Tuesday, November 19, 2019

Nasab

Sumber: Gugel

Ruang perawatan bayi selalu berisik ketika lewat tengah malam. Sayangnya, orang-orang tidak pernah mendengar setiap bisik dan jeritan yang saling balas dari kami, para bayi dalam kotak-kotak kecil berisi kasur hingga inkubator.
Hari ini, teman kami Petra kembali setelah sebelumnya diadopsi bos pabrik kretek besar selama sehari. Ya, kami sepakat memanggilnya Petra, setidaknya sampai ibu dan bapak barunya memberi nama lain.
“Mereka baru sadar kaki saya melengkung. Jadi bapak dan ibu baru saya itu, mengembalikan saya kemari. Si Rahmad yang gemuk dan berkaki lurus, menggantikan posisi saya pagi ini.” Ucap Petra datar.
Bagi kami yang tidak berbapak dan beribu, cerita-cerita semacam milik Petra adalah hal biasa. Pernah pula, teman kami Putri dikembalikan ke rumah sakit karena orang tua barunya menyadari, ada selaput putih tipis di mata kirinya. Petra dan Putri adalah cacat. Dan bagaimana jika benar mereka cacat hingga dewasa dan tidak bisa menanggung masa tua bapak dan ibu yang mengadopsi?
Lain Putri, lain pula Kartika. Lahir dengan bobot di atas rata-rata dan kulit merah muda, tiga calon orang tua langsung merubungnya di hari yang sama. Dan lagi, orang tua Kartika meninggalkannya di rumah sakit karena keadaan tidak berpunya dan kelahirannya pun di dalam nikah.
Bagus yang tidak kunjung keluar dari inkubator, hanya mampu berkedip pelan, menanggapi segala obrolan kami yang berisik lewat tengah malam. Ia beda cerita lagi dengan kami semua di sini. Bagus memiliki ayah dan ibu yang memang melahirkannya prematur. Mereka tentu akan segera membawa ia pulang, sekeluarnya dari inkubator. Ayahnya pun kerap memandanginya dari kaca besar yang membatasi ruang kamar. Mata berkaca-kaca ayahnya itu, membuat kami selalu saling berteriak, menyemangati Bagus agar segera sehat dan keluar dari inkubator.
Dan hari itu, pasangan suami istri berpenampilan bersih, mencari anak perempuan buat diadopsi. Ini sudah yang keempat kali, semenjak saya berada dalam ruangan ini. Bersama perawat, pasangan suami istri empat puluhan itu berkeliling dalam kamar. Penampilan saya yang tidak kalah menarik dibanding Kartika, membuat mereka menoleh. Saya diangkat si istri dengan penuh kasih kemudian.
Namun, ketika si suami berbisik pada perawat tentang asal usul saya dan si perawat menjelaskan, si istri memandang dengan kecewa lantas kembali meletakkan saya di atas kasur. Si perawat mengalihkan pilihan pada Putri dan pasangan itu setuju.
Ya, meski cacat. Bayi-bayi yang lahir dari pasangan dalam nikah, jauh lebih diinginkan ketimbang saya. Saya yang lahir dari pasangan di luar nikah. Dan bagaimana jika ketika dewasa, saya kemudian mengulangi lingkaran setan hamil di luar nikah, lantas membikin malu orang tua yang mengadopsi?

Friday, November 8, 2019

المانع

Sumber: Gugel

Bagaimana dengan buku-buku yang kamu baca? Apa mereka tidak memberitahukanmu apa hakikatnya takdir?

Cobalah baca sekali lagi. Maka barangkali sekali saja seumur hidup, kamu akan tahu bahwa lawanmu itu takdir dan bukannya aku. Lawanmu itu Tuhan, yang memberi ijin untuk kamu melaraiku. Sekaligus Dia pula, yang memberiku ijin untuk terus hidup di tengah segala lara itu.

Saturday, November 2, 2019

Punya Teman Mental Illnes, Dampingi Atau Tinggalkan? (Menghadapi Sahabat yang Bipolar)

Franda mengeluhkan Gisel untuk kesekian kalinya. Gisel yang toksik, dalam sebutan Franda. Meski ya, baik saya, Franda dan semua orang di lingkaran Gisel, sesungguhnya tahu perempuan itu punya masalah kesehatan mental. Gisel baik, diakui teman-teman yang kini menjauhinya. Dia tidak suka body shaming dan jadi pendukung yang apik ketika teman-temannya punya masalah. Tapi pada banyak kejadian, Gisel sering terpantik lantas melakukan hal-hal yang melukai orang sekitarnya.

Masalah pemantik ini, lebih banyak perkara yang tidak pantas dibalas melukai orang lain, jangan bilang sepele. Kata sepele terlalu pelik dijabarkan bagi orang dengan mental illness. Terpantik atau kena trigger, tidak layak disebut mana yang berat dan mana yang sepele. Misal saya, yang takut setengah mati dengan gambar orang berdarah di sosial media. Bagimu barangkali bukan masalah, tapi bagi saya hal demikian bisa membuat keringat dingin tidak karuan. Tapi di sini, saya tidak hendak membahas latar belakang mengapa saya ketakutan betul dengan gambar demikian. Kalau kamu mengenal saya sebagai yang ceria dan tanpa masalah, maka sebaiknya memang begitu seterusnya.

Kembali pada persoalan Gisel. Saya membaca pola hubungannya dengan orang sekitar yang hampir serupa dengan mbak Narita, senior di salah satu komunitas. Mbak Narita mengalami bipolar, sedang Gisel, saya dan teman-teman lainnya tidak tahu indikasi klinis lebih tepat tentangnya. Namun kami melihat dengan jelas, dia memiliki indikasi salah satu mental illness. Mendukung ketika temannya ada masalah, mendinginkan, pendengar yang baik hingga turut bahagia atas capaian teman-temannya, semua ada di diri kedua perempuan ini. Lebih jauh lagi, Gisel maupun mbak Narita sama berbakatnya. Gisel sangat jago soal make up dan desain, sedang mbak Narita jago menulis dan menggambar manga. Kedua gadis ini, pula sama fasih dalam bahasa asing.

Saya dan Franda sendiri juga memiliki masalah masing-masing. Ada indikasi depresi sejak kecil juga dari diri saya. Terakhir, Franda curhat kepada saya tentang bagaimana harusnya sikap dia kepada Gisel. Saya hanya bilang,”Dia baik. Kalian saling sayang. Pilihannya dua; kamu kembali tapi jaga jarak aman atau tinggalkan sekalian.” Dan ketika Franda curhat demikian, orang sekitar mereka sudah meninggalkan Gisel terlebih dahulu.

Tapi tempo hari, agaknya sudah puncaknya Franda lelah terhadap Gisel. Apalagi, Franda juga punya masalah sendiri yang menambah pekat permasalahan miliknya yang lain. Bedanya, saya maupun banyak orang masih pada taraf depresi. Sedang Gisel, serupa mbak Narita yang sudah naik level mental illnessnya. Semua mental ilness lanjutan semacam bipolar dan skizofrenia, bermula dari depresi. Ada juga yang keturunan skizofrenia seperti salah seorang teman saya memang. Tapi ancang-ancang dasar semua mental illness lanjutan ini, sekali lagi adalah depresi. Dan kita tidak bisa menghakimi siapa yang masalahnya lebih berat atau siapa yang lebih kuat dari kami semua. Karena bagi saya, bisa bertahan pada titik depresi tanpa naik level saja sudah untung-untungan. Dan masalah macam begini, kita tidak bisa mendiagnosa sendiri jenis mental illness apa yang tengah dialami. Saya pribadi sudah pergi ke psikolog dan indikasinya, depresi terselubung.

Apa dan bagaimana masalah terakhir yang terjadi antara Franda dan Gisel? Jadi, Gisel sangat marah ketika instagram komunitas mereka ada salah satu foto yang menghilang. Baginya, hilangnya foto itu berarti hasil kerjanya untuk komunitas tidak diakui. Foto itu isinya hasil kerja dirinya tahun lalu dan pada akhirnya, dia mendamprat banyak orang di komunitasnya termasuk Franda. Ucapan buruk dan sumpah serapah keluar dengan begitu lancar hingga akhirnya, diketahui foto itu menghilang karena Gisel sendiri mengarsipkannya. Ia menyadari dan meminta maaf. Tapi Franda sudah sakit kelewat-lewat. Kejadian serupa dengan pemantik yang levelnya juga sama, sudah berkali-kali terjadi. Polanya juga mirip, Gisel meminta maaf dan terjadi lagi kemudian.

Mbak Narita pun serupa. Dua tahun lalu, ia bermasalah dengan saya dan empat orang lainnya. Satu orang lagi, memang jelas melukai dia tanpa sebab, namun dua lainnya ternyata mengalami hal serupa saya. Vanya dan mas Ari salah duanya. Dengan Vanya, entah bagaimana di tengah enaknya berkomunikasi lantas mbak Narita terpantik dan mendamprat. Di tahun tahun yang sama, mas Ari malah lebih terang bisa disebut bertengkar dengan mbak Narita.

Vanya sendiri sepenuhnya sadar mbak Narita memang punya indikasi bipolar, namun saya juga tahu bahwa Vanya punya persoalan keluarga yang pelik. Saking peliknya, dia harus bertahan hidup bersama kakak perempuannya di luar rumah ketika SMP. Hidupnya lebih banyak ditanggung sendiri dan saya sangat tahu bagaimana dia selalu berusaha memaklumi orang banyak, dengan permasalahan keluarga yang tidak semua teman di komunitasnya tahu. Bahkan ia, terlihat lebih banyak seperti mati rasa dan lupa cara menangis di depan orang lain.

Masih di pertengahan tahun yang sama, mbak Narita mendamprat saya dengan cara serupa pada Vanya. Saya tidak memblokirnya waktu itu, meski saat itu saya sendiri sedang ada masalah berat dan depresi. Keputusan saya hanya sampai pada, keluar grup WA di mana ada mbak Narita. Sedang Vanya, dengan tegas menjaga jarak, meski kini hubungan mereka kini agaknya baik-baik saja dan masih berkawan di media sosial. Baru-baru ini, Vanya sendiri mulai bisa menata hidup dengan mendapat pekerjaan baik dan beberapa waktu berikutnya seorang pria santun berkenalan dan memintanya menikah.

Bagaimana dengan mas Ari? Hidupnya saat ini juga sudah tertata. Tetap dengan hobinya menulis dan kini ia pula menjadi dosen di salah satu kampus negeri. Mas Ari serupa Vanya yang memahami beratnya masalah psikologis mbak Narita. Dua tahun lalu, mbak Narita bercerita kepada saya bagaimana berharganya mas Ari baginya. Dalam versinya, mas Ari tidak mau menyapanya lagi setelah mereka bertengkar. Padahal, mas Ari bercerita kepada saya bahwa ia pernah jumpa mbak Narita setelah pertengkaran itu dan perempuan itu tidak menggubrisnya ketika disapa. Hal demikian membuat dosen muda itu kikuk ketika hendak menyapa pada pertemuan berikutnya. Mbak Narita kelihatan sedih dan menyesal ketika bercerita dalam versinya dan sayangnya, saya baru tahu versi mas Ari dua tahun setelah cerita versi mbak Narita. Mas Ari mengaku sudah menyerah sejak dua tahun yang lalu soal pertemanan mereka. Ia memutusan pergi.

Saya sudah kenyang, mendengar curhatan mbak Narita soal orang-orang yang meninggalkannya. Sebagian memang benar orang-orang itu melukai lebih dulu. Namun sebagian lainnya, justru terdampak kondisi mental mbak Narita yang sedang tidak baik. Kebetulan saja, Vanya dan saya berkomunikasi dengan mbak Narita di saat kondisi mentalnya sedang buruk. Kami menyadari dan menyayangi senior kami itu betul-betul. Toh, dari dia juga, kami bisa saling mengenal. Meski satu hal, jika Gisel mampu mengakui kesalahan dan meminta maaf, mbak Narita sebaliknya. Sirkulasi kesalahan semua ditimpakan pada sosok mana pun yang ada di sekitarnya. Hubungan kami baru membaik ketika saya kembali dan melunakkan komunikasi dengannya. Saya kembali, namun dengan menjaga jarak aman.

Kemudian apa yang terjadi dengan saya dan mbak Narita baru-baru ini? Dia menanyakan kabar saya yang lama menghilang via twitter. Saya melakukan kesalahan dengan mengunggah DM dia masih di platform yang sama. Narasi yang menyertai unggahan itu, intinya mengucap terimakasih atas pertemanan di antara kami. Tanpa ijin memang.

Dan ya, saya mengalami hal berat ketimbang tahun-tahun sebelumnya selama setahun belakangan. Upaya membuat unggahan demikian, juga untuk membesarkan hati diri sendiri. Namun mbak Narita keberatan ternyata, saya meminta maaf dan menghapusnya kemudian. Melalui unggahan itu, secara tersirat saya bilang ingin berbagi semangat juga kepada teman-teman yang mengalami hal berat, bahwa di sekitar mereka pasti masih ada saja teman yang lembut dan perhatian.

Saya pun pernah melarang seorang teman mengunggah screen shoot percakapan kami yang sesungguhnya dilakukannya untuk berbagi semangat positif. Ia lantas menyadari saya yang kurang berkenan dan meminta maaf. Kasus selesai, unggahan dihapus dan hubungan tanpa memburuk. Pada kasus tersebut, memang saya bilang ingin menyimpan bagian percakapan itu di antara orang yang pernah bercakap-cakap langsung saja. Saya takut, prinsip-prinsip yang ada dalam percakapan itu malah lalai untuk dilanjutkan setelah terlalu banyak orang tahu.

Tapi Mbak Narita malah mencecar bahwa pernyataan saya tidak nyambung dan lainnya, setelah kata maaf dan penjelasan tujuan mengunggah screen shoot tersebut. Cecarannya berubah jadi umpatan bahwa yang bermasalah itu saya dan banyak hal menyakitkan yang membuat badan saya gemetaran dari semua ucapannya. Ya, setahun ini sakit yang saya alami tidak mudah. Saya hanya mau keluar rumah dengan kondisi terbaik. Jika saja dengan kondisi lebih sehat, barangkali seluruh perkataan mbak Narita masih bisa saya atasi dengan tenang.

Hingga kemudian saya tidak lagi tahan dan mengatakan bagaimana pandangan Vanya dan banyak teman lainnya tentang dia. Dia tidak menyadari, bagaimana kami semua begitu memaklumi dia di atas masalah-masalah kami sendiri. Tapi ketika semua balasan chat itu saya kirim, saya jadi menyesal dan mengingat bahwa bipolar bukan masalah ringan. Saya menghapusnya namun terlanjur terbaca.

Makin meledaklah mbak Narita. Saya kembali minta maaf dan berusaha meredam, tapi ucapan buruknya terus membuat badan saya gemetaran dan dada saya sesak. Berkali saya mohon dia berhenti, namun dia menuduh saya menikmati perhatian dari hal negatif hingga memanipulasinya agar simpatik. Ia seolah lupa, saya sempat menghilang dari lingkaran komunikasi mana pun karena sakit. Hingga ayah saya menghubunginya (saat itu telepon diterima ayah mbak Narita) untuk bantuan mencari praktisi yang mumpuni demi penyembuhan.

Baru setelah kondisi saya cukup baik waktu itu, saya mengunjungi dia dan keluarganya, berterimakasih secara tersirat, meski ternyata kontak praktisi yang cocok saya dapat dari teman lain. Hingga kini pun, saya masih dalam masa penyembuhan. Saya menyadari, mbak Narita agaknya sedang dalam kondisi tidak begitu baik ketika hari itu mencecar tidak karuan. Tapi sebuah hubungan dengan pola meminta maaf yang timpang, juga tidak pernah dibahasnya permasalahan utama, sangat tidak sehat. Hal ini terjadi pada hubungan saya dan mbak Narita. Pula pola hubungan Gisel yang meminta maaf namun kembali mengulang kesalahan. Kedua pola ini sama tidak sehatnya.

Saya yang salah, ketika kembali pada mbak Narita tanpa penyelesaian masalah sebelumnya. Dalihnya adalah, menjaga perasaan. Saya yang salah, ketika malah berusaha kembali menjaga hatinya dengan menerus minta maaf, saat kami lagi-lagi bertubrukan. Mbak Narita harus tahu, sirkulasi kesalahan tidak melulu dari orang di luar dia.

Seberat apapun bipolar yang dialami, mbak Narita tetap harus tahu fakta sesungguhnya yang terjadi di luar dirinya. Jika tidak, sakitnya akan makin akut selagi semua kesalahan ditimpakan kepada orang lain. Apalagi ketika seseorang meminta maaf, mbak Narita adalah tipe yang terus menelanjangi dengan porsi tidak seimbang. Dalam posisi demikian, saya serasa melakukan kesalahan setara mereka yang pernah memanfaatkan mbak Narita dan melukainya tanpa sebab.

Saya terus berusaha menyadari bahwa perempuan yang jago menulis cerpen hingga esai ini, memang sedang dalam kondisi buruk. Meski ya, saya berhasil memahami teorinya namun gagal pada praktiknya. Menyayangi diri sendiri adalah mutlak. Cecaran mbak Narita yang tidak juga berhenti, membuat saya dengan sadar memutuskan memblokirnya dari semua aplikasi chatting. Dan semoga, semua yang saya ungkapkan tentang orang-orang yang selama ini berusaha memahami dan memaklumi dia, menjadikannya memiliki rambu-rambu. Bahwa tidak sekali atau dua kali, dia malah menolak cinta dari orang sekitarnya. Toh, mbak Narita sangat cerdas dan menyadari dirinya butuh perawatan klinis. Rambu-rambu ini kelak semoga bermanfaat juga buatnya.

Ya, saya memutuskan tidak akan kembali pada mbak Narita pada akhirnya. Salah satu kalimatnya akan saya ingat selalu,”Fuck it. Kamu buat seolah aku yang bermasalah. Yang bermasalah itu kamu! Manis sekali ya.” Dan terakhir, saya katakan jelas padanya bahwa, saya tidak lagi bisa memaklumi dia. “Kayak-kayak aku bakal peduli aja.” balasnya sebelum saya betul-betul memblokirnya.

Sirkulasi kesalahan yang ditimpakan kepada orang lain, juga tidak sedikit orang yang memanfaatkan hingga melukai mbak Narita sepanjang hidupnya, barangkali membuatnya punya mekanisme bertahan hidup yang demikian. Tapi bukan kewajiban saya, untuk selalu bersamanya dan terus merasa sakit. Sudah saya coba untuk kembali dan menjaga jarak aman, hasilnya pun nampak jelas. Tidak ada yang perlu disesali meski pada akhirnya, keputusan serupa mas Ari terasa lebih bijak.

Meninggalkan teman baik seperti Gisel dan mbak Narita memang bukan perkara mudah. Predikat toksik tidak bisa cukup jelas disemat pada mereka. Meski saya tidak hendak membuatmu meninggalkan teman yang jenis ini pula. Semua keputusan ada di tanganmu.

Dan memang ya, lebih mudah meninggalkan teman yang jelas membencimu dan melukai, ketimbang teman yang sayang padamu namun kendali dirinya dihisap gangguan kesehatan mental. Kedua perempuan baik ini, juga memiliki hubungan beracun dengan orang tua mereka. Semua orang yang meninggalkan, sesungguhnya merasa tidak tega mendapati mereka yang sama sekali tidak memiliki pegangan.

Meski demikian, saya masih akan terus mengingat, bagaimana mbak Narita membantu tulisan saya agar lebih baik, tanpa diminta. Juga bagaimana dia turut gembira setulusnya ketika saya berhasil meraih sesuatu. Dia juga yang berusaha mencarikan praktisi ketika saya sakit, juga berteman bukan dengan hitungan untung dan rugi apalagi transaksional. Tapi ya, berakhir bukan berarti saya membencinya, bukan? Jika begini, hanya doa yang bisa tertaut.

Barangkali memang, cintaku sendiri tidak begitu besar pula sehingga menyerah berjuang atas pertemanan kita, Mbak. Mungkin kasih sayang yang tanpa syarat padamu, sudah gagal aku temukan.

Maka, selamat tinggal.


Catatan: Seluruh nama tokoh telah disamarkan

Saturday, October 26, 2019

TAPI

Sumber: IGS Firdausya Lana

Kamu bicara tentang literasi yang bisa mengubah dunia

Tapi besok, kamu mengeksploitasi temanmu

Kamu sadar perihal era post human

Tapi kamu melucuti manusia dengan cara yang tepat, membuatnya cacat mental dan meragukan kepantasannya tinggal di dunia


Sumber: IGS Firdausya Lana

Thursday, October 17, 2019

Motif

Sumber: Gugel

Di masa itu, ia lagi-lagi menyertai ayahnya mengantar narapidana. Seorang anak lelaki yang usianya sepuluh. Ayahnya terbiasa membawa ia manakala bertugas dan membiarkannya berinteraksi dengan para narapidana yang tengah diantarkan menuju rumah tahanan.

“Ayah menyuruh saya bertanya langsung pada anak itu tentang kasusnya ketika saya penasaran. Bagaimana anak yang sekecil itu bisa jadi narapidana?” ujarnya di depan ratusan pengunjung festival.

Para pengunjung bergemuruh dan saling sahut komentar kemudian, ketika ia bercerita bahwa si anak membunuh seorang lintah darat. Lintah darah itu memukuli neneknya yang berhutang dan sebuah batu dihantamkannya tepat di belakang kepala. Si lintah darat mati, lantas keluarganya menuntut.

Ia bilang, ayahnya berpikiran mengajak si anak makan enak untuk terakhir kalinya. Setidaknya, sebelum makan makanan penjara yang sehari-hari itu. Namun si anak menolak diajak makan. Katanya, dia tidak akan nyaman makan kecuali tahu neneknya juga sudah makan.

“Hukum selalu menuntut bukti dan saksi. Anak itu bersalah karena bukti dan saksi. Tapi ketika kita mengetahui motifnya, demikian membuat kita berpihak bukan?” lanjutnya, disusul tepuk tangan riuh dari para pengunjung.

Tepuk tangan bersahutan makin keras dari sebagian pengunjung, sedang lainnya mulai saling berkomentar, bukannya kasus pembunuhan karena pembelaan diri sebenarnya bisa mendapat keringanan? Bukankah pelaku masih anak-anak? Tapi toh mereka pada akhirnya turut bertepuk tangan juga. Semua terkesima dengan pola pikir yang sungguh menggugah dari ia yang jadi pusat perhatian di atas panggung itu.

Lantas di belahan zona waktu yang lain, dalam detik yang sama. Seorang pria sebaya ia tengah mencekik sang mandor. Mandor itu menolak memberikan gaji dua bulan berikutnya di awal kerja. Sedang si pria sedang terlilit hutang. Seorang lintah darat mengejarnya kemana-mana.

Hampir tiga puluh tahun lalu, mula-mula tangannya merenggut nyawa manusia, seorang lintah darat yang menyiksa neneknya. Sekeluarnya dari penjara, orang-orang menjauhi dia dan para kerabat alergi berat padanya. Pekerjaan kasar yang serabutan hanya mampu memenuhi kebutuhan makannya sehari sekali dan menahun kemudian ia mulai terlilit hutang.

Maka esok hari, ia berencana mencekik pula leher si lintah darat, tidak ada jalan lain. Toh, selama di penjara, ia akan makan lebih teratur dan bebas dari lilitan hutang. Semua bayang rencana itu, berbarengan dengan si mandor yang mulai berteriak dan para kuli juga tukang yang berdatangan. Mereka menarik paksa pria itu dan menyeretnya ke tengah tumpukan besi dan kayu yang terserak. Beramai-ramai pria itu dipukuli.

Tepuk tangan tidak kunjung usai. Sesekali terdengar juga siulan bangga dan meriah dari beberapa orang di barisan belakang. Ia menunduk rendah hati dan tersenyum setulusnya. Sedang pria itu, di belahan zona waktu yang lain tengah meringkuk dan memuntahkan darah berkali-kali. Pikirnya, jika hari itu ia mati tidak mengapa juga. Barangkali di neraka ada nanah mendidih yang mengenyangkan perut dan bisa ia minum tiga kali sehari. Setidaknya, tidak seperti hari-harinya saat ini yang makan sehari sekali saja susahnya setengah mati.

Wednesday, October 2, 2019

7 Bukti Spongebob Ternyata SJW Sejati

Selain persahabatan Spongebob dan Patrick yang tidak abadi-abadi amat, juga diwarnai pertengkaran, hingga hasad dan hasud yang begitu manusiawi, apalagi yang paling diingat dari Spongebob?

Satu waktu, Spongebob dan Patrick meminjam balon yang diambilnya diam-diam dari pedagang di festival Hari Gratis. Balon itu belum dimainkan, ketika tiba-tiba meletus. Kedua karib itu memutuskan melarikan diri keluar kota sebagai buronan, karena merasa mencuri balon. Di waktu yang lain lagi, Spongebob merasa iri setangah mati atas Patrick dan SIM barunya. SIM adalah satu hal yang bertahun-tahun gagal Spongebob gagal, sedang teman bintang lautnya itu hanya butuh sekali tes untuk mendapatkannya.

Namun ternyata, Spongebob bukan hanya menyajikan penokohan yang jauh dari hitam dan putih. Spons kuning dengan bulu mata lentik ini ternyata juga dekat dengan label Social Justice Warrior alias SJW. Bukan sekali pula, Spongebob melakukan debut dalam dunia perSJWan. Berikut tujuh bukti Spongebob yang ternyata seorang SJW sejati:

1. Squid on Strike


Sumber: Gugel

Squidward menemukan ketidakadilan dari pengurangan gaji yang sepihak dilakukan Tuan Krab, bosnya. Ia pun memutuskan untuk melakukan mogok kerja bersama Spongebob, satu-satunya rekan di restoran tempatnya bekerja, Krusty Krab.

Pada mulanya, Spongebob tidak begitu memahami usaha-usaha rekan kasirnya itu dalam demo buruh. Bahkan, ia sempat salah menulis ‘Krusty Krab Funfair’ bukannya ‘Krusty Krab Unfair’ dalam papan tuntutan, menjadikan restoran burger nomor satu di Bikini Buttom itu justru ramai pengunjung.

Namun, Tuan Krab yang akhirnya menyerah justru menemui Squidward di tengah malam. Kepiting paruh baya itu ternyata coba mempekerjakan para remaja yang diperkirakan dapat digaji lebih murah, namun mereka justru merusak seluruh restoran. Lelaki yang memiliki hobi berendam dalam kolam berisi uang itu, akhirnya bernegosiasi perihal gaji bersama Squidward.

Di lain tempat, pidato heroik Squidward menyoal penderitaan buruh mulai meresap dalam diri Spogebob. Si celana kotak mulai berubah menjadi aktivis buruh sejati dan sayangnya, mengartikan seluruh pidato tetangga guritanya itu secara harfiah. Spongebob keluar rumah membawa gergaji dan menginterpertasikan kata ‘tirani runtuh’ dengan cara menghancurkan seluruh Krusty Krab. 

2. Pets or Pet


Sumber: Gugel

Pertemuannya dengan seekor cacing alias anjing terlantar, membuat Spongebob menampungnya sementara waktu di rumah nanas miliknya. Cacing yang tenyata tidak rukun dengan Garry, siput peliharaan Spongebob itu kemudian melahirkan dan pergi dari rumah setelah bertengkar dengan siput berkubah merah muda itu.

Spongebob sebagai seorang pecinta binatang berkeliling ke seluruh kota, mencoba mencarikan rumah bagi anak-anak cacing yang gemar buang air sembarangan itu. Semua orang menolak keberadaan cacing-cacing itu, namun Spongebob tidak menyerah dan terus membawa mereka kemana-mana. Hingga kemudian seorang tukang sampah mengenali cacing-cacing itu sebagai jenis langka dan tuan Krab mengambil kesempatan untuk menjualnya. Spongebob mendapat kebahagiaan, tuan Krab mendapat uang dan para cacing mendapat rumah baru.

3. He is Flying


Sumber: Gugel

Sebagai seorang spons, terbang adalah hal yang mustahil. Meski melalui tertawaan dan olokan seluruh kota, Spongebob akhirnya menemukan celana gembung yang mampu membuatnya terbang. Mimpinya terbang bersama ubur-ubur ternyata tertunda karena si celana kotak itu ternyata mengutamakan permintaan tolong seluruh waga kota. Spongebob memulai aktivitas pekerja sosialnya dengan mengerjakan PR anak-anak hingga membersihkan atap garasi Tuan Krab. 

Lama kelamaan, aktivitas sosial merebut kehidupan pribadi Spongebob. Ia bahkan mesti menunda cita-citanya terbang bersama ubur-ubur hingga masalah besar membuat celana terbangnya mengempis.

4. Jelly Patty 


Sumber: Gugel

Selai ubur-ubur menjadi isi tambahan yang Spongebob oleskan pada Krabby Patty makan siangnya. Didorong rasa penasaran, seorang pelanggan meminta Spongebob mengoleskan selai ubur-ubur pada Krabby Patty miliknya juga. Pelanggan yang merasa cocok itu mengumumkan rasa luar biasa yang ia dapat dari Krabby Patty dan selai ubur-ubur kepada pelanggan lainnya.

Melihat antusiasme pelanggan, Tuan Krab menangkap semua ubur-ubur di ladang dan memerah selai yang mereka hasilkan. Spongebob menjelma sebagai pembela hak para ubur-ubur alias lebah dari kerusakan ekosistem, setelah seekor ubur-ubur biru memberitahukan eksploitasi terselubung Tuan Krab.

5. Krabs VS Plankton


Sumber: Gugel

Bukan hanya sebagai aktivis buruh, pekerja sosial dan pecinta binatang, Spongebob ternyata juga mampu menjadi seorang pengacara. Terbukti ketika ia menggantikan posisi pengacara Tuan Krab dalam sidang melawan Plankton.

Plankton mengaku mengalami luka parah karena Tuan Krab yang terlalu pelit memberi tanda lantai basah di Krusty Krab. Spongebob dengan penuh semangat berusaha membuka koper yang telah dipersiapkan pengacara asli Tuan Krab untuk mengungkap keadilan.

6. Snail Man


Sumber: Gugel

Berawal dari pertemuannya dengan siput alias kucing terlantar, spons kuning bergigi kelinci itu mulai menampung begitu banyak siput selain peliharaannya sendiri, Garry. Obsesinya sebagai pecinta dan penyelamat siput, juga membuatnya dijuluki ‘snail man’.

Pada akhirnya, Spongebob tidak rela melepas satu pun siput yang telah ia selamatkan. Bahkan, orang-orang mulai membuang siput di sekitar rumah nanas Spongebob. Gangguan mental karena merawat terlalu banyak siput juga mulai menggerogoti Spongebob, namun ia tetap tidak ingin melepas semua siput itu. Kehidupan pribadinya mulai terenggut dengan banyaknya siput yang ternyata tidak bisa ia tangani seorang diri.

7. Shelly Super Highway


Sumber: Gugel

Tuan Krab bersorak mendengar akan dibangunnya jalan raya Super Shelly. Dalam pikirannya, Krusty Krab akan lebih ramai apabila dilintasi jalan raya. Namun ternyata, jalan raya yang juga akan melintasi ladang ubur-ubur itu, bukannya melintas di depan Krusty Krab namun justru melintas di atas Krusty Krab.

Keberadaan jalan raya dirayakan besar-besaran oleh seluruh Bikini Buttom. Perayaan itu berbarengan dengan rusaknya ladang ubur-ubur dan kemarahan mereka terhadap seluruh warga kota. Kerusakan yang terjadi di dalam kota, membuat warga Bikini Buttom menyadari langkah Spongebob dan Patrick sebagai aktivis lingkungan selama itu tidak salah.

Jika sebelumnya, Spongebob dan Patrick berjuang berdua saja demi menyuarakan jalan raya super yang ternyata merusak ekosistem. Bermain musik hingga menyebar pamflet bertema kerusakan lingkungan, kedua sahabat itu lakukan berdua saja. Mereka berdua bahkan, sempat ditangkap oleh polisi dan dibuang ke pinggir kota karena dianggap melawan pemerintah.

Sebegini panjang ternyata perjuangan Spongebob sebagai SJW sejati. Perjuangannya tidak melulu lancar juga. Kadang-kadang akhir cerita selalu dimenangkan tuan Krab dengan ide-ide bisnisnya kadang juga kehidupan pribadi dan kesehatan mental Spongebob terenggut akibat caranya menjadi SJW jauh dari seimbang.  Meski demikian, kamu ingin jadi SJW nomor berapa?

Sunday, September 15, 2019

Perjalanan Air Suci

Sumber: Gugel

Sang bikkhuni tersenyum adem melihatnya keluar dari dalam keran. Seorang pengunjung memasukkan ia berserta teman-temannya ke dalam botol. Lantas buru-buru si pengunjung meneguk air dalam botol itu.

“Ini sudah jalanmu...” bisik sang bikkhuni sebelum ia benar-benar hilang dalam kerongkongan si pengunjung.

Sebelum tiba di tempat itu, ia mengalami perjalanan bawah tanah yang sangat panjang dan gelap gulita. Hingga kemudian masuk dalam pipa-pipa dan mendengar doa saban hari dipanjatkan para bikkhu dan umat di dalam vihara. Demikian membuat kristal dalam tubuhnya semakin benderang. Ia melihat teman-temannya mengalir menuju keran dan botol-botol kemudian. Seorang bikkhu mengatakan, mereka para air memiliki tugas terhormat, menyembuhkan makhluk hidup. Maka sungguh dinantinya masa-masa untuk bebas dari antrean dan meluncur keluar keran.

Hari itu pun tiba dan ketika pada akhirnya ia meluncur ke dalam kerongkongan si pengunjung, dilihatnya tali-tali hitam melilit sepanjang darah dan nadi perempuan itu. Ia kemudian berpendar menjadi cahaya yang kecil-kecil, meluruhkan tali-tali itu dengan menabrakkan diri.

Sebentar kemudian, si pengunjung muntah hebat dan sang bikkhuni berkata,”Nggak apa-apa, Mbak. Itu penyakitnya keluar. Air sucinya gratis dan boleh diambil siapa saja kok. Kalau butuh, mbaknya boleh ambil lagi.”

Sunday, September 1, 2019

Seni Memaklumi

Hasna terang-terangan menunjukkan rasa penasarannya terhadap cerpen-cerpen tulisan teman kami yang kebanyakan soal keperawanan. Dalam pernyataannya itu, ia bilang penasaran apa si penulis juga mengalami hal serupa. Intinya, dia ingin tahu teman penulis itu sudah berhubungan seks sebelum menikah atau tidak. Saya terhenyak dan merasa omongan Hasna di belakang si penulis itu tidak perlu. Cerpen ya cerpen saja, baca dan nikmati. Seperti yang dibilang si penulis dalam bedah bukunya, ia mengambil inspirasi dari mana saja. Termasuk dari seorang bapak yang membawa putri kecilnya ke warung kopi tengah malam. Ia pula mengembangkannya jadi cerpen. Bukan berarti, si penulis pernah pergi tengah malam ke warung kopi dengan bapaknya, bukan? Dan lagi, Hasna dengan getol menunjukkan foto-foto lama si penulis di facebook yang berkulit sawo matang. Hasna bilang,”Dia itu suntik putih loh. Dulu dia nggak stylish kayak sekarang. Pokoknya, setelah putus sama cowoknya yang satu itu, dia jadi ubah penampilan habis-habisan.”

Namun belakangan, teman saya yang lain, Savina, bercerita bagaimana teman-teman lelaki di lingkaran Hasna membicarakannya. Savina bilang, sudah banyak yang tahu bahwa Hasna dan pacarnya telah berhubungan seks dan lagi, relasi mereka terbuka. Artinya, Hasna membolehkan pacarnya berhubungan dengan orang lain dan sebaliknya ia. Meski ternyata, Savina yang menceritakan semua tentang Hasna kepada saya itu, juga berhubungan jauh dengan para lelaki. Belakangan banyak saksi-saksi yang dapat dipercaya, menceritakan soal Savina. Bermesraan dengan laki-laki, bisa dilakukannya di depan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya, tidak peduli orang-orang ini nyaman atau tidak. Saksi-saksi ini juga berkata, bahwa Savina sesungguhnya takut kalah pamor dengan Hasna yang mulai mendapat porsi dari panggung ke panggung. Memang secara fisik, kedua orang ini standar industri juga, selain pandai mengolah kata. Malah pernah Savina bilang kepada saya,”Tahu nggak? Hasna itu nggak pintar. Hanya jago retorika saja sih.”

Savina bahkan, mengomentari cara berbaju seorang teman perempuan yang dikenal cerdas dan berpenampilan menarik. Caranya berkomentar yang berbau nilai moral, membuat saya bertanya pada teman-teman yang lain begini,”Menurutku, baju si anu itu biasa saja sih. Sopan-sopan saja tuh. Menurutmu memangnya bagaimana?” dan teman-teman lain sepakat bahwa pakaian si anu yang dikomentari Savina memang tidak bermasalah. Rok di bawah lutut dan memperlihatkan bahu sesekali, si anu itu tidak sedang merugikan siapa-siapa. Meski saya sempat bepikir, masa iya yang nggak bermoral itu aku?

Bagaimana Savina membahas moralitas orang lain, memang agaknya kontradiktif dengan sikapnya yang berani berkontak fisik dengan lawan jenis, di depan orang-orang yang tidak berkepentingan. Orang-orang ini tidak nyaman dan hanya bisa menyatakannya di belakang Savina. Namun menegurnya serba salah juga. Bisa jadi Savina akan bilang, kok kamu sok moralis gitu ya? Atau dia akan mendebat dengan ratusan buku yang pernah dibacanya. Bahkan berkat komentar-komentarnya terhadap pakaian si anu itu, salah teman seorang perempuan di lingkaran kami jadi menjauhi si anu dan mulai memandang dengan standar Savina yang ‘bermoral’ tadi. Padahal, si teman ini pada mulanya begitu dekat secara personal dengan si anu.

Dan si teman ini mengatakan, Savina itu keluarganya otoriter. Lantas saya bertanya, apa orang kayak dia emang nggak berhak mendapat cinta ya? Dan seorang teman tadi mengatakan, sebenarnya, dia sangat layak dicintai. Tapi dia menolak itu semua.

Sebelum disingkirkan oleh Savina dari begitu banyak lingkaran, Hasna terlebih dahulu menyingkirkan Rara. Mula-mula mereka berkomunitas di tempat yang sama, namun karena kepintaran dan pengalaman, orang-orang pada akhirnya lebih memberi ruang kepada Rara. Dan lagi, Rara ini standar industri pula pola komunikasinya mudah diingat orang. Popularitasnya lama-lama melejit melebihi Hasna yang pada mulanya mengenalkan ia pada bidang dan komunitas yang hingga kini ditekuninya. Rara kerap ditinggalkan ketika mereka menjadi rombongan pergi ke suatu tempat yang berkaitan dengan bidang yang ditekuni. Ya, terlalu banyak hal yang menjagal Rara dan merupakan upakara dari Hasna. Berlembar-lembar barangkali jika ditulis di sini.

Rara sendiri merupakan produk perceraian keluarga. Ia sempat melihat ayahnya yang tidak setia dan hidupnya jadi luka. Luka itu juga diakuinya memang ada. Serupa Rara, teman lain yang namanya Dian juga menyaksikan ketidaksetiaan ayahnya. Bedanya, keluarga Dian tidak bercerai. Namun jalan yang diambil Rara dan juga Dian ternyata berbeda.

Satu waktu, Dian mendekati Vivi yang punya banyak kenalan di komunitas. Vivi tidak melulu tampil di panggung, namun sangat mudah menjalin hubungan personal dengan orang banyak. Hari-hari Dian terus memepet Vivi dan melalui itu, ia jadi mengenal banyak orang beken di komunitas. Setelah tujuannya tercapai, Vivi yang telah menganggapnya seperti saudara pada akhirnya dibuang. Vivi sangat luka, tapi dia bilang, luka itu memang sakit kalau nggak diterima...

Dan bahkan Vivi sendiri tidak mengenal sosok ayahnya begitu lama. Ayahnya meninggal waktu dia masih sangat kecil. Hidupnya lebih banyak ditanggung sendiri. Ia luka? Ya. Bahkan pikiran bunuh diri kali pertama melintas di hidupnya ketika Sekolah Dasar. Dan Rara mengambil jalan serupa Vivi. Ia lebih banyak melakukan hubungan personal kepada banyak orang, bukannya mencari fungsi terlebih dahulu apalagi hubungan untung dan rugi. Meski Rara bilang, kadang aku kangen sama Hasna. Aku merasa dekat secara personal sama dia. Dan saya menanggapi, tapi maaf sih. Sayangmu ke dia sejak awal sebenarnya bertepuk sebelah tangan.

Lebih lanjut, Rara yang juga mengenal Dian, bercerita kepada saya bahwa perempuan itu berlaku kurang menyenangkan terhadap rekannya satu komunitas. Rekannya ini tidak disapa dan digubris ketika mengobrol dengan Dian. Saya sendiri, ketika awalnya dikenalkan oleh Vivi kepadanya, juga tidak digubris. Baru ketika teman-teman sering membagikan tulisan saya dan bertepuk tangan bersama, Dian menjelma teman lawas yang super perhatian dan manis kepada saya. Belakangan, saya mengamini ucapan Vivi soal Dian yang hanya mau berkenalan dengan orang-orang yang punya ‘sesuatu'.

Kita tentu tidak pernah tahu, detail apa saja yang sungguh dialami teman-teman yang saya sebut di atas. Namun apa yang mereka lakukan, sesungguhnya adalah upaya bertahan hidup. Kita tidak berhak menilai siapa yang lebih berat masalahnya atau siapa yang daya tahannya lebih kuat. Namun ya, tidak semua orang menyadari dirinya luka dan tidak semua orang juga perlu kita kejar untuk bantu disembuhkan.

Bagaimana Hasna dan Savina mengorek hidup orang lain dan mencari-cari kekurangannya, padahal mereka kabarnya melakukan hal yang lebih jauh dari orang yang dikorek-korek. Juga keluarga otoriter Savina yang rupa-rupanya membikinnya tidak punya peran dalam keluarga dan haus pengakuan di luar sana. Hingga bagaimana Dian hanya mau berteman dengan orang-orang yang dianggapnya punya sesuatu. Sesungguhnya, semua ini  juga adalah bentuk luka. Luka yang semoga saja diam-diam mereka akui kini atau kelak.

Pernah membaca tulisan saya yang judulnya Pernah Alami Body Shaming Sesama Perempuan? Mari Bercerita? Nah, teman yang saya ceritakan itu mengaku ia memang luka, setelah kami berdikusi soal tulisan tersebut. Ia kemudian menyadari dan memutuskan berhenti melukai orang lain juga. Body shaming yang ia lakukan, nyatanya adalah bentuk pertahanan diri atas krisis terhadap persepsi tubuhnya sendiri. Tipe yang begini, memang bisa diajak bergandengan tangan dan jalan bersama. Tapi toh yang saya hadapi bukan hanya dia. Pernah saya memiliki seorang teman lain yang sejak mahasiswa baru, kami sudah bersama. IQnya jauh di atas saya, pun nilai-nilai akademisnya. Selama bersamanya, saya kerap dilukai tapi tidak bisa membuktikannya langsung. Bahkan dia bisa memanipulasi untuk saya merasa bersalah sendiri dan tidak mendiskusikan apa yang dia lakukan. Hari-harinya selalu bertutur lembut dan perhatian terhadap saya. Ia juga pendengar yang begitu baik.

Si mantan teman ini ternyata punya masalah aktualisasi diri. Dia ingin punya panggung seperti semua orang. Toh, persoalan aktualisasi diri pula dialami saya. Namun ketika itu, saya yang masih juga dalam masa pencarian tidak begitu jelas menyadari kegelisahan si teman ini. Ketika saya mencari ruang aktualisasi sendiri, dia malah kebingungan bahkan hingga lulus. Pernah semasa kuliah, dia melihat teman kami yang mengikuti lomba-lomba karya tulis ilmiah, dia bergabung dan menang, tentu saja. Dia lebih dari mampu untuk melakukan itu. Tapi bukan kesenangan yang terlihat  ia dapat, melainkan kebingungan lain. Sebaliknya, si teman yang jagoan lomba tadi sangat mengenal siapa dirinya dan tegas mengambil jalur lomba untuk aktualisasi diri. Dia melakukannya hingga lulus dan banyak orang mengakui keberadaannya.

Ketika saya mendapat banyak sekali hubungan personal dari teman, senior dan dosen yang si mantan teman ini kagumi, ia merasa menginginkannya juga ternyata. Tapi selain kecerdasan logic dan bahasanya yang sangat bagus, intrapersonal dan interpersonalnya tidak begitu baik. Kami bahkan pernah tes bersama dan dia yang menyodorkan angketnya kepada saya. Dan dari cerita dia selama kami bareng, dia ini sangat menonjol di bidang akademis selama sekolah dan semua memerhatikannya karena itu. Tapi modal akademis serupa, tidak membuatnya mudah diingat orang-orang yang dia kagumi di kampus ternyata. Jadi bagaimana rasanya, ketika sudah mengikuti jejak prestasi si teman yang jago lomba tadi, namun hubungan personal tetap saya yang dapat? Saya yang secara akademis ada di bawahnya. Dosen statistik yang ia kagumi dan hormati misalnya, bahkan tidak meluluskan saya. Sering juga saya mendapat nilai jelek di mata kuliah satu ini. Tapi bagaimana rasanya? Ketika dosen senior tadi malah sangat akrab dengan saya dan tidak ingat sama sekali dengan si mantan teman ini, meski ia kerap mendapat nilai 100. 

Hingga kami lulus, dia terus memanipulasi untuk melukai. Terakhir soal pernikahannya. Di mana saya sengaja tidak diundang, tapi dibuat merasa bersalah karena dia bilang pada semua orang bahwa diundangnya saya ini. Bahkan dari orang-orang, saya baru tahu dari soal pernikahannya, berikut pengakuan telah mengundang. Dan setelah memutuskan memblokir saja semua sosial medianya, karena ketika coba membicarakan ini dia malah gaslighting dan membuat saya kembali meragukan diri. Saya masih berpikir-pikir, harusnya mungkin ketika memergokinya membicarakan saya di belakang panggung dengan salah seorang teman setelah operet kelas, seketika itu juga kami membahas semuanya dan menyelesaikannya di tempat. 

Bagaimana ketika semua orang bersorak bersama atas keberhasilan sekaligus kecacatan operet kelas itu, ia yang orang dekat justru tidak turut bergabung? Ya, saya yang membikin naskah dan mengedit audionya. Tapi semua hasil kerja bersama. Keberhasilannya pun punya sifat kolektif, makanya semua turut bersorak. Apa jika dari dulu saya berinisiatif membahas hal demikian kepada si mantan teman ini, hubungan kami tidak akan seburuk sekarang dan ia bisa diajak mengorek lukanya sendiri? Tapi baru ketika makin mantap memutuskan hubungan. Saya sadar, bukan nilai juara dari operet itu yang diinginkannya. Ia betul-betul hanya menginginkan sorakan dan pelukan personal dari teman sekitar. Menjadi paling pintar dan juara sudah ia miliki semua tanpa belajar keras. Namun hubungan personal...

Saya sendiri sesungguhnya juga orang yang luka. Pola pengasuhan yang saya dapat begitu buruk. Sangat buruk hingga saya berpikiran ingin mati di usia sembilan tahun. Orang-orang pikir, saya ceria dan hidup sempurna. Tapi Desi teman saya yang psikolog itu, mengungkap semua ini ketika kami melakukan sesi. Jadi mau bagaimana jika saya tidak mengakuinya? Bahkan saya tidak tahu, apa saya pernah melukaimu atau tidak. Dan segala hubungan personal yang saya jalin, adalah upaya menutup luka tadi. Saya bertahan hidup dengan cara demikian. Semasa sekolah pun, saya dibully teman dan dicap bodoh oleh para guru. Sebelum masuk SMK, saya hampir tidak memiliki teman bahkan.

Namun seperti kutipan status facebook penulis yang pernah dihujat karena melakukan plagiat, hanya orang luka yang melukai orang lain. Eh, tapi tunggu, bagaimana dengan Vivi dan Rara? Maka diralat saja jadi begini; hanya orang yang tidak menerima lukanya, akan pula melukai orang lain.

Catatan: judul diambil dari ucapan seorang teman,”Sejak aku kenal Savina, kemampuanku memaklumi orang jadi hilang.”

Catatan: Seluruh nama tokoh telah disamarkan

Monday, August 19, 2019

Dua Kepala

Sumber: Gugel

Mereka berdua sesungguhnya mirip…

Ia yang hangat dan jauh dari kata defensif. Habis-habisan menebar cerita personal demi menarik orang banyak mendekat dan menyayangi. Sebaliknya dia, yang jauh dari kata hangat dan begitu defensif. Cerita-cerita personal dia jauhkan dari orang banyak, demi membuat mereka mendekat dan penasaran.

Ajaibnya, kedua lelaki ini justru saling menjauh. Ah, tidak begitu juga sih. Ia ingin berteman dengan dia. Ditebarnya cerita-cerita personal kepada dia tapi… bagi dia, cerita personal justru adalah jebakan. Jebakan atas apa yang dirinya jaga menjadi menarik di mata orang-orang.

Maka satu waktu, ia dan dia memasukkan saya dalam lingkarannya masing-masing. Dalam lingkarannya, semua sudah tahu bagaimana cerita-cerita personal ia dan bahkan yang paling rahasia sekalipun. Sebaliknya dia, yang menarik pesona dalam lingkarannya melalui cerita-cerita personal yang disimpan rapat. Dan saya menyaru di antara lingkaran keduanya, sebagai yang menyayangi dan sebagai yang penasaran.

“Saya yang salah. Saya nggak layak dicintai. Saya hina dan nggak suci...” ucap ia, selalu.

“Salah saya apa sih? Semua orang cinta dan ingin dekat-dekat saya tuh…” ucap dia, selalu.

Ia mendorong saya habis-habisan supaya masuk dalam lingkarannya, ramuannya adalah berterus terang. Dibiarkannya semua tahu, bahwa saya masuk dalam lingkaran itu atas campur tangannya. Sedang dia, memantik saya sedikit demi sedikit supaya mendekat dengan lingkarannya. Hal demikian membuat saya seolah mendekat dengan sendirinya, tanpa campur tangannya. Ramuan dia adalah bikin penasaran.

Melalui kerendahan hati, ia berkata-kata. Melalui kecongkakan, dia berkata-kata. Dan sesungguhnya, kerendahan hati dan kecongkakan adalah bukan diri mereka sesungguhnya. Dua hal ini sebenarnya adalah upaya mereka berdua bertahan hidup.

Apa yang sesungguhnya ia dan dia cari? Pengingkaran atas keraguan pada diri masing-masing adalah jawaban paling benderang…

Saturday, August 3, 2019

Sri Eka Fidianingsih dan Bagaimana Caranya Balas Dendam Pada Si Culas

Sumber: Efbenya Sri

Desas-desus soal Anya yang hamil di luar nikah, sebenarnya sudah berhembus kemana-mana. Sri yang hidup satu panti semenjak kelas dua hingga sebelas dengan Anya, jadi bulan-bulanan anak-anak di SMK yang memertanyakan lenyapnya teman satu pantinya itu dari sekolah, sebelum PSG* selesai. 

Saya melihat segala hiruk pikuk dari kejauhan dan bahkan, salah seorang teman satu PSGnya, pernah terang-terangan bercerita bahwa gadis berkulit coklat itu kerap membolos di tempat PSG dan menghilang ketika hendak ujian. Desas-desus lain mengatakan, ia berhubungan dengan anak-anak yang tampilannya mendaku punk. Entah mana yang benar, saya sejujurnya tidak begitu peduli. Karena yang menarik, justru sikapnya Sri yang bungkam dan bungkam. Padahal, Anya terkenal picik dan gemar memerlakukan Sri buruk selama hidup di panti dan bersekolah di tempat yang selalu sama.

Sri menjadi murid pindahan di tahun ajaran baru kelas dua. Desi yang baru pindah ketika kenaikan kelas tiga, mengenang Sri sebagai satu-satunya anak panti yang berani membela haknya. Meski Sri ternyata mengenang masa SD sebagai yang terburuk. Sebabnya, di SD kami dahulu terdapat kesenjangan antar siswa yang menyesakkan. Terjadinya antar anak perempuan. Ada golongan anak panti dan non panti, yang non panti ini masih dibagi lagi jadi golongan anak pintar, kaya atau bahkan tidak memiliki keduanya. Saya ingat, bagaimana anak panti selalu merasa inferior, bahkan ketika memilih bangku. Ketika ada anak non panti merampasnya, mereka akan menyerahkan bangku itu begitu saja. Desi mengenang Sri sebagai satu-satunya anak panti, yang berani mengatakan bahwa bangku itu dia dulu yang mengambilnya, jadi dia yang berhak.

Tapi Anya beda soal lagi. Ia sebenarnya anak yang potensi akademisnya bagus. Hanya saja nilainya baru meningkat ketika kelas lima atau enam, ketika dia mulai mengerti cara belajar. Maklum saja, di panti pendampingan belajarnya tidak begitu intens. Anya ini ibunya bekerja sebagai TKW dan ia kerap bercerita bagaimana ibunya diperlakukan buruk selagi di PT. Ibunya hampir setiap hari hanya makan nasi dan kubis mentah. Sri maupun Anya sesungguhnya sama merasa inferior atas statusnya sebagai anak panti. Mereka sama-sama dari kalangan tidak berpunya, apalagi Sri yang enam bersaudara kala itu dan gigi majunya kerap jadi ejekan anak-anak di sekolah.

Cara Anya dan Sri bertahan hidup sangat berbeda. Anya memilih menempeli saya kemana-mana. Meski bukan dari kalangan berada, prestasi akademik yang sangat baik ketika kelas satu hingga tiga, membuat keberadaan saya diakui. Dan lagi, saya tidak begitu suka bergaul dengan anak non panti kecuali Desi, Nadiya dan Icha. Saya memahami, hubungan dengan Anya sangat beracun. Tapi waktu itu, saya masih terlalu kecil untuk belajar tegas menolak orang apalagi jika asalnya dari panti. Anya kerap memerlakukan saya buruk, mendiamkan tanpa ada salah dan berlaku culas. Dia tidak begitu mau menempeli saya, ketika selesai bulan puasa biasanya. Di bulan itu, anak-anak panti bisa dipastikan memegang banyak sekali uang dari undangan buka puasa. Di saat demikian, Anya berubah jadi sangat percaya diri dan seperti tidak membutuhkan saya sebagai tameng.

Selain saya, tidak ada anak non panti yang cukup diakui dan mau merespon pertemanan Anya. Itu sebabnya, hingga lulus pun, dia menempeli saya terus, meski ketika kelas empat hingga enam, akademis saya menurun dan tidak lagi mendapat pengakuan. Sudah tidak kaya, tidak pintar lagi. Teman-teman semacam Laura yang mulanya berambisi mendekati pun, jelas-jelas menjauh.

Di balik ketidakberdayaan menghadapi Anya yang terus menempel sekaligus melukai, saya sebenarnya juga menjalin pertemanan dengan anak non panti yang namanya Yuni. Dia baru pindah ketika kelas empat dan dari kalangan keluarga lumayan berada, meski akademisnya tidak menonjol. Yuni tidak pernah melukai dan perasaan inferiornya soal akademis, juga hobi nonton anime, justru menyatukan kami. Dan lagi, Yuni merespon pertemanan semua anak panti dengan sangat hangat. Kami bahkan sering main bersama di rumah gadis yang tingginya sekuping saya itu dan menamai ikan-ikan peliharaannya satu per satu. Tapi Anya, tentu saja sangat tidak menyukai Yuni. Apalagi ketika saya mulai bisa lepas darinya dan lebih sering bersama Yuni. 

Satu waktu, dengan drama yang tentu berlebihan, Anya menyampaikan pesan kepada beberapa anak perempuan (non panti dan kami tidak akrab sama sekali), bahwa saya disuruh memilih dia atau Yuni. Teman-teman menyampaikan bahwa Anya terlihat sangat sedih karena ditinggalkan dan celakanya, saya bilang lebih memilih Anya. Jadilah saya kembali terjebak pertemanan beracun dengannya. Hari-hari dipenuhi lagi dengan omongannya yang pedas tanpa sebab, obrolan tidak nyambung dan banyak hal lainnya.

Paham saya, Anya sesungguhnya ingin sekali bergaul dengan anak non panti lainnya. Hanya saja, dia tidak diakui karena tidak berduit dan akademisnya tidak menonjol. Hal ini terlihat dari bahagia berlebihannya ketika salah seorang anak paling pintar dan cantik di kelas, mulai perhatian waktu akademisnya meningkat di kelas enam dan bahkan dia sampai diutus mengikuti lomba pidato. Si populer yang memerhatikannya itu kerap mengajaknya bicara dan memberinya beberapa lembar kertas binder yang apik. Anya sering sekali menghampiri bangku saya dan berkata,”Lihat, anak itu (si populer) suka sama aku loh (mau jadi temanku).”

Mengatasi perasaan inferior memang tidak mudah, apalagi bagi anak-anak. Saya yang sekarang memahami juga, semuanya yang terlibat dalam kesenjangan di sekolah kami dulu sesungguhnya adalah korban dari pemikiran orang dewasa. Misal Laura, didoktrin ibunya untuk hanya berteman dengan anak yang ekonominya setara atau yang akademisnya bagus.

Perasaan inferior ini pula, yang membuat kami bertahan dengan cara masing-masing. Meski sempat memiliki nilai akademis sangat baik dan diakui, saya tetap merasa senasib dengan para anak panti sejak semula. Pertemanan dengan Desi pun, bermula dari perasaan inferior yang terpancar darinya sebagai anak baru di sekolah. Merasa sama dan bisa bertahan bersama, membuat saya lebih pilih merapat pada mereka yang tersisih. Diam-diam, saya sebenarnya tetap sering bermain bersama Yuni di luar jam sekolah. 

Tapi Anya lagi-lagi beda soal. Desi, ketika kami bertemu lagi semasa berkuliah, mengatakan bahwa Anya sebenarnya banyak menjual cerita soal saya dan teman-temannya di panti kepada Laura dan jajaran anak populer lainnya. Anya pernah cerita pada mereka, bahwa saya sangat kasar kepada ibu. Padahal, saya bahkan tidak nyaman berbicara tentang keluarga dengannya hingga lulus dan lagi, cerita darinya itu memang tidak pernah terjadi. Jadi, sikap berbagi makanan dan apa saja yang saya miliki waktu itu, menyentuh hati Sri dan anak-anak panti lainnya, tapi tidak dengan Anya. Namun sekali lagi, dia sebenarnya pun hanya korban dan berusaha bertahan hidup dengan mencari pengakuan dari kalangan anak populer bersama cerita karangannya.

Bahkan ketika masuk di SMK dengan jurusan yang sama, Anya seperti tidak mengenal saya sama sekali. Tidak ada bekas pernah dekat. Dia berhasil masuk grup anak populer di kelasnya karena akademis yang sangat baik. Kami beda kelas, pun dengan Sri. Namun saya dan Sri malah leluasa jadi lebih dekat, tanpa kehadiran Anya. Di SMK, ada banyak anak yang berasal dari keluarga menengah bawah dan di masa itu, Sri mendapat sangat banyak teman dan memiliki kenangan indah. Dengan teman-teman satu geng Sri di kelas pun, saya kenal sangat baik seperti Sofi dan Uus. Kedua anak ini memiliki latar belakang kehidupan yang sama-sama keras pula. Sofi yang akrab dengan pertengkaran antar keluarga dan berjualan roti keliling sekolah. Kemudian Uus, yang pernah hampir dijual menjadi TKW ilegal oleh bapaknya sendiri.

Ketika akhirnya Anya dikeluarkan dari panti sekaligus sekolah, Sri memilih tetap bungkam soal kasus sebenarnya dari gadis licik itu. Padahal, sebagai orang yang makan dan tidur dalam satu lembaga selama bertahun-tahun, mustahil Sri tidak tahu. Pikir saya pun, kasus Anya apabila memang benar, justru adalah peluang Sri membalas segala kejahatannya. Tapi gadis berkulit putih itu sama sekali tidak mengambil kesempatan. Justru, tidak jauh setelah pengumuman kelulusan, Anya tiba-tiba menghubungi saya. Dia memohon agar ijazah saya bisa dia pinjam untuk ‘ditembak', agar dia bisa cari pekerjaan katanya. Agaknya, ia sedang sangat kepepet. Tentu saya menolak. Selain berisiko memberikan ijazah asli pada orang lain, saya tidak berminat menolong teman yang bahkan pura-pura tidak kenal semasa SMK, hanya karena tidak lagi butuh ‘tumpangan'. Bagi saya, masih ada solusi lain untuk permasalahan Anya, tanpa mesti terlibat jauh. Ikut ujian paket C misalnya, seperti salah seorang teman sekelas yang keluar dari sekolah, jelang ujian nasional. Ya, meski mengikuti paket C butuh waktu dan barangkali tidak sesuai dengan desakan kebutuhan Anya.  

Saya kemudian tanya pada gadis bermata bulat itu, apa teman geng populernya semasa SMK tidak ada yang mau meminjamkan ijazah? Kemudian Anya menyebut beberapa nama teman lamanya satu geng, yang mengaku masih menunggak uang gedung sehingga tidak bisa mengambil ijazah. Padahal, saya tahu teman-temannya tadi sudah mengambil ijazah. Semasa SMK, saya cukup dekat dengan para guru dan kantor, jadi saya tahu permasalahan anak-anak hingga menyoal ijazah. Saya memahami, teman-teman satu geng Anya berbohong karena tidak mau risiko ijazah hilang atau terlibat hal ilegal.

Tapi Sri lain lagi. Saya kaget ketika dia cerita Anya meminjam ijazah darinya untuk ‘ditembak'. Saya terang-terangan bilang sudah menolak permintaan Anya, karena bahkan dia baru ingat menyapa lagi ketika butuh dan juga, terlibat pembuatan ijazah ilegal sangat berisiko. Buat apa saya mengambil risiko untuk seseorang yang bukan teman?

Namun ternyata, Sri malah mau meminjamkan ijazahnya dengan ucapan ringan,”Kasihan. Dia biar bisa cari kerja.” Dan ternyata, Anya bisa menjadi TKW hingga saat ini adalah berkat ijazah yang ‘ditembak’ itu. Diam-diam saya mengagumi Sri habis-habisan. Bagaimana gadis yang nampak jago mengumpat ketika membela diri sejak SD dan tidak pernah takut meski lawannya laki-laki itu, ternyata berhati halus. Bahkan ia, jauh lebih halus dari saya yang berpenampilan kalem.

Ketika 2018 lalu saya bilang, tidak ingin lagi berhubungan dengan Anya selamanya, Sri justru ngotot bahwa teman kami itu sudah bertaubat dan beda dari dulu. Meski ya, saya tetap pada keyakinan bahwa setiap manusia, tidak semudah itu untuk berubah. Apalagi Anya, terakhir saya melihat instagramnya, justru gemar bergoyang dengan gaya menggoda. Saya sangat bisa membedakan seni, senam dan semacamnya. Tapi gerakan Anya bukannya menikmati musik atau menari, namun justru gerakan menyedihkan yang malah dikomentari menjijikkan oleh lawan jenis.

Jadi, bagaimana Sri justru memilih membantu penyiksanya? Hingga akhir jaman sekalipun, saya agaknya tidak akan pernah menemukan yang namanya teori kelembutan hati. Sri telah membalas kebencian, dengan cinta yang tanpa dalil. Dia meyakini, semua orang berhak memiliki kesempatan. Diam-diam saya mengamini pendapat Uus, soal Sri yang memiliki jiwa penyayang. Dan bukankah menjadi lembut seperti Sri di antara kehidupannya sendiri yang selalu keras, adalah daya tahan luar biasa?

*PSG Pendidikan Sistem Ganda a.k.a praktik kerja di SMK