi jika bahasannya sesuai dengan lokalitas. Buku ini adalah sumbangsih besar untuk pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia, khususnya bagi para individu gifted.


Thursday, January 2, 2020

Cerita Anak-anak Korban Perbedaan Kelas di Sekolah


Krisna dua belas tahun dan dia mengalami low vision (baca juga: Vonis Dokter Bukan Penentu Nasibku). Tapi melihat Krisna yang jauh dari kata dibully alias dirisak apalagi terkucil, membuat saya berpikir-pikir bahwa teman-teman di sekitar anak lelaki berkulit sawo matang itu masih belum tercemar standar-standar kenormalan orang dewasa. Dari nenek dan bibinya, saya jadi tahu bagaimana Krisna lebih percaya diri justru di hadapan teman-temannya. Dan teman-temannya pula, yang entah bagaimana memahami cara bicaranya yang cadel tanpa ada ejekan, mereka pula yang tetap mengajaknya bermain bola tanpa menjadikan penglihatan Krisna sebuah masalah.

Selama tiga hari hidup bersama keluarganya Krisna di kabupaten Bandung Barat, saya juga tahu bagaimana teman-temannya bersemangat menyapa terlebih dahulu dan sebaliknya ia. Ia juga yang hampir setiap hari tidak pernah kehabisan teman buat berlarian. Hal demikian justru tidak saya dapati saat seusia Krisna dan teman-temannya. Ya, semasa Sekolah Dasar. Omong-omong, sekolah saya dulu lokasinya di pusat kota.

Semasa saya kelas tiga, salah seorang teman sekelas bernama Laura berulang tahun dan hanya anak-anak non panti terpilih yang mendapatkan undangan darinya (baca juga: Laura dan Ambisi Bundanya). Kala itu, saya terpilih karena nilai akademis yang sangat baik. Ya, Laura didoktrin ibunya untuk memilih teman yang jika tidak pintar, berarti harus dari golongan menengah atas. Keluarga saya waktu itu berasal dari kalangan menengah bawah, namun akademis yang menonjol menjadikan Laura terus mendekati saya, mengupayakan pertemanan. Hal serupa dia lakukan pada teman-teman lainnya yang masuk standar pertemanan ala sang ibu. Ambisi sang ibu juga diamini Desi, bahwa ya... Laura sebenarnya hanyalah korban standar bikinan orang tuanya.

Demikian, Laura akhirnya menjadi salah satu poros kesenjangan pertemanan di SD. Punya paras standar industri, berani bicara, punya jiwa pemimpin, berasal dari keluarga menengah atas dan prestasi akademisnya melejit ketika kelas empat, membuatnya mudah diingat siapa saja. Para guru termasuk Mr. A, menceritakan betapa positifnya Laura hingga lintas kelas. Mengenai kesenjangan di angkatan kami, selengkapnya dapat dibaca di Sri Eka Fidia Ningsih dan Caranya Balas Dendam Pada Si Culas. Namun kembali saya ulas sedikit di sini, bahwa di angkatan kami golongan anak perempuan dibagi menjadi tiga; anak panti dan non panti yang masih dibagi lagi menjadi golongan anak menengah atas, golongan anak pintar, golongan pintar dan menengah atas. Pintar batasan definisinya waktu itu adalah mereka yang nilai akademisnya baik.

Lebih jelas dan pedih, kasta-kasta itu dibagi rinci seperti di bawah ini:
1. Anak kaya dan pintar
2. Anak pintar
3. Anak non panti
4. Anak panti
5. Anak kebutuhan khusus (ABK)

Jadi, jika posisimu seperti Yuni yang dari keluarga menengah meski akademisnya tidak menonjol, kamu akan tersisih namun masih selamat karena tidak bakal ditindas. Lebih sial posisinya Desi yang berasal dari keluarga menengah ditambah akademisnya menonjol. Dia terus didekati Laura dan golongan anak-anak populer hingga terpisah dari golongan anak-anak yang seperti saya (akademis saya menurun di kelas empat, baca juga Sri Bukan Anak Nakal Tapi Laura) apalagi anak-anak panti yang jelas masuk kesana karena keadaan ekonomi. Dan lagi, anak-anak ini belum mengerti cara belajar, juga tidak mendapat pendampingan belajar karena saking banyaknya penghuni panti.

Masih di sekolah kami, ada anak kebutuhan khusus bernama Icha (baca juga; Icha Ternyata Autis). Icha sendiri sebenarnya berasal dari keluarga menengah, akademisnya pun mumpuni hingga sering masuk lima belas besar. Tapi karena dia berbeda dan tidak satu pun dari kami mengetahui istilah autis, Icha jadi tersisih juga dan bahkan dijadikan hiburan untuk dirisak. Anak perempuan berkulit sawo matang itu, adalah kasta terbawah a.k.a paling blangsak dari yang blangsak jika mencatut istilah dari Twitter.

Desi yang berangkat dari keluarga tanpa standar pertemanan tertentu, menganggap Laura dan golongan anak populer memiliki niat pertemanan serupa dirinya. Di mana berteman ya berteman saja, selagi sama-sama asyik, artinya teman seterusnya. Desi sampai pada titik tidak merasa, anak-anak panti mulai berbisik dirinya berubah dari yang mau berteman dengan kalangan bawah menjadi hanya berteman dengan kalamgan atas, pula saya membatin hal serupa.

Tanpa Desi sadari, dia ditarik secara permanen bersama Laura dan golongan anak populer dengan manipulasi yang sedemikian rupa. Desi mengalami perlakuan yang berbanding terbalik dengan saya. Seperti saya ceritakan pula dalam Desi Nilamsari Si 8 Tahun: Saat Ditanya Soal Maling dan Warga yang Main Hakim Sendiri saya sempat didekati Laura di kelas tiga karena akademis yang sangat baik. Sebaliknya Desi yang waktu itu anak baru dan belum begitu bisa berbaur. Akademisnya juga biasa saja, hingga Laura tidak pernah menyambutnya hangat kala itu. Keadaan ekonomi Desi yang dari kalangan menengah, pula belum nampak. Baru ketika mulai naik kelas empat, Laura mendekati Desi berbarengan dengan akademis saya yang menurun. Kala itu, Desi mulai bisa berbaur, akademisnya meningkat drastis dan keadaan ekonominya terkuak.

Tapi selain saya, Desi dan semua anak yang telah diceritakan di atas, masih ada Rina dan Anya yang menjadi korban standar-standar bikinan orang dewasa. Rina adalah anak non panti dan berasal dari keluarga menengah bawah. Akademisnya pula tidak menonjol. Meski demikian, Rina berhasil masuk Laura dan jajaran anak populer dengan cara menjadi penindas dan gaya ‘seolah kalangan atas’ yang disesuaikannya. Anya misalnya, ketika menjadi anak baru di kelas dua, pernah tiba-tiba ditindas sampai menangis oleh Rina. Ia pula yang tanpa sebab jelas, mencubit Anya yang duduk sendirian di pojok kelas. Rina semacam menjadi senjata untuk jajaran anak populer ini. Bagi anak-anak yang dirasa tidak pantas masuk dalam kasta mereka, Rina yang turun tangan ‘membasmi'. Juga lewat Rina, mereka mendapat hiburan-hiburan penindasan tanpa perlu turun tangan langsung.

Ibu Anya sendiri menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ketika putrinya itu kelas tiga. Di dalam PT pemasok tenaga kerja itu pula, ibunya mendapat perlakuan tidak adil (baca juga: Sri Eka Fidianingsih dan Caranya Balas Dendam Pada Si Culas). Hingga Anya ingin sekali masuk dalam jajaran anak-anak populer dan mendapat pengakuan, ia tidak ingin ditindas lagi. Namun yang bisa ia lakukan hanya mengekor saya yang meski bukan golongan menengah dan akademis tidak menonjol, setidaknya termasuk non panti. Anak non panti seperti saya memang tidak pernah ditindas secara langsung. Tunggu dulu, saya ingat ibunya Anya pernah masuk dalam sekolah untuk menemui putrinya dan bisik-bisik ibu Anya disebut orang gila dihembus beberapa teman sekelas. Yang jelas, penghembusnya adalah anak-anak perempuan dari kelas kami sendiri, kasta atas tentu saja hehe…

Segala yang terjadi di angkatan kami waktu itu, saya garis bawahi sebagai yang namanya perbedaan kelas. Ternyata, saya mengenal perbedaan kelas justru semenjak SD dan bukan dari buku-buku. Perbedaan yang nyata terjadi ini, bisa dibilang salah satunya berasal dari manipulasi Laura terhadap teman-teman sekelas yang menciptakan kasta-kasta. Laura tentu bukannya sengaja membuat kasta-kasta yang demikian. Doktrin ibunya soal memilih teman, secara otomatis menyertai pembentukan kasta. Bahwa di angkatan kami, ada yang namanya Laura; ia memiliki standar fisik sekian, etika kepada guru yang sekian, nilai akademis yang sekian, hingga dengan semua itu dia diakui keberadaanya.

Kasta-kasta ini tentu saja sebuah penyakit. Bagaimana bisa anak usia delapan tahun sebegitunya memilih teman? Dengan tendensi yang mustahil didapat sejak lahir pula. Tentu mama Laura yang menanamkan hal demikian terhadap putrinya, memiliki motif. Semestinya memang ada hal yang melukai mama Laura di masa lampau, sehingga ia jadi menularkan upaya bertahan hidup dengan kasta-kasta begitu kepada putrinya. Semua hal memiliki motif, tidak ada yang namanya terjadi dengan tiba-tiba.

Jadi intinya, jika tidak bisa memenuhi standar ekonomi Laura, penuhi standar akademis serupa saya ketika kelas satu hingga tiga. Jika tidak bisa memenuhi standar akademis, setidaknya jadi Yuni yang ekonominya menengah. Ia tersisih namun tidak ditindas. Dan jika tidak bisa memenuhi standar akademis juga ekonomi, jadilah penindas atau gaya yang setara anak-anak populer seperti Rina...

Atau jadi saya yang menyingkir, membuat keberadaan diri bahkan tidak kentara?

Atau jadi Nadiya (baca juga: Nadiya Khalilah Si Pupuk Bawang) yang berbaur dengan semua tanpa masuk satu golongan tertentu?

Atau jadi Sri si anak panti yang ditekan dan disisihkan, namun memilih melawan semua yang berlaku begitu kepadanya?

Ya, menjadi saya tidak mudah. Setiap orang butuh diakui keberadaannya sedang saya memilih menyingkir dan tidak peduli. Tidak semua orang akan tahan dengan kondisi dianggap menghilang. Keberadaanmu saja orang lain lupa, jangan mimpi mau didengarkan pendapatnya. Jadinya sih, saya hanya kumpul mereka yang senasib dan bertahan. Tentu mengenai keadaan mereka yang tersisih ini, saya tidak bisa bersuara juga. Lha, soal keberadaan saja saya dilupakan.

Tapi sebenarnya, lebih sulit lagi menjadi Nadiya dan Sri. Nadiya berasal dari kalangan menengah dan akademis bagus. Ia anak yatim. Godaan untuk bergabung dengan kasta anak-anak populer tentu kuat. Laura bahkan pernah getol mengajaknya bermain ke rumah, lantas mengajarinya motor seperti seorang sahabat sejati. Namun Nadiya justru tetap di posisi tengah dan seolah menjadi jembatan. Sikapnya sama pada tiap kasta di kelas. Posisi tengah ini justru tidak begitu diingat semua orang sebagai satu hal istimewa. Padahal, orang dewasa saja belum tentu mampu berteman baik dengan jujur pada semua golongan dan lagi tanpa kawanan.

Lain lagi dengan Sri. Tanpa jaminan ada orang tua kandung yang pasti membelanya ketika ada masalah, juga teman sesama panti yang juga ada si culas Anya, justru membuatnya berani melawan segala penindasan. Sri yang kata orang; anak panti, kotor, nakal, tidak pintar dan tidak berpunya, namun hingga lulus semua orang justru mengenangnya. Mereka mengingat nama Sri yang berani marah dan berkelahi demi membela haknya. Pikir saya, anak perempuan yang dulu sering dirisak karena gigi tonggosnya ini, adalah tokoh utama ideal dalam sebuah film. Sri adalah simbol dan praktik harapan dalam perang kelas.

Pada tulisan saya yang lain. Akan saya ceritakan bagaimana saya, Anya dan Sri ternyata satu sekolah di SMK. Juga bagaimana perkembangan cara bersikap kami dibanding semasa SD.


“Life is not fair, so get used to you.”

Patrick Star

Catatan: 
Tulisan ini ada setelah privilese menjadi trending di Twitter karena Maudy Ayunda dan sebelum privilese menjadi trending di Twitter karena Putri Tanjung.

Tapi mohon maap ea, akutuch tida ikutan marah-marah sama mbak Maudy Ayunda dan mbak Putri Tanjung akibat privilese mereka. Karena akutuch tida ingin anak dan cucuku kelak kena azab, dihujat warga Twitter karena privilese gen cerdas yang akutuch turunkan, juga privilese susah jerawatan meski nggak rutin cuci muka.
Wahai, sobat-sobat segawonku. Privilese tuch bukan hanya bab ekonomi. Kapasitas otak sampai bentuk moncong kau tuch juga bisa jadi privilese untuk anak dan keturunanmu kelak. Tak usah merasa paling blangsak dan paling berjuang deh kita tuch. Huehue.
Terpujilah ibuku yang pintar, ayahku yang cerdas dan mendiang mbah kakungku yang jenius. Privilese kapasitas otak dari beliau sekalian, lumayan buat modal hidup.

Wednesday, December 5, 2018

Vonis Dokter Bukan Penentu Nasibku, Cerita Krisna Bocah dengan Low Vision

Krisna di dekat kandang ayam belakang rumahnya. Sumber: Dokumentasi pribadi

Dokter bilang, Krisna cuma bisa hidup sampai tiga minggu. Tapi tiga bulan kemudian, justru bu dokter itu yang menangis waktu lihat Krisna. Nama Krisna itu juga bu dokter yang kasih
Yana (48), Uwak Krisna

Terkena air ketuban sejak lahir, itu yang membuat Krisna yang usianya kini masih dua belas tahun, mengalami low vision atau penglihatan di bawah normal, bahkan nyaris buta. Pada tingkatan tertentu, orang dengan low vision masih bisa melihat dan Krisna salah satunya. Seharusnya, ia menggunakan kacamata, namun karena belum terbiasa dan agaknya cukup mengganggu aktivitasnya, kacamata itu kerap tidak ia pergunakan.

Pemalu, itu yang menjadi fokus saya ketika membaca profil Krisna yang diberikan oleh tim Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC). Anak ini adalah saya di masalalu, pikir saya waktu itu. Dia introvert juga jangan-jangan, batin saya selanjutnya. Jadi seluruh peserta baru mengetahui di keluarga mana akan live in, setelah pelatihan bersama YSTC dan Tempo Institute selesai di hari pertama. Seluruh peserta tidak bisa memilih karakter anak dan jenis disabilitas yang mereka alami.

Dan benar saja, saya maupun Krisna sama-sama introvert. Baru di hari ketiga yang artinya hari terakhir, saya bisa akrab dengan Krisna dan itu saya sesali hingga sekarang. Tinggi Krisna sekuping saya, 150 cm lebih barangkali. Tinggi badannya melebihi anak seusianya. Berat badannya pun seimbang. Krisna anak yang sehat.

Sama pemalu di masa anak-anak, introvert dan kebutuhan khusus, kurang apa lagi? Saya tahu saya dan Krisna akan dekat tapi tidak dalam tiga hari. Ya saya juga kebutuhan khusus. Meski saya masih harus membuktikkannya dengan tes yang lebih detail, beberapa bulan lalu seorang teman mengatakan bahwa seniornya yang seorang psikolog membaca blog saya. Si senior tadi mengatakan, saya gifted. Masalah belajar dan sosial yang saya alami selama ini, persis ciri anak gifted. Dan lagi, senior psikolog tadi mengatakan bahwa pengalaman nyata yang seluruhnya menjadi bahan tulisan saya di blog, adalah ciri utamanya.

Masalah sosial sebenarnya masih saya alami hingga hari ini, tentu saya coba melawannya. Nekat mengikuti Youth Live In Ideal bersama YSTC dan Tempo Institute, adalah salah satu caranya. Beruntungnya, ibu Yana, Nenek, Teh Rosa yang merupakan putri ibu Yana dan bahkan Arjuna, sepupu Krisna, sangat terbuka dengan keberadaan saya.

Ibu Yana sendiri merupakan uwak dari Krisna atau tante dalam bahasa Indonesia. Adik perempuan ibu Yana adalah ibunya Krisna dan kedua orang tua Krisna sendiri, sudah bercerai semenjak dirinya masih berusia tiga bulan. Bahkan ketika Krisna lahir, ibu Yana dan Nenek yang membawa ibunya Krisna ke rumah sakit Hasan Sadikin, Bandung. Jarak dari rumah ibu Yana sekeluarga menuju rumah sakit, sekitar lima jam jika menaiki transportasi umum. Krisna yang sempat masuk inkubator setelah lahir itu, berangkat dan pulang naik transportasi umum sekeluarga.

Dokter sempat mendiagnosa Krisna yang tidak punya langit-langit mulut, akan selamanya makan dengan disuapi, tidak bisa berjalan dan bahkan tidak bakal bertahan lebih dari tiga minggu apabila dikeluarkan dari inkubator sebelum waktunya. Namun keluarga tetap nekat membawa Krisna pulang dan tiga bulan kemudian, ibu Yana membawa Krisna ke dokter yang sama dan dokter itu menangis.

Dokter perempuan itu meminta maaf pada ibu Yana karena pernah seolah berkuasa atas panjang dan pendeknya hidup Krisna. Dokter itu juga kaget melihat banyaknya porsi susu formula yang Krisna minum. Kini mata kanan Krisna memang buta total, namun mata kirinya masih bisa melihat dengan kabur. Bahkan, kedua mata Krisna sebenarnya hampir buta total. Para dokter sudah menyerah hingga salah seorang dokter mau mencoba mengoprasi Krisna. Jadilah sekarang mata kiri Krisna ternyata masih bisa difungsikan. Bahkan, Krisna jago bermain bola dan bahkan bisa menaiki motor sendiri.

Bahkan di hari kedua, saya bersama ibu Yana, pak Lalang dari Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) dan tim YSTC piknik ke sumber air dekat rumah keluarga ini tinggal. Sumber air tersebut ternyata berupa kawasan sawah yang sangat besar dengan jalanan yang curam dan licin. Namun Krisna justru berjalan dengan ringan dan lincah di antara kami semua. Ketika kami semua pulang, pak Lalang langsung tertidur sedang teman-teman lainnya kelelahan. Namun kami semua justru melihat Krisna dengan santai masuk ke dalam rumah sebentar, lantas pergi keluar lagi untuk bermain.

Krisna telah dua kali membuktikan, bahwa dokter bukan penentu nasibnya. Vonis boleh jadi didasari ilmu pengetahuan, namun usaha manusia dan takdir Tuhan, bikin jalan ceritanya jadi berbeda...

Catatan: Nama disamarkan untuk melindungi identitas anak

#BerpihakPadaAnak
#YouthLiveIn 

Tulisan ini masuk dalam nominasi pemenang. Jadi, sepulang live in dan membuat tulisan, para peserta masih diadu lagi untuk masuk tiga besar.

Thursday, September 14, 2017

Ibu Saya Wanita Karir dan Trauma di Tempat Penitipan Anak


Sumber: Gugel

Ibu saya mulai berkarir sejak saya berusia dua tahun, menjadi guru di beberapa sekolah swasta. Oleh sebab itu, saya akhirnya dititipkan pada seorang nenek yang rumahnya cukup berjarak dari rumah kami. Nenek tersebut membuka jasa penitipan anak, ya… sekadar menjaga anak-anak yang ditinggal bekerja orang tuanya, bukan betul-betul tempat penitipan yang kamu banyak lihat seperti sekarang.

Kamu tidak bisa salahkan ibu saya yang memilih bekerja, ketimbang menjaga saya. Perdebatan antara ibu rumah tangga atau wanita karir tidak akan pernah ada habisnya. Yang jelas, ibu saya bekerja tujuannya adalah untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, selain dengan ayah saya yang bekerja.
Sepanjang ingatan saya, nenek yang menjaga saya itu usianya lebih tua dari nenek saya. Nenek saya sendiri, letak rumahnya sekitar 30 menit memergunakan motor dari rumah kami. Barangkali, jarak yang lumayan ini jadi pertimbangan orang tua saya juga. Bisa jadi, jarak tersebut memengaruhi kesehatan saya yang masih berusia dua tahun.
Saya ingat, nenek yang menjaga saya itu saya panggil mbah. Mbah sesungguhnya adalah orang yang telaten, saya selalu makan tepat waktu dan mandi pun hingga bersih. Selain saya, ada lagi satu anak laki-laki yang ada di rumah itu, usianya sedikit lebih besar dari saya. Namun, saya lupa apa anak itu cucu mbah atau memang juga dititipkan di sana, karena saya lihat anak itu juga membawa bekal makanan sendiri seperti saya.
Ibu dan ayah saya, mulai merasakan keanehan saat saya jadi lebih penakut dan pendiam dari sebelumnya. Saya betul-betul ingat, bagaimana hampir setiap hari, mbah memeringatkan saya yang sedang berdiri menghadap jendela. Kata mbah, saya tidak boleh keluar rumah karena di luar sana ada orang gila. Gaya bicara mbah yang mencekam, membuat saya yang masih dua tahun, membayangkan orang gila adalah sosok jahat dan saya mesti menjauhinya.
Barangkali, mbah menakuti saya karena hanya ingin menjaga keselamatan saya, meski menurut keluarga kami, sejak kecil saya ini hanya lincah bicara namun tidak lincah soal fisik. Ibu saya sempat mengomel, saat bercerita di rumah nenek. Ibu tidak terima karena saya ditakuti sedemikian rupa, toh saya bukan tipe anak yang lincah katanya.
Pada akhirnya, saya tidak lagi dititipkan pada mbah. Orang tua saya memilih wara-wiri mengantar saya ke rumah nenek, sebelum keduanya pergi bekerja. Butuh waktu lama untuk menghilangkan trauma saya. Bahkan, saya masih ingat bagaimana rasa ngeri yang kadung tertancap itu hingga sekarang. Ibu dan nenek saya memaksa saya berkumpul dengan anak-anak perempuan sekitar rumah nenek, mencoba agar saya segera pulih, namun saya masih ingat bagaimana saya hanya duduk diam dengan memangku boneka dengan perasaan yang betul-betul ketakutan.
Saya mungkin tidak lincah seperti anak-anak pada umumnya, namun di usia dua tahun saya sudah lancar berbicara dan memahami percakapan orang dewasa di sekitar saya. Hingga sekarang, saya bahkan masih mengingat secara rinci trauma yang saya alami pada saat tersebut, tanpa orang tua atau nenek saya mengulang ceritanya. Barangkali, kemampuan menangkap informasi itu, yang membuat saya sangat terpengaruh dengan ucapan mbah, soal orang gila yang ada di luar rumahnya.
Perdebatan mengenai mana yang lebih baik, ibu bekerja atau ibu rumah tangga memang tidak pernah selesai. Tapi, kamu bisa bayangkan bagaimana kondisi keluarga saya andai saja ibu saya tidak bekerja dan ayah saya terkena stroke. Kamu juga bisa bayangkan bagaimana teman kerja ayah saya, yang seorang perempuan dan ditinggal suaminya meninggal dunia. Andai saja teman ayah saya ini tidak terbiasa bekerja, bagaimana keadaan keluarganya? Kita semua tidak pernah berharap kemungkinan terburuk terjadi. Namun, setidaknya kita mesti mulai berhenti berdebat soal mana yang lebih baik, ibu bekerja atau ibu rumah tangga.
Masing-masing orang tua, selalu mengusahakan apa yang terbaik, pun kedua orang tua saya yang akhirnya memilih wara-wiri mengantar saya ke rumah nenek sebelum pergi bekerja, di bawah asuhan nenek saya memang lebih aman. Meski nenek tidak lulus SD, nenek mengajak saya makan teratur, doa sehari-hari, menghafal nama presiden hingga mengafal lagu-lagu nasional.
Trauma yang terjadi pada diri saya pun, bisa menjadi pengalaman bahwa ucapan sekecil apapun, bakal memengaruhi jiwa anak-anak. Melalui trauma tersebut, minat saya pada dunia anak-anak juga lebih terasah. Cara mendidik pun, ternyata tidak bisa sama antara satu anak dengan lainnya. Barangkali, ketika ditakuti hal serupa, anak-anak lain bisa jadi tidak akan terpengaruh, namun bagi saya itu justru sangat berpengaruh. Susah betul memang jadi orang dewasa, apalagi orang tua, ya?
Jadi, kapan mau mulai berhenti berdebat?