![]() |
| Sumber: IG Fakultas Ilmu Pendidikan |
Harinya Senin, tanggalnya 13, bulannya Juli, tahunnya 2026 dan saya bangun tidur dengan mimpi yang membekas. Dalam mimpi saya menuliskan cerita ini, dimana prof Supriyono yang sudah meninggal dunia tidak mungkin membela dirinya sendiri sekarang. Lantas saat ini, waktu sudah terbangun, saya jadi berpikir kenapa tidak bantu prof Supri semampu-mampunya membersihkan nama dari tangan kotor predator satu ini?
Prof Supri sendiri terkenal sebagai dosen yang humanis di jurusan. Mendukung semua passion mahasiswa adalah kata kuncinya. Jadi sebetulnya ketika pelaku pelecehan dan kekerasan seksual satu ini mendaku dibela prof Supri saat kasus berlangsung, teman-teman jurusan banyak yang tidak percaya. Namun pelaku juga tetap membikin 'ruang amannya' sendiri, rasa aman semu, berisi teman seangkatan saya yang apatis terhadap kasus yang ia lakukan, teman angkatannya yang tidak mau konfrontasi, adik tingkat yang menjilat atau ketakutan. Bisa jadi di 'ruang amannya' ini ia masih dipercaya.
![]() |
| Kesaksian teman A soal pak Pri yang mendukungnya. |
Saat tangkapan layar status WA pelaku sampai di tangan saya, tangkapan layar itu sudah melalui tangan ketiga atau mungkin keempat. Rangkaian status itu ada enam slide, berisi percakapan pelaku dengan prof Supri saat bimbingan, foto-foto bersama saat kuliah hingga pelaku yang berpose sedih di samping makam prof Supri. Saya tidak melihat status itu ada di kontak saya, pelaku menyembunyikan nomor saya, agaknya.
![]() |
| Sumber: status pelaku soal pak Pri |
![]() |
| Sumber: status pelaku soal pak Pri |
![]() |
| Sumber: status pelaku soal pak Pri |
![]() |
| Sumber: status pelaku soal pak Pri |
Sempat saya ada di masa jadi sering mengecek views status untuk mengamati bagaimana keberpihakan teman-teman terhadap korban pasca kasus (mengingat sebagian kawan sendiri justru mendukung predator satu ini) dan pelaku masih mengunjungi status saya setidaknya hingga dua tahun lalu, jadi jelas sudah kami masih saling menyimpan nomor WA setidaknya hingga saat itu. Ajaibnya, ia hanya muncul saat status saya membahas soal kekerasan seksual.
Namun sejak 2021 awal tahun, di hari ia mengumumkan sudah sidang tesis di status WA (namun akhirnya gagal dapat gelar karena diDO akibat terbukti melakukan kekerasan seksual), saya tidak lagi pernah melihat statusnya, sebaliknya teman-teman. Sejak 2024 pula, saya yang sebetulnya tidak hobi menyembunyikan status dari kontak tertentu, jadi menyembunyikan kontaknya karena tidak ingin dia mendapat akses pengetahuan soal kekerasan seksual yang biasa saya bagikan di status. Tidak ada yang lebih ngeri dari pelaku yang punya akses pengetahuan bukan?
Dan untuk status soal prof Supri, agaknya ia tahu betul posisi saya terhadap kasusnya. Jadi nomor WA entah saat itu ia hapus atau sembunyikan (jika ditanya langsung, bisa juga pelaku berdalih ganti perangkat). Artinya, ia sebetulnya tahu bagaimana dirinya membingkai kedekatan dengan prof Supri sesungguhnya semu dan bagi teman-teman yang tidak bersikap abu-abu apalagi membelanya dalam kasus tersebut, klaimnya tentu mudah dibantah. Betul, mereka tidak sedekat itu. Prof Supri menurut kesaksian adik tingkat setahun di bawah saya yang cerita pada salah satu teman sekelas di angkatan, menyaksikan sendiri guru besar Pendidikan Luar Sekolah (saat ini Pendidikan Nonformal) itu bilang tidak mau turut campur kasus pelaku. Mirip dengan yang beliau katakan pada saya lewat percakapan WA bahwa dirinya ingin solusi yang baik dan menyesalkan terjadinya kasus tersebut.
![]() |
| Keterangan: teman A bersaksi soal posisi pak Pri dalam kasus. Gamau ngurus di sini berarti secara pribadi beliau membiarkan pelaku mengurusi kasusnya sendiri sebagai bentuk tanggungjawab. |
![]() |
| Keterangan: Teman A mengetahui bukti pak Pri tidak memihak pelaku dari teman yang lain. Bukti berupa apa tidak bisa disebutkan dalam tulisan ini demi keamanan informan. |
![]() |
| Keterangan: teman A bersaksi pak Pri orang baik. |
![]() |
| Keterangan: apresiasi pak Pri terhadap passion saya dan pernyataan menyesalkan apabila ada korban di mata kuliah binaannya. |
![]() |
| Keterangan: Pak Pri mengikuti kasus melalui jurusan. |
![]() |
| Keterangan: posisi pribadi pak Pri terhadap kasus. |
Namun kasus yang mencuat 2020 itu bahkan sudah menyebar sampai fakultas teknik. Teman saya yang selain anak teknik juga aktif di unit sastra UKM Penulis, mengirim DM di Twitter, bertanya apa benar prof Supri membela pelaku dan ternyata, pelaku sendiri yang menebar isu itu hingga seolah ia mendapat perlindungan dari orang besar (tangkapan layar DM tidak bisa disertakan karena Twitter lama saya hilang). Taktik pelaku seolah dibela orang besar, orang yang berpengaruh, tentu klise, banyak dilakukan pelaku sejenis dan dibikin untuk menakuti korban, saksi, pendukung hingga pendamping kasus.
![]() |
| Keterangan: tangkapan layar DM teman teknik tidak ada. Jadi yang disertakan copy paste DM tersebut pada pendamping korban. |
Jelas pelayat prof Supri begitu banyak saat beliau meninggal 25 Mei lalu, tentu juga relasi, teman, kolega semasa hidup yang baik maupun jahat terhadap beliau bercampur hari itu. Keluarga jelas juga tidak tahu bagaimana perlakuan pelaku terhadap prof Supri semasa hidup. Memiliki akses pergi ke pemakaman prof Supri belum tentu diikuti fakta semenjak kasus tersebut mereka dekat setara saat pelaku masih menjadi asisten dosen beliau.
Di akhir tulisan ini dalam batin saya masih mengomel saja dengan kalimat,"Kok tega ya..." karena bahkan, prof Supri semasa hidup sudah difitnah seolah membela pelaku dan ketika meninggal masih juga difitnah hal serupa yang kali ini sayangnya tanpa prof Supri bisa membela diri. Rangkaian status WA dibikin seolah berbanding lurus antara pembelaan dan kedekatan.
Jadi kalau masih ada yang menyanggah, itu bentuk duka aja kali nggak usah berlebihan atau dia udah menyesal kali makanya bikin status kayak gitu. Maka, ayo dong jangan naif. Pelaku sudah jualan nama prof Supri sejak masih sugeng, permintaan maaf pada korban mana ada juga. Dirinya bahkan masih mengembus kabar pemecatannya sebagai mahasiswa S2 merupakan konspirasi terkait profesinya sebagai wartawan dan sosoknya sebagai aktivis kampus yang seolah tokoh utama dalam suatu cerita heroik. Masih percaya dia punya itikad baik? Ini bukan sinema pintu taubat yang manusianya bisa berubah dalam satu episode, teman-teman.
Namun setidaknya, masih banyak teman-teman yang berani bersaksi bahwa prof Supri orang baik dan dengan jelas tidak membela pelaku sama sekali. Prof Supri memang benar sudah tidak bisa membela diri, tapi kesaksian teman-teman akan terus mengiringi.
Terakhir, selamat jalan Prof. Dr. Supriyono, M.Pd, yang selalu mendukung saya menulis sejak semula...
Catatan tambahan:
Bagi teman-teman yang hendak menyebut nama lengkap pelaku dikaitkan dengan kekerasan seksual secara langsung tentu saja sudah aman yes. Karena berdasar Surat Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan nomor 2.2.27/UN32.1/TU/2021 yang dikeluarkan Universitas Negeri Malang (UM), pelaku sudah dinyatakan bersalah. Juga dalam Surat Keputusan (SK) nomor 90/SK/AJI.KDR/XII/2022 yang dikeluarkan Aliansi Jurnalis Kediri (AJI) pelaku dinyatakan bersalah untuk kasus serupa dengan korban berbeda.
















.jpeg)
.png)