Showing posts with label Muat. Show all posts
Showing posts with label Muat. Show all posts

Thursday, December 5, 2024

Gerak Bersama Lawan Kekerasan Seksual; Jangan Salah Fokus!

 

Dimuat dan dapat pula dibaca di Konde.co

Jangan salah fokus untuk menuntaskan kasus kekerasan seksual. Dengan berbagai alasan, pelaku sering meminta korban untuk diselesaikan secara damai atau diproses hukum secara berbelit-belit. Maka, jangan pernah salah fokus, tetap fokus ke penuntasan dan hak korban!


Upaya meruntuhkan para korban untuk menuntaskan kasusnya sudah banyak kita dengar. Dengan berbagai alasan, pelaku sering meminta korban untuk:

“Diproses saja secara hukum.”

“Diselesaikan saja secara kekeluargaan.”

“Diselesaikan saja secara damai.”

“Menjegal” para korban untuk menuntaskan kasusnya dengan proses hukum yang berbelit-belit memang mempersulit korban. Mereka harus mencari pendamping yang bisa mendukung, mencari psikolog sambil menuntaskan kasus hukumnya. Bisa saja kasusnya harus dibawa ke polisi, lalu ke pengadilan. Banyak sekali tenaga dan waktu yang harus digunakan korban untuk menuntaskannya. Belum lagi mengobati rasa sakit dan trauma yang belum tentu bisa hilang dalam hidupnya

Sayangnya, banyak yang masih beranggapan bahwa sebuah kasus tidak akan valid jika tidak diproses secara hukum. Meski sesungguhnya, ada dua jalur yang dapat diambil dalam kasus kejahatan termasuk kejahatan seksual, yaitu melalui jalur litigasi (pengadilan) dan non litigasi (di luar pengadilan). Penyerahan kasus atas permintaan pelaku pada korban melalui jalur hukum kadang hanya agar kasus ini lama diselesaikan dan pelaku terlepas dari sorotan publik

Perlu diingat, jalur non litigasi artinya bukan berdamai dengan pelaku, apalagi mempertemukan paksa antara pelaku dengan korban. Jalur non litigasi salah satunya dapat dilakukan dengan mengajukan berbagai bukti yang telah divalidasi melalui lembaga kredibel, agar pelaku mendapatkan sanksi dari tempatnya bekerja atau lembaga tempatnya mengenyam pendidikan. Sanksi dari lembaga pendidikan salah satunya dapat diajukan melalui jalur etik. Upaya ini dilakukan agar setidaknya di salah satu lingkungannya, pelaku berhenti mencari mangsa.

Selain penjegalan pada para korban, penjegalan juga sering dialami pendamping korban. Ternyata banyak kasus atas upaya penjegalan pada para pendamping korban ini, para pendamping korban juga ada yang menerima kekerasan mental dan fisik secara langsung, penghancuran karakter pendamping juga pernah terjadi dan kerap pula dilancarkan pelaku dan para pendukungnya agar publik tidak lagi berpihak kepada korban.

Belajar dari kasus intimidasi dan kekerasan fisik terhadap pendamping korban yang terjadi di salah satu pondok pesantren di Jombang, kasusnya memang sudah bergulir semenjak 2019 di ranah hukum dan kini pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka, namun kekerasan terhadap pendamping masih terjadi pada Mei 2021. Kronologi tersebut beredar melalui Instagram Front Santri Melawan Kekerasan Seksual atau @for.mujeres. Saat kejadian, pendamping korban didatangi enam orang laki-laki dewasa yang mengancam hingga membenturkan kepalanya ke dinding.

Lebih jauh, upaya semacam ini tentu saja menyasar tidak hanya terhadap korban/ penyintas, namun juga menyasar hingga lembaga yang menaungi penanganan kasus. Seperti apa saja upaya penjegalan yang kerap dilakukan pelaku?

Apa saja informasi yang dihembuskan oleh pelaku kepada lingkungan korban dan pendampingnya?

1.Pelaku menghembuskan informasi tentang kecacatan moral korban

Pelaku dan para pendukungnya menghembuskan kabar soal kecacatan moral korban. Mereka akan mencari-cari bagaimana gaya berpacaran korban hingga interaksi korban dengan lawan jenis. Faktanya akan digiring sedemikian rupa hingga publik menyimpulkan korbanlah yang mengundang kekerasan seksual tersebut bisa terjadi. Akhirnya, publik akan menormalisasi perbuatan pelaku.

2.Pelaku mencari kejelekan pendamping korban

Pelaku dan para pendukungnya kerap juga mencari-cari latar belakang organisasi, ideologi, hingga orientasi politik pendamping. Para pendamping dicitrakan secara buruk dan punya dendam pribadi

3.Pelaku mencitrakan dirinya sebagai orang yang berjasa

Pelaku membentuk citra seolah ia adalah figur yang sangat berjasa di lingkungannya, meski sesungguhnya semua hanya citra dan demi mencari mangsa. Publik yang semula mendukung penuh korban, lama-kelamaan sebagian mulai menarik dukungan. Mereka mulai menyangsikan sepak terjang korban dan pendampingnya, sehingga fakta kejahatan pun diragukan pernah ada. Lama-kelamaan publik mengartikan ini sebagai validasi bahwa kejahatan itu tidak pernah ada.

Kita semua tentu juga berharap, publik selalu berpikir kritis, yaitu tetap berpijak pada fakta bahwa kekerasan atau pelecehan seksual itu ada, jangan mau dibelokkan dengan informasi yang dibuat-buat dan tak relevan.

Mengandalkan perangkat hukum semata tentu tidak mudah dalam mengakhiri lingkaran kekerasan semacam ini. Sebagai bagian dari masyarakat, kita mesti turut andil menjadi sistem pendukung karena penyintas adalah kita semua yang berani bersuara!


(Foto/ ilustrasi: Pixabay)


POPPY TRISNAYANTI PUSPITASARI

Pegiat perempuan muda dan aktif di Jaringan Gusdurian 


Catatan:

Tulisan sudah disunting dengan gaya khas Konde

Wednesday, July 17, 2024

Surat Cinta Untuk Cimoy 'Nuraini' Montok

 

Moy, apakah para orang dewasa di sekitarmu pernah mengatakan risiko dari menunjukkan diri sebagai seorang Cimoy? Apakah mereka bilang bahwa viral adalah industri? Pilihannya hanya dua; perayaan cinta atau kebencian. Bisa juga kamu memilih di antaranya, namun prosesnya bakal agak panjang. Kamu mesti menunjukkan apa kemampuanmu. Menyanyi? Akting? Apa pun yang tanpa sensasi. Tapi bukankah menjalani industri yang tanpa sensasi bakal cukup lama mendapat hasil?

Moy, saya pernah melihat Prabowo ‘Mondardo’ Alpenliebe main sinetron di MNC. Pengamen Jalanan Terkenal Karena Viral di Media Sosial judulnya dan akting Bowo di sana baik sekali. Cowok yang kabarnya dekat denganmu ini tampaknya berbakat soal akting. Saya harap, ia lebih banyak diajak main sinetron dan bahkan film. Tidak hanya itu, harapan saya kamu pun dapat kesempatan serupa. Mungkin kedekatan kalian bisa membangun dengan belajar akting bareng.

Moy, jangan dengerin orang-orang yang suka jahat sama kamu ya. Kamu harus ingat kalau kamu adalah remaja lima belas tahun normal yang butuh aktualisasi diri. Semua orang di usia yang sama memang begitu. Orang-orang yang suka menghujat kamu mungkin lupa kalau mereka juga cari pengakuan di umur yang sama dengan kamu. Saya harap mereka berhenti membebani kamu dengan standar yang mereka ciptakan ya, Moy.

Moy, saya pernah melihatmu melakoni wawancara di salah satu channel Youtube. Setiap perkataanmu yang dianggap kasar atau nyeleneh oleh mereka justru mendapat sorakan dan tepuk tangan. Barangkali ini membuatmu mendapat konfirmasi bahwa yang kamu lakukan itu lucu, menyenangkan hingga disetujui. Padahal ternyata, channel tersebut membuka deskripsi yang memungkinkan orang berkomentar apa pun tentangmu. Mereka pula yang meletakkan pin pada komentar orang yang mengolokmu. Semoga lain kali nggak ada lagi channel toxic kayak gini lagi ya, Moy.

Moy, saya juga melihatmu diundang stasiun televisi swasta bersama seorang Youtuber yang umurnya lebih tua darimu. Orang-orang dewasa di stasiun televisi itu terus menggosok pertikaian kalian. Apakah di balik layar mereka mengajarkan padamu caranya menyelesaikan konflik? Ataukah mereka memberimu contoh bagaimana cara menjual pertikaian? Orang-orang dewasa seperti itu jangan pernah dicontoh ya, Moy. Mereka hanya peduli dengan popularitas, tapi nggak pernah peduli dengan nilai. Itu contoh orang dewasa yang buruk. Jangan jadi seperti mereka.

Moy, Nyai Nikita Mirzani pergi ke rumahmu dan melihat keadaan keluargamu. Saya melihat kerasnya kehidupan keluargamu dan barangkali mereka tidak bisa mengikuti dalam duniamu yang sekarang. Mereka mungkin juga tidak bisa memberimu saran mesti mendekat atau menjauhi teman yang bagaimana. Tapi yakinlah, Moy… Nyai benar soal kamu mesti sekolah. Katakan pada manajermu, penghasilan mesti disisihkan buat sekolah. Tentu tidak harus formal, kamu bisa ambil paket B dan C yang tidak menganggu waktumu bermain dan bekerja di dunia hiburan. Entah apa kelak fungsinya ijazahmu, buktinya baru bisa dirasakan barangkali lima tahun lagi.

Moy, orang-orang dewasa di sekitarmu sekarang barangkali terus mengarahkanmu buat mengasilkan uang. Tapi, Moy… sungguh kamu berhak menuntut mereka yang lebih berpengalaman di dunia hiburan dan lahir lebih dulu darimu itu untuk jujur mengatakan, berapa lama cara-cara yang mereka berikan padamu itu bertahan dan bagaimana hidupmu kelak berlanjut ketika setuju dengan apa yang mereka tawarkan.

Moy, bersenang-senanglah. Ini semua popularitasmu dan hasil kerja kerasmu. Namun dirimu sendiri harus menjamin, ada pendidikan dan tabungan untuk hari-harimu berikutnya. Jika orang dewasa di sekitarmu tidak mengarahkanmu buat mendapat dua hal ini, kamu tentu berhak menuntutnya karena ini sekali lagi popularitasmu, juga kerja kerasmu. Mereka tentu turut andil tapi bukankah pemantiknya adalah kamu?

Yang terakhir, Moy. Semoga kamu selalu sehat dan produktif. Masamu masih panjang. Lindungi dirimu sendiri karena saat ini, kamu adalah penghasil popularitas dan uang yang siapa pun ingin mendekat meski entah ingin berteman atau tidak.

Ditulis dan dimuat April 2020. Beserta editan khas tim Mojok.

Tuesday, August 15, 2023

Negara, Peliknya Administrasi dan Hidup Orang-orang Biasa

Sumber: ideide.id

Dimuat dan dapat dibaca di ideide.id

La Muli tidak dibuka dengan adegan mengerikan. Lembar-lembar selanjutnya pun, tidak dihiasi orang yang mati bunuh diri, adegan seks tersurat hingga pembantaian. Bagi pembaca yang terbiasa mengonsumsi sastra serius dengan cerita menghentak dan berdarah-darah, La Muli barangkali mengejutkan. Namun bagi pembaca yang sebelumnya pernah membaca karya lain dari Nunuk Y. Kusmiana, ketiadaan hal-hal ekstrim tadi tentu tidak bikin terkejut.

Lengking Burung Kasuari (LBK), menjadi karya perdana Nunuk yang menjadi naskah unggulan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016 lalu. Nyaris serupa dengan La Muli, LBK menceritakan kehidupan sehari-hari pendatang di tanah Irian Jaya. Jika LBK menceritakan kehidupan keluarga tentara kelas menengah yang pendatang dari Jawa, La Muli sebaliknya. La Muli justru menceritakan kehidupan kelas bawah keluarga nelayan pendatang dari Buton.

Pergulatan keluarga dalam LBK dan La Muli pun nyaris serupa, harus ada upaya bertahan hidup, mengakali penghasilan dan penyesuaian diri dengan budaya-budaya di tanah rantau. Meski tentu saja, persoalan air hingga sanitasi tidak dialami sama sekali oleh kelas menengah dalam LBK, beda betul dengan kelas bawah dalam La Muli yang salah satu permasalahan utamanya adalah hal satu ini.

LBK di awal hingga akhir novel menyajikan sudut pandang putri tertua keluarga tentara yang berusia tujuh tahun. Sedang La Muli sebagai naskah unggulan Sayembara Novel Basabasi 2019, menyajikan sudut pandang orang ketiga dalam sebagian besar jalan ceritanya. Gaya berbahasa dalam La Muli pun tidak berbunga-bunga. Pergantian waktu, latar dan para tokoh yang berhadapan selalu ditandai satu paragraf penjelas tanpa diksi-diksi sukar.

Pantainya landai. Pasirnya hitam. Air lautnya kotor. Mungkin pengaruh dari pasir yang hitam itu. Kampung itu belum benar-benar bangun, kecuali sekelompok kecil nelayan yang baru pulang melaut. (hal 117)

Sinar mentari siang memancar ganas. Seolah ingin menghanguskan apa saja. Di dalam gereja hantaman sinar mentari siang teredam sedikit oleh langit-langit. Angin mengalir masuk dari jendela-jendela yang terbuka. Mengusir pengap yang terperam di dalam ruangan. (hal 124)

Tapi bagaimana La Muli yang tanpa kalimat berbunga dan hampir minim adegan ekstrim menjadi menarik buat terus dibaca? Semua ternyata bertumpu pada lokalitas yang bukan tempelan. Dialog dibuat berbahasa Indonesia kental logat Papua. Meski demikian, Nunuk tidak memaksakan kosakata lokal yang harus dijejalkan catatan kaki agar pembaca mengerti. Lokalitas Papua yang disajikan pun jauh dari koteka, upacara bakar batu dan hal-hal yang biasa dicap primitif dan disajikan di media massa. La Muli justru menunjukkan pergerakan masyarakat urban di tahun 1980an yang ternyata juga terjadi di Papua.

Salah satu poros permasalahan dalam novel ini adalah persoalan administrasi. Dapat dikatakan, peliknya administrasi menjadi sosok antagonis alias penghalang bagi para tokoh utama. La Muli si pendatang mesti dihadapkan dengan kekagetannya soal pembentukan er-te alias Rukun Tetangga. Rutinitasnya sebagai nelayan pun kerap berubah, ketika mesti berkenaan dengan persoalan warga yang katanya wajib jadi tanggungan ketua er-te. La Muli dan sesama pendatang lainnya di tahun tersebut ternyata buta soal perapihan administrasi dan pembentukan perangkat kampung. Hal tersebut ditunjukkan dalam dialog halaman 11 sebagai berikut:

“Apa persisnya tugas ketua er-te?” celetuk salah satu peserta rapat.

“Salah satunya berhubungan dengan administrasi. Mencatat nama-nama penduduk. Membuat rekomendasi kalau penduduk ingin mendapatkan surat rujukan untuk membuat ka-te-pe, atau membuat surat pengantar untuk mengurus surat kelakuan baik. Contoh surat rekomendasinya seperti ini.” kata Obet sambil mengambil selembar blanko isian.    

Tidak jauh berbeda dengan La Muli, suku Kayo Batu mesti juga menyesuaikan diri dengan perapihan administrasi. Persoalan tanah adat dan peralihan pemerintahan dari Belanda hingga akhirnya Indonesia, menjadi hal yang suku asli Jayapura ini mesti perjuangkan. Perjuangan soal tanah adat tersebut ditunjukkan dalam dialog halaman 157.

“Bagaimana kalau saya pelajari lebih teliti berkas-berkasnya?” tambah gubernur. “Lebih-lebih setelah pengambilalihan kekuasaan dari pemerintah kerajaan Belanda ke pemerintah Republik Indonesia, yang tersisa hanya masa lalu yang sudah selesai. Singkat kata, peristiwa ini terjadi di masa lalu dengan pemerintahan yang bebeda. Saat ini bapak-bapak berhadapan dengan perwakilan pemerintah Republik Indonesia. Akan saya pelajari dan memberikan jawaban tertulis. Begitu lebih baik?”

Tidak ada perang si jahat melawan si baik dalam novel ini. Baik La Muli dan orang-orang suku Kayo Batu hanya menjalani kehidupan sehari-hari dengan usaha apapun yang mereka bisa. Mereka tidak memahami atau terlalu peduli dengan pergolakan politik, peralihan kekuasaan dan sejenisnya. Yang mereka lakukan hanya memerjuangkan hak dan makan dari keringat sendiri. Mula-mula kehidupan pendatang dan suku asli Jayapura ini pun cenderung tanpa gejolak, jika saja perapihan administrasi tidak tiba-tiba hadir kemudian memaksa mereka mengikutinya.

Nunuk telah memotret lokalitas yang betul-betul tidak bisa ditempelkan jika latar belakangnya selain Jayapura. Ada persoalan sejarah hingga peralihan kekuasaan yang goncangannya membuat novel setebal 196 halaman ini bergerak dinamis. Para tokoh yang berprofesi sebagai polisi dan tentara tidak lepas juga dalam jalan cerita. Mereka ini yang diceritakan menjaga perdamaian di tanah Irian Jaya meski ternyata, kebijakan yang dibuat turut pula membikin rumit kehidupan masyarakat kelas bawah karena tidak disesuaikan adat setempat. Tokoh berseragam lain, ada pula yang digambarkan menempuh kebijakan demi mempermudah urusan negara di tempat dirinya bekerja, sekalipun menyadari telah menyalahi hak orang lain.

Kesenjangan antara kebijakan, perapihan administrasi dan juga diterapkannya dua hal tadi tanpa mengindahkan adat setempat yang ternyata menyumbang depresi dalam diri para tokoh La Muli. Semuanya terasa serba tiba-tiba. Dari kehidupan mereka yang dulunya datar dan sekadar memenuhi kebutuhan perut, namun tiba-tiba mesti berlarian memenuhi aturan-aturan baru dari orang-orang berseragam yang digambarkan sangat pula para tokoh ini hormati. Masih orang-orang berseragam ini pula yang ternyata hampir semuanya berasal dari luar Jayapura. Hal demikian yang barangkali juga menyumbang kebijakan-kebijakan yang ditelurkan dan paksa diterapkan pada akhirnya tanpa melihat adat sekitar.

Para penulis yang berambisi mengemukakan tema-tema lokalitas, agaknya mesti betul-betul menguliti La Muli agar apa yang diusung bukan lagi hanya tempelan, apalagi sekadar drama percintaan urban yang paksa diberi latar pantai dan profesi nelayan. Sebuah cerita yang di mana saja latarnya diganti sekalipun, bukan menjadi masalah. Demikian barangkali akan serupa La Muli, yang memang bukan sekadar novel dengan tempelan latar pantai, profesi nelayan dan kosakata berbau daerah yang padanan katanya sukar dicari dalam Bahasa Indonesia.

Halaman terakhir novel ini pun tidak betul-betul menunjukkan kesedihan atau kebahagiaan yang terang. Para tokoh ditunjukkan mesti terus melanjutkan hidup yang tidak tahu bagaimana ujungnya. Mereka yang kemudian tidak sengaja memilih, hidup dipermudah negara atau kemanusiaan antar orang-orang biasa. Kemudian Nunuk dalam La Muli barangkali pula ingin menyampaikan, sastra serius yang apik tidak mesti dibuka dan ditutup dengan kejadian-kejadian tragis.

Tampilan di ideide.id

Sumber: ideide.id

Sunday, October 30, 2022

Potret Tanpa Kamera

 

Sumber: 30 Hari Bercerita

Tulisan ini adalah upaya mengurai ingatan yang terlalu detail sampai pernah bikin depresi di usia 21 tahun. Ya, bayangkan saja, saya dulunya nggak bisa memilih ingatan apa yang mesti tinggal dalam kepala. Sudah begitu, ingatan ini dimulai di usia satu setengah tahun.

Ini adalah denah kelas semasa saya Taman Kanak-kanak. Ada dua pintu yang kini saya kenali sebagai utara dan selatan. Pintu selatan menghadap ke halaman belakang yang isinya mainan semacam perahu perahu besar dan pintu utara menghadap ke halaman depan yang isinya mainan semacam perosotan.

Ada empat bangku yang terdiri dari dua persegi panjang dan dua persegi. Bangku persegi panjang diisi sepuluh anak, sedang bangku persegi diisi empat anak. Kalau kamu lihat lingkaran kuning itu, di situ saya duduk sampai lulus Taman Kanak-kanak.

Semalam, saya ingat Romadhon, teman yang SJW itu duduknya di mana. Tapi ternyata, pagi ini ingatan itu sudah lepas. Iya, Romadhon ini pembela kebenaran. Pernah saya ceritakan di blog bagaimana dia di antara perebutan kursi merah yang jumlahnya tidak banyak. Dia tidak mau kursi merah, tapi selalu mengembalikan kursi merah yang direbut pada pemiliknya.

Sedang di meja empat yang dekat pintu utara itu, ada... Sebut saja dia Mikasa begitu ya. Mikasa ini duduk tepat di kiri saya dan sama kuat dengan Romadhon. Anak ini bisa mempimpin, banyak bossynya juga dan budak cinta dengan teman sebangkunya bernama Eki.

Jadi tiap pagi, si Mikasa berburu kursi merah dengan merebut milik siapa saja untuk dirinya dan Eki. Nggak jarang, anak ini bertengkar juga dengan si SJW Romadhon, sudah begitu hampir selalu depan bangku saya pula.

Tentu saja semasa Taman Kanak-kanak, saya bukan tokoh utama seperti Romadhon, bukan juga Mikasa apalagi Eki. Sejak kecil saya memang sudah jahanam, suka nonton pertikaian, mengamati dan next levelnya... Hari ini dibuat bahan ghibah ketika dewasa. Bisa jadi jika di dunia shinobi, saya ini tipe ninja sensor macam Karin.

Akhir sembilan puluhan, kamera tentu saja mewah. Sekolah pun terlihat pegang kamera hanya ketika kegiatan besar saja. Dan ternyata, punya memori kegedean begini ada asyiknya juga.

Tuesday, May 25, 2021

Menyoal Depresi Pasca Melahirkan, Anak-anak dan Pelabelan

Sumber: basabasi.co

Dimuat di basabasi.co 14 Desember 2019

Judul : SILSILAH DUKA
Penulis : Dwi Ratih Ramadhany
Penerbit : Basabasi
Edisi : Pertama, September 2019
Tebal : 134 hal
ISBN : 978-623-7290-21-6

Dibuka dengan adegan mengerikan Ramlah yang bunuh diri disaksikan putri pertamanya, Silsilah Duka seperti menagih untuk terus dibaca tanpa jeda. Meski tetap dengan gaya bahasa Ratih yang khas, novela ini tidak menyajikan tata bahasa yang berbunga-bunga dengan diksi-diksi cukup berat layaknya dalam buku keduanya, Pemilin Kematian (PSM, 2015).

Pemilin Kematian sendiri terdiri dari cerita pendek yang telah dimuat di koran nasional dan memenangkan perlombaan. Memang gaya menulis yang disajikan Ratih di sana bisa dibilang pekat beraroma cerpen koran atau cerpen ala kompetisi. Dan langkah Ratih yang tidak menghilangkan gaya bahasanya, namun memangkas diksi-diksi sukar seperti biasa ia menulis di media nasional, memberi dampak novela ini tetap berbobot namun tidak membuat pembaca terengah-engah.

Novela ini bisa juga dikatakan membawa pemahaman mengenai depresi pasca melahirkan yang tidak tekstual. Tokoh Mbuk Jatim misalnya, menjadi gambaran bahwa masyarakat yang tumbuh dalam tradisi tidak primitif juga. Mbuk Jatim si dukun pijat bayi, mengerti psikologi dalam hal praktik. Ia memahami bagaimana seseorang mengalami depresi dan bagaimana sebab juga akibatnya, hanya saja ia kalah dalam penggunaan istilah sukar. Terlihat dari bagaimana Mbuk Jatim meyakinkan Farid yang sarjana dan pegawai, bahwa istrinya diliputi ketakutan hingga tekanan mental dan bukannya kesurupan apalagi kurang iman.

Lain dari Mbuk Jatim, tokoh Ebo’ yang juga tumbuh dalam tradisi masih dihinggapi mitos bahwa ciri-ciri seseorang yang histeris dan menangis adalah kesurupan dan bukannya gangguan kesehatan mental. Berbagai sebab di masa lalu, membuatnya terobsesi mengatur hidup orang lain, termasuk hidup anak-anak dan menantunya yang sudah masuk usia dewasa. Luka akibat kegagalan menata hidupnya sendiri, membuat Ebo’ tidak kunjung sembuh bahkan hingga memiliki cucu. Meski sebenarnya perempuan yang telah lama kehilangan suaminya itu tengah membuat mekanisme pertahanan hidup dengan berupaya ingin dianggap ada dan mampu menata hal-hal yang seharusnya. Lantas masih ia pula yang lari dari lukanya yang tidak kunjung sembuh, dengan membuat hidup orang lain terasa selalu salah. Jika hidup orang lain selalu salah, maka menjadi benarlah hidupnya. Tokoh mertua Ramlah dan ibu kandung Farid ini terasa sukses membuat pembaca ingin menjambak habis rambutnya tepat pada omelannya yang ketiga kali.

Salah satu omelan Ebo’ ketika memaksa menantunya pijat tradisional meski kesakitan, begini isinya,“Ramlah nggak akan mati karena dipijat begitu. Kamu berani bilang Ebo’ serakah? Lupa kamu keluarnya dari tampuk siapa? Ini lagi menantu suka ngadu. Masih untung Farid nggak saya suruh kawin lagi.” (hal 20)

Farid sebagai seorang suami juga sebenarnya sudah memegang prinsip “hamil berdua”. Istilah ini belakangan populer untuk menyebut suami yang turut andil ketika istrinya hamil hingga merawat anak. Berasal dari masyarakat yang penuh tradisi, tidak membuat Farid membedakan “pekerjaan lelaki” dan “pekerjaan perempuan”. Hal ini seperti menggugat anggapan sebagian orang bahwa pria lokal tidak berpikiran terbuka sehingga enggan melakukan pekerjaan rumah juga punya andil mengurus dan mendidik anak-anak. Masih Farid pula, yang melakukan prinsip “hamil berdua” tanpa teori yang melangit. Dia mencintai Ramlah, istrinya itu, dan melakukan segala hal yang sepakat mereka sebut sebagai sama-sama nyaman.

Lingkungan Ramlah pun sesungguhnya sudah sangat ideal, ya jika saja Ebo’ tidak bersikap sedemikian ajaib begitu. Selain suaminya yang menerapkan “hamil berdua”, masih ada Kholila, iparnya yang lajang dan mahasiswi tingkat akhir, mendukung kehamilannya dengan cara mengirim tips-tips selagi hamil dan melahirkan dari YouTube. Diam-diam melalui novela ini, kita juga bisa belajar sikap mana yang tepat dan tidak tepat ketika menghadapi orang hamil, lagi-lagi tidak secara tekstual dan di luar teori-teori berat. Pula bagaimana kita turut andil menciptakan lingkungan yang positif bagi seseorang yang tengah hamil.

Selain menunjukkan penguasaan yang cukup baik mengenai isu depresi setelah melahirkan, Ratih juga ternyata menguasai psikologi anak. Persoalan psikologi anak dilebur secara apik dalam dialog dan gaya penceritaan. Bahaya pelabelan bagi anak menjadi salah satu yang paling menonjol dalam cerita. Ratih tidak mendikte pembaca dengan kalimat teoretis semacam, bahaya pelabelan bagi anak adalah dan contoh-contohnya adalah. Dalam perkara pelabelan ini, Ratih justru menceritakannya melalui Mangsen yang entah bagaimana berkulit jelaga dan beda sekali dengan anggota keluarga lainnya.

Secara apik Ratih menggambarkan anak-anak sebaya yang enggan bermain dengan Mangsen karena dianggap aneh. Konsep aneh ini ternyata tidak didapat sendiri oleh anak-anak tersebut. Mereka mendapatkannya dari orang dewasa di sekitar. Figur orang dewasa yang dianggap serba tahu dan maha benar oleh anak-anak, membuat mereka membenarkan label soal Mangsen yang sengaja ditularkan. Pada akhirnya, berdasar label tersebut, anak-anak ini merasa sah saja menjauhi Mangsen yang berbeda. Toh, ini peraturan tidak tertulis dari para orang dewasa bukan?

Persoalan warisan label tersebut, tergambar dalam salah satu paragraf di halaman 74. Begini isinya; mereka enggan mengajak Mangsen bergabung karena telah dibekali peringatan orang tua masing-masing bahwa Mangsen tidaklah cocok menjadi teman mereka. Kulitnya berbeda. Ayah dan ibunya pasti berbuat banyak dosa. Jangan dekat-dekat supaya tidak ikut celaka.

Sayangnya, pada dua bab terakhir, Ratih terasa terburu-buru dan banyak menyajikan jalan cerita yang berulang telah disajikan terlebih dahulu dalam karya fiksi sejenis. Pijakan kuat dari bab-bab sebelumnya seolah lumayan bergoyang pada dua bab terakhir ini. Bahkan ada adegan-adegan yang mirip sinetron kejar tayang. Meski demikian, salah satu seri novela dari kompetisi penerbit Basabasi ini, bisa dibilang memberi edukasi soal pendidikan keluarga terhadap pembaca melalui cerita kelam yang di luar nalar. Silsilah Duka tetap layak mendapat tepuk tangan dan semoga, makin banyak penulis serupa Ratih yang tidak hanya menjual cerita kelam namun juga nilai-nilai yang dekat bila dipraktikkan dalam keseharian.


Catatan: Sejak 2019 sering lupa habis ngetik tulisan simpan di mana dan habis dimuat nggak dikliping di blog. Ini nyicil yang lupa-lupa itu yes.

Dokumentasi tampilan website.
Sumber: basabasi.co


Tuesday, November 10, 2020

Menangkal Perundungan Lewat Webtoon Lokal Eggnoid

Sumber: Dihlyz Yasir dan WAG Pelangi Sastra Malang

Dimuat di Jawa Pos Radar Malang, 12 Februari 2020

Kasus MS (13) masih terus bergulir dan dikawal ketat media lokal hingga nasional. MS sendiri merupakan siswa SMP Negeri 11 Malang yang mengalami luka parah, setelah menjadi target perundungan atau lebih populer disebut bullying, oleh tujuh orang temannya.

MS tentu tidak sendiri. Kasus perundungan menurut data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan dilansir melalui Jawa Pos, 23 Juli 2019, pada enam bulan pertama 2019 saja, sudah tercatat 13 korban dan 13 pelaku. Tujuh di antaranya, korban perundungan di sekolah sedang sisanya, di media sosial. Tentu kasus-kasus yang sempat diangkat media, belum mewakili jumlah keseluruhan yang terjadi di lapangan. Demikian membuat upaya menangkal perundungan, semestinya bukan hanya menjadi tugas guru yang saat ini memiliki beban berat administrasi dan orang tua yang belum tentu bisa memantau perbedaan sikap anak antara rumah dengan sekolah. Apalagi mendengarkan ceramah mengenai perundungan, saat ini belum tentu menjadi sesuatu yang menarik lagi. Maka Webtoon, agaknya dapat menjadi salah satu solusi menyosialisasikan isu perundungan kepada anak dan remaja.

Webtoon merupakan platform komik yang mewadahi karya-karya komikus asal Asia. Platform yang telah berdiri semenjak tahun 2003 ini, memiliki berbagai genre yang telah dipublikasikan, Eggnoid menjadi salah satunya. Eggnoid yang memiliki genre fiksi ilmiah dan fantasi ini, merupakan karya Archie The Redcat. Archie sendiri merupakan komikus berkebangsaan Indonesia yang telah meniti karir semenjak tahun 2000.

Eggnoid mengisahkan remaja SMA bernama Kirana yang lebih akrab disapa Ran. Ran seorang yatim piatu dengan fisik yang disepakati banyak orang sebagai cantik dan prestasi akademis sangat baik. Namun nyatanya, dua hal yang biasanya dianggap sebagai kelebihan ini, tidak membuat Ran lolos dari target perundungan. Para pelaku, mencari celah soal Ran yang kesulitan bergaul dan kikuk. Bermodal dua sebab tadi, para pelaku mendapat dorongan bahwa Ran layak dirundung kemudian. Hingga dalam hidupnya yang sepi, sesak dan betul-betul merasa sendiri, Ran menemukan sebuah telur misterius yang di dalamnya terdapat anak laki-laki bernama Eggy yang kelak menjadi teman baiknya.

Jalan cerita Eggnoid berlangsung apik, berikut bersama penokohannya yang matang. Setiap tokoh termasuk Ran sendiri, selayaknya remaja di kehidupan nyata, memiliki perkembangan emosi akibat dari kejadian-kejadian yang dialami. Komikus Eggnoid pun, ternyata pernah mengalami perundungan semasa masih bersekolah. Demikian agaknya, membuat isu perundungan dalam komik yang telah difilmkan 5 Desember 2019 lalu ini, menjadi tajam, berisi dan menyentuh.

Selain melalui petualangan memecahkan asal-usul Eggnoid, Ran dengan kehidupan sekolahnya pelan-pelan berubah lebih matang. Ia pada muaranya menemukan cara bergaul dan lebih mengenal diri sendiri. Dengan mengenali diri, Ran jadi memahami permasalahannya soal tidak tahu cara bergaul. Kemampuan bergaulnya itu kemudian, membawanya menemukan teman-teman baik. Gadis berambut merah itu pula, yang menemukan cara melawan para perundungnya baik secara psikis maupun fisik. Ini belum lagi, bagaimana Archie sebagai komikus, mampu menggambarkan para perundung dengan begitu manusiawi.

Digambarkan para perundung Ran, memang ada yang secara terang-terangan tidak menyukainya dan bersikap kasar. Namun ada pula, yang memilih benci dengan sembunyi-sembunyi hingga menghasut teman-teman lain bersikap serupa. Bahkan ketika akhirnya Ran berhasil bersikap asertif, melawan perundungan secara psikologis dan menguasai seni beladiri hinggga bisa melawan perundungan secara fisik, tidak semua pelaku mau mengaku salah. Ada juga pelaku yang terpaksa meminta maaf hanya karena ketakutan dengan regulasi sekolah, ada yang masih menyimpan dendam, bahkan ada pula yang menggunakan kekuasaan orang tuanya buat menyerang balik.

Pelaku perundungan, apapun alasannya tetaplah pelaku, begitu kiranya yang hendak disampaikan dalam Eggnoid. Mereka pula yang menikmati ketika menekan dan melukai sesama teman dengan mencari-cari segala pembenaran. Hingga Ran, yang secara fisik dan kecerdasan dianggap orang-orang bakal membuat sungkan para pelaku sekalipun, masih juga menjadi korban. Sikap asertif, yaitu berani berkata ya atau tidak, juga disisipkan sebagai solusi atas perundungan yang dialami Ran. Sedang tindakan fisik sendiri sampai dipergunakan karena keterpaksaan, sebabnya korban perundungan sendiri juga mengalami tindakan fisik.

Jika masuk pada obrolan anak dan remaja demi menyosialisasikan isu perundungan tidak semua orang mampu, mengapa tidak dimulai dengan Eggnoid dan Webtoon? Apalagi, tidak semua anak dan bahkan orang dewasa sekalipun, nyaman mencerna isu perundungan melalui teks panjang. Platform Webtoon sendiri dapat diakses melalui playstore secara gratis hanya dengan bermodalkan internet. Menghawatirkan muatan konten pornografi? Konten pornografi memiliki jaminan telah disaring oleh pihak Webtoon sebelum sebuah komik beredar. Genre dan peringatan soal level usia pun dimiliki platform yang pada 2016 telah memiliki 35 juta pengguna tersebut. 

Bahkan bukan hanya anak dan remaja, orang dewasa sekalipun, dapat mengikuti jalan cerita Eggnoid. Gambar yang berwarna, cerita yang menghibur, pula sarat pendidikan namun tidak menggurui, agaknya bakal lebih mudah diserap anak dan remaja soal isu perundungan. Apalagi, dengan sosok komikusnya yang inspiratif, di mana ia sendiri dulunya adalah korban perundungan namun berhasil bertahan dan justru karyanya telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

Kasus MS memang serupa puncaknya gunung es, ia tampak namun bukan menunjukkan keseluruhan. Dilansir dari situs resmi KPAI, 10 Februari 2020, dalam kurun waktu sembilan tahun yaitu 2011 hingga 2019, ada 37.381 pengaduan kekerasan terhadap anak. Untuk perundungan baik di dunia pendidikan maupun di sekolah sendiri terdapat 2.473 laporan dan terus meningkat. 

Harapan agar tidak terjadi kasus serupa juga terasa utopis jika semua pihak, apalagi yang memiliki kuasa regulasi, tidak betul-betul berniat mencegah untuk kasus yang belum terjadi dan melindungi korban untuk kasus yang telah terjadi. Memerkenalkan komik dengan tema perundungan pun, hanya salah satu langkah pencegahan. Menjadi menarik barangkali, ketika bacaan menyenangkan serupa komik dengan isu demikian mulai dibicarakan di rumah, hingga masuk ke sekolah dan menjadi bacaan juga bahasan resmi, misalnya pada jam literasi atau mata pelajaran Bimbingan dan Konseling. 

Jadi bagaimana? Mulai tertarik membahas Eggnoid bersama anak di rumah dan sekolah? 


*Poppy Trisnayanti Puspitasari, Gusdurian.

Friday, August 14, 2020

Rahim

Sumber: Gugel

Apa yang lebih mengerikan? Ketimbang hidup seorang perempuan yang tanpa rahim dan lagi tanpa suami? Orang-orang hanya akan berpikir hidup seorang perempuan bakal penuh kemalangan, tidak ada yang menjaga dan betapa butuh pertolongan. Namun, pikir Farra, semuanya bakal selesai hari ini. Hari di mana ia resmi bersuami dan semua saksi berteriak, sah!

Setelah sekian lelaki berusaha ia tancapi tali-tali berwarna kuning dalam darah dan nadi mereka, pada akhirnya, ada satu lelaki yang dengan mantap datang kepada kedua orang tuanya, memintanya jadi istri. Hanya jawaban iya, mengalir dari bibir kedua orang tua Farra. Perkara sakit putrinya di hari lalu dan bagaimana rahimnya itu mesti diangkat, yakin mereka si calon suami telah mengetahui segalanya dari Farra. Setidak-tidaknya mereka yakin, satu saat bisa meninggalkan dunia tanpa khawatir anak gadis berwajah manisnya itu mesti dijaga oleh siapa.

Hingga enam tahun pernikahan itu berjalan, orang-orang terus berbisik-bisik bagaimana rumah tangga mereka harmonis tanpa pertengkaran berarti, meski mustahil hadir seorang anak. Sebagian dari mereka berpikir, cinta sejati telah memersatukan segala kekosongan. Meski saban hari, Farra terus dikejar rasa cemas tiap kali tali-tali kuning dalam darah dan nadi suaminya itu menipis. Karena tiap tali menipis, lelaki itu mulai memertanyakan mengapa Farra tidak mengatakan sejak awal soal sakitnya di masa lalu dan bagaimana rahimnya bisa menghilang. Namun, dalam setiap kopi yang disajikan, Farra kembali memasukkan tali kuning serupa. Tali-tali itu berasal dari dalam kotak rahasianya yang disimpan di bawah ranjang.

Dalam setiap kopi yang disajikan, cinta tanpa syarat itu kembali hadir. Cinta yang katanya tidak peduli Farra memiliki rahim atau tidak. Cinta yang membuat kuping buntu oleh ocehan sebagian lain kerabat dan tetangga, soal ketidakjujuran Farra mengenai rahimnya dan terlalu beruntungnya perempuan itu hingga bisa menemukan cinta sejati.

Dan menahun berikutnya, Farra tetap memaksa suaminya itu menghirup kopi buatannya, meski kata dokter, asam urat membikin lelaki itu sememangnya berjarak dengan kopi.

Ada derap yang mencekam dalam dada Farra, selalu, setiap harinya...


Edit 12 Agustus 2023:

Merupakan juara favorit Kompetisi Fiksi Mini Puan Menulis #BreakTheBias International Womens Day (IWD) 2022.



Sunday, March 1, 2020

Nasab

Sumber: Gugel
Dimuat dan dapat dibaca di Empuan.id

Ruang perawatan bayi selalu berisik ketika lewat tengah malam. Sayangnya, orang-orang tidak pernah mendengar setiap bisik dan jeritan yang saling balas dari kami, para bayi dalam kotak-kotak kecil berisi kasur hingga inkubator.

Hari ini, teman kami Petra kembali setelah sebelumnya diadopsi bos pabrik kretek besar selama sehari. Ya, kami sepakat memanggilnya Petra, setidaknya sampai ibu dan bapak barunya memberi nama lain.

“Mereka baru sadar kaki saya melengkung. Jadi bapak dan ibu baru saya itu, mengembalikan saya kemari. Si Rahmad yang gemuk dan berkaki lurus, menggantikan posisi saya pagi ini.” Ucap Petra datar.

Bagi kami yang tidak berbapak dan beribu, cerita-cerita semacam milik Petra adalah hal biasa. Pernah pula, teman kami Putri dikembalikan ke rumah sakit karena orang tua barunya menyadari, ada selaput putih tipis di mata kirinya. Petra dan Putri adalah cacat. Dan bagaimana jika benar mereka cacat hingga dewasa dan tidak bisa menanggung masa tua bapak dan ibu yang mengadopsi?

Lain Putri, lain pula Kartika. Lahir dengan bobot di atas rata-rata dan kulit merah muda, tiga calon orang tua langsung merubungnya di hari yang sama. Dan lagi, orang tua Kartika meninggalkannya di rumah sakit karena keadaan tidak berpunya dan kelahirannya pun di dalam nikah.

Bagus yang tidak kunjung keluar dari inkubator, hanya mampu berkedip pelan, menanggapi segala obrolan kami yang berisik lewat tengah malam. Ia beda cerita lagi dengan kami semua di sini. Bagus memiliki ayah dan ibu yang memang melahirkannya prematur. Mereka tentu akan segera membawa ia pulang, sekeluarnya dari inkubator. Ayahnya pun kerap memandanginya dari kaca besar yang membatasi ruang kamar. Mata berkaca-kaca ayahnya itu, membuat kami selalu saling berteriak, menyemangati Bagus agar segera sehat dan keluar dari inkubator.

Dan hari itu, pasangan suami istri berpenampilan bersih, mencari anak perempuan buat diadopsi. Ini sudah yang keempat kali, semenjak saya berada dalam ruangan ini. Bersama perawat, pasangan suami istri empat puluhan itu berkeliling dalam kamar. Penampilan saya yang tidak kalah menarik dibanding Kartika, membuat mereka menoleh. Saya diangkat si istri dengan penuh kasih kemudian.

Namun, ketika si suami berbisik pada perawat tentang asal usul saya dan si perawat menjelaskan, si istri memandang dengan kecewa lantas kembali meletakkan saya di atas kasur. Si perawat mengalihkan pilihan pada Putri dan pasangan itu setuju.

Ya, meski cacat. Bayi-bayi yang lahir dari pasangan dalam nikah, jauh lebih diinginkan ketimbang saya. Saya yang lahir dari pasangan di luar nikah. Dan bagaimana jika ketika dewasa, saya kemudian mengulangi lingkaran setan hamil di luar nikah, lantas membikin malu orang tua yang mengadopsi?

Dokumentasi tampilan website.
Sumber: Empuan.id


Monday, December 16, 2019

Tentang Skripsi, Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah yang Meneliti Media

Sumber: Dokumentasi pribadi

PLS maupun bukan, untukmu yang mau mbaca lengkap dan belajar bareng, sila komen dengan email. Gretong tjuy.

Penelitian di media massa tentu bukan hal baru bagi anak komunikasi, tapi tidak begitu bagi anak PLS. Iya, saya ternyata anak PLS a.k.a Pendidikan Luar Sekolah, setelah bukan empat atau lima kali dikira anak sastra atau psikologi. Penelitian ini jauh dari sempurna, tentu saja. Tapi dari sini, kita jadi tahu PLS ruang lingkupnya bukan hanya pelatihan, PKBM, manajemen PAUD dan blusukan ke desa-desa.

Media massa, adalah bentuk pendidikan informal yang lebih jauh dikupas menggunakan pisau teori public pedagogy atau pendidikan melalui ruang publik di sini.

Pada mulanya, saya mengenal teori ini dari mas Tara yang waktu itu S2 PLS dan mengajar di kelas ketika saya semester 1. Beliau mengajar bersama pak Zulkarnain. Selanjutnya, saya dan dua teman perempuan pernah membahas mengenai alun-alun Batu sebagai bentuk public pedagogy di mata kuliah pak Hardika yang waktu itu mengajar bersama bu Niswah S2 PLS. Ketika teman-teman yang lain membahas PKBM dan lainnya sebagai bentuk PLS, kami tidak.
Sumber: Dokumentasi pribadi

Rasa penasaran terhadap pendidikan publik yang sampai lulus tidak ada mata kuliahnya ini, berlanjut hingga skripsi. Apalagi semasa kuliah, saya bertemu komunitas belajar di Malang yang juga bentuk pendidikan publik, di mana siapa saja bebas datang dan bahkan tidak sadar tengah belajar. Meski kesenangan saya di komunitas waktu itu, menimbulkan pertanyaan,"Poppy ragu sama PLS ya? Kok di komunitas sastra? Kok dulu nggak masuk sastra saja? Dulu masuk sastra gagal dan nyasar di PLS ya?" Fyi, PLS itu pilihan pertama saya waktu kuliah. Dan belajar sesuatu yang tidak ada di mata kuliah bukan berarti kamu aneh atau sesat pikir.

Juga gaess, blog pun sebenarnya adalah bentuk pendidikan publik. Jadi blog dengan alamat yang sekarang dan dibangun dari 2013 ini, sebenarnya sekalian saya praktik PLS. Menyajikan bacaan alternatif yang gaya penyajiannya tidak bisa masuk media tertentu. Mulai dari cerita bagaimana membedakan penerbit indie kredibel dan ala-ala sampai hampir dikibuli oknum MLM.

Terakhir, teman-teman yang membaca kiriman ini dan barangkali ingin penelitian dengan teori sejenis, mari 💪

Catatan: Terimakasih untuk skripsi Adin Ariyanti Dewi yang berjudul Studi Tokoh Sanapiah Faisal Saleh. Skripsi ini banyak membantu saya.

Juga terimakasih untuk teman-teman yang datang sempro dan aktif berpendapat: Wiwin, Rian, Angel, Okta, Aziz, Hari, Akbar, Anny dan lainnya.

Tulisan ini dikopi dari kiriman instagram, Oktober 2019.

Monday, July 1, 2019

Kisah Berakhirnya Hubungan Saya dengan Sahabat yang Bercadar

Sumber: Magdalene.co

Dimuat di Magdalene.co 10 April 2019
Di tahun kedua kuliah, enam tahun lalu, lini masa Facebook saya dihebohkan oleh catatan dari seorang sahabat bernama Sandy. Isinya menyoal pilihannya memakai cadar, dan bagaimana sikap guru SMK kami dulu, orang tua hingga tetangga yang menurutnya tidak begitu mendukung pilihannya itu. Para tetangga mengejeknya sebagai “ninja”.
Membaca catatan itu, saya menangis. Namun alih-alih berusaha mengobrol apalagi menyentuh hatinya, saya malah berkubang dalam rasa sakit hati dan jengah akibat upaya Sandy yang rutin mengirimkan artikel dari akun dakwah di dinding Facebook saya. Salah satunya menyebut Facebook serupa dinding ratapan yang tidak layak dipergunakan umat Islam.
Sandy dan saya mulai dekat sejak awal masuk SMK di Malang, ketika kami masuk kelas yang sama. Seperti kebanyakan siswi yang berjilbab, Sandy saat itu memakai jilbab berbahan menerawang dan adem, sering disebut kerudung paris, yang mesti dilapisi kain lagi di dalamnya.
Sifatnya tertutup, bahkan misterius, dan sensitif, tapi justru membuat kami cocok. Hingga tahun terakhir di SMK, kami bersahabat dekat. Salah satu cerita yang saya ingat adalah soal mahasiswa kampus dekat sekolah yang ditaksirnya, cerita cinta yang tidak pernah tersampaikan karena ketidakpercayaan diri Sandy soal fisiknya yang bagi saya tidak masuk akal.
Di sekolah, Sandy dikenal sebagai penulis berbakat, jago merajut, menjahit, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Ia juga dipercaya menjadi wakil ketua ekstrakurikuler jurnalistik. Beberapa teman alumni yang masih berkomunikasi dengan saya terang-terangan menyatakan rasa rindunya pada Sandy. “Anak itu baik banget dulu, enak diajak berteman.” Tidak pilih-pilih teman dan merangkul semua orang. Bukankah sikap Sandy sudah sangat Islam pada praktiknya?
Selepas SMK, Sandy mengikuti kelas Bahasa Arab di sebuah universitas. Namun kelasnya berlangsung di masjid, bukan di ruang kuliah. Di Facebook, Sandy bercerita bahwa kelas tersebut membuatnya tercerahkan. Ia pun kemudian memutuskan untuk menjalani Islam dalam versi terbaik dan menggunakan cadar. Masih dalam catatannya di Facebook, Sandy menulis bahwa ia memaklumi segala sikap mantan guru, teman, orang tua hingga para tetangga yang terkesan kontra soal pilihan yang diyakininya. Namun, ia mengatakan tidak bakal bisa digoyahkan.
Saya tidak hendak menuduh kelas di masjid itu telah mengubah Sandy, si kesayangan semua orang. Bisa jadi penafsiran Sandy sendiri yang mendorongnya menjadi lebih eksklusif. Seiring bertambahnya usia, saya kemudian memahami apa yang dilakukan Sandy sesungguhnya adalah upayanya menjadi manusia yang lebih baik. Kita semua pun, sedang memperjuangkan yang terbaik bagi diri masing-masing, bukan?
Ajaran yang dipahaminya itu seperti menyelamatkannya juga dari perasaan minder terhadap fisiknya dan lawan jenis. Ia mulai mendeklarasikan diri sebagai anti-pacaran dan pro-menikah muda. Kedua hal ini tentu tidak salah, jika saja Sandy betul memilihnya bukan karena ia merasa dirinya patah. Hingga sebentar kemudian, saya mendengar dari salah seorang geng lawas kami semasa SMK, bahwa Sandy sedang dalam proses berkenalan (taaruf) dengan pemuda dari lingkaran kelasnya di masjid.
Lelaki pertama tidak jadi menikahinya dan tidak berapa lama, ada lelaki lain lagi yang menikahinya dengan proses serupa. Saya menjadi satu-satunya teman geng yang tidak diundang dalam pernikahan tersebut.
Kepada dua teman geng kami yang lain, orang tua Sandy yang begitu dekatnya dengan saya mempertanyakan kenapa saya tidak hadir. Agaknya, Sandy betul-betul terluka ketika saya yang waktu itu masih 19 tahun dan berapi-api, menegurnya keras soal artikel yang dibagikannya di dinding Facebook saya secara rutin. Kebersamaan kami yang pernah juga jadi teman sebangku dan satu ekstrakurikuler, seperti lenyap begitu saja dilalap “perjuangan agama”. Sesungguhnya, luka serupa pun saya dapat dari caranya berdakwah. Saya ingat, waktu itu saya tegur, “Temanku enggak semuanya Muslim, dakwahmu itu membuat orang sakit.”
Hingga bertahun kemudian, saya masih memantau kabar Sandy melalui lingkaran pertemanan yang tersisa. Dari salah seorang teman, saya mendapati cerita lain bagaimana proses hijrahnya Sandy. Si teman yang juga berjilbab itu mengatakan bahwa Sandy lama-kelamaan anti memakai kerudung paris yang menurutnya menerawang. Setiap pertemuan, kerudung yang ia pakai makin panjang saja dan bahkan ia menghadiahi kerudung sepanjang mata kaki kepada si teman tadi.
“Aku enggak nolak kerudungnya. Aku pakai tapi cuma waktu tidur, kan lumayan hangat, hehe,” ujarnya. 
Ternyata usaha menularkan hijrah ini dilakukan kepada semua teman satu geng, bukan hanya saya. Hanya saja teman yang dihadiahi kerudung sepanjang mata kaki itu jauh lebih adem dan bijak menghadapi Sandy daripada saya.
Tidak lama berselang, muncul lagi berita bahwa Sandy bercerai.Kalau dari versi dia, suaminya enggak gitu mau kenal sama ortu-nya. Dia mau dibawa ke Kalimantan tapi dilarang ibunya, terus suaminya mau poligami dia,” cerita teman kami yang lain lagi.
Taaruf memiliki tujuan yang baik, agar saling mengenal. Namun bukan dengan tatap muka sekali dua kali lalu menikah. Hijrah, jika betul dimaknai, tentu bukan hanya berarti berganti kostum sehari-hari. Menikah muda atau pun menikah kapan saja, semua tentu juga memiliki tujuan baik. Meski saya tidak mengetahui, apa benar teman-teman yang bercadar semua diajarkan sebegitu keras dalam beragama serupa Sandy. Atau mungkin Sandy yang menafsirkannya sendiri hingga jadi sedemikian keras?
Sejak proses hijrahnya yang tampak cepat dan setelah kabar perceraiannya, akses komunikasi dengan Sandy semakin sulit, bagi saya dan teman-teman yang lain. Pernah saya coba mengiriminya pesan di Facebook namun sepertinya tidak terbaca. Saya dan teman-teman kemudian bersepakat, agaknya Sandy membutuhkan ruang bagi dirinya sendiri. Hingga pada saatnya nanti, kami tidak perlu memaksanya mau berkomunikasi.
Yang pasti kini saya menyadari, Sandy sesungguhnya sedang berusaha menyelamatkan teman-temannya termasuk saya, dengan keyakinan Islam terbaik dalam versinya. Pun saya, yang begitu mencemaskan keyakinan Islam dalam versinya itu, hingga membalas sikap kerasnya dengan sikap keras pula. Sandy berusaha menyelamatkan saya dengan apa yang ia yakini, sebaliknya saya juga mengusahakan hal serupa. Pada titik ini yang saya rasakan adalah, jika benar saya mengaku inklusif, mengapa sikap saya tidak ada bedanya dengan Sandy yang saya tuduh eksklusif?
Dulu dan hingga kini, kami berdua saling peduli dan sesungguhnya saling menyayangi dengan cara masing-masing. Begitu bukan?
Ilustrasi oleh: Sarah Arifin
Terimakasih tim Magdalene yang telah menyunting cerita ini agar layak baca.

Tambahan 04/05/2020: saya berencana menggarap sebuah tulisan yang menggali sisi lain perempuan bercadar di sekitar. Bahwa perempuan bercadar berbaur seperti biasa dengan masyarakat, ada juga yang menjadi wirausahawan sukses, pula tidak semua dekat dengan poligami.