Showing posts with label SARA. Show all posts
Showing posts with label SARA. Show all posts

Tuesday, November 17, 2020

Romantisme

Berapa banyak pun dialog lintas anu dan ini, yang fasis akan tetap fasis dan yang tukang eksploitasi akan tetap tukang eksploitasi...

Satu bahasan serupa, nggak akan diolah dengan cara serupa pula dalam tiap kepala.

Semacam... Kita dapat materi bab islam eksklusif-inklusif...


Orang fasis ngaku inklusif akan mencerna itu:

Oh, emang kaum sana eksklusif anti toleransi! Gimana ya cara biar mereka jadi inklusif seperti aku?


Orang inklusif betulan akan mencerna itu:

Aku ngaku inklusif tapi masih mikir orang eksklusif nggak lebih baik dan harus dibikin inklusif. Apa betul aku inklusif?


Tukang eksploitasi akan mencerna itu:

Lagi hits ini tema. Mana ya? Yang duitnya banyak tapi bingung menyalurkan? Sini deh, dibikin seminar atau tour.

Lagi hits ini tema. Mana ya? Yang semangat banget dan bingung menyalurkan tenaga? Sini deh, kerja 'sosial' Tuhan yang bayar.


Omong-omong, tanggal 16 November itu, hari toleransi internasional ya? Ehe.


Tuesday, July 14, 2020

Di Antara Kedua Mata

Sumber: Gugel

Ada darah yang pelan-pelan merekah tepat di antara kedua mata saya. Rekahnya tentu karena perempuan muda di hadapan saya itu, membaca asma-asma gusti pengeran. Sebentar kemudian, perempuan itu mendekat beberapa senti dari wajah saya dan dia tanya,”Seandainya saya sengsara, kamu sedih atau bahagia?”
Belakang leher saya meremang, dingin berganti panas dan panas berganti dingin. Ada tubuh lain yang melesak masuk, membikin saya ingin menjawab, senang saja tuh kalau kamu sengsara...
Sekali lagi, perempuan itu menyebut asma-asmanya gusti. Allah hyang maha agung... Allah hyang maha rohim... Allah hyang maha adil...
Ganti jantung saya yang meremang. Dingin berganti panas dan panas berganti dingin. Hingga debaran berdetak kian kencang dan yakin saya, perempuan itu pula mendengarnya. Ada sesuatu yang jauh lebih kecil dan letaknya juga dalam dada, berdenyut nyeri. Belakangan saya mengenalinya sebagai nurani. Di dalam sana, ada sesuatu yang menjerit dan berkata, saya tentu sedih ketika kamu sengsara...
Perempuan itu lama-lama menatap kedua mata saya, cukup dekat andai saya bisa menyambar bibirnya. Namun badan ini justru gemetaran dan ada kaca tebal tidak terlihat yang membuat mata begitu pedih ketika menatap wajahnya. Jadilah saya bicara sambil menunduk dan menoleh ke arah lain ketika perempuan itu terus memandangi muka saya. Dan lagi, si tubuh lain suaranya jauh lebih keras ketimbang sesuatu yang sangat kecil dan namanya nurani itu.
Maka lusa atau keesokan harinya, saya berencana mencegat perempuan itu dan menjagalnya hingga mati...

Monday, December 9, 2019

Perangko

Sumber: Gugel
Kamu menanyakan kabarku lewat sebuah kertas yang warnanya kuning. Pertanyaan itu semestinya bisa ditanyakan langsung padaku jika saja sembilan hari lalu kita jadi bertemu. Lantas kamu melipat surat itu ke dalam amplop dengan warna serupa, menempelinya dengan perangko dan lima menit kemudian, benda persegi itu telah sampai di jendela kamarku. Ia terus mengetuk sampai jendela aku buka dan kupersilahkan dirinya masuk.

Buru-buru aku menulis balasan di atas kertas warna putih. Lantas kertas itu aku masukkan dalam amplop dengan warna serupa meski sayangnya, bagaimana pun aku uring-uringan mencari perangko dalam kamar, benda persegi tipis yang super kecil itu tidak juga ketemu. Bagaimana aku bisa mengirimkan surat itu padamu jika tanpa perangko?

Dua hari kemudian, sebuah amplop berwarna kuning datang lagi. Isinya sama, sebuah kertas warna senada dengan pertanyaan yang serupa pula, bagaimana kabarmu? Aku buru-buru membalasnya dengan kertas dan amplop warna putih. Namun perangko tidak juga aku temukan dan surat itu gagal dikirimkan sekali lagi.

Pada hari-hari berikutnya, surat-surat darimu tetap juga datang, dengan warna amplop dan kertas yang selalu serupa. Warna kuning yang sama. Ubun-ubunku meremang dan menghangat kemudian.

Haleluya...

Haleluya...

Suara itu menggema dalam seisi kamar, hingga merambat lewat darah dan nadiku.

Friday, November 8, 2019

المانع

Sumber: Gugel


Bagaimana dengan buku-buku yang kamu baca? Apa mereka tidak memberitahukanmu apa hakikatnya takdir?

Cobalah baca sekali lagi. Maka barangkali sekali saja seumur hidup, kamu akan tahu bahwa lawanmu itu takdir dan bukannya aku. Lawanmu itu Tuhan, yang memberi ijin untuk kamu melaraiku. Sekaligus Dia pula, yang memberiku ijin untuk terus hidup di tengah segala lara itu.

Sunday, September 15, 2019

Perjalanan Air Suci

Sumber: Gugel

Sang bikkhuni tersenyum adem melihatnya keluar dari dalam keran. Seorang pengunjung memasukkan ia berserta teman-temannya ke dalam botol. Lantas buru-buru si pengunjung meneguk air dalam botol itu.

“Ini sudah jalanmu...” bisik sang bikkhuni sebelum ia benar-benar hilang dalam kerongkongan si pengunjung.

Sebelum tiba di tempat itu, ia mengalami perjalanan bawah tanah yang sangat panjang dan gelap gulita. Hingga kemudian masuk dalam pipa-pipa dan mendengar doa saban hari dipanjatkan para bikkhu dan umat di dalam vihara. Demikian membuat kristal dalam tubuhnya semakin benderang. Ia melihat teman-temannya mengalir menuju keran dan botol-botol kemudian. Seorang bikkhu mengatakan, mereka para air memiliki tugas terhormat, menyembuhkan makhluk hidup. Maka sungguh dinantinya masa-masa untuk bebas dari antrean dan meluncur keluar keran.

Hari itu pun tiba dan ketika pada akhirnya ia meluncur ke dalam kerongkongan si pengunjung, dilihatnya tali-tali hitam melilit sepanjang darah dan nadi perempuan itu. Ia kemudian berpendar menjadi cahaya yang kecil-kecil, meluruhkan tali-tali itu dengan menabrakkan diri.

Sebentar kemudian, si pengunjung muntah hebat dan sang bikkhuni berkata,”Nggak apa-apa, Mbak. Itu penyakitnya keluar. Air sucinya gratis dan boleh diambil siapa saja kok. Kalau butuh, mbaknya boleh ambil lagi.”

Monday, July 1, 2019

Kisah Berakhirnya Hubungan Saya dengan Sahabat yang Bercadar

Sumber: Magdalene.co

Dimuat di Magdalene.co 10 April 2019
Di tahun kedua kuliah, enam tahun lalu, lini masa Facebook saya dihebohkan oleh catatan dari seorang sahabat bernama Sandy. Isinya menyoal pilihannya memakai cadar, dan bagaimana sikap guru SMK kami dulu, orang tua hingga tetangga yang menurutnya tidak begitu mendukung pilihannya itu. Para tetangga mengejeknya sebagai “ninja”.
Membaca catatan itu, saya menangis. Namun alih-alih berusaha mengobrol apalagi menyentuh hatinya, saya malah berkubang dalam rasa sakit hati dan jengah akibat upaya Sandy yang rutin mengirimkan artikel dari akun dakwah di dinding Facebook saya. Salah satunya menyebut Facebook serupa dinding ratapan yang tidak layak dipergunakan umat Islam.
Sandy dan saya mulai dekat sejak awal masuk SMK di Malang, ketika kami masuk kelas yang sama. Seperti kebanyakan siswi yang berjilbab, Sandy saat itu memakai jilbab berbahan menerawang dan adem, sering disebut kerudung paris, yang mesti dilapisi kain lagi di dalamnya.
Sifatnya tertutup, bahkan misterius, dan sensitif, tapi justru membuat kami cocok. Hingga tahun terakhir di SMK, kami bersahabat dekat. Salah satu cerita yang saya ingat adalah soal mahasiswa kampus dekat sekolah yang ditaksirnya, cerita cinta yang tidak pernah tersampaikan karena ketidakpercayaan diri Sandy soal fisiknya yang bagi saya tidak masuk akal.
Di sekolah, Sandy dikenal sebagai penulis berbakat, jago merajut, menjahit, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Ia juga dipercaya menjadi wakil ketua ekstrakurikuler jurnalistik. Beberapa teman alumni yang masih berkomunikasi dengan saya terang-terangan menyatakan rasa rindunya pada Sandy. “Anak itu baik banget dulu, enak diajak berteman.” Tidak pilih-pilih teman dan merangkul semua orang. Bukankah sikap Sandy sudah sangat Islam pada praktiknya?
Selepas SMK, Sandy mengikuti kelas Bahasa Arab di sebuah universitas. Namun kelasnya berlangsung di masjid, bukan di ruang kuliah. Di Facebook, Sandy bercerita bahwa kelas tersebut membuatnya tercerahkan. Ia pun kemudian memutuskan untuk menjalani Islam dalam versi terbaik dan menggunakan cadar. Masih dalam catatannya di Facebook, Sandy menulis bahwa ia memaklumi segala sikap mantan guru, teman, orang tua hingga para tetangga yang terkesan kontra soal pilihan yang diyakininya. Namun, ia mengatakan tidak bakal bisa digoyahkan.
Saya tidak hendak menuduh kelas di masjid itu telah mengubah Sandy, si kesayangan semua orang. Bisa jadi penafsiran Sandy sendiri yang mendorongnya menjadi lebih eksklusif. Seiring bertambahnya usia, saya kemudian memahami apa yang dilakukan Sandy sesungguhnya adalah upayanya menjadi manusia yang lebih baik. Kita semua pun, sedang memperjuangkan yang terbaik bagi diri masing-masing, bukan?
Ajaran yang dipahaminya itu seperti menyelamatkannya juga dari perasaan minder terhadap fisiknya dan lawan jenis. Ia mulai mendeklarasikan diri sebagai anti-pacaran dan pro-menikah muda. Kedua hal ini tentu tidak salah, jika saja Sandy betul memilihnya bukan karena ia merasa dirinya patah. Hingga sebentar kemudian, saya mendengar dari salah seorang geng lawas kami semasa SMK, bahwa Sandy sedang dalam proses berkenalan (taaruf) dengan pemuda dari lingkaran kelasnya di masjid.
Lelaki pertama tidak jadi menikahinya dan tidak berapa lama, ada lelaki lain lagi yang menikahinya dengan proses serupa. Saya menjadi satu-satunya teman geng yang tidak diundang dalam pernikahan tersebut.
Kepada dua teman geng kami yang lain, orang tua Sandy yang begitu dekatnya dengan saya mempertanyakan kenapa saya tidak hadir. Agaknya, Sandy betul-betul terluka ketika saya yang waktu itu masih 19 tahun dan berapi-api, menegurnya keras soal artikel yang dibagikannya di dinding Facebook saya secara rutin. Kebersamaan kami yang pernah juga jadi teman sebangku dan satu ekstrakurikuler, seperti lenyap begitu saja dilalap “perjuangan agama”. Sesungguhnya, luka serupa pun saya dapat dari caranya berdakwah. Saya ingat, waktu itu saya tegur, “Temanku enggak semuanya Muslim, dakwahmu itu membuat orang sakit.”
Hingga bertahun kemudian, saya masih memantau kabar Sandy melalui lingkaran pertemanan yang tersisa. Dari salah seorang teman, saya mendapati cerita lain bagaimana proses hijrahnya Sandy. Si teman yang juga berjilbab itu mengatakan bahwa Sandy lama-kelamaan anti memakai kerudung paris yang menurutnya menerawang. Setiap pertemuan, kerudung yang ia pakai makin panjang saja dan bahkan ia menghadiahi kerudung sepanjang mata kaki kepada si teman tadi.
“Aku enggak nolak kerudungnya. Aku pakai tapi cuma waktu tidur, kan lumayan hangat, hehe,” ujarnya. 
Ternyata usaha menularkan hijrah ini dilakukan kepada semua teman satu geng, bukan hanya saya. Hanya saja teman yang dihadiahi kerudung sepanjang mata kaki itu jauh lebih adem dan bijak menghadapi Sandy daripada saya.
Tidak lama berselang, muncul lagi berita bahwa Sandy bercerai.Kalau dari versi dia, suaminya enggak gitu mau kenal sama ortu-nya. Dia mau dibawa ke Kalimantan tapi dilarang ibunya, terus suaminya mau poligami dia,” cerita teman kami yang lain lagi.
Taaruf memiliki tujuan yang baik, agar saling mengenal. Namun bukan dengan tatap muka sekali dua kali lalu menikah. Hijrah, jika betul dimaknai, tentu bukan hanya berarti berganti kostum sehari-hari. Menikah muda atau pun menikah kapan saja, semua tentu juga memiliki tujuan baik. Meski saya tidak mengetahui, apa benar teman-teman yang bercadar semua diajarkan sebegitu keras dalam beragama serupa Sandy. Atau mungkin Sandy yang menafsirkannya sendiri hingga jadi sedemikian keras?
Sejak proses hijrahnya yang tampak cepat dan setelah kabar perceraiannya, akses komunikasi dengan Sandy semakin sulit, bagi saya dan teman-teman yang lain. Pernah saya coba mengiriminya pesan di Facebook namun sepertinya tidak terbaca. Saya dan teman-teman kemudian bersepakat, agaknya Sandy membutuhkan ruang bagi dirinya sendiri. Hingga pada saatnya nanti, kami tidak perlu memaksanya mau berkomunikasi.
Yang pasti kini saya menyadari, Sandy sesungguhnya sedang berusaha menyelamatkan teman-temannya termasuk saya, dengan keyakinan Islam terbaik dalam versinya. Pun saya, yang begitu mencemaskan keyakinan Islam dalam versinya itu, hingga membalas sikap kerasnya dengan sikap keras pula. Sandy berusaha menyelamatkan saya dengan apa yang ia yakini, sebaliknya saya juga mengusahakan hal serupa. Pada titik ini yang saya rasakan adalah, jika benar saya mengaku inklusif, mengapa sikap saya tidak ada bedanya dengan Sandy yang saya tuduh eksklusif?
Dulu dan hingga kini, kami berdua saling peduli dan sesungguhnya saling menyayangi dengan cara masing-masing. Begitu bukan?
Ilustrasi oleh: Sarah Arifin
Terimakasih tim Magdalene yang telah menyunting cerita ini agar layak baca.

Tambahan 04/05/2020: saya berencana menggarap sebuah tulisan yang menggali sisi lain perempuan bercadar di sekitar. Bahwa perempuan bercadar berbaur seperti biasa dengan masyarakat, ada juga yang menjadi wirausahawan sukses, pula tidak semua dekat dengan poligami.

Monday, January 15, 2018

Damai yang Mengaku Damai

Sumber: Instagram dan twitter yang bersangkutan. Untuk menghindari persekusi terhadap yang bersangkutan, saya memburamkan nama.

Sesungguhnya sangat terlihat mana yang mengatakan penuh kasih dan mana yang sungguh berpraktik penuh kasih.

Seorang teman mengunggah tulisan ini dalam instastorynya. Solidaritas dan kasih sayang terhadap golongan sendiri sering membuat terbakar memang.

Syukur setelah sedikit obrolan pribadi, teman kita ini menyadari pelampiasan solidaritas dan kasih sayangnya bisa disalurkan pada hal yang lebih tepat.

Menerima saran bukan perkara mudah dan teman kita ini sudah berbesar hati menerima saran tersebut.

Semoga kita semua bisa membawa damai. Mulai berhenti menulis atau membagikan ulang segala yang mengatasnamakan kasih, namun justru tiada membawa kasih.

🙏

Sunday, January 7, 2018

Komika Jaman Now, Gemar Sindir Islam (Eksklusif)?


 
Sumber: Instagram @fuadbakh

Postingan teman baik saya, Alfy Maghfira soal para komika yang memergunakan islam sebagai lawakan, membikin saya ingat materi lawakan serupa yang juga pernah saya tonton di salah satu acara Stand Up di Malang. Acara tersebut, diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta besar di Indonesia. Saya sendiri datang free pass dari akses seorang teman yang juga komika di sana.


Teman saya sendiri adalah seorang taat beragama, namun terselubung. Kecuali materi lawakan dari teman saya tersebut, sepanjang acara, hampir seluruh komika yang hadir membahas agama. Bedanya, bukan islam saja yang dibahas akan tetapi juga agama lain yang ternyata memiliki golongan yang merasa cemas dan menganggap apa yang di luar dirinya salah dan wajib dibawa pada kebenaran yaitu golongannya sendiri.


Alfy dan banyak teman-teman yang beragama islam tentu merasa gerah. Alfy sendiri saya tahu pernah belajar di pondok dan dirinya bukan golongan yang gemar menuding itu dan ini salah apalagi memaksa orang masuk dalam islam.


Sebelum mengobrol lebih lanjut, saya ingin ceritakan isi postingan teman saya Alfy. Postingan tersebut dia repost dari akun @fuadbakh. Yang menjadi pembicara dalam video tersebut adalah Ust. Zulkifli Muhammad Ali, Lc, MA. Dalam video, muncul beberapa komika antara lain Joshua Suherman dan Ge Pamungkas. Video lengkapnya sendiri, bisa teman-teman lihat di sini.


Selanjutnya saya mulai membuka ponsel pintar saya dan mencari informasi, dengan kata kunci ‘komika sindir islam’. Berita-berita soal Ge Pamungkas dan Joshua Suherman bermunculan paling atas. Salah satu beritanya berjudul Tak Hanya GePamungkas, Materi Stand Up Joshua Suherman Juga Dianggap Sindir Umat Islam. Judul berita tersebut, tentu memerlihatkan bahwa islam yang dimaksud adalah islam yang keseluruhan, apa betul demikian?


Semua hal ini mengingatkan saya pada materi islam inklusif VS eksklusif dalam salah satu sesi Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) Batu, Desember 2017 lalu. Melalui materinya tersebut, dijelaskan dua jenis islam; inklusif digarisbawahi sebagai mereka yang lebih luwes dan mampu menghubungkan hubungan sesama mahluk hidup dengan hubungan kepada Tuhan, sedangkan eksklusif digarisbawahi sebagai mereka yang mudah menjatuhkan vonis halal dan haram tanpa penjelasan dan mereka yang cemas karena merasa apa yang di luar mereka salah dan mestinya masuk dalam islam versi mereka.


Berikut transkrip percakapan yang ada di dalam video yang juga saya telusuri hingga akun @fuadbakh.


“Minum-minum bir ga papa! Yang penting ada dakwahnya disini!”


“Kalian ini menertawakan agama, hal-hal seperti ini tempat ini dibakar? Yang bakar masuk surga loh.”


Nilai yang bisa kita dapat dari kalimat pertama, sesungguhnya merujuk pada kita semua, beragama apa saja yang memiliki double standart, menjadikan agama sebagai tameng selagi untung.


Sedangkan pada kalimat kedua, sesungguhnya merujuk siapa saja yang ada di barisan islam esklusif. Lebih lanjut, selain mudah menjatuhkan vonis halal dan haram tanpa penjelasan, golongan ini mewujudkan kegelisahannya tersebut dengan penghancuran ekstrim seperti pembakaran bahkan bom, terhadap apa yang bagi golongan tersebut dianggap salah.


“Jakarta banjir beda omongannya. Wah, ini adalah cobaan dari alloh subhanahuwata’ala. Sesungguhnya Alloh akan memberikan cobaan kepada yang dia cintai. Cintaiiiii lah apaan?”


Lagi-lagi, kalimat yang saya transkip di atas merupakan wujud dari golongan yang esklusif tadi. Golongan ini buru-buru mengembalikan segalanya kepada Tuhan, tanpa telaah apalagi penelitian.


Sesungguhnya, dapat disimpulkan bahwa yang menjadi fokus pembahasan para komika tersebut adalah golongan islam eksklusif, bukan islam secara keseluruhan. Kita semua bahkan pasti merasakan, jika sesama islam saja kerap menjadikan guyonan golongan islam esklusif, meski guyonan tersebut berlaku buat kalangan sendiri.


Kita tentu berharap, komika-komika yang telah dituduh melecehkan islam, betul-betul memahami jika konteks lawakan yang mereka bawakan adalah mengritisi golongan islam eksklusif, bukan islam secara keseluruhan. Kita semua tentu memahami juga, bahwa di dalam agama mana saja, selalu ada dua golongan; inklusif dan esklusif yang berkali-kali dibahas dalam tulisan ini.


Apa permasalahan ini dapat diselesaikan dengan vonis halal dan haram? Kita semua tentu berharap para pemuka agama ada yang bersedia menjabarkan bagaimana semua ini dapat menajadi halal atau haram. Vonis halal dan haram yang dijatuhkan serupa video yang saya kutip di atas pun tidak salah. Jatuhnya vonis tersebut adalah dari seorang yang berilmu. Bagaimana vonis tersebut dijatuhkan dengan kesan keras adalah agar umat tidak meremehkan perintah Tuhan. Masing-masing yang berilmu sedang melakukan tanggungjawabnya.


Mana yang lebih baik? Golongan inklusif atau eksklusif dalam islam? Sesungguhnya kedua golongan tersebut sama-sama sedang memerjuangkan kebaikan dengan cara masing-masing. Tidak perlu kita semua berdebat soal mana yang lebih baik. Banyak dari kita mengaku sebagai islam golongan inklusif yang lebih luwes dan terbuka, namun kita justru menghujat mereka yang esklusif karena dianggap merasa selalu lebih unggul. Padahal dengan demikian, kita sendiri sama dengan menganggap golongan diri sendiri yang lebih unggul. Lha… jadinya kan ya sama saja. Mana yang lebih unggul tidak patut dipermasalahkan, baru menjadi masalah ketika kita semua mengaku beragama akan tetapi malah gemar saling menyakiti.


Dan bagaimana dengan para komika yang terlanjur melemparkan lawakan yang dianggap melecehkan umat islam? Kita semua tentu berharap dari para komika tersebut atau bahkan komika lainnya, mampu membuat materi lawakan penyeimbang mengenai semua agama yang sesungguhnya memiliki dua golongan tadi. Materi penyeimbang di sini tentu akan mendidik kita semua sebagai penikmat stand up comedy. Tidak ada lagi sekadar tertawa, namun juga kita belajar bersama.


Oh iya, bagi teman-teman yang sedang membaca tulisan ini, saya berharap ada yang melanjutkan tulisan sederhana ini dalam bentuk yang lebih analitis. Dan tidak perlu juga meminta ijin kepada saya apabila hendak melanjutkan tulisan ini menjadi lebih analitis.

Semoga kita semua selalu bisa saling mencintai dan membawa damai.

Friday, December 29, 2017

Jilbab, Solusi Berbalap 'Baik' Antar Perempuan?

Coreted by: #AnomaliKreate

Tulisan ini saya catut dari tulisan saya di Instagram, 23 September 2017. Tulisan tersebut telah saya arsipkan dari Instagram untuk merapikan feed saya di sana. 

Teman saya di SMK, beda angkatan, mengoreksi teman-teman perempuannya yang berjilbab namun masih senang memasang foto tanpa jilbab di sosial media. Koreksian itu dituliskannya di status BBM. Hampir satu semester berikutnya, teman saya itu ternyata upload swafoto terbarunya tanpa jilbab dan jadi DP BBM. Kesehariannya? Jelas dia berjilbab, makanya sampai bikin status macam begitu di status BBM. Saya kemudian komen DPnya itu begini,”Loh… eman banget ada yang hilang ya…” Dan dia tidak paham maksud saya apa, katanya.

Jika saja teman saya ini sebelumnya tidak melayangkan penghakimannya pada sesama perempuan lebih dahulu, saya tidak bakal tertarik untuk menyentilnya dengan cara demikian.

Teman kampus saya, tidak bisa dibilang kenal karena kami tidak pernah bertegur sapa dan saya hanya sempat mengetahui dia di sebuah acara lantas follow Instagramnya, mengunggah postingan di Instagram dengan caption panjang sekali. Caption itu intinya mengoreksi teman-teman perempuannya, yang mengumumkan hijrahnya di sosial media. Padahal, si teman ini pun menunjukkan hijrahnya di media sosial, bahkan dipergunakannya buat berdagang pakaian yang katanya syar’i. Di bawah postingannya itu, saya hanya komen,”Soalnya postingan macam begitu (soal hijrah) bisa dipakai ‘jualan’.” Dan dia balik tanya maksud saya apa. Tersinggung bisa jadi.

Jika saja teman saya ini sebelumnya tidak melayangkan penghakimannya pada sesama perempuan lebih dahulu, saya tidak bakal tertarik untuk menyentilnya dengan cara demikian.

Agama itu damai. Jadi, kapan kita mau berhenti saling menyakiti? Jadi, kapan kita mulai berhenti saling merasa lebih baik? Sesama perempuan pula.

Bagi Tuhan, membolak-balik hati betapa mudah. Bisa jadi apa yang kita hakimi salah hari ini, besok hari kita lakukan juga. Oh iya, tolak ukur yang saya pergunakan dalam kejadian ini soal penghakiman, adalah mereka yang ucapan dengan praktiknya tidak sejalan, namun sudah merasa berhak menuding selain dirinya adalah salah.

Sesungguhnya, jilbab bukan alat untuk para perempuan berbalap merasa baik. Jilbab adalah salah satu anjuran kebaikan dalam beragama, jika betul-betul dimaknai. Masing-masing di antara kita sendiri; perempuan, yang menjadikan jilbab sebagai alat saling menyakiti dengan perempuan lain.

“There is no bad religion, they are only bad people.” –Instagram 9Gag-
Catatan:

Sabtu, 02 April 2022

Lupa tahun berapa. Sepertinya tiga tahun lalu. Teman yang saya bahas ini sudah tahu tulisan ini ada dan dia sudah berkembang jauh. Dia mengakui memang melakukan cerita di atas lalu menertawakan dirinya sendiri,"Hahaha... Aku dulu emang masih muda, Mbak."

Saya juga belajar dari teman-teman yang mau mengakui kelakuan sendiri seperti si teman ini. Soalnya saya dulu antri kritik parah sebelum luka inner child selesai. Mencerna saran? Heuh, yang ada mengira semua orang yang berpikir berlawanan sebagai si penyerang.

Sejak 2019 saya juga berusaha menemukan titik rekonsiliasi dengan banyak teman. Masih ada nama-nama yang masih saya cari sebetulnya. Tapi ya, membiasakan diri mengakui kesalahan ternyata bikin hidup rasanya lebih ringan.

Sayangnya, sejauh 2021-2022 ada dua teman yang tidak bisa bareng di titik rekonsiliasi. Dan ya, harus diakui tidak semua rekonsiliasi bakal berhasil. Bisa jadi saya yang kurang pas dalam berkomunikasi atau salah satu pihak masih perlu proses buat mencerna porsi kesalahan masing-masing.