![]() |
| Sumber: Fighting Predators in Our Scene by Anzi Matta |
Tuesday, June 4, 2024
Gerbang
Tuesday, May 14, 2024
Ikatan Jiwa
![]() |
| Sumber: 30 Hari Bercerita |
Setelah setahun sebelumnya bikin Facebook, 2010 saya bikin Twitter. Dua sosial media ini menawarkan antar manusia yang tanpa keterpisahan dan di tahun yang sama, tiba-tiba saja sepulang sekolah ingin mampir ke SD. Hari itu Jumat dan saya naik angkot, pergi ke rumah nenek yang jaraknya tidak jauh dari SD sebetulnya.
Sayangnya, saya siang itu keburu ke rumah nenek. Jadi dari dalam angkot, saya hanya memandangi SD yang sedang dilintasi. Kenapa tiba-tiba ingin ke SD ya? Demikian batin saya.
Esoknya, keinginan pergi ke SD tidak tertahan lagi. Sepulang sekolah saya betul kesana naik angkot. Tiba-tiba saja ngeloyor ke ruang guru dan bertemu bu Lilik si guru penggila anime. Bu Lilik mengamati sebentar lantas ingat,”Poppy ya? Cari siapa?” saya menjawab, cari bu Nurul.
Seperti keinginan kuat tiba-tiba ingin mengunjungi SD, saya juga tidak mengerti mengapa ketika ditanya yang keluar justru nama bu Nurul. Bu Lilik pun menunjuk ruang di mana bu Nurul berada, sedang ia pamit karena ada tugas di ruang yang lain.
Ruang guru yang ditunjuk ternyata sepi, hanya ada bu Nurul di situ dan ia langsung mengenali saya. Dengan mata berbinar, bu Nurul menyambut hingga kami mengobrol selama tiga jam. Kami seperti dua orang kawan lama yang sudah terbiasa bercakap hingga berjam-jam. Padahal semasa SD, betulan mengobrol saja kami tidak pernah.
Bu Nurul bilang, andai saja saya ceria dan centil lucu seperti hari itu sejak SD. Ada kelegaan di mata bu Nurul melihat muridnya yang super menarik diri hari itu sudah berubah bisa bergaul dan ceria.
“Saya memang angan-angan kamu kesini sejak hari Jumat...” ucap bu Nurul.
Jadilah saya tahu, keinginan kuat mengunjungi SD, ternyata karena bu Nurul. Bu Nurul guru sejati yang bahkan jauh setelah lulus masih memastikan muridnya yang super menarik diri ini baik-baik saja. Masih dirinya juga yang mengenang seorang murid bukan karena prestasi akademis yang menonjol atau kebanggaan sejenis, toh semasa SD saya tidak memiliki itu semua. Bu Nurul justru melihat seorang anak sebagai pribadi yang utuh lepas kelebihan dan kekurangannya.
Obrolan selama tiga jam itu ternyata tidak pernah terulang lagi,. Tidak sampai setahun, bu Nurul masuk ICU dan meninggal. Terakhir, saya hanya bisa melihat pintu ICU tempat bu Nurul dirawat.
Jadi percayakah kamu? Bahwa antara jiwa yang satu dengan lainnya bisa saling memanggil dan bertemu meski tanpa nomor telepon maupun Facebook?
Monday, April 29, 2024
Rasa Sepi
![]() |
| Sumber: Gugel |
“Alasan aku ngehubungin kamu lagi adalah... Aku udah lelah sendirian, aku juga udah capek mencari...”
Saya sodorkan dua bilah tanda, satu ❎ dan satu lagi ☑️
❎ artinya tolak sedang ☑️ artinya lanjut.
Kamu mengambil tanda yang kedua meski saya katakan, jangan pernah percayai siapapun yang datang pada kita hanya karena mengatasi rasa sepi.
Tapi katamu, segala risiko bakal kamu hadapi. Meski baru tujuh langkah, kamu pada akhirnya kembali sambil membawa tanda ❎
Katamu, tanda itu diberikan olehnya padahal kurang tiga langkah lagi kalian sampai di garis akhir.
Barangkali yang seorang itu lebih bisa mengatasi rasa sepinya ketimbang kamu...
Wednesday, March 13, 2024
Berburu Food Vlogger
![]() |
| Sumber: Gugel |
2017, Bondan Winarno Maknyus meninggal dan membuat tahun-tahun saya berikutnya dipenuhi keluhan lewat Twitter,”Tukang ulas makanan nggak ada lagi nih yang macam pak Bondan?”
Para food vlogger sendiri makin marak bermunculan setelah 2017, namun tetap tidak ada yang nyantol di hati. Mereka tentu saja keren dan punya ciri khas tersendiri, tapi belum ada saya temukan yang bisa mengomentari makanan sedetail pak Bondan sampai kita sendiri seolah ikut merasakannya.
Satu lagi kunci kenapa pak Bondan belum terganti, beliau tidak pernah berkomentar,”Kalau menurut aku diasinin dikit, aku bakalan lebih suka sih.” Kalimat satu ini kerap kita dengar dari banyak tukang ulas makanan hari ini. Ada selera subjektif yang diusung, sedang pak Bondan tidak pernah melakukan koreksi macam begitu. Membuat para pemirsa tentu merasa, oh setiap orang punya gaya memasaknya masing-masing dan gaya itulah yang dijabarkan pak Bondan tanpa menyatakan salah atau benar.
![]() |
| Lolita Agustine (kedua dari kiri). Sumber: Gugel |
Selain pak Bondan, ada juga Benu Buloe yang tidak pernah mengoreksi makanan sesuai seleranya. Namun untuk generasi 90s, tentu saja ada Lolita Agustina. Lolita bahkan lebih detail dalam menjelaskan makanan ketimbang Benu Buloe.
Pertama saya tahu mbak Lolita tuh di acara Detektif Rasa Trans7 2018 lalu. Pembawa acara di sana sering berganti-ganti dan rata-rata sama, kurang bisa menjelaskan makanan di hadapan. Sampai mbak Lolita muncul dan betul dia bisa menjelaskan makanan sampai pemirsa seolah turut makan juga. Sesuai judul acaranya, mbak Lolita betulan detektif di sini. Meski belum menyamai pak Bondan, saya menyatakan mbak Lolita sebagai tukang ulas makanan favorit saya berikutnya.
Ditulis 2021
Wednesday, February 14, 2024
Cilok
![]() |
| Sumber: Gugel |
Rahman namanya, tanpa Rahim dan tanpa nama-nama lain di belakangnya. Masih menjadi misteri bagaimana ia bisa mengingat pesanan rutin dari orang-orang di tiga kampung berbeda. Ketiga kampung itu hanya dipisahkan tiga gapura beda warna. Rahman dan gerobak ciloknya biasanya berjaga di gapura warna merah bertulis 'Gang Kramat'.
Meski demikian, orang-orang dari dua kampung lainnya juga terbisa dengan keberadaan Rahman di Gang Kramat. Sudah sepuluh tahun dan terus saja begitu. Rahman sendiri merasa tidak ada istimewanya kemampuan mengingatnya itu. Seperti hari itu bocah lelaki yang kata orang berwajah cantik dan berumur delapan tahunan mendatangi gerobaknya.
"Dua ribu, pentol sama kecap." ucap bocah itu justru setelah tangan Rahman lebih dahulu bergerak, nyaris membuat pesanan sesuai perkataan anak itu tanpa diminta.
Dilihatnya anak laki-laki itu bersama seorang gadis yang agaknya belum lulus kuliah. Rahman tahu itu bukan kakak bocah lelaki itu. Kakaknya masih kelas lima dan gadis itu kebetulan saja bertetangga dengan bocah tersebut.
"Punyaku pentol tahu, kuah pedas, Pak." ucap si gadis setelah pesanan bocah hampir selesai.
Rahman, begitu ia dipanggil di keluarga dengan tidak banyak pelanggan ciloknya tahu. Namun melalui percakapan orang-orang yang silih berganti membeli dagangannya, meski tanpa nimbrung, ia jadi tahu siapa adik dari siapa dan siapa bapak dari siapa.
Seperti juga hari itu seorang gadis SMK berkata,"Aku nggak sama bapakku soalnya dia habis kena tipus, Pak."
Tanpa ditanya apalagi diminta, sambil menerima pesanan ciloknya gadis yang biasanya naik motor bersama bapaknya dari kampung sebelah itu bercerita.
Seorang lelaki berusia empat puluhan menghentikan motornya selagi gadis tadi pergi.
"Istriku biasanya sambalnya berapa sendok, Pak?"
Pesanan yang satu ini Rahman lagi-lagi juga ingat. Sepuluh ribu jadi dua bungkus, sambalnya empat sampai enam sendok. Perempuan dengan batik ASN biasanya datang dengan membawa motor yang sama dengan si lelaki empat puluhan itu. Biasanya, tanpa diminta juga, lelaki yang tidak pernah ingat pesanan istrinya itu bercerita, istrinya mens dan perutnya cukup kram untuk membeli cilok sendiri.
Setelahnya, dari kejauhan datang seorang lelaki berambut panjang sebahu. Rambutnya berwarna kuning cerah. Ia ingat dengan jelas lelaki pemilik tempat cukur rambut itu biasanya anti sekali dengan saus.
Segera ketika Rahman hampir melewatkan saus saat nyaris menyelesakan pesanan, lelaki berambut kuning tadi berkata,"Pak sausnya lebih banyak ya. Bisa marah mamaku kalau sausnya nggak ada."
Monday, January 22, 2024
Pasar Malam
![]() |
| Sumber: Gugel |
"Aku nang pasar malem ping loro hayo kon...”
“Aku nang pasar malem ping papat hayo kon...”
Demikian perdebatan di pagi hari dari teman-teman saya di kelas B. Berapa banyak sudah pergi ke pasar malam, di masa itu seperti menaikkan harga seorang anak di pergaulan. Ya... Semacam, gaulnya kamu diukur dari berapa banyak pergi ke pasar malam begitu.
Sedang saya nggak pernah pergi ke pasar malam itu, tahu wujudnya apalagi. Pasar malam sendiri digelar empat kilo dari rumah, jalan menuju ke sana naik turun dan mustahil jalan kaki. Dimulai sore hingga malam pula, itu jam kerja shift duanya ayah. Kami waktu itu hanya punya satu motor, itu pun fasilitas dari tempat kerjanya ayah.
Kondisi rumah teman sebaya di sekitar rumah pun mirip. Dindingnya pada batako begitu. Nggak semua punya televisi juga, jadi kalau pasar malam populer sekali memang wajar.
Tapi tenang, ini bukan kisah sedih soal saya yang ingin punya daya tawar di sirkel anak-anak kelas B. Toh aslinya lebih ingin jumpa ayah yang hanya bisa saya lihat ketika berangkat kerja, jika dibanding pergi ke pasar malam.
Pasar malam sendiri masih ada sampai sekitar 2014 atau 2015. Meski tetap hanya bisa melihat ayah ketika ia berangkat kerja, bedanya saya bisa ke pasar malam sendiri, naik motor. Selanjutnya pasar malam makin sepi, rumah-rumah di daerah tempat saya tinggal hampir semuanya berdinding bata dan televisi layar datar bukan barang istimewa.
Saat ini di lapangan biasa pasar malam digelar sudah berdiri bakal bangunan yang kelak ternyata jadi toko roti...
Saturday, December 9, 2023
Love Birds
![]() |
| Sumber: dokumentasi pribadi. Ngepas lagi makan bareng Dai Firda. |
Gadis itu menunjuk mereka satu per satu.
"Yang itu bestie." Tunjuknya pada meja pertama.
Meja pertama berisi lima orang. Tiga perempuan dan dua laki-laki. Mereka memakai baju dominan hitam putih, seperti mahasiswa kelar ujian. Kelimanya memesan minuman beda warna sambil tertawa-tawa seolah baru saja meletakkan beban besar.
"Yang itu bromance." Tunjuknya pada meja kedua.
Meja kedua berisi dua laki-laki berjaket parasut. Lelaki pertama berambut sebahu, sedang satunya punya kepala plontos. Mereka saling menepuk pundak beberapa kali, terbahak-bahak sambil menggeser layar tablet di hadapan. Dari jauh terlihat foto-foto perempuan. Mereka berdua sibuk menggeser layar ke kiri atau ke kanan. Agaknya, mereka sedang bermain aplikasi kencan.
"Yang itu love birds." Tunjuknya pada meja ketiga.
Meja ketiga berisi satu lelaki dan perempuan. Mereka duduk berdempetan, rutin saling pandang. Malu-malu, ada rona di pipi seperti tidak rela saling berjauhan. Dua piring kentang goreng mereka abaikan di meja. Dua gelas teh tarik punya nasib serupa.
"Hubungan yang saling itu kayaknya asyik ya?" Tanyanya sambil melihat meja ketiga, pasangan yang disebutnya love birds.
Kamu menggeleng. Katamu, kamu tidak tahu rasanya hubungan yang saling. Bahkan bagaimana pun gadis itu membalut lukamu saat menabrak pick up yang berhenti mendadak, membawakan makanan favoritmu dan memberimu semangat berkarir meski teman kerjamu menyebalkan setengah mati, kamu tetap tidak mampu mau...
...mencintainya.
Masukan:
Rutin saya mengunggah tulisan yang belum rilis di blog lewat story Instagram (meski sekarang hanya punya Instagram khusus DM) dan status WA. Tujuannya biasanya untuk terima saran teman sekitar lebih dahulu.
Untuk fiksi mini ini, saran dari Dyhliz (Billy Kobra) sebetulnya bagus diakhiri pada paragraf ke tujuh. Jadi semacam cerita perbandingan kondisi begitu. Kalau menurutmu?
Sunday, November 5, 2023
Uang Karma
![]() |
| Sumber: Gugel |
Iwul memanggil saya. Ia duduk di sebelah teman sekelas kami yang menangis tergugu di sudut kelas. Ekonomi si teman ini katanya lagi hancur-hancuran dan dengan tatapan memohon, Iwul minta saya meminjamkan uang dua puluh ribu untuk si teman tadi.
Si Iwul sendiri sahabat baik saya sejak kelas sepuluh. Dia juga suka membersihkan mushola sekolah dengan sukarela dan punya uang saku seribu saja sehari. Ibunya buruh dan bapaknya kerja serabutan. Rumah dia ada di pinggir rel kereta api dan... Teman yang dia bersimpati betul itu bahkan nggak lagi mau akrab dengannya.
Saya pun merogoh uang yang ada di saku rok. Ada dua puluh ribu sebetulnya, hasil menyisihkan uang berhari-hari namun hanya saya bagi sepuluh ribu. Sebetulnya jika bukan karena Iwul, saya pasti berpikir uang itu dipakai membantu teman yang lain saja. Soalnya, si teman yang Iwul mohon dipinjamkan uang tadi menyapa saya pun hampir nggak pernah.
Iya... Iya... Hati saya nggak semulia kamu yang berpikir semua orang pasti baik dan membantu tanpa hitung-hitung hubungan personal. Toh pada akhirnya, uang itu diterima si teman ini tanpa ucapan terimakasih. Yang mengucap terimakasih justru Iwul, berkali-kali.
Uang yang sudah saya niatkan dalam hati nggak perlu diganti itu pun terjawab siang hari. Saya pergi ke tempat kerja ayah sepulang sekolah dan bosnya seorang cina yang dikenal dermawan, memberi uang saku. Jumlahnya? Dua puluh ribu. Dua kali lipat dari uang yang saya beri pada si teman tadi.
“Tuhan melipatgandakan ganjaran...” kalimat demikian seolah terdengar, meski saya lupa dari guru agama semasa SD, SMP atau SMK.
Bos ayah berlalu dan saya melihat punggungnya dari belakang. Beberapa kali saya pandangi uang dua puluh ribu yang di masa itu memang cukup banyak.
“Tahu gitu, aku tadi pinjami dia dua puluh ribu...” batin saya.
Tanggal dan jam unggah mencatut tanggal dan jam lahirnya Diyah.
Thursday, October 5, 2023
Spontan
![]() |
| Jepreted by Neny Adamuka |
Raisa, awal tiga puluh, baru ingat pernah menyelesaikan kuliah di salah satu universitas di jawa timur. Pernah didiagnosa OCD dan kali ini pergi ke Malang bersama suami dan anaknya yang berusia dua tahun.
"Nggak apa-apa, apa adanya aja sisa file diupload." Ucap ketua jurusan setelah mendengar cerita pernikahan dan kehilangan file skripsi meski tetap dengan status sudah lulusnya.
Mertuanya memberi saran jadi ASN saja, sedang hari itu anak kedua dan suaminya sedang keliling Malang naik mobil berdua. Pegawai administrasi tersenyum saja mendengar ceritanya yang menjadi ibu beranak dua, sudah lulus dan baru saja mengambil ijazah.
Petugas administrasi memberikan nomornya buat disimpan. Raisa duduk di bangku seberang loket dengan angan-angan baiknya mememberi kenang-kenangan apa untuk pegawai yang dengan telaten sudah memandunya mengambil ijazah itu.
Neny, akhir dua puluhan, membiarkan kereta pertama yang datang terlewat. Tangga arah naik penuh dengan manusia namun ia masih sempat mengeluarkan ponsel dari sakunya, mengetik tips mindfullness bagi pengguna kereta. Tidak perlu buru-buru dan rakus salah satunya. Kereta berikutnya membawanya ke gerbong perempuan.
Seorang petugas berkata naik saja dulu, pada perempuan hamil yang bertanya apa masih ada ruang di gerbong perempuan. Selanjutnya bukan dengan suara lantang, lelaki itu bilang,"Permisi ibu hamil," berharap para perempuan lain dengan kesadaran sendiri berdiri lantas memberi kursi.
Setelah Neny berteriak cukup lantang, langsung tunjuk saja, Pak! merujuk harapan petugas langsung memilih calon pemberi kursi, seorang perempuan muda nyatanya berdiri, tanpa ditunjuk. Kursi ia berikan pada perempuan hamil itu.
Indayu, setengah abad, sedang semangat sekali bicara di meja warung kopi. Empat atau lima teman di meja yang sama memperhatikannya bicara. Tegas, meluap dan penuh pesona. Komentar soal idenya disahut dua orang teman dan di akhir, seorang laki-laki seumurannya berdiri dari meja seberang, menyerahkan sebuah sketsa berisi wajahnya.
"Saya suka cara Mbak bicara." Lelaki itu bilang.
Rekan-rekan semeja turut berkata wah. Salah satu berinisiatif mengambil foto Indayu dan laki-laki yang entah siapa namanya itu. Sebuah novel disorongkan gadis itu pada si lelaki. Novel karyanya yang terbit lewat jalur indie. Yang sayang sekali digarap sekenanya oleh salah satu kru penerbit dengan antar kalimat bergandeng tanpa spasi.
Sekarang di tempat mereka masing-masing berada, sinar matahari sedang serentak tenggelam. Sebagian langit berwarna oranye pudar.
Untuk Raisa Izzhaty, Neny Agustina Adamuka dan Indayu Sri Mulyani.
Separuhnya cerita nyata.
Tanggal dan jam unggah mencatut tanggal dan jam lahirnya Arma.
Monday, September 18, 2023
Asuh
![]() |
| Tante dan ibu. Sumber: dokumentasi pribadi yang dijepred oleh tukang foto keliling. |
Ibu punya kepribadian lebih terbuka, senang bergaul, tidak
begitu tertarik dengan anak-anak dan berani mencoba hal baru; naik sepeda yang
jauh lebih tinggi dari tubuhnya sebagai misal. Tante sebaliknya, lebih tertutup, lebih senang bermain
sendirian, telaten dengan anak-anak dan mudah trauma; ketika dewasa pernah
sekali jatuh naik motor dan tidak mau naik lagi hingga hari ini.
Namun semasa kecil, ibu saya justru mengenang nenek
sebagai orang tua yang tidak adil. Setiap ibu naik sepeda, nenek tidak pernah
heboh, memuji tidak, memberi uang saku apalagi. Sebaliknya ketika tante yang
naik sepeda, nenek memuji-muji, memberi uang saku pula.
Meski ketika dewasa ibu menyadari, yang demikian adalah
upaya nenek melindungi tante yang sulit bergaul dan mudah trauma. Jadi nenek
tidak menyadari upaya-upayanya ini membuat anaknya yang lain cemburu. Nenek
pikir, ibu saya yang mudah bergaul dan berani mencoba hal baru berarti tidak
punya masalah.
Dengan keterbatasan pengetahuan soal pola asuh, nenek
berusaha adil terhadap anak-anaknya. Ia berusaha mendukung hal-hal yang
dianggap bisa jadi modal hidup tante, meski akhirnya membuat ibu yang dianggap
sudah punya modal hidup tadi jadi terluka karena mengira nenek kasih sayangnya
timpang. Hingga membuat saya pun memahami... Tidak ada pola asuh yang sempurna.
Tiap orang tua punya tantangan dan formula masing-masing dalam mengasuh
anak-anak mereka.










