Monday, June 12, 2017

La Viva Peminisem

“Perempuan juga berhak berdiskusi, jadi pemimpin. Bukan masalah pulang malam, demi diskusi dan jaringan. Tiada beda dengan lelaki,” kata Sonja.

Kemudian, petir dan hujan turun.

“Eh… itu hujan deras sekali. Kau saja yang keluar kampus buat fotokopi. Kau kan lelaki. Lebih tahan kena hujan.” Lanjut Sonja.

Wednesday, June 7, 2017

Flat 506


Sumber: Gugel

Alasan saya tinggal satu flat dengan dua orang lainnya, bukan karena agar kami bebas berdiskusi dan bertukar pemikiran, itu kelewat idealis. Kami satu flat, hanya untuk menghemat biaya hidup di kota besar ini. Dua ruang kamar, satu kamar mandi dan dapur, masih ditambah ruang sempit depan kamar yang bisa berfungsi sebagai ruang tamu.

Sonja, satu-satunya perempuan dalam flat ini. Dia memiliki ruang kamar sendiri. Dia gemar berdoa. Berdoa dari tuntunan agama apa saja. Dia juga gemar nyeletuk kata-kata baik seputaran Tuhan. Lagi-lagi masih berasal dari agama mana saja. Rambutnya diwarnai kekuningan dan dia lebih sering mengenakan rok, ketimbang jenis bawahan lain seperti celana jeans.

“Nja… kamu selalu pakai rok itu kenapa, sih? Tidak mau menyerupai lelaki? Biar bisa mencium bau surga? Kok kedengaran seperti tuntunan agama tertentu, ya? Bukannya kamu tidak mau terikat pada satu aturan agama tertentu?” goda saya satu waktu.

“Memang betul, apa yang saya lakukan, bisa dibilang tuntunan agama tertentu. Tapi ingat, saya tidak mau menuruti suatu tuntunan beragama tanpa rasionalisasi. Organ vital perempuan itu rumit, Set. Pikir kamu, apa jadinya jika organ vital itu menerus ditekan dengan bawahan ketat?” balas Sonja.

Maka kami tergelak. Kami paham, kami tidak akan pernah saling menyepakati dan juga tidak akan pernah memaksakan keyakinan masing-masing. Bagi saya, identitas beragama mesti jelas dan kita mesti total mengikuti satu tuntunannya. Tidak semua mesti dirasionalisasi. Saya berdoa, agar Sonja selamat dari kesombongan rasio.

Beda dengan Sonja, teman saya satu kamar dalam flat justru tidak pernah terlihat gemar berdoa atau menyebut nama Tuhan. Namanya Sudjono. Sudjono ini sangat kuat membikin rasionalisasi, hampir mirip dengan Sonja. Hebatnya, Sudjono adalah yang paling aktif di dunia sosial di antara kami semua, saya akui itu. Tiap sore, dia mengajar bahasa gratis di taman kota.

“Kenapa kamu gemar berbuat baik, Djon? Saya yakin, ini bukan soal kamu ingin masuk surga. Namun, bukankah berbuat baik itu identik dengan tuntunan agama? Bukannya kamu tidak percaya dengan semua itu?” goda saya satu waktu.

“Saya percaya timbal balik, Set. Bagi saya, timbal balik itu alasan paling rasional untuk saya berbuat baik. Yakin saya, jika saya berbuat baik, alam akan juga memerlakukan saya baik. Saya lakukan ini karena saya betul percaya pada timbal balik.” Balas Sudjono.

Maka kami tergelak. Kami paham, kami tidak akan pernah saling menyepakati dan juga tidak akan pernah memaksakan keyakinan masing-masing. Bagi saya, agama adalah pegangan hidup terbaik. Saya hanya berdoa, agar di akhirat kelak Sudjono bakal selamat dari siksa api neraka.

Selanjutnya, kami semua makan bersama dalam flat…

Analogi Pencitraan VS Branding


Sumber: Gugel


Pencitraan
Agni bilang, dirinya menyukai buku. Di sosial media, dia tuliskan status dan biodata soal bagaimana dirinya mencintai buku. Foto-foto buku bertema berat bertebaran di sosial medianya, seolah bahan bacaannya. Padahal sering dirinya tidak sungguh membaca buku-buku tersebut. Buku-buku itu dibacanya seperempat, kemudian buru-buru ia menyimpulkan dengan membikin status. 
 
Sumber: Gugel
Branding
Agni bilang, dirinya menyukai buku. Di sosial media, dia tuliskan status dan biodata soal bagaimana dirinya mencintai buku. Foto-foto buku bertema berat bertebaran di sosial medianya, sebagai bahan bacaannya. Buku-buku tersebut, betul-betul dirinya baca hingga tuntas, baru ia bikin status kesimpulan dari buku-buku itu di sosial media.

Friday, June 2, 2017

Analogi Intuisi VS Insting




I
Api


Intuisi

Begini…
Agni belum mengetahui, bahwa api itu panas. Kemudian, Agni menyentuh api. Agni menjerit karena telapak tangannya terbakar. Semenjak saat itu, Agni mengetahui bahwa api itu panas dan tidak layak dipegang secara langsung dengan telapak tangan. Agni tidak lagi mau menyentuh api dengan telapak tangannya.
Ketika ada orang lain, hendak menyentuh api dengan telapak tangannya, Agni berkata,”Jangan! Tanganku pernah terbakar oleh api itu!”
Dan orang lain yang dilarang Agni menyentuh api, menyahut,”Oke, aku tidak akan menyentuh api itu. Semua karena tanganmu terbukti pernah terbakar olehnya.”

Insting

Begini…
Agni tiba-tiba tahu, bahwa api itu panas. Padahal, dirinya tidak pernah menyentuh api. Ketika ada orang lain hendak menyentuh api dengan telapak tangan, Agni berkata,”Jangan! Api itu bisa membakar tanganmu!”
Orang yang dilarang Agni menyentuh api itu menjawab,”Bagaimana kamu tahu api bisa membakar tanganku? Toh, tanganmu belum pernah terbakar olehnya, bukan?”
Selanjutnya, orang tersebut betul-betul menyentuh api dengan telapak tangannya. Kemudian, telapak tangannya itu terbakar. Semenjak saat itu, Agni makin yakin bahwa api memang panas.


II
Sekam dan Api


Intuisi

Begini…
Agni belum mengetahui, bahwa dalam sekam bisa jadi ada api. Sepanjang pengetahuannya, hanya api yang bisa membakar tangannya, bukan sekam. Kemudian, Agni menimbun tangannya dalam sekam. Agni menjerit, telapak tangannya terbakar. Semenjak saat itu, Agni mengetahui bahwa di dalam sekam ternyata ada api dan sekam tidak layak dipegang secara langsung dengan telapak tangan. Agni tidak lagi mau menyentuh sekam dengan telapak tangannya.
Ketika ada orang lain, hendak menyentuh sekam dengan telapak tangannya, Agni berkata,”Jangan! Dalam sekam itu ada api dan tanganku pernah terbakar olehnya!”
Dan orang lain yang dilarang Agni menyentuh api, menyahut,”Oke, aku tidak akan menyentuh sekam itu, bisa jadi di dalamnya memang ada api. Semua karena tanganmu terbukti pernah terbakar olehnya.”

Insting

Begini…
Agni tiba-tiba tahu, bahwa di dalam sekam ternyata ada api yang bisa membakar telapak tangannya. Padahal, dirinya tidak pernah menyentuh sekam. Ketika ada orang lain hendak menyentuh sekam dengan telapak tangan, Agni berkata,”Jangan! Dalam sekam itu bisa jadi ada api. Itu bisa membakar tanganmu!”
Orang yang dilarang Agni menyentuh sekam itu menjawab,”Bagaimana kamu tahu ada api dalam sekam, yang bisa membakar tanganku? Toh, tanganmu belum pernah terbakar olehnya, bukan?”
Selanjutnya, orang tersebut betul-betul menyentuh sekam dengan telapak tangannya. Kemudian, telapak tangannya itu terbakar oleh api. Semenjak saat itu, Agni makin yakin bahwa dalam sekam memang ada api yang bisa membakar telapak tangan.