Tuesday, October 20, 2026

Maha Maskulin (2)

Sumber: Gugel

"Yang ini body goals tapi depannya kurang gede."

"Yang ini depannya brutal, tapi terlalu berotot."

"Yang ini langsing tapi kotor banget mukanya, penuh jerawat gitu."

"Yang ini mukanya bersih tapi kegedean deh perutnya."

Demikian komentar-komentarnya terhadap para perempuan, baik yang tidak ia kenal maupun yang sedang dekat dengan teman-teman lelakinya. Komentar-komentar itu entah bagaimana selalu dinanti-nanti teman-temannya itu, disusul tawa tergelak dan julukan 'si tukang kurasi body'.

Keberadaannya yang menurut teman-temannya itu berani berkata jujur, membikinnya lagi-lagi kerap ditunggu di tongkrongan. Kurasi-kurasinya terhadap tubuh perempuan itu selalu diganjar tepuk tangan. Hingga mereka tidak menyadari selama bertahun bersama, ia tidak pernah dekat maupun berpacaran dengan perempuan mana pun.

Bener kata si X deh, ini cewek terlalu kurus. Tulis salah seorang teman lelakinya di grup percakapan sambil mengirim foto pertemuan dengan kenalannya tadi pagi.

Omong-omong adik sepupuku komen si X katanya kurang tinggi nih. Mana bener lagi haha. Temannya yang lain lagi menyahut.

Bukannya tempo hari adikmu bilang muka X lumayan ya? Satu lagi menyahut.

Sekarang badannya sedikit gemetaran. Ia paham kenapa adik sepupu temannya itu tidak membalas lagi pesan-pesannya setelah pertemuan pertama. Ia lantas berjalan mendekati cermin, memegang kepala atasnya, menyadari ia setinggi 159 cm. Ingatan bagaimana ia dirisak semasa sekolah baik oleh lelaki maupun perempuan, sekarang bermunculan. Bagaimana anak-anak perempuan mengatakan ia bukan laki-laki yang masuk impian buat dinikahi, bagaimana anak-anak lelaki mengatakan ia tidak cocok bicara soal basket sekalipun itu nampak sebagai kegemarannya.

Selebgram baru nih. Depannya size Z kali ya, bisa segede itu haha. Tulisnya di grup percakapan sambil mengunggah sebuah foto.

Saturday, September 19, 2026

Ulang Tahun Laura

Sumber: Gugel

Ini cerita soal Laura, lagi-lagi. Satu waktu di kelas tiga, ia menghampiri bangku saya, menyelipkan benda pipih persegi panjang yang mulanya tidak saya kenali sebagai undangan ulang tahun. Undangan itu ia letakkan di bawah buku dengan rona riang bahagia menyertai. Saya bertanya benda apa yang sedang ia selipkan dan jawabannya, undangan ulang tahun, sambil berbisik-bisik.

Sampai beberapa jam menjelang pesta ulang tahun Laura dihelat, saya mengganti pakaian dua kali sambil menangis, merasa tidak ada baju yang pantas. Saat itu kami sekeluarga mengontrak di salah satu perkampungan di daerah Bandulan Malang. Rumah yang kami tempati separuhnya terbuat dari dinding triplek.

Sebetulnya dibanding perasaan tidak ada baju yang pantas, perasaan Laura bukan teman saya (baca juga; Sri Bukan Anak Nakal Tapi Laura...) sehingga tidak perlu menghadiri pesta ulang tahunnya jauh lebih kuat. Bahwa betul, Laura dikenang sebagai siswi paling standar industri di angkatan, ia pula yang berasal dari kalangan menengah hingga pesta kala itu bisa dilakukan di McD. Ia pula yang entah dididik bagaimana oleh ibu dan juga ayahnya sehingga bisa berperilaku seolah berteman untuk mendapat sesuatu.

Ibu pun sebetulnya menggerutu. Dia bilang,"Orang kaya pantasnya dikasih kado apa?" yang pada akhirnya, sebuah sikat gigi dengan bonus boneka monster dibungkus juga oleh ayah dan ibu, entah kapan membelinya. Saya ingat betul warnanya ungu yang bahkan, sikat gigi sejenis tidak saya miliki.

Sampai di McD, tentu saya kaget setelah bersama teman-teman sekelas yang lain diarahkan menuju meja pemesanan. Khusus tamu undangan Laura, masing-masing diberikan satu es krim. Saya tidak pernah makan es krim McD, tentu saja. Saat itu usia saya delapan dan ingat betul kali pertama makan McD setelah bupo* yang menjadi TKW di Hongkong pulang ke Malang lantas membelikan paket Happy Meal saat usia saya tiga atau empat tahun di McD Sarinah.

Ulang tahun Laura sendiri dilangsungkan di McD Kayutangan dan ketika memasuki ruangan, saya langsung sadar tidak ada anak-anak panti (baca juga; Cerita Anak-anak Korban Perbedaan Kelas Di Sekolah). Esok hari saat di sekolah, Anya yang duduk sebangku dengan saya langsung bercerita jika anak-anak panti memang tidak ada yang dapat undangan. Waktu bercerita, wajahnya terlihat kaku dengan kilatan mata yang marah.

Jika mengingat bagaimana Anya bercerita yang dilakukan Laura tidak adil, ini akan berlawanan dengan sikapnya yang berusaha mencari posisi aman dari kasta-kasta di kelas dengan menceritakan kebohongan soal saya dan teman-teman panti yang dekat dengannya kelak. Ia pula saat kelas enam menunjukkan beberapa kertas binder dengan nada bangga, yang katanya diberi Laura karena menurut dia, Laura menyukai dirinya.

Kelak pula ketika mengobrol lagi soal pesta ulang tahun Laura saat sudah sama-sama dewasa dengan Desi, salah seorang teman sekelas, ibunya Desi pun mengenang pesta ulang tahun** Laura sebagai hal yang sangat tidak pantas.

Desi sekeluarga sendiri berasal dari kelas menengah dengan ayahnya yang seorang aparat. Rumah mereka lebih dari luas dengan tiga tingkat. Namun, ibunya Desi mendidik anak-anaknya untuk selalu menabung dahulu jika ingin beli sesuatu. Ibunya Desi pula yang bilang, tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Laura untuk pesta ulang tahun saat itu. Laura dididik memberi kasta pada teman oleh mamanya. Bahkan siapa saja yang diundang dalam pesta ulang tahun waktu itu juga atas ijin mamanya.

Masih Desi yang sebetulnya kasihan pada Laura karena bahkan di usia kuliah saat ia punya pacar pilihannya sendiri, mama Laura melarangnya. Ketika kuliah semester empat pun, saya melihat curhatan Laura di Path. Ia bilang sesungguhnya ingin masuk jurusan administrasi tapi mamanya meminta dia masuk arsitektur. Dia keberatan dengan jurusan yang tidak dirinya pilih itu dan ingin pindah sebetulnya. 

Jika membaca semua cerita soal Laura di blog ini, kamu pasti mengerti bagaimana dalam pertemanan sejak SD pun mama Laura punya standar; berteman dengan yang pintar atau kaya atau keduanya. Tidak heran dalam memilih pasangan hingga jurusan di universitas, mamanya sepertinya juga punya standar sendiri. Hingga seberapa pun Laura sebetulnya tidak ingin masuk jurusan pilihan mamanya, ia tidak berdaya. Bahkan saat SD pun, ia mesti berteman dengan anak-anak pilihan mamanya. Saat itu, ia bisa juga pura-pura meminjam penghapus atau pensil dengan wajah ramah yang terasa palsu namun terlihat alami demi mendekati teman. Yang demikian sempat dia lakukan pada saya. Kelak ketika dewasa, saya jadi berpikir-pikir, pensil dan penghapus? Bukannya dia punya jauh lebih banyak ketimbang saya ya?

Keterangan:

*bupo=ibuk sepoh/sepuh=budhe

**pesta ulang tahun, sempat saya jadikan ide cerpen anak berjudul Undangan Pesta Tasya. Hanya bagian anak-anak panti tidak diundang yang diambil dari kisah Laura, selebihnya fiksi.

Saturday, August 29, 2026

Maha Maskulin (1)

Sumber: Gugel

Satu waktu, ia membentak seorang lelaki yang cara berjalannya dianggap gemulai. Dadanya panas, napasnya keluar masuk dengan kasar, suaranya menghantam-hantam, diikuti lelaki tadi terenyak sambil mempercepat langkah, nyaris berlari sambil menenteng tas laptop dan ranselnya.

"Biasa, ritual usir boti." ucapnya saat kembali ke meja warung kopi, disusul tawa keempat teman laki-lakinya.

Lantas seorang lelaki masuk dengan menenteng sebuah tas raket. Laki-laki itu berjalan menuju kasir, terlihat lama memandangi papan menu, berkata juga ia pada kasir kalau tidak membawa kacamata sambil tertawa-tawa. Ia memandangi lelaki itu, melihat langsung pada betis bagian belakangnya lantas menebak agaknya ia pelari juga.

Setelah mengamati lelaki tadi, ada desir cepat yang mengingatkan pada ponselnya. Ia melihat riwayat pencarian, buru-buru menekan pilihan hapus untuk riwayat selama dua puluh empat jam. Tahu-tahu tangan salah seorang temannya sudah di depan muka, mengibas-ngibas dan masih temannya itu mengulang pertanyaan yang ternyata sudah diajukan padanya tiga kali, tipe cewekmu seperti apa.

Sebelum menjawab, salah seorang teman yang lain mengangsurkan ponsel, terlihat seorang selebgram yang katanya punya volume payudara di atas rata-rata. Dengan yakin, ia menyetujui perempuan itu cantik sambil tertawa-tawa, memperagakan adegan meremas dengan muka manyun yang dibuat-buat. Lantas dalam kepalanya, tiba-tiba muncul dua lelaki sedang berciuman, semua dari riwayat pencarian selama dua puluh empat jam yang baru ia hapus.

Tuesday, July 14, 2026

Rasa Aman Semu (Selamat Jalan Prof Supriyono)

Sumber: IG Fakultas Ilmu Pendidikan

Harinya Senin, tanggalnya 13, bulannya Juli, tahunnya 2026 dan saya bangun tidur dengan mimpi yang membekas. Dalam mimpi saya menuliskan cerita ini, dimana prof Supriyono yang sudah meninggal dunia tidak mungkin membela dirinya sendiri sekarang. Lantas saat ini, waktu sudah terbangun, saya jadi berpikir kenapa tidak bantu prof Supri semampu-mampunya membersihkan nama dari tangan kotor predator satu ini?

Prof Supri sendiri terkenal sebagai dosen yang humanis di jurusan. Mendukung semua passion mahasiswa adalah kata kuncinya. Jadi sebetulnya ketika pelaku pelecehan dan kekerasan seksual satu ini mendaku dibela prof Supri saat kasus berlangsung, teman-teman jurusan banyak yang tidak percaya. Namun pelaku juga tetap membikin 'ruang amannya' sendiri, rasa aman semu, berisi teman seangkatan saya yang apatis terhadap kasus yang ia lakukan, teman angkatannya yang tidak mau konfrontasi, adik tingkat yang menjilat atau ketakutan. Bisa jadi di 'ruang amannya' ini ia masih dipercaya.

Kesaksian teman A soal pak Pri yang mendukungnya.

Kesaksian teman B soal pak Pri mendukung semua mahasiswa.

Saat tangkapan layar status WA pelaku sampai di tangan saya, tangkapan layar itu sudah melalui tangan ketiga atau mungkin keempat. Rangkaian status itu ada enam slide, berisi percakapan pelaku dengan prof Supri saat bimbingan, foto-foto bersama saat kuliah hingga pelaku yang berpose sedih di samping makam prof Supri. Saya tidak melihat status itu ada di kontak saya, pelaku menyembunyikan nomor saya, agaknya.

Sumber: status pelaku soal pak Pri

Sumber: status pelaku soal pak Pri

Sumber: status pelaku soal pak Pri

Sumber: status pelaku soal pak Pri

Sempat saya ada di masa  jadi sering mengecek views status untuk mengamati bagaimana keberpihakan teman-teman terhadap korban pasca kasus (mengingat sebagian kawan sendiri justru mendukung predator satu ini) dan pelaku masih mengunjungi status saya setidaknya hingga dua tahun lalu, jadi jelas sudah kami masih saling menyimpan nomor WA setidaknya hingga saat itu. Ajaibnya, ia hanya muncul saat status saya membahas soal kekerasan seksual. 

Namun sejak 2021 awal tahun, di hari ia mengumumkan sudah sidang tesis di status WA (namun akhirnya gagal dapat gelar karena diDO akibat terbukti melakukan kekerasan seksual), saya tidak lagi pernah melihat statusnya, sebaliknya teman-teman. Sejak 2024 pula, saya yang sebetulnya tidak hobi menyembunyikan status dari kontak tertentu (biasanya memang tidak semua kontak disimpan), jadi menyembunyikan kontaknya karena tidak ingin dia mendapat akses pengetahuan soal kekerasan seksual yang biasa saya bagikan di status. Tidak ada yang lebih ngeri dari pelaku yang punya akses pengetahuan bukan?

Reaksi saya dan teman C saat melihat status pelaku yang disebar teman-teman. Pelaku selalu memakai foto yang sama saat membingkai kedekatannya dekat pak Pri.

Dan untuk status soal prof Supri, agaknya ia tahu betul posisi saya terhadap kasusnya. Jadi nomor WA entah saat itu ia hapus atau sembunyikan (jika ditanya langsung, bisa juga pelaku berdalih ganti perangkat). Artinya, ia sebetulnya tahu bagaimana dirinya membingkai kedekatan dengan prof Supri sesungguhnya semu dan bagi teman-teman yang tidak bersikap abu-abu apalagi membelanya dalam kasus tersebut, klaimnya tentu mudah dibantah. Betul, mereka tidak sedekat itu. Prof Supri menurut kesaksian adik tingkat setahun di bawah saya yang cerita pada salah satu teman sekelas di angkatan, menyaksikan sendiri guru besar Pendidikan Luar Sekolah (saat ini Pendidikan Nonformal) itu bilang tidak mau turut campur kasus pelaku. Mirip dengan yang beliau katakan pada saya lewat percakapan WA bahwa dirinya ingin solusi yang baik dan menyesalkan terjadinya kasus tersebut.

Keterangan: teman A bersaksi soal posisi pak Pri dalam kasus. Gamau ngurus di sini berarti secara pribadi beliau membiarkan pelaku mengurusi kasusnya sendiri sebagai bentuk tanggungjawab.

Keterangan: Teman A mengetahui bukti pak Pri tidak memihak pelaku dari teman yang lain. Bukti berupa apa tidak bisa disebutkan dalam tulisan ini demi keamanan informan.

                                 
Keterangan: teman A bersaksi pak Pri orang baik.

Keterangan: apresiasi pak Pri terhadap passion saya dan pernyataan menyesalkan apabila ada korban di mata kuliah binaannya.

Keterangan: Pak Pri mengikuti kasus melalui jurusan.


Keterangan: posisi pribadi pak Pri terhadap kasus.

Namun kasus yang mencuat 2020 itu bahkan sudah menyebar sampai fakultas teknik. Teman saya yang selain anak teknik juga aktif di unit sastra UKM Penulis, mengirim DM di Twitter, bertanya apa benar prof Supri membela pelaku dan ternyata, pelaku sendiri yang menebar isu itu hingga seolah ia mendapat perlindungan dari orang besar (tangkapan layar DM tidak bisa disertakan karena Twitter lama saya hilang). Taktik pelaku seolah dibela orang besar, orang yang berpengaruh, tentu klise, banyak dilakukan pelaku sejenis dan dibikin untuk menakuti korban, saksi, pendukung hingga pendamping kasus.

Keterangan: tangkapan layar DM teman teknik tidak ada. Jadi yang disertakan copy paste DM tersebut pada pendamping korban.

Keterangan: tangkapan layar DM teman teknik tidak ada. Jadi yang disertakan copy paste DM tersebut pada pendamping korban.


Jelas pelayat prof Supri begitu banyak saat beliau meninggal 25 Mei lalu, tentu juga relasi, teman, kolega semasa hidup yang baik maupun jahat terhadap beliau bercampur hari itu. Bisa jadi ada yang datang karena simpati, bisa juga karena kepantasan. Keluarga jelas juga tidak tahu bagaimana perlakuan pelaku terhadap prof Supri semasa hidup. Memiliki akses pergi ke pemakaman prof Supri belum tentu diikuti fakta semenjak kasus tersebut mereka dekat setara saat pelaku masih menjadi asisten dosen beliau.

Di akhir tulisan ini dalam batin saya masih mengomel saja dengan kalimat,"Kok tega ya..." karena bahkan, prof Supri semasa hidup sudah difitnah seolah membela pelaku dan ketika meninggal masih juga difitnah hal serupa yang kali ini sayangnya tanpa prof Supri bisa membela diri. Rangkaian status WA dibikin seolah berbanding lurus antara pembelaan dan kedekatan.

Jadi kalau masih ada yang menyanggah, itu bentuk duka aja kali nggak usah berlebihan atau dia udah menyesal kali makanya bikin status kayak gitu. Maka, ayo dong jangan naif. Pelaku sudah jualan nama prof Supri sejak masih sugeng, permintaan maaf pada korban mana ada juga. Dirinya bahkan masih mengembus kabar pemecatannya sebagai mahasiswa S2 merupakan konspirasi terkait profesinya sebagai wartawan dan sosoknya sebagai aktivis kampus yang seolah tokoh utama dalam suatu cerita heroik. Masih percaya dia punya itikad baik? Ini bukan sinema pintu taubat yang manusianya bisa berubah dalam satu episode, teman-teman.

Namun setidaknya, masih banyak teman-teman yang berani bersaksi bahwa prof Supri orang baik dan dengan jelas tidak membela pelaku sama sekali. Prof Supri memang benar sudah tidak bisa membela diri, tapi kesaksian teman-teman akan terus mengiringi.

Terakhir, selamat jalan Prof. Dr. Supriyono, M.Pd, yang selalu mendukung saya menulis sejak semula...


Catatan tambahan:

Bagi teman-teman yang hendak menyebut nama lengkap pelaku dikaitkan dengan kekerasan seksual secara langsung tentu saja sudah aman yes. Karena berdasar Surat Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan nomor 2.2.27/UN32.1/TU/2021 yang dikeluarkan Universitas Negeri Malang (UM), pelaku sudah dinyatakan bersalah. Juga dalam Surat Keputusan (SK) nomor 90/SK/AJI.KDR/XII/2022 yang dikeluarkan Aliansi Jurnalis Kediri (AJI) pelaku dinyatakan bersalah untuk kasus serupa dengan korban berbeda.

Tuesday, June 23, 2026

Eksekutor VS Analisator

Sumber: Dokumentasi Maulida Usmawati. Dari kiri ke kanan kating jurnalistik lupa nama, Joice, Fitri, Iin (Pimred Jurnalistik), Maulida (wakil Pimred Jurnalistik), Putri Wulandari (Iwul), saya (anggota Jurnalistik). Iin rambutnya digambar soalnya sekarang berjilbab.

Ibu saya yang seorang guru beberapa waktu lalu bercerita, soal kebijakan baru dari menteri pendidikan. Ujian bagi para siswa akan dibuat dengan soal analisa. Dapat kah diubah sedemikian singkat? Sedang dosen di perguruan tinggi saja tidak semuanya memberi soal analisa kepada mahasiswa. Ibu lantas menyebut beberapa nama teman saya semasa SMP yang mendapat label pintar dan dikatakan ibu, andai sejak dulu saja soal ujian model analisa, beberapa nama yang disebut tadi tentu kalah prestasi dengan saya. Ya, saya memang tipe konseptor dan suka menganalisa. Sesuatu yang saya kenali justru setelah masa-masa buruk di sekolah formal: dibully guru hingga teman. Sesuatu yang belakangan juga baru dikenali ibu ketika saya dewasa dan juga disesalinya karena baru menyadari, mestinya anak seperti saya dulu dimasukkan sekolah alternatif saja.

Saat SD, saya dituduh seorang guru sebagai pemalas dan sering nama saya disebut di depan kelas (guru ini bisa ditelurusi dengan nama Mr. A di blog ini). Padahal di masa itu, saya betul-betul tidak tahu cara belajar. Saya tidak tahu harus diapakan buku cetak dan LKS dari sekolah. Label demikian celakanya saya yakini hingga SMP dan prestasi akademik pun tetap buruk dan label bodoh saya dapat kemudian. Nilai saya di rapor selalu 75, batas KKM, kecuali seni budaya yang di atas rata-rata, 90. Cerita ini sering saya tulis sejak 2015 di blog dengan label cerita 'keseharian' dan 'ngoceh pendidikan'. Di blog termasuk ada latar belakang, bagaimana ibu yang mulanya mendampingi saya belajar jadi tidak mendampingi kemudian.

Iin Sulis Setyowati teman semasa SMK pernah membalas bahasan saya soal label bodoh di Twitter. Ia ternyata, pernah pula dilabel demikian sebelum masuk SMK. Meski belum mendengar cerita lengkap bagaimana label tersebut bisa disemat pada Iin, saya menduga kecerdasan Iin yang tipe eksekutor tidak terdeteksi oleh standar penilaian pada jenjang pendidikan sebelumnya.

Namun di SMK, prestasi akademik saya dan Iin bisa dibilang termasuk di atas rata-rata. Apa yang terjadi dengan kami? Menyesuaikan diri. Saya misalnya, menyadari bahwa ternyata yang dituntut sekolah formal adalah hafalan yang sesuai dengan buku atau materi yang diberikan guru. Demikian ternyata membuat nilai akademis menjadi baik dan label pintar  bisa didapat. Jawab saja semua tugas dan ujian sesuai buku dan keterangan guru, maka selamatlah seorang anak dari label bodoh. Ini terlepas si anak betul-betul menghafal atau menyontek.

Pekerjaan Sosial (sekarang berubah menjadi Perawatan Sosial), nama jurusan saya dan Iin di SMK. Kami beda kelas selama tiga tahun dan Iin sempat menjadi pimpinan redaksi di estrakulikuler jurnalistik di mana saya juga mengikutinya. Jurusan ini pula yang ternyata materi-materinya sangat mewadahi anak-anak dengan tipe analisator seperti saya. Saya lebih bahagia menjalani masa sekolah di SMK, tentu saja. Ibu sendiri mengetahui bahwa saya ternyata tipe analisator, salah satunya dari bu Endang, guru di jurusan. Pada salah satu pertemuan di mana sekolah swasta dan negeri bisa bertemu satu lokasi, bu Endang menyatakan pada ibu bahwa kemampuan analisa saya beda dari sebaya, semasa SMK.

Bagaimana dengan Iin? Siapa yang tidak ingat pimpinan redaksi yang berhasil mewujudkan majalah sekolah ini? Siapa yang tidak ingat dengan rumah hantu yang pertama kali dalam sejarah sekolah digelar ketika pentas seni sekolah? Sejak SMK, kecerdasan Iin sebagai tipe eksekutor juga terlihat berbeda dengan sebaya. Ide paling sederhana sekalipun, bisa jadi apik bila Iin yang mengeksekusi. Soal rumah hantu misalnya, saya ingat pentas seni sekolah tahun itu jadi begitu ramai. Pengunjung sangat banyak dan Iin membawa teman-teman jurusan sukarela menjadi hantu dan berdandan macam-macam. Padahal, ide demikian ketika masih berupa konsep terdengar biasa saja. Namun ketika rumah hantunya betul-betul terwujud, dua ruang kelas disulap jadi jalan berbelok-belok dengan hantu-hantu yang menanti. Yang jelas, rumah hantu itu menyenangkan orang banyak kala itu.

Jelas jika disuruh mengeksekusi ide semacam Iin, saya tidak bakal tahu apa yang harus dilakukan. Saya bukan tipe eksekutor. Sebagai tipe analisator, saya barangkali lebih bisa mengenali kemampuan orang yang tersembunyi sampai sifat-sifatnya yang unik. Iin sebaliknya, ia melihat sesuatu yang tersurat. Dalam memimpin, Iin tidak ribet mencari potensi, apa yang ia lihat, itulah yang dieksekusi. Demikian membuat Iin lebih lincah bertindak. Ia pula tidak rumit dalam pertimbangan yang terlalu banyak.

Iin kemudian masuk kuliah di jurusan yang serupa dengan masa SMK, sedang saya masuk jurusan yang bisa mewadahi kenangan buruk di sekolah formal. Jurusan Iin di kampus, sangat mewadahi tipe analisator maupun eksekutor sepertinya. Bagi tipe eksekutor seperti Iin, di jurusan ini ada porsi di mana teori-teori tidak menjerat lebih dahulu sebelum bergerak. Kesejahteraan Sosial, nama jurusan itu. Sedang saya masuk jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Tipe analisator maupun eksekutor juga diwadahi di sini. Bagi tipe analisator seperti saya, ada porsi-porsi dimana buah pikiran betul dibutuhkan.

Meski sayangnya, di salah satu lingkungan Iin yang sekarang agaknya tidak mengenali tipe eksekutornya. Lingkungannya yang sekarang, menuntut Iin membaca dan mampu menganalisa. Bahkan label bodoh, didapatnya dengan mudah saat ini. Padahal, jika saja dibalik dengan saya yang diharuskan jadi tipe eksekutor misalnya, tentu saya akan terlihat bodoh. Setiap orang pasti akan bodoh jika diletakkan bukan pada porsi kecerdasannya. Ini seperti semasa SMK, saya mampu membuat artikel untuk majalah sekolah namun menggerakkan semua orang hingga majalahnya betulan jadi? Mana saya bisa. Hanya Iin yang mampu melakukannya.

Dan ya... Kebijakan sekolah formal, barangkali akan terus berubah. Seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, ganti menteri artinya ganti kebijakan. Angkatan saya saja, mengalami beda kebijakan selepas lulus SD, SMP dan SMK. Terlalu utopis apabila kita terus menerus membandingkan pendidikan di Indonesia dengan Finlandia misalnya. Terlalu utopis juga, membebankan cara mengajar sesuai karakteristik siswa, pada guru yang saban hari sudah penuh dengan beban administrasi. Lagi-lagi terlalu utopis pula, memaksa setiap orang tua mengenali sistem pendidikan selain formal karena ya... Tidak semua orang tua memiliki akses dan biaya juga.

Anak-anak mesti menyesuaikan diri dengan standar pintar yang ditetapkan sekolah formal. Tidak bisa tidak, ini wajib. Tentu mereka tetap bisa mengenali potensi diri yang lain dan mengembangkannya, meski standar pintar di sekolah formal tidak mewadahi. Misalnya seorang anak yang kinestetiknya menonjol. Pelajaran olahraga seminggu sekali tidak mungkin menampung kecerdasan kinestetiknya yang dominan. Anak bisa mengikuti ekstrakulikuler yang berkaitan dengan olahraga di sekolah atau jika orang tua punya cukup dana, anak tadi bisa ikut klub di luar sekolah. Meski masih jadi pertanyaan, bagaimana dengan sekolah yang ekstrakulikulernya tidak terurus atau orang tua yang tidak punya cukup dana buat membayar klub? Kan ada internet... Lantas bagaimana dengan anak-anak yang tidak punya akses internet?

Yang jelas sih, semua keramaian di dunia pendidikan yang tidak kunjung habis ini, bukan salahnya para pemangku kebijakan. Bukan pula salah orang tua maupun guru. Semuanya adalah salah kami, anak-anak yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan standar yang sudah ditetapkan...


Catatan:

Ditulis 2020 di status FB dengan janji mau diperhalus dan dibikin lebih rapi sebelum diunggah di blog tapi ternyata tidak terealisasi.

Iin berhasil menyelesaikan S2 di lingkungan yang memberinya cap bodoh dan menuntut analisa. Saat ini ia menjadi dosen di jurusan Kesejahteraan UMM. Sebelumnya, ia sempat pula menjadi pekerja sosial di kota Batu.

Wednesday, June 10, 2026

Adalah Cerita

Sumber: Gugel

Kita terbiasa menganggap cerita yang patut dituliskan mesti yang terlihat spektakuler. Kelahiran, kelulusan, pernikahan, kemenangan, kesedihan dan kematian sebagai misal.

Kita kerap kali merasa tidak punya bahan cerita yang layak jika bukan hal-hal fenomenal tadi isinya. Hasilnya, terjadi kebuntuan menulis.

Saturday, May 30, 2026

Hadiah

Sumber: Gugel

Hadiah 1

Kamu mengirimnya sebuah surat, ditulis tangan. Katamu hai, padanya. Namun surat itu dia letakkan sembarangan saja di meja, sampai ketika ditinggal mandi, kertas itu lenyap dan tidak pernah dicari.

Hadiah 2

Kamu mengirimnya sebuah surat, kali ini berisi sketsa wajahnya, dibikin model chibi. Namun kertas seukuran A3 itu dia letakkan sembarangan saja di kasur, sampai ketika ditinggal mengambil paket, kertas itu lenyap dan tidak pernah dicari.

Hadiah 3

Kamu mengirimnya coklat satu kantung, bikinan sendiri. Sambil memakannya dia mengirim WA padamu, hai katanya dan menurut dia coklatmu lumayan enak. Hanya dua biji yang dia makan, selebihnya dia bandingkan rasanya dengan coklat rasa susu bikinan pabrik.

Hadiah 4

Kamu mengiriminya sebuah topi, kali ini dengan menyisihkan uang gaji dua bulan buat benda yang katanya bermerek itu. Merek benda itu tercetak jelas di permukaan topi, lantas ia mengirimimu voice note, bertanya bagaimana harimu.

Hadiah 5

Kamu mengiriminya sebuah jaket, kali ini dengan menyisihkan uang gaji enam bulan buat benda yang katanya bermerek itu. Merek benda itu tercetak jelas di jaket bagian depan, lantas dia muncul lewat video call, menceritakan harinya.

Lantas sekarang kamu berpikir-pikir, hadiah apa lagi yang membuatnya sampai pada ajakan menikahimu?

Saturday, May 2, 2026

Motif Pernikahan (2)

Sumber: Gugel

Orang bisa menikah, berhubungan seks, punya anak, membangun kemapanan bareng tanpa cinta.

Menikah memiliki syarat wali, saksi, penghulu dan pengantin. Bukannya cinta.

Berhubungan seks bagi dominan hetero (non demiseksual atau aseksual) bisa dengan rangsangan fisik. Bukannya cinta.

Anak-anak akan lahir dengan sperma dan sel telur yang bertemu. Bukannya cinta.

Membangun kemapanan bisa pula karena dikejar ketakutan hidup tanpa rasa nyaman. Bukannya cinta.

Pernikahan tidak membuktikan cinta.

Dan memang begitu kenyataannya.

Saturday, April 25, 2026

Bias (Pengalaman Nonton Kembang Api)

Sumber: Gugel

Lelaki pertama ciri khas boomer banget, menghakimi masalah orang tidak lebih berat masalahnya dibanding dia.

Lelaki kedua ini betulan kayak gini? Dia kan dokter umum, setidaknya dia tahu kapan harus minta bantuan sejawatnya yang profesional.

Perasaan wanita pertama ini valid banget sih, rasa bersalah atas kehilangan nggak bisa diselesaikan begitu mudah.

Lantas anak SMA satu-satunya dalam klub ini, saya pernah mengalami serupa namun dia lebih berat. Jadi wajar jika dia menganggap satu-satunya jalan keluar adalah...

***

Saya mengenali diri saya sendiri sebagai seseorang dengan pemikiran dan isi hati yang bias saat nonton film Kembang Api. Film sendiri dimulai dari klub bunuh diri yang terdiri dari empat orang lintas usia yang kemudian terjebak time loop.

Film yang rilis 2023 lalu itu membikin saya secara sadar dan tidak sadar melakukan bias-bias serupa para tokohnya seputar masalah hidup orang lain. Mana yang lebih berat, mana yang paling buntu, lebih kejam; hingga mana yang paling layak berpikir bunuh diri.

Bahkan penghakiman atas ciri khas generasi tertentu ketika menghadapi masalah pun muncul dalam pikiran dan hati saya. Ya, kesimpulan pria pertama sebagai boomer tadi. Selain, karena tidak pernah menghadapi masalah serupa sependek hidup (amit-amit jangan, saya belum tentu kuat), jadi tidak ada bayangan bagaimana penyelesaian masalahnya. Ketika dalam kepala tidak ada ide-ide penyelesaian masalah, saya langsung berpikir beratnya masalah lelaki pertama valid.

Sedang untuk lelaki kedua, justru ada bias pemikiran, bukan kah dia punya akses pengetahuan buat mengobati dirinya? Ia bahkan masih mengulas keilmuan yang sempat didapat di bangku kuliah untuk bantu memikirkan solusi satu-satunya anak SMA dalam klub itu. Tapi bukan kah siapa saja bisa merasa buntu dan itu manusiawi? Tapi mengapa saya masih menganggap masalah lelaki kedua paling ringan dalam klub ini, sedang saya juga mengatai lelaki pertama sebagai boomer tukang menghakimi?

Lantas kenapa rasa bersalah perempuan pertama lebih mudah saya terima sebagai masuk akal? Kenapa saya tidak memiliki bias untuk membayangkan dia ngobrol saja dengan suaminya lantas bahu membahu menyelesaikan rasa bersalah mereka? Apakah karena saya punya pengalaman jatuh dari motor bersama ibu yang padahal kami berdua sama-sama tidak terluka, tapi saya menangis dan merasa bersalah melihatnya tertimpa pagar?

Kemudian untuk satu-satunya gadis SMA dalam klub, apakah lagi-lagi biasnya datang karena saya pernah mengalami hal serupa meski jauh tidak lebih berat dibanding dia? Apakah pengalaman serupa membikin kita punya landasan menginvalidasi atau memvalidasi pengalaman orang lain?

Pertanyaan pun muncul setelahnya, bagaimana ketika saya menghadapi suatu musibah, suatu masalah, lantas orang lain memiliki bias dan penghakiman seperti yang saya lakukan kepada para tokoh dalam Kembang Api? Bukan kah saya juga akan sama tidak terimanya dengan mereka saat saling menginvalidasi masalah dan musibah masing-masing sepanjang film?

Pada akhirnya, para tokoh dalam Kembang Api adalah saya, adalah kita semua, yang berapa banyak pun sudah mendengar kisah diri dan orang lain, tetap saja memiliki bias buat menginvalidasi dan memvalidasi masalah juga musibah orang lain.

Wednesday, March 4, 2026

Telak

Sumber: Gugel

Kamu membalasnya telak, dengan kembali pada orang yang paling melaraimu sepanjang hidup, memilih mati ditemukan oleh dia.

Kamu membalasnya telak, dengan membiarkan orang yang paling melaraimu sepanjang hidup pura-pura berkonvoi paling depan menangisi kematianmu.

Kamu membalasnya telak, dengan membawa iri dan segala rasa tidak terima atas hidupnya sampai mati, memeluk mereka erat sekali.

Seperti pesan terakhir sebelum dia merasa paling berhak menghukummu,”Jangan temui aku lagi kecuali kamu bisa meletakkan segala iri itu.”