Ibu saya yang seorang guru beberapa waktu lalu bercerita, soal kebijakan baru dari menteri pendidikan. Ujian bagi para siswa akan dibuat dengan soal analisa. Dapat kah diubah sedemikian singkat? Sedang dosen di perguruan tinggi saja tidak semuanya memberi soal analisa kepada mahasiswa. Ibu lantas menyebut beberapa nama teman saya semasa SMP yang mendapat label pintar dan dikatakan ibu, andai sejak dulu saja soal ujian model analisa, beberapa nama yang disebut tadi tentu kalah prestasi dengan saya. Ya, saya memang tipe konseptor dan suka menganalisa. Sesuatu yang saya kenali justru setelah masa-masa buruk di sekolah formal: dibully guru hingga teman. Sesuatu yang belakangan juga baru dikenali ibu ketika saya dewasa dan juga disesalinya karena baru menyadari, mestinya anak seperti saya dulu dimasukkan sekolah alternatif saja.
Saat SD, saya dituduh seorang guru sebagai pemalas dan sering nama saya disebut di depan kelas. Padahal di masa itu, saya betul-betul tidak tahu cara belajar. Saya tidak tahu harus diapakan buku cetak dan LKS dari sekolah. Label demikian celakanya saya yakini hingga SMP dan prestasi akademik pun tetap buruk dan label bodoh saya dapat kemudian. Nilai saya di rapor selalu 75, batas KKM, kecuali seni budaya yang di atas rata-rata, 90. Cerita ini sering saya tulis sejak 2015 di blog dengan label cerita 'keseharian' dan 'ngoceh pendidikan'. Di blog termasuk ada latar belakang, bagaimana ibu yang mulanya mendampingi saya belajar jadi tidak mendampingi kemudian.
Iin Sulis Setyowati teman semasa SMK pernah membalas bahasan saya soal label bodoh di Twitter. Ia ternyata, pernah pula dilabel demikian sebelum masuk SMK. Meski belum mendengar cerita lengkap bagaimana label tersebut bisa disemat pada Iin, saya menduga kecerdasan Iin yang tipe eksekutor tidak terdeteksi oleh standar penilaian pada jenjang pendidikan sebelumnya.
Namun di SMK, prestasi akademik saya dan Iin bisa dibilang termasuk di atas rata-rata. Apa yang terjadi dengan kami? Menyesuaikan diri. Saya misalnya, menyadari bahwa ternyata yang dituntut sekolah formal adalah hafalan yang sesuai dengan buku atau materi yang diberikan guru. Demikian ternyata membuat nilai akademis menjadi baik dan label pintar bisa didapat. Jawab saja semua tugas dan ujian sesuai buku dan keterangan guru, maka selamatlah seorang anak dari label bodoh. Ini terlepas si anak betul-betul menghafal atau menyontek.
Pekerjaan Sosial (sekarang berubah menjadi Perawatan Sosial), nama jurusan saya dan Iin di SMK. Kami beda kelas selama tiga tahun dan Iin sempat menjadi pimpinan redaksi di estrakulikuler jurnalistik di mana saya juga mengikutinya. Jurusan ini pula yang ternyata materi-materinya sangat mewadahi anak-anak dengan tipe analisator seperti saya. Saya lebih bahagia menjalani masa sekolah di SMK, tentu saja. Ibu sendiri mengetahui bahwa saya ternyata tipe analisator, salah satunya dari bu Endang, guru di jurusan. Pada salah satu pertemuan di mana sekolah swasta dan negeri bisa bertemu satu lokasi, bu Endang menyatakan pada ibu bahwa kemampuan analisa saya beda dari sebaya, semasa SMK.
Bagaimana dengan Iin? Siapa yang tidak ingat pimpinan redaksi yang berhasil mewujudkan majalah sekolah ini? Siapa yang tidak ingat dengan rumah hantu yang pertama kali dalam sejarah sekolah digelar ketika pentas seni sekolah? Sejak SMK, kecerdasan Iin sebagai tipe eksekutor juga terlihat berbeda dengan sebaya. Ide paling sederhana sekalipun, bisa jadi apik bila Iin yang mengeksekusi. Soal rumah hantu misalnya, saya ingat pentas seni sekolah tahun itu jadi begitu ramai. Pengunjung sangat banyak dan Iin membawa teman-teman jurusan sukarela menjadi hantu dan berdandan macam-macam. Padahal, ide demikian ketika masih berupa konsep terdengar biasa saja. Namun ketika rumah hantunya betul-betul terwujud, dua ruang kelas disulap jadi jalan berbelok-belok dengan hantu-hantu yang menanti. Yang jelas, rumah hantu itu menyenangkan orang banyak kala itu.
Jelas jika disuruh mengeksekusi ide semacam Iin, saya tidak bakal tahu apa yang harus dilakukan. Saya bukan tipe eksekutor. Sebagai tipe analisator, saya barangkali lebih bisa mengenali kemampuan orang yang tersembunyi sampai sifat-sifatnya yang unik. Iin sebaliknya, ia melihat sesuatu yang tersurat. Dalam memimpin, Iin tidak ribet mencari potensi, apa yang ia lihat, itulah yang dieksekusi. Demikian membuat Iin lebih lincah bertindak. Ia pula tidak rumit dalam pertimbangan yang terlalu banyak.
Iin kemudian masuk kuliah di jurusan yang serupa dengan masa SMK, sedang saya masuk jurusan yang bisa mewadahi kenangan buruk di sekolah formal. Jurusan Iin di kampus, sangat mewadahi tipe analisator maupun eksekutor sepertinya. Bagi tipe eksekutor seperti Iin, di jurusan ini ada porsi di mana teori-teori tidak menjerat lebih dahulu sebelum bergerak. Kesejahteraan Sosial, nama jurusan itu. Sedang saya masuk jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Tipe analisator maupun eksekutor juga diwadahi di sini. Bagi tipe analisator seperti saya, ada porsi-porsi dimana buah pikiran betul dibutuhkan.
Meski sayangnya, di salah satu lingkungan Iin yang sekarang agaknya tidak mengenali tipe eksekutornya. Lingkungannya yang sekarang, menuntut Iin membaca dan mampu menganalisa. Bahkan label bodoh, didapatnya dengan mudah saat ini. Padahal, jika saja dibalik dengan saya yang diharuskan jadi tipe eksekutor misalnya, tentu saya akan terlihat bodoh. Setiap orang pasti akan bodoh jika diletakkan bukan pada porsi kecerdasannya. Ini seperti semasa SMK, saya mampu membuat artikel untuk majalah sekolah namun menggerakkan semua orang hingga majalahnya betulan jadi? Mana saya bisa. Hanya Iin yang mampu melakukannya.
Dan ya... Kebijakan sekolah formal, barangkali akan terus berubah. Seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, ganti menteri artinya ganti kebijakan. Angkatan saya saja, mengalami beda kebijakan selepas lulus SD, SMP dan SMK. Terlalu utopis apabila kita terus menerus membandingkan pendidikan di Indonesia dengan Finlandia misalnya. Terlalu utopis juga, membebankan cara mengajar sesuai karakteristik siswa, pada guru yang saban hari sudah penuh dengan beban administrasi. Lagi-lagi terlalu utopis pula, memaksa setiap orang tua mengenali sistem pendidikan selain formal karena ya... Tidak semua orang tua memiliki akses dan biaya juga.
Anak-anak mesti menyesuaikan diri dengan standar pintar yang ditetapkan sekolah formal. Tidak bisa tidak, ini wajib. Tentu mereka tetap bisa mengenali potensi diri yang lain dan mengembangkannya, meski standar pintar di sekolah formal tidak mewadahi. Misalnya seorang anak yang kinestetiknya menonjol. Pelajaran olahraga seminggu sekali tidak mungkin menampung kecerdasan kinestetiknya yang dominan. Anak bisa mengikuti ekstrakulikuler yang berkaitan dengan olahraga di sekolah atau jika orang tua punya cukup dana, anak tadi bisa ikut klub di luar sekolah. Meski masih jadi pertanyaan, bagaimana dengan sekolah yang ekstrakulikulernya tidak terurus atau orang tua yang tidak punya cukup dana buat membayar klub? Kan ada internet... Lantas bagaimana dengan anak-anak yang tidak punya akses internet?
Yang jelas sih, semua keramaian di dunia pendidikan yang tidak kunjung habis ini, bukan salahnya para pemangku kebijakan. Bukan pula salah orang tua maupun guru. Semuanya adalah salah kami, anak-anak yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan standar yang sudah ditetapkan...
Catatan:
Ditulis 2020 di status FB dengan janji mau diperhalus dan dibikin lebih rapi sebelum diunggah di blog tapi ternyata tidak terealisasi.
Iin berhasil menyelesaikan S2 di lingkungan yang memberinya cap bodoh dan menuntut analisa. Saat ini ia menjadi dosen di jurusan Kesejahteraan UMM. Sebelumnya, ia sempat pula menjadi pekerja sosial di kota Batu.


.jpeg)
.png)
