Saturday, April 1, 2023

Jalan Industri Paling Mulia

Hyoyeon SNSD dan Boy William. Sumber: Youtube BW.


Di sebuah warung kopi perbukuan di Malang, saya berhadapan dengan seorang teman yang konsisten menulis cerita pendek tema lokalitas. Cerpen-cerpennya dimuat koran maupun media online dengan genre sejenis. Genre yang disebut sastra serius.

“Kalau blog itu kan tanpa domain jadi kurang kredibel ya.” Ucapnya.

Namun bukan kredibelitas semacam itu yang tengah saya cari. Sedang di hari-hari berikutnya saya bertemu dua orang teman di kafe tengah sawah. Keduanya sama-sama punya selera bacaan sastra yang disebut serius itu meski ternyata saat ini mengambil jalur berbeda.

Teman satu memilih mengembangkan pengikut Instagramnya, mengambil diksi-diksi sederhana dalam puisi dengan tema-tema cinta. Hasilnya, pengikut media sosial meningkat dan ia bisa buka endors. Sedang teman satunya mulai menulis di salah satu platform di mana tulisan bisa disetel gratis maupun dimonetasi. Kala itu ia mengambil tema cinta dengan diksi sederhana dalam cerita pendeknya.

“Orang-orang membayar untuk membeli kesedihan.” Demikian komentarnya mengenai tulisan-tulisan yang umunya populer dan bisa dimonetasi di platform tersebut.

Kedua teman saya tadi mulanya berangkat dari esai, cerpen, juga puisi berbau sastra serius. Bedanya, teman pertama betulan yakin memilih genre sekaligus pasar yang mana sehingga konsisten membuat video musikalisasi puisi dengan komentar-komentar pengikut Instagramnya kerap merasa relevan atas apa yang ia sampaikan.

Ia pula rajin berkolaborasi dengan penulis tema sejenis. Saling berbagi traffic salah satu keuntungannya barangkali. Lantas teman yang pertama tadi mengajak teman kedua berkolaborasi, bikin musikalisasi puisi. Tepatnya disebut apa ya? Jadi model videonya semacam pengisi suara laki-laki dan perempuan saling timpa dialog-dialog puitis begitu. Apalagi mengingat teman kedua apik ketika deklamasi. Kami pernah menyaksikan deklamasinya di peluncuran buku salah satu universitas di Malang.

Meski beberapa pertemuan berikutnya, teman pertama tadi bilang perkara kolaborasi tidak ada kabar lanjutan dari teman kedua. Saya lihat cerpen-cerpen di platform yang ia pilih juga tidak ada kelanjutan. Apakah teman yang kedua masih ragu hendak menyeberang genre? Bisa jadi.

Teman yang pertama pun bercerita bagaimana puisinya dikatakan buruk oleh salah seorang teman dari komunitas awal ia berkembang. Temannya tadi setia membawa marwah sastra serius hingga hari ini, mengorbitkan penulis-penulis muda anyar, hingga punya bisnis penerbitan. Membawa genre tertentu hingga bisa merambah bisnis, bukankah sebetulnya yang mereka tempuh serupa?

Ada lagi teman semasa SMK saya naksir betul dengan seorang cewek yang isi tweetnya membahas buku. Benar, cewek itu selebtwit dengan pengikut belasan ribu saat itu. Dari buku-buku yang ia ulas, nampak judul-judul berat berseliweran. Hingga ketika teman saya itu hendak membeli bukunya, ia bilang,”Aku mau beli buku si F itu tapi takut bukunya berat.”

Kemudian saya sahut,”Kamu tahu penerbit novel dia namanya apa?”

Dan berlanjut kami ngobrol soal penerbit novel cewek tersebut yang genrenya metro pop. Jadi bisa dipastikan karya perdananya itu tidak bakal seberat buku-buku bacaan yang biasa ia ulas. Benar saja, adik teman saya ini bilang novel tersebut berat di bab awal namun lanjutannya yang ada kisah cinta.

Tunggu... Tunggu, saya tidak hendak menegasikan kisah cinta sebagai hal remeh. Toh di perlombaan cerita pendek pun kerap kali tema lokalitas yang dibawa peserta isinya kisah cinta yang ditempeli latar desa, hutan dan pantai. Yang berarti bukan benar-benar adat, ciri khas atau kisah di suatu daerah yang benar-benar tidak bisa diganti apabila latarnya ada di daerah lain.

Jadi kisah cinta atau kisah apapun itu ketika sulit dipindahkan latarnya ke daerah lain bukankah itu juga lokalitas? Jelas ya, di bagian ini bukan kisah cinta yang jadi masalah.

Saya sendiri sempat galau ketika bingung menentukan mau kemana jalan menulis ini. Cerita-cerita pendek saya formatnya tidak masuk di koran juga perlombaan. Kelewat pendek tentu saja hingga lebih pas disebut fiksi mini.

Koran tertentu pernah ada rubrik fiksi mini namun itu pun formatnya beda dengan fiksi mini di blog saya. Meski demikian saya tetap mengeksplorasi gaya menulis lain. Begini-begini cerpen saya pernah masuk media lokal (Menanti Blanggur, Radar Malang). Esai saya juga pernah masuk lagi-lagi koran lokal yang kabarnya banyak penulis ditolak juga (GWP vs KF, Radar Malang). Sisanya ya, saya pada akhirnya menulis tanpa berpikir kemana tulisan-tulisan ini kelak berjodoh.

Jadilah tulisan-tulisan di blog ini beberapa kali berjodoh dengan seleksi atau lomba menulis yang syaratnya cukup unik. Misalnya syarat seleksi Live in Tempo x Save The Childreen, di mana tulisan yang boleh diikutsertakan harus yang diunggah sebelum Oktober sedang deadline November.

Ketika syarat seleksi atau lomba lain kerap menghendaki tulisan-tulisan anyar atau baru dibuat, belum dipublikasikan, syarat Live in ini laknat juga. Jadi sejak dari poster pengumuman, peserta sudah pada gugur duluan. Agaknya, penyelenggara sedang mencari konsistensi, bukan sekadar tulisan bagus.

Seorang teman menyayangkan gaya menulis saya yang berubah ketika Menanti Blanggur masuk Radar Malang. Tata bahasa, ide yang dieksplorasi memang beda dengan cerpen-cerpen di blog. Kala itu dalam pikiran saya hanya ada perasaan senang belajar, entah itu gaya sehari-hari maupun gaya baru. Isyana Sarasvati menyebut yang begini sebagai ‘eksplorasi genre lain’.

Sebaliknya ketika menulis esai dan masuk koran, kebetulan gaya menulis sehari-hari ya semacam begitu. Apa ya sebutannya, esai populer? Selebihnya esai-esai personal saya di blog mulanya belum bertemu jodohnya sampai media-media alternatif bermunculan (Kisah Berakhirnya Hubungan Saya dengan Sahabat yang Bercadar, Magdalene).

Bagaimana dengan blog? Tetap saya ingin orang melihat blog ini dengan membatin,”Alah, ngunu wae aku ya isa.”** Hingga memantik semangatnya menulis juga. Latar belakang blog ini bisa dibaca di Selamat tinggal, banner lawas.

Tulisan ini sebetulnya dipantik tulisan kang Syarif Maulana berjudul Selera Pasar. Melalui tweet yang ditulis Desember 2022 lalu, pengguna Twitter @lelegurame mendapat beragam komentar dari para penggemar Blackpink setelah mengutarakan persoalan skillnya sebagai musisi.

Sedang Februari 2020 lalu, melalui acara bincang-bincang bertajuk #DrinkWithBoys In Korea; Hyoyeon Lebih Suka Boy Daripada Choi Siwon, Boy William bertanya mana yang sesungguhnya Hyoyeon? Si gahar atau SNSD?

Lantas Hyoyeon menjawab...

“Pertanyaan yang bagus, pertanyaan yang baru juga bagi aku. Sebelum aku mulai SNSD, genre dance yang aku suka adalah Poppin and Lockin, jadi bisa dibilang cewek gahar. Tapi sejak aku mulai debut dengan SNSD aku harus lumayan berusaha untuk keluar dari image cewek gahar.”


Penerjemah, Hyoyeon dan Boy William. Sumber Youtube BW.

Selanjutnya Boy menyatakan cinta terhadap SNSD, begitu pula Hyoyeon. Hyoyeon pun menyatakan untuk saat ini dia adalah DJ Hyo, agaknya merujuk identitas yang sekarang ia senangi.

Masih di 2020, Isyana Sarasvati menampilkan Lexicon di Indonesia Idol. Anang bertanya Isyana ingin melepaskan apa melalui Lexicon. Masih Anang yang menanyakan kenapa Lexicon berbeda dengan lagu-lagu Isyana sebelumnya. Maia Estianti pun menanggapi Lexicon terlihat seperti ‘ini lho gue’ buat Isyana dan gadis yang lahir tahun 1993 itu pun mulai menangis.

“Kalau boleh membaca ya, sebagai sesama penulis lagu, rasanya kita pengin bikin lagu di A tapi ternyata produser atau label Indonesia mintanya di B.” Sambung Maia.

“Eee, kalau itu nggak sih nggak bener. Karena awal aku masuk di Industri, aku memang mengiyakan ingin sekali mengeksplorasi musik genre lain karena kan aku emang sekolahnya musik klasik tuh dan pada akhirnya aku bisa masuk ke label dan akhirnya bisa punya kesempatan untuk eksplorasi ya aku tidak ada regret sama sekali untuk album satu, kedua gitu dan makanya album pertama aku kasih judul Eksplor.” Jawab Isyana.

Masih di dunia musik, kita tentu mengenal Rara Sekar, kakak Isyana yang memilih distribusi indie buat musiknya. Di dunia menulis ada bunda Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa, kakak beradik yang jalan menulisnya nyaris serupa dengan Isyana dan Rara Sekar.

Bunda Asma Nadia film-filmnya masuk di rumah produksi besar, sebaliknya bunda Helvy yang memilih produksi sendiri film dari buku-bukunya dengan segmen pasar tidak lebih luas. Agaknya kisah dakwah mas Gagah pasarnya tidak lebih luas dibanding kisah Ferdi Nuril yang menikah dengan Laudia Cynthia Bella lantas lanjut bersama Raline Shah.

Mengambil jalan entah itu mengikuti pasar, menciptakan pasar maupun jalan senyap tentu sah-sah saja. Bisa jadi juga jalan itu serupa mas Lele yang menjadi guru musik, Hyoyeon yang mengikuti industri kemudian solo dengan gaya musiknya di label yang sama atau bunda Helvy yang memproduksi film dari bukunya sendiri.

Meski ya... Negasi genre satu atas genre yang lain agaknya akan terus saja ada demi menciptakan pasar alternatif atau bahkan yang baru. Sastra serius menegasikan tulisan pop dengan ujaran receh kelewatan dan sebaliknya yang pop menuduh sastra serius kelewat eksklusif.

Intinya ya, apapun jalan yang sedang kalian pilih sebagai musisi, penulis dan lain sebagainya... Jangan nanggung, tempuh saja.


**"Alah, begitu saja saya juga bisa."