Sunday, March 22, 2015

Latah Bahas Dijah


Saya akhirnya ikutan bahas buku karya Dijah Yellow nih. Dijah yang punya nama asli Hodijah ini awalnya terkenal melalui akun instagramnya. Foto-foto Hodijah dengan baju-baju kuningnya inilah yang jadi awalan Hodijah menjadi bahan pembicaraan hingga olok-olokan. Hodijah di anggap kelewat alay dalam gaya foto dan berbusana apalagi dengan wajahnya yang bisa di bilang memang ndak terlalu cantik.
Awalnya sih, saya kenal si Hodijah ini dari sepupu saya yang sekarang kelas sembilan. Bulan puasa tahun lalu, dia cerita soal Hodijah yang masuk acara tivi. “Itu loh… si Dijah Yellow yang suka pakai baju warna kuning,” itulah penjelasan singkat dari sepupu saya ketika saya tanya kenapa Hodijah mendadak beken dan bolak balik muncul di tivi. Dari cerita sepupu saya itulah, saya mulai membuka gugel untuk mencari foto-foto Hodijah. Dan… oh baiklah, dia cuma perempuan muda yang aktualisasi diri dengan kostum kuning dan gaya fotonya itu kok. Setelah beberapa kali saya menemukan foto-foto Hodijah dari gugel, saya akhirnya lupa dengan fenomena Hodijah.
Saya mulai ingat kembali dengan Hodijah ketika teman-teman yang katanya penulis mulai berbagi tautan mengenai buku Hodijah dan tulisan CEO Diva Press yang intinya mengulas buku Hodijah sebagai satu bentuk karya yang tidak perlu terlalu di hujat. Karya Hodijah dianggap sebagi pendobrak kaidah EYD selama ini. Dalam ulasan tersebut, di pakai juga kata-kata semacam hiperrealitas sebagai salah satu gambaran dari naskah yang di tulis oleh Hodijah. Saya ndak paham juga sih dengan istilah tersebut. Hodijah barangkali lebih paham makna dari istilah tersebut, makanya dia bisa menulis naskah yang salah satunya di gambarkan dengan kata hipperrealistas.
Saya pun akhirnya mendownload sample buku Hodijah dari nulisbuku.com. nulisbuku.com adalah penerbit online yang meluncurkan buku Hodijah. Buku Hodijah dijual seharga 145.000 dan sialnya itu seharga buku The Process Of Parenting tulisan Jane Brooks yang saya beli dari toko buku Togamas tahun lalu. Hahaa.. Jane Brooks setara Hodijah niyeee harga bukunya.
Memang komentar teman-teman benar soal buku Hodijah. Buku yang berjudul Rembulan Love ini di terbitkan tanpa proses editing. Salah seorang teman bahkan ada yang menyatakan sikap kontra terhadap buku Hodijah. Padahal, dia sendiri juga tipe penulis yang pro dengan maunya pasar dengan menulis naskah-naskah berbau korea. Hei? Apa bedanya dengan buku Hodijah yang mengandalkan sensasi terkini dan mau pasar yang cenderung ingin tulisan-tulisan ringan dan menghibur?
Barangkali, teman saya itu merasa sudah lebih bekerja keras dan bisa menulis jauh lebih baik ketimbang Hodijah. Jadi, dia merasa terluka dengan kenyataan Hodijah yang bukunya mendadak jadi buah bibir dengan kemampuannya yang dianggap cuma segitu.
Terlepas pro dan kontra yang terjadi, saya sendiri menikmati buku bikinan Hodijah, meski cukup melelahkan membaca tulisannya yang tidak lebih rapi ketimbang tulisan saya yang tergolong juga masih berantakan dalam memenuhi kaidah EYD.
Hodijah menulis dengan ekspresi sehari-hari yang cukup membuat saya tertawa. Emoticon senyum yang di sisipkan dalam tulisannya melalui rangkaian tanda baca seperti: ^_^ juga cukup membuat geli. Ini semacam mengintip kemudian membaca buku diary seseorang. Yah, anggap saja begitu biar alis mata kalian yang membaca buku Hodijah tidak perlu mengerut tegang.
Dengan harga segitu, saya sendiri ogah untuk beli buku Hodijah. Saya tidak pro dan tidak juga kontra. Saya anggap semua ini sebagai pembelajaran dimana insting bisnis orang-orang yang menggosok Hodijah untuk menelurkan buku luar biasa tajam ternyata. Beragam sensasi di sajikan mulai dari pemilihan penulis, yaitu Hodijah hingga sajian tulisan itu sendiri. Semakin banyak pro dan kontra, semakin buku Hodijah ramai di bicarakan.
Hodijah juga menulis dalam akun twitternya bahwa buku setebal 200 halaman itu hanya dia selesaikan dalam waktu sembilan atau sepuluh hari. Saya bahkan sampai berpikir, apa Hodijah memakai jasa ghost writer ya? Ah… tapi lupakan saja. Toh, buku Hodijah ini kemungkinan memang di luncurkan untuk menimbulkan keresahan dan mengeruk keuntungan secepatnya oleh para pebisnis di balik buku tersebut. Fenomena buku Hodijah ini bakal hilang dengan sendirinya ketika orang-orang yang merasa kontra tidak getol mengumumkan sikap kontranya masing-masing.
Semakin banyak orang latah bahas Hodijah, semakin beken Hodijah dan segala sensasinya. Wah, ini saya juga latah bahas Hodijah. Bolehlah Hodijah matur terimakasih pada saya yang latah bahas dia. Semoga karena tulisan saya ini, Hodijah terbantu jadi makin beken… aku mumumu sama kamu Dijah. Terus hibur kami dengan sensasi dan karya-karyamu selanjutnya. Menghibur orang juga perbuatan baik kan?

Wednesday, March 18, 2015

Belajar Dalam Kandang Burung

Dimuat di Harian Surya, 21 Maret 2015.
Bisa di akses juga di http://surabaya.tribunnews.com/2015/03/20/asyiknya-belajar-dalam-kandang dengan judul, Asyiknya Belajar dalam Kandang

Berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya yang melakukan pembelajaran hanya di dalam kelas, PAUD di Sekolah Dolan juga menyajikan pembelajaran diluar kelas setiap akhir pekan. Setiap Sabtu, PAUD yang terletak di Tidar kota Malang ini, mengajak peserta didiknya untuk bermain di sentra alam yang ada di lingkungan sekolah.
Kandang burung, kandang ayam, kandang kelinci dan rumah pohon, bebas di jelajahi peserta didik. Guru juga mendampingi peserta didik ketika pembelajaran berlangsung.

Tenaga guru di Sekolah Dolan, bahkan tidak sungkan untuk ikut masuk bersama para peserta didik ke dalam kandang burung. Di dalam kandang burung, guru mengajak peserta didik mengobrol seputar kehidupan burung. Peserta didik juga bebas mengeluarkan pendapatnya mengenai burung dan kehidupannya.
Pembelajaran semacam inilah yang membuat peserta didik lebih dekat dengan lingkungan. Peserta didik tidak hanya di jejali macam-macam teori mengenai menjaga alam. Peserta didik, langsung diajak untuk bersentuhan dengan alam.

Guru menjadi model langsung bagi para peserta didik untuk dekat dengan lingkungan. Dekat dan menjaga lingkungan bukan cuma sekadar slogan di PAUD Sekolah Dolan.

Begini Cara Mengkritik yang Benar

“Jujur saja, metode ini merupakan metode coba-coba yang saya rangkai dalam salah satu lamunan saya sehari-hari. Saya hanya berpikir bagaimana masing-masing orang berani di kritik dan mengritik tanpa merasa ragu akan kemampuan diri dan barangkali merasa tabu akan siapa yang hendak di kritik. Senang bahwa metode ini ternyata berkesan. Semoga bermanfaat dan boleh bagi siapa saja yang ingin mengembangkan.” Salam, Poppy Trisnayanti Puspitasari.

Oleh Mavalda Junia Sahanah
Dimuat di Harian SURYA, 16 Maret 2015

DISKUSI Mahasiswa Peneliti Penulis Produktif (MP3) BEM Universitas Negeri Malang, Selasa (3/3/2015) lalu terasa beda karena setiap peserta 'diharuskan' mengkritik karya peserta lain.

Peserta MP3 sore itu hanya sembilan orang. Justru dengan peserta yang sedikit, peserta diharapkan lebih intensif belajar menulis cerpen dan blak-blakan mengkritik karya peserta lain. Itu yang diharapkan Poppy Trisnayanti Puspitasari, pemateri diskusi MP3.

Peserta diminta mengumpulkan cerpen karya sendiri tanpa diberi nama, termasuk pemateri sendiri. Pemateri mengacak karya yang sudah dikumpulkan dan dibagikan kepada para peserta. Jadi, peserta dan pemateri membawa karya orang lain untuk dikritik. Dengan begitu, tak ada rasa sungkan ketika mengkritik karya orang mereka yang lebih dulu terjun di dunia sastra. Dan tidak juga menyepelekan karya para pemula.

Antusiasme peserta terlihat ketika mereka melontarkan kritik terhadap cerpen karya peserta lain. Pertama, mereka menceritakan kembali isi cerpen kemudian melontarkan koreksinya dari ejaan yang disempurnakan, struktur cerpen, sampai logis tidaknya isi cerpen.

Dengan metode tersebut, belajar menulis akan lebih efektif dan efisien karena peserta dipaksa mencari kekurangan dan kelebihan yang terdapat dalam cerpen. Bermula dari hal tersebut, peserta akan lebih mudah menakar ukuran cerpen yang baik. Selain menumbuhkan kepekaan peserta terhadap realita kehidupan yang dapat ditulis dalam karya, serta melatih peserta menjadi kritikus sastra yang berkualitas.

Tidak hanya penulis, kritik juga membangun kritikus agar lebih baik lagi dan berhati-hati dalam menakar karyanya sehingga tulisannya dapat dinikmati pembaca. Mari mengkritik...

Di catut dari: http://surabaya.tribunnews.com/2015/03/16/begini-cara-mengkritik-yang-benar


Sunday, March 15, 2015

Jadi Pohon Soekarno di Arafah


‘You think you want to die, but in reality you just want to be saved’.
Saya menemukan gambar yang memuat tulisan ini fesbuk mbak Puput. Mbak Puput membagikan gambar ini dari salah satu halaman di fesbuk. Mbak Puput menyertakan juga keinginannya jadi seekor lumba-lumba, apabila disuruh memilih untuk hidup ‘selamat’. Berbeda dengan mbak Puput. Saya malah ingin jadi pohon Soekarno di Arafah.
Gambar itu membuat saya langsung suka. Saya menekan tombol save pada ponsel. Saya menjadikan gambar tersebut sebagai display picture BBM. Beberapa menit setelah gambar itu saya jadikan display picture. Triwibowo, teman saya dari Bimbingan Konseling 2012 mengirim BBM pada saya untuk mengomentari gambar tersebut.
“Eh Pop. Kamu kenapa pasang DP (Display Picture) ini?” tulis Bowo mengawali.
“Aku pengen jadi pohon,” Bowo anak yang cerdas dan banyak di kenal berprestasi di kampus. Jawaban semacam milik saya ini, pasti tidak bakal dia perhitungkan untuk di analisa.
“Kamu tahu sejarah tulisan itu?”
Nggak tahu. Kenapa?”
“Di USA atau UK kalo nggak salah ada remaja bunuh diri. Setelah di usut ternyata dia abis kena cyberbullying dari teman-temannya melalui kalimat tersebut,” tebakanku benar. Bowo tidak menganalisa kalimat saya soal menjadi pohon.
Dan… Oh. Karena ini? Bowo jadi kelihatan ngeri ketika saya menggunakan gambar yang memuat tulisan tersebut menjadi display picture.
Saya memahami gambar yang memuat tulisan tersebut lebih kepada pilihan,”Bila disuruh memilih hidup aman, kamu mau menjadi apa?”
Kalau boleh memilih hidup aman. Saya ingin jadi pohon Soekarno di Arafah. Setiap hari, saya tidak bakal kekurangan air. Pipa penyiram otomatis di bangun di sekeliling saya. Seumur hidup, saya akan kenyang. Saya tidak perlu terlibat dengan orang berengsek yang mampu di sayangi hanya karena bisa membuat orang lain nyaman. Saya juga tidak perlu terlibat dengan orang baik yang tersingkir dan tidak di sayangi hanya karena tidak bisa menyamankan orang lain.
Ah… andai…
SELESAI



Wednesday, March 11, 2015

Tendensi


“Dia tahu kamu rindu nyaman,”
“Memang,” Adikku pura-pura mencoreti kertas, biar tidak usah menatap aku.
“Dia tahu, kalimat apa saja yang ingin kamu dengar. Dia mengucapkannya, kamu menganggap Dia mengerti kamu setelahnya,”
“Siapa maksud Kakak?”
Aku diam. Adikku pura-pura tidak tahu. Dia harap aku jengah kemudian menghentikan percakapan.
“Dia berengsek!”
“Siapa maksud Kakak?”
“Dia punya tendensi buruk pada kamu! Dia tidak tulus!” volume suaraku makin tinggi.
“Apa ada? Orang yang tulus di dunia ini?” aku mendelik. Aku ingin sekali meninju muka Adikku.
“Tidak ada. Semua orang punya tendensi. Entah tendensi hubungan antar manusia, atau juga tendensi hubungan dengan Tuhan,”
Adikku berdiri. Dia berjalan menjauh menuju pintu.
“Mengharap rahmat Tuhan pun adalah sebuah tendensi. Mengharap rahmat Tuhan saja, bisa disebut tendensi. Apalagi orang berengsek yang berusaha membuat kamu nyaman! Punya tendensi apa dia?” Adikku berhenti sebentar. “Hmm,” dia menoleh pada aku. Dia berjalan menjauh lagi setelahnya.
SELESAI

Adikku Jatuh Cinta, Katanya (Bagian 2)


Adikku rindu nyaman. Dia tahu. Dia senang. Dia bikin Adikku nyaman.
“Aku sayang Dia! Sebagai kakak!” aku melihat bola mata Adikku berkaca-kaca. Dia susun kalimat seolah menuruti mauku. ‘Sebagai kakak’ adalah mauku. ‘Sayang’ adalah maunya Adikku. Adikku, mau aku lengah dengan kalimat ‘Sayang sebagai kakak’. Aku akan mengurangi volume teriakanku setelah lengah. Setelahnya, Adikku akan mulai mengakui, ‘Sayang sebagai kakak’ cuma kalimat untuk mengurangi volume teriakanku. Sebenarnya, Adikku ingin bilang ‘Cinta Dia’ bukan ‘Sayang sebagai kakak’.
“Dik. Dia berengsek,” aku mengurangi volume suaraku. Aku buat Adikku percaya kalau kalimat palsunya bikin aku lengah.
“Aku tahu,” Adikku jauh merendehkan suaranya sekarang. Dia sedang menata nada bicaranya. Seolah, dia menyerah dan bakal menurut pada aku.
“Dik. Kamu jatuh cinta,”
“Tidak. Kakak salah,”
Aku menepuk pundaknya.
“Dik. Ini yang terakhir. Dia berengsek,” Adikku menangkis sentuhanku.
SELESAI

Adikku Jatuh Cinta, Katanya (Bagian 1)


“Iya aku tahu!” Adikku mulai nyolot.
“Dia dan Mereka itu berengsek!” lagi. Aku berteriak.
“Iya aku tahu! Aku akan pergi pelan-pelan. Aku akan buat mereka tidak sadar bahwa aku sudah pergi,” Adikku cerdas. Dia susun kalimat seolah menuruti aku. ‘Pergi’ adalah kata yang aku mau. Sedangkan ‘pelan-pelan’ adalah kata yang Adikku mau. ‘Pelan-pelan’ Adikku akan pura-pura ‘pergi’. Ketika aku lengah, ‘pelan-pelan’ dia bakal kembali. Kembali pada Dia dan Mereka yang berengsek.
Lingkungan Dia dan Mereka tidak aman. Adikku tahu itu. Tapi, Dia kelewat pintar. Dia susun lingkungan itu senyaman mungkin. Adikku rindu nyaman. Dia masuk dan lupa soal aman. Aku sedih. Dia senang. Mereka setengah senang.
SELESAI

Friday, March 6, 2015

Karangploso Town Square (Kartos)

Ibu tidak membolehkan Ayah untuk pergi ke Timur. “Cari makan di dekat sini saja. Ada sepetak sawah depan rumah. Garap saja,” kata Ibu.
Aku bilang ingin pergi ke Timur. Ibu tidak membolehkan aku. “Cari makan di dekat sini saja. Ada sepetak sawah depan rumah. Garaplah,” kata- kata yang sama pada Ayah, diulang Ibu untukku.
Asal ada makanan yang bisa kami telan, Ibu ingin kami selalu bersama. Sekarang, Ayah sudah hilang lahan. Ayah sudah tidak bisa cari makan dekat sini. Sawah depan rumah kami, sudah jadi Karangploso Town Square.
Ibu sedih. Ayah sedih. Aku sedih.
“Carilah makan yang jauh. Diluar sana banyak sawah garapan. Pergilah ke Timur. Ibu mengijinkan kamu,” Ibu menepuk pundakku. Sisa air mata, sudah tidak kelihatan di kantung matanya.
Aku tersenyum pada Ibu. Ayah mengangguk.
SELESAI

Rumah (Bagian 2)


“Ayo!” Z mempersilahkan aku untuk duduk di boncengan motornya.
Z matanya sedih. Aku tahu kamu pasti ngerti. Bermenit- menit setelah kamu pergi naik mobil, dia tetap sedih. Tapi dia tidak menangis. Dia laki- laki. Laki- laki kebanyakan, yang tidak terlatih untuk menangis.
Kamu jahat. Kamu biasakan Z untuk selalu pulang pada kamu. Z menganggap kamu rumah. Dan selalu begitu!
Kamu pergi naik mobil. Z rasa, dia sudah kehilangan rumah. Kamu tahu apa rasa kehilangan rumah?
Z takut kena panas. Z takut kena hujan. Z kelewat terbiasa, tidak kena panas dan hujan. Karena kamu, adalah rumahnya. Rumah yang membuat dia lupa bagaimana rasa ketika terkena panas dan hujan.
“Z aku lupa bilang pada dia. Aku berterimakasih. Karena dia, aku jadi lebih niat untuk menulis,” Z meilirik aku dari spion. Kemudian, dia buru-buru kembali melihat kearah depan.
“Nanti juga dia bakal kembali. Katakan saja waktu dia kembali lagi,” ucapan Z kedengaran tidak meyakinkan. Bukan berarti dia bohong soal ucapannya. Tapi, Z suaranya kelihatan takut. Takut menghadapi panas dan hujan selama kamu belum kembali.
“Oke. Baiklah,” suaraku selalu ceria. Padahal, aku kecewa penuh karena ucapan terimakasihku pada kamu tercecer begitu saja.
Kami diam. Aku melihat ke kiri dan kanan. Memberi kesempatan buat Z untuk mengendalikan napas dan ketakutannya.
“Dia guru yang hebat. Bukan begitu?”
Z menarik napas dalam- dalam. Dia seperti bersiap untuk bicara banyak tanpa jeda napas.
“Dia memang guru yang hebat. Dengan ilmu psikologinya dia bisa…” Z terus bicara. Inti pembicarannya sama. Bahwa kamu. Adalah guru yang hebat.
Aku mengalihkan pandanganku ke sisi kiri. Aku berkali- kali cuma mengiyakan ucapan Z.
SELESAI

Rumah (Bagian 1)


Aku baru duduk tiga puluh detik. “Mobilnya datang!” mereka menerobos masuk sambil bersiap mengangkat semua tas punyamu.
Badanmu lemas. Tapi, kamu masih saja menggenggam bolpoin pinjaman dan beberapa lembar kertas. Isinya puisi. Barangkali.
Aku kelewat takjub waktu melihat kamu. Kamu ringkih. Jiwamu sudah mengawali keringkihanmu. Rangkaian ucapan terimakasih buatmu tercecer, sejak aku sampai di depan pintu.
“Hei. Terimakasih sudah membuat aku lebih menata niat untuk menulis!” mestinya itu yang aku ucap.
Kamu sangat hati- hati bergerak. Kamu menutupi badanmu yang gemetar. Kamu menahan mual dan sakit.
Aku fokus bercerita ini itu. Hal- hal yang aku paksa, bisa bikin kamu tersenyum atau tertawa untuk beberapa detik.
Berhasil. Kamu tersenyum tipis beberapa detik. Aku tahu, kamu cuma sedang bertoleransi. Kamu ingin aku segera berhenti berusaha membuat kamu tertawa. Kamu ingin aku segera pergi. Kamu ingin menutup mata tanpa boleh aku melihatnya.
Kamu adalah rumah bagi banyak orang. Kamu rumah mereka. Kamu rumahnya. Kamu rumah dia. Kamu rumahku. Tapi, kamu sendiri tidak pernah memiliki rumah.
Pulanglah. Naiki mobil itu. Jangan kembali, sebelum kamu mau sedikit merendah buat memeluk Bapakmu.
Pulanglah. Naiki mobil itu. Jangan kembali, sebelum kami sudah terbiasa untuk tidak selalu pulang pada kamu.
Kamu bakal jadi lebih hebat. Ketika kamu sudah menemukan rumah…
SELESAI

NB: Terinspirasi dari kutipan Anny Zahra M,”Dia adalah rumah bagi banyak orang. Tapi, dia sendiri tidak meiliki rumah”


Wednesday, March 4, 2015

Baju dan Sepatu

Cerpen ini merupakan karya saya yang (tidak) lolos Kampus Fiksi (KF), Diva Press 2014.

Baju Dan Sepatu
Kasus kecelakaan dengan korban dua orang tewas yang melibatkan RAR (22), putra bungsu Gubernur Y telah terbukti melanggar dua pasal…
***
Dahiku panas luar biasa. Waktu aku mengernyit tidak ada kerutan aku rasakan di dahi. Mati rasa aku agaknya?.
Tusukan jarum kecil di lengan bikin seluruh tanganku linu. Pelan- pelan mataku menutup. Badanku sudah tidak terasa panas lagi.
Suara tirai ditutup. Nyala redup lampu warna putih tepat di atas kepala. Semua terhidang jelas di kuping dan sisa sudut kelopak mataku yang masih terbuka. Aku terbang…
“Bagaimana Dok?” suara wanita di balik tirai.
“Terlambat…,”
Aku terbang…
“Biar saja. Tidak ada keluarga yang mencari dia. Dia pun tidak punya tanda pengenal dan tinggal di perkampungan liar,”
***
Usiaku delapan. Kali pertama aku melihat mobil- mobil gemuk dengan antena di atapnya parkir sembarangan di sekeliling kampung.
Lapangan bermain kami lama- lama habis di isi mobil- mobil gemuk yang jumlahnya makin banyak tiap hari. Seorang lelaki yang namanya Suradi meniupi peluit. Dia memerintahkan mobil- mobil itu mundur, maju, belok ke kiri dan ke kanan. Dia dilempari dengan uang setelahnya.
Suradi. Tetangga yang tinggalnya di lantai bawah kamar yang kami sewa.
Dulu, kamar kami sehari- harinya penuh gelas plastik bekas siap jual. Sekarang, kamar kami penuh kotak warna- warni berpita, sepatu- sepatu mengkilat seukuran aku, Kakak dan dua adikku. Kertas kecil bertuliskan harga ratusan ribu menempel pada benda- benda itu.
Kilat kamera mulai menerpa muka kami tiap pukul enam pagi. Jam dimana biasanya Ibu mulai mengomel karena kami telat bangun dan tidak bakal kebagian air di MCK.
Kami jarang pergi sekolah. Kami jarang pergi bermain. Ibu bilang biar kami tidak ketemu kilat kamera yang bisa membuat mata kami buta.
Berempat. Seharian televisi kami pandangi. Disana selalu saja ada gambar kami. Orang- orang ganteng dengan dasi di dada selalu pasang tampang berkaca- kaca. Berulang- ulang mereka berkata,“Turut prihatin. Kami akan berjuang bersama mereka”. Ibu bilang, mereka cuma pembaca berita. Membaca apa yang ada di atas kertas baru kemudian bertutur.
Lama- lama kami rajin mencobai baju dan sepatu yang berserakan di dalam kamar. Ibu selalu menangis. Baju dan sepatu yang tengah kami genggam direbut kemudian di lempar ke lantai.
“Bapak kalian tidak akan pernah bisa ditukar dengan baju dan sepatu ini!. Kita bisa menyusul bapak karena semua ini!” Ibu selalu menjeritkan hal yang sama berulang- ulang.
Tiap Ibu menjerit, kami duduk meringkuk di sudut kamar. Kami ketakutan. Baju dan sepatu cuma berani kami coba waktu Ibu tidak ada.
“Lalu, apa rencana Ibu setelah ini?” wanita berambut hitam kemerahan dengan lambang stasiun televisi X di lengannya, mulai memasang muka sendu dan nada sedih waktu menanyai Ibu.
“Saya akan mengutamakan pendidikan anak- anak,” Ibu selalu berkata begitu sambil memeluk siapa saja di antara kami yang sedang ada di sisi kiri dan kanannya.
Tiap akhir pekan pemuda- pemuda usia dua puluhan datang juga membawa kamera. Ibu tidak pernah menjawab pertanyaan mereka. Keningnya sudah di tempeli koyo dan matanya merah tiap menolak keinginan mereka buat menanyai Ibu.
Kami makin malas keluar rumah. Tiap keluar rumah, pemuda- pemuda yang tidak berhasil mendapat izin Ibu untuk bertanya itu mengerumuni kami bersama para tetangga.
Kueja pelan nama di dada pemuda- pemuda itu, ‘Per-s Ma-has-iwa’ tulisannya. Usiaku delapan. Aku masih mengeja.
Kertas- kertas warna hijau bergambar foto kami, selalu ada di tangan para tetangga tiap hari senin. ‘Keadilan Roboh. Kami Akan berjuang Bersama Mereka’. Selalu ditulis kalimat yang sama di bawah foto kami. Kakak selalu bilang bahwa mereka yang menulis dan mengambil foto kami itu bakal membantu kami, makanya mereka menulis hal yang sama di bawah foto  itu.
***
“Menurut saya, Ibu mesti menuntut biaya pendidikan anak- anak sampai mahasiswa!” pria berambut tipis bicaranya berapi- api.
“Oh. Malah menurut saya, Ibu lebih baik juga menuntut tunjangan tiap bulan untuk anak- anak,” pria yang sepertinya paling tua umurnya, berusaha bicara lebih kalem.
Mereka. Dua dari tiga pengacara yang berkunjung di kamar kontrakan kami hari ini.
“Tidak… tidak Tuan- Tuan. Saya cuma ingin orang yang sudah membuat suami saya meninggal dihukum. Itu saja,” mata Ibu berkaca- kaca.
“Ya. Bisa. Saya sudah sering menangani kasus semacam keluarga Ibu. Akan tetapi, kasus- kasus tersebut tidak ditampilkan besar- besaran di media. Pelaku itu pasti bisa di hukum. Ibu tinggal pilih pengacara. Saya sendiri bersedia untuk tidak dibayar. Ini tragedi kemanusiaan yang luar biasa,” satu- satunya pria berpakaian putih berkata paling akhir. Mata Ibu simpatik padanya. Mereka saling bersalaman. Dua pengacara lain melirik marah.
“Terimakasih kepercayaan Ibu. Saya akan berjuang bersama keluarga ini. Ini tragedi…,”
“Terimakasih Tuan Bima… terimakasih…,” Ibu menangis.
Bima. Nama pengacara yang di pilih Ibu.
***
Tok Tok Tok
Palu diketuk. Jerit memuji- muji Tuhan menggema dimana mana.
“Hukuman percobaan satu tahun…,” banyak orang berbisik. Kakakku cuma diam. Dua adikku sibuk bermain puzzle baru, salah satu isi dari kotak warna- warni berpita di kamar sewaan kami.
***
“Tuan Bima… Tuan Bima… cuma begini saja?” Ibu menarik- narik baju putih Tuan Bima.
Tuan Bima mukanya dingin. Dia tersenyum sopan, mengangguk kemudian pergi.
Pemuda berbaju oranye bertulis ‘TAHANAN’ tersenyum seperti orang menang perang. Sisi kiri kanannya ada pria tampan berdasi. Mereka seingatku pengacara yang tidak dipilih Ibu.
Mereka semua buru- buru keluar ruangan. Mereka masuk ke sebuah mobil hitam mengkilat. Seorang wanita paruh baya berkulit putih menyambut si pemuda di pintu mobil. Pemuda itu di hujani pelukan dan ciuman.Wanita itu barangkali Ibunya. Sering dia dipanggil ‘Ibu Gubernur’.
***
Mobil- mobil gemuk dengan antena di atapnya mulai jarang masuk ke dalam kampung. Wanita- wanita dengan tulisan televisi X di lengan jumlahnya jauh berkurang. Kilatan kamera cuma datang sehari sekali sekarang. Para tetangga mulai sibuk di rumah masing- masing. Rumah mereka dipenuhi dengan gelas- gelas plastik kosong, sama seperti kamar sewaan kami. Pemuda- pemuda yang ngotot menanyai Ibu dan datang tiap akhir pekan bahkan sudah menghilang.
Kami sudah tenang berkeliaran di jalanan kampung. Televisi sudah tidak menayangkan gambar kami seharian.
Mendadak siang itu Ibu menyuruh kami berkumpul di kamar. Seorang perempuan mencecar kami semua dengan pertanyaan seputar Bapak. Lelaki di sisi kirinya memanggul kamera.
Kami semua muncul lagi di televisi malam harinya. Kakak bilang, hukuman yang di dapat orang yang membuat Bapak meninggal tidak sebanding. Jadi kami muncul lagi di televisi. Mereka bakal membantu kami kata Kakak. Ya. Mereka yang di televisi bakal membantu kami.
Para tetangga berkerumun kembali esoknya. Mobil gemuk dengan antena di atapnya datang lagi meski tidak sebanyak dulu. Itu semua cuma tiga hari. Setelahnya para tetangga kembali sibuk di rumah masing- masing. Mobil- mobil gemuk tidak ada lagi yang datang.
***
Mulutku dibekap Kakak. Dua adikku di masukkan dalam truk. Ibu badannya tidak bergerak. Badannya diseret dari semak- semak ke dalam truk.
“Sudah enak anak- anakmu dapat biaya hidup. Masih saja ngoceh soal keadilan- keadilan,” pria berkepala pelontos terus mengomel sambil menarik badan Ibu makin masuk ke dalam bak truk.
Mesin truk menyala. Truk melaju dan hilang di jalan turunan. Malam itu kakakku mulai menjerit kemudian tertawa. Pipi dan matannya makin basah. Badannya di banting ke tanah. Dia berguling- guling.
“Bapak kalian tidak akan pernah bisa ditukar dengan baju dan sepatu ini!. Kita bisa menyusul bapak karena semua ini!” ucapan Ibu berulang- ulang masuk di kupingku.
Ini pasti gara- gara kami. Kami suka menyentuh baju dan sepatu itu. Ibu menyusul Bapak begitu juga dua adik kami. Dua kaki aku mundurkan kebelakang. Aku sangat ketakutan. Kakakku terus menjerit dan menggeliat di tanah. Kemudian, aku lari menjauhi dia. Sejauhnya.
***
“Tuan Bima. Aku Bayu. Anak yang tinggal di kampung pemulung itu. Anak yang tinggal di kamar sewaan lantai dua itu. Ibuku sudah pergi menyusul Bapak. Badannya dibawa orang- orang berbadan besar yang terus mengomel. Dua adikku dibawa mereka juga,” kupegang erat pundaknya. Dulu tinggiku sepinggangnya. Sekarang dia setinggi kupingku saja.
“Oh iya. Nomor telepon anda berapa? biar saya catat,” aku menyebut deretan nomor telepon. Tuan Bima menuliskannya di sebuah kertas kemudian buru- buru masuk ke dalam sebuah mobil mengkilat warna putih. Aku senang. Aku pasti dibantu.
Limabelas detik kemudian. Kertas kosong yang aku kira digunakan buat menulis nomorku melayang tepat di depan keningku. Jadi, dia cuma pura- pura menulis lantas membuang kertas itu dari jendela mobil.
Kepala aku tunduk. Kuambil tongkat pel. Tongkat pel aku gosokkan sekenannya di lantai.
Aku sekarang seorang tukang pel.
***
Nyala api membuat mataku silau sekali. Sekelilingku penuh asap hitam. Sesak. Badanku panas. Kulitku mengelupas. Mataku tertutup.
Dahiku panas luar biasa. Waktu aku mengernyit tidak ada kerutan aku rasakan di dahi. Mati rasa aku agaknya?.
Tusukan jarum kecil di lengan bikin seluruh tanganku linu. Pelan- pelan mataku menutup. Badanku sudah tidak terasa panas lagi.
Suara tirai ditutup. Nyala redup lampu warna putih tepat di atas kepala. Semua terhidang jelas di kuping dan sisa sudut kelopak mataku yang masih terbuka. Aku terbang…
 “Bagaimana Dok?” suara wanita di balik tirai.
“Terlambat…,”
Aku terbang…
“Biar saja. Tidak ada keluarga yang mencari dia. Dia pun tidak punya tanda pengenal dan tinggal di perkampungan liar,”
***
Sebanyak 20 rumah semi permanen pemulung terbakar sekitar pukul 15.00. Seluruh harta benda dalam rumah- rumah semi permanen tersebut ikut di sapu si jago merah. Polisi menyimpulkan penyebab kebakaran adalah karena korsleting listrik…
TAMAT










Sunday, March 1, 2015

Eksistensi Penulis yang Ngaku Penulis

Aku suka jengah, baca status facebook teman- teman yang ngakunya penulis. Mereka suka menulis:
Malam minggu pacaran sama buku lagi,
Mending diajakin pacaran sama laptop daripada nonton ke bioskop,
Baca buku lebih enak ketimbang makan kepiting rebus.
Alergi kalau nggak nulis sama sekali dalam sehari.
Aduh! Mereka ini ngapain sih? Menunjukkan kecintaan dan totalitasnya dalam menulis kah?
Kalau berkarya, berkarya saja. Tulis yang maksimal, gaet pembaca. Pencitraan model begitu cuma menuhin beranda pengguna facebook yang lain tanpa guna.
Nah, aku nulis begini ini ntar pasti ada yang komen,”Itu kan hak masing- orang orang buat berekspresi,” iya deh kamu bener. Dan hak aku juga untuk berkepresi kaya begini dalam tulisan ini. Aku mumumu sama teman- teman penulis yang ngaku penulis. Makanya, mari kita saling tukar dan sumbang saran biar waktu- waktu kita lebih berguna sebagai penulis yang ngaku penulis.

SELESAI