Showing posts with label Menulis. Show all posts
Showing posts with label Menulis. Show all posts

Wednesday, June 10, 2026

Adalah Cerita

Sumber: Gugel

Kita terbiasa menganggap cerita yang patut dituliskan mesti yang terlihat spektakuler. Kelahiran, kelulusan, pernikahan, kemenangan, kesedihan dan kematian sebagai misal.

Kita kerap kali merasa tidak punya bahan cerita yang layak jika bukan hal-hal fenomenal tadi isinya. Hasilnya, terjadi kebuntuan menulis.

Saturday, April 1, 2023

Jalan Industri Paling Mulia

Hyoyeon SNSD dan Boy William. Sumber: Youtube BW.


Di sebuah warung kopi perbukuan di Malang, saya berhadapan dengan seorang teman yang konsisten menulis cerita pendek tema lokalitas. Cerpen-cerpennya dimuat koran maupun media online dengan genre sejenis. Genre yang disebut sastra serius.

“Kalau blog itu kan tanpa domain jadi kurang kredibel ya.” Ucapnya.

Namun bukan kredibelitas semacam itu yang tengah saya cari. Sedang di hari-hari berikutnya saya bertemu dua orang teman di kafe tengah sawah. Keduanya sama-sama punya selera bacaan sastra yang disebut serius itu meski ternyata saat ini mengambil jalur berbeda.

Teman satu memilih mengembangkan pengikut Instagramnya, mengambil diksi-diksi sederhana dalam puisi dengan tema-tema cinta. Hasilnya, pengikut media sosial meningkat dan ia bisa buka endors. Sedang teman satunya mulai menulis di salah satu platform di mana tulisan bisa disetel gratis maupun dimonetasi. Kala itu ia mengambil tema cinta dengan diksi sederhana dalam cerita pendeknya.

“Orang-orang membayar untuk membeli kesedihan.” Demikian komentarnya mengenai tulisan-tulisan yang umunya populer dan bisa dimonetasi di platform tersebut.

Kedua teman saya tadi mulanya berangkat dari esai, cerpen, juga puisi berbau sastra serius. Bedanya, teman pertama betulan yakin memilih genre sekaligus pasar yang mana sehingga konsisten membuat video musikalisasi puisi dengan komentar-komentar pengikut Instagramnya kerap merasa relevan atas apa yang ia sampaikan.

Ia pula rajin berkolaborasi dengan penulis tema sejenis. Saling berbagi traffic salah satu keuntungannya barangkali. Lantas teman yang pertama tadi mengajak teman kedua berkolaborasi, bikin musikalisasi puisi. Tepatnya disebut apa ya? Jadi model videonya semacam pengisi suara laki-laki dan perempuan saling timpa dialog-dialog puitis begitu. Apalagi mengingat teman kedua apik ketika deklamasi. Kami pernah menyaksikan deklamasinya di peluncuran buku salah satu universitas di Malang.

Meski beberapa pertemuan berikutnya, teman pertama tadi bilang perkara kolaborasi tidak ada kabar lanjutan dari teman kedua. Saya lihat cerpen-cerpen di platform yang ia pilih juga tidak ada kelanjutan. Apakah teman yang kedua masih ragu hendak menyeberang genre? Bisa jadi.

Teman yang pertama pun bercerita bagaimana puisinya dikatakan buruk oleh salah seorang teman dari komunitas awal ia berkembang. Temannya tadi setia membawa marwah sastra serius hingga hari ini, mengorbitkan penulis-penulis muda anyar, hingga punya bisnis penerbitan. Membawa genre tertentu hingga bisa merambah bisnis, bukankah sebetulnya yang mereka tempuh serupa?

Ada lagi teman semasa SMK saya naksir betul dengan seorang cewek yang isi tweetnya membahas buku. Benar, cewek itu selebtwit dengan pengikut belasan ribu saat itu. Dari buku-buku yang ia ulas, nampak judul-judul berat berseliweran. Hingga ketika teman saya itu hendak membeli bukunya, ia bilang,”Aku mau beli buku si F itu tapi takut bukunya berat.”

Kemudian saya sahut,”Kamu tahu penerbit novel dia namanya apa?”

Dan berlanjut kami ngobrol soal penerbit novel cewek tersebut yang genrenya metro pop. Jadi bisa dipastikan karya perdananya itu tidak bakal seberat buku-buku bacaan yang biasa ia ulas. Benar saja, adik teman saya ini bilang novel tersebut berat di bab awal namun lanjutannya yang ada kisah cinta.

Tunggu... Tunggu, saya tidak hendak menegasikan kisah cinta sebagai hal remeh. Toh di perlombaan cerita pendek pun kerap kali tema lokalitas yang dibawa peserta isinya kisah cinta yang ditempeli latar desa, hutan dan pantai. Yang berarti bukan benar-benar adat, ciri khas atau kisah di suatu daerah yang benar-benar tidak bisa diganti apabila latarnya ada di daerah lain.

Jadi kisah cinta atau kisah apapun itu ketika sulit dipindahkan latarnya ke daerah lain bukankah itu juga lokalitas? Jelas ya, di bagian ini bukan kisah cinta yang jadi masalah.

Saya sendiri sempat galau ketika bingung menentukan mau kemana jalan menulis ini. Cerita-cerita pendek saya formatnya tidak masuk di koran juga perlombaan. Kelewat pendek tentu saja hingga lebih pas disebut fiksi mini.

Koran tertentu pernah ada rubrik fiksi mini namun itu pun formatnya beda dengan fiksi mini di blog saya. Meski demikian saya tetap mengeksplorasi gaya menulis lain. Begini-begini cerpen saya pernah masuk media lokal (Menanti Blanggur, Radar Malang). Esai saya juga pernah masuk lagi-lagi koran lokal yang kabarnya banyak penulis ditolak juga (GWP vs KF, Radar Malang). Sisanya ya, saya pada akhirnya menulis tanpa berpikir kemana tulisan-tulisan ini kelak berjodoh.

Jadilah tulisan-tulisan di blog ini beberapa kali berjodoh dengan seleksi atau lomba menulis yang syaratnya cukup unik. Misalnya syarat seleksi Live in Tempo x Save The Childreen, di mana tulisan yang boleh diikutsertakan harus yang diunggah sebelum Oktober sedang deadline November.

Ketika syarat seleksi atau lomba lain kerap menghendaki tulisan-tulisan anyar atau baru dibuat, belum dipublikasikan, syarat Live in ini laknat juga. Jadi sejak dari poster pengumuman, peserta sudah pada gugur duluan. Agaknya, penyelenggara sedang mencari konsistensi, bukan sekadar tulisan bagus.

Seorang teman menyayangkan gaya menulis saya yang berubah ketika Menanti Blanggur masuk Radar Malang. Tata bahasa, ide yang dieksplorasi memang beda dengan cerpen-cerpen di blog. Kala itu dalam pikiran saya hanya ada perasaan senang belajar, entah itu gaya sehari-hari maupun gaya baru. Isyana Sarasvati menyebut yang begini sebagai ‘eksplorasi genre lain’.

Sebaliknya ketika menulis esai dan masuk koran, kebetulan gaya menulis sehari-hari ya semacam begitu. Apa ya sebutannya, esai populer? Selebihnya esai-esai personal saya di blog mulanya belum bertemu jodohnya sampai media-media alternatif bermunculan (Kisah Berakhirnya Hubungan Saya dengan Sahabat yang Bercadar, Magdalene).

Bagaimana dengan blog? Tetap saya ingin orang melihat blog ini dengan membatin,”Alah, ngunu wae aku ya isa.”** Hingga memantik semangatnya menulis juga. Latar belakang blog ini bisa dibaca di Selamat tinggal, banner lawas.

Tulisan ini sebetulnya dipantik tulisan kang Syarif Maulana berjudul Selera Pasar. Melalui tweet yang ditulis Desember 2022 lalu, pengguna Twitter @lelegurame mendapat beragam komentar dari para penggemar Blackpink setelah mengutarakan persoalan skillnya sebagai musisi.

Sedang Februari 2020 lalu, melalui acara bincang-bincang bertajuk #DrinkWithBoys In Korea; Hyoyeon Lebih Suka Boy Daripada Choi Siwon, Boy William bertanya mana yang sesungguhnya Hyoyeon? Si gahar atau SNSD?

Lantas Hyoyeon menjawab...

“Pertanyaan yang bagus, pertanyaan yang baru juga bagi aku. Sebelum aku mulai SNSD, genre dance yang aku suka adalah Poppin and Lockin, jadi bisa dibilang cewek gahar. Tapi sejak aku mulai debut dengan SNSD aku harus lumayan berusaha untuk keluar dari image cewek gahar.”


Penerjemah, Hyoyeon dan Boy William. Sumber Youtube BW.

Selanjutnya Boy menyatakan cinta terhadap SNSD, begitu pula Hyoyeon. Hyoyeon pun menyatakan untuk saat ini dia adalah DJ Hyo, agaknya merujuk identitas yang sekarang ia senangi.

Masih di 2020, Isyana Sarasvati menampilkan Lexicon di Indonesia Idol. Anang bertanya Isyana ingin melepaskan apa melalui Lexicon. Masih Anang yang menanyakan kenapa Lexicon berbeda dengan lagu-lagu Isyana sebelumnya. Maia Estianti pun menanggapi Lexicon terlihat seperti ‘ini lho gue’ buat Isyana dan gadis yang lahir tahun 1993 itu pun mulai menangis.

“Kalau boleh membaca ya, sebagai sesama penulis lagu, rasanya kita pengin bikin lagu di A tapi ternyata produser atau label Indonesia mintanya di B.” Sambung Maia.

“Eee, kalau itu nggak sih nggak bener. Karena awal aku masuk di Industri, aku memang mengiyakan ingin sekali mengeksplorasi musik genre lain karena kan aku emang sekolahnya musik klasik tuh dan pada akhirnya aku bisa masuk ke label dan akhirnya bisa punya kesempatan untuk eksplorasi ya aku tidak ada regret sama sekali untuk album satu, kedua gitu dan makanya album pertama aku kasih judul Eksplor.” Jawab Isyana.

Masih di dunia musik, kita tentu mengenal Rara Sekar, kakak Isyana yang memilih distribusi indie buat musiknya. Di dunia menulis ada bunda Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa, kakak beradik yang jalan menulisnya nyaris serupa dengan Isyana dan Rara Sekar.

Bunda Asma Nadia film-filmnya masuk di rumah produksi besar, sebaliknya bunda Helvy yang memilih produksi sendiri film dari buku-bukunya dengan segmen pasar tidak lebih luas. Agaknya kisah dakwah mas Gagah pasarnya tidak lebih luas dibanding kisah Ferdi Nuril yang menikah dengan Laudia Cynthia Bella lantas lanjut bersama Raline Shah.

Mengambil jalan entah itu mengikuti pasar, menciptakan pasar maupun jalan senyap tentu sah-sah saja. Bisa jadi juga jalan itu serupa mas Lele yang menjadi guru musik, Hyoyeon yang mengikuti industri kemudian solo dengan gaya musiknya di label yang sama atau bunda Helvy yang memproduksi film dari bukunya sendiri.

Meski ya... Negasi genre satu atas genre yang lain agaknya akan terus saja ada demi menciptakan pasar alternatif atau bahkan yang baru. Sastra serius menegasikan tulisan pop dengan ujaran receh kelewatan dan sebaliknya yang pop menuduh sastra serius kelewat eksklusif.

Intinya ya, apapun jalan yang sedang kalian pilih sebagai musisi, penulis dan lain sebagainya... Jangan nanggung, tempuh saja.


**"Alah, begitu saja saya juga bisa."


Catatan, Desember 2024:

Salah satu nama yang disebut dalam tulisan ini terindikasi pelaku pelecehan dan kekerasan seksual. Dalam tulisan ini, nama tersebut tidak akan saya hapus karena sebagai pengingat, namun dalam tulisan-tulisan lain di hari depan, saya tidak akan mengutip apapun bentuk pernyataan atau tulisan yang bersangkutan.

Thursday, November 3, 2022

Totto Chan; Jumpa Jati Diri di Blog

 

Sumber: Dokumentasi pribadi

Main blog dari SMP dan baru 2015 betulan tahu apa yang mau ditulis di sana. Jadi seorang teman yang jadi salah satu guru menulis saya itu merekomendasikan harus baca Totto Chan. Si teman ini dah jam terbang tinggi begitu, jadi satu atau dua kali baca karya tulismu apapun itu, dia bisa bagi saran butuhmu apa bahkan lebih jauh bisa gali masa lalumu gimana.

Dan betul, butuhnya saya memang baca Totto Chan karena setelahnya saya jadi makin mantap menulis kenangan-kenangan masa kecil yang sebelumnya memang sudah dimulai sedikit di blog. Bedanya, format menulis saya itu kenangan masa kecil ditambah pemahaman ketika dewasa ditambah ilmu pola asuh.

Jadi ketika kamu baca tulisan saya yang jenis ini, bisa sekaligus ditemui tuh Poppy anak-anak dan Poppy dewasa. Kapan lagi kan dalam satu tulisan ada satu orang beda jaman, sedang bapak atau ibu kita sendiri banyak yang tumbuh dewasa dengan ingatan sebagai anak-anak yang terputus.

Salah satunya saya pernah menulis perbedaan pola asuh ibu dan nenek. Banyak dari kita pasti mengalami ini juga. Jadi ibu saya tuh super disiplin, rapi dan anti kotor, sedang nenek jauh lebih lunak, tidak teratur dan bukan masalah jadi kotor. Kalau dengan ibu, main air bersih saja saya betulan tidak berani, sebaliknya nenek yang justru santai saja menunjukkan serangga kepada saya dan bahkan membantu mengoleksi tutup botol.

Nah, setelah cerita ingatan ketika anak-anak begitu, saya tambah apa yang dicerna ketika dewasa plus ilmu pola asuh. Bahwa ibu punya maksud sendiri dengan kedisiplinannya, pula nenek dengan sikap santainya. Pola asuh keduanya sama-sama punya nilai kurang dan lebih. Sangat manusiawi ketika pola asuh memang tidak ada yang sempurna.

Upaya saya menulis macam begitu pun sebagai kartasis yang ampuh sekali sih ternyata. Karena memori saya terlalu detail sejak usia satu setengah tahun dan sempat bikin stress karena tidak terkendali.

Pengalaman personal setiap orang soal pola asuh tuh, dijamin tidak ada yang sama persis dan cerita model di atas adanya di rumah dijitel saya https://semangkaaaaa.blogspot.com dengan label ‘ngoceh pendidikan’.

Tuesday, December 15, 2020

Selamat tinggal, banner lawas...

2018, seorang senior di FLP satu waktu ngomong, harusnya blog ini bisa diadsense. Tulisan di blog ini menurut senior tadi, aslinya tidak main-main dan layak jadi duit. Tentu saja tulisan yang dimaksud, utamanya yang ada di label 'keseharian'.

Tanggapan demikian hanya akan datang dari teman yang betulan membaca blog ini. Blog yang selama tujuh tahun sengaja tidak dibikin SEO friendly. Sudah begitu, alamatnya suka dibilang alay dan judulnya suka dipertanyakan, kenapa pakai nama itu.

Bulan ini, isi blog ini genap empat ratus sekian. Begitu-begitu, beberapa saja yang hasil unggah ulang status sosial media teman yang berkesan atau tulisan kegiatan teman yang ada saya nongky pula di situ.

Pernah juga ini blog kena perapihan jalur oleh Google di 2017, hingga trafficnya naik tidak masuk akal hanya pada tulisan tertentu yang nggak SEO friendly pula. Bisa sampai seratus lebih views per hari, padahal sebelumnya, empat puluh pun nggak tentu. Dampaknya, blog ini dikira punya aktivitas mencurigakan oleh Google hingga 2018 traffic terjun bebas dan 2018 saya jadi atur jadwal unggah tulisan supaya lepas dari anggapan status mencurigakan tadi hingga blog ini nggak sampai dilenyapkan dari jagat per-Google-an.

2018 hingga 2019, blog akhirnya stabil dengan lima puluh views per hari. Itu pun pada tulisan yang nggak sengaja SEO friendly dan sempat saya tulis semacam; artikel Dijah Yellow, Pinky Boy dan terjemah lagu. Sedang tulisan lain mustahil dijangkau kecuali oleh teman sendiri. Selebihnya, dua puluh views per hari blog ini dapat hingga akhir 2020. Jadi jelas ya, kenapa adsense itu mustahil.

Lupa tepatnya tahun berapa, saya bikin polling di Instagram. Isi pollingnya soal seberapa mungkin saya beli domain dalam pikiran teman-teman. Sebagian besar menebak, saya bakal beli domain. Nah, yang mikir saya bakal beli domain tuh, macam yang mengira kuliah saya lulusnya tiga setengah tahun... Ketinggian ekspektasi cuy.

Blog ini nggak akan saya belikan domain. Terlalu rumit ketika kelak saya mati, masih juga harus mikir ini blog harus diwariskan pada siapa untuk seterusnya memerpanjang dan bayar domain. Kalau nggak diperpanjang dan hilang kan sayang juga cuy, saya nggak dapat amal jariyah dongs. Jadi mati dengan ceria, tanpa beban bayar domain hanya bisa dilakukan dengan blog gratisan.

Lalu kenapa template dan banner ini blog macam nggak niat gitu? Template bawaan, banner konsepnya nggak jelas dan gambarnya asal nemu. Itu karena saya memang mau bikin standar rendah untuk tampilan blog ini. Jadi ketika orang lihat ini blog, kemungkinan akan bergumam, bikin gini aja aku juga bisa kali. Ya udahlah, aku bikin dan nulis di blog juga. Blogspot gratis lagi.

Biar kelak unggahannya ada seribu pun, saya nggak ingin menulis terlihat eksklusif di blog ini. Saya selalu senang, ketika ada teman berniat main blog lepas karena melihat semangkaaaaa tercinta kita ini atau karena hal lain. Tapi awas ya, kalau mutung hanya perkara viewers. Kalau nggak cinta bilang dari awal gitu dongs. Cinta mana kenal traffic? Saya pun yang viewersnya nggak jelas sampai sekarang tetap maju aja tuh.

Terakhir, selamat datang banner baru yang ambil gambar dari Canva dan tetap didesain dengan sangat sederhana. Semoga seterusnya, blog ini bisa mengajak orang sekitar merasa bahwa menulis itu nggak eksklusif. Omong-omong, ini saya nulis langsung pakai hape di blog. Tampilan antar muka yang sekarang memang pelik sih dipakai ngetik langsung begini. Semoga segera balik tampilan lawas ya, Google. Huhuu, coba hitung tipoku yang sudah hilang semua soalnya tiga puluh menit lalu sudah diedit.

Lama

Baru

Catatan: 

Minggu, 24 April 2022

Nemu gambar Usagi Tsukino di sini dan lebih mewakili jiwa blog ini ketimbang donat. Jadi ya...


Hehe.

Sunday, February 16, 2020

Persaingan: Sebuah Wejangan Dari Kak Azis Franklin

Kak Azis Franklin memainkan alat musik (kiri). Sumber: Dokumentasi pribadi.

Bertemu kak Azis, artinya mendapat kuliah umum gratis. Meski saya tidak yakin, beliau ingat nama saya dari sekian banyak orang yang ditemuinya. Namun beliau ternyata selalu ingat jika saya sebut kata kunci acara Pelangi Sastra Malang dan anak yang pernah ditembak prediksi-prediksi beliau suatu hari, di pojok luar Kafe Pustaka.


Suasana pojok Kafe Pustaka kala itu jadi penuh tawa. Seorang super introvert yang kedoknya dikuliti memang selalu menarik, bahkan bagi diri saya sendiri. Maka pulalah saya terbahak-bahak melihat wajah teman-teman lain yang kelihatan senang sekali ketika kak Azis membaca banyak hal dalam diri saya dan saya akui itu semua benar. Belum lagi ketika saya bilang takut dengan zombie dan sekali lagi menjadi tertawaan semua teman semeja kala itu. Bagaimana saya justru tidak memilih takut pada hantu lokal saja? Hantu lokal, yang kata kak Azis justru sungguhan ada, beda dengan zombie. Impor sekali rasa takut saya itu memang.

Dan akhirnya, saya kembali bisa mengobrol dengan kak Azis ketika beliau beristirahat di pinggir panggung Haul Gus Dur yang ke 10 di Klenteng Eng An Kiong Malang. Melihat kak Azis yang sedang tidak berinteraksi dengan siapapun, saya pun menyalaminya dan sambil tertawa-tawa berkata,”Saya ini apa ndak diramal lagi?”

Ya, saya memilih kata ‘ramalan’. Sesuatu yang lebih terasa akrab dan gembira ketimbang ‘minta wejangan’. Apalagi jika mengenang kejadian di pojok Kafe Pustaka yang menyenangkan teman-teman semeja kala itu. Dan setelah melempar kata ‘meramal' itu, dengan ramah kak Azis memersilahkan saya duduk di sampingnya.

Dari sekian wejangan kak Azis, sebuah analogi tentang persaingan menarik perhatian saya. Sebut saja A dan B yang menjalani bidang serupa. A memandang B luar biasa sekali dalam bidangnya dan ia menyadari pasar mereka berbeda. Pergaulan A, tentu sangat jauh keluasannya jika dibanding B. Sedang B, malah menyadari gayanya menggarap bidang tersebut hanya mampu menembak pasar tertentu. A justru dilihatnya mampu masuk dalam berbagai pasar dengan caranya menggarap bidang.

“A ini sadar potensi orang lain, tapi dia ndak sadar potensi dirinya sendiri.” Ujar kak Azis.

Kak Azis lantas mengibaratkan lembaran uang seratus ribu. Nilai seratus ribu yang lusuh, sama dengan nilai seratus ribu yang licin dan baru keluar dari bank. Mereka sama-sama bisa dibelanjakan. Hanya saja bedanya, soal tampilan. A menurut kak Azis masih melihat seseorang serupa analogi lembaran uang tadi.

“Lha iya, B anaknya buku banget.” Lanjutnya.

Jika A dan B menulis nilai soal kehidupan sekalipun, masih menurut kak Azis. Hasilnya akan berbeda. Bukannya A punya gaya bahasa yang luwes? Bukannya B punya gaya bahasa berdasar buku-buku? Oh, jadi ini penjelasan analogi persamaan nilai seratus ribu itu. B barangkali lebih keren di mata A dengan buku-buku yang diusungnya namun menurut B yang sudah kenyang dengan buku, A justru menyamai apa yang disampaikannya.

“A ini tahu dia mau pergi ke mana, tapi dia ndak ngerti harus naik apa menuju sana. Sedang B ini merasa jalannya paling benar. Dia ndak mau belajar kemungkinan lain.”

Maka pikir saya, A meskipun menyadari setiap orang memiliki pasar masing-masing, mestinya ia mengubah cara pandangnya terhadap orang lain agar tidak serupa analogi uang seratus ribu lusuh vs licin. Silau adalah kekonyolan yang ia lakukan. Sedang B, yang sudah menyadari uang seratus ribu lusuh vs licin nilainya ternyata sama, mestinya juga menyadari ia pun memiliki pasar sendiri. Kalut adalah kekonyolan yang ia lakukan.

Dipikir berapa kali pun, A dan B sama-sama menggelikan juga ternyata. Ehe.

Thursday, January 10, 2019

Enam Tahun Jadi Narablog, Dituduh Pencemaran Nama Baik

“Maaf, di negara ini kan bebas berpendapat tapi tolong jangan menyudutkan satu instansi karena mungkin saja hasil analisa kamu salah dan belum kamu ulik sepenuhnya lebih dalam lagi. Bisa-bisa kamu kena kasus pencemaran nama baik, jika curhatan kamu ini tidak seperti kenyataan.” Ketik Afsha dalam kolom komentarnya di blog saya.
 
Ketika saya coba klik nama Afsha sebagai si pengirim komentar, ternyata akun miliknya anonim. Akun itu baru aktif Juli 2016 dan dipergunakan untuk mengomentari tulisan yang saya unggah Januari 2017 berjudul (Bukan Esai) Iming-iming Penerbit Indie (Masih Ada). Manipulatif, satu kata itu yang saya pikirkan ketika membaca komentar Afsha yang sebenarnya terdiri dari empat paragraf.
Akun anonim Afsha. Sumber: Dokumentasi pribadi

Saya sendiri mulai mengelola blog semenjak 2009, hanya saja saya berganti-ganti alamat hingga 2013 saya menetap di http://semangkaaaaa.blogspot.com. 2017 adalah tahun ke empat saya menjadi narablog dan sayangnya masih saja saya menemukan modus lomba menulis yang hanya menguntungkan penerbit. Masalahnya bukan hanya menyoal oknum penerbit indie yang berlaku curang, tapi juga menyoal ada saja teman sekitar saya yang ternyata tidak kunjung melek mengenai modus serupa. Padahal, di tahun 2015 saya sempat menulis esai berjudul Iming-iming Antologi Ala Penerbit indie yang diterbitkan di koran lokal. Tulisan sejenis yang lebih mendalam pun bermunculan seperti Jalur Instan Itu Bernama Kedodolan.


Tulisan (Bukan Esai) Iming-iming Penerbit Indie (Masih Ada) sendiri, bermula dari adik tingkat bernama N yang menandai saya dalam pengumuman lomba puisi penerbit PL. Secara garis besar, saya menarik kesimpulan mengenai ketentuan lomba yang sebagai berikut:


1. Peserta mengirimkan naskah
2. Naskah pemenang dan nominasi akan dibukukan
3. Pemenang dan nominasi mendapat potongan harga buku dan harus mengeluarkan biaya sendiri ketika membeli
4. Buku diperjualjualbelikan tanpa royalti kepada penulis, untuk umum

N yang membagikan informasi lomba. Sumber: Dokumentasi pribadi

Persyaratan lomba. Saya copy paste dari website bersangkutan. Sumber: Dokumentasi pribadi
 
Persyaratan lomba. Saya copy paste dari website bersangkutan. Sumber: Dokumentasi pribadi
Berhubung saya dulu belum belajar UU ITE dan di masa itu saya masih meledak-meledak waktu bicara kenyataan, jadinya ya… saya langsung terpantik untuk menulis persoalan tersebut di blog. Apalagi, saya sempat berdebat dengan oknum penanggungjawab alias PJ lomba yang cara bicaranya betulan tidak macam orang yang bergerak di bidang literasi, jauh dari beretika. Oknum tersebut bernama R.

Salah satu percakapan dengan R selaku PJ even. Sumber: Dokumentasi pribadi

Jadilah kemudian saya menulis mengenai penerbit PL dan oknum bernama R lengkap dengan tangkapan layar segala keganjilan tanpa edit. Semua saya cantumkan jelas beserta nama penerbit dan PJ yang asli. Setelah saya mengunggah tulisan tersebut di blog, respon positif saya dapat dari teman-teman penulis, sebagian saya kenal dari Forum Lingkar Pena (FLP), Gramedia Writing Project (GWP), Citizen Reporter Harian Surya dan UKM Penulis UM. Teman-teman ternyata banyak yang merasakan kegeraman serupa terhadap oknum demikian. Melecehkan profesi menulis adalah kalimat yang tepat bagi para oknum tersebut.

 
Rekan Citizen Reporter membagikan tulisan saya. Sumber: Dokumentasi pribadi
Saya tentu sebal ketika muncul akun anonim yang menyudutkan saya kemudian. Pikiran buruk saya waktu itu mengatakan, bisa jadi ini dari pihak penerbit bersangkutan yang merasa dirugikan dengan tulisan jujur saya tersebut. Atau bisa jadi, ada oknum penerbit lain yang melakukan kecurangan sejenis dan juga merasa rugi dengan unggahan demikian.

Komentar lengkap Afsha. Sumber: Dokumentasi pribadi

Sempat juga saya curhat dengan mbak Puput, senior saya di FLP soal komentar manipulatif tersebut. Mbak Puput saya ingat menanggapi begini,”Kamu mencemarkan gimana? Mereka kan emang sudah cemar sendiri dari awal. Aku sama anak-anak FLP dulu juga pernah kena kasus sejenis (bersinggungan dengan oknum penerbit indie curang).”


Setelah saya rasa tulisan tersebut sudah cukup disebarluaskan dan mendapat pembaca yang tepat, pertengahan 2018 saya memutuskan menyembunyikan tulisan tersebut dari blog. Traffic tulisan tersebut yang tinggi dan komentar yang masuk, menunjukkan banyak penulis memiliki kegelisahan serupa dan sama berusaha mencari tahu. Ini bukan berarti saya takut, namun saya berjanji akan menulis hal sejenis dengan lebih cerdik. Tentu sebelum saya menyembunyikan tulisan tersebut, saya sudah menyimpan tangkapan layar tulisan beserta komentar yang masuk.


Begitu banyak kasus dimana seseorang menceritakan fakta, namun ketika hal tersebut ditulis dan dilempar ke ruang publik, orang tersebut justru menjadi salah di mata hukum. Kita semua tentu ingat dengan kasus Prita Mulyasari dan komika Acho. Dengan cara menulis saya yang waktu itu lebih banyak mengajak pembaca menelaah sendiri, posisi saya sebetulnya tidak lemah. Namun pada selanjutnya, saya akan menulis kebenaran dengan lebih cerdik, jangan sampai ketika saya menyebutkan nama pelaku yang bersangkutan, justru menjadi celah saya lemah di mata hukum. Ya… UU ITE memang serba kikuk, bukan?


Bulan Juni tahun ini, genap enam tahun saya menjadi narablog dan saya semakin meyakini, bukan masalah bicara fakta melalui blog, kebenaran tidak pernah salah ketika disuarakan. Blog sendiri tidak memiliki batasan tema dan gaya menulis, sehingga lebih leluasa dipergunakan untuk bersuara. Namun dalam menyuarakan kebenaran sekalipun, kita mesti cerdik. Maka saya tidak akan berhenti bersuara dan akan jadi lebih cerdik ketika bicara fakta…


Tulisan ini disertakan dalam #KompetisiBlogNodi dengan tema Bangga Menjadi Narablog Pada Era Digital #NarablogEraDigital

Tulisan ini peringkat ke 59 dari 438 peserta. Total nilai 68.60. Itu pun, peringkat 59 dan 60 total nilainya sama hehe. Saya cuma menang abjad awal nama.

Penyelenggaraan kompetisi ini sangat profesional dan berkesan. Menghargai tulisan peserta dan edukatif juga. Usai kompetisi, seluruh peserta, mendapat komentar dari juri via email. Bahkan soal saya yang kurang teliti menulis kata 'dimana', tidak luput dari komentar.

Komentar juri. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Komentar juri. Sumber: Dokumentasi pribadi

Komentar juri. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Tuesday, January 1, 2019

Lemah Tanjung; Menyoal Perselingkuhan, Feminisme Hingga Putri Negeri Dongeng

Sumber: Instagram @fitratisna. Lokasi: Griya Buku Pelangi


Yeay! Akhirnya saya ikutan juga Lemah Tanjung bareng Pelangi Sastra Malang. Ya… meski pas saya ikut, bahasannya sudah sampai di pertengahan bab 7 dan lanjut ke bab 8 sih. Nah, novel karya Ratna Indraswari Ibrahim ini sudah sekian-sekian kali pertemuan dibahas di Pelangi Sastra. Saya pribadi, awal mula tahu nama Ratna Indraswari Ibrahim ini, dari ayah saya yang rajin baca koran, itu sekitar tahun 2010, semasa saya SMK. Ya… Mbak Ratna memang bukan cuma dua atau tiga kali masuk koran lokal maupun nasional.


Banyak dari kita tentu mengetahui, bahwa mbak Ratna ini kema-mana pakai kursi roda, karena radang tulang dan Lemah Tanjung adalah salah satu karya fenomenalnya. Dan ternyata, guru mengaji saya semasa SD, Mbak Zizi Hefni, dulunya berproses di pergerakan sastra Malang seangkatan dengan mas Denny dan dirinya juga bukan dua atau tiga jadi asistennya Mbak Ratna. Sayangnya, garis pertemuan saya dengan sastra di Malang dan juga mbak Ratna itu sendiri baru ketika saya mulai kuliah dan Mbak Ratna sudah wafat. Ya… setidaknya, karya beliau memang masih bisa jadi benang merah antar generasi teman-teman yang bergerak di dunia sastra.


Hari itu (15/09/2018), pembacaan dihadiri 6 orang. Orang terakhir yang saya lupa namanya, teman baru di Pelangi Sastra Malang. Ya… maklum, saya lama juga nggak hadir acara. Jadinya ya, banyak belum kenal teman-teman yang baru masuk. Jadi waktu itu ada saya, Mas Denny (koordinator abadinya Pelangi Sastra), Mbak Fitrahayunitisna (Dosen Brawijaya), Mbak Istifari Hasan (penulis kumpulan cerpen Parodia) dan Firdausya Lana (aktif juga di Lingkar Studi Filsafat Discourse alias LSFD).


Sebelum acara mulai, dibagi foto kopian Lemah Tanjung bab 7 dan 8 oleh Mas Denny dan tentu saya cepat-cepat nyolong baca sebelum acaranya mulai hehe. Jadi, dalam bab tersebut Gita jadi penutur utama. Ia tetap pada masalah pelik menghadapi suaminya, si Paul itu yang berselingkuh dan ketercengannya pada Bonet, putrinya sendiri yang masih Sekolah Dasar dan dirasanya jauh lebih dewasa ketimbang umurnya. 


Gita sendiri bersahabat dengan mbak Syarifah, temannya sesama aktivis yang berkebutuhan khusus dan memutuskan untuk tidak menikah. Latar tempat dalam bab tersebut adalah kota Malang di era 90an, dimana kegelisahan soal ninja pembunuh yang bertebaran di dalam kota dan juga heboh pembunuhan massal di Banyuwangi merebak panas.


Di era itu, tentu saja saya masih balita dan tidak merekam kegentingan di masa itu. baru ketika saya mulai sekolah, ayah saya kerap menceritakan kegentingan di masa itu, apalagi ayah bekerja dua shift di sebuah apotek di kotamadya, sedang rumah kami ada di kabupaten Malang. Jadi di masa itu, ayah setiap malam di perjalanan pulang kerjanya, melihat bagaimana orang-orang berjaga di tiap kampung.


Benar-benar deh… latar tempat dan waktu dalam novel satu ini terasa sekali. Betul-betul tengang-tegangnya politik di masa itu dan lagi, Mbak Fitra juga cerita, beberapa tokoh dalam novel itu ada di dunia nyata. Mbak Fitra sendiri pernah terlibat demonstrasi perkara Lemah Tanjung, di tahun 2000an dan itu semasa dirinya masih mahasiswa baru.


Di forum ini, peserta yang hadir semuanya diberikan kesempatan membaca dengan keras isi novel. Baru setelahnya ada pembahasan. Disini saya mau rangkum bahasan dari Mbak Fitra. Kalau Mbak Fitra bilang Mbak Ratna ini ternyata feminis banget, ya memang.


Pembahasan soal perselingkungan menghadirkan tokoh Gita yang kebingungan menghadapi suaminya yang berselingkuh. Tokoh perempuan sekitarnya pun ada pula yang mengalami hal serupa, akan tetapi tokoh tersebut memilih menerima dan menuntut Gita melakukan penerimaan serupa dengan berbagai dalih. Namun, pada bab yang kami bahas hari itu, muncul juga tokoh Heriah. Heriah ini akrab juga dengan Mbak Syarifah dan suaminya berselingkuh serupa suaminya Gita. Bedanya, Heriah membalas perselingkuhan itu juga dengan perselingkuhan.


Menjadikan tulisan Mbak Ratna berbeda dengan Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu, menurut Mbak Fitra, adalah bingkai moral yang diusung di dalamnya. Perselingkuhan yang menjadi pembalasan tokoh perempuan atas luka perselingkuhan serupa, tidak begitu saja dihalalkan dalam tulisan Mbak Ratna. Bahkan Mbak Ratna ternyata pernah juga mengritik Ayu Utami, kata Mas Denny. 


Selanjutnya, Mbak Fitra juga mengritisi keberadaan cerita para princess yang baginya, mendidik para perempuan sejak dini agar menanti pangeran berkuda putih yang menyelamatkan hidup mereka tanpa perjuangan hidup. Padahal bagi Mbak Fitra, lelaki dan perempuan sama saja, tentu bisa lemah juga. Bagaimana bisa lelaki dituntut terus menerus kuat? Kemudian saya ingat Aurora yang diselamatkan ciuman pangeran tidak dikenal, hingga Cinderella yang juga diselamatkan pangeran dari kehidupan keluarganya yang buruk. Ah, saya tapinya semenjak kecil lebih suka Mulan. Saya kenal Mulan pun, gara-gara punya tetangga baik hati yang senang menyewakan saya CD film animasi. Mulan pada akhirnya memang berpasangan juga, tapi proses ia bertemu pasangannya itu karena berjuang bersama dalam kondisi perang kerajaan, bukan ‘hadiah’ yang tiba-tiba.


Eh, ini sungguhan ya, Rek. Kamu yang sedang baca tulisan saya ini kalau mau gabung acaranya Pelangi Sastra Malang hayuk mari. Gratis semuanya dan jangan ragu mampir, pasti dapat teman baru.

Sumber: Instagram @pelangisastra