Wednesday, April 26, 2017

Bu Nurul Bertanya,"PR Bahasa Daerahmu Mana?"

Jaman SD dulu, mendiang bu Nurul, wali kelas kami waktu kelas 2, tiba-tiba menyuruh kami mengumpulkan PR yang kalau ndak salah mata pelajaran bahasa daerah. Padahal, sebelumnya tidak ada perjanjian PR tersebut mesti dikumpulkan pada hari itu. Dan lagi, pada hari itu memang pelajaran bahasa daerah ndak ada.

Seluruh anak di kelas diminta maju satu per satu oleh bu Nurul. Kami semua ditanya soal,"PR bahasa daerahnya mana?"

Seluruh kelas menjawab nyaris serupa, soal PR yang ketinggalan, belum dikerjakan dan lain-lain. Akhirnya, seluruh kelas dipersilahkan berdiri di depan papan tulis oleh bu Nurul kecuali saya.

Bu Nurul kemudian bertanya pada teman-teman yang berdiri begini,"Kalian tahu? Kenapa cuma Poppy yang duduk?" dan semua anak menggeleng.

Bu Nurul melanjutkan,"Pop... Tadi kamu jawab apa soal PR?"

Saya menjawab polos,"Hari ini, pelajaran bahasa daerah kan ndak ada, Bu."

Kemudian, teman saya saling toleh dan mengangguk. Bu Nurul tersenyum dan memersilahkan semuanya kembali duduk di bangku seperti saya.

Hingga sekarang, saya masih berpikir kalau mendiang bu Nurul betul-betul guru yang ajaib.


Dakwah Utopis Dari SMA Sebelah


Saat saya kelas 12, saya iseng-iseng mengikuti diskusi eksul badan dakwah di mushola. Pematerinya, datang dari SMA yang letaknya bersebelahan dengan SMK saya. SMA tesebut, masuk SMA menengah. Tentu semua dapat dilihat dari tampilan siswa-siswinya yang rapi dan sederhana. Terlihat betul bahwa mereka anak-anak hasil seleksi. Beda dengan SMK saya yang siswa-siswinya berasal dari berbagai kalangan.

Dua mbak elegan yang jadi pemateri itu pun mulai bicara. Mereka sama-sama kelas dua belas seperi saya. Sumpah… andai saya dulu lebih bisa bicara kenyataan seperti sekarang, sudah saya asu-asuin [1]isi materi materi mereka.

Dengan manis dan nyelekit, salah satu dari mbak elegan tersebut menolak mentah argumen saya soal memberi contoh langsung dalam teladan soal dakwah. Si mbak cerdas tersebut, lebih setuju jika dakwah yang dipersempit maknanya menjadi soal tata cara beragama semisal sholat, mesti langsung diteriakkan pada orang-orang.

Loh… ya itu di SMA kamu, Mbak. Ini SMK. Anak-anak SMK itu heterogen. Dari yang alim sekali, alim setengah ndugal,[2] hingga benar-benar ndugal semua itu ada. Dan lagi, di SMK jumlah murid banyak sekali. Tidak seperti SMA yang lebih ketat dalam seleksi, SMK memang lebih banyak memberi kesempatan masuk sekolah negeri pada siapa saja.

Hingga akhir acara, saya hanya membatin si mbak pemateri yang maha tahu itu dengan tatapan cinta. Saat mereka pulang, saya juga menyalami mereka dengan ceria, seolah saya berkata,”Mbak cerdas sekali… jenius… gemilang. Mbak sudah sadarkan saya yang maha sesat ini.”

Barangkali, dua mbak tersebut belum pernah mendapati teman-temannya yang selama tiga tahun sekolah, ada saja yang keluar karena hamil di luar nikah. Barangkali, mereka juga belum pernah betul-betul mendapati temannya jadi pelacur. Dan barangkali, mereka belum pernah melihat bagaimana Putri Wulandari, teman saya sekelas yang berasal dari keluarga sederhana itu, diam-diam senang membersihkan tempat wudhu sekolah dan mengamalkan ilmu agama, dengan jalan menyimpan kesedihannya dan terus melucu hingga membuat orang sekitarnya bahagia. Belum lagi Nur Farida Purnamasari alias Nesa, si endel[3] ini sudah mengamalkan ilmu agama dengan jalan tidak pilih-pilih teman, dia netral berteman lintas golongan. Lalu Nungky Carlina Firgantari, si cantik berbakat menari yang tidak gengi membantu ibunya berjualan kopi. Atau bagaimana dengan Maulida Usmawati, yang begitu momong[4] semua teman, dari yang alim dan paling ndugal sekalipun.

Teman-teman SMK punya latar belakang kehidupan yang begitu kompleks. Ada masalah pergaulan, gaya hidup, ekonomi, keluarga berantakan, motif sekolah yang asal lulus kemudian menikah dan banyak lainnya. Tuntutan pemenuhan syariat beragama yang tiba-tiba disodorkan, tidak akan mengena pada mereka.. Saya sangat bisa bayangkan, bagaimana reaksi dua mbak pemateri tersebut, andai mengetahui bagaimana teman-teman sekelas saya santai saja mokel[5] ketika bulan puasa. Apa betul mereka bakal meneriaki teman-teman yang mokel? Atau mereka memilih seperti Nita Oktafiani, teman sekelas saya yang santai saja melihat teman-temannya mokel dan tetap melanjutkan puasa. Nita sendiri adalah pengurus aktif di kelas. Dia mengurusi segala hal perkara adiministrasi hingga kelas dua belas dengan sukarela. Kelas sangat terbantu dengan kehadiran Nita yang bertanggungjawab. Nita pun juga disayangi teman-teman sekelas. Perbuatan baik Nita, apa tidak juga masuk berdakwah?

Simpulan saya waktu itu cuma satu, dua mbak pemateri tersebut, kurang vitamin C dan minum susu...




[1] Anjing-anjingkan
[2] Nakal
[3] genit
[4] Mengasuh dengan sikap yang lebih dewasa daripada umur
[5] Makan sebelum waktu buka puasa

Friday, April 21, 2017

Dulu Nggak Kenal, Sekarang Kok Minta Hutang?


Pernah saat awal kuliah, kakak tingkat saya beda jurusan tiba-tiba menghubungi saya. Dengan tulisan yang nampak buru-buru dikirimkan melalui SMS, dia bilang begini,”Pop… aku bisa pinjam uang? Ini aku di ATM uangku nggak bisa diambil. Rumah kamu di mana? Bisa ketemu?”
Langsung saja saya ingat, bagaimana sikap mbak tersebut pada saya saat kami satu SMK. Dia termasuk kakak tingkat yang memandang remeh saya. Saya merasa kasih sayang mbak tersebut timpang. Bahkan, saya pernah dihakimi tidak bakal mampu praktek kerja di sebuah lembaga yang dianggap pretisus, yang menangani anak nakal dan kabarnya sulit ditangani.
Saat ospek pun, si mbak tersebut termasuk jajaran kakak-kakak yang berakting galak. Tidak ada bekas-bekas bahwa kami pernah satu sekolah, bahkan satu jurusan. Lho… lha kok tiba-tiba sekarang jadi kenal sekali dengan saya ya? Bahkan tahu nomor saya. Soal nomor, mungkin dari data BEM sih. Mengingat mbak tersebut kabarnya pentolan himpunan jurusan, meski kami beda jurusan.
“Samean pinjam anak Peksos[1] yang lain gimana, Mbak? Rumah samean di mana?” jawab saya lewat SMS.
“Rumahku di Suhat[2]…”
Saya langsung ingat salah satu teman seangkatan saya yang dulu cukup ‘dianggap’ oleh si mbak tersebut. Saya berikan nomor dia padanya dan saya sebutkan juga, jika rumah si teman tadi dekat Suhat.
Si mbak Cetar, sebut saja Cetar gitu ya? Soalnya kan jaman sekolah dia juga eksis jadi ketua MPK yang setara Osis itu. Nah… belakangan si mbak Cetar saya dengar dari Wiwin, teman saya satu SMK dan satu kampus, tenyata sudah melukai banyak orang perkara uang.
Bahkan, Iin teman saya SMK yang sekarang kuliah di UMM kabarnya sudah mengeluarkan banyak uang buat si mbak Cetar. Iin barangkali memandang mbak Cetar dari luar. Sejak SMK, mbak Cetar sangat menghargai keberadaan Iin. Jelas saja, karena Iin kelihatan lebih bertalenta karena suaranya yang lantang dan geraknya yang cepat. Beda dengan saya yang cenderung woles dan pastinya nampak jauh lebih tidak berbakat.
Cerita selanjutnya, Wiwin ternyata juga meminjamkan uang sebesar sepuluh ribu pada mbak Cetar. Wiwin merasa ganjil setelahnya dan menunggu. Ternyata betul, uang yang barangkali dianggap tidak seberapa itu tidak kunjung kembali. Wiwin sengaja mengejar mbak Cetar hingga uangnya kembali. Dia kemudian membuktikan bagaimana karakter buruk mbak cetar perkara uang. Dan lagi, ternyata di fakultas bukan cuma Wiwin yang disandung masalah hutang oleh mbak Cetar, bahkan jumlah uangnya jauh lebih besar.
Ketika saya mengobrol dengan mbak Via, sebut saja Via ya. Mbak Via juga mengamini karakter buruk mbak Cetar. Mbak Via juga siswa yang aktif waktu SMK, sering kami menganggap mbak Cetar adalah sahabat baik mbak Via karena mereka sering beraktivitas bersama. Beda dengan mbak Cetar, mbak Via menghargai semua adik-adiknya, termasuk saya yang nampak lemah dan tidak bertalenta. Tatapan mata mbak Via hangat pada siapa saja. Tidak ada tatapan merendahakan pada orang tertentu seperti mbak Cetar.
Jadi, buat teman-teman… jika ada temanmu tiba-tiba meminta hutang uang, pakai feelingmu buat menentukan apakah dia pantas diberikan bantuan atau tidak. Ingat-ingat rekam jejaknya. Kalau kamu ingat dia hanya muncul ketika butuh, sebaiknya kamu pikir-pikir buat memberi bantuan. Jangan-jangan dia seperti mbak Cetar yang sudah melukai banyak orang, hingga orang yang dulu kurang dikenalnya pun, jadi sasarannya karena tidak ada lagi orang lain. Mencurigakan kan?




[1] Jurusan saya di SMK, Pekerja Sosial atau Peksos
[2] Daerah Soekarno Hatta di Malang, sering disingkat Suhat

Monday, April 17, 2017

Dengan Nenek, Saya Bebas Bermain Air Hingga Bedah Bangkai Kecoa


Nenek saya lahir di tahun empat puluhan. Merunut penuturannya, nenek hanya SD hingga kelas tiga kemudian sibuk mengungsi. Buyut saya, ibunya nenek, warga biasa yang tinggal di tengah kota dengan empat orang anak yang rata-rata berprofesi sebagai penjahit, termasuk nenek.
Saat saya masih SD, nenek masih terus menjahit sebagai hobi. Sesekali menjahitkan saya baju lebaran yang cantik, meski saya benci sekali jenis kainnya yang gerah. Selain gemar menjahit dan memasak, nenek juga aktif menjadi pengurus koperasi. Selain hobinya bertemu orang lain, nenek juga punya phobia akut dengan kecoa hidup. Saya ingat bagaimana nenek menyiramkan minyak tanah sebanyak mungkin, ketika menemukan seekor kecoa di rumah.
Uniknya, nenek membiarkan saja ketika saya mulai mengambil dua batang lidi dan membedah tubuh kecoa itu. Saya membedahnya hingga hancur dan penasaran dengan cairan dalam tubuhnya yang justru berwarna hijau, bukan merah seperti darah manusia saat tertusuk. Setelah itu, nenek membersihkan ‘hasil percobaan’ saya tanpa berkomentar.
Di lain waktu, saya mengambil gelas-gelas bekas air mineral dari dapur. Saya kemudian mengisinya dengan air dan mencelupkan kertas putih yang sudah saya lumuri spidol. Saya membuat gradasi warna dari hitam pekat hingga jernih. Nenek lagi-lagi tidak berkomentar. Malah, di lain waktu nenek mengumpulkan tutup botol banyak sekali. Dengan palu, dibuat sebagian tutup-tutup itu menjadi pipih. Semua tutup botol itu kemudian diberikannya pada saya. Dan tebak… saya memang senang sekali. Saya bermain dengan tutup-tutup yang biasa dianggap sampah itu setiap hari.
Pernah juga, saya mengambil sejenis kapur yang biasa dipergunakan nenek menggambar pola untuk menjahit. Saya menggambar perkampungan dan pemakaman dengan teman saya dek Nila, yang tinggal di belakang rumah nenek. Lantai rumah nenek penuh dengan coretan yang kemudian saya dan dek Nila bikin sebuah drama sambil tertawa-tawa. Lagi-lagi nenek tidak berkomentar.
Saya dan dek Nila kemudian meninggalkan kekacauan di lantai begitu saja dan ketika kami pulang kembali, lantai sudah bersih. Nenek mengepelnya dan saya melongo sambil mulai merasa bersalah. Saya mulai berpikir-pikir jika nenek yang selalu membereskan kekacauan yang saya buat. Namun, saya saat itu tidak pernah mengerti bagaimana cara mengungkapkan perasaan saya.
Di lain hari, nenek mengajak saya melelehkan lilin dan mengisinya pada kulit kacang. Kami lagi-lagi bermain hal-hal yang dianggap sampah. Nenek kemudian mengajari saya cara membungkus kacang-kacang palsu itu dan pura-pura menjualnya dan saya senang sekali.
Pernah juga, nenek memberitahu saya bahwa dirinya memiliki setoples kecoa. Nenek menyimpan kecoa-kecoa kecil dalam toples dan memberi mereka makan di dalam sana. Kata nenek kecoa ternyata tidak bisa tumbuh besar jika diletakkan di dalam toples. Saya sangat bersemangat mendengarkan hasil percobaan nenek.
Setiap hari, nenek juga terus menyisakan tutup-tutup botol untuk saya mainkan. Sesekali, saya juga dibelikan alat memasak mini yang terbuat dari tanah liat yang dibelinya di pasar pagi dekat rumah. 
Saat kecil, saya selalu menganggap nenek jauh lebih seru ketimbang mama. Saya selalu menganggap mama kaku. Rumah kami selalu dijaga bersih, dan kertas-kertas bersi gambar atau surat milik saya selalu dikumpulkan kemudian dibuang karena dianggap sampah. Saya tidak boleh menyimpan kertas, apalagi koleksi tutup botol seperti yang diberikan nenek.
Meski banyak memiliki batasan, mama selalu mengajari saya tanggungjawab. Setiap saya memainkan sesuatu atau membuat rumah sedikit berantakan, saya mesti membereskannya sendiri. Sebaliknya, seperti saya ceritakan di atas, nenek yang lebih membebaskan saya memainkan saya segala hal, tidak pernah menuntut saya bertanggungjawab atas kekacauan yang terjadi.
Nenek dan mama saya tentu punya alasan masing-masing dengan perbedaan cara didik yang diberikannya pada saya. Mereka berdua tentu menganggap pendidikan yang diberikan mereka adalah yang terbaik. Dari nenek, saya belajar bebas dan eksploratif, sedang dari mama saya belajar bertanggungjawab.

Friday, April 14, 2017

kehilangan sesama manusia atau insting si titipan tuhan?


saat sd, hidupmu membingungkan. bagaimana kamu bisa tahu si anu sungguhan orang baik dan si itu kebaikannya palsu? sialnya, kamu tidak bisa menyatakan apa yang kamu rasakan pada siapa pun. kamu kemudian menjauh dari apa-apa yang tiba-tiba kamu tahu adalah palsu dan bakal menyakitkan. lingkaranmu jadi sangat sedikit dan terkesan pilih-pilih. mereka bilang, kamu aneh.

waktu smp, temanmu menyukai seorang perempuan, dan entah mengapa kamu mengetahui perempuan itu punya baik yang palsu. katamu,”jangan perempuan itu. dia nenek sihir…”

maka temanmu marah. barangkali dalam batin, dikatakannya kamu ngawur dan sok tahu dan tidak lagi pantas jadi temannya.

menahun kemudian, dia mengirim pesan padamu di facebook setelah sekian lama memutuskan pergi darimu. katanya begini,”kamu benar… perempuan itu… dia memang nenek sihir.”

waktu smk, temanmu memacari seorang lelaki. kamu benci melihat lelaki itu sejak kali pertama. lucunya, kamu sendiri belum pernah disakiti lelaki, bagaimana bisa kamu tahu lelaki itu baik atau buruk?

katamu,”lelaki itu buruk sekali…”

lalu temanmu diam, dia berpura-pura tidak lagi berhubungan dengan lelaki itu di depanmu. ada jarak yang kamu rasa di antara dirimu dan temanmu itu. menahun kemudian, dia datang dengan berita hampir bertunangan. dia ternyata mau buktikan kamu salah. di tahun yang sama, temanmu mengiris pergelangan tangannya, lelaki itu menyakiti temanmu sehebat-hebatnya. tidak ada pertunangan, apalagi pernikahan.

temanmu bilang,”saya salah besar. dia ternyata palsu…”

waktu kuliah, temanmu bilang,”insting itu hilangkan saja. lebih seru kamu lihat saya dan manusia lain saling menghancurkan tanpa tahu lebih dulu.”

kamu menjawab,”bisa… dengan jalan saya mulai berciuman atau tidur dengan sembarang lelaki. dengan itu, tuhan pasti mencabut insting saya. tapi… apa kamu rela? bahkan, teman-teman lelaki saya yang kelakuannya bobrok sekali, mereka menjaga betul diri saya, apalagi kamu yang lelaki baik. begitu bukan?”

dan kamu tidak pernah menyesal, insting itu dititipkan tuhan pada suatu maksud…

Menepi.

Saya harap, kamu segera lelah…

Kemudian, menepilah…

Rencana Gagal Berciuman, yang Membuat Insting Itu Luruh


Seperti manusia lainnya, di permukaan dada Agni ada sebuah kaca. Bedanya, hingga di usianya yang ke sembilan belas, kaca pada permukaan dadanya tetap bisa memantulkan gambar, baik wajahnya sendiri maupun wajah orang lain. Pantulan itu, membuka mana binar mata yang palsu dan asli. Dengan itu, Agni susah ditipu binar dan hidupnya menjadi sedikit lebih mudah.
Semua kaca pada permukaan dada manusia lain, pada mulanya bisa memantulkan gambar seperti kaca pada permukaan dadanya Agni. Namun, perasaan cemburu, kesenangan menikam orang lain tanpa sebab, juga peluk dan cium pada sembarang orang di luar ijab, membikin kaca-kaca itu penuh gurat lantas menghitam. Maka, makin jauh Agni dari perasaan cemburu, menikam tanpa sebab dan peluk cium di luar ijab, makin bening kaca di permukaan dadanya.
Suatu malam, Agni berpikir-pikir begini,”Saya ingin betul mencium bibir lelaki itu. Warna matanya yang abu-abu itu sungguh cantik,”
“Tapi tidak… saya dan dia ada di luar ijab. Ciuman antara kami hanya akan membikin saya kehilangan kaca bening pada permukaan dada saya. Dan itu akan menyulitkan hidup.” Lanjut Agni.
Esok hari, Agni merasa ganjil ketika melihat lelaki, yang biasanya dia sebut punya binar mata yang palsu. Pada hari-hari sebelumnya, kaca bening di permukaan dadanya membuka binar mata palsu lelaki itu. Namun, kaca itu kini penuh gurat dan gelap. Agni tidak merasakan apa-apa dari lelaki itu selain bukti nyata lembut tuturnya, yang di hari-hari lalu dia sebut palsu.
Agni berniat menghindari ciuman di luar ijab, karena tendensinya soal permukaan hati yang bening. Agaknya, tendensi Agni semalam, sudah membuat gurat dan kegelapan hebat pada kaca di permukaan dadanya. Sekarang, Agni menjadi buta seperti manusia lainnya…