Saturday, February 16, 2019

Kepada: Siapapun Yang Ada di Depan Sana

Sumber: Gugel
Orang-orang tidak pernah memahami, betapa tidak asyiknya hidup menjadi saya. Pikir mereka, dengan mengetahui hal-hal yang terjadi di depan sana terlebih dahulu, itu semua akan membikin hidup jadi nyaman. Dan bahkan saya tahu kapan dan bagaimana saya akan mati…

Satu-satunya hal yang cukup asyik bagi saya adalah memandang orang-orang begitu takutnya melihat masa depan yang tidak kelihatan. Mereka lantas mendatangi saya, memberi beberapa lembar uang dan saya mengatakan hal-hal yang terjadi kemudian.

Namun, itu semua tidak bisa lagi terjadi hari ini, segera setelah bencana besar itu terjadi. Air laut pasang sangat tinggi dan merangsek ke hotel, rumah sakit, pabrik juga rumah-rumah. Mereka yang biasa mendatangi saya dengan wajah cemas dan pertanyaan-pertanyaan soal hari depan itu, semuanya mati.

Tidak ada tim penyelamat yang kunjung datang. Anjing dan kucing menyampir di celah-celah dinding yang hancur, tanpa nyawa. Bau amis menyebar kemana-mana, tidak mau berhenti. Maka sekarang, saya tengah menggenggam sebuah tali yang lingkarannya sebesar kepala saya. Saya berniat bunuh diri, meski tahu takdir saya mati bukan hari ini. Tali itu kemudian saya lepas dengan tangan yang gemetaran. Turun dari kursi, kaki saya menapak lantai yang pecah dengan gemetaran pula.

Dari jendela yang miring, saya melihat langit masih biru dan matahari bersinar terik. Saya keluar gedung dengan tubuh yang lemas. Sinar matahari menerpa rambut saya pelan-pelan dan celakanya, tujuh hari lagi di tempat yang sama dengan cara yang tertunda, saya akan mati.

Saya tahu itu…

Friday, February 1, 2019

Para Perempuan dan Obsesinya Memiliki dalam Parodia, Karya Istifari Hasan



Catut: @avezahra

Membaca Parodia pada mulanya saya mesti memutuskan, membaca langsung cerita-cerita di dalamnya atau membaca terlebih dahulu kata pengatar dari penerbit dan juga penulis. Menjadi kebiasaan untuk membaca epilog (jika ada), usai membaca cerita, ketimbang pengantarnya terlebih dahulu. Pengalaman pembacaan dari diri saya sendiri akan membawa saya pada hal-hal seru. Prolog dan epilog seringkali mengikat pikiran pada petualangan seru sebelumnya, apabila dibaca terlebih dahulu sebelum cerita.
Dan ternyata keputusan saya untuk membaca buku cantik ini langsung pada cerita-cerita di dalamnya adalah tepat. Ketika usai membaca buku ini kali pertama, saya coba membaca pengantar penerbit dan kecewa berat. Sepanjang saya ketahui, bisanya pengantar tidak begitu bentukannya. Apabila asalnya dari penerbit, isinya biasanya merupakan bagaimana buku tersebut sampai bisa terbit atau lain sebagainya. Pun juga apabila asalnya dari tokoh lain, biasanya isinya adalah analisis atas isi dari buku. Tapi ini… spoiler! Sungguhan saya tepat ketika memutuskan membaca buku ini langsung pada cerita. Kata pengantar dari penerbit bisa menghancurkan debaran saya ketika membaca cerita-cerita dalam buku ini. Ugh… kata pengantar atas nama ANN itu betul-betul merusak imajinasi.
Ketika kali pertama membaca, selain menikmati sajian cerita dalam buku ini dan sekadar mengalir melihat jalan cerita yang diawali dan diakhiri, mata saya juga cukup gatal dengan beberapa ejaan yang kurang konsisten, kurang huruf atau salah ketik. Bagian mana saja yang bikin gatal ini? Tidak akan saya bahas di sini karena tidak relevan dengan judul. Bahkan penulis luput menuliskan diyakini menjadi ‘di yakini’ dalam kata pengantar yang ia buat. Ups!
Namun dari delapan cerita yang disuguhkan dalam buku ini, saya justru paling mula mengingat Rumah Kayu. Saya terkesan dengan cerpen tersebut karena dari cerpen yang saya baca hingga dua kali tersebut, saya menemukan kerangka dari rangkaian cerita yang disebut secara tidak jelas dalam pengantar penerbit sebagai; yang saling berhubungan satu sama lain.  
Seperti hampir keseluruhan cerpen dalam Parodia, Rumah Kayu pun menjadikan seorang perempuan sebagai tokoh sentral. Melalui cerpen tersebut saya mulai merangkai kerangka cerpen-cerpen Istifari Hasan dimana obsesi memiliki ternyata menjadi tajuk utamanya, setidaknya dalam pengalaman pembacaan saya.
Perempuan dalam Rumah Kayu digambarkan gagal hidup bersama kekasihnya yang memilih hidup dengan permpuan lain. Aku, si perempuan itu nyatanya menunjukkan tekad hingga obsesinya memiliki dengan membangun rumah kayu sesuai impiannya dan kekasihnya dahulu, meski ia juga terpaksa harus menua bersama laki-laki lain yang terpaksa ia terima pinangannya. Mimpi buruk dan pembunuhan yang menimpa sang suami dan pemilik rumah kayu itu setelah si aku menjualnya, digambarkan Istifari dalam bentuk nyata dimana hal tersebut mesti berurusan panjang dengan polisi, hingga barangkali menimbulkan persepsi bagi pembaca bahwa pelaku adalah kekasih si aku di masalalu.
Sedang bagi saya, mimpi buruk dan pembunuhan yang terjadi di rumah kayu tersebut adalah gambaran dari obsesi memiliki si aku sendiri, hingga ia bisa melihat bayangan kekasih yang mendatanginya dalam wujud seusia dengannya, sama rapuh dan tua di akhir cerita. Ya… meski agaknya lebih apik apabila penulis tidak menjejalkan sebab-sebab kematian dirumah kayu di akhir cerita. Sebab kematian bisa dijelaskan, sejak kematian pertama itu terjadi.
Parodia juga menjadikan si aku yang seorang perempuan, lagi-lagi dalam rangkaian obsesi. Jika Rumah Kayu obsesi memilikinya digambarkan Istifari dalam bentuk pembunuhan, maka dalam Parodia, obsesi memiliki digambarkan dalam bentuk kegilaan. Aku dalam Parodia juga mengalami perjalanan rumit dalam kepalanya sendiri sebagai seorang pelacur, hingga diakhiri kesadaran soal kegilaan. Ya… kegilaan yang justru puncak kesadaran bagi si tokoh aku. Lagi-lagi seperti Rumah Kayu, kegilaan yang digambarkan Istifari bisa jadi diartikan nyata oleh para pembaca, karena melibatkan para dokter, layaknya para polisi yang muncul di akhir Rumah Kayu.
Dua Kendi Satu Cinta, menjadikan kita seolah turut menggerakkan kisah antara Bronto dan Mentari dengan sudut pandang orang ketiga yang disajikan. Kali ini seorang lelaki dan perempuan menjadi tokoh sentral dalam satu cerita sekaligus. Meski memiliki lintasan waktu yang sedikit membingungkan, obsesi memiliki Mentari menjadikannya mampu mendatangi Bronto, bahkan dalam dunia yang berbeda. Penulis kali ini menjadikan wujud nyata air dan kendi sebagai media Bronto dan Mentari menyampaikan rasa saling memiliki. Pembaca bisa mengartikan air yang dihadirkan di antara kerinduan Bronto dan Mentari, sebagai perwujudan air secara nyata atau juga bisa mengartikannya sebagai obsesi memiliki yang diwujudkan dalam bentuk air.
Tidak ada cinta yang tidak memiliki, itulah pengalaman pembacaan saya terhadap Parodia. Kalimat tersebut diwujudkan hampir dalam semua cerita yang disajikan dalam Parodia. Obsesi, menjadi senjata memiliki cinta dalam Parodia, terlepas para tokoh dengan bermacam akhir kisahnya. Ya… obsesi…
Simpan Mantraku.
Aku ingin melihat bunga cantik dengan guyuran bait yang indah,
Seperti mimpiku bersanding dengan syairmu,
Jika aku tidak kunjung bangun dari tidur,
Aku ingin kau mengecup keningku,
Dan saat itu aku benar-benar tertidur selamanya.
Mentari kepada Bronto (hal 61)
Judul               : Parodia
Penulis            : Istifari Hasan
ISBN                : 978-602-50682-7-0
Terbit              : Mei 2018
Ukuran           : 13,5 x 20 cm
Halaman        : 112
Penerbit   : Stelkendo Kreatif Indonesia

Saturday, January 12, 2019

Menciptakan Teman

Coreted by @unartifisial


"Bila ada istilah teman dekat sebagai orang yang bisa menerima apapun secara terbuka dari diri kita, saya tak pernah menciptakannya." Ucapmu.



Saya mengangguk. Menghormati keputusanmu pada bagian yang ini. Toh, saya nggak pernah tahu luka macam apa yang membikinmu sebegini pecah.



"Manusia tak layak mendapatkan kepercayaan secuil pun." Lanjutmu.



"Pada bagian ini, kamu sedang membicarakan dirimu sendiri. Begitu bukan?" saya sedang pura-pura bertanya.


Catatan: Dialog satu dan dua, oleh seorang teman yang saya sedang doakan supaya segera sembuh jiwanya

Thursday, January 10, 2019

Enam Tahun Jadi Narablog, Dituduh Pencemaran Nama Baik

“Maaf, di negara ini kan bebas berpendapat tapi tolong jangan menyudutkan satu instansi karena mungkin saja hasil analisa kamu salah dan belum kamu ulik sepenuhnya lebih dalam lagi. Bisa-bisa kamu kena kasus pencemaran nama baik, jika curhatan kamu ini tidak seperti kenyataan.” Ketik Afsha dalam kolom komentarnya di blog saya.
 
Ketika saya coba klik nama Afsha sebagai si pengirim komentar, ternyata akun miliknya anonim. Akun itu baru aktif Juli 2016 dan dipergunakan untuk mengomentari tulisan yang saya unggah Januari 2017 berjudul (Bukan Esai) Iming-iming Penerbit Indie (Masih Ada). Manipulatif, satu kata itu yang saya pikirkan ketika membaca komentar Afsha yang sebenarnya terdiri dari empat paragraf.
Akun anonim Afsha. Sumber: Dokumentasi pribadi

Saya sendiri mulai mengelola blog semenjak 2009, hanya saja saya berganti-ganti alamat hingga 2013 saya menetap di http://semangkaaaaa.blogspot.com. 2017 adalah tahun ke empat saya menjadi narablog dan sayangnya masih saja saya menemukan modus lomba menulis yang hanya menguntungkan penerbit. Masalahnya bukan hanya menyoal oknum penerbit indie yang berlaku curang, tapi juga menyoal ada saja teman sekitar saya yang ternyata tidak kunjung melek mengenai modus serupa. Padahal, di tahun 2015 saya sempat menulis esai berjudul Iming-iming Antologi Ala Penerbit indie yang diterbitkan di koran lokal. Tulisan sejenis yang lebih mendalam pun bermunculan seperti Jalur Instan Itu Bernama Kedodolan.


Tulisan (Bukan Esai) Iming-iming Penerbit Indie (Masih Ada) sendiri, bermula dari adik tingkat bernama N yang menandai saya dalam pengumuman lomba puisi penerbit PL. Secara garis besar, saya menarik kesimpulan mengenai ketentuan lomba yang sebagai berikut:


1. Peserta mengirimkan naskah
2. Naskah pemenang dan nominasi akan dibukukan
3. Pemenang dan nominasi mendapat potongan harga buku dan harus mengeluarkan biaya sendiri ketika membeli
4. Buku diperjualjualbelikan tanpa royalti kepada penulis, untuk umum

N yang membagikan informasi lomba. Sumber: Dokumentasi pribadi

Persyaratan lomba. Saya copy paste dari website bersangkutan. Sumber: Dokumentasi pribadi
 
Persyaratan lomba. Saya copy paste dari website bersangkutan. Sumber: Dokumentasi pribadi
Berhubung saya dulu belum belajar UU ITE dan di masa itu saya masih meledak-meledak waktu bicara kenyataan, jadinya ya… saya langsung terpantik untuk menulis persoalan tersebut di blog. Apalagi, saya sempat berdebat dengan oknum penanggungjawab alias PJ lomba yang cara bicaranya betulan tidak macam orang yang bergerak di bidang literasi, jauh dari beretika. Oknum tersebut bernama R.

Salah satu percakapan dengan R selaku PJ even. Sumber: Dokumentasi pribadi

Jadilah kemudian saya menulis mengenai penerbit PL dan oknum bernama R lengkap dengan tangkapan layar segala keganjilan tanpa edit. Semua saya cantumkan jelas beserta nama penerbit dan PJ yang asli. Setelah saya mengunggah tulisan tersebut di blog, respon positif saya dapat dari teman-teman penulis, sebagian saya kenal dari Forum Lingkar Pena (FLP), Gramedia Writing Project (GWP), Citizen Reporter Harian Surya dan UKM Penulis UM. Teman-teman ternyata banyak yang merasakan kegeraman serupa terhadap oknum demikian. Melecehkan profesi menulis adalah kalimat yang tepat bagi para oknum tersebut.

 
Rekan Citizen Reporter membagikan tulisan saya. Sumber: Dokumentasi pribadi
Saya tentu sebal ketika muncul akun anonim yang menyudutkan saya kemudian. Pikiran buruk saya waktu itu mengatakan, bisa jadi ini dari pihak penerbit bersangkutan yang merasa dirugikan dengan tulisan jujur saya tersebut. Atau bisa jadi, ada oknum penerbit lain yang melakukan kecurangan sejenis dan juga merasa rugi dengan unggahan demikian.

Komentar lengkap Afsha. Sumber: Dokumentasi pribadi

Sempat juga saya curhat dengan mbak Puput, senior saya di FLP soal komentar manipulatif tersebut. Mbak Puput saya ingat menanggapi begini,”Kamu mencemarkan gimana? Mereka kan emang sudah cemar sendiri dari awal. Aku sama anak-anak FLP dulu juga pernah kena kasus sejenis (bersinggungan dengan oknum penerbit indie curang).”


Setelah saya rasa tulisan tersebut sudah cukup disebarluaskan dan mendapat pembaca yang tepat, pertengahan 2018 saya memutuskan menyembunyikan tulisan tersebut dari blog. Traffic tulisan tersebut yang tinggi dan komentar yang masuk, menunjukkan banyak penulis memiliki kegelisahan serupa dan sama berusaha mencari tahu. Ini bukan berarti saya takut, namun saya berjanji akan menulis hal sejenis dengan lebih cerdik. Tentu sebelum saya menyembunyikan tulisan tersebut, saya sudah menyimpan tangkapan layar tulisan beserta komentar yang masuk.


Begitu banyak kasus dimana seseorang menceritakan fakta, namun ketika hal tersebut ditulis dan dilempar ke ruang publik, orang tersebut justru menjadi salah di mata hukum. Kita semua tentu ingat dengan kasus Prita Mulyasari dan komika Acho. Dengan cara menulis saya yang waktu itu lebih banyak mengajak pembaca menelaah sendiri, posisi saya sebetulnya tidak lemah. Namun pada selanjutnya, saya akan menulis kebenaran dengan lebih cerdik, jangan sampai ketika saya menyebutkan nama pelaku yang bersangkutan, justru menjadi celah saya lemah di mata hukum. Ya… UU ITE memang serba kikuk, bukan?


Bulan Juni tahun ini, genap enam tahun saya menjadi narablog dan saya semakin meyakini, bukan masalah bicara fakta melalui blog, kebenaran tidak pernah salah ketika disuarakan. Blog sendiri tidak memiliki batasan tema dan gaya menulis, sehingga lebih leluasa dipergunakan untuk bersuara. Namun dalam menyuarakan kebenaran sekalipun, kita mesti cerdik. Maka saya tidak akan berhenti bersuara dan akan jadi lebih cerdik ketika bicara fakta…


Tulisan ini disertakan dalam #KompetisiBlogNodi dengan tema Bangga Menjadi Narablog Pada Era Digital #NarablogEraDigital

Tuesday, January 1, 2019

Lemah Tanjung; Menyoal Perselingkuhan, Feminisme Hingga Putri Negeri Dongeng

Sumber: Instagram @fitratisna. Lokasi: Griya Buku Pelangi


Yeay! Akhirnya saya ikutan juga Lemah Tanjung bareng Pelangi Sastra Malang. Ya… meski pas saya ikut, bahasannya sudah sampai di pertengahan bab 7 dan lanjut ke bab 8 sih. Nah, novel karya Ratna Indraswari Ibrahim ini sudah sekian-sekian kali pertemuan dibahas di Pelangi Sastra. Saya pribadi, awal mula tahu nama Ratna Indraswari Ibrahim ini, dari ayah saya yang rajin baca koran, itu sekitar tahun 2010, semasa saya SMK. Ya… Mbak Ratna memang bukan cuma dua atau tiga kali masuk koran lokal maupun nasional.


Banyak dari kita tentu mengetahui, bahwa mbak Ratna ini kema-mana pakai kursi roda, karena radang tulang dan Lemah Tanjung adalah salah satu karya fenomenalnya. Dan ternyata, guru mengaji saya semasa SD, Mbak Zizi Hefni, dulunya berproses di pergerakan sastra Malang seangkatan dengan mas Denny dan dirinya juga bukan dua atau tiga jadi asistennya Mbak Ratna. Sayangnya, garis pertemuan saya dengan sastra di Malang dan juga mbak Ratna itu sendiri baru ketika saya mulai kuliah dan Mbak Ratna sudah wafat. Ya… setidaknya, karya beliau memang masih bisa jadi benang merah antar generasi teman-teman yang bergerak di dunia sastra.


Hari itu (15/09/2018), pembacaan dihadiri 6 orang. Orang terakhir yang saya lupa namanya, teman baru di Pelangi Sastra Malang. Ya… maklum, saya lama juga nggak hadir acara. Jadinya ya, banyak belum kenal teman-teman yang baru masuk. Jadi waktu itu ada saya, Mas Denny (koordinator abadinya Pelangi Sastra), Mbak Fitrahayunitisna (Dosen Brawijaya), Mbak Istifari Hasan (penulis kumpulan cerpen Parodia) dan Firdausya Lana (aktif juga di Lingkar Studi Filsafat Discourse alias LSFD).


Sebelum acara mulai, dibagi foto kopian Lemah Tanjung bab 7 dan 8 oleh Mas Denny dan tentu saya cepat-cepat nyolong baca sebelum acaranya mulai hehe. Jadi, dalam bab tersebut Gita jadi penutur utama. Ia tetap pada masalah pelik menghadapi suaminya, si Paul itu yang berselingkuh dan ketercengannya pada Bonet, putrinya sendiri yang masih Sekolah Dasar dan dirasanya jauh lebih dewasa ketimbang umurnya. 


Gita sendiri bersahabat dengan mbak Syarifah, temannya sesama aktivis yang berkebutuhan khusus dan memutuskan untuk tidak menikah. Latar tempat dalam bab tersebut adalah kota Malang di era 90an, dimana kegelisahan soal ninja pembunuh yang bertebaran di dalam kota dan juga heboh pembunuhan massal di Banyuwangi merebak panas.


Di era itu, tentu saja saya masih balita dan tidak merekam kegentingan di masa itu. baru ketika saya mulai sekolah, ayah saya kerap menceritakan kegentingan di masa itu, apalagi ayah bekerja dua shift di sebuah apotek di kotamadya, sedang rumah kami ada di kabupaten Malang. Jadi di masa itu, ayah setiap malam di perjalanan pulang kerjanya, melihat bagaimana orang-orang berjaga di tiap kampung.


Benar-benar deh… latar tempat dan waktu dalam novel satu ini terasa sekali. Betul-betul tengang-tegangnya politik di masa itu dan lagi, Mbak Fitra juga cerita, beberapa tokoh dalam novel itu ada di dunia nyata. Mbak Fitra sendiri pernah terlibat demonstrasi perkara Lemah Tanjung, di tahun 2000an dan itu semasa dirinya masih mahasiswa baru.


Di forum ini, peserta yang hadir semuanya diberikan kesempatan membaca dengan keras isi novel. Baru setelahnya ada pembahasan. Disini saya mau rangkum bahasan dari Mbak Fitra. Kalau Mbak Fitra bilang Mbak Ratna ini ternyata feminis banget, ya memang.


Pembahasan soal perselingkungan menghadirkan tokoh Gita yang kebingungan menghadapi suaminya yang berselingkuh. Tokoh perempuan sekitarnya pun ada pula yang mengalami hal serupa, akan tetapi tokoh tersebut memilih menerima dan menuntut Gita melakukan penerimaan serupa dengan berbagai dalih. Namun, pada bab yang kami bahas hari itu, muncul juga tokoh Heriah. Heriah ini akrab juga dengan Mbak Syarifah dan suaminya berselingkuh serupa suaminya Gita. Bedanya, Heriah membalas perselingkuhan itu juga dengan perselingkuhan.


Menjadikan tulisan Mbak Ratna berbeda dengan Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu, menurut Mbak Fitra, adalah bingkai moral yang diusung di dalamnya. Perselingkuhan yang menjadi pembalasan tokoh perempuan atas luka perselingkuhan serupa, tidak begitu saja dihalalkan dalam tulisan Mbak Ratna. Bahkan Mbak Ratna ternyata pernah juga mengritik Ayu Utami, kata Mas Denny. 


Selanjutnya, Mbak Fitra juga mengritisi keberadaan cerita para princess yang baginya, mendidik para perempuan sejak dini agar menanti pangeran berkuda putih yang menyelamatkan hidup mereka tanpa perjuangan hidup. Padahal bagi Mbak Fitra, lelaki dan perempuan sama saja, tentu bisa lemah juga. Bagaimana bisa lelaki dituntut terus menerus kuat? Kemudian saya ingat Aurora yang diselamatkan ciuman pangeran tidak dikenal, hingga Cinderella yang juga diselamatkan pangeran dari kehidupan keluarganya yang buruk. Ah, saya tapinya semenjak kecil lebih suka Mulan. Saya kenal Mulan pun, gara-gara punya tetangga baik hati yang senang menyewakan saya CD film animasi. Mulan pada akhirnya memang berpasangan juga, tapi proses ia bertemu pasangannya itu karena berjuang bersama dalam kondisi perang kerajaan, bukan ‘hadiah’ yang tiba-tiba.


Eh, ini sungguhan ya, Rek. Kamu yang sedang baca tulisan saya ini kalau mau gabung acaranya Pelangi Sastra Malang hayuk mari. Gratis semuanya dan jangan ragu mampir, pasti dapat teman baru.

Sumber: Instagram @pelangisastra