Friday, April 21, 2017

Dulu Nggak Kenal, Sekarang Kok Minta Hutang?


Pernah saat awal kuliah, kakak tingkat saya beda jurusan tiba-tiba menghubungi saya. Dengan tulisan yang nampak buru-buru dikirimkan melalui SMS, dia bilang begini,”Pop… aku bisa pinjam uang? Ini aku di ATM uangku nggak bisa diambil. Rumah kamu di mana? Bisa ketemu?”
Langsung saja saya ingat, bagaimana sikap mbak tersebut pada saya saat kami satu SMK. Dia termasuk kakak tingkat yang memandang remeh saya. Saya merasa kasih sayang mbak tersebut timpang. Bahkan, saya pernah dihakimi tidak bakal mampu praktek kerja di sebuah lembaga yang dianggap pretisus, yang menangani anak nakal dan kabarnya sulit ditangani.
Saat ospek pun, si mbak tersebut termasuk jajaran kakak-kakak yang berakting galak. Tidak ada bekas-bekas bahwa kami pernah satu sekolah, bahkan satu jurusan. Lho… lha kok tiba-tiba sekarang jadi kenal sekali dengan saya ya? Bahkan tahu nomor saya. Soal nomor, mungkin dari data BEM sih. Mengingat mbak tersebut kabarnya pentolan himpunan jurusan, meski kami beda jurusan.
“Samean pinjam anak Peksos[1] yang lain gimana, Mbak? Rumah samean di mana?” jawab saya lewat SMS.
“Rumahku di Suhat[2]…”
Saya langsung ingat salah satu teman seangkatan saya yang dulu cukup ‘dianggap’ oleh si mbak tersebut. Saya berikan nomor dia padanya dan saya sebutkan juga, jika rumah si teman tadi dekat Suhat.
Si mbak Cetar, sebut saja Cetar gitu ya? Soalnya kan jaman sekolah dia juga eksis jadi ketua MPK yang setara Osis itu. Nah… belakangan si mbak Cetar saya dengar dari Wiwin, teman saya satu SMK dan satu kampus, tenyata sudah melukai banyak orang perkara uang.
Bahkan, Iin teman saya SMK yang sekarang kuliah di UMM kabarnya sudah mengeluarkan banyak uang buat si mbak Cetar. Iin barangkali memandang mbak Cetar dari luar. Sejak SMK, mbak Cetar sangat menghargai keberadaan Iin. Jelas saja, karena Iin kelihatan lebih bertalenta karena suaranya yang lantang dan geraknya yang cepat. Beda dengan saya yang cenderung woles dan pastinya nampak jauh lebih tidak berbakat.
Cerita selanjutnya, Wiwin ternyata juga meminjamkan uang sebesar sepuluh ribu pada mbak Cetar. Wiwin merasa ganjil setelahnya dan menunggu. Ternyata betul, uang yang barangkali dianggap tidak seberapa itu tidak kunjung kembali. Wiwin sengaja mengejar mbak Cetar hingga uangnya kembali. Dia kemudian membuktikan bagaimana karakter buruk mbak cetar perkara uang. Dan lagi, ternyata di fakultas bukan cuma Wiwin yang disandung masalah hutang oleh mbak Cetar, bahkan jumlah uangnya jauh lebih besar.
Ketika saya mengobrol dengan mbak Via, sebut saja Via ya. Mbak Via juga mengamini karakter buruk mbak Cetar. Mbak Via juga siswa yang aktif waktu SMK, sering kami menganggap mbak Cetar adalah sahabat baik mbak Via karena mereka sering beraktivitas bersama. Beda dengan mbak Cetar, mbak Via menghargai semua adik-adiknya, termasuk saya yang nampak lemah dan tidak bertalenta. Tatapan mata mbak Via hangat pada siapa saja. Tidak ada tatapan merendahakan pada orang tertentu seperti mbak Cetar.
Jadi, buat teman-teman… jika ada temanmu tiba-tiba meminta hutang uang, pakai feelingmu buat menentukan apakah dia pantas diberikan bantuan atau tidak. Ingat-ingat rekam jejaknya. Kalau kamu ingat dia hanya muncul ketika butuh, sebaiknya kamu pikir-pikir buat memberi bantuan. Jangan-jangan dia seperti mbak Cetar yang sudah melukai banyak orang, hingga orang yang dulu kurang dikenalnya pun, jadi sasarannya karena tidak ada lagi orang lain. Mencurigakan kan?




[1] Jurusan saya di SMK, Pekerja Sosial atau Peksos
[2] Daerah Soekarno Hatta di Malang, sering disingkat Suhat

3 comments:

putri sion said...

Ngakak.. 10 ewu karo wiwin ditagih..ckxkckckck

Poppy Trisnayanti Puspitasari said...

Hahhaa... memang haknya dia, Put... Bukan dari nominalnya, tapi Wiwin udah ngasih pelajaran ke mbak itu kalau ada juga yang gigih nagih haknya.

Anonymous said...

udah make feeling tapi masih tetep keplincuk thor. ujung-ujungnya dipinjemin jugaa