Tuesday, January 13, 2026

Ketiganya

Mula-mula, ia pikir cintanya memang berhenti pada tiga belas tahun lalu. Nyatanya, ia takut benar mengarungi lara yang sekiranya baru, jadi diputuskannya mengarungi lara yang sudah akrab dengannya tiga belas tahun lalu saja. Ini bukan lagi karena nyata sosok itu memenuhi kualitas-kualitas yang dirinya cari. Tapi debar berulang yang dirasai sebagai kepastian, tidak perlu ada risiko memulai, tanpa ketakutan kehilangan keterikatan yang baru, itu semua syarat-syarat yang membuatnya tetap tinggal.

***

Mula-mula, ia pikir cintanya memang terjebak untuk yang empat belas lalu. Ia tidak betulan kenal siapa sosok itu, apa kekurangannya, apa kelebihannya, bagaimana reaksinya saat melihat lebih dan kurangnya, semua berhenti saat semua belum tuntas. Jadi ia memilih hidup dalam pengandaian, seandainya sosok itu menerima kekurangannya, mengidolakan kelebihannya, bersorak buat lebih dan kurangnya. Pengandaian itu menyelamatkannya selama empat belas tahun, berbunga tanpa penolakan, bersorak dalam pengandaian.

***

Tanpa mula-mula, ia tahu jelas akan mendapat apa dari sosok itu selama tiga tahun. Orang-orang yang mengaguminya karena dianggap bisa melihat sisi dalam tanpa pandang fisik, sorai karena  kesetiaan yang orang-orang itu mengira-ngira saja. Yang demikian menambah kesempurnaan pandangan, lagi-lagi dari orang-orang soal intelektualitasnya yang tinggi dan menutupi keinginannya membunuhi siapa saja di sembarang waktu. Mendapat apa yang ia mau kapan saja waktunya, cinta yang seolah-olah saja dan itulah kenyataannya.

***

Beberapa waktu lalu, saya diskusi dengan Chat GPT untuk memahami beberapa kasus, bagaimana memahami avoidant secara umum, kemudian bagaimana NPD dan psikopat mencintai. Dan benar, cinta itu demikian kompleks, terlihat bersama, terlihat kecantol, belum tentu cinta pada kenyataannya.

Di usia belasan, saya masih mengira bentuk cinta lebih sederhana, dua orang yang menikah lalu beranak cucu sudah pasti cinta. Di usia dua puluhan, saya pikir terpaku pada satu orang selama belasan tahun sudah pasti cinta, namun tidak... tidak demikian kenyatannya. Cinta yang seolah-olah itu jauh lebih banyak pada kenyataannya. Untuk menghindari kehilangan atas keterikatan yang baru (avoidant), untuk terjebak dalam pengandaian yang menyelamatkan (NPD) dan untuk mendapat status sosial (psikopat).

Pemahaman bagaimana avoidant mencintai untuk tulisan ini saya analisa sendiri, pemahaman bagaimana NPD mencintai saya dapat dengan diskusi bersama Chat GPT, pemahaman bagaimana psikopat mencintai juga saya dapat dengan diskusi bersama Chat GPT.

Chat GPT menggunakan istilah idealisasi bagi NPD yang seolah kecantol dengan satu orang belasan tahun. Ternyata itu bukan utuh bentuk cinta tulus, namun justru pengandaian dalam otak NPD itu sehingga satu sosok bisa terasa sempurna. Sedang psikopat tidak bisa merasakan cinta selayaknya orang normal, yang ada hanya perhitungan untung dan rugi. Satu-satunya yang bukan bentuk disorder dan paling memungkinkan menjalani hubungan di sini, masih menurut diskusi dengan Chat GPT adalah dengan avoidant yang tidak membahayakan setara NPD yang bahaya secara psikis, apalagi psikopat yang berbahaya secara psikis dan fisik.

Mulanya, saya teguh dalam prinsip seseorang memang bisa memilih siapa yang dia cintai dan dia sakiti dengan sadar, meski terasa tidak adil. Namun ternyata ada banyak hal tentang cinta dan menyakiti yang jauh lebih kompleks, batasnya juga ternyata sangat kabur. Tulisan ini kelak tentu akan bisa berkembang lagi setelah saya menambah akses pengetahuan dari jurnal, buku atau lainnya.

No comments: