Monday, June 17, 2019

Tali Merah (1)

Coreted by: @unartifisial

Semuanya ada sepuluh orang dan kamu bisa melihat mereka sampai ke dalam tulang, gajih dan aliran darah. Namun yang satu itu beda, perempuan pula. Kecuali soal hitung menghitung dan fisika, semua yang kamu miliki, pula dimiliki gadis itu. Tidak, bukan cuma itu. Ia, gadis berambut cepak itu bahkan mampu membaca kenyataan lebih darimu. Yang satu itu kelak membuatnya punya nama, kehormatan dan duit melimpah. Kamu ingin menerkam dan mencekik gadis itu diam-diam, segera setelah bilang padamu,”Rambutmu standar industri banget, ini nggak keramas tiga hari sih aman. Nggak macam rambutku.” Receh, tidak penting, sekaligus ada ketulusan yang menggetarkan inti nuranimu. Ketulusan yang justru makin membuatmu ingin mematahkan tangan dan kaki gadis yang nyaris tidak memiliki alis itu, tepat hari itu, di hari pertama kalian berjabat tangan. Ah, tepatnya dia yang memaksa menjabat tanganmu lebih dulu.

Semasa Sekolah Dasar, kamu dicap sangat pintar dan punya teman begitu banyak. Disayang guru dan lulus dengan rata-rata sangat tinggi membikinmu masuk sekolah yang dicap favorit oleh masyarakat ketika sekolah menengah dan bahkan ketika kuliah pun, kamu dengan mudah masuk universitas impian orang banyak. Tapi gadis itu tidak, dia...

Dia menjalani hidup dengan tertatih-tatih, bahkan sesaat sebelum kalian bertemu. Jika hasil tes IQmu jenius, dia rata-rata bawah. Tapi, bagaimana bisa gadis seberbahaya dia IQnya hanya segitu? Bahkan jika tidak lebih dulu melempar ramuan itu di belakang punggungnya, kamu tidak yakin gadis itu akan menunduk ketika memandang matamu. Kelak ramuan itu, akan membuat gadis itu gelisah saban hari, menanti-nanti kamu sekeras hatinya dan meski Tuhan bilang jawabannya bukan kamu, dia akan ngeyel dan hancur pelan-pelan.

Maka ramuan itu mulai memunculkan tali tipis berwarna merah. Kamu mengaitkan tali itu lagi-lagi di punggung si gadis, segera setelah dia mengajakmu bercanda di depan kamar mandi. Dia berlalu saja, bahkan tanpa sakit hati ketika kamu tidak menggubris candaanya. Saat dia memunggungimu dan berlalu, segera kamu mengaitkan tali merah itu selapis demi selapis hingga berbulan-bulan berikutnya gadis itu kira dia mencintaimu; lelaki yang gemar minum, jauh dari imej relijius, seks sebelum nikah dan bahkan seksis setengah mati, sama sekali bukan tipenya dan bagaimana bisa ia lumpuh dan tetap merasa mencintaimu? Ramuan dan tali merah itu...

“Ini gambarmu? Wih, bagus ya...” ucap gadis itu bersemangat, ketika melihat buku catatan yang di bagian belakangnya terdapat gambar karyamu. Gambar yang ngasal saja sebenarnya.

Kamu tahu, perlakuan si gadis, apapun itu tidak istimewa. Ia berlaku sama pada delapan orang lainnya. Dan di hari terakhir acara tersebut, kamu melihatnya nyaris menangis waktu mempresentasikan ketertarikannya terhadap gender. Dia satu-satunya orang yang menaruh minat pada bidang itu, presentasinya disertai cerita bagaimana teman sekitarnya menanggung luka akibat perkosaan halus. Sekali lagi, dia menyentuh inti nuranimu dan jika saja membunuh seseorang tidak memiliki landasan hukum, kamu pasti mengambil pisau dari dapur terdekat dan merobek mulut gadis itu, mencacahnya jadi delapan belas bagian, lantas merayakan kemenangan. Empati... Sesuatu yang bahkan sulit menyentuh inti nuranimu sebanyak apapun membaca soal itu. Gadis itu, ia memilikinya...

Si gadis, bisa melihat delapan orang lainnya dengan jelas, sedalam tulang, gajih dan darah, kecuali dirimu. Kamu menyampuli dirimu rapat-rapat dengan jati diri yang lain; yang setia kawan, yang apa adanya dan yang... Ya, pokoknya sampul sekelas yang kamu buat saat itu, belum mampu ditembus si gadis.

Menahun kamu menaati tata cara beragama, demi mendapat pintu-pintu paling dekat dengan Tuhan. Pikirmu dulu, Tuhan paling sayang padamu dengan anugrah kedua bola mata yang mampu membaca dua halaman buku, hingga kelancaran akademis juga kamu kira bentuk kasih sayangNya. Namun rangkaian kesusahan dalam hidup gadis itu membuatmu sadar, Tuhan lebih sayang padanya. Dicap bodoh semasa sekolah, nilai kelulusan pas-pasan yang selalu membuat susah mencari sekolah hingga cap tidak normal dari sekitar karena kesusahan bergaul. Ketika masuk dan melihatnya sejauh itu, kelebat tepuk tangan dan pelukan hangat sangat riuh, berdesakan dan itu jauh... Jauh di masa depan gadis itu.

Ia autentik. Skenario pengalaman buruk dari Tuhan, membuatnya autentik. Jika kemampuan musik, menghapal ratusan buku dan menyelesaikan rumus-rumus fisika milikmu ternyata dimiliki jutaan orang serupa, tidak dengan gadis itu. Namun satu hal, pengalaman membunuh yang bukan cuma sekali membuatmu yakin bisa melumpuhkan gadis bergigi kuning itu. Meski diam-diam kamu menyesali mengapa pula belajar kelewat jauh. Jika saja kamu tidak bisa masuk dan melihat lintas waktu, bukankah itu tidak akan membuatmu secemas itu? Bukankah hidup akan jadi kejutan-kejutan manis dan sakit selagi kamu terus berlari dan dibodohi sesuatu yang namanya harapan?
Maka benar, jika kamu tidak ingin membunuh gadis itu. Kamu ingin membuatnya rusak dari dalam, pelan-pelan. Matamu tersenyum setiap kalian bertemu, semakin lama mengulur waktu kematiannya. Ya, meski tali merah itu bukan hanya pada gadis itu kamu lilitkan. Pada berikutnya, kamu betul mengulurnya 360 hari penuh. Dan masih kamu, yang habis-habisan mengaburkan peringatan dari Tuhan padanya atas kesakitan yang sedang dan akan kamu timbulkan.

Tali merah itu lama-lama berubah menjadi hitam, melilit dalam tulang, gajih dan darah si gadis. Otak dan hatinya pun makin sewarna, mulanya abu-abu dan ia mulai kesulitan menulis, hobi yang serupa milikmu, namun bagaimana cerita-cerita sehari-hari gadis itu bisa jauh memikat orang banyak ketimbang tulisan-tulisan hasilmu menghapal ratusan buku? Itu tidak adil.

Saban hari, tali-tali itu kian pekat disertai kelegaan luar biasa dalam batinmu. Satu orang lagi yang kelak bisa lebih cerah ketimbang dirimu, tengah menuju tamat dan ia... Adalah si gadis.

Sunday, June 2, 2019

Revenge Porn CL dan Bagaimana Kawula Sok Open Minded Menyikapinya

Saya membuka twitter dan melihat artis CL menjadi trending. Sebuah akun membagikan tangkapan layar dari instagram mantan CL. Isinya? Foto-foto mereka di tempat tidur. Meski telah ditegur beberapa orang, si pemilik akun berdalih ia hanya beropini dan menurutnya, gambar yang ia bagikan terkait dengan opini tersebut.

CL sendiri merupakan artis papan atas yang membintangi banyak judul sinetron, memiliki lagu sendiri hingga banyak kegiatan sosial. Selain semua itu, ia juga dikenal memiliki kemampuan akademis sangat bagus. Belakangan, mantan pacar Amerika Latinnya, sengaja mengunggah lebih dari belasan foto sekaligus yang isinya kebersamaan mereka di tempat tidur. Berita resmi mengenai CL bisa juga dibaca di sini.

Ketika media sekelas Tempo dan lainnya menyamarkan kasus CL dengan kalimat ‘foto mesra'. Dua media lainnya masih juga menggunakan kalimat ‘foto panas'. Bahkan kedua media tersebut mengunggah ulang foto mesra yang asalnya dari instagram mantan CL.


Sumber: Media bersangkutan

Sumber: Media bersangkutan

Sumber: Media bersangkutan

Tidak sampai di situ, di antara timbunan warganet yang menyadari penyebaran foto CL sebagai kasus kejahatan. Masih ada juga warganet yang menjadikan keperawanan CL sebagai candaan, sesama perempuan pula. Warganet jenis ini, saya beri nama; sok open minded tipe 1. Mereka menjadikan kasus CL hal remeh dan layak ditertawakan. Saran saya, jangan pernah berdebat dengan jenis ini, kecuali kamu akan dibilang kurang santai, tidak mengerti candaan dan tentu saja tidak open minded.
Sumber: Twitter
“Jadi, CL masih perawan apa enggak?” tulis salah satu akun.
Sumber: Twitter

“Njirrr ngakak gw.” Balas warganet lainnya.


Bagaimana kasus CL layak menjadi candaan? Sedang siapapun bisa menjadi korban, sekalipun melakukan seks di dalam nikah. Dilansir dari magdalene.co , dari sisi pelaku, 61 persen di antaranya adalah pacar, mantan pacar, suami, dan mantan suami, sementara sisanya adalah orang lain, teman, kenalan, bahkan orang yang tidak dikenal. Hal ini menunjukkan bahwa, jenis-jenis kekerasan terhadap perempuan dalam ranah privat dan hubungan intim meluas bentuknya melalui dunia maya.

Upaya membuat malu, menghancurkan karakter hingga karir dan hubungan sosial, menjadi kata kunci dari kasus CL. Warga biasa sekalipun, akan hancur, ketakutan dan luka ketika menjadi korban, apalagi publik figur yang dikenal begitu banyak orang dan banyak jaringan. Belum lagi kasus demikian banyak pula menjadi dasar pemerasan baik uang maupun seksual. Kasus pemerasan demikian dapat dibaca selengkapnya di Sebar Video Bercinta dengan Pacar, Kiki Dihukum 6 Tahun Penjara.

Kasus CL sendiri disebut sebagai revenge porn. Dikutip dari tulisan Arman Dhani yang berjudul Seks Menyenangkan Tanpa Balas Dendam, revenge porn adalah tindakan mempublikasikan konten seksual seseorang yang dilakukan mitra atau mantan kekasih tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan.

Kita semua tentu ingat, bagaimana kasus pembawa acara musik LM ketika video mesranya tersebar. Selain LM, masih ada juga CT yang terlibat dengan pria yang sama. Bedanya, video mereka disebarkan orang lain, bukan dari mereka yang terlibat hubungan seksual. LM yang saat itu menjadi brand ambassador beberapa produk, langsung lengser dari statusnya. CT sendiri menghilang hingga beberapa tahun berikutnya. Tidak bisa dipungkiri, imej menjadi hal penting dalam industri. Hilangnya imej, bisa jadi sama dengan hilangnya posisi di industri, meski belakangan LM bangkit dengan bermain apik di berbagai judul film.

Kasus jenis ini juga terjadi pada temannya teman saya. Sebagai anak kuliahan dengan fisik standar industri, ia ngotot terus bersama pacarnya yang kerap selingkuh. Teman saya pada mulanya menganggapnya naif. Namun ketika tidak sengaja membuka galeri foto temannya itu. Ia mendapati video seorang perempuan tanpa penutup tubuh bagian atas. Belakangan baru diketahui, video itu dibikin temannya itu bersama pacarnya dan menjadi konsumsi bersama. Video demikian, agaknya menjadikan temannya teman saya ini berat melepaskan pacarnya itu. Namun kini, temannya teman saya itu sudah berganti pacar, entah bagaimana prosesnya. Tapi seberapa banyak orang yang terjebak hubungan beracun macam ini dan tidak bisa lolos?

Lain cerita dengan seorang kenalannya kenalan saya, pernah pula dijadikan budak seks dengan ancaman foto telanjang. Jadi ia harus menuruti permintaan hubungan seks si pemilik foto kapan saja, sekalipun ia ingin lepas. Mulai berpikir ternyata ada banyak CL di sekitar kita?

Selain kaum sok open minded tipe 1. Ada juga kaum sok open minded tipe 2, dalam kasus CL. Yang macam begini, seolah paling tahu bagaimana budaya barat bekerja dan menuduh bangsanya sendiri sebagai polisi moral.


Sumber: Twitter

“Lol. Foto2 mesra CL sbnrnya biasa aja cm yaaa di indo kan polisi moral nya banyak apalagi urusan selangkangan.” Tulis salah satu akun.

Sumber: Twitter

“Ga psikopat jg memang sd biasa kehidupan bule memang seperti itu, ga kaget.” Balas akun lainnya, ketika salah satu warganet mengatakan mantan CL psikopat.



Sumber: Twitter

“Apa sih masalahnya CL foto mesra diatas ranjang sama pacarnya...? Banyak netizen Indonesia ini sok moralis, padahal bedanya hanya publis dan tidak publis. Soal bersama pacar diatas ranjang hampir sama semua.” Warganet lainnya lagi berkomentar.


Padahal, dikutip dari CNN.com, revenge porn, or the nonconsensual posting of nude images of an individual online, usually by a now-ex-boyfriend, is one of those newest categories of crimes that didn't really exist until technology made every image available worldwide in an instant. Kata kucinya? Konsensual. Penyebaran tanpa konsensual atau kesepakatan? Itu revenge porn.

Di negara-negara barat yang disebut para warganet sok open minded sebagai hal biasa. Revenge porn justru memiliki landasan hukum kuat dan bahkan korban bisa mendapat kompensasi. Dilansir dari New York Times , in 2014, the woman, who was listed as Jane Doe in court documents to protect her identity, sued her former boyfriend, David K. Elam II, in United States District Court in California to get him to stop. Four years passed, until the court awarded her $6.4 million on April 4, in one of the biggest judgments ever in a so-called revenge porn case.

Jadi kasus CL, bukan menyoal siapa moralis atau seberapa biasa saja gambar yang diunggah mantannya. Sekali lagi, mengunggah foto atau video intim tanpa kesepakatan adalah revenge porn. Apalagi jika ditujukan untuk menghancurkan seseorang yang disebar gambar atau videonya. Masih dilansir dari New York Times, at least 36 states have some laws that penalize the nonconsensual distribution of intimate images, representing a national patchwork of different standards and punishments for an activity that transcends borders. Jadi bahkan, di negara-negara barat yang menurut warganet sok open minded ‘kasusnya biasa saja' ini, justru sekali lagi jelas landasan hukumnya.

Di Indonesia sendiri, kasus demikian juga memiliki landasan hukum apalagi disertai pemerasan. Kasus Kiki yang saya sebut di atas misalnya, ia mesti mendapat ancaman hukuman enam tahun penjara. Namun bagaimana dengan korban dan foto atau video yang telah tersebar? Sampai kapan sebarannya akan berhenti dan seberapa lama korban bisa pulih?
Terakhir, opini mbaknya ini masuk banget sih. Gelar warga Indonesia paling open minded sepertinya bisa jatuh ke dia tahun ini.



“CL diexpose foto syurnya sama mantannya terus kalian tau kan headline beritanya? Iya, masalain CL yang foto syur, bukan masalahin mantannya yang share foto syur. Lol, go home, media selalu mabok bahas ginian.” Tulis @astarisburn 

Nah, ini kasus CL ada berbagai sudut pandang yes. Tidak akan saya eksekusi semua, justru   menanti orang lain-lain ini yang eksekusi. Biar saya cukup di bahasan kawula sok open minded ini saja. Nanti bisa dalam sudut pandang media seperti mbaknya yang saya sebut di atas, bisa juga soal penanggulangan revenge porn dll.

Monday, May 13, 2019

Pilih



Sumber: Gugel

“Kamu bisa lihat yang nggak dillihat orang.”

“Dan kamu pun…”

“Makanya, waktu SD saya nggak punya teman.”

“Teman saya banyak waktu SD.”

“Saya dicap bodoh dan pemalas waktu SD.”

“Saya dicap sangat pintar dan rapi waktu SD.”

“Pikir saya, semua orang melihat apa yang saya lihat. Waktu usia 22, baru saya tahu ternyata saya lihat yang nggak dilihat orang.”

“Sejak SD saya tahu apa yang saya lihat nggak dilihat orang lain. Hingga saat itu dan kini, saya melatih diri.”

“Tapi saya menerima ini. Saya jadi tahu, manusia baik masih banyak…”

“Saya pun menerimanya. Saya jadi tahu, manusia nggak layak dapat kepercayaan sedikit pun.”

Thursday, May 2, 2019

Cantikmu Butuh Konfirmasi?

Sumber: Gugel

Teman saya Nova bercerita, ada gadis yang satu pondok dengannya gemar mengonfirmasi kecantikan. Gadis itu 24 tahun dan hampir setiap hari berkata,”Aku gemukan.” Atau “Kok kulitku kelihatan kerutannya ya?” dan sebagian teman sekitar mereka berlaku sangat baik dengan menanggapi begini,”Mbak nggak gemukan kok.” Atau “Nggak kerut kok.”

Nova melanjutkan cerita, kabarnya temannya itu pernah ditinggal menikah oleh sang mantan. Terlalu naif untuk menyimpulkan sebabnya sibuk mencari konfirmasi kecantikan adalah lukanya yang satu ini. Tapi yang jelas, konfirmasi demikian sesungguhnya tidak sehat dan pelakunya butuh disembuhkan.

Kasus teman Nova, barangkali hampir serupa dengan gadis yang satu ini. Kalem, manis, cerdas dan ambisius. Kata terakhir mungkin tidak akan disetujui banyak orang yang mengenal Sruti, soalnya kata ini memang kontradiktif dengan kalem yang ada di awal kalimat. Tapi ambisius, sesungguhnya tidak sebegitu negatif juga. Sruti ambisius dalam arti berkeinginan kuat.

Saya mengenal Sruti ketika awal bergabung dengan sebuah komunitas lintas iman. Saya 23 akhir, dia 19. Dari caranya menanggapi argumen hingga berkenalan dengan orang lain, terlihat sifatnya yang tegas pula. Pikir saya, Sruti hebat. Ketika 19, saya masih berkutat di dalam kampus dan jauh dari mengenal komunitas luar. Tapi semua berubah ketika saya mendapati gadis baik itu melirik sangat benci ketika saya memoles lipstik. Saya tidak menoleh pada dia sama sekali pada mulanya, tapi tatapan yang betul-betul dilakukan sepenuh hati akan membuat siapapun yang ditatap itu merasa, begitu pula Sruti kepada saya.

Dalam pikiran saya waktu itu, Sruti merasa lebih baik karena cantik tanpa polesan. Semenjak saat itu, saya putuskan merentang jarak saja ketimbang saling luka. Saya memberinya cap sindrom ratu lebah hingga lupa, saya pernah 19 dan juga pernah merasa lebih baik dari mereka yang produk perawatannya lebih detail.

Saya awal 23 waktu Raisa, teman beda fakultas mengunggah beberapa produk pembersih wajahnya di story Instagram. Bagi saya, produk tersebut rumit dan muncul perasaan lebih baik karena untuk membersihkan wajah, saya hanya butuh satu produk. Saya belum memahami kebutuhan kulit tiap orang berbeda. Pemahaman saya hanya sampai pada; saya simpel dan kamu rumit.

Namun semakin saya berkumpul dengan Raisa, Yasmin dan banyak teman-teman yang lain. Saya jadi memahami, kebutuhan setiap orang berbeda dan apa yang orang senangi pun berbeda. Kedua teman saya ini sudah pada taraf jago make up, ketika saya baru bisa meratakan blush on. Keduanya juga aktif di komunitas Resister Indonesia, sama-sama pembaca buku berat dan produktif menulis juga membantu orang lain. Jadi, jika ada yang bilang hobi make up menghabiskan waktu, saya pastikan itu sama sekali salah. Yasmin dan Raisa sama produktif dengan mereka yang tidak hobi make up dan barangkali malah lebih.

Dari Yasmin dan Raisa yang hobi make up saya tahu, mereka justru jago mengatur waktu. Raisa misalnya, ketika kami keluar bersama akan bertanya pukul berapa saya menjemput. Dia nyaman memakai baju yang stylish dan make up yang apik, tapi dia juga tidak mau orang lain menunggu. Jadi sebelum jam penjemputan, dia akan memilih baju dan bermake up.

Saya sendiri tumbuh sebagai remaja yang jauh dari rasa percaya diri. Inginnya dibilang cantik tapi saya merasa jauh dari itu. Kulit saya yang standar industri baru saya sadari di usia 20 tahun. Dan berapa banyak orang yang sampai mengorbankan kenyamannya demi kulit jenis ini? Sedang saya justru secara genetik mendapat kulit jenis ini, yang mudah sembuh ketika luka dan untuk terlihat segar hanya perlu satu produk sabun wajah. Dulunya, saya hanya berfokus pada rambut yang kata orang berantakan dan tidak cantik. Ibu saya tidak pernah memuji dan lebih sering marah-marah saja ketika saya merasa minder atau terlihat memiliki rambut yang tidak rapi. Tidak pernah ada solusi saya mesti mengenakan apa dan menata rambut bagaimana. Ibu juga sering membandingkan saya dengan remaja sebaya yang sudah mengerti harus bagaimana dalam berpenampilan. Maka saya makin merasa buruk. Padahal saya betul-betul belum memiliki ketertarikan menata penampilan di masa itu, apalagi harus memutuskan sepantasnya bagaimana. Perkembangan tiap orang bukannya memang berbeda?

Menelusuri luka saya sendiri, membuat saya juga meyakini Sruti mestinya punya luka serupa. Bagaimana ia memilih hanya mengenakan bedak tabur dan tidak memoles apapun di bibir adalah pilihannya. Bagaimana saya memilih tidak memakai bedak dan menggemari lipstik adalah pilihan saya. Meski memutuskan menjaga jarak, ternyata saya masih juga penasaran dengan gadis yang sehari-hari tinggal di pondok ini. Apalagi menurut seorang teman yang lain lagi, selain kuliah dan pondok mulanya tidak ada kegiatan lain yang diikuti Sruti. Keikutsertaannya di komunitas lintas iman ternyata berkat ajakan seorang temannya yang pernah satu pondok juga. Pikir saya, jangan-jangan lirikan bencinya ketika kami kali pertama kenal itu perasaan saya sendiri, termasuk kerapuhannya soal kecantikan. Ada rasa penasaran tentang bagaimana jadi temannya tanpa saling luka. Maka saya coba mengajaknya pergi bersama di suatu acara tahun lalu. Namun di sana, saya justru makin mendapat konfirmasi bahwa Sruti memang gadis yang luka.

Di dalam mini bus yang kami naiki bersama peserta lainnya, Sruti yang duduk di kanan saya berucap bahwa dia tidak telaten menggunakan kosmetik atau perawatan yang macam-macam. Kalau tidak salah, itu di tengah obrolan antara saya dan teman perempuan yang duduk di kiri dekat jendela tentang cat rambut dan lain sebagainya. Sruti mengulang kata ‘tidak telatennya' berkali-kali namun tidak saya gubris. Saya sayang Sruti dan mengonfirmasi kecantikan hanya akan menghancurkannya lebih jauh. Baru setelah teman yang ada di dekat jendela berkata,”Sampeyan wis ayu teko kono e. Nggak perlu perawatan macem-macem.” Gadis yang berat badannya kira-kira 10 kilo di bawah rata-rata itu berhenti mencari konfirmasi.

Namun di kamar tempat kami menginap, gadis baik ini mengulangi lagi hobinya mencari konfirmasi. Ada empat orang gadis di dalam kamar yang tengah berbincang dan Sruti berkata sambil menepuk perhelangan tangannya,”Aku sak mene iki lemu...” dan kalimat tersebut diulangnya beberapa kali meski seorang gadis yang duduk di kanan saya memasang wajah tidak berminat. Perempuan berkulit kuning langsat yang gaya kerudungnya selalu sederhana itu saya kira berhenti, ketika gadis di sebelah kirinya menyahut,”Lek sampeyan lemu, aku opo?” dan gadis itu lebih tambun dari saya. Namun ternyata, Sruti masih mengulang kalimat bahwa ia gemuk sampai saya berkata,”Arek iki satir ya lek ngomong.” Disusul gelak tawa gadis yang duduk di kanan saya. Sruti menoleh dengan mata luka dan kaget pada saya sambil berkata,”Body shaming a...” meski tidak jelas ia sedang bertanya atau menyatakan sesuatu.

Hingga kami kemudian berpindah kamar dan mendapat satu gadis lain lagi sebagai teman. Teman baru kami itu memiliki jerawat di wajahnya dan ketika hendak tidur, dia mengoles semacam obat dalam jangka waktu beberapa saat. Saya mengajaknya mengobrol soal obat yang ia pakai, namun Sruti tiba-tiba menyahut,”Lek aku nggak telaten gawe ngunu iku.” Dan tidak disadari Sruti, mata teman kami itu nampak luka dan kecewa, sedang saya hanya bisa berkata,”Kebutuhan kulit tiap orang beda.”

Di Pelangi Sastra Malang, semua mesti kenal Dewi R Maulidah. Wajahnya sangat mirip Angeeben Rishi, pacarnya Adly Fairuz dan lagi sangat produktif menulis dan suka belajar. Dewi menjadi bulan-bulanan untuk digoda sana dan sini oleh banyak teman laki-laki namun saya tidak merasa kasihan. Mengapa? Gadis yang berat badannya sesuai rata-rata itu, sangat siap dengan semua perhatian yang lebih-lebih ditujukan kepadanya.

Sejak semula saya mengenal gadis berjilbab ini, dia begitu menghargai meski pakaian saya lebih sering asal nyaman. Mbak Vian, teman kami yang lain pun sangat menyukai kepribadian Dewi yang menghargai. Jika saja ia mau, tentu fisiknya yang standar industri sudah mencukupi untuknya populer tanpa susah-susah menulis, membaca dan berkomunitas. Tapi Dewi tidak pernah melakukannya.

Malah kadang, saya melihatnya tidak begitu nyaman ketika menjadi subjek pembicaraan di depan umum karena fisiknya. Pernah juga saya melihatnya lebih sengaja menempel saya dan mbak Vian, meski teman-teman lelaki heboh menggodanya dan tentu memberi tempat sangat luas untuknya ber-ndusel-ria di antara mereka. Lalu bagaimana dengan Sruti? Serupa Dewi, ia pun menjadi pusat perhatian di komunitas tempatnya begiat. Ia bisa dibilang memang memiliki wajah paling manis dan lagi dalam komunitas tersebut jarang beranggotakan perempuan.

Sruti juga menguarkan citra misterius, kalem namun juga pintar dan tegas meski sedang diam. Ditambah penampilan sederhana yang tidak mengurangi wajah ayunya. Banyak yang menilai Sruti bersikap anggun dan biasa saja ketika menjadi pusat perhatian. Yang satu ini saya setuju, karena nampaknya memang begitu. Dia cool dengan limpahan perhatian. Kemudian apa Sruti sama dengan Dewi? Saya pastikan, Dewi tidak pernah melakukan konfirmasi atas tubuhnya pada sesama perempuan, setidaknya di lingkaran kami dia tidak pernah melakukannya.

Yang terbaru tentu saja pertemuan paling anyar saya dan Sruti. Seorang teman laki-laki yang sejak kuliah berteman baik dengan saya mengomentari,”Tumben awakmu nggak menor, Pop?”. Ia merujuk pada penggunaan blush on saya sehari-hari. Menor yang ia ungkap tentu subjektif. Kalau yang seperti saya menor, apa kabar Tasya Farasya? Ini semua letaknya pada kebutuhan dan kenyamanan masing-masing. Selera dan butuhnya saya begini, Tasya beda lagi. Saya suka wajah segar karena blush on, bukan untuk menarik perhatian si teman ini. Meski saya masih toleransi padanya karena kami berteman lama dan ia hanya bercanda.

Meski demikian, Sruti yang duduk di kanan saya tiba-tiba menyahut dengan antusias,”Menurut Mas menor itu kayak gimana?” teman saya itu kaget, tidak menyangka kalimat candaanya ditanggapi sebegitu antusias. Mata Sruti saya tatap dan tidak jelas perasaan apa yang tergambar dari sana. Puas? Senang? Saya tidak berani menyimpulkan. Apalagi dia beberapa kali menyatakan bahwa warna mencolok sangat tidak ia suka. Ia sampai mengulang kalimat ini beberapa kali. Meski saya meyakini, dia hanya mengungkap pendapat dan bukannya mengomentari kegemaran saya pada warna mencolok.

Teman lelaki saya itu, kemudian bergumam yang saya lupa apa isinya dan Sruti mendesak lagi,”Iya, kalau menurut cowok itu yang namanya menor itu gimana, Mas?” kemudian teman saya itu menjawab,”Ya, ehm... Ya... Lebih berwarna gitu mukanya.” Wajah Sruti kembali saya amati dan lagi-lagi tidak jelas perasaan apa yang tergambar dari sana.

Kecenderungan teman laki-laki menjadikan gadis yang dianggap paling menonjol fisiknya sebagai subjek pembicaraan dan candaan di depan publik, bisa jadi sesungguhnya hanya diniatkan sebagai perekat pertemanan dan penghangat komunikasi dalam komunitas. Dewi yang menghormati pilihan sesama teman perempuannya dalam hal penampilan, kerennya pun tidak pernah habis. Ditambah lagi dia betul-betul tenang ketika menjadi subjek. Sedang Sruti yang masih dua puluhan, prosesnya belajar menerima pilihan sesama perempuan tentu masih panjang dan ada banyak kesempatan.

Konfirmasi kecantikan bagaimanapun tidak akan pernah habis jika dilakukan. Karakter satu ini bisa juga menjadi pemicu penindasan sesama perempuan, ketika ada yang dianggap lebih menarik perhatian dan cantiknya dikonfirmasi sekitar. Si pencari konfirmasi akan luka dengan perhatian yang teralih dan si pembuat perhatian teralih, juga akan luka dengan penindasan. Bisa jadi akan terulang pola melukai serupa dari yang mulanya ditindas tadi.

Jika ada temanmu sesama perempuan yang sibuk sekali mengonfirmasi kecantikannya. Baiknya jangan terlalu digubris. Ia luka dan butuh pertolongan. Cara menolongnya adalah dengan tidak menggubris upayanya itu. Seperti sikap saya pada Sruti. Pernah saya spontan memujinya makin cantik, namun hal demikian justru saya lakukan ketika dia tidak minta konfirmasi.

Kemudian, saya ingin sekali berkata pada Sruti,”Kamu cantik paripurna dan yang layak mengonfirmasinya adalah dirimu sendiri. Ngomong-ngomong, di masa lalu kamu punya luka apa sih?”


Ucapan terimakasih yang istimewa saya hatur kepada:
Raisa Izzhaty
Maryam Jameelah Al-Yasmin
Dewi Rizki Maulidah
Dan tentu saja Sruti yang baik hatinya.
Terimakasih kalian telah mengajari saya banyak hal.

Fyi, saya sudah ngobrol dengan Sruti dan memberikan tulisan ini sebagai hadiah. Hebatnya, ia menerima dengan hati dan justru ingin memelajari tipe kecerdasan dan kepribadiannya sendiri. Ia juga tertarik pergi ke luar forum yang biasanya ia datangi untuk melihat perempuan-perempuan lain dan melatih kepekaan (04/05/2019)

Thursday, April 18, 2019

Kata Pengantar Skripsi dan Kenangan-kenangan yang Dibawanya Pulang

Sumber: Gugel

Barangkali bagimu, menulis ucapan terima kasih dalam kata pengantar adalah finalnya dari skripsi, finalnya lelahmu. Kamu ingat bagaimana usahamu menyembunyikan buku rangkuman kecil di antara paha, saat UTS selama enam semester. Kamu ingat bagaimana nyerinya jarimu, mengirim pesan singkat pada mana saja kakak tingkat yang kira-kira masih menyimpan makalah tugasnya terdahulu, biar kamu tinggal print dan ganti nama. Kamu ingat juga bagaimana kerasnya usahamu memerpanjang durasi presentasi, supaya dosen lupa menagih tugas yang belum kamu kerjakan hari itu.


Namun, apalagi yang lebih susah dari menulis ucapan terima kasih? Paragraf-paragraf standar seputar ucapan terima kasih pada Tuhan, dengan segala puji-pujiannya, kemudian apa? Kamu mesti mulai dengan nama-nama, tidak lupa dengan kalimat singkat soal sebab nama-nama itu dicantumkan.

Kamu kemudian memulainya dengan nama dua dosenmu, dosen pembimbing satu dan dua. Soal urutan yang pertama ini, kamu memulainya dengan meniru skripsi-skripsi yang terdahulu. Pikirmu, ini tidak akan terlalu sulit. Ketik saja gelar dan nama kedua dosenmu itu, sebut mereka sebagai pembimbing skripsimu hingga selesai, akhiri kalimatnya dengan tanda titik.

Dosen pembimbingmu itu, keduanya lelaki enam puluhan. Kamu ingat bagaimana soal UTS bikinan dua dosen gaek itu semasa kuliah. Ada dua kata yang selalu menyertai pertanyaan bikinan mereka, apa dan sebutkan. Semua jawabannya ada di buku rangkuman kecil itu, kamu tinggal membukanya yang ada di antara dua pahamu. Tidak perlu analisis, jawabannya sudah pasti.

Kamu pun tidak perlu khawatir buat berbagi jawaban dengan teman-teman yang duduk di sekitaran bangkumu. Saat dua dosenmu itu memertanyakan mengapa jawabanmu dan teman-teman yang duduk di sekitaran bangkumu itu bisa sama persis, maka kamu tinggal jawab,”Apa yang kami hafalkan sebelum ujian pun sama persis, Pak…”

Dari kedua dosenmu itu, tidak ada lagi yang terlalu kamu ingat. Tidak ada yang istimewa dari materi kuliah mereka, kecuali tiga lembar foto copy rencana pembelajaran di awal pertemuan dan bagaimana mereka berdua membacakan isi buku yang dibawanya tiap pertemuan, serupa dekte semasa kamu SD. Tidak ada juga wejangan berarti serupa ayah terhadap putra putrinya, semasa kamu masih kuliah. Hanya ucapan dua dosenmu itu, ketika pertemuan pertama bimbingan skripsi yang kamu ingat, keduanya berkata nyaris serupa, “Skripsi itu cuma formalitas, Jen. Mau baik atau buruk hasilmu, nilainya pun akan sama rata. Baiknya, kamu segera selesaikan saja kemudian lulus dan cari pekerjaan.”

Kamu tersenyum tipis. Tombol enter kamu tekan dari komputermu yang kemudian otomatis memunculkan angka dua. Poin nomor satu, yang memuat nama dua dosen pembimbingmu itu sudah tuntas. Poin nomor dua, juga kamu isi serupa skripsi-skripsi terdahulu yang kamu pernah lihat, isinya nama kedua orang tua.
Sebentar kemudian, kamu melirik sebingkai foto yang ada di nakas, sebelah kasurmu. Kamu menegakkan duduk dan merasakan nyeri di punggung akibat terlalu lama duduk di kursi kayu menghadap komputer pentium dua yang dibeli second oleh papamu itu. Setidaknya, kamu rasa jauh lebih beruntung ketimbang teman-temanmu. Kamu masih punya komputer, bisa mengetik segalanya dalam kamar, sedang teman-temanmu masih harus pergi ke rental atau memergunakan jasa pengetikan.

Sekali lagi, kamu lihat foto yang ada di atas nakas itu. Ada kamu, mama dan papamu di sana. Usiamu saat itu masih tujuh dengan rambutmu hitam kemerahan, terlalu banyak terkena sinar matahari. Hobimu memanjat pohon jambu yang dulu ditanam di halaman belakang. Mamamu kemudian membunuh pohon itu, menyiram akarnya dengan oli. Akar-akarnya bikin tembok retak, katanya.

Kupingmu berdenging kemudian, membuat kamu terpaksa menutupnya dengan dua tangan, meski tidak ada guna. Suara-suara pecahan beling bersusulan dalam kepalamu, kupingmu, bahkan dadamu. Papamu ada di hadapanmu, dia tersenyum manis. Saban pagi, papamu itu memasak nasi goreng buat mama dan kamu. Sekadar nasi putih sisa kemarin yang dicampur bawang merah dan kecap. Namun, menurutmu nasi itu yang paling lezat. Dan sepanjang yang kamu ingat, mamamu itu gemar merangkul manja di lengan papa, selagi nasi goreng sedang diaduk.

Denging yang makin menusuk kuping itu mulai berkurang. Anehnya, jari-jarimu justru gemetar saat hendak melanjutkan mengetik. Kali ini, mama ada di hadapanmu. Satu gigi depannya mama, nampak bergoyang ketika tersundul lidahnya sendiri. Ada juga lebam kebiruan di mata kiri mama. Kamu melihat papamu berdiri dengan tangannya yang mengepal di hadapan mama. Tidak salah lagi, papamu pelakunya. Dia yang membikin satu gigi mamamu bergoyang dan mata kirinya lebam. Kamu melihatnya sendiri, saat tinju papa mendarat di muka mamamu berkali-kali dan itu sudah yang kesekian…

Tubuh mamamu nampak gemetar. Namun, wajahnya justru nampak datar. Pikirmu, mamamu itu perempuan yang tabah. Sebentar kemudian kamu mendelik, karena mendapati papa dan mamamu saling menempelkan bibir dan bertukar kata-kata cinta. Perutmu serasa diaduk, singkatnya ada mual yang merajah perutmu dan itu sudah yang kesekian…

Napasmu mulai berkejaran. Pikirmu, barangkali berhenti saja menulis ucapan terimakasih. Setidaknya, berhenti satu atau dua jam atau… selamanya. Seperti yang sudah kamu pikir di awal tadi, ini bakal sulit.

Air mata merembes pelan-pelan, melewati dua pipimu. Kamu tahu, kamu tidak bisa berhenti. Bagi orang lain, ucapan terimakasih bisa jadi sekadar formalitas dan bagimu, jika boleh memilih, biar skripsimu tanpa ucapan terimakasih saja. Namun, tanpa ucapan terimakasih, skripsimu akan nampak kurang ajar selama-lamanya dan terpajang di perpustakaan. Kamu hanya ingin… nampak normal dengan ucapan terimakasih dalam skripsimu itu, yang menyebut dosen pembimbing, kedua orang tuamu, kekasihmu dan teman-temanmu. Hanya itu… kamu hanya ingin berpura-pura lengkap lewat itu semua.

Sebentar kemudian, kamu buru-buru kembali menegakkan kepala. Cepat-cepat kamu kembali mengetik. Nama papamu, mamamu, beserta gelar mereka. Tidak seperti ucapan terimakasihmu di poin pertama, kali ini ucapanmu lebih mesra dan memuat kata cinta. Perutmu terasa seperti kembali diaduk, namun kamu buru-buru menarik napas kemudian menahannya cukup lama, coba melupakan rasa mual yang merajah perutmu itu.

Pada poin yang ketiga, kamu menuliskan namanya Maria, sahabatmu sejak SMA. Maria memiliki tubuh sangat kurus, kulit coklat dan mata bulat yang jernih. Kamu ingat, foto-fotomu di media sosial didominasi oleh fotomu bersama Maria. Kalian sangat lekat, bahkan hingga kuliah di kampus yang sama, namun beda fakultas.

Maria… ya… Maria. Perempuan itu memang sahabat baikmu, namun hubungan kalian tidak benar-benar mesra sepenuhnya. Saat kalian kelas 11, kamu mendapati Maria berkirim pesan dengan pacarmu, cinta pertamamu. Pacarmu dan Maria menyepakati sebuah pertemuan buat melepas hasrat mereka berdua di sebuah losmen, satu jam dari pusat kota letaknya. Selanjutnya, kamu diamkan Maria hingga setahun berikutnya. Maria telah memohon maaf berkali-kali, namun kamu selalu menolaknya, pun ketika pacarmu itu coba memohon maaf yang serupa. Baru setelah kamu diam-diam berhasil melepas hasratmu bersama pacarnya Maria, kamu mendatangi gadis berambut lurus itu, kamu bilang kamu sesungguhnya sudah memaafkan dia jauh sebelum dirinya memohon maaf. Kamu mengatakan, dirimu dan Maria adalah sesama perempuan yang mestinya tidak patut saling memusuhi. Sedang pacarmu? Mengingat dia sebagai cinta pertamamu, hanya membuat perutmu seperti diaduk, pun memandangi wajahnya.

Menahun berikutnya, kamu terus mengamati Maria. Diam-diam, kamu selalu bisa menyepakati waktu, agar bisa melepas hasrat dengan pacar-pacar barunya Maria. Kamu hampir saja ingin berhenti, ketika melihat Maria yang setia menemanimu saat demam di kamar kostmu, selalu. Namun, tiap kamu hendak berhenti, perutmu jadi serasa diaduk saat menatap wajahnya Maria. Mual itu merajah lagi perutmu. Kemudian, kamu memutuskan tidak akan lagi pernah berhenti.

M-A-R-I-A, Maria Larasati. Kamu mengeja namanya Maria dengan hati-hati, takut ada huruf yang tertinggal. Sudah kamu putuskan, bahwa nama Maria akan seterusnya kamu kenang, lewat ucapan terima kasih dalam skripsimu. Dengan nama yang terkenang selamanya itu, akan membuatmu juga terus ingat bahwa tidak akan ada kata berhenti. Ya… kamu tidak akan berhenti melepas hasrat dengan siapapun pacarnya Maria.

Jari-jarimu mengetik tombol enter, membuat angka empat otomatis muncul. Seperti pernah kamu rencanakan, poin nomor empat adalah tempatnya nama kekasihmu. Tapi tunggu… kekasihmu yang mana? Abdi atau Wiguna? Mana dari dua nama itu yang bakal kamu tulis. Bukannya… kamu punya dua orang kekasih?

Memiliki lebih dari seorang kekasih sesungguhnya tidak pernah kamu rencanakan. Kamu selalu ingin satu. Kenyataan jadi bukan satu-satunya saat bersama pacar pertamamu dulu, membuatmu tahu bagaimana rasanya kosong. Kamu tidak ingin membikin orang lain sama kosong denganmu, sesungguhnya. Namun, setiap kali kamu coba memiliki satu saja kekasih, perutmu rasanya seperti diaduk, ada mual yang merajah. Pun ketika kamu coba sendiri saja, kosong itu seperti mengejar tepat di belakang punggungmu. Jadi, kamu putuskan punya dua, tidak lebih. Bagimu, mual akan lebih menyakitkan dari perasaan kosong. Kalau pun saling menyakiti, kamu pun tidak ingin lebih banyak orang lagi yang terlibat.

Keringat dingin sekarang meleleh membasahi ujung dahi hingga lehermu. Jari-jarimu kali ini kaku. Kamu tidak bisa berhenti, kamu ingin hidupmu nampak lengkap melalui ucapan terimakasih itu. Namun, siapa yang akan kamu tulis? Abdi atau Wiguna? Celakanya, kamu ingat punya panggilan kesayangan yang berbeda pada dua lelaki itu. Menyebut salah satu, berarti sama dengan menyebut nama masing-masing dari mereka. Sekali lagi, seperti pikiranmu di awal tadi, menulis ucapan terimakasih akan jadi hal menyusahkan. Hingga kemudian, kamu putuskan untuk mengosongkan dulu poin yang mestinya berisi nama kekasihmu. Atau… kamu sebut saja mereka berdua dengan satu kata, kekasih? Ah… agaknya kamu betul-betul memilih memikirkan poin ini belakangan. Yang jelas, kamu harus bersama lebih dari satu kekasih, keduanya tidak boleh lepas atau mual itu bakal merajah lagi.

Kamu kemudian malah mengetik poin selanjutnya, nama jurusan dan angkatanmu juga si koordinator kelasmu itu, sahabat semua orang. Kamu dan si koordinator berambut gondrong itu, bersahabat sejak mahasiswa baru. Dia pandai memersatukan orang banyak dan seorang penyemarak. Pacarnya seorang ketua himpunan, yang usianya dua tahun lebih tua, Manda namanya. Manda yang lugu dan terkenal sangat baik dalam akademis maupun organisasi. Keduanya juga jadi macan di ruang-ruang diskusi dan kamu mengagumi pasangan yang kamu pikir saling bangun itu, pada mulanya. Kamu jatuh cinta pada koordinator itu, sekaligus mengagumi Manda.

Namun, satu waktu si koordinator itu saling goda denganmu di kamar kost saat kalian berdua mengerjakan makalah bersama, hasrat itu pun lepas dan setelahnya dia bilang padamu,”Meski ini semua sudah terjadi… kita nggak mungkin bareng, Jen. Seburuknya laki-laki macam saya, tentu saya punya dambaan punya pasangan yang lugu seperti Manda. Jaminan terbaik buat keturunan saya kelak.” Kamu kemudian hanya tergelak, seolah tidak merasa nyeri di dada mendengar ucapan si koordinator itu. Kalian selanjutnya terus bersahabat tanpa lagi pernah melepas hasrat. Kamu bertekad agar si koordinator itu tidak akan pernah tahu nyeri di dadamu itu. Semenjak saat itu, perutmu serasa diaduk dan mual kembali merajah, setiap membayangkan Manda yang lugu bakal hidup bersama koordinator itu.

Manda dan kamu kemudian lebih sering bertemu. Kamu mengatur kedekatan kalian, hingga Manda menginap di kostmu dan kamu menginap di kostnya Manda, hingga kalian saling cerita soal keluarga dan menangis, hingga kalian saling dekap, hingga kalian saling menempelkan bibir, hingga kalian… melepas hasrat masing-masing. Semakin sering kamu melepas hasrat bersama Manda, bayangan soal gadis lugu yang bakal menikahi si koordinator bajingan itu tidak lagi mengganggu kamu, mual itu juga tidak lagi merajahmu. Maka, tidak ada kata yang lebih pantas buat si koordinator itu, selain namanya ditulis dalam ucapan terimasih. Jika tidak karena dia, kamu juga tidak mungkin bisa dekat dengan orang sepengertian Manda. Ya… meski mungkin kamu tidak bisa gamblang berterimakasih karena apa.

Kamu menggeliat, merasakan otot punggung yang makin lelah. Beberapa kali, kamu menekan tomblo backspace, kemudian mengetik ulang nama itu dan menekan tombol backspace, kemudian mengetik ulang nama itu lagi dan kemudian menekan tombol backspace lagi. Selanjutnya, kamu hanya diam dan sudah lewat empat menit dan kamu tetap terpaku di depan layar komputer. Mendadak layar komputermu menjadi hitam berbarengan dengan lampu kamar yang padam dan jerit kaget para penghuni kost lainnya.

“Bangsat! Pemadaman bergilir lagi.” Rutukmu, sambil membayangkan file ucapan terimakasih yang belum kamu simpan dan mesti kamu ketik ulang beserta kenangan dan segala rasa mual yang menyusul.

Maka aku mulai menggeliat, kujatuhkan tubuhku dari dinding yang menempel ketat. Kamu menghampiri tubuhku yang pecah jadi kepingan. Melalui kepingan-kepingan tubuhku yang terserak, kamu melihat bayangan dirimu sendiri di usia tujuh, kali pertama kamu mengaitkan aku pada paku di dinding kamar rumah lamamu. Kegemaranmu adalah mematut diri di hadapanku, mencari-cari bayanganmu. Menahun berikutnya, kamu gemar membawa aku kemana-mana, berpindah-pindah kost dan juga mengajak aku bercerita.

Matamu berkaca-kaca sebentar kemudian. Kamu ambil satu keping serpihan tubuhku dan kemudian mulai menggoreskannya di pergelangan tangan kirimu dengan jari-jari yang gemetaran. Pertama kali dalam hidup, aku melihat wajah paling damai pada dirimu. Dan memang aku yang membantu kamu mencapai kedamaian itu…

Tuesday, April 2, 2019

Cerita Dua Pemberontak dalam Penyap, Karya Sayyidatul Imamah

Sumber: storial.co

Tulisan ini lolos seleksi intership book reviewer Storial.co

Namanya Anna dan dia menderita kanker. Jika tidak terlebih dahulu membaca sinopsis novel ini, bisa jadi saya akan berpikiran, jangan-jangan alur ceritanya bakal mirip dengan My Sister Keepernya Jodie Picoult. Apalagi, ketika mulai Anna dan Leo melakukan pertemuan mereka, penulis memunjukkan pengetahuannya akan novel terjemahan seperti, A Man Called Ove.

Tapi benar saja, memasuki awal bab dan melihat cara penulisan novel ini, masih juga membawa saya teringat dengan My Sister Keeper. Bab pertama My Sister Keeper, juga diawali sudut pandang tokoh bernama Anna, bedanya Anna di sana merupakan siswi SMP yang memiliki kakak penderita kanker bernama Kate. Premis cerita novel bersampul putih tersebut, juga banyak menyoal hukum dan juga kedokteran.

Penulis berusaha mengambil judul dengan kata yang tidak lazim dipergunakan, premis cerita adalah dua orang yang memiliki gangguan kesehatan mental karena dua sebab yang juga berbeda. Penyap, yang menurut KBBI berarti lenyap, agaknya merujuk pada dua tokoh utama cerita yang bekutat pada pikiran melenyapkan diri masing-masing; bunuh diri.

Anna digambarkan sebagai gadis berpenyakit yang di mana saja diperlakukan lembut, sebaliknya Leo yang diperlakukan kasar di mana saja. Namun tenyata, baik Anna maupun Leo sama merasa ditolak oleh lingkungan. Perlakuan manis yang Anna terima, dirasanya palsu sebagai tenggang rasa penyakit yang ia derita. Berbanding lurus dengan Leo, yang merasa orang di sekelilingnya menganggapnya sampah.

Menyoal originalitas, Penyap lagi-lagi membuat saya ingat dengan kisah lain. Keberadaan Robi sebagai tutor Anna dan Leo, membuat saya mengingat film 3600 Detik dan A: Aku, Benci & Cinta. Leon menjadi tutor Shae si anak pindahan yang badung dalam 3600 Detik, sedang Anggia dan Alvaro mesti saling menjadi tutor satu sama lain. Alvaro menjadi tutor musik Anggia dan sebaliknya cewek itu mesti mengawasi kenakalan Alvaro. Sedang dalam Penyap, Robi ditunjuk menjadi tutor kedua tokoh utama meski ternyata perannya tidak begitu besar dalam novel ini.

Ketika Leo mengajak Anna membolos dari pelajaran tambahan dan penyakit Anna kambuh, lagi-lagi mengingatkan saya pada kisah lain yaitu Malaikat Tanpa Sayap. Mura yang diperankan oleh Maudy Ayunda, menaiki sepeda dengan dibonceng oleh Vino. Cewek itu menganggap bersepeda seperti itu menyenangkan, serupa Anna yang menganggap penjelajahan hutan bersama Leo menyenangkan baginya yang selama ini tidak pernah pergi kemana-mana. Namun di tengah aktivitas menyenangkan itu, penyakit jantung Mura kambuh. Anna juga mulai mimisan dan pingsan setelah menjelajah hutan. Kedua cewek yang kemudian pingsan ini, sama-sama digendong oleh cowok yang sedang bersama mereka, Vino dan Leo.

Meski begitu, penulis berani membawa karakter Nora dengan lebih misterius. Bahkan hingga bab 18, kakak perempuan Anna itu hanya sekali terlihat berdialog dengannya. Hal ini seolah menunjukkan sifat Nora yang tertutup. Berbeda dengan My Sister Keeper yang mengambil sudut pandang semua tokoh sebagai pencerita dalam tiap babnya. Penyap hanya menampilkan sudut pandang Anna dan Leo secara bergantian, kecuali ketika Anna ternyata memutuskan hal besar hampir di akhir bab, sudut pandang leo terus dipergunakan meski berganti bab.

Leo berusaha digambarkan penulis sebagai cowok yang selain gemar berkelahi, ternyata juga pembaca berat buku. Telihat dari caranya menyambar dialog utamanya di awal pertemuannya dengan Anna. Cowok itu kerap menyambungkan apa yang terjadi dengan buku yang dibacanya. Pada mulanya juga, Leo digambarkan lebih berani dan optimis ketimbang Anna. Namun ternyata, cewek yang sehari-harinya bertopi kupluk itu diam-diam menyimpan jiwa pemberontak serupa Leo. Terlihat dari narasi sebagai ‘aku’ yang ia bawakan dalam melihat dunia di sekitarnya dan bagaimana dia, dengan caranya berusaha melerai perkelahian Leo.

Tokoh Hara sebagai satu-satunya teman yang sering berinteraksi di sekolah dengan Anna, digambarkan apik sebagai tukang komentar ulung yang seolah memiliki bahasan buruk dari setiap warga sekolah. Dialog-dialog Hara yang kerap berjejalan, seolah lawan bicaranya berminat atas apa yang ia bicarakan, menjadikan cewek itu murni terlihat menyebalkan hingga Anna sendiri bertanya hal apa yang sesungguhnya membuat dia bertahan bertahan berteman dengan Hara yang sesungguhnya selalu menghampirinya terlebih dahulu.

Nora sendiri, sukses menjadi tokoh terabai yang agaknya menyimpan hal besar. Ayah dan ibu Anna, terlihat manusiawi dalam narasi Anna. Ayah dan ibu digambarkan sangat cemas dan tertekan dengan keadaan putrinya yang mengidap kanker sehingga seolah tidak begitu perhatian pada putri meeka yang lain. Mereka berdua sesungguhnya khawatir berat pada Anna dengan caranya yang bagi putri mereka itu ternyata tidak adil. Sedang di dunia maya, Anna dan Leo bahkan sempat ‘bermusuhan’ melalui kolom komentar di blog.
Penulis mampu membangun emosi tanpa harus menuliskannya secara lugas. Seperti kertertarikan Anna dan Leo yang nampak sekali lebih dari teman, tidak ada kata saling mencintai menjadi narasi. 

Kecemasan orang tua Anna hingga ibu Leo yang sangat tergantung soal ekonomi terhadap suami barunya, juga dibangun melalui narasi dalam sudut pandang Anna dan Leo.
Kecemasan orang tua Anna, justru nampak dari narasi megenai ketidakadilan dalam versi cewek itu. Sedang ketergantungan ibu Leo soal ekonomi, terlihat dari dialognya bersama Leo di mana mereka tidak akan pindah kecuali si ibu memiliki pekerjaan baru. Meski latar belakang kekerasan yang dilakukan ayah tiri Leo tidak sungguhan dikupas tajam oleh penulis.

Pemahaman penulis mengenai gangguan kesehatan mental, cukup baik digambarkan dalam Penyap. Hal ini menunjukkan penulis sungguh melakukan riset, bisa jadi melalui buku atau juga dunia nyata. Perasaan ingin mati dan sedih yang menggebu, menjadi ciri penderita depresi.
Meski cukup apik dalam kaidah berbahasa, penulis beberapa kali terlalu banyak melibatkan koma dalam satu kalimat yang sesungguhnya bisa dipisah menjadi beberapa kalimat atau lebih efisien tetap dijadikan satu kalimat dengan menghilangkan koma. Dalam bab 8, paragraf 23,”Aku sudah sering tidak tidur akhir-akhir ini, yang menurut internet, merupakan tanda-tanda penyakit gila, nama kerennya, depresi.” Padahal, kalimat tersebut bisa diubah menjadi,”Aku sudah sering tidak tidur akhir-akhir ini. Menurut intenet, merupakan tanda-tanda penyakit gila yang nama kerennya, depresi.”

Penggunaan kata telepon dan ponsel juga tidak konsisten. Di bab 17 dan seterusnya, kata telepon digunakan. Padahal, telepon menurut KBBI bukan merujuk kepada ponsel pintar. Sedang telepon yang digambarkan penulis adalah gawai yang dipergunakan oleh para tokoh dan jelas tergambar adegan pencarian internet dan lain sebagainya. Baru pada bab 49, kata telepon diganti ponsel dan ini lebih baik ketimbang telepon yang merujuk pada alat komunikasi dengan kabel.

Penulis memang cukup mengikuti perkembang kaidah berbahasa, ditunjukkan dengan penggunaan kata ‘memercayai’ di mana terjadi peleburan huruf KTSP ketika bertemu ‘mem’. Namun, penulis ternyata masih menulis risiko sebagai resiko dan belum dapat membedakan kata kami dengan kita. Meski demikian, gaya bahasa yang cukup serupa dengan novel-novel terjemahan dalam Penyap, menyajikan diksi-diksi yang tidak rumit dan nyaman dibaca sekali duduk. Kesederhanaan ini justru berbanding terbalik dengan penggambaran cinta yang tidak lugas, rumit dan justru manis dalam cerita.

Untuk urusan sampul buku, penulis berusaha menginterpresentasi rasa putus asa para tokoh utama sebagai tangan hitam dan pertolongan dalam bentuk tangan yang lebih cerah. Namun apabila merujuk akhir cerita yang menyesakkan, bisa jadi tangan hitam tersebut justru menyesap tangan yang seolah pertolongan. Penulis sendiri menyertakan label kompetisi yang ia ikuti dalam sampul, menunjukkan kesungguhan dan ketelitiannya tas hal-hal yang nampak kecil.
Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada dalam Penyap, menang atau tidak dalam kompetisi kali ini saya harap ia terus menulis dan mengasah diri dalam berbagai kompetisi berikutnya.

Catatan: Saya lupa menambahkan bahwa tidak ada ciri fisik dalam novel ini. Padahal dengan lembaran yang sebanyak ini, ciri fisik dapat disebar sepanjang novel. Hanya ada cara berpakaian Leo yang berantakan dan topi kupluk Ana sebagai ciri fisik (Saya menambahkan catatan ini setelah deadline seleksi lewat karena sungguh kelupaan. Nekad menambahkannya meski sudah lewat seleksi karena berharap penulisnya mendapat fungsi). Ketika saya mengunggah resensi ini di kolom komentar novel penulis, terdapat pula banyak tipo.