Thursday, March 30, 2017

Jalan Sunyi Si Nona Waham


“Aku udah pecah sama si nona Waham sejak praktek kerja kelas 11, Pop. Dia itu… kalau ngomong berubah-ubah sukanya,” Sambut Anya, ketika saya mulai cerita soal keganjilan nona Waham.
Ternyata, bukan saya satu-satunya orang yang pernah disakiti nona Waham tanpa sebab. Si tomboi Anya pun pernah disakiti. Ceritanya, waktu praktek kerja di SMK, Anya dianggap sering ngobrol dengan Shikamaru oleh nona Waham. Menurut versi Anya, dirinya ngobrol dengan Shikamaru hanya perkara guiding sesuai jurusan mereka di SMK, anime dan pernah Shikamaru bertanya soal perjalanannya ke Bromo. Satu lagi, Shikamaru itu sahabat kental saya yang punya banyak sekali teman perempuan. Saat itu, saya, Anya dan nona Waham satu sekolah tapi beda jurusan. Sedang Shikamaru, sekolah di tempat yang berbeda, namun satu jurusan dengan Anya dan nona Waham. 
Barulah setelah Anya, saya mulai berurusan dengan nona Waham. Perempuan cantik dan cerdas itu awalnya asyik diajak mengobrol. Namun, lama-lama saya mulai merasa ganjil. Seperti ada rasa cemburu dalam pesan-pesan singkat yang dia kirim. Mengagetkan ketika nona Waham memamerkan lirik lagu One Thousand Word pada saya, dia katakan itu dari Shikamaru. Wah… saya diam saja waktu itu. Saya hanya sekadar mengiyakan. Padahal, saya sebenarnya tahu, Shikamaru juga mengirimkan lirik soundtrack game itu pada saya dan banyak orang. Itu memang hobinya Shikamaru, mengirim secara broadcast apapun yang sedang dia suka pada banyak kontak.
“Nona Waham jelekin kamu parah dulu. Katanya, kamu pura-pura sahabatan aja sama Shikamaru, aslinya kamu suka Shikamaru katanya,” Masih Anya yang bicara.
Ya… nona Waham juga menceritakan keburukan Anya di depan saya. Saat SMK, saya sering membaca status melantur nona Waham soal saya juga. Banyak orang tahu, nona Waham sangat menyukai Shikamaru. Di lain sisi, nona waham yang berpenampilan agamis dan kalem mengukuhkan diri sebagai seorang yang membatasi diri dalam pergaulan dengan lelaki, saat itu. Sedang di sisi lainnya lagi, dia sendiri yang membuat banyak orang tahu soal perasaannya pada Shikamaru.
“Dulu, gara-gara aku ngobrol sama Shikamaru, si nona Waham jelekin aku kemana-mana, Pop. Aku sampai didiemin segala. Dia berhenti, waktu tahu ternyata Shikamaru dekatnya sama kamu. Dia mulai cerita soal kamu ke aku tapi aku diemin.” Anya melanjutkan.
Dan nona Waham pernah tiba-tiba mohon maaf pada saya sekitar tahun 2013 atau 2014. Dia mohon maaf dan ijin meremove saya supaya lupa kenangan, yang katanya memalukan soal perasaannya yang bertepuk sebelah tangan dengan Shikamaru dan juga bagaimana dia dulu mencemburui saya.
Barangkali 2015, nona Waham muncul kembali via WA dan add FB saya kembali. Kaget juga dia masih menyimpan nomor saya. Sejujurnya, saya kurang nyaman dengan dia yang sibuk menceritakan dirinya melalui WA. Saya tidak bisa bedakan itu fantasi atau nyata dan tidak ingin lagi terlibat. Nona Waham juga senang bercerita soal kakak-kakak himpunan jurusan yang katanya banyak menyukai dia, namun karena dirinya berprinsip teguh, banyak dari mereka yang menyerah.
Saya sering menawarinya ajakan bertemu, bahkan sejak 2013 hingga tahun ini. Namun, dia selalu mengelak. Hingga kemudian, saya sengaja mengonfrontasi nona Waham dengan artikel-artikel yang saya tahu beda jauh dengan pemikirannya. Setelahnya, dia baru berhenti mengirim WA pada saya.
Shikamaru sebenarnya menyukai gadis lain yang satu sekolah dengannya, namanya Belle. Kami biasa saling cerita ketika menyukai lawan jenis.
“Nona waham pasti merasa malu banget pas tahu kenyataan soal Belle dan kamu, Pop…” Pungkas Anya.
Dan nona Waham yang sekarang beda dengan yang dulu. Dia yang sekarang menyetujui hubungan berpacaran yang dulu, dia gadang-gadang tidak bakal dia lakukan. Namun, soal penampilannya yang kalem dan agamis, dia tetap sama. Satu lagi, tahun ini nona Waham menuduh melalui teman saya, Raihan, jika saya dan Raihan membicarakannya di belakang.

Ini waktu dia saya godain, kenapa dulu mengumumkan diri anti pacaran dan sekarang berubah. Cie.
Saya jadi ingat bagaimana Shikamaru menanggapi datar soal permintaan maaf nona Waham,”Kamu percaya emangnya sama anak itu? Duh… anak itu ya begitu.”
Usut punya usut, Raihan dan satu teman lelakinya, awalnya simpatik pada nona Waham. Akhirnya, teman Raihan yang maju mendekati nona Waham, sedang Raihan mengalah. Lucunya, nona Waham justru ingin tahu sekali hubungan Raihan dengan mantannya. Nona Waham bahkan memengaruhi mantan Raihan agar tidak mau balikan dengan Raihan. Berbarengan dengan itu, nona Waham menghancurkan karakter Raihan di depan banyak orang. Ini persis seperti kasus saya, Shikamaru dan Anya. Pada akhirnya, nona Waham memang menghancurkan karakter Shikamaru, orang yang jadi dambaannya dulu. Awal dari Shikamaru yang mulai merasa ganjil dengan nona Waham, memang dari status-status FB dan cerita perempuan itu sendiri, soal hal yang tidak pernah dilakukan Shikamaru pada banyak orang.
Teman saya, mbak Dika, menyarakan saya menjauhi nona Waham. Menurut mbak Dika, si nona Waham seterusnya akan curhat ke semua orang dengan jalur playing victim. Sedang teman saya, mbak Puput menjuluki nona Waham sebagai psikopat.
“Nona Waham dulu nggak punya teman, Pop. Di kelas aja cuma si X sama si Y…” aku Anya.
“Nona Waham temannya itu-itu saja sih selama ini, Pop. Di jurusan cuma dua…” aku Raihan, yang memang adik tingkatnya sejurusan di kampus.
“Mendingan gitu, emang di dunia banyak yang jahat…” aku nona Waham.
Agaknya, nona Waham seterusnya akan menemui jalannya yang sunyi. Atau barangkali, dia akan berhenti menyakiti setelah menemukan kasih yang dia impikan?
Bonus nih… ini waktu saya protes ke si nona Waham soal saya, yang katanya ngomongin dia bareng Raihan. Duh, saya bukan penyabar sih ya? Sampai saya tega loh, ngomong blak-blakan ke dia kalau dia itu butuh terapi. Selain melantur soal banyak orang di dunia ini jahat, nona Waham juga banyak catut nama yang katanya buruk. Saya lelah ngeblur nama-namanya untuk jaga perasaan, jadi mending saya simpan dulu.






















Terus yang ini soal Raihan dan masalahnya…



Kalau yang ini, soal Anya dan masalahnya…




Nah, kalau soal saya dan Shikamaru yang dulu-dulu itu udah lewat banget. Udah ngakak kami kalau ingat kasus nona Waham yang dulu itu. Tapi, ada nih beberapa status nona Waham dalam versinya dari kiriman FBnya jaman SMK. Kalau boleh baper, nona merah yang dimaksud itu saya sih, barangkali. Sayangnya, waham dia yang lain soal Shikamaru sudah hilang dari FBnya dan belum sempat terdokumentasikan. Yang tersisa di sini, pernyataan cintanya pada Shikamaru yang disebutnya Mr. (Sensor).

Nona Merah yang dimaksud itu sepertinya sih saya.

Dia sebut inisial asli Shikamaru tapi saya blur.

Sekali lagi, dia sebut inisial asli Shikamaru.

Nona Waham dulu getol publikasi, kalau dirinya anti pacaran (1)

Nona Waham dulu getol publikasi, kalau dirinya anti pacaran (2)


Mr. Arogant itu tokoh cerpen saya jaman SMK. Terus Messege From Unknown Mother, itu buku favorit dan bahan esai saya waktu kuliah. Bagaimana saya nggak baper kalau Nona Merah yang dimaksud itu saya coba? Hehe...

Status yang atas itu setelah dia minta maaf dan yang bawah itu, lagi-lagi soal prinsipnya.

Anti pacaran 1

Anti pacaran 2

Anti pacaran 3

Entah sudah…

5 comments:

ariska endah said...

Trenyuh aku mbak pop. Sekaligus wedi. Jangan jangan aku koyo "nona waham".aku ga pengen kiyo nona waham mbak pop

Poppy Trisnayanti Puspitasari said...

Sakno jane memang, Kha. Semakin orang-orang pergi, si nona ini makin yakin lek oang-orang itu memang sepakat menyakiti dirinya. Aku juga wis berkali bilang dia itu cantik, cerdas, keren, berbakat. Tapi aku sendiri nggak tahan menghadapi wahamnya... padal sebenernya, cara terbaik membantu orang dengan delusi itu, dengan cara mengajak dia mendeteksi potensi nyata dalam dirinya.

Aku yakin, nona itu akan baca ini postingan entah kapan. Moga dia terketuk. Lek dirimu aman, Kha... nggak ada bibit delusi dalam dirimu. tenang saja... cirinya, kamu sadar dan takut jadi seperti itu. Itu sudah ciri dirimu aman justru.

ariska endah said...

Amin mbak pop. Mudah mudahan saja

Windy A. Alicia Putri said...

Si nona ini pinter ya mbak

Poppy Trisnayanti Puspitasari said...

Yups... Makanya jago memanipulasi dia...