Tuesday, August 16, 2016

Pemberian yang Anomali


Namun, aku hanya secarik kertas. Berwarna pekat, hingga sulit kau bubuhi.
Cerita Kertas dan Pena, Sarasvati feat Ink Rosmary

AWAL
Tuhan yang baik, barangkali memberimu IQ tinggi yang tiba-tiba ada. Tuhan yang baik, barangkali memberimu kecerdasan sosial yang tiba-tiba ada. Tuhan yang baik, barangkali memberi kamu hidung lancip dan pipi tirus. Namun, Tuhan yang baik justru memberi saya keanehan… a-n-o-m-a-l-i.
Bagaimana rasa hatimu saat kamu tiba-tiba tahu apa yang tidak ingin kamu tahu? Rumit…
Saat saya kecil, saya bisa melihat siapa kamu. Tidak ada bisikan, tidak ada bayangan, tidak ada seseorang yang saya rasa memberi tahu.
Saya saat balita. Sumber: Dokumentasi pribadi
Seberapa kamu tendensius, seberapa kamu tulus. Semua seperti berbatasan satu selembar plastik tipis bagi saya. Itu jadi sebab saya tidak pernah punya banyak teman saat kecil. Saya juga kesulitan mengungkap apa yang saya rasa dan ingin. Saya… senyap.
Saya lebih senang mendengar orang dewasa mengobrolkan masalah mereka, ketimbang mendengarkan berapa kali kamu pergi ke pasar malam.
Dengan ekstrim, saya menjauhi orang-orang yang mendadak saya ketahui seberapa jauh kadar tendensinya. Saya akhirnya pergi dari sangat banyak lingkaran pergaulan. Saya… hilang.
Ini sama seperti ketika kamu berhadapan dengan seseorang yang jelas membawa pisau dan kamu hendak ditikam. Kamu pasti berlari, menghindar atau berteriak meminta bantuan orang lain. Bukankah itu instingmu buat tetap hidup?
Saya sudah berlari dan mengindar, sendirian. Namun, satu yang belum pernah saya lakukan saat itu, meminta bantuan orang lain, karena untuk itu saya sudah terlalu sedih.

“Biasanya, anak-anak dengan masalalu menyedihkan dan perasaan sendirian akan lebih peka…”

Roslina Verauli

Siapa yang membenci tendensius? Siapa yang mencintai tulus? Bagaimana caramu pegang kendali saat semua betul-betul jernih dan saking dekatnya?
HINGGA 1
Saat remaja, saya mulai belajar berucap. Itu sekadar pertahanan diri otomatis setelah menahun mengalami hal buruk.
Saya mulai berusaha mengungkap apa yang saya mau, siapa yang saya benci, siapa yang saya cintai. Kamu mesti tahu itu, mereka pun begitu. Saya juga punya ingin. Dan ingin saya,kepala saya tidak lagi terlindas karena kamu pikir saya yang senyap.
HINGGA 2
Saya terlalu lama menjauh dari banyak lingkaran. Terlalu sering juga saya merasa dibenci.
Saya saat usia 7 tahun. Sumber: Dokumentasi pribadi
Kemudian, saya mulai terobsesi disukai banyak orang. Saya berusaha jadi menyenangkan buat semuanya. Betul saya yakin jika semua orang bisa saya sentuh hatinya.
Saya tidak jujur, meski saya kemudian bisa masuk dalam banyak lingkaran dan memiliki kamu sebagai teman.
Dengan itu semua, saya mencintai apa yang saya benci.
HINGGA 3
Kemudian, saya menemukan cara lain buat mencintai apa yang saya benci. Dengan bibir saya yang tersenyum namun mata yang tidak pernah tersenyum.
Dengan itu, saya makin terlihat baik. Saya makin bisa masuk dalam banyak lingkaran dan memiliki mereka sebagai teman.
Saya tetap tidak jujur dan itu menyakiti diri saya.
SAAT INI
Saya sedang berusaha mencintaimu dengan mencintaimu, dan membenci dengan mencintaimu…

“Insting, merupakan sesuatu yang datang langsung dari Tuhan tanpa perantara pengalaman.”
Jeihan Sukmantoro


2 comments:

Anonymous said...

bahagialah... kamu tahu siapa dirimu dan apa apa yang ada di depanmu. dan kamu tahu pasti apa yang semestinya dilakukan terhadap hal - hal yang kamu benci. mari tersenyum.

Poppy Trisnayanti Puspitasari said...

Saya sangat suka dengan anonim...

Karena saya bisa membalas komentar-komentar baik seorang anonim dengan doa, dengan lepas... tanpa sebab siapa si anonim itu...