![]() |
Lokasi: Bareng Malang. Jepreted by tanganku dewe. |
"Hai, Pop... Langkah sudah ada lanjutannya?" tanyanya sambil mendekati bangku saya.
Langkah adalah judul novel yang saya tulis tangan saat kelas delapan dan tidak pernah saya selesaikan, sayangnya. Jika menilik istilah masa sekarang, Langkah sebetulnya berisi fan fiction yang tokoh-tokohnya mengambil dari Naruto.
Waktu itu, saya bikin cerita dengan tokoh Tsunade, ibu muda yang terus menerus gagal mencapai mimpinya jadi komikus. Ia memiliki anak berusia SMP bernama Gaara yang tiap hari mesti mengevakuasi dirinya yang kerap mabuk hingga tidak sadar tidur di sembarang tempat karena depresi. Gaara dan Tsunade, keduanya tokoh favorit saya tentu saja dari serial Naruto.
Gadis yang bertanya di depan tadi duduk dua bangku dari belakang. Sedang saya, duduk di bangku paling depan dekat pintu, sendirian. Satu waktu, bu guru mata pelajaran akuntansi memujinya yang mampu mengerjakan soal di papan tulis dengan ucapan, sudah pinter, cantik lagi sesuai namanya.
Sejak kecil, saya tidak pernah punya konsep fisik dalam melihat seseorang, jadi ketika dewasa lebih suka pakai istilah standar industri dibanding ganteng atau cantik. Namun meski demikian, saya tahu teman sekelas saya itu punya karakter secantik apa. Begini ceritanya...
Mulai kelas tujuh, saat jam pelajaran olahraga saya kerap ditertawakan. Selalu paling lamban saat berlari, selalu jatuh tertelungkup saat lompat harimau dan menggelinding miring saat roll belakang. Hingga satu waktu di kelas delapan, semua siswa terlihat memilih pasangan masing-masing untuk bergantian memegangi kaki saat sit up, gadis itu termasuk.
Saat semua sudah mendapat pasangan sesuai perintah guru, saya hanya kebingungan, menoleh ke kiri dan kanan. Jadi hingga akhirnya nama saya dipanggil, nekat saja tetap maju tanpa pasangan. Pak guru saat itu bertanya pada para siswa siapa yang mau membantu saya dan semua diam. Bahkan duo siswi populer yang terkenal jago akademis di sekolah dan kerap memanfaatkan saya dalam pekerjaan kelompok (baca juga Hole Inside Si Tigabelas Tahun), mereka juga diam.
Tentu saja memilih pasangan begini tidak mutlak hingga menjalankan sit up harus bersama teman yang dipilih pertama. Mengiyakan membantu saya sekali, tidak akan mengganggu penilaian guru juga. Namun hingga sebelum guru menanyakan sekali lagi siapa yang mau membantu saya untuk kedua kali, semua masih diam.
Hingga gadis itu muncul dari kerumunan belakang tepat setelah guru bertanya hal yang sama pada kali kedua, sambil mengangkat tangan. Dia mesti melewati murid-murid lain yang tingginya tentu melebihi dirinya. Saya ingat, tinggi saya saat itu 154, sedang dia kira-kira nyaris sekuping saya. Tes dilanjutkan saat dia bantu memegangi dua kaki saya. Setelahnya, dia berlalu tanpa saya tahu bagaimana cara mengucap terima kasih.
Gadis itu sendiri, duduk dengan teman sebangkunya yang saya ingat berambut nyaris sepunggung; keriting tebal, kulit sawo matang, dengan tinggi sama dengannya. Mereka bersahabat, terlihat nyambung saat ngobrol dan teman sebangkunya itu terlihat tidak pernah mengganggunya.
Sebaliknya, teman sebangkunya itu kerap mendatangi bangku saya, mengatakan hal-hal buruk yang entah bagaimana otak saya tidak pernah mau mengingat detail ucapannya sejak setelah lulus SMP. Usahanya menganggu saya setiap hari itu kerap diakhiri tawa mengejek.
Masih orang yang sama, menulis kata-kata yang mengandung pelecehan di buku cetak yang dipinjamkan sekolah. Ia sendiri yang menuliskannya, kasak-kusuk berisiknya di bangku belakang jelas siapa saja dengar, sekaligus dia juga yang membawa buku cetak itu ke bangku saya sambil bilang,"Ada yang nulis namamu di buku cetak." Dan bagaimana pun saya berusaha mengalihkan pandangan, dia tetap menyorongkan paksa buku itu ke hadapan saya, tidak berhenti sampai mata saya menatap lantas membacanya. Sekali lagi, dia pungkasi aksinya dengan tawa mengejek.
Lagi-lagi, bagaimana pun saya berusaha mengingat detail tulisan di buku cetak itu, otak saya menolak. Jadi setelah di usia dewasa baru mengenalinya sebagai bentuk pelecehan, otak saya seperti memutuskan menghapus saja detail kalimatnya.
Namun ia, gadis itu, justru kerap menunjukkan raut muka tidak nyaman dan gerak tubuh kurang berkenan ketika teman sebangkunya itu sedang melakukan aksinya dan kebetulan ia sedang lewat di bangku saya. Ini bukan kisah kepahlawanan ala novel atau film kenamaan dimana si tertindas dengan suara lantang dibela. Namun justru, bagaimana gadis itu tidak pernah turut merisak (membully) saya, bahkan menunjukkan raut wajah, gerak tubuh tidak nyaman dan tidak berkenan, itu juga sebuah perlawanan. Yang demikian membikin saya tahu, masih ada seseorang di pihak saya saat itu.
Di hari-hari lain, saya tetap membawa buku gambar seukuran kertas A3 saban hari ke sekolah. Saya juga menulis novel yang ditulis tangan salah satunya yang berjudul Langkah itu. Setiap hari, saya menulis dan menggambar sendirian di bangku. Sering juga saya membawa komik dan majalah anime bekas, hasil berburu di WiIlis. Jadi ketika teman-teman lain saling berinteraksi, terbahak, mengobrol, saya tidak pernah terlibat, menoleh saja saya tidak. Apalagi di tahun-tahun itu, dalam satu kelas bisa dihitung jari siapa yang suka anime, bahkan dalam satu sekolah pun, para otaku ini bisa dipastikan saling kenal karena memang tidak banyak jumlahnya.
Namun ia, gadis itu, sekali lagi entah dimulai darimana, selalu rutin bertanya apa Langkah sudah ada kelanjutannya. Kadang meski belum selesai menulis, saya membiarkannya membawa pulang buku seukuran A5 itu, tempat Langkah ditulis. Dia akan tersenyum cukup panjang tiap berhasil membawa Langkah pulang dan biasanya, dalam beberapa hari dia akan mengembalikan Langkah lagi-lagi langsung ke bangku saya.
Kalau sudah begitu, dia membiarkan saya menulis lagi dalam beberapa hari berikutnya, sebelum lagi-lagi bertanya hal serupa,"Langka sudah ada kelanjutannya?" Sepertinya dia lebih sering menyebut Langkah tanpa huruf H.
Langkah pada kenyataannya tidak pernah selesai. Semua bermula dari Wisnu salah seorang anggota Osis di kelas, hendak membawa tulisan saya masuk mading atau majalah. Langkah ia bawa pada anggota Osis yang lain, namun sayangnya saya tidak pernah berani mengambilnya lagi. Dengan gadis itu pun, kami pisah kelas di tahun berikutnya.
Masuk kelas 10, saya dan gadis itu ternyata masuk di SMK dan jurusan yang sama. Dia masuk di kelas yang hingga tiga tahun berikutnya dikenal pasif, siswa-siswanya tidak terlihat terlibat dalam kegiatan sekolah atau perwakilan apapun. Kami sendiri entah bagaimana tidak pernah benar-benar berpapasan di sekolah, entah karena di SMK terdiri dari enam jurusan dengan kelas pagi dan siang, jadi begitu banyak siswa atau saya yang saat itu sedang belajar berinteraksi layaknya manusia normal hingga sibuk sendiri.
Hingga kalau tidak salah di kelas 12 (atau 11?), saat sedang di selasar dan duduk di kursi bersama beberapa siswi lain lintas kelas, seorang siswi dari kelas gadis itu tiba-tiba berkata,"Kalian tahu nggak? Si (gadis itu) sudah diperawani si X."
Siswi-siswi lain terlihat jijik dan prihatin. Ada juga yang penasaran hingga terus menanggapi berita dari siswi pertama tadi. Saya diam dalam kemarahan, namun saya yang saat itu masih belajar berkomunikasi layaknya manusia normal, tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Dalam kepala, sebetulnya saya sangat ingin menceritakan bagaimana gadis itu menyelamatkan saya tidak sekali dalam kesendirian yang muram di masa SMP. Namun yang terjadi, saya hanya diam melihat wajah-wajah jijik dan sekadar penasaraan itu. Jadi bagaimana gadis itu bisa dinilai dari pilihan aktivitas seksualnya (jika cerita teman sekelasnya itu memang benar)? Dan lagi, hanya ia yang dinilai. Laki-laki yang katanya berhubungan badan bersamanya itu tidak mendapat tatapan jijik dan rasa ingin tahu yang serupa.
Kelak ketika dewasa, saya tetap merutuki diri, kenapa tidak bercerita bagaimana nilai gadis itu sesungguhnya di depan teman-teman yang hari itu ada di selasar? Kelak ketika dewasa pula, saya berharap gadis itu melakukan aktivitas seksual semoga saja karena memang memilih, bukan karena manipulasi, paksaan atau apapun yang membuatnya lara. Betul, saya tidak hendak membahas mana paling bermoral dan mana perilaku yang paling berisiko dalam tulisan ini.
Saat ini, saya gagal menemukan akun Instagram gadis itu. Namun kami pernah saling mengikuti di Instagram lamanya, pernah juga saya menyapanya lewat DM dan saat itu berucap, pasti mengiriminya buku jika kelak saya punya (meski sekarang semakin melihat tulisan bagus orang lain dibanding tulisan diri sendiri, saya jadi pasrah saja jika kelak tidak akan pernah layak punya buku).
Namun melalui akun Instagram lamanya juga, saya melihatnya bersama seorang laki-laki yang ternyata adalah pacar gadis itu. Pacarnya sama-sama standar industri dengan dia dan yang lebih penting, mereka tampak bahagia bersama. Beberapa waktu kemudian ketika mendengar kabar dia menikah, entah dengan laki-laki yang ada di Instagramnya itu maupun bukan, harapan saya tetap sama, semoga karma baik menyertai kehidupannya.

No comments:
Post a Comment