Tuesday, February 7, 2017

Serunya Gramedia Writing Project 2: Nggak Lolos, Teman Baru dan Masalah Baru


2014 menuju 2015, saya menemukan Gramedia Writing Project Bacth 2 (GWP). Esai mengenai GWP, termasuk apa itu GWP bisa ditemui di tulisan saya 2015 lalu di Radar Malang, Kampus Fiksi VS Gramedia Writing Project.
Berbeda dengan tahun ini, yang fokus pada genre remaja dengan tema bebas. Tahun lalu, GWP membebaskan berbagai macam tulisan untuk masuk, hingga sastra. Sejak awal, saya sendiri nggak fokus pada lolos atau nggaknya di GWP 2. Saya sadar, pada tahun tersebut, banyak yang mesti dibenahi dalam tulisan saya. GWP sebagai forum online, saya lihat waktu itu akan menyediakan kelas menulis gratis bagi saya, ada banyak orang lalu lalang di sana.

Akun saya di GWP
Mulailah saya mengupload cerpen Baju dan Sepatu. Pertemuan dengan Gusti A.P a.k.a Harlem (berjalannya waktu, Harlem Shake booming, jadi dia mengganti nama sosial medianya menjadi Harukaze), membuat saya mendapat ilmu baru soal jenis tulisan saya yang diklasifikasinya menjadi, kritik, sastra dan thriller.
Sebenarnya, saya sendiri kali pertama bertemu Gusti A.P di Forum Lingkar Pena Malang (FLP), tahun 2013. Saat itu, dirinya jadi pemateri di sebuah acara dan saya langsung pendekatan habis-habisan karena tertarik dengan kepribadiannya (mata ngantuknya pagi sampai siang itu, saya ingat banget, kerja dia memang menuntut tidur siang dan bangun malam sampai pagi).
Pada saat GWP 2 berakhir, Gusti A.P yang sempat lolos 30 besar, membentuk grup FB Altair, yang memersatukan kami yang saling kenal awalnya di GWP. Beberapa di antaranya ada saya, Alfy Maghfirah (cewek Tasikmalaya yang akhirnya lolos KF), Hilda Khairunnisa (cewek asal Sumatra yang semua orang dipanggilnya tante), Miftahul Jannah (anak ini selalu bingung mau fokus di hobinya yang mana), mas Rajian Sobri (ini cowok jenius sumpah, komennya selalu tajam, jelas dan membangun), mas Ipul a.k.a Punk Escobar (sabar banget diajak curhat ini mesti kepaksa kwkw), Gunung Mahendra dari FLP Malang (deket ini cowok sama Hilda ciye…), hingga mbak Eka Herliyanti yang suka mengirimi kami paket buku bagus dari Bali.

Beberapa daftar cerita saya di tahun 2014. Sudah saya perbaharui kesalahan-kesalahannya, sesuai saran teman-teman pengunjung cerita.

Saya ingat bagaimana komentar caper saya di tulisan mas Dimas Djoko yang lolos 10 besar GWP 2. Hingga sekarang, mas DJ mau loh… nulis kritik dan saran lengkap sekali, waktu saya upload cerpen di FB. Barokalloh, mas DJ…
Dari GWP 2, saya juga kenal dengan mbak Ratna Nana dan mas Ken Hanggara yang berdomisili di Surabaya. Mbak Nana sendiri, sama ngeblongnya dengan saya hingga sekarang. Sedang mas Ken, saya dan Alfy dulu sering diberi komentar jahil dan akrab di akun FB kami masing-masing. Namun sekarang, mas Ken sudah terikat dengan rutinitas baru, nggak ada lagi komentar jahil dan akrab darinya lagi.
Hingga sekarang, mbak Nana dan saya masih berkomunikasi via WA. Saya juga berkunjung ke blognya, sebaliknya dia pun begitu. Alfy dan saya sendiri sudah pernah bertemu saat KF Emas 2016 di Jogja. Dengan mas Ken saya juga pernah bertemu saat salah satu even UNSA Press, pertengahan 2016. Nah… dengan mbak Nana nih, yang belum rejeki ketemu. Moga ke Surabaya selanjutnya, bisa ketemu ya, Mbak…
Ada juga cerita-cerita seru, seputar para peserta yang kurang paham dengan alur GWP. Memang, GWP memiliki kolom rate dan komentar. Rate tinggi akan muncul di jajaran paling depan website. Konon, ada kemungkinan para editor dengan begitu akan memerhatikan tulisan kita. Nah… yang nggak asyik adalah, banyak peserta sekadar tukar rate dengan peserta lain, untuk membuat tulisannya naik. Nggak ada komentar membangun antara mereka, apalagi susah-susah memerbaiki naskah. Mbak Nana, salah satu yang mengeluhkan boom rate ini. Toh, pada nyatanya para peserta lolos, justru banyak yang namanya nggak nampang di halaman depan karena rate.

Rate yang banyak membuat tulisan tampil di beranda depan.
Gusti A.P pun, pernah diboom rate, sayangnya rate rendah. Jadi, ceritanya dia kasih kritik dan saran pada salah satu peserta. Ini peserta biasanya rajin sekadar tukar rate tinggi. Eh… Gusti A.P malah dibalas dengan rate rendah, yang sungguhan nggak sesuai dengan bobot tulisannya. Jadi, si oknum ini sengaja bawa bala-balanya untuk boom rate rendah, nggak terima dia ada yang berani komentar selain pujian, ya… pujian yang sebenarnya nggak sesuai sama bobot tulisannya.
Bagaimana tulisan saya bisa mendapat komentar yang banyak dan kelihatan sekali kritik dan sarannya mereka niat banget? Saya waktu itu rajin main ke lapak orang. Saya komentar sungguhan di sana. Memuji, memberi kritik dan saran, semampunya kapasitas saya pada waktu itu. Akhirnya, akun dan tulisan saya mulai ditemukan dan dikunjungi banyak orang. Soal rate, itu bonus. Kritik dan sarannya jauh lebih penting.
Hingga sekarang, saya dan Gusti A.P masih sering jalan bersama ke forum literasi di Malang. Jannah sepertinya sudah fokus pada hobi lain. Alfy sempat habis-habisan belajar sastra yang jauh dari jenis tulisannya terdahulu dan mas Ken jadi sastrawan koran. Mbak Eka sendiri, semangat mengikuti GWP 3 tahun ini.

Kami masih terhubung melalui Secret Alliance  of GWP alias ALTAIR  yang dikomandani Gusti A.P

3 comments:

Ariestanabirah said...

Wah, ceritanya seru. GWP memertemukan teman-teman baru ternyata.

Poppy Trisnayanti Puspitasari said...

Salam,

Bener seru banget GWP. Bukan soal lolosnya, tapi soal ketemu temen baru yang membangun banget. Apalagi lintas genre pula. Kaya banget ilmunya dari ketemu temen-temen di sana pas GWP waktu itu.

Sekarang, GWP aturannya berubah... Hehe...

Mizuki-Arjuneko said...

Wah, yang ini belum kukomenin ya, Pop XD