Sunday, March 21, 2021

Masih hidup, oy...

Tenang, yang punya blog ini masih hidup.

Hanya saja... lagi masa transisi atas hal-hal yang nggak pernah dipelajari apalagi dihafal dari buku sebelumnya yaitu... Sangkan paraning dumadi.

Jadi...

Sampai jumpa lagi ya, setelah masa transisi ini selesai, setelah semua selubung ini purna pupaknya.

Sayang kalian!

Baik-baik...

Thursday, March 11, 2021

Malam Minggu Monster (MMM)


Sekali memejamkan mata, ia bisa mengeluarkan asap dari ubun-ubunnya. Tipis mula-mula, menebal pada berikutnya, membumbung ke langit-langit kos dan lama-lama membentuk tubuh, punggung, tangan, kaki dan wajah serupa dirinya, hanya saja lebih besar tiga kali lipat.

Jika sudah demikian, ia utus makhluk yang ia namai serupa nama bikinan ibu buat dirinya itu melayang keluar kamar. Makhluk itu menembus cucian-cucian kaos hingga celana dalam para tetangga kos yang berkibar di tiang jemuran malam-malam. Ia akan terus melayang melewati jalanan kampung, jalan raya antar provinsi hingga tol tanpa perlu membuka portalnya lebih dahulu.

Jika sudah demikian, bisa dipastikan itu malam minggu. Malam di mana kembaran yang tiga kali lebih kecil darinya itu sebagian besar menolak ajakan kencan dari pacarnya yang satu kampus di pascasarsajana. Ada apel lain yang mesti kembarannya itu rutin lakukan, apel yang jauh lebih membikin panas dada, memercepat detak jantung dan bikin merinding permukaan kulit jika dibanding ketika kembarannya itu disodori susu lembut milik pacarnya.

Sudah 134 kilo meter makhluk itu terus melayang. Sesekali menembus badan-badan truk dengan plat B. Jika bosan, ia pula sengaja menggulung tubuh menjadi 160 cm, menumbuhkan susu dan rambut panjang lalu melipir ke pinggir jalan dengan rok kuning menyala yang sekadarnya menutupi paha.

Para sopir truk terang saja meleng. Mereka meleng bukannya karena tergoda paha terang si makhluk, namun mereka buru-buru teringat cerita antar sopir soal perempuan macam demikian yang muncul malam-malam dan ketika ditoleh sekali lagi malah menunjukkan mukanya yang hancur separuh juga taringnya yang besar-besar.

“Allah hyang maha agung!” jerit salah seorang dari sopir dengan plat B ketika melihat si makhluk. Berkali ia hanya menyebut nama Allahnya tanpa berani menoleh kembali ke arah si perempuan.

Dengan dengus kecewa, si makhluk kembali merenggangkan tubuhnya. Kembali ia jadi tiga kali lebih besar dari kembarannya yang tengah rebah di atas kasur kos. Perjalanan dilanjutkan hingga ia sampai di sebuah kecamatan berpenduduk padat di tengah kota itu. Satu-satunya rumah dengan atap bertuliskan PKK yang pudar itulah tujuannya. Ada seorang gadis yang tengah lelap di sana...

Dicekalnya tulang kaki gadis itu sesudah ia melayang dan menembus kamarnya. Gadis itu menjerit seperti malam minggu sebelum-sebelumnya. Jika sudah begitu, para tetangga mulai bergunjing, kakek dan neneknya mengeluh, juga ibu dan bapaknya yang berbisik ia hanya cari perhatian supaya tidak disuruh cari kerja selepas lulus. Hanya ada sesak di dada dan tulang yang dirasai gadis itu seolah remuk.

Berkali ia pingsan, berkali pula ia bangun. Matanya pun makin membengkak akibat air mata yang tidak lagi ia tahan-tahan. Napasnya hampir berhenti dan barulah rasa remuk di kakinya itu mereda. Makhluk itu melepas tulang kaki gadis itu begitu saja, melayang menembus dinding kamarnya menuju luar rumah, kembali menempuh jarak 134 kilo meter, melewati jalanan kampung, jalan raya antar provinsi hingga tol tanpa perlu membuka portal. Tidak lupa ia menggulung diri, menyaru sebagai perempuan dengan rok kuning menyala dan menunjukkan wajah separuh rusak pada para sopir truk.

Kemudian makhluk itu merenggangkan tubuhnya, kembali melayang hingga atap kos kembarannya itu terlihat. Ia pun masuk halaman, menembus cucian kaos hingga celana dalam para tetangga kos yang kembali basah terkena embun malam lantas menemukan kembarannya tengah terlentang di kasur. Kembali masuk dalam ubun-ubun, ia tiga kali lipat mengecil. Tubuh, punggung, kaki dan wajah itu pun mengempis, asapnya juga makin menipis.

Perlahan, kembarannya itu membuka mata dan ia pun berbisik,”Aku sayang kamu. Malam minggu esok kita kencan lagi ya...”

nan eodum sogui Dancer
Aku adalah seorang penari dalam kegelapan

onmom ttukttuk kkeokkeo
Aku akan meregangkan seluruh tubuhku

chimdae gakkai galge
Aku akan pergi mendekati tempat tidurmu

musimusihage
Dengan begitu mengerikan

ne simjangeul humchyeo jibaehae
Aku akan mencuri hatimu dan mengendalikannya

hanaui jomyeong wae geurimjaneun duriya?
Hanya ada satu cahaya, tapi mengapa bayangannya ada dua?

nae soge dareun ge nuneul tteun geot gata
Aku merasa sesuatu yang lain di dalam diriku telah membuka matanya

I'm a little monster** nal geomnae

I’m a little monster, takutlah padaku


**Little Monster, Irene feat Seulgi