Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Thursday, December 5, 2024

Gerak Bersama Lawan Kekerasan Seksual; Jangan Salah Fokus!

 

Dimuat dan dapat pula dibaca di Konde.co

Jangan salah fokus untuk menuntaskan kasus kekerasan seksual. Dengan berbagai alasan, pelaku sering meminta korban untuk diselesaikan secara damai atau diproses hukum secara berbelit-belit. Maka, jangan pernah salah fokus, tetap fokus ke penuntasan dan hak korban!


Upaya meruntuhkan para korban untuk menuntaskan kasusnya sudah banyak kita dengar. Dengan berbagai alasan, pelaku sering meminta korban untuk:

“Diproses saja secara hukum.”

“Diselesaikan saja secara kekeluargaan.”

“Diselesaikan saja secara damai.”

“Menjegal” para korban untuk menuntaskan kasusnya dengan proses hukum yang berbelit-belit memang mempersulit korban. Mereka harus mencari pendamping yang bisa mendukung, mencari psikolog sambil menuntaskan kasus hukumnya. Bisa saja kasusnya harus dibawa ke polisi, lalu ke pengadilan. Banyak sekali tenaga dan waktu yang harus digunakan korban untuk menuntaskannya. Belum lagi mengobati rasa sakit dan trauma yang belum tentu bisa hilang dalam hidupnya

Sayangnya, banyak yang masih beranggapan bahwa sebuah kasus tidak akan valid jika tidak diproses secara hukum. Meski sesungguhnya, ada dua jalur yang dapat diambil dalam kasus kejahatan termasuk kejahatan seksual, yaitu melalui jalur litigasi (pengadilan) dan non litigasi (di luar pengadilan). Penyerahan kasus atas permintaan pelaku pada korban melalui jalur hukum kadang hanya agar kasus ini lama diselesaikan dan pelaku terlepas dari sorotan publik

Perlu diingat, jalur non litigasi artinya bukan berdamai dengan pelaku, apalagi mempertemukan paksa antara pelaku dengan korban. Jalur non litigasi salah satunya dapat dilakukan dengan mengajukan berbagai bukti yang telah divalidasi melalui lembaga kredibel, agar pelaku mendapatkan sanksi dari tempatnya bekerja atau lembaga tempatnya mengenyam pendidikan. Sanksi dari lembaga pendidikan salah satunya dapat diajukan melalui jalur etik. Upaya ini dilakukan agar setidaknya di salah satu lingkungannya, pelaku berhenti mencari mangsa.

Selain penjegalan pada para korban, penjegalan juga sering dialami pendamping korban. Ternyata banyak kasus atas upaya penjegalan pada para pendamping korban ini, para pendamping korban juga ada yang menerima kekerasan mental dan fisik secara langsung, penghancuran karakter pendamping juga pernah terjadi dan kerap pula dilancarkan pelaku dan para pendukungnya agar publik tidak lagi berpihak kepada korban.

Belajar dari kasus intimidasi dan kekerasan fisik terhadap pendamping korban yang terjadi di salah satu pondok pesantren di Jombang, kasusnya memang sudah bergulir semenjak 2019 di ranah hukum dan kini pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka, namun kekerasan terhadap pendamping masih terjadi pada Mei 2021. Kronologi tersebut beredar melalui Instagram Front Santri Melawan Kekerasan Seksual atau @for.mujeres. Saat kejadian, pendamping korban didatangi enam orang laki-laki dewasa yang mengancam hingga membenturkan kepalanya ke dinding.

Lebih jauh, upaya semacam ini tentu saja menyasar tidak hanya terhadap korban/ penyintas, namun juga menyasar hingga lembaga yang menaungi penanganan kasus. Seperti apa saja upaya penjegalan yang kerap dilakukan pelaku?

Apa saja informasi yang dihembuskan oleh pelaku kepada lingkungan korban dan pendampingnya?

1.Pelaku menghembuskan informasi tentang kecacatan moral korban

Pelaku dan para pendukungnya menghembuskan kabar soal kecacatan moral korban. Mereka akan mencari-cari bagaimana gaya berpacaran korban hingga interaksi korban dengan lawan jenis. Faktanya akan digiring sedemikian rupa hingga publik menyimpulkan korbanlah yang mengundang kekerasan seksual tersebut bisa terjadi. Akhirnya, publik akan menormalisasi perbuatan pelaku.

2.Pelaku mencari kejelekan pendamping korban

Pelaku dan para pendukungnya kerap juga mencari-cari latar belakang organisasi, ideologi, hingga orientasi politik pendamping. Para pendamping dicitrakan secara buruk dan punya dendam pribadi

3.Pelaku mencitrakan dirinya sebagai orang yang berjasa

Pelaku membentuk citra seolah ia adalah figur yang sangat berjasa di lingkungannya, meski sesungguhnya semua hanya citra dan demi mencari mangsa. Publik yang semula mendukung penuh korban, lama-kelamaan sebagian mulai menarik dukungan. Mereka mulai menyangsikan sepak terjang korban dan pendampingnya, sehingga fakta kejahatan pun diragukan pernah ada. Lama-kelamaan publik mengartikan ini sebagai validasi bahwa kejahatan itu tidak pernah ada.

Kita semua tentu juga berharap, publik selalu berpikir kritis, yaitu tetap berpijak pada fakta bahwa kekerasan atau pelecehan seksual itu ada, jangan mau dibelokkan dengan informasi yang dibuat-buat dan tak relevan.

Mengandalkan perangkat hukum semata tentu tidak mudah dalam mengakhiri lingkaran kekerasan semacam ini. Sebagai bagian dari masyarakat, kita mesti turut andil menjadi sistem pendukung karena penyintas adalah kita semua yang berani bersuara!


(Foto/ ilustrasi: Pixabay)


POPPY TRISNAYANTI PUSPITASARI

Pegiat perempuan muda dan aktif di Jaringan Gusdurian 


Catatan:

Tulisan sudah disunting dengan gaya khas Konde

Thursday, November 3, 2022

Totto Chan; Jumpa Jati Diri di Blog

 

Sumber: Dokumentasi pribadi

Main blog dari SMP dan baru 2015 betulan tahu apa yang mau ditulis di sana. Jadi seorang teman yang jadi salah satu guru menulis saya itu merekomendasikan harus baca Totto Chan. Si teman ini dah jam terbang tinggi begitu, jadi satu atau dua kali baca karya tulismu apapun itu, dia bisa bagi saran butuhmu apa bahkan lebih jauh bisa gali masa lalumu gimana.

Dan betul, butuhnya saya memang baca Totto Chan karena setelahnya saya jadi makin mantap menulis kenangan-kenangan masa kecil yang sebelumnya memang sudah dimulai sedikit di blog. Bedanya, format menulis saya itu kenangan masa kecil ditambah pemahaman ketika dewasa ditambah ilmu pola asuh.

Jadi ketika kamu baca tulisan saya yang jenis ini, bisa sekaligus ditemui tuh Poppy anak-anak dan Poppy dewasa. Kapan lagi kan dalam satu tulisan ada satu orang beda jaman, sedang bapak atau ibu kita sendiri banyak yang tumbuh dewasa dengan ingatan sebagai anak-anak yang terputus.

Salah satunya saya pernah menulis perbedaan pola asuh ibu dan nenek. Banyak dari kita pasti mengalami ini juga. Jadi ibu saya tuh super disiplin, rapi dan anti kotor, sedang nenek jauh lebih lunak, tidak teratur dan bukan masalah jadi kotor. Kalau dengan ibu, main air bersih saja saya betulan tidak berani, sebaliknya nenek yang justru santai saja menunjukkan serangga kepada saya dan bahkan membantu mengoleksi tutup botol.

Nah, setelah cerita ingatan ketika anak-anak begitu, saya tambah apa yang dicerna ketika dewasa plus ilmu pola asuh. Bahwa ibu punya maksud sendiri dengan kedisiplinannya, pula nenek dengan sikap santainya. Pola asuh keduanya sama-sama punya nilai kurang dan lebih. Sangat manusiawi ketika pola asuh memang tidak ada yang sempurna.

Upaya saya menulis macam begitu pun sebagai kartasis yang ampuh sekali sih ternyata. Karena memori saya terlalu detail sejak usia satu setengah tahun dan sempat bikin stress karena tidak terkendali.

Pengalaman personal setiap orang soal pola asuh tuh, dijamin tidak ada yang sama persis dan cerita model di atas adanya di rumah dijitel saya https://semangkaaaaa.blogspot.com dengan label ‘ngoceh pendidikan’.

Wednesday, February 2, 2022

Tutorial Menanggapi Kasus Kekerasan Seksual Tanpa Perspektif Korban

 

Sumber: Gugel

Kok nggak lari atau teriak?

Tiba-tiba badanku kayak lumpuh, mau teriak nggak bisa, lari apalagi.

Baru lapor kok setahun kemudian?

Pelaku citranya bagus, aku takut ceritaku dianggap nggak valid.

Kalau nggak ada saksi, berarti bohong.

Pelaku menggiring aku sampai berdua saja.

Pelaku tuch udah tau mana cewek yang layak digenitin.

Aku ramah pada pelaku dan semua orang. Tapi hanya kamu yang menangkap keramahan itu sebagai genit.

Pelaku sama aku nggak pernah aneh-aneh tuch, berarti nggak mungkin lah dia gitu.

Berarti kamu harus mengalami dulu, baru bisa percaya

Kalau nggak lapor polisi, berarti fake korban.

Aku sudah lapor pada pihak berwajib tapi oknum di sana mengatakan persis lima kalimatmu di atas. Hatiku hancur dan aku memutuskan mundur.

 

Catatan:

Tulisan ini dibikin 2020 lalu di Instagram. Sangat banyak tulisan saya soal bullying dan kekerasan seksual yang tercecer di Instagram sepanjang 2017-2021. Tulisan ini satu dari sedikit yang sempat tersimpan.

Thursday, January 20, 2022

Yang Suri

Sumber: Gugel

Anak lelaki itu masih duduk di sekolah menengah. Seragamnya baru disetrika pagi tadi sebelum sepasang penjambret yang berboncengan naik motor, menarik tasnya.

Tali tas itu ternyata melilit erat di pundaknya, jadi si anak lelaki malah berguling di tanah hingga atasan putihnya bercampur lumpur bekas hujan kemarin malam. Para penjambret mengira anak itu enggan menyerahkan tasnya, jadi sebuah sabit diayun, tali tas robek, pula jari telunjuk anak itu.

Para penjambret membawa tasnya dan naik motor sekencang mungkin. Orang-orang berdatangan, mengerumuni anak itu, berinisiatif memanggil ambulance.

Kata orang-orang, ia kehilangan kesadaran...

Lantas dokter memutuskan tindakan amputasi. Separuh jari telunjuknya tidak selamat.

Ia pun masuk dalam lorong-lorong panjang. Sebuah ruang yang tidak pernah ia temui di dunia nyata. Kadang kakinya ada di langit-langit, kadang pula di tanah. Kapan malam hari, kapan sore hari, ia tidak mengenali.

Dunia yang tidak dikenalinya itu terus berputar-putar. Melemparnya masuk ke ruang-ruang baru, lantas tiba-tiba membawanya ke sebuah kamar dengan seorang anak lelaki yang sedang tertidur. Selang-selang beda jenis terlihat melintang di tubuh anak itu.

Tiba-tiba ia terseret lagi. Kali ini lebih keras dan menghentak. Dirasai tubuhnya sekarang ada di atas kasur, selang-selang beda jenis melintang di antaranya. Perawat berteriak memanggil dokter ketika mendapati jarinya menggeliat.

Ia ternyata tidak mati, hanya kehilangan jari.

Menahun berikutnya, di salah satu adegan film, para pembully menginjak tangannya. Adegan itu dilanjutkan dengan telunjuknya yang berakhir dengan amputasi.

Agaknya, adegan itu seperti penyembuhan buatnya. Ia berani menghadapinya lagi meski dalam film. Judul film itu Juara (2016).

Dua tahun kemudian, ia merilis sebuah lagu, judulnya Yang Suri (2020). Lagu itu isinya memaknai ulang kesadarannya yang pernah hilang ketika kehilangan jari. Ia berani menghadapinya lagi, meski dalam lagu.

Ia yang sedang kita sebut ini, ternyata Bisma Karisma, eks personel Sm*sh. Belum banyak yang tahu aktingnya apik, filmnya pun tidak cukup banyak buat akting seapik itu.

Selain lewat Juara (2016), kita bisa menyimak akting Bisma lewat series Brata (2018) dan Kenapa Gue (2022). Tapi ya... Bisma ini kalau nggak jadi korban bully ya psikopat. Film dan seriesnya murung dan gelap...

Catatan:

Wqwq. Kangen ya? Salam gembira buat semua sobat segawon dan para asuku. Pokoknya salam pada semuanya kecuali untuk kaum hopeless romantic.

Ya beginilah, semenjak 2020, saya sengaja membiarkan jadwal tulisan yang harusnya masuk blog tidak diunggah. Sebagian orang barangkali membatin, jangan-jangan mbak Anomali ini sudah berhenti menulis.

Padahal justru saya terus menulis di media, masuk antologi, sempat juara kompetisi, bahkan berhasil menyelesaikan 30 Hari Bercerita, dengan nama asli maupun pseudonym. Namun keberadaan tulisan yang semacam ini, sengaja diberitakan pada teman tertentu saja memang. Tidak juga tulisan semacam ini saya unggah ulang atau ceritakan di blog proses kreatifnya. Bahkan sepertinya, saya sudah agak lupa tulisan-tulisan ini yang mana saja mwehehe.

Keseruan-keseruan selama menepi barangkali kelak bakal saya bagikan di blog. Apa dan bagaimana yang saya temukan. Baik pertemanan, gaya menulis, juga pengalaman-pengalaman baru.

Paling penting, terimakasih untuk teman-teman yang bertanya langsung mengapa saya tidak unggah tulisan lagi di blog. Bahkan ada yang mengaku membaca-baca tulisan lama karena intensitas unggah tulisan di sini makin renggang. Sekali lagi terimakasih, sudah menyapa saya secara langung. Juga terimakasih, untuk tidak mengira-ngira, sekadar ingin tahu tanpa bertanya. Kalian teman-teman yang sungguh baik.

Dan ya, kabar baiknya, diet digital saya yang sejak 2019 itu semakin intens dan menyenangkan. Dengan atau tanpa sosial media, kita tetap ada kok. Ya kecuali dengan sadar, sosial media memang bagian dari pekerjaan kita atau kamu benar-benar suka ada di sana karena tampilan antarmuka atau lainnya. Pokoknya, apapun yang tidak membuat dijajah traffic begitu. Traffic itu berguna kok, ketika pengguna sosial medianya yang pegang kendali, bukan sebaliknya.

Jadi jika kamu menemukan catatan ini, selamat ya. Ada kabar baik, bahwa jika punya keperluan, kamu bisa mengirim DM lewat Instagram @trisnayantip2. Tapi ya begitulah tampilan Instagram orang yang sedang belajar diet digital.

Semoga proses menepi ini bisa membawa karya baru yang kelak bisa teman-teman nikmati juga.

Saya cinta kalian!

Monday, February 8, 2021

Ada Kasus Kekerasan Seksual, Aku Harus Apa?

 


Ada kasus kekerasan seksual...

Aku nggak ngerti psikologi...

Nggak ngerti hukum...

Bukan aktivis...

Nggak punya akses membantu...

Lalu aku harus gimana?

1.   Nggak usah menegasikan kasus



Kita nulis di media sosial isinya,’Kalau aku nggak ikut bahas yang lagi ramai ya.’

Kalau nggak mau ikut bahas, diam. Penyintas ada di sekitar kita dan cara menulis macam demikian hanya membuat mereka merasa kejadiannya nggak valid. Ada perasaan,’Temanku menganggap ini nggak penting, berarti akunya aja yang bawa perasaan.’

Yakinlah di sekitar kita ada penyintas. Penyintas ini bahkan bisa dari teman terdekat kita sendiri atau orang yang nggak kita duga-duga. Mereka sedang melihat keberpihakan kita dan berani bersuara tergantung dari itu semua.



2.   Kita berhubungan baik dengan pelaku? Rem dulu



Selagi belum ada kejelasan nasib penyintas, nggak usah tunjukkan kedekatan dengan pelaku. Misalnya habis ngopi bareng lalu bikin story atau membagika  karya tulis pelaku di media sosial kita.

Ingat, para penyintas ada di sekitar. Bisa jadi itu teman terdekat kita sendiri ataupun orang yang nggak diduga-duga.

Menunjukkan hubungan baik dengan pelaku sangat tidak strategis bagi kondisi psikologis penyintas. Penyintas akan berpikir,’Temanku berteman baik dengan pelaku, jadi aku nggak boleh ngomong daripada merusak pertemanan mereka.’ Atau,’Temanku ngopi dan promo karya pelaku, berarti dia ada di pihak pelaku.’



3.   Punya cukup keberanian? Mari, tunjukkan sikap...



Yang berat ini sih. Apalagi kalau pelaku punya hubungan baik dengan kita, lebih-lebih yang selama ini hubungannya merasa pakai simbiose. Jadi ini hanya bisa dilakukan untuk kita yang cukup punya keberanian, yaitu dengan membagikan kasus pelaku di media sosial.

Mau kasih caption atau pernyataan sikap tapi berat? Nggak usah pakai pun nggak mengapa, cukup bagikan. Demikian membuat penyintas percaya diri untuk bersuara semacam,’Oh, temanku membagikan kasus ini. Berarti dia percaya denganku.’

Mengutip Anindya Restuviani Holaback Jakarta via Asumsi.co...

“Percaya pada korban sebelum terbukti sebaliknya adalah kunci utama, bukan malah menuduh aduan tidak berdasar. Butuh waktu dan kekuatan yang besar bagi korban  untik mengungkap kejadian yang mereka alami.”



4.   Nggak punya kapasitas tapi kepo? Rem dulu...



Berapa banyak dari kita yang ketika kasus naik, malah kepo siapa yang menaikkan kasusnya dan siapa penyintasnya? Kalau ada perasaan seperti ini, tahan dulu. Apalagi tujuannya hanya kepo, tanpa kapasitas mendampingi secara psikologis maupun hukum.

Memangnya selain memenuhi rasa penasaran kita, hal apa sih yang dicari dari kepo-kepo begini? Kalau sudah tahu siapa yang menaikkan kasusnya lalu apa? Kalau sudah tahu profil penyintasnya lalu apa? Dijadikan bahan obrolan di tempat kita nongkrong supaya terlihat,’Aku lho yang paling tahu banyak informasi.’ Begitu?

Jadi hal apapun yang kita rasa nggak menyumbang pemulihan penyintas, baiknya direm dulu.


Catatan: Pernah diunggah di Instagram story dan feed, pertengahan 2020.

Thursday, December 24, 2020

Terimalah, Grooming Nggak Melulu Senjatanya Persona Baik

Sumber: Google

Ya begitu, grooming ternyata ada dua jenis; dengan persona baik atau persona buruk. Hah, persona buruk? Bukannya grooming cuma pakai persona baik aja? Iya, jadi begini...

Pertama, grooming dengan persona baik.

Pelaku membentuk persona baik menurut standar masyarakat. Kalau sasarannya itu agamis, ya personanya agamis. Kalau sasarannya itu aktivis, ya personanya progesif. Tidak jarang, para pelaku ini menunjukkan manfaat bagi tempat yang ia jadikan sasaran persona.

Lalu ketika ada orang yang mengaku disakiti, maka para sasaran pelaku akan bilang...

“Nggak mungkin lah dia menyakiti, dianya ngerti agama gitu kok.”

“Nggak mungkin lah dia menyakiti, dianya progesif gitu kok.”

Kedua, grooming persona buruk.

Pelaku membentuk persona anak bengal menurut standar masyarakat. Kalau sasarannya agamis, ya ngaku minum. Kalau sasarannya feminis, ya bersikap seksis. Kalau sasarannya sobat mental health, ya ngomong tanpa menimbang perasaan. Tidak jarang, para pelaku ini menunjukkan solidaritas sesama pelaku.

Lalu ketika ada orang mengaku disakiti, maka para sasaran pelaku akan bilang...

“Kamu aja yang bawa perasaan, udah tahu dia anak mabok.”

“Kamu aja yang ndakik-ndakik. Udah tahu dia suka yang mulus-mulus.”

“Kamu aja yang nggak open minded. Udah tahu dia kalau ngomong nggak pakai filter.”

Yang pakai grooming persona buruk tentu saja memang revolusioner. Lha, grooming persona baik memang sudah usang, terlalu banyak yang pakai. Grooming jenis ini juga cepat ambruk ketika sekali atau dua kali ketahuan. Pura-pura baik juga pelik sih kalau bukan jati diri asli.

Terus ya, orang dengan grooming buruk ini bisa dengan cepat mendapat label ‘keren ih, dia tuch apa adanya’. Itu karena kita semua sudah bosan dengan persona baik yang di kemudian hari nggak sesuai harapan. Jadinya ketika ada yang nggak menutupi buruknya, langsung deh kita kira apa adanya. Padahal ya... Nggak jauh-jauh dari grooming lagi dan grooming juga.

Jadi, grooming mana pilihanmu?

Thursday, January 2, 2020

Cerita Anak-anak Korban Perbedaan Kelas di Sekolah


Krisna dua belas tahun dan dia mengalami low vision (baca juga: Vonis Dokter Bukan Penentu Nasibku). Tapi melihat Krisna yang jauh dari kata dibully alias dirisak apalagi terkucil, membuat saya berpikir-pikir bahwa teman-teman di sekitar anak lelaki berkulit sawo matang itu masih belum tercemar standar-standar kenormalan orang dewasa. Dari nenek dan bibinya, saya jadi tahu bagaimana Krisna lebih percaya diri justru di hadapan teman-temannya. Dan teman-temannya pula, yang entah bagaimana memahami cara bicaranya yang cadel tanpa ada ejekan, mereka pula yang tetap mengajaknya bermain bola tanpa menjadikan penglihatan Krisna sebuah masalah.

Selama tiga hari hidup bersama keluarganya Krisna di kabupaten Bandung Barat, saya juga tahu bagaimana teman-temannya bersemangat menyapa terlebih dahulu dan sebaliknya ia. Ia juga yang hampir setiap hari tidak pernah kehabisan teman buat berlarian. Hal demikian justru tidak saya dapati saat seusia Krisna dan teman-temannya. Ya, semasa Sekolah Dasar. Omong-omong, sekolah saya dulu lokasinya di pusat kota.

Semasa saya kelas tiga, salah seorang teman sekelas bernama Laura berulang tahun dan hanya anak-anak non panti terpilih yang mendapatkan undangan darinya (baca juga: Laura dan Ambisi Bundanya). Kala itu, saya terpilih karena nilai akademis yang sangat baik. Ya, Laura didoktrin ibunya untuk memilih teman yang jika tidak pintar, berarti harus dari golongan menengah atas. Keluarga saya waktu itu berasal dari kalangan menengah bawah, namun akademis yang menonjol menjadikan Laura terus mendekati saya, mengupayakan pertemanan. Hal serupa dia lakukan pada teman-teman lainnya yang masuk standar pertemanan ala sang ibu. Ambisi sang ibu juga diamini Desi, bahwa ya... Laura sebenarnya hanyalah korban standar bikinan orang tuanya.

Demikian, Laura akhirnya menjadi salah satu poros kesenjangan pertemanan di SD. Punya paras standar industri, berani bicara, punya jiwa pemimpin, berasal dari keluarga menengah atas dan prestasi akademisnya melejit ketika kelas empat, membuatnya mudah diingat siapa saja. Para guru termasuk Mr. A, menceritakan betapa positifnya Laura hingga lintas kelas. Mengenai kesenjangan di angkatan kami, selengkapnya dapat dibaca di Sri Eka Fidia Ningsih dan Caranya Balas Dendam Pada Si Culas. Namun kembali saya ulas sedikit di sini, bahwa di angkatan kami golongan anak perempuan dibagi menjadi tiga; anak panti dan non panti yang masih dibagi lagi menjadi golongan anak menengah atas, golongan anak pintar, golongan pintar dan menengah atas. Pintar batasan definisinya waktu itu adalah mereka yang nilai akademisnya baik.

Lebih jelas dan pedih, kasta-kasta itu dibagi rinci seperti di bawah ini:
1. Anak kaya dan pintar
2. Anak pintar
3. Anak non panti
4. Anak panti
5. Anak kebutuhan khusus (ABK)

Jadi, jika posisimu seperti Yuni yang dari keluarga menengah meski akademisnya tidak menonjol, kamu akan tersisih namun masih selamat karena tidak bakal ditindas. Lebih sial posisinya Desi yang berasal dari keluarga menengah ditambah akademisnya menonjol. Dia terus didekati Laura dan golongan anak-anak populer hingga terpisah dari golongan anak-anak yang seperti saya (akademis saya menurun di kelas empat, baca juga Sri Bukan Anak Nakal Tapi Laura) apalagi anak-anak panti yang jelas masuk kesana karena keadaan ekonomi. Dan lagi, anak-anak ini belum mengerti cara belajar, juga tidak mendapat pendampingan belajar karena saking banyaknya penghuni panti.

Masih di sekolah kami, ada anak kebutuhan khusus bernama Icha (baca juga; Icha Ternyata Autis). Icha sendiri sebenarnya berasal dari keluarga menengah, akademisnya pun mumpuni hingga sering masuk lima belas besar. Tapi karena dia berbeda dan tidak satu pun dari kami mengetahui istilah autis, Icha jadi tersisih juga dan bahkan dijadikan hiburan untuk dirisak. Anak perempuan berkulit sawo matang itu, adalah kasta terbawah a.k.a paling blangsak dari yang blangsak jika mencatut istilah dari Twitter.

Desi yang berangkat dari keluarga tanpa standar pertemanan tertentu, menganggap Laura dan golongan anak populer memiliki niat pertemanan serupa dirinya. Di mana berteman ya berteman saja, selagi sama-sama asyik, artinya teman seterusnya. Desi sampai pada titik tidak merasa, anak-anak panti mulai berbisik dirinya berubah dari yang mau berteman dengan kalangan bawah menjadi hanya berteman dengan kalamgan atas, pula saya membatin hal serupa.

Tanpa Desi sadari, dia ditarik secara permanen bersama Laura dan golongan anak populer dengan manipulasi yang sedemikian rupa. Desi mengalami perlakuan yang berbanding terbalik dengan saya. Seperti saya ceritakan pula dalam Desi Nilamsari Si 8 Tahun: Saat Ditanya Soal Maling dan Warga yang Main Hakim Sendiri saya sempat didekati Laura di kelas tiga karena akademis yang sangat baik. Sebaliknya Desi yang waktu itu anak baru dan belum begitu bisa berbaur. Akademisnya juga biasa saja, hingga Laura tidak pernah menyambutnya hangat kala itu. Keadaan ekonomi Desi yang dari kalangan menengah, pula belum nampak. Baru ketika mulai naik kelas empat, Laura mendekati Desi berbarengan dengan akademis saya yang menurun. Kala itu, Desi mulai bisa berbaur, akademisnya meningkat drastis dan keadaan ekonominya terkuak.

Tapi selain saya, Desi dan semua anak yang telah diceritakan di atas, masih ada Rina dan Anya yang menjadi korban standar-standar bikinan orang dewasa. Rina adalah anak non panti dan berasal dari keluarga menengah bawah. Akademisnya pula tidak menonjol. Meski demikian, Rina berhasil masuk Laura dan jajaran anak populer dengan cara menjadi penindas dan gaya ‘seolah kalangan atas’ yang disesuaikannya. Anya misalnya, ketika menjadi anak baru di kelas dua, pernah tiba-tiba ditindas sampai menangis oleh Rina. Ia pula yang tanpa sebab jelas, mencubit Anya yang duduk sendirian di pojok kelas. Rina semacam menjadi senjata untuk jajaran anak populer ini. Bagi anak-anak yang dirasa tidak pantas masuk dalam kasta mereka, Rina yang turun tangan ‘membasmi'. Juga lewat Rina, mereka mendapat hiburan-hiburan penindasan tanpa perlu turun tangan langsung.

Ibu Anya sendiri menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ketika putrinya itu kelas tiga. Di dalam PT pemasok tenaga kerja itu pula, ibunya mendapat perlakuan tidak adil (baca juga: Sri Eka Fidianingsih dan Caranya Balas Dendam Pada Si Culas). Hingga Anya ingin sekali masuk dalam jajaran anak-anak populer dan mendapat pengakuan, ia tidak ingin ditindas lagi. Namun yang bisa ia lakukan hanya mengekor saya yang meski bukan golongan menengah dan akademis tidak menonjol, setidaknya termasuk non panti. Anak non panti seperti saya memang tidak pernah ditindas secara langsung. Tunggu dulu, saya ingat ibunya Anya pernah masuk dalam sekolah untuk menemui putrinya dan bisik-bisik ibu Anya disebut orang gila dihembus beberapa teman sekelas. Yang jelas, penghembusnya adalah anak-anak perempuan dari kelas kami sendiri, kasta atas tentu saja hehe…

Segala yang terjadi di angkatan kami waktu itu, saya garis bawahi sebagai yang namanya perbedaan kelas. Ternyata, saya mengenal perbedaan kelas justru semenjak SD dan bukan dari buku-buku. Perbedaan yang nyata terjadi ini, bisa dibilang salah satunya berasal dari manipulasi Laura terhadap teman-teman sekelas yang menciptakan kasta-kasta. Laura tentu bukannya sengaja membuat kasta-kasta yang demikian. Doktrin ibunya soal memilih teman, secara otomatis menyertai pembentukan kasta. Bahwa di angkatan kami, ada yang namanya Laura; ia memiliki standar fisik sekian, etika kepada guru yang sekian, nilai akademis yang sekian, hingga dengan semua itu dia diakui keberadaanya.

Kasta-kasta ini tentu saja sebuah penyakit. Bagaimana bisa anak usia delapan tahun sebegitunya memilih teman? Dengan tendensi yang mustahil didapat sejak lahir pula. Tentu mama Laura yang menanamkan hal demikian terhadap putrinya, memiliki motif. Semestinya memang ada hal yang melukai mama Laura di masa lampau, sehingga ia jadi menularkan upaya bertahan hidup dengan kasta-kasta begitu kepada putrinya. Semua hal memiliki motif, tidak ada yang namanya terjadi dengan tiba-tiba.

Jadi intinya, jika tidak bisa memenuhi standar ekonomi Laura, penuhi standar akademis serupa saya ketika kelas satu hingga tiga. Jika tidak bisa memenuhi standar akademis, setidaknya jadi Yuni yang ekonominya menengah. Ia tersisih namun tidak ditindas. Dan jika tidak bisa memenuhi standar akademis juga ekonomi, jadilah penindas atau gaya yang setara anak-anak populer seperti Rina...

Atau jadi saya yang menyingkir, membuat keberadaan diri bahkan tidak kentara?

Atau jadi Nadiya (baca juga: Nadiya Khalilah Si Pupuk Bawang) yang berbaur dengan semua tanpa masuk satu golongan tertentu?

Atau jadi Sri si anak panti yang ditekan dan disisihkan, namun memilih melawan semua yang berlaku begitu kepadanya?

Ya, menjadi saya tidak mudah. Setiap orang butuh diakui keberadaannya sedang saya memilih menyingkir dan tidak peduli. Tidak semua orang akan tahan dengan kondisi dianggap menghilang. Keberadaanmu saja orang lain lupa, jangan mimpi mau didengarkan pendapatnya. Jadinya sih, saya hanya kumpul mereka yang senasib dan bertahan. Tentu mengenai keadaan mereka yang tersisih ini, saya tidak bisa bersuara juga. Lha, soal keberadaan saja saya dilupakan.

Tapi sebenarnya, lebih sulit lagi menjadi Nadiya dan Sri. Nadiya berasal dari kalangan menengah dan akademis bagus. Ia anak yatim. Godaan untuk bergabung dengan kasta anak-anak populer tentu kuat. Laura bahkan pernah getol mengajaknya bermain ke rumah, lantas mengajarinya motor seperti seorang sahabat sejati. Namun Nadiya justru tetap di posisi tengah dan seolah menjadi jembatan. Sikapnya sama pada tiap kasta di kelas. Posisi tengah ini justru tidak begitu diingat semua orang sebagai satu hal istimewa. Padahal, orang dewasa saja belum tentu mampu berteman baik dengan jujur pada semua golongan dan lagi tanpa kawanan.

Lain lagi dengan Sri. Tanpa jaminan ada orang tua kandung yang pasti membelanya ketika ada masalah, juga teman sesama panti yang juga ada si culas Anya, justru membuatnya berani melawan segala penindasan. Sri yang kata orang; anak panti, kotor, nakal, tidak pintar dan tidak berpunya, namun hingga lulus semua orang justru mengenangnya. Mereka mengingat nama Sri yang berani marah dan berkelahi demi membela haknya. Pikir saya, anak perempuan yang dulu sering dirisak karena gigi tonggosnya ini, adalah tokoh utama ideal dalam sebuah film. Sri adalah simbol dan praktik harapan dalam perang kelas.

Pada tulisan saya yang lain. Akan saya ceritakan bagaimana saya, Anya dan Sri ternyata satu sekolah di SMK. Juga bagaimana perkembangan cara bersikap kami dibanding semasa SD.


“Life is not fair, so get used to you.”

Patrick Star

Catatan: 
Tulisan ini ada setelah privilese menjadi trending di Twitter karena Maudy Ayunda dan sebelum privilese menjadi trending di Twitter karena Putri Tanjung.

Tapi mohon maap ea, akutuch tida ikutan marah-marah sama mbak Maudy Ayunda dan mbak Putri Tanjung akibat privilese mereka. Karena akutuch tida ingin anak dan cucuku kelak kena azab, dihujat warga Twitter karena privilese gen cerdas yang akutuch turunkan, juga privilese susah jerawatan meski nggak rutin cuci muka.
Wahai, sobat-sobat segawonku. Privilese tuch bukan hanya bab ekonomi. Kapasitas otak sampai bentuk moncong kau tuch juga bisa jadi privilese untuk anak dan keturunanmu kelak. Tak usah merasa paling blangsak dan paling berjuang deh kita tuch. Huehue.
Terpujilah ibuku yang pintar, ayahku yang cerdas dan mendiang mbah kakungku yang jenius. Privilese kapasitas otak dari beliau sekalian, lumayan buat modal hidup.

Wednesday, October 2, 2019

7 Bukti Spongebob Ternyata SJW Sejati

Selain persahabatan Spongebob dan Patrick yang tidak abadi-abadi amat, juga diwarnai pertengkaran, hingga hasad dan hasud yang begitu manusiawi, apalagi yang paling diingat dari Spongebob?

Satu waktu, Spongebob dan Patrick meminjam balon yang diambilnya diam-diam dari pedagang di festival Hari Gratis. Balon itu belum dimainkan, ketika tiba-tiba meletus. Kedua karib itu memutuskan melarikan diri keluar kota sebagai buronan, karena merasa mencuri balon. Di waktu yang lain lagi, Spongebob merasa iri setangah mati atas Patrick dan SIM barunya. SIM adalah satu hal yang bertahun-tahun gagal Spongebob gagal, sedang teman bintang lautnya itu hanya butuh sekali tes untuk mendapatkannya.

Namun ternyata, Spongebob bukan hanya menyajikan penokohan yang jauh dari hitam dan putih. Spons kuning dengan bulu mata lentik ini ternyata juga dekat dengan label Social Justice Warrior alias SJW. Bukan sekali pula, Spongebob melakukan debut dalam dunia perSJWan. Berikut tujuh bukti Spongebob yang ternyata seorang SJW sejati:

1. Squid on Strike


Sumber: Gugel

Squidward menemukan ketidakadilan dari pengurangan gaji yang sepihak dilakukan Tuan Krab, bosnya. Ia pun memutuskan untuk melakukan mogok kerja bersama Spongebob, satu-satunya rekan di restoran tempatnya bekerja, Krusty Krab.

Pada mulanya, Spongebob tidak begitu memahami usaha-usaha rekan kasirnya itu dalam demo buruh. Bahkan, ia sempat salah menulis ‘Krusty Krab Funfair’ bukannya ‘Krusty Krab Unfair’ dalam papan tuntutan, menjadikan restoran burger nomor satu di Bikini Buttom itu justru ramai pengunjung.

Namun, Tuan Krab yang akhirnya menyerah justru menemui Squidward di tengah malam. Kepiting paruh baya itu ternyata coba mempekerjakan para remaja yang diperkirakan dapat digaji lebih murah, namun mereka justru merusak seluruh restoran. Lelaki yang memiliki hobi berendam dalam kolam berisi uang itu, akhirnya bernegosiasi perihal gaji bersama Squidward.

Di lain tempat, pidato heroik Squidward menyoal penderitaan buruh mulai meresap dalam diri Spogebob. Si celana kotak mulai berubah menjadi aktivis buruh sejati dan sayangnya, mengartikan seluruh pidato tetangga guritanya itu secara harfiah. Spongebob keluar rumah membawa gergaji dan menginterpertasikan kata ‘tirani runtuh’ dengan cara menghancurkan seluruh Krusty Krab. 

2. Pets or Pet


Sumber: Gugel

Pertemuannya dengan seekor cacing alias anjing terlantar, membuat Spongebob menampungnya sementara waktu di rumah nanas miliknya. Cacing yang tenyata tidak rukun dengan Garry, siput peliharaan Spongebob itu kemudian melahirkan dan pergi dari rumah setelah bertengkar dengan siput berkubah merah muda itu.

Spongebob sebagai seorang pecinta binatang berkeliling ke seluruh kota, mencoba mencarikan rumah bagi anak-anak cacing yang gemar buang air sembarangan itu. Semua orang menolak keberadaan cacing-cacing itu, namun Spongebob tidak menyerah dan terus membawa mereka kemana-mana. Hingga kemudian seorang tukang sampah mengenali cacing-cacing itu sebagai jenis langka dan tuan Krab mengambil kesempatan untuk menjualnya. Spongebob mendapat kebahagiaan, tuan Krab mendapat uang dan para cacing mendapat rumah baru.

3. He is Flying


Sumber: Gugel

Sebagai seorang spons, terbang adalah hal yang mustahil. Meski melalui tertawaan dan olokan seluruh kota, Spongebob akhirnya menemukan celana gembung yang mampu membuatnya terbang. Mimpinya terbang bersama ubur-ubur ternyata tertunda karena si celana kotak itu ternyata mengutamakan permintaan tolong seluruh waga kota. Spongebob memulai aktivitas pekerja sosialnya dengan mengerjakan PR anak-anak hingga membersihkan atap garasi Tuan Krab. 

Lama kelamaan, aktivitas sosial merebut kehidupan pribadi Spongebob. Ia bahkan mesti menunda cita-citanya terbang bersama ubur-ubur hingga masalah besar membuat celana terbangnya mengempis.

4. Jelly Patty 


Sumber: Gugel

Selai ubur-ubur menjadi isi tambahan yang Spongebob oleskan pada Krabby Patty makan siangnya. Didorong rasa penasaran, seorang pelanggan meminta Spongebob mengoleskan selai ubur-ubur pada Krabby Patty miliknya juga. Pelanggan yang merasa cocok itu mengumumkan rasa luar biasa yang ia dapat dari Krabby Patty dan selai ubur-ubur kepada pelanggan lainnya.

Melihat antusiasme pelanggan, Tuan Krab menangkap semua ubur-ubur di ladang dan memerah selai yang mereka hasilkan. Spongebob menjelma sebagai pembela hak para ubur-ubur alias lebah dari kerusakan ekosistem, setelah seekor ubur-ubur biru memberitahukan eksploitasi terselubung Tuan Krab.

5. Krabs VS Plankton


Sumber: Gugel

Bukan hanya sebagai aktivis buruh, pekerja sosial dan pecinta binatang, Spongebob ternyata juga mampu menjadi seorang pengacara. Terbukti ketika ia menggantikan posisi pengacara Tuan Krab dalam sidang melawan Plankton.

Plankton mengaku mengalami luka parah karena Tuan Krab yang terlalu pelit memberi tanda lantai basah di Krusty Krab. Spongebob dengan penuh semangat berusaha membuka koper yang telah dipersiapkan pengacara asli Tuan Krab untuk mengungkap keadilan.

6. Snail Man


Sumber: Gugel

Berawal dari pertemuannya dengan siput alias kucing terlantar, spons kuning bergigi kelinci itu mulai menampung begitu banyak siput selain peliharaannya sendiri, Garry. Obsesinya sebagai pecinta dan penyelamat siput, juga membuatnya dijuluki ‘snail man’.

Pada akhirnya, Spongebob tidak rela melepas satu pun siput yang telah ia selamatkan. Bahkan, orang-orang mulai membuang siput di sekitar rumah nanas Spongebob. Gangguan mental karena merawat terlalu banyak siput juga mulai menggerogoti Spongebob, namun ia tetap tidak ingin melepas semua siput itu. Kehidupan pribadinya mulai terenggut dengan banyaknya siput yang ternyata tidak bisa ia tangani seorang diri.

7. Shelly Super Highway


Sumber: Gugel

Tuan Krab bersorak mendengar akan dibangunnya jalan raya Super Shelly. Dalam pikirannya, Krusty Krab akan lebih ramai apabila dilintasi jalan raya. Namun ternyata, jalan raya yang juga akan melintasi ladang ubur-ubur itu, bukannya melintas di depan Krusty Krab namun justru melintas di atas Krusty Krab.

Keberadaan jalan raya dirayakan besar-besaran oleh seluruh Bikini Buttom. Perayaan itu berbarengan dengan rusaknya ladang ubur-ubur dan kemarahan mereka terhadap seluruh warga kota. Kerusakan yang terjadi di dalam kota, membuat warga Bikini Buttom menyadari langkah Spongebob dan Patrick sebagai aktivis lingkungan selama itu tidak salah.

Jika sebelumnya, Spongebob dan Patrick berjuang berdua saja demi menyuarakan jalan raya super yang ternyata merusak ekosistem. Bermain musik hingga menyebar pamflet bertema kerusakan lingkungan, kedua sahabat itu lakukan berdua saja. Mereka berdua bahkan, sempat ditangkap oleh polisi dan dibuang ke pinggir kota karena dianggap melawan pemerintah.

Sebegini panjang ternyata perjuangan Spongebob sebagai SJW sejati. Perjuangannya tidak melulu lancar juga. Kadang-kadang akhir cerita selalu dimenangkan tuan Krab dengan ide-ide bisnisnya kadang juga kehidupan pribadi dan kesehatan mental Spongebob terenggut akibat caranya menjadi SJW jauh dari seimbang.  Meski demikian, kamu ingin jadi SJW nomor berapa?