Showing posts with label Persimpangan. Show all posts
Showing posts with label Persimpangan. Show all posts

Sunday, March 21, 2021

Masih hidup, oy...

Tenang, yang punya blog ini masih hidup.

Hanya saja... lagi masa transisi atas hal-hal yang nggak pernah dipelajari apalagi dihafal dari buku sebelumnya yaitu... Sangkan paraning dumadi.

Jadi...

Sampai jumpa lagi ya, setelah masa transisi ini selesai, setelah semua selubung ini purna pupaknya.

Sayang kalian!

Baik-baik...

Tuesday, December 1, 2020

Imanen

Sumber: Instagram xiuros._.f


Dua tahun ini saya sakit, hampir mati dan... Justru setelahnya lebih sering tertawa bersama-sama Tuhan. Bagaimana bisa disebut tertawa bersama? Karena saya jadi mencapai kesadaran-kesadaran baru soal Tuhan yang kontradiktif dan suka bercanda.

Di tahun pertama, saya marah melihat kematian sendiri yang begitu diusahakan. Apa salah saya? Kenapa bisa kematian ini begitu diharapkannya? Hingga pemikiran tadi, masih bertambah dengan... Apa saya yang salah tapi nggak mau sadar hingga upakara kematian ini baginya dirasa adil?

Pertanyaan-pertanyaan di paragraf kedua tadi ternyata lenyap di tahun kedua. Di tahun ini pula, saya memahami bagaimanapun sebuah kematian diupakara, takdir Tuhan masih luar biasa besarnya.

Kita, manusia, memang kerap narsis saja. Menjegal karir orang lain dan berhasil, kemudian merasa... Ah, itu karena aku yang cerdik sampai berhasil menjegal. Membunuh orang lain dan berhasil, kemudian merasa... Ah, itu karena aku yang kuat sampai berhasil membunuh.

Padahal kena jegal hingga kematian adalah keniscayaan. Semua orang pasti pernah atau akan merasakannya. Lalu bagaimana dengan diri kita yang narsis tadi? Ada perasaan gede rasa bahwa kita, manusia, adalah penyebab segala sesuatu bisa terjadi.

Yang membedakan kena jegal dan kematian sesungguhnya hanya cara-caranya saja. Cara adalah alat, jadi siapa si pemilik alat? Gitu kok gede rasa amat, sudah merasa jadi tokoh utama. Padahal ya... Hanya alat.

Demikian yang saya pelajari selama dua tahun pertapaan ini. Sesuatu yang mulanya saya tangisi karena masih memiliki perasaan kehilangan, perasaan ada sesuatu yang direnggut. Perasaan kehilangan, perasaan ada sesuatu yang direnggut, bukankah itu hanya dialami oleh kita yang merasa memiliki?

Hal ini pun membuat saya mereka ulang pemaknaan ‘siapa diri saya?’ dan lebih jauh ‘apa yang sesungguhnya saya miliki di dunia ini?' Yang kemudian membawa saya pada keadaan ikatan-less. Sesuatu yang mengejutkan dan salah dua teman yang nyambung dengan keadaan saya ini adalah mbak Siti Nurvianti dan suaminya, mas Lukman.

Perkenalan saya dengan mbak Vian 2015 lalu dan pernikahannya dengan mas Lukman jelas bukan kebetulan. Perjalanan spiritual mereka sudah ugal-ugalan sehingga ketika adiknya ini mengalami kegilaan dalam perjalanan itu, merekalah yang bisa memberi pemahaman.

Kondisi ikatan-less ini pun membuat saya bertanya-tanya... Mengapa kita lahir dan mati sendirian, namun sepanjang hidup sangat ribut dengan ikatan? Kok mirip lirik lagunya Blackpink Lovesick Girls ya? Begini bunyinya... But we were born to be alone, but why we still looking for love. Yang ketika lagu ini rilis, teman saya Noval langsung mengirim pesan berbunyi,”Lagu iki awakmu banget awokokok...”

Orang tua saya menangis karena saya hampir mati. Diusahakannya saya berobat kesana dan kesini supaya bertahan hidup. Teman-teman saya mengutuk kesakitan-kesakitan itu dan mengusahakan pula bagimanapun saya mesti hidup.

Apa yang sebetulnya orang tua dan teman-teman saya cari? Apakah itu adalah usaha untuk lari dari kehancuran akibat kehilangan? Tapi bagaimana jika yang demikian disebut cinta? Apa sebetulnya yang disebut cinta?

Sedang di waktu yang lain lagi, ibu saya dan seorang tetangga yang juga ibu-ibu, menangisi kematian Opet. Opet adalah kucing oranye milik keluarga kami yang juga senang berkunjung ke rumah keluarga si tetangga tadi. Tangisan demikian ternyata adalah tangisan kehilangan, tangisan bahwa tidak ada lagi cinta yang bisa diisi jika Opet tidak ada.

Jika ada kehilangan, bukankah ada perasaan memiliki? Jika yang dimiliki itu hilang, bukankah perasaan memiliki itu jadi luka? Jadi apa itu cinta?

Kemarin saya baru saja tertawa-tawa soal bagaimana Tuhan membuat kita lahir sendirian, mati sendirian, namun sepanjang hidup mesti ribut dengan ikatan. Oke, sudah berapa kali saya mengulang kalimat ini kecuali bagian tertawa-tawanya?

Orang tua siswa melabrak guru karena tidak terima anaknya dicubit...

Seorang kakak, meninju muka teman adiknya karena tidak terima adiknya itu dirisak...

Kita menyumbang uang lewat internet untuk seseorang yang sakit dan tidak kita kenal di dunia nyata...

Apa yang terbesit dalam otak teman-teman ketika saya tanya, kenapa? Kenapa bisa ada tiga kejadian di atas?

Tidak terima?

Tidak adil?

Kasihan?

Cin... Ta...?

Tidak terima, tidak adil dan kasihan kepada siapa sesungguhnya? Lalu apa itu cinta?

Bukankah ada bagian dari diri orang tua yang melabrak itu terluka, sehingga ia melabrak guru anaknya? Bukankah ada sesuatu dalam diri kakak itu yang luka, membuat dirinya meninju teman adiknya yang merisak? Bukankah ada bagian dari diri kita yang terluka, sehingga menyumbang kepada orang asing yang sakit lewat internet?

Dan kita ternyata... Senantiasa hancur oleh karena kehilangan. Jadi upaya-upaya yang mengarah pada kehilangan tadi, berusaha betul kita libas supaya tidak terjadi.

Guru itu mencubit anak kita...

Adik kita dirisak temannya...

Orang sakit di internet tidak punya biaya...

Bagaimana kalau mereka luka kemudian mati? Ada sesuatu dalam diri kita yang turut merasa hancur. Perasaaan kehilangan... Senantiasa menghancurkan...

Bagaimana dengan seorang penguasa yang tidak mau kehilangan wilayahnya?

Bagaimana dengan pemangku kebijakan yang tidak mau kehilangan duitnya?

Bagaimana dengan seorang warga yang tidak mau kehilangan rumah yang menahun ia tinggali?

Bagaimana dengan orang-orang yang takut hutan gundul karena tidak mau kehilangan oksigen?

Jadi apa itu cinta?

Bukankah hal-hal yang saya sebut di atas tadi menimbulkan masalah antar sesama manusia? Kenapa manusia harus hidup dengan keterikatan? Kenapa manusia harus hancur ketika kehilangan? Apa yang Tuhan mau, dengan membiarkan manusia memiliki keterikatan dan rasa hancur akibat kehilangan?

Kehilangan dan kematian adalah keniscayaan. Namun kita, manusia, meski sudah mengetahui hal yang demikian masih juga histeris ketika mendapatinya.

Bayangkan ketika dunia ini dipenuhi manusia-manusia yang tidak berusaha mengingkari kehilangan dan kematian...

Orang tua yang diam saja melihat anaknya dicubit guru.

Kakak yang diam saja melihat adiknya dirisak.

Kita yang diam saja melihat seseorang di internet sakit dan butuh biaya.

Penguasa yang diam saja kehilangan wilayahnya.

Pemangku kebijakan yang diam saja kehilangan duitnya.

Seorang warga yang diam saja kehilangan rumahnya.

Orang-orang yang diam saja kehilangan oksigen karena hutan gundul.

Akankah dunia damai ketika semuanya diam? Apakah dunia akan damai tanpa rasa takut dan kehancuran setelah kehilangan? Jadi apa itu cinta?

Kehancuran atas kehilanganlah yang selama ini membuat dunia ini terus bergerak. Memilikinya adalah anugrah. Tuhan membuat hidup setiap orang berdetak dengan cara demikian.

Jika ada orang-orang yang mencapai kesadaran soal candaan Tuhan satu ini, itu pun untuk penyeimbang saja. Itu pun bahaya sekali jika orang-orang tadi tidak mencapainya dengan kesiapan, karena jelas dirinya kemudian akan kebingungan dan merasa hidupnya tidak ada alasan lagi buat berdetak.

Namun... Sebuah ikatan, rasa hancur akibat kehilangan adalah juga soal perjalanan yang lain. Sesuatu yang orang-orang dengan ikatan-less belum tentu bisa merasakannya kembali. Ada keberanian yang sangat dibutuhkan untuk menjalani jalur yang satu ini.

Orang-orang dengan ikatan-less cukup jauh dari perasaan hancur akibat kehilangan dan sejak awal sudah mengembalikannya kepada Tuhan. Ikatan-less itu semacam perintang yang hilang dari jalan jenis orang ini sehingga lebih cepat kembali pada Tuhan. Sedang orang-orang dengan ikatan dan perasaan hancur atas kehilangan, jalannya akan lebih pelik untuk kembali pada Tuhan. 

Ada yang menimpakan ikatan dan perasaan hancur atas kehilangan itu pada dirinya sendiri, kalaupun bangkit juga dengan kakinya sendiri. Ada juga yang menimpakan rasa sedih, takut, dan hancurnya pada pada orang lain, kalaupun bangkit mesti dengan menginjak kepala yang lain. Jadi apa itu cinta?

Untuk mengalami ikatan-less, kamu nggak harus mengalami hal-hal semacam pernah mati suri. Ikatan-less pula bukan sebuah pencapaian. Adapun saya ada di sini hanya sebagai penyeimbang, menyampaikan segala yang saya sudah utarakan di atas, hari ini, tahun ini. Jadi jika hari ini, kamu hancur karena kehilangan, perasaanmu itu valid.

Melewati perjalanan spiritual yang ugal-ugalan, justru membuat saya memahami, perasaan hancur karena kehilangan bukan hal yang remeh. Itu semua adalah perasaan berulang yang mesti dialami sepanjang hidup. Justru saya salut, kepada teman-teman yang  berani menikah, memiliki pasangan dan anak dengan kejelasan bahwa kelak di depan sana pasti ada kehilangan dan kematian, ada perasaan yang hancur setelahnya.

Lantas setelah perasaan hancur, apakah selama itu kita bisa berdiri tanpa menginjak kepala orang lain? Apakah selama itu, kita bisa berdiri dengan menginjak kepala orang lain? Kepada Tuhan akahkah kita kembali? Itulah cinta, selebihnya Tuhan ingin kita tertawa bersama... Lalu di dalam jiwa kita hanya ada satu kalimat menggema... Sangkan paraning dumadi...

Friday, November 8, 2019

المانع

Sumber: Gugel


Bagaimana dengan buku-buku yang kamu baca? Apa mereka tidak memberitahukanmu apa hakikatnya takdir?

Cobalah baca sekali lagi. Maka barangkali sekali saja seumur hidup, kamu akan tahu bahwa lawanmu itu takdir dan bukannya aku. Lawanmu itu Tuhan, yang memberi ijin untuk kamu melaraiku. Sekaligus Dia pula, yang memberiku ijin untuk terus hidup di tengah segala lara itu.

Monday, July 1, 2019

Kisah Berakhirnya Hubungan Saya dengan Sahabat yang Bercadar

Sumber: Magdalene.co

Dimuat di Magdalene.co 10 April 2019
Di tahun kedua kuliah, enam tahun lalu, lini masa Facebook saya dihebohkan oleh catatan dari seorang sahabat bernama Sandy. Isinya menyoal pilihannya memakai cadar, dan bagaimana sikap guru SMK kami dulu, orang tua hingga tetangga yang menurutnya tidak begitu mendukung pilihannya itu. Para tetangga mengejeknya sebagai “ninja”.
Membaca catatan itu, saya menangis. Namun alih-alih berusaha mengobrol apalagi menyentuh hatinya, saya malah berkubang dalam rasa sakit hati dan jengah akibat upaya Sandy yang rutin mengirimkan artikel dari akun dakwah di dinding Facebook saya. Salah satunya menyebut Facebook serupa dinding ratapan yang tidak layak dipergunakan umat Islam.
Sandy dan saya mulai dekat sejak awal masuk SMK di Malang, ketika kami masuk kelas yang sama. Seperti kebanyakan siswi yang berjilbab, Sandy saat itu memakai jilbab berbahan menerawang dan adem, sering disebut kerudung paris, yang mesti dilapisi kain lagi di dalamnya.
Sifatnya tertutup, bahkan misterius, dan sensitif, tapi justru membuat kami cocok. Hingga tahun terakhir di SMK, kami bersahabat dekat. Salah satu cerita yang saya ingat adalah soal mahasiswa kampus dekat sekolah yang ditaksirnya, cerita cinta yang tidak pernah tersampaikan karena ketidakpercayaan diri Sandy soal fisiknya yang bagi saya tidak masuk akal.
Di sekolah, Sandy dikenal sebagai penulis berbakat, jago merajut, menjahit, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Ia juga dipercaya menjadi wakil ketua ekstrakurikuler jurnalistik. Beberapa teman alumni yang masih berkomunikasi dengan saya terang-terangan menyatakan rasa rindunya pada Sandy. “Anak itu baik banget dulu, enak diajak berteman.” Tidak pilih-pilih teman dan merangkul semua orang. Bukankah sikap Sandy sudah sangat Islam pada praktiknya?
Selepas SMK, Sandy mengikuti kelas Bahasa Arab di sebuah universitas. Namun kelasnya berlangsung di masjid, bukan di ruang kuliah. Di Facebook, Sandy bercerita bahwa kelas tersebut membuatnya tercerahkan. Ia pun kemudian memutuskan untuk menjalani Islam dalam versi terbaik dan menggunakan cadar. Masih dalam catatannya di Facebook, Sandy menulis bahwa ia memaklumi segala sikap mantan guru, teman, orang tua hingga para tetangga yang terkesan kontra soal pilihan yang diyakininya. Namun, ia mengatakan tidak bakal bisa digoyahkan.
Saya tidak hendak menuduh kelas di masjid itu telah mengubah Sandy, si kesayangan semua orang. Bisa jadi penafsiran Sandy sendiri yang mendorongnya menjadi lebih eksklusif. Seiring bertambahnya usia, saya kemudian memahami apa yang dilakukan Sandy sesungguhnya adalah upayanya menjadi manusia yang lebih baik. Kita semua pun, sedang memperjuangkan yang terbaik bagi diri masing-masing, bukan?
Ajaran yang dipahaminya itu seperti menyelamatkannya juga dari perasaan minder terhadap fisiknya dan lawan jenis. Ia mulai mendeklarasikan diri sebagai anti-pacaran dan pro-menikah muda. Kedua hal ini tentu tidak salah, jika saja Sandy betul memilihnya bukan karena ia merasa dirinya patah. Hingga sebentar kemudian, saya mendengar dari salah seorang geng lawas kami semasa SMK, bahwa Sandy sedang dalam proses berkenalan (taaruf) dengan pemuda dari lingkaran kelasnya di masjid.
Lelaki pertama tidak jadi menikahinya dan tidak berapa lama, ada lelaki lain lagi yang menikahinya dengan proses serupa. Saya menjadi satu-satunya teman geng yang tidak diundang dalam pernikahan tersebut.
Kepada dua teman geng kami yang lain, orang tua Sandy yang begitu dekatnya dengan saya mempertanyakan kenapa saya tidak hadir. Agaknya, Sandy betul-betul terluka ketika saya yang waktu itu masih 19 tahun dan berapi-api, menegurnya keras soal artikel yang dibagikannya di dinding Facebook saya secara rutin. Kebersamaan kami yang pernah juga jadi teman sebangku dan satu ekstrakurikuler, seperti lenyap begitu saja dilalap “perjuangan agama”. Sesungguhnya, luka serupa pun saya dapat dari caranya berdakwah. Saya ingat, waktu itu saya tegur, “Temanku enggak semuanya Muslim, dakwahmu itu membuat orang sakit.”
Hingga bertahun kemudian, saya masih memantau kabar Sandy melalui lingkaran pertemanan yang tersisa. Dari salah seorang teman, saya mendapati cerita lain bagaimana proses hijrahnya Sandy. Si teman yang juga berjilbab itu mengatakan bahwa Sandy lama-kelamaan anti memakai kerudung paris yang menurutnya menerawang. Setiap pertemuan, kerudung yang ia pakai makin panjang saja dan bahkan ia menghadiahi kerudung sepanjang mata kaki kepada si teman tadi.
“Aku enggak nolak kerudungnya. Aku pakai tapi cuma waktu tidur, kan lumayan hangat, hehe,” ujarnya. 
Ternyata usaha menularkan hijrah ini dilakukan kepada semua teman satu geng, bukan hanya saya. Hanya saja teman yang dihadiahi kerudung sepanjang mata kaki itu jauh lebih adem dan bijak menghadapi Sandy daripada saya.
Tidak lama berselang, muncul lagi berita bahwa Sandy bercerai.Kalau dari versi dia, suaminya enggak gitu mau kenal sama ortu-nya. Dia mau dibawa ke Kalimantan tapi dilarang ibunya, terus suaminya mau poligami dia,” cerita teman kami yang lain lagi.
Taaruf memiliki tujuan yang baik, agar saling mengenal. Namun bukan dengan tatap muka sekali dua kali lalu menikah. Hijrah, jika betul dimaknai, tentu bukan hanya berarti berganti kostum sehari-hari. Menikah muda atau pun menikah kapan saja, semua tentu juga memiliki tujuan baik. Meski saya tidak mengetahui, apa benar teman-teman yang bercadar semua diajarkan sebegitu keras dalam beragama serupa Sandy. Atau mungkin Sandy yang menafsirkannya sendiri hingga jadi sedemikian keras?
Sejak proses hijrahnya yang tampak cepat dan setelah kabar perceraiannya, akses komunikasi dengan Sandy semakin sulit, bagi saya dan teman-teman yang lain. Pernah saya coba mengiriminya pesan di Facebook namun sepertinya tidak terbaca. Saya dan teman-teman kemudian bersepakat, agaknya Sandy membutuhkan ruang bagi dirinya sendiri. Hingga pada saatnya nanti, kami tidak perlu memaksanya mau berkomunikasi.
Yang pasti kini saya menyadari, Sandy sesungguhnya sedang berusaha menyelamatkan teman-temannya termasuk saya, dengan keyakinan Islam terbaik dalam versinya. Pun saya, yang begitu mencemaskan keyakinan Islam dalam versinya itu, hingga membalas sikap kerasnya dengan sikap keras pula. Sandy berusaha menyelamatkan saya dengan apa yang ia yakini, sebaliknya saya juga mengusahakan hal serupa. Pada titik ini yang saya rasakan adalah, jika benar saya mengaku inklusif, mengapa sikap saya tidak ada bedanya dengan Sandy yang saya tuduh eksklusif?
Dulu dan hingga kini, kami berdua saling peduli dan sesungguhnya saling menyayangi dengan cara masing-masing. Begitu bukan?
Ilustrasi oleh: Sarah Arifin
Terimakasih tim Magdalene yang telah menyunting cerita ini agar layak baca.

Tambahan 04/05/2020: saya berencana menggarap sebuah tulisan yang menggali sisi lain perempuan bercadar di sekitar. Bahwa perempuan bercadar berbaur seperti biasa dengan masyarakat, ada juga yang menjadi wirausahawan sukses, pula tidak semua dekat dengan poligami.

Wednesday, May 30, 2018

Dari (Bukan) Teman (Baik)mu yang Mengidap Mental Illness

Sumber: dokumentasi pribadi

Saya menulis ini sambil menangis, bukan menangisi diri saya tentu saja. Namun saya menangis karena saya tahu, saya telah purna melukaimu...

Tanpa kamu bilang sekalipun, saya tahu bagian mana dari diri saya yang nggak srek buatmu. Saya tahu saya mendominasi pembicaraan dan selalu, maka itu sempat saya minta emailmu. Saya harap bisa mengalihkan obrolan yang biasanya saya luapkan padamu lewat sana saja, agar saya bisa belajar fokus mendengarkanmu.

Saya tahu kita sama super introvert. Saya tahu kita saling percaya sejak lama dan sudah teruji. Saya tahu kamu butuh tempat cerita dan barangkali sempat terpikir olehmu saya bisa. Sayangnya, saya nggak pernah cerita kalau sejak usia 9 tahun saya mengalami depresi terselubung, setidaknya saya menandai tahun itu sebagai awal kesadaran soal apa yang saya alami, keinginan bunuh diri yang paling pertama. Saya nggak pernah cerita padamu kalau orang-orang dengan jenis mental illness ini setidaknya masih tidak terlalu menderita karena apa yang dialaminya tidak meningkat menjadi bipolar, skizo, delusi atau mental illness lainnya yang sifatnya jauh lebih berat, bahkan perlu dibantu obat.

Saya tahu saya melukaimu. Saya ingin mendengarkanmu. Saya ingin bisa diandalkan. Saya ingin belajar. Tapi seperti kamu tahu, orang-orang jenis saya sangat cengeng dan lemah. Hal-hal remeh memenuhi pikiran kami hingga meluber kemana-mana. Saya nggak berharap kamu memahami, karena saya tahu itu hanya bakal melukaimu dan keterbukaan saya mengenai ini pun melukaimu. Orang-orang seperti saya sangat mendominasi percakapan dan tidak pernah bisa diharap fokus. Itu adalah bagian sejati diri kami. Kami memiliki beban yang sangat penuh dalam kepala dan hati, mendominasi percakapan adalah usaha kami mengurangi muatan beban itu. Mekanisme pertahanan diri. Setiap mental illness memiliki pemantik dan yang ada dalam diri saya ini mulai terpantik kembali tiga tahun belakangan. Di tahun pertama dari tiga tahun itu, saya insomnia parah. Saya sempat juga sakit kepala berkepanjangan karena ini dan mesti minum obat supaya toleran dengan rasa sakitnya.

Sebelum twit yang saya tahu kamu tujukan pada saya secara tidak langsung itu, saya sudah meniatkan belajar, tidak lagi memaksamu kenal paksa dengan yang namanya mental illness. Maka saya meminta emailmu. Saya mengalihkan penuhnya pikiran dan hati saya di sana. Saya bukan hanya ingin membuka diri lebih jauh siapa diri saya sebenarnya, tapi saya juga tidak ingin bolak-balik membuat hapemu berbunyi atas hal-hal yang sangat acak, penuh dan membuatmu tidak punya kesempatan bicara. Di lain sisi, saya ingin email-email itu kamu baca sewaktu-waktunya kamu sempat dan harapan saya mereka ini punya manfaat agar kamu mengenal bidang lain yang selain bidangmu.

Tapi setelah saya baca twitmu itu, saya tahu saya melukaimu dan belajarnya saya sangat terlambat. Saya menangis waktu membaca twitmu itu karena sadar saya telah begitu melukaimu. Saya nggak sesuai harapanmu. Saya nggak bisa diandalkan. Maka saya mengetik satu email lagi yang isinya email terakhir dari saya.

Padamu, saya telah salah membebankan semuanya. Saya yang sesungguhnya bukan seseorang yang puk-puk teman sekampusnya yang bawa perasaan karena motornya dirantai satpam. Saya yang sesungguhnya bukan seseorang yang mendampingi teman perempuannya ketika depresi kehilangan keperawanan. Saya yang sesungguhnya bukan seseorang yang menemani temannya ketika temannya itu berusaha menata hati soal pacarnya yang melakukan kekerasan dan layak ditinggalkan. Saya bukan orang itu, yang mengatasi banyak hal di luar sana. Saya bukan orang supel yang penuh rasa gembira dan gampang memiliki teman. Wajah asli saya nggak begitu dan kesalahan besar membebankannya padamu. Kesalahan besar membuka siapa diri saya sebenarnya tanpa penjelasan, yang justru ternyata membuatmu luka.

Terimakasih telah memberi pembelajaran dan saya yakinkan padamu, saya tidak akan lagi melukaimu lagi hari ini dan seterusnya. Saya tahu dalam kebuntuan saya yang segala macam rupanya, kamu selalu peduli dan doamu menyertai saya.

Maka biar doa antara kita saja yang saling tertaut. Namun adalah hakmu untuk menilai saya selanjutnya layak atau tidak jika terus ada dalam doa-doamu.

Doa yang selalu saya tautkan untukmu adalah, jangan sampai kamu maupun siapapun di sekitarmu mengalami mental illness. Jenis apapun jangan. Jangan sampai waktu-waktumu habis hanya untuk menghadapi orang tidak waras, tidak dewasa dan mendominasi percakapan. Syukuri kenormalanmu.

Keberadaan saya di sekelilingmu hanya melukai. Seterusnya saya nggak bakal kembali. Keberadaan orang seperti saya hanya akan merepotkan sekali. Selamat melanjutan hidupmu, seterusnya tanpa saya.

Kepergian ini mematahkan hati saya. Namun yang lebih penting adalah, ini semua nggak akan berpengaruh denganmu dan justru membebaskanmu. Usaha membuat semua normal, justru menyadarkan saya semestinya saya nggak lagi mengedar di sekitarmu. Apapun yang membikinmu bahagia, saya turut.

Saya hanya bisa melukai...

Thursday, February 22, 2018

Komoditi Maaf

Coreted by: #AnomaliKreate
Kamera dan empati yang terlupakan adalah salah satu kombinasi berbahaya. Segala bisa dijadikan komoditi, bahkan sebuah maaf.

Friday, December 29, 2017

Jilbab, Solusi Berbalap 'Baik' Antar Perempuan?

Coreted by: #AnomaliKreate

Tulisan ini saya catut dari tulisan saya di Instagram, 23 September 2017. Tulisan tersebut telah saya arsipkan dari Instagram untuk merapikan feed saya di sana. 

Teman saya di SMK, beda angkatan, mengoreksi teman-teman perempuannya yang berjilbab namun masih senang memasang foto tanpa jilbab di sosial media. Koreksian itu dituliskannya di status BBM. Hampir satu semester berikutnya, teman saya itu ternyata upload swafoto terbarunya tanpa jilbab dan jadi DP BBM. Kesehariannya? Jelas dia berjilbab, makanya sampai bikin status macam begitu di status BBM. Saya kemudian komen DPnya itu begini,”Loh… eman banget ada yang hilang ya…” Dan dia tidak paham maksud saya apa, katanya.

Jika saja teman saya ini sebelumnya tidak melayangkan penghakimannya pada sesama perempuan lebih dahulu, saya tidak bakal tertarik untuk menyentilnya dengan cara demikian.

Teman kampus saya, tidak bisa dibilang kenal karena kami tidak pernah bertegur sapa dan saya hanya sempat mengetahui dia di sebuah acara lantas follow Instagramnya, mengunggah postingan di Instagram dengan caption panjang sekali. Caption itu intinya mengoreksi teman-teman perempuannya, yang mengumumkan hijrahnya di sosial media. Padahal, si teman ini pun menunjukkan hijrahnya di media sosial, bahkan dipergunakannya buat berdagang pakaian yang katanya syar’i. Di bawah postingannya itu, saya hanya komen,”Soalnya postingan macam begitu (soal hijrah) bisa dipakai ‘jualan’.” Dan dia balik tanya maksud saya apa. Tersinggung bisa jadi.

Jika saja teman saya ini sebelumnya tidak melayangkan penghakimannya pada sesama perempuan lebih dahulu, saya tidak bakal tertarik untuk menyentilnya dengan cara demikian.

Agama itu damai. Jadi, kapan kita mau berhenti saling menyakiti? Jadi, kapan kita mulai berhenti saling merasa lebih baik? Sesama perempuan pula.

Bagi Tuhan, membolak-balik hati betapa mudah. Bisa jadi apa yang kita hakimi salah hari ini, besok hari kita lakukan juga. Oh iya, tolak ukur yang saya pergunakan dalam kejadian ini soal penghakiman, adalah mereka yang ucapan dengan praktiknya tidak sejalan, namun sudah merasa berhak menuding selain dirinya adalah salah.

Sesungguhnya, jilbab bukan alat untuk para perempuan berbalap merasa baik. Jilbab adalah salah satu anjuran kebaikan dalam beragama, jika betul-betul dimaknai. Masing-masing di antara kita sendiri; perempuan, yang menjadikan jilbab sebagai alat saling menyakiti dengan perempuan lain.

“There is no bad religion, they are only bad people.” –Instagram 9Gag-
Catatan:

Sabtu, 02 April 2022

Lupa tahun berapa. Sepertinya tiga tahun lalu. Teman yang saya bahas ini sudah tahu tulisan ini ada dan dia sudah berkembang jauh. Dia mengakui memang melakukan cerita di atas lalu menertawakan dirinya sendiri,"Hahaha... Aku dulu emang masih muda, Mbak."

Saya juga belajar dari teman-teman yang mau mengakui kelakuan sendiri seperti si teman ini. Soalnya saya dulu antri kritik parah sebelum luka inner child selesai. Mencerna saran? Heuh, yang ada mengira semua orang yang berpikir berlawanan sebagai si penyerang.

Sejak 2019 saya juga berusaha menemukan titik rekonsiliasi dengan banyak teman. Masih ada nama-nama yang masih saya cari sebetulnya. Tapi ya, membiasakan diri mengakui kesalahan ternyata bikin hidup rasanya lebih ringan.

Sayangnya, sejauh 2021-2022 ada dua teman yang tidak bisa bareng di titik rekonsiliasi. Dan ya, harus diakui tidak semua rekonsiliasi bakal berhasil. Bisa jadi saya yang kurang pas dalam berkomunikasi atau salah satu pihak masih perlu proses buat mencerna porsi kesalahan masing-masing.

Friday, October 13, 2017

TULUSMETER

Jadi, di hari begini... Kamu nggak bisa nilai kebaikan atau ketulusan orang, dari seberapa sengsara dia pernah hidup, juga dari seberapa banyak dia mengerjakan hal yang nampaknya enggak dibayar.

Wednesday, July 26, 2017

Selamat Datang, di Industri ‘Mencintai Dalam Diam’

Dimuat dan dapat dibaca di magdalene.co
 
Ilustrasi dari magdalene.co
Saya tentu gemas, melihat postingan soal cinta pada lawan jenis dalam diam, berseliweran di beranda sosial media. Pernah satu waktu, saya goda teman yang mengunggah tulisan model begitu. Saya bilang padanya,”Kenapa mesti cinta dalam diam?”
Dia jawab,”Kan kita ini perempuan, Pop…” jawabnya.
“Mencintai dalam diam itu, semacam doa tanpa usaha…” balas saya.
Nampaknya dia kemudian tersinggung dengan bilang,”Terus? Sebagai perempuan kita mesti apa? Mesti bagaimana?”
Komentar saya pungkasi dengan sok tausiyah, di mana doa dan usaha mestinya beriringan. Saya sedih bercampur geli melihat seberapa banyak teman-teman perempuan saya, masuk dalam industri ‘mencintai dalam diam’.
Si teman yang saya goda dalam kolom komentar di sosial media itu pun, dulunya juga berpacaran meski sudah memakai atribut beragama lengkap sejak dirinya masuk pondok. Lucunya, setelah putus buru-buru dia berkoar soal prinsipnya yang anti berpacaran, baiknya mencintai dalam diam dan betapa dia mencintai karena Tuhan. Tidak jarang, prinsip yang dia umumkan cenderung menyerang dan menyalahkan pihak yang masih berpacaran. Loh… apa si teman ini lupa dia dulu bagaimana, ya? Kok ya suka serang-serang orang?
Lain lagi dengan cerita kakak tingkat saya semasa SMK. Hubungan saya renggang dengan si mbak tersebut, semenjak saya berusaha mengajaknya membaca tulisan-tulisan analitis seputar agama. Dia mengatakan bahwa saya telah membuatnya bingung. Di sosial media, mbak tersebut makin getol mengumumkan ketaannya pada Tuhan dan bagaimana dia mencintai lawan jenis dalam diam. Ketaatan yang dibahasnya pun sebatas atribut relijiusitas.
Sama seperti teman perempuan saya sebelumnya, si mbak tersebut dulunya juga berpacaran bahkan dirinya dulu sama sekali tidak menganakan atribut beragama. Pernah ketika dirinya saya ingatkan soal perayaan kesalehan alias kelalaian manusia yang terlalu mengumumkan ketaannya pada Tuhan, si mbak tersebut malah tersinggung dan bilang begini,”Ini sama dengan kamu promosi terus tulisanmu, meski orang nggak paham dengan duniamu. Orang bisa mengira kamu sombong loh.” Terakhir, dia justru meremove saya dari sosial medianya.
Maka, saya jadi makin tergelitik. Saya tidak harap mbak tersebut memahami beda masalah ketuhanan dengan barang dagangan. Tentu promosi tulisan yang saya lakukan, adalah untuk branding. Saya menarik orang-orang untuk mengunjungi blog saya, yang barangkali bisa dijadikan penghasilan kelak.
Semakin hari, teman-teman perempuan di sekeliling saya makin membingungkan. Kutipan-kutipan cengeng yang sesat pikir juga makin banyak di sosial media. Kutipan jenis ini, juga rajin dibagikan oleh dua teman perempuan saya di atas.
Bagaimana tidak sesat pikir? Tuhan katanya maha tahu, namun kenapa cinta mereka pada Tuhan justru diumba-umbar? Sebaliknya, manusia yang jenis kelaminnya lelaki itu seberapa sakti? Sehingga bisa melihat dalam hati perempuan mana yang menyimpan perasaan. Bagaimana cinta pada Tuhan yang mestinya disimpan, justru diumbar bahkan tidak jarang melukai sesamanya perempuan. Dan bagimana cinta pada lawan jenis yang mesti diiringi  doa dan usaha, malah disimpan rapat sebatas doa. Ah… betapa sekarang ini banyak santriwati produk sosial media…
Disadari atau pura-pura tidak disadari. Para perempuan pengikut kutipan agama ala sosial media, pada muaranya hanya akan turut membeli atribut beragama, tiket seminar atau buku-buku agama seputaran pernikahan dan lagi-lagi soal mencintai dalam diam, pada sosial media yang mereka ikuti. Lucunya, mereka memang semangat jadi konsumen loh…
Bahkan seorang teman saya yang satu fakultas, pernah saya tegur karena saya tidak nyaman dengan penghakimannya pada artikel yang sengaja dikirimkannya di sosial media saya. Artikel tersebut, berisi ketidakbenaran atribut beragama saya. Sedihnya, dia susah sekali diajak berdialog. Padahal, sebagai sesama perempuan saya menghormati dirinya yang mulai mengenakan berbagai atribut beragama. Saya juga tidak pernah berkomentar soal dirinya yang berkoar-koar di sosial media mengenai anti berpacaran dan bagaimana dia mencintai Tuhan. Ya… meski sebelumnya dia juga berpacaran dan galau hebat ketika ditinggal mantannya. Harapan untuk saling menghormati justru pupus dari caranya menghakimi.
Teman saya tersebut, bahkan tidak mengetahui bagaimana saya memutuskan tidak berpacaran semenjak jaman ABG. Sebelum ini, saya menutupnya rapat. Hanya teman terdekat yang mengetahuinya. Hingga sekarang, saya tidak pernah berpacaran sama sekali. Alasannya? Saya menemukan rasionalisinya dalam dalil agama dan itu menguatkan selama menahun. Namun, melihat orang berpacaran, saya biasa saja tuh. Itu kan urusan masing-masing. Saya baru heboh, jika hubungan berpacaran itu justru mebikin sakit. Seperti teman perempuan saya yang dikibuli habis-habisan oleh pacarnya, hingga merobek pergelangan tangannya sendiri karena putus asa tempo hari.
Terkait dengan atribut beragama, saya pun sedang mencari rasionalisasinya. Terhitung dua kali, dalam blog saya dan tulisan ini, saya baru membuka prinsip yang saya pegang. Namun, Tuhan tentu bisa membalik hati saya menjadi ingin berpacaran, besok sore atau lusa. Jadi, jangan heran jika besok sore atau lusa, bisa jadi saya mengingkari prinsip sebelumnya.
Lebih lucu lagi, teman saya beda jurusan di SMK. Hingga sekarang dia memakai atribut beragama yang sama lengkapnya. Sampai pertengahan kuliah, dirinya gemar mengunggah tulisan yang barangkali juga menyakiti teman-temannya yang berpacaran. Seperti ejekan soal ‘barang bekas’ dan lainnya. Lucunya, menuju akhir kuliah, dirinya justru mengunggah tulisan soal harapannya dalam hubungan berpacaran. Ketika saya menggodanya, dia malah tersinggung dan berkata,”Pacaran kan bukan mesti kehilangan harga diri, Pop!”
Satu lagi cerita, dari pacar teman laki-laki satu fakultas saya. Perempuan ayu tersebut, dulunya merupakan penyanyi scream berbakat. Sudah rahasia umum jika dirinya berasal dari keluarga berkecukupan. Dalam sosial medianya, rajin dia unggah bagaimana atribut beragama yang benar bagi perempuan, tentu sebatas ilustrasi dan penghakiman tanpa analisis. Dia justru malah tersinggung dan tidak terbuka dalam dialog ketika saya menggodanya dalam unggahan tersebut. Padahal, sudah menjadi rahasisa umum jika si ayu ini, tidak dilibatkan dalam pergaulan pacarnya. Selama kuliah, dia sibuk mengikuti pacarnya kemana pun, sebisa mungkin hingga menjadi bahan pembicaraan banyak orang dan harga dirinya dipertanyakan.
Sebagai perempuan, saya juga turut terluka, ketika si ayu tersebut ternyata motor hingga kartu ATMnya turut menjadi hak milik si pacar. Soal ini, juga sudah menjadi rahasisa umum. Ketika pacarnya membaca buku-buku dan berdiskusi ini itu, si ayu terus menerus menunggu. Selain mencemburui perempuan yang jadi teman dialog pacarnya, tidak ada lagi hal yang dia lakukan. Hingga akhir kuliah, mereka terus bersama. Banyak teman menjadi saksi, bagaimana si pacar memiliki cukup bekal agama buat mengendalikan si ayu melalui berbagai atribut. Bukan sungguh-sungguh berbagi ilmu agama karena ingin jadi lebih baik!
Satu waktu, saya menggoda pacar si ayu dengan bilang begini,”Bro… tega kamu. Kamu ditungguin itu sama si ayu. Kapan mau kasih kepastian?”
Dan si pacar malah tertawa. Dia bilang,”Orang macam aku nggak bisa ditunggu, Pop…”
Saya selalu berharap cinta dan kasih antar sesama perempuan, juga saling menghormati, bukan menghakimi. Kami mestinya saling belajar, rangkul dan dukung. Betapa saya ingin muntah, berada dalam industri ‘mencintai dalam diam’. Industri sialan ini, tidak lebih dari penghancur persaudaraan sesama perempuan
Saya sungguh ingin semuanya berakhir cepat-cepat. Ah… tapi toh jika industri ‘mencintai dalam diam’ ini berakhir, akan tumbuh industri baru, yang barangkali lebih membikin perempuan saling cabik. Begitu bukan?

Poppy Trisnayanti Puspitasari, mahasiswi Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Negeri Malang. Arek Malang asli, yang gemar menulis hal-hal lucu di instagramnya @TrisnayantiP dan blognya, http://semangkaaaaa.blogspot.com