Tuesday, August 11, 2015

Mamalogue

Mamalogue
Ingatanku belum remang-remang, soal cerpen SGA yang berjudul Travelogue itu. Diceritakan seseorang yang mengobrol dengan perjalanannya sendiri dalam Travelogue. Kemudian, aku menamai obrolanku dengan mama sebagai Mamalogue. Halal saja, kan? Ini semua trik pasar saja kok. Biar orang-orang tertarik mendengar aku bertutur. Kamu pasti sudah tahu kalau sekarang ini, musimnya pengguna fesbuk berbagi berita di kronologi masing-masing hanya berdasar hotnya sebuat judul berita, misal; Menteri X Luncurkan Minyak Babi Cap Onta[1]. Berita-berita tersebut juga disertai kutipan tambahan dari pembagi berita seperti,”Masyaalloh! Minyak babi halal!” atau “Puji Tuhan! Sebuah inovasi jempolan!”
Mamalogue antara aku dengan mama sering berakhir dengan mama yang menjerit, mengumpat sambil pipinya mendadak basah. Itu tanda bahwa mama sedang tersinggung berat atas ocehanku sepanjang percakapan dengannya. Ocehan yang sering menyoal mamaku yang ingin aku jadi guru, seorang PNS yang terjamin makan tiap bulan, dia tidak ingin aku mencuri atau mati karena serangan lapar. Sedang aku ingin mendongeng bersama anak-anak di sebuah kali sambil bertani. Sekolah yang menjadikanku guru dan PNS itu tidak bakal mau membagi bangkunya buat anak-anak yang mendengar dongengku di kali.
Ocehan macam ini yang bikin mama selama 48 jam, tidak bakal mau melihat mukaku. Ajaibnya, setelah lewat jam tersebut, soto hangat pasti terhidang di meja. Aku mulai menyendokinya dan mama tersenyum lagi, sambil memandang mukaku.
Tapi, hari itu sungguh beda. Kamu pasti sudah bisa menebak kemana alur ceritaku.
Aku dan mama duduk semeja sambil menyendoki soto di mangkuk kami masing-masing. Soto itu terhidang tepat setelah 48 jam mama tidak mau melihat mukaku.
“Ma, mungkin besok aku bakal memiliki tiga orang anak,” Ucapku tiba-tiba.
Mama mencureng. Tidak menanggapi.
“Anak keduaku bernama Yellow. Seorang anak perempuan yang tidak berbakat di bidang akademis seperti kakak dan adiknya, Cyan dan Magenta,”
Mama mengaduki soto di mangkuknya. Lagi-lagi tidak menanggapi.
“Dia akan masuk home schooling, ikut kurikulum luar negeri biar tidak perlu ikut UN. UN itu menyeragamkan kemampuan anak. Padahal, tiap anak nyatanya tidak memiliki kemampuan yang seragam,”
Bibir mama hampir terbuka, namun kembali terkatup.
“Waktu-waktu luangnya akan di isi untuk bermain teater bersama mas Bedjo, yang anggota Teater Komunitas itu. Dia akan belajar berkata jancok lebih dini dalam dialog-dialog teaternya dari mas Bedjo. [2]Nanti dia juga bakal belajar mencium bibir kucing, menguliti kemudian mencongkel matanya dari mas Udin a.k.a Dean Al-Fataa.[3] Selanjutnya, Yellowku juga bakal belajar masuk surga lewat jalur nonformal dari M. Asrofi Al-Kindi, anak Geografi yang anggota UKM Penulis dan setia mengetik puisi-puisinya menggunakan bolpoin dan kertas itu.”[4]
Taplak di meja makan mulai diremas oleh mama. Mama menjerit, mengumpat sambil pipinya mendadak basah. Telunjuknya menunjuk mukaku. Ini belum pernah dia lakukan sepanjang Mamalogue yang pernah terjadi.
Mama menarik lenganku. Aku diseret, kemudian lemparnya ke teras rumah. Ransel merah jambu milikku juga dia lempar tepat di mukaku. Mama terus menuding sampai pinggulnya hilang dari balik kusen pintu.
Aku merogoh benda-benda yang ada dalam ransel. Baju dan semua bukuku yang soal isme-isme itu ada di sana, kecuali dompetku. Bagaimana aku bisa hidup di jalanan tanpa dompet itu? Kartu ATM dan semua uangku ada disana! Semua isinya berasal dari gaji mama. Aku ingat tiga tawaran untuk menjadi guru dan PNS yang semuanya aku ludahi tiga minggu lalu. Alasanku? Aku merasa lebih terhormat mendongeng bersama anak-anak di sebuah kali sambil bertani.
Pipiku mulai basah. Bagaimana aku bisa hidup? Ini semua karena obrolan menyoal masa depan putriku, Yellow. Aku masih merasa berhak buat mengarahkan masa depannya Yellow. Dia putriku.
Langkah kaki mama tiba-tiba kedengaran kembali mendekati pintu. Tangan kirinya menjinjing dompet beludru warna biru. Di mukaku, dia melemparkannya. Itu memang dompetku. Setelahnya, mama masuk kembali ke dalam rumah sambil membanting pintu.
Ah, mama pasti tidak tega jika aku mesti hidup di jalanan tanpa isi dompet, pikirku.
Aku membuka resleting dompet beludru itu. Kudapati tidak ada uang selembar pun di sana, pun kartu ATM. Cuma ada selembar KTP dengan foto dan statusku yang bertulis; lajang. Dadaku mendadak seperti dicubit belasan tangan mama. Aku ingat bahwa aku belum pernah menikah dan Yellow belum pernah ada…
Kantung mataku makin terasa pekat, bengkak dan berair. Bayangan kusen pintu kelihatan bergoyang, makin hitam dan hilang berbarengan dengan air mataku yang merembes. Dua tinju mengenai tulang pipi bagian atasku. Semuanya bikin jelas, bahwa aku menangis bukan karena sedih mesti berpisah dengan mama. Mataku mengerjap dengan posisi punggung terlentang. Banyak kaki berebut menginjak tubuhku.
“Iya! Memang dia! Dia yang nyolong nasi bungkus di warung saya selama ini!” Jerit suara asing.


[1] Di catut dari biodata Edi Akhiles, CEO Divapress.
[2] Launching Omah Komunitas, 2015. Mas Bedjo pegiat Teater Komunitas menampilkan sebuah teater yang disajikan murid-murid SMPnya. Jancok adalah kata yang sering diucap dalam dialog teater tersebut.
[3] Launching Omah Komunitas, 2015. Mas Udin membacakan cerpennya yang seperti biasa punya narasi kelam.
[4] Launching  Omah Komunitas, 2015. Pergiat Pelangi Sastra Malang, Muhammad Asyrofi Al-Kindy membacakan puisinya, MasukSurga Jalur Nonformal.

No comments: