Friday, February 13, 2026

Keperawanan Teman Saya...


Lokasi: Bareng Malang. Jepreted by tanganku dewe.

"Hai, Pop... Langkah sudah ada lanjutannya?" tanyanya sambil mendekati bangku saya.

Langkah adalah judul novel yang saya tulis tangan saat kelas delapan dan tidak pernah saya selesaikan, sayangnya. Jika menilik istilah masa sekarang, Langkah sebetulnya berisi fan fiction yang tokoh-tokohnya mengambil dari Naruto.

Waktu itu, saya bikin cerita dengan tokoh Tsunade, ibu muda yang terus menerus gagal mencapai mimpinya jadi komikus. Ia memiliki anak berusia SMP bernama Gaara yang tiap hari mesti mengevakuasi dirinya yang kerap mabuk hingga tidak sadar tidur di sembarang tempat karena depresi. Gaara dan Tsunade, keduanya tokoh favorit saya tentu saja dari serial Naruto.

Gadis yang bertanya di depan tadi duduk dua bangku dari belakang. Sedang saya, duduk di bangku paling depan dekat pintu, sendirian. Satu waktu, bu guru mata pelajaran akuntansi memujinya yang mampu mengerjakan soal di papan tulis dengan ucapan, sudah pinter, cantik lagi sesuai namanya.

Sejak kecil, saya tidak pernah punya konsep fisik dalam melihat seseorang, jadi ketika dewasa lebih suka pakai istilah standar industri dibanding ganteng atau cantik. Namun meski demikian, saya tahu teman sekelas saya itu punya karakter secantik apa. Begini ceritanya...

Mulai kelas tujuh, saat jam pelajaran olahraga saya kerap ditertawakan. Selalu paling lamban saat berlari, selalu jatuh tertelungkup saat lompat harimau dan menggelinding miring saat roll belakang. Hingga satu waktu di kelas delapan, semua siswa terlihat memilih pasangan masing-masing untuk bergantian memegangi kaki saat sit up, gadis itu termasuk.

Saat semua sudah mendapat pasangan sesuai perintah guru, saya hanya kebingungan, menoleh ke kiri dan kanan. Jadi hingga akhirnya nama saya dipanggil, nekat saja tetap maju tanpa pasangan. Pak guru saat itu bertanya pada para siswa siapa yang mau membantu saya dan semua diam. Bahkan duo siswi populer yang terkenal jago akademis di sekolah dan kerap memanfaatkan saya dalam pekerjaan kelompok (baca juga Hole Inside Si Tigabelas Tahun), mereka juga diam.

Tentu saja memilih pasangan begini tidak mutlak hingga menjalankan sit up harus bersama teman yang dipilih pertama. Mengiyakan membantu saya sekali, tidak akan mengganggu penilaian guru juga. Namun hingga sebelum guru menanyakan sekali lagi siapa yang mau membantu saya untuk kedua kali, semua masih diam.

Hingga gadis itu muncul dari kerumunan belakang tepat setelah guru bertanya hal yang sama pada kali kedua, sambil mengangkat tangan. Dia mesti melewati murid-murid lain yang tingginya tentu melebihi dirinya. Saya ingat, tinggi saya saat itu 154, sedang dia kira-kira nyaris sekuping saya. Tes dilanjutkan saat dia bantu memegangi dua kaki saya. Setelahnya, dia berlalu tanpa saya tahu bagaimana cara mengucap terima kasih.

Gadis itu sendiri, duduk dengan teman sebangkunya yang saya ingat berambut nyaris sepunggung; keriting tebal, kulit sawo matang, dengan tinggi sama dengannya. Mereka bersahabat, terlihat nyambung saat ngobrol dan teman sebangkunya itu terlihat tidak pernah mengganggunya.

Sebaliknya, teman sebangkunya itu kerap mendatangi bangku saya, mengatakan hal-hal buruk yang entah bagaimana otak saya tidak pernah mau mengingat detail ucapannya sejak setelah lulus SMP. Usahanya menganggu saya setiap hari itu kerap diakhiri tawa mengejek.

Masih orang yang sama, menulis kata-kata yang mengandung pelecehan di buku cetak yang dipinjamkan sekolah. Ia sendiri yang menuliskannya, kasak-kusuk berisiknya di bangku belakang jelas siapa saja dengar, sekaligus dia juga yang membawa buku cetak itu ke bangku saya sambil bilang,"Ada yang nulis namamu di buku cetak." Dan bagaimana pun saya berusaha mengalihkan pandangan, dia tetap menyorongkan paksa buku itu ke hadapan saya, tidak berhenti sampai mata saya menatap lantas membacanya. Sekali lagi, dia pungkasi aksinya dengan tawa mengejek. 

Lagi-lagi, bagaimana pun saya berusaha mengingat detail tulisan di buku cetak itu, otak saya menolak. Jadi setelah di usia dewasa baru mengenalinya sebagai bentuk pelecehan, otak saya seperti memutuskan menghapus saja detail kalimatnya.

Namun ia, gadis itu, justru kerap menunjukkan raut muka tidak nyaman dan gerak tubuh kurang berkenan ketika teman sebangkunya itu sedang melakukan aksinya dan kebetulan ia sedang lewat di bangku saya. Ini bukan kisah kepahlawanan ala novel atau film kenamaan dimana si tertindas dengan suara lantang dibela. Namun justru, bagaimana gadis itu tidak pernah turut merisak (membully) saya, bahkan menunjukkan raut wajah, gerak tubuh tidak nyaman dan tidak berkenan, itu juga sebuah perlawanan. Yang demikian membikin saya tahu, masih ada seseorang di pihak saya saat itu.

Di hari-hari lain, saya tetap membawa buku gambar seukuran kertas A3 saban hari ke sekolah. Saya juga menulis novel yang ditulis tangan salah satunya yang berjudul Langkah itu. Setiap hari, saya menulis dan menggambar sendirian di bangku. Sering juga saya membawa komik dan majalah anime bekas, hasil berburu di WiIlis. Jadi ketika teman-teman lain saling berinteraksi, terbahak, mengobrol, saya tidak pernah terlibat, menoleh saja saya tidak. Apalagi di tahun-tahun itu, dalam satu kelas bisa dihitung jari siapa yang suka anime, bahkan dalam satu sekolah pun, para otaku ini bisa dipastikan saling kenal karena memang tidak banyak jumlahnya.

Namun ia, gadis itu, sekali lagi entah dimulai darimana, selalu rutin bertanya apa Langkah sudah ada kelanjutannya. Kadang meski belum selesai menulis, saya membiarkannya membawa pulang buku seukuran A5 itu, tempat Langkah ditulis. Dia akan tersenyum cukup panjang tiap berhasil membawa Langkah pulang dan biasanya, dalam beberapa hari dia akan mengembalikan Langkah lagi-lagi langsung ke bangku saya.

Kalau sudah begitu, dia membiarkan saya menulis lagi dalam beberapa hari berikutnya, sebelum lagi-lagi bertanya hal serupa,"Langka sudah ada kelanjutannya?" Sepertinya dia lebih sering menyebut Langkah tanpa huruf H.

Langkah pada kenyataannya tidak pernah selesai. Semua bermula dari Wisnu salah seorang anggota Osis di kelas, hendak membawa tulisan saya masuk mading atau majalah. Langkah ia bawa pada anggota Osis yang lain, namun sayangnya saya tidak pernah berani mengambilnya lagi. Dengan gadis itu pun, kami pisah kelas di tahun berikutnya.

Masuk kelas 10, saya dan gadis itu ternyata masuk di SMK dan jurusan yang sama. Dia masuk di kelas yang hingga tiga tahun berikutnya dikenal pasif, siswa-siswanya tidak terlihat terlibat dalam kegiatan sekolah atau perwakilan apapun. Kami sendiri entah bagaimana tidak pernah benar-benar berpapasan di sekolah, entah karena di SMK terdiri dari enam jurusan dengan kelas pagi dan siang, jadi begitu banyak siswa atau saya yang saat itu sedang belajar berinteraksi layaknya manusia normal hingga sibuk sendiri.

Hingga kalau tidak salah di kelas 12 (atau 11?), saat sedang di selasar dan duduk di kursi bersama beberapa siswi lain lintas kelas, seorang siswi dari kelas gadis itu tiba-tiba berkata,"Kalian tahu nggak? Si (gadis itu) sudah diperawani si X."

Siswi-siswi lain terlihat jijik dan prihatin. Ada juga yang penasaran hingga terus menanggapi berita dari siswi pertama tadi. Saya diam dalam kemarahan, namun saya yang saat itu masih belajar berkomunikasi layaknya manusia normal, tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Dalam kepala, sebetulnya saya sangat ingin menceritakan bagaimana gadis itu menyelamatkan saya tidak sekali dalam kesendirian yang muram di masa SMP. Namun yang terjadi, saya hanya diam melihat wajah-wajah jijik dan sekadar penasaraan itu. Jadi bagaimana gadis itu bisa dinilai dari pilihan aktivitas seksualnya (jika cerita teman sekelasnya itu memang benar)? Dan lagi, hanya ia yang dinilai. Laki-laki yang katanya berhubungan badan bersamanya itu tidak mendapat tatapan jijik dan rasa ingin tahu yang serupa.

Kelak ketika dewasa, saya tetap merutuki diri, kenapa tidak bercerita bagaimana nilai gadis itu sesungguhnya di depan teman-teman yang hari itu ada di selasar? Kelak ketika dewasa pula, saya berharap gadis itu melakukan aktivitas seksual semoga saja karena memang memilih, bukan karena manipulasi, paksaan atau apapun yang membuatnya lara. Betul, saya tidak hendak membahas mana paling bermoral dan mana perilaku yang paling berisiko dalam tulisan ini.

Saat ini, saya gagal menemukan akun Instagram gadis itu. Namun kami pernah saling mengikuti di Instagram lamanya, pernah juga saya menyapanya lewat DM dan saat itu berucap, pasti mengiriminya buku jika kelak saya punya (meski sekarang semakin melihat tulisan bagus orang lain dibanding tulisan diri sendiri, saya jadi pasrah saja jika kelak tidak akan pernah layak punya buku).

Namun melalui akun Instagram lamanya juga, saya melihatnya bersama seorang laki-laki yang ternyata adalah pacar gadis itu. Pacarnya sama-sama standar industri dengan dia dan yang lebih penting, mereka tampak bahagia bersama. Beberapa waktu kemudian ketika mendengar kabar dia menikah, entah dengan laki-laki yang ada di Instagramnya itu maupun bukan, harapan saya tetap sama, semoga karma baik menyertai kehidupannya.

Tuesday, January 13, 2026

Ketiganya

Sumber: Gugel

Mula-mula, ia pikir cintanya memang berhenti pada tiga belas tahun lalu. Nyatanya, ia takut benar mengarungi lara yang sekiranya baru, jadi diputuskannya mengarungi lara yang sudah akrab dengannya tiga belas tahun lalu saja. Ini bukan lagi karena nyata sosok itu memenuhi kualitas-kualitas yang dirinya cari. Tapi debar berulang yang dirasai sebagai kepastian, tidak perlu ada risiko memulai, tanpa ketakutan kehilangan keterikatan yang baru, itu semua syarat-syarat yang membuatnya tetap tinggal.

***

Mula-mula, ia pikir cintanya memang terjebak untuk yang empat belas lalu. Ia tidak betulan kenal siapa sosok itu, apa kekurangannya, apa kelebihannya, bagaimana reaksinya saat melihat lebih dan kurangnya, semua berhenti saat semua belum tuntas. Jadi ia memilih hidup dalam pengandaian, seandainya sosok itu menerima kekurangannya, mengidolakan kelebihannya, bersorak buat lebih dan kurangnya. Pengandaian itu menyelamatkannya selama empat belas tahun, berbunga tanpa penolakan, bersorak dalam pengandaian.

***

Tanpa mula-mula, ia tahu jelas akan mendapat apa dari sosok itu selama tiga tahun. Orang-orang yang mengaguminya karena dianggap bisa melihat sisi dalam tanpa pandang fisik, sorai karena  kesetiaan yang orang-orang itu mengira-ngira saja. Yang demikian menambah kesempurnaan pandangan, lagi-lagi dari orang-orang soal intelektualitasnya yang tinggi dan menutupi keinginannya membunuhi siapa saja di sembarang waktu. Mendapat apa yang ia mau kapan saja waktunya, cinta yang seolah-olah saja dan itulah kenyataannya.

***

Dua bulan lalu, saya diskusi dengan Chat GPT untuk memahami beberapa kasus, bagaimana memahami avoidant secara umum, kemudian bagaimana NPD dan psikopat mencintai. Dan benar, cinta itu demikian kompleks, terlihat bersama, terlihat kecantol, belum tentu cinta pada kenyataannya.

Di usia belasan, saya masih mengira bentuk cinta lebih sederhana, dua orang yang menikah lalu beranak cucu sudah pasti cinta. Di usia dua puluhan, saya pikir terpaku pada satu orang selama belasan tahun sudah pasti cinta, namun tidak... tidak demikian kenyatannya. Cinta yang seolah-olah itu jauh lebih banyak pada kenyataannya. Untuk menghindari kehilangan atas keterikatan yang baru (avoidant), untuk terjebak dalam pengandaian yang menyelamatkan (NPD) dan untuk mendapat status sosial (psikopat).

Pemahaman bagaimana avoidant mencintai untuk tulisan ini saya analisa sendiri, pemahaman bagaimana NPD mencintai saya dapat dengan diskusi bersama Chat GPT, pemahaman bagaimana psikopat mencintai juga saya dapat dengan diskusi bersama Chat GPT.

Chat GPT menggunakan istilah idealisasi bagi NPD yang seolah kecantol dengan satu orang belasan tahun. Ternyata itu bukan utuh bentuk cinta tulus, namun justru pengandaian dalam otak NPD itu sehingga satu sosok bisa terasa sempurna. Sedang psikopat tidak bisa merasakan cinta selayaknya orang normal, yang ada hanya perhitungan untung dan rugi. Satu-satunya yang bukan bentuk disorder dan paling memungkinkan menjalani hubungan di sini, masih menurut diskusi dengan Chat GPT adalah dengan avoidant yang tidak membahayakan setara NPD yang bahaya secara psikis, apalagi psikopat yang berbahaya secara psikis dan fisik.

Mulanya, saya teguh dalam prinsip seseorang memang bisa memilih siapa yang dia cintai dan dia sakiti dengan sadar, meski terasa tidak adil. Namun ternyata ada banyak hal tentang cinta dan menyakiti yang jauh lebih kompleks, batasnya juga ternyata sangat kabur. Tulisan ini kelak tentu akan bisa berkembang lagi setelah saya menambah akses pengetahuan dari jurnal, buku atau lainnya.

Tuesday, December 16, 2025

Pembully

Sumber: Google

Satu waktu seorang pembully datang pada korbannya. Ia menyatakan maaf dan membeberkan semua luka yang pernah ia buat.

Korbannya pun menanggapi,”Nggak apa-apa, itu bagian dari masa lalu. Aku sudah memaafkan, hidup harus maju ke depan.”

Satu waktu seorang korban datang pada pembullynya. Ia menuntut kata maaf dan membeberkan semua luka yang pernah ia terima.

Pembullynya pun menanggapi,”Itu kan bagian dari masa lalu. Kalau aku punya salah ya maaf banget. Hidup itu harus maju ke depan.”

Adakah jejak di hati mereka lantas jadi berbeda?

Monday, November 17, 2025

Kritik

Sumber: Gugel

“Si X aslinya lolos lho, cuman karena teman-teman editor mengamati dia defensif tiap terima kritik, nggak jadi lolos...” pungkas seorang teman, nyaris mengakhiri percakapan.

X yang dimaksud saya tahu tulisannya bagus. Perkara kaidah berbahasa? Oh, ya dilibas dong oleh dia. Ditambah lagi, si X ini bimbing banget pada siapapun yang belajar menulis dan nggak pakai pelit-pelit.

Ada perasaan kecewa yang sulit digambarkan ketika saya dengar dia gagal lolos kompetisi di salah satu penerbit mayor tersebut karena alasan yang diceritakan si teman tadi. Saat itu, yang saya tahu X menanggapi kritik dengan argumen. Misalnya kenapa ceritanya begitu dan nggak dibikin begini, dia akan jelaskan kenapa dibikin begitu. 

Namun setelah mengamati kompetisi yang diikuti X dan bagaimana sikapnya sehari-hari, saya pun paham penyelenggara butuh orang yang bisa dibentuk selain tulisannya bagus. Ada industri di depan sana yang tidak bisa dimenangkan oleh karya yang bagus saja.

Beda lagi cerita dengan seorang selebgram feminis yang sempat membagikan novel karyanya di Instagram. Perkara kaidah berbahasa? Banyak yang rumpang. Banyak celah juga dalam cara menulis, penokohan dan sajian lainnya. 

Hingga seorang pengikut kritiknya dia bagikan lewat tangkapan layar di Instagram story. Pengikut ini membedah cara selebgram ini yang kurang baik dalam membuat deskripsi salah satunya dan ternyata yang bersangkutan membalas,”...semoga kamu kalau bikin novel bisa blablabla ya deskripsinya blablabla...” yang intinya, dia membalik kalimat pengikutnya tadi semacam ‘yo wis bikin novel sendiri sana kalau ini ga sesuai harapanmu.”

Setelahnya, selebgram ini beberapa kali masih di instagram story menulis kalimat yang entah untuk siapa dan isinya seputar,‘kalo karya masih biasa aja, gausah lah komen-komen karya orang’ juga,’heran sama orang yang ga diminta kritik tapi kritik’ masih lanjut,’blablabla... Kalau ga sesuai selera blablabla...”

Saya pun tergelitik membalas lewat DM,”Pengikutmu ngomongnya bener. Secara objektif memang kekurangan novelmu yang dia bilang. Itu bukan soal selera.” Percakapan kami pun cukup panjang hingga selebgram tersebut salah satunya mengatakan,”Aku lebih peduli sembilan suka karyaku ketimbang satu yang nggak.”

Sejak itu, saya berhenti mengomentari apapun karya si selebgram ini. Niat membeli novelnya pun gugur, apalagi dia kerap menyuarakan perkara self love dan boundaries yang kerap dipergunakannya untuk menangkal pendapat lain. Dapat dikatakan, saya jenis pembaca yang bukan masalah membeli karya dengan banyak celah namun pembuatnya punya karakter. Iya... Iya... Saya moralis.

X kini memilih mengikuti komunitas daring yang jauh dari penerbit mayor. Barangkali itu upayanya memertahankan idealisme. Sedang si selebgram itu mengumpulkan massa yang betul menyukai karyanya tanpa celah, menerbitkan karyanya secara indie pula. Dua orang yang defensif terhadap kritik dalam kasus yang berbeda ini telah menemukan ruangnya masing-masing.

Friday, October 31, 2025

Corona dan Keterpisahan Manusia

Sumber: dokumentasi pribadi. Pembatas buku rajut bentuk bunga poppy beli di Stichblue.

Dilansir dari Jawa Pos (30/05/2021), vaksin Merah Putih diperkirakan dapat dipergunakan di tahun 2022. Vaksin tersebut diharap bisa memerangi virus Covid-19. Sepanjang 2021 sendiri, berita varian corona jenis baru hingga tarik ulur sekolah tatap muka memenuhi media massa.

Mengusung tema pandemi dengan latar kota distopia bernama Ygeia, Menanam Gamang menunjukkan bagaimana manusia mesti berdampingan dengan keterpisahan. Novela setebal 124 halaman itu sendiri, merupakan karya Dhianita Kusuma Pertiwi yang sempat meraih Nusantara Academic Award 2020 lalu untuk tesisnya tentang naskah lakon wayang kulit Purwa Sesaji Raya Suya. Ia juga identik dengan karya fiksi maupun nonfiksi bertema kekerasan 1965.

Menanam Gamang disajikan dengan gaya bahasa lugas. Tidak ada kalimat kiasan apalagi yang berbau puisi. Dalam halaman 14 misalnya,’Barnabas R meraih gelas kopinya, dan menghabiskan minuman yang tinggal menyisakan rasa pahit dan dingin...” kalimat-kalimat lugas serupa mewarnai awal hingga akhir buku.

Warga kota Ygeia diceritakan mesti menjalani pandemi selama dua generasi. Fasilitas kesehatan menjadi barang mewah di masa itu. Ada perbedaan kelas yang terlihat jelas dalam mendapat fasilitas kesehatan, berdasar profesi dan penghasilan setiap warga kota.

Pekerja kantor, peneliti, hingga penyiar melalui saluran live streaming, menjadi profesi yang lazim di kota Ygeia. Dua di antara tokoh dengan profesi berbeda yang terhubung melalui saluran live streaming adalah Barnabas R. dan Eva H. Dhianita memang memberi penamaan yang unik pada seluruh tokoh novelanya. Semua tokoh memiliki satu kata di depan dan satu huruf di akhir nama.

Sebagai pekerja kantor, Barnabas R. Mesti was-was tiap kali varian virus baru merebak. Kantor mesti ditutup dan ia sehari-hari harus tinggal di apartemennya yang murah dan minim fasilitas kesehatan. Tidak ada teman atau saudara yang betul-betul bisa dihubungi sehingga saluran live streaming ia operasikan demi melenyapkan rasa sepi. Di situlah ia bertemu Eva H., seorang penyiar dengan gaji cukup tinggi hingga di dalam apartemennya pun ia bisa mengecek kesehatan setiap hari ditemani Saul, sebuah android yang dapat berbicara dan punya pikiran sendiri.

Eva H. sendiri tidak lepas dari rasa sepi. Sahabat dan kekasihnya sama-sama sibuk bekerja dengan profesi berbeda. Layar virtual menjadi satu-satunya tempat mereka bertemu meski tidak pernah lama, sedang para penonton Eva H. Hanya memperlakukannya sebagai tontonan dan bukannya seorang teman.

Kehidupan warga kota Ygeia tentu saja tidak berhenti pada keuangan yang menipis dari Barnabas R. dan upaya Eva meningkatkan peringkatnya melalui saluran live streaming. Masih ada tenaga kesehatan, hingga pekerja di badan kesehatan yang setiap hari berkejaran dengan mutasi virus baru dan warga kota yang tidak henti-hentinya tumbang. Tidak ada optimisme yang benar-benar nyata di sana, yang ada hanya menjalani apa yang tersaji hari ini, meski masih ada juga tokoh-tokoh yang berusaha melakukan berbagai penelitian untuk melawan virus. Mereka ini yang meyakini, bahwa kelak pandemi bisa berakhir.

Para tokoh dalam Menanam Gamang dibuat tidak buntu dalam mengatasi keterpisahannya dengan manusia lain. Di antaranya ada Barnabas R. yang menjadikan Eva H. seolah nyata dan sebagai tujuan hidupnya. Ia rela menggunakan gajinya bukan untuk meningkatkan fasilitas kesehatan di apartemen, namun justru untuk memperbarui perangkat komputer hingga bisa melihat siaran Eva H. secara tiga dimensi.

Selain Barnabas R. banyak juga penonton Eva yang rela membayar lebih banyak glot (alat tukar di masa itu) demi melihatnya melakukan hal tertentu selama siaran. Kemurungan, adalah kata ganti yang paling tepat dalam menggambarkan novela ini. Para tokoh mesti menjalani hidup masing-masing tanpa saling mengaku tengah merasakan kesepian dengan terhambatnya segala pertemuan nyata bersama ketidakpastian perkembangan virus. Kenaikan peringkat dan kesibukan membuat konten siaran bahkan hanya sesaat saja menyelamatkan Eva H. dari rasa sepi.

Beberapa detik kemudian, layar WiseWrist di pergelangan tangan Eva H. menampilkan tanda centang putih berlatar belakang hijau, menandakan Saul telah berhasil mengirimkan kembali laporan itu pada Badan Kesehatan. (hal18)

Selain menyajikan para warga kota yang berjibaku dengan keterpisahan, novela ini juga menyajikan istilah-istilah unik terkait teknologi di masa itu. Beberapa di antaranya, WiseWrist yang merupakan alat pengawas kesehatan warga dari Badan Kesehatan, WiseWatch yang merupakan lensa kontak untuk menyuguhkan tayangan interaktif komputer, hingga WishWear yang dapat mencetak benda-benda sesuai imajinasi dalam kepala. Keberadaan teknologi diletakkan dalam dialog juga narasi dan berpengaruh terhadap jalannya cerita. Keberadaan teknologi ini pula, yang memungkinkan interaksi antar manusia tidak banyak terjadi. Banyak tugas bisa dilakukan teknologi.

Meski menyoal kebaruan teknologi dalam novela ini bersifat relatif, Menanam Gamang selanjutnya menyajikan akhir yang terbuka. Membuat pembaca menebak-nebak sendiri mana yang lebih dahulu mampu menyelamatkan, berhasil menangkal virus yang entah kapan atau mengatasi rasa keterpisahan pada diri.


Judul buku: Menanam Gamang

Penulis: Dhianita Kusuma Pertiwi

Penyunting: M Dandy

Penerbit: Pelangi Sastra

Cetakan: Pertama, Oktober 2020

Ketebalan: 124 halaman

ISBN: 978-623-7283-89-8


Catatan: ditulis 2021 semasa corona tapi lupa nggak diunggah.


Tuesday, September 23, 2025

Kelainan Motorik Halus

Saya waktu umur 2 tahun. Sumber: dokumentasi pribadi

Barangkali orang-orang tidak menyangka, saya yang kalau nulis ndakik kesana dan kemari, juga seolah melek isu tertentu ini ternyata hingga kelas empat SD kesulitan membersihkan sisa sabun di sela telinga setelah mandi. Lebih jauh, saya tidak bisa lipat baju dan menjahit hingga hari ini. Parah lagi, saya baru bisa menyisir rambut, potong kuku kaki, membersihkan telinga dan memasang pembalut dengan benar ketika masuk mahasiswa baru, 18 tahun.

“Kamu ini gangguan motorik halus...” ucap seorang dokter psikiatri kenalan saya.

Setelah ditelusuri, ibu bercerita saya memang pernah jatuh dan kepala belakang terbentur keras ketika bayi. Soal intelegensi, memang tidak pernah ada masalah. Malah saya bisa berbicara tanpa cadel sejak usia 1,5 tahun. Namun sepanjang masa pertumbuhan, justru ingatan saya dipenuhi ibu yang kerap melakukan kekerasan fisik maupun verbal saking bingungnya dengan perkembangan saya yang tidak sesuai teman sebaya.

Di keluarga kami, tidak ada yang punya bekal pengetahuan pola asuh, mengakses psikolog dengan kondisi ekonomi waktu itu pun mustahil. Bagaimanapun saya diajari menjahit lubang sederhana, saya tidak pernah bisa. Bagaimanapun saya berusaha memotong kuku kaki sendiri, sangat sulit juga. 

Hingga kelas 12, saya tidak tahu kapan mestinya mengganti pembalut ketika mens dan bagaimana cara memasang yang benar. Orang barangkali dengan mudah menuduh ibu tidak becus mengajari, tapi bagaimanapun diajari bahkan hingga dimarahi, saya memang tetap kesulitan. Jadilah tiap mens, kerap kali darahnya merembes pada baju dan di manapun saya duduk. 

Ya, betul... Cocok disebut terbelakang bukan? Tapi karena di SMK akademis saya bagus dan punya teman sangat banyak, tidak ada yang sadar kekurangan fatal saya pada hal-hal tadi. Sampai sekarang pun, saya tidak bisa menguncir rambut dengan rapi apalagi mengepangnya sendiri.

Dari semua kekurangan itu, saya menutupi dengan bepergian kemana-mana membawa baju yang tidak perlu disetrika. Baju-baju itu saya gulung juga sehingga tidak perlu dilipat. Jadi saya tetap bisa mandiri meski tanpa dibantu orang lain. Meski begitu, pernah juga menyesal karena mas-mas crush semasa kuliah minta tolong jas untuk dia tampil dilipatkan dan betulan... Saya nggak bisa. Haduh, gagal mbribik dong akutuch...

Ketika ibu saya beri tahu hasil analisa bu psikiater ini, tentu saja ia menyesal. Ibu sadar harusnya saya dulu butuh terapi. Tapi saya katakan, hari ini pun bisa diperbaiki meski pasti butuh waktu melebihi orang normal. 

Jika pekerjaan semacam menyapu, mencuci baju atau piring bisa saya lakukan karena berlatih sejak SD dan fasih ketika SMP. Menjahit dan pekerjaan yang lebih halus tentu butuh waktu lebih panjang. Semacam saya yang enam tahun menjalani menstruasi baru bisa pasang pembalut dengan benar. Juga semacam saya yang berlatih dari SMP hingga SMK memotong kuku kaki, membersihkan telinga dan baru bisa melakukannya saat mahasiswa baru.

Meski demikian, hari ini saya menghargai semua usaha keras mengatasi gangguan motorik ini sepanjang hidup. Karena begini-begini... saya yang sekarang sudah bisa bungkus kado dan pasang sampul buku sendiri ehe...

Sunday, August 17, 2025

Sewa Perasaan

Sumber: Gugel

Toko sejenis miliknya tuan Abimanyu memang mulai banyak sekarang. Di sana dijual perasaan dalam bentuk saset. Kamu bisa membelinya dalam bentuk partai maupun ecer. Tersedia perasaan takut akibat terlilit hutang, perasaan takut akan pandangan orang lain, bahkan perasaan takut diburu dosen pembimbing.

“Saya beli perasaan takut akan pandangan orang lain, Tuan. Dua saset saja.” Ucap gadis berkulit gelap yang kini sudah menyerahkan sejumlah uang pas di meja kasir itu.

Sore lalu, teman gadis itu habis-habisan melakukan konfirmasi bahwa bukan dia penjahatnya dan bagaimana dunia bersepakat melarai dia. Konfirmasi demikian dilakukannya tujuh hari berturut-turut dan bukan hanya kepada gadis itu saja, teman-teman lainnya juga.

Dalam batin, gadis itu pun menggerutu,’Kok bisa ya? Ada orang sibuk banget dengan pandangan orang lain gitu?’ Hingga ia mengingat toko kecil dengan cat dinding semarak milik tuan Ambimanyu. Di sana, ia kini tengah menenggak dua saset perasaan takut akan pandangan orang lain. Setiap saset hanya berlaku satu minggu dan setelah ditenggak, setiap orang bakal merasakan perasaan sesuai judul saset yang dibeli.

Setelah dua minggu ke depan, gadis itu tahu pertanyaan ‘kok bisa ya?’ tidak akan pernah lagi dia peroleh, setidaknya untuk perasaan takut akan pandangan orang lain.

Tuesday, July 29, 2025

Indie=Senja Kopi?

Coreted by: Ara Rara

Menulis ulasan acara atau produk teman sendiri bukan hal baru di Instagram (semasa @trisnayantip belum deaktif) dan blog. Pertunjukan, masakan, sampai tulisan teman sering saya unggah di kedua platform tadi.

Prinsip dari teman, oleh teman dan untuk teman sering memang saya galakkan. Juga kalimat emas,”Anak indie kok senja kopi. Anak indie itu beli karya teman yang diproduksi dan distribusikan sendiri.”

Hari ini kita barangkali akrab dengan sebutan kolaborasi. Sedang 2017 lalu, Presidium Gusdurian Jatim saat itu, Romo Tatok, memiliki istilah budaya apresiasi.

Sedang saya sendiri memulai ini sejak 2015 dengan alasan; menghangatkan hati. Ketika membeli karya teman sendiri, pasti ada percakapan yang terjalin seputar produk hingga hubungan personal pertemanan.

Ikatan antar manusia yang memproduksi dan memasarkan karya sendiri dengan para konsumennya itu beda. Hal ini kemungkinan kecil didapat dari karya sejenis dengan produksi dan distribusi besar. Karya jenis ini terasa berjarak dengan para konsumennya.

Kritik dan saran bisa disampaikan dan diserap lebih detail dalam budaya apresiasi macam begini. Ketiadaan jarak tadi yang bikin demikian.

Ulasan antar teman juga bisa menjadi rekomendasi bagi konsumen maupun yang hendak berkolaborasi. Menjadi jembatan itu lagi-lagi rasanya... menghangatkan hati!

Dan ternyata bonusnya, selain mendapat pertemanan dan antar teman jadi saling mengenal, bahkan berkolaborasi. Ada juga teman-teman yang memberi bonus produk ketika pembelian, memberi gratis ongkir bahkan memberi produknya gratis (anjuran keras untuk diri sendiri, lebih baik membeli).

Teman-teman ini senang dibedah lebih dan kurang karyanya dan bukannya berharap diberi ulasan yang penuh baik-baiknya saja. Bagi mereka, ulasan bisa jadi ruang berkembang, saya pun makin terasah menganalisa sesuatu. Kejujuran mengulas ini juga belakangan membuat teman-teman percaya kredibelitas saya ketika merekomendasikan sesuatu.

Jadi bagaimana? Mau coba jadi anak indie sejati? Atau jangan-jangan kamu bahkan sudah memulainya jauh-jauh hari?

Sunday, June 29, 2025

Di Sini Hati; Terima Kost Putra

 

Lokasi: Coban Putri mBatu

“Aku pulang...” katanya pada seorang teman lama.

Namun sepanjang ingatan, temannya itu tidak ingat pernah pasang papan bertulis ‘Di Sini Hati; Terima Kost Putra’.

Hari-hari berikutnya berlanjut dengan dikisahkannya ulang, beberapa waktu lalu diselingkuhi mantan kekasih. Katanya, mantan kekasihnya diam-diam bilang iya pada lamaran orang lain. Tawaran yang ia akui tidak pernah diberikannya.

Teman lamanya bilang, perselingkuhan bagaimana pun memang salah. Namun setelahnya, lelaki itu menyambung cerita soal si mantan kekasih yang bipolar, sangat berantakan dalam keseharian karena sakitnya itu dan tidak lebih baik dari si teman lama. Semakin si teman lama hanya mangut-mangut, ia makin banyak menceritakan hal-hal yang katanya tidak lebih baik tadi.

“Nggak kok, aku cerita jelek-jeleknya dia buat validasi aja. Biar yakin ninggalin dia.” Katanya ketika si teman lama protes, kenapa ia membuat sesama perempuan seperti sedang bersaing.

Kemudian teman lamanya itu ingat, perempuan itu satu-satunya mantan kekasih si lelaki. Menahun sebelumnya, si lelaki dirisak karena fisik dan teman perempuan yang menawarkan persahabatan pun hanya si teman lama.

Barangkali bagi si lelaki, hari itu waktu yang pas buat jadi tokoh utama. Begitu bukan ya?

Thursday, May 29, 2025

Pembersihan

Sumber: Jepreted by tanganku dewe

Pernah kena tukak lambung? Atau tipus saja deh. Rasa kebas dan lemasnya di seluruh badan, rasa nyeri sekalian demamnya.

Ya begitu itu rasanya.

Pernah kecelakaan motor? Atau terpeleset di kamar mandi saja deh. Rasa linu dan bekas lebam di seluruh badan, kena gesek baju saja perih.

Ya begitu itu rasanya.

Pernah sakit paru-paru? Atau deman berdarah saja deh. Rasa panas di dada bikin kebelet meracau, amis darah bikin tidak nyaman makan, ada hawa panas pula sampai tulang.

Ya begitu itu rasanya.

Setiap hari.

Di masa pembersihan.