Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Thursday, April 18, 2019

Kata Pengantar Skripsi dan Kenangan-kenangan yang Dibawanya Pulang

Sumber: Gugel

Barangkali bagimu, menulis ucapan terima kasih dalam kata pengantar adalah finalnya dari skripsi, finalnya lelahmu. Kamu ingat bagaimana usahamu menyembunyikan buku rangkuman kecil di antara paha, saat UTS selama enam semester. Kamu ingat bagaimana nyerinya jarimu, mengirim pesan singkat pada mana saja kakak tingkat yang kira-kira masih menyimpan makalah tugasnya terdahulu, biar kamu tinggal print dan ganti nama. Kamu ingat juga bagaimana kerasnya usahamu memerpanjang durasi presentasi, supaya dosen lupa menagih tugas yang belum kamu kerjakan hari itu.


Namun, apalagi yang lebih susah dari menulis ucapan terima kasih? Paragraf-paragraf standar seputar ucapan terima kasih pada Tuhan, dengan segala puji-pujiannya, kemudian apa? Kamu mesti mulai dengan nama-nama, tidak lupa dengan kalimat singkat soal sebab nama-nama itu dicantumkan.

Kamu kemudian memulainya dengan nama dua dosenmu, dosen pembimbing satu dan dua. Soal urutan yang pertama ini, kamu memulainya dengan meniru skripsi-skripsi yang terdahulu. Pikirmu, ini tidak akan terlalu sulit. Ketik saja gelar dan nama kedua dosenmu itu, sebut mereka sebagai pembimbing skripsimu hingga selesai, akhiri kalimatnya dengan tanda titik.

Dosen pembimbingmu itu, keduanya lelaki enam puluhan. Kamu ingat bagaimana soal UTS bikinan dua dosen gaek itu semasa kuliah. Ada dua kata yang selalu menyertai pertanyaan bikinan mereka, apa dan sebutkan. Semua jawabannya ada di buku rangkuman kecil itu, kamu tinggal membukanya yang ada di antara dua pahamu. Tidak perlu analisis, jawabannya sudah pasti.

Kamu pun tidak perlu khawatir buat berbagi jawaban dengan teman-teman yang duduk di sekitaran bangkumu. Saat dua dosenmu itu memertanyakan mengapa jawabanmu dan teman-teman yang duduk di sekitaran bangkumu itu bisa sama persis, maka kamu tinggal jawab,”Apa yang kami hafalkan sebelum ujian pun sama persis, Pak…”

Dari kedua dosenmu itu, tidak ada lagi yang terlalu kamu ingat. Tidak ada yang istimewa dari materi kuliah mereka, kecuali tiga lembar foto copy rencana pembelajaran di awal pertemuan dan bagaimana mereka berdua membacakan isi buku yang dibawanya tiap pertemuan, serupa dekte semasa kamu SD. Tidak ada juga wejangan berarti serupa ayah terhadap putra putrinya, semasa kamu masih kuliah. Hanya ucapan dua dosenmu itu, ketika pertemuan pertama bimbingan skripsi yang kamu ingat, keduanya berkata nyaris serupa, “Skripsi itu cuma formalitas, Jen. Mau baik atau buruk hasilmu, nilainya pun akan sama rata. Baiknya, kamu segera selesaikan saja kemudian lulus dan cari pekerjaan.”

Kamu tersenyum tipis. Tombol enter kamu tekan dari komputermu yang kemudian otomatis memunculkan angka dua. Poin nomor satu, yang memuat nama dua dosen pembimbingmu itu sudah tuntas. Poin nomor dua, juga kamu isi serupa skripsi-skripsi terdahulu yang kamu pernah lihat, isinya nama kedua orang tua.
Sebentar kemudian, kamu melirik sebingkai foto yang ada di nakas, sebelah kasurmu. Kamu menegakkan duduk dan merasakan nyeri di punggung akibat terlalu lama duduk di kursi kayu menghadap komputer pentium dua yang dibeli second oleh papamu itu. Setidaknya, kamu rasa jauh lebih beruntung ketimbang teman-temanmu. Kamu masih punya komputer, bisa mengetik segalanya dalam kamar, sedang teman-temanmu masih harus pergi ke rental atau memergunakan jasa pengetikan.

Sekali lagi, kamu lihat foto yang ada di atas nakas itu. Ada kamu, mama dan papamu di sana. Usiamu saat itu masih tujuh dengan rambutmu hitam kemerahan, terlalu banyak terkena sinar matahari. Hobimu memanjat pohon jambu yang dulu ditanam di halaman belakang. Mamamu kemudian membunuh pohon itu, menyiram akarnya dengan oli. Akar-akarnya bikin tembok retak, katanya.

Kupingmu berdenging kemudian, membuat kamu terpaksa menutupnya dengan dua tangan, meski tidak ada guna. Suara-suara pecahan beling bersusulan dalam kepalamu, kupingmu, bahkan dadamu. Papamu ada di hadapanmu, dia tersenyum manis. Saban pagi, papamu itu memasak nasi goreng buat mama dan kamu. Sekadar nasi putih sisa kemarin yang dicampur bawang merah dan kecap. Namun, menurutmu nasi itu yang paling lezat. Dan sepanjang yang kamu ingat, mamamu itu gemar merangkul manja di lengan papa, selagi nasi goreng sedang diaduk.

Denging yang makin menusuk kuping itu mulai berkurang. Anehnya, jari-jarimu justru gemetar saat hendak melanjutkan mengetik. Kali ini, mama ada di hadapanmu. Satu gigi depannya mama, nampak bergoyang ketika tersundul lidahnya sendiri. Ada juga lebam kebiruan di mata kiri mama. Kamu melihat papamu berdiri dengan tangannya yang mengepal di hadapan mama. Tidak salah lagi, papamu pelakunya. Dia yang membikin satu gigi mamamu bergoyang dan mata kirinya lebam. Kamu melihatnya sendiri, saat tinju papa mendarat di muka mamamu berkali-kali dan itu sudah yang kesekian…

Tubuh mamamu nampak gemetar. Namun, wajahnya justru nampak datar. Pikirmu, mamamu itu perempuan yang tabah. Sebentar kemudian kamu mendelik, karena mendapati papa dan mamamu saling menempelkan bibir dan bertukar kata-kata cinta. Perutmu serasa diaduk, singkatnya ada mual yang merajah perutmu dan itu sudah yang kesekian…

Napasmu mulai berkejaran. Pikirmu, barangkali berhenti saja menulis ucapan terimakasih. Setidaknya, berhenti satu atau dua jam atau… selamanya. Seperti yang sudah kamu pikir di awal tadi, ini bakal sulit.

Air mata merembes pelan-pelan, melewati dua pipimu. Kamu tahu, kamu tidak bisa berhenti. Bagi orang lain, ucapan terimakasih bisa jadi sekadar formalitas dan bagimu, jika boleh memilih, biar skripsimu tanpa ucapan terimakasih saja. Namun, tanpa ucapan terimakasih, skripsimu akan nampak kurang ajar selama-lamanya dan terpajang di perpustakaan. Kamu hanya ingin… nampak normal dengan ucapan terimakasih dalam skripsimu itu, yang menyebut dosen pembimbing, kedua orang tuamu, kekasihmu dan teman-temanmu. Hanya itu… kamu hanya ingin berpura-pura lengkap lewat itu semua.

Sebentar kemudian, kamu buru-buru kembali menegakkan kepala. Cepat-cepat kamu kembali mengetik. Nama papamu, mamamu, beserta gelar mereka. Tidak seperti ucapan terimakasihmu di poin pertama, kali ini ucapanmu lebih mesra dan memuat kata cinta. Perutmu terasa seperti kembali diaduk, namun kamu buru-buru menarik napas kemudian menahannya cukup lama, coba melupakan rasa mual yang merajah perutmu itu.

Pada poin yang ketiga, kamu menuliskan namanya Maria, sahabatmu sejak SMA. Maria memiliki tubuh sangat kurus, kulit coklat dan mata bulat yang jernih. Kamu ingat, foto-fotomu di media sosial didominasi oleh fotomu bersama Maria. Kalian sangat lekat, bahkan hingga kuliah di kampus yang sama, namun beda fakultas.

Maria… ya… Maria. Perempuan itu memang sahabat baikmu, namun hubungan kalian tidak benar-benar mesra sepenuhnya. Saat kalian kelas 11, kamu mendapati Maria berkirim pesan dengan pacarmu, cinta pertamamu. Pacarmu dan Maria menyepakati sebuah pertemuan buat melepas hasrat mereka berdua di sebuah losmen, satu jam dari pusat kota letaknya. Selanjutnya, kamu diamkan Maria hingga setahun berikutnya. Maria telah memohon maaf berkali-kali, namun kamu selalu menolaknya, pun ketika pacarmu itu coba memohon maaf yang serupa. Baru setelah kamu diam-diam berhasil melepas hasratmu bersama pacarnya Maria, kamu mendatangi gadis berambut lurus itu, kamu bilang kamu sesungguhnya sudah memaafkan dia jauh sebelum dirinya memohon maaf. Kamu mengatakan, dirimu dan Maria adalah sesama perempuan yang mestinya tidak patut saling memusuhi. Sedang pacarmu? Mengingat dia sebagai cinta pertamamu, hanya membuat perutmu seperti diaduk, pun memandangi wajahnya.

Menahun berikutnya, kamu terus mengamati Maria. Diam-diam, kamu selalu bisa menyepakati waktu, agar bisa melepas hasrat dengan pacar-pacar barunya Maria. Kamu hampir saja ingin berhenti, ketika melihat Maria yang setia menemanimu saat demam di kamar kostmu, selalu. Namun, tiap kamu hendak berhenti, perutmu jadi serasa diaduk saat menatap wajahnya Maria. Mual itu merajah lagi perutmu. Kemudian, kamu memutuskan tidak akan lagi pernah berhenti.

M-A-R-I-A, Maria Larasati. Kamu mengeja namanya Maria dengan hati-hati, takut ada huruf yang tertinggal. Sudah kamu putuskan, bahwa nama Maria akan seterusnya kamu kenang, lewat ucapan terima kasih dalam skripsimu. Dengan nama yang terkenang selamanya itu, akan membuatmu juga terus ingat bahwa tidak akan ada kata berhenti. Ya… kamu tidak akan berhenti melepas hasrat dengan siapapun pacarnya Maria.

Jari-jarimu mengetik tombol enter, membuat angka empat otomatis muncul. Seperti pernah kamu rencanakan, poin nomor empat adalah tempatnya nama kekasihmu. Tapi tunggu… kekasihmu yang mana? Abdi atau Wiguna? Mana dari dua nama itu yang bakal kamu tulis. Bukannya… kamu punya dua orang kekasih?

Memiliki lebih dari seorang kekasih sesungguhnya tidak pernah kamu rencanakan. Kamu selalu ingin satu. Kenyataan jadi bukan satu-satunya saat bersama pacar pertamamu dulu, membuatmu tahu bagaimana rasanya kosong. Kamu tidak ingin membikin orang lain sama kosong denganmu, sesungguhnya. Namun, setiap kali kamu coba memiliki satu saja kekasih, perutmu rasanya seperti diaduk, ada mual yang merajah. Pun ketika kamu coba sendiri saja, kosong itu seperti mengejar tepat di belakang punggungmu. Jadi, kamu putuskan punya dua, tidak lebih. Bagimu, mual akan lebih menyakitkan dari perasaan kosong. Kalau pun saling menyakiti, kamu pun tidak ingin lebih banyak orang lagi yang terlibat.

Keringat dingin sekarang meleleh membasahi ujung dahi hingga lehermu. Jari-jarimu kali ini kaku. Kamu tidak bisa berhenti, kamu ingin hidupmu nampak lengkap melalui ucapan terimakasih itu. Namun, siapa yang akan kamu tulis? Abdi atau Wiguna? Celakanya, kamu ingat punya panggilan kesayangan yang berbeda pada dua lelaki itu. Menyebut salah satu, berarti sama dengan menyebut nama masing-masing dari mereka. Sekali lagi, seperti pikiranmu di awal tadi, menulis ucapan terimakasih akan jadi hal menyusahkan. Hingga kemudian, kamu putuskan untuk mengosongkan dulu poin yang mestinya berisi nama kekasihmu. Atau… kamu sebut saja mereka berdua dengan satu kata, kekasih? Ah… agaknya kamu betul-betul memilih memikirkan poin ini belakangan. Yang jelas, kamu harus bersama lebih dari satu kekasih, keduanya tidak boleh lepas atau mual itu bakal merajah lagi.

Kamu kemudian malah mengetik poin selanjutnya, nama jurusan dan angkatanmu juga si koordinator kelasmu itu, sahabat semua orang. Kamu dan si koordinator berambut gondrong itu, bersahabat sejak mahasiswa baru. Dia pandai memersatukan orang banyak dan seorang penyemarak. Pacarnya seorang ketua himpunan, yang usianya dua tahun lebih tua, Manda namanya. Manda yang lugu dan terkenal sangat baik dalam akademis maupun organisasi. Keduanya juga jadi macan di ruang-ruang diskusi dan kamu mengagumi pasangan yang kamu pikir saling bangun itu, pada mulanya. Kamu jatuh cinta pada koordinator itu, sekaligus mengagumi Manda.

Namun, satu waktu si koordinator itu saling goda denganmu di kamar kost saat kalian berdua mengerjakan makalah bersama, hasrat itu pun lepas dan setelahnya dia bilang padamu,”Meski ini semua sudah terjadi… kita nggak mungkin bareng, Jen. Seburuknya laki-laki macam saya, tentu saya punya dambaan punya pasangan yang lugu seperti Manda. Jaminan terbaik buat keturunan saya kelak.” Kamu kemudian hanya tergelak, seolah tidak merasa nyeri di dada mendengar ucapan si koordinator itu. Kalian selanjutnya terus bersahabat tanpa lagi pernah melepas hasrat. Kamu bertekad agar si koordinator itu tidak akan pernah tahu nyeri di dadamu itu. Semenjak saat itu, perutmu serasa diaduk dan mual kembali merajah, setiap membayangkan Manda yang lugu bakal hidup bersama koordinator itu.

Manda dan kamu kemudian lebih sering bertemu. Kamu mengatur kedekatan kalian, hingga Manda menginap di kostmu dan kamu menginap di kostnya Manda, hingga kalian saling cerita soal keluarga dan menangis, hingga kalian saling dekap, hingga kalian saling menempelkan bibir, hingga kalian… melepas hasrat masing-masing. Semakin sering kamu melepas hasrat bersama Manda, bayangan soal gadis lugu yang bakal menikahi si koordinator bajingan itu tidak lagi mengganggu kamu, mual itu juga tidak lagi merajahmu. Maka, tidak ada kata yang lebih pantas buat si koordinator itu, selain namanya ditulis dalam ucapan terimasih. Jika tidak karena dia, kamu juga tidak mungkin bisa dekat dengan orang sepengertian Manda. Ya… meski mungkin kamu tidak bisa gamblang berterimakasih karena apa.

Kamu menggeliat, merasakan otot punggung yang makin lelah. Beberapa kali, kamu menekan tomblo backspace, kemudian mengetik ulang nama itu dan menekan tombol backspace, kemudian mengetik ulang nama itu lagi dan kemudian menekan tombol backspace lagi. Selanjutnya, kamu hanya diam dan sudah lewat empat menit dan kamu tetap terpaku di depan layar komputer. Mendadak layar komputermu menjadi hitam berbarengan dengan lampu kamar yang padam dan jerit kaget para penghuni kost lainnya.

“Bangsat! Pemadaman bergilir lagi.” Rutukmu, sambil membayangkan file ucapan terimakasih yang belum kamu simpan dan mesti kamu ketik ulang beserta kenangan dan segala rasa mual yang menyusul.

Maka aku mulai menggeliat, kujatuhkan tubuhku dari dinding yang menempel ketat. Kamu menghampiri tubuhku yang pecah jadi kepingan. Melalui kepingan-kepingan tubuhku yang terserak, kamu melihat bayangan dirimu sendiri di usia tujuh, kali pertama kamu mengaitkan aku pada paku di dinding kamar rumah lamamu. Kegemaranmu adalah mematut diri di hadapanku, mencari-cari bayanganmu. Menahun berikutnya, kamu gemar membawa aku kemana-mana, berpindah-pindah kost dan juga mengajak aku bercerita.

Matamu berkaca-kaca sebentar kemudian. Kamu ambil satu keping serpihan tubuhku dan kemudian mulai menggoreskannya di pergelangan tangan kirimu dengan jari-jari yang gemetaran. Pertama kali dalam hidup, aku melihat wajah paling damai pada dirimu. Dan memang aku yang membantu kamu mencapai kedamaian itu…

Akhir alternatif:

Dibuat Minggu, 27 Agustus 2023

Maka aku mulai menggeliat, kujatuhkan tubuhku dari dinding yang menempel ketat. Kamu menghampiri tubuhku yang pecah jadi kepingan. Melalui kepingan-kepingan tubuhku yang terserak, kamu melihat bayangan dirimu sendiri di usia tujuh, kali pertama kamu mengaitkan aku pada paku di dinding kamar rumah lamamu. Kegemaranmu adalah mematut diri di hadapanku, mencari-cari bayanganmu. Menahun berikutnya, kamu gemar membawa aku kemana-mana, berpindah-pindah kost dan juga mengajak aku bercerita.

Matamu berkaca-kaca sebentar kemudian. Kamu ambil satu keping serpihan tubuhku yang mencelat dan kemudian menempelkannya paksa serpihan demi serpihan pada kerangkaku.

Kamu memandangi serpihan tubuhku yang retak di sana-sini. Kamu tahu menjadi utuh bukan bab yang mudah tapi setidaknya...

Warga kos bersorak tiba-tiba. Listrik menyala lagi dengan lampu kecil di CPUmu yang berkelip.

Friday, April 27, 2018

Omam dan Gigi-Gigi yang Tanggal

Sumber: Gugel


Jika kamu tidak mau gosok gigi, maka gigi-gigimu akan tanggal, Omam…
Ucapan Mommy terus berkelebat di kepala Omam. Namun, rasa pasta gigi yang menurutnya pedas dan pahit, melulu membuat dia kabur ketika Mommy menyuruhnya gosok gigi. Pikir Omam, Mommy tidak pernah mengerti betapa dia benci rasa pasta gigi. Jika sudah begitu, Mommy mulai menjerit kemudian menarik kupingnya keras-keras hingga terasa panas dan kemerahan.
Maka gigi-gigimu akan tanggal, Omam…
Lagi-lagi ucapan Mommy berkelebat. Lidah Omam mulai merabai salah satu gigi bagian atasnya dan gigi itu bergoyang-goyang seperti sebuah tanda bakal lepas dari gusi. Maka Omam gelisah.
“Jangan-jangan, ini karena Omam tidak mau gosok gigi.” Bisik Omam sambil menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal yang dipeluknya erat.
Omam gemeteran. Jika betul giginya bakal tanggal, Mommy mestinya akan menarik kupingnya lebih keras dari biasanya.
***
            Omam bergelayut manja sepanjang perjalanan pulang sekolah pada gadis berkulit sawo matang itu. Omam memanggilnya Nanny. Dia pikir, itu memang nama gadis dua puluh tahunan yang sejak tiga tahun belakangan mulai menggantikan posisi Mommy menyuapi, mengantar dan menjemput sekolah, menggantikannya baju hingga menemaninya tidur itu.
            Tidak seperti Mommy, Omam pikir nanny lebih mengerti. Di laci kamarnya, Nanny menyimpan sebuah pasta gigi warna merah jambu yang rasanya manis, mirip permen-permen kesukaannya. Mommy selalu bilang, Nanny cuma bersikap memanjakan Omam dengan pasta gigi semanis itu untuknya gosok gigi. Namun, Nanny tetap menggunakan pasta gigi itu buat mengajaknya gosok gigi ketika Mommy tidak sedang berada di rumah.
Pada kenyataannya, Mommy memang lebih sering berada di luar rumah, mengendarai mobil hitamnya yang mengilat. Dulu, Omam sering bertanya kemana Mommy pergi, namun jika sudah begitu, Mommy pasti menjerit dan membentaknya, menolak menjelaskan. Rekaman jeritan dan bentakan Mommy membuat Omam mudah tergagap, berkeringat dan menggigil ketika menghafal huruf, atau pada hal lain yang baginya sebuah ketegangan.
“Mommy pergi untuk bekerja, Sayang. Untuk membayar uang sekolahmu, juga untuk memberi uang pada Nanny.” Lagi-lagi berbeda dengan Mommy, Nanny menjelaskan pertanyaan yang sama dengan lebih lembut. Ini sama seperti ketika dia mengganti pasta gigi yang pedas dan pahit itu dengan pasta gigi manis yang membuat Omam lebih ingin sering gosok gigi, sambil sesekali menelan air bekas pasta gigi manis itu dalam kerongkongannya, meski Nanny sudah berkata ‘jangan’ berulangkali.
Ketika Omam menolak memberesi mainan, jeritan dan bentakan Mommy pasti mampir lagi di kupingnya. Sedangkan Nanny, dia selalu mengiming-imingi Omam dengan permen dan coklat jika dia mau memberesi mainan. Permen dan coklat, semuanya Nanny keluarkan dari dalam lacinya. Lagi-lagi, menurut Mommy, yang dilakukan nanny kelewat memanjakan Omam.
Salah satu jeritan Mommy, sering berisi soal makanan manis yang bisa merusak gigi Omam satu waktu nanti. Nanny hanya ingin membuatnya bersemangat memberesi mainan dengan permen-permen itu, setidaknya itu menurut Omam. Jelas beda dengan Mommy yang hanya bisa membuatnya gemetaran dengan jeritan dan bentakan.
Andai saja mommy bisa seperti nanny. Pikir Omam. Mommy tidak pernah mengerti!
***
Seperti hari-hari sebelumnya, jelang makan malam, Mommy belum juga pulang. Omam mengunyah makanan lambat-lambat. Dia merasakan nyeri pada gigi bagian atasnya yang sekarang terasa bergoyang lebih sering.
Nanny meliriknya curiga. Namun Omam malah cepat-cepat berlari menuju kamar mandi dan menyambar sikat gigi, padahal nasi di piringnya baru tersentuh beberapa sendok. Terburu-buru dia mengoleskan pasta gigi yang biasa disodorkan Mommy dan membuatnya kabur biasanya.
Gigi-gigimu akan tanggal, Omam…
            “Omam…” panggil Nanny lembut sambil menepuk pundaknya dari belakang, hingga tubuhnya berjingkat karena kaget.
            Nanny memandang heran kali ini. Mulut Omam penuh dengan busa, sedang pasta gigi yang habis dia gunakan juga tergeletak di lantai. Pasta gigi yang biasanya dia benci. Nanny menyuruhnya berkumur kemudian kembali ke meja makan.
            Bola mata Omam mulai berair. Ini pasti karena Omam menolak pasta gigi dari mommy. Pikirnya.
            “Pasta gigi Nanny yang merusak gigi Omam. Kata Mommy, makanan manis tidak baik buat gigi Omam. Pasta gigi itu manis seperti permen.”
            Nanny menggeleng pelan, mungkin nyaris tidak kelihatan oleh Omam.
            “Coba buka mulutmu…” ucap Nanny lembut. Dia kemudian mengamati tiap sudut gigi-gigi Omam. Satu gigi bagian atasnya kelihatan miring, mungkin nyaris lepas. Itu biasa terjadi pada seorang anak yang hendak berganti gigi.
            “Besok kita ke dokter gigi, oke?”
            Omam menggeleng keras-keras.
            “Hmm… kalau begitu biarkan dia lepas sendiri.”
            “Kalau Mommy tahu?”
            “Serahkan pada Nanny. Nanny punya laci ajaib yang bisa mengubah gigimu menjadi benda lain.”
            Omam mengangguk. Pada Nanny, dia percaya.
***
            Omam tergugu sambil menyerahkan giginya yang tanggal pada Nanny. Nanny mengelus kepalanya pelan sambil berkata,”Kamu tahu, Omam? Gigi yang tanggal ini, bisa berubah menjadi uang. Dia tanggal untuk berubah menjadi uang dan gigimu tanggal memang sudah semestinya, bukan karena pasta gigi yang Nanny berikan padamu, Sayang.”
            Pelan-pelan Omam berhenti tergugu.
            “Itu artinya, Mommy tidak akan marah?”
            “Tentu tidak, Sayang.” Nanny membungkus gigi Omam dengan kertas tisu kemudian meletakkan gigi itu di atasnya. Dia selanjutnya membungkus dan meletakkan gigi itu ke dalam laci.
            “Apa gigi itu akan berubah menjadi uang?”
            “Kita lihat besok, oke?” Ucap Nanny sambil tangannya menggandeng Omam keluar dari kamarnya.
***
            Mata Omam berbinar ketika mendapati gigi yang semalam ada dalam balutan tisu itu berubah menjadi uang koin.
            “Laci ajaibnya bekerja bukan?” Tanya Nanny.
            Kepala Omam mengangguk kencang. Laci milik nannynya itu memang selalu menyimpan banyak benda menyenangkan. Seperti halnya pasta gigi manis, permen dan coklat.
            “Laci Nanny benar-benar ajaib!”
            “Dan untuk membukanya, kamu juga memerlukan kunci ajaib ini,” Nanny mengeluarkan sebuah kunci dengan butiran keemasan dari dalam saku bajunya.
            Mata Omam berkilat, dia hendak meraih kunci itu dari telapak tangan Nanny. Namun, Nanny buru-buru menutup telapak tangannya hingga membuat Omam merengek.
            “Kunci ini hanya Nanny yang bisa menggunakannya. Jika orang lain memaksa menggunaknnya, dia akan tersambar petir.”
            Omam mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Dia sekarang mengerti, bahwa kunci itu memang tidak boleh dia sentuh.
***
Dari jendela kamarnya, Omam melihat Mommy keluar dari dalam mobil sebelum makan malam. Buru-buru Omam berlari menghampiri Mommy sambil tangannya menggenggam koin yang dia pikir benar berasal dari giginya. Omam mulai berpikir, jika saja Mommy mau menimbun gigi-giginya di dalam laci Nanny, tentu dia tidak perlu pergi keluar rumah sepanjang hari buat mencari uang sekolahnya dan uang untuk diberikan pada Nanny.
“Mommy lihat, uang ini berasal dari gigiku!” jerit Omam sambil berjingkat-jingkat.
Mommy hanya diam. Bola mata Mommy kelihatan merah. Dia terus melangkah menuju ruang tengah. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki paruh baya keluar dari dalam mobil dan menyusul langkah Mommy. Lelaki berjenggot tipis yang sangat asing bagi Omam itu, mengekor Mommy pergi ke ruang tengah dan melewati Omam begitu saja.
Mommy berteriak memanggil nanny supaya membawa Omam masuk dalam kamar. Nanny kemudian menarik tubuh Omam yang mulai meronta untuk masuk ke dalam kamar.
Tubuh Omam tersasa makin menggigil ketika berada di dalam kamar bersama Nanny. Nanny berusaha menutup kuping Omam dengan dua tangannya, namun dia tetap mendengar Mommy yang saling berbalas bentakan dengan lelaki asing yang baru datang tadi.
“Apa dalam laci nanny tidak ada benda ajaib untuk membuat laki-laki tadi berhenti membentak Mommy?” tanya Omam sambil berusaha meredam tubuhnya yang menggigil.
Nanny hanya menggeleng sambil terus menutup dua kuping Omam dengan telapak tangannya.
“Aku mohon pada kamu, Maria. Kita bercerai saja, oke? Aku harus kembali pada anak dan istriku,” suara lelaki itu mulai lebih pelan. “Soal putramu itu, aku tidak pernah menyuruhmu membiarkan dia lahir, bukan?” kemudian terdengar suara langkah kaki yang tergesa dan pintu yang dibanting.
Tangisan Mommy mulai kedengaran, makin jelas dan makin keras.
***
            Omam mendapati satu gigi bagian bawahnya bergoyang pagi ini. Dia berjalan berjingkat-jingkat mendatangi kamar Nanny, hendak mengabarkan soal giginya yang akan tanggal dan keinginannya meminjam laci Nanny setelah giginya itu benar-benar tanggal.
            Dia cukup senang, karena selama beberapa hari belakangan, Mommy sepanjang hari hanya berada di rumah. Selama beberapa hari itu pula, dia selalu berjalan berjingkat-jingkat karena senang.
            Namun ternyata, Nanny tidak didapatinya di kamar. Dia kemudian melanjutkan pencariannya ke dapur, ruang tengah, ruang tamu, kamarnya sendiri hingga kembali ke kamar nanny. Tidak ada Nanny di mana pun…
            “Mommy!” jerit Omam.
            Mommy berlarian dengan kaki yang basah bekas dari kamar mandi.
            “Di mana Nanny, Mommy? Di mana Nanny?”
            “Dia pergi. Mommy tidak bisa lagi memberinya uang, jadi dia pergi.”
            Omam mulai berguling-guling di lantai sambil menjerit dan menangis. Mommy melenggang meninggalkannya, dengan bola mata yang terlihat lebih merah daripada kemarin.
            Kemudian, Omam ingat pada laci ajaib milik nanny. Dia bangkit dan berusaha mencari kunci laci itu, dia harus membuka laci itu tidak peduli dirinya akan disambar petir.
            Sambil menahan dadanya yang masih pengap. Omam memandangi laci milik Nanny. Tidak ada lubang kunci pada laci itu dan memang tidak pernah ada. Nanny hanya ingin Omam tidak sewaktu-waktu bisa membuka laci itu untuk menghabiskan semua coklat dan permen dalam sekali santap. Dia juga tidak ingin Omam tahu, bahwa dirinya yang menukar gigi Omam dengan uang koin.
            Tangan Omam menarik laci hingga semua permen, coklat dan kotak-kotak pasta gigi berserakan di lantai.
            Omam meraup semua permen dan coklat itu, dia berusaha melahapnya sekali santap. Dia berharap gigi-giginya akan segera tanggal, kemudian laci itu akan mengubahnya menjadi uang yang dapat membuat Nanny kembali…

Catatan: 2016 lalu, saya menantang diri saya sendiri untuk menulis sesuai tema lomba dan cerpen ini jadinya wkwk. Tentu sudah saya perbaiki perkara ejaan dan lain-lain ketika hari ini saya unggah.

Tuesday, March 20, 2018

Seorang Lelaki yang Jatuh Cinta Pada Buku-buku yang Dibacanya

Sumber: Gugel

Tidak ada pujian soal kecantikanku, saat dia menyatakan permintaanya buat menikahi aku. Dia hanya menyodorkan sebuah buku dengan salah satu halaman yang ditandainya dengan spidol warna biru.
Bukan kecantikan, yang jadi investasi sepanjang hayat dari seorang perempuan. Tapi, kecerdasan…
“Maka, saya memilihmu…” katanya mantap setelah aku selesai membaca sebaris kalimat yang ditandainya biru.
Pipiku terasa panas. Aku yakin, detik itu ada merah yang menyembur pada dua belahan pipiku.
Kecerdasan…
Itulah alasannya memilih aku. Sungguh beda dengan lelaki lain yang ragu mengajakku menikah, karena ukuran tubuhku yang tidak menarik dan kelewat besar. Setidaknya, memang begitu menurutku, saat itu…
***
Maka, kami pun menikah. Sehari-hari, aku hanya mendapatinya membaca sedemikian banyak buku-buku. Dia bisa menggerakkan dua bola matanya pada dua halaman buku sekaligus. Para mahasiswa banyak datang bertamu, memintanya berceloteh soal buku-buku yang begitu mudah dia ingat.
Saban hari, aku sendiri bekerja di kantor pemerintah sejak pagi hingga jelang petang. Namun, dia tetap berkutat dengan buku-bukunya atau sibuk mengoceh dengan para mahasiswa yang nampak betul memuja dirinya. Sering dengan senyum puas dan bangga, dia sebut dirinya mewarisi apa yang dimiliki ayahnya, dapat membaca dua halaman buku sekaligus.
Makanan yang aku masak selalu dilahapnya dengan rakus. Akan tetapi, tidak pernah ada pertanyaan kapan aku memasaknya atau kenapa, kadang aku menghilangkan menu cabai. Ya… aku terkadang menghilangkan menu cabai karena harganya yang kelewat tinggi di satu waktu tertentu. Ah… dia mana pernah mau tahu sih?
“Saya tidak menyajikan cabai hari ini…” ucapku, coba memancingnya bercakap-cakap.
“Oh… tentu. Bukan masalah.” Sahutnya tanpa berhenti mengunyah makanan.
“Kamu tidak coba tanya kenapa?” desakku dengan sedikit penekanan pada kata ‘kenapa’.
“Seperti tadi saya bilang, itu bukan masalah.” Balasnya dingin.
Aku mendekati meja tempatnya makan dan menggebrak dengan dua tangan sekuat mungkin. Mataku mendelik dengan bibir yang aku gigit kuat-kuat menahan tangis dan marah.
“Ini bukan masalah, oke?” sahutnya tanpa berhenti mengunyah makanan.
Kemudian disodorkannya sebuah buku dengan salah satu halamannya yang terbuka. Ada sebuah kalimat yang ditandainya dengan tinta biru.
…bagaimana semua orang bisa berpikir pragmatis?
***
Dia menatapku kelewat tajam saat aku menghempas tubuh di atas sofa bersama beberapa tas belanjaan. Tas belanjaan itu bertulis salah satu mall terbesar di kota. Keparatnya, tatapan itu diamini para mahasiswa pemujanya itu padaku.
Salah seorang mahasiswa berbisik pada mahasiswa lain di sebelahnya. Kemudian, bisikan mereka berlanjut menjadi saling bisik, hingga dia membuka sebuah halaman buku, ditandainya sebuah halaman dengan spidol warna biru. Diserahkannya kemudian buku itu, pada salah seorang mahasiswa yang duduk tepat di samping tumit kakinya. Dia berbisik sejenak sebelum membiarkan mahasiswa itu menyodorkan bukunya padaku.
Bab V. Borjuis dan Hedonis. Sebuah Bab Penjelas.
Keparat! Aku berdiri tanpa memerhatikan sorot mata semua orang yang menancap padaku, juga pada tas-tas belanjaan yang aku bawa. Apa mereka tidak paham? Mencari penjahit baju terpercaya sangat susah di jaman sekarang. Tubuhku sendiri sangat besar bahkan jauh sebelum aku menikah. Cuma mall terbesar di kota yang menyediakan baju-baju seukuran tubuhku. Meski harga yang aku tebus tidak murah mengingat ukuran tubuhku memang membutuhkan banyak bahan. Namun, setidaknya aku masih bisa berbaju dengan sejumlah uang dari gajiku sendiri! Bukan hasil nyolong!
***
Dia semakin hemat bicara pada aku. Cukup melegakan karena dia masih begitu rakus melahap semua yang aku masak.
Para mahasiswa yang datang mengerubunginya kian hari makin banyak. Ketika aku melakukan sesuatu yang kurang berkenan baginya, dia hanya menyodoriku sebuah buku yang salah satu halamannya ditandai warna biru. Hanya itu dan seterusnya begitu.
Sempat di satu malam di awal pernikahan kami, dia menceritakan bagaimana ayahnya terus-menerus membaca, meski berkali ibunya menggerutu soal harga cabai yang membengkak. Kemudian, didapatinya ayah dan ibunya yang tidak pernah lagi saling berbicara. Ayahnya hanya menandai sebuah halaman buku dengan tinta biru, jika ingin menegur ibunya, persis yang dirinya lakukan padaku. Setelahnya, ayahnya itu mulai mengemasi buku-buku, sedikit baju dan tidak lagi terlihat mengedar di sekeliling mereka. Hingga satu waktu, aku juga mendapati dirinya mengemas barang dari dalam almari baju kami, seperti ayahnya.
“Kamu mau kemana, Mas?” tanyaku.
Dia hanya diam, sambil terus mengemas baju.
“Mas…” panggilku.
Senyumnya terkembang tipis. Dia kemudian melewati aku begitu saja yang tengah berdiri di bibir pintu. Buru-buru dia meraup belasan bukunya yang ada di atas rak dekat ruang makan. Buku-buku itu selanjutnya dimasukkannya dalam koper, bercampur dengan beberapa helai pakaian yang tidak sebanyak buku yang dia bawa.
“Mas!” aku akhrinya membentak saat dia berlalu begitu saja, melenggang menuju ruang tamu sambil membawa koper.
Dilemparnya sebuah buku padaku kemudian. Seperti biasa, ada tinta biru sebagai penanda bagian mana yang semestinya aku baca.
Menghayati hidup, meski tidur tidak beralas keramik.
Tanganku gemetar. Dia menghilang dari balik pintu. Buku yang aku genggam terjatuh ke lantai. Lantai keramik yang aku bangun dengan gaji yang aku kumpulkan, hanya karena alasan sederhana, keramik membikin rumah menjadi mudah dibersihkan.
Namun, sebentar kemudian tanganku berhenti gemetar. Aku mendekat menuju jendela dan melihatnya yang kesusahan menenteng sebuah koper besar. Senyumku terkembang lebar. Aku penasaran, buku apa yang nanti jadi alasannya buat kembali pulang?

Friday, September 1, 2017

Menikam Sebab



Coreted by: #GalerieDeWindha

Kota Malang tidak pernah lagi sedingin lima belas atau dua puluh tahun lalu. Usia di mana aku masih belajar mengusap ingus kehijauan yang keluar seenaknya dari lubang hidung. Usia di mana bedak putih tebal jadi selimut di pipi dan keningku tiap selesai mandi. Usia di mana papa masih menoleh menuju pintu rumah, kemudian memutar gagang pintu buat menghambur masuk dan memeluk kami.

Pemutar kaset yang biasa digunakan papa, berbedak debu saban harinya. Kaset berisi lagu kesenangannya dibawa serta sejak terakhir dia menoleh pada pintu rumah kami. Itu jadi sebab mama alergi betul dengan pemutar kaset dan lagu berjudul How Do I Live, semuanya kesenangan papa. 

“Agni… pacarmu menjemput tuh…” mas Gimbal mengetuk mejaku dengan jari-jari tangan kirinya. Sedang tangan kanannya nampak sibuk dengan nampan berisi kentang goreng pesanan pengunjung yang lain.

“Asem kamu, Mas. Mana ada pacar? Dia teman saja kok.” Mataku mengedar ke depan pintu kafe, mencari-cari motormu. Ada! Tapi di mana kamu?

“Bukan pacar gimana, sih? Mata kamu berbinar gitu kok, tiap dia menjemput kesini.” Mas Gimbal tergelak geli sambil melenggang menghampiri meja si pemesan kentang goreng.

Mas Gimbal, jujur aku tidak pernah ingat siapa nama aslinya. Aku hanya ingat eksekusi rambut gimbalnya itu dilakukan di tempat pacar temanku yang terampil dan punya warung kopi dekat terminal Landungsari.

Kafe ini sudah dibuka sejak rambutnya belum dieksekusi jadi gimbal. Sejak buku-buku yang bisa dibaca dan terpajang di rak belum terlalu banyak. Sejak tubuhku masih langsing. Sejak aku masih senang melekatkan rok bentuk payung di tubuhku…

“Agni, orangnya depan pintu tuh… pacarmu.” Ucap mas Gimbal yang ternyata sudah kembali dengan tangan kosong tanpa beban nampan. Kembali jari-jarinya mengetuki meja tempatku menyelonjorkan telapak tangan.

“Pacar… pacar… ini areal kampus, Mas. Bukan taman kota yang salah guna dipakai pacar-pacaran.” Balasku ketus sambil meninggalkannya yang terkekeh tipis.

***

Ada sebab mengapa papa memilih mama. Mama berperawakan langsing dengan pipi tirus dan bibir tipis. Fasih juga berbahasa inggris. Seorang sarjana yang lulus sidang dengan nilai A. Punya pengetahuan luas karena waktu-waktu luangnya lebih banyak dipakai membaca surat kabar atau buku, ketimbang untuk memoles bedak tipis di pipi atau menebalkan gincu.

“Kecantikan alami…” Ucap papa sambil tangannya mengelap ingusku dan meratakan bedak yang kelewat tebal di mukaku. Itu ucapan pungkasan yang selalu dia sertakan usai menceritakan sebabnya memilih mama.

Tidak peduli aku paham atau tidak dengan ucapannya, papa terus mengoceh tentang sebabnya memilih mama. Aku pun selalu mengulangi pertanyaan yang sama padanya…

“Kenapa mamaku adalah mama, Pa?”

If you ever leave...

Satu baris lirik How Do I Live seperti memaksa masuk dalam kuping dan ingatanku. Lagu kesenangan papa yang tidak jarang diputar di kafe ini.

“Agni… ini coklat hangat dari pacarmu, dia tadi pamit buru-buru ke kamar mandi. Sepertinya dia salah makan sampai diare.” Mas Gimbal menyodorkan coklat hangat di hadapanku.

Aku membuat gigiku tampak bergemeretak dengan jari-jariku yang bergerak gelisah. Itu semua sebagai tanda, aku sungguh tidak senang mas Gimbal menyebut kamu sebagai pacarku. Sebaliknya, dia malah terkekeh sambil melenggang menuju meja lain dengan membawa nampan yang berisi pisang goreng dan macam-macam minuman lainnya.

Lampu-lampu mulai menyala di dalam maupun luar kafe. Tulisan ‘Sembari Ngopi, Membangun Literasi’ yang ada di atas kepalaku juga mulai menyala.

Kafe ini tetap saja buka, bahkan setelah mas Gimbal makin diingat pengunjung dengan rambutnya itu. Setelah buku yang dipajang di rak dan dapat dibaca semakin banyak. Setelah aku sengaja menggemukkan tubuh. Setelah celana jeans kusam ganti melekat ditubuhku. Setelah aku lebih suka duduk di teras kafe sambil menghisap rokok. Oh, dilarang keras menghisap rokok di ruangan dalam, jadi aku lebih senang duduk di teras sekarang.

How do I live without you...

Satu baris lagu kesenangan papa itu lagi-lagi masuk paksa dalam kuping dan ingatanku. Lagu yang nyaris saban hari papa putar di pemutar kaset. Begitu jauh sebelum aku memahami arti kata leave dan without. Memahami, bukan sekadar tahu arti dua kata asing itu…

Kepulan asap yang aku hisap mendadak tidak bisa melayang bebas. Ada mukamu yang menghambat mereka melayang. Ada tanganmu yang mengibas dan membuat mereka berhamburan sebelum bisa melayang bebas.

“Sudah setengah lusin hari ini, Agni,” Ucapmu sambil menarik bungkus rokok yang ada dekat cangkir coklatku.

“Kamu ini lucu. Merokok tapi justru didampingi minuman coklat bukan kopi. Ndak matching istilah kerennya…” kamu terkekeh.

Aku punya maag akut dan tidak pernah tahan dengan kopi sejak awal kuliah. Kamu tahu itu, tapi tetap saja menjadikannya bahan lelucon. Tentu aku kangen berat buat bertemu kopi. Kangenku itu, beda dengan ketika aku melihatmu terus menerus mengedar di sekelilingku, aku justru jengah.

Sayangnya, kamu adalah orang yang belum juga terjawab oleh aku selama ini. Kamu tidak pernah mengomentari tubuhku yang makin menggemuk. Kamu tidak pernah mengomentari rok payung yang sudah cukup lama aku gantikan dengan jeans lusuh. Kamu tidak pernah mengomentari kebiasaan merokokku yang makin kalap, selain mengingatkan sudah berapa batang yang aku hisap selama kita bersama dalam sehari.

Kenapa kamu terus bersama aku? Aku sedang mencari-cari sebabnya…

Pasti ada sebab. Layaknya dulu papa memilih mama. Sebab yang jika hilang, kamu bakal melenggang pergi.

***

Mama menurut saja waktu papa menyuruhnya tinggal di rumah sepanjang waktu. Kami tidak pernah kekurangan makanan atau cemilan, papa yang membuatnya begitu. Mama merawat aku dan rumah kami saban hari.

Pipi tirus mama mulai menggembung. Dia tidak lagi sempat menyentuh apalagi membaca surat kabar dan buku. Kosakata-kosakatanya dalam percakapan bahasa inggris seperti minggat dari dalam kepalanya karena tidak pernah dipergunakan lagi. Satu hal yang tetap sama, bibirnya yang tipis.

Semua sebab papa memilihnya sudah lenyap. Kami tidak pernah kekurangan makanan dan cemilan. Namun kami mulai kehilangan muka girang papa tiap memutar gagang pintu. Langkahnya makin lamban ketika melewati pintu. Dia tidak pernah lagi menghambur buat memeluk kami, setelahnya.

Semenjak saat itu, aku selalu bertanya-tanya soal sebab. Bagaimana jika di masa depan aku mendapati seorang lelaki memilih aku karena sebab? Dan bagaimana jika sebab itu lenyap bersama lelaki yang memilihku itu?

Badanku gemetaran tiap memikirkannya.

Maka tanpa kamu minta, aku cerita soal para lelaki yang mengedar di sekelilingku selain kamu. Berkali-kali sebab mereka memilihku juga aku ceritakan padamu. Sesekali aku lihat bola matamu berkilat, marah dan gigimu bergemeretak, mungkin kamu sedang cemburu. Kemudian, seperti buru-buru, muka kalem dan senyum tenang kamu ulas lagi.

“Kamu cantik alami. Kulitmu cerah tanpa polesan bedak. Badanmu juga sangat ideal” Ucap seorang lelaki.

Maka aku mulai senang telanjang tengah hari di balkon rumah hingga kulitku menghitam. Aku sembarangan minum banyak antibiotik hingga metabolisme tubuku rusak dan tubuhku menggemuk. Lelaki itu pun pergi.

“Kamu sangat cerdas dengan argumen-argumenmu di forum.” Yang lain berucap.
Maka aku mulai menunjukkan argumen-argumenku yang penuh logical fallacy di dalam forum. Seperti lelaki sebelumnya, aku mendapati kepergian.

“Kamu sangat cocok dengan rok payungmu itu. Dan lagi, kamu kalem, tidak juga merokok.”
Sebab lain aku temukan dari lelaki yang lain lagi. Setelahnya, aku mengganti rok payung dengan jeans kusam dan mulai merokok. Kepergian lagi-lagi dapat jelas aku tangkap.

Aku terus mencari sebab mengapa kamu mengedar di sekelilingku. Belum juga ketemu…

***

Mataku mengerjap merasakan hangatnya lampu di Unit Gawat Darurat. Telapak tangan kiriku terasa hangat. Ada kamu menggenggamnya.

“Mas Gimbal dan teman-teman di Kafe Pustaka menemukan kamu pingsan di lantai kamar mandi dan… berdarah,”

Lalu mereka memilihmu buat jadi pahlawan di hadapanku. Bukan begitu?

Aku memesan pil aborsi dari internet dan mendapatkan pesananku semalam. Kemudian, aku meminumnya. Aku tidak sedang hamil. Berciuman atau tidur dengan lelaki saja aku belum pernah. Agaknya, langkahku itu membuat gangguan hebat di dinding rahimku. Aku memang mengharapkannya.

Seorang lelaki beberapa waktu lalu mengatakan bahwa dia ingin anak-anaknya lahir dari dalam rahimku, itu sebabnya dia memilihku. Maka aku mencoba meluruhkan saja rahimku. Aku ingin tahu, apakah setelah sebab itu lenyap, dia bakal lenyap juga seperti lelaki-lelaki lain dalam hidupku.

Tangan kiriku makin menghangat. Genggaman tanganmu makin kuat. Ada detak yang berkejaran makin cepat dalam dadaku.

Kamu tidak pernah berhenti mengedar di sekelilingku. Dan aku sedang mencari sebabnya apa. Maka aku mulai berencana membuka suara.

“Dewa, kenapa kamu tidak pernah berhenti mengedar di hidupku?” aku benar-benar buka suara.
Kamu melongo mendengar pertanyaanku. Setelahnya kamu malah tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

“Tubuhku gemuk, kulitku hitam dan sepertinya aku bakal mengalami gangguan pada rahimku buat seterusnya.”

Dua tanganmu menjepit telapak tangan kiriku sekarang.

“Agni, kamu perempuan yang kuat. Tidak seperti yang lain, kamu tidak pernah berciuman apalagi tidur dengan lelaki. Kamu adalah sebuah hadiah buat seseorang yang menua bersamamu kelak.”

Aku memejamkan kedua mataku. Bola mataku terasa panas. Dalam kepala, aku mulai mengingat-ingat lelaki mana saja yang pernah mampir dalam hidupku. Sekeluarnya dari Unit Gawat Darurat, aku bakal meminta salah satu dari mereka berciuman dan tidur denganku. Setelahnya, apakah kamu masih mau mengedar dalam hidupku, Dewa?

Aku terus bertanya-tanya dan juga akan terus berusaha menikam semua sebab…