Friday, January 27, 2017

Ciri Website Kredibel: Pelajari Syaratnya dan Pilih Mana Rumah Tulisanmu


Siapa saja bisa punya website? Betul… saya berkata begitu ketika mendapati teman-teman saya yang sesama ngeblog, mbak Ria A.S dan mbak Ratna Nana, pindah rumah dari Blogspot dan Wordpressnya menuju website.
Belum lagi, postingan dari begitu banyak jenis dot kom-dot kom di beranda saya yang berseliweran selama beberapa tahun belakangan. Dari yang ternyata eh… ternyata isinya iklan semua, sampai website yang membuhulkan perpecahan antar umat beragama.
Dari semua dot kom yang berseliweran tersebut, banyak juga yang berdiri berlandaskan keroyokan. Isinya? Tulisan-tulisan yang memang secara kaidah, tidak masuk di media massa mainstream. Ah… sial… ini masih bersambungan sama skripsi hamba yang bahas Public Pedagogy (Pendidikan Melalui Ruang Public) itu hiks. Skripsimu, Pop… skripsimu…
Di sini, saya membatasi arti kredibel sebatas website keroyokan tersebut jelas siapa penanggungjawab dan kontributornya. Lha… yang jelas penanggungjawab dan kontributornya saja belum tentu sungguhan bisa jadi patokan tuk ngisi kepalamu, apalagi dot kom-dot kom tidak jelas yang full iklan dan sekadar menyajikan berita hot yang mengeyangkan para masokis, yang suka dianiaya dan penganut playing victim, yang selalu merasa paling teraniaya. Tulisan ini, berguna bagi kita semua yang masih kesulitan menilai kredibel tidaknya suatu tulisan dari kualitasnya.
Berikut website-website kredibel yang bisa jadi pilihan bacaan atau kamu mengirim tulisan. Kenali cirinya, pelajari syaratnya…

1.      Basabasi.co

Website yang satu grup dengan Diva Press ini, getol membahas sastra, dari esai, puisi, cerpen hingga lain-lain. Bagaimana website ini bisa dianggap kredibel?

Kenali para penjaga gawangnya…


Ah… ada pak Edi CEO Diva Press. Eh? Ada Tia Setiadi yang esais nasional itu. Lho? Joni Ariadinata siapa? Ampun, Om… namamu buat pemisalan saja kok. Ini peringatan buat semuanya, meski makan waktu, jangan malas browsing, cari nama si penjaga gawang yang asing bagimu di gugel, telusuri rekam jejaknya. Meski satu atau dua orang dalam tim yang kamu kenali namanya, sesungguhnya sudah cukup bagimu untuk tahu, siapa yang pantas bertanggungjawab kalau ada anu-anu dan bagaimana mereka akan bertanggungjawab apabila ada anu.

Kenali para penulisnya…



Wah… ada GTA nih. Itu… penulis yang gagal datang waktu Roadshow Sastra Perjuangan Diva Press di Malang itu kan ya? Hiks. Masa sih? GTA sembarangan menyerahkan karya dia pada website tidak kredibel? Wih… kalau lolos kurasi di Basabasi.co, berarti tulisan kamu bersanding dengan tulisan GTA dong, ya? Kelas…

Kenali syarat untukmu mengirim tulisan…


Poin nomor satu, rasanya pantas jika diminta oleh Basabasi.co. Karena memang, Basabasi.co berani memberi poin nomor dua sebagai apresiasi. Begitu pula poin nomor tiga, penantian para penulis tidak bakal sia-sia dengan para penjaga gawang yang kredibel bahkan sudah gaung tingkat nasional dan juga apresiasi yang pantas. Apresiasi dan juga kredibelitas para penjaga gawang memang membikin masa penantian lebih lama, dengan para pengirim naskah yang jauh lebih membludak. Jika tulisanmu lolos dari tangan para penjaga gawang ini, memang seolah namamu turut naik pun kualitas tulisan dan rasa gengsimu.
Jadi, meski menunggu cukup lama, masih memilih basabasi.co sebagai rumah tulisanmu, kan?

2.      Mojok.co

Satir-menikam-membabakbelurkan, barangkali tiga kata ini cocok betul dengan tulisan-tulisan yang diusung Mojok.co. Berbeda dengan Basabasi.co yang mengusung sastra. Mojok.co lebih mengusung tulisan bertema opini, esai, artikel serta jenis tulisan pengalaman.
Bagaimana website ini bisa dianggap kredibel?

Kenali para penjaga gawangnya…


Kepala sukunya Puthut EA? Ya… kamu tahu lah dia siapa. Sudah, pada bagian ini saya tidak bahas panjang-panjang ya. Itu muka di foto sama namanya sudah jelas sekali. Kalau ada anu, kamu tahu mesti melabrak kemana.

Kenali para penulisnya…


Itu… Aji Prasetyo yang komikus itu, kan? Mana ngawur sih, sekelas beliau menyerahkan tulisannya di mana.

Kenali syarat untukmu mengirim tulisan…


Layaknya Basabasi.co, Mojok.co juga memiliki nilai bisnis yang jelas dengan para penulis. Terlihat dari kejelasan bahwa Mojok.co berani memberi apresiasi berupa honor. Meski demikian, Mojok.co membebaskan para penulisnya mempublikasikan ulang hasil tulisan yang telah masuk, pada media lain. Penantian seminggu setelah tulisan dimuat, barulah penulis boleh mempublikasikan pada media lain, agkanya tidak berlebihan, mengingat memang apresiasi yang ditawarkan Mojok.co sepadan dan juga para penjaga gawang yang menyeleksi tulisanmu, sudah wara-wiri tingkat nasional.

3.      Gubuktulis.com

Karep-karepmu, mungkin adalah simpulanmu ketika membaca tulisan di website satu ini. Website keroyokan yang para penjaga gawangnya, para mahasiswa (saat ini sudah pada lulus) yang berkuliah di Malang ini, tidak memiliki gaya penulisan tertentu layaknya Basabasi.co maupun Mojok.co. Bahkan, perkara ejaan pun, oleh para penjaga gawangnya, semua diabaikan. Hal ini sepertinya pantas, mengingat website yang berangkat dari Wordpress ini, tidak menyanggupi apresiasi berupa uang atau lainnya pada para kontributor. Semua orang merasa berani menulis ketika membaca tulisan di website yang mengusung kesederhanaan cara menulis ini, meski memang banyak tulisan yang tidak rapi atau berimbang secara kualitas antara tulisan satu dengan lainnya.
Bagaimana website ini bisa dianggap kredibel?

Kenali para penjaga gawangnya…


         Lelaki empat ini… familiar di Gusdurian Malang tidak sih?

Kenali para penulisnya…


         Wah… redaktur Radar Malang pun nulis di sini.

Kenali syarat untukmu mengirim tulisan…


Berbeda dengan Basabasi.co dan Mojok.co yang sekaligus mengajak para penulis berbisnis, melalui apresiasi berupa honor (uang), seperti saya sebutkan di awal paragraf bahasan soal Gubuktulis.com ini. Gubuktulis.com tidak memberikan apresiasi dalam bentuk honor maupun sejenisnya. Tulisan yang disertakan pun bebas, boleh dimuat sebelumnya pada website, blog atau media lain, bagian ini agaknya selaras dengan tidak adanya apresiasi yang dengan jelas disebutkan dalam syarat. Website ini pun, konsisten tidak menerima iklan, mengukuhkan tidak adanya nilai bisnis antara Gubuktulis.com dan para penulis.
            Jadi, tertarik jadi bagian dari misi sosial?
4.      Sediksi.com

Serupa dengan Gubuktulis.com. Sediksi juga merupakan website keroyokan yang digawangi para mahasiswa yang pernah berkuliah di kota Malang. Namun, berbeda dengan Gubuktulis.com. Tulisan-tulisan yang masuk dalam website ini lebih rapi, memerhatikan ejaan dan kualitas yang berimbang antara kontributor satu dengan lainnya. Berbeda dengan Gubuktulis.com yang membedakan jenis tulisan dalam bentuk kolom, reportase, puisi dan lain sebagainya. Sediksi.com memiliki cara berbeda. Website ini, memergunakan istilah Rupa, Rehat dan Rintis untuk membagi jenis tulisan para kontributornya. Kerapihan dalam tulisan-tulisan di Sediksi.com, memang memiliki nilai gengsi yang lebih bagi penulis yang berhasil lolos, meski juga mengukuhkan bahwa tidak semua orang bisa menulis.
Bagaimana website ini bisa dianggap kredibel?

Kenali para penjaga gawangnya…


Wajahnya jelas, pun namanya. Coba telusuri sosial media mereka, lalu telusuri juga teman-teman dan jaringannya juga postingan-postingan dan kejelasan data mereka. Kalau sampai dicari di sosial media susah, jangan-jangan anu. Eh… tapi tidak, saya sudah komunikasi sama satu-satunya mbak-mbak dalam tim ini dan dia asli manusia bukan akun robot.

Kenali para penulisnya…


Oh, ada Jun. Itu anak UM yang ikut UKM Penulis dan Workshop Cerpen Kompas 2015. Tuhan… sungguhan deh, caption dia di instagram soal foto Worskshop Cerpen Kompas itu, panjanganya lalala…

Kenali syarat untukmu mengirim tulisan…


Kaget dengan kenyataan bahwa Sediksi.com ternyata memiliki iklan di bagian pojok kanan bawah website? Kaget dengan kenyataan, Sediksi.com berani memiliki syarat serupa Mojok.co dan Basabasi.co yang tidak menerima tulisan yang sebelumnya telah dimuat di media lain, padahal website ini tidak berani memberi apresiasi berupa apapun pada para kontributornya. Jadi, setelah tulisanmu masuk Sediksi, media lain yang akarnya lebih kuat, memiliki syarat serupa dan berani memberi apresiasi, tidak bakal mau menerima tulisanmu. Segala syarat dan rupa website hendaknya kamu analisa sendiri, termasuk pertanyaan soal,”Itu iklan dari gugel duwitnya lari kemana? Para penulisnya gratisan loh. Nanggung ini, mau misi sosial apa mau bisnis, sih? Syarat buat dapat duwit dari iklan gugel memang originalitas tulisan, kan? Hmm… pantas Sediksi tidak terima tulisan yang sudah masuk media lain sebelumnya. Eh… tapi kan anu…”
Bertanya macam di atas pun serba salah, bisa-bisa kamu malah dicap sebagai penulis mata duwitan nan tak berkelas kwkw. Barangkali, memang iklan dari gugel belum begitu nampak hasilnya, selain untuk membelikan para penjaga gawangnya kopi untuk menemani mencari WIFI. Bisa juga, iklan gugel tersebut murni dipergunakan untuk memerpanjang dot kom si website ini. Moga saja ketika si iklan sudah mulai menampakkan hasil, para penulis ini bisa mendapat apresiasi, meski hanya segelas kopi yang instagram-able dengan hastag DariSediksi.

      Jadi? Mana website pilihanmu?


The Way To Love God


Everyone don’t need to know that you pray everyday. That’s all about just you and god.

They would rather you can helps them than know that you can pray everyday.

Thursday, January 26, 2017

Ratih And Cute Man From Philipines


My classmate, when I was vocational high school, Ratih Manggalih often told me,”Do you have friend (man) who have cute face, Pop?”
I just laughed when she said like that.
And then, one day she looked at me when I’m busy with my cell phone.  She asked,”What are you doing, Pop?” then she held my cell phone and know that I have been chatting with a man in facebook.
“Oh, my God! He’s so cute.” Ratih said when she looked at that man’s profile picture.
“Do you want to know him, Tih?”
“Yes! He is really cute.”
“He came from Philiphines and I never met him before. Are you sure?”
“I’m sure, Pop… I’m sure… cause he’s really cute. No problem if we just talking at facebook for ever.”
“We always talking in English. He couldn’t speak in Bahasa.”
“Heh? So, I had to speak in English with him too?”
“Ya, of course…”

Then, Ratih brought my cell phone back. I saw her thingking of loud. Maybe, cute face doesn’t mean anything when she couldn’t say hy to that man.

Kanak

Coreted By: Fastabiqul Khoirot Dendrobium watercolour painting @sun.had

Orang dewasa, hidup dengan ketakutan yang sudah, belum akan, atau barangkali tidak akan pernah terjadi.

Kemudian, mereka menularkannya pada kamu, anak-anak.

Seperti,"Jangan naik. Nanti kamu jatuh."

2016

Sunday, January 22, 2017

When I Stopped To Painting


When I was 15, I stopped to painting. School and a lot of people around me, makes me think that paint something couldn't make me cool. I saw my friend, Zulfikar Rachman, teacher and a lot of people looked at him because he can memorize phytagoraz and really good at a lot of lesson.

And now, I regret about that. I just knew that people can be special with their own capability.

Unfair National Examination (UN) For Me

At 2009, i asked to my friend Zulfikar Rachman,"Ujian Nasional (UN) is fair for you?"
And I can't remember his answer. I just remember there is no problem from Ujian Nasional for him, cause he knows doesn’t need special skills for painting to pass Ujian Nasional. Memorized about phytagoraz and then you can pass Ujian Nasional. I can’t memorized about phytagoraz and Zulfikar can’t paint.
Totally different with me, I know that my special skills to painting couldn’t help me to pass Ujian Nasional. So, at that time I was think that Ujian Nasional unfair.

Tenses And Me

I was remember, that when I was high school, I can memorize seven from twelve tenses. And that’s didn’t make me fluent to speak English.

Bullying

You don’t have to say stop bullying to anyone. Tell them, that bullying makes you stronger. They will stop if they know, you will be stronger. Cause they upset at you, when you can stand up by your self.

Yes, I did!


Poppy Trisnayanti Puspitasari

Wednesday, January 18, 2017

‘Budaya’ Buwuh, Dilestarikan Atau Dibumihanguskan?


Teman saya, sebut saja si Anu, sempat sedikit keras mengatakan bahwa, buwuh alias angpau alias menerima uang dan hadiah saat pernikahan adalah budaya. Dari penekanannya pada kata budaya, saya seperti mendapati permakluman luar biasa pada diri Anu.
Anu sendiri, berasal dari kalangan keluarga sederhana dengan ibunya yang seorag buruh jahit. Saya sangat mengenal Anu sekeluarga bukan orang pelit. Dalam kesederhanaannya dan uang sakunya yang cuma seribu rupiah, hingga kelas dua belas, Anu masih berpikir berbagi makanan pada teman di sekelilingnya.
Sempat, Anu mengirimi saya pesan singkat begini…
Anu: Pop, kamu kemarin datang ke nikahannya si anu?
Saya: Enggak, Nu. Aku jarang datang ke nikahan orang hehe…
Anu: Aku juga enggak. Aku waktu itu belum ada rejeki.
Bagi saya, ini cukup kontradiktif. Bagaimana Anu, teman saya yang loman lagi sederhana ini, memilih tidak datang pada pernikahan seorang teman, karena merasa sedang tidak punya sesuatu yang bisa jadi hantaran. Namun, di sisi lain, Anu menekankan bahwa buwuh adalah budaya, dengan nada maklumnya yang luar biasa.
Sebelum Anu, teman saya yang lain mengirimi saya chat FB isinya begini…

A

B

C

“Mbak, kamu diundang mbak (nama disamarkan)?”
“Iya (nama disamarkan). Tapi paling aku enggak datang soalnya aku masih penelitian.”
“Oke-oke.”
“Kamu datang?”
“Enggak tahu, Mbak. Hehehe…”
“Simpan aja uangmu untu kebutuhan lain, (nama disamarkan). Sering kita nggak perlu memaksa hadir ke semua undangan. Kita sendiri juga banyak kebutuhan.”
“Iya, Mbak. Aku sejujurnya bingung buat makan. Bapak sudah meninggal, jadi harus mandiri. Hehe…”
Begitu, terjemahan percakapan ini dalam bahasa Indonesia.
Teman saya yang sedang berjuang untuk hidup mandiri ini, sesungguhnya ingin menghargai undangan pernikahan seorang teman dengan turut hadir. Sayangnya, seperti Anu, dia juga merasa tidak memiliki sesuatu buat jadi hantaran. Pada akhirnya, teman saya ini memilih tidak hadir pada pernikahan teman tersebut.
Presiden Joko Widodo (Jokowi), saat mantu pada 11 Juni 2015, seperti dilansir di Liputan 6 dot kom, Jokowi Larang Tamu Pernikahan Gibran-Selvi Bawa Hadiah, justru tidak mau terima buwuhan. Alasannya? Takut gratifikasi. Selain itu, bisa kita lihat pernikahan putranya yang bisa dibilang sederhana, buat sekelas anak penggede itu, memang diniatkan buat selametan, memang buat berbagi bukan jualan nasi.
Komentar orang pasti ada yang begini,”Lha… beliau kan penggede, sudah sugih alias kaya. Mana perlu terima buwuh?”
Lho… jadi, sesungguhnya buwuh itu dipakai buat apa sih? Sampeyan yang sedang membaca tulisan ini, pasti juga tidak asing, dengan tetangga, kerabat atau teman yang mencari modal pesta dengan berhutang. Hutang kan maknanya, ketika sampeyan pengin sesuatu tapi modal dalam kantongmu kurang, sehingga butuh tambahan modal yang mesti dibayar balik, bukan gratisan.
Bahkan, seorang teman yang baru-baru ini menikah, masih sempat mengirim undangan untuk orang-orang di tempatnya magang dulu. Padahal, sudah berselang tujuh tahun lebih sejak magang dan entah apa si teman ini selama itu masih menjalin komunikasi dengan orang-orang itu, sebelum bagi-bagi undangan. Apakah orang-orang di bekas tempat magang si teman ini, diharapkan datang tanpa hantaran? Hanya datang untuk makan gratis begitu? Entah… saya yakin sampeyan bisa bikin simpulan sendiri.
            Tahun lalu, sempat juga ayah saya mendengar beberapa pegawai minimarket menggerutu, sambil membawa sebuah undangan pernikahan. Mereka menggerutu soal menumpuknya undangan pernikahan pada bulan tersebut, bulan yang kata orang dianggap bulan baik.
Coba sampeyan sedikit berimajinasi, berapa gaji para karyawan minimarket itu? Tahu tidak tanggungan dalam keluarganya sebesar apa? Belum lagi cicilan motornya yang dipakai wara-wiri berangkat dan pulang kerja itu.  Dan untuk tahun 2016, sampeyan sebut berapa jumlah uang yang pantas buat sekali buwuh, total dengan banyaknya undangan yang mereka terima pada bulan yang katanya baik itu. Ini mau berbagi kebahagiaan atau berbagi beban sih? Lha… jangan dikira sekelas bupati atau walikota juga tidak mikir beratnya yang beginan loh. Tahu apa sampeyan soal berapa banyak undangan yang minta didatangi, juga isi hati dan isi dompet mereka?
            Pernah juga, ibu saya mendengar salah seorang saudara yang menyalahkan saudaranya yang lain, saat dianggap mengundang terlalu sedikit orang dalam pernikahan putranya, tidak termasuk dirinya. Namun, saat akhirnya saudara ini sungguhan diundang pada pesta berikutnya, dirinya justru menggerutu soal uang yang mesti diberikan pada pesta tersebut.
            Ada juga relasi ibu yang berkecukupan, didapatinya memakai sistem utang-bayar dalam buwuh. Jadi, ketika si relasi ini punya hajat, para pemakai sistem utang-bayar ini memberi sejumlah uang padanya dalam koridor buwuhan. Berikutnya, si relasi ini mesti mengembalikan dalam jumlah yang setidaknya sama pada orang-orang tersebut, ketika mereka ganti punya hajat. Kalau kurang jangan, kalau lebih ya… tidak apa-apa.
            Oalah… begitu banyak pernak-pernik yang kontradiktif dalam buwuh, yang katanya budaya. Setahu saya, embel-embel budaya biasanya dipakai untuk kalimat seperti, budaya membaca, budaya salam dan lain sebagainya di mana maknanya adalah, sesuatu yang mesti dilestarikan buat kebaikan.
Teman-teman kalau lagi baca tulisan ini, boleh share juga pengalamannya soal buwuhan, kalau ada yang punya jabaran ilmiahnya juga monggo digelar di sini.
            Saya pribadi, bukan tipe orang yang memaksakan diri untuk buwuh. Saya tentu punya uang, tapi saya juga butuh uang itu untuk beli buku dan hal lain yang mendukung saya belajar. Mungkin bagi sampeyan aneh, tapi saya sudah berkali-kali datang tanpa membawa buwuhan ke tempat teman yang menikah. Bagi saya, andai pun teman itu begitu berkesan hingga saya ingin memberi hadiah, hadiah itu bisa disusulkan lain waktu. Itu pun, tidak perlu jadi beban pikiran, bahwa hadiah mesti dikirim pada semua undangan yang saya datangi. Saya tidak perlu bersikap kontradiktif, yang merasa terbebani tapi kok ya masih memaksa diri…
            Ibu sendiri masih menjalankan budaya buwuh ini, meski sangat anti pada mereka yang dulunya tidak pernah menjalin komunikasi apalagi akrab, eh… datang kok tiba-tiba bawa undangan. Undangan seperti ini yang ibu saya tidak bakal mau hadir. Meski selalu mendatangi pernikahan orang lain dengan buwuh, ibu saya berharap betul bahwa nanti pernikahan saya berjalan sederhana, dengan cukup hantaran doa dari para tamunya.
            Jadi, kalau nanti sampeyan dapati pernihakan saya berupa pengajian biasa yang tidak mengundang banyak orang atau jika saya sekeluarga hanya mau terima hantaran berupa doa baik, jangan merasa kasihan. Yang kasihan itu, justru mereka yang sikapnya kontradiktif. Merasa berat lagi susah tapi kok ya memaksa diri. Jadi, mau kita bawa kemana si buwuh ini?

Penulis Puisi, Pada Lajurnya yang Pengecut


“Saya mohon… berhentilah kamu minum. Badanmu tidak bakal kuat.”
“Kamu tidak bakal mengerti. Ini lajurnya lelaki…”
“Tapi, badanmu tidak bakal kuat.”
“Saya hanya butuh pembiasaan. Dan lagi, tiap saya minum, buku-buku yang saya baca jadi lebih ringan masuk dalam kepala. Saya juga jadi lebih banyak membikin puisi-puisi bagus. Kepala saya rasanya ringan.”
“Jadi, sebenarnya hanya karena itu? Hanya karena kepalamu jadi ringan dan kamu rasa bisa lebih melakukan banyak hal?”
“Ya… kamu tidak bakal paham.”
“Pengecut…”
“Heh? Bagaimana bisa?”
“Iya. Kamu pengecut, sekadar lari dari kenyataan yang membikin berat kepalamu. Kalau kamu tidak pengecut, kamu bakal berani membaca buku dan membikin puisi tanpa minuman-minuman itu. Dan kamu bakal tetap membaca buku dengan baik, juga menghasilkan banyak puisi dalam sesak dan beratnya kepalamu.”

Monday, January 16, 2017

Agni, Si Gadis Geni

“Jangan kamu buka sekam itu…”
“Kenapa? Ada apa?”

“Karena di dalamnya ada Agni, si gadis geni…”

Bagaimana Caraku Menikahimu, Agni?

“Kamu selalu sendirian datang ke konser. Agni mana sih?” tanya salah seorang teman padaku malam itu sambil menggamit jari-jari pacarnya.
Aku cuma nyengir sebagai satu-satunya yang tidak membawa pasangan ke konser waktu itu. Selalu seperti itu, saat aku mengajakmu pergi ke sebuah konser musik, di mana band nasional yang banyak digandrungi menggelar bass dan gitar mereka di atas panggung.
“Aku tidak suka sama teman-temanmu. Ahli berpura-pura. Mereka datang ke sebuah acara musik hanya karena banyak teman atau pasangannya yang datang. Bukan karena musik itu sendiri. Mainstream!” Ucapmu selalu, waktu aku mengajakmu ke konser musik.
Meski begitu, aku tidak pernah berhenti mengajakmu. Aku pura-pura lupa soal argumenmu yang sudah pasti bikin pupus mauku. Soal konser, aku belum pernah mendengar gelakmu sebagai pungkasan, jadi aku masih sungguh berharap bisa melanjutkan.
“Menempatkan diri dengan berpura-pura itu beda, Agni…” balasku.
Matamu membelalak. Nampak kamu tidak nyaman atas balasan argumenku.
“Hidupmu terlalu serius…” aku masih melanjutkan.
Agni mulai memasang headset di kupingnya sambil tergelak. Gelak paling panjang dari semua pungkasan yang pernah dia lakukan. Gelak pertamanya soal konser musik.
Maka aku berhenti. Aku mengerti, kamu sekarang sedang sibuk mendengar lagu-lagu kesenanganmu lewat headset itu. Mungkin The Eagels, mungkin juga No Doubt, atau mungkin Gugun Blues Shelter, band produk negeri sendiri yang cuma dikenal kalangan tertentu seperti katamu dulu.
Kali lain, aku mencoba membawakanmu buku. Aku tahu kamu cinta betul dengan buku. Namun, aku tidak pernah ingat buku-buku apa yang biasa kamu sambar dan santap. Maka aku bawakan sebuah buku karya seorang penulis yang produktif mengeluarkan buku selama beberapa tahun berturut-turut, bertema agama dan cinta. Kutipan-kutipan di laman sosial media si penulis itu sering dibagikan oleh banyak teman-temanku yang bukan teman-teman kita.
Aku lega ketika kamu menerima sodoran buku dariku dengan mata berbinar. Namun, binar matamu mendadak mumur ketika tahu isi buku dalam bungkusan itu.
“Terimakasih, Dewa…” hanya itu yang kamu ucap.
“Kamu tidak senang dengan buku itu?”
Kamu diam.
“Agni…” paksaku menuntut jawaban.
“Mau jawaban jujur?”
            “Tentu…”
“Aku pikir, kamu meneliti apa-apa yang biasa aku baca, aku beli, aku sewa. Ternyata tidak ya?” gelakmu terdengar. Maka aku berhenti membahas soal buku. Dan cuma bisa memandangi kamu, menandai salah satu halaman buku yang bertulis Manusia Kamar oleh Mira Sato. Buku yang barangkali bakal kamu bilang sebagai yang bukan buku mainstream.
Menahun bersama kamu ternyata belum berarti aku mengenalimu. Aku ingin mengenalimu, Agni. Kemudian menciummu... kemudian melihat bibir jinggamu saban hari… kemudian mendengar argumen-arguman ajaibmu di atas kasur kita. Tentu tanpa gelak yang selalu jadi pungkasan semuanya… mengakhiri semuanya…

Hanya ada satu cara biar semua jadi nyata, yaitu dengan menikahimu. Tapi bagaimana caranya?

Sebuah cerita, yang tidak bakal selesai.

Sunday, January 15, 2017

Agni dan Semua Orang Baik di Dunia



Maka Agni menggeram kesal. Giginya bergemeretak. Ini sudah yang kesekian ribu, semenjak ingatannya mulai bisa menjejak dunia di usia dua tahun.
“Banyak manusia jahat di dunia ini! Mereka membikin hidup manusia lain, serasa paling nelangsa!” umpat Agni tentu beserta alasan.
Para karyawan tempatnya magang, menyambut Agni dengan tampang merengut. Mereka tidak biasa terima tamu. Jangankan dengan mahasiswi magang, sikap mereka pun jauh dari ramah pada karyawan yang baru masuk.
“Klise…takut bersaing dengan orang baru. Persaingan individu…” komentar Agni soal para karyawan di tempatnya magang.
Belum lagi, perempuan paruh baya bermulut kasar yang dia temui di terminal Bungurasih. Dia memaksa Agni naik bus kota dengan kursi keras dan angin dari jendela. Padahal, dia ingin naik bus AC dalam kota dengan kursi yang empuk.
“Rakus… Memenuhi target penumpang supaya dapat fee…” Komentar Agni soal si perempuan.
Di salon pun, Agni mendapati para pegawai yang tanpa senyum. Mereka sekadar buru-buru menyelesaikan smoothing rambut Agni. Tidak ada penjelasan bahwa mestinya, Agni tidak boleh keramas lima hingga tujuh hari supaya obat smoothing di rambutnya meresap. Untungnya, Agni tahu soal hal itu jauh sebelum datang ke salon itu. Bagaimana jika kebetulan Agni tidak tahu? Bukankah uang ratusan ribu yang dia keluarkan bakal sia-sia, ketika mendapati rambutnya malah rusak karena keramas sebelum waktunya.
“Murni bisnis… tidak punya tanggung jawab moral!” komentar Agni soal para pegawai salon.
Saat SMP, Agni mendapati betapa bangga bangga seorang guru pada murid-muridnya yang pintar. Padahal, para murid itu sudah dari dulunya sungguhan pintar, ada atau tidak ada si guru yang cara mengajarnya tidak canggih-canggih amat itu pun, para murid itu bakal tetap pintar.
“Barangkali, kalau salah satu murid jagoannya masuk talkshow karena sukses. Guru itu ingin turut hadir, pura-pura menghasilkan murid-murid berlian atas jasa kecanggihan mengajarnya, lalu dapat cap pahlawan tanpa tanda jasa, meski gaji telat tiga hari sudah ngedumel.” Komentar Agni soal guru di SMP-nya.
Saat di taman kanak-kanak juga, Agni ingat bagaimana mamanya marah-marah saat dirinya pasrah saja, diberi kembalian bukan semestinya oleh tukang batagor di depan sekolah, beberapa kali. Penambahan dan pengurangan mana Agni sudah mengerti sih?
“Oportunis kok kebangetan. Duwit anak TK pun dilibas…” komentar Agni saat sudah mahasiswi dan mengingat kejadian itu kemudian.
Sebuah tepukan di pundak Agni membikin lamunannya buyar.
“Mbak… AC-nya bocor sepertinya, itu kardus sampeyan bisa basah.” Ucap seorang ibu muda sambil menuntun balita yang digandenganya menuju kamar mandi, letaknya di paling ujung gerbong kereta.
Berkali-kali Agni mengucap terimakasih. Kardus itu berisi buku-buku untuk skripsinya semester depan. Dia meletakkannya tepat di bawah tempat duduknya di kereta. Jika perempuan tadi, tidak awal menyadari air dari AC dalam kereta yang merembes ke lantai, buku-buku Agni mungkin bakal mumur.
“Mbak… saudara saya kasih apel banyak sekali dari Surabaya tadi. Ini, sampeyan ambil yang banyak.” Ucap lelaki tua yang muncul dari belakang kursi Agni.
Agni yang tidak sempat membeli air mineral ketika naik kereta Surabaya-Malang, dengan malu-malu mengambil dua buah apel, padahal sungguh dia begitu haus. Namun, lelaki itu buru-buru meletakkan lebih dari lima buah apel ke pangkuan Agni.
Buru-buru Agni memasukkan apel-apel itu dalam tasnya sebelum menggelinding jauh. Berkali, dia ucap terimakasih. Kursi di depan dan samping Agni kosong, jadi dia menyimpan apel itu buatnya sendiri.
Dengan apel-apel itu, Agni tidak perlu membeli air minum di kereta. Dirinya cukup memakan apel-apel itu hingga rasa hausnya hilang.
Agni kemudian memandang keluar jendela.
           “Tapi ada juga, manusia yang membikin hidup manusia lain serasa beruntung…” bisiknya.

Monday, January 2, 2017

Nadiya Khalillah, Si Pupuk Bawang


Nadiya pindah ke SD tempat saya sekolah saat kelas dua. Hingga kelas enam, saya hanya setinggi kupingnya. Dia berkulit putih, bertubuh besar dan berwajah menggemaskan, kata mama saya. Saya meniru cara menulis huruf I dalam bentuk latin, juga dari Nadiya, saat kelas dua. Tentu tanpa ijin, saya meliriknya diam-diam karena tidak tahu bagaimana cara bertanya.
Tidak seperti teman-teman perempuan yang lain, Nadiya tidak memiliki golongan tertentu di sekolah hingga lulus. Saya mengenang dia sebagai siswi paling netral dan berkarakter paling kuat, selain juga punya otak jenius. Dulu, di sekolah memang ada gap antara anak panti dan luar panti. Anak-anak luar panti pun masih lagi terbagi jadi beberapa gap, sesuai kapasitas rangking di kelas dan strata ekonomi.
Meski begitu, teman-teman tidak jarang membicarakan sikap Nadiya yang meledak-ledak dan kasar. Namun, saya justru nyaman berada di dekat Nadiya. Menurut saya, dia jujur dan sebenarnya sangat lembut. Saya ingat, bagaimana dia minta maaf pada saya yang hanya diam, saat dia tidak sengaja membentak saya, padahal sebenarnya dia sedang sebal pada teman lain. Saya juga ingat bagaimana dia berusaha menerangkan materi pelajaran matematika pada saya saat kelas empat, sejelas yang dia mampu, meski saya tidak juga kunjung mengerti.
Saya terkenal tidak terlalu baik dalam gerak fisik. Hampir setiap permainan, saya selalu jadi si pengejar, itu pun saya tidak juga bisa mengejar teman-teman yang lain, hingga sepanjang permainan saya lah yang terus jadi pengejar. Bagi teman-teman yang lain, hal semacam ini tidak jadi masalah dan tetap menyenangkan meski saya sesungguhnya lelah. Namun, suatu hari Nadiya mengambil inisiatif untuk menggantikan saya.
“Aku pupuk bawang, Poppy!” Teriaknya sambil berlari, mengambil alih tempat saya.

Kami akhirnya bertukar tempat. Pupuk bawang adalah istilah ketika peserta permainan, bertukar tempat dengan si pengejar. Nadiya tidak mengatakan apa-apa setelahnya, dia justru dengan ceria berlagak seperti buaya sambil berusaha mengejar teman-teman yang lain. Saya ingin berterimakasih saat itu juga, tapi saya tidak mengerti bagaimana caranya...