Monday, February 6, 2017

Icha Ternyata Autis


Sejak kelas satu, Icha memang kelihatan paling berbeda. Dia berkulit coklat seperti banyak teman lain di kelas. Jumlah mata dan jari tangannya pun, sama dengan kami semua. Namun, saya merasa dia sangat berbeda, bahkan hingga kelas enam dan kami lulus di tahun yang sama.
Nenek Icha selalu berada di teras kelas selama kelas satu. Saya biasa menyendiri sambil bersandar di tiang teras, memandangi Icha yang selalu bersama neneknya tanpa tahu bagaimana cara menyapa.
Ingus berwarna hijau kental selalu keluar dari hidung Icha, tanda pilek yang cukup lama tidak sembuh. Bertahun kemudian, Icha dan ingusnya ternyata monumental dalam ingatan teman-teman sekelas. Meski pada tahun berikutnya, Icha sudah jauh lebih bersih, teman-teman tetap mengoloki dia dan ingusnya.
Nenek Icha menyuapinya selama kelas satu, setiap jam istirahat. Ketika kami naik kelas pun, neneknya masih setia menjemput Icha, meski tidak lagi menunggui di depan kelas. Saya menyukai Icha tanpa sebab. Entah mengapa, insting saya mengatakan dia jujur dan tidak pantas diganggu, meski dia memang saya sadari berbeda. Bahkan, ketika kelas enam, saya meminta Icha menulis biodata di buku khusus. Dia satu dari sedikit teman yang saya minta biodatanya, selain Nadiya Khalillah. Di tahun 2000an, bertukar biodata saat kelulusan memang lazim.
Di kelas, pertengkaran sering dituduhkan karena Icha. Teman-teman sering mengeluhkan Icha dan para guru hanya berkata,”Icha memang begitu. Kalau sudah begitu, kenapa masih kalian ganggu?”
Begitu? Apa yang dimaksud para guru dengan begitu? Saya bahkan tidak berani bertanya pada guru maupun mama, sesungguhnya kenapa Icha.
Icha sendiri mampu masuk rangking sebelas dan dua belas di kelas. Dia bukan siswi bodoh. Icha mampu belajar. Namun, yang paling saya ingat justru adalah tatapan matanya yang tidak bisa lurus menatap mata saya ketika mengobrol. Ini makin memerjelas perbedaanya.
Bahkan, ketika kerja kelompok di kelas, teman sebangku saya memilih berkelompok dengan teman lain, siswi yang paling cantik di kelas dan cemerlang dalam akademis. Dia menyuruh saya pindah dan berkelompok dengan Icha. Padahal, tugas itu mestinya dikerjakan bersama teman sebangku. Saya sedih dan merasa dibuang. Saya tahu Icha tidak buruk, namun perbedaan dalam diri Icha, membuat saya merasa disamakan dengan dia. Kami memang tidak pernah bertengkar atau juga terlalu dekat. Ketika saya dewasa, belakangan saya berpikir bahwa perasaan tidak pantas disamakan dengan Icha sangat jahat, meski waktu itu saya menyimpannya dalam hati.
Kesedihan saya lenyap, saat berhadapan dengan Icha. Dia buru-buru menyerahkan semua pensil dan kertas pada saya. Saat saya meletakkan kembali semua alat tulis di tengah bangku, Icha lagi-lagi mendorongnya pada saya. Dia seperti pasrah menyerahkan semua tugas pada saya, ada rasa tidak percaya diri dalam matanya. Rupanya, ketika berkelompok dengan teman-teman lain, Icha sering tidak mendapat bagian, dianggap tidak mampu. Maka, ketika saya mengajaknya menulis bergantian, dia merasa ragu sekaligus senang.
Yang paling saya ingat dari Icha, dia tidak suka menyakiti orang terlebih dahulu. Icha adalah aneh dan selalu aneh bagi saya, namun dia satu-satunya orang yang membantu saya menyapu kelas setelah pelajaran kesenian. Saat itu, kelas sepi dan semua orang meninggalkan kelas begitu saja karena pelajaran olahraga, setelah pelajaran kesenian yang membikin potongan kertas terserak di bawah meja-meja.
Saat Icha kembali ke dalam kelas, dia melihat saya dan langsung mengambil sapu. Dia menyapu sudut lain dalam kelas, sedang saya menyapu sudut lainnya. Icha memang berbeda, tapi mengapa dia bisa menyapu? Itu yang saya pikirkan, saat itu.
Setelah pekerjaan kami hampir selesai, saya bertanya padanya,”Kenapa kamu bantu aku, Cha?”
“Itu gunanya seorang teman.” Jawab Icha.
Saya ingin berterimakasih saat itu juga, namun tidak mengerti bagaimana caranya. Insting saya tidak salah. Icha memang seorang teman.
Kamu tidak perlu heran dengan pilihan kata Icha yang terdengar mirip sinetron. Belakangan ketika sekolah di jurusan Pekerjaan Sosial, saya baru mengetahui bahwa Icha agaknya mengidap autis dengan tingkatan tertentu. Dia memang berbeda, namun dia mampu belajar dan bekerja, bahkan mampu merasakan empati.
Semasa SD, orang dewasa di rumah Icha agaknya suka menonton sinetron. Di sekolah, Icha kadang menyanyikan ulang lagu-lagu dari sinetron, gaya bahasanya pun tidak jarang mirip dengan dialog sinetron. Icha merekam semuanya tanpa mengerti mana yang tidak perlu dia ulang dan tiru, hal ini juga membuat teman-teman seperti patut menganggunya, dia dianggap ratu drama.
Kabar terakhir, saya mendengar Icha berkuliah di jurusan sastra Inggris di Universitas Muhammadiyah Malang. Soal kuliah, tidak mengherankan karena Icha secara akademis memang mampu.
Teman saya yang sesama alumni dan juga berkuliah di sana, agaknya tidak terlalu tertarik untuk menelusuri kontak Icha. Padahal, dia juga sempat bertemu dengan mama Icha di kampus. Saya sendiri, menghilangkan biodata Icha (ayah saya yang tidak sengaja membuang buku berisi biodatanya saat bersih-bersih). Saya tidak ingat alamat, nomor telepon dan nama lengkapnya yang barangkali bisa saya telusuri di sosial media.
Ada yang bisa menghubungkan saya dengan Icha?

2 comments:

Prima Eko said...

Wah wah, hampir kaget bacanya, , namanya sama nama pacar saya sama Icha. . haddeh

Ridwan Pratama NH said...

Jangan2 dia marsyanda. Wkwk