Tuesday, November 10, 2020

Menangkal Perundungan Lewat Webtoon Lokal Eggnoid

Sumber: Dihlyz Yasir dan WAG Pelangi Sastra Malang

Dimuat di Jawa Pos Radar Malang, 12 Februari 2020

Kasus MS (13) masih terus bergulir dan dikawal ketat media lokal hingga nasional. MS sendiri merupakan siswa SMP Negeri 11 Malang yang mengalami luka parah, setelah menjadi target perundungan atau lebih populer disebut bullying, oleh tujuh orang temannya.

MS tentu tidak sendiri. Kasus perundungan menurut data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan dilansir melalui Jawa Pos, 23 Juli 2019, pada enam bulan pertama 2019 saja, sudah tercatat 13 korban dan 13 pelaku. Tujuh di antaranya, korban perundungan di sekolah sedang sisanya, di media sosial. Tentu kasus-kasus yang sempat diangkat media, belum mewakili jumlah keseluruhan yang terjadi di lapangan. Demikian membuat upaya menangkal perundungan, semestinya bukan hanya menjadi tugas guru yang saat ini memiliki beban berat administrasi dan orang tua yang belum tentu bisa memantau perbedaan sikap anak antara rumah dengan sekolah. Apalagi mendengarkan ceramah mengenai perundungan, saat ini belum tentu menjadi sesuatu yang menarik lagi. Maka Webtoon, agaknya dapat menjadi salah satu solusi menyosialisasikan isu perundungan kepada anak dan remaja.

Webtoon merupakan platform komik yang mewadahi karya-karya komikus asal Asia. Platform yang telah berdiri semenjak tahun 2003 ini, memiliki berbagai genre yang telah dipublikasikan, Eggnoid menjadi salah satunya. Eggnoid yang memiliki genre fiksi ilmiah dan fantasi ini, merupakan karya Archie The Redcat. Archie sendiri merupakan komikus berkebangsaan Indonesia yang telah meniti karir semenjak tahun 2000.

Eggnoid mengisahkan remaja SMA bernama Kirana yang lebih akrab disapa Ran. Ran seorang yatim piatu dengan fisik yang disepakati banyak orang sebagai cantik dan prestasi akademis sangat baik. Namun nyatanya, dua hal yang biasanya dianggap sebagai kelebihan ini, tidak membuat Ran lolos dari target perundungan. Para pelaku, mencari celah soal Ran yang kesulitan bergaul dan kikuk. Bermodal dua sebab tadi, para pelaku mendapat dorongan bahwa Ran layak dirundung kemudian. Hingga dalam hidupnya yang sepi, sesak dan betul-betul merasa sendiri, Ran menemukan sebuah telur misterius yang di dalamnya terdapat anak laki-laki bernama Eggy yang kelak menjadi teman baiknya.

Jalan cerita Eggnoid berlangsung apik, berikut bersama penokohannya yang matang. Setiap tokoh termasuk Ran sendiri, selayaknya remaja di kehidupan nyata, memiliki perkembangan emosi akibat dari kejadian-kejadian yang dialami. Komikus Eggnoid pun, ternyata pernah mengalami perundungan semasa masih bersekolah. Demikian agaknya, membuat isu perundungan dalam komik yang telah difilmkan 5 Desember 2019 lalu ini, menjadi tajam, berisi dan menyentuh.

Selain melalui petualangan memecahkan asal-usul Eggnoid, Ran dengan kehidupan sekolahnya pelan-pelan berubah lebih matang. Ia pada muaranya menemukan cara bergaul dan lebih mengenal diri sendiri. Dengan mengenali diri, Ran jadi memahami permasalahannya soal tidak tahu cara bergaul. Kemampuan bergaulnya itu kemudian, membawanya menemukan teman-teman baik. Gadis berambut merah itu pula, yang menemukan cara melawan para perundungnya baik secara psikis maupun fisik. Ini belum lagi, bagaimana Archie sebagai komikus, mampu menggambarkan para perundung dengan begitu manusiawi.

Digambarkan para perundung Ran, memang ada yang secara terang-terangan tidak menyukainya dan bersikap kasar. Namun ada pula, yang memilih benci dengan sembunyi-sembunyi hingga menghasut teman-teman lain bersikap serupa. Bahkan ketika akhirnya Ran berhasil bersikap asertif, melawan perundungan secara psikologis dan menguasai seni beladiri hinggga bisa melawan perundungan secara fisik, tidak semua pelaku mau mengaku salah. Ada juga pelaku yang terpaksa meminta maaf hanya karena ketakutan dengan regulasi sekolah, ada yang masih menyimpan dendam, bahkan ada pula yang menggunakan kekuasaan orang tuanya buat menyerang balik.

Pelaku perundungan, apapun alasannya tetaplah pelaku, begitu kiranya yang hendak disampaikan dalam Eggnoid. Mereka pula yang menikmati ketika menekan dan melukai sesama teman dengan mencari-cari segala pembenaran. Hingga Ran, yang secara fisik dan kecerdasan dianggap orang-orang bakal membuat sungkan para pelaku sekalipun, masih juga menjadi korban. Sikap asertif, yaitu berani berkata ya atau tidak, juga disisipkan sebagai solusi atas perundungan yang dialami Ran. Sedang tindakan fisik sendiri sampai dipergunakan karena keterpaksaan, sebabnya korban perundungan sendiri juga mengalami tindakan fisik.

Jika masuk pada obrolan anak dan remaja demi menyosialisasikan isu perundungan tidak semua orang mampu, mengapa tidak dimulai dengan Eggnoid dan Webtoon? Apalagi, tidak semua anak dan bahkan orang dewasa sekalipun, nyaman mencerna isu perundungan melalui teks panjang. Platform Webtoon sendiri dapat diakses melalui playstore secara gratis hanya dengan bermodalkan internet. Menghawatirkan muatan konten pornografi? Konten pornografi memiliki jaminan telah disaring oleh pihak Webtoon sebelum sebuah komik beredar. Genre dan peringatan soal level usia pun dimiliki platform yang pada 2016 telah memiliki 35 juta pengguna tersebut. 

Bahkan bukan hanya anak dan remaja, orang dewasa sekalipun, dapat mengikuti jalan cerita Eggnoid. Gambar yang berwarna, cerita yang menghibur, pula sarat pendidikan namun tidak menggurui, agaknya bakal lebih mudah diserap anak dan remaja soal isu perundungan. Apalagi, dengan sosok komikusnya yang inspiratif, di mana ia sendiri dulunya adalah korban perundungan namun berhasil bertahan dan justru karyanya telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

Kasus MS memang serupa puncaknya gunung es, ia tampak namun bukan menunjukkan keseluruhan. Dilansir dari situs resmi KPAI, 10 Februari 2020, dalam kurun waktu sembilan tahun yaitu 2011 hingga 2019, ada 37.381 pengaduan kekerasan terhadap anak. Untuk perundungan baik di dunia pendidikan maupun di sekolah sendiri terdapat 2.473 laporan dan terus meningkat. 

Harapan agar tidak terjadi kasus serupa juga terasa utopis jika semua pihak, apalagi yang memiliki kuasa regulasi, tidak betul-betul berniat mencegah untuk kasus yang belum terjadi dan melindungi korban untuk kasus yang telah terjadi. Memerkenalkan komik dengan tema perundungan pun, hanya salah satu langkah pencegahan. Menjadi menarik barangkali, ketika bacaan menyenangkan serupa komik dengan isu demikian mulai dibicarakan di rumah, hingga masuk ke sekolah dan menjadi bacaan juga bahasan resmi, misalnya pada jam literasi atau mata pelajaran Bimbingan dan Konseling. 

Jadi bagaimana? Mulai tertarik membahas Eggnoid bersama anak di rumah dan sekolah? 


*Poppy Trisnayanti Puspitasari, Gusdurian.

No comments: