Thursday, March 23, 2017

Penulis Puisi dan Mentalnya yang Ngaku-ngaku

Puisi teman saya, dimuat di sebuah koran lokal pada hari itu. Kemudian dia BBM saya begini…

Pop… ini puisiku masuk di koran X. Tolong kamu upload pakai FB kamu, lalu kirim di dinding FB saya ya… (sambil menyertakan foto puisinya di koran lokal).

Saya sendiri, baru tahu puisinya dimuat di koran lokal setelah si teman ini lebih dulu BBM. Lalu, saya balas begini BBM dia…

Mau bilang ke mantanmu, kalau kamu malah produktif setelah putus? Bilang saja sendiri sama dia, Mas. Kwkw…


Begitu ceritanya, saya menolak permintaannya karena sayang pada mentalnya.

Tuesday, March 21, 2017

Musik dan Sambungan yang Dialihkan

Sumber: Gugel

“Kamu lagi di mana?”
“Saya lagi di jalan Z, sedang mau pulang…”
“Saya susul bagaimana? Saya mau ajak kamu nonton konser…”
“Konser siapa?”
“Noah…”
“Oh… maaf… saya ada acara…”
Tut… tut… tut… sambungan dialihkan…
“Di kampus Y ada konser Endah and Resha, minggu ini. Lalu di daerah X ada konser Gugun Blues Shelter, minggu depan. Kita nonton bagaimana?”
“Endah and Resha? Gugun Blues Shelter? Siapa mereka?”
“Oh… maaf… tidak jadi…”
Tut… tut… tut… sambungan dialihkan…

Thursday, March 16, 2017

Iman VS Barang Dagangan


“Mbak… dulu samean berpacaran. Mengapa sekarang menghakimi mereka yang pacaran? Mengapa sekarang tidak menyimpan ketaatanmu dalam hati saja?”

“Ini sama dengan kamu yang promo terus tulisanmu, meski orang nggak paham duniamu. Orang bisa menganggap kamu sombong juga dengan itu. Yang tahu niat itu, hanya diri kita masing-masing.”


Maka, saya diam. Saya nggak berharap mbak ini ngeh beda barang dagangan dengan iman. Kwkw…

Novelis Namber Wahid



Tidak ada yang salah dari novelis nomor satu. Buku-bukunya pantang dibilang buruk, karena kamu bisa temukan tulisan ‘Dari Novelis Nomor 1 di Indonesia’ pada sampul depannya.

Based On True Story

Orang-orang menyukai buku-buku bertitel ‘Berdasarkan Kisah Nyata’. Sekaligus juga, menyenangi kisah pertaubatan yang datang dalam semalam…


Kemudian, mereka mengatai teman satu kamar kosnya begini,”Hidupmu kok ya penuh drama. Nggilani!”

Wednesday, March 15, 2017

Bodoh dan Malas, Pangkal Nilai Akademis Rendah?

Sumber: Gugel

Belajar tanpa beban ambisi orang tua.

Ngobrol dengan senior saya, mbak Puput di FB perkara sekolah hari ini, bikin saya ingat bagaimana awalnya saya berangkat dari rumah bukan dalam keadaan benci matematika. Dan bagaimana ketika pulang, saya kok ya jadi alergi segala macam rumus dan hitung menghitung, kecuali hitungan uang hutangnya kamu.
Ini sungguhan. Mama rajin melatih saya baca dan hitung di rumah. Tidak ada paksaan atau ambisi. Saya melakukan semuanya dengan santai bahkan saya berangkat dari rumah tanpa paham takaran nilai prestasi. Saya masuk TK langsung nol besar memang ceritanya. Barangkali, diterima karena baca dan hitung memang sudah bisa, tidak jadi beban guru. Mama yang sebenarnya agak berat membayar uang sekolah pada masa itu, sebenarnya cuma mencari ijazah buat saya.
Selama TK, mama tidak pernah menanggapi berlebihan jika saya baik dalam akademis. Saya kebetulan suka menulis dan membaca, kalau dipikir-pikir sekarang, TK saya dulu berat juga cara belajarnya. Kami yang anak TK diberi PR dan ada ulangan matematika. Saya selalu bisa menulis dengan baik di papan tulis kelas, mama membantu saya mengerjakan PR dan nilai ulangan matematika saya 100. Tanpa tahu batas-batas angka prestasi itu mesti segini dan segitu, saya ternyata jadi menikmati belajar dan mengerjakan tugas-tugas memang.
Saya ingat bagaimana ulangan matematika yang dapat nilai 100 itu, dibagikan saat makan bersama hari Jumat. Teman-teman banyak yang mendapat nilai di bawah 65. Kertas ulangan saya yang ketahuan dapat seratus, akhirnya jadi pusat perhatian teman-teman. Lucunya, saya tidak paham, mengapa saya jadi pusat perhatian? Dan ketika pulang, mama juga tidak mengatakan apa-apa. Mama baru menanggapi dengan semangat, ketika saya cerita soal teman yang bolo-boloan alias suka berkelompok dan mengucilkan yang lain, atau kenyataan soal guru di kelas saya yang suka menggebrak pintu saat mengajar. Selain relasi-relasi macam ini, lagi-lagi saya bilang, mama saya tidak pernah menanggapi berlebihan, apalagi soal akademis.
Pada semester pertama di kelas satu, nilai saya didominasi angka 8 dan 9, termasuk matematika. Itupun, saya ada di peringkat tiga, masih kalah dengan teman baik saya Alwan Tafsiri Al-Izza, si jenius yang baru lulus jurusan filsafat tahun ini.
Waktu itu, mama mengambil rapor saya dengan gembira. Seperti biasa, tidak berlebihan juga gembiranya. Kemudian, saya diajaknya naik becak untuk pergi kerumah nenek saya yang tidak jauh dari SD.
Mama mengabarkan bahwa saya dapat peringkat 3 pada nenek. Nenek saya senang, matanya berbinar. Dan hingga saat itu, saya masih tidak paham mengapa semua orang senang. Mama tidak pernah mengartikan angka-angka itu pada saya, apalagi nenek yang lebih senang mengajak saya membaca surat-surat pendek atau nama-nama presiden, hingga saya hapal dengan sendirinya. Jaman itu, saya belum kenal gugel. Saya begitu menganggap pengetahuan nenek itu luar biasa mengagumkan.

Sumber: Gugel

Trauma dengan sempoa.

Hingga saat kelas 2. Sempoa jadi sesuatu yang hits. Hampir semua sekolah merasa prestise dengan mewajibkan siswanya belajar sempoa, dengan biaya tambahan tentunya. Kecuali teman-teman saya yang dari panti, semua anak mengikuti sempoa, saya termasuk. Sayangnya, mulai pada level mental aritmatika, saya mulai kesusahan. Pada level ini, siswa tidak lagi boleh memegang alat hitung mereka. Alat hitung hanya boleh dalam bayangan siswa, dengan tangan yang bergerak-gerak seolah seperti alat itu ada di sana.
Sebelum merasa kesusahan, saya mulai memahami bahwa patokan baik buruk adalah angka. Buku-buku latihan sempoa yang membuat saya berpikir begitu. Tanda silang dan total skor di buku itu, masih terekam dalam ingatan saya. Belum lagi, pujian dari para guru untuk Dita, adik kelas saya yang masih kelas 1 tapi jenius sempoa, hingga ketika kelas sempoa, Dita disatukan dengan anak kelas 2.
Alat sempoa yang berwarna oranye, juga bukunya yang dilengkapi gambar, lama-lama jadi menakutkan bagi saya. Ditambah, saya pernah sebangku dengan Dita saat kelas sempoa dan nilai saya jauh di bawah Dita. Bukan salah Dita jika dia memandang saya remeh. Pujian orang dewasa  pada Dita, membuatnya punya patokan sendiri bagaimana hebat itu dinilai.
Makin menakutkan, ketika guru yang saya tidak tahu siapa, menurunkan saya di kelas 1 khusus untuk kelas sempoa. Saya merasa malu. Dita si jenius sempoa, naik di kelas 2 sedang saya malah mesti turun kelas. Pada awal kelas, saya terus berusaha mengikuti kelas dengan baik. Hingga kembali pada level mental aritmatika, saya hanya bertahan beberapa kali pertemuan sebelum kembali lagi keteteran.
Saya kemudian tidak ingat, bagaimana orang tua saya tahu bahwa saya tertekan dengan sempoa. Kemudian, saya diberitahu mama bahwa saya tidak perlu mengikuti sempoa lagi. Sepertinya ayah dan mama saya mengajak bicara para guru, agar mengijinkan saya tidak mengikuti sempoa yang kalau tidak salah, waktu itu sifatnya semi wajib. Saya merasa lega… gadis kecil bertubuh sangat pendek yang gambar karyanya direkomendasikan bu Nurul, untuk jadi contoh anak kelas 5 ini, tidak perlu lagi ikut sempoa yang menakutkan itu.
Hingga naik kelas 3, nilai matematika saya masih pada kisaran angka 8. Mulai kelas 4, nilai saya merosot di kisaran angka 4 dan terus merosot. Saya bahkan lulus UN hanya dengan nilai 5 untuk pelajaran matematika saat SD. Dan UN SMP, saya lulus degan nilai 4 dan kembali 5 ketika SMK.

Sumber: Gugel

Masalah cara belajar, atau memang kurang cerdas dan pemalas?

Jika dipikir-pikir kembali, sempoa bukan satu-satunya sebab. Sebab lain otak saya kemudian bebal untuk matematika adalah, ketika mama saya berhenti mengajari matematika saat kami pindah ke rumah yang lebih jauh dari sekolah dan tempat kerjanya. Mama agaknya merasa lelah dengan jarak yang rumah yang baru. 
Saya sendiri, tidak mengerti bagaimana cara mengatakan padanya, bahwa saya lebih senang belajar di rumah. Dan bagaimana nilai-nilai cemerlang saya yang dulu, bukan hanya matematika juga merosot berbarengan dengan mama yang tidak lagi seintens dulu membacakan buku pelajaran buat saya. Betul, saya memang lebih cepat menyerap pelajaran dengan mendengar, saya juga punya interpretasi lebih dengan bagan dan gambar. Mama sendiri punya cara khusus untuk merangkum buku pelajaran jadi mudah dimengerti. Saya mendengarkannya seperti mendengar dongengya setiap malam saat TK, soal kancil yang malam ini mencuri timun dan malam besok mencuri sate donat. Bahkan, Mr. A pernah memuji saya yang bisa menulis ulang buku pelajaran agama dengan begitu lancar. Hai, Mr... ini bukan karena anda. Ini karena mama saya membacakan buku itu di rumah dan merangkumnya sehingga mudah dimengerti.
Ternyata, seorang anak pun punya cara belajar yang berbeda-beda. Memang susah bagi guru untuk menyesuaikan cara belajar anak satu per satu. Saya sendiri merasakan, bagaimana terbantu dan lebih menikmatinya saya ketika belajar dengan cara mama di rumah. Dan tidak semua anak, mampu menemukan cara belajarnya sendiri sejak awal. Saya kembali mendapat nilai 8 dan 9 ketika kelas 10, dengan cara belajar yang mulai bisa saya temukan sendiri. Ternyata, tidak semua nilai akademis yang rendah dari seorang anak, adalah akibat dirinya yang punya kecerdasan kurang atau malas bukan? 

Lambang Revolusi Pada Perempuan, Dalam The Hunger Games: Catching Fire dan Snow White And The Huntsman

Sumber: Gugel
Perempuan, sama-sama menjadi tokoh sentral dalam The Hunger Games: Catching Fire dan Snow White And The Huntsman. Jennifer Lawrence berperan sebagai Katniss Everdeen dalam Hunger Games, sedang Kristen Stewart berperan sebagai Snow White dalam Snow White And The Huntsman.
The Hunger Games: Cathing Fire sendiri, merupakan sekuel kedua dari film sebelumnya, The Hunger Games. Cerita diawali dari Katniss yang mesti kembali masuk dalam arena pertarungan, dalam ulang tahun Hunger Games yang ke 72. Pada Hunger Games sebelumnya, Katniss berhasil selamat bersama Peeta, dengan berpura-pura tidak ingin saling membunuh karena mereka sesungguhnya saling mencintai.
Hampir serupa dengan Katniss, Snow White And The Hunstman, juga diawali dengan Snow White yang dihadapkan pada kenyataan yang tidak dia inginkan. Kematian raja Magnus, ayahnya, membuat Snow White mesti hidup dengan sang ibu tiri, Ravenna. Ravenna sendiri merupakan rampasan perang yang dinikahi raja Magnus. Pada akhirnya, Ravenna membunuh sang raja dan menguasai kerajaan. Seperti halnya cerita asli Snow White versi Disney, di mana Ravenna yang menjadi ratu, ingin menjadi perempuan paling cantik di seluruh negeri. Dalam film tersebut, sang ratu menculik para perempuan cantik untuk dihisap aura kecantikannya. Snow White yang sempat melarikan diri setelah menyaksikan kematian sang ayah, bersama para pengawal yang masih setia sempat dipenjarakan sang ratu dalam sebuah menara.
Setelah hampir mengalami perkosaan oleh pamannya, Finn. Snow White berhasil kabur dari menara, setelah menusuk mata Finn, dengan memergunakan sebuah paku yang diberikan seekor burung yang pernah ia selamatkan. Berbeda dengan cerita aslinya di mana Snow White hidup beruntung karena menemukan seorang pangeran dalam pelariannya. Snow White And The Hunstman justru membawa sang pemburu yang diutus Ravenna untuk mengejar Snow White, turut berperan dalam pemberontakan yang dilakukan Snow White dalam menggulingkan kekuasaan ibunya.
Seperti Katniss, Snow White dianggap sebagai lambang revolusi bagi orang-orang di sekelilingnya. Hal ini terlihat dari Katniss yang tidak sadar atas kesepakatan antara para peserta bersama Haymicth guru bertarungnya dan Plutarch Heavensbee si pembuat arena Hunger Games yang baru. Mereka semua bersepakat untuk menyelamatkan Kaniss dalam Hunger Games berikutnya. Snow White sendiri, juga dilindungi oleh para penambang yang ia temui dalam perjalannya bersama sang pemburu, juga para kurcaci.
Katniss mampu membuat simpatik warga Capitol yang merupakan kalangan atas dan juga membuat harapan bagi warga distrik, yang merupakan kalangan kelas bawah. Hal yang sama, terjadi pada Snow White. Rakyat kerajaan yang tersisa dan ditemuinya dalam perjalanan, seperti mendapat harapan baru untuk sebuah perubahan, setelah mengetahui putri raja Magnus, yang terkenal begitu baik dalam memimpin kerajaan, ternyata masih hidup.
Cucu perempuan presiden Snow, penguasa Panem yang sangat berpengaruh, justru mengagumi Katniss. Bahkan, ia sampai meniru tatanan rambut Katniss. Berbeda dengan penokohan Ravenna yang cenderung hitam dan putih. Presiden Snow digambarkan lebih manusiawi, dirinya sangat menyayangi sang cucu. Bahkan, cucunya sendiri tidak mengetahui bagaimana kakeknya menjadi seorang tiran.

Sumber: Gugel

        Cinna, si penata gaya yang dekat dengan Katniss pun, rela mati demi melakukan hal yang ia bisa, menunjukkan lambang Mockingjay pada diri Katniss dengan busana rancangannya, yang kemudian membuat masyarakat distrik memiliki harapan baru. Baik warga Capitol maupun distrik, mengenal Katniss sebagai sosok burung Mokcingjay itu sendiri. Hal ini mirip dengan kematian salah seorang kurcaci dalam rombongan Snow White. Kurcaci itu mati, ketika berusaha menyelamatkan Snow White dari kejaran Finn yang diperintahkan oleh Ravenna.


Hal serupa juga nyaris terjadi, pada hubungan antara Katniss dengan Peeta, lelaki yang kemudian berpura-pura menjadi tunangannya agar bisa lolos dalam Hunger Games yang pertama, juga Gale, teman masa kecil yang memiliki perasaan pada Katniss. Begitu pula dengan Snow White yang masih menyimpan bayangan William, pangeran yang pernah ia sukai. Dalam waktu yang sama, ada juga si pemburu yang jatuh cinta pada Snow White dalam perjalanan mereka. Dua lelaki yang menaruh perhatian lebih pada Katniss dan Snow White tersebut, juga berusaha mendukung mereka berdua agar terus bertahan hidup.
Meski sama-sama menyimpan semangat besar, Katniss dan Snow White digambarkan tidak mampu betul-betul berdiri sendiri. Orang-orang yang menyadari diri mereka sebagai lambang dari semangat itulah, yang membantu mereka berdua selamat, hingga pada akhirnya Katniss dapat melanjutkan perjalanan menuju distrik 13 yang kabarnya jadi pusat pemberontakan, meski Joanna, salah seorang rekan perempuan yang ditemuinya ketika kembali ke arena dan Peeta, mesti tertangkap oleh Capitol. Begitu pula Snow White yang pada akhirnya berhasil membawa satu pasukan pemberani, untuk melawan Ravenna, sang ratu yang telah membawa kesengsaraan pada rakyat kerajaan sepeninggal raja Magnus.
Yang jauh berbeda adalah, Katniss melawan presiden Snow yang merupakan seorang lelaki, sedangkan Snow White melawan sang ratu yang sesama perempuan dengannya. Apabila dihubungkan, dalam kedua film ini, kita dibawa pada pemahaman bahwa siapa saja mampu menjadi tiran, tidak peduli lelaki atau perempuan. Sedangkan, Katniss maupun Snow White, juga bukan tokoh super yang mampu berjuang sendirian. Karakter mereka berdua, sama-sama digambarkan begitu manusiawi.
Keberadaan Katniss dan Snow White sebagai lambang revolusi dalam cerita masing-masing, tentu mengingatkan pada kisah nyata Joan Of Arc yang menjadi lambang revolusi Prancis. Menjadi pertanyaan besar adalah, bagaimana jika Katniss, Snow White hingga Joan Of Arc, misalnya bukan seorang perempuan. Masih menarikkah mereka menjadi lambang perubahan?