Monday, April 2, 2018

Ngapain Nyapa? Buka Saja Sosmednya

Rombongan free pass (ndak pakai registrasi) Mata Najwa. Ada pegiat literasi, penulis dan teman-teman taman baca di Malang. Kalau saya sih selundupan wk.
Satu malam, saya makan bareng teman baik saya dari Gusdurian Malang, Monika. Ngobrol sana dan sini, sampai kemudian Monika cerita nasib dia yang ndak bisa masuk Graha Cakrawala, padahal punya tiket. Waktu itu acaranya Mata Najwa dan yang senasib dengan Monika ternyata banyak sekali.
Yang saya sosoan kaget, waktu Monika tahu saya juga pergi ke Graha Cakrawala untuk nonton Mata Najwa. Lha… padahal waktu ketemu saya juga niatnya mau cerita, kok ya Monika ternyata justru tahu lebih dahulu. Tapi sengaja saya ndak tanya dia tahu dari mana. Bahkan dia tahu, saya dan satu teman Gusdurian Malang, namanya mas Ilmi Najib itu dapat free pass dari mas Eko Cahyono, perpustakaan Anak Bangsa. Ya… meski saya bukan dikasih sih, tapi saya lebih tepatnya minta wk.
Waktu Monika cerita seberapa jauh dia tahu, saya coba ingat-ingat, apa saya barangkali yang unggah kegiatan saya hari itu di sosmed? Eh, ternyata juga ndak. Saya sama sekali ndak bikin boomerang di lokasi acara atau foto-foto tiketnya, apalagi unggah foto bareng.
Baru sehari kemudian, beranda saya penuh dengan kiriman enam hari yang lalu. Lha… Instagram saya ini agaknya punya masalah kok ya kiriman enam hari lalu baru bermunculan. Di beranda itu juga muncul foto unggahan mas Ilmi Najib, isinya ya rombongan free pass Mata Najwa sekitar seminggu lalu dengan keterangan foto yang menceritakan kegiatan kami hari itu.
Lha… ini apa. Maha tahu sosial media sebabnya. Tentu mas Ilmi tidak bermaksud apa-apa ketika mengunggah foto di media sosial. Posisinya di Gusdurian Malang yang menuntutnya terus berjejaring, tentu bakal terbantu dengan unggahan-unggahan kegiatannya. Pun Monika yang tentu tidak sengaja melihat unggahannya mas Ilmi yang lewat di berandanya.
Tapi dari sini saya jadi berpikir-pikir, jelas begini ini toh kerja media sosial. Nggegirisi juga ketika orang-orang ndak perlu saling sapa untuk tahu satu sama lain tengah melakukan apa.
Ada teman saya namanya Zainul Ridwan pernah bilang soal media sosial, kalau unggah ya unggah saja, selama ndak merugikan orang lain bukan masalah. Tapi rumusan rugi dan tidak bagi tiap orang ternyata beda juga. Bagi saya, jika unggahan tersebut ndak ada sangkutannya dengan branding, saya bakal banyak berpikir-pikir mau diunggah atau tidak. Saya tidak ingin merugi dengan melebur jarak dari mereka yang betul berteman dan berkomunikasi dengan saya, dibanding mereka yang hanya tahu saya sebatas sosial media.
Maha tahu sosial media atas segala yang terjadi di jagat raya…

Catatan: Saya sudah cukup lama mengalihkan unggahan di media sosial semacam Facebook, Instagram dan lainnya pada blog. Ndak mau rugi saya. Biar mereka yang sekadar ingin tahu tanpa menyapa, masih bisa kasih timbal balik traffic pada saya wk.

Tuesday, March 20, 2018

Seorang Lelaki yang Jatuh Cinta Pada Buku-buku yang Dibacanya


Sumber: Gugel

Tidak ada pujian soal kecantikanku, saat dia menyatakan permintaanya buat menikahi aku. Dia hanya menyodorkan sebuah buku dengan salah satu halaman yang ditandainya dengan spidol warna biru.
Bukan kecantikan, yang jadi investasi sepanjang hayat dari seorang perempuan. Tapi, kecerdasan…
“Maka, saya memilihmu…” katanya mantap setelah aku selesai membaca sebaris kalimat yang ditandainya biru.
Pipiku terasa panas. Aku yakin, detik itu ada merah yang menyembur pada dua belahan pipiku.
Kecerdasan…
Itulah alasannya memilih aku. Sungguh beda dengan lelaki lain yang ragu mengajakku menikah, karena ukuran tubuhku yang tidak menarik dan kelewat besar. Setidaknya, memang begitu menurutku, saat itu…
***
Maka, kami pun menikah. Sehari-hari, aku hanya mendapatinya membaca sedemikian banyak buku-buku. Dia bisa menggerakkan dua bola matanya pada dua halaman buku sekaligus. Para mahasiswa banyak datang bertamu, memintanya berceloteh soal buku-buku yang begitu mudah dia ingat.
Saban hari, aku sendiri bekerja di kantor pemerintah sejak pagi hingga jelang petang. Namun, dia tetap berkutat dengan buku-bukunya atau sibuk mengoceh dengan para mahasiswa yang nampak betul memuja dirinya. Sering dengan senyum puas dan bangga, dia sebut dirinya mewarisi apa yang dimiliki ayahnya, dapat membaca dua halaman buku sekaligus.
Makanan yang aku masak selalu dilahapnya dengan rakus. Akan tetapi, tidak pernah ada pertanyaan kapan aku memasaknya atau kenapa, kadang aku menghilangkan menu cabai. Ya… aku terkadang menghilangkan menu cabai karena harganya yang kelewat tinggi di satu waktu tertentu. Ah… dia mana pernah mau tahu sih?
“Saya tidak menyajikan cabai hari ini…” ucapku, coba memancingnya bercakap-cakap.
“Oh… tentu. Bukan masalah.” Sahutnya tanpa berhenti mengunyah makanan.
“Kamu tidak coba tanya kenapa?” desakku dengan sedikit penekanan pada kata ‘kenapa’.
“Seperti tadi saya bilang, itu bukan masalah.” Balasnya dingin.
Aku mendekati meja tempatnya makan dan menggebrak dengan dua tangan sekuat mungkin. Mataku mendelik dengan bibir yang aku gigit kuat-kuat menahan tangis dan marah.
“Ini bukan masalah, oke?” sahutnya tanpa berhenti mengunyah makanan.
Kemudian disodorkannya sebuah buku dengan salah satu halamannya yang terbuka. Ada sebuah kalimat yang ditandainya dengan tinta biru.
…bagaimana semua orang bisa berpikir pragmatis?
***
Dia menatapku kelewat tajam saat aku menghempas tubuh di atas sofa bersama beberapa tas belanjaan. Tas belanjaan itu bertulis salah satu mall terbesar di kota. Keparatnya, tatapan itu diamini para mahasiswa pemujanya itu padaku.
Salah seorang mahasiswa berbisik pada mahasiswa lain di sebalahnya. Kemudian, bisikan mereka berlanjut menjadi saling bisik, hingga dia membuka sebuah halaman buku, ditandainya sebuah halaman dengan spidol warna biru. Diserahkannya kemudian buku itu, pada salah seorang mahasiswa yang duduk tepat di samping tumit kakinya. Dia berbisik sejenak sebelum membiarkan mahasiswa itu menyodorkan bukunya padaku.
Bab V. Borjuis dan Hedonis. Sebuah Bab Penjelas.
Keparat! Aku berdiri tanpa memerhatikan sorot mata semua orang yang menancap padaku, juga pada tas-tas belanjaan yang aku bawa. Apa mereka tidak paham? Mencari penjahit baju terpercaya sangat susah di jaman sekarang. Tubuhku sendiri sangat besar bahkan jauh sebelum aku menikah. Cuma mall terbesar di kota yang menyediakan baju-baju seukuran tubuhku. Meski harga yang aku tebus tidak murah mengingat ukuran tubuhku memang membutuhkan banyak bahan. Namun, setidaknya aku masih bisa berbaju dengan sejumlah uang dari gajiku sendiri! Bukan hasil nyolong!
***
Dia semakin hemat bicara pada aku. Cukup melegakan karena dia masih begitu rakus melahap semua yang aku masak.
Para mahasiswa yang datang mengerubunginya kian hari makin banyak. Ketika aku melakukan sesuatu yang kurang berkenan baginya, dia hanya menyodoriku sebuah buku yang salah satu halamannya ditandai warna biru. Hanya itu dan seterusnya begitu.
Sempat di satu malam sebelum dia mulai berhenti bicara padaku. Dia menceritakan bagaimana ayahnya terus-menerus membaca, meski berkali ibunya menggerutu soal harga cabai yang membengkak. Kemudian, didapatinya ayah dan ibunya yang tidak pernah lagi saling berbicara. Ayahnya hanya menandai sebuah halaman buku dengan tinta biru, jika ingin menegur ibunya.
 Hingga satu waktu, aku mendapatinya mengemas barang dari dalam almari baju kami. Mirip saat di mana dia kali terakhir melihat ayahnya, seperti yang dia pernah ceritakan.
“Kamu mau kemana, Mas?” tanyaku.
Dia hanya diam, sambil terus mengemas baju.
“Mas…” panggilku.
Senyumnya terkembang tipis. Dia kemudian melewati aku begitu saja yang tengah berdiri di bibir pintu. Buru-buru dia meraup belasan bukunya yang ada di atas rak dekat ruang makan. Buku-buku itu selanjutnya dimasukkannya dalam koper, bercampur dengan beberapa helai pakaian yang tidak sebanyak buku yang dia bawa.
“Mas!” aku akhrinya membentak saat dia berlalu begitu saja, melenggang menuju ruang tamu sambil membawa koper.
Dilemparnya sebuah buku padaku kemudian. Seperti biasa, ada tinta biru sebagai penanda bagian mana yang semestinya aku baca.
Menghayati hidup, meski tidur tidak beralas keramik.
Tanganku gemetar. Dia menghilang dari balik pintu. Buku yang aku genggam terjatuh di lantai. Lantai keramik yang aku bangun dengan gaji yang aku kumpulkan, hanya karena alasan sederhana, keramik membikin rumah menjadi mudah dibersihkan.
Namun, sebentar kemudian tanganku berhenti gemetar. Aku mendekat menuju jendela dan melihatnya yang kesusahan menenteng sebuah koper besar. Senyumku terkembang lebar. Aku penasaran, buku apa yang nanti jadi alasannya buat kembali pulang?

Thursday, March 1, 2018

Penyakit Kronis Itu Bernama Publikasi

Publikasi itu bukan penyakit. Yang menjadi penyakit adalah ketika kita merasa paling tahu atas yang kita publikasikan melebihi orang lainnya.

Hingga kita lupa di luar diri kita, banyak sekali orang yang sesungguhnya jauh lebih tahu soal apa yang kita publikasikan itu.

Mereka-mereka ini yang lebih tahu, namun justru jarang publikasi bahkan barangkali tidak pernah.

Mereka-mereka ini juga yang tersenyum geli melihat kita. Kita yang tahunya sedikit, tapi sudah keburu bangga publikasi.

Thursday, February 22, 2018

Komoditi Maaf



Kamera dan empati yang terlupakan adalah salah satu kombinasi berbahaya. Segala bisa dijadikan komoditi, bahkan sebuah maaf.

Sunday, February 11, 2018

Pernah Kena Modus ‘Content Writer’ MLM Asuransi? Mari Bercerita

Sumber: dokumentasi pribadi. Saya dan Luvi di lokasi penjebakan. Luvi sekarang tidak pernah lagi unggah foto dengan wajahnya yang nampak dan saya coba ikutan di sini.


Beberapa bulan yang lalu, saya dihubungi mas M melalui blog yang saya kelola ini. Mas M mulanya saya berikan akun Instagram saya yang memang sering online, agar dapat bercakap-cakap. Sejak semula menghubungi saya melalui blog, mas M mengatakan bahwa dirinya membutuhkan jasa content writer.
Setelah berkomunikasi via instagram, mas M mengaku berasal dari perusahaan asuransi dan meminta lagi kontak saya, nomor WA. Kemudian saya berikan nomor WA saya padanya dan kami kembali berkomunikasi.
Saya merasakan kecurigaan ketika mas M agaknya kurang menguasai terkait content writer. Saya tipe orang yang menulis penuh tendensi. Saya tidak perlu sok-sokan menulis dengan hati dan ikhlas. Jika tulisan saya dipergunakan untuk bisnis, sepenuhnya saya akan berbisnis dan jika tulisan saya dipergunakan untuk sosial, sepenuhnya saya akan kerja sosial. Tidak ada posisi di tengah bagi saya soal yang satu ini dan saya rasa banyak orang pun demikian.
Berhubung sejak semula mas M mengajak saya berbisnis tulisan, maka saya langsung tembak soal tarif. Apalagi ketika mas M pada waktu itu mengiyatakan bahwa tidak bisa dirinya jelaskan apa pekerjaan saya via WA. Kami harus jumpa tapi syaratnya, saya harus bawa sebanyak-banyaknya teman yang juga menulis. Domisili mas M di Surabaya, katanya waktu itu. Ketika saya tembak soal tarif, mas M anehnya mengatakan tarifnya sama dengan biasanya saya memberi jasa sejenis alias terserah saya. Intinya apapun deh, pokoknya saya mau bertemu dulu.
Dalam keraguan, saya masih sempat mengajak tiga teman saya; Windy, Dinda dan Nilam. Saat itu posisi kampus kami masih liburan dan saya tidak hendak memaksa mereka balik Malang untuk sesuatu yang tidak pasti. Apapun yang kami dapati ketika bertemu mas M, saya inginnya sih waktu itu menunggu teman-teman saya yang sedang pulang kampung ini selesai liburan dahulu. Windy, teman saya yang biasanya kritisnya itu langsung tembak, langsung menyatakan keraguannya atas tawaran mas M. Pun saya juga menyatakan keraguan pada Windy.
Hingga beberapa lama mas M terus menanti kepastian kapan bisa bertemu dan di akhir januari, mas M akhirnya mau berjumpa dengan saya meski saya bilang tidak bisa membawa teman. Ya… saya akhirnya memutuskan untuk jumpa mas M sendiri saja, toh semua belum pasti.
Tapi kemudian, teman saya Luvia Irmadiana mengabari jika dirinya ada di Malang, maka sekalian saja saya mengajaknya jalan dan bertemu mas M. Toh, lokasinya juga di salah satu mall besar di Malang, sekalian saja barangkali kami bisa bertemu baju-baju lucu dan murah.
Saya menduga-duga jangan-jangan mas M ini sesungguhnya hanya mengajak ber-Multi Level Marketing-ria, tapi toh semua belum terbukti dan saya juga tidak menceritakan apapun pada Luvi. Insting saya berkata, setidaknya kami bakal dapat jajan gratis dan kalau ya, ini rejekinya Luvi yang sudah dua hari mengirit, tidak makan nasi di kos.
Benar saja, saya dan Luvi diajak ke salah satu restoran Jepang dalam mall tersebut. Insting saya makin terasa tidak enak sih. Pekerjaan mana yang berani beri fasilitas sebelum kita bekerja? Kecuali ya… ini pancingan untuk sesuatu yang lebih besar.
Kami pun menerima pesanan masing-masing; teh hijau, nasi dan ikan berbumbu, serta belakangan ada tambahan semacam ayam krispi, mayones dan irisan wortel yang apapun itu namanya. Obrolan basa-basi pun dimulai, seputar letak rumah, jurusan di kampus dan lain-lain. Luvi selama obrolan saya dengan mas M berlangsung, berkonsentrasi pada makanan dan ponselnya, tapi saya tahu dirinya pun sesungguhnya turut mendengarkan.
Saya sama sekali tidak tertarik mendebat, ketika mas M pada intinya mengajak saya membuat blog yang isinya mengenai asuransi. Nah, blog ini hanya dapat dibuat ketika saya memiliki surat ijin. Ya… kata mas M, tidak semua orang bisa menawarkan jasa asuransi, harus ada surat ijin resmi dan saya harus mengikuti ujian berbayar untuk mendapatkan surat ijin tersebut. Blog yang saya buat pun, tidak perlu bercampur dengan blog pribadi.
“Jadi, mbak nanti dapat dua keuntungan. Pertama, mbak dapat uang dari iklan google di blog dan kedua, mbak dapat komisi jika ada orang beli produk ke mbak lewat blog tersebut.”
Dengan penjelasannya yang berkali-kali soal dua keuntungan tersebut, saya akhirnya tidak tega. Saya kemudian menjelaskan padanya bahwa memasang iklan di blog, kemudian mendapatkan penghasilan tidak semudah itu. Saya pernah mencobanya dan gagal. Pikiran bahwa main blog dapat duwit mudah bukan hanya pada diri mas M.
Beberapa teman saya pun punya pikiran mendapat uang dari blog itu mudah. Bahkan ada yang  dengan lugas menyatakan ketidakpercayaannya bahwa saya tidak dapat uang dari blog. Barangkali, dipikirnya orang gila mana yang mau gratisan ngeblog hampir lima tahun pula. Tapi sungguhan, banyak teman-teman saya yang bahkan jauh lebih lama ngeblog karena hobi. Orang-orang macam teman-teman yang tidak percaya ini, sudah barang tentu tidak pernah mampir sungguhan di blog saya yang di sudut mana saja bersih dari iklan. Jadi, mau dapat uang dari mana coba?
Dengan cara tidak mendebat tadi dan menyetujui semua ucapan mas M, saya akhirnya mendapat kejelasan darinya begini,”Jadi, ini bukan mbak nulis untuk saya lalu saya bayar mbak…”
Batin saya,”Ini sih jelas bukan content writer, Mas. Mas hanya peduli saya masuk training dan bayar. Tidak lulus ujian masih disuruh bayar separuh harga lagi pula. Mas tidak peduli saya survive setelah ikut training atau tidak. Ini semua fokusnya; mendapatkan orang sebanyak mungkin. Jika saya berhasil dapat klien, mas untung dapat komisi dan jika saya tidak dapat klien, mas masih dapat tulisan gratis di google soal produk yang mas jual.”
Dalam usaha tidak mendebat sama sekali, saya bahkan mau mengisi formulir surat ijin. Hanya saja, saya menyatakan tidak membawa KTP saat itu. Mas M matanya nampak curiga dan agak sebal, ketika saya katakan tidak bawa KTP. Padahal, sejak semula dia kelihatan hanya mengajak ber-MLM-ria, saya sesungguhnya juga sangat sebal padanya, hanya saja muka saya yang bego dan polos dan datar ini tidak menunjukkannya.
Saya bukannya alergi MLM. Saya hanya alergi pada mereka yang menyakiti diri sendiri dan orang lain demi tujuan. Saya tidak mau dilukai, jadi saya berusaha tidak melukai orang terlebih dahulu. Saya bukannya baik, sehingga tidak mau melukai orang terlebih dahulu, tapi saya sangat percaya timbal balik sehingga sungguh takut melakukan itu.
Yakin saya, tidak semua pelaku MLM semacam mas M yang menghalalkan segala cara, sampai menawarkan pekerjaan semu. Banyak juga teman-teman saya yang berbisnis MLM kosmetik atau lainnya yang terang-terangan dalam bisnisnya.
Luvi bahkan nyaris percaya jika saya mau bekerja dengan mas M. Hingga saya beri dia kode. Sekeluarnya dari restoran, Luvi malah bilang,”Kok mas e tadi nggak ngajak ke ***** (tempat yang lebih mahal) aja, ya?”


Sumber: dokumentasi pribadi. Lokasi di mana kami ditraktir makanan oleh si oknum.
Jika teringat mangkuk-mangkuk kosong makanan yang ada di hadapan saya itu, saya menyesal tidak jadi mengajak Dinda, Windy dan Nilam. Bagi anak kos, makanan bergizi lagi enak begitu kan rejeki luar biasa. Tentu sebanding dengan satu jam dianggap bodoh.
Kepada mas M, yang kelak pasti membaca tulisan ini, Anda berhak ‘berbisnis’ dan saya pun berhak menolak. Kita sama punya hak dan mohon jangan saling langgar hak. Semoga dengan membaca tulisan ini, mas akan lebih halus lagi jika kelak memergunakan modus serupa; content writer tanda kutip.

Monday, February 5, 2018

Seorang Feminis yang Bertanya Pada Dirinya Sendiri,"Apa itu feminisme?"

Coreted by: #AnomaliKreate

Saya seorang feminis, atas nama otoritas tubuh, boleh saya memakai make up?

Inti dari feminisme salah satunya adalah cinta kasih. Selama yang kamu lakukan itu tidak menyakiti dirimu dan mahluk hidup lain, maka silakan.

Saya seorang feminis, atas nama otoritas tubuh, boleh saya berhubungan badan dengan sembarang lelaki, mengandung dan lantas menggugurkannya?

Inti dari feminisme salah satunya adalah cinta kasih. Selama yang kamu lakukan itu tidak menyakiti dirimu dan mahluk hidup lain, maka silakan.

Saya seorang feminis, atas nama otoritas tubuh, boleh saya merebut pasangan orang lain?

Inti dari feminisme salah satunya adalah cinta kasih. Selama yang kamu lakukan itu tidak menyakiti dirimu dan mahluk hidup lain, maka silakan.

Monday, January 22, 2018

Perempuan di Sekitar Saya: Melawan Hormon Jerawat, Gemuk dan Warna Kulit


Tempo hari, saya melihat postingan teman baik saya Robiatul Adawiyah alias Yaya di instastorynya. Dalam instastorynya, Yaya merepost informasi soal perempuan gemuk bernama Nabela dari faktanya google. Berhubung instastory Yaya sudah terhapus, jadi saya hanya menyertakan postingan asli dari instagram @nabela.

Sumber: Instagram

Sungguh saya menyayangkan bagaimana masih saja ada komentar-komentar tidak jelas, tidak lucu, apalagi rasional di kolom komentar faktanya google. Berikut beberapa komentar tersebut yang telah saya buramkan user namenya untuk menghindari persekusi terhadap si empunya akun.

Sumber: Instagram
 
Sumber: Instagram
 
Sumber: Instagram
Saya langsung saja summon akun teman baik saya Kartika Rose Rachmadini alias Rose di dalam kolom komentar postingan tersebut yang intinya mengenai perjuangan manusia melawan hormon, pun pada diri saya yang pernah kurus tanpa berusaha dan saat ini gemuk meski makan dengan ukuran wajar.


Sumber: Instagram

Sebelum saya cerita lebih lanjut soal Rose, dalam kolom komentar video Nabela di faktanya google, saya juga mendapati komentar-komentar postif dari para laki-laki. Beberapa dari mereka summon pacar, teman dan juga mengomentari dengan positif tanpa summon siapa-siapa.

Sumber: Instagram

Kemudian soal Rose. Rose sendiri teman baik saya semenjak SMP. Sejak kali pertama mengenalnya, Rose memang mudah dikenali dengan kelebihan bobot tubuhnya. Belakangan ketika kami sudah kuliah, saya juga sempat bertemu keluarganya Rose dari pihak ayah; antara lain kakek dan tantenya. Keluarga Rose dari pihak ayahnya, ternyata memiliki tinggi tubuh di atas rata-rata orang Indonesia dan juga bobot tubuh yang jelas jauh melebihi Rose. Rose sendiri tinggi badannya hampir sama dengan saya. Tinggi badannya ini agaknya menurun dari keluarga ibunya yang rata-rata tingginya seperti orang Indonesia kebanyakan.
Dengan semua yang saya saksikan, jelas sudah perkiraan saya bahwa Rose gemuk karena hormon yang diturunkan dari keluarga. Soal hormon keturunan juga berlaku buat warna kulit Rose yang cerah dan mudah diatur. Saya tidak bilang kulit Rose cerah karena warnanya putih, tapi indikator cerah bagi saya adalah kulitnya yang segar. Ketika keluar rumah, Rose hanya bermodal bedak tabur biasa dan lipstick, begitu saja wajahnya sudah segar.
Barangkali banyak yang tidak tahu bahwa Rose juga sudah berkonsultasi ke dokter untuk menghilangkan kelebihan berat badannya. Saya ingat Rose pernah cerita salah seorang dokter mengatakan gemuknya Rose adalah gemuk otot. Dirinya juga sudah berusaha minum obat pelangsing namun Rose malah kemudian telat datang bulan. Jarang makan nasi, berusaha hanya makan sayur dan buah pun sudah Rose lakukan. Semua yang saya ceritakan ini hanya sebagian saja yang pernah diceritakan Rose pada saya.
Belum lagi guyonan tidak lucu dari teman dan keluarganya seperti,”Ini anak dikasih makan apa, sih? Kok bisa segini besar?”
Rose sendiri saya kenal dari SMP sebagai siswi yang sangat kuat di bidang akademis. Bahkan menurut cerita dari neneknya, hingga kuliah Rose bisa mendapat beasiswa dari bidang akademis. Dirinya pun sangat baik berteman pada siapa saja, sangat asyik diajak curhat, mengobrol dan jalan-jalan, tidak pelit juga terhadap teman, meski saya cuma bisa balas dengan belikan dia novel obralan.
Memiliki bobot jauh di atas rata-rata tentu tidak nyaman dan pada aktifitas tertentu menganggu. Rose sedang berusaha membuat dirinya nyaman dengan caranya. Usaha yang dia lakukan hasilnya sangat pelan sehingga siapa saja dapat menghakimi Rose tidak pernah berusaha.
Ada juga teman saya Putri Sih Anekasari alias Putri. Putri memiliki tinggi tubuh di atas rata-rata perempuan Indonesia kebanyakan dan berat badan setara model yang beberapa kilogram di bawah berat badan ideal. Saat SMK saja, tinggi badannya sudah 165 cm. Rambut asli Putri tipis bergelombang dan kulit aslinya dia akui kusam.
Putri sendiri aktif di Paskibra sekolah dan memiliki nilai akademis yang bagus. Dirinya juga jago soal aktifitas fisik, nilainya selalu sangat baik saat pelajaran olahraga dan juga berbakat voli. Putri juga teman mengobrol yang dewasa, setia kawan dan tidak pelit terhadap teman-temannya.
Hingga sekarang, Putri memilih meluruskan rambutnya. Dirinya juga memilih menempelkan serangkaian bedak ketika keluar rumah agar wajahnya nampak segar. Putri sendiri sangat berusaha merawat jenis kulitnya dengan berbagai rangkaian pembersih dan pelembab yang bermacam-macam.
Pernah juga Putri bercerita, seorang kakak tingkat di jurusannya saat kuliah, mengirim DM padanya di Instagram. Kakak tingkat tersebut mengajak Putri ngopi setelah melihat fotonya yang full make up. Putri merasa tidak nyaman karena kakak tingkat tersebut sesungguhnya satu organisasi dengannya semasa kuliah. Namun, di masa itu Putri belum menemukan perawatan kulit dan rangkaian bedak yang pas dengan wajahnya. Semasa itu juga, kakak tingkat itu sama sekali tidak mengenalnya, apalagi mengajakanya mengobrol. Saya justru malah berpikir buruk, bagaimana jika kakak tingkatnya Putri itu menghina ketika tahu dirinya tidak memakai riasan? Untungnya, Putri cukup cerdas untuk menolak ajakan ngopi yang tiba-tiba itu.
Sebetulnya, tidak ada yang salah dari usaha Putri meluruskan rambut dan memakai riasan. Putri hanya ingin lebih mudah menata rambutnya dan merawat kulitnya. Itu semua hak masing-masing orang, bukan?
Oh iya. Saya pernah saat SMK melihat foto ibunya Putri. Perawakan ibunya itu betul-betul mirip Putri yang tinggi dan atletis. Bentuk tubuh Putri diwariskan dari ibunya. Porsi makan Putri saya ingat sangat banyak semasa SMK, namun tubuhnya terus meninggi dan dirinya tidak pernah kelebihan berat badan yang sampai kentara.
Kemudian teman saya Putri Wulandari alias Iwul. Iwul juga teman saya sejak SMK. Sejak SMK juga, Iwul memiliki masalah jerawat. Ini semua bukan soal penampilan, namun justru soal jerawat yang jumlahnya sangat banyak, gatal, sakit dan mengganggu.
Iwul sering bercerita pada saya bahwa ketika pergi ke dokter, jerawatnya itu divonis karena hormon. Setelah ditelusuri, ternyata semasa muda, ayahnya Iwul memiliki jerawat yang sangat banyak pun saudara-saudaranya dari pihak ayah. Sepupu-sepupu perempuan Iwul dari pihak ayah, juga mengalami hal yang sama. Adik laki-laki satu-satunya Iwul, justru tidak memiliki masalah jerawat dan jenis kulitnya itu diturunkan dari ibunya.
Tentu banyak yang tidak tahu, bahwa treatment untuk jerawat bagi masing-masing orang berbeda. Untuk Rose, Putri, Iwul dan saya juga sangat berbeda. Saya misalnya, hanya perlu memergunakan facial foam untuk menghilangkan jerawat. Harga facial foamnya? Hanya dua belas ribu.
Teman saya yang lain ada yang memergunakan es batu ketika berjerawat dan banyak treatment yang berbeda-beda. Tapi Iwul beda, jerawatnya itu menetap dan sangat banyak. Dia sudah berpindah-pindah dokter tapi belum juga menemukan obat yang efektif. Iwul bahkan jauh rajin membersihkan wajahnya ketimbang saya. Jenis kulit saya menurun dari ayah, ibu dan nenek yang bahkan ketika jarang dibersihkan pun sangat sulit berjerawat atau kusam. Teman-teman yang sedang membaca tulisan ini pasti sangat tahu bahwa biaya pergi ke dokter kulit untuk menghilangkan jerawat tidak semurah harga facial foam.
Iwul sendiri merupakan tukang bersih-bersih gratis di mushola sekolah. Dirinya terutama membersihkan tempat wudhu dan tidak ada yang menyuruh apalagi memerhatikan pekerjaan sukarelanya itu. Di daerah tempatnya tinggal, Iwul juga sempat mengajar di PAUD milik kampungnya dan sebuah TPQ. Soal gaji? Iwul kerja sosial dengan insentif yang sangat jarang turun. Kehidupan keluarga Iwul pun sangat sederhana, dengan rumah sangat kecil di sebuah kampung di tengah kota Malang. Iwul sendiri berhasil kuliah karena keinginannya yang kuat dan berhasil mendapat beasiswa.
Jadi sesungguhnya, setiap perempuan sangat ingin menjaga kesehatan dan membuat dirinya sedap dipandang. Setiap perempuan seperti teman-teman yang sudah saya ceritakan di atas ini sudah berusaha dengan caranya masing-masing. Hanya saja, cara-cara tersebut ada yang langsung berhasil dan ada juga yang hasilnya lama. Para perempuan yang sedang saya ceritakan ini pun memiliki banyak kelebihan yang kasat mata pun sangat dapat dilihat.
Teman-teman saya ini tengah terus berusaha, sedang di lain sisi orang-orang yang memandang mereka berkomentar sekena hatinya. Penerimaan diri memang hal utama, mengakui bahwa bahwa diri kita, gemuk, berkulit kusam, berjerawat dan lain sebagainya. Penerimaan diri adalah pengakuan atas hal-hal yang diri sendiri memang miliki, membantu kita terus melanjutkan hidup dan lebih jernih memandang diri sendiri. Penerimaan diri bukan berarti pasrah.
Video Nabela sendiri, bukan menunjukkan kepasrahan namun justru penerimaan. Nabela menunjukkan bahwa untuk menjadi seorang beauty vlogger yang berkreasi dengan seni rias wajah, tidak membutuhkan tubuh kurus dan kulit putih seperti yang jamak kita semua lihat. Siapa saja mampu dan berhak membikin karya, begitu pesan yang saya tangkap dari aktivitas Nabela.
Kepada semua orang termasuk saya, yang barangkali gemar berkomentar. Saya tidak hendak mengajurkan apa-apa. Saya hanya berharap, curhatan ini bisa menyentuh hati siapa saja…

Pagi ini, saya menuliskan curhatan ini dengan tinggi badan saya, 163 cm dan berat badan saya 69 kg.



Monday, January 15, 2018

Damai yang Mengaku Damai

Sumber: Instagram dan twitter yang bersangkutan. Untuk menghindari persekusi terhadap yang bersangkutan, saya memburamkan nama.

Sesungguhnya sangat terlihat mana yang mengatakan penuh kasih dan mana yang sungguh berpraktik penuh kasih.

Seorang teman mengunggah tulisan ini dalam instastorynya. Solidaritas dan kasih sayang terhadap golongan sendiri sering membuat terbakar memang.

Syukur setelah sedikit obrolan pribadi, teman kita ini menyadari pelampiasan solidaritas dan kasih sayangnya bisa disalurkan pada hal yang lebih tepat.

Menerima saran bukan perkara mudah dan teman kita ini sudah berbesar hati menerima saran tersebut.

Semoga kita semua bisa membawa damai. Mulai berhenti menulis atau membagikan ulang segala yang mengatasnamakan kasih, namun justru tiada membawa kasih.

🙏