Friday, April 3, 2020

Nakal

Sumber: Gugel

Pernah sekali, semasa Farrahnandah dan Maria kuliah semester tiga, keduanya memutuskan tidak tegur sapa hingga enam bulan berikutnya. Alasannya, Farra diam-diam berpacaran dengan lelakinya Maria. Bagi Maria, Farra telah berlaku nakal. Namun setelah enam bulan yang tanpa saling sapa itu, Farra mulai getol mendatangi kosnya Maria sembari ia bilang,
cinta itu tidak bisa dikendalikan, Mar. Andai bisa memilih, aku nggak akan mau jatuh hati dengan pacarmu. Apalagi, kamu itu sahabatku. Tapi apa daya...
Jadilah setelah hampir setiap hari dicegat di depan kos dan diberi petuah soal cinta oleh Farra, akhirnya Maria luluh juga. Ia segera menarik Farra dalam pelukannya dan memohon maaf telah menjadi sahabat yang tidak baik, yang tidak pengertian, yang... tidak mengerti cinta. Hingga lelakinya itu dibiarkannya lepas bersama Farra sampai hari ini, tiga tahun setelah mereka lulus kuliah.
Dan di tahun ini juga, tiga tahun setelah kelulusan, Maria merasa baru bisa betul-betul memahami konsep cinta yang dibilang Farra. Dulu, pikirnya ia bisa pegang kendali bakal jatuh cinta pada siapa. Pada seseorang yang sudah memiliki pacar, tunangan, apalagi istri, ia jelas tidak bakal mau membina hati. Tapi kali ini lain, Farra benar. Cinta ternyata tidak bisa dikendalikan. Maka sore itu, diputuskannya mengaku pada Farra tentang semuanya... Tentang cintanya.
“Aku mencintai seseorang yang nggak seharusnya, Far...” ucap Maria mula-mula, di dalam kamar rumah Farra ketika berkunjung. Sebuah kunjungan rutin semenjak mereka bersahabat hingga seluruh keluarga mengenal baik sosok gadis berambut lurus itu. Kakak perempuan, bapak, ibu, semuanya kenal baik sosok Maria...
Farra bilang, apapun yang terjadi, ia akan mendukung sahabatnya itu. Tepat seperti yang sahabatnya itu lakukan enam tahun lalu terhadapnya. Kemudian Farra bertanya balik, siapa sih orang yang berhasil membuat Mariaku ini mencintai dengan bukan seharusnya?
“Bapakmu. Dia adalah bapakmu...” jawab Maria.
Mata Farra berkaca-kaca. Setelah menjerit, digenggamnya erat pergelangan tangan Maria. Diseretnya ia menuju pintu depan. Dihempaskannya tangan gadis itu setelah mereka mencapai teras. Lantas pintu rumah dibanting Farra tepat di depan wajah Maria.
Sebelum pergi dengan lutut lemas dan disertai teriakan pertanyaan dari kakak, ibu dan bapak Farra soal mereka bertengkar dan menjerit karena apa. Kuping Maria berdengung oleh jeritan Farra sebelum menyeretnya keluar, jancok kamu, Mar! Mau nakal saja pakai diromantisasi bahwa cinta itu tidak bisa dikendalikan!

Sunday, March 8, 2020

Branding Kualitas VS Kuantitas, Mana Pilihanmu?

Sumber: Twitter

Sebuah unggahan melintas di linimasa Twitter saya. Isinya? Seorang warganet (cuitan temuan warganet tidak lagi saya temukan, jadi saya gantikan pemberitaan dari Kompas) menemukan silver play button Youtube yang ternyata dijual bebas di toko daring, disertai kata custom pula yang agaknya berarti… bisa diisi nama dan channel yang diinginkan. Salut saya, penjual silver play button bajakan ini bisa saja membaca pasar. Bahwa memang ada orang-orang yang begitu mengejar predikat. Hanya dua ratus ribuan pula harga predikatnya. Hal demikian membuat saya ingat mengenai seorang kenalan yang sesungguhnya, kami belum pernah berjumpa langsung hingga hari ini. Sebut saja ia Alex. Ia sempat pula bermukim di Malang dan hendak membibit komunitas menulis.

Mulanya, saya dan Alex memang satu grup menulis, sebagai sesama kontributor media lokal Jawa Timur. Namun tiba-tiba, ia mengambil nomor saya dan sebagian orang lainnya dari grup tersebut untuk dimasukkan dalam grup baru yang katanya grup menulis juga, namun mengusung agama tertentu. Meski pada akhirnya, saya berpamitan untuk keluar dari grup tersebut karena pertama, Alex tidak minta ijin mencomot nomor orang yang bahkan ia belum pernah jumpa di dunia nyata. Kedua, lelaki ini memaksakan ideologinya terhadap setiap anggota dan ketiga, diskusi di sana tidak greget sama sekali. Ya, hanya ada saling lempar opini liar dan berbalap rumit lagi panjang dalam teks. Namun Alex justru kembali memasukkan saya ke dalam grup hingga saya mesti tiga kali keluar masuk.

Bagaimana dengan isi sosial media Alex? Penuh dengan poster pelatihan yang beisi wajahnya sendiri, tentu dengan sebutan coach atau trainer menyertai. Saya hampir tidak menemukan unggahan yang menunjukkan di mana seseorang bisa mengakses tulisan miliknya. Ya, tulisan yang setidaknya akan membuat orang berdecak dengan sendirinya,”Emang pantas sih, disebut coach.”

Malah belakangan, ketika saya coba mengakses blog yang Alex sertakan di deskripsi Youtubenya, saya baru sadar tulisan-tulisan di sana ternyata berafiliasi dengan partai tertentu. Tentu saja, komunitas yang diakui didirikan olehnya pun melebur dalam website dan kegiatan partai. Isinya? Berantakan. Dari segi ejaan, tata bahasa hingga cara menuliskan opini yang melulu berusaha menyerang pihak tertentu. Kredibelitas juga mengambang karena bahkan, salah satu tulisan anonim, keliru menggunakan istilah konsekwensi yang harusnya konsekuensi. Lebih unik lagi di akhir tulisan, identitas penulis hanya disebut ‘praktisi pendidikan di Malang’. Praktisi pendidikan Malang sebelah mana yang penggunaan kata konsekuensi tidak mengerti? Pak Muhadjir Effendi dan segenap guru honorer tentu akan menangis…

Alex sendiri memang merambah Youtube, setelah puas menyebut diri penulis dengan followers akun sosial media tidak sampai seribu dan akun diprivate itu. Malah dalam Youtubenya, gelar videografer disemat Alex setelah coach dan trainer. Bagaimana kualitas videonya? Kemampuan editingnya sangat dasar, kontennya setara isi grup yang saya pernah dipaksa masuk dan pada berikutnya, lelaki ini membuat video motivasi tentang pencapaiannya mendapat seribu subcribers dengan modal ponsel retak. Wah, keren? Memang ya… apalagi dengan jumlah viewer tiap video yang puluhan tanpa ribu.

Tunggu, bagaimana Alex bisa mendapat subscribers sejumlah seribu akan tetapi jumlah views tiap video puluhan tanpa ribu? Jadi tenyata, dalam pelatihan-pelatihan menulis yang dibuatnya dan 97,99% via Whatsapp, ada syarat mengikuti akun sosial media Alex, komunitasnya dan utamanya channel Youtube miliknya jadi…

Sumber: Youtube

Jadi, mari kita ganti bahas tentang Shopia Mega saja. Sophia Mega ini semenjak saya mengikuti akun Instagramnya pada 2018 dan hingga kini, followersnya tetap saja lima ribu sekian
. Ini Sophia Mega yang itu loh, iya… yang booktuber alias tukang ulas buku via Youtube. Booktuber satu ini bermukim di Malang, meski saat ini agaknya sedang banting tulang lintas provinsi. Kualitas editing videonya? Uwh, enak di mata dong. Kontennya? Komunikasi perempuan ini lumer sekali dan bahasannya pun greget. Bukan hanya itu, Mega juga memiliki website yang kualitasnya serupa channel Youtubenya. Alamat websitenya pun mudah diakses melalui akun sosial medianya karena memang disertakan dalam bio bersama alamat channel Youtube.

Ayolah, perempuan ini juga menulis buku berjudul Loe Tau Siapa Gue. Menurut kabar, buku ini berisi soal branding. Jadi dia ini sangat menguasai perkara branding dan dipraktikkannya kepada diri sendiri. Tapi bagaimana followers yang lima ribu itu bisa tetap tinggal meski saya yakin tidak semua kenal langsung dengan Mega? Jawabannya ada pada diri saya sendiri. 2019, saya baru berkesempatan berkenalan dengan perempuan cerdas, cantik dan pecinta kucing ini secara langsung. Namun jauh sebelum perkenalan itu pun, saya sudah memutuskan harus tetap mengikuti akun dan blog Mega karena merasa terikat dan mendapat sesuatu dari sana. Karena ya, perempuan berkacamata ini seolah bicara langsung dengan saya melalui setiap unggahannya. Eh, ini mohon maaf, sebagai dominan kecerdasan visual, saya lebih merasa mendapat kepastian dari teks. Jadi jujur, saya lebih sering mengakses blog Mega ketimbang Youtubenya. Jadi, dominan visual belum tentu hanya berkaitan dengan gambar-gambar, namun justru pada upaya mencari kepastian informasi yang harus dilihat dengan mata milik sendiri.

Yakin saya, followers sosial media Mega yang tidak kunjung naik itu pun memiliki ikatan serupa saya dan itu sebab viewers Youtubenya perempuan berkacamata ini stabil, pula subscribernya yang tiga ribu itu tidak pernah berkurang juga kalaupun bertambah itu pelan-pelan. Bahkan ia juga mendapat kesempatan kolaborasi dari acara-acara besar seperti Patjar Merah. Lama ya progress Mega? Dari kuantitas sekilas memang iya. Tapi Mega, telah menunjukkan bahwa ia melakukan branding secara kualitas. Ia mengumpulkan orang-orang yang sungguh terikat dengan karyanya. Lantas si Alex bagaimana? Pencitraan saja dong dia? Bukan, yang dilakukan Alex juga branding secara kualitas kuantitas.

Kedua pilihan ini sama-sama tidak melukai orang dan tidak melanggar hukum kok. Jadi, branding mana yang kamu pilih?

Catatan: 

Tangkapan layar Youtube dan sosial media Alex tidak bisa saya sertakan karena hal demikian, dapat membikin sempit ruangnya untuk belajar dan barangkali kelak berubah.

08 Maret 2020: Tulisan ini dibuat 2019. Saat ini, followers Instagram Mega naik menjadi enam ribu. Subscriber Youtube Mega pun juga enam ribu. Salah satu video, bahkan sudah diakses empat puluh ribu kali.

12 Maret 2020: Alex membuka donasi untuk website yang ia kelola melalui Facebook. Saya tidak mengerti hubungan website tersebut saat ini dengan partai.

Sunday, March 1, 2020

Nasab

Sumber: Gugel
Ruang perawatan bayi selalu berisik ketika lewat tengah malam. Sayangnya, orang-orang tidak pernah mendengar setiap bisik dan jeritan yang saling balas dari kami, para bayi dalam kotak-kotak kecil berisi kasur hingga inkubator.

Hari ini, teman kami Petra kembali setelah sebelumnya diadopsi bos pabrik kretek besar selama sehari. Ya, kami sepakat memanggilnya Petra, setidaknya sampai ibu dan bapak barunya memberi nama lain.

“Mereka baru sadar kaki saya melengkung. Jadi bapak dan ibu baru saya itu, mengembalikan saya kemari. Si Rahmad yang gemuk dan berkaki lurus, menggantikan posisi saya pagi ini.” Ucap Petra datar.

Bagi kami yang tidak berbapak dan beribu, cerita-cerita semacam milik Petra adalah hal biasa. Pernah pula, teman kami Putri dikembalikan ke rumah sakit karena orang tua barunya menyadari, ada selaput putih tipis di mata kirinya. Petra dan Putri adalah cacat. Dan bagaimana jika benar mereka cacat hingga dewasa dan tidak bisa menanggung masa tua bapak dan ibu yang mengadopsi?

Lain Putri, lain pula Kartika. Lahir dengan bobot di atas rata-rata dan kulit merah muda, tiga calon orang tua langsung merubungnya di hari yang sama. Dan lagi, orang tua Kartika meninggalkannya di rumah sakit karena keadaan tidak berpunya dan kelahirannya pun di dalam nikah.

Bagus yang tidak kunjung keluar dari inkubator, hanya mampu berkedip pelan, menanggapi segala obrolan kami yang berisik lewat tengah malam. Ia beda cerita lagi dengan kami semua di sini. Bagus memiliki ayah dan ibu yang memang melahirkannya prematur. Mereka tentu akan segera membawa ia pulang, sekeluarnya dari inkubator. Ayahnya pun kerap memandanginya dari kaca besar yang membatasi ruang kamar. Mata berkaca-kaca ayahnya itu, membuat kami selalu saling berteriak, menyemangati Bagus agar segera sehat dan keluar dari inkubator.

Dan hari itu, pasangan suami istri berpenampilan bersih, mencari anak perempuan buat diadopsi. Ini sudah yang keempat kali, semenjak saya berada dalam ruangan ini. Bersama perawat, pasangan suami istri empat puluhan itu berkeliling dalam kamar. Penampilan saya yang tidak kalah menarik dibanding Kartika, membuat mereka menoleh. Saya diangkat si istri dengan penuh kasih kemudian.

Namun, ketika si suami berbisik pada perawat tentang asal usul saya dan si perawat menjelaskan, si istri memandang dengan kecewa lantas kembali meletakkan saya di atas kasur. Si perawat mengalihkan pilihan pada Putri dan pasangan itu setuju.

Ya, meski cacat. Bayi-bayi yang lahir dari pasangan dalam nikah, jauh lebih diinginkan ketimbang saya. Saya yang lahir dari pasangan di luar nikah. Dan bagaimana jika ketika dewasa, saya kemudian mengulangi lingkaran setan hamil di luar nikah, lantas membikin malu orang tua yang mengadopsi?

Sunday, February 16, 2020

Persaingan: Sebuah Wejangan Dari Kak Azis Franklin

Kak Azis Franklin memainkan alat musik (kiri). Sumber: Dokumentasi pribadi.

Bertemu kak Azis, artinya mendapat kuliah umum gratis. Meski saya tidak yakin, beliau ingat nama saya dari sekian banyak orang yang ditemuinya. Namun beliau ternyata selalu ingat jika saya sebut kata kunci Pelangi Sastra Malang yang pernah ditembak prediksi-prediksi beliau suatu hari, di pojok luar Kafe Pustaka.


Suasana pojok Kafe Pustaka kala itu jadi penuh tawa. Seorang super introvert yang kedoknya dikuliti memang selalu menarik, bahkan bagi diri saya sendiri. Maka pulalah saya terbahak-bahak melihat wajah teman-teman lain yang kelihatan senang sekali ketika kak Azis membaca banyak hal dalam diri saya dan saya akui itu semua benar. Belum lagi ketika saya bilang takut dengan zombie dan sekali lagi menjadi tertawaan semua teman semeja kala itu. Bagaimana saya justru tidak memilih takut pada hantu lokal saja? Hantu lokal, yang kata kak Azis justru sungguhan ada, beda dengan zombie. Impor sekali rasa takut saya itu memang.

Dan akhirnya, saya kembali bisa mengobrol dengan kak Azis ketika beliau beristirahat di pinggir panggung Haul Gus Dur yang ke 10 di Klenteng Eng An Kiong Malang. Melihat kak Azis yang sedang tidak berinteraksi dengan siapapun, saya pun menyalaminya dan sambil tertawa-tawa berkata,”Saya ini apa ndak diramal lagi?”

Ya, saya memilih kata ‘ramalan’. Sesuatu yang lebih terasa akrab dan gembira ketimbang ‘minta wejangan’. Apalagi jika mengenang kejadian di pojok Kafe Pustaka yang menyenangkan teman-teman semeja kala itu. Dan setelah melempar kata ‘meramal' itu, dengan ramah kak Azis memersilahkan saya duduk di sampingnya.

Dari sekian wejangan kak Azis, sebuah analogi tentang persaingan menarik perhatian saya. Sebut saja A dan B yang menjalani bidang serupa. A memandang B luar biasa sekali dalam bidangnya dan ia menyadari pasar mereka berbeda. Pergaulan A, tentu sangat jauh keluasannya jika dibanding B. Sedang B, malah menyadari gayanya menggarap bidang tersebut hanya mampu menembak pasar tertentu. A justru dilihatnya mampu masuk dalam berbagai pasar dengan caranya menggarap bidang.

“A ini sadar potensi orang lain, tapi dia ndak sadar potensi dirinya sendiri.” Ujar kak Azis.

Kak Azis lantas mengibaratkan lembaran uang seratus ribu. Nilai seratus ribu yang lusuh, sama dengan nilai seratus ribu yang licin dan baru keluar dari bank. Mereka sama-sama bisa dibelanjakan. Hanya saja bedanya, soal tampilan. A menurut kak Azis masih melihat seseorang serupa analogi lembaran uang tadi.

“Lha iya, B anaknya buku banget.” Lanjutnya.

Jika A dan B menulis nilai soal kehidupan sekalipun, masih menurut kak Azis. Hasilnya akan berbeda. Bukannya A punya gaya bahasa yang luwes? Bukannya B punya gaya bahasa berdasar buku-buku? Oh, jadi ini penjelasan analogi persamaan nilai seratus ribu itu. B barangkali lebih keren di mata A dengan buku-buku yang diusungnya namun menurut B yang sudah kenyang dengan buku, A justru menyamai apa yang disampaikannya.

“A ini tahu dia mau pergi ke mana, tapi dia ndak ngerti harus naik apa menuju sana. Sedang B ini merasa jalannya paling benar. Dia ndak mau belajar kemungkinan lain.”

Maka pikir saya, A meskipun menyadari setiap orang memiliki pasar masing-masing, mestinya ia mengubah cara pandangnya terhadap orang lain agar tidak serupa analogi uang seratus ribu lusuh vs licin. Silau adalah kekonyolan yang ia lakukan. Sedang B, yang sudah menyadari uang seratus ribu lusuh vs licin nilainya ternyata sama, mestinya juga menyadari ia pun memiliki pasar sendiri. Kalut adalah kekonyolan yang ia lakukan.

Dipikir berapa kali pun, A dan B sama-sama menggelikan juga ternyata. Ehe.

Sunday, February 9, 2020

Taman Kanak-kanak

Sumber: Gugel
Dalam imajinasi Fahirrah, kelak ketika ia berusia 24, dipukulinya Farrahnandah dengan tongkat golf hingga gadis itu menjerit memohon ampun. Farra masih dalam imajinasinya, akan mengaku kalah dan lemah, persis seperti papinya yang saban hari bergelung di lantai rumah dengan punggung dan leher memar berwarna ungu tepat di kaki sang mami.

Anak lelaki berkulit putih dan berambut keriting sebahu itu, sedemikian membenci Farra tanpa mengerti harus menamai apa perasaannya itu. Karena sebelum gadis itu masuk di kelas B-Matahari, semua orang dewasa memuji-muji Fahir sebagai anak baik, pintar dan sopan yang nomor satu. Para guru membicarakannya lintas kelas dan maminya pula dibagikan berita membanggakan itu. Meski berita membanggakan itu tidak mengurangi tamparan dan umpatan mami padanya saban hari juga. Tapi setidaknya, dada Fahir jadi menghangat akibat semua pujian itu. Walau sebaliknya, semua teman sekelas justru takut sekali pada lelaki kecil bermata coklat itu.

Fahir memang memenuhi segala ekspektasi moral yang dibuat orang dewasa. Mau berbagi bekal, membaca dengan lancar sejak awal masuk kelas A, mencuci tangan sebelum makan, melahap sayur tanpa protes dan tidak pernah berkelahi. Tapi semenjak gadis berkuncir tiga itu masuk dalam kelas yang sama, orang-orang dewasa jadi berbisik,”Fahir ini kecanggihan taktiknya melebihi anak seusianya ya ternyata? Ngeri juga, kalau gede jadi gimana dia nanti? Eh, dengar-dengar mami dia IQnya jenius sih memang...”

Dulu sekali, sebelum kemunculan Farra, Fahir bisa membagi bekal kepada temannya yang lupa tidak dibawakan kotak berisi makanan itu dari rumah. Kalau sudah begitu, orang dewasa, ah maksudnya bu guru akan memujinya besar-besaran di depan kelas. Namun ketika bu guru balik badan, Fahir mengambil lagi bekal yang dibaginya itu dengan wajah datar. Seorang teman lain yang coba memberitahukan kejadian itu pada bu guru, esok hari kepalanya memar karena sandungan kaki Fahir yang pura-pura tidak disengaja ketika jam senam.

Ketika anak-anak lain memahami tepuk tangan atas kebaikan Fahir seperti, ah, aku berarti juga mesti berbuat baik seperti itu karena perbuatan itu benar. Justru Fahir memahaminya begini, ah, aku mesti mendapat tepuk tangan itu. Harus...

Masih dulu sekali, lagi-lagi sebelum Farra muncul. Bu guru mengumumkan kehebatan Fahir di depan kelas karena berhasil menghabiskan sayur saat jam makan bersama. Dengan lahap anak lelaki bermata sayu itu memakan seluruh porsi sayur. Namun ketika bu guru memalingkan muka, anak itu ternyata memuntahkan sayurnya di mangkuk seorang teman yang beda meja dengannya. Semua anak senyap, ketakutan. Apalagi sayuran di mangkuk si teman beda bangku itu, sebenarnya sudah habis tanpa bu guru tahu. Marahlah bu guru terhadap anak itu dan terpujilah Fahir dengan segala kehebatannya memakan sayur tanpa muntah.

Hingga hari itu pun tiba, si gadis berkuncir tiga datang di kelas B-Matahari. Sekali ketika bu guru balik badan dan semua anak dibiarkan mencuci tangan masing-masing sebelum makan, Farra melihat Fahir sengaja tidak mencuci tangannya. Anak-anak lain senyap dan hanya memandang takut-takut ketika Fahir dengan mata sayunya menatap mereka semua. Tapi Farra tiba-tiba berucap pada seorang anak lelaki dan perempuan yang ada di kanan dan kirinya begini, Fahir nggak cuci tangan ih jijik...

Ucapan Farra tidak begitu keras, namun cukup didengar Fahir yang berdiri tidak jauh darinya. Kemudian ucapan-ucapan itu melebar hingga membikin Fahir mendelik. Bu guru yang mendengar ceracau ramai begitu, tentu langsung menghampiri anak-anak yang tengah antre di wastafel. Bu guru menegur ada kejadian apa? Kemudian seorang anak yang kepalanya pernah memar oleh Fahir, entah bagaimana mendapat keberanian untuk mengatakan, Fahir nggak cuci tangan, Bu. Dan disambut kor persetujuan anak-anak yang lain.

Pernah juga, Fahir mendatangi bangku Farra sambil mendelik. Kelas tengah kosong karena semua anak bermain di taman belakang. Farra kembali hanya untuk mengambil minumannya di meja. Fahir bilang, bakal mencolok mata Farra jika dia berani mengadu seperti kemarin. Farra diam dan mendelik balik, cukup lama mereka bertatapan sambil Fahir berkali menggebrak meja, mengancam. Keberanian Farra benar-benar membuatnya ingin sekali menumbangkan gadis itu sekali terkam. Hingga tiba-tiba Farra berkaca-kaca dan menangis. Fahir pikir dirinya telah menang, namun tiga teman sekelas ternyata sudah ada di pintu dari tadi. Jumlah anak semakin banyak, seiring tangis Farra yang makin keras. Hingga anak yang mangkuknya pernah diberi muntahan Fahir menjerit,”Bu guru! Farra dipukul Fahir!”

Anak itu tentu baru datang dan tidak melihat seutuhnya kejadian. Namun ia tidak berbohong juga. Konsep dalam kepalanya mengatakan, tangisan serupa Farra tentu terjadi akibat dipukul teman. Entah keberanian dari mana didapatnya untuk mengadu. Hingga para guru datang, tidak hanya dari B-Matahari namun juga dari kelas-kelas sebelah. Farra makin histeris bahkan ketika tubuhnya diangkat bu guru. Badan Fahir gemetaran ketika dengan lembut beberapa guru mengerumuni dan memberinya nasihat, mereka berusaha habis-habisan agar kata ‘nakal’ tidak keluar. Kata itu haram keluar dari mulut para guru terhadap murid, karena katanya itu dinamakan pelabelan yang tidak baik bagi perkembangan anak.

Tapi tanpa semua orang tahu, di balik ketiak bu guru yang menggendong dan menenangkannya, lidah Farra menjulur pada Fahir, mengejeknya yang tengah dihajar nasihat bertubi-tubi. Apalagi teman-teman yang lain berebut mengerubungi Farra dan mengamini kenakalan Fahir yang menyerang tanpa sebab. Dirasakan Fahir, tangisan gadis cilik itu ternyata bukan sebenar-benarnya tangisan karena merasa takut atau kalah darinya.

Ya, semenjak kehadiran Farra, semua anak jadi berani mengadukan Fahir dan bahkan menanganinya sendiri beramai-ramai. Menyepak Fahir bersama tiga orang sekaligus ketika jam senam, tidak pernah lagi jadi keliru, karena anak-anak yang lain kini berani bersaksi bagaimana kelakuan Fahir sesungguhnya. Anak-anak tidak pernah mengingat siapa yang memulai keberanian mereka melawan Fahir. Farra si anak pindahan hanya diingat sebagai gadis berkuncir tiga yang membaca saja masih mengeja karena di rumah, kedua orang tuanya sibuk bekerja.

Bu guru yang penasaran bagaimana Fahir yang tenang dan dewasa jadi membuat begitu banyak masalah, lebih memerhatikan gerak-gerik anak lelaki itu pada berikutnya. Dan benar saja, dia mengambil bekal yang sudah dia bagikan pada temannya, pula tidak mau cuci tangan jika tanpa pengawasan guru, masih dia lagi yang sengaja menyandung kaki seorang anak yang mengadukannya kemarin lusa. Maka bu guru, mulai mereka-reka ulang konsep kepolosan anak-anak. Barangkali yang dimaksud polos adalah, anak-anak belum begitu jago menutupi watak aslinya seperti orang dewasa dan bukannya semua ucapan juga perilaku mereka selalu jujur. Tapi serupa Mr. Kobayashi dalam kisah Totto Chan, bu guru yakin anak-anak sangat bisa diubah oleh lingkungan. Maka esok hari, bu guru sengaja mengobrol dengan maminya Fahir dan menceritakan semuanya. Mami Fahir berusia 24, sama berambut keriting dan berkulit putih, pula sopan seperti mula-mula Fahir masuk ke Taman Kanak-kanak itu.

Fahir gemetaran hebat ketika mengetahui bu guru mengajak maminya mengobrol. Ia tahu, umpatan dan tamparan maminya bisa lebih hebat sepulangnya dari sekolah dan barangkali malah tongkat golf itu ganti mendarat di punggung dan lehernya, serupa nasib sang papi.

Dan Farra pun tetap dikenang sebagai anak yang membaca saja masih mengeja, sudah kelas B pula. Kali ini kabarnya, karena dia masih menjalani terapi disleksia. Lantas anak-anak kelas B-Matahari tetap saja tidak mengerti dari mana keberanian mereka menghadapi Fahir sebenarnya bermula...

Saturday, February 1, 2020

Profesi Tak Harus Diwariskan dan Mengapa Rian Firmasnyah (Tidak) Mesti Menjadikannya Sebuah Buku

Depan buku. Sumber: Dokumentasi pribadi

Secara personal, Rian Firmansyah memang memiliki pesona. Pesonanya bisa menjerat orang buat sukarela bekerja dengan atau tanpa dibayar. Bahkan tanpa diajak pun, seseorang bisa menyerahkan diri begitu saja buat bekerja bersamanya, bergabung bersamanya. Maka buku ini, saya garis bawahi sebagai karya kolaborasi yang selain hasil kreasi, juga tercipta karena pesona personal seorang Rian. Karena ya, dalam buku ini, terdapat dua orang ilustrator dan seorang tukang kaver yang bergabung dengan sepenuhnya kerelaan hati*. Tidak lupa, pesona ini pula, yang secara alami membentuk pasar pembaca Rian. Jika tidak betul-betul butuh membaca karyanya, seseorang masih punya alasan membeli buku ini karena sosok Rian yang membekas.

Meski memiliki judul Profesi Tak Diwariskan (selanjutnya disebut PTD) yang memberi kesan buku ini sebagai kumpulan esai, nyatanya ada sajian cepen dan puisi yang dibuat berselang-seling di dalamnya. Sebagian tulisan, pernah saya baca di blog Rian memang, karena saya memang mengikuti blognya. Dan cukup membuat mata gatal, ketika Rian ternyata kadung mencetak buku ini dengan hampir seluruh tulisan di dalamnya yang berantakan soal pemenggalan kalimat. Padahal, pada tahun 2018 saya sudah pernah berkomentar di blognya mengenai pemenggalan kalimat ini.

Melalui buku ini, agaknya Rian coba melakukan lompatan soal hobinya menulis. Niatnya hanya mencetak dan bukan memakai kata ‘beli’ melainkan ‘barter karya’, begitu kata Rian. Memerkenalkan karya, dua kata ini saya kira cocok buat menggambarkan mengapa PTD sampai dicetak. Hingga saya ingat, semenjak 2014, saya melakukan pula hal rupa yang bedanya, dicetak sangat terbatas dan dijilid sederhana. Cetakannya juga tidak saya jual, melainkan dibagikan pada beberapa teman saja. Meski pada tahun-tahun berikutnya, biaya cetak yang mahal membuat saya membagikan tulisan dalam bentuk e-book dan berlangsung hingga 2019 lalu.

Langkah Rian strategis memang. Jika blog walking tidak sempat dilakukan di tengah rutinitas kerjanya, maka mencetak dan menyebarkannya bisa menjadi langkah lain untuk mendapat apresiasi, entah dari kawan sendiri maupun pembaca baru. Apresiasi ini bisa dalam bentuk pujian maupun kritik.
Lembar pertama buku. Sumber: Dokumentasi pribadi
Lepas dari konsep yang menarik, bagaimana dengan kualitas tulisan Rian? Selain pemenggalan kalimat dan banyak teknik dasar yang mesti Rian benahi, perkara cara menulis dan cara menganalisa agaknya juga mesti menjadi PR buat Rian. Mari kita bahas satu per satu mulai dari ejaan…

Dalam tulisan Honor, halaman 74, ‘diantara’ semestinya ditulis ‘di antara’. Namun perkara preposisi ‘di’, Rian hampir sangat sedikit melakukan kesalahan. Dengan demikian dapat disimpulkan, ini murni kecerobohan dan bukannya karena Rian belum mengerti preposisi ‘di’. Kemudian dalam tulisan Isyarat Bunga, halaman 110, terdapat paragraf,‘Pagi harinya, tepat pukul 6.30 WIB. Bersama para peserta dan panitia. Kita sepakat senam pagi bersama. Untuk mengawali kegiatan di hari kedua “Youth Camp” itu.’ Penggunaan sudut pandang ‘saya’ sepanjang tulisan, membuat kata ‘kita’, semestinya diganti menjadi ‘kami’.

Dalam Isyarat Bunga, penulisan judul Youth Camp, dapat pula ditulis tanpa tanda kutip. Jika memang ditujukan menandai judul acara yang tengah diceritakan, penggunaan huruf kapital di awal kata sudah cukup. Bagaimana dengan pemenggalan kalimat? Paragraf ini adalah contoh dari masalah pemenggalan kalimat Rian sepanjang buku dan berulang. Pemenggalan yang tidak tepat, berakibat kalimat jadi nampak tertatih. Pemenggalan yang lebih tepat dapat dilakukan seperti ini,‘Pagi harinya, tepat pukul 6.30 WIB. Bersama para peserta dan panitia, kami sepakat senam pagi bersama untuk mengawali kegiatan di hari kedua “Youth Camp” itu.’

Tidak saya bedah semua ya. Karena ini tugas Rian untuk kembali mengoreksi karya perdananya ini. Apalagi, saya sudah mengingatkannya jauh-jauh hari via blog. Yakin saya, pembaca yang lain pun bisa menemukan masukan serupa. Dan lagi, predikat penulis yang secara umum disemat orang-orang kepada siapa saja yang berani meluncurkan buku, mestinya menjadikan Rian makin semangat menerima semua saran juga menerapkannya.

Oke deh, saya beri bonus dalam tulisan Marah, halaman 153. begini isi paragrafnya,’Ialah Bambang AW. Begitu sapaan akrabnya. Ia dikenal sebagai pelukis, penulis dan dosen tamu di beberapa universitas di Kota Malang. Pria berwajah tenang dan teduh. Pria yang kerap mengenakan sarung motif batik saat santai di rumah itu. Telah mengajakan pada saya, jika pentingnya mengendalikan amarah. Ia mengelola amarah jadi sebuah karya, berhulu rasa melaju ke hilir cipta.’ Sudah menemukan bagaimana semestinya? Coba bandingkan dengan paragraf berikut,’Ialah Bambang AW, begitu sapaan akrabnya. Ia dikenal sebagai pelukis, penulis dan dosen tamu di beberapa universitas di Kota Malang. Pria berwajah tenang dan teduh yang kerap mengenakan sarung motif batik saat santai di rumah itu, telah mengajarkan pada saya, tentang pentingnya mengendalikan amarah. Ia mengelola amarah jadi sebuah karya, berhulu rasa, melaju ke hilir cipta.’


Ilustrasi oleh Domesia. Sumber: Dokumentasi pribadi
Perkara ejaan saya temukan kembali dalam Munir, halaman 192. Terdapat kalimat,’Tetapi aktivis HAM di Indonesia dan mereka yang pernah dibantu oleh Munir, siapa saja mereka? Iya, mereka yang tertindas oleh oleh hukum dan kekuasaan.' Menemukan sesuatu? Betul, Rian menulis huruf kecil setelah tanda tanya. Hal ini berulang di banyak tulisan. Saya tidak tahu apakah memang hal ini dibuat menjadi ciri khas seperti judul satu kata dalam banyak tulisannya. Karena dalam banyak tulisan lain seperti Kado, halaman 120 terdapat kalimat, ‘Apakah semakin banyak OTT dari KPK? Entahlah’ Dan ya, di sana Rian menulis huruf kapital setelah tanda tanya.

Lepas dari kaidah menulis dasar, bagaimana dengan cara menulis Rian dalam buku ini? Kabar baiknya, beberapa tulisan memiliki paket lengkap, yaitu layak jual dan bagus. Beberapa dan tidak banyak…

Jadi mari membahas mulai dari Amy Chua dan Hawkins. Dua tulisan ini mewakili Rian yang gemar menulis hasil pembacaannya atas buku dengan tema tokoh. Layak jual? Tidak. Cukilan buku tidak membawa kebaruan pada pembaca. Bisa jadi, pembaca malah lebih tahu atas kisah para tokoh tersebut dari hasil pembacaannya sendiri. Tulisan jenis ini, patut Rian lanjutkan sebagai bentuk mengabadikan hasil pembacaan, tapi hanya untuk di blog, semoga tidak lagi untuk dijual.

Bagaimana menyiasati hasil pembacaan agar layak jual? Bentuknya dapat diubah menjadi resensi yang lebih analitis. Analitis bukan berarti Rian mesti memaksa memakai teori. Karena kesederhanaan sudah jadi mereknya Rian, memahami hubungan sebab akibat atau menghubungkan isi buku dengan dunia nyata, sudah cukup.

Puisinya bagaimana? Pertama, saya tidak bisa bikin puisi dan hanya bisa membedakan baik dan kurang baiknya. Intinya, puisi-puisi dalam buku Rian bukannya baik atau kurang baik namun… biasa saja. Bagi yang lebih memahami soal puisi, boleh ini dibahas lebih jauh agar jadi masukan untuk karya-karya Rian berikutnya.


Ilustrasi oleh Unartifisial. Sumber: Dokumentasi pribadi.
Cerpen? Hanya ada satu cerpen yang mewakili merek sederhananya Rian dan cukup mengena, judulnya Indoktrinasi Pak Lurah. Jika dibanding cerpen-cerpen lain dalam PTD, Indoktrinasi Pak Lurah memiliki paket lengkap; kesederhanaan, penokohan kuat, jalan cerita yang runut, kejutan dan nilai moral. Formasi paket lengkap ini agaknya memang hal-hal yang ingin dicapai Rian dan terlihat dari pola-pola cerpennya yang lain, meski ya, hanya pada satu cerpen saja nilai-nilai tadi ternyata bisa dicapai.

Esainya? Sebagai bocoran, buku ini lebih banyak memuat esai. Format esai Rian kebanyakan digugah oleh hasil pembacaannya terhadap buku, lantas dihubungkannya dengan kejadian di sekitarnya. Menarik? Ya. Format demikian bisa membawa kebaruan pada pembaca. Ketika buku yang serupa bisa dibaca oleh siapa saja dan bisa jadi, pembaca lain malah lebih menguasai isi buku tersebut ketimbang si penulis esai, namun keberadaan pengalaman nyata, membuat kebaruan pengetahuan bagi pembaca. Meski sayangnya, Rian sendiri agaknya belum mantap dengan format seperti ini.

Dalam esai berjudul Honor misalnya, Rian lebih banyak memamerkan pengetahuannya akan buku bacaan. Sempat memang ia coba menghubungkan dengan pengalaman nyata, namun pada akhirnya, ia tetap lebih banyak memamerkan pengetahuannya akan buku. Padahal, bahasan mengenai guru honorer dalam esai ini sesungguhnya menarik. Rian memang cukup apik dalam penggalian tema. Tapi pada akhirnya, pengalaman nyata yang semestinya lebih membawa kebaruan pengetahuan, justru hanya ada 15% dalam keseluruhan tulisan. Format tulisan semacam Honor ini, juga terulang dalam banyak esai lain dalam PTD, Summerhill School salah satunya.

Dalam satu esai, apabila seorang tidak benar-benar memiliki bacaan sangat luas, satu atau dua kutipan dari buku saja sebenarnya sudah cukup. Kemudian porsi lainnya diisi apa? Pengalaman nyata yang berkaitan dengan kutipan buku. Pengalaman ini tidak melulu harus dialami sendiri, bisa juga dari pengalaman orang lain, hasil membaca blog orang atau pemberitaan dari media massa yang porsinya belum masif.

Rian mesti menghentikan keraguannya dalam menulis esai. Sekali lagi, kesederhanaan adalah mereknya. Tanpa setumpuk bahan bacaan yang orang lain bisa jadi ternyata lebih tahu, esai karyanya akan tetap bisa mendalam. Bahkan saya justru melihat Sarehan, sebagai salah satu dari tidak banyak tulisan bagus dalam PTDnya Rian ini. Meski ya, relatif untuk tulisan satu ini bisa disebut layak jual.

Bagaimana Sarehan bisa disebut bagus? Tidak ada penyebutan hasil pembacaan buku atau artikel dalam tulisan ini yang sepertinya malah membuat Rian lebih menikmai proses menulisnya. Kisahnya yang sangat dekat dengan sisi personal Rian justru menyentuh ketika dibalut penyampaian yang sederhana, tanpa istilah sukar. Meski Sarehan, minus dalam penulisan dialog langsung yang dicetak miring dan juga diulang Rian dalam tulisan-tulisannya yang lain. Mau dibilang cara menulis dialog macam ini sebagai ciri khas? Lagi-lagi dalam banyak tulisan yang lain lagi, dialog langsung ditulis tegak oleh Rian. Namun lebih dari semua itu, persoalan kesepian ternyata tetap bisa mendalam dalam Sarehan, meski tanpa kutipan berat dari buku atau tokoh. Layaknya, Rian menggali lagi tema dan cara menulisnya yang serupa Sarehan.


Belakang buku. Sumber: Dokumentasi pribadi.
Berikutnya Inlander, Masakan dan Isyarat Bunga. Ketiganya hampir bisa disebut layak jual, selain bagus. Inlander menyajikan hasil pembacaan buku dan kenyataan yang cukup seimbang. Esai ini menyajikan pembacaan buku dan kenyataan dengan berselang-seling. Rian tidak hanya menyajikan pengalamannya sendiri, namun juga teman sekitarnya. Serupa dengan Sarehan, Rian layak menggali lagi gaya menulisnya yang serupa Inlander ini. Selain sajian pembacaan yang lengkap, tulisan ini juga menunjukkan analisa hubungan sebab dan akibat yang apik. Dan lagi, analisa ini ditulis di akhir esai, menjadi pungkasan yang membuat esai jadi lebih tajam.

Masakan menjadi tulisan cukup apik berikutnya. Hasil pembacaan Rian akan teks dan pengalaman nyata disajikan lengkap. Meski sayangnya, hasil pembacaan teks lebih dominan disajikan. Bagi seseorang yang lebih menguasai tema dari hasil pembacaan teks yang disajikan Rian, tentu tidak akan merasa sayang apabila langsung saja lompat halaman. 

Terakhir, Isyarat Bunga. Serupa Sarehan, tulisan ini menyajikan pengalaman nyata Rian. Tidak ada hasil pembacaan buku disisipkan di sana. Hubungan sebab dan akibat disajikan menarik dan pembaca, sekalipun lebih menguasai tema inklusi seperti yang diangkat dalam tulisan ini secara teori, yakin saya tidak akan rela lompat halaman karena pengalaman nyata yang disajikan Rian belum tentu dialami pula oleh pembaca. Dari pembahasan singkat ketiga tulisan yang pikir saya cukup apik ini, Rian semestinya mulai bisa mantap membawa karakter menulisnya ke arah mana.


Samping buku. Sumber: Dokumentasi pribadi
Semoga dengan upayanya memerkenalkan karya dalam bentuk buku ini, Rian bertemu banyak pengalaman dari kritik dan saran yang masuk. Semoga juga, ia menemukan teman-teman baru di luar mereka yang menganggap karyanya tanpa cela. Semua ini, mesti bakal berrguna bagi berkembangnya karya Rian selanjutnya.

PTD, menunjukkan keingintahuan besar Rian terhadap banyak sekali bidang, dari pendidikan, seni hingga sastra. Mengenai keluasan rasa ingin tahunya ini, Rian punya sikap cerdik untuk membaca buku yang mana dan mengunjungi teman atau tokoh siapa untuk belajar. Rian ini juga sangat peka untuk menyeleksi bacaan mana yang bermanfaat dan teman mana yang bermanfaat, eh. Sebelum saya mengakhiri resensi ini, ijinkan saya mengatakan bahwa… karya perdana Rian ini cukup tahu diri untuk tidak berISBN.

Judul : Profesi Tak Diwariskan (Kumpulan Catatan)
Penulis : Rian Firmansyah
Ilustrator sampul: Unartifisial dan Domesia
Rancang sampul : Riza Ilmana
Jenis kaver : Kaver keras
Jumlah halaman : 266
Cetakan : 2019
ISBN : -

Catatan: 
*Mengenai konsep dan ilustrasi yang menarik, akan saya bahas dalam tulisan lain. Perkara konsep ini, membuat saya berani merekomendasikan Unartifisial, Domesia dan Riza untuk kerja bareng secara profesional dengan kalian. Mereka dibayar secara profesional oleh Rian.

Saturday, January 18, 2020

Ayam

Sumber: Gugel

"Apa yang berbeda dengan menjadi dewasa?" 

"Kamu bisa makan ayam kapan saja, tanpa ada yang meneriakimu, harus pakai nasi!"

Friday, January 10, 2020

Rahasia-rahasia

Sumber: Gugel

Rahasia-rahasia ternyata punya sifat transaksional sepanjang hidup lelaki ini. Seperti seorang teman perempuan, tiba-tiba mengajaknya masuk rumah dan menunjukkan sebuah keris yang besarannya sama dengan ruas telunjuk. Keris itu katanya bikin dia tembus pandang. Kali lain, seorang teman lelakinya, membuka dompet dan menunjukkan batu hijau yang besarannya sama dengan ibu jari. Batu itu katanya bisa bikin dompet balik sendiri waktu dicopet orang. Lusanya, teman lelakinya yang lain bercerita sejauh mana petualangannya soal ranjang. Sedang sore hari di tanggal yang sama, seorang teman perempuan yang lain lagi memasukkannya dalam kamar kos dan bercerita tentang bagaimana ia kehilangan keperawanan.
Belakangan lelaki ini mengetahui, bahwa rahasia semestinya dibalas dengan rahasia pula. Tapi bagaimana? Ketika ia sendiri sebenarnya tidak tertarik betul dengan rahasia-rahasia yang telah disodorkan kepadanya. Sodoran rahasia itu baginya, hanya pintu masuk yang sengaja diberikan orang-orang itu agar seolah mereka percaya padanya, agar kelak ia memberi rahasia yang sama di dalamnya.
Namun beda soal ketika ia bertemu perempuan yang selalu menatapnya hangat itu. Perempuan itu tidak kunjung memberinya sodoran rahasia seperti orang-orang yang lain. Bagaimana pun mereka mengobrol kesana dan kemari, perempuan itu terasa selalu berjarak. Ia tidak percaya padamu, demikian pikirmu. Dan bagaimana caranya menghancurkan jarak itu?
Maka lelaki ini mulai membuka almari berdebu dalam kamar yang 4x4 itu. Dengan bersin yang berkali-kali, ia mengambil segenggam rahasia dan menyodorkannya pada si perempuan esok hari. Namun yang ia dapat hanya senyumnya yang tipis sekali, bahkan hingga si lelaki bilang,”Tunggu, aku masih punya rahasia yang lain...” mendengarnya bicara begitu, perempuan itu lantas menghampiri si lelaki menerus hingga berhari-hari. Lelaki ini sengaja mengulur, menanti hingga jarak itu lenyap.
Namun nyatanya, perempuan itu pergi lagi dan lagi ketika segenggam demi segenggam rahasia si lelaki diperolehnya. Dan kemudian, di sabtu sore yang hujan, lelaki ini mendapati isi almari berdebu itu telah habis, disusul kepergian perempuan itu buat seterusnya pula...

Thursday, January 2, 2020

Cerita Anak-anak Korban Perbedaan Kelas di Sekolah


Krisna dua belas tahun dan dia mengalami low vision (baca juga: Vonis Dokter Bukan Penentu Nasibku). Tapi melihat Krisna yang jauh dari kata dibully alias dirisak apalagi terkucil, membuat saya berpikir-pikir bahwa teman-teman di sekitar anak lelaki berkulit sawo matang itu masih belum tercemar standar-standar kenormalan orang dewasa. Dari nenek dan bibinya, saya jadi tahu bagaimana Krisna lebih percaya diri justru di hadapan teman-temannya. Dan teman-temannya pula, yang entah bagaimana memahami cara bicaranya yang cadel tanpa ada ejekan, mereka pula yang tetap mengajaknya bermain bola tanpa menjadikan penglihatan Krisna sebuah masalah.

Selama tiga hari hidup bersama keluarganya Krisna di kabupaten Bandung Barat, saya juga tahu bagaimana teman-temannya bersemangat menyapa terlebih dahulu dan sebaliknya ia. Ia juga yang hampir setiap hari tidak pernah kehabisan teman buat berlarian. Hal demikian justru tidak saya dapati saat seusia Krisna dan teman-temannya. Ya, semasa Sekolah Dasar. Omong-omong, sekolah saya dulu lokasinya di pusat kota.

Semasa saya kelas tiga, salah seorang teman sekelas bernama Laura berulang tahun dan hanya anak-anak non panti terpilih yang mendapatkan undangan darinya (baca juga: Laura dan Ambisi Bundanya). Kala itu, saya terpilih karena nilai akademis yang sangat baik. Ya, Laura didoktrin ibunya untuk memilih teman yang jika tidak pintar, berarti harus dari golongan menengah atas. Keluarga saya waktu itu berasal dari kalangan menengah bawah, namun akademis yang menonjol menjadikan Laura terus mendekati saya, mengupayakan pertemanan. Hal serupa dia lakukan pada teman-teman lainnya yang masuk standar pertemanan ala sang ibu. Ambisi sang ibu juga diamini Desi, bahwa ya... Laura sebenarnya hanyalah korban standar bikinan orang tuanya.

Demikian, Laura akhirnya menjadi salah satu poros kesenjangan pertemanan di SD. Punya paras standar industri, berani bicara, punya jiwa pemimpin, berasal dari keluarga menengah atas dan prestasi akademisnya melejit ketika kelas empat, membuatnya mudah diingat siapa saja. Para guru termasuk Mr. A, menceritakan betapa positifnya Laura hingga lintas kelas. Mengenai kesenjangan di angkatan kami, selengkapnya dapat dibaca di Sri Eka Fidia Ningsih dan Caranya Balas Dendam Pada Si Culas. Namun kembali saya ulas sedikit di sini, bahwa di angkatan kami golongan anak perempuan dibagi menjadi tiga; anak panti dan non panti yang masih dibagi lagi menjadi golongan anak menengah atas, golongan anak pintar, golongan pintar dan menengah atas. Pintar batasan definisinya waktu itu adalah mereka yang nilai akademisnya baik.

Lebih jelas dan pedih, kasta-kasta itu dibagi rinci seperti di bawah ini:
1. Anak kaya dan pintar
2. Anak pintar
3. Anak non panti
4. Anak panti
5. Anak kebutuhan khusus (ABK)

Jadi, jika posisimu seperti Yuni yang dari keluarga menengah meski akademisnya tidak menonjol, kamu akan tersisih namun masih selamat karena tidak bakal ditindas. Lebih sial posisinya Desi yang berasal dari keluarga menengah ditambah akademisnya menonjol. Dia terus didekati Laura dan golongan anak-anak populer hingga terpisah dari golongan anak-anak yang seperti saya (akademis saya menurun di kelas empat, baca juga Sri Bukan Anak Nakal Tapi Laura) apalagi anak-anak panti yang jelas masuk kesana karena keadaan ekonomi. Dan lagi, anak-anak ini belum mengerti cara belajar, juga tidak mendapat pendampingan belajar karena saking banyaknya penghuni panti.

Masih di sekolah kami, ada anak kebutuhan khusus bernama Icha (baca juga; Icha Ternyata Autis). Icha sendiri sebenarnya berasal dari keluarga menengah, akademisnya pun mumpuni hingga sering masuk lima belas besar. Tapi karena dia berbeda dan tidak satu pun dari kami mengetahui istilah autis, Icha jadi tersisih juga dan bahkan dijadikan hiburan untuk dirisak. Anak perempuan berkulit sawo matang itu, adalah kasta terbawah a.k.a paling blangsak dari yang blangsak jika mencatut istilah dari Twitter.

Desi yang berangkat dari keluarga tanpa standar pertemanan tertentu, menganggap Laura dan golongan anak populer memiliki niat pertemanan serupa dirinya. Di mana berteman ya berteman saja, selagi sama-sama asyik, artinya teman seterusnya. Desi sampai pada titik tidak merasa, anak-anak panti mulai berbisik dirinya berubah dari yang mau berteman dengan kalangan bawah menjadi hanya berteman dengan kalamgan atas, pula saya membatin hal serupa.

Tanpa Desi sadari, dia ditarik secara permanen bersama Laura dan golongan anak populer dengan manipulasi yang sedemikian rupa. Desi mengalami perlakuan yang berbanding terbalik dengan saya. Seperti saya ceritakan pula dalam Desi Nilamsari Si 8 Tahun: Saat Ditanya Soal Maling dan Warga yang Main Hakim Sendiri saya sempat didekati Laura di kelas tiga karena akademis yang sangat baik. Sebaliknya Desi yang waktu itu anak baru dan belum begitu bisa berbaur. Akademisnya juga biasa saja, hingga Laura tidak pernah menyambutnya hangat kala itu. Keadaan ekonomi Desi yang dari kalangan menengah, pula belum nampak. Baru ketika mulai naik kelas empat, Laura mendekati Desi berbarengan dengan akademis saya yang menurun. Kala itu, Desi mulai bisa berbaur, akademisnya meningkat drastis dan keadaan ekonominya terkuak.

Tapi selain saya, Desi dan semua anak yang telah diceritakan di atas, masih ada Rina dan Anya yang menjadi korban standar-standar bikinan orang dewasa. Rina adalah anak non panti dan berasal dari keluarga menengah bawah. Akademisnya pula tidak menonjol. Meski demikian, Rina berhasil masuk Laura dan jajaran anak populer dengan cara menjadi penindas dan gaya ‘seolah kalangan atas’ yang disesuaikannya. Anya misalnya, ketika menjadi anak baru di kelas dua, pernah tiba-tiba ditindas sampai menangis oleh Rina. Ia pula yang tanpa sebab jelas, mencubit Anya yang duduk sendirian di pojok kelas. Rina semacam menjadi senjata untuk jajaran anak populer ini. Bagi anak-anak yang dirasa tidak pantas masuk dalam kasta mereka, Rina yang turun tangan ‘membasmi'. Juga lewat Rina, mereka mendapat hiburan-hiburan penindasan tanpa perlu turun tangan langsung.

Ibu Anya sendiri menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ketika putrinya itu kelas tiga. Di dalam PT pemasok tenaga kerja itu pula, ibunya mendapat perlakuan tidak adil (baca juga: Sri Eka Fidianingsih dan Caranya Balas Dendam Pada Si Culas). Hingga Anya ingin sekali masuk dalam jajaran anak-anak populer dan mendapat pengakuan, ia tidak ingin ditindas lagi. Namun yang bisa ia lakukan hanya mengekor saya yang meski bukan golongan menengah dan akademis tidak menonjol, setidaknya termasuk non panti. Anak non panti seperti saya memang tidak pernah ditindas secara langsung. Tunggu dulu, saya ingat ibunya Anya pernah masuk dalam sekolah untuk menemui putrinya dan bisik-bisik negatif soal penampilan ibunya itu dihembuskan entah oleh siapa. Yang jelas, penghembusnya adalah anak-anak perempuan dari kelas kami sendiri, kasta atas tentu saja hehe…

Segala yang terjadi di angkatan kami waktu itu, saya garis bawahi sebagai yang namanya perbedaan kelas. Ternyata, saya mengenal perbedaan kelas justru semenjak SD dan bukan dari buku-buku. Perbedaan yang nyata terjadi ini, bisa dibilang salah satunya berasal dari manipulasi Laura terhadap teman-teman sekelas yang menciptakan kasta-kasta. Laura tentu bukannya sengaja membuat kasta-kasta yang demikian. Doktrin ibunya soal memilih teman, secara otomatis menyertai pembentukan kasta. Bahwa di angkatan kami, ada yang namanya Laura; ia memiliki standar fisik sekian, etika kepada guru yang sekian, nilai akademis yang sekian, hingga dengan semua itu dia diakui keberadaanya.

Kasta-kasta ini tentu saja sebuah penyakit. Bagaimana bisa anak usia delapan tahun sebegitunya memilih teman? Dengan tendensi yang mustahil didapat sejak lahir pula. Tentu mama Laura yang menanamkan hal demikian terhadap putrinya, memiliki motif. Semestinya memang ada hal yang melukai mama Laura di masa lampau, sehingga ia jadi menularkan upaya bertahan hidup dengan kasta-kasta begitu kepada putrinya. Semua hal memiliki motif, tidak ada yang namanya terjadi dengan tiba-tiba.

Jadi intinya, jika tidak bisa memenuhi standar ekonomi Laura, penuhi standar akademis serupa saya ketika kelas satu hingga tiga. Jika tidak bisa memenuhi standar akademis, setidaknya jadi Yuni yang ekonominya menengah. Ia tersisih namun tidak ditindas. Dan jika tidak bisa memenuhi standar akademis juga ekonomi, jadilah penindas atau gaya yang setara anak-anak populer seperti Rina...

Atau jadi saya yang menyingkir, membuat keberadaan diri bahkan tidak kentara?

Atau jadi Nadiya (baca juga: Nadiya Khalilah Si Pupuk Bawang) yang berbaur dengan semua tanpa masuk satu golongan tertentu?

Atau jadi Sri si anak panti yang ditekan dan disisihkan, namun memilih melawan semua yang berlaku begitu kepadanya?

Ya, menjadi saya tidak mudah. Setiap orang butuh diakui keberadaannya sedang saya memilih menyingkir dan tidak peduli. Tidak semua orang akan tahan dengan kondisi dianggap menghilang. Keberadaanmu saja orang lain lupa, jangan mimpi mau didengarkan pendapatnya. Jadinya sih, saya hanya kumpul mereka yang senasib dan bertahan. Tentu mengenai keadaan mereka yang tersisih ini, saya tidak bisa bersuara juga. Lha, soal keberadaan saja saya dilupakan.

Tapi sebenarnya, lebih sulit lagi menjadi Nadiya dan Sri. Nadiya berasal dari kalangan menengah dan akademis bagus. Ia anak yatim. Godaan untuk bergabung dengan kasta anak-anak populer tentu kuat. Laura bahkan pernah getol mengajaknya bermain ke rumah, lantas mengajarinya motor seperti seorang sahabat sejati. Juga godaan untuk terang-terangan memihak anak-anak dari kasta bawah. Namun Nadiya justru tetap di posisi tengah dan seolah menjadi jembatan. Posisi tengah ini justru tidak begitu diingat semua orang sebagai satu hal istimewa. Padahal, orang dewasa saja belum tentu mampu menjadi netral.

Lain lagi dengan Sri. Tanpa jaminan ada orang tua kandung yang pasti membelanya ketika ada masalah, juga teman sesama panti yang juga ada si culas Anya, justru membuatnya berani melawan segala penindasan. Sri yang kata orang; anak panti, kotor, nakal, tidak pintar dan tidak berpunya, namun hingga lulus semua orang justru mengenangnya. Mereka mengingat nama Sri yang berani marah dan berkelahi demi membela haknya. Pikir saya, anak perempuan yang dulu sering dirisak karena gigi tonggosnya ini, adalah tokoh utama ideal dalam sebuah film. Sri adalah simbol dan praktik harapan dalam perang kelas.

Pada tulisan saya yang lain. Akan saya ceritakan bagaimana saya, Anya dan Sri ternyata satu sekolah di SMK. Juga bagaimana perkembangan cara bersikap kami dibanding semasa SD.


“Life is not fair, so get used to you.”

Patrick Star

Catatan: 
Tulisan ini ada setelah privilese menjadi trending di Twitter karena Maudy Ayunda dan sebelum privilese menjadi trending di Twitter karena Putri Tanjung.

Tapi mohon maap ea, akutuch tida ikutan marah-marah sama mbak Maudy Ayunda dan mbak Putri Tanjung akibat privilese mereka. Karena akutuch tida ingin anak dan cucuku kelak kena azab, dihujat warga Twitter karena privilese gen cerdas yang akutuch turunkan, juga privilese susah jerawatan meski nggak rutin cuci muka.
Wahai, sobat-sobat segawonku. Privilese tuch bukan hanya bab ekonomi. Kapasitas otak sampai bentuk moncong kau tuch juga bisa jadi privilese untuk anak dan keturunanmu kelak. Tak usah merasa paling blangsak dan paling berjuang deh kita tuch. Huehue.
Terpujilah ibuku yang pintar, ayahku yang cerdas dan mendiang mbah kakungku yang jenius. Privilese kapasitas otak dari beliau sekalian, lumayan buat modal hidup.