Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Monday, December 5, 2022

Tak Melulu Nestapa: 5 FTV dengan Cerita Perempuan Berdaya

Sumber: Magdalene.co


Dapat pula dibaca di Magdalene.co

Film Televisi (FTV) dianggap dekat dengan ibu rumah tangga sebagai konsumennya, sehingga lebih menceritakan perempuan sebagai poros cerita. Salah satu penyedia FTV adalah stasiun televisi Indosiar dengan jam sangat padat.

Pada jam-jam utama di pagi hingga sore hari, FTV di Indosiar tayang dengan sejumlah topik: Pintu Berkah, Azab, Kisah Nyata, hingga Suara Hati Istri. Topik-topik ini menjadi penanda perbedaan jalan cerita. Pintu Berkah biasanya menayangkan kisah orang zalim yang kembali pada agama; Kisah Nyata tentang kehidupan sehari-hari seperti kehidupan rumah tangga dengan laki-laki yang bisa juga menjadi korban; Azab menayangkan orang-orang zalim yang mengingkari agama; sementara Suara Hati Istri, dapat ditebak, adalah tentang kehidupan berumah tangga dengan perempuan sebagai korban.

Sebuah artikel di Magdalene, “Sinema Indosiar, Perempuan Durhaka dan Derita Nestapa”, menunjukkan bagaimana FTV adalah tayangan patriarkal. Itu tidak dapat disangkal, tapi saya tidak sepenuhnya mendapat pengalaman menonton serupa. Dengan tim penulis yang semestinya terdiri dari banyak orang, tidak sedikit pula FTV yang menggambarkan perempuan dengan berbagai perlawanan dan pilihan hidupnya.
Dengan segala kekurangannya, berikut lima rekomendasi FTV yang menampilkan perempuan-perempuan berdaya.

1. Ego Tinggi yang Akhirnya Menghancurkan Pernikahanku

Astrid (Gita Sinaga) bersuamikan pengusaha sukses, dan keduanya dianugerahi seorang putri remaja. Masalah timbul saat Astrid memulai bisnis dari hobinya mendesain pakaian. Suaminya yang super sukses itu ternyata memiliki maskulinitas rapuh. Ia tidak ingin putri mereka menjadikan Astrid sebagai idola selain dirinya dan ia menganggap istrinya sendiri sebagai pesaing.

Kekerasan psikis pun mulai gencar dilakukan suami Astrid. Dalil agama seperti “kedudukan suami yang lebih tinggi”’, ejekan di depan putri mereka dengan kalimat “ibumu enggak bisa apa-apa”, hingga upaya selingkuh dengan alasan pelampiasan karena kesibukan istri, dilancarkan sang suami hingga Astrid sempat goyah dan melepas usahanya.

Namun berbagai teror dan usaha menjatuhkan dari sang suami masih terus diterima Astrid. Selingkuhan suaminya pun ternyata juga diperlakukan serupa Astrid ketika coba mengaktualisasikan diri lewat hobi memasak yang mulai menjadi bisnis.

Di akhir cerita, Astrid justru bangkit. Ia bangkit bukan dengan menikahi lelaki lain yang jadi penyelamat, namun justru dari bisnis dan kemandirian. Putrinya pun diajarkan untuk jangan pernah merasa saling mengalahkan dalam berumah tangga.

2. Saat Aku Miskin Suamiku Pergi Ketika Aku Kaya Suamiku Kembali

Penyanyi Dewi Perssik dan Dirly Idol berperan sebagai pasangan suami istri. Dewi digambarkan sebagai seorang istri yang sangat domestik, dengan seluruh kebutuhan ekonomi dipenuhi sang suami. Sebagai istri, Dewi pun sangat maksimal dalam mengurus rumah dan kebutuhan suami. Namun hal itu tidak mencegah suaminya untuk selingkuh.

Demi putri mereka satu-satunya, Dewi pun berusaha mempertahankan pernikahan. Tapi sang suami mengabaikan mereka berdua dan keduanya terlunta-lunta. Dewi mulai bangkit dengan membuka usaha kuliner. Ia mampu membuka lapangan kerja, menghidupi diri, juga putri semata wayangnya. Sang suami, yang bisnisnya jatuh, hadir kembali dan meminta maaf. Namun ia kemudian malah menjadi benalu. Pada akhirnya, Dewi menyadari ia mesti tegas memilih atau selamanya terluka.  

3. Kenapa Laki-laki Bebas Berkhianat dan Istri Harus Menerima?

Lagi-lagi cerita tentang perselingkuhan suami terhadap istri. Aktris Della Puspita berperan sebagai Diana, perempuan bekerja, yang difitnah suaminya berselingkuh untuk menutupi kebrengsekannya sendiri. Apakah Diana berbesar hati dan pasrah? Tidak, ia dengan penuh keberanian berpisah dari suami yang beracun.

4. Kesuksesanku Dijadikan Alasan Pengkhianatan Suamiku

Sama dengan “Ego Tinggi yang Akhirnya Menghancurkan Pernikahanku”, FTV ini juga mengusung tema suami yang memiliki maskulinitas rapuh. Suami tokoh utama, Astrid, menghadang keinginannya untuk berperan di ranah publik lewat pameran desain, dengan dalih “istri wajib melayani suami.” Sang suami kerap mengejeknya karena

Suami Astrid begitu tersinggung ketika mendapati undangan yang datang ke rumah mereka ditujukan “Kepada Astrid dan Suami’. Undangan-undangan tersebut memang datang dari relasi bisnis dan teman-teman Astrid. Sang suami menganggap namanya yang tidak disebut dalam undangan sebagai penghinaan.
Astrid kemudian dihadapkan pada perjuangan panjang ketika sang suami berselingkuh dengan dalih diabaikan istri yang sukses.

5. Penyesalanku Akibat Memilih Suami yang Salah

Berbeda dengan judul-judul sebelumnya, FTV ini bukan menceritakan suami sebagai sumber masalah. Cerita dimulai dengan Tania yang dianggap telat menikah oleh lingkungannya. Ia sebetulnya memiliki trauma akibat perselingkuhan ayahnya. Kecurigaannya pada laki-laki diperkuat dengan lingkaran pertemanan, yang terdiri dari perempuan mandiri secara finansial, yang selalu membisikkan kecemasan soal rumah tangga kepada Tania.

Saat menikah, Tania dan suaminya yang sebetulnya setia kemudian berpisah akibat pertengkaran dan rasa curiga terus menerus hadir. Takut dengan stigma janda, Tania kemudian menikah dengan suami kedua yang ternyata benalu. Ketika mengadu pada teman-teman, justru dia yang disalahkan.

Tania akhirnya memilih tegas mengakhiri hubungan dengan geng pertemanan dan suami keduanya yang beracun. Ia kembali kepada mantan suami pertama, dengan mengakui trauma masa lalu masing-masing. Tania telah berubah menjadi lebih kuat, mandiri, dan tidak ambil pusing dengan stigma masyarakat.

Sebetulnya masih ada judul-judul FTV lain yang tidak mengandung nilai patriarkal. Hal ini positif, menurut saya, karena tidak semua perempuan memiliki akses lingkungan dan pengetahuan untuk membaca Magdalene atau buku-buku pemikir feminis.

Barangkali nilai-nilai mengenai perempuan yang mendukung sesama perempuan, melawan lingkaran kekerasan, hingga kemandirian bisa teman-teman sekalian dapat dari bacaan dan tontonan yang jauh dari FTV, tapi bagaimana dengan perempuan lain? Belum tentu. FTV di sini justru bisa menjadi media yang lebih membumi dalam menyebarkan nilai-nilai tadi.

Jalan cerita dari judul-judul FTV di atas pun tidak hendak membandingkan mana yang lebih baik antara perempuan yang berperan di ranah domestik maupun publik. Perempuan dari kedua ranah tersebut masih juga bisa menjadi korban kekerasan dan ketidakadilan, selagi para pelakunya memang memiliki itikad buruk. Perempuan yang memilih berperan di ranah domestik bukan berarti tidak berdaya, sedang yang memilih berperan di ranah publik pun bukan bertujuan untuk bersaing dengan para lelaki. Para perempuan ini memiliki pertimbangan yang sesuai dengan keadaan diri dan lingkungan yang melatarbelakangi hendak berperan di ranah mana. Berperan di ranah domestik maupun publik, keduanya sama mulia lagi progresif.

Tuesday, November 10, 2020

Menangkal Perundungan Lewat Webtoon Lokal Eggnoid

Sumber: Dihlyz Yasir dan WAG Pelangi Sastra Malang

Dimuat di Jawa Pos Radar Malang, 12 Februari 2020

Kasus MS (13) masih terus bergulir dan dikawal ketat media lokal hingga nasional. MS sendiri merupakan siswa SMP Negeri 11 Malang yang mengalami luka parah, setelah menjadi target perundungan atau lebih populer disebut bullying, oleh tujuh orang temannya.

MS tentu tidak sendiri. Kasus perundungan menurut data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan dilansir melalui Jawa Pos, 23 Juli 2019, pada enam bulan pertama 2019 saja, sudah tercatat 13 korban dan 13 pelaku. Tujuh di antaranya, korban perundungan di sekolah sedang sisanya, di media sosial. Tentu kasus-kasus yang sempat diangkat media, belum mewakili jumlah keseluruhan yang terjadi di lapangan. Demikian membuat upaya menangkal perundungan, semestinya bukan hanya menjadi tugas guru yang saat ini memiliki beban berat administrasi dan orang tua yang belum tentu bisa memantau perbedaan sikap anak antara rumah dengan sekolah. Apalagi mendengarkan ceramah mengenai perundungan, saat ini belum tentu menjadi sesuatu yang menarik lagi. Maka Webtoon, agaknya dapat menjadi salah satu solusi menyosialisasikan isu perundungan kepada anak dan remaja.

Webtoon merupakan platform komik yang mewadahi karya-karya komikus asal Asia. Platform yang telah berdiri semenjak tahun 2003 ini, memiliki berbagai genre yang telah dipublikasikan, Eggnoid menjadi salah satunya. Eggnoid yang memiliki genre fiksi ilmiah dan fantasi ini, merupakan karya Archie The Redcat. Archie sendiri merupakan komikus berkebangsaan Indonesia yang telah meniti karir semenjak tahun 2000.

Eggnoid mengisahkan remaja SMA bernama Kirana yang lebih akrab disapa Ran. Ran seorang yatim piatu dengan fisik yang disepakati banyak orang sebagai cantik dan prestasi akademis sangat baik. Namun nyatanya, dua hal yang biasanya dianggap sebagai kelebihan ini, tidak membuat Ran lolos dari target perundungan. Para pelaku, mencari celah soal Ran yang kesulitan bergaul dan kikuk. Bermodal dua sebab tadi, para pelaku mendapat dorongan bahwa Ran layak dirundung kemudian. Hingga dalam hidupnya yang sepi, sesak dan betul-betul merasa sendiri, Ran menemukan sebuah telur misterius yang di dalamnya terdapat anak laki-laki bernama Eggy yang kelak menjadi teman baiknya.

Jalan cerita Eggnoid berlangsung apik, berikut bersama penokohannya yang matang. Setiap tokoh termasuk Ran sendiri, selayaknya remaja di kehidupan nyata, memiliki perkembangan emosi akibat dari kejadian-kejadian yang dialami. Komikus Eggnoid pun, ternyata pernah mengalami perundungan semasa masih bersekolah. Demikian agaknya, membuat isu perundungan dalam komik yang telah difilmkan 5 Desember 2019 lalu ini, menjadi tajam, berisi dan menyentuh.

Selain melalui petualangan memecahkan asal-usul Eggnoid, Ran dengan kehidupan sekolahnya pelan-pelan berubah lebih matang. Ia pada muaranya menemukan cara bergaul dan lebih mengenal diri sendiri. Dengan mengenali diri, Ran jadi memahami permasalahannya soal tidak tahu cara bergaul. Kemampuan bergaulnya itu kemudian, membawanya menemukan teman-teman baik. Gadis berambut merah itu pula, yang menemukan cara melawan para perundungnya baik secara psikis maupun fisik. Ini belum lagi, bagaimana Archie sebagai komikus, mampu menggambarkan para perundung dengan begitu manusiawi.

Digambarkan para perundung Ran, memang ada yang secara terang-terangan tidak menyukainya dan bersikap kasar. Namun ada pula, yang memilih benci dengan sembunyi-sembunyi hingga menghasut teman-teman lain bersikap serupa. Bahkan ketika akhirnya Ran berhasil bersikap asertif, melawan perundungan secara psikologis dan menguasai seni beladiri hinggga bisa melawan perundungan secara fisik, tidak semua pelaku mau mengaku salah. Ada juga pelaku yang terpaksa meminta maaf hanya karena ketakutan dengan regulasi sekolah, ada yang masih menyimpan dendam, bahkan ada pula yang menggunakan kekuasaan orang tuanya buat menyerang balik.

Pelaku perundungan, apapun alasannya tetaplah pelaku, begitu kiranya yang hendak disampaikan dalam Eggnoid. Mereka pula yang menikmati ketika menekan dan melukai sesama teman dengan mencari-cari segala pembenaran. Hingga Ran, yang secara fisik dan kecerdasan dianggap orang-orang bakal membuat sungkan para pelaku sekalipun, masih juga menjadi korban. Sikap asertif, yaitu berani berkata ya atau tidak, juga disisipkan sebagai solusi atas perundungan yang dialami Ran. Sedang tindakan fisik sendiri sampai dipergunakan karena keterpaksaan, sebabnya korban perundungan sendiri juga mengalami tindakan fisik.

Jika masuk pada obrolan anak dan remaja demi menyosialisasikan isu perundungan tidak semua orang mampu, mengapa tidak dimulai dengan Eggnoid dan Webtoon? Apalagi, tidak semua anak dan bahkan orang dewasa sekalipun, nyaman mencerna isu perundungan melalui teks panjang. Platform Webtoon sendiri dapat diakses melalui playstore secara gratis hanya dengan bermodalkan internet. Menghawatirkan muatan konten pornografi? Konten pornografi memiliki jaminan telah disaring oleh pihak Webtoon sebelum sebuah komik beredar. Genre dan peringatan soal level usia pun dimiliki platform yang pada 2016 telah memiliki 35 juta pengguna tersebut. 

Bahkan bukan hanya anak dan remaja, orang dewasa sekalipun, dapat mengikuti jalan cerita Eggnoid. Gambar yang berwarna, cerita yang menghibur, pula sarat pendidikan namun tidak menggurui, agaknya bakal lebih mudah diserap anak dan remaja soal isu perundungan. Apalagi, dengan sosok komikusnya yang inspiratif, di mana ia sendiri dulunya adalah korban perundungan namun berhasil bertahan dan justru karyanya telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

Kasus MS memang serupa puncaknya gunung es, ia tampak namun bukan menunjukkan keseluruhan. Dilansir dari situs resmi KPAI, 10 Februari 2020, dalam kurun waktu sembilan tahun yaitu 2011 hingga 2019, ada 37.381 pengaduan kekerasan terhadap anak. Untuk perundungan baik di dunia pendidikan maupun di sekolah sendiri terdapat 2.473 laporan dan terus meningkat. 

Harapan agar tidak terjadi kasus serupa juga terasa utopis jika semua pihak, apalagi yang memiliki kuasa regulasi, tidak betul-betul berniat mencegah untuk kasus yang belum terjadi dan melindungi korban untuk kasus yang telah terjadi. Memerkenalkan komik dengan tema perundungan pun, hanya salah satu langkah pencegahan. Menjadi menarik barangkali, ketika bacaan menyenangkan serupa komik dengan isu demikian mulai dibicarakan di rumah, hingga masuk ke sekolah dan menjadi bacaan juga bahasan resmi, misalnya pada jam literasi atau mata pelajaran Bimbingan dan Konseling. 

Jadi bagaimana? Mulai tertarik membahas Eggnoid bersama anak di rumah dan sekolah? 


*Poppy Trisnayanti Puspitasari, Gusdurian.

Monday, July 1, 2019

Kisah Berakhirnya Hubungan Saya dengan Sahabat yang Bercadar

Sumber: Magdalene.co

Dimuat di Magdalene.co 10 April 2019
Di tahun kedua kuliah, enam tahun lalu, lini masa Facebook saya dihebohkan oleh catatan dari seorang sahabat bernama Sandy. Isinya menyoal pilihannya memakai cadar, dan bagaimana sikap guru SMK kami dulu, orang tua hingga tetangga yang menurutnya tidak begitu mendukung pilihannya itu. Para tetangga mengejeknya sebagai “ninja”.
Membaca catatan itu, saya menangis. Namun alih-alih berusaha mengobrol apalagi menyentuh hatinya, saya malah berkubang dalam rasa sakit hati dan jengah akibat upaya Sandy yang rutin mengirimkan artikel dari akun dakwah di dinding Facebook saya. Salah satunya menyebut Facebook serupa dinding ratapan yang tidak layak dipergunakan umat Islam.
Sandy dan saya mulai dekat sejak awal masuk SMK di Malang, ketika kami masuk kelas yang sama. Seperti kebanyakan siswi yang berjilbab, Sandy saat itu memakai jilbab berbahan menerawang dan adem, sering disebut kerudung paris, yang mesti dilapisi kain lagi di dalamnya.
Sifatnya tertutup, bahkan misterius, dan sensitif, tapi justru membuat kami cocok. Hingga tahun terakhir di SMK, kami bersahabat dekat. Salah satu cerita yang saya ingat adalah soal mahasiswa kampus dekat sekolah yang ditaksirnya, cerita cinta yang tidak pernah tersampaikan karena ketidakpercayaan diri Sandy soal fisiknya yang bagi saya tidak masuk akal.
Di sekolah, Sandy dikenal sebagai penulis berbakat, jago merajut, menjahit, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Ia juga dipercaya menjadi wakil ketua ekstrakurikuler jurnalistik. Beberapa teman alumni yang masih berkomunikasi dengan saya terang-terangan menyatakan rasa rindunya pada Sandy. “Anak itu baik banget dulu, enak diajak berteman.” Tidak pilih-pilih teman dan merangkul semua orang. Bukankah sikap Sandy sudah sangat Islam pada praktiknya?
Selepas SMK, Sandy mengikuti kelas Bahasa Arab di sebuah universitas. Namun kelasnya berlangsung di masjid, bukan di ruang kuliah. Di Facebook, Sandy bercerita bahwa kelas tersebut membuatnya tercerahkan. Ia pun kemudian memutuskan untuk menjalani Islam dalam versi terbaik dan menggunakan cadar. Masih dalam catatannya di Facebook, Sandy menulis bahwa ia memaklumi segala sikap mantan guru, teman, orang tua hingga para tetangga yang terkesan kontra soal pilihan yang diyakininya. Namun, ia mengatakan tidak bakal bisa digoyahkan.
Saya tidak hendak menuduh kelas di masjid itu telah mengubah Sandy, si kesayangan semua orang. Bisa jadi penafsiran Sandy sendiri yang mendorongnya menjadi lebih eksklusif. Seiring bertambahnya usia, saya kemudian memahami apa yang dilakukan Sandy sesungguhnya adalah upayanya menjadi manusia yang lebih baik. Kita semua pun, sedang memperjuangkan yang terbaik bagi diri masing-masing, bukan?
Ajaran yang dipahaminya itu seperti menyelamatkannya juga dari perasaan minder terhadap fisiknya dan lawan jenis. Ia mulai mendeklarasikan diri sebagai anti-pacaran dan pro-menikah muda. Kedua hal ini tentu tidak salah, jika saja Sandy betul memilihnya bukan karena ia merasa dirinya patah. Hingga sebentar kemudian, saya mendengar dari salah seorang geng lawas kami semasa SMK, bahwa Sandy sedang dalam proses berkenalan (taaruf) dengan pemuda dari lingkaran kelasnya di masjid.
Lelaki pertama tidak jadi menikahinya dan tidak berapa lama, ada lelaki lain lagi yang menikahinya dengan proses serupa. Saya menjadi satu-satunya teman geng yang tidak diundang dalam pernikahan tersebut.
Kepada dua teman geng kami yang lain, orang tua Sandy yang begitu dekatnya dengan saya mempertanyakan kenapa saya tidak hadir. Agaknya, Sandy betul-betul terluka ketika saya yang waktu itu masih 19 tahun dan berapi-api, menegurnya keras soal artikel yang dibagikannya di dinding Facebook saya secara rutin. Kebersamaan kami yang pernah juga jadi teman sebangku dan satu ekstrakurikuler, seperti lenyap begitu saja dilalap “perjuangan agama”. Sesungguhnya, luka serupa pun saya dapat dari caranya berdakwah. Saya ingat, waktu itu saya tegur, “Temanku enggak semuanya Muslim, dakwahmu itu membuat orang sakit.”
Hingga bertahun kemudian, saya masih memantau kabar Sandy melalui lingkaran pertemanan yang tersisa. Dari salah seorang teman, saya mendapati cerita lain bagaimana proses hijrahnya Sandy. Si teman yang juga berjilbab itu mengatakan bahwa Sandy lama-kelamaan anti memakai kerudung paris yang menurutnya menerawang. Setiap pertemuan, kerudung yang ia pakai makin panjang saja dan bahkan ia menghadiahi kerudung sepanjang mata kaki kepada si teman tadi.
“Aku enggak nolak kerudungnya. Aku pakai tapi cuma waktu tidur, kan lumayan hangat, hehe,” ujarnya. 
Ternyata usaha menularkan hijrah ini dilakukan kepada semua teman satu geng, bukan hanya saya. Hanya saja teman yang dihadiahi kerudung sepanjang mata kaki itu jauh lebih adem dan bijak menghadapi Sandy daripada saya.
Tidak lama berselang, muncul lagi berita bahwa Sandy bercerai.Kalau dari versi dia, suaminya enggak gitu mau kenal sama ortu-nya. Dia mau dibawa ke Kalimantan tapi dilarang ibunya, terus suaminya mau poligami dia,” cerita teman kami yang lain lagi.
Taaruf memiliki tujuan yang baik, agar saling mengenal. Namun bukan dengan tatap muka sekali dua kali lalu menikah. Hijrah, jika betul dimaknai, tentu bukan hanya berarti berganti kostum sehari-hari. Menikah muda atau pun menikah kapan saja, semua tentu juga memiliki tujuan baik. Meski saya tidak mengetahui, apa benar teman-teman yang bercadar semua diajarkan sebegitu keras dalam beragama serupa Sandy. Atau mungkin Sandy yang menafsirkannya sendiri hingga jadi sedemikian keras?
Sejak proses hijrahnya yang tampak cepat dan setelah kabar perceraiannya, akses komunikasi dengan Sandy semakin sulit, bagi saya dan teman-teman yang lain. Pernah saya coba mengiriminya pesan di Facebook namun sepertinya tidak terbaca. Saya dan teman-teman kemudian bersepakat, agaknya Sandy membutuhkan ruang bagi dirinya sendiri. Hingga pada saatnya nanti, kami tidak perlu memaksanya mau berkomunikasi.
Yang pasti kini saya menyadari, Sandy sesungguhnya sedang berusaha menyelamatkan teman-temannya termasuk saya, dengan keyakinan Islam terbaik dalam versinya. Pun saya, yang begitu mencemaskan keyakinan Islam dalam versinya itu, hingga membalas sikap kerasnya dengan sikap keras pula. Sandy berusaha menyelamatkan saya dengan apa yang ia yakini, sebaliknya saya juga mengusahakan hal serupa. Pada titik ini yang saya rasakan adalah, jika benar saya mengaku inklusif, mengapa sikap saya tidak ada bedanya dengan Sandy yang saya tuduh eksklusif?
Dulu dan hingga kini, kami berdua saling peduli dan sesungguhnya saling menyayangi dengan cara masing-masing. Begitu bukan?
Ilustrasi oleh: Sarah Arifin
Terimakasih tim Magdalene yang telah menyunting cerita ini agar layak baca.

Tambahan 04/05/2020: saya berencana menggarap sebuah tulisan yang menggali sisi lain perempuan bercadar di sekitar. Bahwa perempuan bercadar berbaur seperti biasa dengan masyarakat, ada juga yang menjadi wirausahawan sukses, pula tidak semua dekat dengan poligami.

Sunday, March 3, 2019

Ayah Saya Istimewa

Sumber: Gugel

Dimuat dan dapat pula dibaca di mubadalah.id 6 Desember 2018
Ayah saya memasak, menyetrika, dan mencuci baju. Pikir saya, papa-papa di keluarga lain pun serupa Ayah saya. Tapi ternyata tidak demikian. Ayah saya berbeda. Dia istimewa.








Waktu itu, saya sepuluh tahun dan sedang di acara keluarga. Saya lihat Pakpo, kakaknya ibu saya itu makan dengan dilayani istrinya. Padahal, meja makan cuma berjarak beberapa kaki dari tempatnya. Itu baru perkara makan, belum kopi dan lain-lainnya.
Sebaliknya, Ayah saya mengambil segala halnya sendiri. Belum pernah saya lihat ayah meminta Ibu membuatkan kopi. Setiap hari saya dapati Ayah membuat kopi sendiri. Bahkan ia yang membikinkan susu untuk saya sejak Sekolah Dasar.
Belakangan Nenek saya dari pihak Ibu bercerita, orang-orang di masanya takut ketika ada anak laki-laki masuk dapur. Anak laki-laki tersebut dimitoskan akan menjadi cupar.
Cupar dalam bahasa Jawa dimaknai sebagai terlalu perhitugan. Dan itu dianggap berbahaya dalam rumah tangga. Oleh karena itu, nenek saya memutuskan anak laki-lakinya tidak boleh masuk dapur. Di lain sisi, kekagumannya pada koki-koki lelaki yang ramai di TV tidak habis-habis.
Masih di usia yang sama, teman-teman saya di sekolah mengatakan bahwa Ibu mereka yang menyiapkan bekal dan membuatkan sarapan. Tatapan teman-teman menjadi aneh ketika saya bilang sarapan dan bekal saya, Ayah yang membuatkannya.
Dalam pikiran saya, semua rumah memang seperti itu dan tentu tidak ada yang salah.
Ayah saya sendiri bekerja di sebuah apotek swasta. Jam kerjanya dimulai lebih siang ketimbang Ibu saya. Jam pulangnya pun jauh lebih awal ketimbang ibu. Ketika saya mesti pulang sore dari sekolah dan tidak sempat membawa bekal, Ayah saya juga yang tiba-tiba ke sekolah. Dia mengirim kue atau nasi.
Ya, Ayah saya memang kerja di bagian lapangan dan jam kerjanya jauh lebih fleksibel.
Semenjak saya kecil, Ayah selalu bercerita dengan bangga tentang mendiang Mbah, ibunya. Mbah yang mengajarinya berbagai pekerjaan rumah. Tentu termasuk memasak hingga menyetrika baju.
Mbah, masih menurut Ayah saya, memiliki prinsip bahwa laki-laki mesti juga belajar pekerjaan rumah.
Dalam keyakinan Mbah saya, kelak ketika anak lelakinya menikah dan memiliki anak, tentu hidup tidak selalu lancar. Ada kalanya istri pun bisa sakit dan suami bisa menggantikan tugas memasak dan membereskan rumah tanpa mesti membayar orang lain.
Benar saja, Ibu saya sempat beberapa hari berada di rumah sakit. Waktu itu saya yang masih SD tetap bisa makan dan hidup dengan teratur.
Hal ini tentu beda, ketika Ibu saya mengomentari status Facebook salah seorang mantan tetangga kami yang sekarang hidup di luar kota. Mantan tetangga kami itu bercerita soal dirinya yang sakit dan harus beberapa hari menginap di rumah sakit.
Dalam statusnya itu diceritakan pula bagaimana suaminya yang kebingungan menata rumah dan mengurus anak tanpa dirinya.
Ibu kemudian bercakap-cakap dengan saya dan membandingkan bagaimana rumah kami bisa terus berjalan dan terurus sekalipun tidak ada Ibu. Bahkan Ibu baru mengetahui jika Ayah bisa mengerjakan pekerjaan rumah setelah mereka menikah.
Tidak ada kesepakatan siapa yang harus mengurus rumah atau bekerja di luar. Ibu mengurus rumah ketika tidak sedang lelah dan Ayah pun sebaliknya. Bahwa ternyata Ayah saya istimewa dan itu memang iya.
Tambahan Desember 2019: 
Tulisan ini ditulis menggunakan ponsel selama Womens Writer bersama Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia. Jadi ceritanya, saya dan 25 perempuan lainnya lolos seleksi acara tersebut dan mendapatkan kelas menulis gratis selama dua hari. Mbak Kalis Mardiasih menjadi fasilitator kelas menulis tersebut. Dan omong-omong, tulisan ini dipuji mbak Kalis di depan forum setelah sebelumnya, mbak Kalis mengajak saya mengobrol berdua soal tulisan ini ketika antri kamar mandi. Saran mbak Kalis, tulisan jenis ini memang dekat dengan sekitar, kejadian sekitar pun adalah data dalam menulis yang kita mesti juga peka. Namun lebih apik jika tulisan ini ditambah kutipan (entah teori atau cuplikan berita), satu paragraf saja cukup ujar mbak Kalis.

Tambahan Februari 2020:

Women Writer bersama AMAN dan Mubadalah 2018. Yang ini Sesi mbak Kalis. Sumber: Instagram mbak Mas @attasita

Women Writer bersama AMAN dan Mubadalah 2018. Yang ini sesi mas Anas Gusdurian Jatim. Sumber: Instagram mbak Mas @attasita




Sunday, September 30, 2018

Salah Fokus Itu Bernama Perisakan Terhadap Fisik dan Status Perempuan

Sumber: magdalene.co

Dimuat di magdalene.co 13 September 2018

Beberapa bulan lalu, usai aksi Women’s March, akun instagram Indonesia Feminis seolah-olah sedang melakukan “peperangan” dengan akun Indonesia Bertauhid. Serangkaian foto berisi poster-poster para peserta Womens March diunggah ulang oleh Indonesia Bertauhid dengan keterangan foto yang kontra terhadap aksi tersebut dan feminisme.

Salah seorang peserta aksi yang posternya diunggah adalah mbak V. Mbak V kala itu menulis, ”Selangkanganmu, selangkanganmu. Selangkanganku, selangkanganku.” Selain foto, akun Indonesia Bertauhid juga mencantumkan akun instagram mbak V. Alhasil, unggahan tersebut menuai ribuan komentar dari para pengguna, mbak V pun juga mendapat berbagai pesan pribadi melalui akun instagramnya. Melalui insta-story, mbak V mengatakan mendapat ancaman kekerasan bahkan pemerkosaan setelah fotonya diunggah, meskipun baru-baru ini mbak V juga menyatakan bahwa foto tersebut sudah dihapus oleh akun bersangkutan.

Jika mempergunakan bahasa lugas, mbak V ini memiliki apa yang disebut-sebut kulit “eksotis”, wajah manis, dengan tubuh dan penampilan seksi sesuai norma kecantikan umum. Hal ini oleh sejumlah orang dipakai sebagai bahan untuk menyerang mbak V. Banyak dari kita lupa bahwa apa yang disuarakan mbak V adalah buah pemikiran, pun dengan akun pengunggah fotonya yang juga menyuarakan buah pemikiran. Sayangnya, banyak dari kita juga ogah melawan pemikiran dengan pemikiran pula. Kemudian terjadi serangan-serangan berdasarkan informasi pribadi, bahkan senjatanya adalah tubuh perempuan, karena memang semua ini yang paling mudah dilakukan bagi kita yang malas berpikir.

Dari kasus mbak V, media sosial kemudian ramai dengan kasus Devi Eka, seorang penulis yang kabarnya melakukan plagiarisme terhadap sejumlah cerpen dan novel. Ketika menelusuri berita mengenai Devi Eka di salah satu forum diskusi, saya mendapati sebagian orang mengomentari tulisan yang sesungguhnya berisi pemikiran itu dengan meme Afi Nihaya Faradisa, yang sempat terkena dugaan kasus plagiarisme. Menyedihkan ketika meme tersebut isinya adalah tangkapan layar dari video “How Can You Do That” milik Afi, yang kemudian ditambahkan angka 10 sentimeter, 15 sentimeter dan lain sebagainya. Angka-angka ini berbau pelecehan seksual yang tentu tidak ada kaitannya dengan kasus Afi.

Ketika kasus plagiarisme Afi mencuat, banyak komentar-komentar justru bukan berfokus pada kesalahannya, melainkan mengomentari fisik Afi, yang dianggap tidak sesuai standar industri. Banyak dari kita agaknya lupa bahwa kesalahan yang dilakukan Afi sesungguhnya berbentuk pemikiran dan pemikiran pula yang layak untuk melawannya.

Lepas dari mbak V dan Afi, ada lagi politikus muda Tsamara Amany dan Cania Citta Irlanie. Cania adalah juga pembawa acara bincang-bincang Geolive, dan pada salah satu sesi, ia dikomentari soal pemakaian lipstik yang membuat wajahnya konon terlihat pucat. Memang Cania saat itu sedang tidak memakai lipstik yang biasanya dia pakai dan itu tentu haknya. Tema bincang-bincang itu sendiri layak dijadikan bahan diskusi, lantas seberapa gawat persoalan lipstik?


Kemudian soal Tsamara, politikus dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ia mendapat komentar soal perceraian yang dialaminya di salah satu forum diskusi. Forum diskusi tersebut dikenal tidak memiliki fasilitas menghapus tulisan atau komentar. Oknum yang mengomentari Tsamara tersebut menulis, ”Ngurus rumah tangga saja enggak becus, mau ngurus politik!”

Pertanyaan selanjutnya, seberapa tahu kita, para komentator ini, soal hidupnya Tsamara? Bagaimana predikat cerai dan janda menjadikan Tsamara dianggap gagal, tidak layak menyelesaikan apa pun? Jangan-jangan, banyak dari kita yang menganggap lebih baik babak belur dalam pernikahan, ketimbang mendapat predikat cerai dan janda.

“Alah… dunia siber aja kok. Jangan serius lah!”

Kita semua tentu tahu berbagai kericuhan yang terjadi akhir-akhir ini menyoal politik. Sumbernya? Media sosial. Jadi antara dunia nyata dan maya, sesungguhnya tidak lagi ada batas. Komentar-komentar terhadap mbak V hingga Cania, sesungguhnya bisa mengganggu psikis dan sebuah bentuk perisakan.

Baik Tsamara maupun Cania, terlepas seberapa jauh kita menyetujui ide-ide mereka, sesungguhnya mereka berdua telah menyajikan pemikiran yang layak dipelajari dan juga layak dibalas pula dengan ide. Jika belum sanggup mempelajari apalagi membalas ide, belajar diam agaknya juga bukan perkara mudah bagi kita.

Jadi rumusnya begini, jika kita para perempuan ingin melakukan “yang dianggap kesalahan” atau yang memantik perdebatan, tanpa perisakan soal tubuh, pastikan dulu tampilan kita tinggi, putih, kurus, mancung dan dengan gaya busana yang dianggap “anggun”. Eh, lha… tapi Cania dan Tsamara yang kondisi fisiknya sesuai standar industri juga terkena perisakan ya? Makanya, jangan pucat apalagi janda! Mati kita ditikam status hubungan

Wednesday, July 26, 2017

Selamat Datang, di Industri ‘Mencintai Dalam Diam’

Dimuat dan dapat dibaca di magdalene.co
 
Ilustrasi dari magdalene.co
Saya tentu gemas, melihat postingan soal cinta pada lawan jenis dalam diam, berseliweran di beranda sosial media. Pernah satu waktu, saya goda teman yang mengunggah tulisan model begitu. Saya bilang padanya,”Kenapa mesti cinta dalam diam?”
Dia jawab,”Kan kita ini perempuan, Pop…” jawabnya.
“Mencintai dalam diam itu, semacam doa tanpa usaha…” balas saya.
Nampaknya dia kemudian tersinggung dengan bilang,”Terus? Sebagai perempuan kita mesti apa? Mesti bagaimana?”
Komentar saya pungkasi dengan sok tausiyah, di mana doa dan usaha mestinya beriringan. Saya sedih bercampur geli melihat seberapa banyak teman-teman perempuan saya, masuk dalam industri ‘mencintai dalam diam’.
Si teman yang saya goda dalam kolom komentar di sosial media itu pun, dulunya juga berpacaran meski sudah memakai atribut beragama lengkap sejak dirinya masuk pondok. Lucunya, setelah putus buru-buru dia berkoar soal prinsipnya yang anti berpacaran, baiknya mencintai dalam diam dan betapa dia mencintai karena Tuhan. Tidak jarang, prinsip yang dia umumkan cenderung menyerang dan menyalahkan pihak yang masih berpacaran. Loh… apa si teman ini lupa dia dulu bagaimana, ya? Kok ya suka serang-serang orang?
Lain lagi dengan cerita kakak tingkat saya semasa SMK. Hubungan saya renggang dengan si mbak tersebut, semenjak saya berusaha mengajaknya membaca tulisan-tulisan analitis seputar agama. Dia mengatakan bahwa saya telah membuatnya bingung. Di sosial media, mbak tersebut makin getol mengumumkan ketaannya pada Tuhan dan bagaimana dia mencintai lawan jenis dalam diam. Ketaatan yang dibahasnya pun sebatas atribut relijiusitas.
Sama seperti teman perempuan saya sebelumnya, si mbak tersebut dulunya juga berpacaran bahkan dirinya dulu sama sekali tidak menganakan atribut beragama. Pernah ketika dirinya saya ingatkan soal perayaan kesalehan alias kelalaian manusia yang terlalu mengumumkan ketaannya pada Tuhan, si mbak tersebut malah tersinggung dan bilang begini,”Ini sama dengan kamu promosi terus tulisanmu, meski orang nggak paham dengan duniamu. Orang bisa mengira kamu sombong loh.” Terakhir, dia justru meremove saya dari sosial medianya.
Maka, saya jadi makin tergelitik. Saya tidak harap mbak tersebut memahami beda masalah ketuhanan dengan barang dagangan. Tentu promosi tulisan yang saya lakukan, adalah untuk branding. Saya menarik orang-orang untuk mengunjungi blog saya, yang barangkali bisa dijadikan penghasilan kelak.
Semakin hari, teman-teman perempuan di sekeliling saya makin membingungkan. Kutipan-kutipan cengeng yang sesat pikir juga makin banyak di sosial media. Kutipan jenis ini, juga rajin dibagikan oleh dua teman perempuan saya di atas.
Bagaimana tidak sesat pikir? Tuhan katanya maha tahu, namun kenapa cinta mereka pada Tuhan justru diumba-umbar? Sebaliknya, manusia yang jenis kelaminnya lelaki itu seberapa sakti? Sehingga bisa melihat dalam hati perempuan mana yang menyimpan perasaan. Bagaimana cinta pada Tuhan yang mestinya disimpan, justru diumbar bahkan tidak jarang melukai sesamanya perempuan. Dan bagimana cinta pada lawan jenis yang mesti diiringi  doa dan usaha, malah disimpan rapat sebatas doa. Ah… betapa sekarang ini banyak santriwati produk sosial media…
Disadari atau pura-pura tidak disadari. Para perempuan pengikut kutipan agama ala sosial media, pada muaranya hanya akan turut membeli atribut beragama, tiket seminar atau buku-buku agama seputaran pernikahan dan lagi-lagi soal mencintai dalam diam, pada sosial media yang mereka ikuti. Lucunya, mereka memang semangat jadi konsumen loh…
Bahkan seorang teman saya yang satu fakultas, pernah saya tegur karena saya tidak nyaman dengan penghakimannya pada artikel yang sengaja dikirimkannya di sosial media saya. Artikel tersebut, berisi ketidakbenaran atribut beragama saya. Sedihnya, dia susah sekali diajak berdialog. Padahal, sebagai sesama perempuan saya menghormati dirinya yang mulai mengenakan berbagai atribut beragama. Saya juga tidak pernah berkomentar soal dirinya yang berkoar-koar di sosial media mengenai anti berpacaran dan bagaimana dia mencintai Tuhan. Ya… meski sebelumnya dia juga berpacaran dan galau hebat ketika ditinggal mantannya. Harapan untuk saling menghormati justru pupus dari caranya menghakimi.
Teman saya tersebut, bahkan tidak mengetahui bagaimana saya memutuskan tidak berpacaran semenjak jaman ABG. Sebelum ini, saya menutupnya rapat. Hanya teman terdekat yang mengetahuinya. Hingga sekarang, saya tidak pernah berpacaran sama sekali. Alasannya? Saya menemukan rasionalisinya dalam dalil agama dan itu menguatkan selama menahun. Namun, melihat orang berpacaran, saya biasa saja tuh. Itu kan urusan masing-masing. Saya baru heboh, jika hubungan berpacaran itu justru mebikin sakit. Seperti teman perempuan saya yang dikibuli habis-habisan oleh pacarnya, hingga merobek pergelangan tangannya sendiri karena putus asa tempo hari.
Terkait dengan atribut beragama, saya pun sedang mencari rasionalisasinya. Terhitung dua kali, dalam blog saya dan tulisan ini, saya baru membuka prinsip yang saya pegang. Namun, Tuhan tentu bisa membalik hati saya menjadi ingin berpacaran, besok sore atau lusa. Jadi, jangan heran jika besok sore atau lusa, bisa jadi saya mengingkari prinsip sebelumnya.
Lebih lucu lagi, teman saya beda jurusan di SMK. Hingga sekarang dia memakai atribut beragama yang sama lengkapnya. Sampai pertengahan kuliah, dirinya gemar mengunggah tulisan yang barangkali juga menyakiti teman-temannya yang berpacaran. Seperti ejekan soal ‘barang bekas’ dan lainnya. Lucunya, menuju akhir kuliah, dirinya justru mengunggah tulisan soal harapannya dalam hubungan berpacaran. Ketika saya menggodanya, dia malah tersinggung dan berkata,”Pacaran kan bukan mesti kehilangan harga diri, Pop!”
Satu lagi cerita, dari pacar teman laki-laki satu fakultas saya. Perempuan ayu tersebut, dulunya merupakan penyanyi scream berbakat. Sudah rahasia umum jika dirinya berasal dari keluarga berkecukupan. Dalam sosial medianya, rajin dia unggah bagaimana atribut beragama yang benar bagi perempuan, tentu sebatas ilustrasi dan penghakiman tanpa analisis. Dia justru malah tersinggung dan tidak terbuka dalam dialog ketika saya menggodanya dalam unggahan tersebut. Padahal, sudah menjadi rahasisa umum jika si ayu ini, tidak dilibatkan dalam pergaulan pacarnya. Selama kuliah, dia sibuk mengikuti pacarnya kemana pun, sebisa mungkin hingga menjadi bahan pembicaraan banyak orang dan harga dirinya dipertanyakan.
Sebagai perempuan, saya juga turut terluka, ketika si ayu tersebut ternyata motor hingga kartu ATMnya turut menjadi hak milik si pacar. Soal ini, juga sudah menjadi rahasisa umum. Ketika pacarnya membaca buku-buku dan berdiskusi ini itu, si ayu terus menerus menunggu. Selain mencemburui perempuan yang jadi teman dialog pacarnya, tidak ada lagi hal yang dia lakukan. Hingga akhir kuliah, mereka terus bersama. Banyak teman menjadi saksi, bagaimana si pacar memiliki cukup bekal agama buat mengendalikan si ayu melalui berbagai atribut. Bukan sungguh-sungguh berbagi ilmu agama karena ingin jadi lebih baik!
Satu waktu, saya menggoda pacar si ayu dengan bilang begini,”Bro… tega kamu. Kamu ditungguin itu sama si ayu. Kapan mau kasih kepastian?”
Dan si pacar malah tertawa. Dia bilang,”Orang macam aku nggak bisa ditunggu, Pop…”
Saya selalu berharap cinta dan kasih antar sesama perempuan, juga saling menghormati, bukan menghakimi. Kami mestinya saling belajar, rangkul dan dukung. Betapa saya ingin muntah, berada dalam industri ‘mencintai dalam diam’. Industri sialan ini, tidak lebih dari penghancur persaudaraan sesama perempuan
Saya sungguh ingin semuanya berakhir cepat-cepat. Ah… tapi toh jika industri ‘mencintai dalam diam’ ini berakhir, akan tumbuh industri baru, yang barangkali lebih membikin perempuan saling cabik. Begitu bukan?

Poppy Trisnayanti Puspitasari, mahasiswi Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Negeri Malang. Arek Malang asli, yang gemar menulis hal-hal lucu di instagramnya @TrisnayantiP dan blognya, http://semangkaaaaa.blogspot.com

Monday, June 20, 2016

Lendunya Ratih dan Naylanya Djenar (Mengulik Tokoh Anak dalam Cerpen Dwi Ratih Ramadhany dan Djenar Maesa Ayu)

Lendu dan Uban di Kepala Emak, jadi cerpen yang paling memantik minat saya dalam kumpulan cerpen Pemilin Kematian. Cerpen tersebut pernah juga dimuat di Radar Malang, 18 Januari 2015 sebelum terkumpul dalam Pemilin Kematian, UM Press (2015).
Jangan abaikan pertemanan saya dengan Ratih secara pribadi. Dia saya anggap sebagai kakak yang begitu telaten mengoreksi EYD dalam tulisan saya, bahkan hingga memberi contoh kongkrit. Jangan abaikan juga ulasan saya yang begitu jujur dalam sudut pandang pembaca polos lagi lugu di Goodreads (Baca juga; rivew Pemilin Kematian) soal kumpulan cerpen penulis yang gaya menulisnya pernah diulas di Jawa Pos, dalam esai Tengsoe Tjahjono berjudul Realisme-Magis Cerpen Dwi Ratih Ramadhany pada 2015 lalu ini.
Setahun lewat setelah hangatnya peluncuran kumpulan cerpen Ratih, barulah saya memutuskan menerbitkan tulisan ini. Pemilin Kematian dalam bentuk resensi nyatanya tidak hanya satu. Cukup banyak orang tertarik membikin resensi atau tulisan soal Pemilin Kematian, apalagi pada
Sampul depan Pemilin Kematian.
                 Sumber: Dokumentasi pribadi
masa hangatnya tahun lalu. Ah… saya cuma ingin tulisan ini kamu perhatikan saja kok. Makanya, saya membikinnya saat Pemilin Kematian sudah setahun lewat peluncurannya.
Banyaknya orang yang berebut mengulas Pemilin Kematian, cukup membuat saya patah hati. Maka saya putuskan untuk mengintai sudut pandang mana saja yang dipergunakan para penulis resensi, esai atau tulisan jenis lainnya buat mengulik Pemilin Kematiannya Ratih.
Lepas dari pandangan subjektif, saya paling tertarik dengan Lendu dan sungguh ingin membahasnya dengan cara yang beda. Dalam pengintaian, saya menanti adakah yang membahas Lendu? Dengan sudut pandang seperti apa Lendu dibahas? Sudahkah mereka membahas Lendu seputar trauma yang dialaminya?
Cukup melegakan, ketika resensi Royyan Julian berjudul Ekofeminisme dan Demonisasi Perempuan, yang dimuat Jawa Pos, Minggu, 2 Agustus 2015, sesuai judulnya memuat cerpen-cerpen Ratih yang menggambarkan demonisasi perempuan, bahkan juga cerpen-cerpen lain dalam Pemilin Kematian yang hijau dan berbau isu lingkungan.
Barulah pembahasan Ifan Aqib dalam bedah kumpulan cerpen Pemilin Kematian yang berlangsung di Kafe Pustaka, Jumat, 28 Agustus 2015, membikin saya lebih patah hati. Ifan Aqib membahas soal trauma Lendu dalam Lendu dan Uban di Kepala Emak. Nyaris serupa dengan yang saya pikirkan. Saya berani sumpah, pikiran saya soal trauma Lendu ini tidak asal saya catut dari pikiran Ifan Aqib sebagai pembedah pada saat itu. Namun, saya pada akhirnya merasa tidak perlu memakai sumpah buat hal macam begini. Meski cuma dalam bayangan, saya jengah lihat kamu pikir saya ini gila hak cipta, yang katanya cuma milik Tuhan itu. Barangkali, yang berpikir serupa Ifan Aqib juga bukan saya saja. Hanya saja, dirinya yang kebetulan berbicara pertama lewat kursi pembedah.
Namun saya pada akhirnya cukup bersyukur, karena Ifan Aqib tidak membandingkan cerpen Ratih dengan salah satu cerpen Djenar Maesa Ayu berjudul Jemari Kiri yang sama-sama mengangkat sudut pandang trauma pada seorang anak. Jadilah saya masih berkesempatan membahas kedua cerpen yang menjadikan anak sebagai pusat ceritanya ini.
Sedikit spoiler, Lendu sendiri merupakan seorang anak usia sembilan tahun yang jadi korban letusan Kelud. Trauma Lendu dimulai ketika kambing kesayangannya terpaksa disembelih akibat terdampak debu vulkanik Kelud. Semenjak saat itu, Lendu jadi terobsesi dengan warna rambut putih keabu-abuan yang mirip debu vulkanik pada bulu-bulu kambingnya, sebelum kambing itu terpaksa disembelih. Dan warna rambut seperti itu ada pada rambut emak dan orang-orang sepuh di sekelilingnya.
Membaca Lendu, akhirnya mengingatkan saya pada salah satu cerpen Djenar yang berjudul Jemari Kiri. Cerpen yang pernah dimuat di Kompas 2015 lalu ini, seperti biasa menempatkan Nayla sebagai pusat cerita.
Lagi-lagi spoiler, Nayla di awal cerita digambarkan berkonflik dengan suaminya karena pengakuan soal dirinya yang tidak lagi perawan. Ternyata, konflik yang dialaminya itu hanya mimpi dan Nayla pada nyatanya hanyalah seorang gadis kecil yang tidak beruntung karena mengalami pelecehan seksual.
Menurut netizen yang berkomentar di halaman facebook Cerpen Kompas, karya Djenar dimuat hanya karena nama besar meski jalan cerita yang ditulisnya sangat biasa. Sesungguhnya, sudah sangat terang bila Jemari Kiri tidak digarap secara sederhana meski dalam penyampaiannya nampak begitu sederhana.
Di akhir cerita, terjadi percakapan antara Nayla dan ibunya di mana ibu Nayla mengingatkannya untuk pergi ke dokter. Dari situ, tergambar jelas bila keperluan Nayla ke dokter masih terkait dengan pelecehan seksual yang dialaminya. Para netizen yang mengomentari cerpen
Tanda tangan, cap bibir dan ucapan
                penyemangat dari Ratih untuk saya.
                  Sumber: Dokumentasi pribadi.
Djenar agaknya keburu menghakimi atau barangkali memang perlu dimaklumi ketidaktahuannya, bahwa seorang anak yang menjadi korban pelecehan seksual akan mengalami trauma hebat hingga berpengaruh pada alam bawah sadar juga fisiknya. Korban bisa jadi terbayang trauma tersebut hingga dalam mimpi, bisa juga secara fisik dia tidak bisa mengendalikan organ tubuhnya sendiri hingga terus menerus mengompol. Hal inilah yang agaknya hendak diungkap Djenar melalui Jemari Kirinya yang nampak sederhana.
Begitu pula dengan Lendu. Ratih dengan apik menggambarkan betapa logika seorang anak masih begitu sederhana dalam menyikapi kejadian-kejadian traumatis di sekelilingnya. Seorang anak juga tidak bisa mendiagnosa apa sebenarnya yang terjadi dalam dirinya. Seperti Lendu yang tiba-tiba berperilaku aneh juga obsesius dan Nayla yang selalu mendapat mimpi buruk.
Bedanya, ibu Nayla lebih gegas membawa putrinya pada seorang profesional, dokter. Mengingat latar tempat yang dipergunakan memang di sebuah perkotaan. Beda dengan ibu Lendu yang berusaha mencerna sendiri apa yang dialami Lendu berikut dengan penghakiman dari warga sekitar yang memertanyakan kewarasan Lendu. Tentu hal ini juga relevan mengingat latar tempat di mana Lendu tinggal adalah di sebuah desa yang terdampak Kelud.
Stigma soal Lendu yang sudah tidak waras, agaknya sengaja digambarkan Ratih sebagai cara pandang yang masih dijunjung sebagian masyarakat hingga saat ini. Trauma yang berimbas pada perilaku aneh, sesungguhnya semua orang pasti pernah melihat bahkan mengalami, baik dirasa maupun tidak. Sayangnya, semua ini buru-buru digarisbawahi sebagai sesuatu yang anomali, gendeng alias tidak waras. Keanehan-keanehan yang seharusnya mendapat penanganan profesional seperti dokter, psikolog bahkan psikiater ini, jadi terhenti dengan pungkasan stigma gendeng.
Sebaliknya, Djenar melalui Naylanya. Menggambarkan ibu Nayla sebagai sebagian lain masyarakat yang menyadari bahwa pelecehan seksual hingga berujung trauma, yang dialami orang terdekat bukan untuk ditutupi, akan tetapi malah merupakan sesuatu yang mesti gegas ditangani profesional.
Semoga cerpen-cerpen yang mengangkat sudut pandang anak, seperti halnya ditulis oleh Ratih dan Djenar semakin menjamur. Anak-anak yang hidupnya bukan melulu dipenuhi lelehan gelembung sabun atau permainan petak umpet. Namun juga anak-anak dengan segala permasalahan, yang secara apik bisa diolah dalam cerpen dan menggugah pembaca.
Ummu Rahayu (FLP Malang), saya (tidak jelas dari komunitas mana) dan Dwi Ratih Ramadhany (UKMP UM, Pelangi Sastra Malang) di Kafe Pustaka. Sumber: Dokumentasi pribadi.