Monday, May 13, 2019

Pilih



Sumber: Gugel

“Kamu bisa lihat yang nggak dillihat orang.”

“Dan kamu pun…”

“Makanya, waktu SD saya nggak punya teman.”

“Teman saya banyak waktu SD.”

“Saya dicap bodoh dan pemalas waktu SD.”

“Saya dicap sangat pintar dan rapi waktu SD.”

“Pikir saya, semua orang melihat apa yang saya lihat. Waktu usia 22, baru saya tahu ternyata saya lihat yang nggak dilihat orang.”

“Sejak SD saya tahu apa yang saya lihat nggak dilihat orang lain. Hingga saat itu dan kini, saya melatih diri.”

“Tapi saya menerima ini. Saya jadi tahu, manusia baik masih banyak…”

“Saya pun menerimanya. Saya jadi tahu, manusia nggak layak dapat kepercayaan sedikit pun.”

Thursday, May 2, 2019

Cantikmu Butuh Konfirmasi?

Sumber: Gugel

Teman saya Nova bercerita, ada gadis yang satu pondok dengannya gemar mengonfirmasi kecantikan. Gadis itu 24 tahun dan hampir setiap hari berkata,”Aku gemukan.” Atau “Kok kulitku kelihatan kerutannya ya?” dan sebagian teman sekitar mereka berlaku sangat baik dengan menanggapi begini,”Mbak nggak gemukan kok.” Atau “Nggak kerut kok.”

Nova melanjutkan cerita, kabarnya temannya itu pernah ditinggal menikah oleh sang mantan. Terlalu naif untuk menyimpulkan sebabnya sibuk mencari konfirmasi kecantikan adalah lukanya yang satu ini. Tapi yang jelas, konfirmasi demikian sesungguhnya tidak sehat dan pelakunya butuh disembuhkan.

Kasus teman Nova, barangkali hampir serupa dengan gadis yang satu ini. Kalem, manis, cerdas dan ambisius. Kata terakhir mungkin tidak akan disetujui banyak orang yang mengenal Sruti, soalnya kata ini memang kontradiktif dengan kalem yang ada di awal kalimat. Tapi ambisius, sesungguhnya tidak sebegitu negatif juga. Sruti ambisius dalam arti berkeinginan kuat.

Saya mengenal Sruti ketika awal bergabung dengan sebuah komunitas lintas iman. Saya 23 akhir, dia 19. Dari caranya menanggapi argumen hingga berkenalan dengan orang lain, terlihat sifatnya yang tegas pula. Pikir saya, Sruti hebat. Ketika 19, saya masih berkutat di dalam kampus dan jauh dari mengenal komunitas luar. Tapi semua berubah ketika saya mendapati gadis baik itu melirik sangat benci ketika saya memoles lipstik. Saya tidak menoleh pada dia sama sekali pada mulanya, tapi tatapan yang betul-betul dilakukan sepenuh hati akan membuat siapapun yang ditatap itu merasa, begitu pula Sruti kepada saya.

Dalam pikiran saya waktu itu, Sruti merasa lebih baik karena cantik tanpa polesan. Semenjak saat itu, saya putuskan merentang jarak saja ketimbang saling luka. Saya memberinya cap sindrom ratu lebah hingga lupa, saya pernah 19 dan juga pernah merasa lebih baik dari mereka yang produk perawatannya lebih detail.

Saya awal 23 waktu Raisa, teman beda fakultas mengunggah beberapa produk pembersih wajahnya di story Instagram. Bagi saya, produk tersebut rumit dan muncul perasaan lebih baik karena untuk membersihkan wajah, saya hanya butuh satu produk. Saya belum memahami kebutuhan kulit tiap orang berbeda. Pemahaman saya hanya sampai pada; saya simpel dan kamu rumit.

Namun semakin saya berkumpul dengan Raisa, Yasmin dan banyak teman-teman yang lain. Saya jadi memahami, kebutuhan setiap orang berbeda dan apa yang orang senangi pun berbeda. Kedua teman saya ini sudah pada taraf jago make up, ketika saya baru bisa meratakan blush on. Keduanya juga aktif di komunitas Resister Indonesia, sama-sama pembaca buku berat dan produktif menulis juga membantu orang lain. Jadi, jika ada yang bilang hobi make up menghabiskan waktu, saya pastikan itu sama sekali salah. Yasmin dan Raisa sama produktif dengan mereka yang tidak hobi make up dan barangkali malah lebih.

Dari Yasmin dan Raisa yang hobi make up saya tahu, mereka justru jago mengatur waktu. Raisa misalnya, ketika kami keluar bersama akan bertanya pukul berapa saya menjemput. Dia nyaman memakai baju yang stylish dan make up yang apik, tapi dia juga tidak mau orang lain menunggu. Jadi sebelum jam penjemputan, dia akan memilih baju dan bermake up.

Saya sendiri tumbuh sebagai remaja yang jauh dari rasa percaya diri. Inginnya dibilang cantik tapi saya merasa jauh dari itu. Kulit saya yang standar industri baru saya sadari di usia 20 tahun. Dan berapa banyak orang yang sampai mengorbankan kenyamannya demi kulit jenis ini? Sedang saya justru secara genetik mendapat kulit jenis ini, yang mudah sembuh ketika luka dan untuk terlihat segar hanya perlu satu produk sabun wajah. Dulunya, saya hanya berfokus pada rambut yang kata orang berantakan dan tidak cantik. Ibu saya tidak pernah memuji dan lebih sering marah-marah saja ketika saya merasa minder atau terlihat memiliki rambut yang tidak rapi. Tidak pernah ada solusi saya mesti mengenakan apa dan menata rambut bagaimana. Ibu juga sering membandingkan saya dengan remaja sebaya yang sudah mengerti harus bagaimana dalam berpenampilan. Maka saya makin merasa buruk. Padahal saya betul-betul belum memiliki ketertarikan menata penampilan di masa itu, apalagi harus memutuskan sepantasnya bagaimana. Perkembangan tiap orang bukannya memang berbeda?

Menelusuri luka saya sendiri, membuat saya juga meyakini Sruti mestinya punya luka serupa. Bagaimana ia memilih hanya mengenakan bedak tabur dan tidak memoles apapun di bibir adalah pilihannya. Bagaimana saya memilih tidak memakai bedak dan menggemari lipstik adalah pilihan saya. Meski memutuskan menjaga jarak, ternyata saya masih juga penasaran dengan gadis yang sehari-hari tinggal di pondok ini. Apalagi menurut seorang teman yang lain lagi, selain kuliah dan pondok mulanya tidak ada kegiatan lain yang diikuti Sruti. Keikutsertaannya di komunitas lintas iman ternyata berkat ajakan seorang temannya yang pernah satu pondok juga. Pikir saya, jangan-jangan lirikan bencinya ketika kami kali pertama kenal itu perasaan saya sendiri, termasuk kerapuhannya soal kecantikan. Ada rasa penasaran tentang bagaimana jadi temannya tanpa saling luka. Maka saya coba mengajaknya pergi bersama di suatu acara tahun lalu. Namun di sana, saya justru makin mendapat konfirmasi bahwa Sruti memang gadis yang luka.

Di dalam mini bus yang kami naiki bersama peserta lainnya, Sruti yang duduk di kanan saya berucap bahwa dia tidak telaten menggunakan kosmetik atau perawatan yang macam-macam. Kalau tidak salah, itu di tengah obrolan antara saya dan teman perempuan yang duduk di kiri dekat jendela tentang cat rambut dan lain sebagainya. Sruti mengulang kata ‘tidak telatennya' berkali-kali namun tidak saya gubris. Saya sayang Sruti dan mengonfirmasi kecantikan hanya akan menghancurkannya lebih jauh. Baru setelah teman yang ada di dekat jendela berkata,”Sampeyan wis ayu teko kono e. Nggak perlu perawatan macem-macem.” Gadis yang berat badannya kira-kira 10 kilo di bawah rata-rata itu berhenti mencari konfirmasi.

Namun di kamar tempat kami menginap, gadis baik ini mengulangi lagi hobinya mencari konfirmasi. Ada empat orang gadis di dalam kamar yang tengah berbincang dan Sruti berkata sambil menepuk perhelangan tangannya,”Aku sak mene iki lemu...” dan kalimat tersebut diulangnya beberapa kali meski seorang gadis yang duduk di kanan saya memasang wajah tidak berminat. Perempuan berkulit kuning langsat yang gaya kerudungnya selalu sederhana itu saya kira berhenti, ketika gadis di sebelah kirinya menyahut,”Lek sampeyan lemu, aku opo?” dan gadis itu lebih tambun dari saya. Namun ternyata, Sruti masih mengulang kalimat bahwa ia gemuk sampai saya berkata,”Arek iki satir ya lek ngomong.” Disusul gelak tawa gadis yang duduk di kanan saya. Sruti menoleh dengan mata luka dan kaget pada saya sambil berkata,”Body shaming a...” meski tidak jelas ia sedang bertanya atau menyatakan sesuatu.

Hingga kami kemudian berpindah kamar dan mendapat satu gadis lain lagi sebagai teman. Teman baru kami itu memiliki jerawat di wajahnya dan ketika hendak tidur, dia mengoles semacam obat dalam jangka waktu beberapa saat. Saya mengajaknya mengobrol soal obat yang ia pakai, namun Sruti tiba-tiba menyahut,”Lek aku nggak telaten gawe ngunu iku.” Dan tidak disadari Sruti, mata teman kami itu nampak luka dan kecewa, sedang saya hanya bisa berkata,”Kebutuhan kulit tiap orang beda.”

Di Pelangi Sastra Malang, semua mesti kenal Dewi R Maulidah. Wajahnya sangat mirip Angeeben Rishi, pacarnya Adly Fairuz dan lagi sangat produktif menulis dan suka belajar. Dewi menjadi bulan-bulanan untuk digoda sana dan sini oleh banyak teman laki-laki namun saya tidak merasa kasihan. Mengapa? Gadis yang berat badannya sesuai rata-rata itu, sangat siap dengan semua perhatian yang lebih-lebih ditujukan kepadanya.

Sejak semula saya mengenal gadis berjilbab ini, dia begitu menghargai meski pakaian saya lebih sering asal nyaman. Mbak Vian, teman kami yang lain pun sangat menyukai kepribadian Dewi yang menghargai. Jika saja ia mau, tentu fisiknya yang standar industri sudah mencukupi untuknya populer tanpa susah-susah menulis, membaca dan berkomunitas. Tapi Dewi tidak pernah melakukannya.

Malah kadang, saya melihatnya tidak begitu nyaman ketika menjadi subjek pembicaraan di depan umum karena fisiknya. Pernah juga saya melihatnya lebih sengaja menempel saya dan mbak Vian, meski teman-teman lelaki heboh menggodanya dan tentu memberi tempat sangat luas untuknya ber-ndusel-ria di antara mereka. Lalu bagaimana dengan Sruti? Serupa Dewi, ia pun menjadi pusat perhatian di komunitas tempatnya begiat. Ia bisa dibilang memang memiliki wajah paling manis dan lagi dalam komunitas tersebut jarang beranggotakan perempuan.

Sruti juga menguarkan citra misterius, kalem namun juga pintar dan tegas meski sedang diam. Ditambah penampilan sederhana yang tidak mengurangi wajah ayunya. Banyak yang menilai Sruti bersikap anggun dan biasa saja ketika menjadi pusat perhatian. Yang satu ini saya setuju, karena nampaknya memang begitu. Dia cool dengan limpahan perhatian. Kemudian apa Sruti sama dengan Dewi? Saya pastikan, Dewi tidak pernah melakukan konfirmasi atas tubuhnya pada sesama perempuan, setidaknya di lingkaran kami dia tidak pernah melakukannya.

Yang terbaru tentu saja pertemuan paling anyar saya dan Sruti. Seorang teman laki-laki yang sejak kuliah berteman baik dengan saya mengomentari,”Tumben awakmu nggak menor, Pop?”. Ia merujuk pada penggunaan blush on saya sehari-hari. Menor yang ia ungkap tentu subjektif. Kalau yang seperti saya menor, apa kabar Tasya Farasya? Ini semua letaknya pada kebutuhan dan kenyamanan masing-masing. Selera dan butuhnya saya begini, Tasya beda lagi. Saya suka wajah segar karena blush on, bukan untuk menarik perhatian si teman ini. Kami berteman lama dan ia hanya bercanda, cenderung meroasting malah. Roasting semacam ini memang saya alami dari teman perempuan juga lelaki yang lain ketika awal belajar make up. Posisi kedekatannya juga selevel dengan si teman tadi.

Meski demikian, Sruti yang duduk di kanan saya tiba-tiba menyahut dengan antusias,”Menurut Mas menor itu kayak gimana?” teman saya itu kaget, tidak menyangka kalimat candaanya ditanggapi sebegitu antusias. Mata Sruti saya tatap dan tidak jelas perasaan apa yang tergambar dari sana. Puas? Senang? Saya tidak berani menyimpulkan. Apalagi dia beberapa kali menyatakan bahwa warna mencolok sangat tidak ia suka. Ia sampai mengulang kalimat ini beberapa kali. Meski saya meyakini, dia hanya mengungkap pendapat dan bukannya mengomentari kegemaran saya pada warna mencolok.

Teman lelaki saya itu, kemudian bergumam yang saya lupa apa isinya dan Sruti mendesak lagi,”Iya, kalau menurut cowok itu yang namanya menor itu gimana, Mas?” kemudian teman saya itu menjawab,”Ya, ehm... Ya... Lebih berwarna gitu mukanya.” Wajah Sruti kembali saya amati dan lagi-lagi tidak jelas perasaan apa yang tergambar dari sana.

Kecenderungan teman laki-laki menjadikan gadis yang dianggap paling menonjol fisiknya sebagai subjek pembicaraan dan candaan di depan publik, bisa jadi sesungguhnya hanya diniatkan sebagai perekat pertemanan dan penghangat komunikasi dalam komunitas. Dewi yang menghormati pilihan sesama teman perempuannya dalam hal penampilan, kerennya pun tidak pernah habis. Ditambah lagi dia betul-betul tenang ketika menjadi subjek. Sedang Sruti yang masih dua puluhan, prosesnya belajar menerima pilihan sesama perempuan tentu masih panjang dan ada banyak kesempatan.

Konfirmasi kecantikan bagaimanapun tidak akan pernah habis jika dilakukan. Karakter satu ini bisa juga menjadi pemicu penindasan sesama perempuan, ketika ada yang dianggap lebih menarik perhatian dan cantiknya dikonfirmasi sekitar. Si pencari konfirmasi akan luka dengan perhatian yang teralih dan si pembuat perhatian teralih, juga akan luka dengan penindasan. Bisa jadi akan terulang pola melukai serupa dari yang mulanya ditindas tadi.

Jika ada temanmu sesama perempuan yang sibuk sekali mengonfirmasi kecantikannya. Baiknya jangan terlalu digubris. Ia luka dan butuh pertolongan. Cara menolongnya adalah dengan tidak menggubris upayanya itu. Seperti sikap saya pada Sruti. Pernah saya spontan memujinya makin cantik, namun hal demikian justru saya lakukan ketika dia tidak minta konfirmasi.

Kemudian, saya ingin sekali berkata pada Sruti,”Kamu cantik paripurna dan yang layak mengonfirmasinya adalah dirimu sendiri. Ngomong-ngomong, di masa lalu kamu punya luka apa sih?”


Ucapan terimakasih yang istimewa saya hatur kepada:
Raisa Izzhaty
Maryam Jameelah Al-Yasmin
Dewi Rizki Maulidah
Dan tentu saja Sruti yang baik hatinya.
Terimakasih kalian telah mengajari saya banyak hal.


Fyi, saya sudah ngobrol dengan Sruti dan memberikan tulisan ini sebagai hadiah. Hebatnya, ia menerima dengan hati dan justru ingin memelajari tipe kecerdasan dan kepribadiannya sendiri. Ia juga tertarik pergi ke luar forum yang biasanya ia datangi untuk melihat perempuan-perempuan lain dan melatih kepekaan (04/05/2019)

Setelah chat obrolan tanggal 4 bulan 5 tahun 2019, beberapa hari kemudian Sruti bertemu kembali dengan saya di sebuah acara buka bersama. Ia nampak takut dan menghindar, bahkan hampir tidak menyapa jika saja ketika keluar lokasi panti asuhan tempat buka bersama sudah tidak ada lagi orang tersisa berdiri di pintu.

2020 kami bertemu lagi, di haul acara lintas komunitas. Sruti terasa sebal melihat saya meski kami saling sapa. Belakangan saya ingat, pada obrolan yang pertama di 2019 memang tidak ada kata maaf. 

Tiga tahun belakangan istilah pick me jadi populer dan ternyata perilaku-perilaku dalam tulisan inilah yang disebut pick me. 

Sebetulnya, ada perlakuan Sruti yang jauh dari perspektif korban terhadap trauma penyintas kekerasan juga demi sikap pick me-nya di 2018. Namun ya... Saya belum tahu bagaimana cara memproses yang satu ini (05/04/2024)

Thursday, April 18, 2019

Kata Pengantar Skripsi dan Kenangan-kenangan yang Dibawanya Pulang

Sumber: Gugel

Barangkali bagimu, menulis ucapan terima kasih dalam kata pengantar adalah finalnya dari skripsi, finalnya lelahmu. Kamu ingat bagaimana usahamu menyembunyikan buku rangkuman kecil di antara paha, saat UTS selama enam semester. Kamu ingat bagaimana nyerinya jarimu, mengirim pesan singkat pada mana saja kakak tingkat yang kira-kira masih menyimpan makalah tugasnya terdahulu, biar kamu tinggal print dan ganti nama. Kamu ingat juga bagaimana kerasnya usahamu memerpanjang durasi presentasi, supaya dosen lupa menagih tugas yang belum kamu kerjakan hari itu.


Namun, apalagi yang lebih susah dari menulis ucapan terima kasih? Paragraf-paragraf standar seputar ucapan terima kasih pada Tuhan, dengan segala puji-pujiannya, kemudian apa? Kamu mesti mulai dengan nama-nama, tidak lupa dengan kalimat singkat soal sebab nama-nama itu dicantumkan.

Kamu kemudian memulainya dengan nama dua dosenmu, dosen pembimbing satu dan dua. Soal urutan yang pertama ini, kamu memulainya dengan meniru skripsi-skripsi yang terdahulu. Pikirmu, ini tidak akan terlalu sulit. Ketik saja gelar dan nama kedua dosenmu itu, sebut mereka sebagai pembimbing skripsimu hingga selesai, akhiri kalimatnya dengan tanda titik.

Dosen pembimbingmu itu, keduanya lelaki enam puluhan. Kamu ingat bagaimana soal UTS bikinan dua dosen gaek itu semasa kuliah. Ada dua kata yang selalu menyertai pertanyaan bikinan mereka, apa dan sebutkan. Semua jawabannya ada di buku rangkuman kecil itu, kamu tinggal membukanya yang ada di antara dua pahamu. Tidak perlu analisis, jawabannya sudah pasti.

Kamu pun tidak perlu khawatir buat berbagi jawaban dengan teman-teman yang duduk di sekitaran bangkumu. Saat dua dosenmu itu memertanyakan mengapa jawabanmu dan teman-teman yang duduk di sekitaran bangkumu itu bisa sama persis, maka kamu tinggal jawab,”Apa yang kami hafalkan sebelum ujian pun sama persis, Pak…”

Dari kedua dosenmu itu, tidak ada lagi yang terlalu kamu ingat. Tidak ada yang istimewa dari materi kuliah mereka, kecuali tiga lembar foto copy rencana pembelajaran di awal pertemuan dan bagaimana mereka berdua membacakan isi buku yang dibawanya tiap pertemuan, serupa dekte semasa kamu SD. Tidak ada juga wejangan berarti serupa ayah terhadap putra putrinya, semasa kamu masih kuliah. Hanya ucapan dua dosenmu itu, ketika pertemuan pertama bimbingan skripsi yang kamu ingat, keduanya berkata nyaris serupa, “Skripsi itu cuma formalitas, Jen. Mau baik atau buruk hasilmu, nilainya pun akan sama rata. Baiknya, kamu segera selesaikan saja kemudian lulus dan cari pekerjaan.”

Kamu tersenyum tipis. Tombol enter kamu tekan dari komputermu yang kemudian otomatis memunculkan angka dua. Poin nomor satu, yang memuat nama dua dosen pembimbingmu itu sudah tuntas. Poin nomor dua, juga kamu isi serupa skripsi-skripsi terdahulu yang kamu pernah lihat, isinya nama kedua orang tua.
Sebentar kemudian, kamu melirik sebingkai foto yang ada di nakas, sebelah kasurmu. Kamu menegakkan duduk dan merasakan nyeri di punggung akibat terlalu lama duduk di kursi kayu menghadap komputer pentium dua yang dibeli second oleh papamu itu. Setidaknya, kamu rasa jauh lebih beruntung ketimbang teman-temanmu. Kamu masih punya komputer, bisa mengetik segalanya dalam kamar, sedang teman-temanmu masih harus pergi ke rental atau memergunakan jasa pengetikan.

Sekali lagi, kamu lihat foto yang ada di atas nakas itu. Ada kamu, mama dan papamu di sana. Usiamu saat itu masih tujuh dengan rambutmu hitam kemerahan, terlalu banyak terkena sinar matahari. Hobimu memanjat pohon jambu yang dulu ditanam di halaman belakang. Mamamu kemudian membunuh pohon itu, menyiram akarnya dengan oli. Akar-akarnya bikin tembok retak, katanya.

Kupingmu berdenging kemudian, membuat kamu terpaksa menutupnya dengan dua tangan, meski tidak ada guna. Suara-suara pecahan beling bersusulan dalam kepalamu, kupingmu, bahkan dadamu. Papamu ada di hadapanmu, dia tersenyum manis. Saban pagi, papamu itu memasak nasi goreng buat mama dan kamu. Sekadar nasi putih sisa kemarin yang dicampur bawang merah dan kecap. Namun, menurutmu nasi itu yang paling lezat. Dan sepanjang yang kamu ingat, mamamu itu gemar merangkul manja di lengan papa, selagi nasi goreng sedang diaduk.

Denging yang makin menusuk kuping itu mulai berkurang. Anehnya, jari-jarimu justru gemetar saat hendak melanjutkan mengetik. Kali ini, mama ada di hadapanmu. Satu gigi depannya mama, nampak bergoyang ketika tersundul lidahnya sendiri. Ada juga lebam kebiruan di mata kiri mama. Kamu melihat papamu berdiri dengan tangannya yang mengepal di hadapan mama. Tidak salah lagi, papamu pelakunya. Dia yang membikin satu gigi mamamu bergoyang dan mata kirinya lebam. Kamu melihatnya sendiri, saat tinju papa mendarat di muka mamamu berkali-kali dan itu sudah yang kesekian…

Tubuh mamamu nampak gemetar. Namun, wajahnya justru nampak datar. Pikirmu, mamamu itu perempuan yang tabah. Sebentar kemudian kamu mendelik, karena mendapati papa dan mamamu saling menempelkan bibir dan bertukar kata-kata cinta. Perutmu serasa diaduk, singkatnya ada mual yang merajah perutmu dan itu sudah yang kesekian…

Napasmu mulai berkejaran. Pikirmu, barangkali berhenti saja menulis ucapan terimakasih. Setidaknya, berhenti satu atau dua jam atau… selamanya. Seperti yang sudah kamu pikir di awal tadi, ini bakal sulit.

Air mata merembes pelan-pelan, melewati dua pipimu. Kamu tahu, kamu tidak bisa berhenti. Bagi orang lain, ucapan terimakasih bisa jadi sekadar formalitas dan bagimu, jika boleh memilih, biar skripsimu tanpa ucapan terimakasih saja. Namun, tanpa ucapan terimakasih, skripsimu akan nampak kurang ajar selama-lamanya dan terpajang di perpustakaan. Kamu hanya ingin… nampak normal dengan ucapan terimakasih dalam skripsimu itu, yang menyebut dosen pembimbing, kedua orang tuamu, kekasihmu dan teman-temanmu. Hanya itu… kamu hanya ingin berpura-pura lengkap lewat itu semua.

Sebentar kemudian, kamu buru-buru kembali menegakkan kepala. Cepat-cepat kamu kembali mengetik. Nama papamu, mamamu, beserta gelar mereka. Tidak seperti ucapan terimakasihmu di poin pertama, kali ini ucapanmu lebih mesra dan memuat kata cinta. Perutmu terasa seperti kembali diaduk, namun kamu buru-buru menarik napas kemudian menahannya cukup lama, coba melupakan rasa mual yang merajah perutmu itu.

Pada poin yang ketiga, kamu menuliskan namanya Maria, sahabatmu sejak SMA. Maria memiliki tubuh sangat kurus, kulit coklat dan mata bulat yang jernih. Kamu ingat, foto-fotomu di media sosial didominasi oleh fotomu bersama Maria. Kalian sangat lekat, bahkan hingga kuliah di kampus yang sama, namun beda fakultas.

Maria… ya… Maria. Perempuan itu memang sahabat baikmu, namun hubungan kalian tidak benar-benar mesra sepenuhnya. Saat kalian kelas 11, kamu mendapati Maria berkirim pesan dengan pacarmu, cinta pertamamu. Pacarmu dan Maria menyepakati sebuah pertemuan buat melepas hasrat mereka berdua di sebuah losmen, satu jam dari pusat kota letaknya. Selanjutnya, kamu diamkan Maria hingga setahun berikutnya. Maria telah memohon maaf berkali-kali, namun kamu selalu menolaknya, pun ketika pacarmu itu coba memohon maaf yang serupa. Baru setelah kamu diam-diam berhasil melepas hasratmu bersama pacarnya Maria, kamu mendatangi gadis berambut lurus itu, kamu bilang kamu sesungguhnya sudah memaafkan dia jauh sebelum dirinya memohon maaf. Kamu mengatakan, dirimu dan Maria adalah sesama perempuan yang mestinya tidak patut saling memusuhi. Sedang pacarmu? Mengingat dia sebagai cinta pertamamu, hanya membuat perutmu seperti diaduk, pun memandangi wajahnya.

Menahun berikutnya, kamu terus mengamati Maria. Diam-diam, kamu selalu bisa menyepakati waktu, agar bisa melepas hasrat dengan pacar-pacar barunya Maria. Kamu hampir saja ingin berhenti, ketika melihat Maria yang setia menemanimu saat demam di kamar kostmu, selalu. Namun, tiap kamu hendak berhenti, perutmu jadi serasa diaduk saat menatap wajahnya Maria. Mual itu merajah lagi perutmu. Kemudian, kamu memutuskan tidak akan lagi pernah berhenti.

M-A-R-I-A, Maria Larasati. Kamu mengeja namanya Maria dengan hati-hati, takut ada huruf yang tertinggal. Sudah kamu putuskan, bahwa nama Maria akan seterusnya kamu kenang, lewat ucapan terima kasih dalam skripsimu. Dengan nama yang terkenang selamanya itu, akan membuatmu juga terus ingat bahwa tidak akan ada kata berhenti. Ya… kamu tidak akan berhenti melepas hasrat dengan siapapun pacarnya Maria.

Jari-jarimu mengetik tombol enter, membuat angka empat otomatis muncul. Seperti pernah kamu rencanakan, poin nomor empat adalah tempatnya nama kekasihmu. Tapi tunggu… kekasihmu yang mana? Abdi atau Wiguna? Mana dari dua nama itu yang bakal kamu tulis. Bukannya… kamu punya dua orang kekasih?

Memiliki lebih dari seorang kekasih sesungguhnya tidak pernah kamu rencanakan. Kamu selalu ingin satu. Kenyataan jadi bukan satu-satunya saat bersama pacar pertamamu dulu, membuatmu tahu bagaimana rasanya kosong. Kamu tidak ingin membikin orang lain sama kosong denganmu, sesungguhnya. Namun, setiap kali kamu coba memiliki satu saja kekasih, perutmu rasanya seperti diaduk, ada mual yang merajah. Pun ketika kamu coba sendiri saja, kosong itu seperti mengejar tepat di belakang punggungmu. Jadi, kamu putuskan punya dua, tidak lebih. Bagimu, mual akan lebih menyakitkan dari perasaan kosong. Kalau pun saling menyakiti, kamu pun tidak ingin lebih banyak orang lagi yang terlibat.

Keringat dingin sekarang meleleh membasahi ujung dahi hingga lehermu. Jari-jarimu kali ini kaku. Kamu tidak bisa berhenti, kamu ingin hidupmu nampak lengkap melalui ucapan terimakasih itu. Namun, siapa yang akan kamu tulis? Abdi atau Wiguna? Celakanya, kamu ingat punya panggilan kesayangan yang berbeda pada dua lelaki itu. Menyebut salah satu, berarti sama dengan menyebut nama masing-masing dari mereka. Sekali lagi, seperti pikiranmu di awal tadi, menulis ucapan terimakasih akan jadi hal menyusahkan. Hingga kemudian, kamu putuskan untuk mengosongkan dulu poin yang mestinya berisi nama kekasihmu. Atau… kamu sebut saja mereka berdua dengan satu kata, kekasih? Ah… agaknya kamu betul-betul memilih memikirkan poin ini belakangan. Yang jelas, kamu harus bersama lebih dari satu kekasih, keduanya tidak boleh lepas atau mual itu bakal merajah lagi.

Kamu kemudian malah mengetik poin selanjutnya, nama jurusan dan angkatanmu juga si koordinator kelasmu itu, sahabat semua orang. Kamu dan si koordinator berambut gondrong itu, bersahabat sejak mahasiswa baru. Dia pandai memersatukan orang banyak dan seorang penyemarak. Pacarnya seorang ketua himpunan, yang usianya dua tahun lebih tua, Manda namanya. Manda yang lugu dan terkenal sangat baik dalam akademis maupun organisasi. Keduanya juga jadi macan di ruang-ruang diskusi dan kamu mengagumi pasangan yang kamu pikir saling bangun itu, pada mulanya. Kamu jatuh cinta pada koordinator itu, sekaligus mengagumi Manda.

Namun, satu waktu si koordinator itu saling goda denganmu di kamar kost saat kalian berdua mengerjakan makalah bersama, hasrat itu pun lepas dan setelahnya dia bilang padamu,”Meski ini semua sudah terjadi… kita nggak mungkin bareng, Jen. Seburuknya laki-laki macam saya, tentu saya punya dambaan punya pasangan yang lugu seperti Manda. Jaminan terbaik buat keturunan saya kelak.” Kamu kemudian hanya tergelak, seolah tidak merasa nyeri di dada mendengar ucapan si koordinator itu. Kalian selanjutnya terus bersahabat tanpa lagi pernah melepas hasrat. Kamu bertekad agar si koordinator itu tidak akan pernah tahu nyeri di dadamu itu. Semenjak saat itu, perutmu serasa diaduk dan mual kembali merajah, setiap membayangkan Manda yang lugu bakal hidup bersama koordinator itu.

Manda dan kamu kemudian lebih sering bertemu. Kamu mengatur kedekatan kalian, hingga Manda menginap di kostmu dan kamu menginap di kostnya Manda, hingga kalian saling cerita soal keluarga dan menangis, hingga kalian saling dekap, hingga kalian saling menempelkan bibir, hingga kalian… melepas hasrat masing-masing. Semakin sering kamu melepas hasrat bersama Manda, bayangan soal gadis lugu yang bakal menikahi si koordinator bajingan itu tidak lagi mengganggu kamu, mual itu juga tidak lagi merajahmu. Maka, tidak ada kata yang lebih pantas buat si koordinator itu, selain namanya ditulis dalam ucapan terimasih. Jika tidak karena dia, kamu juga tidak mungkin bisa dekat dengan orang sepengertian Manda. Ya… meski mungkin kamu tidak bisa gamblang berterimakasih karena apa.

Kamu menggeliat, merasakan otot punggung yang makin lelah. Beberapa kali, kamu menekan tomblo backspace, kemudian mengetik ulang nama itu dan menekan tombol backspace, kemudian mengetik ulang nama itu lagi dan kemudian menekan tombol backspace lagi. Selanjutnya, kamu hanya diam dan sudah lewat empat menit dan kamu tetap terpaku di depan layar komputer. Mendadak layar komputermu menjadi hitam berbarengan dengan lampu kamar yang padam dan jerit kaget para penghuni kost lainnya.

“Bangsat! Pemadaman bergilir lagi.” Rutukmu, sambil membayangkan file ucapan terimakasih yang belum kamu simpan dan mesti kamu ketik ulang beserta kenangan dan segala rasa mual yang menyusul.

Maka aku mulai menggeliat, kujatuhkan tubuhku dari dinding yang menempel ketat. Kamu menghampiri tubuhku yang pecah jadi kepingan. Melalui kepingan-kepingan tubuhku yang terserak, kamu melihat bayangan dirimu sendiri di usia tujuh, kali pertama kamu mengaitkan aku pada paku di dinding kamar rumah lamamu. Kegemaranmu adalah mematut diri di hadapanku, mencari-cari bayanganmu. Menahun berikutnya, kamu gemar membawa aku kemana-mana, berpindah-pindah kost dan juga mengajak aku bercerita.

Matamu berkaca-kaca sebentar kemudian. Kamu ambil satu keping serpihan tubuhku dan kemudian mulai menggoreskannya di pergelangan tangan kirimu dengan jari-jari yang gemetaran. Pertama kali dalam hidup, aku melihat wajah paling damai pada dirimu. Dan memang aku yang membantu kamu mencapai kedamaian itu…

Akhir alternatif:

Dibuat Minggu, 27 Agustus 2023

Maka aku mulai menggeliat, kujatuhkan tubuhku dari dinding yang menempel ketat. Kamu menghampiri tubuhku yang pecah jadi kepingan. Melalui kepingan-kepingan tubuhku yang terserak, kamu melihat bayangan dirimu sendiri di usia tujuh, kali pertama kamu mengaitkan aku pada paku di dinding kamar rumah lamamu. Kegemaranmu adalah mematut diri di hadapanku, mencari-cari bayanganmu. Menahun berikutnya, kamu gemar membawa aku kemana-mana, berpindah-pindah kost dan juga mengajak aku bercerita.

Matamu berkaca-kaca sebentar kemudian. Kamu ambil satu keping serpihan tubuhku yang mencelat dan kemudian menempelkannya paksa serpihan demi serpihan pada kerangkaku.

Kamu memandangi serpihan tubuhku yang retak di sana-sini. Kamu tahu menjadi utuh bukan bab yang mudah tapi setidaknya...

Warga kos bersorak tiba-tiba. Listrik menyala lagi dengan lampu kecil di CPUmu yang berkelip.

Tuesday, April 2, 2019

Cerita Dua Pemberontak dalam Penyap, Karya Sayyidatul Imamah

Sumber: storial.co

Tulisan ini lolos seleksi intership book reviewer Storial.co

Namanya Anna dan dia menderita kanker. Jika tidak terlebih dahulu membaca sinopsis novel ini, bisa jadi saya akan berpikiran, jangan-jangan alur ceritanya bakal mirip dengan My Sister Keepernya Jodie Picoult. Apalagi, ketika mulai Anna dan Leo melakukan pertemuan mereka, penulis memunjukkan pengetahuannya akan novel terjemahan seperti, A Man Called Ove.

Tapi benar saja, memasuki awal bab dan melihat cara penulisan novel ini, masih juga membawa saya teringat dengan My Sister Keeper. Bab pertama My Sister Keeper, juga diawali sudut pandang tokoh bernama Anna, bedanya Anna di sana merupakan siswi SMP yang memiliki kakak penderita kanker bernama Kate. Premis cerita novel bersampul putih tersebut, juga banyak menyoal hukum dan juga kedokteran.

Penulis berusaha mengambil judul dengan kata yang tidak lazim dipergunakan, premis cerita adalah dua orang yang memiliki gangguan kesehatan mental karena dua sebab yang juga berbeda. Penyap, yang menurut KBBI berarti lenyap, agaknya merujuk pada dua tokoh utama cerita yang bekutat pada pikiran melenyapkan diri masing-masing; bunuh diri.

Anna digambarkan sebagai gadis berpenyakit yang di mana saja diperlakukan lembut, sebaliknya Leo yang diperlakukan kasar di mana saja. Namun tenyata, baik Anna maupun Leo sama merasa ditolak oleh lingkungan. Perlakuan manis yang Anna terima, dirasanya palsu sebagai tenggang rasa penyakit yang ia derita. Berbanding lurus dengan Leo, yang merasa orang di sekelilingnya menganggapnya sampah.

Menyoal originalitas, Penyap lagi-lagi membuat saya ingat dengan kisah lain. Keberadaan Robi sebagai tutor Anna dan Leo, membuat saya mengingat film 3600 Detik dan A: Aku, Benci & Cinta. Leon menjadi tutor Shae si anak pindahan yang badung dalam 3600 Detik, sedang Anggia dan Alvaro mesti saling menjadi tutor satu sama lain. Alvaro menjadi tutor musik Anggia dan sebaliknya cewek itu mesti mengawasi kenakalan Alvaro. Sedang dalam Penyap, Robi ditunjuk menjadi tutor kedua tokoh utama meski ternyata perannya tidak begitu besar dalam novel ini.

Ketika Leo mengajak Anna membolos dari pelajaran tambahan dan penyakit Anna kambuh, lagi-lagi mengingatkan saya pada kisah lain yaitu Malaikat Tanpa Sayap. Mura yang diperankan oleh Maudy Ayunda, menaiki sepeda dengan dibonceng oleh Vino. Cewek itu menganggap bersepeda seperti itu menyenangkan, serupa Anna yang menganggap penjelajahan hutan bersama Leo menyenangkan baginya yang selama ini tidak pernah pergi kemana-mana. Namun di tengah aktivitas menyenangkan itu, penyakit jantung Mura kambuh. Anna juga mulai mimisan dan pingsan setelah menjelajah hutan. Kedua cewek yang kemudian pingsan ini, sama-sama digendong oleh cowok yang sedang bersama mereka, Vino dan Leo.

Meski begitu, penulis berani membawa karakter Nora dengan lebih misterius. Bahkan hingga bab 18, kakak perempuan Anna itu hanya sekali terlihat berdialog dengannya. Hal ini seolah menunjukkan sifat Nora yang tertutup. Berbeda dengan My Sister Keeper yang mengambil sudut pandang semua tokoh sebagai pencerita dalam tiap babnya. Penyap hanya menampilkan sudut pandang Anna dan Leo secara bergantian, kecuali ketika Anna ternyata memutuskan hal besar hampir di akhir bab, sudut pandang leo terus dipergunakan meski berganti bab.

Leo berusaha digambarkan penulis sebagai cowok yang selain gemar berkelahi, ternyata juga pembaca berat buku. Telihat dari caranya menyambar dialog utamanya di awal pertemuannya dengan Anna. Cowok itu kerap menyambungkan apa yang terjadi dengan buku yang dibacanya. Pada mulanya juga, Leo digambarkan lebih berani dan optimis ketimbang Anna. Namun ternyata, cewek yang sehari-harinya bertopi kupluk itu diam-diam menyimpan jiwa pemberontak serupa Leo. Terlihat dari narasi sebagai ‘aku’ yang ia bawakan dalam melihat dunia di sekitarnya dan bagaimana dia, dengan caranya berusaha melerai perkelahian Leo.

Tokoh Hara sebagai satu-satunya teman yang sering berinteraksi di sekolah dengan Anna, digambarkan apik sebagai tukang komentar ulung yang seolah memiliki bahasan buruk dari setiap warga sekolah. Dialog-dialog Hara yang kerap berjejalan, seolah lawan bicaranya berminat atas apa yang ia bicarakan, menjadikan cewek itu murni terlihat menyebalkan hingga Anna sendiri bertanya hal apa yang sesungguhnya membuat dia bertahan bertahan berteman dengan Hara yang sesungguhnya selalu menghampirinya terlebih dahulu.

Nora sendiri, sukses menjadi tokoh terabai yang agaknya menyimpan hal besar. Ayah dan ibu Anna, terlihat manusiawi dalam narasi Anna. Ayah dan ibu digambarkan sangat cemas dan tertekan dengan keadaan putrinya yang mengidap kanker sehingga seolah tidak begitu perhatian pada putri meeka yang lain. Mereka berdua sesungguhnya khawatir berat pada Anna dengan caranya yang bagi putri mereka itu ternyata tidak adil. Sedang di dunia maya, Anna dan Leo bahkan sempat ‘bermusuhan’ melalui kolom komentar di blog.
Penulis mampu membangun emosi tanpa harus menuliskannya secara lugas. Seperti kertertarikan Anna dan Leo yang nampak sekali lebih dari teman, tidak ada kata saling mencintai menjadi narasi. 

Kecemasan orang tua Anna hingga ibu Leo yang sangat tergantung soal ekonomi terhadap suami barunya, juga dibangun melalui narasi dalam sudut pandang Anna dan Leo.
Kecemasan orang tua Anna, justru nampak dari narasi megenai ketidakadilan dalam versi cewek itu. Sedang ketergantungan ibu Leo soal ekonomi, terlihat dari dialognya bersama Leo di mana mereka tidak akan pindah kecuali si ibu memiliki pekerjaan baru. Meski latar belakang kekerasan yang dilakukan ayah tiri Leo tidak sungguhan dikupas tajam oleh penulis.

Pemahaman penulis mengenai gangguan kesehatan mental, cukup baik digambarkan dalam Penyap. Hal ini menunjukkan penulis sungguh melakukan riset, bisa jadi melalui buku atau juga dunia nyata. Perasaan ingin mati dan sedih yang menggebu, menjadi ciri penderita depresi.
Meski cukup apik dalam kaidah berbahasa, penulis beberapa kali terlalu banyak melibatkan koma dalam satu kalimat yang sesungguhnya bisa dipisah menjadi beberapa kalimat atau lebih efisien tetap dijadikan satu kalimat dengan menghilangkan koma. Dalam bab 8, paragraf 23,”Aku sudah sering tidak tidur akhir-akhir ini, yang menurut internet, merupakan tanda-tanda penyakit gila, nama kerennya, depresi.” Padahal, kalimat tersebut bisa diubah menjadi,”Aku sudah sering tidak tidur akhir-akhir ini. Menurut intenet, merupakan tanda-tanda penyakit gila yang nama kerennya, depresi.”

Penggunaan kata telepon dan ponsel juga tidak konsisten. Di bab 17 dan seterusnya, kata telepon digunakan. Padahal, telepon menurut KBBI bukan merujuk kepada ponsel pintar. Sedang telepon yang digambarkan penulis adalah gawai yang dipergunakan oleh para tokoh dan jelas tergambar adegan pencarian internet dan lain sebagainya. Baru pada bab 49, kata telepon diganti ponsel dan ini lebih baik ketimbang telepon yang merujuk pada alat komunikasi dengan kabel.

Penulis memang cukup mengikuti perkembang kaidah berbahasa, ditunjukkan dengan penggunaan kata ‘memercayai’ di mana terjadi peleburan huruf KTSP ketika bertemu ‘mem’. Namun, penulis ternyata masih menulis risiko sebagai resiko dan belum dapat membedakan kata kami dengan kita. Meski demikian, gaya bahasa yang cukup serupa dengan novel-novel terjemahan dalam Penyap, menyajikan diksi-diksi yang tidak rumit dan nyaman dibaca sekali duduk. Kesederhanaan ini justru berbanding terbalik dengan penggambaran cinta yang tidak lugas, rumit dan justru manis dalam cerita.

Untuk urusan sampul buku, penulis berusaha menginterpresentasi rasa putus asa para tokoh utama sebagai tangan hitam dan pertolongan dalam bentuk tangan yang lebih cerah. Namun apabila merujuk akhir cerita yang menyesakkan, bisa jadi tangan hitam tersebut justru menyesap tangan yang seolah pertolongan. Penulis sendiri menyertakan label kompetisi yang ia ikuti dalam sampul, menunjukkan kesungguhan dan ketelitiannya tas hal-hal yang nampak kecil.
Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada dalam Penyap, menang atau tidak dalam kompetisi kali ini saya harap ia terus menulis dan mengasah diri dalam berbagai kompetisi berikutnya.

Catatan: Saya lupa menambahkan bahwa tidak ada ciri fisik dalam novel ini. Padahal dengan lembaran yang sebanyak ini, ciri fisik dapat disebar sepanjang novel. Hanya ada cara berpakaian Leo yang berantakan dan topi kupluk Ana sebagai ciri fisik (Saya menambahkan catatan ini setelah deadline seleksi lewat karena sungguh kelupaan. Nekad menambahkannya meski sudah lewat seleksi karena berharap penulisnya mendapat fungsi). Ketika saya mengunggah resensi ini di kolom komentar novel penulis, terdapat pula banyak tipo.

Saturday, March 16, 2019

Rubik

Sumber: Gugel
Pada suatu masa, permainan rubik begitu digandrungi. Bukan lagi kecepatan tangan menjadi tolak ukur kehebatannya, namun kecepatan kaki. Maka Sumirah, pemudi 24 tahun itu memegang gelar juara dunia tiga kali berturut-turut. Ia perempuan muslim berjilbab pertama yang mampu meraih gelar tersebut. Dihujani ia dengan hadiah-hadiah emas dari pemerintah dan para pengusaha beken. Tanda apresiasi, membawa nama negara, begitu kata mereka…

Kolom sosial media Sumirah dipenuhi ragam pujian dari warga dunia. Membuatnya pergi kemana-mana ditodong foto dan tanda tangan. Perusahaan kosemetik berlabel halal dan pakaian muslimah mendapuknya sebagai ikon.

Namun sayangnya, limpahan kenyamanan dari gelar kejuaraan yang juga bisa membuatnya keliling dunia dan diundang berbagai acara bincang-bincang itu, hanya berlangsung dua tahun. Di tahun ke tiga, ketika ia kembali meningkatkan rekornya, warga dunia mulai mengatakan, apa kamu nggak punya keahlian lain, Ra? 

Belasan komentar berlipat menjadi puluhan dan puluhan menjadi ratusan, hingga ribuan. Maka seorang psikolog bilang, Sumirah mesti dirujuk ke psikiater untuk mendapat obat.

“Puasa dulu saja main rubiknya, Ra. Orang-orang mesti sudah bosan.” Kata menejer.

Sembari menelan pil anti depresan yang ia dapat dari psikiater, Sumirah menggeleng. Baginya mustahil menyiakan usahanya berlatih demi meningkatkan rekornya saban tahun. Dan lagi… ia mencintai rubik lebih dari sodoran iklan dan permintaan foto penggemar…

“Ini nggak seperti yang kamu pikir kok. Bukannya kamu saya suruh berhenti seterusnya. Biarkan setidaknya dua tahun mendatang muncul juara-juara baru. Biar media dan warga dunia beralih dulu pada mereka. Baru setelahnya, kamu muncul lagi dan mengalahkan mereka.” Lanjut perempuan berumur empat puluhan itu.

Maka Sumirah mengangguk dan benar saja, muncul juara-juara baru dua tahun berikutnya. Sayangnya, hal itu bukan berarti hidup Sumirah menjadi tenang. Perempuan bermata sipit itu mesti menghadapi komentar serupa dari warga dunia dua tahun berturut-turut, penurunan kualitas Sumirah ini. Bikin malu negara saja.

Di tengah latihan tekunnya selama dua tahun, Sumirah harus terus meminum pil anti depresan. Mimpi-mimpi buruk mencekiknya saban malam. 

Dalam mimpinya, rubik-rubik sebesar bukit menimpa tubuhnya, membuatnya mati berkali-kali. Rubik yang dia cintai semenjak usia delapan tahun, permainan yang diajarkan mendiang ibunya dengan sebuah pesan, bersenang-senanglah dengan rubik, Ra. Buat dirimu dan semua di sekitarmu menjadi bahagia.

“Tahan, Ra. Ini klise tapi, usaha tidak bakal menghianati hasil. Kamu percaya, kan?” si menejer berucap disertai Sumirah yang tengah menahan tangis.

Dan hari itu, sorak sorai memenuhi GOR tempat Sumirah kembali merebut rekor. Sepulang dari GOR, dia melihat kolom komentar instagram pribadinya dipenuhi pujian membanggakan dari warga dunia. Pikirnya, ia bisa bersenang-senang kembali bersama rubik yang ia cintai. 

Perempuan bertubuh tambun dan berkulit coklat itu memutuskan tidur dengan nyaman tepat pukul delapan malam. Jauh beda di hari-hari sebelumnya di mana ia baru bisa tidur menjelang pagi. Meski Sumirah tidak pernah tahu, kolom komentar di instagramnya makin penuh dalam semalam, selagi ia tidur.

Kalian ngerasa nggak sih, kalau ini settingan? tulis @aaronwaringin

Sengaja sih dia ngilang dua tahun buat sensasi, tulis @rasalokaldunialain

Hahaa… biar dapet endorsan lagi tuch, tulis @princedelavega

Bangga apaan? Kalau dia bukan perempuan berjilbab pertama yang dapat rekor, nggak menarik juga kok. Banyak yang lebih keren keless, tulis @siraon.thesun

Bagiku, muka dia biasa aja sih, tulis @fernandez.stella

Mbaknya kebetulan karena cantik aja. Makanya banyak yang care, tulis @lalalabirint_m

Sunday, March 3, 2019

Ayah Saya Istimewa

Sumber: Gugel

Dimuat dan dapat pula dibaca di mubadalah.id 6 Desember 2018
Ayah saya memasak, menyetrika, dan mencuci baju. Pikir saya, papa-papa di keluarga lain pun serupa Ayah saya. Tapi ternyata tidak demikian. Ayah saya berbeda. Dia istimewa.








Waktu itu, saya sepuluh tahun dan sedang di acara keluarga. Saya lihat Pakpo, kakaknya ibu saya itu makan dengan dilayani istrinya. Padahal, meja makan cuma berjarak beberapa kaki dari tempatnya. Itu baru perkara makan, belum kopi dan lain-lainnya.
Sebaliknya, Ayah saya mengambil segala halnya sendiri. Belum pernah saya lihat ayah meminta Ibu membuatkan kopi. Setiap hari saya dapati Ayah membuat kopi sendiri. Bahkan ia yang membikinkan susu untuk saya sejak Sekolah Dasar.
Belakangan Nenek saya dari pihak Ibu bercerita, orang-orang di masanya takut ketika ada anak laki-laki masuk dapur. Anak laki-laki tersebut dimitoskan akan menjadi cupar.
Cupar dalam bahasa Jawa dimaknai sebagai terlalu perhitugan. Dan itu dianggap berbahaya dalam rumah tangga. Oleh karena itu, nenek saya memutuskan anak laki-lakinya tidak boleh masuk dapur. Di lain sisi, kekagumannya pada koki-koki lelaki yang ramai di TV tidak habis-habis.
Masih di usia yang sama, teman-teman saya di sekolah mengatakan bahwa Ibu mereka yang menyiapkan bekal dan membuatkan sarapan. Tatapan teman-teman menjadi aneh ketika saya bilang sarapan dan bekal saya, Ayah yang membuatkannya.
Dalam pikiran saya, semua rumah memang seperti itu dan tentu tidak ada yang salah.
Ayah saya sendiri bekerja di sebuah apotek swasta. Jam kerjanya dimulai lebih siang ketimbang Ibu saya. Jam pulangnya pun jauh lebih awal ketimbang ibu. Ketika saya mesti pulang sore dari sekolah dan tidak sempat membawa bekal, Ayah saya juga yang tiba-tiba ke sekolah. Dia mengirim kue atau nasi.
Ya, Ayah saya memang kerja di bagian lapangan dan jam kerjanya jauh lebih fleksibel.
Semenjak saya kecil, Ayah selalu bercerita dengan bangga tentang mendiang Mbah, ibunya. Mbah yang mengajarinya berbagai pekerjaan rumah. Tentu termasuk memasak hingga menyetrika baju.
Mbah, masih menurut Ayah saya, memiliki prinsip bahwa laki-laki mesti juga belajar pekerjaan rumah.
Dalam keyakinan Mbah saya, kelak ketika anak lelakinya menikah dan memiliki anak, tentu hidup tidak selalu lancar. Ada kalanya istri pun bisa sakit dan suami bisa menggantikan tugas memasak dan membereskan rumah tanpa mesti membayar orang lain.
Benar saja, Ibu saya sempat beberapa hari berada di rumah sakit. Waktu itu saya yang masih SD tetap bisa makan dan hidup dengan teratur.
Hal ini tentu beda, ketika Ibu saya mengomentari status Facebook salah seorang mantan tetangga kami yang sekarang hidup di luar kota. Mantan tetangga kami itu bercerita soal dirinya yang sakit dan harus beberapa hari menginap di rumah sakit.
Dalam statusnya itu diceritakan pula bagaimana suaminya yang kebingungan menata rumah dan mengurus anak tanpa dirinya.
Ibu kemudian bercakap-cakap dengan saya dan membandingkan bagaimana rumah kami bisa terus berjalan dan terurus sekalipun tidak ada Ibu. Bahkan Ibu baru mengetahui jika Ayah bisa mengerjakan pekerjaan rumah setelah mereka menikah.
Tidak ada kesepakatan siapa yang harus mengurus rumah atau bekerja di luar. Ibu mengurus rumah ketika tidak sedang lelah dan Ayah pun sebaliknya. Bahwa ternyata Ayah saya istimewa dan itu memang iya.
Tambahan Desember 2019: 
Tulisan ini ditulis menggunakan ponsel selama Womens Writer bersama Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia. Jadi ceritanya, saya dan 25 perempuan lainnya lolos seleksi acara tersebut dan mendapatkan kelas menulis gratis selama dua hari. Mbak Kalis Mardiasih menjadi fasilitator kelas menulis tersebut. Dan omong-omong, tulisan ini dipuji mbak Kalis di depan forum setelah sebelumnya, mbak Kalis mengajak saya mengobrol berdua soal tulisan ini ketika antri kamar mandi. Saran mbak Kalis, tulisan jenis ini memang dekat dengan sekitar, kejadian sekitar pun adalah data dalam menulis yang kita mesti juga peka. Namun lebih apik jika tulisan ini ditambah kutipan (entah teori atau cuplikan berita), satu paragraf saja cukup ujar mbak Kalis.

Tambahan Februari 2020:

Women Writer bersama AMAN dan Mubadalah 2018. Yang ini Sesi mbak Kalis. Sumber: Instagram mbak Mas @attasita

Women Writer bersama AMAN dan Mubadalah 2018. Yang ini sesi mas Anas Gusdurian Jatim. Sumber: Instagram mbak Mas @attasita