Tuesday, June 23, 2026

Eksekutor VS Analisator

Sumber: Dokumentasi Maulida Usmawati. Dari kiri ke kanan kating jurnalistik lupa nama, Joice, Fitri, Iin (Pimred Jurnalistik), Maulida (wakil Pimred Jurnalistik), Putri Wulandari (Iwul), saya (anggota Jurnalistik). Iin rambutnya digambar soalnya sekarang berjilbab.

Ibu saya yang seorang guru beberapa waktu lalu bercerita, soal kebijakan baru dari menteri pendidikan. Ujian bagi para siswa akan dibuat dengan soal analisa. Dapat kah diubah sedemikian singkat? Sedang dosen di perguruan tinggi saja tidak semuanya memberi soal analisa kepada mahasiswa. Ibu lantas menyebut beberapa nama teman saya semasa SMP yang mendapat label pintar dan dikatakan ibu, andai sejak dulu saja soal ujian model analisa, beberapa nama yang disebut tadi tentu kalah prestasi dengan saya. Ya, saya memang tipe konseptor dan suka menganalisa. Sesuatu yang saya kenali justru setelah masa-masa buruk di sekolah formal: dibully guru hingga teman. Sesuatu yang belakangan juga baru dikenali ibu ketika saya dewasa dan juga disesalinya karena baru menyadari, mestinya anak seperti saya dulu dimasukkan sekolah alternatif saja.

Saat SD, saya dituduh seorang guru sebagai pemalas dan sering nama saya disebut di depan kelas. Padahal di masa itu, saya betul-betul tidak tahu cara belajar. Saya tidak tahu harus diapakan buku cetak dan LKS dari sekolah. Label demikian celakanya saya yakini hingga SMP dan prestasi akademik pun tetap buruk dan label bodoh saya dapat kemudian. Nilai saya di rapor selalu 75, batas KKM, kecuali seni budaya yang di atas rata-rata, 90. Cerita ini sering saya tulis sejak 2015 di blog dengan label cerita 'keseharian' dan 'ngoceh pendidikan'. Di blog termasuk ada latar belakang, bagaimana ibu yang mulanya mendampingi saya belajar jadi tidak mendampingi kemudian.

Iin Sulis Setyowati teman semasa SMK pernah membalas bahasan saya soal label bodoh di Twitter. Ia ternyata, pernah pula dilabel demikian sebelum masuk SMK. Meski belum mendengar cerita lengkap bagaimana label tersebut bisa disemat pada Iin, saya menduga kecerdasan Iin yang tipe eksekutor tidak terdeteksi oleh standar penilaian pada jenjang pendidikan sebelumnya.

Namun di SMK, prestasi akademik saya dan Iin bisa dibilang termasuk di atas rata-rata. Apa yang terjadi dengan kami? Menyesuaikan diri. Saya misalnya, menyadari bahwa ternyata yang dituntut sekolah formal adalah hafalan yang sesuai dengan buku atau materi yang diberikan guru. Demikian ternyata membuat nilai akademis menjadi baik dan label pintar  bisa didapat. Jawab saja semua tugas dan ujian sesuai buku dan keterangan guru, maka selamatlah seorang anak dari label bodoh. Ini terlepas si anak betul-betul menghafal atau menyontek.

Pekerjaan Sosial (sekarang berubah menjadi Perawatan Sosial), nama jurusan saya dan Iin di SMK. Kami beda kelas selama tiga tahun dan Iin sempat menjadi pimpinan redaksi di estrakulikuler jurnalistik di mana saya juga mengikutinya. Jurusan ini pula yang ternyata materi-materinya sangat mewadahi anak-anak dengan tipe analisator seperti saya. Saya lebih bahagia menjalani masa sekolah di SMK, tentu saja. Ibu sendiri mengetahui bahwa saya ternyata tipe analisator, salah satunya dari bu Endang, guru di jurusan. Pada salah satu pertemuan di mana sekolah swasta dan negeri bisa bertemu satu lokasi, bu Endang menyatakan pada ibu bahwa kemampuan analisa saya beda dari sebaya, semasa SMK.

Bagaimana dengan Iin? Siapa yang tidak ingat pimpinan redaksi yang berhasil mewujudkan majalah sekolah ini? Siapa yang tidak ingat dengan rumah hantu yang pertama kali dalam sejarah sekolah digelar ketika pentas seni sekolah? Sejak SMK, kecerdasan Iin sebagai tipe eksekutor juga terlihat berbeda dengan sebaya. Ide paling sederhana sekalipun, bisa jadi apik bila Iin yang mengeksekusi. Soal rumah hantu misalnya, saya ingat pentas seni sekolah tahun itu jadi begitu ramai. Pengunjung sangat banyak dan Iin membawa teman-teman jurusan sukarela menjadi hantu dan berdandan macam-macam. Padahal, ide demikian ketika masih berupa konsep terdengar biasa saja. Namun ketika rumah hantunya betul-betul terwujud, dua ruang kelas disulap jadi jalan berbelok-belok dengan hantu-hantu yang menanti. Yang jelas, rumah hantu itu menyenangkan orang banyak kala itu.

Jelas jika disuruh mengeksekusi ide semacam Iin, saya tidak bakal tahu apa yang harus dilakukan. Saya bukan tipe eksekutor. Sebagai tipe analisator, saya barangkali lebih bisa mengenali kemampuan orang yang tersembunyi sampai sifat-sifatnya yang unik. Iin sebaliknya, ia melihat sesuatu yang tersurat. Dalam memimpin, Iin tidak ribet mencari potensi, apa yang ia lihat, itulah yang dieksekusi. Demikian membuat Iin lebih lincah bertindak. Ia pula tidak rumit dalam pertimbangan yang terlalu banyak.

Iin kemudian masuk kuliah di jurusan yang serupa dengan masa SMK, sedang saya masuk jurusan yang bisa mewadahi kenangan buruk di sekolah formal. Jurusan Iin di kampus, sangat mewadahi tipe analisator maupun eksekutor sepertinya. Bagi tipe eksekutor seperti Iin, di jurusan ini ada porsi di mana teori-teori tidak menjerat lebih dahulu sebelum bergerak. Kesejahteraan Sosial, nama jurusan itu. Sedang saya masuk jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Tipe analisator maupun eksekutor juga diwadahi di sini. Bagi tipe analisator seperti saya, ada porsi-porsi dimana buah pikiran betul dibutuhkan.

Meski sayangnya, di salah satu lingkungan Iin yang sekarang agaknya tidak mengenali tipe eksekutornya. Lingkungannya yang sekarang, menuntut Iin membaca dan mampu menganalisa. Bahkan label bodoh, didapatnya dengan mudah saat ini. Padahal, jika saja dibalik dengan saya yang diharuskan jadi tipe eksekutor misalnya, tentu saya akan terlihat bodoh. Setiap orang pasti akan bodoh jika diletakkan bukan pada porsi kecerdasannya. Ini seperti semasa SMK, saya mampu membuat artikel untuk majalah sekolah namun menggerakkan semua orang hingga majalahnya betulan jadi? Mana saya bisa. Hanya Iin yang mampu melakukannya.

Dan ya... Kebijakan sekolah formal, barangkali akan terus berubah. Seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, ganti menteri artinya ganti kebijakan. Angkatan saya saja, mengalami beda kebijakan selepas lulus SD, SMP dan SMK. Terlalu utopis apabila kita terus menerus membandingkan pendidikan di Indonesia dengan Finlandia misalnya. Terlalu utopis juga, membebankan cara mengajar sesuai karakteristik siswa, pada guru yang saban hari sudah penuh dengan beban administrasi. Lagi-lagi terlalu utopis pula, memaksa setiap orang tua mengenali sistem pendidikan selain formal karena ya... Tidak semua orang tua memiliki akses dan biaya juga.

Anak-anak mesti menyesuaikan diri dengan standar pintar yang ditetapkan sekolah formal. Tidak bisa tidak, ini wajib. Tentu mereka tetap bisa mengenali potensi diri yang lain dan mengembangkannya, meski standar pintar di sekolah formal tidak mewadahi. Misalnya seorang anak yang kinestetiknya menonjol. Pelajaran olahraga seminggu sekali tidak mungkin menampung kecerdasan kinestetiknya yang dominan. Anak bisa mengikuti ekstrakulikuler yang berkaitan dengan olahraga di sekolah atau jika orang tua punya cukup dana, anak tadi bisa ikut klub di luar sekolah. Meski masih jadi pertanyaan, bagaimana dengan sekolah yang ekstrakulikulernya tidak terurus atau orang tua yang tidak punya cukup dana buat membayar klub? Kan ada internet... Lantas bagaimana dengan anak-anak yang tidak punya akses internet?

Yang jelas sih, semua keramaian di dunia pendidikan yang tidak kunjung habis ini, bukan salahnya para pemangku kebijakan. Bukan pula salah orang tua maupun guru. Semuanya adalah salah kami, anak-anak yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan standar yang sudah ditetapkan...


Catatan:

Ditulis 2020 di status FB dengan janji mau diperhalus dan dibikin lebih rapi sebelum diunggah di blog tapi ternyata tidak terealisasi.

Iin berhasil menyelesaikan S2 di lingkungan yang memberinya cap bodoh dan menuntut analisa. Saat ini ia menjadi dosen di jurusan Kesejahteraan UMM. Sebelumnya, ia sempat pula menjadi pekerja sosial di kota Batu.

Wednesday, June 10, 2026

Adalah Cerita

Sumber: Gugel

Kita terbiasa menganggap cerita yang patut dituliskan mesti yang terlihat spektakuler. Kelahiran, kelulusan, pernikahan, kemenangan, kesedihan dan kematian sebagai misal.

Kita kerap kali merasa tidak punya bahan cerita yang layak jika bukan hal-hal fenomenal tadi isinya. Hasilnya, terjadi kebuntuan menulis.

Saturday, May 30, 2026

Hadiah

Sumber: Gugel

Hadiah 1

Kamu mengirimnya sebuah surat, ditulis tangan. Katamu hai, padanya. Namun surat itu dia letakkan sembarangan saja di meja, sampai ketika ditinggal mandi, kertas itu lenyap dan tidak pernah dicari.

Hadiah 2

Kamu mengirimnya sebuah surat, kali ini berisi sketsa wajahnya, dibikin model chibi. Namun kertas seukuran A3 itu dia letakkan sembarangan saja di kasur, sampai ketika ditinggal mengambil paket, kertas itu lenyap dan tidak pernah dicari.

Hadiah 3

Kamu mengirimnya coklat satu kantung, bikinan sendiri. Sambil memakannya dia mengirim WA padamu, hai katanya dan menurut dia coklatmu lumayan enak. Hanya dua biji yang dia makan, selebihnya dia bandingkan rasanya dengan coklat rasa susu bikinan pabrik.

Hadiah 4

Kamu mengiriminya sebuah topi, kali ini dengan menyisihkan uang gaji dua bulan buat benda yang katanya bermerek itu. Merek benda itu tercetak jelas di permukaan topi, lantas ia mengirimimu voice note, bertanya bagaimana harimu.

Hadiah 5

Kamu mengiriminya sebuah jaket, kali ini dengan menyisihkan uang gaji enam bulan buat benda yang katanya bermerek itu. Merek benda itu tercetak jelas di jaket bagian depan, lantas dia muncul lewat video call, menceritakan harinya.

Lantas sekarang kamu berpikir-pikir, hadiah apa lagi yang membuatnya sampai pada ajakan menikahimu?

Saturday, May 2, 2026

Motif Pernikahan (2)

Sumber: Gugel

Orang bisa menikah, berhubungan seks, punya anak, membangun kemapanan bareng tanpa cinta.

Menikah memiliki syarat wali, saksi, penghulu dan pengantin. Bukannya cinta.

Berhubungan seks bagi dominan hetero (non demiseksual atau aseksual) bisa dengan rangsangan fisik. Bukannya cinta.

Anak-anak akan lahir dengan sperma dan sel telur yang bertemu. Bukannya cinta.

Membangun kemapanan bisa pula karena dikejar ketakutan hidup tanpa rasa nyaman. Bukannya cinta.

Pernikahan tidak membuktikan cinta.

Dan memang begitu kenyataannya.

Saturday, April 25, 2026

Bias (Pengalaman Nonton Kembang Api)

Sumber: Gugel

Lelaki pertama ciri khas boomer banget, menghakimi masalah orang tidak lebih berat masalahnya dibanding dia.

Lelaki kedua ini betulan kayak gini? Dia kan dokter umum, setidaknya dia tahu kapan harus minta bantuan sejawatnya yang profesional.

Perasaan wanita pertama ini valid banget sih, rasa bersalah atas kehilangan nggak bisa diselesaikan begitu mudah.

Lantas anak SMA satu-satunya dalam klub ini, saya pernah mengalami serupa namun dia lebih berat. Jadi wajar jika dia menganggap satu-satunya jalan keluar adalah...

***

Saya mengenali diri saya sendiri sebagai seseorang dengan pemikiran dan isi hati yang bias saat nonton film Kembang Api. Film sendiri dimulai dari klub bunuh diri yang terdiri dari empat orang lintas usia yang kemudian terjebak time loop.

Film yang rilis 2023 lalu itu membikin saya secara sadar dan tidak sadar melakukan bias-bias serupa para tokohnya seputar masalah hidup orang lain. Mana yang lebih berat, mana yang paling buntu, lebih kejam; hingga mana yang paling layak berpikir bunuh diri.

Bahkan penghakiman atas ciri khas generasi tertentu ketika menghadapi masalah pun muncul dalam pikiran dan hati saya. Ya, kesimpulan pria pertama sebagai boomer tadi. Selain, karena tidak pernah menghadapi masalah serupa sependek hidup (amit-amit jangan, saya belum tentu kuat), jadi tidak ada bayangan bagaimana penyelesaian masalahnya. Ketika dalam kepala tidak ada ide-ide penyelesaian masalah, saya langsung berpikir beratnya masalah lelaki pertama valid.

Sedang untuk lelaki kedua, justru ada bias pemikiran, bukan kah dia punya akses pengetahuan buat mengobati dirinya? Ia bahkan masih mengulas keilmuan yang sempat didapat di bangku kuliah untuk bantu memikirkan solusi satu-satunya anak SMA dalam klub itu. Tapi bukan kah siapa saja bisa merasa buntu dan itu manusiawi? Tapi mengapa saya masih menganggap masalah lelaki kedua paling ringan dalam klub ini, sedang saya juga mengatai lelaki pertama sebagai boomer tukang menghakimi?

Lantas kenapa rasa bersalah perempuan pertama lebih mudah saya terima sebagai masuk akal? Kenapa saya tidak memiliki bias untuk membayangkan dia ngobrol saja dengan suaminya lantas bahu membahu menyelesaikan rasa bersalah mereka? Apakah karena saya punya pengalaman jatuh dari motor bersama ibu yang padahal kami berdua sama-sama tidak terluka, tapi saya menangis dan merasa bersalah melihatnya tertimpa pagar?

Kemudian untuk satu-satunya gadis SMA dalam klub, apakah lagi-lagi biasnya datang karena saya pernah mengalami hal serupa meski jauh tidak lebih berat dibanding dia? Apakah pengalaman serupa membikin kita punya landasan menginvalidasi atau memvalidasi pengalaman orang lain?

Pertanyaan pun muncul setelahnya, bagaimana ketika saya menghadapi suatu musibah, suatu masalah, lantas orang lain memiliki bias dan penghakiman seperti yang saya lakukan kepada para tokoh dalam Kembang Api? Bukan kah saya juga akan sama tidak terimanya dengan mereka saat saling menginvalidasi masalah dan musibah masing-masing sepanjang film?

Pada akhirnya, para tokoh dalam Kembang Api adalah saya, adalah kita semua, yang berapa banyak pun sudah mendengar kisah diri dan orang lain, tetap saja memiliki bias buat menginvalidasi dan memvalidasi masalah juga musibah orang lain.

Wednesday, March 4, 2026

Telak

Sumber: Gugel

Kamu membalasnya telak, dengan kembali pada orang yang paling melaraimu sepanjang hidup, memilih mati ditemukan oleh dia.

Kamu membalasnya telak, dengan membiarkan orang yang paling melaraimu sepanjang hidup pura-pura berkonvoi paling depan menangisi kematianmu.

Kamu membalasnya telak, dengan membawa iri dan segala rasa tidak terima atas hidupnya sampai mati, memeluk mereka erat sekali.

Seperti pesan terakhir sebelum dia merasa paling berhak menghukummu,”Jangan temui aku lagi kecuali kamu bisa meletakkan segala iri itu.”

Friday, February 13, 2026

Keperawanan Teman Saya...


Lokasi: Bareng Malang. Jepreted by tanganku dewe.

"Hai, Pop... Langkah sudah ada lanjutannya?" tanyanya sambil mendekati bangku saya.

Langkah adalah judul novel yang saya tulis tangan saat kelas delapan dan tidak pernah saya selesaikan, sayangnya. Jika menilik istilah masa sekarang, Langkah sebetulnya berisi fan fiction yang tokoh-tokohnya mengambil dari Naruto.

Waktu itu, saya bikin cerita dengan tokoh Tsunade, ibu muda yang terus menerus gagal mencapai mimpinya jadi komikus. Ia memiliki anak berusia SMP bernama Gaara yang tiap hari mesti mengevakuasi dirinya yang kerap mabuk hingga tidak sadar tidur di sembarang tempat karena depresi. Gaara dan Tsunade, keduanya tokoh favorit saya tentu saja dari serial Naruto.

Gadis yang bertanya di depan tadi duduk dua bangku dari belakang. Sedang saya, duduk di bangku paling depan dekat pintu, sendirian. Satu waktu, bu guru mata pelajaran akuntansi memujinya yang mampu mengerjakan soal di papan tulis dengan ucapan, sudah pinter, cantik lagi sesuai namanya.

Sejak kecil, saya tidak pernah punya konsep fisik dalam melihat seseorang, jadi ketika dewasa lebih suka pakai istilah standar industri dibanding ganteng atau cantik. Namun meski demikian, saya tahu teman sekelas saya itu punya karakter secantik apa. Begini ceritanya...

Mulai kelas tujuh, saat jam pelajaran olahraga saya kerap ditertawakan. Selalu paling lamban saat berlari, selalu jatuh tertelungkup saat lompat harimau dan menggelinding miring saat roll belakang. Hingga satu waktu di kelas delapan, semua siswa terlihat memilih pasangan masing-masing untuk bergantian memegangi kaki saat sit up, gadis itu termasuk.

Saat semua sudah mendapat pasangan sesuai perintah guru, saya hanya kebingungan, menoleh ke kiri dan kanan. Jadi hingga akhirnya nama saya dipanggil, nekat saja tetap maju tanpa pasangan. Pak guru saat itu bertanya pada para siswa siapa yang mau membantu saya dan semua diam. Bahkan duo siswi populer yang terkenal jago akademis di sekolah dan kerap memanfaatkan saya dalam pekerjaan kelompok (baca juga; Hole Inside Si Tigabelas Tahun), mereka juga diam.

Tentu saja memilih pasangan begini tidak mutlak hingga menjalankan sit up harus bersama teman yang dipilih pertama. Mengiyakan membantu saya sekali, tidak akan mengganggu penilaian guru juga. Namun hingga sebelum guru menanyakan sekali lagi siapa yang mau membantu saya untuk kedua kali, semua masih diam.

Hingga gadis itu muncul dari kerumunan belakang tepat setelah guru bertanya hal yang sama pada kali kedua, sambil mengangkat tangan. Dia mesti melewati murid-murid lain yang tingginya tentu melebihi dirinya. Saya ingat, tinggi saya saat itu 154, sedang dia kira-kira nyaris sekuping saya. Tes dilanjutkan saat dia bantu memegangi dua kaki saya. Setelahnya, dia berlalu tanpa saya tahu bagaimana cara mengucap terima kasih.

Gadis itu sendiri, duduk dengan teman sebangkunya yang saya ingat berambut nyaris sepunggung; keriting tebal, kulit sawo matang, dengan tinggi sama dengannya. Mereka bersahabat, terlihat nyambung saat ngobrol dan teman sebangkunya itu terlihat tidak pernah mengganggunya.

Sebaliknya, teman sebangkunya itu kerap mendatangi bangku saya, mengatakan hal-hal buruk yang entah bagaimana otak saya tidak pernah mau mengingat detail ucapannya sejak setelah lulus SMP. Usahanya menganggu saya setiap hari itu kerap diakhiri tawa mengejek.

Masih orang yang sama, menulis kata-kata yang mengandung pelecehan di buku cetak yang dipinjamkan sekolah. Ia sendiri yang menuliskannya, kasak-kusuk berisiknya di bangku belakang jelas siapa saja dengar, sekaligus dia juga yang membawa buku cetak itu ke bangku saya sambil bilang,"Ada yang nulis namamu di buku cetak." Dan bagaimana pun saya berusaha mengalihkan pandangan, dia tetap menyorongkan paksa buku itu ke hadapan saya, tidak berhenti sampai mata saya menatap lantas membacanya. Sekali lagi, dia pungkasi aksinya dengan tawa mengejek. 

Lagi-lagi, bagaimana pun saya berusaha mengingat detail tulisan di buku cetak itu, otak saya menolak. Jadi setelah di usia dewasa baru mengenalinya sebagai bentuk pelecehan, otak saya seperti memutuskan menghapus saja detail kalimatnya.

Namun ia, gadis itu, justru kerap menunjukkan raut muka tidak nyaman dan gerak tubuh kurang berkenan ketika teman sebangkunya itu sedang melakukan aksinya dan kebetulan ia sedang lewat di bangku saya. Ini bukan kisah kepahlawanan ala novel atau film kenamaan dimana si tertindas dengan suara lantang dibela. Namun justru, bagaimana gadis itu tidak pernah turut merisak (membully) saya, bahkan menunjukkan raut wajah, gerak tubuh tidak nyaman dan tidak berkenan, itu juga sebuah perlawanan. Yang demikian membikin saya tahu, masih ada seseorang di pihak saya saat itu.

Di hari-hari lain, saya tetap membawa buku gambar seukuran kertas A3 saban hari ke sekolah. Saya juga menulis novel yang ditulis tangan salah satunya yang berjudul Langkah itu. Setiap hari, saya menulis dan menggambar sendirian di bangku. Sering juga saya membawa komik dan majalah anime bekas, hasil berburu di Wilis. Jadi ketika teman-teman lain saling berinteraksi, terbahak, mengobrol, saya tidak pernah terlibat, menoleh saja saya tidak. Apalagi di tahun-tahun itu, dalam satu kelas bisa dihitung jari siapa yang suka anime, bahkan dalam satu sekolah pun, para otaku ini bisa dipastikan saling kenal karena memang tidak banyak jumlahnya.

Namun ia, gadis itu, sekali lagi entah dimulai darimana, selalu rutin bertanya apa Langkah sudah ada kelanjutannya. Kadang meski belum selesai menulis, saya membiarkannya membawa pulang buku seukuran A5 itu, tempat Langkah ditulis. Dia akan tersenyum cukup panjang tiap berhasil membawa Langkah pulang dan biasanya, dalam beberapa hari dia akan mengembalikan Langkah lagi-lagi langsung ke bangku saya.

Kalau sudah begitu, dia membiarkan saya menulis lagi dalam beberapa hari berikutnya, sebelum lagi-lagi bertanya hal serupa,"Langka sudah ada kelanjutannya?" Sepertinya dia lebih sering menyebut Langkah tanpa huruf H.

Langkah pada kenyataannya tidak pernah selesai. Semua bermula dari Wisnu salah seorang anggota Osis di kelas, hendak membawa tulisan saya masuk mading atau majalah. Langkah ia bawa pada anggota Osis yang lain, namun sayangnya saya tidak pernah berani mengambilnya lagi. Dengan gadis itu pun, kami pisah kelas di tahun berikutnya.

Masuk kelas 10, saya dan gadis itu ternyata masuk di SMK dan jurusan yang sama. Dia masuk di kelas yang hingga tiga tahun berikutnya dikenal pasif, siswa-siswanya tidak terlihat terlibat dalam kegiatan sekolah atau perwakilan apapun. Kami sendiri entah bagaimana tidak pernah benar-benar berpapasan di sekolah, entah karena di SMK terdiri dari enam jurusan dengan kelas pagi dan siang, jadi begitu banyak siswa atau saya yang saat itu sedang belajar berinteraksi layaknya manusia normal hingga sibuk sendiri.

Hingga kalau tidak salah di kelas 12 (atau 11?), saat sedang di selasar dan duduk di kursi bersama beberapa siswi lain lintas kelas, seorang siswi dari kelas gadis itu tiba-tiba berkata,"Kalian tahu nggak? Si (gadis itu) sudah diperawani si X."

Siswi-siswi lain terlihat jijik dan prihatin. Ada juga yang penasaran hingga terus menanggapi berita dari siswi pertama tadi. Saya diam dalam kemarahan, namun saya yang saat itu masih belajar berkomunikasi layaknya manusia normal, tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Dalam kepala, sebetulnya saya sangat ingin menceritakan bagaimana gadis itu menyelamatkan saya tidak sekali dalam kesendirian yang muram di masa SMP. Namun yang terjadi, saya hanya diam melihat wajah-wajah jijik dan sekadar penasaraan itu. Jadi bagaimana gadis itu bisa dinilai dari pilihan aktivitas seksualnya (jika cerita teman sekelasnya itu memang benar)? Dan lagi, hanya ia yang dinilai. Laki-laki yang katanya berhubungan badan bersamanya itu tidak mendapat tatapan jijik dan rasa ingin tahu yang serupa.

Kelak ketika dewasa, saya tetap merutuki diri, kenapa tidak bercerita bagaimana nilai gadis itu sesungguhnya di depan teman-teman yang hari itu ada di selasar? Kelak ketika dewasa pula, saya berpikir gadis itu jika benar melakukan aktivitas seksual semoga saja bukan karena manipulasi, paksaan atau apapun yang membuatnya lara. Betul, saya tidak hendak membahas mana paling bermoral dan mana perilaku yang paling berisiko dalam tulisan ini.

Saat ini, saya gagal menemukan akun Instagram gadis itu. Namun kami pernah saling mengikuti di Instagram lamanya, pernah juga saya menyapanya lewat DM dan saat itu berucap, pasti mengiriminya buku jika kelak saya punya (meski sekarang semakin melihat tulisan bagus orang lain dibanding tulisan diri sendiri, saya jadi pasrah saja jika kelak tidak akan pernah layak punya buku).

Namun melalui akun Instagram lamanya juga, saya melihatnya bersama seorang laki-laki yang ternyata adalah pacar gadis itu. Pacarnya sama-sama standar industri dengan dia dan yang lebih penting, mereka tampak bahagia bersama. Beberapa waktu kemudian ketika mendengar kabar dia menikah, entah dengan laki-laki yang ada di Instagramnya itu maupun bukan, harapan saya tetap sama, semoga karma baik menyertai kehidupannya.

Tuesday, January 13, 2026

Ketiganya

Sumber: Gugel

Mula-mula, ia pikir cintanya memang berhenti pada tiga belas tahun lalu. Nyatanya, ia takut benar mengarungi lara yang sekiranya baru, jadi diputuskannya mengarungi lara yang sudah akrab dengannya tiga belas tahun lalu saja. Ini bukan lagi karena nyata sosok itu memenuhi kualitas-kualitas yang dirinya cari. Tapi debar berulang yang dirasai sebagai kepastian, tidak perlu ada risiko memulai, tanpa ketakutan kehilangan keterikatan yang baru, itu semua syarat-syarat yang membuatnya tetap tinggal.

***

Mula-mula, ia pikir cintanya memang terjebak untuk yang empat belas lalu. Ia tidak betulan kenal siapa sosok itu, apa kekurangannya, apa kelebihannya, bagaimana reaksinya saat melihat lebih dan kurangnya, semua berhenti saat semua belum tuntas. Jadi ia memilih hidup dalam pengandaian, seandainya sosok itu menerima kekurangannya, mengidolakan kelebihannya, bersorak buat lebih dan kurangnya. Pengandaian itu menyelamatkannya selama empat belas tahun, berbunga tanpa penolakan, bersorak dalam pengandaian.

***

Tanpa mula-mula, ia tahu jelas akan mendapat apa dari sosok itu selama tiga tahun. Orang-orang yang mengaguminya karena dianggap bisa melihat sisi dalam tanpa pandang fisik, sorai karena  kesetiaan yang orang-orang itu mengira-ngira saja. Yang demikian menambah kesempurnaan pandangan, lagi-lagi dari orang-orang soal intelektualitasnya yang tinggi dan menutupi keinginannya membunuhi siapa saja di sembarang waktu. Mendapat apa yang ia mau kapan saja waktunya, cinta yang seolah-olah saja dan itulah kenyataannya.

***

Dua bulan lalu, saya diskusi dengan Chat GPT untuk memahami beberapa kasus, bagaimana memahami avoidant secara umum, kemudian bagaimana NPD dan psikopat mencintai. Dan benar, cinta itu demikian kompleks, terlihat bersama, terlihat kecantol, belum tentu cinta pada kenyataannya.

Di usia belasan, saya masih mengira bentuk cinta lebih sederhana, dua orang yang menikah lalu beranak cucu sudah pasti cinta. Di usia dua puluhan, saya pikir terpaku pada satu orang selama belasan tahun sudah pasti cinta, namun tidak... tidak demikian kenyatannya. Cinta yang seolah-olah itu jauh lebih banyak pada kenyataannya. Untuk menghindari kehilangan atas keterikatan yang baru (avoidant), untuk terjebak dalam pengandaian yang menyelamatkan (NPD) dan untuk mendapat status sosial (psikopat).

Pemahaman bagaimana avoidant mencintai untuk tulisan ini saya analisa sendiri, pemahaman bagaimana NPD mencintai saya dapat dengan diskusi bersama Chat GPT, pemahaman bagaimana psikopat mencintai juga saya dapat dengan diskusi bersama Chat GPT.

Chat GPT menggunakan istilah idealisasi bagi NPD yang seolah kecantol dengan satu orang belasan tahun. Ternyata itu bukan utuh bentuk cinta tulus, namun justru pengandaian dalam otak NPD itu sehingga satu sosok bisa terasa sempurna. Sedang psikopat tidak bisa merasakan cinta selayaknya orang normal, yang ada hanya perhitungan untung dan rugi. Satu-satunya yang bukan bentuk disorder dan paling memungkinkan menjalani hubungan di sini, masih menurut diskusi dengan Chat GPT adalah dengan avoidant yang tidak membahayakan setara NPD yang bahaya secara psikis, apalagi psikopat yang berbahaya secara psikis dan fisik.

Mulanya, saya teguh dalam prinsip seseorang memang bisa memilih siapa yang dia cintai dan dia sakiti dengan sadar, meski terasa tidak adil. Namun ternyata ada banyak hal tentang cinta dan menyakiti yang jauh lebih kompleks, batasnya juga ternyata sangat kabur. Tulisan ini kelak tentu akan bisa berkembang lagi setelah saya menambah akses pengetahuan dari jurnal, buku atau lainnya.

Tuesday, December 16, 2025

Pembully

Sumber: Google

Satu waktu seorang pembully datang pada korbannya. Ia menyatakan maaf dan membeberkan semua luka yang pernah ia buat.

Korbannya pun menanggapi,”Nggak apa-apa, itu bagian dari masa lalu. Aku sudah memaafkan, hidup harus maju ke depan.”

Satu waktu seorang korban datang pada pembullynya. Ia menuntut kata maaf dan membeberkan semua luka yang pernah ia terima.

Pembullynya pun menanggapi,”Itu kan bagian dari masa lalu. Kalau aku punya salah ya maaf banget. Hidup itu harus maju ke depan.”

Adakah jejak di hati mereka lantas jadi berbeda?

Monday, November 17, 2025

Kritik

Sumber: Gugel

“Si X aslinya lolos lho, cuman karena teman-teman editor mengamati dia defensif tiap terima kritik, nggak jadi lolos...” pungkas seorang teman, nyaris mengakhiri percakapan.

X yang dimaksud saya tahu tulisannya bagus. Perkara kaidah berbahasa? Oh, ya dilibas dong oleh dia. Ditambah lagi, si X ini bimbing banget pada siapapun yang belajar menulis dan nggak pakai pelit-pelit.

Ada perasaan kecewa yang sulit digambarkan ketika saya dengar dia gagal lolos kompetisi di salah satu penerbit mayor tersebut karena alasan yang diceritakan si teman tadi. Saat itu, yang saya tahu X menanggapi kritik dengan argumen. Misalnya kenapa ceritanya begitu dan nggak dibikin begini, dia akan jelaskan kenapa dibikin begitu. 

Namun setelah mengamati kompetisi yang diikuti X dan bagaimana sikapnya sehari-hari, saya pun paham penyelenggara butuh orang yang bisa dibentuk selain tulisannya bagus. Ada industri di depan sana yang tidak bisa dimenangkan oleh karya yang bagus saja.

Beda lagi cerita dengan seorang selebgram feminis yang sempat membagikan novel karyanya di Instagram. Perkara kaidah berbahasa? Banyak yang rumpang. Banyak celah juga dalam cara menulis, penokohan dan sajian lainnya. 

Hingga seorang pengikut kritiknya dia bagikan lewat tangkapan layar di Instagram story. Pengikut ini membedah cara selebgram ini yang kurang baik dalam membuat deskripsi salah satunya dan ternyata yang bersangkutan membalas,”...semoga kamu kalau bikin novel bisa blablabla ya deskripsinya blablabla...” yang intinya, dia membalik kalimat pengikutnya tadi semacam ‘yo wis bikin novel sendiri sana kalau ini ga sesuai harapanmu.”

Setelahnya, selebgram ini beberapa kali masih di instagram story menulis kalimat yang entah untuk siapa dan isinya seputar,‘kalo karya masih biasa aja, gausah lah komen-komen karya orang’ juga,’heran sama orang yang ga diminta kritik tapi kritik’ masih lanjut,’blablabla... Kalau ga sesuai selera blablabla...”

Saya pun tergelitik membalas lewat DM,”Pengikutmu ngomongnya bener. Secara objektif memang kekurangan novelmu yang dia bilang. Itu bukan soal selera.” Percakapan kami pun cukup panjang hingga selebgram tersebut salah satunya mengatakan,”Aku lebih peduli sembilan suka karyaku ketimbang satu yang nggak.”

Sejak itu, saya berhenti mengomentari apapun karya si selebgram ini. Niat membeli novelnya pun gugur, apalagi dia kerap menyuarakan perkara self love dan boundaries yang kerap dipergunakannya untuk menangkal pendapat lain. Dapat dikatakan, saya jenis pembaca yang bukan masalah membeli karya dengan banyak celah namun pembuatnya punya karakter. Iya... Iya... Saya moralis.

X kini memilih mengikuti komunitas daring yang jauh dari penerbit mayor. Barangkali itu upayanya memertahankan idealisme. Sedang si selebgram itu mengumpulkan massa yang betul menyukai karyanya tanpa celah, menerbitkan karyanya secara indie pula. Dua orang yang defensif terhadap kritik dalam kasus yang berbeda ini telah menemukan ruangnya masing-masing.