Saturday, September 19, 2026

Ulang Tahun Laura

Sumber: Gugel

Ini cerita soal Laura, lagi-lagi. Satu waktu di kelas tiga, ia menghampiri bangku saya, menyelipkan benda pipih persegi panjang yang mulanya tidak saya kenali sebagai undangan ulang tahun. Undangan itu ia letakkan di bawah buku dengan rona riang bahagia menyertai. Saya bertanya benda apa yang sedang ia selipkan dan jawabannya, undangan ulang tahun, sambil berbisik-bisik.

Sampai beberapa jam menjelang pesta ulang tahun Laura dihelat, saya mengganti pakaian dua kali sambil menangis, merasa tidak ada baju yang pantas. Saat itu kami sekeluarga mengontrak di salah satu perkampungan di daerah Bandulan Malang. Rumah yang kami tempati separuhnya terbuat dari dinding triplek.

Sebetulnya dibanding perasaan tidak ada baju yang pantas, perasaan Laura bukan teman saya (baca juga; Sri Bukan Anak Nakal Tapi Laura...) sehingga tidak perlu menghadiri pesta ulang tahunnya jauh lebih kuat. Bahwa betul, Laura dikenang sebagai siswi paling standar industri di angkatan, ia pula yang berasal dari kalangan menengah hingga pesta kala itu bisa dilakukan di McD. Ia pula yang entah dididik bagaimana oleh ibu dan juga ayahnya sehingga bisa berperilaku seolah berteman untuk mendapat sesuatu.

Ibu pun sebetulnya menggerutu. Dia bilang,"Orang kaya pantasnya dikasih kado apa?" yang pada akhirnya, sebuah sikat gigi dengan bonus boneka monster dibungkus juga oleh ayah dan ibu, entah kapan membelinya. Saya ingat betul warnanya ungu yang bahkan, sikat gigi sejenis tidak saya miliki.

Sampai di McD, tentu saya kaget setelah bersama teman-teman sekelas yang lain diarahkan menuju meja pemesanan. Khusus tamu undangan Laura, masing-masing diberikan satu es krim. Saya tidak pernah makan es krim McD, tentu saja. Saat itu usia saya delapan dan ingat betul kali pertama makan McD setelah bupo* yang menjadi TKW di Hongkong pulang ke Malang lantas membelikan paket Happy Meal saat usia saya tiga atau empat tahun di McD Sarinah.

Ulang tahun Laura sendiri dilangsungkan di McD Kayutangan dan ketika memasuki ruangan, saya langsung sadar tidak ada anak-anak panti (baca juga; Cerita Anak-anak Korban Perbedaan Kelas Di Sekolah). Esok hari saat di sekolah, Anya yang duduk sebangku dengan saya langsung bercerita jika anak-anak panti memang tidak ada yang dapat undangan. Waktu bercerita, wajahnya terlihat kaku dengan kilatan mata yang marah.

Jika mengingat bagaimana Anya bercerita yang dilakukan Laura tidak adil, ini akan berlawanan dengan sikapnya yang berusaha mencari posisi aman dari kasta-kasta di kelas dengan menceritakan kebohongan soal saya dan teman-teman panti yang dekat dengannya kelak. Ia pula saat kelas enam menunjukkan beberapa kertas binder dengan nada bangga, yang katanya diberi Laura karena menurut dia, Laura menyukai dirinya.

Kelak pula ketika mengobrol lagi soal pesta ulang tahun Laura saat sudah sama-sama dewasa dengan Desi, salah seorang teman sekelas, ibunya Desi pun mengenang pesta ulang tahun** Laura sebagai hal yang sangat tidak pantas.

Desi sekeluarga sendiri berasal dari kelas menengah dengan ayahnya yang seorang aparat. Rumah mereka lebih dari luas dengan tiga tingkat. Namun, ibunya Desi mendidik anak-anaknya untuk selalu menabung dahulu jika ingin beli sesuatu. Ibunya Desi pula yang bilang, tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Laura untuk pesta ulang tahun saat itu. Laura dididik memberi kasta pada teman oleh mamanya. Bahkan siapa saja yang diundang dalam pesta ulang tahun waktu itu juga atas ijin mamanya.

Masih Desi yang sebetulnya kasihan pada Laura karena bahkan di usia kuliah saat ia punya pacar pilihannya sendiri, mama Laura melarangnya. Ketika kuliah semester empat pun, saya melihat curhatan Laura di Path. Ia bilang sesungguhnya ingin masuk jurusan administrasi tapi mamanya meminta dia masuk arsitektur. Dia keberatan dengan jurusan yang tidak dirinya pilih itu dan ingin pindah sebetulnya. 

Jika membaca semua cerita soal Laura di blog ini, kamu pasti mengerti bagaimana dalam pertemanan sejak SD pun mama Laura punya standar; berteman dengan yang pintar atau kaya atau keduanya. Tidak heran dalam memilih pasangan hingga jurusan di universitas, mamanya sepertinya juga punya standar sendiri. Hingga seberapa pun Laura sebetulnya tidak ingin masuk jurusan pilihan mamanya, ia tidak berdaya. Bahkan saat SD pun, ia mesti berteman dengan anak-anak pilihan mamanya. Saat itu, ia bisa juga pura-pura meminjam penghapus atau pensil dengan wajah ramah yang terasa palsu namun terlihat alami demi mendekati teman. Yang demikian sempat dia lakukan pada saya. Kelak ketika dewasa, saya jadi berpikir-pikir, pensil dan penghapus? Bukannya dia punya jauh lebih banyak ketimbang saya ya?

Keterangan:

*bupo=ibuk sepoh/sepuh=budhe

**pesta ulang tahun, sempat saya jadikan ide cerpen anak berjudul Undangan Pesta Tasya. Hanya bagian anak-anak panti tidak diundang yang diambil dari kisah Laura, selebihnya fiksi.

No comments: