Showing posts with label Jiwa. Show all posts
Showing posts with label Jiwa. Show all posts

Tuesday, January 13, 2026

Ketiganya

Sumber: Gugel

Mula-mula, ia pikir cintanya memang berhenti pada tiga belas tahun lalu. Nyatanya, ia takut benar mengarungi lara yang sekiranya baru, jadi diputuskannya mengarungi lara yang sudah akrab dengannya tiga belas tahun lalu saja. Ini bukan lagi karena nyata sosok itu memenuhi kualitas-kualitas yang dirinya cari. Tapi debar berulang yang dirasai sebagai kepastian, tidak perlu ada risiko memulai, tanpa ketakutan kehilangan keterikatan yang baru, itu semua syarat-syarat yang membuatnya tetap tinggal.

***

Mula-mula, ia pikir cintanya memang terjebak untuk yang empat belas lalu. Ia tidak betulan kenal siapa sosok itu, apa kekurangannya, apa kelebihannya, bagaimana reaksinya saat melihat lebih dan kurangnya, semua berhenti saat semua belum tuntas. Jadi ia memilih hidup dalam pengandaian, seandainya sosok itu menerima kekurangannya, mengidolakan kelebihannya, bersorak buat lebih dan kurangnya. Pengandaian itu menyelamatkannya selama empat belas tahun, berbunga tanpa penolakan, bersorak dalam pengandaian.

***

Tanpa mula-mula, ia tahu jelas akan mendapat apa dari sosok itu selama tiga tahun. Orang-orang yang mengaguminya karena dianggap bisa melihat sisi dalam tanpa pandang fisik, sorai karena  kesetiaan yang orang-orang itu mengira-ngira saja. Yang demikian menambah kesempurnaan pandangan, lagi-lagi dari orang-orang soal intelektualitasnya yang tinggi dan menutupi keinginannya membunuhi siapa saja di sembarang waktu. Mendapat apa yang ia mau kapan saja waktunya, cinta yang seolah-olah saja dan itulah kenyataannya.

***

Dua bulan lalu, saya diskusi dengan Chat GPT untuk memahami beberapa kasus, bagaimana memahami avoidant secara umum, kemudian bagaimana NPD dan psikopat mencintai. Dan benar, cinta itu demikian kompleks, terlihat bersama, terlihat kecantol, belum tentu cinta pada kenyataannya.

Di usia belasan, saya masih mengira bentuk cinta lebih sederhana, dua orang yang menikah lalu beranak cucu sudah pasti cinta. Di usia dua puluhan, saya pikir terpaku pada satu orang selama belasan tahun sudah pasti cinta, namun tidak... tidak demikian kenyatannya. Cinta yang seolah-olah itu jauh lebih banyak pada kenyataannya. Untuk menghindari kehilangan atas keterikatan yang baru (avoidant), untuk terjebak dalam pengandaian yang menyelamatkan (NPD) dan untuk mendapat status sosial (psikopat).

Pemahaman bagaimana avoidant mencintai untuk tulisan ini saya analisa sendiri, pemahaman bagaimana NPD mencintai saya dapat dengan diskusi bersama Chat GPT, pemahaman bagaimana psikopat mencintai juga saya dapat dengan diskusi bersama Chat GPT.

Chat GPT menggunakan istilah idealisasi bagi NPD yang seolah kecantol dengan satu orang belasan tahun. Ternyata itu bukan utuh bentuk cinta tulus, namun justru pengandaian dalam otak NPD itu sehingga satu sosok bisa terasa sempurna. Sedang psikopat tidak bisa merasakan cinta selayaknya orang normal, yang ada hanya perhitungan untung dan rugi. Satu-satunya yang bukan bentuk disorder dan paling memungkinkan menjalani hubungan di sini, masih menurut diskusi dengan Chat GPT adalah dengan avoidant yang tidak membahayakan setara NPD yang bahaya secara psikis, apalagi psikopat yang berbahaya secara psikis dan fisik.

Mulanya, saya teguh dalam prinsip seseorang memang bisa memilih siapa yang dia cintai dan dia sakiti dengan sadar, meski terasa tidak adil. Namun ternyata ada banyak hal tentang cinta dan menyakiti yang jauh lebih kompleks, batasnya juga ternyata sangat kabur. Tulisan ini kelak tentu akan bisa berkembang lagi setelah saya menambah akses pengetahuan dari jurnal, buku atau lainnya.

Monday, August 29, 2022

Istikharah, Pemaknaan Seni Mencintai Erich Fromm -4-)

Sumber: Seni Mencintai halaman 91

Ia ada bahkan jauh sebelum kulit dan daging dilekatkan pada tubuhmu. Jadi kamu tidak sendiri ketika merasa takut bertemu dengannya, sengaja menemui apalagi.

Sebagian orang sengaja bersekutu dengan jin demi bisa mencuri informasi, menjualnya lewat kodi-kodi dan diberi tepuk tangan oleh sesamanya. Sebagian lagi sengaja menjemput dengan sholat hajat, lainnya dengan istikharah. Tapi jika kamu percaya, ada juga para aulia yang bisa memasukinya karena diri mereka sememangnya dipilih.

Sayangnya ketika masing-masing dari kita lahir, ada ego kepemilikan yang disertakan. Ego itu menyatu dalam setiap darah dan nadi, sakit luar biasa apabila terpaksa diamputasi. Sebagian orang membiarkannya mengering lalu copot sendiri, sebagian lain terpaksa membawanya sampai mati. Sebagian melihatnya sebagi media mengenal Tuhan, sedang sebagiannya lagi malah terlilit habis-habisan.

Kamu barangkali bisa mencintai orang tuamu, ada lara ketika membayangkan mereka pergi darimu karena sakit, jadi kamu mengusahakan kesembuhan bagaimanapun caranya, entah dengan menyebar kembang atau pergi ke tabib yang katanya bisa memindah rasa sakit pada binatang. Lantas muncul pertanyaan, yang demikian dinamakan kepedulian atau ego kepemilikan?

Kamu barangkali bisa mencintai anakmu, kemudian dengan berbagai lobi, membiarkannya tidak bertanggungjawab atas kecelakaan yang menewaskan beberapa orang. Kamu takut anakmu kedinginan di lantai penjara, lantas muncul pertanyaan yang demikian dinamakan kepedulian atau ego kepemilikan?

Kamu barangkali bisa mencintai seseorang. Kemudian kamu katakan padanya bahwa kalian tidak cocok dan tidak perlu lagi menjemput jawaban. Sungguhkah kamu merasa kalian tidak cocok atau takut jika jawaban yang dicari-cari ternyata membikinmu tidak bisa memilikinya?

Bibirmu pun berbisik,” Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Alloh mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Alloh.”

Thursday, July 14, 2022

Ketakutan, Pemaknaan Seni Mencintai Erich Fromm -3-

Sumber: Seni Mencintai halaman 30-31


Pernah saya punya seorang sahabat perempuan. Kalau ditebak sih, kira-kira IQnya superior. Pintarnya pun rata begitu. Dia bisa eksak, kerajinan tangan, bahasa asing, sampai menulis. Dia bahkan dapat nilai sempurna di salah satu mata kuliah dosen yang terkenal sulit karena mengunggulkan analisa. Namun dia selalu takut berkonflik dengan orang lain. Semua permintaan orang dia iyakan.

Sepulang kuliah dengan mata cemas dia pernah bilang,”Soal pilihan jurusan waktu kuliah, kalau aku pasti pilih maunya orang tua. Karena kalau kita ada salah milihnya, kita masih bisa kembali ke orang tua. Beda kalau kita pilih jurusan sendiri, kalau ada salah pilihnya nggak bisa kembali ke orang tua.”

Pernah juga saya punya seorang sahabat laki-laki. Dia senang sekali dengan bidang bahasa namun malah pilih jurusan ekonomi. Saking jagonya, cara bicara dia mirip dengan native padahal tidak pernah ke luar negeri. Kesehariannya yang kerap berbahasa asing pun berdampak baik buat saya semasa sekolah. Bahasa asing saya jadi ikut meningkat.

“Kata abang sama si mamah, aku mau masuk Sastra Inggris ngapain? Mau jadi guru? Ekonomi lebih banyak prospeknya.” begitu katanya ketika kami berkomunikasi lagi setelah lulus kuliah.

Dia pun bercerita bagaimana upaya kerasnya lulus kuliah, bahkan hampir menyerah. Abangnya sempat menawarkan dia pindah jurusan saja, tapi ditolak, dia pilih bertahan meski lulus dengan IP kepala 2.

Bagaimana dengan kecerdasan dan pengetahuan suka di bidang apa, kedua teman saya ini tidak memperjuangkan apa yang mereka ingin? Berdialog dengan kedua orang tua agar menemukan titik tengah pun tidak.

Namun setelah membaca Seni Mencintainya Erich Fromm saya jadi paham, inilah penyatuan simbiotik masokisme. Orang tipe ini bukannya tidak mau mengambil keputusan karena tidak tahu apa yang mereka suka, bukan juga karena tidak cerdas. Namun orang jenis ini karena berbagai latar belakang, jadi takut risiko dari mengambil keputusan. Jadilah mereka memilih menimpakan risiko tadi pada orang lain  karena mereka takut terpisah dari yang mengarahkan, memandu dan melindungi; dalam cerita ini orang tua.

Sunday, June 5, 2022

Memaafkan

 

Coreted by: Jatayu @rrobvnii

Mimpi itu punya traffic macam sosial media. Tapi jika saja saya sembarang cerita sering memimpikan orang ini sepanjang 2019, orang-orang barangkali akan mudah menyimpulkan,”Kamu ngarep sama dia ya?”

Padahal lebih dari siapapun, saya yang paling tahu mimpi yang isinya orang ini adalah bentuk trauma. Saya kerap bangun jam dua atau tiga pagi dalam kondisi menangis, merasa sesak dan marah. Di dunia nyata, saya gagal melawan dia yang sayangnya, dalam mimpi pun masih gagal juga.

Dia selalu datang dalam mimpi, menarik saya kemanapun dia mau dan rasanya sakit sekali. Lama-lama, Noval, seorang sahabat semasa SMK turut masuk dalam mimpi dan dia menarik saya pergi dari orang ini. Setelahnya, saya masih suka bangun jam dua atau tiga pagi dalam kondisi menangis, sesak dan marah. Bedanya, Noval memotong durasi mimpi yang biasanya. Jadi tiap orang ini mulai menarik saya, Noval datang dan membuat mimpi lebih cepat berakhir.

Kenangan baik dengan Noval ternyata trafficnya banyak, terekam dalam otak dan bisa juga terbawa mimpi. Jadi ini semacam traffic melawan traffic, kenangan baik melawan kenangan buruk, eksekusinya dalam mimpi.

Awal 2020 orang ini muncul lagi, namun tidak ada upaya menarik paksa atau membuat sesak darinya. Saya justru mendatangi dan memeluknya. Saya bilang padanya,”Aku memaafkanmu... Aku memaafkanmu...” meski lagi-lagi bangun jam dua atau tiga pagi dengan kondisi menangis, kali ini beda. Tangisan saya terasa lega. Tidak ada sesak atau marah di dalamnya...

Langsung saja saya mengirim WA pada Noval,”Aku mimpi dia lagi. Tapi nggak ada kamu nolong aku. Aku meluk dia dan nangis, kubilang aku memaafkannya.”

Noval pun membalas,”Harusnya memang gitu. Kamu menolong dirimu sendiri.”

***

Selamat ulang tahun lagi, Pop. Selamat juga sudah menemukan bahagia yang bahagia. Ciye, masih hidup.


Friday, April 15, 2022

Tutorial Mencintai Kekasih, Pemaknaan Seni Mencintai Erich Fromm -2-

Sumber: Seni Mencintai halaman 68

Waktu kecil, kita dijejali bahwa cinta bentuknya pasti lelaki dan perempuan, berlarian di taman, berciuman, lalu menikah dan bahagia selamanya.

Waktu remaja, kita bilang ciye pada siapapun lelaki dan perempuan yang nampak duduk berdua saja, seolah sudah pasti mereka sepasang kekasih.

Waktu dewasa, kita mengasihani orang-orang yang usianya 25 tahun atau lebih tapi tidak kunjung menikah, seolah mereka tidak buru-buru menjemput yang namanya bahagia.

Erich Fromm bilang, objek cinta ada lima; cinta diri, cinta keibuan, cinta Tuhan, cinta persaudaraan dan cinta erotis.

Tiga paragraf pertama tadi, objek cinta erotis, yang eksklusif antara dua orang saja. Barangkali ada yang menyebutnya pacaran, ada juga yang menyebutnya pernikahan.

Dan ini kisahnya A, dia suka bidang bahasa namun mengiyakan saja ketika keluarga menyuruhnya masuk ekonomi. Bidang bahasa hanya membawanya jadi guru, begitu nasihat yang ia terima.

Ia pilih tidak ngotot masuk bahasa, tidak juga mencari seberapa besar potensinya di sana dan peluang apa yang bisa diciptakan sendiri.

Hari-harinya berat karena jurusan ekonomi membuatnya banyak berhitung. Hitung-hitungan ternyata tidak seringan bahasa dalam kepalanya.

Lalu A masuk english club. Dengan cepat ia didapuk jadi pemateri karena kemampuannya dianggap lebih. Kemudian ia merasa bosan, tidak ada lagi jenjang kemana pun setelah jadi pemateri.

Teman-teman menyarankannya ikut MUN. Tapi ketika ia coba masuk, hal yang dipelajari katanya terlalu luas, jadi dia mundur. Tidak ada english club, tidak ada MUN, lalu ia bertemu kekasih yang tumpuan objek cintanya sama.

Bagi A, bertukar kata cinta tidak serepot memberi argumentasi pada keluarga soal lebih suka bidang bahasa, tidak juga serepot pindah dari english club ke MUN. Hanya ada mereka, tanpa pertanyaan siapa diri, siapa Tuhan. Tanpa keluarga, teman, hobi, komunitas dan tujuan hidup.

Ketika mereka sibuk hanya berdua saja, ada teman-teman kita yang lain, sibuk mencoba satu UKM ke UKM lain di kampus, mencari mana yang paling pas. Ada juga yang belajar membaca kitab, mulai bertanya apa benar ingin menganut agama yang tertera di KTP. Ada juga yang membawa kotak di perempatan, menyanyi dan orasi untuk korban bencana alam.

Kemudian kekasih A pergi, dengan lelaki lain yang punya objek cinta erotis yang ia cari; pernikahan. Pacaran tidak lagi membuatnya aman ternyata.

A seperti dirampas sayapnya. Ia baru sadar tumpuannya hanya si kekasih. Ia tidak kenal siapa dirinya, apa yang ia ingin dalam hidup, hal apa yang bisa dikembangkan dalam karirnya.

Pergi kerja pagi, pulang petang, tanpa ada lagi si kekasih, satu-satunya orang yang bisa diajak mengobrol. Tidur di kostan di akhir pekan, tanpa hobi yang menanti. Ia juga baru sadar, tidak satu pun tetangga kost dikenalnya.

Tuhan bahkan terkekeh melihatnya menangis sesak sambil berkata,”Ngobrol denganku kan sebenarnya bisa...”

Thursday, April 7, 2022

Absen Nyawa, Pemaknaan Seni Mencintai Erich Fromm -1-

Sumber: Dokumentasi Pribadi


“Aman kah?”“

Sehat?”“

Masih hidup?”

“Asu kon...”

Empat kalimat di atas bisa jadi cara menyapa teman. Absen nyawa istilah guyonnya (meski batinmu barangkali bilang, bukannya presensi istilah yang lebih tepat ya?).

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan, 29 orang pasien mengalami gejala ringan dari total 68 kasus baru Covid-19 akibat penularan varian Omicron.” Narasi berita mulai masuk ke trending Twitter, fyp Tiktok dan televisi.

Coba tarik nafas dalam-dalam, hembus pelan dan ketik kalimat semacam yang empat tadi, kirim pada teman.

Barangkali kepada mereka yang bulan lalu bilang, sudah boyong dari pondok jadi tidak akan lagi menginjakkan kaki ke kota tempat kalian satu kampus, kecuali waktu legalisir ijazah.

Barangkali kepada mereka yang bilang, bapaknya jadi sensitif sejak sakit paru-paru.

Barangkali kepada mereka yang tiga bulan lalu melihat cinta pertamanya bertunangan atau mereka yang demam setelah vaksin.

Atau bahkan, pada mereka yang menolak menceritakan kabar terkini dan hanya menjawab dengan,”Pokoknya doakan aku baik-baik aja ya...”

Apa yang kita rasakan setelahnya?

Erich Fromm bilang, dalam cinta ada orang-orang dengan karakter produktif;

“Memberi ialah ungkapan tertinggi potensi. Dalam memberi, aku merasakan kekuatanku, kemakmuranku, kekuasaanku. Perasaan daya hidup dan potensi memuncak ini mengisiku dengan kegembiraan. Kurasakan diriku melimpah, lepas, hidup, karenanya aku gembira. Memberi lebih menggembirakan daripada menerima, bukan karena aku kehilangan, tapi karena dalam tindakan memberi ada ungkapan kehidupanku.”

Bagaimana rasanya mencintai orang lain tanpa ‘karena’? Tanpa merasa perlu mengembalikan sesuatu karena ia pernah memberi? Tanpa merasa harus memberi sesuatu karena pasti diberi balik? Menyapa dan bertanya, lepas apapun tanggapannya. Yang demikian, orang-orang dengan karakter produktif.

Dan barangkali dadamu sedang terasa hangat sekarang.

Saturday, March 26, 2022

Silam

 

Coreted by: @destianrendra

Tidak ada yang tahan jadi pacar gadis itu lebih dari tiga bulan. Bagaimana bisa ada yang tahan? Jika usianya dua puluh empat dan kerap menjerit histeris ketika pacarnya melakukan satu hal; telat menjemput.

“Ayu sih, tapi kekanakan banget...”

“S2 sih, tapi suka membesarkan masalah.”

Hingga hari itu pun tiba, pacar gadis itu terlambat sembilan menit. Mereka dua bulan berpacaran, berjumpa karena ternyata satu gedung perkantoran. Obrolan mereka pun nyambung karena gadis itu punya pengetahuan luas namun...

Kuku si gadis yang cukup panjang sudah menancap di kedua lengan pacarnya itu kini. Matanya membulat, merah dan badannya gemetar. Ia pula nyaris histeris. Pacarnya itu pun buru-buru mengibas dua tangan si gadis dan berlalu pergi. Semua kontak gadis itu ia blok dari ponselnya.

Dengan dada sesak, gadis itu hampir jatuh terduduk. Di depan matanya hanya ada sang ayah yang menepuk kepala kecilnya suatu pagi dengan janji akan menjemputnya tepat jam dua belas siang, sepulang sekolah. Ayahnya itu ternyata tidak pernah menjemputnya kembali.

Gadis itu menjatuhkan tas kantornya dan tubuhnya pun makin gemetar. Seorang anak perempuan sembilan tahun, kini sedang berdiri di sampingnya. Anak itu tidak menangis. Ia justru memegangi tali tas ranselnya dan seolah berkata pada seseorang di hadapan,”Nggak apa-apa. Papa pasti masih sibuk...”

Wednesday, February 2, 2022

Tutorial Menanggapi Kasus Kekerasan Seksual Tanpa Perspektif Korban

 

Sumber: Gugel

Kok nggak lari atau teriak?

Tiba-tiba badanku kayak lumpuh, mau teriak nggak bisa, lari apalagi.

Baru lapor kok setahun kemudian?

Pelaku citranya bagus, aku takut ceritaku dianggap nggak valid.

Kalau nggak ada saksi, berarti bohong.

Pelaku menggiring aku sampai berdua saja.

Pelaku tuch udah tau mana cewek yang layak digenitin.

Aku ramah pada pelaku dan semua orang. Tapi hanya kamu yang menangkap keramahan itu sebagai genit.

Pelaku sama aku nggak pernah aneh-aneh tuch, berarti nggak mungkin lah dia gitu.

Berarti kamu harus mengalami dulu, baru bisa percaya

Kalau nggak lapor polisi, berarti fake korban.

Aku sudah lapor pada pihak berwajib tapi oknum di sana mengatakan persis lima kalimatmu di atas. Hatiku hancur dan aku memutuskan mundur.

 

Catatan:

Tulisan ini dibikin 2020 lalu di Instagram. Sangat banyak tulisan saya soal bullying dan kekerasan seksual yang tercecer di Instagram sepanjang 2017-2021. Tulisan ini satu dari sedikit yang sempat tersimpan.

Saturday, April 25, 2020

Tentang Mereka yang Saya Tuduh Toksik

Sumber: Gugel

Lebih dari setahun lalu, saya mengikuti sebuah seleksi yang diganjar workshop menulis gratis, dapat uang saku pula. Acaranya berlangsung di kota Batu selama dua hari. Semua pesertanya perempuan dan ada satu orang yang lebih muda barangkali tiga tahun dari saya, agak membuat hilang feeling. Sebut saja dia Rinjani begitu ya. Si Rinjani ini berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur. Matanya tajam dan terasa sekali hawa ambisius dalam dirinya. Hawa ambisius ini pula, yang meluber sekali sampai membikin saya pusing.

Selama acara berlangsung, saya tidak pernah minat dekat-dekat dengan Rinjani. Bagaimana dia selalu berusaha berpendapat ketika forum berlangsung, caranya menata kalimat sampai gesture badannya, semua saya tuduh ambisius. Meski pemateri tidak pernah menganggap pendapatnya istimewa-istimewa amat, Rinjani terus bersuara. Tipe-tipe demikian biasanya cocok ikut kompetisi dan benar saja, ketika para peserta saling mengikuti di akun sosial media masing-masing usai acara, Rinjani isi sosial medianya dipenuhi publikasi memenangkan lomba ini dan itu, foto membawa piala, sertifikat juga bukti-bukti kemenangannya yang lain.

Meski tidak begitu nyaman dengan gaya ambisiusnya yang terbuka dan bikin badan ngilu-ngilu merinding itu. Ketika Rinjani kembali mengunjungi Malang, kami bertemu kembali dan hanya berdua. Dia rencananya saya tawari menginap di rumah karena di salah satu pulau kecil di Madura, tempatnya hendak jadi sukarelawan terjadi badai. Jadilah ia dan rombongan terlunta-lunta di Sidoarjo. Namun akhirnya, Rinjani justru mendapat tawaran menginap di bascamp komunitas kenalannya di tengah kota Malang. Jadilah kami bertemu hanya untuk mengobrol.

Dan ketika kami mengobrol kesana dan kemari, sebuah telepon masuk ke ponselnya Rinjani. Saya tahu suara itu dari laki-laki paruh baya dan terasa mengintimidasi. Tapi entah bagaimana Rinjani malah menanggapi dengan tenang dan sopan hingga telepon itu selesai. Dan ternyata, telepon itu dari bapak kandungnya yang minta transfer uang. Rinjani kemudian bercerita, bagaimana ia mendapat uang dari tulisan yang dikirimkan ke media masa dan lomba-lomba. Soal kuliah, dia sendiri dibiayai orang tua angkat, sedang bapak kandungnya menikah lagi dan hanya menelepon ketika butuh uang.

Sebelum percakapan berakhir, saya dengar Rinjani mohon maaf karena hanya punya uang sekian dari sekian-sekian yang diminta bapaknya. Sudah diminta uang dan masih dia juga yang minta maaf. Saya sempat kaget dengan kesabaran perempuan berkerudung itu. Dan tentu saja, uang darinya dipergunakan bapaknya itu bersama keluarganya yang baru. Masih menurut cerita yang dituturkannya kepada saya, semenjak ibunya meninggal dan sebelum bertemu orang tua asuhnya, Rinjani mencari biaya kuliah sendiri sampai kesulitan makan di kos. Dan lagi, ia anak tunggal. Bisa bayangkan di usia belasan yang semestinya masih butuh pegangan, seorang Rinjani malah harus hidup sendirian di luar rumah tanpa bapaknya, keluarganya satu-satunya yang justru malah sibuk dengan keluarga barunya.

Dari semua cerita lengkapnya, saya baru memahami bagaimana Rinjani begitu berambisi menjadi pemenang kompetisi ini dan itu, sebenarnya adalah pelampiasan. Ada ruang sepi di dadanya. Dan ruang sepi itu baru terisi ketika tepuk tangan riuh menyambut kemenangannya dan orang-orang mengakui keberadaannya. Ruang sepi itu banyak pula dialami teman-teman lain dengan kondisi keluarga sama tidak lengkap. Bedanya, sebagian dari teman-teman ini ada yang dimanfaatkan lawan jenis demi kebutuhan fisik semata. Masih sebagian teman ini, menyamakan kasih sayang dan pemenuhan ruang kosong itu dengan kontak fisik yang pada akhirnya, membuat mereka  ditinggalkan saat sudah tercapai tujuan dan sisanya hanya tangisan.

Langsung saja saya merasa bersalah dengan tuduhan Rinjani yang terlalu ambisius dan membuat minat berteman lenyap. Ambisi-ambisi itu justru adalah mekanisme bertahan hidupnya gadis berkacamata itu. Yang dengan itu, ia justru selamat dari hubungan bersama lawan jenis beracun dan bertujuan kebutuhan fisik tanpa pertanggungjawaban. Dalam hati saya menangis melihatnya berkaca-kaca, menahan sedih dan marah. Namun ya, saya hanya bisa menyentuh tangannya.

Lain lagi soal Fariskia. Gadis itu sebaya saya dan punya ambisi soal relasi dengan lawan jenis. Jadi si Fariskia ini mengalami penolakan dari orang tua kandungnya. Ia tinggal bersama kakak angkat perempuan yang usianya dua kali lipat lebih tua darinya. Ketiadaan teman bicara dan anggota keluarga yang bisa memahaminya membuat pertemuan dengan Fendi, seorang lelaki yang lebih tua darinya dua tahun itu menjadi seolah berkah.

Kakak Fariskia tidak pernah setuju dengan hubungannya bersama Fendi. Pula saya yang entah bagaimana merasa ada yang tidak beres dengan lelaki berkulit kuning itu. Tapi ketika saya mengungkap apa yang saya rasakan, justru Fariskia menjauh dan menyembunyikan hubungannya dengan Fendi sampai musim skripsi. Dan selama berkuliah, gadis pintar dan keren itu justru mata dan gerak tubuhnya terlihat tidak turut senang ketika saya dekat dengan lawan jenis hingga ia mengatakan, kok bisa ya? Cowok sekitarmu pada good looking gitu? Kok bisa ya, cowok sekitarmu pas baik-baik gitu?

Hingga kejadian demikian berulang dan saya memberi cap Fariskia teman yang beracun. Dalam pikiran saya, bagaimana bisa dia tidak senang melihat temannya dikelilingi lawan jenis berkualitas? Dan jelang kelulusan, Fariskia yang dikabarkan hampir menikah dengan Fendi, ternyata pilih memutuskan hubungan. Dia menangis dan depresi sambil menceritakan rencana membeli tanah bersama Fendi demi mimpi hidup bersama yang gagal terlaksana. Ternyata selama menahun, Fariskia menyembunyikan hubungan dari saya, kakak perempuannyanya dan siapapun yang tidak menyetujui hubungan mereka. Diam-diam dia pula telah memersiapkan sebuah pernikahan untuk membuktikan ucapan kami yang tidak setuju sepenuhnya salah.

Nyatanya, selama menahun berpacaran, Fendi hanya memanfaatkan Fariskia termasuk saoal ekonomi. Tidak terhitung kebohongan yang dilakukan Fendi, termasuk pura-pura rajin bekerja dan punya jenjang karir yang baik. Namun demi membuktikan para penentangnya keliru, Fariskia bertahan pada hubungan yang begitu menyiksa. Selama berpacaran pun, Fendi selalu menampilkan citra lelaki progresif yang punya mimpi ya semacam… punya mimpi pendidikan begini dan pekerjaan begitu. Perempuan yang punya bakat jadi atlet itu pun menyerah, tidak lagi memaksakan segala rencana manis untuk hidup bersama seterusnya.

Lepas dari Fendi, sayangnya Fariskia tetap pada lajurnya yang merasa tidak terima ketika teman sesama perempuan dekat atau mendapat pasangan baik. Hal ini tidak terjadi hanya pada saya ternyata. Ketika mengetahui seorang teman lama kami menikah dengan pria yang saya ceritakan kalem, tegas dan berwibawa, ada luka di mata Fariskia. Matanya nampak marah dan tidak terima. Tapi bagaimana bisa? Sedang teman lama kami itu hidupnya semua orang tahu begitu sulit. Salah satu pihak dari orang tua si teman ini pula, pernah nyaris menjualnya menjadi tenaga kerja ilegal. Tidakkah satu kebahagiaan, yaitu memiliki pasangan yang bekualitas, layak sekali buatnya kemudian? Apalagi teman kami itu super setia kawan.

Namun pada titik itu, saya sudah berhenti menganggap Fariskia beracun. Rasa sakitnya ketika melihat temannya berhasil dalam relasi sesungguhnya adalah kemarahan pada dirinya sendiri. Seperti semasa saya dekat dengan lawan jenis yang baik, di masa itu ia pula masih dalam hubungan beracun dengan Fendi. Di masa itu juga, Fariskia sesungguhnya tersiksa dengan hubungannya. Lepas dari Fendi dan melihat teman-temannya yang lain menikahi lelaki baik, rasa marah dan kecewa itu masih juga ada ternyata.

Baik Rinjani maupun Fariskia, telah luka dalam rasa sepinya masing-masing. Ruang sepi itu mereka beri nama kekalahan. Hingga terbentuk seorang Rinjani yang terobsesi menang berbagai kompetisi dan Fariskia yang terobsesi berhasil dalam relasi…

Catatan: seluruh nama telah disamarkan

Sunday, September 1, 2019

Seni Memaklumi

Hasna terang-terangan menunjukkan rasa penasarannya terhadap cerpen-cerpen tulisan teman kami yang kebanyakan soal keperawanan. Dalam pernyataannya itu, ia bilang penasaran apa si penulis juga mengalami hal serupa. Intinya, dia ingin tahu teman penulis itu sudah berhubungan seks sebelum menikah atau tidak. Saya terhenyak dan merasa omongan Hasna di belakang si penulis itu tidak perlu. Cerpen ya cerpen saja, baca dan nikmati. Seperti yang dibilang si penulis dalam bedah bukunya, ia mengambil inspirasi dari mana saja. Termasuk dari seorang bapak yang membawa putri kecilnya ke warung kopi tengah malam. Ia pula mengembangkannya jadi cerpen. Bukan berarti, si penulis pernah pergi tengah malam ke warung kopi dengan bapaknya, bukan? Dan lagi, Hasna dengan getol menunjukkan foto-foto lama si penulis di facebook yang berkulit sawo matang. Hasna bilang,”Dia itu suntik putih loh. Dulu dia nggak stylish kayak sekarang. Pokoknya, setelah putus sama cowoknya yang satu itu, dia jadi ubah penampilan habis-habisan.”

Namun belakangan, teman saya yang lain, Savina, bercerita bagaimana teman-teman lelaki di lingkaran Hasna membicarakannya. Savina bilang, sudah banyak yang tahu bahwa Hasna dan pacarnya telah berhubungan seks dan lagi, relasi mereka terbuka. Artinya, Hasna membolehkan pacarnya berhubungan dengan orang lain dan sebaliknya ia. Meski ternyata, Savina yang menceritakan semua tentang Hasna kepada saya itu, juga berhubungan jauh dengan para lelaki. Belakangan banyak saksi-saksi yang dapat dipercaya, menceritakan soal Savina. Bermesraan dengan laki-laki, bisa dilakukannya di depan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya, tidak peduli orang-orang ini nyaman atau tidak. Saksi-saksi ini juga berkata, bahwa Savina sesungguhnya takut kalah pamor dengan Hasna yang mulai mendapat porsi dari panggung ke panggung. Memang secara fisik, kedua orang ini standar industri juga, selain pandai mengolah kata. Malah pernah Savina bilang kepada saya,”Tahu nggak? Hasna itu nggak pintar. Hanya jago retorika saja sih.”

Savina bahkan, mengomentari cara berbaju seorang teman perempuan yang dikenal cerdas dan berpenampilan menarik. Caranya berkomentar yang berbau nilai moral, membuat saya bertanya pada teman-teman yang lain begini,”Menurutku, baju si anu itu biasa saja sih. Sopan-sopan saja tuh. Menurutmu memangnya bagaimana?” dan teman-teman lain sepakat bahwa pakaian si anu yang dikomentari Savina memang tidak bermasalah. Rok di bawah lutut dan memperlihatkan bahu sesekali, si anu itu tidak sedang merugikan siapa-siapa. Meski saya sempat bepikir, masa iya yang nggak bermoral itu aku?

Bagaimana Savina membahas moralitas orang lain, memang agaknya kontradiktif dengan sikapnya yang berani berkontak fisik dengan lawan jenis, di depan orang-orang yang tidak berkepentingan. Orang-orang ini tidak nyaman dan hanya bisa menyatakannya di belakang Savina. Namun menegurnya serba salah juga. Bisa jadi Savina akan bilang, kok kamu sok moralis gitu ya? Atau dia akan mendebat dengan ratusan buku yang pernah dibacanya. Bahkan berkat komentar-komentarnya terhadap pakaian si anu itu, salah teman seorang perempuan di lingkaran kami jadi menjauhi si anu dan mulai memandang dengan standar Savina yang ‘bermoral’ tadi. Padahal, si teman ini pada mulanya begitu dekat secara personal dengan si anu.

Dan si teman ini mengatakan, Savina itu keluarganya otoriter. Lantas saya bertanya, apa orang kayak dia emang nggak berhak mendapat cinta ya? Dan seorang teman tadi mengatakan, sebenarnya, dia sangat layak dicintai. Tapi dia menolak itu semua.

Sebelum disingkirkan oleh Savina dari begitu banyak lingkaran, Hasna terlebih dahulu menyingkirkan Rara. Mula-mula mereka berkomunitas di tempat yang sama, namun karena kepintaran dan pengalaman, orang-orang pada akhirnya lebih memberi ruang kepada Rara. Dan lagi, Rara ini standar industri pula pola komunikasinya mudah diingat orang. Popularitasnya lama-lama melejit melebihi Hasna yang pada mulanya mengenalkan ia pada bidang dan komunitas yang hingga kini ditekuninya. Rara kerap ditinggalkan ketika mereka menjadi rombongan pergi ke suatu tempat yang berkaitan dengan bidang yang ditekuni. Ya, terlalu banyak hal yang menjagal Rara dan merupakan upakara dari Hasna. Berlembar-lembar barangkali jika ditulis di sini.

Rara sendiri merupakan produk perceraian keluarga. Ia sempat melihat ayahnya yang tidak setia dan hidupnya jadi luka. Luka itu juga diakuinya memang ada. Serupa Rara, teman lain yang namanya Dian juga menyaksikan ketidaksetiaan ayahnya. Bedanya, keluarga Dian tidak bercerai. Namun jalan yang diambil Rara dan juga Dian ternyata berbeda.

Satu waktu, Dian mendekati Vivi yang punya banyak kenalan di komunitas. Vivi tidak melulu tampil di panggung, namun sangat mudah menjalin hubungan personal dengan orang banyak. Hari-hari Dian terus memepet Vivi dan melalui itu, ia jadi mengenal banyak orang beken di komunitas. Setelah tujuannya tercapai, Vivi yang telah menganggapnya seperti saudara pada akhirnya dibuang. Vivi sangat luka, tapi dia bilang, luka itu memang sakit kalau nggak diterima...

Dan bahkan Vivi sendiri tidak mengenal sosok ayahnya begitu lama. Ayahnya meninggal waktu dia masih sangat kecil. Hidupnya lebih banyak ditanggung sendiri. Ia luka? Ya. Bahkan pikiran bunuh diri kali pertama melintas di hidupnya ketika Sekolah Dasar. Dan Rara mengambil jalan serupa Vivi. Ia lebih banyak melakukan hubungan personal kepada banyak orang, bukannya mencari fungsi terlebih dahulu apalagi hubungan untung dan rugi. Meski Rara bilang, kadang aku kangen sama Hasna. Aku merasa dekat secara personal sama dia. Dan saya menanggapi, tapi maaf sih. Sayangmu ke dia sejak awal sebenarnya bertepuk sebelah tangan.

Lebih lanjut, Rara yang juga mengenal Dian, bercerita kepada saya bahwa perempuan itu berlaku kurang menyenangkan terhadap rekannya satu komunitas. Rekannya ini tidak disapa dan digubris ketika mengobrol dengan Dian. Saya sendiri, ketika awalnya dikenalkan oleh Vivi kepadanya, juga tidak digubris. Baru ketika teman-teman sering membagikan tulisan saya dan bertepuk tangan bersama, Dian menjelma teman lawas yang super perhatian dan manis kepada saya. Belakangan, saya mengamini ucapan Vivi soal Dian yang hanya mau berkenalan dengan orang-orang yang punya ‘sesuatu'.

Kita tentu tidak pernah tahu, detail apa saja yang sungguh dialami teman-teman yang saya sebut di atas. Namun apa yang mereka lakukan, sesungguhnya adalah upaya bertahan hidup. Kita tidak berhak menilai siapa yang lebih berat masalahnya atau siapa yang daya tahannya lebih kuat. Namun ya, tidak semua orang menyadari dirinya luka dan tidak semua orang juga perlu kita kejar untuk bantu disembuhkan.

Bagaimana Hasna dan Savina mengorek hidup orang lain dan mencari-cari kekurangannya, padahal mereka kabarnya melakukan hal yang lebih jauh dari orang yang dikorek-korek. Juga keluarga otoriter Savina yang rupa-rupanya membikinnya tidak punya peran dalam keluarga dan haus pengakuan di luar sana. Hingga bagaimana Dian hanya mau berteman dengan orang-orang yang dianggapnya punya sesuatu. Sesungguhnya, semua ini  juga adalah bentuk luka. Luka yang semoga saja diam-diam mereka akui kini atau kelak.

Pernah membaca tulisan saya yang judulnya Pernah Alami Body Shaming Sesama Perempuan? Mari Bercerita? Nah, teman yang saya ceritakan itu mengaku ia memang luka, setelah kami berdikusi soal tulisan tersebut. Ia kemudian menyadari dan memutuskan berhenti melukai orang lain juga. Body shaming yang ia lakukan, nyatanya adalah bentuk pertahanan diri atas krisis terhadap persepsi tubuhnya sendiri. Tipe yang begini, memang bisa diajak bergandengan tangan dan jalan bersama. Tapi toh yang saya hadapi bukan hanya dia. Pernah saya memiliki seorang teman lain yang sejak mahasiswa baru, kami sudah bersama. IQnya jauh di atas saya, pun nilai-nilai akademisnya. Selama bersamanya, saya kerap dilukai tapi tidak bisa membuktikannya langsung. Bahkan dia bisa memanipulasi untuk saya merasa bersalah sendiri dan tidak mendiskusikan apa yang dia lakukan. Hari-harinya selalu bertutur lembut dan perhatian terhadap saya. Ia juga pendengar yang begitu baik.

Si mantan teman ini ternyata punya masalah aktualisasi diri. Dia ingin punya panggung seperti semua orang. Toh, persoalan aktualisasi diri pula dialami saya. Namun ketika itu, saya yang masih juga dalam masa pencarian tidak begitu jelas menyadari kegelisahan si teman ini. Ketika saya mencari ruang aktualisasi sendiri, dia malah kebingungan bahkan hingga lulus. Pernah semasa kuliah, dia melihat teman kami yang mengikuti lomba-lomba karya tulis ilmiah, dia bergabung dan menang, tentu saja. Dia lebih dari mampu untuk melakukan itu. Tapi bukan kesenangan yang terlihat  ia dapat, melainkan kebingungan lain. Sebaliknya, si teman yang jagoan lomba tadi sangat mengenal siapa dirinya dan tegas mengambil jalur lomba untuk aktualisasi diri. Dia melakukannya hingga lulus dan banyak orang mengakui keberadaannya.

Ketika saya mendapat banyak sekali hubungan personal dari teman, senior dan dosen yang si mantan teman ini kagumi, ia merasa menginginkannya juga ternyata. Tapi selain kecerdasan logic dan bahasanya yang sangat bagus, intrapersonal dan interpersonalnya tidak begitu baik. Kami bahkan pernah tes bersama dan dia yang menyodorkan angketnya kepada saya. Dan dari cerita dia selama kami bareng, dia ini sangat menonjol di bidang akademis selama sekolah dan semua memerhatikannya karena itu. Tapi modal akademis serupa, tidak membuatnya mudah diingat orang-orang yang dia kagumi di kampus ternyata. Jadi bagaimana rasanya, ketika sudah mengikuti jejak prestasi si teman yang jago lomba tadi, namun hubungan personal tetap saya yang dapat? Saya yang secara akademis ada di bawahnya. Dosen statistik yang ia kagumi dan hormati misalnya, bahkan tidak meluluskan saya. Sering juga saya mendapat nilai jelek di mata kuliah satu ini. Tapi bagaimana rasanya? Ketika dosen senior tadi malah sangat akrab dengan saya dan tidak ingat sama sekali dengan si mantan teman ini, meski ia kerap mendapat nilai 100. 

Hingga kami lulus, dia terus memanipulasi untuk melukai. Terakhir soal pernikahannya. Di mana saya sengaja tidak diundang, tapi dibuat merasa bersalah karena dia bilang pada semua orang bahwa diundangnya saya ini. Bahkan dari orang-orang, saya baru tahu dari soal pernikahannya, berikut pengakuan telah mengundang. Dan setelah memutuskan memblokir saja semua sosial medianya, karena ketika coba membicarakan ini dia malah gaslighting dan membuat saya kembali meragukan diri. Saya masih berpikir-pikir, harusnya mungkin ketika memergokinya membicarakan saya di belakang panggung dengan salah seorang teman setelah operet kelas, seketika itu juga kami membahas semuanya dan menyelesaikannya di tempat. 

Bagaimana ketika semua orang bersorak bersama atas keberhasilan sekaligus kecacatan operet kelas itu, ia yang orang dekat justru tidak turut bergabung? Ya, saya yang membikin naskah dan mengedit audionya. Tapi semua hasil kerja bersama. Keberhasilannya pun punya sifat kolektif, makanya semua turut bersorak. Apa jika dari dulu saya berinisiatif membahas hal demikian kepada si mantan teman ini, hubungan kami tidak akan seburuk sekarang dan ia bisa diajak mengorek lukanya sendiri? Tapi baru ketika makin mantap memutuskan hubungan. Saya sadar, bukan nilai juara dari operet itu yang diinginkannya. Ia betul-betul hanya menginginkan sorakan dan pelukan personal dari teman sekitar. Menjadi paling pintar dan juara sudah ia miliki semua tanpa belajar keras. Namun hubungan personal...

Saya sendiri sesungguhnya juga orang yang luka. Pola pengasuhan yang saya dapat begitu buruk. Sangat buruk hingga saya berpikiran ingin mati di usia sembilan tahun. Orang-orang pikir, saya ceria dan hidup sempurna. Tapi Desi teman saya yang psikolog itu, mengungkap semua ini ketika kami melakukan sesi. Jadi mau bagaimana jika saya tidak mengakuinya? Bahkan saya tidak tahu, apa saya pernah melukaimu atau tidak. Dan segala hubungan personal yang saya jalin, adalah upaya menutup luka tadi. Saya bertahan hidup dengan cara demikian. Semasa sekolah pun, saya dibully teman dan dicap bodoh oleh para guru. Sebelum masuk SMK, saya hampir tidak memiliki teman bahkan.

Namun seperti kutipan status facebook penulis yang pernah dihujat karena melakukan plagiat, hanya orang luka yang melukai orang lain. Eh, tapi tunggu, bagaimana dengan Vivi dan Rara? Maka diralat saja jadi begini; hanya orang yang tidak menerima lukanya, akan pula melukai orang lain.

Catatan: judul diambil dari ucapan seorang teman,”Sejak aku kenal Savina, kemampuanku memaklumi orang jadi hilang.”

Catatan: Seluruh nama tokoh telah disamarkan

Wednesday, May 30, 2018

Dari (Bukan) Teman (Baik)mu yang Mengidap Mental Illness

Sumber: dokumentasi pribadi

Saya menulis ini sambil menangis, bukan menangisi diri saya tentu saja. Namun saya menangis karena saya tahu, saya telah purna melukaimu...

Tanpa kamu bilang sekalipun, saya tahu bagian mana dari diri saya yang nggak srek buatmu. Saya tahu saya mendominasi pembicaraan dan selalu, maka itu sempat saya minta emailmu. Saya harap bisa mengalihkan obrolan yang biasanya saya luapkan padamu lewat sana saja, agar saya bisa belajar fokus mendengarkanmu.

Saya tahu kita sama super introvert. Saya tahu kita saling percaya sejak lama dan sudah teruji. Saya tahu kamu butuh tempat cerita dan barangkali sempat terpikir olehmu saya bisa. Sayangnya, saya nggak pernah cerita kalau sejak usia 9 tahun saya mengalami depresi terselubung, setidaknya saya menandai tahun itu sebagai awal kesadaran soal apa yang saya alami, keinginan bunuh diri yang paling pertama. Saya nggak pernah cerita padamu kalau orang-orang dengan jenis mental illness ini setidaknya masih tidak terlalu menderita karena apa yang dialaminya tidak meningkat menjadi bipolar, skizo, delusi atau mental illness lainnya yang sifatnya jauh lebih berat, bahkan perlu dibantu obat.

Saya tahu saya melukaimu. Saya ingin mendengarkanmu. Saya ingin bisa diandalkan. Saya ingin belajar. Tapi seperti kamu tahu, orang-orang jenis saya sangat cengeng dan lemah. Hal-hal remeh memenuhi pikiran kami hingga meluber kemana-mana. Saya nggak berharap kamu memahami, karena saya tahu itu hanya bakal melukaimu dan keterbukaan saya mengenai ini pun melukaimu. Orang-orang seperti saya sangat mendominasi percakapan dan tidak pernah bisa diharap fokus. Itu adalah bagian sejati diri kami. Kami memiliki beban yang sangat penuh dalam kepala dan hati, mendominasi percakapan adalah usaha kami mengurangi muatan beban itu. Mekanisme pertahanan diri. Setiap mental illness memiliki pemantik dan yang ada dalam diri saya ini mulai terpantik kembali tiga tahun belakangan. Di tahun pertama dari tiga tahun itu, saya insomnia parah. Saya sempat juga sakit kepala berkepanjangan karena ini dan mesti minum obat supaya toleran dengan rasa sakitnya.

Sebelum twit yang saya tahu kamu tujukan pada saya secara tidak langsung itu, saya sudah meniatkan belajar, tidak lagi memaksamu kenal paksa dengan yang namanya mental illness. Maka saya meminta emailmu. Saya mengalihkan penuhnya pikiran dan hati saya di sana. Saya bukan hanya ingin membuka diri lebih jauh siapa diri saya sebenarnya, tapi saya juga tidak ingin bolak-balik membuat hapemu berbunyi atas hal-hal yang sangat acak, penuh dan membuatmu tidak punya kesempatan bicara. Di lain sisi, saya ingin email-email itu kamu baca sewaktu-waktunya kamu sempat dan harapan saya mereka ini punya manfaat agar kamu mengenal bidang lain yang selain bidangmu.

Tapi setelah saya baca twitmu itu, saya tahu saya melukaimu dan belajarnya saya sangat terlambat. Saya menangis waktu membaca twitmu itu karena sadar saya telah begitu melukaimu. Saya nggak sesuai harapanmu. Saya nggak bisa diandalkan. Maka saya mengetik satu email lagi yang isinya email terakhir dari saya.

Padamu, saya telah salah membebankan semuanya. Saya yang sesungguhnya bukan seseorang yang puk-puk teman sekampusnya yang bawa perasaan karena motornya dirantai satpam. Saya yang sesungguhnya bukan seseorang yang mendampingi teman perempuannya ketika depresi kehilangan keperawanan. Saya yang sesungguhnya bukan seseorang yang menemani temannya ketika temannya itu berusaha menata hati soal pacarnya yang melakukan kekerasan dan layak ditinggalkan. Saya bukan orang itu, yang mengatasi banyak hal di luar sana. Saya bukan orang supel yang penuh rasa gembira dan gampang memiliki teman. Wajah asli saya nggak begitu dan kesalahan besar membebankannya padamu. Kesalahan besar membuka siapa diri saya sebenarnya tanpa penjelasan, yang justru ternyata membuatmu luka.

Terimakasih telah memberi pembelajaran dan saya yakinkan padamu, saya tidak akan lagi melukaimu lagi hari ini dan seterusnya. Saya tahu dalam kebuntuan saya yang segala macam rupanya, kamu selalu peduli dan doamu menyertai saya.

Maka biar doa antara kita saja yang saling tertaut. Namun adalah hakmu untuk menilai saya selanjutnya layak atau tidak jika terus ada dalam doa-doamu.

Doa yang selalu saya tautkan untukmu adalah, jangan sampai kamu maupun siapapun di sekitarmu mengalami mental illness. Jenis apapun jangan. Jangan sampai waktu-waktumu habis hanya untuk menghadapi orang tidak waras, tidak dewasa dan mendominasi percakapan. Syukuri kenormalanmu.

Keberadaan saya di sekelilingmu hanya melukai. Seterusnya saya nggak bakal kembali. Keberadaan orang seperti saya hanya akan merepotkan sekali. Selamat melanjutan hidupmu, seterusnya tanpa saya.

Kepergian ini mematahkan hati saya. Namun yang lebih penting adalah, ini semua nggak akan berpengaruh denganmu dan justru membebaskanmu. Usaha membuat semua normal, justru menyadarkan saya semestinya saya nggak lagi mengedar di sekitarmu. Apapun yang membikinmu bahagia, saya turut.

Saya hanya bisa melukai...

Thursday, March 30, 2017

Jalan Sunyi Si Nona Waham


“Aku udah pecah sama si nona Waham sejak praktek kerja kelas 11, Pop. Dia itu… kalau ngomong berubah-ubah sukanya,” Sambut Rindu, ketika saya mulai cerita soal keganjilan nona Waham.
Ternyata, bukan saya satu-satunya orang yang pernah disakiti nona Waham tanpa sebab. Si tomboi Rindu pun pernah disakiti. Ceritanya, waktu praktek kerja di SMK, Rindu dianggap sering ngobrol dengan Shikamaru oleh nona Waham. Menurut versi Rindu, dirinya ngobrol dengan Shikamaru hanya perkara guiding sesuai jurusan mereka di SMK, anime dan pernah Shikamaru bertanya soal perjalanannya ke Bromo. Satu lagi, Shikamaru itu sahabat kental saya yang punya banyak sekali teman perempuan. Saat itu, saya, Rindu dan nona Waham satu sekolah tapi beda jurusan. Sedang Shikamaru, sekolah di tempat yang berbeda, namun satu jurusan dengan Rindu dan nona Waham. 
Barulah setelah Rindu, saya mulai berurusan dengan nona Waham. Perempuan cantik dan cerdas itu awalnya asyik diajak mengobrol. Namun, lama-lama saya mulai merasa ganjil. Seperti ada rasa cemburu dalam pesan-pesan singkat yang dia kirim. Mengagetkan ketika nona Waham memamerkan lirik lagu One Thousand Word pada saya, dia katakan itu dari Shikamaru. Wah… saya diam saja waktu itu. Saya hanya sekadar mengiyakan. Padahal, saya sebenarnya tahu, Shikamaru juga mengirimkan lirik soundtrack game itu pada saya dan banyak orang. Itu memang hobinya Shikamaru, mengirim secara broadcast apapun yang sedang dia suka pada banyak kontak.
“Nona Waham jelekin kamu parah dulu. Katanya, kamu pura-pura sahabatan aja sama Shikamaru, aslinya kamu suka Shikamaru katanya,” Masih Rindu yang bicara.
Ya… nona Waham juga menceritakan keburukan Rindu di depan saya. Saat SMK, saya sering membaca status melantur nona Waham soal saya juga. Banyak orang tahu, nona Waham sangat menyukai Shikamaru. Di lain sisi, nona waham yang berpenampilan agamis dan kalem mengukuhkan diri sebagai seorang yang membatasi diri dalam pergaulan dengan lelaki, saat itu. Sedang di sisi lainnya lagi, dia sendiri yang membuat banyak orang tahu soal perasaannya pada Shikamaru.
“Dulu, gara-gara aku ngobrol sama Shikamaru, si nona Waham jelekin aku kemana-mana, Pop. Aku sampai didiemin segala. Dia berhenti, waktu tahu ternyata Shikamaru dekatnya sama kamu. Dia mulai cerita soal kamu ke aku tapi aku diemin.” Rindu melanjutkan.
Dan nona Waham pernah tiba-tiba mohon maaf pada saya sekitar tahun 2013 atau 2014. Dia mohon maaf dan ijin meremove saya supaya lupa kenangan, yang katanya memalukan soal perasaannya yang bertepuk sebelah tangan dengan Shikamaru dan juga bagaimana dia dulu mencemburui saya.
Barangkali 2015, nona Waham muncul kembali via WA dan add FB saya kembali. Kaget juga dia masih menyimpan nomor saya. Sejujurnya, saya kurang nyaman dengan dia yang sibuk menceritakan dirinya melalui WA. Saya tidak bisa bedakan itu fantasi atau nyata dan tidak ingin lagi terlibat. Nona Waham juga senang bercerita soal kakak-kakak himpunan jurusan yang katanya banyak menyukai dia, namun karena dirinya berprinsip teguh, banyak dari mereka yang menyerah.
Saya sering menawarinya ajakan bertemu, bahkan sejak 2013 hingga tahun ini. Namun, dia selalu mengelak. Hingga kemudian, saya sengaja mengonfrontasi nona Waham dengan artikel-artikel yang saya tahu beda jauh dengan pemikirannya. Setelahnya, dia baru berhenti mengirim WA pada saya.
Shikamaru sebenarnya menyukai gadis lain yang satu sekolah dengannya, namanya Belle. Kami biasa saling cerita ketika menyukai lawan jenis.
“Nona waham pasti merasa malu banget pas tahu kenyataan soal Belle dan kamu, Pop…” Pungkas Rindu.
Dan nona Waham yang sekarang beda dengan yang dulu. Dia yang sekarang menyetujui hubungan berpacaran yang dulu, dia gadang-gadang tidak bakal dia lakukan. Namun, soal penampilannya yang kalem dan agamis, dia tetap sama. Satu lagi, tahun ini nona Waham menuduh melalui teman saya, Raihan, jika saya dan Raihan membicarakannya di belakang.

Ini waktu dia saya godain, kenapa dulu mengumumkan diri anti pacaran dan sekarang berubah. Cie.
Saya jadi ingat bagaimana Shikamaru menanggapi datar soal permintaan maaf nona Waham,”Kamu percaya emangnya sama anak itu? Duh… anak itu ya begitu.”
Usut punya usut, Raihan dan satu teman lelakinya, awalnya simpatik pada nona Waham. Akhirnya, teman Raihan yang maju mendekati nona Waham, sedang Raihan mengalah. Lucunya, nona Waham justru ingin tahu sekali hubungan Raihan dengan mantannya. Nona Waham bahkan memengaruhi mantan Raihan agar tidak mau balikan dengan Raihan. Berbarengan dengan itu, nona Waham menghancurkan karakter Raihan di depan banyak orang. Ini persis seperti kasus saya, Shikamaru dan Rindu. Pada akhirnya, nona Waham memang menghancurkan karakter Shikamaru, orang yang jadi dambaannya dulu. Awal dari Shikamaru yang mulai merasa ganjil dengan nona Waham, memang dari status-status FB dan cerita perempuan itu sendiri, soal hal yang tidak pernah dilakukan Shikamaru pada banyak orang.
Salah seorang teman, menyarakan saya menjauhi nona Waham. Menurutnya, si nona Waham seterusnya akan curhat ke semua orang dengan jalur playing victim. Sedang teman salah seorang senior, menjuluki nona Waham sebagai psikopat.
“Nona Waham dulu nggak punya teman, Pop. Di kelas aja cuma si X sama si Y…” aku Rindu.
“Nona Waham temannya itu-itu saja sih selama ini, Pop. Di jurusan cuma dua…” aku Raihan, yang memang adik tingkatnya sejurusan di kampus.
“Mendingan gitu, emang di dunia banyak yang jahat…” aku nona Waham.
Agaknya, nona Waham seterusnya akan menemui jalannya yang sunyi. Atau barangkali, dia akan berhenti menyakiti setelah menemukan kasih yang dia impikan?
Bonus nih… ini waktu saya protes ke si nona Waham soal saya, yang katanya ngomongin dia bareng Raihan. Duh, saya bukan penyabar sih ya? Sampai saya tega loh, ngomong blak-blakan ke dia kalau dia itu butuh terapi. Selain melantur soal banyak orang di dunia ini jahat, nona Waham juga banyak catut nama yang katanya buruk. Saya lelah ngeblur nama-namanya untuk jaga perasaan, jadi mending saya simpan dulu.






















Terus yang ini soal Raihan dan masalahnya…



Kalau yang ini, soal Rindu dan masalahnya…




Nah, kalau soal saya dan Shikamaru yang dulu-dulu itu udah lewat banget. Udah ngakak kami kalau ingat kasus nona Waham yang dulu itu. Tapi, ada nih beberapa status nona Waham dalam versinya dari kiriman FBnya jaman SMK. Kalau boleh baper, nona merah yang dimaksud itu saya sih, barangkali. Sayangnya, waham dia yang lain soal Shikamaru sudah hilang dari FBnya dan belum sempat terdokumentasikan. Ia juga pernah bikin status, Shikamaru akhi-akhi gadungan setelah tahu keberadaan Belle. Padahal, Shikamaru sendiri tidak pernah deklarasi sebagai laki-laki alim di media sosial, layaknya yang dilakukan nona Waham. Hubungannya dengan Belle pun juga bukan pacaran, meski dengan posisi saling suka. Yang tersisa di sini, pernyataan cintanya pada Shikamaru yang disebutnya Mr. (Sensor).

Nona Merah yang dimaksud itu sepertinya sih saya. Apa karena waktu SMK sempat sering pakai bado merah ya?

Dia sebut inisial asli Shikamaru tapi saya blur.

Sekali lagi, dia sebut inisial asli Shikamaru.

Nona Waham dulu getol publikasi, kalau dirinya anti pacaran (1)

Nona Waham dulu getol publikasi, kalau dirinya anti pacaran (2)


Mr. Arogant itu tokoh cerpen saya jaman SMK. Terus Messege From Unknown Mother, itu buku favorit dan bahan esai saya waktu kuliah. Bagaimana saya nggak baper kalau Nona Merah yang dimaksud itu saya coba? Hehe...

Status yang atas itu setelah dia minta maaf dan yang bawah itu, lagi-lagi soal prinsipnya.

Anti pacaran 1

Anti pacaran 2

Anti pacaran 3

Entah sudah…

Catatan: delusi merasa dicintai yang dialami Nona Waham, secara khusus disebut erotomania. Erotomania adalah salah satu jenis delusi dan seseorang bisa mengalami lebih dari satu jenis delusi. Nona Waham, termasuk yang memiliki lebih dari satu jenis delusi. Namun terlalu berjejalan apabila saya ceritakan dalam satu tulisan ini.

Diagnosa klinis lebih dianjurkan pada profesional. Tulisan ini tidak dapat dijadikan patokan.