Thursday, February 12, 2015

Saya 'Intrapersonal feat Visual'- Setiap Orang Istimewa Dalam Kecerdasan Masing- Masing

Kemarin lusa saya di sodori teman sekelas buat mengisi psikotes kecerdasan jamak. Setelah hasilnya muncul, kecerdasan saya dominan di Intrapersonal. Urutan kedua, Visual.
Seperti yang saya kutip dari penjelasan psikotes tersebut, KECERDASAN INTRAPERSONAL adalah Kemampuan memahami, menganalisa, dan merefleksikan diri sendiri, mengenali kekuatan dan keterbatasan diri sendiri, serta menyadari perasaan, keinginan, harapan, dan tujuan hidup. Profesi: Pelatih, pengajar, penulis, peneliti, konselor, psikolog, rohaniwan, entrepreneur, dsb.



Sedangkan, KECERDASAN VISUAL/ SPASIAL adalah Kemampuan berpikir 2 atau 3 dimensi, termasuk pemahaman akan bentuk dan ruang serta hubungan antar benda dalam ruangan, memiliki kepekaan akan arah atau lokasi tertentu. Profesi: Arsitek, designer, perencana tata kota, seniman, fotografer, animator, pelaut, pilot, dsb.

Begitu hasil keluar, saya langsung merefleksi diri. Refleksi diri ternyata salah satu gambaran utama seseorang memiliki kecerdaan Intrapersonal. Saya sendiri sudah sering melakukan refleksi diri tanpa tahu bahwa saya sebenarnya memiliki kecerdasan Intrapersonal.
Saya ingat waktu lulus SMP, saya memang sudah punya pandangan hidup sendiri. Saya ngeyel setengah mati pada Ibu, bahwa saya mesti masuk di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan Pekerjaan Sosial (PS/Peksos yang sekarang ganti nama menjadi Perawatan Sosial).
Waktu itu, saya berpikir bahwa saya tertarik dengan dunia kejiwaan semenjak SMP. Ketertarikan itu terbentuk setelah saya mengalami pembullyan dan juga lingkungan yang tidak menerima diri saya. Jadi, saya harus masuk pada jurusan yang
berkaitan. Saya yakin saya bisa, saya cocok dan saya juga punya rencana- rencana lain setelahnya. Setelah ‘debat ilmiah’ yang cukup cantik dengan Ibu saya, saya akhirnya berhasil masuk di SMK pilihan saya tentunya dengan jurusan yang sejak awal ngeyel mesti saya ambil.
Ibu saya terus terang saja tidak terlalu srek kalau saya masuk SMK. Ibu punya kekhawatiran bahwa lulusan SMK pada kenyataannya setengah matang di dunia kerja dan tidak punya dasar untuk lolos tes perguruan tinggi. Ibu saya tidak sadar bahwa putrid semata wayang yang ada di hadapannya ini pemikirannya di dasari kecerdasan Intrapersonal. Saya sendiri waktu itu juga tidak sadar bahwa saya sebenarnya berpotensi dalam kecerdasan Intrapersonal. Tentu saja wajar bila Ibu saya awalnya sangat ragu dengan keputusan saya. Saya masih berusia 14 tahun dan masuk sekolah lanjutan dianggap juga sebagai penentu masa depan.
Sejak usia Taman Kanak- Kanak (TK), saya mulai suka menggambar. Saya tidak pernah benar- benar pintar bermain gradasi seperti teman- teman saya yang les menggambar atau melukis. Saya menggambar pada sobekan kertas atau papan tulis kapus bikinan ayah saya. Saya menggambar segala yang saya lihat atau menyoal perjalanan yang baru saya lakukan diluar rumah. Ayah mengakui bahwa gambar- gambar saya memiliki konsep. Bisa dimengerti meskipun tentunya jauh lebih buruk dari lukisan pelukis- pelukis amatiran. Gambar- gambar saya selalu menunujukkan ruang, latar dan waktu yang berbeda.
Saya benci sekali ketika saya mesti menggambar sesuai apa yang di contohkan oleh guru. Sebaliknya, teman- teman saya banyak yang kebingungan waktu guru menyuruh kami menggambar bebas.
Waktu kelas dua SD, guru saya, Bu Nurul, memakai gambar saya sebagai contoh untuk anak- anak kelas lima. Saya sangat terkesan karena Bu Nurul menyejajarkan gambar karya saya dengan teman- teman yang pandai membuat gradasi dan bahkan les menggambar. Bu Nurul seperti paham bahwa ada ‘konsep’ di dalam gambar saya. Sepenuhnya saya mengerahkan imajinasi disana. Ketika saya menggambar, saya merasa seperti bicara dengan gambar- gambar saya. Saya benar- benar menganggap bahwa dalam gedung- gedung yang saya gambar, memang ada kehidupan.
Pertengahan kelas tiga SD, saya mulai menulis. Menggambar terus saya lakukan meskipun pada saat itu saya mulai merasa bahwa menggambar tidak sepenuhnya bisa menggambarkan apa yang ada di pikiran saya. Jadilah saya menulis sebuah cerpen perdana berjudul ‘Tiga Kurcaci Kecil’. Ceritanya sangat sederhana, bercerita soal Tiga Kurcaci Kecil yang melawan Semut Jahat dengan di bantu nenek sihir baik hati. Di akhir cerita, Tiga Kurcaci Kecil berhasil mengalahkan Semut Jahat. Cerpen tersebut tidak lupa saya sertai dengan ilustrasi. Ilustrasi yang paling saya ingat dimana Tiga Kurcaci Kecil menyelinap di balik tembok untuk mengintai Semut Jahat.
Dalam penamaan karakter pun, saya memaki nama yang aneh- aneh. Nesiba, sebutan bagi Nenek Sihir Baik yang membantu Tiga Kurcaci Kecil melawan Semut Jahat. Kemudian, Nesija, sebutan bagi Nenek Sihir Jahat yang membantu Semut Jahat melawan Tiga Kurcaci Kecil. Tiap saya mengingat nama- nama ajaib ini, saya sering tertawa sendiri. Saya sudah menyingkat nama- nama aneh jadi sebutan yang menarik tidak kalah dengan mahasiswa- mahasiswa yang judul PKMnya lolos kwkwwkwk.
Saya semakin gila menggambar dan menulis waktu SMP. Sebuah novel tulisan tangan berjudul ’13 Miracle’ bercerita tentang seorang anak perempuan berusia 13 tahun bernama Felminia Fonny yang memiliki kekuatan supranatural yang dia sendiri susah untuk mengendalikannya. Tulisan itu saya buat juga ilustrasinya. Waktu itu, selain membuat ilustrasinya sendiri, saya juga bekerjasama dengan teman saya Lisa Sugiarto yang gambar karyanya saya akui jauh lebih memikat ketimbang milik saya.
Setelah sadar bahwa prestasi akademis saya sama sekali tidak terurus selama SD hingga SMP, saya memutuskan berhenti menulis dan menggambar. Saya nyatanya tidak pernah bisa sepenuhnya berhenti. Saya masih sempat menulis artikel untuk majalah sekolah dan membuat komik untuk mading sekolah sebelum benar- benar mogok menggambar dan menulis. Saya juga masih sempat menjadi asisten kecil guru seni budaya saya waktu kelas sepuluh. Bu Putri nama guru saya itu, sempat beberapa waktu menunda tekad saya saya untuk berhenti menggambar.
Saya mulai sibuk mengejar nilai- nilai akademis dan bidang Pekerjaan Sosial yang akrab dengan hubungan antar manusia, psikologi, sosial dan konseling. Saya memang makin jatuh cinta pada bidang sosial dan kejiwaan setelahnya.
Sekitar tahun 2011 saya sebenarnya juga sempat menulis beberapa cerpen dan aktif di salah satu forum kepenulisan sajak bernama Bersajak dan Melawan. Saya sejujurnya aktif sekali membuat sajak pada waktu itu. Saya bohong apabila saya benar- benar bilang bahwa saya berhenti menulis pada waktu itu.
Lepas SMK, lagi- lagi saya mesti berdebat dengan Ibu mengenai jurusan yang akan saya pilih di Universitas. Saya ngeyel masuk jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS). Jurusan tersebut saya rasa linear dengan jurusan Pekerjaan Sosial. Jurusan PLS
juga masih menyangkut sosial dan psikologi. Ibu saya lagi- lagi belum sadar bahwa anak usia 17 tahun yang ada di hadapannya punya kecerdasan dominan Intrapersonal. Saya sendiri masih belum menyadarinya. Yang pasti, saya mengerti sebab akibat dan juga memiliki berbagai rencana yang sesuai dengan kemampuan yang saya kenal dalam diri.
Setelah ‘debat ilmiah’ dengan Ibu, saya berhasil mengikuti tes dan masuk pada jurusan PLS. Saya benar- benar tidak salah memilih jurusan! Saya begitu menikmati dan menadapat cukup banyak kenalan.
Jelang semester 3, saya mendadak kangen untuk menulis. Saya mulai mengelola blog. Saya kembali menggambar. Semua saya lakukan setelah saya merefleksi diri bahwa saya mesti seimbang dalam bidang akademis maupun non akademis. Saya berpikir bahwa lulusan Universitas dengan IPK tinggi pasti sudah kelewat banyak. Saya harus memiliki nilai plus. Nilai plus yang jadi pembeda itu sudah saya miliki, tapi saya tinggalkan sangat lama karena dulu saya menganggap hal tersebut tidak punya dayaguna.
Ibu mulai khawatir. Saya mulai dikira ragu dengan jurusan PLS yang saya ambil. Saya juga dikiran malas mendalami dunia PLS. Ibu saya lagi- lagi belum sadar bahwa
anak usia 18 tahun yang ada di hadapannya itu, memiliki kecerdasan Intrapersonal dan Visual. Kecerdasan yang tidak di sadari dan diarahkan secara serius selama 18 tahun. Saya pun sama, belum sadar mengenai keberadaan dua kecerdasan dominan tersebut.
Semester 6. Saya mantap mengambil peminatan Management PAUD (MPAUD) di jurusan PLS. Saya tertarik dengan kejiwaan, sosial ditambah anak- anak saat itu. Saya menyadari banyak sekali pengalaman langsung yang saya alami selama proses menjadi dewasa. Ada luka- luka di masa kecil yang membuat saya tertarik mendalami dunia anak- anak dan mendekati anak- anak.
Kali ini, Ibu saya cuma mengatakan bahwa saya harus bertanggung jawab dengan pilihan saya. Tidak ada perdebatan berarti kali ini. Bukan berarti saya maupun Ibu sudah menyadari bahwa saya memiliki kecerdasan Intrapersonal dimana saya mampu memhami kelebihan dan kekurangan diri. Ini semua karena Ibu berusahan menyembunyikan kekhawatirannya ketika saya lagi- lagi ngeyel menentukan masa depan sendiri. Hingga hari ini, saya makin menikmati ilmu- ilmu mengenai parenting dan anak usia dini dalam peminatan MPAUD.
Saya barangkali hanya satu dari banyak anak- anak yang berproses tidak cukup terarah terkait kecerdasan yang sebenarnya sudah nampak waktu kecil. Saya masih cukup beruntung karena bisa membangkitkan potensi yang sebenarnya bisa saya kembangkan. Banyak sekali teman- teman saya yang sebenarnya memiliki potensi kecerdasan masing- masing. Tapi, semuanya hilang seiring usia karena tidak ada pengenalan diri baik dari lingkungan maupun diri sendiri.
Setiap anak memang istimewa…
SELESAI

Fyi, waktu tes lagi 2018, saya ternyata dominan musikal dan eksistensial juga. Tes 2018 ini aspek kecerdasannya lebih banyak dan bisa diakses lewat playstore. Kredibelitasnya serupa tes dari teman saya.

Sunday, January 18, 2015

Aku Percaya! Abe Bukan Anak Nakal

2010- Pertama kali berangkat praktek kerja (di SMK disebut PSG). Aku berangkat bukan dengan hati yang senang. Taman Kanak kanak (TK)! Itu jadi lokasi praktek kerjaku. Aku merasa sangat dianggap remeh. Apa yang bakal aku lakukan di TK?
Selama kelas sepuluh. Prestasi akademikku tidak buruk. Materi- materi jurusan Pekerjaan Sosial (Peksos) seperti, anak kebutuhan khusus (ABK), lansia, gelandangan dan anak bermasalah, semua aku serap cukup baik. Setidaknya, aku memang merasa begitu.
Lantas? Bagaimana dengan di TK? Aku rasa tidak ada hal keren yang bakal aku kerjakan disana. Semua terasa jauh dari teori- teori yang aku pelajari. Aku terus mengumpat!
Upatan- umpatanku berhenti tiba- tiba. Pukul tujuh pagi, aku masuk di sebuah kelas. A-3 aku lihat tulisan berhuruf cetak ada di atas pintu masuk.
Ada sekitar dua puluhan anak usia 4-5 tahun di dalam ruangan. Semua
memandangi aku. Mata mereka berbinar- binar. Tidak ada rasa curiga barangkali di batin mereka.
“Nah. Ini namanya Mbak Poppy. Mulai sekarang Mbak Poppy menemani teman- teman belajar,” guru yang ada di dalam kelas mulai buka suara.
“Mbak Poppy,” anak gendut yang duduk paling belakang berusaha mengulang namaku. Matanya berbinar. Dia terus memandangi aku.
“Mbak Poppy,” tangan anak perempuan berambut keriting menyentuh lututku. Aku tersenyum sekenanya. Dia balas nyengir dengan gigi tengahnya yang menghitam.
“Mbak Poppy,”
“Mbak Poppy,”
"Mbak Poppy,” ruang kelas mulai gaduh. Semua berebut memanggil dan mendekati aku. Guru tersenyum. Tamborin mulai di goyangkan.
“Semuanya…” semua murid berhenti merubung aku. Suara tamborin membuat mereka kembali melihat arah guru.
“Mbak Poppy di sekolah kita nanti lamaaaaaaa sekali. Kalian bisa ketemu Mbak Poppy lamaaaaaaa juga. Besok bisa ketemu Mbak Poppy. Besoknya lagi ketemu. Besoknya lagi besoknya lagi ketemu,” guru menerangkan dengan gayanya yang super ekspresif. Beberapa siswa masih melirik aku seperti berharap bisa mendekat atau memanggil namaku lagi. Mata mereka kelihatan tidak ikhlas, mereka sadar cara halus guru untuk mengalihkan perhatian mereka dari aku.
Mata semua anak disana seperti begitu percaya bahwa aku adalah orang asing yang baik. Aku orang asing yang bakal merautkan pensil mereka. Aku orang asing yang bakal membantu mereka membersihkan diri setelah buang air besar (BAB). Aku orang asing yang bakal membantu mereka membuka bungkus makanan. Aku orang asing yang bakal mendorongkan ayunan mereka supaya bergerak.
Aku? Ah apa benar? Apa benar aku bakal semenyenangkan harapan di dalam mata anak- anak itu. Aku tidak yakin.
***
Abe. Aku mengenal anak itu karena kami sama-sama penggemar serial Naruto. Animasi yang sangat meledak masa itu. Abe usianya empat tahun lebih tujuh bulan. Badannya kurus. Matanya bulat. Kulitnya sawo matang. Dia laki- laki.
Kami jadi akrab karena Abe nampaknya merasa bahwa aku adalah teman yang cocok bagi dia. Dia banyak bercerita soal Naruto. Aku menanggapi dan sesekali pamer pengetahuanku soal Naruto. Abe terpesona. Bola matanya kelihatan heran. Dia seperti tidak menyangka bahwa ada orang seumuran aku yang bisa mengerti hal- hal yang dia bahas dengan bersungut- bersungut itu. Hubunganku dan Abe jadi semakin asyik. Kami dekat. Abe bahkan sering menceritakan sesuatu tanpa perlu aku tanya.
“Abe suka cerita soal Mbak Poppy. Dia bilang Mbak Poppy meskipun sudah besar
masih suka nonton Naruto,” aku ingat Mama Abe menyapa aku waktu menjemput Abe. Mama Abe tersenyum simpatik padaku waktu menceritakan semuanya. Abe sendiri kelihatan malu- malu. Dia sembunyi di balik kaki Mamanya.
Aku semakin mengenal Abe. Abe pada kenyataannya memiliki tenaga yang kelewat besar untuk anak seusianya. Jujur saja aku cukup ngeri waktu Abe saling dorong dengan teman- temannya. Badan Abe terbentur keras di lantai. Seluruhnya! Kepala, punggung, lengan, kaki.
Abe malah terbahak keras. Seolah dia mematahkan rasa ngeriku. Anak lain dengan siku atau lutut yang terbentur pasti menangis keras. Tapi Abe tidak!
“Nanti kalau ada yang nakal sama Mamaku, aku mau berubah jadi Ultraman terus orang yang itu aku pedang,” Abe pernah berceloteh waktu aku membantu dia membersihkan diri setelah BAB. Aku tersenyum. Aku tentu masih ingat kalau Ultraman tidak punya pedang. Semasa Sedolah Dasar (SD) aku juga penggemar serial Ultraman. Tapi, lain dari semua itu. Aku melihat sisi patriotik Abe yang sangat besar. Matanya berapi- api tiap membayangkan pembelaan apabila benar ada orang jahat memperlakukan buruk Mamanya.
“Iya. Mama Abe memang harus di bela,” aku mengamini celoteh Abe yang patriotik.
Selain sikap patriotiknya. Abe tidak bisa mengendalikan tenaganya yang kelewat besar itu. Aku tahu, Abe tidak pernah merebut hak teman- temannya yang lain. Seperti menyerobot, memaksa meminjam barang atau meminta paksa makanan. Sebaliknya. Abe sering di perlakukan curang semacam itu.
Abe selalu marah. Wajahnya merah. Dia membentak makin keras bila lawan bicaranya terus melawan. Aku tahu, dia membela haknya. Terakhir, tangannya pasti meninju kepala lawan bicaranya. Tidak cukup sekali. Abe seringkali seperti kalap. Dia bakal memukuli kepala lawan bicaranya itu sampai puas.
Pipi Abe selalu basah tiap marah. Dia menangis. Hatinya lembut. Dia cuma membela haknya sunguh! Aku percaya Abe bukan anak nakal.
Guru sering menyeret paksa Abe waktu pukulannya mulai tidak terkendali.
“Dia tadi dorong aku!” Abe meronta sambil menjerit. Jeritannya selalu berupa pembelaan diri.
Guru berusaha mendamaikan Abe dan ‘lawan tandingnya’ sebijak mungkin. Abe sering di paksa untuk bersalaman dan saling meminta maaf. Abe mengulur tangan dengan napas yang di tarik dan di hempas keras. Dia kelihatan terluka. Dia seolah berkata,” Aku tidak nakal. Kenapa aku harus minta maaf?”
Di lain waktu. Aku memergoki Abe memukuli salah satu teman sekelasnya. Pipinya basah. Wajahnya merah. Rona wajahnya selalu sama.
“Mbak! Aku dipukuli Abe!” teman sekelas Abe berteriak pada aku. Buru- buru aku menarik Abe. Aku merangkul dia seerat mungkin. Abe lama- lama lemas. Dia menangis tanpa suara. Menangis tanpa suara bukan hal normal bagi anak seusia Abe. Itu tanda bahwa dia tidak bisa mengekspresikan apa yang ada dalam batinnya.
Aku berjongkok. Abe aku rangkul lebih erat. Air matanya makin banyak. Kali ini dengan mengeluarkan suara. Aku lega. Abe sudah bisa menangis dengan suara. Aku menunggui Abe sampai dia berhenti menangis.
Setelahnya aku panggil ‘lawan tanding’ Abe. Aku tanya kenapa Abe bisa memukuli dia seperti itu. Dia menjelaskan sesuai versinya. Abe tidak terima. Dia juga berusaha menjelaskan dengan versinya. Keduanya merasa tidak bersalah.
Aku berusaha menarik tangan Abe dan ‘lawan tandingnya’. Aku sedikit memaksa mereka bersalaman.
“Aku nggak nakal! Aku nggak mau minta maaf!” Abe ngeyel. Aku tersenyum. Aku bilang kalau semua kejadian cuma ketidak sengajaan. Abe dan ‘lawan tandingnya’ itu aku suruh bersalaman sebagai teman bukan untuk meminta maaf karena Abe anak nakal.
Setelahnya. Aku masih berkali- kali menemukan Abe yang memukul teman yang dia anggap mengambil haknya. Pukulannya tetap tidak terkendali. Setiap Abe melakukan hal tersebut, aku selalu manarik dan memeluk Abe seerat mungkin. Jujur saja, tenaga
Abe memang kelewat besar. Badan dan punggungku selalu sakit tiap berusaha menahan Abe. Aku melakukan semuanya tanpa teori. Aku cuma melihat bahwa Abe adalah anak yang memiliki ‘luka’. Dia butuh pelukan. Dia ingin di percaya. Aku tidak pernah memperkirakan bahwa suatu hari pelukanku yang semacam itu bakal memiliki imbas buat sikap Abe selanjutnya.
Aku sering mengatakan hal yang sama pada Abe tiap dia selesai marah. Aku bilang pada dia bahwa dia tidak perlu memukuli teman yang dia anggap mengganggu. Cukup dia melapor pada guru atau pada aku. Guru dan aku pasti menghukum siapa yang nakal.
Lama- lama Abe berani melakukan kontak mata padaku ketika dia mulai marah dan memukul tidak terkendali. Abe balik memeluk dan berhenti meronta. Dari matanya dia seperti percaya bahwa aku melindungi dia. Dia bukan anak nakal yang mesti di paksa minta maaf. Dia memukul karena punya sebab. Meskipun, memukul secara tidak terkendali semacam itu tidak pernah di benarkan. Abe bakal menerima akibat fatal apabila pukulannya sampai mengakibatkan luka pada tubuh ‘lawan tandingnya’. Dia bisa hancur. Semua orang bakal melabel dia sebagai anak nakal yang tidak terkendali.
Abe makin percaya padaku setiap harinya. Tiap dia merasa haknya di lukai oleh temannya yang lain, dia segera melapor pada aku atau pada guru. Guru atau aku berusaha menyelesaikan masalah sebijak mungkin. Abe meski begitu masih tetap seorang anak yang memiliki tenaga melebihi teman- temannya. Dia masih saja hampir tidak terkendali waktu meninju. Wajahnya mulai merah, pipinya mulai basah, bedanya, dia mencari aku. Dia menangis sambil memeluk aku. Semua tenaga yang bakal dia gunkan untuk meninju sekuat mungkin seperti dia tahan. Dia terus begitu sampai masa akhir PSG. Bahkan lama- lama Abe yang menahan marah bisa datang memelukku dengan wajah yang tenang tanpa air mata. Abe seperti senang. Dia di percaya bukan sebagai anak nakal. Dia cuma membela haknya. Dia juga seperti merasa bahwa ada orang yang melindungi dia membela haknya, dia tidak perlu lagi meninju teman yang menurutnya berlaku jahat.
Menjelaskan pada Abe bahwa dia memiliki tenaga berlebih yang bisa membahayakan temannya memang terlalu rumit. Aku tidak pernah berminat menejelaskannya. Pelukan kelihatannya sudah cukup membuat Abe mengendalikan tenaganya yang sangat berlebih itu ketika marah.
Mama Abe selalu simpatik waktu melihat aku. Kami hanya bertemu ketika Abe di antar atau di jemput dari luar gerbang. Aku tidak tahu Abe bercerita apa soal aku pada Mamanya.  Suatu ketika Mama Abe berkata,” Abe sudah saya larang pakai sabuk Ultraman kesayangannya. Saya bilang nanti kalau pipis, dia susah pasang sabuknya lagi. Abe ngeyel. Dia bilang di sekolah ada Mbak Poppy. Sabuknya bisa di pasang sama Mbak Poppy,” mataku berkaca- kaca. Abe memandang sabuk itu sebagai hartanya, dan dia memercayakannya juga pada aku.
Hanya sebuah pelukan. Pelukan yang ajaib. Sama ajaibnya dengan Mbak Zizi, guruku mengaji yang mentolerir sikapku yang suka mengabaikan tugas dan keterangannya. Aku selalu sibuk menggambar. Banyak ide berkelebat. Aku susah berbicara pada orang lain soal ide-ideku. Menggambar seperti temanku bicara. Mbak
Zizi tidak pernah marah. Aku mulai tertarik mendengarkan Mbak Zizi ketika dia membuat sebuah permainan yang membutuhkan kebisaanku menggambar. Timku sering menang apabila aku ada di dalamnya. Aku merasa berharga! Aku percaya mbak Zizi menganggap kesukaanku menggambar punya harga. Seperti Abe pada aku, dia percaya aku tidak menggapnya anak nakal.
Semua anak ingin memiliki harga!
Astaga! Ternyata praktek di TK bisa sekeren ini!

Nb: Berdasarkan kisah nyata selama PSG di TK. Abe bukan nama sebenarnya.

Tuesday, August 12, 2014

“Kamerad VS Dear” Bagian Bahasa Atau Ideologi?

Kata Dear akrab dalam penggunaan surat atau pun ucapan tertulis lainnya di Indonesia. Dear biasa di tuliskan sebelum nama tertuju. Kata tersebut dijadikan kata ganti ‘yang terhormat’, ‘kawan’, ‘teman’, atau juga ‘yang tersayang’.
Bagaimana dengan Kamerad?. Jauh berbeda dengan Dear. Menggunakan mesin pencari seperti google yang berbahasa Indonesia. Kamerad di artikan sebagai sapaan ala komunis atau ejekan seseorang yang anti komunis terhadap komunis.
Berbanding lurus dengan makna Kamerad dalam mesin pencari google yang berbahasa Indonesia. Banyak orang Indonesia yang begitu takut dan buru- buru memberi stigma komunis kepada orang yang berani menuliskan kata Kamerad baik dalam tulisan tangan maupun media sosial. Benarkah Kamerad merupakan bagian dari ideologi komunis?.
Dalam buku ‘An Unknown Message From Chinnese Mother’ Xinran, seorang penyiar Radio, wartawati dan penulis kebangsaan Cina yang lahir di Beijing pada tahun 1958 menceritakan salah satu kisah wanita Cina yang kehilangan putrinya melalui sebuah surat yang di kirim pada stasiun radio.
Xinran membacakan surat tersebut secara langsung dalam siaran. Ia menuliskan dalam bukunya bahwa begitu kagetnya ketika membacakan surat tersebut karena ternyata kata pembuka dibuka dengan ‘Dear’ sebelum menyebut nama Xinran sebagai tertuju. Padahal, sapaan pembuka yang jamak di pakai disana adalah Kamerad sebelum menulis nama tertuju. Setelah membacakan keseluruhan isi surat barulah terungkap bahwa si penulis memang sempat mengenyam pendidikan di negara barat.
Terbalik dengan keadaan di Indonesia. Perang pengaruh antara blok barat dan blok timur di menangkan oleh blok timur di Cina. Kebarat- baratan di anggap terlarang di Cina. Kata Dear termasuk bagian dari bahasa yang di anggap ideologi barat.

          Dear maupun Kamerad sesungguhnya adalah bagian dari bahasa yang tersangkut dalam proses penyebaran ideologi. Keduanya adalah bahasa. Bahasa merupakan proses terbentuknya kebudayaan yang sudah ada jauh sebelum ideologi- ideologi bermunculan. Masihkan menganggap salah satunya terlarang?.

Undangan Pesta Tasya

Waow.. kali pertama bikin cerpen anak nih! semoga berkenan!


“Mita. Kamu datang ya ke acara ulang tahunku ,” dengan suara berbisik, Tasya memberikan sebuah undangan berbentuk kelinci di bawah bangku.
“Ya. Terimakasih ,” Mita tersenyum dengan tangan kanan menerima undangan. Dalam
hati ia bertanya mengapa Tasya berbisik- bisik. Bukankah undangan ulang tahun adalah kabar gembira yang harus di umumkan dengan suara keras dan gembira?.
***
“Tasya kita belikan kado apa Mit? ,” Mama bertanya pada Mita yang sibuk menonton televisi.
“Terserah Mama saja ,” Mita menjawab sambil tangannya sibuk memencet remote televisi.
“Tasya itu teman kamu. Dia mengundang kamu karena senang bila kamu datang apalagi membawa kado istimewa ,” Mama mengelus kepala Mita.
“Baiklah Ma. Temani Mita ke toko buku sore ini. Mita akan membeli satu buku sebagai hadiah untuk Tasya ,”
“Siap ibu Ratu ,” Mama menjulurkan lidah sambil mencubit pipi Mita.
***
Pesta ulang tahun dilaksanakan di sebuah restoran mewah. Sepanjang pesta ulang tahun Mita cuma cemberut. Pulang dari pesta, ia langsung masuk ke kamar dan menutup pintu.
“Mita kenapa? Sepanjang pesta cuma cemberut tadi ,” Mama mengelus kepala Mita.
“Mita sebal Ma!. Tiga teman sekelas Mita yang berasal dari panti asuhan tidak ada di pesta itu. Mungkin mereka tidak diundang oleh Tasya ,” mata Mita berkaca- kaca.
“Bukan tidak di undang. Tapi mungkin mereka bertiga tidak boleh hadir oleh ibu
panti karena mereka tidak ada yang mengantar. Kalau Mita belum lega, coba tanya pada mereka bertiga kenapa tidak datang di pesta ulang tahun Tasya ,”
Mita mengangguk.
***
Jam istirahat. Mita menghampiri Vina. Vina adalah salah satu dari tiga anak panti asuhan yang sekelas dengannya.
“Vina. Kenapa Vina, Kiki dan Dini tidak datang ke pesta ulang tahun Tasya kemarin? ,” tanya Mita.
“Pesta ulang tahun apa?. Kami tidak dapat undangan ,” jawab Vina.
“Kemarin Tasya berulang tahun di rumah makan mewah. Semua teman sekelas datang kecuali kalian bertiga ,”
“Kami benar- benar tidak dapat undangan. Coba tanya Kiki dan Dini kalau kamu tidak percaya ,” mata Vina berkaca- kaca.
Mita menghapiri Kiki dan Dini dan bertanya mengapa mereka tidak datang ke pesta ulang tahun Tasya. Kiki dan Dini pun mengatakan bahwa mereka juga tidak mendapat undangan. Kiki dan Dini kelihatan sangat sedih.
Itulah sebabnya kenapa Tasya memberikan kartu undangan ulang tahunnya di bawah meja sambil berbisik- bisik. Tasya rupanya tidak ingin tiga teman sekelas mereka yang berasal dari panti asuhan tahu bahwa ia akan mengadakan pesta, pikir Mita.
***
Pulang sekolah Mita langsung memeluk Mama. Mita menangis keras sekali.
“Mita kenapa? ,” mama bertanya.
“Vina, Kiki dan Dini memang tidak di undang oleh Tasya. Mereka kelihatan sedih sekali ,” jawab Mita.
Dahi Mama mengernyit.
“Tidak boleh begitu. Seharusnya semua teman sekelas di undang tidak perduli mereka kaya atau pun berasal dari panti asuhan ,”
“Kasihan sekali Vina, Kiki dan Dini kelihatan sangat sedih ,” tangisan Mita mulai reda.
“Mita berulang tahun bulan depan. Bagaimana kalau kamu mengundang semua teman sekelas dan juga ketiga teman sekelasmu yang berasal dari panti asuhan itu? ,” Mama memberi usul sambil mengelus kepala Mita.
“Iya Ma. Mita akan undang semua teman sekelas termasuk tiga teman sekelas yang berasal dari panti asuhan. Mita akan menabung mulai sekarang untuk membeli kue- kue pesta ulang tahun nanti ,” kata Mita bertekat.


TAMAT

Thursday, July 3, 2014

Nyaru


“Mereka di telanjangi ,”
“Di telanjangi? ,” kata di telanjangi begitu di tekan di lidahnya.
“Ya. Mereka amat malu. Dua tangan mereka berusaha menutup tubuh masing- masing tapi… ,”
***
Dua kakiku jongkok di atas nisan. Kilat putih tanpa suara berulang kali menusuki mataku.
Lalu lalang orang bawa kamera. Bibir mereka membentuk bulan sabit. Gigi mereka di pajang menampar angin. Kilat putih datang tiap beberapa detik. Menerpa muka mereka. Tangan mereka memeluk nisan. Erat. Badanku bergoyang.
Aku terkikik. Kantung mataku penuh dengan air.
***
“Tapi apa? ,” matanya menyipit. Pundakku di remas.
“Percuma. Dua tangan itu sebesar tanganmu. Cukupkah untuk menutup badan? ,”
***
Jari tangan wanita berambut hitam kemerahan merambat pelan di gundukan tanah. Kepalanya menoleh ke kanan. Ke wajah seorang wanita. Tambun. Kulit seluruh badannya berkerut. Kepalanya mengangguk meyakinkan.
“Cepat.. ,” wanita tambun berbisik sepelan dan sejelas mungkin. Tas berenda emas miliknya buru- buru di buka.
Beberapa kembang bercampur tanah buru- buru diraih wanita berambut hitam kemerahan dengan tangan kanannya. Genggamanya penuh. Tangannya masuk ke dalam tas
berenda emas si wanita tambun. Setelah keluar. Tangannya kosong.
Dua kakiku jongkok di atas nisan. Aku terkikik. Kantung mataku penuh dengan air.
***
“Dua tanganku?. Kenapa tanganku?. Bukankah kamu juga punya dua tangan yang sama? ,” telunjuknya menyentuh punggung tangan kiriku.
Aku terkikik.
“Aku ini cuma nyaru Nak.. ”
“Pipi ini ” aku menarik tangannya ke pipiku.
          Pipiku putih. Merah merona.
“Muka ini ” aku menarik tangannya biar merabai seluruh mukaku.
          Alisku tebal. Mataku biru. Bening. Kulitku halus. Bibirku merah. Tipis.
“Cuma nyaru Nak.. ,” kulepas tangannya.
“Nak?. Apa- apaan. Usiamu barangkali terpaut dua tahun lebih tua daripada aku. Dan.. ,”
***
Asma Tuhan bersahutan dari lain bibir. Masuk kuping kananku. Keluar kuping kiriku. Mereka yang memakai jubah putih.
Di bibir nama Tuhan di sebut. Dalam hati doa di ucap. Mata mereka tertuju pada
nisan sekalian gundukan tanah. Bayang si penghuni gundukan tanah berkelebat. Pikir mereka, si penghuni gundukan tanah bisa jadi perpanjangan tangan Tuhan Kabul doa mereka.
Dua kakiku jongkok di atas nisan. Aku terkikik. Kantung mataku penuh dengan air.
***
“..Nyaru itu apa? ,” dia melanjutkan ucapannya.
“Nyaru itu meniru ,” bulu abu- abu keluar dari permukaan telapak tanganku.
“Aku tidak mengerti. Lalu. Apa pula yang terjadi pada dua orang telanjang itu? ,”
“Bongkahan buah terlarang yang di lahap si lelaki bertahan di lehernya. Jadi benjolan ” bulu abu- abu merambat ke lenganku.
“Sedangkan pada si wanita. Bongkahan buah itu terpecah dua dan bertahan di dada ,” bulu abu- abu merambat ke leherku.
Gadis ini. Terlalu lekat dia menatap tutur bibirku.
***
Merah jambu warna ransel itu. Gadis berambut sebahu menggendongnya di belakang punggung.
Matanya menyapu tandas muka- muka di sekeliling nisan dan gundukan tanah. Bunga- bunga di atas gundukan di raih banyak tangan sekalian serpihan tanahnya.
“Apa yang mereka kejar? ,” bisik si gadis.
***
“Mereka di turunkan dari surga ” bulu abu- abu sudah merambat ke pipiku.
“Kami sebelumnya sudah bersumpah bakal goda anak cucu lelaki dan wanita itu sesaat setelah si lelaki diciptakan Tuhan ”
Bola mata gadis ini mendadak seperti pecah. Matanya mulai di gulir ke pipi, leher,
lengan dan telapak tanganku.
“Apa ini? ,” ujung telunjuk kanannya menyentuh pipi kiriku. Penuh bulu.
“Ini namanya nyaru Nak ,” aku tersenyum. Pundakku meninggi. Bulu abu- abu hilang. Berganti kulit sawo matang yang mulai menyelimuti seluruh badanku.
***
Bola mata si gadis di gulir. Lagi. Dilihatnya belasan orang berjubah putih menyebut- nyebut asma Tuhan. Tapi. Mata mereka menatap lekat nisan dan gundukan tanah. Seperti jadi kiblat mereka.
“Apa yang mereka cari? ,” si gadis berbisik.
***
“Masihkah kamu tidak paham nak? ,” sebuah peci hitam menyembul di kepalaku.
Gadis ini menggeleng. Bola matanya kelihatan makin pecah. Digulir bola matanya ke atas kepalaku. Pada peci hitamku.
“Aku ini sudah memijakkan kaki disini jauh sebelum kamu. Puluhan ribu tahun lalu ,” badanku melebar. Pundakku menebal.
***
“Janggi!. Sedang apa kamu?! ,” jongkok kedua kakiku di atas nisan. Kuteriaki sosok kurus berkepala pelontos yang memasukkan banyak sekali kembang dalam tas merah jambu si gadis tanpa membukanya.
Janggi. Satu jarinya didepan bibir. Tanda aku di kehendaki dia buat diam.
***
Sepatu hitam menutup dua kakiku. Hem coklat menutup badanku.
“Ka.. kau.. ,” gadis ini sedikit bergidik. Ya. Cuma sedikit.
***
Kilat tanpa suara datang tiap beberapa detik. Bibir mereka membentuk bulan sabit. Gigi mereka di pajang menampar angin. Tangan mereka memeluk nisan.
“Apa yang mereka cari? ,” bisik si gadis.
***
Wajah salah seorang pahlawan nasional berkelebat dalam batok kepala gadis ini.
“Wajahmu sama seperti Kapten.... ,” gidikan dalam diri gadis ini menghilang pelan- pelan.
Mukaku melebar. Keriput.
***
Dibukanya tas merah jambu itu untuk mengambil sebuah botol. Kaget. Timbunan bunga menyambut telapak tangannya. Segera gadis itu berlari ke sudut kamar mandi. Sepi. Dikeluarkan timbunan bunga itu segenggam- segenggam.
Tersenyum aku. Badanku bening. Merah api. Kulit putih pucat membungkus nyala api di badan dan mukaku. Cekungan berdarah di lubang mata diganti bola bening warna biru.
Kutepuk pundak si gadis. Dia. Kaget.
***
“Ini namanya nyaru , ” muncul tongkat penyangga di tangan kiriku. Punggungku makin tebal. Sedikit bungkuk.
“Kamu bisa berubah jadi siapa saja? ,”
“Ya ,”
“Kamu ada hubungannya dengan kembang- kembang yang ada dalam tas ranselku? ,”
“Tidak. Itu kelakuan temanku, Janggi. Dia sebal karena kamu tidak sama seperti kebanyakan mereka yang datang ke tempat ini ,”
“Ya. Memang ,”
“Janggi mau merapuhkan keyakinanmu soal Tuhan ,”
“Dia temanmu. Kenapa kamu bilang begitu padaku?. Apa kamu berbeda? ,”
Pundak kiri dan kanan kuangkat keatas. Berbarengan.
“Mana aku tahu. Janggi harap kamu jadi percaya bahwa mahluk seperti kami bisa berbuat banyak melebihi Tuhan. Berhati- hatilah ,” aku bangkit dari bangku kayu depan kamar mandi.
Gadis ini. Diam dia. Sampai punggungku hilang di sudut kamar mandi.
Berjalan aku di sangga tongkat. Kurapatkan badanku pada mereka yang memeluk nisan. Muka mereka di sapu kilat tanpa suara tiap beberapa detik.
“Hey! Ada siluet serupa Kapten X di gambar ini! ,” pemuda berkaos merah menarik lengan beberapa temannya.
Dia. Pemuda itu. Menyebut nama penghuni gundukan tanah yang di tancap nisan.
Itu aku. Sungguh. Aku nyaru.
“Kamu ,” suara gadis berambut sebahu menggendong ransel merah jambu menggigiti kupingku.
Digiring aku menepi dari lalu lintas manusia.
“Terimakasih. Kamu berkata jujur dan memperingatkan aku supaya hati- hati dengan sesamamu yang hendak membuat aku merasa ada yang sekuat Tuhan ,”
“Ya. Bukan masalah. Kita sama- sama mahluk Tuhan bukan? ,” tersenyum tipis aku.
“Kamu jujur. Bisa kamu lihat masa depanku? ,”
“Oh. Tentu ,”
Kena kau. Sudah sumpah aku menyesatkan kamu. Sebangsamu. Dengan cara apapun.
TAMAT