Wednesday, December 30, 2020

Berbeda Pelangi; Panduan Mengenal Dunia Homoseksual, Karya Ansyah Ibrahim

 

Sumber: Dokumentasi pribadi

Oh, tidak… tidak… kamu keliru jika mengira buku ini berisi halal dan haram dunia homoseksual. Tapi jika kamu berpikir isi buku ini demikian, merasa jijik, bahkan lebih jauh berpikir penulisnya pantas dirisak, lebih baik tutup dahulu resensi buku ini dan baru kembali lagi dengan itikad yang sama; sebagai sesama manusia.

Membaca berbeda Pelangi, nyatanya cukup membuat terkejut. Ansyah di sini sebagai minoritas malah berusaha betul memakai narasi heteroseksual dalam tulisan-tulisannya. Bisa dikatakan, buku ini dibuat oleh seorang homoseksual yang isinya justru ramah terhadap heteroseksual. Nah, bagaimana nih? Yang minoritas justru yang berpikir bagaimana membuat nyaman yang mayoritas.

Buku ini sendiri diambil dari tulisan-tulis di blog Ansyah selama ini. Kata penulisnya sih, ini blog trafficnya suka naik setiap ada media yang memberitakan homoseksual dalam pusaran konflik.

Baik, kita mulai dari Berbeda Pelangi yang isinya bukan halal dan haram…

Ditulis menggunakan gaya bahasa personal dengan tidak banyak sudut pandang orang pertama, halaman 19 berjudul Salahkah Menjadi Gay? Ansyah menyajikan dua sudut pandang antara salah dan benar dalam dunia gay. Tidak ada kesimpulan yang memperjelas posisi sikapnya di sini. Pembaca pun, seperti dibiarkan memilih sikapnya sendiri. Tidak ada kalimat yang menganjurkan pilihan tertentu.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Format menulis dalam tulisan ini, dibuka dengan paragraf pembuka berisi pro kontra soal dunia gay secara umum. Baru kemudian, masuk sub judul; Salah dan Benar, selanjutnya kesimpulan.

Hal pertama yang kan dibahas adalah sisi salah. Ada yang mengatakan apapun alasan yang mendasari seseorang menjadi gay, itu adalah sebuah kesalahan. Tak jarang gay disebut sebagai, ada yang bilang gay itu kelainan gen, atau bahkan lebih ekstrim itu gangguan jiwa. Mereka yang menganggap gay adalah sebuah kesalahan pada dasarnya dipengaruhi beberapa faktor yaitu agama, budaya, sosial dan hukum. (hal 20)

Demikian isi paragraf awal sub judul Salah. Masih dilanjutkan pembahasa agama, budaya dan sosial. Penulis pun di sini tidak meletakkan diri sebagai seorang ahli namun lebih kepada seorang teman. Hal ini terlihat dari kalimat ...mari kita bahas dari segi agama terlebih dahulu. Koreksi saya jika salah…

Sub judul ini dipungkasi narasi bahwa ternyata menjadi gay pun masih menjadi perdebatan di antara teman-teman gay sendiri. Pengetahuan ini tentu baru, bagi teman-teman hetero yang jarang atau sama sekali bersinggungan dengan homoseksual. Narasi ini masih disusul penjelasan mengapa dari perdebatan ini, ada gay yang akhirnya menikah dengan wanita. Dalam cara pandang hetero, gay yang menikahi wanita boleh jadi dianggap kebohongan dan kejahatan, namun dalam sub judul ini, terang dijelaskan bagaimana korelasi anggapan menjadi gay salah hingga seorang gay yang akhirnya memutuskan menikahi perempuan. Ada motif yang ternyata lebih rumit dari yang dikira sekadar kebohongan dan kejahatan.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Paragraf berikutnya berisi sub judul Benar. Terdapat bahasan Hak Asasi Manusia (HAM). Pembahasan seputar setiap manusia memiliki tanggungjawab dan pilihan masing-masing. Kemudian dipungkasi pembaca dipersilahkan memilih sendiri mau mengambil sudut pandang yang mana.

Judul-judul tulisan yang ditelakkan di awal buku, memang banyak yang membahas pertentangan mengenai gay itu sendiri. Peletakan judul-judul tulisan ini agaknya dalam upaya merangkul pembaca hetero yang bisa dipastikan, mula-mula pasti masih bertanya seputar gay salah atau benar? Gay takdir atau pilihan?

Meski jika meletakkan diri sebagai hetero yang sama sekali belum pernah bersinggungan dengan gay, ada beberapa judul yang lebih baik disusun ulang. Beberapa di antaranya, Gay Liberal VS Konservatif dan Pernikahan Semu di Kalangan Gay. Gay Liberal VS Konservatif bisa diletakkan di awal buku, setelah jusul-judul seputar perdebatan seperti Mau Kapan Jadi Seorang Gay? Hingga Gay, Pilihan Atau Takdir. Cukup disangakan ketika Gay Liberal VS Konservatif yang mestinya jadi pembahasan awal, malah diletakkan di tenagh buku oleh Ansyah.

Kemudian Pernikahan Semu di Kalangan Gay, lagi-lagi judul ini diletakkan di tengah buku, padahal judul yang saling terkait justru ada agak jauh di halaman sebelumnya. Judul ini lebih cocok diletakkan sebelumatau sesudah Jika Ayahku Seorang Gay, Jika Anakku Seorang Gay dan Jika Suamiku Seorang Gay. Satu lagi judul yang cocok diletakkan di antara tulisan-tulisan yang saya sebut ini, Kisah Wanita yang Menikah Dengan Seorang Gay. Tulisan ini berisi contoh kasus dan justru diletakkan terlalu jauh dari judul-judul terkait, halaman 129! hampir di seperempat akhir buku.

Lanjut pada, Berbeda Pelangi memakai narasi ala heteroseksual…

Meski tidak semua narasi ala heteroseksual dan beberapa di antaranya bagi heteroseksual akan terasa semacam duh, kok aku disalahkan ya? Namun narasi ala heteroseksal itu terlihat salah satunya dari tulisan Bisakah Gay Sembuh? Istilah ‘sembuh’, tentu aja sangat hetero. Bagi banyak hetero, hal-hal di luar menyenangi lawan jenis lebih layak disebut harus disembuhkan. Iya… iya… sebagian lagi memang tidak demikian. Ini bagi yang tidak canggung bersinggungan dengan gay sebagai teman atau kerabat.

Dalam judul Bisakah Gay Sembuh? Terdapat lagi sub judul antara lain; Penyebab Menjadi Gay, Hapus Semua Aplikasi Gay, Tinggalkan Lingkungan Gay, Mendekatkan Diri Kepada Sang Pencipta, Aktif Kegiatan Sosial, Menikah. Sub bab-sub bab ini isinya memang memakai narasi hetero. Di antaranya penjelasan menjadi gay salah satunya karena pergaulan. Sebagai hetero, kisah menjadi gay karena lingkungan begitu jamak saya dengan dan barangkali kamu juga. Kerap kali, narasi satu ini membuat minggir kisah-kisah lain semacam ada pula gay sejak kecil. Terbawa pergaulan ini, masih juga sepaket dengan kisah gay menular. Tentu tidak hanya saya yang mendengar narasi macam ini sejak kecil di antara penutur yang semuanya juga hetero.

Istilah ‘sembuh’ ini juga diulang pada beberapa judul lain, ditambah dengan istilah ‘zona abu-abu’ yang seperti mengamini pandangan hetero bahwa dunia gay sepenuhnya tidak benar. Selain pemakaian istilah yang ramah hetero, ada juga pemakaian istilah yang menjadi jembatan. Simak kalimat berikut…

Pilihan untuk menikah… berjanjilah pada diirmu sendiri bahwa kamu akan bertanggungjawab atas pilihan tersebut… (hal 96)

Bagi teman-teman homoseksual, kata ‘kamu’ akan terasa seperti,”Oh iya, yang diajak ngomong itu aku.” sedang bagi heteroseksual, kata ‘kamu’ akan terasa seperti,”Oh iya, seandainya aku ada di posisi itu…”

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sedang dalam judul Jika Suamiku Seorang Gay dan Jika Ayahku Seorang Gay, terdapat dua pendekatan berbeda. Suamiku Seorang Gay, menyajikan pilihan; mencari alasan (suami menjadi gay), memberi kesempatan kedua, istikharah hingga bercerai. Narasi dari pilihan-pilihan tadi terlihat semacam itu pilihanmu, itu hakmu. Judul tulisan satu ini, kuat memakai narasi hetero. Hetero yang mengalami kejadian serupa atau teman hingga kerabatnya yang mengalami, akan merasa tidak disalahkan ketika memilih apapun jika merujuk tulisan ini.

Namun tidak demikian dalam Ayahku Seorang Gay. Ada penekanan seorang anak yang mengalami hal tersebut untuk melakukan refleksi diri paksa. Semacam disarankan mengingat berapa biaya yang ayahnya keluarkan untuk dirinya hingga penekanan untuk memaafkan. Bagi hetero yang mengalami hal tersebut, bisa jadi akan merasa ayahku yang nggak jujur, aku juga yang dimarahi? Namun justru letak otentiknya buku yang ditulis langsung oleh teman gay memang ada di sini.

Upaya Ansyah menjembatani dengan menggunakan narasi hetero tentu saja keren, namun narasi homoseksual seperti dalam Ayahku Seorang Gay tetap juga mesti kita pelajari. Lha, sepanjang buku sudah banyak narasi ala heteronya kok, beberapa yang narasinya homoseksual justru bikin kaya toh?

Perkara ejaan, sedikit saja yang salah ketik atau kalimat tidak efektif, jadi tidak perlu saya bahas di sini. Ansyah sendiri menulis dengan cukup rapi. Meski bagi pembaca yang barangkali sudah terbiasa membaca jurnal atau tulisan ilmiah lain tentang homoseksual, barangkali akan merasa susunan tulisan Ansyah terasa lamban. Namun untuk yang satu ini, tentu tergantung pengalaman personal. Sebagian orang barangkali tidak merasa butuh disajikan kutipan pengertian dari Wikipedia yang disajikan Ansyah, sedang sebagian lainnya masih butuh.

Selebihnya, pembaca diajak mengenal pilihan-pilihan hidup gay yang ternyata serba terbatas. Bahwa teman-teman homoseksual nyatanya bukan sebatas pemberitaan yang lebih banyak di pusaran konflik seperti prostitusi misalnya. Teman-teman homoseksual ada pula yang dihadapkan pada ketakutan hidup sebayang kara di hari tua, sedang sulit bagi mereka menyenangi sesama jenis sedang standar masyarakat menggambarkan normal artinya menikahi lawan jenis. Kalaupun menjalani pernikahan dengan lawan jenis, masih ada pula permasalahan seperti pasangan dan anak yang baru mengetahui orientasi seksual ayah atau suami mereka belakangan. Belum lagi keinginan berhubungan dengan sesama jenis yang tidak bisa dibendung sekalipun telah menikah dengan lawan jenis. Motif-motif manusiawi dijabarkan pula oleh Ansyah dalam setiap penuturannya.

Dalam bertutur, Ansyah lebih banyak menggunakan sudut pandang orang ketiga. Buku ini pun secara otentik, merekam pengalaman personalnya sebagai seorang gay.  Pengalaman demikian, tentu beda pendekatan dengan jurnal atau tulisan ilmiah yang berbasis data. Ansyah pula, menulis buku ini hingga lebih terasa sebagai seorang teman yang tengah menggandeng tangan kita, menuntun dan menceritakan segala sesuatunya dengan perlahan…

 

Judul buku                 : Berbeda Pelangi (The Hidden Life Part 1)

Penulis                        : Ansyah Ibrami

Tebal                       : 170 halaman

Tahun terbit               : 2020

Penerbit                       : Indie Book Corner (IBC)

ISBN                               : 978-602-309-480-6


Thursday, December 24, 2020

Terimalah, Grooming Nggak Melulu Senjatanya Persona Baik

Sumber: Google

Ya begitu, grooming ternyata ada dua jenis; dengan persona baik atau persona buruk. Hah, persona buruk? Bukannya grooming cuma pakai persona baik aja? Iya, jadi begini...

Pertama, grooming dengan persona baik.

Pelaku membentuk persona baik menurut standar masyarakat. Kalau sasarannya itu agamis, ya personanya agamis. Kalau sasarannya itu aktivis, ya personanya progesif. Tidak jarang, para pelaku ini menunjukkan manfaat bagi tempat yang ia jadikan sasaran persona.

Lalu ketika ada orang yang mengaku disakiti, maka para sasaran pelaku akan bilang...

“Nggak mungkin lah dia menyakiti, dianya ngerti agama gitu kok.”

“Nggak mungkin lah dia menyakiti, dianya progesif gitu kok.”

Kedua, grooming persona buruk.

Pelaku membentuk persona anak bengal menurut standar masyarakat. Kalau sasarannya agamis, ya ngaku minum. Kalau sasarannya feminis, ya bersikap seksis. Kalau sasarannya sobat mental health, ya ngomong tanpa menimbang perasaan. Tidak jarang, para pelaku ini menunjukkan solidaritas sesama pelaku.

Lalu ketika ada orang mengaku disakiti, maka para sasaran pelaku akan bilang...

“Kamu aja yang bawa perasaan, udah tahu dia anak mabok.”

“Kamu aja yang ndakik-ndakik. Udah tahu dia suka yang mulus-mulus.”

“Kamu aja yang nggak open minded. Udah tahu dia kalau ngomong nggak pakai filter.”

Yang pakai grooming persona buruk tentu saja memang revolusioner. Lha, grooming persona baik memang sudah usang, terlalu banyak yang pakai. Grooming jenis ini juga cepat ambruk ketika sekali atau dua kali ketahuan. Pura-pura baik juga pelik sih kalau bukan jati diri asli.

Terus ya, orang dengan grooming buruk ini bisa dengan cepat mendapat label ‘keren ih, dia tuch apa adanya’. Itu karena kita semua sudah bosan dengan persona baik yang di kemudian hari nggak sesuai harapan. Jadinya ketika ada yang nggak menutupi buruknya, langsung deh kita kira apa adanya. Padahal ya... Nggak jauh-jauh dari grooming lagi dan grooming juga.

Jadi, grooming mana pilihanmu?

Tuesday, December 15, 2020

Selamat tinggal, banner lawas...

2018, seorang senior di FLP satu waktu ngomong, harusnya blog ini bisa diadsense. Tulisan di blog ini menurut senior tadi, aslinya tidak main-main dan layak jadi duit. Tentu saja tulisan yang dimaksud, utamanya yang ada di label 'keseharian'.

Tanggapan demikian hanya akan datang dari teman yang betulan membaca blog ini. Blog yang selama tujuh tahun sengaja tidak dibikin SEO friendly. Sudah begitu, alamatnya suka dibilang alay dan judulnya suka dipertanyakan, kenapa pakai nama itu.

Bulan ini, isi blog ini genap empat ratus sekian. Begitu-begitu, beberapa saja yang hasil unggah ulang status sosial media teman yang berkesan atau tulisan kegiatan teman yang ada saya nongky pula di situ.

Pernah juga ini blog kena perapihan jalur oleh Google di 2017, hingga trafficnya naik tidak masuk akal hanya pada tulisan tertentu yang nggak SEO friendly pula. Bisa sampai seratus lebih views per hari, padahal sebelumnya, empat puluh pun nggak tentu. Dampaknya, blog ini dikira punya aktivitas mencurigakan oleh Google hingga 2018 traffic terjun bebas dan 2018 saya jadi atur jadwal unggah tulisan supaya lepas dari anggapan status mencurigakan tadi hingga blog ini nggak sampai dilenyapkan dari jagat per-Google-an.

2018 hingga 2019, blog akhirnya stabil dengan lima puluh views per hari. Itu pun pada tulisan yang nggak sengaja SEO friendly dan sempat saya tulis semacam; artikel Dijah Yellow, Pinky Boy dan terjemah lagu. Sedang tulisan lain mustahil dijangkau kecuali oleh teman sendiri. Selebihnya, dua puluh views per hari blog ini dapat hingga akhir 2020. Jadi jelas ya, kenapa adsense itu mustahil.

Lupa tepatnya tahun berapa, saya bikin polling di Instagram. Isi pollingnya soal seberapa mungkin saya beli domain dalam pikiran teman-teman. Sebagian besar menebak, saya bakal beli domain. Nah, yang mikir saya bakal beli domain tuh, macam yang mengira kuliah saya lulusnya tiga setengah tahun... Ketinggian ekspektasi cuy.

Blog ini nggak akan saya belikan domain. Terlalu rumit ketika kelak saya mati, masih juga harus mikir ini blog harus diwariskan pada siapa untuk seterusnya memerpanjang dan bayar domain. Kalau nggak diperpanjang dan hilang kan sayang juga cuy, saya nggak dapat amal jariyah dongs. Jadi mati dengan ceria, tanpa beban bayar domain hanya bisa dilakukan dengan blog gratisan.

Lalu kenapa template dan banner ini blog macam nggak niat gitu? Template bawaan, banner konsepnya nggak jelas dan gambarnya asal nemu. Itu karena saya memang mau bikin standar rendah untuk tampilan blog ini. Jadi ketika orang lihat ini blog, kemungkinan akan bergumam, bikin gini aja aku juga bisa kali. Ya udahlah, aku bikin dan nulis di blog juga. Blogspot gratis lagi.

Biar kelak unggahannya ada seribu pun, saya nggak ingin menulis terlihat eksklusif di blog ini. Saya selalu senang, ketika ada teman berniat main blog lepas karena melihat semangkaaaaa tercinta kita ini atau karena hal lain. Tapi awas ya, kalau mutung hanya perkara viewers. Kalau nggak cinta bilang dari awal gitu dongs. Cinta mana kenal traffic? Saya pun yang viewersnya nggak jelas sampai sekarang tetap maju aja tuh.

Terakhir, selamat datang banner baru yang ambil gambar dari Canva dan tetap didesain dengan sangat sederhana. Semoga seterusnya, blog ini bisa mengajak orang sekitar merasa bahwa menulis itu nggak eksklusif. Omong-omong, ini saya nulis langsung pakai hape di blog. Tampilan antar muka yang sekarang memang pelik sih dipakai ngetik langsung begini. Semoga segera balik tampilan lawas ya, Google. Huhuu, coba hitung tipoku yang sudah hilang semua soalnya tiga puluh menit lalu sudah diedit.

Lama

Baru

Catatan: 

Minggu, 24 April 2022

Nemu gambar Usagi Tsukino di sini dan lebih mewakili jiwa blog ini ketimbang donat. Jadi ya...


Hehe.

Tuesday, December 1, 2020

Imanen

Sumber: Instagram xiuros._.f


Dua tahun ini saya sakit, hampir mati dan... Justru setelahnya lebih sering tertawa bersama-sama Tuhan. Bagaimana bisa disebut tertawa bersama? Karena saya jadi mencapai kesadaran-kesadaran baru soal Tuhan yang kontradiktif dan suka bercanda.

Di tahun pertama, saya marah melihat kematian sendiri yang begitu diusahakan. Apa salah saya? Kenapa bisa kematian ini begitu diharapkannya? Hingga pemikiran tadi, masih bertambah dengan... Apa saya yang salah tapi nggak mau sadar hingga upakara kematian ini baginya dirasa adil?

Pertanyaan-pertanyaan di paragraf kedua tadi ternyata lenyap di tahun kedua. Di tahun ini pula, saya memahami bagaimanapun sebuah kematian diupakara, takdir Tuhan masih luar biasa besarnya.

Kita, manusia, memang kerap narsis saja. Menjegal karir orang lain dan berhasil, kemudian merasa... Ah, itu karena aku yang cerdik sampai berhasil menjegal. Membunuh orang lain dan berhasil, kemudian merasa... Ah, itu karena aku yang kuat sampai berhasil membunuh.

Padahal kena jegal hingga kematian adalah keniscayaan. Semua orang pasti pernah atau akan merasakannya. Lalu bagaimana dengan diri kita yang narsis tadi? Ada perasaan gede rasa bahwa kita, manusia, adalah penyebab segala sesuatu bisa terjadi.

Yang membedakan kena jegal dan kematian sesungguhnya hanya cara-caranya saja. Cara adalah alat, jadi siapa si pemilik alat? Gitu kok gede rasa amat, sudah merasa jadi tokoh utama. Padahal ya... Hanya alat.

Demikian yang saya pelajari selama dua tahun pertapaan ini. Sesuatu yang mulanya saya tangisi karena masih memiliki perasaan kehilangan, perasaan ada sesuatu yang direnggut. Perasaan kehilangan, perasaan ada sesuatu yang direnggut, bukankah itu hanya dialami oleh kita yang merasa memiliki?

Hal ini pun membuat saya mereka ulang pemaknaan ‘siapa diri saya?’ dan lebih jauh ‘apa yang sesungguhnya saya miliki di dunia ini?' Yang kemudian membawa saya pada keadaan ikatan-less. Sesuatu yang mengejutkan dan salah dua teman yang nyambung dengan keadaan saya ini adalah mbak Siti Nurvianti dan suaminya, mas Lukman.

Perkenalan saya dengan mbak Vian 2015 lalu dan pernikahannya dengan mas Lukman jelas bukan kebetulan. Perjalanan spiritual mereka sudah ugal-ugalan sehingga ketika adiknya ini mengalami kegilaan dalam perjalanan itu, merekalah yang bisa memberi pemahaman.

Kondisi ikatan-less ini pun membuat saya bertanya-tanya... Mengapa kita lahir dan mati sendirian, namun sepanjang hidup sangat ribut dengan ikatan? Kok mirip lirik lagunya Blackpink Lovesick Girls ya? Begini bunyinya... But we were born to be alone, but why we still looking for love. Yang ketika lagu ini rilis, teman saya Noval langsung mengirim pesan berbunyi,”Lagu iki awakmu banget awokokok...”

Orang tua saya menangis karena saya hampir mati. Diusahakannya saya berobat kesana dan kesini supaya bertahan hidup. Teman-teman saya mengutuk kesakitan-kesakitan itu dan mengusahakan pula bagimanapun saya mesti hidup.

Apa yang sebetulnya orang tua dan teman-teman saya cari? Apakah itu adalah usaha untuk lari dari kehancuran akibat kehilangan? Tapi bagaimana jika yang demikian disebut cinta? Apa sebetulnya yang disebut cinta?

Sedang di waktu yang lain lagi, ibu saya dan seorang tetangga yang juga ibu-ibu, menangisi kematian Opet. Opet adalah kucing oranye milik keluarga kami yang juga senang berkunjung ke rumah keluarga si tetangga tadi. Tangisan demikian ternyata adalah tangisan kehilangan, tangisan bahwa tidak ada lagi cinta yang bisa diisi jika Opet tidak ada.

Jika ada kehilangan, bukankah ada perasaan memiliki? Jika yang dimiliki itu hilang, bukankah perasaan memiliki itu jadi luka? Jadi apa itu cinta?

Kemarin saya baru saja tertawa-tawa soal bagaimana Tuhan membuat kita lahir sendirian, mati sendirian, namun sepanjang hidup mesti ribut dengan ikatan. Oke, sudah berapa kali saya mengulang kalimat ini kecuali bagian tertawa-tawanya?

Orang tua siswa melabrak guru karena tidak terima anaknya dicubit...

Seorang kakak, meninju muka teman adiknya karena tidak terima adiknya itu dirisak...

Kita menyumbang uang lewat internet untuk seseorang yang sakit dan tidak kita kenal di dunia nyata...

Apa yang terbesit dalam otak teman-teman ketika saya tanya, kenapa? Kenapa bisa ada tiga kejadian di atas?

Tidak terima?

Tidak adil?

Kasihan?

Cin... Ta...?

Tidak terima, tidak adil dan kasihan kepada siapa sesungguhnya? Lalu apa itu cinta?

Bukankah ada bagian dari diri orang tua yang melabrak itu terluka, sehingga ia melabrak guru anaknya? Bukankah ada sesuatu dalam diri kakak itu yang luka, membuat dirinya meninju teman adiknya yang merisak? Bukankah ada bagian dari diri kita yang terluka, sehingga menyumbang kepada orang asing yang sakit lewat internet?

Dan kita ternyata... Senantiasa hancur oleh karena kehilangan. Jadi upaya-upaya yang mengarah pada kehilangan tadi, berusaha betul kita libas supaya tidak terjadi.

Guru itu mencubit anak kita...

Adik kita dirisak temannya...

Orang sakit di internet tidak punya biaya...

Bagaimana kalau mereka luka kemudian mati? Ada sesuatu dalam diri kita yang turut merasa hancur. Perasaaan kehilangan... Senantiasa menghancurkan...

Bagaimana dengan seorang penguasa yang tidak mau kehilangan wilayahnya?

Bagaimana dengan pemangku kebijakan yang tidak mau kehilangan duitnya?

Bagaimana dengan seorang warga yang tidak mau kehilangan rumah yang menahun ia tinggali?

Bagaimana dengan orang-orang yang takut hutan gundul karena tidak mau kehilangan oksigen?

Jadi apa itu cinta?

Bukankah hal-hal yang saya sebut di atas tadi menimbulkan masalah antar sesama manusia? Kenapa manusia harus hidup dengan keterikatan? Kenapa manusia harus hancur ketika kehilangan? Apa yang Tuhan mau, dengan membiarkan manusia memiliki keterikatan dan rasa hancur akibat kehilangan?

Kehilangan dan kematian adalah keniscayaan. Namun kita, manusia, meski sudah mengetahui hal yang demikian masih juga histeris ketika mendapatinya.

Bayangkan ketika dunia ini dipenuhi manusia-manusia yang tidak berusaha mengingkari kehilangan dan kematian...

Orang tua yang diam saja melihat anaknya dicubit guru.

Kakak yang diam saja melihat adiknya dirisak.

Kita yang diam saja melihat seseorang di internet sakit dan butuh biaya.

Penguasa yang diam saja kehilangan wilayahnya.

Pemangku kebijakan yang diam saja kehilangan duitnya.

Seorang warga yang diam saja kehilangan rumahnya.

Orang-orang yang diam saja kehilangan oksigen karena hutan gundul.

Akankah dunia damai ketika semuanya diam? Apakah dunia akan damai tanpa rasa takut dan kehancuran setelah kehilangan? Jadi apa itu cinta?

Kehancuran atas kehilanganlah yang selama ini membuat dunia ini terus bergerak. Memilikinya adalah anugrah. Tuhan membuat hidup setiap orang berdetak dengan cara demikian.

Jika ada orang-orang yang mencapai kesadaran soal candaan Tuhan satu ini, itu pun untuk penyeimbang saja. Itu pun bahaya sekali jika orang-orang tadi tidak mencapainya dengan kesiapan, karena jelas dirinya kemudian akan kebingungan dan merasa hidupnya tidak ada alasan lagi buat berdetak.

Namun... Sebuah ikatan, rasa hancur akibat kehilangan adalah juga soal perjalanan yang lain. Sesuatu yang orang-orang dengan ikatan-less belum tentu bisa merasakannya kembali. Ada keberanian yang sangat dibutuhkan untuk menjalani jalur yang satu ini.

Orang-orang dengan ikatan-less cukup jauh dari perasaan hancur akibat kehilangan dan sejak awal sudah mengembalikannya kepada Tuhan. Ikatan-less itu semacam perintang yang hilang dari jalan jenis orang ini sehingga lebih cepat kembali pada Tuhan. Sedang orang-orang dengan ikatan dan perasaan hancur atas kehilangan, jalannya akan lebih pelik untuk kembali pada Tuhan. 

Ada yang menimpakan ikatan dan perasaan hancur atas kehilangan itu pada dirinya sendiri, kalaupun bangkit juga dengan kakinya sendiri. Ada juga yang menimpakan rasa sedih, takut, dan hancurnya pada pada orang lain, kalaupun bangkit mesti dengan menginjak kepala yang lain. Jadi apa itu cinta?

Untuk mengalami ikatan-less, kamu nggak harus mengalami hal-hal semacam pernah mati suri. Ikatan-less pula bukan sebuah pencapaian. Adapun saya ada di sini hanya sebagai penyeimbang, menyampaikan segala yang saya sudah utarakan di atas, hari ini, tahun ini. Jadi jika hari ini, kamu hancur karena kehilangan, perasaanmu itu valid.

Melewati perjalanan spiritual yang ugal-ugalan, justru membuat saya memahami, perasaan hancur karena kehilangan bukan hal yang remeh. Itu semua adalah perasaan berulang yang mesti dialami sepanjang hidup. Justru saya salut, kepada teman-teman yang  berani menikah, memiliki pasangan dan anak dengan kejelasan bahwa kelak di depan sana pasti ada kehilangan dan kematian, ada perasaan yang hancur setelahnya.

Lantas setelah perasaan hancur, apakah selama itu kita bisa berdiri tanpa menginjak kepala orang lain? Apakah selama itu, kita bisa berdiri dengan menginjak kepala orang lain? Kepada Tuhan akahkah kita kembali? Itulah cinta, selebihnya Tuhan ingin kita tertawa bersama... Lalu di dalam jiwa kita hanya ada satu kalimat menggema... Sangkan paraning dumadi...