Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Tuesday, January 13, 2026

Ketiganya

Sumber: Gugel

Mula-mula, ia pikir cintanya memang berhenti pada tiga belas tahun lalu. Nyatanya, ia takut benar mengarungi lara yang sekiranya baru, jadi diputuskannya mengarungi lara yang sudah akrab dengannya tiga belas tahun lalu saja. Ini bukan lagi karena nyata sosok itu memenuhi kualitas-kualitas yang dirinya cari. Tapi debar berulang yang dirasai sebagai kepastian, tidak perlu ada risiko memulai, tanpa ketakutan kehilangan keterikatan yang baru, itu semua syarat-syarat yang membuatnya tetap tinggal.

***

Mula-mula, ia pikir cintanya memang terjebak untuk yang empat belas lalu. Ia tidak betulan kenal siapa sosok itu, apa kekurangannya, apa kelebihannya, bagaimana reaksinya saat melihat lebih dan kurangnya, semua berhenti saat semua belum tuntas. Jadi ia memilih hidup dalam pengandaian, seandainya sosok itu menerima kekurangannya, mengidolakan kelebihannya, bersorak buat lebih dan kurangnya. Pengandaian itu menyelamatkannya selama empat belas tahun, berbunga tanpa penolakan, bersorak dalam pengandaian.

***

Tanpa mula-mula, ia tahu jelas akan mendapat apa dari sosok itu selama tiga tahun. Orang-orang yang mengaguminya karena dianggap bisa melihat sisi dalam tanpa pandang fisik, sorai karena  kesetiaan yang orang-orang itu mengira-ngira saja. Yang demikian menambah kesempurnaan pandangan, lagi-lagi dari orang-orang soal intelektualitasnya yang tinggi dan menutupi keinginannya membunuhi siapa saja di sembarang waktu. Mendapat apa yang ia mau kapan saja waktunya, cinta yang seolah-olah saja dan itulah kenyataannya.

***

Dua bulan lalu, saya diskusi dengan Chat GPT untuk memahami beberapa kasus, bagaimana memahami avoidant secara umum, kemudian bagaimana NPD dan psikopat mencintai. Dan benar, cinta itu demikian kompleks, terlihat bersama, terlihat kecantol, belum tentu cinta pada kenyataannya.

Di usia belasan, saya masih mengira bentuk cinta lebih sederhana, dua orang yang menikah lalu beranak cucu sudah pasti cinta. Di usia dua puluhan, saya pikir terpaku pada satu orang selama belasan tahun sudah pasti cinta, namun tidak... tidak demikian kenyatannya. Cinta yang seolah-olah itu jauh lebih banyak pada kenyataannya. Untuk menghindari kehilangan atas keterikatan yang baru (avoidant), untuk terjebak dalam pengandaian yang menyelamatkan (NPD) dan untuk mendapat status sosial (psikopat).

Pemahaman bagaimana avoidant mencintai untuk tulisan ini saya analisa sendiri, pemahaman bagaimana NPD mencintai saya dapat dengan diskusi bersama Chat GPT, pemahaman bagaimana psikopat mencintai juga saya dapat dengan diskusi bersama Chat GPT.

Chat GPT menggunakan istilah idealisasi bagi NPD yang seolah kecantol dengan satu orang belasan tahun. Ternyata itu bukan utuh bentuk cinta tulus, namun justru pengandaian dalam otak NPD itu sehingga satu sosok bisa terasa sempurna. Sedang psikopat tidak bisa merasakan cinta selayaknya orang normal, yang ada hanya perhitungan untung dan rugi. Satu-satunya yang bukan bentuk disorder dan paling memungkinkan menjalani hubungan di sini, masih menurut diskusi dengan Chat GPT adalah dengan avoidant yang tidak membahayakan setara NPD yang bahaya secara psikis, apalagi psikopat yang berbahaya secara psikis dan fisik.

Mulanya, saya teguh dalam prinsip seseorang memang bisa memilih siapa yang dia cintai dan dia sakiti dengan sadar, meski terasa tidak adil. Namun ternyata ada banyak hal tentang cinta dan menyakiti yang jauh lebih kompleks, batasnya juga ternyata sangat kabur. Tulisan ini kelak tentu akan bisa berkembang lagi setelah saya menambah akses pengetahuan dari jurnal, buku atau lainnya.

Tuesday, July 29, 2025

Indie=Senja Kopi?

Coreted by: Ara Rara

Menulis ulasan acara atau produk teman sendiri bukan hal baru di Instagram (semasa @trisnayantip belum deaktif) dan blog. Pertunjukan, masakan, sampai tulisan teman sering saya unggah di kedua platform tadi.

Prinsip dari teman, oleh teman dan untuk teman sering memang saya galakkan. Juga kalimat emas,”Anak indie kok senja kopi. Anak indie itu beli karya teman yang diproduksi dan distribusikan sendiri.”

Hari ini kita barangkali akrab dengan sebutan kolaborasi. Sedang 2017 lalu, Presidium Gusdurian Jatim saat itu, Romo Tatok, memiliki istilah budaya apresiasi.

Sedang saya sendiri memulai ini sejak 2015 dengan alasan; menghangatkan hati. Ketika membeli karya teman sendiri, pasti ada percakapan yang terjalin seputar produk hingga hubungan personal pertemanan.

Ikatan antar manusia yang memproduksi dan memasarkan karya sendiri dengan para konsumennya itu beda. Hal ini kemungkinan kecil didapat dari karya sejenis dengan produksi dan distribusi besar. Karya jenis ini terasa berjarak dengan para konsumennya.

Kritik dan saran bisa disampaikan dan diserap lebih detail dalam budaya apresiasi macam begini. Ketiadaan jarak tadi yang bikin demikian.

Ulasan antar teman juga bisa menjadi rekomendasi bagi konsumen maupun yang hendak berkolaborasi. Menjadi jembatan itu lagi-lagi rasanya... menghangatkan hati!

Dan ternyata bonusnya, selain mendapat pertemanan dan antar teman jadi saling mengenal, bahkan berkolaborasi. Ada juga teman-teman yang memberi bonus produk ketika pembelian, memberi gratis ongkir bahkan memberi produknya gratis (anjuran keras untuk diri sendiri, lebih baik membeli).

Teman-teman ini senang dibedah lebih dan kurang karyanya dan bukannya berharap diberi ulasan yang penuh baik-baiknya saja. Bagi mereka, ulasan bisa jadi ruang berkembang, saya pun makin terasah menganalisa sesuatu. Kejujuran mengulas ini juga belakangan membuat teman-teman percaya kredibelitas saya ketika merekomendasikan sesuatu.

Jadi bagaimana? Mau coba jadi anak indie sejati? Atau jangan-jangan kamu bahkan sudah memulainya jauh-jauh hari?

Wednesday, July 17, 2024

Surat Cinta Untuk Cimoy 'Nuraini' Montok

 

Moy, apakah para orang dewasa di sekitarmu pernah mengatakan risiko dari menunjukkan diri sebagai seorang Cimoy? Apakah mereka bilang bahwa viral adalah industri? Pilihannya hanya dua; perayaan cinta atau kebencian. Bisa juga kamu memilih di antaranya, namun prosesnya bakal agak panjang. Kamu mesti menunjukkan apa kemampuanmu. Menyanyi? Akting? Apa pun yang tanpa sensasi. Tapi bukankah menjalani industri yang tanpa sensasi bakal cukup lama mendapat hasil?

Moy, saya pernah melihat Prabowo ‘Mondardo’ Alpenliebe main sinetron di MNC. Pengamen Jalanan Terkenal Karena Viral di Media Sosial judulnya dan akting Bowo di sana baik sekali. Cowok yang kabarnya dekat denganmu ini tampaknya berbakat soal akting. Saya harap, ia lebih banyak diajak main sinetron dan bahkan film. Tidak hanya itu, harapan saya kamu pun dapat kesempatan serupa. Mungkin kedekatan kalian bisa membangun dengan belajar akting bareng.

Moy, jangan dengerin orang-orang yang suka jahat sama kamu ya. Kamu harus ingat kalau kamu adalah remaja lima belas tahun normal yang butuh aktualisasi diri. Semua orang di usia yang sama memang begitu. Orang-orang yang suka menghujat kamu mungkin lupa kalau mereka juga cari pengakuan di umur yang sama dengan kamu. Saya harap mereka berhenti membebani kamu dengan standar yang mereka ciptakan ya, Moy.

Moy, saya pernah melihatmu melakoni wawancara di salah satu channel Youtube. Setiap perkataanmu yang dianggap kasar atau nyeleneh oleh mereka justru mendapat sorakan dan tepuk tangan. Barangkali ini membuatmu mendapat konfirmasi bahwa yang kamu lakukan itu lucu, menyenangkan hingga disetujui. Padahal ternyata, channel tersebut membuka deskripsi yang memungkinkan orang berkomentar apa pun tentangmu. Mereka pula yang meletakkan pin pada komentar orang yang mengolokmu. Semoga lain kali nggak ada lagi channel toxic kayak gini lagi ya, Moy.

Moy, saya juga melihatmu diundang stasiun televisi swasta bersama seorang Youtuber yang umurnya lebih tua darimu. Orang-orang dewasa di stasiun televisi itu terus menggosok pertikaian kalian. Apakah di balik layar mereka mengajarkan padamu caranya menyelesaikan konflik? Ataukah mereka memberimu contoh bagaimana cara menjual pertikaian? Orang-orang dewasa seperti itu jangan pernah dicontoh ya, Moy. Mereka hanya peduli dengan popularitas, tapi nggak pernah peduli dengan nilai. Itu contoh orang dewasa yang buruk. Jangan jadi seperti mereka.

Moy, Nyai Nikita Mirzani pergi ke rumahmu dan melihat keadaan keluargamu. Saya melihat kerasnya kehidupan keluargamu dan barangkali mereka tidak bisa mengikuti dalam duniamu yang sekarang. Mereka mungkin juga tidak bisa memberimu saran mesti mendekat atau menjauhi teman yang bagaimana. Tapi yakinlah, Moy… Nyai benar soal kamu mesti sekolah. Katakan pada manajermu, penghasilan mesti disisihkan buat sekolah. Tentu tidak harus formal, kamu bisa ambil paket B dan C yang tidak menganggu waktumu bermain dan bekerja di dunia hiburan. Entah apa kelak fungsinya ijazahmu, buktinya baru bisa dirasakan barangkali lima tahun lagi.

Moy, orang-orang dewasa di sekitarmu sekarang barangkali terus mengarahkanmu buat mengasilkan uang. Tapi, Moy… sungguh kamu berhak menuntut mereka yang lebih berpengalaman di dunia hiburan dan lahir lebih dulu darimu itu untuk jujur mengatakan, berapa lama cara-cara yang mereka berikan padamu itu bertahan dan bagaimana hidupmu kelak berlanjut ketika setuju dengan apa yang mereka tawarkan.

Moy, bersenang-senanglah. Ini semua popularitasmu dan hasil kerja kerasmu. Namun dirimu sendiri harus menjamin, ada pendidikan dan tabungan untuk hari-harimu berikutnya. Jika orang dewasa di sekitarmu tidak mengarahkanmu buat mendapat dua hal ini, kamu tentu berhak menuntutnya karena ini sekali lagi popularitasmu, juga kerja kerasmu. Mereka tentu turut andil tapi bukankah pemantiknya adalah kamu?

Yang terakhir, Moy. Semoga kamu selalu sehat dan produktif. Masamu masih panjang. Lindungi dirimu sendiri karena saat ini, kamu adalah penghasil popularitas dan uang yang siapa pun ingin mendekat meski entah ingin berteman atau tidak.

Ditulis dan dimuat April 2020. Beserta editan khas tim Mojok.

Wednesday, March 13, 2024

Berburu Food Vlogger

Sumber: Gugel

2017, Bondan Winarno Maknyus meninggal dan membuat tahun-tahun saya berikutnya dipenuhi keluhan lewat Twitter,”Tukang ulas makanan nggak ada lagi nih yang macam pak Bondan?”

Para food vlogger sendiri makin marak bermunculan setelah 2017, namun tetap tidak ada yang nyantol di hati. Mereka tentu saja keren dan punya ciri khas tersendiri, tapi belum ada saya temukan yang bisa mengomentari makanan sedetail pak Bondan sampai kita sendiri seolah ikut merasakannya.

Satu lagi kunci kenapa pak Bondan belum terganti, beliau tidak pernah berkomentar,”Kalau menurut aku diasinin dikit, aku bakalan lebih suka sih.” Kalimat satu ini kerap kita dengar dari banyak tukang ulas makanan hari ini. Ada selera subjektif yang diusung, sedang pak Bondan tidak pernah melakukan koreksi macam begitu. Membuat para pemirsa tentu merasa, oh setiap orang punya gaya memasaknya masing-masing dan gaya itulah yang dijabarkan pak Bondan tanpa menyatakan salah atau benar.

Lolita Agustine (kedua dari kiri). Sumber: Gugel

Selain pak Bondan, ada juga Benu Buloe yang tidak pernah mengoreksi makanan sesuai seleranya. Namun untuk generasi 90s, tentu saja ada Lolita Agustina. Lolita bahkan lebih detail dalam menjelaskan makanan ketimbang Benu Buloe.

Pertama saya tahu mbak Lolita tuh di acara Detektif Rasa Trans7 2018 lalu. Pembawa acara di sana sering berganti-ganti dan rata-rata sama, kurang bisa menjelaskan makanan di hadapan. Sampai mbak Lolita muncul dan betul dia bisa menjelaskan makanan sampai pemirsa seolah turut makan juga.  Sesuai judul acaranya, mbak Lolita betulan detektif di sini. Meski belum menyamai pak Bondan, saya menyatakan mbak Lolita sebagai tukang ulas makanan favorit saya berikutnya.

Saturday, April 1, 2023

Jalan Industri Paling Mulia

Hyoyeon SNSD dan Boy William. Sumber: Youtube BW.


Di sebuah warung kopi perbukuan di Malang, saya berhadapan dengan seorang teman yang konsisten menulis cerita pendek tema lokalitas. Cerpen-cerpennya dimuat koran maupun media online dengan genre sejenis. Genre yang disebut sastra serius.

“Kalau blog itu kan tanpa domain jadi kurang kredibel ya.” Ucapnya.

Namun bukan kredibelitas semacam itu yang tengah saya cari. Sedang di hari-hari berikutnya saya bertemu dua orang teman di kafe tengah sawah. Keduanya sama-sama punya selera bacaan sastra yang disebut serius itu meski ternyata saat ini mengambil jalur berbeda.

Teman satu memilih mengembangkan pengikut Instagramnya, mengambil diksi-diksi sederhana dalam puisi dengan tema-tema cinta. Hasilnya, pengikut media sosial meningkat dan ia bisa buka endors. Sedang teman satunya mulai menulis di salah satu platform di mana tulisan bisa disetel gratis maupun dimonetasi. Kala itu ia mengambil tema cinta dengan diksi sederhana dalam cerita pendeknya.

“Orang-orang membayar untuk membeli kesedihan.” Demikian komentarnya mengenai tulisan-tulisan yang umunya populer dan bisa dimonetasi di platform tersebut.

Kedua teman saya tadi mulanya berangkat dari esai, cerpen, juga puisi berbau sastra serius. Bedanya, teman pertama betulan yakin memilih genre sekaligus pasar yang mana sehingga konsisten membuat video musikalisasi puisi dengan komentar-komentar pengikut Instagramnya kerap merasa relevan atas apa yang ia sampaikan.

Ia pula rajin berkolaborasi dengan penulis tema sejenis. Saling berbagi traffic salah satu keuntungannya barangkali. Lantas teman yang pertama tadi mengajak teman kedua berkolaborasi, bikin musikalisasi puisi. Tepatnya disebut apa ya? Jadi model videonya semacam pengisi suara laki-laki dan perempuan saling timpa dialog-dialog puitis begitu. Apalagi mengingat teman kedua apik ketika deklamasi. Kami pernah menyaksikan deklamasinya di peluncuran buku salah satu universitas di Malang.

Meski beberapa pertemuan berikutnya, teman pertama tadi bilang perkara kolaborasi tidak ada kabar lanjutan dari teman kedua. Saya lihat cerpen-cerpen di platform yang ia pilih juga tidak ada kelanjutan. Apakah teman yang kedua masih ragu hendak menyeberang genre? Bisa jadi.

Teman yang pertama pun bercerita bagaimana puisinya dikatakan buruk oleh salah seorang teman dari komunitas awal ia berkembang. Temannya tadi setia membawa marwah sastra serius hingga hari ini, mengorbitkan penulis-penulis muda anyar, hingga punya bisnis penerbitan. Membawa genre tertentu hingga bisa merambah bisnis, bukankah sebetulnya yang mereka tempuh serupa?

Ada lagi teman semasa SMK saya naksir betul dengan seorang cewek yang isi tweetnya membahas buku. Benar, cewek itu selebtwit dengan pengikut belasan ribu saat itu. Dari buku-buku yang ia ulas, nampak judul-judul berat berseliweran. Hingga ketika teman saya itu hendak membeli bukunya, ia bilang,”Aku mau beli buku si F itu tapi takut bukunya berat.”

Kemudian saya sahut,”Kamu tahu penerbit novel dia namanya apa?”

Dan berlanjut kami ngobrol soal penerbit novel cewek tersebut yang genrenya metro pop. Jadi bisa dipastikan karya perdananya itu tidak bakal seberat buku-buku bacaan yang biasa ia ulas. Benar saja, adik teman saya ini bilang novel tersebut berat di bab awal namun lanjutannya yang ada kisah cinta.

Tunggu... Tunggu, saya tidak hendak menegasikan kisah cinta sebagai hal remeh. Toh di perlombaan cerita pendek pun kerap kali tema lokalitas yang dibawa peserta isinya kisah cinta yang ditempeli latar desa, hutan dan pantai. Yang berarti bukan benar-benar adat, ciri khas atau kisah di suatu daerah yang benar-benar tidak bisa diganti apabila latarnya ada di daerah lain.

Jadi kisah cinta atau kisah apapun itu ketika sulit dipindahkan latarnya ke daerah lain bukankah itu juga lokalitas? Jelas ya, di bagian ini bukan kisah cinta yang jadi masalah.

Saya sendiri sempat galau ketika bingung menentukan mau kemana jalan menulis ini. Cerita-cerita pendek saya formatnya tidak masuk di koran juga perlombaan. Kelewat pendek tentu saja hingga lebih pas disebut fiksi mini.

Koran tertentu pernah ada rubrik fiksi mini namun itu pun formatnya beda dengan fiksi mini di blog saya. Meski demikian saya tetap mengeksplorasi gaya menulis lain. Begini-begini cerpen saya pernah masuk media lokal (Menanti Blanggur, Radar Malang). Esai saya juga pernah masuk lagi-lagi koran lokal yang kabarnya banyak penulis ditolak juga (GWP vs KF, Radar Malang). Sisanya ya, saya pada akhirnya menulis tanpa berpikir kemana tulisan-tulisan ini kelak berjodoh.

Jadilah tulisan-tulisan di blog ini beberapa kali berjodoh dengan seleksi atau lomba menulis yang syaratnya cukup unik. Misalnya syarat seleksi Live in Tempo x Save The Childreen, di mana tulisan yang boleh diikutsertakan harus yang diunggah sebelum Oktober sedang deadline November.

Ketika syarat seleksi atau lomba lain kerap menghendaki tulisan-tulisan anyar atau baru dibuat, belum dipublikasikan, syarat Live in ini laknat juga. Jadi sejak dari poster pengumuman, peserta sudah pada gugur duluan. Agaknya, penyelenggara sedang mencari konsistensi, bukan sekadar tulisan bagus.

Seorang teman menyayangkan gaya menulis saya yang berubah ketika Menanti Blanggur masuk Radar Malang. Tata bahasa, ide yang dieksplorasi memang beda dengan cerpen-cerpen di blog. Kala itu dalam pikiran saya hanya ada perasaan senang belajar, entah itu gaya sehari-hari maupun gaya baru. Isyana Sarasvati menyebut yang begini sebagai ‘eksplorasi genre lain’.

Sebaliknya ketika menulis esai dan masuk koran, kebetulan gaya menulis sehari-hari ya semacam begitu. Apa ya sebutannya, esai populer? Selebihnya esai-esai personal saya di blog mulanya belum bertemu jodohnya sampai media-media alternatif bermunculan (Kisah Berakhirnya Hubungan Saya dengan Sahabat yang Bercadar, Magdalene).

Bagaimana dengan blog? Tetap saya ingin orang melihat blog ini dengan membatin,”Alah, ngunu wae aku ya isa.”** Hingga memantik semangatnya menulis juga. Latar belakang blog ini bisa dibaca di Selamat tinggal, banner lawas.

Tulisan ini sebetulnya dipantik tulisan kang Syarif Maulana berjudul Selera Pasar. Melalui tweet yang ditulis Desember 2022 lalu, pengguna Twitter @lelegurame mendapat beragam komentar dari para penggemar Blackpink setelah mengutarakan persoalan skillnya sebagai musisi.

Sedang Februari 2020 lalu, melalui acara bincang-bincang bertajuk #DrinkWithBoys In Korea; Hyoyeon Lebih Suka Boy Daripada Choi Siwon, Boy William bertanya mana yang sesungguhnya Hyoyeon? Si gahar atau SNSD?

Lantas Hyoyeon menjawab...

“Pertanyaan yang bagus, pertanyaan yang baru juga bagi aku. Sebelum aku mulai SNSD, genre dance yang aku suka adalah Poppin and Lockin, jadi bisa dibilang cewek gahar. Tapi sejak aku mulai debut dengan SNSD aku harus lumayan berusaha untuk keluar dari image cewek gahar.”


Penerjemah, Hyoyeon dan Boy William. Sumber Youtube BW.

Selanjutnya Boy menyatakan cinta terhadap SNSD, begitu pula Hyoyeon. Hyoyeon pun menyatakan untuk saat ini dia adalah DJ Hyo, agaknya merujuk identitas yang sekarang ia senangi.

Masih di 2020, Isyana Sarasvati menampilkan Lexicon di Indonesia Idol. Anang bertanya Isyana ingin melepaskan apa melalui Lexicon. Masih Anang yang menanyakan kenapa Lexicon berbeda dengan lagu-lagu Isyana sebelumnya. Maia Estianti pun menanggapi Lexicon terlihat seperti ‘ini lho gue’ buat Isyana dan gadis yang lahir tahun 1993 itu pun mulai menangis.

“Kalau boleh membaca ya, sebagai sesama penulis lagu, rasanya kita pengin bikin lagu di A tapi ternyata produser atau label Indonesia mintanya di B.” Sambung Maia.

“Eee, kalau itu nggak sih nggak bener. Karena awal aku masuk di Industri, aku memang mengiyakan ingin sekali mengeksplorasi musik genre lain karena kan aku emang sekolahnya musik klasik tuh dan pada akhirnya aku bisa masuk ke label dan akhirnya bisa punya kesempatan untuk eksplorasi ya aku tidak ada regret sama sekali untuk album satu, kedua gitu dan makanya album pertama aku kasih judul Eksplor.” Jawab Isyana.

Masih di dunia musik, kita tentu mengenal Rara Sekar, kakak Isyana yang memilih distribusi indie buat musiknya. Di dunia menulis ada bunda Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa, kakak beradik yang jalan menulisnya nyaris serupa dengan Isyana dan Rara Sekar.

Bunda Asma Nadia film-filmnya masuk di rumah produksi besar, sebaliknya bunda Helvy yang memilih produksi sendiri film dari buku-bukunya dengan segmen pasar tidak lebih luas. Agaknya kisah dakwah mas Gagah pasarnya tidak lebih luas dibanding kisah Ferdi Nuril yang menikah dengan Laudia Cynthia Bella lantas lanjut bersama Raline Shah.

Mengambil jalan entah itu mengikuti pasar, menciptakan pasar maupun jalan senyap tentu sah-sah saja. Bisa jadi juga jalan itu serupa mas Lele yang menjadi guru musik, Hyoyeon yang mengikuti industri kemudian solo dengan gaya musiknya di label yang sama atau bunda Helvy yang memproduksi film dari bukunya sendiri.

Meski ya... Negasi genre satu atas genre yang lain agaknya akan terus saja ada demi menciptakan pasar alternatif atau bahkan yang baru. Sastra serius menegasikan tulisan pop dengan ujaran receh kelewatan dan sebaliknya yang pop menuduh sastra serius kelewat eksklusif.

Intinya ya, apapun jalan yang sedang kalian pilih sebagai musisi, penulis dan lain sebagainya... Jangan nanggung, tempuh saja.


**"Alah, begitu saja saya juga bisa."


Catatan, Desember 2024:

Salah satu nama yang disebut dalam tulisan ini terindikasi pelaku pelecehan dan kekerasan seksual. Dalam tulisan ini, nama tersebut tidak akan saya hapus karena sebagai pengingat, namun dalam tulisan-tulisan lain di hari depan, saya tidak akan mengutip apapun bentuk pernyataan atau tulisan yang bersangkutan.

Monday, April 25, 2022

Kerumunan

Sumber: Dokumentasi pribadi. Ngepas lagi ditraktir Wiwin Januaris.

C punya naskah novel. Berkali dia tawarkan pada penerbit mana saja dan gagal. Kemudian ia bikin media sosial, dilihatnya isu kesehatan mental sedang tren, lalu ia pelajari akun-akun yang lebih dulu ada, memperpendek kalimatnya, meletakkan di antara gambar latar warna-warni.

Orang-orang mendatangi akunnya, tulisan-tulisannya begitu ringkas dibaca, menawan ketika dibagikan ulang di Instagram dan mampu menyadarkan pentingnya kesehatan mental. Mereka yakin, kepeduliannya sudah diwakili C.

Tidak lama, akun C memiliki puluhan ribu pengikut. Setelah rombak sana-sini agar ada isu kesehatan mental nyangkut dalam novelnya, ia lantas mengumumkan novelnya akan terbit secara indie. Para pengikutnya membeli dengan senang hati.

Ada keterikatan dalam hati mereka setelah C dianggap selalu mewakili isi hati dan paling memahami. Bersama C, mereka merasa tercerahkan, paling berempati dan memahami isu kesehatan mental.

“Perasaan semua orang valid.” Demikian yang diamini mereka.

Sedang H punya channel Youtube. Ia pernah membahas kesehatan mental yang sedang tren melalui podcastnya, namun sepi. Ia pernah coba mengedit video dengan latar warna-warni dan intonasi khas, tetap sepi. Belakangan ternyata channel sejenis sudah ada dan ramai lebih dulu.

Kemudian H coba menegasikan isu kesehatan mental yang sudah ada. Ia mengajak pendengarnya yakin, isu kesehatan mental hanya milik anak manja yang mudah tersinggung. Bercanda dengan segala tema di sembarang tempat pada semua orang, mereka namakan tidak ribet.

Tidak lama, channel H subscribernya meningkat pesat. Mereka yang tidak merasa terwakili lewat akun-akun kesehatan mental, kini yakin easy goingnya sudah diwakili H. Jadi berapapun iklan yang muncul tidak pernah mereka lewati.

Ada keterikatan di hati mereka karena merasa H yang paling mewakili isi hati dan paling memahami. Bersama H, mereka merasa paling tercerahkan, paling rebel dan bagian dari klub anti ribet.

“Ketersinggunganmu bukan urusanku.” Demikian yang diamini mereka.

Sebuah kutipan yang umum kamu dengar dalam seminar-seminar seperti berkelebat;

Kalau mau buat produk, sama tapi lebih baik atau beda sekalian.

C dan H sekarang sama-sama memiliki 300 ribu pengikut. Orang-orang terus mengikuti mereka dengan keterikatan serupa; merasa diwakili.

Oleh mereka, jumlah kerumunan dianggap validasi kepakaran seseorang. Tidak jarang, antar pengikut memperdebatkan sebuah isu dengan membawa nilai dari apapun yang dibagikan C dan H.

Di balik layar, C dan H bisa bayar listrik dan makan bebek tiga kali sehari. Sedang tetangga kos C yang mestinya didiagnosa depresi terselubung, sedang meringkuk dalam selimut, tidak keluar kos berhari-hari. Ia pula mulai meragukan kesakitannya valid karena komentar-komentar para subscriber H.


Catatan:

Senin, 03 Oktober 2022

September lalu baru selesai baca novel Okky Madasari judulnya Kerumunan Terakhir dan ternyata temanya juga soal media sosial.

Friday, April 15, 2022

Tutorial Mencintai Kekasih, Pemaknaan Seni Mencintai Erich Fromm -2-

Sumber: Seni Mencintai halaman 68

Waktu kecil, kita dijejali bahwa cinta bentuknya pasti lelaki dan perempuan, berlarian di taman, berciuman, lalu menikah dan bahagia selamanya.

Waktu remaja, kita bilang ciye pada siapapun lelaki dan perempuan yang nampak duduk berdua saja, seolah sudah pasti mereka sepasang kekasih.

Waktu dewasa, kita mengasihani orang-orang yang usianya 25 tahun atau lebih tapi tidak kunjung menikah, seolah mereka tidak buru-buru menjemput yang namanya bahagia.

Erich Fromm bilang, objek cinta ada lima; cinta diri, cinta keibuan, cinta Tuhan, cinta persaudaraan dan cinta erotis.

Tiga paragraf pertama tadi, objek cinta erotis, yang eksklusif antara dua orang saja. Barangkali ada yang menyebutnya pacaran, ada juga yang menyebutnya pernikahan.

Dan ini kisahnya A, dia suka bidang bahasa namun mengiyakan saja ketika keluarga menyuruhnya masuk ekonomi. Bidang bahasa hanya membawanya jadi guru, begitu nasihat yang ia terima.

Ia pilih tidak ngotot masuk bahasa, tidak juga mencari seberapa besar potensinya di sana dan peluang apa yang bisa diciptakan sendiri.

Hari-harinya berat karena jurusan ekonomi membuatnya banyak berhitung. Hitung-hitungan ternyata tidak seringan bahasa dalam kepalanya.

Lalu A masuk english club. Dengan cepat ia didapuk jadi pemateri karena kemampuannya dianggap lebih. Kemudian ia merasa bosan, tidak ada lagi jenjang kemana pun setelah jadi pemateri.

Teman-teman menyarankannya ikut MUN. Tapi ketika ia coba masuk, hal yang dipelajari katanya terlalu luas, jadi dia mundur. Tidak ada english club, tidak ada MUN, lalu ia bertemu kekasih yang tumpuan objek cintanya sama.

Bagi A, bertukar kata cinta tidak serepot memberi argumentasi pada keluarga soal lebih suka bidang bahasa, tidak juga serepot pindah dari english club ke MUN. Hanya ada mereka, tanpa pertanyaan siapa diri, siapa Tuhan. Tanpa keluarga, teman, hobi, komunitas dan tujuan hidup.

Ketika mereka sibuk hanya berdua saja, ada teman-teman kita yang lain, sibuk mencoba satu UKM ke UKM lain di kampus, mencari mana yang paling pas. Ada juga yang belajar membaca kitab, mulai bertanya apa benar ingin menganut agama yang tertera di KTP. Ada juga yang membawa kotak di perempatan, menyanyi dan orasi untuk korban bencana alam.

Kemudian kekasih A pergi, dengan lelaki lain yang punya objek cinta erotis yang ia cari; pernikahan. Pacaran tidak lagi membuatnya aman ternyata.

A seperti dirampas sayapnya. Ia baru sadar tumpuannya hanya si kekasih. Ia tidak kenal siapa dirinya, apa yang ia ingin dalam hidup, hal apa yang bisa dikembangkan dalam karirnya.

Pergi kerja pagi, pulang petang, tanpa ada lagi si kekasih, satu-satunya orang yang bisa diajak mengobrol. Tidur di kostan di akhir pekan, tanpa hobi yang menanti. Ia juga baru sadar, tidak satu pun tetangga kost dikenalnya.

Tuhan bahkan terkekeh melihatnya menangis sesak sambil berkata,”Ngobrol denganku kan sebenarnya bisa...”

Thursday, April 7, 2022

Absen Nyawa, Pemaknaan Seni Mencintai Erich Fromm -1-

Sumber: Dokumentasi Pribadi


“Aman kah?”“

Sehat?”“

Masih hidup?”

“Asu kon...”

Empat kalimat di atas bisa jadi cara menyapa teman. Absen nyawa istilah guyonnya (meski batinmu barangkali bilang, bukannya presensi istilah yang lebih tepat ya?).

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan, 29 orang pasien mengalami gejala ringan dari total 68 kasus baru Covid-19 akibat penularan varian Omicron.” Narasi berita mulai masuk ke trending Twitter, fyp Tiktok dan televisi.

Coba tarik nafas dalam-dalam, hembus pelan dan ketik kalimat semacam yang empat tadi, kirim pada teman.

Barangkali kepada mereka yang bulan lalu bilang, sudah boyong dari pondok jadi tidak akan lagi menginjakkan kaki ke kota tempat kalian satu kampus, kecuali waktu legalisir ijazah.

Barangkali kepada mereka yang bilang, bapaknya jadi sensitif sejak sakit paru-paru.

Barangkali kepada mereka yang tiga bulan lalu melihat cinta pertamanya bertunangan atau mereka yang demam setelah vaksin.

Atau bahkan, pada mereka yang menolak menceritakan kabar terkini dan hanya menjawab dengan,”Pokoknya doakan aku baik-baik aja ya...”

Apa yang kita rasakan setelahnya?

Erich Fromm bilang, dalam cinta ada orang-orang dengan karakter produktif;

“Memberi ialah ungkapan tertinggi potensi. Dalam memberi, aku merasakan kekuatanku, kemakmuranku, kekuasaanku. Perasaan daya hidup dan potensi memuncak ini mengisiku dengan kegembiraan. Kurasakan diriku melimpah, lepas, hidup, karenanya aku gembira. Memberi lebih menggembirakan daripada menerima, bukan karena aku kehilangan, tapi karena dalam tindakan memberi ada ungkapan kehidupanku.”

Bagaimana rasanya mencintai orang lain tanpa ‘karena’? Tanpa merasa perlu mengembalikan sesuatu karena ia pernah memberi? Tanpa merasa harus memberi sesuatu karena pasti diberi balik? Menyapa dan bertanya, lepas apapun tanggapannya. Yang demikian, orang-orang dengan karakter produktif.

Dan barangkali dadamu sedang terasa hangat sekarang.

Wednesday, March 16, 2022

Ustad Pelaku Pelecehan, Benar Hanya Oknum?

Sumber: Tiktok Kevin Ngunyen

10 Januari 2022 lalu, Kevin Ngunyen mengunggah kasus pelecehan oleh seorang ustad berinisial M di Tiktok dan Twitter. Kevin menekankan yang demikian tentu saja oknum. Kevin juga menyebut Husain Basyaban sebagai salah satu uztad yang benar-benar membela isu perempuan.

“...korban-korbannya udah banyak, bukti-buktinya terlampir jelas dan nanti bakal gue sertakan di green screen. Dan disclamier ya temen-teman, ini hanya oknum-oknum aja, nggak semua kayak gini. Masih banyak kok pendakwah-pendakwah di luar sana yang bener-bener membela isu perempuan, Husein contohnya.” -Kevin Ngunyen, Tiktok 2022-

Penggunaan istilah oknum dalam kasus ustad M, seperti merujuk dirinya yang merupakan bagian dari umat islam. Hingga ketika ustad M kedoknya terbongkar, ia masih dianggap sebagian kecil dari umat islam yang sedang berbuat bejat.

Uztad M sendiri ternyata aktif di Instagram. Jadi Husain buat saya lebih familiar dan benar, video-video pendeknya cukup bisa dicerna orang awam sekalipun. Salah satu perspektif Husain soal pelecehan seksual bisa disimak dalam video berikut.

Sumber: Tiktok Husain Basyaban

“Aib ini terikat pada pelaku, bukan korban.” Husain, Tiktok 2021.

Tapi bagaimana dengan pernyataan Kevin soal ustad M yang oknum? Mari kembali membaca tulisan di blog ini yang berjudul Terimalah, Grooming Senjatanya Nggak Melulu Persona Baik untuk memahami citra bentukan pelaku kejahatan. Sebelum itu, mari kita memahami pengertian oknum lewat esai berjudul Oknumisasi Aparat dan Politik Bahasa.

Kata “oknum” tidak memiliki terjemahan yang pas dalam Bahasa Inggris. Padanan yang paling mendekati adalah “individual.” Tapi, dalam kata tersebut tak ada citra negatif seperti yang dicitrakan “oknum.” -Triyo Handoko, Remotivi 2021-

Sedikit rangkuman, ustad M sendiri kerap mendesak para perempuan pengikutnya di Instagram untuk video call. Hal ini berlawanan dengan dakwah M menyoal interaksi lawan jenis. Ustad M pun sudah memiliki istri.

Sumber: Tiktok Kevin Ngunyen

Dan ya, ustad semacam M sebetulnya sama dengan predator lain. Ia sengaja mengambil satu identitas tertentu sebagai citra. Islam tentu bukan tidak sengaja dia pilih.

Predator bisa dengan sengaja mengambil identitas apapun untuk membentuk sistem pendukung dan menjerat mangsa. Ustad M dengan identitas islamnya, sedang para predator lain dengan identitas nasionalis atau lainnya.

Bagaimana bisa seorang predator yang sengaja menggunakan identitas islam sebagai sekadar citra, bisa dianggap bagian dari umat yang sedang berbuat jahat?

Penyebutan oknum juga tidak tepat dipergunakan dalam kasus yang terjadi di lembaga. Apalagi ketika kasusnya menahun dengan jumlah korban tidak dua atau tiga.

"Demikianlah realitas dibentuk oleh bahasa. Dalam bahasa Inggris, kesalahan institusi tidak bisa dilimpahkan begitu saja ke individu seperti penggunaan kata “oknum” dalam Bahasa Indonesia." -Triyo Handoko, Remotivi 2021-

Padahal dalam lembaga demikian, biasanya terjadi kekerasan struktural. Sebuah kasus bisa tertutupi menahun, tidak mungkin kerja dari satu orang. Pasti banyak pihak terlibat menutupi kasus hingga membungkam korban. Pihak-pihak inilah yang lantas membentuk sistem. Dan ya, sistem yang menguntungkan pelaku, tentu saja.

Jadi untuk Husain dan siapapun teman-teman, lelaki dan perempuan yang menggunakan jalur dakwah kreatif, semoga kalian tetap baik-baik di jalan. Sedang untuk kita semua, yakin masih sudi memakai istilah oknum?

Eh, omong-omong kontennya Adela Surya Pertiwi bagus. Kali lain saya bahas yes. Konten Tiktok Adel tuh semacam,”Ya sudah, kami yang bercadar pun kesehariannya sama dan asyik aja kok.”

Wednesday, February 2, 2022

Tutorial Menanggapi Kasus Kekerasan Seksual Tanpa Perspektif Korban

 

Sumber: Gugel

Kok nggak lari atau teriak?

Tiba-tiba badanku kayak lumpuh, mau teriak nggak bisa, lari apalagi.

Baru lapor kok setahun kemudian?

Pelaku citranya bagus, aku takut ceritaku dianggap nggak valid.

Kalau nggak ada saksi, berarti bohong.

Pelaku menggiring aku sampai berdua saja.

Pelaku tuch udah tau mana cewek yang layak digenitin.

Aku ramah pada pelaku dan semua orang. Tapi hanya kamu yang menangkap keramahan itu sebagai genit.

Pelaku sama aku nggak pernah aneh-aneh tuch, berarti nggak mungkin lah dia gitu.

Berarti kamu harus mengalami dulu, baru bisa percaya

Kalau nggak lapor polisi, berarti fake korban.

Aku sudah lapor pada pihak berwajib tapi oknum di sana mengatakan persis lima kalimatmu di atas. Hatiku hancur dan aku memutuskan mundur.

 

Catatan:

Tulisan ini dibikin 2020 lalu di Instagram. Sangat banyak tulisan saya soal bullying dan kekerasan seksual yang tercecer di Instagram sepanjang 2017-2021. Tulisan ini satu dari sedikit yang sempat tersimpan.

Thursday, January 20, 2022

Yang Suri

Sumber: Gugel

Anak lelaki itu masih duduk di sekolah menengah. Seragamnya baru disetrika pagi tadi sebelum sepasang penjambret yang berboncengan naik motor, menarik tasnya.

Tali tas itu ternyata melilit erat di pundaknya, jadi si anak lelaki malah berguling di tanah hingga atasan putihnya bercampur lumpur bekas hujan kemarin malam. Para penjambret mengira anak itu enggan menyerahkan tasnya, jadi sebuah sabit diayun, tali tas robek, pula jari telunjuk anak itu.

Para penjambret membawa tasnya dan naik motor sekencang mungkin. Orang-orang berdatangan, mengerumuni anak itu, berinisiatif memanggil ambulance.

Kata orang-orang, ia kehilangan kesadaran...

Lantas dokter memutuskan tindakan amputasi. Separuh jari telunjuknya tidak selamat.

Ia pun masuk dalam lorong-lorong panjang. Sebuah ruang yang tidak pernah ia temui di dunia nyata. Kadang kakinya ada di langit-langit, kadang pula di tanah. Kapan malam hari, kapan sore hari, ia tidak mengenali.

Dunia yang tidak dikenalinya itu terus berputar-putar. Melemparnya masuk ke ruang-ruang baru, lantas tiba-tiba membawanya ke sebuah kamar dengan seorang anak lelaki yang sedang tertidur. Selang-selang beda jenis terlihat melintang di tubuh anak itu.

Tiba-tiba ia terseret lagi. Kali ini lebih keras dan menghentak. Dirasai tubuhnya sekarang ada di atas kasur, selang-selang beda jenis melintang di antaranya. Perawat berteriak memanggil dokter ketika mendapati jarinya menggeliat.

Ia ternyata tidak mati, hanya kehilangan jari.

Menahun berikutnya, di salah satu adegan film, para pembully menginjak tangannya. Adegan itu dilanjutkan dengan telunjuknya yang berakhir dengan amputasi.

Agaknya, adegan itu seperti penyembuhan buatnya. Ia berani menghadapinya lagi meski dalam film. Judul film itu Juara (2016).

Dua tahun kemudian, ia merilis sebuah lagu, judulnya Yang Suri (2020). Lagu itu isinya memaknai ulang kesadarannya yang pernah hilang ketika kehilangan jari. Ia berani menghadapinya lagi, meski dalam lagu.

Ia yang sedang kita sebut ini, ternyata Bisma Karisma, eks personel Sm*sh. Belum banyak yang tahu aktingnya apik, filmnya pun tidak cukup banyak buat akting seapik itu.

Selain lewat Juara (2016), kita bisa menyimak akting Bisma lewat series Brata (2018) dan Kenapa Gue (2022). Tapi ya... Bisma ini kalau nggak jadi korban bully ya psikopat. Film dan seriesnya murung dan gelap...

Catatan:

Wqwq. Kangen ya? Salam gembira buat semua sobat segawon dan para asuku. Pokoknya salam pada semuanya kecuali untuk kaum hopeless romantic.

Ya beginilah, semenjak 2020, saya sengaja membiarkan jadwal tulisan yang harusnya masuk blog tidak diunggah. Sebagian orang barangkali membatin, jangan-jangan mbak Anomali ini sudah berhenti menulis.

Padahal justru saya terus menulis di media, masuk antologi, sempat juara kompetisi, bahkan berhasil menyelesaikan 30 Hari Bercerita, dengan nama asli maupun pseudonym. Namun keberadaan tulisan yang semacam ini, sengaja diberitakan pada teman tertentu saja memang. Tidak juga tulisan semacam ini saya unggah ulang atau ceritakan di blog proses kreatifnya. Bahkan sepertinya, saya sudah agak lupa tulisan-tulisan ini yang mana saja mwehehe.

Keseruan-keseruan selama menepi barangkali kelak bakal saya bagikan di blog. Apa dan bagaimana yang saya temukan. Baik pertemanan, gaya menulis, juga pengalaman-pengalaman baru.

Paling penting, terimakasih untuk teman-teman yang bertanya langsung mengapa saya tidak unggah tulisan lagi di blog. Bahkan ada yang mengaku membaca-baca tulisan lama karena intensitas unggah tulisan di sini makin renggang. Sekali lagi terimakasih, sudah menyapa saya secara langung. Juga terimakasih, untuk tidak mengira-ngira, sekadar ingin tahu tanpa bertanya. Kalian teman-teman yang sungguh baik.

Dan ya, kabar baiknya, diet digital saya yang sejak 2019 itu semakin intens dan menyenangkan. Dengan atau tanpa sosial media, kita tetap ada kok. Ya kecuali dengan sadar, sosial media memang bagian dari pekerjaan kita atau kamu benar-benar suka ada di sana karena tampilan antarmuka atau lainnya. Pokoknya, apapun yang tidak membuat dijajah traffic begitu. Traffic itu berguna kok, ketika pengguna sosial medianya yang pegang kendali, bukan sebaliknya.

Jadi jika kamu menemukan catatan ini, selamat ya. Ada kabar baik, bahwa jika punya keperluan, kamu bisa mengirim DM lewat Instagram @trisnayantip2. Tapi ya begitulah tampilan Instagram orang yang sedang belajar diet digital.

Semoga proses menepi ini bisa membawa karya baru yang kelak bisa teman-teman nikmati juga.

Saya cinta kalian!

Monday, May 17, 2021

Seberapa Fasis Kita Check

 

Sumber: Gugel

Kita mendaku anti feminis, RUU PKS bagi kita pro zina. Kemudian ada kasus kekerasan seksual di depan mata dan kita katakan,”Alah, biar tuh para feminis egonya dikoyak-koyak!”

Kita mendaku relijius, LGBTQ bagi kita sesat. Kemudian ada kasus waria dibakar tanpa sebab dan kita katakan,”Alah, udah azabnya. Siapa suruh menyalahi aturan Tuhan!”

Kita mendaku pluralis, bagi kita NKRI harga mati. Kemudian ada fakta Palestina menerus dijajah Israel dan kita katakan,”Alah, yang teriak-teriak free Palestine memang udah kasih makan tetangganya?!”

Kata kuncinya adalah, ketika ada sebuah kasus yang biasanya disuarakan mereka yang bertentangan dengan keyakinan atau ideologi kita, itu kitanya tuh nggak fokus berempati atau membahas tragedi kemanusiaannya. Malah nih, kita fokus menyerang ideologi atau keyakinan yang berseberangan tadi.

Fasis itu yang gimandos sey? Fanatik... Fanatik...

Fanatik itu bukan hanya agama lho.

Yang merasa feminis, pluralis, sosialis dan lis-lis-an lainnya coba cek dulu dan jangan keburu merasa paling tercerahkan, apalagi sampai anggap fanatik tuh hanya identik dengan agama 🙅

Karena kalau kita merasa udah paling lis-lis-an, tapi masih bersikap macam paragraf sebelum-sebelumnya akika bahas tuh, ya jadinya sama aja. Fanatik-fanatik juga... Fasis-fasis juga...

Heuh 🤦

Jadi, sudah fasis berapa kali hari ini?

Friday, April 9, 2021

Validasi Maskulinitas dan Upaya Perempuan Menyatakan Perasaan

 

Sumber: Gugel


Ketika mahasiswa baru, sempat saya sering jalan bareng dan berdiskusi dengan seorang sahabat lelaki yang juga satu offering. Ia di masa itu pernah menceritakan bagaimana semasa MAN ada kakak kelasnya menyatakan perasaan terlebih dahulu hingga akhirnya mereka berpacaran. Masih kakak kelas itu juga yang memberi hadiah kitab suci ketika si sahabat ini berulang tahun. Dari mata si sahabat ini, ada sinar kebanggaan dan kepuasan yang berbeda meski ketika bercerita, status dengan kakak kelasnya itu sudah menjadi mantan. Batin saya waktu itu,"Ini ada yang ganjil, tapi apa ya?"

Perasaan ganjil yang belum mampu saya ungkap kala itu ternyata, soal perempuan yang menyatakan perasaan terlebih dahulu. Sinar mata sejenis itu belum pernah saya temukan dari teman perempuan yang mendapat pernyataan perasaan terlebih dahulu dari lelaki. Tapi mengapa demikian?

Di akhir kuliah, pernah juga saya mengobrol dengan teman lelaki yang ternyata satu SMP dengan yang namanya Andin. Saya, Andin dan lelaki ini pernah satu TK dan beda satu tingkat saja. Di antara obrolan kami, ia kemudian mengatakan bahwa Andin pernah suka dengannya semasa SMP. Lagi-lagi ada sinar mata penuh kebanggaan. Sinar mata itu, sama persis dengan sahabat lelaki yang saya ceritakan di awal tadi.

Sebaliknya, Andin justru sama sekali tidak pernah menyinggung soal menyukai kakak kelasnya di SMP. Kali terakhir kami berjumpa ketika pertengahan kuliah, ia justru menceritakan laki-laki lain yang tengah dekat dengannya. Saya menengarai, teman lelaki kami itu menganggap kejadian Andin yang suka dengannya sebagai kejadian monumental. Monumental karena baginya, perasaan Andin yang seorang perempuan ternyata bisa sangat kentara hingga banyak orang di SMP tahu. Sebaliknya Andin yang ternyata menganggap kisah demikian hanya soal hari yang telah lalu, hingga bahkan tidak menarik lagi diceritakan. Tapi bagaimana bisa?

Saya pun mundur pada waktu yang lebih panjang lagi, ketika SMK. Ibu pernah mengatakan perempuan tidak boleh menyatakan perasaan lebih dahulu. Hal yang tidak pernah saya amini ini bukan dilatarbelakangi cara ibu membedakan tugas lelaki dan perempuan. Semua ternyata bersumber dari kisah teman perempuannya sendiri semasa sekolah dulu. Teman ibu menyatakan cinta terlebih dahulu pada lelaki dan ditolak. Sayangnya, lelaki tadi malah mengumumkan nama teman ibu ke seantero sekolah sehingga temannya tadi kerap diejek beramai-ramai. Jika memang tidak menyukai seorang gadis dan merasa berhak menolak, mengapa ia merasa menang dan lagi merasa layak membikin malu? Teman ibu tidak mencuri kas kelas apalagi korupsi uang negara. Jadi bagaimana bisa?

Semakin bertambah usia, saya akhirnya pun memahami. Pengalaman buruk teman ibu ketika menyatakan perasaan terlebih dahulu bukan salahnya. Kesalahan juga bukan milik si lelaki dan anak-anak lain di sekolah yang merasa berhak menertawakan keputusan teman ibu. Keputusan yang barangkali jauh melebihi jamannya. Keputusan yang barangkali mudah dicap sebagai murahan. Tugas perempuan adalah menunggu dan tugas lelaki adalah memilih. Ah, ini dia. Ini dia konsep yang mencuci pemahaman dalam kepala hampir semua dari kita selama ini.

Konsep ini pula yang agaknya diwariskan generasi terdahulu dari sahabat hingga teman lelaki saya itu. Mereka pada akhirnya meyakini pesona mereka tentu luar biasa, hingga perempuan yang mereka yakini memiliki kodrat menunggu, sampai menunjukkan perasaannya terlebih dahulu. Ada piala yang seolah mereka dapat dari ini semua. Piala yang memberi validasi maskulinitas mereka, kelelakian mereka.

Meski sebetulnya, lelaki maupun perempuan, salah satunya juga tidak perlu diberi tepuk tangan berlebih apabila berani menyatakan perasaan lebih dahulu. Tidak perlu merendahkan, namun juga tidak perlu mengunggulkan berlebihan. Prosesi merendahkan atau memuji berlebihan bagi perempuan yang mengungkap perasaannya lebih dahulu misalnya, hanya akan membuat kukuh konsep soal perempuan menyatakan perasaannya lebih dahulu adalah eksklusif.

Dan benar, teman dan sahabat lelaki yang saya ceritakan di atas tadi pun sama-sama korban. Korban dari konsep turun temurun bahwa lelaki semestinya begini dan perempuan semestinya begitu. Upaya para lelaki ini untuk mencari validasi maskulinitas dengan perasaan menang dan mempermalukan, tidak begitu saja hadir dengan tiba-tiba...

Monday, February 8, 2021

Ada Kasus Kekerasan Seksual, Aku Harus Apa?

 


Ada kasus kekerasan seksual...

Aku nggak ngerti psikologi...

Nggak ngerti hukum...

Bukan aktivis...

Nggak punya akses membantu...

Lalu aku harus gimana?

1.   Nggak usah menegasikan kasus



Kita nulis di media sosial isinya,’Kalau aku nggak ikut bahas yang lagi ramai ya.’

Kalau nggak mau ikut bahas, diam. Penyintas ada di sekitar kita dan cara menulis macam demikian hanya membuat mereka merasa kejadiannya nggak valid. Ada perasaan,’Temanku menganggap ini nggak penting, berarti akunya aja yang bawa perasaan.’

Yakinlah di sekitar kita ada penyintas. Penyintas ini bahkan bisa dari teman terdekat kita sendiri atau orang yang nggak kita duga-duga. Mereka sedang melihat keberpihakan kita dan berani bersuara tergantung dari itu semua.



2.   Kita berhubungan baik dengan pelaku? Rem dulu



Selagi belum ada kejelasan nasib penyintas, nggak usah tunjukkan kedekatan dengan pelaku. Misalnya habis ngopi bareng lalu bikin story atau membagika  karya tulis pelaku di media sosial kita.

Ingat, para penyintas ada di sekitar. Bisa jadi itu teman terdekat kita sendiri ataupun orang yang nggak diduga-duga.

Menunjukkan hubungan baik dengan pelaku sangat tidak strategis bagi kondisi psikologis penyintas. Penyintas akan berpikir,’Temanku berteman baik dengan pelaku, jadi aku nggak boleh ngomong daripada merusak pertemanan mereka.’ Atau,’Temanku ngopi dan promo karya pelaku, berarti dia ada di pihak pelaku.’



3.   Punya cukup keberanian? Mari, tunjukkan sikap...



Yang berat ini sih. Apalagi kalau pelaku punya hubungan baik dengan kita, lebih-lebih yang selama ini hubungannya merasa pakai simbiose. Jadi ini hanya bisa dilakukan untuk kita yang cukup punya keberanian, yaitu dengan membagikan kasus pelaku di media sosial.

Mau kasih caption atau pernyataan sikap tapi berat? Nggak usah pakai pun nggak mengapa, cukup bagikan. Demikian membuat penyintas percaya diri untuk bersuara semacam,’Oh, temanku membagikan kasus ini. Berarti dia percaya denganku.’

Mengutip Anindya Restuviani Holaback Jakarta via Asumsi.co...

“Percaya pada korban sebelum terbukti sebaliknya adalah kunci utama, bukan malah menuduh aduan tidak berdasar. Butuh waktu dan kekuatan yang besar bagi korban  untik mengungkap kejadian yang mereka alami.”



4.   Nggak punya kapasitas tapi kepo? Rem dulu...



Berapa banyak dari kita yang ketika kasus naik, malah kepo siapa yang menaikkan kasusnya dan siapa penyintasnya? Kalau ada perasaan seperti ini, tahan dulu. Apalagi tujuannya hanya kepo, tanpa kapasitas mendampingi secara psikologis maupun hukum.

Memangnya selain memenuhi rasa penasaran kita, hal apa sih yang dicari dari kepo-kepo begini? Kalau sudah tahu siapa yang menaikkan kasusnya lalu apa? Kalau sudah tahu profil penyintasnya lalu apa? Dijadikan bahan obrolan di tempat kita nongkrong supaya terlihat,’Aku lho yang paling tahu banyak informasi.’ Begitu?

Jadi hal apapun yang kita rasa nggak menyumbang pemulihan penyintas, baiknya direm dulu.


Catatan: Pernah diunggah di Instagram story dan feed, pertengahan 2020.