Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Monday, July 5, 2021

Ruang

 

Sumber: Google


Sharma merabai tengkuknya. Bulu-bulu halus berdiri seluruhnya di sana dan matanya sudah bengkak sepenuhnya. Bekas jahitan yang masih terlihat basah di pelipis sesekali pula ia raba, ia rasai perih yang masih tersisa.

Ia ingat betul, lima belas menit lalu masih berada di kafe X bersama seorang teman yang pikirnya bakal membantu. Namun dalam kondisinya yang masih sesak, menyesal karena tidak melawan, juga merasa tidak berharga, temannya itu malah mengatakan Sharma tidak tegas, ia pula dikatakan menikmati berada dalam lingkaran kekerasan.

Rokok pun dihisap Sharma dalam-dalam. Teman-temannya di kantor mengatakan, rokok bisa meredam stress dan biasanya memang bekerja serupa itu. Sayangnya, kali ini dada Sharma justru makin pengap saja ketika dijejali asap rokok. Rokok tidak membantu, demikian kesimpulannya hingga gadis berkulit gelap itu membuang rokoknya ke lantai dan menginjak nyalanya sekenanya.

Saya jemput kamu ya, Sayang. Kita harus ngobrol. Sungguh saya minta maaf.

Tulis pacar Sharma bertepatan ketika ia masih bertemu dengan temannya itu. Hingga lewat pukul dua belas malam, warung kopi kian ramai, Sharma tidak juga membalas pesan itu dan ia hanya mengetuki meja yang semestinya diisi empat orang.

Saya ada di kafe Z.

Demikian pesan balasan Sharma pada pacarnya itu. Selanjutnya ia memejamkan mata sambil merasai dadanya yang berdebar makin cepat. Kopi susu yang sudah dingin sama sekali tidak disentuhnya.

“Nunggu lama, Sayang?” Tanya suara yang begitu Sharma kenal selama dua tahun ini.

Entah bagaimana, Sharma menoleh dan mengeluarkan air mata yang sejak tadi tertahan. Ia terisak, ada rasa lega juga di sana...

Sadarlah! Kamu terkungkung patriaki. Kenapa masih denial sih?

Sharma terenyak di tengah pelukan erat dengan pacarnya. Seperti ada yang merangsek paksa ruang dalam dirinya. Ucapan dari temannya yang dikenal sebagai aktivis beken itu mendadak menusuk dada, membuyarkan rasa damai.

***

Dua tahun lalu, Sharma bertemu pacarnya tepat selepas wisuda. Sharma yang bermimpi jadi penulis novel misteri dengan kondisi sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan nasional. Sharma pula, yang jenuh setengah mati dan merasa tidak punya waktu untuk membaca buku lagi.

Pacarnya itu berkepala plontos, bermata bulat dan berkulit putih dengan kaus tanpa lengan. Penampilannya mencolok. Secara umum, orang-orang menyebut pacarnya itu tampan. Ya... secara fisik, lelaki itu memang memenuhi standar pada umumnya buat disebut tampan.

“Suka triller, Mbak?”

Sharma tergagap, ada sembur merah di kedua pipinya. Belum ada seseorang yang memerhatikan buku bacaannya sedemikian rupa. Yang demikian justru membuat debar di dadanya berkejaran kemudian, lebih dari pujian cantik yang tidak pernah ia dapat kecuali dari mendiang neneknya hanya karena dirinya berkulit gelap.

“Mau jadi penulis novel misteri, Mas. Apa daya malah kerja di perusahaan Indom*e sekarang.” Gelak Sharma sambil menutup buku John Steinbeck di pangkuannya.

“Oh, suka sastra-sastraan gitu ya?” tanya lelaki itu sambil berlalu ke meja kasir.

Melihat lelaki itu tidak jadi duduk semeja dengannya, Sharma menghembus napas cukup keras, merasa kecewa. Lelaki itu terlihat membayar kopi untuk mejanya sendiri sambil sesekali menunjuk Sharma dan bercakap-cakap dengan si kasir dengan begitu akrab.

Pikir Sharma, lelaki itu pasti mulanya tertarik soal apa buku bacaan dan mimpinya namun kecewa ketika mendapati kulitnya yang gelap. Sekali lagi gadis itu menghembus napas cukup keras.

“Besok ke acara ini bareng yuk...” ucap lelaki itu tiba-tiba. Ia kini sudah menarik kursi di hadapan Sharma sambil menunjukkan sebuah poster dari ponselnya.

Sebuah acara bedah buku, penulis lokal. Demikian yang Sharma simpulkan sekilas dari poster yang ia baca. Sharma mengangguk tipis sambil mengangsurkan ponselnya. Sudah terbuka menu kontak baru di sana.

“Saya minta kontakmu...” pinta Sharma yang disambut senyum tipis lelaki itu.

Selanjutnya, mereka keluar dari warung kopi bersama dan upaya Sharma membayar kopinya sendiri ditolak si kasir. Sudah dibayar mas Dao Ming Si, demikian nama julukan lelaki yang dua bulan kemudian menjadi pacarnya Sharma itu.

Dao Ming Si, merujuk tokoh serial Meteor Garden yang menurut orang-orang di warung sangat mirip dengan lelaki itu. Ya... meski satu asli Taiwan dan satu lagi asli Pacitan. Setidaknya itu yang Sharma tahu beberapa waktu setelah mereka resmi berpacaran dan dirinya yang mulai akrab dengan orang-orang di warung.

***

Sharma datang ke kota ini sendirian. Mengisi segala formulir untuk kuliah dengan bibi dan pamannya sebagai wali. Sebuah lembaga amal memberinya beasiswa untuk tiga setengah tahun ke depan meski Sharma ternyata harus lulus empat tahun dan cukup terangah-engah memenuhi biaya tambahan satu semester.

Gadis itu tidak sempat mengikuti unit kegiatan apapun di kampus. Fokusnya hanya satu; lulus tepat waktu. Ia pula hanya punya hiburan membaca novel-novel triller di sela kegiatan akademisnya. Diam-diam ia bermimpi jadi penulis novel misteri, tanpa tahu bagaimana cara membina mimpinya itu.

Teman-teman seangkatan mengomentari Sharma sebagai pemudi oportunis, tidak punya visi dan jauh dari idealis. Dalam kepalanya hanya ada ambisi lulus tepat waktu, juga kerja mapan. Ikut demo? Membuat story di Instagram saja ia tidak pernah sempat.

“Mau kemana, Shar?” sapa tiga orang teman sekelas Sharma basa-basi.

“Mau balik kos.” Jawab Sharma cekak dengan langkah tergesa dan tanpa memandang ketiga temannya itu.

Ketiga temannya itu saling sikut dan berbisik soal betapa sombongnya gadis itu. Jam kuliah baru usai, teman-teman sekelasnya pun masih makan bersama di kantin namun Sharma justru buru-buru kembali ke kos tanpa berniat menyapa siapapun.

Teman-temannya itu tidak pernah tahu, sebuah pesan diterima Sharma sekeluarnya dari kelas. Seperti biasa, bibinya meminjam uang dan dari mana bisa Sharma mendapat sejumlah uang? Jika bukan upayanya menyisihkan biaya hidup dari beasiswa.

Bibinya itu memiliki dua anak yang masih sekolah menengah. Suaminya bekerja serabutan dan sepuluh tahun lalu pun, mereka menerima Sharma dengan berat hati. Toh hidup mereka sendiri sudah sesak.

Sebentar lagi Sharma lulus dan kerja. Uang bulanan buat dek Ila dan dek Nanda bisa ditransfer ke nomor rekening yang tadi.

Tidak ada ucapan terima kasih setelah gadis itu mentransfer sejumlah uang. Pertanyaan kapan gadis itu makan dan ucapan semangat karena seminar proposal lebih awal juga tidak pernah ada.

Suami bibinya itu pula, yang enggan menekuni usaha servis televisinya. Berkali masuk perusahaan pun kerap keluar karena pertengkaran dengan sesama teman. Saban hari, Sharma melihat bibinya bangun pagi sekali, menyiapkan segala kebutuhan kedua putri, suami, baru kemudian berangkat ke pabrik.

“Ini namanya berbakti...” ucap bibinya itu ketika Sharma memandanginya terburu sekali menyetrika pakaian pamannya sambil menggoreng nasi untuk sarapan mereka semua.

Sharma mulai melakukan pekerjaan-pekerjaan serupa setelah dua bulan tinggal di rumah itu. Setiap pulang sekolah, ia buru-buru berlari pulang hingga tidak sempat menerima ajakan teman-temannya bermain. Sebutan wis ireng, sombong alias sudah (berkulit) hitam, sombong pula, melekat padanya hingga menahun kemudian.

Jika bukan karena tawaran RT di tempatnya tinggal bersama lembaga pengelola amal itu, Sharma barangkali sudah memutuskan bekerja di pabrik saja selepas Aliyah. Semua dengan melepas nilai-nilai di sekolah yang membuat para guru sekadar menyayangkan keputusannya tidak kuliah. Ya, hanya menyayangkan, tidak ada saran bagaimana Sharma semestinya...

***

Si Dao Ming Si, ah... Pacar Sharma itu mengelus rambut hitamnya yang lurus sebahu berkali-kali. Mata Sharma terpejam dengan kisahnya semasa hidup bersama sang bibi kembali diceritakan ulang di hadapan pacarnya.

Tidak ada tinju yang membuat pelipis gadis itu berdarah dari si Dao Ming Si malam ini. Yang ada hanya ciuman-ciuman lembut di bibir Sharma yang membuatnya tertidur pada berikutnya.

Namun pintu kos terdengar diketuk cukup kasar kemudian. Pelan-pelan pacar Sharma meletakkan kepala gadis itu di atas bantal dan beranjak membuka pintu.

“Ayolah, Mas! Sudah dua bulan ini. Saya juga cari makan dari kosan ini...” bentak seseorang yang agaknya pemilik kos setelah pacar Sharma membuka pintu.

Dengan tergesa, si Dao Ming Si menarik pemilik kos agak jauh dari kamarnya. Bola matanya sesekali terlihat cemas, entah takut Sharma terbangun atau takut gadis itu memergoki ketidakberdayaannya.

Namun gadis itu terlanjur menggeliat dan mendengar perdebatan pacarnya dengan pemilik kos dari kejauhan. Maka sekembalinya lelaki itu dari pertemuan dengan pemilik kos, sudah ada uang sejumlah tujuh ratus ribu di meja kecil dekat kasur.

“Pakai aja. Kalau kurang bilang.” Ucap Sharma dengan badannya yang menghadap dinding dan mata terpejam.

Lelaki itu pun buru-buru menutup pintu kamar, memeluk Sharma dari belakang dan memuji pengertian gadis itu. Yang Sharma tahu, jika sudah begitu pacarnya akan berlaku sangat manis hingga beberapa minggu ke depan. Mengantar dan menjemputnya kemana saja, menanyakan berapa kali ia makan dalam sehari, juga semua hal yang membuat dada gadis bertubuh kurus itu menghangat. Hari-harinya di kantor pun terasa lebih bersemangat.

Teman-temannya berdehem soal wajah pacarnya yang mirip Dao Ming Si di hadapan Sharma, sedang di belakangnya, mereka saling berbisik soal bagaimana gadis berpenampilan biasa saja sepertinya bisa mendapat pacar begitu rupawan.

Jahitan di pelipisnya sudah mulai mengering...

***

Lelaki itu mengatakan mau bergerak di dunia literasi. Kelak pula, ingin punya toko buku indie dengan kafe sederhana melengkapi. Mimpi-mimpi yang kerap dibaginya pada Sharma itulah, membuat si gadis makin terpikat. Papa pacarnya itu kepala sekolah dan mamanya guru di sebuah sekolah negeri, namun demikian justru membuatnya keluar dari kampus tempatnya mengambil jurusan keguruan. Ia pilih mengambil jalan hidupnya sendiri, katanya.

Sharma merasa pilihan hidupnya serba terbatas. Ibu dan bapaknya entah menikah lagi dengan siapa dan memiliki berapa orang putra. Paman dan bibi yang hanya mengirim pesan ketika hari gajian...

Jadi bagi gadis itu, si Dao Ming Si menawarkan kebebasan yang tidak pernah bisa dirinya pilih. Selain ya... Ia suka bagaimana lelaki itu menciumnya. Ada hangat di dada yang semestinya mula-mula ia dapat dari pelukan kedua orang tuanya.

“Nanti, ada rak khusus buku triller rekomendasi kamu di toko itu, Sayang.”

“Jangan lupa ada menu kopi susu bagi yang nggak suka kopi hitam...”

“Sampul buku gratis dan acara baca puisi tiap sabtu.”

“Diskon buku untuk pasangan kekasih juga...”

Demikian Sharma dan pacarnya saling menimpali, membahas mimpi yang membuat gadis itu sesaat lupa teman kantornya cemburu akibat rencana promosi yang ia terima, juga yang membuat pacarnya itu sesaat lupa orang tuanya masih saja marah karena uang kuliah selama tiga tahun justru dipergunakannya sendiri.

Semuanya selalu diakhiri ciuman yang sangat dalam sekaligus ucapan selamat tidur yang manis. Bekas jahitan di pelipis Sharma mulai terlihat samar.

***

Sharma memeluk pacarnya itu dari belakang, dibisikkannya sebuah berita baik. Ia resmi mendapat promosi...

Namun mata lelaki yang justru terlihat membulat dan merah. Laptop yang menampilkan sebuah email penolakan naskah dari penerbit terhampar di hadapannya.

Melihat Sharma yang datang dengan ceria, membawa berita promosi jabatannya pula, mendadak membuat dada lelaki itu panas. Ia gagal... Ia gagal dan gadis itu sama sekali tidak mau mengerti. Gadis itu mengejeknya.

Sharma tahu, membawa berita baik untuk dirinya saja selalu berakhir...

“Cewek anjing!” si Dao Ming Si meninju tepat di bekas jahitan pelipis Sharma yang sudah nyaris menghilang.

Tidak... Berita sejenis itu bukan hanya baik bagi Sharma, namun juga untuk masa depan hubungan mereka. Karena kelak mereka bakal menikah, mendirikan toko buku indie, ada rak khusus buku triller rekomendasi gadis itu, menu kopi susu, sampul buku gratis, acara baca puisi setiap hari sabtu dan...

Darah merembes dari pelipis Sharma. Gadis itu terhuyung, nyaris pingsan namun berhasil berlari keluar kos dengan beberapa penghuni lain memandang bingung padanya.

...dan diskon buku untuk pasangan kekasih.

***

Temannya yang disebut aktivis itu dikenal Sharma ketika sama-sama menghadiri Haul Gus Dur yang bertempat di Klenteng Eng An Kiong. Sharma datang dengan si Dao Ming Si dan temannya itu bersama pacarnya yang wirausahawan, bertutur lembut, juga menunggangi mobil model paling anyar. Di sana, pacar Sharma membaca puisi, sedang si aktivis itu membaca orasi.

Sejak kecil pula, teman Sharma itu mengaku diberikan buku-buku bacaan dengan berbagai isu oleh orang tuanya. Masih orang tuanya juga yang memintanya kuliah setidaknya hingga S2 dengan biaya penuh dari mereka.

“Papiku jago masak, Shar. Keduanya kerja kantoran emang, tapi papiku tuh nggak patriarkis, mamiku nggak menerima beban ganda.”

Patriarkis? Beban ganda? Istilah-istilah itu betul-betul asing buat Sharma. Membaca buku triller saja ia harus mencuri waktu, apalagi buku-buku dengan istilah yang disebut temannya itu.

Habis-habisan Sharma berusaha menyamakan obrolan dengan gadis yang menurutnya menarik itu. Namun batin Sharma tetap saja kebingungan. Bagaimana bakti bisa disebut patriarkis dan beban ganda? Hingga baginya, gadis itu membawa sesuatu yang tidak wajar.

“Kamu diracuni jadi feminis juga ya, Sayang? Nanti deh, di kos saya bacakan buku-buku yang dia maksud. Saya punya semua kok.” Ucap si Dao Ming Si disusul tawa teman Sharma itu beserta pacarnya.

Hari itu, Sharma betul-betul merasa kecil. Sungguh-sungguh kecil hingga pujian dari bosnya bahwa ia akuntan andalan perusahaan hanya sekadar lewat saja dalam kepala.

Lagi-lagi, gadis itu merasa pacarnya membawa kemerdekaan yang tidak bisa ia raih, pula teman-temannya...

***

Jahitan kali ini lebih panjang dan lebar. Di kamar kosnya yang baru, Sharma memegang ponsel dan nyaris saja mengirim pesan pada bibinya. Ada sesak yang meluap di dada gadis itu tanpa terpikir siapa orang yang layak ia bagi.

Akhirnya, gadis itu justru membatalkan pesan pada bibinya dan justru ditekannya nomor si Dao Ming Si...

“Kita putus. Jangan cari saya lagi.”

Buru-buru sambungan telepon diputus Sharma bagaimanapun lelaki itu memohon maaf dan meminta mereka mesti bertemu.

Pada hari-hari berikutnya, Sharma kerap ditanya teman-teman sekantornya dari mana luka itu berasal. Namun gadis itu tahu, mengumpulkan uang untuk sesi bersama profesional dan menceritakan segalanya akan lebih baik.

Hingga hari itu, Sharma mendapati lingkaran ungu kehitaman melingkar di lengan teman satu kantornya. Gadis itu kemarin mengetahui bagaimana temannya bertengkar hingga saling tarik di depan kantor dengan pacarnya. Kejadian itu sampai ditonton banyak orang kantor dan mesti dilerai dua orang satpam.

“Kalau kamu nggak mau cerita juga nggak mengapa. Kamu butuh ruang dan saya nggak akan mengolok kamu lemah.”

Ada haru yang memenuhi wajah teman sekantor Sharma itu dan ia pun mulai menangis. Tidak ada cerita, hanya tangis. Satu yang Sharma pahami meski tidak pernah sempat membaca buku serupa si aktivis itu, ia tidak berhak mendikte kapan tangis temannya mesti berhenti.

Thursday, April 18, 2019

Kata Pengantar Skripsi dan Kenangan-kenangan yang Dibawanya Pulang

Sumber: Gugel

Barangkali bagimu, menulis ucapan terima kasih dalam kata pengantar adalah finalnya dari skripsi, finalnya lelahmu. Kamu ingat bagaimana usahamu menyembunyikan buku rangkuman kecil di antara paha, saat UTS selama enam semester. Kamu ingat bagaimana nyerinya jarimu, mengirim pesan singkat pada mana saja kakak tingkat yang kira-kira masih menyimpan makalah tugasnya terdahulu, biar kamu tinggal print dan ganti nama. Kamu ingat juga bagaimana kerasnya usahamu memerpanjang durasi presentasi, supaya dosen lupa menagih tugas yang belum kamu kerjakan hari itu.


Namun, apalagi yang lebih susah dari menulis ucapan terima kasih? Paragraf-paragraf standar seputar ucapan terima kasih pada Tuhan, dengan segala puji-pujiannya, kemudian apa? Kamu mesti mulai dengan nama-nama, tidak lupa dengan kalimat singkat soal sebab nama-nama itu dicantumkan.

Kamu kemudian memulainya dengan nama dua dosenmu, dosen pembimbing satu dan dua. Soal urutan yang pertama ini, kamu memulainya dengan meniru skripsi-skripsi yang terdahulu. Pikirmu, ini tidak akan terlalu sulit. Ketik saja gelar dan nama kedua dosenmu itu, sebut mereka sebagai pembimbing skripsimu hingga selesai, akhiri kalimatnya dengan tanda titik.

Dosen pembimbingmu itu, keduanya lelaki enam puluhan. Kamu ingat bagaimana soal UTS bikinan dua dosen gaek itu semasa kuliah. Ada dua kata yang selalu menyertai pertanyaan bikinan mereka, apa dan sebutkan. Semua jawabannya ada di buku rangkuman kecil itu, kamu tinggal membukanya yang ada di antara dua pahamu. Tidak perlu analisis, jawabannya sudah pasti.

Kamu pun tidak perlu khawatir buat berbagi jawaban dengan teman-teman yang duduk di sekitaran bangkumu. Saat dua dosenmu itu memertanyakan mengapa jawabanmu dan teman-teman yang duduk di sekitaran bangkumu itu bisa sama persis, maka kamu tinggal jawab,”Apa yang kami hafalkan sebelum ujian pun sama persis, Pak…”

Dari kedua dosenmu itu, tidak ada lagi yang terlalu kamu ingat. Tidak ada yang istimewa dari materi kuliah mereka, kecuali tiga lembar foto copy rencana pembelajaran di awal pertemuan dan bagaimana mereka berdua membacakan isi buku yang dibawanya tiap pertemuan, serupa dekte semasa kamu SD. Tidak ada juga wejangan berarti serupa ayah terhadap putra putrinya, semasa kamu masih kuliah. Hanya ucapan dua dosenmu itu, ketika pertemuan pertama bimbingan skripsi yang kamu ingat, keduanya berkata nyaris serupa, “Skripsi itu cuma formalitas, Jen. Mau baik atau buruk hasilmu, nilainya pun akan sama rata. Baiknya, kamu segera selesaikan saja kemudian lulus dan cari pekerjaan.”

Kamu tersenyum tipis. Tombol enter kamu tekan dari komputermu yang kemudian otomatis memunculkan angka dua. Poin nomor satu, yang memuat nama dua dosen pembimbingmu itu sudah tuntas. Poin nomor dua, juga kamu isi serupa skripsi-skripsi terdahulu yang kamu pernah lihat, isinya nama kedua orang tua.
Sebentar kemudian, kamu melirik sebingkai foto yang ada di nakas, sebelah kasurmu. Kamu menegakkan duduk dan merasakan nyeri di punggung akibat terlalu lama duduk di kursi kayu menghadap komputer pentium dua yang dibeli second oleh papamu itu. Setidaknya, kamu rasa jauh lebih beruntung ketimbang teman-temanmu. Kamu masih punya komputer, bisa mengetik segalanya dalam kamar, sedang teman-temanmu masih harus pergi ke rental atau memergunakan jasa pengetikan.

Sekali lagi, kamu lihat foto yang ada di atas nakas itu. Ada kamu, mama dan papamu di sana. Usiamu saat itu masih tujuh dengan rambutmu hitam kemerahan, terlalu banyak terkena sinar matahari. Hobimu memanjat pohon jambu yang dulu ditanam di halaman belakang. Mamamu kemudian membunuh pohon itu, menyiram akarnya dengan oli. Akar-akarnya bikin tembok retak, katanya.

Kupingmu berdenging kemudian, membuat kamu terpaksa menutupnya dengan dua tangan, meski tidak ada guna. Suara-suara pecahan beling bersusulan dalam kepalamu, kupingmu, bahkan dadamu. Papamu ada di hadapanmu, dia tersenyum manis. Saban pagi, papamu itu memasak nasi goreng buat mama dan kamu. Sekadar nasi putih sisa kemarin yang dicampur bawang merah dan kecap. Namun, menurutmu nasi itu yang paling lezat. Dan sepanjang yang kamu ingat, mamamu itu gemar merangkul manja di lengan papa, selagi nasi goreng sedang diaduk.

Denging yang makin menusuk kuping itu mulai berkurang. Anehnya, jari-jarimu justru gemetar saat hendak melanjutkan mengetik. Kali ini, mama ada di hadapanmu. Satu gigi depannya mama, nampak bergoyang ketika tersundul lidahnya sendiri. Ada juga lebam kebiruan di mata kiri mama. Kamu melihat papamu berdiri dengan tangannya yang mengepal di hadapan mama. Tidak salah lagi, papamu pelakunya. Dia yang membikin satu gigi mamamu bergoyang dan mata kirinya lebam. Kamu melihatnya sendiri, saat tinju papa mendarat di muka mamamu berkali-kali dan itu sudah yang kesekian…

Tubuh mamamu nampak gemetar. Namun, wajahnya justru nampak datar. Pikirmu, mamamu itu perempuan yang tabah. Sebentar kemudian kamu mendelik, karena mendapati papa dan mamamu saling menempelkan bibir dan bertukar kata-kata cinta. Perutmu serasa diaduk, singkatnya ada mual yang merajah perutmu dan itu sudah yang kesekian…

Napasmu mulai berkejaran. Pikirmu, barangkali berhenti saja menulis ucapan terimakasih. Setidaknya, berhenti satu atau dua jam atau… selamanya. Seperti yang sudah kamu pikir di awal tadi, ini bakal sulit.

Air mata merembes pelan-pelan, melewati dua pipimu. Kamu tahu, kamu tidak bisa berhenti. Bagi orang lain, ucapan terimakasih bisa jadi sekadar formalitas dan bagimu, jika boleh memilih, biar skripsimu tanpa ucapan terimakasih saja. Namun, tanpa ucapan terimakasih, skripsimu akan nampak kurang ajar selama-lamanya dan terpajang di perpustakaan. Kamu hanya ingin… nampak normal dengan ucapan terimakasih dalam skripsimu itu, yang menyebut dosen pembimbing, kedua orang tuamu, kekasihmu dan teman-temanmu. Hanya itu… kamu hanya ingin berpura-pura lengkap lewat itu semua.

Sebentar kemudian, kamu buru-buru kembali menegakkan kepala. Cepat-cepat kamu kembali mengetik. Nama papamu, mamamu, beserta gelar mereka. Tidak seperti ucapan terimakasihmu di poin pertama, kali ini ucapanmu lebih mesra dan memuat kata cinta. Perutmu terasa seperti kembali diaduk, namun kamu buru-buru menarik napas kemudian menahannya cukup lama, coba melupakan rasa mual yang merajah perutmu itu.

Pada poin yang ketiga, kamu menuliskan namanya Maria, sahabatmu sejak SMA. Maria memiliki tubuh sangat kurus, kulit coklat dan mata bulat yang jernih. Kamu ingat, foto-fotomu di media sosial didominasi oleh fotomu bersama Maria. Kalian sangat lekat, bahkan hingga kuliah di kampus yang sama, namun beda fakultas.

Maria… ya… Maria. Perempuan itu memang sahabat baikmu, namun hubungan kalian tidak benar-benar mesra sepenuhnya. Saat kalian kelas 11, kamu mendapati Maria berkirim pesan dengan pacarmu, cinta pertamamu. Pacarmu dan Maria menyepakati sebuah pertemuan buat melepas hasrat mereka berdua di sebuah losmen, satu jam dari pusat kota letaknya. Selanjutnya, kamu diamkan Maria hingga setahun berikutnya. Maria telah memohon maaf berkali-kali, namun kamu selalu menolaknya, pun ketika pacarmu itu coba memohon maaf yang serupa. Baru setelah kamu diam-diam berhasil melepas hasratmu bersama pacarnya Maria, kamu mendatangi gadis berambut lurus itu, kamu bilang kamu sesungguhnya sudah memaafkan dia jauh sebelum dirinya memohon maaf. Kamu mengatakan, dirimu dan Maria adalah sesama perempuan yang mestinya tidak patut saling memusuhi. Sedang pacarmu? Mengingat dia sebagai cinta pertamamu, hanya membuat perutmu seperti diaduk, pun memandangi wajahnya.

Menahun berikutnya, kamu terus mengamati Maria. Diam-diam, kamu selalu bisa menyepakati waktu, agar bisa melepas hasrat dengan pacar-pacar barunya Maria. Kamu hampir saja ingin berhenti, ketika melihat Maria yang setia menemanimu saat demam di kamar kostmu, selalu. Namun, tiap kamu hendak berhenti, perutmu jadi serasa diaduk saat menatap wajahnya Maria. Mual itu merajah lagi perutmu. Kemudian, kamu memutuskan tidak akan lagi pernah berhenti.

M-A-R-I-A, Maria Larasati. Kamu mengeja namanya Maria dengan hati-hati, takut ada huruf yang tertinggal. Sudah kamu putuskan, bahwa nama Maria akan seterusnya kamu kenang, lewat ucapan terima kasih dalam skripsimu. Dengan nama yang terkenang selamanya itu, akan membuatmu juga terus ingat bahwa tidak akan ada kata berhenti. Ya… kamu tidak akan berhenti melepas hasrat dengan siapapun pacarnya Maria.

Jari-jarimu mengetik tombol enter, membuat angka empat otomatis muncul. Seperti pernah kamu rencanakan, poin nomor empat adalah tempatnya nama kekasihmu. Tapi tunggu… kekasihmu yang mana? Abdi atau Wiguna? Mana dari dua nama itu yang bakal kamu tulis. Bukannya… kamu punya dua orang kekasih?

Memiliki lebih dari seorang kekasih sesungguhnya tidak pernah kamu rencanakan. Kamu selalu ingin satu. Kenyataan jadi bukan satu-satunya saat bersama pacar pertamamu dulu, membuatmu tahu bagaimana rasanya kosong. Kamu tidak ingin membikin orang lain sama kosong denganmu, sesungguhnya. Namun, setiap kali kamu coba memiliki satu saja kekasih, perutmu rasanya seperti diaduk, ada mual yang merajah. Pun ketika kamu coba sendiri saja, kosong itu seperti mengejar tepat di belakang punggungmu. Jadi, kamu putuskan punya dua, tidak lebih. Bagimu, mual akan lebih menyakitkan dari perasaan kosong. Kalau pun saling menyakiti, kamu pun tidak ingin lebih banyak orang lagi yang terlibat.

Keringat dingin sekarang meleleh membasahi ujung dahi hingga lehermu. Jari-jarimu kali ini kaku. Kamu tidak bisa berhenti, kamu ingin hidupmu nampak lengkap melalui ucapan terimakasih itu. Namun, siapa yang akan kamu tulis? Abdi atau Wiguna? Celakanya, kamu ingat punya panggilan kesayangan yang berbeda pada dua lelaki itu. Menyebut salah satu, berarti sama dengan menyebut nama masing-masing dari mereka. Sekali lagi, seperti pikiranmu di awal tadi, menulis ucapan terimakasih akan jadi hal menyusahkan. Hingga kemudian, kamu putuskan untuk mengosongkan dulu poin yang mestinya berisi nama kekasihmu. Atau… kamu sebut saja mereka berdua dengan satu kata, kekasih? Ah… agaknya kamu betul-betul memilih memikirkan poin ini belakangan. Yang jelas, kamu harus bersama lebih dari satu kekasih, keduanya tidak boleh lepas atau mual itu bakal merajah lagi.

Kamu kemudian malah mengetik poin selanjutnya, nama jurusan dan angkatanmu juga si koordinator kelasmu itu, sahabat semua orang. Kamu dan si koordinator berambut gondrong itu, bersahabat sejak mahasiswa baru. Dia pandai memersatukan orang banyak dan seorang penyemarak. Pacarnya seorang ketua himpunan, yang usianya dua tahun lebih tua, Manda namanya. Manda yang lugu dan terkenal sangat baik dalam akademis maupun organisasi. Keduanya juga jadi macan di ruang-ruang diskusi dan kamu mengagumi pasangan yang kamu pikir saling bangun itu, pada mulanya. Kamu jatuh cinta pada koordinator itu, sekaligus mengagumi Manda.

Namun, satu waktu si koordinator itu saling goda denganmu di kamar kost saat kalian berdua mengerjakan makalah bersama, hasrat itu pun lepas dan setelahnya dia bilang padamu,”Meski ini semua sudah terjadi… kita nggak mungkin bareng, Jen. Seburuknya laki-laki macam saya, tentu saya punya dambaan punya pasangan yang lugu seperti Manda. Jaminan terbaik buat keturunan saya kelak.” Kamu kemudian hanya tergelak, seolah tidak merasa nyeri di dada mendengar ucapan si koordinator itu. Kalian selanjutnya terus bersahabat tanpa lagi pernah melepas hasrat. Kamu bertekad agar si koordinator itu tidak akan pernah tahu nyeri di dadamu itu. Semenjak saat itu, perutmu serasa diaduk dan mual kembali merajah, setiap membayangkan Manda yang lugu bakal hidup bersama koordinator itu.

Manda dan kamu kemudian lebih sering bertemu. Kamu mengatur kedekatan kalian, hingga Manda menginap di kostmu dan kamu menginap di kostnya Manda, hingga kalian saling cerita soal keluarga dan menangis, hingga kalian saling dekap, hingga kalian saling menempelkan bibir, hingga kalian… melepas hasrat masing-masing. Semakin sering kamu melepas hasrat bersama Manda, bayangan soal gadis lugu yang bakal menikahi si koordinator bajingan itu tidak lagi mengganggu kamu, mual itu juga tidak lagi merajahmu. Maka, tidak ada kata yang lebih pantas buat si koordinator itu, selain namanya ditulis dalam ucapan terimasih. Jika tidak karena dia, kamu juga tidak mungkin bisa dekat dengan orang sepengertian Manda. Ya… meski mungkin kamu tidak bisa gamblang berterimakasih karena apa.

Kamu menggeliat, merasakan otot punggung yang makin lelah. Beberapa kali, kamu menekan tomblo backspace, kemudian mengetik ulang nama itu dan menekan tombol backspace, kemudian mengetik ulang nama itu lagi dan kemudian menekan tombol backspace lagi. Selanjutnya, kamu hanya diam dan sudah lewat empat menit dan kamu tetap terpaku di depan layar komputer. Mendadak layar komputermu menjadi hitam berbarengan dengan lampu kamar yang padam dan jerit kaget para penghuni kost lainnya.

“Bangsat! Pemadaman bergilir lagi.” Rutukmu, sambil membayangkan file ucapan terimakasih yang belum kamu simpan dan mesti kamu ketik ulang beserta kenangan dan segala rasa mual yang menyusul.

Maka aku mulai menggeliat, kujatuhkan tubuhku dari dinding yang menempel ketat. Kamu menghampiri tubuhku yang pecah jadi kepingan. Melalui kepingan-kepingan tubuhku yang terserak, kamu melihat bayangan dirimu sendiri di usia tujuh, kali pertama kamu mengaitkan aku pada paku di dinding kamar rumah lamamu. Kegemaranmu adalah mematut diri di hadapanku, mencari-cari bayanganmu. Menahun berikutnya, kamu gemar membawa aku kemana-mana, berpindah-pindah kost dan juga mengajak aku bercerita.

Matamu berkaca-kaca sebentar kemudian. Kamu ambil satu keping serpihan tubuhku dan kemudian mulai menggoreskannya di pergelangan tangan kirimu dengan jari-jari yang gemetaran. Pertama kali dalam hidup, aku melihat wajah paling damai pada dirimu. Dan memang aku yang membantu kamu mencapai kedamaian itu…

Akhir alternatif:

Dibuat Minggu, 27 Agustus 2023

Maka aku mulai menggeliat, kujatuhkan tubuhku dari dinding yang menempel ketat. Kamu menghampiri tubuhku yang pecah jadi kepingan. Melalui kepingan-kepingan tubuhku yang terserak, kamu melihat bayangan dirimu sendiri di usia tujuh, kali pertama kamu mengaitkan aku pada paku di dinding kamar rumah lamamu. Kegemaranmu adalah mematut diri di hadapanku, mencari-cari bayanganmu. Menahun berikutnya, kamu gemar membawa aku kemana-mana, berpindah-pindah kost dan juga mengajak aku bercerita.

Matamu berkaca-kaca sebentar kemudian. Kamu ambil satu keping serpihan tubuhku yang mencelat dan kemudian menempelkannya paksa serpihan demi serpihan pada kerangkaku.

Kamu memandangi serpihan tubuhku yang retak di sana-sini. Kamu tahu menjadi utuh bukan bab yang mudah tapi setidaknya...

Warga kos bersorak tiba-tiba. Listrik menyala lagi dengan lampu kecil di CPUmu yang berkelip.

Friday, April 27, 2018

Omam dan Gigi-Gigi yang Tanggal

Sumber: Gugel


Jika kamu tidak mau gosok gigi, maka gigi-gigimu akan tanggal, Omam…
Ucapan Mommy terus berkelebat di kepala Omam. Namun, rasa pasta gigi yang menurutnya pedas dan pahit, melulu membuat dia kabur ketika Mommy menyuruhnya gosok gigi. Pikir Omam, Mommy tidak pernah mengerti betapa dia benci rasa pasta gigi. Jika sudah begitu, Mommy mulai menjerit kemudian menarik kupingnya keras-keras hingga terasa panas dan kemerahan.
Maka gigi-gigimu akan tanggal, Omam…
Lagi-lagi ucapan Mommy berkelebat. Lidah Omam mulai merabai salah satu gigi bagian atasnya dan gigi itu bergoyang-goyang seperti sebuah tanda bakal lepas dari gusi. Maka Omam gelisah.
“Jangan-jangan, ini karena Omam tidak mau gosok gigi.” Bisik Omam sambil menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal yang dipeluknya erat.
Omam gemeteran. Jika betul giginya bakal tanggal, Mommy mestinya akan menarik kupingnya lebih keras dari biasanya.
***
            Omam bergelayut manja sepanjang perjalanan pulang sekolah pada gadis berkulit sawo matang itu. Omam memanggilnya Nanny. Dia pikir, itu memang nama gadis dua puluh tahunan yang sejak tiga tahun belakangan mulai menggantikan posisi Mommy menyuapi, mengantar dan menjemput sekolah, menggantikannya baju hingga menemaninya tidur itu.
            Tidak seperti Mommy, Omam pikir nanny lebih mengerti. Di laci kamarnya, Nanny menyimpan sebuah pasta gigi warna merah jambu yang rasanya manis, mirip permen-permen kesukaannya. Mommy selalu bilang, Nanny cuma bersikap memanjakan Omam dengan pasta gigi semanis itu untuknya gosok gigi. Namun, Nanny tetap menggunakan pasta gigi itu buat mengajaknya gosok gigi ketika Mommy tidak sedang berada di rumah.
Pada kenyataannya, Mommy memang lebih sering berada di luar rumah, mengendarai mobil hitamnya yang mengilat. Dulu, Omam sering bertanya kemana Mommy pergi, namun jika sudah begitu, Mommy pasti menjerit dan membentaknya, menolak menjelaskan. Rekaman jeritan dan bentakan Mommy membuat Omam mudah tergagap, berkeringat dan menggigil ketika menghafal huruf, atau pada hal lain yang baginya sebuah ketegangan.
“Mommy pergi untuk bekerja, Sayang. Untuk membayar uang sekolahmu, juga untuk memberi uang pada Nanny.” Lagi-lagi berbeda dengan Mommy, Nanny menjelaskan pertanyaan yang sama dengan lebih lembut. Ini sama seperti ketika dia mengganti pasta gigi yang pedas dan pahit itu dengan pasta gigi manis yang membuat Omam lebih ingin sering gosok gigi, sambil sesekali menelan air bekas pasta gigi manis itu dalam kerongkongannya, meski Nanny sudah berkata ‘jangan’ berulangkali.
Ketika Omam menolak memberesi mainan, jeritan dan bentakan Mommy pasti mampir lagi di kupingnya. Sedangkan Nanny, dia selalu mengiming-imingi Omam dengan permen dan coklat jika dia mau memberesi mainan. Permen dan coklat, semuanya Nanny keluarkan dari dalam lacinya. Lagi-lagi, menurut Mommy, yang dilakukan nanny kelewat memanjakan Omam.
Salah satu jeritan Mommy, sering berisi soal makanan manis yang bisa merusak gigi Omam satu waktu nanti. Nanny hanya ingin membuatnya bersemangat memberesi mainan dengan permen-permen itu, setidaknya itu menurut Omam. Jelas beda dengan Mommy yang hanya bisa membuatnya gemetaran dengan jeritan dan bentakan.
Andai saja mommy bisa seperti nanny. Pikir Omam. Mommy tidak pernah mengerti!
***
Seperti hari-hari sebelumnya, jelang makan malam, Mommy belum juga pulang. Omam mengunyah makanan lambat-lambat. Dia merasakan nyeri pada gigi bagian atasnya yang sekarang terasa bergoyang lebih sering.
Nanny meliriknya curiga. Namun Omam malah cepat-cepat berlari menuju kamar mandi dan menyambar sikat gigi, padahal nasi di piringnya baru tersentuh beberapa sendok. Terburu-buru dia mengoleskan pasta gigi yang biasa disodorkan Mommy dan membuatnya kabur biasanya.
Gigi-gigimu akan tanggal, Omam…
            “Omam…” panggil Nanny lembut sambil menepuk pundaknya dari belakang, hingga tubuhnya berjingkat karena kaget.
            Nanny memandang heran kali ini. Mulut Omam penuh dengan busa, sedang pasta gigi yang habis dia gunakan juga tergeletak di lantai. Pasta gigi yang biasanya dia benci. Nanny menyuruhnya berkumur kemudian kembali ke meja makan.
            Bola mata Omam mulai berair. Ini pasti karena Omam menolak pasta gigi dari mommy. Pikirnya.
            “Pasta gigi Nanny yang merusak gigi Omam. Kata Mommy, makanan manis tidak baik buat gigi Omam. Pasta gigi itu manis seperti permen.”
            Nanny menggeleng pelan, mungkin nyaris tidak kelihatan oleh Omam.
            “Coba buka mulutmu…” ucap Nanny lembut. Dia kemudian mengamati tiap sudut gigi-gigi Omam. Satu gigi bagian atasnya kelihatan miring, mungkin nyaris lepas. Itu biasa terjadi pada seorang anak yang hendak berganti gigi.
            “Besok kita ke dokter gigi, oke?”
            Omam menggeleng keras-keras.
            “Hmm… kalau begitu biarkan dia lepas sendiri.”
            “Kalau Mommy tahu?”
            “Serahkan pada Nanny. Nanny punya laci ajaib yang bisa mengubah gigimu menjadi benda lain.”
            Omam mengangguk. Pada Nanny, dia percaya.
***
            Omam tergugu sambil menyerahkan giginya yang tanggal pada Nanny. Nanny mengelus kepalanya pelan sambil berkata,”Kamu tahu, Omam? Gigi yang tanggal ini, bisa berubah menjadi uang. Dia tanggal untuk berubah menjadi uang dan gigimu tanggal memang sudah semestinya, bukan karena pasta gigi yang Nanny berikan padamu, Sayang.”
            Pelan-pelan Omam berhenti tergugu.
            “Itu artinya, Mommy tidak akan marah?”
            “Tentu tidak, Sayang.” Nanny membungkus gigi Omam dengan kertas tisu kemudian meletakkan gigi itu di atasnya. Dia selanjutnya membungkus dan meletakkan gigi itu ke dalam laci.
            “Apa gigi itu akan berubah menjadi uang?”
            “Kita lihat besok, oke?” Ucap Nanny sambil tangannya menggandeng Omam keluar dari kamarnya.
***
            Mata Omam berbinar ketika mendapati gigi yang semalam ada dalam balutan tisu itu berubah menjadi uang koin.
            “Laci ajaibnya bekerja bukan?” Tanya Nanny.
            Kepala Omam mengangguk kencang. Laci milik nannynya itu memang selalu menyimpan banyak benda menyenangkan. Seperti halnya pasta gigi manis, permen dan coklat.
            “Laci Nanny benar-benar ajaib!”
            “Dan untuk membukanya, kamu juga memerlukan kunci ajaib ini,” Nanny mengeluarkan sebuah kunci dengan butiran keemasan dari dalam saku bajunya.
            Mata Omam berkilat, dia hendak meraih kunci itu dari telapak tangan Nanny. Namun, Nanny buru-buru menutup telapak tangannya hingga membuat Omam merengek.
            “Kunci ini hanya Nanny yang bisa menggunakannya. Jika orang lain memaksa menggunaknnya, dia akan tersambar petir.”
            Omam mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Dia sekarang mengerti, bahwa kunci itu memang tidak boleh dia sentuh.
***
Dari jendela kamarnya, Omam melihat Mommy keluar dari dalam mobil sebelum makan malam. Buru-buru Omam berlari menghampiri Mommy sambil tangannya menggenggam koin yang dia pikir benar berasal dari giginya. Omam mulai berpikir, jika saja Mommy mau menimbun gigi-giginya di dalam laci Nanny, tentu dia tidak perlu pergi keluar rumah sepanjang hari buat mencari uang sekolahnya dan uang untuk diberikan pada Nanny.
“Mommy lihat, uang ini berasal dari gigiku!” jerit Omam sambil berjingkat-jingkat.
Mommy hanya diam. Bola mata Mommy kelihatan merah. Dia terus melangkah menuju ruang tengah. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki paruh baya keluar dari dalam mobil dan menyusul langkah Mommy. Lelaki berjenggot tipis yang sangat asing bagi Omam itu, mengekor Mommy pergi ke ruang tengah dan melewati Omam begitu saja.
Mommy berteriak memanggil nanny supaya membawa Omam masuk dalam kamar. Nanny kemudian menarik tubuh Omam yang mulai meronta untuk masuk ke dalam kamar.
Tubuh Omam tersasa makin menggigil ketika berada di dalam kamar bersama Nanny. Nanny berusaha menutup kuping Omam dengan dua tangannya, namun dia tetap mendengar Mommy yang saling berbalas bentakan dengan lelaki asing yang baru datang tadi.
“Apa dalam laci nanny tidak ada benda ajaib untuk membuat laki-laki tadi berhenti membentak Mommy?” tanya Omam sambil berusaha meredam tubuhnya yang menggigil.
Nanny hanya menggeleng sambil terus menutup dua kuping Omam dengan telapak tangannya.
“Aku mohon pada kamu, Maria. Kita bercerai saja, oke? Aku harus kembali pada anak dan istriku,” suara lelaki itu mulai lebih pelan. “Soal putramu itu, aku tidak pernah menyuruhmu membiarkan dia lahir, bukan?” kemudian terdengar suara langkah kaki yang tergesa dan pintu yang dibanting.
Tangisan Mommy mulai kedengaran, makin jelas dan makin keras.
***
            Omam mendapati satu gigi bagian bawahnya bergoyang pagi ini. Dia berjalan berjingkat-jingkat mendatangi kamar Nanny, hendak mengabarkan soal giginya yang akan tanggal dan keinginannya meminjam laci Nanny setelah giginya itu benar-benar tanggal.
            Dia cukup senang, karena selama beberapa hari belakangan, Mommy sepanjang hari hanya berada di rumah. Selama beberapa hari itu pula, dia selalu berjalan berjingkat-jingkat karena senang.
            Namun ternyata, Nanny tidak didapatinya di kamar. Dia kemudian melanjutkan pencariannya ke dapur, ruang tengah, ruang tamu, kamarnya sendiri hingga kembali ke kamar nanny. Tidak ada Nanny di mana pun…
            “Mommy!” jerit Omam.
            Mommy berlarian dengan kaki yang basah bekas dari kamar mandi.
            “Di mana Nanny, Mommy? Di mana Nanny?”
            “Dia pergi. Mommy tidak bisa lagi memberinya uang, jadi dia pergi.”
            Omam mulai berguling-guling di lantai sambil menjerit dan menangis. Mommy melenggang meninggalkannya, dengan bola mata yang terlihat lebih merah daripada kemarin.
            Kemudian, Omam ingat pada laci ajaib milik nanny. Dia bangkit dan berusaha mencari kunci laci itu, dia harus membuka laci itu tidak peduli dirinya akan disambar petir.
            Sambil menahan dadanya yang masih pengap. Omam memandangi laci milik Nanny. Tidak ada lubang kunci pada laci itu dan memang tidak pernah ada. Nanny hanya ingin Omam tidak sewaktu-waktu bisa membuka laci itu untuk menghabiskan semua coklat dan permen dalam sekali santap. Dia juga tidak ingin Omam tahu, bahwa dirinya yang menukar gigi Omam dengan uang koin.
            Tangan Omam menarik laci hingga semua permen, coklat dan kotak-kotak pasta gigi berserakan di lantai.
            Omam meraup semua permen dan coklat itu, dia berusaha melahapnya sekali santap. Dia berharap gigi-giginya akan segera tanggal, kemudian laci itu akan mengubahnya menjadi uang yang dapat membuat Nanny kembali…

Catatan: 2016 lalu, saya menantang diri saya sendiri untuk menulis sesuai tema lomba dan cerpen ini jadinya wkwk. Tentu sudah saya perbaiki perkara ejaan dan lain-lain ketika hari ini saya unggah.