Showing posts with label Review Resensi. Show all posts
Showing posts with label Review Resensi. Show all posts

Saturday, April 25, 2026

Bias (Pengalaman Nonton Kembang Api)

Sumber: Gugel

Lelaki pertama ciri khas boomer banget, menghakimi masalah orang tidak lebih berat masalahnya dibanding dia.

Lelaki kedua ini betulan kayak gini? Dia kan dokter umum, setidaknya dia tahu kapan harus minta bantuan sejawatnya yang profesional.

Perasaan wanita pertama ini valid banget sih, rasa bersalah atas kehilangan nggak bisa diselesaikan begitu mudah.

Lantas anak SMA satu-satunya dalam klub ini, saya pernah mengalami serupa namun dia lebih berat. Jadi wajar jika dia menganggap satu-satunya jalan keluar adalah...

***

Saya mengenali diri saya sendiri sebagai seseorang dengan pemikiran dan isi hati yang bias saat nonton film Kembang Api. Film sendiri dimulai dari klub bunuh diri yang terdiri dari empat orang lintas usia yang kemudian terjebak time loop.

Film yang rilis 2023 lalu itu membikin saya secara sadar dan tidak sadar melakukan bias-bias serupa para tokohnya seputar masalah hidup orang lain. Mana yang lebih berat, mana yang paling buntu, lebih kejam; hingga mana yang paling layak berpikir bunuh diri.

Bahkan penghakiman atas ciri khas generasi tertentu ketika menghadapi masalah pun muncul dalam pikiran dan hati saya. Ya, kesimpulan pria pertama sebagai boomer tadi. Selain, karena tidak pernah menghadapi masalah serupa sependek hidup (amit-amit jangan, saya belum tentu kuat), jadi tidak ada bayangan bagaimana penyelesaian masalahnya. Ketika dalam kepala tidak ada ide-ide penyelesaian masalah, saya langsung berpikir beratnya masalah lelaki pertama valid.

Sedang untuk lelaki kedua, justru ada bias pemikiran, bukan kah dia punya akses pengetahuan buat mengobati dirinya? Ia bahkan masih mengulas keilmuan yang sempat didapat di bangku kuliah untuk bantu memikirkan solusi satu-satunya anak SMA dalam klub itu. Tapi bukan kah siapa saja bisa merasa buntu dan itu manusiawi? Tapi mengapa saya masih menganggap masalah lelaki kedua paling ringan dalam klub ini, sedang saya juga mengatai lelaki pertama sebagai boomer tukang menghakimi?

Lantas kenapa rasa bersalah perempuan pertama lebih mudah saya terima sebagai masuk akal? Kenapa saya tidak memiliki bias untuk membayangkan dia ngobrol saja dengan suaminya lantas bahu membahu menyelesaikan rasa bersalah mereka? Apakah karena saya punya pengalaman jatuh dari motor bersama ibu yang padahal kami berdua sama-sama tidak terluka, tapi saya menangis dan merasa bersalah melihatnya tertimpa pagar?

Kemudian untuk satu-satunya gadis SMA dalam klub, apakah lagi-lagi biasnya datang karena saya pernah mengalami hal serupa meski jauh tidak lebih berat dibanding dia? Apakah pengalaman serupa membikin kita punya landasan menginvalidasi atau memvalidasi pengalaman orang lain?

Pertanyaan pun muncul setelahnya, bagaimana ketika saya menghadapi suatu musibah, suatu masalah, lantas orang lain memiliki bias dan penghakiman seperti yang saya lakukan kepada para tokoh dalam Kembang Api? Bukan kah saya juga akan sama tidak terimanya dengan mereka saat saling menginvalidasi masalah dan musibah masing-masing sepanjang film?

Pada akhirnya, para tokoh dalam Kembang Api adalah saya, adalah kita semua, yang berapa banyak pun sudah mendengar kisah diri dan orang lain, tetap saja memiliki bias buat menginvalidasi dan memvalidasi masalah juga musibah orang lain.

Friday, October 31, 2025

Corona dan Keterpisahan Manusia

Sumber: dokumentasi pribadi. Pembatas buku rajut bentuk bunga poppy beli di Stichblue.

Dilansir dari Jawa Pos (30/05/2021), vaksin Merah Putih diperkirakan dapat dipergunakan di tahun 2022. Vaksin tersebut diharap bisa memerangi virus Covid-19. Sepanjang 2021 sendiri, berita varian corona jenis baru hingga tarik ulur sekolah tatap muka memenuhi media massa.

Mengusung tema pandemi dengan latar kota distopia bernama Ygeia, Menanam Gamang menunjukkan bagaimana manusia mesti berdampingan dengan keterpisahan. Novela setebal 124 halaman itu sendiri, merupakan karya Dhianita Kusuma Pertiwi yang sempat meraih Nusantara Academic Award 2020 lalu untuk tesisnya tentang naskah lakon wayang kulit Purwa Sesaji Raya Suya. Ia juga identik dengan karya fiksi maupun nonfiksi bertema kekerasan 1965.

Menanam Gamang disajikan dengan gaya bahasa lugas. Tidak ada kalimat kiasan apalagi yang berbau puisi. Dalam halaman 14 misalnya,’Barnabas R meraih gelas kopinya, dan menghabiskan minuman yang tinggal menyisakan rasa pahit dan dingin...” kalimat-kalimat lugas serupa mewarnai awal hingga akhir buku.

Warga kota Ygeia diceritakan mesti menjalani pandemi selama dua generasi. Fasilitas kesehatan menjadi barang mewah di masa itu. Ada perbedaan kelas yang terlihat jelas dalam mendapat fasilitas kesehatan, berdasar profesi dan penghasilan setiap warga kota.

Pekerja kantor, peneliti, hingga penyiar melalui saluran live streaming, menjadi profesi yang lazim di kota Ygeia. Dua di antara tokoh dengan profesi berbeda yang terhubung melalui saluran live streaming adalah Barnabas R. dan Eva H. Dhianita memang memberi penamaan yang unik pada seluruh tokoh novelanya. Semua tokoh memiliki satu kata di depan dan satu huruf di akhir nama.

Sebagai pekerja kantor, Barnabas R. Mesti was-was tiap kali varian virus baru merebak. Kantor mesti ditutup dan ia sehari-hari harus tinggal di apartemennya yang murah dan minim fasilitas kesehatan. Tidak ada teman atau saudara yang betul-betul bisa dihubungi sehingga saluran live streaming ia operasikan demi melenyapkan rasa sepi. Di situlah ia bertemu Eva H., seorang penyiar dengan gaji cukup tinggi hingga di dalam apartemennya pun ia bisa mengecek kesehatan setiap hari ditemani Saul, sebuah android yang dapat berbicara dan punya pikiran sendiri.

Eva H. sendiri tidak lepas dari rasa sepi. Sahabat dan kekasihnya sama-sama sibuk bekerja dengan profesi berbeda. Layar virtual menjadi satu-satunya tempat mereka bertemu meski tidak pernah lama, sedang para penonton Eva H. Hanya memperlakukannya sebagai tontonan dan bukannya seorang teman.

Kehidupan warga kota Ygeia tentu saja tidak berhenti pada keuangan yang menipis dari Barnabas R. dan upaya Eva meningkatkan peringkatnya melalui saluran live streaming. Masih ada tenaga kesehatan, hingga pekerja di badan kesehatan yang setiap hari berkejaran dengan mutasi virus baru dan warga kota yang tidak henti-hentinya tumbang. Tidak ada optimisme yang benar-benar nyata di sana, yang ada hanya menjalani apa yang tersaji hari ini, meski masih ada juga tokoh-tokoh yang berusaha melakukan berbagai penelitian untuk melawan virus. Mereka ini yang meyakini, bahwa kelak pandemi bisa berakhir.

Para tokoh dalam Menanam Gamang dibuat tidak buntu dalam mengatasi keterpisahannya dengan manusia lain. Di antaranya ada Barnabas R. yang menjadikan Eva H. seolah nyata dan sebagai tujuan hidupnya. Ia rela menggunakan gajinya bukan untuk meningkatkan fasilitas kesehatan di apartemen, namun justru untuk memperbarui perangkat komputer hingga bisa melihat siaran Eva H. secara tiga dimensi.

Selain Barnabas R. banyak juga penonton Eva yang rela membayar lebih banyak glot (alat tukar di masa itu) demi melihatnya melakukan hal tertentu selama siaran. Kemurungan, adalah kata ganti yang paling tepat dalam menggambarkan novela ini. Para tokoh mesti menjalani hidup masing-masing tanpa saling mengaku tengah merasakan kesepian dengan terhambatnya segala pertemuan nyata bersama ketidakpastian perkembangan virus. Kenaikan peringkat dan kesibukan membuat konten siaran bahkan hanya sesaat saja menyelamatkan Eva H. dari rasa sepi.

Beberapa detik kemudian, layar WiseWrist di pergelangan tangan Eva H. menampilkan tanda centang putih berlatar belakang hijau, menandakan Saul telah berhasil mengirimkan kembali laporan itu pada Badan Kesehatan. (hal18)

Selain menyajikan para warga kota yang berjibaku dengan keterpisahan, novela ini juga menyajikan istilah-istilah unik terkait teknologi di masa itu. Beberapa di antaranya, WiseWrist yang merupakan alat pengawas kesehatan warga dari Badan Kesehatan, WiseWatch yang merupakan lensa kontak untuk menyuguhkan tayangan interaktif komputer, hingga WishWear yang dapat mencetak benda-benda sesuai imajinasi dalam kepala. Keberadaan teknologi diletakkan dalam dialog juga narasi dan berpengaruh terhadap jalannya cerita. Keberadaan teknologi ini pula, yang memungkinkan interaksi antar manusia tidak banyak terjadi. Banyak tugas bisa dilakukan teknologi.

Meski menyoal kebaruan teknologi dalam novela ini bersifat relatif, Menanam Gamang selanjutnya menyajikan akhir yang terbuka. Membuat pembaca menebak-nebak sendiri mana yang lebih dahulu mampu menyelamatkan, berhasil menangkal virus yang entah kapan atau mengatasi rasa keterpisahan pada diri.


Judul buku: Menanam Gamang

Penulis: Dhianita Kusuma Pertiwi

Penyunting: M Dandy

Penerbit: Pelangi Sastra

Cetakan: Pertama, Oktober 2020

Ketebalan: 124 halaman

ISBN: 978-623-7283-89-8


Catatan: ditulis 2021 semasa corona tapi lupa nggak diunggah.


Tuesday, August 15, 2023

Negara, Peliknya Administrasi dan Hidup Orang-orang Biasa

Sumber: ideide.id

Dimuat dan dapat dibaca di ideide.id

La Muli tidak dibuka dengan adegan mengerikan. Lembar-lembar selanjutnya pun, tidak dihiasi orang yang mati bunuh diri, adegan seks tersurat hingga pembantaian. Bagi pembaca yang terbiasa mengonsumsi sastra serius dengan cerita menghentak dan berdarah-darah, La Muli barangkali mengejutkan. Namun bagi pembaca yang sebelumnya pernah membaca karya lain dari Nunuk Y. Kusmiana, ketiadaan hal-hal ekstrim tadi tentu tidak bikin terkejut.

Lengking Burung Kasuari (LBK), menjadi karya perdana Nunuk yang menjadi naskah unggulan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016 lalu. Nyaris serupa dengan La Muli, LBK menceritakan kehidupan sehari-hari pendatang di tanah Irian Jaya. Jika LBK menceritakan kehidupan keluarga tentara kelas menengah yang pendatang dari Jawa, La Muli sebaliknya. La Muli justru menceritakan kehidupan kelas bawah keluarga nelayan pendatang dari Buton.

Pergulatan keluarga dalam LBK dan La Muli pun nyaris serupa, harus ada upaya bertahan hidup, mengakali penghasilan dan penyesuaian diri dengan budaya-budaya di tanah rantau. Meski tentu saja, persoalan air hingga sanitasi tidak dialami sama sekali oleh kelas menengah dalam LBK, beda betul dengan kelas bawah dalam La Muli yang salah satu permasalahan utamanya adalah hal satu ini.

LBK di awal hingga akhir novel menyajikan sudut pandang putri tertua keluarga tentara yang berusia tujuh tahun. Sedang La Muli sebagai naskah unggulan Sayembara Novel Basabasi 2019, menyajikan sudut pandang orang ketiga dalam sebagian besar jalan ceritanya. Gaya berbahasa dalam La Muli pun tidak berbunga-bunga. Pergantian waktu, latar dan para tokoh yang berhadapan selalu ditandai satu paragraf penjelas tanpa diksi-diksi sukar.

Pantainya landai. Pasirnya hitam. Air lautnya kotor. Mungkin pengaruh dari pasir yang hitam itu. Kampung itu belum benar-benar bangun, kecuali sekelompok kecil nelayan yang baru pulang melaut. (hal 117)

Sinar mentari siang memancar ganas. Seolah ingin menghanguskan apa saja. Di dalam gereja hantaman sinar mentari siang teredam sedikit oleh langit-langit. Angin mengalir masuk dari jendela-jendela yang terbuka. Mengusir pengap yang terperam di dalam ruangan. (hal 124)

Tapi bagaimana La Muli yang tanpa kalimat berbunga dan hampir minim adegan ekstrim menjadi menarik buat terus dibaca? Semua ternyata bertumpu pada lokalitas yang bukan tempelan. Dialog dibuat berbahasa Indonesia kental logat Papua. Meski demikian, Nunuk tidak memaksakan kosakata lokal yang harus dijejalkan catatan kaki agar pembaca mengerti. Lokalitas Papua yang disajikan pun jauh dari koteka, upacara bakar batu dan hal-hal yang biasa dicap primitif dan disajikan di media massa. La Muli justru menunjukkan pergerakan masyarakat urban di tahun 1980an yang ternyata juga terjadi di Papua.

Salah satu poros permasalahan dalam novel ini adalah persoalan administrasi. Dapat dikatakan, peliknya administrasi menjadi sosok antagonis alias penghalang bagi para tokoh utama. La Muli si pendatang mesti dihadapkan dengan kekagetannya soal pembentukan er-te alias Rukun Tetangga. Rutinitasnya sebagai nelayan pun kerap berubah, ketika mesti berkenaan dengan persoalan warga yang katanya wajib jadi tanggungan ketua er-te. La Muli dan sesama pendatang lainnya di tahun tersebut ternyata buta soal perapihan administrasi dan pembentukan perangkat kampung. Hal tersebut ditunjukkan dalam dialog halaman 11 sebagai berikut:

“Apa persisnya tugas ketua er-te?” celetuk salah satu peserta rapat.

“Salah satunya berhubungan dengan administrasi. Mencatat nama-nama penduduk. Membuat rekomendasi kalau penduduk ingin mendapatkan surat rujukan untuk membuat ka-te-pe, atau membuat surat pengantar untuk mengurus surat kelakuan baik. Contoh surat rekomendasinya seperti ini.” kata Obet sambil mengambil selembar blanko isian.    

Tidak jauh berbeda dengan La Muli, suku Kayo Batu mesti juga menyesuaikan diri dengan perapihan administrasi. Persoalan tanah adat dan peralihan pemerintahan dari Belanda hingga akhirnya Indonesia, menjadi hal yang suku asli Jayapura ini mesti perjuangkan. Perjuangan soal tanah adat tersebut ditunjukkan dalam dialog halaman 157.

“Bagaimana kalau saya pelajari lebih teliti berkas-berkasnya?” tambah gubernur. “Lebih-lebih setelah pengambilalihan kekuasaan dari pemerintah kerajaan Belanda ke pemerintah Republik Indonesia, yang tersisa hanya masa lalu yang sudah selesai. Singkat kata, peristiwa ini terjadi di masa lalu dengan pemerintahan yang bebeda. Saat ini bapak-bapak berhadapan dengan perwakilan pemerintah Republik Indonesia. Akan saya pelajari dan memberikan jawaban tertulis. Begitu lebih baik?”

Tidak ada perang si jahat melawan si baik dalam novel ini. Baik La Muli dan orang-orang suku Kayo Batu hanya menjalani kehidupan sehari-hari dengan usaha apapun yang mereka bisa. Mereka tidak memahami atau terlalu peduli dengan pergolakan politik, peralihan kekuasaan dan sejenisnya. Yang mereka lakukan hanya memerjuangkan hak dan makan dari keringat sendiri. Mula-mula kehidupan pendatang dan suku asli Jayapura ini pun cenderung tanpa gejolak, jika saja perapihan administrasi tidak tiba-tiba hadir kemudian memaksa mereka mengikutinya.

Nunuk telah memotret lokalitas yang betul-betul tidak bisa ditempelkan jika latar belakangnya selain Jayapura. Ada persoalan sejarah hingga peralihan kekuasaan yang goncangannya membuat novel setebal 196 halaman ini bergerak dinamis. Para tokoh yang berprofesi sebagai polisi dan tentara tidak lepas juga dalam jalan cerita. Mereka ini yang diceritakan menjaga perdamaian di tanah Irian Jaya meski ternyata, kebijakan yang dibuat turut pula membikin rumit kehidupan masyarakat kelas bawah karena tidak disesuaikan adat setempat. Tokoh berseragam lain, ada pula yang digambarkan menempuh kebijakan demi mempermudah urusan negara di tempat dirinya bekerja, sekalipun menyadari telah menyalahi hak orang lain.

Kesenjangan antara kebijakan, perapihan administrasi dan juga diterapkannya dua hal tadi tanpa mengindahkan adat setempat yang ternyata menyumbang depresi dalam diri para tokoh La Muli. Semuanya terasa serba tiba-tiba. Dari kehidupan mereka yang dulunya datar dan sekadar memenuhi kebutuhan perut, namun tiba-tiba mesti berlarian memenuhi aturan-aturan baru dari orang-orang berseragam yang digambarkan sangat pula para tokoh ini hormati. Masih orang-orang berseragam ini pula yang ternyata hampir semuanya berasal dari luar Jayapura. Hal demikian yang barangkali juga menyumbang kebijakan-kebijakan yang ditelurkan dan paksa diterapkan pada akhirnya tanpa melihat adat sekitar.

Para penulis yang berambisi mengemukakan tema-tema lokalitas, agaknya mesti betul-betul menguliti La Muli agar apa yang diusung bukan lagi hanya tempelan, apalagi sekadar drama percintaan urban yang paksa diberi latar pantai dan profesi nelayan. Sebuah cerita yang di mana saja latarnya diganti sekalipun, bukan menjadi masalah. Demikian barangkali akan serupa La Muli, yang memang bukan sekadar novel dengan tempelan latar pantai, profesi nelayan dan kosakata berbau daerah yang padanan katanya sukar dicari dalam Bahasa Indonesia.

Halaman terakhir novel ini pun tidak betul-betul menunjukkan kesedihan atau kebahagiaan yang terang. Para tokoh ditunjukkan mesti terus melanjutkan hidup yang tidak tahu bagaimana ujungnya. Mereka yang kemudian tidak sengaja memilih, hidup dipermudah negara atau kemanusiaan antar orang-orang biasa. Kemudian Nunuk dalam La Muli barangkali pula ingin menyampaikan, sastra serius yang apik tidak mesti dibuka dan ditutup dengan kejadian-kejadian tragis.

Tampilan di ideide.id

Sumber: ideide.id

Monday, August 29, 2022

Istikharah, Pemaknaan Seni Mencintai Erich Fromm -4-)

Sumber: Seni Mencintai halaman 91

Ia ada bahkan jauh sebelum kulit dan daging dilekatkan pada tubuhmu. Jadi kamu tidak sendiri ketika merasa takut bertemu dengannya, sengaja menemui apalagi.

Sebagian orang sengaja bersekutu dengan jin demi bisa mencuri informasi, menjualnya lewat kodi-kodi dan diberi tepuk tangan oleh sesamanya. Sebagian lagi sengaja menjemput dengan sholat hajat, lainnya dengan istikharah. Tapi jika kamu percaya, ada juga para aulia yang bisa memasukinya karena diri mereka sememangnya dipilih.

Sayangnya ketika masing-masing dari kita lahir, ada ego kepemilikan yang disertakan. Ego itu menyatu dalam setiap darah dan nadi, sakit luar biasa apabila terpaksa diamputasi. Sebagian orang membiarkannya mengering lalu copot sendiri, sebagian lain terpaksa membawanya sampai mati. Sebagian melihatnya sebagi media mengenal Tuhan, sedang sebagiannya lagi malah terlilit habis-habisan.

Kamu barangkali bisa mencintai orang tuamu, ada lara ketika membayangkan mereka pergi darimu karena sakit, jadi kamu mengusahakan kesembuhan bagaimanapun caranya, entah dengan menyebar kembang atau pergi ke tabib yang katanya bisa memindah rasa sakit pada binatang. Lantas muncul pertanyaan, yang demikian dinamakan kepedulian atau ego kepemilikan?

Kamu barangkali bisa mencintai anakmu, kemudian dengan berbagai lobi, membiarkannya tidak bertanggungjawab atas kecelakaan yang menewaskan beberapa orang. Kamu takut anakmu kedinginan di lantai penjara, lantas muncul pertanyaan yang demikian dinamakan kepedulian atau ego kepemilikan?

Kamu barangkali bisa mencintai seseorang. Kemudian kamu katakan padanya bahwa kalian tidak cocok dan tidak perlu lagi menjemput jawaban. Sungguhkah kamu merasa kalian tidak cocok atau takut jika jawaban yang dicari-cari ternyata membikinmu tidak bisa memilikinya?

Bibirmu pun berbisik,” Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Alloh mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Alloh.”

Thursday, July 14, 2022

Ketakutan, Pemaknaan Seni Mencintai Erich Fromm -3-

Sumber: Seni Mencintai halaman 30-31


Pernah saya punya seorang sahabat perempuan. Kalau ditebak sih, kira-kira IQnya superior. Pintarnya pun rata begitu. Dia bisa eksak, kerajinan tangan, bahasa asing, sampai menulis. Dia bahkan dapat nilai sempurna di salah satu mata kuliah dosen yang terkenal sulit karena mengunggulkan analisa. Namun dia selalu takut berkonflik dengan orang lain. Semua permintaan orang dia iyakan.

Sepulang kuliah dengan mata cemas dia pernah bilang,”Soal pilihan jurusan waktu kuliah, kalau aku pasti pilih maunya orang tua. Karena kalau kita ada salah milihnya, kita masih bisa kembali ke orang tua. Beda kalau kita pilih jurusan sendiri, kalau ada salah pilihnya nggak bisa kembali ke orang tua.”

Pernah juga saya punya seorang sahabat laki-laki. Dia senang sekali dengan bidang bahasa namun malah pilih jurusan ekonomi. Saking jagonya, cara bicara dia mirip dengan native padahal tidak pernah ke luar negeri. Kesehariannya yang kerap berbahasa asing pun berdampak baik buat saya semasa sekolah. Bahasa asing saya jadi ikut meningkat.

“Kata abang sama si mamah, aku mau masuk Sastra Inggris ngapain? Mau jadi guru? Ekonomi lebih banyak prospeknya.” begitu katanya ketika kami berkomunikasi lagi setelah lulus kuliah.

Dia pun bercerita bagaimana upaya kerasnya lulus kuliah, bahkan hampir menyerah. Abangnya sempat menawarkan dia pindah jurusan saja, tapi ditolak, dia pilih bertahan meski lulus dengan IP kepala 2.

Bagaimana dengan kecerdasan dan pengetahuan suka di bidang apa, kedua teman saya ini tidak memperjuangkan apa yang mereka ingin? Berdialog dengan kedua orang tua agar menemukan titik tengah pun tidak.

Namun setelah membaca Seni Mencintainya Erich Fromm saya jadi paham, inilah penyatuan simbiotik masokisme. Orang tipe ini bukannya tidak mau mengambil keputusan karena tidak tahu apa yang mereka suka, bukan juga karena tidak cerdas. Namun orang jenis ini karena berbagai latar belakang, jadi takut risiko dari mengambil keputusan. Jadilah mereka memilih menimpakan risiko tadi pada orang lain  karena mereka takut terpisah dari yang mengarahkan, memandu dan melindungi; dalam cerita ini orang tua.

Friday, April 15, 2022

Tutorial Mencintai Kekasih, Pemaknaan Seni Mencintai Erich Fromm -2-

Sumber: Seni Mencintai halaman 68

Waktu kecil, kita dijejali bahwa cinta bentuknya pasti lelaki dan perempuan, berlarian di taman, berciuman, lalu menikah dan bahagia selamanya.

Waktu remaja, kita bilang ciye pada siapapun lelaki dan perempuan yang nampak duduk berdua saja, seolah sudah pasti mereka sepasang kekasih.

Waktu dewasa, kita mengasihani orang-orang yang usianya 25 tahun atau lebih tapi tidak kunjung menikah, seolah mereka tidak buru-buru menjemput yang namanya bahagia.

Erich Fromm bilang, objek cinta ada lima; cinta diri, cinta keibuan, cinta Tuhan, cinta persaudaraan dan cinta erotis.

Tiga paragraf pertama tadi, objek cinta erotis, yang eksklusif antara dua orang saja. Barangkali ada yang menyebutnya pacaran, ada juga yang menyebutnya pernikahan.

Dan ini kisahnya A, dia suka bidang bahasa namun mengiyakan saja ketika keluarga menyuruhnya masuk ekonomi. Bidang bahasa hanya membawanya jadi guru, begitu nasihat yang ia terima.

Ia pilih tidak ngotot masuk bahasa, tidak juga mencari seberapa besar potensinya di sana dan peluang apa yang bisa diciptakan sendiri.

Hari-harinya berat karena jurusan ekonomi membuatnya banyak berhitung. Hitung-hitungan ternyata tidak seringan bahasa dalam kepalanya.

Lalu A masuk english club. Dengan cepat ia didapuk jadi pemateri karena kemampuannya dianggap lebih. Kemudian ia merasa bosan, tidak ada lagi jenjang kemana pun setelah jadi pemateri.

Teman-teman menyarankannya ikut MUN. Tapi ketika ia coba masuk, hal yang dipelajari katanya terlalu luas, jadi dia mundur. Tidak ada english club, tidak ada MUN, lalu ia bertemu kekasih yang tumpuan objek cintanya sama.

Bagi A, bertukar kata cinta tidak serepot memberi argumentasi pada keluarga soal lebih suka bidang bahasa, tidak juga serepot pindah dari english club ke MUN. Hanya ada mereka, tanpa pertanyaan siapa diri, siapa Tuhan. Tanpa keluarga, teman, hobi, komunitas dan tujuan hidup.

Ketika mereka sibuk hanya berdua saja, ada teman-teman kita yang lain, sibuk mencoba satu UKM ke UKM lain di kampus, mencari mana yang paling pas. Ada juga yang belajar membaca kitab, mulai bertanya apa benar ingin menganut agama yang tertera di KTP. Ada juga yang membawa kotak di perempatan, menyanyi dan orasi untuk korban bencana alam.

Kemudian kekasih A pergi, dengan lelaki lain yang punya objek cinta erotis yang ia cari; pernikahan. Pacaran tidak lagi membuatnya aman ternyata.

A seperti dirampas sayapnya. Ia baru sadar tumpuannya hanya si kekasih. Ia tidak kenal siapa dirinya, apa yang ia ingin dalam hidup, hal apa yang bisa dikembangkan dalam karirnya.

Pergi kerja pagi, pulang petang, tanpa ada lagi si kekasih, satu-satunya orang yang bisa diajak mengobrol. Tidur di kostan di akhir pekan, tanpa hobi yang menanti. Ia juga baru sadar, tidak satu pun tetangga kost dikenalnya.

Tuhan bahkan terkekeh melihatnya menangis sesak sambil berkata,”Ngobrol denganku kan sebenarnya bisa...”

Thursday, April 7, 2022

Absen Nyawa, Pemaknaan Seni Mencintai Erich Fromm -1-

Sumber: Dokumentasi Pribadi


“Aman kah?”“

Sehat?”“

Masih hidup?”

“Asu kon...”

Empat kalimat di atas bisa jadi cara menyapa teman. Absen nyawa istilah guyonnya (meski batinmu barangkali bilang, bukannya presensi istilah yang lebih tepat ya?).

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan, 29 orang pasien mengalami gejala ringan dari total 68 kasus baru Covid-19 akibat penularan varian Omicron.” Narasi berita mulai masuk ke trending Twitter, fyp Tiktok dan televisi.

Coba tarik nafas dalam-dalam, hembus pelan dan ketik kalimat semacam yang empat tadi, kirim pada teman.

Barangkali kepada mereka yang bulan lalu bilang, sudah boyong dari pondok jadi tidak akan lagi menginjakkan kaki ke kota tempat kalian satu kampus, kecuali waktu legalisir ijazah.

Barangkali kepada mereka yang bilang, bapaknya jadi sensitif sejak sakit paru-paru.

Barangkali kepada mereka yang tiga bulan lalu melihat cinta pertamanya bertunangan atau mereka yang demam setelah vaksin.

Atau bahkan, pada mereka yang menolak menceritakan kabar terkini dan hanya menjawab dengan,”Pokoknya doakan aku baik-baik aja ya...”

Apa yang kita rasakan setelahnya?

Erich Fromm bilang, dalam cinta ada orang-orang dengan karakter produktif;

“Memberi ialah ungkapan tertinggi potensi. Dalam memberi, aku merasakan kekuatanku, kemakmuranku, kekuasaanku. Perasaan daya hidup dan potensi memuncak ini mengisiku dengan kegembiraan. Kurasakan diriku melimpah, lepas, hidup, karenanya aku gembira. Memberi lebih menggembirakan daripada menerima, bukan karena aku kehilangan, tapi karena dalam tindakan memberi ada ungkapan kehidupanku.”

Bagaimana rasanya mencintai orang lain tanpa ‘karena’? Tanpa merasa perlu mengembalikan sesuatu karena ia pernah memberi? Tanpa merasa harus memberi sesuatu karena pasti diberi balik? Menyapa dan bertanya, lepas apapun tanggapannya. Yang demikian, orang-orang dengan karakter produktif.

Dan barangkali dadamu sedang terasa hangat sekarang.

Tuesday, May 25, 2021

Menyoal Depresi Pasca Melahirkan, Anak-anak dan Pelabelan

Sumber: basabasi.co

Dimuat di basabasi.co 14 Desember 2019

Judul : SILSILAH DUKA
Penulis : Dwi Ratih Ramadhany
Penerbit : Basabasi
Edisi : Pertama, September 2019
Tebal : 134 hal
ISBN : 978-623-7290-21-6

Dibuka dengan adegan mengerikan Ramlah yang bunuh diri disaksikan putri pertamanya, Silsilah Duka seperti menagih untuk terus dibaca tanpa jeda. Meski tetap dengan gaya bahasa Ratih yang khas, novela ini tidak menyajikan tata bahasa yang berbunga-bunga dengan diksi-diksi cukup berat layaknya dalam buku keduanya, Pemilin Kematian (PSM, 2015).

Pemilin Kematian sendiri terdiri dari cerita pendek yang telah dimuat di koran nasional dan memenangkan perlombaan. Memang gaya menulis yang disajikan Ratih di sana bisa dibilang pekat beraroma cerpen koran atau cerpen ala kompetisi. Dan langkah Ratih yang tidak menghilangkan gaya bahasanya, namun memangkas diksi-diksi sukar seperti biasa ia menulis di media nasional, memberi dampak novela ini tetap berbobot namun tidak membuat pembaca terengah-engah.

Novela ini bisa juga dikatakan membawa pemahaman mengenai depresi pasca melahirkan yang tidak tekstual. Tokoh Mbuk Jatim misalnya, menjadi gambaran bahwa masyarakat yang tumbuh dalam tradisi tidak primitif juga. Mbuk Jatim si dukun pijat bayi, mengerti psikologi dalam hal praktik. Ia memahami bagaimana seseorang mengalami depresi dan bagaimana sebab juga akibatnya, hanya saja ia kalah dalam penggunaan istilah sukar. Terlihat dari bagaimana Mbuk Jatim meyakinkan Farid yang sarjana dan pegawai, bahwa istrinya diliputi ketakutan hingga tekanan mental dan bukannya kesurupan apalagi kurang iman.

Lain dari Mbuk Jatim, tokoh Ebo’ yang juga tumbuh dalam tradisi masih dihinggapi mitos bahwa ciri-ciri seseorang yang histeris dan menangis adalah kesurupan dan bukannya gangguan kesehatan mental. Berbagai sebab di masa lalu, membuatnya terobsesi mengatur hidup orang lain, termasuk hidup anak-anak dan menantunya yang sudah masuk usia dewasa. Luka akibat kegagalan menata hidupnya sendiri, membuat Ebo’ tidak kunjung sembuh bahkan hingga memiliki cucu. Meski sebenarnya perempuan yang telah lama kehilangan suaminya itu tengah membuat mekanisme pertahanan hidup dengan berupaya ingin dianggap ada dan mampu menata hal-hal yang seharusnya. Lantas masih ia pula yang lari dari lukanya yang tidak kunjung sembuh, dengan membuat hidup orang lain terasa selalu salah. Jika hidup orang lain selalu salah, maka menjadi benarlah hidupnya. Tokoh mertua Ramlah dan ibu kandung Farid ini terasa sukses membuat pembaca ingin menjambak habis rambutnya tepat pada omelannya yang ketiga kali.

Salah satu omelan Ebo’ ketika memaksa menantunya pijat tradisional meski kesakitan, begini isinya,“Ramlah nggak akan mati karena dipijat begitu. Kamu berani bilang Ebo’ serakah? Lupa kamu keluarnya dari tampuk siapa? Ini lagi menantu suka ngadu. Masih untung Farid nggak saya suruh kawin lagi.” (hal 20)

Farid sebagai seorang suami juga sebenarnya sudah memegang prinsip “hamil berdua”. Istilah ini belakangan populer untuk menyebut suami yang turut andil ketika istrinya hamil hingga merawat anak. Berasal dari masyarakat yang penuh tradisi, tidak membuat Farid membedakan “pekerjaan lelaki” dan “pekerjaan perempuan”. Hal ini seperti menggugat anggapan sebagian orang bahwa pria lokal tidak berpikiran terbuka sehingga enggan melakukan pekerjaan rumah juga punya andil mengurus dan mendidik anak-anak. Masih Farid pula, yang melakukan prinsip “hamil berdua” tanpa teori yang melangit. Dia mencintai Ramlah, istrinya itu, dan melakukan segala hal yang sepakat mereka sebut sebagai sama-sama nyaman.

Lingkungan Ramlah pun sesungguhnya sudah sangat ideal, ya jika saja Ebo’ tidak bersikap sedemikian ajaib begitu. Selain suaminya yang menerapkan “hamil berdua”, masih ada Kholila, iparnya yang lajang dan mahasiswi tingkat akhir, mendukung kehamilannya dengan cara mengirim tips-tips selagi hamil dan melahirkan dari YouTube. Diam-diam melalui novela ini, kita juga bisa belajar sikap mana yang tepat dan tidak tepat ketika menghadapi orang hamil, lagi-lagi tidak secara tekstual dan di luar teori-teori berat. Pula bagaimana kita turut andil menciptakan lingkungan yang positif bagi seseorang yang tengah hamil.

Selain menunjukkan penguasaan yang cukup baik mengenai isu depresi setelah melahirkan, Ratih juga ternyata menguasai psikologi anak. Persoalan psikologi anak dilebur secara apik dalam dialog dan gaya penceritaan. Bahaya pelabelan bagi anak menjadi salah satu yang paling menonjol dalam cerita. Ratih tidak mendikte pembaca dengan kalimat teoretis semacam, bahaya pelabelan bagi anak adalah dan contoh-contohnya adalah. Dalam perkara pelabelan ini, Ratih justru menceritakannya melalui Mangsen yang entah bagaimana berkulit jelaga dan beda sekali dengan anggota keluarga lainnya.

Secara apik Ratih menggambarkan anak-anak sebaya yang enggan bermain dengan Mangsen karena dianggap aneh. Konsep aneh ini ternyata tidak didapat sendiri oleh anak-anak tersebut. Mereka mendapatkannya dari orang dewasa di sekitar. Figur orang dewasa yang dianggap serba tahu dan maha benar oleh anak-anak, membuat mereka membenarkan label soal Mangsen yang sengaja ditularkan. Pada akhirnya, berdasar label tersebut, anak-anak ini merasa sah saja menjauhi Mangsen yang berbeda. Toh, ini peraturan tidak tertulis dari para orang dewasa bukan?

Persoalan warisan label tersebut, tergambar dalam salah satu paragraf di halaman 74. Begini isinya; mereka enggan mengajak Mangsen bergabung karena telah dibekali peringatan orang tua masing-masing bahwa Mangsen tidaklah cocok menjadi teman mereka. Kulitnya berbeda. Ayah dan ibunya pasti berbuat banyak dosa. Jangan dekat-dekat supaya tidak ikut celaka.

Sayangnya, pada dua bab terakhir, Ratih terasa terburu-buru dan banyak menyajikan jalan cerita yang berulang telah disajikan terlebih dahulu dalam karya fiksi sejenis. Pijakan kuat dari bab-bab sebelumnya seolah lumayan bergoyang pada dua bab terakhir ini. Bahkan ada adegan-adegan yang mirip sinetron kejar tayang. Meski demikian, salah satu seri novela dari kompetisi penerbit Basabasi ini, bisa dibilang memberi edukasi soal pendidikan keluarga terhadap pembaca melalui cerita kelam yang di luar nalar. Silsilah Duka tetap layak mendapat tepuk tangan dan semoga, makin banyak penulis serupa Ratih yang tidak hanya menjual cerita kelam namun juga nilai-nilai yang dekat bila dipraktikkan dalam keseharian.


Catatan: Sejak 2019 sering lupa habis ngetik tulisan simpan di mana dan habis dimuat nggak dikliping di blog. Ini nyicil yang lupa-lupa itu yes.

Dokumentasi tampilan website.
Sumber: basabasi.co


Wednesday, December 30, 2020

Berbeda Pelangi; Panduan Mengenal Dunia Homoseksual, Karya Ansyah Ibrahim

 

Sumber: Dokumentasi pribadi

Oh, tidak… tidak… kamu keliru jika mengira buku ini berisi halal dan haram dunia homoseksual. Tapi jika kamu berpikir isi buku ini demikian, merasa jijik, bahkan lebih jauh berpikir penulisnya pantas dirisak, lebih baik tutup dahulu resensi buku ini dan baru kembali lagi dengan itikad yang sama; sebagai sesama manusia.

Membaca berbeda Pelangi, nyatanya cukup membuat terkejut. Ansyah di sini sebagai minoritas malah berusaha betul memakai narasi heteroseksual dalam tulisan-tulisannya. Bisa dikatakan, buku ini dibuat oleh seorang homoseksual yang isinya justru ramah terhadap heteroseksual. Nah, bagaimana nih? Yang minoritas justru yang berpikir bagaimana membuat nyaman yang mayoritas.

Buku ini sendiri diambil dari tulisan-tulis di blog Ansyah selama ini. Kata penulisnya sih, ini blog trafficnya suka naik setiap ada media yang memberitakan homoseksual dalam pusaran konflik.

Baik, kita mulai dari Berbeda Pelangi yang isinya bukan halal dan haram…

Ditulis menggunakan gaya bahasa personal dengan tidak banyak sudut pandang orang pertama, halaman 19 berjudul Salahkah Menjadi Gay? Ansyah menyajikan dua sudut pandang antara salah dan benar dalam dunia gay. Tidak ada kesimpulan yang memperjelas posisi sikapnya di sini. Pembaca pun, seperti dibiarkan memilih sikapnya sendiri. Tidak ada kalimat yang menganjurkan pilihan tertentu.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Format menulis dalam tulisan ini, dibuka dengan paragraf pembuka berisi pro kontra soal dunia gay secara umum. Baru kemudian, masuk sub judul; Salah dan Benar, selanjutnya kesimpulan.

Hal pertama yang kan dibahas adalah sisi salah. Ada yang mengatakan apapun alasan yang mendasari seseorang menjadi gay, itu adalah sebuah kesalahan. Tak jarang gay disebut sebagai, ada yang bilang gay itu kelainan gen, atau bahkan lebih ekstrim itu gangguan jiwa. Mereka yang menganggap gay adalah sebuah kesalahan pada dasarnya dipengaruhi beberapa faktor yaitu agama, budaya, sosial dan hukum. (hal 20)

Demikian isi paragraf awal sub judul Salah. Masih dilanjutkan pembahasa agama, budaya dan sosial. Penulis pun di sini tidak meletakkan diri sebagai seorang ahli namun lebih kepada seorang teman. Hal ini terlihat dari kalimat ...mari kita bahas dari segi agama terlebih dahulu. Koreksi saya jika salah…

Sub judul ini dipungkasi narasi bahwa ternyata menjadi gay pun masih menjadi perdebatan di antara teman-teman gay sendiri. Pengetahuan ini tentu baru, bagi teman-teman hetero yang jarang atau sama sekali bersinggungan dengan homoseksual. Narasi ini masih disusul penjelasan mengapa dari perdebatan ini, ada gay yang akhirnya menikah dengan wanita. Dalam cara pandang hetero, gay yang menikahi wanita boleh jadi dianggap kebohongan dan kejahatan, namun dalam sub judul ini, terang dijelaskan bagaimana korelasi anggapan menjadi gay salah hingga seorang gay yang akhirnya memutuskan menikahi perempuan. Ada motif yang ternyata lebih rumit dari yang dikira sekadar kebohongan dan kejahatan.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Paragraf berikutnya berisi sub judul Benar. Terdapat bahasan Hak Asasi Manusia (HAM). Pembahasan seputar setiap manusia memiliki tanggungjawab dan pilihan masing-masing. Kemudian dipungkasi pembaca dipersilahkan memilih sendiri mau mengambil sudut pandang yang mana.

Judul-judul tulisan yang ditelakkan di awal buku, memang banyak yang membahas pertentangan mengenai gay itu sendiri. Peletakan judul-judul tulisan ini agaknya dalam upaya merangkul pembaca hetero yang bisa dipastikan, mula-mula pasti masih bertanya seputar gay salah atau benar? Gay takdir atau pilihan?

Meski jika meletakkan diri sebagai hetero yang sama sekali belum pernah bersinggungan dengan gay, ada beberapa judul yang lebih baik disusun ulang. Beberapa di antaranya, Gay Liberal VS Konservatif dan Pernikahan Semu di Kalangan Gay. Gay Liberal VS Konservatif bisa diletakkan di awal buku, setelah jusul-judul seputar perdebatan seperti Mau Kapan Jadi Seorang Gay? Hingga Gay, Pilihan Atau Takdir. Cukup disangakan ketika Gay Liberal VS Konservatif yang mestinya jadi pembahasan awal, malah diletakkan di tenagh buku oleh Ansyah.

Kemudian Pernikahan Semu di Kalangan Gay, lagi-lagi judul ini diletakkan di tengah buku, padahal judul yang saling terkait justru ada agak jauh di halaman sebelumnya. Judul ini lebih cocok diletakkan sebelumatau sesudah Jika Ayahku Seorang Gay, Jika Anakku Seorang Gay dan Jika Suamiku Seorang Gay. Satu lagi judul yang cocok diletakkan di antara tulisan-tulisan yang saya sebut ini, Kisah Wanita yang Menikah Dengan Seorang Gay. Tulisan ini berisi contoh kasus dan justru diletakkan terlalu jauh dari judul-judul terkait, halaman 129! hampir di seperempat akhir buku.

Lanjut pada, Berbeda Pelangi memakai narasi ala heteroseksual…

Meski tidak semua narasi ala heteroseksual dan beberapa di antaranya bagi heteroseksual akan terasa semacam duh, kok aku disalahkan ya? Namun narasi ala heteroseksal itu terlihat salah satunya dari tulisan Bisakah Gay Sembuh? Istilah ‘sembuh’, tentu aja sangat hetero. Bagi banyak hetero, hal-hal di luar menyenangi lawan jenis lebih layak disebut harus disembuhkan. Iya… iya… sebagian lagi memang tidak demikian. Ini bagi yang tidak canggung bersinggungan dengan gay sebagai teman atau kerabat.

Dalam judul Bisakah Gay Sembuh? Terdapat lagi sub judul antara lain; Penyebab Menjadi Gay, Hapus Semua Aplikasi Gay, Tinggalkan Lingkungan Gay, Mendekatkan Diri Kepada Sang Pencipta, Aktif Kegiatan Sosial, Menikah. Sub bab-sub bab ini isinya memang memakai narasi hetero. Di antaranya penjelasan menjadi gay salah satunya karena pergaulan. Sebagai hetero, kisah menjadi gay karena lingkungan begitu jamak saya dengan dan barangkali kamu juga. Kerap kali, narasi satu ini membuat minggir kisah-kisah lain semacam ada pula gay sejak kecil. Terbawa pergaulan ini, masih juga sepaket dengan kisah gay menular. Tentu tidak hanya saya yang mendengar narasi macam ini sejak kecil di antara penutur yang semuanya juga hetero.

Istilah ‘sembuh’ ini juga diulang pada beberapa judul lain, ditambah dengan istilah ‘zona abu-abu’ yang seperti mengamini pandangan hetero bahwa dunia gay sepenuhnya tidak benar. Selain pemakaian istilah yang ramah hetero, ada juga pemakaian istilah yang menjadi jembatan. Simak kalimat berikut…

Pilihan untuk menikah… berjanjilah pada diirmu sendiri bahwa kamu akan bertanggungjawab atas pilihan tersebut… (hal 96)

Bagi teman-teman homoseksual, kata ‘kamu’ akan terasa seperti,”Oh iya, yang diajak ngomong itu aku.” sedang bagi heteroseksual, kata ‘kamu’ akan terasa seperti,”Oh iya, seandainya aku ada di posisi itu…”

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sedang dalam judul Jika Suamiku Seorang Gay dan Jika Ayahku Seorang Gay, terdapat dua pendekatan berbeda. Suamiku Seorang Gay, menyajikan pilihan; mencari alasan (suami menjadi gay), memberi kesempatan kedua, istikharah hingga bercerai. Narasi dari pilihan-pilihan tadi terlihat semacam itu pilihanmu, itu hakmu. Judul tulisan satu ini, kuat memakai narasi hetero. Hetero yang mengalami kejadian serupa atau teman hingga kerabatnya yang mengalami, akan merasa tidak disalahkan ketika memilih apapun jika merujuk tulisan ini.

Namun tidak demikian dalam Ayahku Seorang Gay. Ada penekanan seorang anak yang mengalami hal tersebut untuk melakukan refleksi diri paksa. Semacam disarankan mengingat berapa biaya yang ayahnya keluarkan untuk dirinya hingga penekanan untuk memaafkan. Bagi hetero yang mengalami hal tersebut, bisa jadi akan merasa ayahku yang nggak jujur, aku juga yang dimarahi? Namun justru letak otentiknya buku yang ditulis langsung oleh teman gay memang ada di sini.

Upaya Ansyah menjembatani dengan menggunakan narasi hetero tentu saja keren, namun narasi homoseksual seperti dalam Ayahku Seorang Gay tetap juga mesti kita pelajari. Lha, sepanjang buku sudah banyak narasi ala heteronya kok, beberapa yang narasinya homoseksual justru bikin kaya toh?

Perkara ejaan, sedikit saja yang salah ketik atau kalimat tidak efektif, jadi tidak perlu saya bahas di sini. Ansyah sendiri menulis dengan cukup rapi. Meski bagi pembaca yang barangkali sudah terbiasa membaca jurnal atau tulisan ilmiah lain tentang homoseksual, barangkali akan merasa susunan tulisan Ansyah terasa lamban. Namun untuk yang satu ini, tentu tergantung pengalaman personal. Sebagian orang barangkali tidak merasa butuh disajikan kutipan pengertian dari Wikipedia yang disajikan Ansyah, sedang sebagian lainnya masih butuh.

Selebihnya, pembaca diajak mengenal pilihan-pilihan hidup gay yang ternyata serba terbatas. Bahwa teman-teman homoseksual nyatanya bukan sebatas pemberitaan yang lebih banyak di pusaran konflik seperti prostitusi misalnya. Teman-teman homoseksual ada pula yang dihadapkan pada ketakutan hidup sebayang kara di hari tua, sedang sulit bagi mereka menyenangi sesama jenis sedang standar masyarakat menggambarkan normal artinya menikahi lawan jenis. Kalaupun menjalani pernikahan dengan lawan jenis, masih ada pula permasalahan seperti pasangan dan anak yang baru mengetahui orientasi seksual ayah atau suami mereka belakangan. Belum lagi keinginan berhubungan dengan sesama jenis yang tidak bisa dibendung sekalipun telah menikah dengan lawan jenis. Motif-motif manusiawi dijabarkan pula oleh Ansyah dalam setiap penuturannya.

Dalam bertutur, Ansyah lebih banyak menggunakan sudut pandang orang ketiga. Buku ini pun secara otentik, merekam pengalaman personalnya sebagai seorang gay.  Pengalaman demikian, tentu beda pendekatan dengan jurnal atau tulisan ilmiah yang berbasis data. Ansyah pula, menulis buku ini hingga lebih terasa sebagai seorang teman yang tengah menggandeng tangan kita, menuntun dan menceritakan segala sesuatunya dengan perlahan…

 

Judul buku                 : Berbeda Pelangi (The Hidden Life Part 1)

Penulis                        : Ansyah Ibrami

Tebal                       : 170 halaman

Tahun terbit               : 2020

Penerbit                       : Indie Book Corner (IBC)

ISBN                               : 978-602-309-480-6


Tuesday, November 24, 2020

Anak-anak Rumit Itu Bernama Gifted


Sumber: Prenadamedia Group

Judul  : PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK GIFTED

Penulis  : Julia Maria van Tiel

Penerbit  : Prenadamedia Group

Edisi  : Pertama, September 2019

Tebal  : 184 hal

ISBN  : 978-602-383-055-8

Untuk memahami masalah sosial emosional anak gifted, kita tidak bisa hanya memahami bagaimana suatu perkembangan sosial emosional anak normal, tetapi justru kita harus memahami bagaimana karakteristik dasar anak gifted, sehingga diharapkan kita mampu mengembangkan anak ke arah yang baik. Mengasuh dan mendidik anak-anak gifted membutuhkan ketrampilan khusus, yang berbeda dengan mengasuh dan mendidik anak-anak non gifted.

Anak-anak gifted meski jumlahnya hanya 2-5 persen tetapi ia merupakan anak dengan potensi luar biasa. Bukan saja dalam bidang sains, tetapi juga seni, budaya, dan kepemimpinan. Mereka adalah produser ide yang sangat berguna demi kemajuan manusia. (Hal X)

***

Bagaimana rasanya ketika membaca cukilan dua paragraf dari buku Perkembangan Sosial Emosional Anak Gifted di atas? Terasa asing ketika kata ‘tidak normal’ bisa bersanding dengan ‘potensi luar biasa’? Ya, anak gifted tergolong anak kebutuhan khusus memang. Istilah kebutuhan khusus sendiri, selama ini lebih akrab dengan anak-anak autis, down syndrom, degradasi mental hingga tuli. Padahal, anak-anak dengan kecerdasan di atas rata-rata juga dapat digolongkan sebagai anak bekebutuhan khusus. Anak-anak ini disebut gifted yang uniknya, bahkan tes IQ tidak melulu bisa mendeteksi kecerdasan mereka.

Sebagai penulis buku, Julia Maria van Tiel sendiri memiliki latar belakang orang tua dengan anak yang merupakan individu gifted. Di antara bacaan mengenai anak gifted yang bisa dibilang tidak sebanyak buku-buku dengan bahasan anak kebutuhan khusus jenis lain di Indonesia, Julia sejak tahun 2000 justru sudah menjadi advokator anak gifted. Perkembangan Sosial Emosional Anak Gifted (selanjutnya disebut PAG) hanyalah salah satu dari sepuluh buku yang pernah ditulisnya. Kesepuluh buku tersebut antara lain membahas anak berkebutuhan khusus seperti disleksia, terlambat bicara, hingga ADHD dan empat di antaranya membicarakan anak gifted secara khusus.

Terdiri dari lima bab, PAG ditulis berselang-seling antara perkembangan anak normal dan anak gifted. Misalnya pada bab tiga, kelekatan pada anak normal dituliskan dalam tiga sub bab, baru setelahnya kelekatan anak gifted dibahas dalam sub bab berikutnya. Dengan demikian, PAG dapat dipahami siapa saja meski belum pernah memelajari psikologi umum maupun khusus sebelumnya.

Pembaca tidak bakal disuguhi definisi tunggal mengenai anak gifted dalam buku ini. Barangkali, definisi tunggal telah dijelaskan Julia melalui beberapa buku tulisannya yang lain. Sedang PAG memang berfokus pada bahasan perkembangan sosial dan emosional. Selain menjelaskan perkembangan sosial emosional anak normal dibanding anak gifted, dalam buku juga dijelaskan contoh-contoh kasus dari teks yang telah diterjemahkan oleh penulis.

Teks yang diterjemahkan oleh penulis dan menjadi contoh kasus, antara lain mengenai daya ingat anak gifted yang luar biasa. Contoh kasus tersebut diambil dari sebuah keluarga yang mengasuh individu gifted di negara lain. Sebelum contoh kasus tersebut dijabarkan, rentang daya ingat anak normal terlebih dahulu disajikan, sehingga pembaca mampu melihat perbedaan perkembangan daya ingat antara anak normal dengan gifted.

Uniknya, beberapa kali dalam buku juga disebutkan, bahwa ciri dan perkembangan anak gifted antara satu dengan lainnya tidak seragam. Keterlambatan bicara bagi individu gifted yang satu, belum tentu terjadi pula pada individu gifted yang lain. Pula ciri konsisten terhadap tugas bisa dimiliki anak gifted yang satu, namun tidak dengan lainnya. Namun daya ingat yang sangat kuat dan detail, ternyata menjadi karakteristik anak-anak ini. Demikian membuat kenangan buruk, bisa menjadi trauma yang lebih pelik dan juga kemarahan-kemarahan mendalam. Daya ingat jangka panjang milik anak-anak gifted ini, ternyata tidak dapat diukur dalam tes IQ. Tes IQ nyatanya hanya dapat mengukur daya ingat jangka pendek. Ilmu psikologi umum pun tidak melulu bisa diterapkan dalam pola pengasuhan anak gifted, meski orang tua disarankan tetap memelajarinya sebelum psikologi khusus.

Reward dan punishment menjadi salah satu contoh psikologi umum yang dijelaskan dalam PAG dan tidak bisa diterapkan terhadap anak gifted. Pola pendidikan hadiah dan hukuman, normalnya mampu memberi pemahaman pada anak tentang nilai mana yang diperbolehkan dan tidak. Namun anak gifted beda soal. Anak-anak ini dengan kecerdasannya yang luar biasa dikenal pula manipulatif, sehingga pola pendidikan hadiah dan hukuman, justru dipergunakan mendapat apapun yang mereka mau dan bukannya sungguh memahami nilai mana yang boleh dan tidak dilakukan.

Tahun 2007, Tessa Kieboom dari Universitas Antwerpen menjelaskan tentang bahwa memberikan pendekan reward and punisment untuk anak gifted justru kontraproduksi dan hanya menimbulkan masalah baru. Anak akan merasa ditidakadili, atau bahkan justru ia tertantang untuk mencoba-coba batas kapan dihukum. Anak gifted adalah anak yang mempunyai motivasi internal, dengan begitu ia tidak akan mau begitu saja mau menerima pendapat orang tua, tidak akan menunjukkan perilaku yang positif di mata orang tuanya. Pada akhirnya hanya akan menjadikan persoalan lebih parah, hubungan orangtua anak menjadi sulit. Orangtua juga sulit mengendalikan perilaku anak. (Hal 136)

Meski mampu dibaca siapa saja meski tanpa latar belakang psikologi, PAG sayangnya memiliki beberapa kekurangan terkait tata bahasa. Halaman 136 misalnya, ‘kontraproduksi’ lebih tepat digantikan ‘kontraproduktif’. Pula terdapat kalimat tidak efektif ‘menjelaskan tentang bahwa’ yang lebih tepat digantikan ‘menjelaskan tentang’ atau ‘menjelaskan bahwa’. Sedang kalimat ‘anak akan merasa tidak ditidakadili’, lebih tepat digantikan ‘anak dapat merasa diperlakukan tidak adil’. Kekurangan dalam tata bahasa, juga terjadi cukup banyak dalam halaman-halaman PAG lainnya.

Lepas dari kekurangan dalam hal penulisan, Julia juga menjelaskan potensi dan risiko seorang anak gifted dengan proporsional. Selama ini, anak gifted lebih banyak diidentikkan dengan anak yang berprestasi di sekolah dan juga sangat bertalenta. Namun ternyata anak gifted tidak melulu berprestasi secara akademis, bahkan banyak yang memiliki masalah prestasi belajar rendah. Penyebab anak-anak berbakat ini bisa memiliki prestasi belajar rendah pun kompleks dan dijabarkan gamblang melalui perbandingan perkembangan anak normal dan gifted, termasuk kelekatan, perkembangan identitas dan pertumbuhan yang tidak singkron. Kritik yang tidak tepat, menjadi salah satu faktor anak gifted justru patah dan memiliki prestasi belajar rendah. Kritik demikian, bisa membuat bekas lebih berat terhadap anak gifted yang memiliki motivasi internal. 

Selain secara alami memiliki semangat membela keadilan, kesehatan mental justru menjadi risiko yang dijabarkan Julia dalam diri individu gifted. Seperti dijelaskan dalam beberapa paragraf sebelumnya, kepemilikan memori jangka panjang menjadi karakteristik anak gifted. Namun memori demikian tidak melulu menguntungkan. Kenangan traumatis yang tidak mampu diatasi anak, bisa muncul menahun berikutnya dan mengakibatkan kemarahan hingga beban pada mental yang berujung gangguan kesehatan mental. 

Pola pemikiran yang tidak berurutan, terlalu perfeksionis, perundungan, teman sebaya yang sulit mengikuti lompatan perkembangan kognitif dan orang tua yang rawan memergunakan kekerasan karena anak nampak tidak patuh, juga menjadi faktor-faktor berisiko hingga individu gifted tidak mampu mengembangkan talentanya. Telalu perfeksionis misalnya, dijelaskan memiliki kelebihan di mana seorang anak bisa mengerjakan tugas dengan lebih detail, mendalam dan berbasis esensi. Namun sikap demikian pula memiliki risiko menyulitkan anak dalam pergaulan. Teman sebaya si anak, bisa jadi kurang menyenangi sifat terlalu perfeksionis yang dianggap tidak praktis dan menyulitkan. 

Seperti disebut dalam awal tulisan, tes IQ tidak melulu mampu mengukur apakah seseorang merupakan individu gifted. Anak-anak gifted yang terlambat bicara misalnya, akan memiliki permasalahan auditori hingga jika diberi tes IQ, bisa jadi hasilnya di bawah rata-rata. Padahal, anak-anak ini justru unggul dalam pemrosesan visual. Maka PAG menjabarkan Delphi Model yang tidak sekadar melihat anak dengan IQ tinggi sebagai individu gifted. Melalui Delphi Model pula, seorang anak dapat dikatakan gifted bukan karena seluruh aspek perkembangannya menonjol, namun justru ketika perkembangan seorang anak sangat tinggi pada satu faktor dan rendah pada faktor lain. Lagi-lagi perkembangan tidak singkron menjadi kunci dari ciri anak-anak berbakat ini. Demikian membuat anak-anak gifted rawan pula didiagnosa memiliki jenis kebutuhan khusus lain, misalnya ADHD dan autis.

Beberapa kali penulis juga menyatakan bahwa, ia memiliki seorang anak yang merupakan individu gifted dan telah didiagnosa oleh psikolog. Demikian menunjukkan, penentuan seorang individu gifted atau bukan, mesti melalui tangan profesional. Buku-buku memang sangat membantu untuk mengenali ciri atau dapat pula dipergunakan sebagai panduan penanganan pasca seorang anak didiagnosa gifted. Namun sekali lagi, ketika mendapati berbagai ciri kebutuhan khusus pada diri anak, diagnosa mesti dilakukan oleh psikolog. 

Melalui PAG, Julia selain membuat istilah gifted lebih mudah dipahami dengan bahasa sehari-hari, juga memberi pesan mengenai penerimaan segala keunikan anak berkebutuhan khusus satu ini kepada para orang tua. Semoga setelahnya, muncul pula Julia Maria van Tiel lainnya yang menulis buku-buku mengenai anak gifted dalam bahasa Indonesia. Demikian akan membuat penanganan anak-anak gifted di Indonesia, kelak lebih mudah diakses, apalagi jika bahasannya sesuai dengan lokalitas. Buku ini adalah sumbangsih besar untuk pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia, khususnya bagi para individu gifted.