Saturday, April 25, 2026

Bias (Pengalaman Nonton Kembang Api)

Sumber: Gugel

Lelaki pertama ciri khas boomer banget, menghakimi masalah orang tidak lebih berat masalahnya dibanding dia.

Lelaki kedua ini betulan kayak gini? Dia kan dokter umum, setidaknya dia tahu kapan harus minta bantuan sejawatnya yang profesional.

Perasaan wanita pertama ini valid banget sih, rasa bersalah atas kehilangan nggak bisa diselesaikan begitu mudah.

Lantas anak SMA satu-satunya dalam klub ini, saya pernah mengalami serupa namun dia lebih berat. Jadi wajar jika dia menganggap satu-satunya jalan keluar adalah...

***

Saya mengenali diri saya sendiri sebagai seseorang dengan pemikiran dan isi hati yang bias saat nonton film Kembang Api. Film sendiri dimulai dari klub bunuh diri yang terdiri dari empat orang lintas usia yang kemudian terjebak time loop.

Film yang rilis 2023 lalu itu membikin saya secara sadar dan tidak sadar melakukan bias-bias serupa para tokohnya seputar masalah hidup orang lain. Mana yang lebih berat, mana yang paling buntu, lebih kejam; hingga mana yang paling layak berpikir bunuh diri.

Bahkan penghakiman atas ciri khas generasi tertentu ketika menghadapi masalah pun muncul dalam pikiran dan hati saya. Ya, kesimpulan pria pertama sebagai boomer tadi. Selain, karena tidak pernah menghadapi masalah serupa sependek hidup (amit-amit jangan, saya belum tentu kuat), jadi tidak ada bayangan bagaimana penyelesaian masalahnya. Ketika dalam kepala tidak ada ide-ide penyelesaian masalah, saya langsung berpikir beratnya masalah lelaki pertama valid.

Sedang untuk lelaki kedua, justru ada bias pemikiran, bukan kah dia punya akses pengetahuan buat mengobati dirinya? Ia bahkan masih mengulas keilmuan yang sempat didapat di bangku kuliah untuk bantu memikirkan solusi satu-satunya anak SMA dalam klub itu. Tapi bukan kah siapa saja bisa merasa buntu dan itu manusiawi? Tapi mengapa saya masih menganggap masalah lelaki kedua paling ringan dalam klub ini, sedang saya juga mengatai lelaki pertama sebagai boomer tukang menghakimi?

Lantas kenapa rasa bersalah perempuan pertama lebih mudah saya terima sebagai masuk akal? Kenapa saya tidak memiliki bias untuk membayangkan dia ngobrol saja dengan suaminya lantas bahu membahu menyelesaikan rasa bersalah mereka? Apakah karena saya punya pengalaman jatuh dari motor bersama ibu yang padahal kami berdua sama-sama tidak terluka, tapi saya menangis dan merasa bersalah melihatnya tertimpa pagar?

Kemudian untuk satu-satunya gadis SMA dalam klub, apakah lagi-lagi biasnya datang karena saya pernah mengalami hal serupa meski jauh tidak lebih berat dibanding dia? Apakah pengalaman serupa membikin kita punya landasan menginvalidasi atau memvalidasi pengalaman orang lain?

Pertanyaan pun muncul setelahnya, bagaimana ketika saya menghadapi suatu musibah, suatu masalah, lantas orang lain memiliki bias dan penghakiman seperti yang saya lakukan kepada para tokoh dalam Kembang Api? Bukan kah saya juga akan sama tidak terimanya dengan mereka saat saling menginvalidasi masalah dan musibah masing-masing sepanjang film?

Pada akhirnya, para tokoh dalam Kembang Api adalah saya, adalah kita semua, yang berapa banyak pun sudah mendengar kisah diri dan orang lain, tetap saja memiliki bias buat menginvalidasi dan memvalidasi masalah dan musibah orang lain.

No comments: