Wednesday, August 8, 2018

Seperti Ini Kehidupan di Balik Biara

Jepreted by: @yoannes95
Dimuat di Citizen Reporter Harian Surya. Senin, 11 Juni 2018

Jika pemahaman mengenai keberagaman biasanya hanya dilaksanakan dalam seminar-seminar dalam kampus maupun kajian melalui komunitas tertentu, lain halnya dengan Youth Interfaith Tour 2.

Kegiatan yang diinisiasi komunitas Youth Interfaith Peacemaker Community (YIPC) justru dilaksanakan dengan cara mendatangi gereja dan biara.
 
YIPC bersama Gudsurian dan Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU) memulai tour, Minggu (20/5/2018), dari Gereja Paroki Gembala Baik, Batu. Para peserta menuji ke Biara Flos Carmeli Batu, yang letaknya tepat di seberang gereja. Mereka berkumpul dalam satu ruangan dan dipertemukan dengan seorang biarawati. Baik biarawati maupun para peserta, bebas berdialog dan mengajukan pertanyaan.
 
Melalui pertemuan itu, para peserta mengetahui kebiasaan-kebiasaan di biara, termasuk tata cara makan yang unik. Para biarawati makan sambil mendengarkan doa di sepanjang acara makan. Para peserta juga diberikan pemahaman mengenai cara berdoa para biarawati yang lima kali sehari dan hak milik sebelum masuk biara, yang diselesaikan secara hukum melalui notaris.

“Kegiatan ini menjadi salah satu cara untuk menyaksikan keseharian mereka yang tinggal di dalam biara,” ujar Agung Kresdianto, salah seorang inisiator Youth Interfaith Tour 2, yang juga bergiat di YPIC dan Gusdurian Batu.
 
Yang menarik, peserta diperkenankan masuk ke dalam kapel tempat para biarawati berdoa. Usai berdialog dengan biarawati dan mengunjungi kapel, para peserta diajak kembali ke Gereja Paroki Gembala Baik. Para peserta masuk ke dalam gereja untuk mendapat penjelasan mengenai tata cara beribadah dan juga berbagai istilah dalam agama Katolik.
 
Perjalanan dilanjutkan kembali menuju Biara St Maria Batu, yang letaknya 500 meter dari gereja. Jika di Biara Flos Carmeli, para biarawati betul-betul berkegiatan di dalam biara, lain hal dengan para biarawati yang tinggal di Biara St Maria.
 
Biarawati di Flos Carmeli disebut kontemplatif (pertapa), sedangkan biarawati di St Maria disebut misionaris (aktif). Biarawati di sana tugasnya di dalam biara. Di St Maria, mereka sesuai kebutuhan masyarakat dan sesuai dengan bakat dan minat.
Kegiatan diakhiri pukul 15.30. Masuk ke dalam biara menjadi pengalaman unik untuk peserta dari berbagai agama itu.

Friday, July 13, 2018

Algoritma Mimpi

Sumber: Gugel

Kamu tentu sudah sering sekali dengar bahwa, mimpi itu bunganya tidur. Ya... Cuma bunga, aksesoris biar jadi indah saja. Sebagian pendapat lain yang pernah kamu dengar, barangkali adalah mimpi itu kumulasi dari hal yang paling banyak kamu pikirkan di dunia nyata. Dan hari ini saya ada di sebuah sekolah dan stasiun. Kemudian di akhir adegan yang menimbulkan debaran halus itu, saya dan kamu terus bergandengan tangan, menatap kereta yang panjangnya mustahil ada di dunia nyata.

Tiba-tiba kita sekolah di satu SMA yang sama. Ketua kelasnya seorang anak perempuan, tidak terlalu pintar tapi jago momong semua orang. Kamu dicap siswa paling encer dan tidak jelas cap saya apa di dalam sana. Semua orang, bahkan kamu sekalipun pasti pernah mengalami bagaimana mimpi itu kita sadari sebagai mimpi. Rasanya bikin lelah. Kadang saya bisa mengendalikan ceritanya dan kadang tidak. Padahal semestinya mimpi itu mengistirahatkan sementara kepala dan hati saya, membiarkan segalanya tanpa kendali. Sayangnya, saya nggak bisa. Saya kelewat takut semua berakhir buruk jika tanpa campur tangan saya.

Seperti malam ini, saya menyadari semuanya mimpi. Tapi sialnya, saya nggak bisa mengendalikannya sama sekali. Tahu-tahu si ketua kelas itu bikin beberapa kelompok kerja di kelas. Ketua kelas itu bilang pada saya, ada satu anak paling bebal dimasukkan sekelompok dengan saya dan kamu. Alasannya? Kecerdasan sosialmu kata si ketua kelas tidak bagus. Si bebal itu perlu berbaur dan orang seperti saya sangat cocok ada di antara kalian berdua; si paling encer dan si paling bebal.

Saya lantas memuji-muji kecerdasan sosial ketua kelas. Bahwa ia memikirkan begitu banyak orang, bahwa ia kelak pasti akan menjadi orang besar dengan kecerdasannya itu. Kemudian debaran halus itu mulai datang, munculnya dari dada. Kamu datang dan betul kita menggabung dua bangku jadi satu buat kerja satu kelompok. Dan betul kata si ketua kelas, saya bisa mencairkan suasana antara kamu si encer dan dia si bandel. Tapi sialnya debaran halus itu nggak kunjung hilang, apalagi ketika detail wajahmu itu terus saya ingat dan tahu-tahu kita sudah ada di stasiun.

Kamu berlarian menuju kelas, bayangan stasiun tiba-tiba lenyap. Langit cerah kira-kira pukul sepuluh. Tidak ada percakapan antara kita tapi saya tahu, kamu terburu-buru, serupa keringat yang berleleran di keningmu itu. Kamu mengajak saya ke stasiun secepatnya. Tidak ada penjelasan kamu akan mengajak saya pergi kemana atau kamu yang justru akan pergi kemana meninggalkan saya.

Tapi waktu ternyata mendesak. Jarak antara ajakanmu dan jadwal kereta ternyata mepet. Jadi kita mesti berlarian menuju stasiun. Tidak ada jalanan atau kendaraan atau gerbang sekolah. Tahu-tahu kita sudah ada di pelataran stasiun, bergandengan tangan dengan terengah-engah. Saya cemas sekali. Ada debaran ketakutan ketinggalan kereta dan ada debaran halus yang menyenangkan waktu kita bergandengan tangan. Saya semakin sadar semuanya mimpi. Saya ingin pipis tapi justru takut bertemu kamar mandi dalam mimpi. Hawa rasanya dingin sekali tapi saya terlalu ngantuk buat meraih selimut. Kata orang-orang, ketika kita ingin pipis, kamar mandi bisa datang dan ketika kita betul-betul pipis, kita artinya mengompol di dunia nyata. Jadi dalam mimpi itu, saya ingin pipis, takut ketinggalan kereta dan berdebar menggandeng tanganmu. Sunggguh saya ingin mengendalikan semuanya malam itu. Bahwa saya seharusnya nggak perlu menggandeng tanganmu. Tapi mimpi malam itu kelewatan bebalnya. Saya nggak bisa mengaturnya sama sekali.

Selanjutnya, kereta melewati kita dan tidak kunjung berakhir. Panjang kereta itu luar biasa. Kita tetap bergandengan dan hanya berdiri menatap. Saya kemudian ingat, juli ini bukannya kamu sudah menata perjalanan studimu ke luar negeri lagi? Saya melihatnya dari sosial mediamu. Menyedihkan bahwa saya bahkan tidak memberimu kesempatan bercerita.
Saya sedih dan merasa menyakitimu terus. Kemudian saya memblokir semua akses komunikasi kita, tidak berusaha memerbaikinya seperti biasa. Dalam hati saya ingin pergi seterusnya dan dalam bagian hati saya yang lain, saya ingin kamu yang berusaha.

Kereta itu terus berjalan di hadapan kita, suaranya makin keras. Genggaman tangan kita selalu lembut dan tidak tahu siapa yang lebih dahulu memulainya. Saya menoleh padamu sambil terus ingin pipis. Wajahmu lurus menatap kereta yang panjangnya tentu aneh jika ada di dunia nyata.

Ketika itu saya menyadari, bahwa mimpi memiliki algoritma. Seperti halnya sosial mediamu yang menampilkan profil yang paling sering berinteraksi di beranda. Bahwa saya memimpikanmu karena saya entah berapa banyak memikirkanmu di dunia nyata. Tapi tetap pagi itu kita nggak kemana-mana, hanya menatap lurus kereta. Ketakutan saya bukan lagi soal akan pipis dimana atau akan ketinggalan kereta. Tapi ketakutan saya adalah ketika mimpi itu berakhir, kita berpisah.

Saya kangen...

Tuesday, June 26, 2018

Tadarus Buku, Cara Unik Ngabuburit Ala Pelangi Sastra Malang

Sumber: Dokumentasi pribadi

Ngabuburit bisa dilakukan dengan begitu banyak cara. Berkumpul bersama teman, kerabat atau mengikuti pengajian, menjadi hal yang jamak dilakukan. Namun tidak dengan Pelangi Sastra Malang. Komunitas yang berdiri semenjak tahun 2010 tersebut justru ngabuburit dengan cara yang tidak biasa. Ngabuburit yang diberi tajuk Tadarus Buku tersebut dilaksanakan sepanjang ramadhan dengan pemantik dan bahasan yang berbeda-beda.


Senin (28/05/2018) Tadarus Buku sengaja mengangkat buku berjudul Na Willa karya Reda Gaudiamo dengan pemantik Elyda K. Rara. Elyda sendiri merupakan seorang pegiat teater yang juga menulis cerita anak. Kegiatan yang dimulai pukul 15.30 tersebut tidak hanya membahas kehidupan gadis kecil yang hidup di era 60an, yang merupakan tema besar Na Willa, namun para peserta yang berjumlah 6 orang diperbolehkan pula menceritakan pengalaman semasa anak-anak mereka dan perjumpaan dengan buku. 

Elyda sendiri mengaku terinspirasi untuk membuat keluarga yang melek literasi, salah satunya dari Yona Primadesi dan Abinaya Ghina Jameela, putrinya yang seorang penyair cilik. Pengalaman berkenalan dengan buku dari para peserta ternyata tidak melulu punya kesan positif. Salah seorang peserta menceritakan bagaimana buku dianggap orang tuanya sebagai dalih ketika tidak mampu menjawab pertanyaan, peserta lainnya lagi menceritakan ketidakmampuan keluarganya mengakses buku-buku baru, menjadikannya memiliki komunikasi yang akrab dengan sang ayah karena mengharuskan mereka berburu buku bekas bersama.

“Waktu aku kecil orang tuaku kerja. Jadi mereka kasih aku buku-buku. Saat ini aku berpikir, yang dilakukan orang tuaku dulu itu sama dengan orang tua jaman sekarang yang menyibukkan anak-anaknya dengan gadget, tidak ada kedekatan antara orang tua dengan anak. Bedanya aku dulu dikasih buku…” Ujar Ragil Cahya Maulana, salah seorang peserta.

Acara tersebut berlanjut dengan makan takjil bersama dan baru berakhir pada 19.00. Tadarus buku boleh diikuti siapa saja dan tidak dipungut bayaran. Agenda tersebut dilakukan setiap tahun ketika bulan ramadhan tiba. Bagaimana? Punya cara unik lainnya untuk ngabuburit?

Sunday, June 10, 2018

Ambulance dan Orang-orang yang Menyeberang Jalan




Kemudian kita ngobrol-ngobrol panjang sekali. Termasuk soal ketidakpercayaan dirimu ketika melihat lelaki-lelaki lain di sekitar. Si anu yang sudah pergi ke luar negeri, si ini yang kuliah di universitas yang katanya ternama dan banyak lain-lain.

Motor yang kita naiki mendadak kamu lambatkan, bahkan nyaris berhenti.

“Eh? Ada apa?” tanya saya.

Kamu justru diam beberapa saat dan nyaris membungkukkan badan. Saya kemudian lihat ada ambulance dengan sirine menyala yang tanpa suara, melaju terburu-buru dan berlawan arah.

“Saya itu begitu kalau ada ambulance atau mobil pemadam kebakaran atau sejenisnya lewat. Saya berdoa…” jawabmu setelah ambulance yang kamu maksud berlalu melewati kita.

“Oh, mendoakan korban?” balas saya tidak menduga.

“Ya… semacam itu. Biasanya saya bikin tanda salib juga kalau nggak lagi bonceng manusia…” sambungnya.

Motor kembali melaju dan mendadak kamu melambatkannya kembali, nyaris berhenti.

“Ada apalagi?” tanya saya.

“Itu…” jawabmu dengan tangan yang menunjuk pada satu keluarga yang tengah menyeberang terburu-buru. Meski ya… sebenarnya kamu pun bisa terus melaju seperti motor-motor lain, ada banyak kesempatan.

Saya diam beberapa saat dengan ingatan soal ketidakpercayaan dirimu, yang kamu nyatakan terang-terangan. Apa mereka yang pernah pergi ke luar negeri atau kuliah di universitas yang katanya ternama itu, bakal melakukan hal serupa dengan kamu? Berdoa untuk siapapun yang ada ambulance, berdoa untuk korban kebakaran dan melambatkan motor untuk memberi kesempatan pejalan kaki menyeberang. Ah, andai saja kamu bisa lihat apa yang saya lihat…

Wednesday, May 30, 2018

Dari (Bukan) Teman (Baik)mu yang Mengidap Mental Illness

Sumber: dokumentasi pribadi

Saya menulis ini sambil menangis, bukan menangisi diri saya tentu saja. Namun saya menangis karena saya tahu, saya telah purna melukaimu...

Tanpa kamu bilang sekalipun, saya tahu bagian mana dari diri saya yang nggak srek buatmu. Saya tahu saya mendominasi pembicaraan dan selalu, maka itu sempat saya minta emailmu. Saya harap bisa mengalihkan obrolan yang biasanya saya luapkan padamu lewat sana saja, agar saya bisa belajar fokus mendengarkanmu.

Saya tahu kita sama super introvert. Saya tahu kita saling percaya sejak lama dan sudah teruji. Saya tahu kamu butuh tempat cerita dan barangkali sempat terpikir olehmu saya bisa. Sayangnya, saya nggak pernah cerita kalau sejak usia 9 tahun saya mengalami depresi terselubung, setidaknya saya menandai tahun itu sebagai awal kesadaran soal apa yang saya alami, keinginan bunuh diri yang paling pertama. Saya nggak pernah cerita padamu kalau orang-orang dengan jenis mental illness ini setidaknya masih tidak terlalu menderita karena apa yang dialaminya tidak meningkat menjadi bipolar, skizo, delusi atau mental illness lainnya yang sifatnya jauh lebih berat, bahkan perlu dibantu obat.

Saya tahu saya melukaimu. Saya ingin mendengarkanmu. Saya ingin bisa diandalkan. Saya ingin belajar. Tapi seperti kamu tahu, orang-orang jenis saya sangat cengeng dan lemah. Hal-hal remeh memenuhi pikiran kami hingga meluber kemana-mana. Saya nggak berharap kamu memahami, karena saya tahu itu hanya bakal melukaimu dan keterbukaan saya mengenai ini pun melukaimu. Orang-orang seperti saya sangat mendominasi percakapan dan tidak pernah bisa diharap fokus. Itu adalah bagian sejati diri kami. Kami memiliki beban yang sangat penuh dalam kepala dan hati, mendominasi percakapan adalah usaha kami mengurangi muatan beban itu. Mekanisme pertahanan diri. Setiap mental illness memiliki pemantik dan yang ada dalam diri saya ini mulai terpantik kembali tiga tahun belakangan. Di tahun pertama dari tiga tahun itu, saya insomnia parah. Saya sempat juga sakit kepala berkepanjangan karena ini dan mesti minum obat supaya toleran dengan rasa sakitnya.

Sebelum twit yang saya tahu kamu tujukan pada saya secara tidak langsung itu, saya sudah meniatkan belajar, tidak lagi memaksamu kenal paksa dengan yang namanya mental illness. Maka saya meminta emailmu. Saya mengalihkan penuhnya pikiran dan hati saya di sana. Saya bukan hanya ingin membuka diri lebih jauh siapa diri saya sebenarnya, tapi saya juga tidak ingin bolak-balik membuat hapemu berbunyi atas hal-hal yang sangat acak, penuh dan membuatmu tidak punya kesempatan bicara. Di lain sisi, saya ingin email-email itu kamu baca sewaktu-waktunya kamu sempat dan harapan saya mereka ini punya manfaat agar kamu mengenal bidang lain yang selain bidangmu.

Tapi setelah saya baca twitmu itu, saya tahu saya melukaimu dan belajarnya saya sangat terlambat. Saya menangis waktu membaca twitmu itu karena sadar saya telah begitu melukaimu. Saya nggak sesuai harapanmu. Saya nggak bisa diandalkan. Maka saya mengetik satu email lagi yang isinya email terakhir dari saya.

Padamu, saya telah salah membebankan semuanya. Saya yang sesungguhnya bukan seseorang yang puk-puk teman sekampusnya yang bawa perasaan karena motornya dirantai satpam. Saya yang sesungguhnya bukan seseorang yang mendampingi teman perempuannya ketika depresi kehilangan keperawanan. Saya yang sesungguhnya bukan seseorang yang menemani temannya ketika temannya itu berusaha menata hati soal pacarnya yang melakukan kekerasan dan layak ditinggalkan. Saya bukan orang itu, yang mengatasi banyak hal di luar sana. Saya bukan orang supel yang penuh rasa gembira dan gampang memiliki teman. Wajah asli saya nggak begitu dan kesalahan besar membebankannya padamu. Kesalahan besar membuka siapa diri saya sebenarnya tanpa penjelasan, yang justru ternyata membuatmu luka.

Terimakasih telah memberi pembelajaran dan saya yakinkan padamu, saya tidak akan lagi melukaimu lagi hari ini dan seterusnya. Saya tahu dalam kebuntuan saya yang segala macam rupanya, kamu selalu peduli dan doamu menyertai saya.

Maka biar doa antara kita saja yang saling tertaut. Namun adalah hakmu untuk menilai saya selanjutnya layak atau tidak jika terus ada dalam doa-doamu.

Doa yang selalu saya tautkan untukmu adalah, jangan sampai kamu maupun siapapun di sekitarmu mengalami mental illness. Jenis apapun jangan. Jangan sampai waktu-waktumu habis hanya untuk menghadapi orang tidak waras, tidak dewasa dan mendominasi percakapan. Syukuri kenormalanmu.

Keberadaan saya di sekelilingmu hanya melukai. Seterusnya saya nggak bakal kembali. Keberadaan orang seperti saya hanya akan merepotkan sekali. Selamat melanjutan hidupmu, seterusnya tanpa saya.

Kepergian ini mematahkan hati saya. Namun yang lebih penting adalah, ini semua nggak akan berpengaruh denganmu dan justru membebaskanmu. Usaha membuat semua normal, justru menyadarkan saya semestinya saya nggak lagi mengedar di sekitarmu. Apapun yang membikinmu bahagia, saya turut.

Saya hanya bisa melukai...

Wednesday, May 23, 2018

Tutorial Membenci Orang Lain Melalui Sosmed

1. Like
2. Share
3. Komen yang menunjukkan rasa setuju atau pujian
4. Dengan demikian, orang tersebut akan terus berpegang teguh atas yang dirinya bagikan di media sosial, sekalipun itu sesat pikir

Percayalah, setiap orang pasti melakukan konfirmasi atas kebenaran yang dirinya lakukan. Konfirmasi itu dirinya lakukan pada orang lain yang tentu membentuk nilai. Like, share dan komen adalah bentuk dari konfirmasi tersebut.

Berbahagialah ketika orang yang kamu benci menerus dalam nilai yang sesat pikir.

Kemudian, tiriskan dan beri taburan bawang goreng sebagai pemanis.

Saturday, May 5, 2018

Keadilan yang Dijual dalam Kaleng

Coreted by: @unartifisial
Belakangan kamu mulai memertimbangkan untuk membeliku. Tiga bulan belakangan kamu mengetahui jika aku memang ada, diproduksi dalam pabrik, dikemas dalam kaleng dan diberi nama Keadilan.
Dengan meminum aku sebelum bunuh diri, ada jaminan bahwa setiap orang bakal bergentayangan setelah mati, membunuhi satu per satu yang membikin dendam. Pikirmu semua gelap yang kamu rasa tidak bakal sia-sia saat ini. Tinggal beli aku dari mini market, meminumku lalu bunuh diri.
Satu setengah tahun lalu pihak berwenang mengatakan semuanya salahmu. Bahwa penutup kepalamu tidak menutup sepanjang dada, bahwa celanamu itu mencetak paha, intinya kamu membuka kesempatan bagi para pemerkosa.
Hari-harimu berikutnya dipenuhi perasaan ingin mati. Tapi sialnya, doktrin soal surga dan neraka terlalu menakutkan bagimu. Bahwa kamu bakal mati sia-sia, usai menahan lara setelah mati paksa, kamu masih juga mesti masuk neraka.
Tapi kedatanganku melalui iklan di televisi memberimu harapan. Bahwa sekalipun kamu mati paksa dan setelahnya masuk neraka, dendammu itu bisa terbalas segera.
Dari bawah kasur kamu mengorek sisa uang koin seadanya. Setelah satu setengah tahun kamu memutuskan tidak menatap matahari sama sekali, pesan makan dan pembalut hanya lewat aplikasi, tapi hari ini kamu putuskan untuk mengantre sendiri demi membeli aku. Tidak lupa kamu juga berencana membeli sebotol soda dan tujuh buah obat flu dosis tinggi, alatmu mati paksa setelah ini.
Cepat-cepat kamu datang dan bawa aku pulang dari mini market, mati paksa segera dan aku akan membantumu… membalas dendam, membawa yang paling adil; sesuai komposisiku ketika diracik dalam pabrik.

*Hatur doa kita untuk para penyintas, apapun jenis kelaminnya

Friday, April 27, 2018

Omam dan Gigi-Gigi yang Tanggal

Sumber: Gugel


Jika kamu tidak mau gosok gigi, maka gigi-gigimu akan tanggal, Omam…
Ucapan Mommy terus berkelebat di kepala Omam. Namun, rasa pasta gigi yang menurutnya pedas dan pahit, melulu membuat dia kabur ketika Mommy menyuruhnya gosok gigi. Pikir Omam, Mommy tidak pernah mengerti betapa dia benci rasa pasta gigi. Jika sudah begitu, Mommy mulai menjerit kemudian menarik kupingnya keras-keras hingga terasa panas dan kemerahan.
Maka gigi-gigimu akan tanggal, Omam…
Lagi-lagi ucapan Mommy berkelebat. Lidah Omam mulai merabai salah satu gigi bagian atasnya dan gigi itu bergoyang-goyang seperti sebuah tanda bakal lepas dari gusi. Maka Omam gelisah.
“Jangan-jangan, ini karena Omam tidak mau gosok gigi.” Bisik Omam sambil menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal yang dipeluknya erat.
Omam gemeteran. Jika betul giginya bakal tanggal, Mommy mestinya akan menarik kupingnya lebih keras dari biasanya.
***
            Omam bergelayut manja sepanjang perjalanan pulang sekolah pada gadis berkulit sawo matang itu. Omam memanggilnya Nanny. Dia pikir, itu memang nama gadis dua puluh tahunan yang sejak tiga tahun belakangan mulai menggantikan posisi Mommy menyuapi, mengantar dan menjemput sekolah, menggantikannya baju hingga menemaninya tidur itu.
            Tidak seperti Mommy, Omam pikir nanny lebih mengerti. Di laci kamarnya, Nanny menyimpan sebuah pasta gigi warna merah jambu yang rasanya manis, mirip permen-permen kesukaannya. Mommy selalu bilang, Nanny cuma bersikap memanjakan Omam dengan pasta gigi semanis itu untuknya gosok gigi. Namun, Nanny tetap menggunakan pasta gigi itu buat mengajaknya gosok gigi ketika Mommy tidak sedang berada di rumah.
Pada kenyataannya, Mommy memang lebih sering berada di luar rumah, mengendarai mobil hitamnya yang mengilat. Dulu, Omam sering bertanya kemana Mommy pergi, namun jika sudah begitu, Mommy pasti menjerit dan membentaknya, menolak menjelaskan. Rekaman jeritan dan bentakan Mommy membuat Omam mudah tergagap, berkeringat dan menggigil ketika menghafal huruf, atau pada hal lain yang baginya sebuah ketegangan.
“Mommy pergi untuk bekerja, Sayang. Untuk membayar uang sekolahmu, juga untuk memberi uang pada Nanny.” Lagi-lagi berbeda dengan Mommy, Nanny menjelaskan pertanyaan yang sama dengan lebih lembut. Ini sama seperti ketika dia mengganti pasta gigi yang pedas dan pahit itu dengan pasta gigi manis yang membuat Omam lebih ingin sering gosok gigi, sambil sesekali menelan air bekas pasta gigi manis itu dalam kerongkongannya, meski Nanny sudah berkata ‘jangan’ berulangkali.
Ketika Omam menolak memberesi mainan, jeritan dan bentakan Mommy pasti mampir lagi di kupingnya. Sedangkan Nanny, dia selalu mengiming-imingi Omam dengan permen dan coklat jika dia mau memberesi mainan. Permen dan coklat, semuanya Nanny keluarkan dari dalam lacinya. Lagi-lagi, menurut Mommy, yang dilakukan nanny kelewat memanjakan Omam.
Salah satu jeritan Mommy, sering berisi soal makanan manis yang bisa merusak gigi Omam satu waktu nanti. Nanny hanya ingin membuatnya bersemangat memberesi mainan dengan permen-permen itu, setidaknya itu menurut Omam. Jelas beda dengan Mommy yang hanya bisa membuatnya gemetaran dengan jeritan dan bentakan.
Andai saja mommy bisa seperti nanny. Pikir Omam. Mommy tidak pernah mengerti!
***
Seperti hari-hari sebelumnya, jelang makan malam, Mommy belum juga pulang. Omam mengunyah makanan lambat-lambat. Dia merasakan nyeri pada gigi bagian atasnya yang sekarang terasa bergoyang lebih sering.
Nanny meliriknya curiga. Namun Omam malah cepat-cepat berlari menuju kamar mandi dan menyambar sikat gigi, padahal nasi di piringnya baru tersentuh beberapa sendok. Terburu-buru dia mengoleskan pasta gigi yang biasa disodorkan Mommy dan membuatnya kabur biasanya.
Gigi-gigimu akan tanggal, Omam…
            “Omam…” panggil Nanny lembut sambil menepuk pundaknya dari belakang, hingga tubuhnya berjingkat karena kaget.
            Nanny memandang heran kali ini. Mulut Omam penuh dengan busa, sedang pasta gigi yang habis dia gunakan juga tergeletak di lantai. Pasta gigi yang biasanya dia benci. Nanny menyuruhnya berkumur kemudian kembali ke meja makan.
            Bola mata Omam mulai berair. Ini pasti karena Omam menolak pasta gigi dari mommy. Pikirnya.
            “Pasta gigi Nanny yang merusak gigi Omam. Kata Mommy, makanan manis tidak baik buat gigi Omam. Pasta gigi itu manis seperti permen.”
            Nanny menggeleng pelan, mungkin nyaris tidak kelihatan oleh Omam.
            “Coba buka mulutmu…” ucap Nanny lembut. Dia kemudian mengamati tiap sudut gigi-gigi Omam. Satu gigi bagian atasnya kelihatan miring, mungkin nyaris lepas. Itu biasa terjadi pada seorang anak yang hendak berganti gigi.
            “Besok kita ke dokter gigi, oke?”
            Omam menggeleng keras-keras.
            “Hmm… kalau begitu biarkan dia lepas sendiri.”
            “Kalau Mommy tahu?”
            “Serahkan pada Nanny. Nanny punya laci ajaib yang bisa mengubah gigimu menjadi benda lain.”
            Omam mengangguk. Pada Nanny, dia percaya.
***
            Omam tergugu sambil menyerahkan giginya yang tanggal pada Nanny. Nanny mengelus kepalanya pelan sambil berkata,”Kamu tahu, Omam? Gigi yang tanggal ini, bisa berubah menjadi uang. Dia tanggal untuk berubah menjadi uang dan gigimu tanggal memang sudah semestinya, bukan karena pasta gigi yang Nanny berikan padamu, Sayang.”
            Pelan-pelan Omam berhenti tergugu.
            “Itu artinya, Mommy tidak akan marah?”
            “Tentu tidak, Sayang.” Nanny membungkus gigi Omam dengan kertas tisu kemudian meletakkan gigi itu di atasnya. Dia selanjutnya membungkus dan meletakkan gigi itu ke dalam laci.
            “Apa gigi itu akan berubah menjadi uang?”
            “Kita lihat besok, oke?” Ucap Nanny sambil tangannya menggandeng Omam keluar dari kamarnya.
***
            Mata Omam berbinar ketika mendapati gigi yang semalam ada dalam balutan tisu itu berubah menjadi uang koin.
            “Laci ajaibnya bekerja bukan?” Tanya Nanny.
            Kepala Omam mengangguk kencang. Laci milik nannynya itu memang selalu menyimpan banyak benda menyenangkan. Seperti halnya pasta gigi manis, permen dan coklat.
            “Laci Nanny benar-benar ajaib!”
            “Dan untuk membukanya, kamu juga memerlukan kunci ajaib ini,” Nanny mengeluarkan sebuah kunci dengan butiran keemasan dari dalam saku bajunya.
            Mata Omam berkilat, dia hendak meraih kunci itu dari telapak tangan Nanny. Namun, Nanny buru-buru menutup telapak tangannya hingga membuat Omam merengek.
            “Kunci ini hanya Nanny yang bisa menggunakannya. Jika orang lain memaksa menggunaknnya, dia akan tersambar petir.”
            Omam mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Dia sekarang mengerti, bahwa kunci itu memang tidak boleh dia sentuh.
***
Dari jendela kamarnya, Omam melihat Mommy keluar dari dalam mobil sebelum makan malam. Buru-buru Omam berlari menghampiri Mommy sambil tangannya menggenggam koin yang dia pikir benar berasal dari giginya. Omam mulai berpikir, jika saja Mommy mau menimbun gigi-giginya di dalam laci Nanny, tentu dia tidak perlu pergi keluar rumah sepanjang hari buat mencari uang sekolahnya dan uang untuk diberikan pada Nanny.
“Mommy lihat, uang ini berasal dari gigiku!” jerit Omam sambil berjingkat-jingkat.
Mommy hanya diam. Bola mata Mommy kelihatan merah. Dia terus melangkah menuju ruang tengah. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki paruh baya keluar dari dalam mobil dan menyusul langkah Mommy. Lelaki berjenggot tipis yang sangat asing bagi Omam itu, mengekor Mommy pergi ke ruang tengah dan melewati Omam begitu saja.
Mommy berteriak memanggil nanny supaya membawa Omam masuk dalam kamar. Nanny kemudian menarik tubuh Omam yang mulai meronta untuk masuk ke dalam kamar.
Tubuh Omam tersasa makin menggigil ketika berada di dalam kamar bersama Nanny. Nanny berusaha menutup kuping Omam dengan dua tangannya, namun dia tetap mendengar Mommy yang saling berbalas bentakan dengan lelaki asing yang baru datang tadi.
“Apa dalam laci nanny tidak ada benda ajaib untuk membuat laki-laki tadi berhenti membentak Mommy?” tanya Omam sambil berusaha meredam tubuhnya yang menggigil.
Nanny hanya menggeleng sambil terus menutup dua kuping Omam dengan telapak tangannya.
“Aku mohon pada kamu, Maria. Kita bercerai saja, oke? Aku harus kembali pada anak dan istriku,” suara lelaki itu mulai lebih pelan. “Soal putramu itu, aku tidak pernah menyuruhmu membiarkan dia lahir, bukan?” kemudian terdengar suara langkah kaki yang tergesa dan pintu yang dibanting.
Tangisan Mommy mulai kedengaran, makin jelas dan makin keras.
***
            Omam mendapati satu gigi bagian bawahnya bergoyang pagi ini. Dia berjalan berjingkat-jingkat mendatangi kamar Nanny, hendak mengabarkan soal giginya yang akan tanggal dan keinginannya meminjam laci Nanny setelah giginya itu benar-benar tanggal.
            Dia cukup senang, karena selama beberapa hari belakangan, Mommy sepanjang hari hanya berada di rumah. Selama beberapa hari itu pula, dia selalu berjalan berjingkat-jingkat karena senang.
            Namun ternyata, Nanny tidak didapatinya di kamar. Dia kemudian melanjutkan pencariannya ke dapur, ruang tengah, ruang tamu, kamarnya sendiri hingga kembali ke kamar nanny. Tidak ada Nanny di mana pun…
            “Mommy!” jerit Omam.
            Mommy berlarian dengan kaki yang basah bekas dari kamar mandi.
            “Di mana Nanny, Mommy? Di mana Nanny?”
            “Dia pergi. Mommy tidak bisa lagi memberinya uang, jadi dia pergi.”
            Omam mulai berguling-guling di lantai sambil menjerit dan menangis. Mommy melenggang meninggalkannya, dengan bola mata yang terlihat lebih merah daripada kemarin.
            Kemudian, Omam ingat pada laci ajaib milik nanny. Dia bangkit dan berusaha mencari kunci laci itu, dia harus membuka laci itu tidak peduli dirinya akan disambar petir.
            Sambil menahan dadanya yang masih pengap. Omam memandangi laci milik Nanny. Tidak ada lubang kunci pada laci itu dan memang tidak pernah ada. Nanny hanya ingin Omam tidak sewaktu-waktu bisa membuka laci itu untuk menghabiskan semua coklat dan permen dalam sekali santap. Dia juga tidak ingin Omam tahu, bahwa dirinya yang menukar gigi Omam dengan uang koin.
            Tangan Omam menarik laci hingga semua permen, coklat dan kotak-kotak pasta gigi berserakan di lantai.
            Omam meraup semua permen dan coklat itu, dia berusaha melahapnya sekali santap. Dia berharap gigi-giginya akan segera tanggal, kemudian laci itu akan mengubahnya menjadi uang yang dapat membuat Nanny kembali…

Catatan: 2016 lalu, saya menantang diri saya sendiri untuk menulis sesuai tema lomba dan cerpen ini jadinya wk. Tentu sudah saya perbaiki perkara ejaan dan lain-lain ketika hari ini saya unggah.

Monday, April 2, 2018

Ngapain Nyapa? Buka Saja Sosmednya

Rombongan free pass (ndak pakai registrasi) Mata Najwa. Ada pegiat literasi, penulis dan teman-teman taman baca di Malang. Kalau saya sih selundupan wk.
Satu malam, saya makan bareng teman baik saya dari Gusdurian Malang, Monika. Ngobrol sana dan sini, sampai kemudian Monika cerita nasib dia yang ndak bisa masuk Graha Cakrawala, padahal punya tiket. Waktu itu acaranya Mata Najwa dan yang senasib dengan Monika ternyata banyak sekali.
Yang saya sosoan kaget, waktu Monika tahu saya juga pergi ke Graha Cakrawala untuk nonton Mata Najwa. Lha… padahal waktu ketemu saya juga niatnya mau cerita, kok ya Monika ternyata justru tahu lebih dahulu. Tapi sengaja saya ndak tanya dia tahu dari mana. Bahkan dia tahu, saya dan satu teman Gusdurian Malang, namanya mas Ilmi Najib itu dapat free pass dari mas Eko Cahyono, perpustakaan Anak Bangsa. Ya… meski saya bukan dikasih sih, tapi saya lebih tepatnya minta wk.
Waktu Monika cerita seberapa jauh dia tahu, saya coba ingat-ingat, apa saya barangkali yang unggah kegiatan saya hari itu di sosmed? Eh, ternyata juga ndak. Saya sama sekali ndak bikin boomerang di lokasi acara atau foto-foto tiketnya, apalagi unggah foto bareng.
Baru sehari kemudian, beranda saya penuh dengan kiriman enam hari yang lalu. Lha… Instagram saya ini agaknya punya masalah kok ya kiriman enam hari lalu baru bermunculan. Di beranda itu juga muncul foto unggahan mas Ilmi Najib, isinya ya rombongan free pass Mata Najwa sekitar seminggu lalu dengan keterangan foto yang menceritakan kegiatan kami hari itu.
Lha… ini apa. Maha tahu sosial media sebabnya. Tentu mas Ilmi tidak bermaksud apa-apa ketika mengunggah foto di media sosial. Posisinya di Gusdurian Malang yang menuntutnya terus berjejaring, tentu bakal terbantu dengan unggahan-unggahan kegiatannya. Pun Monika yang tentu tidak sengaja melihat unggahannya mas Ilmi yang lewat di berandanya.
Tapi dari sini saya jadi berpikir-pikir, jelas begini ini toh kerja media sosial. Nggegirisi juga ketika orang-orang ndak perlu saling sapa untuk tahu satu sama lain tengah melakukan apa.
Ada teman saya namanya Zainul Ridwan pernah bilang soal media sosial, kalau unggah ya unggah saja, selama ndak merugikan orang lain bukan masalah. Tapi rumusan rugi dan tidak bagi tiap orang ternyata beda juga. Bagi saya, jika unggahan tersebut ndak ada sangkutannya dengan branding, saya bakal banyak berpikir-pikir mau diunggah atau tidak. Saya tidak ingin merugi dengan melebur jarak dari mereka yang betul berteman dan berkomunikasi dengan saya, dibanding mereka yang hanya tahu saya sebatas sosial media.
Maha tahu sosial media atas segala yang terjadi di jagat raya…

Catatan: Saya sudah cukup lama mengalihkan unggahan di media sosial semacam Facebook, Instagram dan lainnya pada blog. Ndak mau rugi saya. Biar mereka yang sekadar ingin tahu tanpa menyapa, masih bisa kasih timbal balik traffic pada saya wk.