Saturday, January 12, 2019

Menciptakan Teman

Coreted by @unartifisial


"Bila ada istilah teman dekat sebagai orang yang bisa menerima apapun secara terbuka dari diri kita, saya tak pernah menciptakannya." Ucapmu.

Saya mengangguk. Menghormati keputusanmu pada bagian yang ini. Toh, saya nggak pernah tahu luka macam apa yang membikinmu sebegini pecah.

"Manusia tak layak mendapatkan kepercayaan secuil pun." Lanjutmu.

"Pada bagian ini, kamu sedang membicarakan dirimu sendiri. Begitu bukan?" saya sedang pura-pura bertanya.


Catatan: Dialog satu dan dua, oleh seorang teman yang saya sedang doakan supaya segera sembuh jiwanya

Thursday, January 10, 2019

Enam Tahun Jadi Narablog, Dituduh Pencemaran Nama Baik

“Maaf, di negara ini kan bebas berpendapat tapi tolong jangan menyudutkan satu instansi karena mungkin saja hasil analisa kamu salah dan belum kamu ulik sepenuhnya lebih dalam lagi. Bisa-bisa kamu kena kasus pencemaran nama baik, jika curhatan kamu ini tidak seperti kenyataan.” Ketik Afsha dalam kolom komentarnya di blog saya.
 
Ketika saya coba klik nama Afsha sebagai si pengirim komentar, ternyata akun miliknya anonim. Akun itu baru aktif Juli 2016 dan dipergunakan untuk mengomentari tulisan yang saya unggah Januari 2017 berjudul (Bukan Esai) Iming-iming Penerbit Indie (Masih Ada). Manipulatif, satu kata itu yang saya pikirkan ketika membaca komentar Afsha yang sebenarnya terdiri dari empat paragraf.
Akun anonim Afsha. Sumber: Dokumentasi pribadi

Saya sendiri mulai mengelola blog semenjak 2009, hanya saja saya berganti-ganti alamat hingga 2013 saya menetap di http://semangkaaaaa.blogspot.com. 2017 adalah tahun ke empat saya menjadi narablog dan sayangnya masih saja saya menemukan modus lomba menulis yang hanya menguntungkan penerbit. Masalahnya bukan hanya menyoal oknum penerbit indie yang berlaku curang, tapi juga menyoal ada saja teman sekitar saya yang ternyata tidak kunjung melek mengenai modus serupa. Padahal, di tahun 2015 saya sempat menulis esai berjudul Iming-iming Antologi Ala Penerbit indie yang diterbitkan di koran lokal. Tulisan sejenis yang lebih mendalam pun bermunculan seperti Jalur Instan Itu Bernama Kedodolan.


Tulisan (Bukan Esai) Iming-iming Penerbit Indie (Masih Ada) sendiri, bermula dari adik tingkat bernama N yang menandai saya dalam pengumuman lomba puisi penerbit PL. Secara garis besar, saya menarik kesimpulan mengenai ketentuan lomba yang sebagai berikut:


1. Peserta mengirimkan naskah
2. Naskah pemenang dan nominasi akan dibukukan
3. Pemenang dan nominasi mendapat potongan harga buku dan harus mengeluarkan biaya sendiri ketika membeli
4. Buku diperjualjualbelikan tanpa royalti kepada penulis, untuk umum

N yang membagikan informasi lomba. Sumber: Dokumentasi pribadi

Persyaratan lomba. Saya copy paste dari website bersangkutan. Sumber: Dokumentasi pribadi
 
Persyaratan lomba. Saya copy paste dari website bersangkutan. Sumber: Dokumentasi pribadi
Berhubung saya dulu belum belajar UU ITE dan di masa itu saya masih meledak-meledak waktu bicara kenyataan, jadinya ya… saya langsung terpantik untuk menulis persoalan tersebut di blog. Apalagi, saya sempat berdebat dengan oknum penanggungjawab alias PJ lomba yang cara bicaranya betulan tidak macam orang yang bergerak di bidang literasi, jauh dari beretika. Oknum tersebut bernama R.

Salah satu percakapan dengan R selaku PJ even. Sumber: Dokumentasi pribadi

Jadilah kemudian saya menulis mengenai penerbit PL dan oknum bernama R lengkap dengan tangkapan layar segala keganjilan tanpa edit. Semua saya cantumkan jelas beserta nama penerbit dan PJ yang asli. Setelah saya mengunggah tulisan tersebut di blog, respon positif saya dapat dari teman-teman penulis, sebagian saya kenal dari Forum Lingkar Pena (FLP), Gramedia Writing Project (GWP), Citizen Reporter Harian Surya dan UKM Penulis UM. Teman-teman ternyata banyak yang merasakan kegeraman serupa terhadap oknum demikian. Melecehkan profesi menulis adalah kalimat yang tepat bagi para oknum tersebut.

 
Rekan Citizen Reporter membagikan tulisan saya. Sumber: Dokumentasi pribadi
Saya tentu sebal ketika muncul akun anonim yang menyudutkan saya kemudian. Pikiran buruk saya waktu itu mengatakan, bisa jadi ini dari pihak penerbit bersangkutan yang merasa dirugikan dengan tulisan jujur saya tersebut. Atau bisa jadi, ada oknum penerbit lain yang melakukan kecurangan sejenis dan juga merasa rugi dengan unggahan demikian.

Komentar lengkap Afsha. Sumber: Dokumentasi pribadi

Sempat juga saya curhat dengan mbak Puput, senior saya di FLP soal komentar manipulatif tersebut. Mbak Puput saya ingat menanggapi begini,”Kamu mencemarkan gimana? Mereka kan emang sudah cemar sendiri dari awal. Aku sama anak-anak FLP dulu juga pernah kena kasus sejenis (bersinggungan dengan oknum penerbit indie curang).”


Setelah saya rasa tulisan tersebut sudah cukup disebarluaskan dan mendapat pembaca yang tepat, pertengahan 2018 saya memutuskan menyembunyikan tulisan tersebut dari blog. Traffic tulisan tersebut yang tinggi dan komentar yang masuk, menunjukkan banyak penulis memiliki kegelisahan serupa dan sama berusaha mencari tahu. Ini bukan berarti saya takut, namun saya berjanji akan menulis hal sejenis dengan lebih cerdik. Tentu sebelum saya menyembunyikan tulisan tersebut, saya sudah menyimpan tangkapan layar tulisan beserta komentar yang masuk.


Begitu banyak kasus dimana seseorang menceritakan fakta, namun ketika hal tersebut ditulis dan dilempar ke ruang publik, orang tersebut justru menjadi salah di mata hukum. Kita semua tentu ingat dengan kasus Prita Mulyasari dan komika Acho. Dengan cara menulis saya yang waktu itu lebih banyak mengajak pembaca menelaah sendiri, posisi saya sebetulnya tidak lemah. Namun pada selanjutnya, saya akan menulis kebenaran dengan lebih cerdik, jangan sampai ketika saya menyebutkan nama pelaku yang bersangkutan, justru menjadi celah saya lemah di mata hukum. Ya… UU ITE memang serba kikuk, bukan?


Bulan Juni tahun ini, genap enam tahun saya menjadi narablog dan saya semakin meyakini, bukan masalah bicara fakta melalui blog, kebenaran tidak pernah salah ketika disuarakan. Blog sendiri tidak memiliki batasan tema dan gaya menulis, sehingga lebih leluasa dipergunakan untuk bersuara. Namun dalam menyuarakan kebenaran sekalipun, kita mesti cerdik. Maka saya tidak akan berhenti bersuara dan akan jadi lebih cerdik ketika bicara fakta…


Tulisan ini disertakan dalam #KompetisiBlogNodi dengan tema Bangga Menjadi Narablog Pada Era Digital #NarablogEraDigital

Tulisan ini peringkat ke 59 dari 438 peserta. Total nilai 68.60. Itu pun, peringkat 59 dan 60 total nilainya sama hehe. Saya cuma menang abjad awal nama.

Penyelenggaraan kompetisi ini sangat profesional dan berkesan. Menghargai tulisan peserta dan edukatif juga. Usai kompetisi, seluruh peserta, mendapat komentar dari juri via email. Bahkan soal saya yang kurang teliti menulis kata 'dimana', tidak luput dari komentar.

Komentar juri. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Komentar juri. Sumber: Dokumentasi pribadi

Komentar juri. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Tuesday, January 1, 2019

Lemah Tanjung; Menyoal Perselingkuhan, Feminisme Hingga Putri Negeri Dongeng

Sumber: Instagram @fitratisna. Lokasi: Griya Buku Pelangi


Yeay! Akhirnya saya ikutan juga Lemah Tanjung bareng Pelangi Sastra Malang. Ya… meski pas saya ikut, bahasannya sudah sampai di pertengahan bab 7 dan lanjut ke bab 8 sih. Nah, novel karya Ratna Indraswari Ibrahim ini sudah sekian-sekian kali pertemuan dibahas di Pelangi Sastra. Saya pribadi, awal mula tahu nama Ratna Indraswari Ibrahim ini, dari ayah saya yang rajin baca koran, itu sekitar tahun 2010, semasa saya SMK. Ya… Mbak Ratna memang bukan cuma dua atau tiga kali masuk koran lokal maupun nasional.


Banyak dari kita tentu mengetahui, bahwa mbak Ratna ini kema-mana pakai kursi roda, karena radang tulang dan Lemah Tanjung adalah salah satu karya fenomenalnya. Dan ternyata, guru mengaji saya semasa SD, Mbak Zizi Hefni, dulunya berproses di pergerakan sastra Malang seangkatan dengan mas Denny dan dirinya juga bukan dua atau tiga jadi asistennya Mbak Ratna. Sayangnya, garis pertemuan saya dengan sastra di Malang dan juga mbak Ratna itu sendiri baru ketika saya mulai kuliah dan Mbak Ratna sudah wafat. Ya… setidaknya, karya beliau memang masih bisa jadi benang merah antar generasi teman-teman yang bergerak di dunia sastra.


Hari itu (15/09/2018), pembacaan dihadiri 6 orang. Orang terakhir yang saya lupa namanya, teman baru di Pelangi Sastra Malang. Ya… maklum, saya lama juga nggak hadir acara. Jadinya ya, banyak belum kenal teman-teman yang baru masuk. Jadi waktu itu ada saya, Mas Denny (koordinator abadinya Pelangi Sastra), Mbak Fitrahayunitisna (Dosen Brawijaya), Mbak Istifari Hasan (penulis kumpulan cerpen Parodia) dan Firdausya Lana (aktif juga di Lingkar Studi Filsafat Discourse alias LSFD).


Sebelum acara mulai, dibagi foto kopian Lemah Tanjung bab 7 dan 8 oleh Mas Denny dan tentu saya cepat-cepat nyolong baca sebelum acaranya mulai hehe. Jadi, dalam bab tersebut Gita jadi penutur utama. Ia tetap pada masalah pelik menghadapi suaminya, si Paul itu yang berselingkuh dan ketercengannya pada Bonet, putrinya sendiri yang masih Sekolah Dasar dan dirasanya jauh lebih dewasa ketimbang umurnya. 


Gita sendiri bersahabat dengan mbak Syarifah, temannya sesama aktivis yang berkebutuhan khusus dan memutuskan untuk tidak menikah. Latar tempat dalam bab tersebut adalah kota Malang di era 90an, dimana kegelisahan soal ninja pembunuh yang bertebaran di dalam kota dan juga heboh pembunuhan massal di Banyuwangi merebak panas.


Di era itu, tentu saja saya masih balita dan tidak merekam kegentingan di masa itu. baru ketika saya mulai sekolah, ayah saya kerap menceritakan kegentingan di masa itu, apalagi ayah bekerja dua shift di sebuah apotek di kotamadya, sedang rumah kami ada di kabupaten Malang. Jadi di masa itu, ayah setiap malam di perjalanan pulang kerjanya, melihat bagaimana orang-orang berjaga di tiap kampung.


Benar-benar deh… latar tempat dan waktu dalam novel satu ini terasa sekali. Betul-betul tengang-tegangnya politik di masa itu dan lagi, Mbak Fitra juga cerita, beberapa tokoh dalam novel itu ada di dunia nyata. Mbak Fitra sendiri pernah terlibat demonstrasi perkara Lemah Tanjung, di tahun 2000an dan itu semasa dirinya masih mahasiswa baru.


Di forum ini, peserta yang hadir semuanya diberikan kesempatan membaca dengan keras isi novel. Baru setelahnya ada pembahasan. Disini saya mau rangkum bahasan dari Mbak Fitra. Kalau Mbak Fitra bilang Mbak Ratna ini ternyata feminis banget, ya memang.


Pembahasan soal perselingkungan menghadirkan tokoh Gita yang kebingungan menghadapi suaminya yang berselingkuh. Tokoh perempuan sekitarnya pun ada pula yang mengalami hal serupa, akan tetapi tokoh tersebut memilih menerima dan menuntut Gita melakukan penerimaan serupa dengan berbagai dalih. Namun, pada bab yang kami bahas hari itu, muncul juga tokoh Heriah. Heriah ini akrab juga dengan Mbak Syarifah dan suaminya berselingkuh serupa suaminya Gita. Bedanya, Heriah membalas perselingkuhan itu juga dengan perselingkuhan.


Menjadikan tulisan Mbak Ratna berbeda dengan Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu, menurut Mbak Fitra, adalah bingkai moral yang diusung di dalamnya. Perselingkuhan yang menjadi pembalasan tokoh perempuan atas luka perselingkuhan serupa, tidak begitu saja dihalalkan dalam tulisan Mbak Ratna. Bahkan Mbak Ratna ternyata pernah juga mengritik Ayu Utami, kata Mas Denny. 


Selanjutnya, Mbak Fitra juga mengritisi keberadaan cerita para princess yang baginya, mendidik para perempuan sejak dini agar menanti pangeran berkuda putih yang menyelamatkan hidup mereka tanpa perjuangan hidup. Padahal bagi Mbak Fitra, lelaki dan perempuan sama saja, tentu bisa lemah juga. Bagaimana bisa lelaki dituntut terus menerus kuat? Kemudian saya ingat Aurora yang diselamatkan ciuman pangeran tidak dikenal, hingga Cinderella yang juga diselamatkan pangeran dari kehidupan keluarganya yang buruk. Ah, saya tapinya semenjak kecil lebih suka Mulan. Saya kenal Mulan pun, gara-gara punya tetangga baik hati yang senang menyewakan saya CD film animasi. Mulan pada akhirnya memang berpasangan juga, tapi proses ia bertemu pasangannya itu karena berjuang bersama dalam kondisi perang kerajaan, bukan ‘hadiah’ yang tiba-tiba.


Eh, ini sungguhan ya, Rek. Kamu yang sedang baca tulisan saya ini kalau mau gabung acaranya Pelangi Sastra Malang hayuk mari. Gratis semuanya dan jangan ragu mampir, pasti dapat teman baru.

Sumber: Instagram @pelangisastra

Wednesday, December 5, 2018

Vonis Dokter Bukan Penentu Nasibku, Cerita Krisna Bocah dengan Low Vision

Krisna di dekat kandang ayam belakang rumahnya. Sumber: Dokumentasi pribadi

Dokter bilang, Krisna cuma bisa hidup sampai tiga minggu. Tapi tiga bulan kemudian, justru bu dokter itu yang menangis waktu lihat Krisna. Nama Krisna itu juga bu dokter yang kasih
Yana (48), Uwak Krisna

Terkena air ketuban sejak lahir, itu yang membuat Krisna yang usianya kini masih dua belas tahun, mengalami low vision atau penglihatan di bawah normal, bahkan nyaris buta. Pada tingkatan tertentu, orang dengan low vision masih bisa melihat dan Krisna salah satunya. Seharusnya, ia menggunakan kacamata, namun karena belum terbiasa dan agaknya cukup mengganggu aktivitasnya, kacamata itu kerap tidak ia pergunakan.

Pemalu, itu yang menjadi fokus saya ketika membaca profil Krisna yang diberikan oleh tim Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC). Anak ini adalah saya di masalalu, pikir saya waktu itu. Dia introvert juga jangan-jangan, batin saya selanjutnya. Jadi seluruh peserta baru mengetahui di keluarga mana akan live in, setelah pelatihan bersama YSTC dan Tempo Institute selesai di hari pertama. Seluruh peserta tidak bisa memilih karakter anak dan jenis disabilitas yang mereka alami.

Dan benar saja, saya maupun Krisna sama-sama introvert. Baru di hari ketiga yang artinya hari terakhir, saya bisa akrab dengan Krisna dan itu saya sesali hingga sekarang. Tinggi Krisna sekuping saya, 150 cm lebih barangkali. Tinggi badannya melebihi anak seusianya. Berat badannya pun seimbang. Krisna anak yang sehat.

Sama pemalu di masa anak-anak, introvert dan kebutuhan khusus, kurang apa lagi? Saya tahu saya dan Krisna akan dekat tapi tidak dalam tiga hari. Ya saya juga kebutuhan khusus. Meski saya masih harus membuktikkannya dengan tes yang lebih detail, beberapa bulan lalu seorang teman mengatakan bahwa seniornya yang seorang psikolog membaca blog saya. Si senior tadi mengatakan, saya gifted. Masalah belajar dan sosial yang saya alami selama ini, persis ciri anak gifted. Dan lagi, senior psikolog tadi mengatakan bahwa pengalaman nyata yang seluruhnya menjadi bahan tulisan saya di blog, adalah ciri utamanya.

Masalah sosial sebenarnya masih saya alami hingga hari ini, tentu saya coba melawannya. Nekat mengikuti Youth Live In Ideal bersama YSTC dan Tempo Institute, adalah salah satu caranya. Beruntungnya, ibu Yana, Nenek, Teh Rosa yang merupakan putri ibu Yana dan bahkan Arjuna, sepupu Krisna, sangat terbuka dengan keberadaan saya.

Ibu Yana sendiri merupakan uwak dari Krisna atau tante dalam bahasa Indonesia. Adik perempuan ibu Yana adalah ibunya Krisna dan kedua orang tua Krisna sendiri, sudah bercerai semenjak dirinya masih berusia tiga bulan. Bahkan ketika Krisna lahir, ibu Yana dan Nenek yang membawa ibunya Krisna ke rumah sakit Hasan Sadikin, Bandung. Jarak dari rumah ibu Yana sekeluarga menuju rumah sakit, sekitar lima jam jika menaiki transportasi umum. Krisna yang sempat masuk inkubator setelah lahir itu, berangkat dan pulang naik transportasi umum sekeluarga.

Dokter sempat mendiagnosa Krisna yang tidak punya langit-langit mulut, akan selamanya makan dengan disuapi, tidak bisa berjalan dan bahkan tidak bakal bertahan lebih dari tiga minggu apabila dikeluarkan dari inkubator sebelum waktunya. Namun keluarga tetap nekat membawa Krisna pulang dan tiga bulan kemudian, ibu Yana membawa Krisna ke dokter yang sama dan dokter itu menangis.

Dokter perempuan itu meminta maaf pada ibu Yana karena pernah seolah berkuasa atas panjang dan pendeknya hidup Krisna. Dokter itu juga kaget melihat banyaknya porsi susu formula yang Krisna minum. Kini mata kanan Krisna memang buta total, namun mata kirinya masih bisa melihat dengan kabur. Bahkan, kedua mata Krisna sebenarnya hampir buta total. Para dokter sudah menyerah hingga salah seorang dokter mau mencoba mengoprasi Krisna. Jadilah sekarang mata kiri Krisna ternyata masih bisa difungsikan. Bahkan, Krisna jago bermain bola dan bahkan bisa menaiki motor sendiri.

Bahkan di hari kedua, saya bersama ibu Yana, pak Lalang dari Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) dan tim YSTC piknik ke sumber air dekat rumah keluarga ini tinggal. Sumber air tersebut ternyata berupa kawasan sawah yang sangat besar dengan jalanan yang curam dan licin. Namun Krisna justru berjalan dengan ringan dan lincah di antara kami semua. Ketika kami semua pulang, pak Lalang langsung tertidur sedang teman-teman lainnya kelelahan. Namun kami semua justru melihat Krisna dengan santai masuk ke dalam rumah sebentar, lantas pergi keluar lagi untuk bermain.

Krisna telah dua kali membuktikan, bahwa dokter bukan penentu nasibnya. Vonis boleh jadi didasari ilmu pengetahuan, namun usaha manusia dan takdir Tuhan, bikin jalan ceritanya jadi berbeda...

Catatan: Nama disamarkan untuk melindungi identitas anak

#BerpihakPadaAnak
#YouthLiveIn 

Tulisan ini masuk dalam nominasi pemenang. Jadi, sepulang live in dan membuat tulisan, para peserta masih diadu lagi untuk masuk tiga besar.

Tuesday, December 4, 2018

Attitude VS Kemampuan, Lebih Penting Mana? (Proses Seleksi Save The Children Bersama Tempo Institute)

Ada loh… peserta yang waktu kami telepon itu malah bilang… ini teleponnya masih lama ya, kak? Sampai waktu itu saya bilang ke Ria dan teman-teman, kalian kali yang teleponnya nggak pas waktunya. Padahal itu peserta tulisannya saya jagokan.

Dian Purnomo YSTC, tentang proses seleksi

Sumber: @savechildren_id

Setahun belakangan, saya memang kembali main twitter. Alasan idealisnya sih, trending twitter dan segala cuitan di  sana selalu lebih cepat ketimbang berita di media massa. Tapi alasan pragmatisnya ada juga, twitter itu unlimited seumur hidup kalau kita beli paket 3 GB ke atas di IM3. Hiya… promosi sengaja.

Maka pagi itu, saya lihat Ivan Lanin sang suami impian tukang koreksi ejaan, ritwit kiriman dari siapa begitu, pokoknya perempuan. Isinya tentang seleksi menulis dan live in bersama Yayasan Sayangi Tunas Cilik Save The Children dan Tempo Institute. Ya… pokoknya siapapun mbak-mbak yang berbagi informasi itu dan diritwit Ivan Lanin, saya doakan hidupnya barokah, meski saya sungguhan lupa namanya.

Sebelum 13 November 2018, akhirnya saya mengisi formulir yang sayangnya saya lupa ndak screen shoot untuk kenang-kenangan, saking deg-degannya. Sebelum mengisi formulir, saya tentu sudah mencari tahu lebih dahulu mengenai Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC). Sedang untuk Tempo Institute sendiri, saya sudah lama mendengar dan lagi, Tempo itu majalah favoritnya ibu saya.

Persyaratan yang diajukan YSTC dan Tempo tentu saja unik. Peserta harus mengirimkan tautan tulisan atau video yang pernah diunggah sebelum bulan Oktober 2018. Mendadak saya ingat sekitar 200 tulisan yang ada di blog saya sejak 2013 ternyata berguna juga. Saya memahami, agakanya YSTC dan Tempo Instiute menagih konsistensi, meski barangkali bagi calon peserta lain bisa jadi syarat ini ganjil dan menyulitkan.

Sumber: @savechildren_id

Segera setelah saya mengirimkan tautan tulisan yang salah satunya berjudul Kaos Kaki dari Jenny, berupa cerita keseharian salah satu anak autis kelas inklusi yang ada di SMK saya. Saya juga mengirimkan informasi seleksi ini kepada beberapa teman melalui WA. Tidak lupa juga saya mengunggah posternya di beberapa grup dan story WA. Rata-rata, teman-teman yang saya bagi infonya soal seleksi ini, agak bertanya-tanya soal syarat poin lima. Ya… syarat itu isinya, mengirimkan maksimum 3 link tulisan tentang isu-isu sosial yang diposting sebelum Oktober 2018. Hingga teman dari salah satu grup langsung WA saya, untuk bertanya apa syarat yang satu itu ndak salah tulis. Lha… kan saya bukan panitianya hiks. Bahkan ternyata, seleksi sudah dimulai semenjak calon peserta membaca persayaratannya di poster. Dan lagi, ketika saya selesai mengisi formulir itu… saya sudah jadi pendaftar yang ke 70 sekian hari itu.

Pada 16 November 2018, sore hari ketika saya masih berada di Biara Karmel Regina Apostolorum, Kota Batu. Mbak Dina yang memerkenalkan diri sebagai tim dari YSTC menelepon. Untuk wawancara terkait acara live in, begitu kata mbak Dina mengawali telepon. Buru-buru saya olah kata apapun yang pikir saya paling sopan, agar mbak Dina berkenan menelepon kembali ketika acara yang sedang saya jalani selesai. Waktu itu, memang masih ada acara diskusi bersama Gusdurian Batu di dalam biara, dalam rangka hari toleransi internasional. Saya memahami, kesempatan wawancara ini tidak semua orang bisa dapat dan lagi, orang lembaga seperti YSTC tentu sangat sibuk hingga beberapa menit pun pasti berharga. Kami pun bersepakat untuk melalukan wawancara setidaknya pukul tujuh atau delapan. 

Setelah acara selesai, saya justru mengejar mas Haris yang berjalan menuju parkiran. Mas Haris El Mahdi ini rekan saya satu komunitas, sekaligus koordinator Gusdurian Batu. Dia satu-satunya orang yang saya beritahu sejak awal, kalau saya mengikuti seleksi Youth Live In Ideal. Saya langsung bercerita pada mas Haris, bahwa ada orang YSTC menelepon saya untuk wawancara. Sama seperti ucapan saya di WA di hari sebelumnya pada mas Haris, saya bilang sepertinya tidak mungkin lolos, pesertanya sangat banyak. Tapi saya bilang juga, setidaknya saya masih ada pengalamaan wawancara, toh tidak semua orang diwawancara tentunya. Setidaknya ya… saya masih dapat kepastian ketimbang begitu banyak peserta lain, yang bahkan tidak dapat kesempatan wawancara. 

Mbak Dina pun kembali mengirim WA kepada saya, isinya bahwa yang menelepon saya selanjutnya bukan dia lagi, tapi tim YSTC juga yang bernama Ria. Wawancara pun berlangsung bersama Ria, yang berikutnya ternyata juga menemani para peserta selama Youth Live In Ideal. Saya minta maaf pada Ria karena sempat menolak telepon mbak Dina, selama masih berada di dalam biara. Wawancara ternyata berlangsung tidak sampai dua puluh menit dan Ria lebih banyak bertanya apa kegiatan saya saat ini dan kiranya saya memiliki halangan untuk hadir dalam serangkaian acara yang 6 hari penuh itu. Tidak lupa, saya bertanya kapan pengumuman peserta lolos akan dirilis. Pertanyaan yang mestinya tidak saya tanyakan karena sudah tertera jelas di poster. Itu semua saking groginya saya dapat wawancara via telepon. Tapi Ria dengan ramah masih bersedia menjawab dan bahkan menawarkan pada saya, inginnya saya bertanya soal apa lagi.

Sayangnya, dua hari kemudian ponsel saya memorinya terlalu penuh menjelang pengumuman. Jadilah notifikasi dari akun instagram YSTC tidak masuk. Justru yang masuk adalah komentar dari adik tingkat saya satu fakultas, Dinda. Dinda mengucapkan selamat dan menyebut saya dalam komentar di bawah poster yang berisi nama-nama peserta yang lolos.

Sumber: @savechildren_id

Puja kerang ajaib! Saya betul-betul tidak sabar menanti untuk sampai di Bandung. Hingga beberapa hari berikutnya, grup WA berisi para panitia dan peserta pun dibentuk. Saya juga mendapat telepon soal jadwal kereta dan stasiun yang terdekat dari rumah saya. Transportasi dan akomadasi, semuanya betul-betul ditanggung oleh YSTC bersama Tempo Institute.

Pelajaran pertama yang saya dapat justru ketika hari pertama para peserta mengobrol dan berkumpul, usai sampai di penginapan Bumi Makmur yang terletak di Lembang. Para peserta berkumpul di kamar 3211, dimana saya sekamar dengan Opi, salah satu peserta asal Jogja dengan penampilan khas; rambut sambungnya berbentuk gimbal.

Setelah bicara berbagai hal, mbak Dian mulai menceritakan bagaimana 3 orang panitia mesti menelepon 40 orang kandidat peserta yang lolos untuk wawancara. Total calon peserta sendiri ada 120 orang ternyata. Sayangnya, ada salah seorang peserta yang justru dengan nada remeh, memertanyakan apa proses wawancara terebut masih lama. Oh, tentu peserta itu tidak lolos. Mbak Dian bahkan sampai bertanya pada teman-teman satu timnya, barangkali mereka yang justru menelepon si calon peserta tadi di waktu yang tidak tepat. Padahal, tulisan si peserta tadi justru sesungguhnya dijagokan oleh mbak Dian.

Saya tentu tersentak. Meski banyak juga hal dalam diri saya yang mesti diperbaiki, saya merasa cara peserta tadi menaggapi wawancara via telepon, lumayan melukai dan kurang beretika. Banyak sekali calon peserta di luar sana yang bahkan kesempatan wawancara pun mereka tidak dapat. Dan lagi, para panitia tentu sibuk sekali. Manusia yang diurus bukan cuma engkau seorang.

Hingga jelang tidur, kata-kata mbak Dian terus terngiang di kuping saya dan bahkan sempat saya ceritakan ulang di story WA. Oh, jadi selain kemampuan, attitude juga penting ya.

Nilai moral dari tulisan ini, jika kamu laki-laki, jangan koreksi ejaan saya, ketimbang saya menjadikanmu suami impian. Eh, apa sih…

Mbak Dian bersama seluruh peserta di kamar 3211. Sumber: Dokumentasi Pribadi

#BerpihakPadaAnak
#YouthLiveIn

Sunday, December 2, 2018

Apresiasi


Nggak semua apresiasi ditunjukkan Tuhan di depan mukamu. Karena Tuhan tahu, kamu nggak cukup siap untuk rendah hati.